ANALISIS KELAYAKAN USAHA PRODUKSI SAMBAL PETIS IKAN TUNA SIAP SAJI (Studi kasus di UD. Madu Prima Pamekasan Madura)

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS DAN FINANSIAL PRODUKSI SELAI DARI TANAMAN NIPAH (NYPA FRUTICANS) (STUDI KASUS DI PULAU BAWEAN, KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR)

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS DAN FINANSIAL PRODUKSI SELAI DARI TANAMAN NIPAH (NYPA FRUTICANS) (STUDI KASUS DI PULAU BAWEAN, KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR)

VIII. ANALISIS FINANSIAL

MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

VII. RENCANA KEUANGAN

VIII. ANALISIS FINANSIAL

IV. METODE PENELITIAN

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PRODUK KOPI HERBAL INSTAN TERPRODUKSI OLEH UD. SARI ALAM

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik. dari segi materi maupun waktu. Maka dari itu, dengan adanya

IV. METODE PENELITIAN

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PRODUKSI PASTA MANGGA PODANG URANG (Studi Kasus pada IKM Kelompok Wanita Tani Budidaya Tiron Makmur Banyakan, Kediri)

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

III. METODOLOGI PENELITIAN

6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

1. Formulasi mellorin serta analisa sifat fisik dan proksimat.

IV. METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

III. KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Pengertian Usaha

BAB 5 ANALISIS KEUANGAN

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL TERHADAP PROFITABILITAS INDUSTRI RUMAH TANGGA ANEKA KUE KERING (STUDI KASUS: INDUSTRI RUMAH TANGGA ONI COOKIES )

Lia Milana Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Majalengka

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

III. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

Riska Dewi 1), Yusmini 2), Susy Edwina 2) Agribusiness Department Faculty of Agriculture UR ABSTRACT

IV METODE PENELITIAN

Proceeding Lokakarya Nasional Pemberdayaan Potensi Keluarga Tani Untuk Pengentasan Kemiskinan, 6-7 Juli 2011

ASPEK FINANSIAL Skenario I

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGGILINGAN PADI SKALA KECIL (Studi Kasus : Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara)

IV METODOLOGI PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari

ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR

BAB VI ASPEK KEUANGAN. investasi dari perusahaan Saru Goma. Proyeksi keuangan ini akan dibuat dalam

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Penentuan Responden

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

III. METODE PENELITIAN. tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional

III KERANGKA PEMIKIRAN

ABSTRACT. Analisis Kelayakan Teknis dan Finansial, Keripik Pisang, Mesin Perajang, Vacuum Frying SUMMARY

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

III. KERANGKA PEMIKIRAN

METODE PENELITIAN. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian atau mencakup. yang berhubungan dengan tujuan penelitian.

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

KAJIAN PELUANG INVESTASI PABRIKASI KECAP DI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN Oleh : Refius Pradipta S * BAB I PENDAHULUAN

BAB III METODE PENELITIAN

Peternakan Tropika. Journal of Tropical Animal Science

IV. METODE PENELITIAN

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Rancabungur, Desa Pasirgaok, Bogor,

PEMBUATAN MIE TEPUNG KULIT PISANG KEPOK SKRIPSI

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

ANALISIS FINANSIAL USAHA AGROINDUSTRI LEMPUK DURIAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS CAPITAL BUDGETING UNTUK MENILAI KELAYAKAN INVESTASI AKTIVA TETAP (Studi Pada CV. Alfa 99 Malang)

Analisis Kelayakan Finansial Produk Pakan Ternak Sapi Perah di Koperasi Susu Kota Batu

II. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODE PENELITIAN. Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi

III. METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pemikiran. 3.2 Metode Penelitian

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Bahan Batasan Operasional. Konsep dasar dan defenisi opresional mencakup pengertian yang

BAB I PENDAHULUAN. produksi daging ayam dinilai masih kurang. Berkenaan dengan hal itu, maka

IV. METODE PENELITIAN

BAB XVI KEGIATAN AGRIBISNIS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

Feasibility Analysis of Patin Fish Business (Pangasius Sutchi) In Sipungguk Village Pond Salo Sub District Regency of Kampar Riau Province

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan data di lapangan dilakukan pada bulan April Mei 2011.

Manajemen Investasi. Febriyanto, SE, MM. LOGO

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2014.

BAB I PENDAHULUAN. Industri (HTI) sebagai solusi untuk memenuhi suplai bahan baku kayu. Menurut

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Arman dan Ruslang T., Et al / Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian, Vol. 3 (2017) :

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang

PENGARUH PROPORSI TEPUNG TERIGU : PISANG TANDUK KUKUS DAN PENAMBAHAN TELUR TERHADAP KUALITAS CAKE SKRIPSI. Oleh :

Aspek Keuangan. Studi Kelayakan (Feasibility Study) Sumber Dana. Alam Santosa

BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI AKTIVA TETAP PENAMBAHAN MESIN PERCETAKAN PADA LINEZA PRODUCTION SAMARINDA

ANALISA KELAYAKAN BISNIS PT. SUCOFINDO UNIT PELAYANAN DONDANG. Sahdiannor, LCA. Robin Jonathan, Suyatin ABSTRACT

