BAB I PENDAHULUAN. perlakuan yang sama dihadapan hukum 1. Menurut M. Scheltema mengatakan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. mendukung pelaksanaan dan penerapan ketentuan hukum pidana materiil,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hukum berkembang mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Didalam proses perkara pidana terdakwa atau terpidana

BAB I PENDAHULUAN. tidak mendapat kepastian hukum setelah melalui proses persidangan di

BAB I PENDAHULUAN. Ketentuan Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Agar hukum dapat berjalan dengan baik pelaksanaan hukum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara hukum sebagaimana diatur dalam Pasal

dikualifikasikan sebagai tindak pidana formil.

BAB I PENDAHULUAN. hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Negara Indonesia merupakan Negara Hukum yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. menetapkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum, dimana salah satu

BAB I PENDAHULUAN. diperiksa oleh hakim mengenai kasus yang dialami oleh terdakwa. Apabila

BAB I PENDAHULUAN. membahayakan stabilitas politik suatu negara. 1 Korupsi juga dapat diindikasikan

Kekuatan Keterangan Saksi Anak Dibawah Umur dalam Pembuktian Perkara Pidana

BAB I PENDAHULUAN. negara hukum. Negara hukum merupakan dasar Negara dan pandangan. semua tertib hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat tidak pernah lepas dengan. berbagai macam permasalahan. Kehidupan bermasyarakat akhirnya

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian

BAB I PENDAHULUAN. Pidana (KUHAP) adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan tindak pidana dalam kehidupan masyarakat di

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, sehingga harus diberantas 1. hidup masyarakat Indonesia sejak dulu hingga saat ini.

BAB I PENDAHULUAN. yang bertujuan mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. pengadilan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. pemeriksaan di sidang pengadilan ada pada hakim. Kewenangan-kewenangan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945, telah ditegaskan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang pengaruhnya sangat luas. Perubahan-perubahan yang

BAB I PENDAHULUAN. tercipta pula aturan-aturan baru dalam bidang hukum pidana tersebut. Aturanaturan

BAB I PENDAHULUAN. maupun dewasa bahkan orangtua sekalipun masih memandang pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. penetapan status tersangka, bukanlah perkara yang dapat diajukan dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Praperadilan merupakan lembaga baru dalam dunia peradilan di

MANFAAT DAN JANGKA WAKTU PENAHANAN SEMENTARA MENURUT KITAB UNDANG HUKUM ACARA PIDANA ( KUHAP ) Oleh : Risdalina, SH. Dosen Tetap STIH Labuhanbatu

BAB I PENDAHULUAN. perlakuan yang sama dihadapan hukum 1. Menurut M. Scheltema berpendapat

BAB I PENDAHULUAN. dampak negatif bagi pihak-pihak tertentu. adalah Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial (YLPS) Humana Yogyakarta.

BAB IV. A. Bantuan Hukum Terhadap Tersangka Penyalahgunaan Narkotika. Dalam Proses Penyidikan Dihubungkan Dengan Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemberantasan tindak pidana korupsi di negara Indonesia hingga saat

BAB I PENDAHULUAN. dapat lagi diserahkan kepada peraturan kekuatan-kekuatan bebas dalam

BAB I PENDAHULUAN. kekerasan. Tindak kekerasan merupakan suatu tindakan kejahatan yang. yang berlaku terutama norma hukum pidana.

BAB I PENDAHULUAN. Undang Dasar 1945, sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, yang

BAB I PENDAHULUAN. Sistem peradilan hukum di Indonesia dibedakan menjadi empat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini rasanya cukup relevan untuk membicarakan masalah polisi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemeriksaan suatu perkara pidana di dalam suatu proses peradilan pada

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Hal ini dapat dibuktikan dalam Pasal

BAB I PENDAHULUAN. dapat di pandang sama dihadapan hukum (equality before the law). Beberapa

BAB I PENDAHULUAN. yang baik dan yang buruk, yang akan membimbing, dan mengarahkan. jawab atas semua tindakan yang dilakukannya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981

satunya diwujudkan kedalam Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Nomor 14 tahun 1970 dan diganti oleh Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004

