PENINGKATAN KEPADATAN LEKSIKAL TULISAN ILMIAH MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS UDINUS MELALUI PENGAJARAN NOMINALISASI*) ABSTRAK

dokumen-dokumen yang mirip
KONTRAK KULIAH. Introduction to Functional Grammar FBIB FAKULTAS BAHASA DAN ILMU BUDAYA UNIVERSITAS STIKUBANK SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Nominal group merupakan salah satu jenis grup yang memiliki functional

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam memahami konsep mengenai teori kebahasaan, linguistik

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya metafora adalah suatu bentuk kekreatifan makna dalam

ANALISIS DESKRIPTIF PENGGUNAAN GRAMMATICAL METAPHOR DALAM TULISAN MAHASISWA PROGRAM STUDI BAHASA INGGRIS UNIVERSITAS JAMBI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. diuraikan, diperlukan sejumlah teori yang menjadi kerangka landasan di dalam

16, Vol. 06 No. 1 Januari Juni 2015 Pada dasarnya, secara semantik, proses dalam klausa mencakup hal-hal berikut: proses itu sendiri; partisipan yang

wn7srfrr?\g ponegoro ISBI\I gtt - g7g _ ffi1 Or _ 4 Sernarang Pragrarm Studi Magister Lingtiistik 2 Oktober 2010 U niversitas Di

BAB I PENDAHULUAN. melakukan suatu komunikasi dan kontak sosial menggunakan bahasa. Bahasa

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang mempunyai hubungan dengan proses berpikir serta keterampilan

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan bahasa baik secara lisan maupun tulisan. Komunikasi tidak dapat

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) PADA PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) SIKLUS I/SIKLUS II*)

BAB I PENDAHULUAN. yang saling berhubungan untuk menghasilkan rasa kepaduan atau rasa kohesi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

SILABUS MATA KULIAH. Revisi : 4 Tanggal Berlaku : 4 September Strategi Pembelajaran 1. Ceramah 2. Diskusi 3. Latihan

BAB I PENDAHULUAN. Teks merupakan salah satu bentuk dari bahasa yang dituangkan satu media

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

MODEL PENULISAN LATAR BELAKANG MASALAH (SKRIPSI SARJANA TERAPAN) BERBASIS GENRE

BAB I PENDAHULUAN. dapat berupa tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang. Dalam mata

PENDAHULUAN. Saat ini, komunikasi merupakan hal yang sangat penting dikarenakan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sebagai alat komunikasi yang paling utama. Bahasa dibagi

METODOLOGI PENELITIAN. kualitatif. Menurut pakar Jalaludin Rahmat penelitin deskriptif adalah

BAB I PENDAHULUAN. Berbeda dengan sintaksis yang mempelajari bagaimana satuan bahasa terbentuk,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGARUH GRAMMATICAL KNOWLEDGE TERHADAP SKOR LISTENING TOEFL TEST MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS UNIVERSITAS RIAU KEPULAUAN

MERENCANAKAN PROGRAM PENGAJARAN DENGAN PENDEKATAN FUNCTIONAL GRAMMAR (TOPIK: FOOD)

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan. Sejalan dengan itu, dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa

LEXICAL DENSITY DAN GRAMMATICAL INTRICACY MATERI BACAAN PADA BUKU BAHASA INGGRIS KELAS 6 SD. Liliek Soepriatmadji. (Universitas Stikubank)

pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran writing. Writing merupakan keterampilan yang melibatkan banyak aspek, yaitu kemampuan untuk mengembangkan

I. PENDAHULUAN. di sekolah. Dalam KTSP Bahasa Inggris 2006 dijelaskan bahwa dalam belajar

LAPORAN KEMAJUAN PENELITIAN PEMULA

BAB I PENDAHULUAN. ada dua proses yang terjadi, yaitu proses kompetensi dan proses performansi.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat aspek keterampilan

BAB I PENDAHULUAN. Esai merupakan karya tulis yang dibuat berdasarkan gagasan atau ide penulis.

90. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA) Program Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Bahasa Indonesia di sekolah merupakan salah satu aspek

PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INGGRIS PADA MAHASISWA D3 TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

Analisis Kesalahan Tatabahasa Dalam Teks Deskriptif Pada Siswa Kelas X SMA 8 Muhammadiyah Kisaran

I. PENDAHULUAN. Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena bahasa

BAB I PENDAHULUAN. dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata.