Manajemen Keuangan Agroindustri. Lab. Manajemen Agribisnis, Faculty of Agriculture, Universitas Brawijaya

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

TUGAS PENGANTAR EKONOMI PRODUKSI ANALISIS USAHA JAHIT ARYAN TAILOR

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Transkripsi:

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PRODUKSI SAMBAL PETIS IKAN TUNA SIAP SAJI (Studi kasus di UD. Madu Prima Pamekasan Madura) ANALYSIS FEASIBILITY BUSINESS CONDIMENT PETIS OF TUNA INSTANT (case study UD. Madu Prima Pamekasan) Ika Wahyuningsih 1 ) Ir. Usman Effendi, MS 2 ) Arif Hidayat, STP. M.AIT 2 ) 1) Alumni Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP Unibraw 2) Staf Pengajar Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP-Unibraw Jurusan Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya JL. Veteran Malang 65145 Abstrak Petis merupakan hasil komoditi pengolahan ikan yang cukup terkenal terutama di masyarakat Pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur dan Madura. Petis terdiri dari dua macam yaitu petis ikan dan petis udang. UD. Madu Prima melakukan inovasi baru berupa sambal petis ikan tuna yang memiliki rasa super pedas dan tidak perlu diolah lagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha produksi sambal petis ikan tuna. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas produksi sebanyak 1600 unit per atau 22.400 ml per bulan. Harga Pokok Produksi (HPP) sambal petis ikan tuna sebesar Rp. 5.269,00 dengan harga jual sebesar Rp. 6.500,00 per botol. Break Even Point (BEP) tercapai pada tingkat penjualan sebesar 13.012 unit atau senilai Rp. 82.280.488,00. R/C ratio sebesar 1,23. Net Present Value (NPV) bernilai positif yaitu sebesar Rp. 11.922.600,00. Internal Rate of Return (IRR) sebesar 18,96% dan Payback Period (PP) selama 3,71 tahun. Hasil dari analisis sensitivitas dapat disimpulkan bahwa titik sensitivitas dari produksi sambal petis ikan tuna pada kenaikan harga bahan baku dan bahan tambahan pada 9,0862 persen dan penurunan harga jual sebesar 2,227 persen. Pada analisis sensitivitas untuk produk sambal petis ikan tuna yang paling peka jika terjadi perubahan pada harga jual. Kata Kunci: Sambal Petis Ikan Tuna, Aspek Teknis, Aspek Finansial dan Analisis Sensitivitas. Abstract Petis is the result of a commodity of fish processing that was more popular in the community, especially the island of java and especially in east java madura. Petis consisting of two kinds of fish and shrimp namely petis petis. UD. Madu Prima do new innovations such as chili sauce petis tuna fish having the flavor of super spicy and unnecessary tillable again. Research is aimed to know the eligibility of business the production of chili sauce petis tuna fish. The result showed its production capacity as many as 1600 units per or 22.400 mls per month. The cost of production ( HPP ) condiment petis tuna fish Rp. 5.269,00 with the selling price of Rp. 6.500,00 a bottle. Break even points ( BEP ) achieved in the level of sales of 13.012 units or worth Rp. 82.280.488,00. R/C ratio of 1,23. The net present value (NPV) is worth positive. Rp.11.922.600,00. Internal rate of return ( IRR ) as much as 18,96 % and payback period ( PP ) during 3,71 years. The result of analysis sensitivity can be concluded that point sensitivity of production condiment petis of tuna with the price of raw and an additional ingredient in 9,0862 percent and decline the selling price of 2,227 percent. On analysis sensitivity for products condiment petis of tuna most sensitive if there changes on in selling price. Keywords: Tuna Fish Sambal Petis, Technical Aspects, and Financial Aspects of Sensitivity Analysis.

