KEBIJAKAN PENGELOLAAN BATUBARA

dokumen-dokumen yang mirip
KEBIJAKAN UMUM SEKTOR PERTAMBANGAN

SOSIALISASI DAN SEMINAR EITI PERBAIKAN TATA KELOLA KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERBA

KEBIJAKAN MINERAL DAN BATUBARA

KEYNOTE SPEECH BIMBINGAN TEKNIS REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA,

Minerba One Map Indonesia

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Oleh : DR. TGH. M. ZAINUL MAJDI GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MONITORING DAN EVALUASI ATAS HASIL KOORDINASI DAN SUPERVISI PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PROVINSI SULAWESI UTARA, GORONTALO, DAN SULAWESI BARAT

PENGELOLAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN UMUM

CAPAIAN SUB SEKTOR MINERAL DAN BATUBARA SEMESTER I/2017

FAKULTAS HUKUM, UNIVERSITAS SRIWIJAYA

NERACA BAHAN BAKAR BATUBARA SAMPAI DENGAN TAHUN 2040

MONITORING DAN EVALUASI ATAS HASIL KOORDINASI DAN SUPERVISI PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DAN NUSA TENGGARA BARAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 31 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL LOGAM BESI GUBERNUR JAWA BARAT

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

KEMAKMURAN, PENYELAMATAN SDA UNTUK KESEJAHTERAAN BERSAMA: PRAKTIK BAIK DAN AKSI KOLEKTIF

RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia pun kena dampaknya. Cadangan bahan tambang yang ada di Indonesia

PELAKSANAAN UU 23 TAHUN 2014 DI PROVINSI JAWA TIMUR

PEMERINTAH DIGUGAT PERUSAHAAN TAMBANG INDIA

REPUBLIK INDONESIA RAPAT KERJA KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN HILIRISASI INDUSTRI DALAM RANGKA MENCAPAI TARGET PERTUMBUHAN INDUSTRI NASIONAL

PERUBAHAN ATAS PP NO. 23 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

Kewenangan Pengelolaan FAKULTAS HUKUM, UNIVERSITAS SRIWIJAYA

DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL SEMARANG, 20 MEI 2015

TATA KELOLA INDUSTRI EKSTRAKTIF DI INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Inception Report. Pelaporan EITI Indonesia KAP Heliantono & Rekan

WILAYAH PERTAMBANGAN DALAM TATA RUANG NASIONAL. Oleh : Bambang Pardiarto Kelompok Program Penelitian Mineral, Pusat Sumberdaya Geologi, Badan Geologi

MONITORING DAN EVALUASI ATAS HASIL KOORDINASI DAN SUPERVISI PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PROVINSI BENGKULU, LAMPUNG, DAN BANTEN

BAB I PENDAHULUAN Kondisi umum Tujuan dan Sasaran Strategi 1 Rencana Strategis Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 4 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN

MONITORING DAN EVALUASI ATAS HASIL KOORDINASI DAN SUPERVISI PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA PROVINSI MALUKU, PAPUA, DAN PAPUA BARAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Dr. Firman Muntaqo, SH, MHum Dr. Happy Warsito, SH, MSc Vegitya Ramadhani Putri, SH, S.Ant, MA, LLM Irsan Rusmawi, SH, MH

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN UMUM

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang

- 3 - BAB I KETENTUAN UMUM

PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DI KABUPATEN BANGKA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERBAIKAN IKLIM INVESTASI

2015, No Sumber Daya Mineral tentang Ketentuan dan Tata Cara Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan Serta Harga Gas Bumi; Mengingat : 1. Undang-Und

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL. Izin Khusus. Pertambangan. Mineral Batu Bara. Tata Cara.

Tentang Pemurnian dan Pengolahan Mineral di Dalam Negeri

2 Mengingat Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2007 tentang Kegiatan Usaha Panas Bumi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 70 T

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN BUPATI TANAH LAUT NOMOR 33 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PENJUALAN DAN/ATAU RENCANA PENGIRIMAN HASIL TAMBANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 20

Sosialisasi: Peraturan Menteri ESDM No. 48/2017 tentang Pengawasan Pengusahaan di Sektor ESDM (Revisi atas Permen ESDM No.