PEER REVIEW UNTUK PENGAJARAN KETRAMPILAN MENULIS KALIMAT BAHASA INGGRIS. Listiani

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak terlepas dengan

MENGEKSPLORASI TEKS AKADEMIK DALAM GENRE MAKRO

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa sebagai sarana untuk berkomunikasi memunyai peranan yang sangat

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan suatu media terpenting untuk berkomunikasi baik

Daftar Isi TINJAUAN MATA KULIAH...

LINGUISTIK FUNGSIONAL : DIMENSI DALAM BAHASA

EFEKTIVITAS CAROUSEL ACTIVITY DALAM SPEAKING CLASS

I. PENDAHULUAN. tulis (Alwi, 2003:7). Ragam bahasa lisan memiliki beberapa perbedaan dengan

Modul ke: BAHASA INDONESIA. Ragam Bahasa. Sudrajat, S.Pd. M.Pd. Fakultas FEB. Program Studi Manajemen.

ANALISIS INSTRUKSIONAL GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) KONTRAK PERKULIAHAN MATA KULIAH BAHASA INGGRIS (MKU 141)

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi peserta didik. Guru harus mampu menjadi wadah dalam

1. PENDAHULUAN. Di era globalisasi bahasa lnggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan

BAB 5 SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN. Berdasarkan analisis dokumen, analisis kebutuhan, uji coba I, uji coba II,

KEMAMPUAN MENULIS SISWA MENGGUNAKANPENDEKATAN PEMBELAJARAN TERPADU MATA PELAJARANBAHASA INDONESIA PADA MIS ASSALAM MARTAPURA

PENERAPAN PERSPECTIVE ACTIONNELLE UNTUK

BAB I PENDAHULUAN. jenis proses yang terkait dengan partisipan dan sirkumstan, dan peran partisipan, yang direalisasikan ke dalam realita pengalaman

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS GUNADARMA

BAB I PENDAHULUAN. mengusung permasalahan keilmuan. Materi yang dituangkan dalam tulisan ilmiah

METODE PENGAJARAN BAHASA BERBASIS KOMPETENSI

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PERKULIAHAN SEMESTER (RPKPS)

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS) MATA KULIAH: BAHASA INGGRIS UNTUK BISNIS

BAB I PENDAHULUAN. wacana. Artinya, sebuah teks disebut wacana berkat adanya konteks.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Page 9

MENINGKATKAN PENGUASAAN TATA BAHASA PADA MAHASISWA JURUSAN BAHASA INGGRIS SEMESTER DUA UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG DENGAN MENGGUNAKAN PERMAINAN

J.C. Sutoto Pradjarto

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (CLASSROOM ACTION RESEARCH)

Memahami Konsep Subjek dalam Klausa Deklaratif Bahasa Inggris dengan Menggunakan Pendekatan Fungsional

BAB 3 METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model materi ajar sintaksis

BAB 5 PENUTUP. Campur code..., Annisa Ramadhani, FIB UI, Universitas Indonesia

PENINGKATAN KEMAMPUAN LISTENING COMPREHENSION MELALUI STRATEGI TOP-DOWN DAN BOTTOM-UP

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Setiap orang perlu mengungkapkan ide atau gagasan pada orang lain.

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN WORD CARD

BAB I PENDAHULUAN. sekarang ini di kenal dua macam cara berkomunikasi, yaitu komunikasi

I. PENDAHULUAN. penting dalam pendidikan, dan diajarkan mulai dari sekolah dasar hingga tingkat

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER (RPS)


RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER ( R P K P S )

III. METODE TINDAKAN KELAS. dilaksanakan oleh guru dan siswa untuk melakukan perbaikan dan berdampak

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BAB I PENDAHULUAN. tulisan atau bisa disebut dengan bahasa tulis.

SATUAN ACARA PERKULIAHAN JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA ITP

I. PENDAHULUAN. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pikiran,

Bahasa, Fungsi Bahasa, dan Konteks Sosial

RANCANGAN AKTIVITAS TUTORIAL [ R A T ]

J-SIMBOL (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya) PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS TEKS EKSPOSISI MELALUI METODE PEMBERIAN TUGAS SISWA KELAS X.