PENDAHULUAN Industri yang berkembang saat ini, sebagian besar adalah industri pengolahan produk pangan. Hal ini dikarenakan pengolahan pangan dibutuhkan secara terus-menerus oleh masyarakat. Pada dasarnya produk pangan hanya berkisar pada hasil-hasil pasca panen pertanian, tetapi saat ini tidak seperti itu, pendefinisian dari produk pangan dapat diartikan secara luas sebagai hasil-hasil dari peternakan, perikanan, maupun pertanian (Kristanto, 2002). Salah satu alternatif penyediaan bahan pangan adalah pemanfaatan sumber daya hayati laut seoptimal mungkin. Sebagian besar nelayan Indonesia adalah nelayan tradisional. Satu diantara banyak kegiatan pengolahan adalah pengolahan pindang yang menghasilkan limbah yang dapat dimanfaatkan lagi sebagai bahan makanan seperti petis. Petis merupakan hasil komoditi pengolahan ikan yang cukup dikenal terutama di masyarakat pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur yang digunakan sebagai lauk pauk atau campuran makanan rakyat. Selama ini produksi petis masih relatif kecil jika dibandingkan dengan produksi perikanan lain. Kondisi ini disebabkan pengolahan petis biasanya dilakukan dalam skala kecil atau dalam industri rumah tangga, yang bertujuan sekedar untuk menambah penghasilan keluarga. Namun demikian, petis ini selalu ada sepanjang tahun, karena umur simpan yang tahan lama dan selalu diproduksi oleh nelayan dengan memanfaatkan cairan pindang yang dihasilkan dari proses pembuatan pindang. Ditinjau dari aspek gizi, petis ikan cukup banyak mengandung protein, yaitu berkisar 20 40 %. Hal ini karena bahan dasar petis adalah cairan pindang yang banyak mengandung protein ikan larut air. UD. Madu Prima merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi petis ikan tuna. Di dalam memasarkan hasil produknya, UD. Madu Prima mendapatkan persaingan dari kompetitornya. Kondisi seperti ini mengharuskan UD. Madu Prima untuk selalu menghadirkan inovasi baru dalam pengembangan produknya agar mampu mempertahankan pangsa pasar. Inovasi ini diperlukan agar UD. Madu Prima agar siap bersaing dengan perusahaan pesaingnya. Pengembangan produk yang dilakukan UD. Madu Prima berupa sambal petis ikan tuna siap saji. Sambal petis ikan tuna merupakan petis ikan tuan yang sudah diolah beserta cabai dan bahan tambahan lainnya. Produk ini memiliki tekstur yang agak cair, berbeda dengan petis kebanyakan yang beredar di pasar. Sambal petis ikan tuna siap saji ini, merupakan perlakukan lebih lanjut dari petis ikan yang pernah diproduksi oleh UD. Madu Prima. Produk baru yang diproduksi oleh UD. Madu Prima bermerek dagang Sambal Petis Ikan Tuna Siap Saji. Untuk produk baru ini, UD. Madu Prima perlu melakukan suatu analisis kelayakan usaha untuk menerapkan rancangan proyek dan mengkaji rancangan ini menguntungkan atau tidak bagi UD. Madu Prima. Analisis kelayakan usaha bisa digunakan untuk mengevaluasi usaha dengan menggunakan metode analisis teknis, analisis finansial dan analisis sensitivitas. Oleh sebab itu penelitian ini diharapkan dapat menganalisis potensi pengembangan produk usaha UD. Madu Prima dilihat dari segi teknis dan finansial, serta dapat mengaalisis pengaruh dari akibat keadaan yang berubah-ubah atau kesalahan dalam dasar-dasar perhitungan biaya dilihat dari segi sensitivitas. KAJIAN PUSTAKA Petis merupakan produk berbentuk pasta berwarna coklat kehitaman, dibuat dengan cara mengentalkan kaldu yang diberi gula merah dan bumbu-bumbu lainnya (Dewanti, 2002). Menurut Astawan (2004), petis merupakan produk olahan atau awetan yang termasuk dalam kelompok saus yang menyerupai bubur kental, liat dan elastis. Penyedap yang bahan utamanya udang, ikan dan biasa juga daging bukan hanya menambah rasa enak, tetapi juga mengandung protein, karbohidrat dan beberapa unsur mineral yaitu fosfor, kalsium dan zat besi. Berdasarkan bahan baku yang digunakan petis dapat dibagi menjadi dua

golongan, yaitu petis yang pengolongannya berasal dari sari udang pada pengolahan ebi atau dari ikan pada pembuatan pindang dan petis yang khusus dibuat dari daging ikan atau daging udang (Suprapti, 2001). Menurut Astawan (2004), petis udang atau ikan adalah ekstrak ikan atau udang yang dikentalkan dengan tambahan beberapa macam bahan untuk memberikan rasa, warna dan konsistensi yang menarik. Kandungan gizi dalam petis udang dan petis ikan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kandungan Unsur Gizi dalam Petis Udang dan Petis Ikan No. Unsur Gizi Kadar / 100 g bahan Petis Udang Petis Ikan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Energi (g) Air (g) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Kalsium (mg) Fosfos (mg) Besi (mg) 220,0 39,0 15,0 0,1 40,0 37,0 36,0 2,8 161,0 56,0 20,0 0,2 24,0 37,0 36,0 2,8 Sumber: Direktorat Gizi (1996) dalam Suprapti (2001) Petis ikan yang terdapat di Indonesia merupakan hasil penyaringan dari proses perebusan atau pemindangan ikan, atau limbah hasil perebusan (pemindangan) dari ikan yang tidak dipergunakan lagi namun mengandung zat gizi yang cukup tinggi. Sebagai hasil ikutan, petis ikan yang dikumpulkan dari cairan hasil pemindangan diuapkan lebih lanjut dengan perebusan lanjutan, sambil dibubuhi gula sebagai bahan pengawet (Astawan, 2004). Adapun kegunaan petis adalah sebagai penyedap atau penambah rasa enak pada masakan atau sambal yang dipersiapkan (Suprapti, 2001). Petis ikan yang terdapat di Indonesia terkenal didaerah Jawa Timur, khususnya di pulau Madura, namun petis ikan tidak begitu terkenal di daerah JawaTengah dan Jawa Barat karena rasanya yang kurang lezat dan bau amis yang menyengat. Aspek teknis merupakan aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun (Husnan dan Suwarsono, 2007). Ibrahim (2009) mengatakan bahwa di dalam aspek teknik teknologi faktor-faktor yang perlu diuraikan adalah yang menyangkut lokasi usaha atau proyek yang direncanakan, sumber bahan baku, jenis teknologi yang digunakan, kapasitas produksi, jenis dan jumlah investasi yang diperlukan disamping membuat rencana produksi selama umur ekonomis proyek. Menurut Ibrahim (2009) dalam aspek finansial yang perlu dibahas, antara lain menyangkut perkiraan biaya investasi, perkiraan biaya operasi dan pemiliharaan, kebutuhan modal kerja, sumber pembiayaan, perkiraan pendapatan, perhitungan kriteria investasi. Lebih lanjut dikatakan analisa kriteria investasi sangat diperlukan apabila usaha yang sedang direncanakan dalam bentuk jenis kegiatan produksi, sekurang-kurangnya dilihat dari segi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), R/C Rasio dan Payback Periode (PP). Net Present Value Net Present Value (NPV) merupakan metode menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih (operasional maupun cash flow) dimasa yang akan datang. Untuk menghitung nilai sekarang tersebut perlu ditentukan dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Menurut Umar (2009) rumus untuk mencari NPV adalah sebagai berikut: Rumus NPV = n NBi i=1 (1+i) n Keterangan : NB = Net Benefit (benefit-cost) i = Discount factor n = Waktu (tahun) Internal Rate of Return (IRR) Internal Rate of Return (IRR) adalah metode untuk menghitung tingkat suku bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih dimasamasa mendatang. Apabila tingkat suku bunga relevan (tingkat keuntungan yang disyaratkan), maka investasi dinyatakan