BAB I PENDAHULUAN. perundang-undangan yang berlaku. Salah satu upaya untuk menjamin. dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP ).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

BAB I PENDAHULUAN. Pertama, hal Soerjono Soekanto, 2007, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cetakan

BAB I PENDAHULUAN. mampu memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa dalam. dan tantangan dalam masyarakat dan kadang-kadang dijumpai

A. Penerapan Bantuan Hukum terhadap Anggota Kepolisian yang. Perkembangan masyarakat, menuntut kebutuhan kepastian akan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana ( yuridis normatif ). Kejahatan

BAB I PENDAHULUAN. dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana. hubungan seksual dengan korban. Untuk menentukan hal yang demikian

BAB I PENDAHULUAN. pemerintahan tanpa kecuali. Hukum merupakan kaidah yang berupa perintah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses peradilan yang sesuai dengan prosedur menjadi penentu

yang tersendiri yang terpisah dari Peradilan umum. 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Agar hukum dapat berjalan dengan baik, maka berdasarkan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat selalu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa,

SKRIPSI UPAYA POLRI DALAM MENJAMIN KESELAMATAN SAKSI MENURUT UNDANG-UNDANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN

BAB I PENDAHULUAN. merupakan Negara yang berlandaskan atas dasar hukum ( Recht Staat ), maka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam konstitusi Indonesia, yaitu Pasal 28 D Ayat (1)

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 42/PUU-XV/2017 Tafsir Frasa Tidak dapat Dimintakan Banding atas Putusan Praperadilan

BAB I PENDAHULUAN. hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. 1. perundang-undangan lain yang mengatur ketentuan pidana di luar KUHP

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan perubahan tersebut ditegaskan bahwa ketentuan badan-badan lain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Indonesia adalah negara berdasarkan UUD 1945 sebagai konstitusi

BAB I PENDAHULUAN. pemberantasan atau penindakan terjadinya pelanggaran hukum. pada hakekatnya telah diletakkan dalam Undang-Undang Nomor 48 tahun

BAB I PENDAHULUAN. Perbuatan tersebut selain melanggar dan menyimpang dari hukum juga

BAB I PENDAHULUAN. berlakunya Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PP 58/1999, SYARAT-SYARAT DAN TATA CARA PELAKSANAAN WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB PERAWATAN TAHANAN

PENDAHULUAN ABSTRAK. Pengadilan Negeri Gorontalo. Hasil penelitian yang diperoleh adalah terhadap penerapan Pasal 56 KUHAP tentang

BAB I PENDAHULUAN. nasional. Adanya ketidakseimbangan antara perlindungan terhadap. korban kejahatan dengan perlindungan terhadap pelaku, merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Negara Indonesia adalah negara bardasarkan hukum bukan

RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 21/PUU-XII/2014 Penyidikan, Proses Penahanan, dan Pemeriksaan Perkara

BAB I PENDAHULUAN. Acara Pidana (KUHAP) menjunjung tinggi harkat martabat manusia, dimana

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 41/PUU-XIII/2015 Pembatasan Pengertian dan Objek Praperadilan

BAB I PENDAHULUAN. 1945), di dalam Pembukaan alinea pertama menyatakan bahwa sesungguhnya

BAB I PENDAHULUAN. yang berbeda. Itu sebabnya dalam keseharian kita dapat menangkap berbagai komentar

BAB I PENDAHULAN. dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dalam Pasal 1 Ayat (3)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Masalah. Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah meluas dalam masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. Kehidupan bangsa Indonesia tidak bisa luput dari masalah hukum yang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Nomor 41/PUU-XIII/2015 Pembatasan Pengertian dan Objek Praperadilan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak merupakan genersi penerus bangsa di masa yang akan datang,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRAPERADILAN SEBAGAI UPAYA KONTROL BAGI PENYIDIK DALAM PERKARA PIDANA

BAB I PENDAHULUAN. profesi sebagai acuan, sama seperti hakim dan jaksa. karena hal seperti itu tidak akan dijiwai oleh cita-cita dan nilai-nilai yang

BAB I PENDAHULUAN. berhak mendapatkan perlindungan fisik, mental dan spiritual maupun sosial

BAB I PENDAHULUAN. merupakan Negara Hukum. Maka guna mempertegas prinsip Negara Hukum,

BAB I PENDAHULUAN. menentukan secara tegas bahwa negara Indonesia adalah negara hukum.