BAB 1 PENDAHULUAN. tenses yang tepat. Kesulitan ini mungkin disebabkan adanya fakta bahwa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sendiri, menyatakan makna yang lengkap dan mengungkapkan suatu

commit to user 1 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang dipelajari sebagai bahasa

MENGAJAR BERBICARA MENGGUNAKAN METODE WAWANCARA TIGA LANGKAH DI SEMESTER TIGA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam kehidupan sehari-hari manusia dan bahasa tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. dari peristiwa komunikasi. Di dalam komunikasi manusia memerlukan sarana

Transkripsi:

PENINGKATAN KEPADATAN LEKSIKAL TULISAN ILMIAH MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA INGGRIS UDINUS MELALUI PENGAJARAN NOMINALISASI*) Oleh: Sunardi (Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Dian Nuswantoro) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tulisan ilmiah mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Dian Nuswantoro yang tercermin dari tingginya kepadatan leksikal tulisan. Upaya peningkatan ini dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas bagi 20 mahasiswa yang mengambil mata kuliah Writing IV pada semester genap tahun akademik 2009 2010. Tindakan kelas berupa pengajaran materi nominalisasi dan penerapannya dalam kalimat yang dilaksanakan dalam beberapa siklus dimana setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan evaluasi, dan refleksi tindakan. Peningkatan kepadatan leksikal tulisan mahasiswa dapat tercapai pada Siklus Ketiga dengan ditandai tercapainya indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini, yaitu skor rata-rata kepadatan leksikal kelas sebesar 40% atau lebih. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengajaran materi nominalisasi dan penerapannya dalam tulisan ilmiah terbukti mampu membuat tulisan tersebut memiliki tingkat kepadatan leksikal yang tinggi sehingga mampu menyampaikan banyak informasi dalam setiap kalimatnya. Oleh karena itu, materi nominalisasi dalam kalimat perlu diajarkan kepada mahasiswa secara dini melalui mata kuliah English Grammar atau Writing agar mereka terbiasa dengan proses nominalisasi dalam kalimat sebagai salah satu ciri teks ragam tulis dan ilmiah. Kata Kunci : kepadatan leksikal, nominalisasi, tulisan ilmiah 1. PENDAHULUAN Menulis dan berbicara merupakan cara belajar yang berbeda karena apa yang mereka pahami juga berbeda (Halliday, 1985). Berdasarkan dua peran bahasa yang berbeda ini, bahasa ragam tulis berbeda dengan bahasa ragam lisan. Bahasa ragam tulis menyatakan pandangan sinoptis yang mendefinisikan dunia sebagai suatu produk ketimbang suatu proses. Bahasa ragam tulis mengkodekan dunia sebagai suatu 201

struktur atau sesuau yang ada. Sementara itu, bahasa ragam lisan menyatakan pandangan dinamis yang mendefiniskan dunia sebagai suatu proses. Bahasa ragam lisan mengkodekan dunia bukan sebagai suatu struktur tetapi sebagai suatu proses konstruksi. Dalam bahasa lisan, gejala bukannya ada tetapi terjadi. Eggins (1997) membedakan antara bahasa lisan dan bahasa tulis berdasarkan jarak interpersonal dan eksperensial. Situasi bahasa lisan umumnya interaktif, pertemuan langsung, digunakan untuk mencapai tindakan sosial yang sedang berlangsung, spontan, dan santai. Sementara itu, situasi bahasa tulis bersifat kebalikannya, yaitu tidak interaktif, tidak secara langsung, digunakan untuk menggambarkan pengalaman, perbaikan, dan formal. Menulis sebagai salah satu keterampilan bahasa merupakan kemampuan yang paling akhir untuk dikuasai oleh pembelajaran bahasa Inggris (Lewitt, 1990). Permasalahan muncul dalam pengajaran bahasa Inggris karena keempat ketrampilan bahasa (berbicara, menyimak, membaca, dan menulis) harus diajarkan kepada pembelajar sejak tahap awal keterampilan menulis mereka. Hal ini berarti bahwa keterampilan menulis dipraktekkan dalam waktu yang bersamaan dengan ketiga keterampilan bahasa lainnya. Mengajar menulis juga merupakan masalah yang kompleks dimana guru harus memiliki minat dan profesionalisme yang tinggi dalam aktivitas menulis. Dalam kenyataannya tidak banyak guru yang tertarik mengajarkan menulis karena banyaknya beban mengoreksi tulisan mahasiswa dari waktu ke waktu. Di samping itu, sebagian besar murid tidak menyukai menulis. Tentu saja hal ini merupakan suatu ironi hasil pendidikan karena tak seorang pun meragukan pentingnya keterampilan menulis. Salah satu situasi pemakaian bahasa ragam tulis adalah tulisan akademis. Tulisan seperti ini digunakan untuk mencapai kepentingan akademis. Karena digunakan dalam situasi yang ilmiah, tulisan akademis mengkomunikasikan lebih banyak informasi di antara para ilmuwan. Halliday dan Martin (1993) menyatakan bahwa dalam tulisan ilmiah lebih banyak kata leksikal dikemas dalam teks, sehingga bahasanya lebih rumit karena menyangkut banyak istilah teknis yang saling 202