menguntungkan, kalau lebih kecil dikatakan merugikan (Jumingan, 2009). Rumus untuk mencari IRR adalah sebagai berikut: IRR = i 1 + NPV 1 NPV 1 NPV 2 +(i 2 - i 1 ) Keterangan: i 1 = discount rate yang dihasilkan NPV 1 i 2 = discount rate yang dihasilkan NPV 2 R/C Rasio Return Cost Ratio (R/C rasio) merupakan salah satu cara untuk mengetahui kelayakan dan kemajuan usaha, yaitu dengan membandingkan antara penerimaan dalam nilai uang dengan besarnya biaya yang dikeluarkan dalam usaha tersebut (Umar, 2009). Rumus untuk mencari R/C Rasio adalah sebagai berikut: Rumus R/C rasio = TR TC Dengan TR = P x Q TC = TFC + TVC Keterangan : TR = Total Revenue (jumlah seluruh penerimaan yang diperoleh) P = Price (harga) Q = Quantity (Jumlah unit) TC = Total cost (Jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan) Payback Periode (PP) Payback period (PP) adalah metode perhitungan atau penentuan jangka waktu yang dibutuhkan untuk menutup initial investment dari suatu proyek atau mengukur seberapa cepat suatu investasi bisa kembali. Suatu prabrik layak didirikan jika nilai payback period lebih kecil dari umur ekonomis proyek (Pujawan, 2004). Rumus untuk mencari PP adalah sebagai berikut: Rumus PP = I A b Keterangan: PP = Payback Period I = jumlah modal (modal investasi dan modal kerja) Ab = rata-rata penerimaan bersih METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di UD. Madu Prima yang terletak di Desa Mondukung Kecamatan Pademau Kabupaten Pamekasan. Pada bulan Oktober 2012 selesai. Data hasil penelitian diolah dan dianalisis di Laboratorium Komputasi dan Analisis Sistem Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi pustakan yaitu suatu cara menganalisis data dari hasil penelitian berdasarkan buku pustaka atau hasil penelitian orang lain, kemudian dianalisis secara deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau obyek pada saat penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya dalam bentuk studi kasus yaitu memusatkan diri secara intensif dan mendalam terhadap obyek tertentu, dengan mempelajari sebagai suatu kasus. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari obyek yang diamati sehingga data tersebut merupakan data mentah (belum diubah). Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari kantor instasi dan referensi yang ada dan terkait dengan penelitian ini berupa data olahan. Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah dibaca dan diinterprestasikan. Alat analisis ynag digunakan dalam membahas skripsi ini sebagai berikut: 1. Analisis teknis yang terdiri dari: kapasitas produksi, bahan baku dan bahan tambahan, proses produksi, utilitas, dan tenaga kerja. 2. Analisis finansial barang modal dengan menggunakan teknik perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), Break Event Point (BEP), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), R/C Rasio dan Payback Periode (PP). 3. Analisis sensitivitas merupakan suatu analisis untuk dapat melihat pengaruhpengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Tujuan analisis