I. PENDAHULUAN. Penanganan dan pemeriksaan suatu kasus atau perkara pidana baik itu pidana

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MEDAN AREA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Indonesia merupakan salah satu Negara Hukum. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara hukum, hal ini telah dinyatakan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Internasional. Tidak mustahil peredaran narkotika yang sifatnya telah

BAB I PENDAHULUAN. bermanfaat bagi pengobatan, tetapi jika dikonsumsi secara berlebihan atau tidak. rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukansecara tegas bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Sejalan dengan ketentuan tersebut maka salah satu prinsip penting negara adalah adanya jaminan kesederajatan bagi setiap orang di hadapan hukum (Equality Before The Law). Oleh karena itu setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, serta perlakuan yang sama dihadapan hukum 1. Menurut M. Scheltema mengatakan bahwa: setiap negara hukum terdiri dari empat asas utama yaitu asas kepastian hukum, asas persamaan, asas demokrasi, asas bahwa pemerintah dibentuk untuk melakukan pelayanan terhadap masyarakat 2. Di Indonesia proses peradilan pidana dimulai dari proses penyelidikan, penyidikan yang dilaksanakan oleh kepolisian, selanjutnya diteruskan kekejaksaan dan dilanjutkan kepengadilan. Dalam proses ini sering terjadi persoalan karena tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam praktek timbul permasalahan dan pertanyaan tentang terdakwa yang dalam status 1 Supriadi, Etika dan tnggungjawab profesi hukum di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2006), Hlm. 127. 2 Marwan Effendy,Kejaksaan Republik Indonesia Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005) Hlm 142 1

2 mejalani tahanan dirumah tahanan negara tiba-tiba sakit dan harus dirawat di rumah sakit, baik atas dasar dilakukan pembantaran atau tidak 3. Pembantaran adalah penahanan yang dilakukan kepada terdakwa yang sakit dan perlu dirawat inap di rumah sakit tertentu menjalani rawat inap tersebut tidak dihitung sebagai masa tahanan 4. Dengan merujuk pada penjelasan Pasal 22 ayat (1) Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana selama belum ada rumah tahanan negara ditempat yang bersangkutan, penahanan dapat dilakukan di kantor kepolisian negara, di kantor kejaksaan negeri, di lembaga pemasyarakatan, di rumah sakit dan dalam keadaan yang memaksa di tempat lain menurut hukum, maka status terdakwa yang dalam menjalani tahanan di rumah tahanan negara dan karena harus dirawat di rumah sakit, maka statusnya adalah tetap sama dengan status dalam tahanan rumah tahanan negera dan selama masa menjalani perawatan tersebut harus dihitung sebagai penahanan penuh, karenanya harus pula dikurangkan secara penuh dengan lamanya hukuman yang dijatuhkan nantinya, karena tahanan di rumah sakit itu menurut penjelasan Pasal 22 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana tersebut sama dengan rumah tahanan negara. Selanjutnya juga ada pendapat ahli yang menyatakan bahwa tidak ada orang atau seseorang yang rela dan menginginkan ditahan atau sakit, makanya yuridis pshychologis ditahan dirumah tahanan negara atau di rumah sakit sama saja tidak enaknya. Dengan kata lain tidak seorang waraspun yang 3 http://mylegalofficier.wordpress.com/2010/02/14/penahanan-yang-dikenal-dalam-undangundang-hukum-acara-pidana-uu-no-8-tahun-1981/ tanggal 7 september 2011 jam 23.21. 4 http://www.pn-cibinong.go.id/uploads/file/kamus-hukum.pdf. tanggal 7 september 2011 jam 23.21.