berkaitan. Ada tujuh masalah yang dapat digunakan untuk menggambarkan kesulitan dan karakteristik bahasa Inggris ilmiah, yaitu (1) definisi yang saling berkaitan, (2) taksonomi teknis, (3) ekspresi khusus, (4) kepadatan leksikal, (5) ketaksaan sintaksis, (6) metafora grammatikal, dan (7) pemisahan semantis. Karena tulisan ilmiah termasuk dalam teks ragam tulis, ciri-ciri ragam bahasa tulis harus terlihat di dalam karangan tersebut. Dua ciri utama teks ragam tulis dibandingkan dengan teks ragam lisan adalah lebih tingginya kepadatan leksikal (lexical density) dan lebih rendahnya kerumitan gramatikal (grammatical intricacy). Apabila ciri-ciri tersebut dapat direalisasikan dalam suatu tulisan ilmiah, maka tulisan tersebut mampu memuat informasi sebanyak-banyaknya melalui kata leksikal dan dinyatakan dalam struktur kalimat yang tidak terlalu rumit (complex). Namun, kenyataannya sebagian besar tulisan ilmiah yang dihasilkan oleh mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Dian Nuswantoro belum menunjukkan ciri-ciri tulisan ilmiah, khususnya kepadatan leksikal dan kerumitan gramatikalnya. Hal ini terjadi karena sebagian besar tulisan tersebut merupakan teks ragam lisan yang ditulis, sehingga lebih menunjukkan ciri-ciri teks ragam lisan daripada ragam tulis. Salah satu cara agar tulisan ilmiah memiliki tingkat kepadatan leksikal yang lebih tinggi dan tingkat kerumitan gramatikal yang lebih rendah adalah dengan proses nominalisasi. Proses nominalisasi dalam kalimat dilakukan dengan cara mengubah kata kerja dan sifat menjadi kata benda, sehingga kata benda tersebut bisa menjadi kata utama (noun head) dalam suatu nominal group yang dapat dijelaskan dengan menggunakan kata leksikal lainnya, tanpa menambah kerumitan struktur kalimat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tulisan ilmiah mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Dian Nuswantoro yang tercermin dari tingginya kepadatan leksikal tulisan melalui pengajaran materi nominalisasi pada mata kuliah Writing IV. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi (a) mahasiswa dalam usahanya untuk meningkatkan kualitas tulisan akademisnya, terutama agar tulisan yang dihasilkannya memiliki kepadatan leksikal yang lebih tinggi, dan (b) dosen pengampu mata kuliah Writing dalam memperbaiki 203

praktek pembelajarannya di kelas, terutama agar mahasiswa mampu menghasilkan karangan ilmiah yang memenuhi kriteria sebagai teks ragam tulis. Hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: Pengajaran materi nominalisasi pada mata kuliah Writing IV pada Program Studi Sastra Inggris semester genap tahun akademik 2009 2010 dapat meningkatkan tingkat kepadatan leksikal (lexical density) karangan ilmiah yang ditulis mahasiswa. 2. LANDASAN TEORI 2.1 Bahasa Ragam Lisan dan Tulis Menurut Eggins (1997) ada beberapa perbedaan yang jelas antara bahasa ragam lisan dan tulis berdasarkan implikasi linguistik modus (MODE). Perbedaan tersebut dapat diringkas seperti pada tabel berikut. Tabel 1. Perbedaan Bahasa Ragam Lisan dan Tulis Ragam Lisan melalui gilir bicara (turn-taking) terikat konteks strukturnya dinamis Bahasa ragam lisan dan tulis: implikasi linguistik MODUS bersifat monologis bebas konteks strukturnya sinoptis - tahapan interaktif - tahapan retorika - berakhir terbuka - berakhir tertutup spontan (awal yang salah, keragu-raguan, interupsi, tumpang tindih, klausa tidak lengkap) kosakata biasa tatabahasa tidak baku kompleksitas gramatikal sedikit kata leksikal Ragam Tulis draf akhir (sudah diperbaiki) indikasi draf sebelumnya tidak tampak kosakata teknis tatabahasa baku kesederhanaan gramatikal lebih banyak kata leksikal 204