sensitivitas yaitu menilai apa yang akan terjadi dengan hasil analisis kelayakan suatu proyek usaha apabila terjadi perubahan di dalam perhitungan biaya atau penerimaan. Pada usaha yang sangat sensitivitas terhadap perubahan akibat beberapa hal, yaitu perubahan harga dan kenaikan biaya. Dalam penelitian ini dilakukan beberapa perubahan, yaitu: terjadi penurunan harga jual sambal petis ikan tuna, untuk bersaing dipasar sehingga penjualan tetap konstan tiap tahunnya dan terjadinya kenaikan harga input, yakni bahan baku dan bahan tambahan akibat kenaikan harga dan mulai langka di pasaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bulan April 2011 UD. Madu Prima memproduksi sambal petis ikan tuna, yang berbahan baku petis hitam bermerek petis poger yang berasal dari Kab. Jember. Sambal petis ikan tuna merupakan produk inovasi baru yang diproduksi perdananya pada bulan September 2011, produk ini diberi merek dagang sambal petis ikan tuna siap saji. Kelebihan dari produk ini adalah kemudahan cepat penyajiannya dan mudah dibawa kemana-mana. Tekstur sambal petis ikan tuna berbentuk setengah cair, yang dikemas dalam botol plastik 140 ml per botol. Pada awalnya UD. Madu Prima memproduksi sambal petis sebanyak 200 botol dengan harga eceran dipatok adalah 6500 rupiah per botolnya. Pada awalnya cara penjualan yang dilakukan UD. Madu Prima yaitu dari mulut ke mulut kemudian dititipkan di toko yang berada disekitar Pademau. UD. Madu Prima telah memiliki legalitas usaha dengan telah memiliki surat-surat perijinan yang dibutuhkan oleh suatu usaha, seperti Surat Ijin Usaha Dagang (SIUP) kecil No: 360/13-4/SIUP- K/VIII/2011, Surat Tanda Daftar Industri Baru No: 530/426/441.303/VIII/2011, No Induk Perusahaan Industri Kecil (NIPIK) No: 65/IND/VIII/2011 dan dari Dinas Kesehatan (DINKES) No: 79.1334.2011. Lahan dan lokasi yang dipergunakan untuk kegiatan produksi oleh UD. Madu Prima telah memiliki legalitas hukum yang jelas, dengan dimilikinya Surat Izin Pendirian Bangunan, dan telah memiliki surat PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). ASPEK TEKNIS Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis serta pengoperasiannya setelah proyek tersebut dibangun. Pengkajian aspek teknis erat kaitannya dengan aspek-aspek lain terutama finansial. Hubungan ini diartikan sebagai saling memberi masukan, dimana keputusan mengenai aspek yang satu tergantung pada bagaimana dampaknya terhadap aspek lain atau sebaliknya. Kapasitas produksi merupakan jumlah maksimal output yang dapat diproduksi dalam satuan waktu tertentu. Kapasitas produksi total di UD. Madu Prima untuk membuat produk olahan sambal petis ikan tuna sebanyak 1600 unit per bulan, kapasitas produksi sambal petis ikan tuna di UD. Madu Prima berdasarkan pada permintaan konsumen dan tersedia bahan baku dan bahan tambahan yang dibutuhkan dalam sekali produksi. Dalam sebulan UD. Madu Prima memproduksi sebanyak 8 kali produksi untuk membuat sambal petis ikan tuna. Satu kali produksi sambal petis, UD. Madu Prima menghasilkan 200 unit sambal petis. Untuk satu kali produksi, UD. Madu Prima membutuhkan: petis hitam sebanyak 1,25 kg; sirup glukosa sebanyak 25 kg; sari ikan tuna sebanyak 2,5 kg; cabai sebanyak 3 kg; bawang merah dan bawang putih masingmasing 0,25 kg dan 0,125 kg; untuk gula pasir dan gula merah sebanyak 1,5 kg; sedangkan kebutuhan garam tidak begitu banyak diperlukan. Petis hitam merupakan bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan sambal petis ikan tuna. Petis hitam diperoleh dari Jl. Daeng bilak no 17 puger wetan Kabupaten Jember yang biasa dikenal dengan merek petis poger. Pembuatan sambal petis ikan tuna memerlukan petis hitam sebanyak 10 kg per bulan atau 120 kg per tahun. Jumlah kebutuhan petis hitam dalam pembuatan sambal petis ikan tuna dapat memenuhi dengan melihat jumlah produksi petis