3 punya inisiatif atau keinginan berada atau ditempatkan dirumah tahanan negara atau di rumah sakit 5. Pada kenyataanya, pelaksanaan asas persamaan di hadapan hukum dalam proses peradilan pidana khususnya di Indonesia masih memprihatinkan terutama bagi terdakwa. Terdakwa seringkali kehilangan hak-haknya seperti hak untuk memperoleh kesehatan. Proses persidangan dilakukan untuk mencari kebenaran materiil sehingga menghasilkan keadilan. Bagaimana bisa menghasilkan keadilan jika terdakwanya saja sakit, sedangkan proses persidangan tidak akan berjalan bila terdakwanya sakit, dalam asas praduga tak bersalah seorang dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan bersalah dan mempunyai kekuatan hukum tetap, jadi selama proses persidangan seorang terdakwa tetap mempunyai hak, salah satunya hak untuk sehat. Rasa sakit memang tidak bisa ditebak datangnya,seorang terdakwa bisa saja sakit karena terlalu takut mengikuti persidangan sehingga kondisinya menjadi kurang baik atau mempunyai sakit bawaan yang tiba-tiba saja kambuh dalam proses persidangan. Ini harus segera ditangani agar proses persidangan tidak terhambat dan tanpa mengabaikan Hak Asasi Manusia. Hak Asasi Manusia penting karena tanpa hak itu tidak akan ada martabat manusia, banyak yang berpendapat bahwa hidup tanpa hak adalah kehidupan tidak bermartabat. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 d ayat 1 menyatakan bahwa semua orang sama di mata hukum sehingga tidak 5 http://mylegalofficier.wordpress.com/2010/02/14/penahanan-yang-dikenal-dalam-undangundang-hukum-acara-pidana-uu-no-8-tahun-1981/jam 23.21.

4 terjadi diskriminasi pada siapapun termasuk terdakwa 6. Seperti yang diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Negara Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, Hak Asasi Manusia dan kebebasan dasar manusia tidak dapat dilepaskan dari manusia pribadi, karena itu pemerintah berkewajiban baik secara hukum maupun secara politik, ekonomi, sosial, moral untuk melindungi dan mengambil langkah-langkah kongkret demi tegaknya Hak Asasi Manusia 7. Masyarakatyang menghormati hak asasi manusia sesuai dengan Rule of Law, terdapat pengakuan terhadap hak dan kewajiban para warga negara, dengan demikian hukum akan memperlakukan setiap warga negara sama dengan perlakuan yang berkaitan kepada orang lain siapa pun dia dan apapun kekuasaanya 8. Penghormatan terhadap Hak asasi Manusia yang sesuai dengan Rule of Law pada kenyataannya tidak dilaksanakan secara maksimal seperti halnya dalam permasalahan kesehatan. Untuk mendapat kesehatan perlu banyak pengorbanan, salah satunya kita perlu bekerja keras.bagi terdakwa yang tidak mampu dan tidak bekerja karena terkena masalah dan harus ditahan,hal ini perlu diperhatikan karena terdakwa yang tidak mampu tidak boleh dilepas begitu saja haknya, harus ada yang mengatur dan bertanggungjawab masalah 6 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, (Jakarta, Sekrtariat jendral dan kepaniteraan mahkamah konstitusi RI, 2010) 7 Penjelasan Undang-Undang Nomor 39 tahun 1995 tentang Hak Asasi Manusia, http:/www.scrbd.com/doc/253441/uu-nomor-39-tentang-hak-asasi-manusia,diakses pada 28 Januari 2011 (14.00) 8 Heri Taher, ProsesHukum Yang Adil Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia, 2010, Yogyakarta LaksBang PRESSindohlm. 50

5 biaya perawatannya. Jika dibiarkan begitu saja sakit yang dialami terdakwa lama-lama bisa menjadi parah bahkan dapat menyebabkan kematian. Kalau sudah begitu biasanya aparat penegak hukum saling lempar tanggungjawab. Didalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana mengatur tentang hakhak terdakwa, bagi aparat penegak hukum itu merupakan rambu-rambu agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hak terdakwa, meskipun didalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana tidak mengatur tentang biaya perawatan bagi terdakwa sakit. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana hanya mengatur bagianbagian tertentu dari hak-hak terdakwa, mengenai terdakwa sakit dalam proses persidangan tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Sebenarnya ini sangat penting bagi terdakwa, karena mengenai tanggungjawab biaya perawatan jika terdakwa tidak mampu, yang menjadi masalah disini siapa yang bertanggungjawab?. Dalam Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 1999 tentang Syarat-syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang, Tugas dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan menyatakan bahwa biaya dibebankan kepada negara. Lingkup negara disini masih sangat luas sehingga menimbulkan permasalahan antara aparat penegak hukum yang saling tunjuk antara Hakim, Jaksa,dan RUTAN, karena oleh hakim tahanan tersebut dibantarkan dalam penetapannya dan memang tugas jaksa melaksanakan penetapan hakim seperti yang diatur dalam Pasal 30 ayat (1) butir b Undang-Undang 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan bahwa dibidang pidana, mempunyai tugas dan wewenang melaksanakan penetapan hakim dan