2.2 Kepadatan Leksikal Berdasarkan ciri-ciri bahasa ragam lisan dan tulis tersebut, kompleksitas grammatikal dan kepadatan leksikal merupakan pembeda yang paling nyata di antara kedua ragam bahasa tersebut. Ciri kompleksitas gramatikal menyatakan bahwa bahasa ragam lisan cenderung menggambungkan klausa-klausa satu sama lain, sehingga menggunakan lebih banyak klausa dan kalimatnya menjadi lebih panjang. Sebaliknya, ciri kesederhanaan gramatikal dalam bahasa ragam tulis menyatakan bahwa bahasa ragam tulis cenderung menggunakan lebih sedikit klausa dalam kalimat. Tingkat kepadaan leksikal membedakan antara bahasa ragam lisan dengan ragam tulis. Menurut Halliday dan Martin (1993), kepadatan leksikal (lexical density) menggambarkan kepatan informasi dalam suatu teks, menurut seberapa banyak kata leksikal (kata isi) dipadatkan ke dalam struktur gramatikal. Kepadatan leksikal dapat digunakan sebagai indikator sebuah teks melalui perhitungan jumlah kata leksikal yang digunakan dalam teks dan sebagai ukuran untuk menghitung jumlah informasi yang disampaikan dalam teks tersebut. Menurut Eggins (1994) tingkat kepadatan leksikal suatu teks dapat ditentukan dengan membagi jumlah kata leksikal yang digunakan (information-carrying words) dengan jumlah semua kata yang digunakan dalam teks tersebut. Dalam bahasa Inggris, kata leksikal meliputi kata benda (noun), kata kerja leksikal (lexical verb), kata sifat (adjective), dan kata keterangan (adverb). Sedangkan, kata tugas (function words) meliputi determiners, pronouns, prepositions, conjunctions, numerals, dan auxiliary verbs. Bahasa ragam tulis menjadi kompleks karena banyak memiliki kata leksikal di dalam klausaklausanya. Teks ragam tulis cenderung lebih terencana dan lebih formal daripada teks ragam lisan, sehingga teks ragam tulis memiliki kepadatan leksikal yang lebih tinggi daripada teks ragam lisan. Ure, seperti dinyatakan oleh Johansson (2008), menyimpulkan bahwa sebagian besar teks ragam tulis memiliki kepadatan leksikal 40% atau lebih, sedangkan teks ragam lisan memiliki kepadatan leksikal kurang dari 40%. 205

Eggins (1994) merangkum hubungan antara kompleksitas gramatikal dan kepadatan leksikal antara teks tulis dan lisan sebagai berikut: Table 2. Kompleksitas Gramatikal dan Kepadatan Leksikal antara Teks Tulis dan Lisan Teks Lisan kepadatan leksikal rendah - jumlah kata leksikal yang digunakan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah semua kata dalam teks Kompleksitas gramatikal lebih tinggi Teks Tulis kepadatan leksikal tinggi - jumlah kata leksikal yang digunakan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah semua kata dalam teks Kompleksitas gramatikal lebih - kalimat memiliki banyak klausa - kalimat memiliki sedikit klausa 2.3 Frase Nominal (Nominal Group) Agar dapat menggunakan lebih banyak kata leksikal setiap kalimat sehingga meningkatkan kepadatan leksikal, teks ragam tulis menggunakan nominalisasi. Hal ini berhubungan dengan penggunaan frase nominal (nominal group) dalam bahasa Inggris. Frase nominal adalah gabungan kata yang memiliki kata benda (yaitu kata yang menamai orang, tempat atau benda lainnya) sebagai kata inti dan termasuk seluruh informasitambahan tang berhubungan dengan kata benda inti tersebut. Eggins (1994) mencontohkan beberapa frase nominal untuk menyatakan ada hanyak hal yang dapat dilakukan dengan kata benda dalam bahasa Inggris, yaitu counting, specifying, describing, classifying, and qualifying, seperti contoh berikut: 206