hitam di Kabupaten Jember sebanyak 600 kg per tahun. jumlah bahan baku yang tersedia lebih besar daripada jumlah bahan baku yang dibutuhkan dalam proses pembuatan sambal petis ikan tuna, sehingga kebutuhan bahan baku dapat terpenuhi. Perhitungan kebutuhan bahan baku dan bahan tambahan dapat dilihat pada Lampiran 11. Bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan sambal petis ikan tuna yaitu cairan glukosa, sari ikan tuna, cabai, bawang merah, bawang putih, gula merah, gula pasir dan garam. Cairan glukosa yang digunakan dalam pembuatan sambal petis ikan tuna lebih banyak dari bahan baku. Karena cairan glukosa ini sebagai pengisi agar kekentalan sesuai keinginan. Cairan glukosa yang dibutuhkan sebanyak 200 kg per bulan. Sari ikan tuna yang dibutuhkan sebanyak 20 kg per bulan, manfaat dari sari ikan tuna untuk menambah rasa dari ikan tuna itu sendiri. Cabai yang dibutuhkan sebanyak 24 kg per bulan. Untuk gula merah dan gula putih dibutuhkan masingmasing sebanyak 12 kg per bulan. Pada bawang merah dan bawang putih dibutuhkan 1 kg per bulan untuk bawang merah dan 2 kg per bulan untuk bawang putih. Untuk garam tidak begitu banyak dibutuhkan hanya 0,5 kg per bulan karena rasa dari sambal petis sudah kuat dari bahan-bahan tambahan lainnya. Pada proses pembuatan sambal petis ikan tuna, terlebih dahulu glukosa cair dimasak terlebih dahulu. kemudian dicampur dengan petis hitam dan kaldu (sari) ikan tuna, saat pencampuran sambil terus diaduk. Setelah adonan pertama mendidih, barulah ditambah bawang merah, bawang putih, cabai, gula merah, gula putih, dan garam. Adonan terus diaduk sampai mendidih, agar masaknya merata. Setelah mendidih adonan di tes kekentalannya dengan menggunakan alat ukur kekentalan, jika sudah sesuai dengan kekentalan yang diinginkan berarti adonan sambal petis ikan tuna sudah masak dan siap dikemas ke dalam botol plastik 140 ml. Sebelum dikemas adonan harus didiamkan selama 12 jam (semalam) saja, pada suhu ruangan. Proses pendinginan sambal petis ikan tuna sangat penting pada bagian pengemasan produksi sambal petis ikan tuna. Jadi proses pendinginan harus merata keseluruh adonan sambal petis ikan tuna. Jika tidak merata pendinginannya sambal petis tidak akan tahan lama karena akan terjadi kardonasi. Setelah adonan sambal petis dingin barulah dikemas ke dalam botol plastik dengan kapasitas 140 ml seperti pada botol kecap pada umumnya. Kemudian sambal petis ikan tuna yang sudah didalam botol diberi label di setiap botolnya. Pengemasan terakhir yaitu dimasukkan ke dalam kardus, setiap kardus berisi 24 botol sambal petis ikan tuna. Proses pengemasan ini dilakukan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia. Utilitas yang dibutuhkan UD. Madu Prima selama setahun terdiri dari: minyak goreng sebanyak 12 liter/tahun besar biaya Rp. 138.000,00; LPG sebanyak 60kg dengan biaya sebesar Rp. 3.240.000,00; Minyak tanah sebanyak 5 liter. Jumlah tenaga kerja yang ada di UD. Madu Prima sebanyak 5 orang. Pembagian tugas tenaga kerja dilakukan secara merata sesuai dengan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan tiap prosesnya. Gaji yang diperoleh masing-masing tenaga kerja terdiri dari gaji manajer sebesar Rp. 725.000,00 dan 4 karyawannya sebesar Rp. 500.000,00. Jumlah tenaga kerja yang ada sebanyak 5 orang. Jadi biaya yang dikeluarkan untuk gaji tenaga kerja per bulan adalah Rp. 2.725.000,00 per bulan atau Rp. 32.700.000,00 per tahun. PERMODALAN Modal yang digunakan UD. Madu Prima dalam menjalankan usaha ini sebagian berasal dari modal sendiri sebagian lagi berasal dari pinjaman. Kebutuhan modal awal Rp. 78.970.650,00 yang terdiri dari 30% kredit Rp. 23.691.195,00 dan 70% dari modal dana sendiri sebesar Rp. 55.279.455,00. Penyaluran kredit melalui proses yang dilakukan oleh pihak bank setempat dengan bunga per tahun 14 persen. Pinjaman yang diberikan oleh pihak bank sangat membantu dalam pengembangan