6 putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap 9, dan kejaksaan dapat meminta hakim untuk menempatkan seorang terdakwa di rumah sakit, tempat perawatan jiwa, atau tempat lain yang layak karena yang bersakutan tidak mampu berdiri sendiri atau disebabkan oleh hal-hal yang dapat membahayakan orang lain, lingkungan, atau dirinya sendiri seperti yang diatur dalam Pasal 31 Undang-Undang 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan 10, tetapi dalam penetapannya tidak menyebutkan biaya ditanggung oleh siapa dan anggarannya pun tidak ada sehingga dalam Peraturan Pemerintah No.58 Tahun 1999 lebih diperjelas lagi Berdasarkan pemahaman tersebut, maka penelitian ini diberi judul Pertanggungjawaban biaya perawatan bagi terdakwa sakit yang tidak mampu secara ekonomi dalam proses persidangan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah: Bagaimanakah pertanggungjawaban PP No.58 Tahun 1999 tentang Syarat-syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang, Tugas dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan, mengenai biaya perawatan bagi terdakwa sakit dalam proses persidangan? 9 Supriadi, Etika dan tnggungjawab profesi hukum di Indonesia (Jakarta : Sinar Grafika, 2006), Hlm. 127. 10 Ibid,.Hlm. 319.

7 C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pertanggungjawab biaya perawatan bagi terdakwa sakit yang tidak mampu secara ekonmi dalam proses persidangan. D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini dapat dibagi dalam 2 (dua) hal : 1. Secara Teoritis, penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu hukum pidana pada umumnya dan secara khusus mengenai petanggungjawaban biaya bagi terdakwa sakit. 2. Secara Praktis, penelitian ini bermanfaat bagi para penegak hukum seperti Polisi, Jaksa, dan Hakim mengenai biaya perawatan terdakwa sakit yang tidak mampu dalam proses persidangan. E. Keaslian Penelitian Penulisan penelitian ini merupakan hasil karya penulis sendiri dan bukan merupaka duplikasi ataupun plagiasi dari penelitian hukum hasil karya penulis lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan menguraikan dan membandingkan penelitian ini dengan penelitian lain. Penulisan hukum dengan judul Pertanggungjawaban Biaya Perawatan Bagi Terdakwa Sakit Yang Tidak Mampu Secara Ekonomi Dalam Proses Persidangan belum

8 pernah pernah ditulis sebelumnya. Apabila terbukti merupakan duplikasi atau plagiasi, maka penulis bersedia menerima sanksi akademik dan atau sanksi hukum yang berlaku. F. Batasan Konsep 1. Pertanggungjawaban adalah sesuatu yang dipertanggungjawabkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2. Biaya adalah pengorbanan ekonomis yang dibuat untuk memperoleh barang atau jasa 11 3. Perawatan adalah sebuah proses yang berhubungan dengan pencegahan, perawatan, dan manajemen penyakit dan juga proses stabilisasi mental, fisik, dan rohani melalui pelayanan yang ditawarkan oleh organisasi, institusi, dan unit profesional kedokteran. 12 4. Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa dan diadili disidang pengadilan. (Pasal 1 angka 15 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana) 5. Sakit adalah berasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh karena menderita sesuatu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia 6. Tidak mampu secara ekonomi, mampu adalah (bisa, sanggup) melakukan sesuatu maka dari pengertian mampu dapat disimpulkan bahwa tidak mampu adalah lawan dari mampu yaitu tidak bisa, tidak sanggup melakukan sesuatu dan ekonomi adalah pemakaian barang-barang serta 11 http://www.scrib.com/doc/19236465/pengertian-biaya diakses pada tanggal 18 Maret 2011 (20.00) 12 http://id.wikipedia.org/wiki/peawatan kesehatan diakses pada tanggal 18 Maret 2011 (20.00)