spiders the three spiders the three redback spiders the three shiny redback spiders the smallest of the three shiny redback spiders the smallest of the three shiny redback spiders in the corner the smallest of the three shiny redback spiders spinning their webs in the corner Dalam bahasa Inggris, frase nominal sebagai alat untuk menggambarkan pengalaman memiliki sejumlah elemen fungsional (Gerot dan Wignell, 1994): a. Thing, kata benda yang menjadi pusat modifikasi dan spesifikasi lebih lanjut; b. Deitic, memberikan identifikasi kepada thing berhubungan dengan konteksnya; c. Post-deitic, menyatakan bagian lain dari thing dengan merujuk kepada apakah benda tersebut dikenal atau tidak, statusnya dalam konteks, kesamaan atau ketidaksamaannya dengan jenis benda lainnya; d. Numerative, menyatakan jumlah atau urutan thing; e. Epithet, menyatakan kualitas thing; f. Classifier, menyatakan jenis atau ragam; dan g. Qualifier, memberikan information tambahan atau informasi lokasi terhadap thing yang berada di belakangnya. Contoh frase nominal dengan semua elemen fungsionalnya adalah sebagai berikut: those other two big, loathsome venomous snakes with rattles Deictic Postdeictic Numerative Epithet (experiential) Epithet (attitudinal) classifier Thing Qualifier 207

2.4 Nominalisasi Dalam ilmu linguistik, nominalisasi merujuk kepada pengubahan kata kerja atau kata sifat menjadi kata benda, baik dengan proses transformasi morfologis atau tidak, sehingga kata benda tersebut berfungsi sebagai kata benda inti dalam suatu frase nominal. Dalam bahasa Inggris, beberapa kata kerja dan kata sifat dapat digunakan secara langsung sebagai kata benda, atau dengan membutuhkan imbuhan dengan transformasi morfologis, seperti nominalization dari nominalize; movement dari move; investigation dari investigate; difficulty dari difficult; carelessness dari careless, dan sebagainya. Ketika sebuah kata kerja dinominalisasikan, ia berubah menjadi konsep dan bukannya proses lagi (Wikipedia, 2006). Nominalisasi banyak dijumpai pada tulisan akademis. Nominalisasi memiliki karaketistik sebagai berikut (Ling dalam Wang, 2007): a. Nominalisasi mengubah proses (verb)menjadi konsep (noun). b. Dengan nominalisasi, satu kalimat memuat di dalamnya beberapa ide abstrak yang kompleks. c. Nominalisasi menghasilkan frase nominal yang panjang sehingga meningkatkan kepadatan leksikal. d. Nominalisasi mengurangi beberapa klausa, sehingga banyak informasi dapat dipadatkan kedalam frase nominal. e. Ketika kata kerja dinominalisasikan, ia berubah menjadi konsep dan bukannya proses lagi, sehingga penulis dapat meningkatkan jumlah informasi untuk memberikan penjelasan lebih lanjut terhadap konsep yang dibahas dalam kalimat. f. Nominalisasi memungkinkan penulis teks akademis merujuk ke ide-ide abstrak yang muncul kembali. 2.5 Kerangka Berpikir Berdasarkan pada kerangka teori tentang pengajaran menulis, karakteristik bahasa ragam tulis, dan proses nominalisasi, dapat disusun kerangka berpikir yang 208

digunakan sebagai dasar atau acuan dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kepadatan leksikal karangan ilmiah mahasiswa Proram Studi Sastra Inggris. Kerangka berpikir tersebut dapat digabarkan pada Gambar 1. Kondisi awal Dosen belum melakukan pembelajaran writing dengan pengajaran materi nominalisasi Teks (tulisan) yang dihasilkan mahasiswa memiliki lexical density yang rendah dan grammatical intricacy yang tinggi Tindakan yang dilakukan Dosen melaksanakan pembelajaran writing dengan pengajaran materi nominalisasi Siklus 1, dst Dosen dan mahasiswa melakukan pembelajaran writing dengan penekanan pada materi nominalisasi Kondisi akhir yang diharapkan Tulisan bahasa Inggris yang dihasilkan mahasiswa memiliki lexical density minimal 40% dan grammatical intricacy yang rendah Hipotesis Pengajaran nominalisasi dapat meningkatkan lexical density dan mengurangi grammatical intricacy tulisan bahasa Inggris mahasiswa Gambar 1. Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas 3. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun akademik 2009 2010 selama 4 bulan (April Juli 2010). 3.2 Subjek dan Objek Penelitian Subjek penelitian ini adalah 20 mahasiswa yang mengambil mata kuliah Writing IV pada semester genap tahun akademik 2009 2010. Sedangkan objek penelitian ini 209