TRANSPARANSI DAN PENCEGAHAN KORUPSI DI SEKTOR INDUSTRI PERTAMBANGAN

- 5 - LAMPIRAN I KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 1823 K/30/MEM/ K TANGGAL : 7 Mei Maret 2018

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEBIJAKAN EKSPOR PRODUK PERTAMBANGAN HASIL PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN

BERITA NEGARA. KEMEN-ESDM. Evaluasi. Penerbitan. Izin Usaha Pertambangan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

KEBIJAKAN PENGUSAHAAN BATUBARA : Memperkuat Tata Kelola dan Tata Niaga Batubara

BERITA NEGARA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA

Berikut penataan regulasi yang disederhanakan/dicabut Jilid II oleh Kementerian ESDM (belum termasuk peraturan lain pada SKK Migas):

BAB V PENUTUP. Berdasarkan seluruh uraian pada bab-bab terdahulu, kiranya dapat. disimpulkan dalam beberapa poin sebagai berikut:

DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL

KEBIJAKAN MINERAL DAN BATUBARA

2017, No sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas Peratur

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Mineral. Batubara. Kebutuhan. Berjualan. Harga. Patokan. Pemasokan.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KERANGKA ACUAN KERJA GERAKAN NASIONAL PENYELAMATAN SUMBER DAYA ALAM (SDA) INDONESIA SEKTOR PERTAMBANGAN MINERBA

- 4 - MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG PENGUSAHAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.

DIY. 3. Dinas 1) 2) 3) 4) B. Permohonan 1)

2016, No Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi sebagaimana telah dua kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nom

Materi Paparan Menteri ESDM Strategi dan Implementasi Program MW: Progres dan Tantangannya

PROGRES IMPLEMENTASI 5 SASARAN RENCANA AKSI KOORDINASI DAN SUPERVISI MINERAL DAN BATUBARA

PENGELOLAAN PNBP SDA PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA. Biro Keuangan Kementerian ESDM

- 3 - Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara

POLICY BRIEF ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM DALAM RANGKA KEDAULATAN ENERGI

RAPAT KOORDINASI DAN SUPERVISI

Oleh Rangga Prakoso dan Iwan Subarkah

POKOK-POKOK PERMENDAG NO. 04/M-DAG/PER/1/2014 tentang Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Apabila ada tanggapan terhadap draft ini mohon dikirimkan ke:

MEDAN, 25 MARET 2015 OLEH : GUBERNUR ACEH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2 Penetapan Harga Batubara Untuk Pembangkit Listrik Mulut Tambang; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran Negara Re

Transkripsi:

KEBIJAKAN PENGELOLAAN BATUBARA ADHI WIBOWO Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara DIREKTORAT JENDERAL MINERAL DAN BATUBARA KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Bali, 2015

POKOK BAHASAN I. KONDISI SAAT INI II. KEBIJAKAN BATUBARA III. PELAKSANAAN KEBIJAKAN BATUBARA IV. PENUTUP

I. KONDISI SAAT INI

1.1. SUMBERDAYA, CADANGAN DAN KUALITAS BATUBARA INDONESIA 2010-2014 Pertumbuhan sumberdaya batubara nasional ± 5% per tahun dan cadangan batubara ± 10% per tahun Hanya sekitar 23% dari sumberdaya dapat ditingkatkan menjadi cadangan terutama karena pengaruh masalah lahan dan infrastruktur Batubara Indonesia mayoritas termasuk batubara mid rank (± 4800-5800 cal/g GAR), selanjutnya batubara low rank (± <4800 cal/g GAR).

1.2.. INDONESIAN PRODUCTION, DMO, EXPORT AND WORLD COAL PRICE 2010-2015 Million Tonnes 500 450 400 350 300 250 200 150 100 250 280 210 185 474 458 421 425 412 389 395 401 402 399 382 353 312 316323 321 330 323 287 258 102 65 65 77 66 79 67 8072 8276 74 50 0 2010 2011 2012 2013 2014 2015* production (plan) Production (realization) Export (plan) Export (realization) DMO (plan) DMO (realization) Pertumbuhan produksi batubara rata-rata 13,6% per tahun (2010 2015*). Harga batubara dunia sangat mempengaruhi tingkat produksi batubara dan penjualan ekspor. Kenaikan tingkat produksi saat harga cenderung turun disebabkan oleh keinginan para pengusaha untuk mempertahankan revenue serta perusahaan tahap pra-produksi yang naik ke tahap operasi produksi. Pertumbuhan kebutuhan batubara domestik sebesar 10% per tahun, lebih rendah dibandingkan dengan ekspor sebesar 14% per tahun. 75 80% batubara yang diproduksi dijual untuk pasar luar negeri. Kualitas batubara domestik berkisar 4000 6.500 kcal/kg (gar) *: up to Oktober 2015