9 kekayaan seperti keuangan, perindustrian, perdagangan maka dapat disimpulkan tidak mampu secara ekonomi adalah tidak sanggup membiayai dengan uang 7. Proses persidangan adalah runtutan peristiwa untuk membicarakan sesuatu yang biasanya ada dalam bentuk tertulis dan ada aturan baku atau formal yang megatur jalannya persidangan(kbbi) Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai pengertian Pertanggungjawaban Biaya Perawatan Bagi Terdakwa Sakit Yang Tidak Mampu Secara Ekonomi Dalam Proses Persidangan adalah biaya yang dipertanggungjawabkan untuk perawatan bagi seorang yang dituntut, diperiksa, dan diadili di pengadilan karena didalam tubuhnya merasa tidak nyaman atau menderita sakit dan terdakwa tersebut tidak sanggup membayar dengan uang dalam runtutan peristiwa untuk membicarakan sesuatu dalam bentuk tertulis dan ada aturan formal yang mengatur jalannya persidangan. G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dipergunakan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian yang berfokus pada norma hukum positif dan dilakukan dengan cara mempelajari peraturan perundang-undangan serta peraturan yang berkaitan dengan Pertanggungjawaban Biaya Perawatan Bagi Terdakwa Sakit Yang Tidak Mampu Secara Ekonomi Dalam Proses

10 Persidangan. Penelitian ini memerlukan data sekunder (bahan hukum) sebagai data utama. 2. Jenis data Jenis data yang dicari dalam penelitian ini adalah data sekunder yang menggunakan studi kepustakaan dan hasil wawancara yang meliputi: a. Bahan hukum primer 1) Norma Hukum Positif Indonesia a) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diamandemen Pasal 28 d ayat (1) menyatakan bahwa semua orang sama di hadapan hukum. b) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) No.8 Tahun 1981 Pasal 22 c) Undang-Undang (1) Undang-Undang No. 16 tentang Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia Pasal 30 ayat (1) butir b dan Pasal 31 (2) Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 2. d) Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 58 Tahun 1999 tentang Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang Tugas dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan. e) Surat Edaran

11 Surat Edaran Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 1 Tahun 1989 tentang Pembantaran (Stuiting)Tanggang Waktu Penahanan Bagi Terdakwa Yang Dirawat Nginap di Rumah Sakit di Luar Rumah Tahanan Negara Atas Izin Instansi yang Berwenang Menahan. b. Bahan hukum sekunder Bahan hukum sekunder yang digunakan adalah beberapa pendapat hukum yang diperoleh dari buku-buku, artikel, opini sarjana hukum, dan website yang berhubungan dengan permasalahan mengenai Pertanggungjawaban Biaya Perawatan Bagi Terdakwa Sakit Yang Tidak Mampu Secara Ekonomi alam Proses Persidangan serta wawancara yang diperoleh dari Pengadilan Negeri Yogyakarta, Kejaksaan Negeri Yogyakarta dan Rumah Tahanan Wirogunan kelas IIA. c. Bahan hukum tersier Bahan hukum tersier yaitu bahan yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia d. Narasumber. Pada penelitian hukum ini, peneliti akan mengadakan wawancara pada beberapa narasumber untuk memberikan pendapat hukum yang berkaitan dengan permasalahan Pertanggungjawabab