ada dua jenis, yaitu objek proses dan objek produk. Objek proses penelitian ini adalah materi nominalisasi dalam pengajaran writing, dan objek produknya adalah peningkatan kepadatan leksikal teks yang ditulis mahasiswa. 3.3 Indikator Keberhasilan Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila skor rata-rata kepadatan leksikal kelas sebesar 40% atau lebih. 3.4 Prosedur Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 (tiga) siklus tindakan. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan evaluasi, dan tahap analisis dan refleksi. Pada penelitian tindakan kelas ini peneliti dibantu oleh seorang dosen sejawat pengampu mata kuliah Writing IV yang bertindak sebagai kolaborator. Tahap perencanaan tindakan meliputi kegiatan: menyusun silabus dan skenario pembelajaran dengan pokok bahasan nominalisasi, merancang media pengajaran dengan power point, menyusun alat pengumpul data berupa test mengarang. Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan memperkenalkan kepada mahasiswa tentang materi nominalisasi dan membimbing mahasiswa dalam menerapkan cara-cara nominalisasi untuk meningkatkan kepadatan leksikal karangan ilmiah. Selama pelaksanaan tindakan, peneliti bersama kolaborator melakukan pengamatan terhadap semua aktivitas yang terjadi di dalam kelas, khususnya ketika mahasiswa berlatih menerapkan teori nominalisasi dalam praktek menulis mereka. Setiap siklus tindakan dijalankan selama dua pertemuan, dimana satu pertemuan berlangsung selama 10 menit (2 SKS). Pelaksanaan tindakan dan pengamatan dilakukan pada pertemuan ke-1 dan ke-2 pada setiap siklus. Selanjutnya pada pertemuan kedua test mengarang diberikan kepada mahasiswa, untuk mengetahui tingkat keberhasilan tindakan yang telah dilaksanakan. 210

Hasil test mengarang setiap siklus selanjutnya dianalisis terutama tingkat kepadatannya, untuk mengetahui apakah kepadatan leksikal karangan mahasiswa telah memenuhi syarat minimal bagi teks ragam tulis. Berdasarkan hasil analisis inilah refleksi dilakukan. Apabila hasil tindakan ke-1 belum mencapai indikator keberhasilan, maka tindakan siklus ke-2 direncanakan dengan perbaikan langkah berdasarkan hasil refleksi siklus sebelumnya. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Selama penelitian tindakan kelas, empat test diberikan kepada mahasiswa. Dalam setiap test mahasiswa diminta menulis sebuah teks yang terdiri dari satu paragraf tentang sebuah topik yang dapat dipilih dari sejumlah topik yang diberikan oleh dosen. Test ke-1 diberikan setelah perkuliahan writing IV dengan materi perkuliahan seperti biasanya, bukan materi nominalisasi. Hasil testke-1 ini digunakan sebagai nilai pre-test (t 1 ). Selanjutnya pada pertemuan ke-2 setiap siklus tindakan, mahasiswa diberi test mengarang. Hasil test pada tiga siklus ini diberi kode masing-masing t 2, t 3, dan t 4. Kepadatan leksikal karangan dinilai dengan dengan rumus: Kepadatan Leksikal = L/T x 100%, dimana L = jumlah kata leksikal dalam teks T = jumlah keseluruhan kata yang digunakan dalam teks Hasil test yang diperoleh oleh setiap mahasiswa pada empat test dapat disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Test Mahasiswa Skor Kepadatan Leksikal (dalam %) Subjek t 1 t 2 t 3 t 4 (pre-test) (siklus 1) (siklus 2) (siklus 3) 1 29 37 39 46 2 27 35 39 45 3 25 32 37 44 4 24 33 38 39 5 27 36 42 47 211