I.3. PERKEMBANGAN HBA - 42,8 % 29,8 % 29,1 % - 19,4 % - 13,2 % - 12,4 % - 16,4 % 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015* 123,68 70,70 91,74 118,40 95,48 82,92 72,62 60,73 180.00 160.00 140.00 120.00 Harga (US$/ton) 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 0.00 Feb 2008 Mei 2008 Ags 2008 Nov 2008 Feb 2009 Mei 2009 Ags 2009 Nov 2009 Feb 2010 Mei 2010 Ags 2010 Nov 2010 Feb 2011 Mei 2011 Ags 2011 Nov 2011 Feb 2012 Mei 2012 Bulan/Tahun Ags 2012 Nov 2012 Feb 2013 Mei 2013 Ags 2013 Nov 2013 Feb 2014 Mei 2014 Ags 2014 Nov 2014 Feb 2015 Mei 2015 Ags 2015 Nov 2015 Sejak tahun 2012 Harga Batubara Acuan mengalami penurunan yang cukup tajam. HBA = 25% ICI 6500 + 25% Platts 5900 + 25% NEX 6322 + 25% GC 6322 *: s.d. November 2015

I.4. GRAFIK HBA & 4 INDEKS 200. 00 180. 00 HBA NOVEMBER 2015 = $54,43 160. 00 140. 00 HBA Harga (US$/ton) 120. 00 100. 00 80. 00 60. 00 ICI-1 NEX 40. 00 20. 00 GC 0. 00 PLATTS-1 Catatan: dalam kesetaraan 6322 kcal/kg (gar)

1.5. NATIONAL ENERGY MIX u/t 2050) ENERGY MIX PEMBANGKIT LISTRIK PT PLN

II. KEBIJAKAN BATUBARA

UUD 1945 Pasal 33 ayat (3) 2.1. DASAR HUKUM Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Undang-Undang No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Pasal 4 ayat (1): Mineral dan batubara sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat. Pasal 5: Untuk kepentingan nasional, Pemerintah setelah berkonsultasi dengan DPR dapat menetapkan kebijakan pengutamaan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri. Kepentingan nasional tersebut dapat dilakukan dengan pengendalian produksi dan ekspor Undang-Undang No 30 Tahun 2007 tentang Energi Pasal 21: pemanfaatan energi dilakukan diantaranya dengan mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya energi, dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Peraturan Pemerintah No 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara Pasal 2: Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara ditujukan untuk melaksanakan kebijakan dalam mengutamakan penggunaan mineral dan/atau batubara untuk kepentingan dalam negeri 10

2.2. PERAN SUB SEKTOR MINERAL DAN BATUBARA CSR PRO POOR (PEMERATAAN) KETENAGAKERJAAN LOCAL CONTENT PRO GROWTH (PERTUMBUHAN) PENERIMAAN NEGARA INVESTASI NILAI TAMBAH NERACA PERDAGANGAN (PRODUKSI, EKSPOR DAN DOMESTIK) ESDM UNTUK KESEJAHTERAAN RAKYAT PRO ENVIRONMENT (LINGKUNGAN) PRO JOB (LAPANGAN KERJA) GOOD MINING PRACTICE REKLAMASI DAN PASCA TAMBANG

2.3. ARAH KEBIJAKAN MINERAL DAN BATUBARA 1 2 Melaksanakan prioritas pemenuhan batubara untuk kebutuhan dalam negeri Memberikan kepastian dan transparansi didalam kegiatan pertambangan (regulasi pendukung UU Minerba, sanksi pelanggaran ketentuan, dll) ARAH KEBIJAKAN 5 3 4 Melaksanakan peningkatan pengawasan dan pembinaan Mendorong peningkatan investasi dan penerimaan negara Mendorong pengembangan nilai tambah produk komoditi hasil tambang (a.l. pengolahan, pemurnian, local content, local expenditure, tenaga kerja dan CSR) 6 Mempertahankan kelestarian lingkungan melalui pengelolaan dan pemantauan lingkungan, termasuk reklamasi dan pascatambang)

III. PELAKSANAAN KEBIJAKAN BATUBARA

3.1. PENGUTAMAAN KEBUTUHAN DALAM NEGERI (DMO) Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) UU Nomor. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 5 ayat (1). Peraturan Menteri Nomor. 34 Tahun 2009 Tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan Batubara untuk Kepentingan Dalam Negeri (sedang dalam proses revisi) Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2013 Pasal 84 ayat (1). Keputusan Menteri sejak mengenai pedoman pelaksanaan DMO Tahun 2010 s/d 2014. Surat Dirjen Minerba Nomor 1118/36/DJB/2014 merubah kebijakan DMO untuk kewajiban pasokan sesuai kontrak yang ada, dan jika terjadi kekurangan pasokan batubara ke domestik maka akan dilakukan penunjukan pemasok.