usaha ini dalam investasi dan operasional proyek usaha ini. Perhitungan depresiasi dilakukan selama umur proyek dengan menggunakan metode garis lurus atau straight line. Total biaya depresiasi sebesar Rp. 6.159.093,00 Pinjaman modal ini akan dikembalikan sebelum usaha ini berakhir yakni diangsur setiap tahun sampai tahun ketiga dari tujuh tahun umur proyek usaha. Total angsuran bunga kredit (investasi dan modal kerja) sebesar 14% tiap tahunnya, dimana pada tahun pertama sebesar Rp. 3.316.767,00. Selanjutnya pada tahun kedua sebesar Rp. 2.352.484,00 dan pada tahun ketiga sebesar Rp. 1.253.200,00. Sedangkan angsuran pokok setiap tahunnya (sampai pada tahun ketiga) sebesar Rp. 10.204.508,00. BIAYA PRODUKSI Total biaya produksi selama satu tahun sebesar Rp. 101.178.708,00 dengan perincian biaya tetap sebesar Rp. 42.546.336,00. Biaya tetap terdiri dari gaji tenaga kerja sebesar Rp. 32.700.000,00 biaya pemeliharaan gedung Rp. 3.600.000,00 biaya pemelliharaan peralatan pabrik Rp. 1.195.020,00 biaya pemeliharaan peralatan kantor Rp. 279.960,00 biaya pemeliharaan alat transportasi Rp. 3.000.000,00 dan biaya listrik sebesar Rp. 1.771.356,00. Biaya tidak tetap terdiri dari biaya bahan baku dan bahan tambahan sebesar Rp. 30.600.000,00. biaya untuk bahan pengemas sebesar Rp. 21.763.200,00 dan biaya utilitas sebesar Rp. 6.269.172,00. PENDAPATAN USAHA Tabel 2. Proyeksi Penerimaan Total Pengusaha Sambal Petis Ikan Tuna Volume Uraian Analisis Finansial 1600 botol Harga Jual Rp. 6.500,00 Penjualan Per Bulan Rp. 10.400.000,00 Total Penerimaan per tahun Rp. 124.800.000,00 Sumber: Data primer diolah, 2012 Pada Tabel 2. diasumsikan penjualan perbulannya konstan sehingga total penerimaan setiap tahunnya sebesar Rp. 124.800.000,00. Lokasi pemasaran terbesar di daerah Probolinggo, Jember dan Banyuwangi, hal ini dikarenakan ada famili dari anggota keluarga UD. Madu Prima yang berdomisili di daerah tersebut. Sehingga sambal petis ikan tuna sebagai oleh-oleh yang sangat diminati oleh para konsumen di daerah tersebut. ASPEK FINANSIAL Analisis kelayakan finansial yang dilakukan meliputi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), Break Event Point (BEP), efisiensi usaha (R/C rasio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Periode (PP). Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan biaya produksi adalah kapasitas produksi 1600 unit per bulan; harga bahan baku sebesar Rp. 9.000,00; periode usaha selama 7 tahun bersadarkan pada umur maksimal dari aset yang dimiliki oleh UD. Madu Prima; bulan kerja per tahun adalah 12 bulan 1. Harga Pokok Produksi (HPP) Harga Pokok Produksi (HPP) dihitung berdasarkan total keseluruhan biaya (biaya tetep dan biaya tidak tetap) yang dikeluarkan oleh UD. Madu Prima dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan selama satu tahun waktu produksi sebanyak 19.200 unit (botol), tiap kemasan berisi 140 ml sambal petis ikan tuna. HPP sebesar Rp. 5.269,00 perkemasan. Perhitungan HPP ini belum memperhitungkan adanya tingkat keuntungan (mark up). Perhitungan HPP digunakan untuk menentukan harga jual produk yang akan dipasarkan. Harga jual dihitung dengan adanya penambahan tingkat keuntungan (mark up). UD. Madu Prima menggunakan mark up sebesar 20%, sehingga harga jual yang ditetapkan sebesar Rp. 6.500,00. Menurut Jumiang (2009), besarnya mark up di tingkat produsen ke agen sebesar 20%, jika melalui agen besarnya mark up 40% dan jika agen menjual produk ke konsumen akhir mark up yang ditetapkan sebesar 70%.

2. Break Even Point (BEP) Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa titik impas terjadi pada saat penjualan mencapai 13.012 botol sambal petis ikan tuna. Biaya yang dicapai penjualan tersebut sebesar Rp 82.280.488,00. Apabila unit usaha tersebut telah mencapai angka penjualan tersebut di atas, maka dapat diartikan unit usaha tersebut mencapai titik impas dimana usaha tidak mengalami kerugian maupun memperoleh keuntungan. 3. R/C rasio Menurut Jumiang (2009), kriteria pengujian terhadap perhitungan R/C rasio yaitu apabila R/C rasio < 1 maka usaha dikatakan tidak efisien atau merugikan, apabila R/C rasio = 1 maka usaha dikatakan tidak menguntungkan dan tidak merugikan dan apabila R/C rasio > 1 maka usaha dikatakan efisien atau menguntungkan. Hasil perhitungan R/C rasio sebesar 1,23 (R/C rasio > 1), maka produksi sambal petis ikan tuna dikatakan layak Menurut Jumiang (2009), apabila perhitungan IRR > dari suku bunga (DF) maka usaha tersebut dikatakan layak. Apabila perhitungan IRR = tingkat suku bunga maka usaha tersebut dikatakan berada dalam keadaan BEP dan apabilaperhitungan IRR < dari tingkat suku bunga maka usaha tersebut dikatakan tidak layak. Perhitungan IRR (18,96) > DF (14%), maka proyek produksi pembuatan sambal petis ikan tuna dapat dikatakan layak. 4. Net Present Value (NPV) Berdasarkan perhitungan cash flow dengan umur proyeksi 7 tahun, net cah flow yang diperoleh sebesar Rp. 21.499.477,00 pada tahun ke-1, pada tahun ke-2 sebesar Rp. 21.354.835,00 pada tahun ke-3 sebesar 21.189.942,00 dan pada tahun ke-4 sampai ke-7 hasilnya sama tiap tahun sebesar Rp. 21.001.962,00. Hasil perhitungan NPV dengan DF 14% sebesar Rp. 11.922.600,00. Hasil perhitungan menunjukkan nilai NPV adalah positif. Menurut Umar (2009), suatu usaha dikatakan layak apabila nilai NPV bernilai positif atau lebih dari nol. 5. Internal Rate of Return (IRR) Menurut Jumiang (2009), apabila perhitungan IRR > dari suku bunga (DF) maka usaha tersebut dikatakan layak. Apabila perhitungan IRR = tingkat suku bunga maka usaha tersebut dikatakan berada dalam keadaan BEP dan apabilaperhitungan IRR < dari tingkat suku bunga maka usaha tersebut dikatakan tidak layak. Perhitungan IRR (18,96) > DF (14%), maka proyek produksi pembuatan sambal petis ikan tuna dapat dikatakan layak. 6. Payback Periode (PP) Payback Periode (PP) merupakan metode yang digunakan untuk mengukur kecepatan pengembalian modal investasi yang dinyatakan dalam tahun. Perhitungan PP dalam analisis kelayakan dilakukan untuk mengetahui berapa lama usaha atau proyek yang dikerjakan dapat mengembalikan investasi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai PP dicapai pada 3,71 tahun (3 tahun 9 bulan 22 hari). Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kelayakan dari produksi sambal petis ikan tuna jika harga dari bahan baku dan bahan tambahan dinaikkan dan harga jual diturunkan. Dari hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa sambal petis ikan tuna masih dikatakan layak jika harga bahan baku dan bahan tambahan dinaikkan 9,0862 persen, karena jika harga bahan baku dan bahan tambahan dinaikkan 9,0862 persen maka hasil nilai untuk NPV sebesar Rp. 0,0011,00, nilai IRR sebesar 14,0016 persen dan nilai R/C rasio sebesar 1,0000. Tetapi jika harga bahan baku dan bahan tambahan dinaikkan lebih dari titik sensitivitasnya, maka produksi sambal petis ikan tuna dikatakan tidaklayak. Selain itu pada analisis sensitivitas yang terjadi di UD. Madu Prima jika harga jual diturunkan sebesar 2,227 persen produksi sambal petis ikan tuna masih layak karena nilai dari NPV sebesar Rp. 0,00, nilai IRR sebesar 14 persen dan nilai R/C rasio sebesar 1,00. Produksi sambal petis ikan tuna akan tidaklayak jika harga jual diturunkan lebih