6 28 35 41 46 7 24 30 38 44 8 22 28 37 43 9 24 30 39 42 10 25 31 40 46 11 25 30 38 42 12 28 36 40 45 13 25 31 37 46 14 24 29 36 45 15 26 32 39 44 16 24 28 37 39 17 26 37 41 46 18 25 34 39 43 19 25 36 37 45 20 25 32 38 45 Rerata 25,4 32,6 38,6 44,3 Seperti disajikan pada Tabel 3 bahwa karangan yang ditulis mahasiswa pada pre-test (t 1 ) belum memiliki karakteristik sebagai teks ragam tulis. Hal ini ditunjukkan dengan skor rerata sebesar 25,4%. Sebagian besar karangan yang dibuat mahasiswa memiliki ciri teks ragam lisan yang ditulis. Berdasarkan hasil pada pretest tersebut selanjutnya tindakan perbaikan dilakukan pada siklus 1 dengan memperkenalkan materi nominalisasi dan penerapannya dalam karangan. Teks yang ditulis mahasiswa pada t 2 setelah mereka diperkenalkan dengan materi nominalisasi, khususnya sub pokok bahasan long nominal groups, menunjukkan peningkatan skor kepadatan leksikal, yaitu 32,6%. Meskipun ada peningkatan skor, hasil ini belum memenuhi kriteria minimal kepadatan leksikal teks ragam tulis. Berdasarkan pada hasil t 2 ini, tindakan siklus ke-2 dilakukan dengan penekanan pada pengubahan verb menjadi noun. Pada t3 mahasiswa mampu menghasilkan teks yang memiliki kepadatan leksikal yang lebih tinggi, yaitu sebesar 38,6%. Hasil siklus ke-2 ini memang meningkat dari siklus ke-1, namun masih belum memenuhi kriteria untuk teks ragam tulis. Berdasarkan pada hasil test siklus ke-2 dan kesulitan mahasiswa dalam 212

membuat nominalisasi, selanjutnya dilakukan tindakan perbaikan pada siklus ke-3 dengan penekanan pada mengurangi beberapa klausa, sehingga banyak informasi dapat dipadatkan kedalam frase nominal. Tindakan perbaikan yang diberikan kepada mahasiswa pada siklus ke-3 ini ternyata mampu membuat mahasiswa menghasilkan karangan yang memiliki skor kepadatan leksikal yang meningkat dari siklus sebelumnya, yaitu sebesar 44,3%. Sebagian besar (90%) karangan mahasiswa telah memiliki karakteristik sebagai teks tulis. Hasil ini juga menunjukkan pencapaian indikator keberhasilan tindakan kelas ini, yaitu rerata skor kepadatan leksikal karangan yang ditulis mahasiswa minimal 40%. 5. SIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pengajaran materi nominalisasi beserta penerapannya terbukti meningkatkan kepadatan leksikal karangan mahasiswa. Dengan memahami proses nominalisasi dalam membuat teks ragam tulis, mahasiswa berusaha menggunakan sebanyak mungkin kata leksikal (kata yang menyampaikan informasi) kedalam satu kalimat, sehingga mampu mengurangi penggunaan kata tugas dalam teks mereka. Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini, guru atau dosen pengampu mata kuliah/mata pelajaran writing perlu memperkenalkan materi nominalisasi dan prakteknya sedini mungkin kepada siswa/mahasiswa. Strategi nominalisasi perlu dipraktekkan pada kelas writing. Kelas writing harus mampu membuat pembelajar mampu menghasilkan teks ragam tulis, bukan teks ragam lisan yang ditulis. DAFTAR PUSTAKA Eggin, Suzzane. 1994. An Introduction to Systemic Functional Linguistics. London: Printer. Gerot, L. and P. Wignel. 1994. Making Sense of Functional Grammar. Cammeray, New South Wales: Antipodean Educational Enterprises. Halliday, M.A.K. 1994. An Introduction to Functional Grammar.(2 nd ed). London: Arnold. 213

. 1985. Spoken and Written Language. Geelong, Victoria: Deakin University Press. Halliday, M.A.K. & Martin. J.R. 1993. Writing Science: Literacy and Discursive Power. Pittsburgh University of Pittsburgh Press. London: Falmer Press. Johansson, Victoria. Lexical Diversity and Lexical Density in Speech and Writing: A Developmental Perspective. Working Papers 53 (2008), 61 79. Lund University. Lewitt. English Teaching Forum. 1990. 17 23. Stegen, Oliver. Lexical Density in Oral Versus Written Rangi Texts. SOAS Working Papers in Linguistics Vol. 15 (2007): 173 184. Wang, Xuefeng. 2007. Grammatical Concepts and Their Application in Foreign Language Teaching. http://www.aare.edu.au/06pap/wan06111. Wikipedia, the free encyclopedia. 2006. http://en.wikipedia.org/wiki/nominalization. 214