12 Biaya Perawatan Bagi Terdakwa Sakit Yang Tidak Mampu Dalam Proses Persidangan. Narasumber dalam penelitian ini adalah : 1) Ibu Ester SH.M.Hum seorang Hakim di Pengadilan Negeri Yogyakarta 2) Bapak Rendy Indro N. SH.MH seorang Jaksa di Kejaksaan Negeri Yogyakarta. 3) Bapak Teguh Suroso,A.Md.IP.,SH Kepala Subseksi Pelayanan Tahanan di Rumah Tahanan kelas IIA Yogyakarta 3. Analisis Data Dalam membuktikan dan mengkaji permasalahan yang ada, maka digunakan metode kualitatif. Metode kualitatif yaitu metode analisis data yang yang didasarkan pada pemahaman dan pengolahan data secara sistematis yang dioperoleh melalui hasil wawancara dan penelitian kepustakaan yang kemudian diinterpretasikan secara gramatikal yakni dideskripsikan dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Bahan hukum primer yang berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia itu dideskripsikan dan dilakukan sistematisasi hukum positif mulai dari peraturan perundang-undangan yang paling tinggi yakni Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diamandemen Pasal 28 d ayat (1) menyatakan bahwa semua orang sama dihadapan hukum, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 22, Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik

13 Indonesia Pasal 30 ayat (1) butir b dan Pasal 31, Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 2, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 58 Tahun 1999 tentang Syarat-Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Wewenang Tugas dan Tanggung Jawab Perawatan Tahanan, Surat Edaran No. 1 Tahun 1989 tentang Pembantaran (Stuiting)Tenggang Waktu Penahanan Bagi Terdakwa Yang Dirawat Nginap di Rumah Sakit di Luar Rumah Tahanan Negara Atas Izin Instansi yang Berwenang Menahan. Dalam hal ini dilakukan penilaian terhadap peraturan perundang-undangan tersebut apakah sudah memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi Pertanggungjawaban Biaya Perawatan Bagi Terdakwwa Sakit Yang Tidak Mampu secara Ekonomi Dalam Proses Persidangan mengigat bahwa biaya perawatan terdakwa tidak diatur secara jelas. Sistematisasi hukum positif secara vertikal dan horizontal tidak ada antinomi di dalam bahan hukum primer, prinsip penalaran hukum yang digunakan adalah subsumi yaitu adanya hubungan yang logis antara dua aturan dalam hubungan aturan yang lebih tinggi dengan yang lebih rendah. Kemudian bahan hukum primer dibandingkan dengan bahan hukum sekunder yang berupa buku-buku, artikel, website, hasil penelitian, dan opini pendapat hukum untuk diperoleh pemahaman berbagai persamaan atau perbedaan pendapat. Dalam menarik kesimpulan, penelitian ini menggunakan penalaran hukum secara deduktif yaitu berawal dari proposisi-proposisi umum yang kebenaranya telah

14 diketahui/diyakini dan berakhir pada suatu kesimpulan (pengetahuan baru) yang bersifat khusus. H. Sistematika penulisan berikut : Dalam penulisan ini penulis menggunakan sistematika penulisan sebagai BAB I. PENDAHULUAN Berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian, batasan konsep, metode penelitian, dan sistematika penulisan yang akan dilakukan dalam penulisan hukum tersebut. BAB II. PERTANGGUNGJAWABAN BIAYA PERAWATAN BAGI TERDAKWA SAKIT DALAM PROSES PERSIDANGAN. Bab ini membahas tentang : 1. Tanggungjawab Negara Terhadap Biaya Perawatan Terdakwa meliputi : pengertian pertanggungjawaban dan pengertian biaya. 2. Hak-Hak Terdakwa meliputi : pengertian Terdakwa, hak terdakwa dalam Kitb Undang-undang Hukaum Acara Pidana, hak terdakwa dalam tahanan menurut PP No. 58 Tahun 1999. 3. Tinjauan Tentang Pertanggungjawaban Biaya Perawatan Bagi Terdakwa Sakit Yang Tidak Mampu Secara Ekonomi Dalam Proses Persidangan meliputi : pertanggungjawaban jaksa

15 terhadap terdakwa sakit dalam praktek, pertanggungjawaban RUTAN terhadap terdakwa yang sakit, penetapan Hakim dalam hal terdakwa sakit. BAB III. PENUTUP BAB III dalam penulisan hukum ini berisi mengenai kesimpulan dari apa yang telah diteliti dan ditulis berkaitan dengan judul yang diangkat. Selain itu juga berisi tentang saran dari penulis mengenai tindak lanjut yang harus dilakukan yang berhubungan dengan judul penulisan hukum yang diangkat.