besar dari titik sensitivitasnya yaitu 2,227 persen. Dari analisis sensitivitas dapat disimpulkan bahwa titik sensitivitas dari produksi sambal petis ikan tuna pada kenaikan harga bahan baku dan bahan tambahan pada 9,0862 persen dan penurunan harga jual sebesar 2,227 persen. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Kapasitas produksi sambal petis ikan tuna sebesar 1600 botol per bulan. Hasil perhitungan finansial menunjukkan bahwa harga pokok produksi (HPP) sambal petis ikan tuna sebesar Rp. 5.269,00 dengan harga jual sebesar Rp. 6.500,00. BEP tercapai pada tingkat penjualan sebesar 13.012 atau senilai Rp. 82.280.488,00. R/C rasio sebesar 1,23. Nilai NPV sebesar Rp. 11.922.600,00 nilai IRR sebesar 18,96 persen dimana nilai ini lebih besar dari nilai suku bunga pinjaman yang digunakan yaitu 14 persen dan PP sebesar 3,71 tahun atau 3 tahun 9 bulan 22 hari. Yang berarti usaha ini dapat menutup biaya investasi awalnya sebelum umur usaha berakhir, sehingga usaha ini layak untuk dijalankan. Hasil dari analisis sensitivitas dapat disimpulkan bahwa titik sensitivitas dari produksi sambal petis ikan tuna pada kenaikan harga bahan baku dan bahan tambahan pada 9,0862 persen dan penurunan harga jual sebesar 2,227 persen. Pada analisis sensitivitas untuk produk sambal petis ikan tuna yang paling peka jika terjadi perubahan pada harga jual. Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai analisis sensitivitas jika perubahan terjadi pada kapasitas produksi dan harga tenaga kerja dari sambal petis ikan tuna. Selain itu, perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai kualitas dari sambal petis ikan tuna. DAFTAR PUSTAKA Astawan, M. 2004. Petis Si Hitam Lezat Bergizi. PT. Bumi Aksara. Jakarta. Dewanti, T. 2002. Teknologi Pengolahan Hasil Ternak. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Malang. Fenita, A. 2011. Sambal Komplit Selera Nusantara. Great! Publisher. Yogyakarta. Henny, K. 2007. Kumpulan 1000 Sambal. Bumi Aksara. Jakarta Husnan, S dan Suwarsono. 2007. Studi Kelayakan Proyek (Edisi Revisi). UPP AMP YKPN. Yogyakarta. Ningrum, E. M. 2002. Laporan PKL: Proses Pembuatan Petis Udang (Penaeus monodon) di Desa Kebonagung Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Suprapti, L. M. 2001. Membuat Petis Kanisius. Akademika. Yogyakarta. Suratman, 2002. Studi Kelayakan Proyek. Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdiknas. Malang. Uhl, S. R. 2000. Handlbook of Spices, Seasoning and Flavoriags. Technomic Publishing Co, inc. Lancaster. Basel Umar, H. 2009. Studi Kelayakan Bisnis Edisi 3. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.