3.1.1. KOMPOSISI SEKTOR PEMAKAI BATUBARA DMO Sumber KepMen ESDM Penetapan DMO Kebutuhan DMO rata-rata untuk PLN sekitar 64%; IPP : 17%; PLTU non PLN dan IPP : 2 %; Semen,Pupuk, dll: 16 %; dan Industri Metallurgi: 1%

3,2. K EP EN TI N G A N P EM ER I N TA H U N TU K M EN G A TU R H A R G A B A TU B A R A PENGATURAN HARGA BATUBARA 1. Optimalisasi sumberdaya menjadi cadangan 2. Optimalisasi penerimaan negara termasuk bagi hasil ke daerah penghasil 3. Menjamin kepastian investasi terkait besarnya tingkat pengembalian dan periode pengembalian 4. Mendukung upaya menciptakan industri pertambangan yang Good Mining Practice 5. Mendukung prinsip Konservasi Sumberdaya Alam 6. Mencegah transfer profit dan atau transfer pricing 7. Mendukung penyerapan teknologi pertambangan 8. Pengendalian produksi batubara dikaitkan dengan target penerimaan negara yang direncanakan 9. Mencegah terjadinya disparitas harga yang dapat mengakibatkan langkanya pasokan di dalam negeri 10. Banyaknya Index harga di internasional menetapkan harga yang cukup berbeda jauh untuk kualitas batubara yang sama.

3.3. KEBIJAKAN UMUM PENINGKATAN NILAI TAMBAH BATUBARA 1. Penciptaan iklim investasi yang kondusif dan jaminan kepastian hukum a. Pemberian insentif dan dukungan lembaga keuangan b. Efektivitas Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria Pemerintah 2. Penyediaan dan peningkatan infrastruktur a. Pemanfaatan energi setempat b. Peningkatan sistem transportasi 3. Peningkatan koordinasi dan harmonisasi kebijakan/peraturan: a. Lintas Sektor/antar Kementerian b. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah c. Asosiasi Pengusaha sektor ESDM d. Pelaku usaha/iup/kk/pkp2b 4. Pemutakhiran sistem informasi pertambangan terpadu peningkatan peran litbang a. Efisiensi proses pengolahan batubara b. Validasi teknologi baru dan belum teruji c. Alih teknologi dan inovasi 5. Peningkatan kerjasama bilateral dan multilateral

3.3.1. LANGKAH JANGKA PENDEK PNT BATUBARA Salah satu upaya untuk mendukung kelayakan usaha pengembangan PNT batubara termasuk UGG dan CWM adalah pemanfatan potensi energi setempat, pembangunan infrastuktur dan penetapan kebijakan harga batubara khusus untuk bahan baku PNT batubara; Harga jual batubara IUP/PKP2B secara umum ditetapkan sebesar minimal HPB (sesuai harga market); PNT batubara dikategorikan Batubara Untuk Keperluan Tertentu (Permen 17/2010) yang harganya diatur khusus sebagaimana PerDirJen 480/2014.

DALAM RANGKA PENYUSUNAN KEBIJAKAN DIPERLUKAN DATA IUP YANG AKURAT & VALID 3.4. PENATAAN IUP (CLEAR AND CLEAN) DATA IUP YANG AKURAT & VALID PELAKSANAAN PENATAAN IUP 1. Sebagai dasar penetapan Wilayah Pertambangan. 2. Bahan koordinasi dengan instansi lain dalam penentuan tata ruang 3. Optimalisasi penerimaan negara bukan pajak dari IUP. 4. Peluang untuk peningkatan nilai tambah mineral dan batubara. 5. Mengetahui potensi produksi nasional mineral dan batubara 6. Dasar penentuan pemenuhan kebutuhan domestik (DMO) 7. Peningkatan kontribusi usaha jasa pertambangan nasional 8. Peningkatan kebutuhan sumber daya manusia 9. Pengelolaan lingkungan yang optimal Persyaratan Sertifikat CN C: 1. Administrasi : a. Tidak tumpang tindih b. Dokumen perizinan 2. Teknis : a. Laporan eksplorasi b. Laporan studi kelayakan c. Persetujuan dokumen lingkungan 3. Kewajiban keuangan : a. Iuran tetap b. Royalti

3.4.1 MINERBA ONE MAP INDONESIA (MOMI) Minerba One Map Indonesia (MOMI) adalah adalah Sistem Informasi Geografis (GIS) di web berbasis dibangun pada tahun 2013 oleh DGMC. Sistem ini berisi semua database IUP di Indonesia (10,922 IUP). MOMI dapat mengintegrasikan semua data IUP dari seluruh Indonesia (kota, kabupaten, provinsi) dan data dari sektor lain. MOMI dapat digunakan sebagai alat oleh pemerintah daerah untuk mendaftarkan WIUP yang diusulkan untuk tender (batubara dan mineral) atau cadangan (non logam dan batuan) Beberapa keuntungan dari MOMI, dapat diterapkan untuk: Analisis tumpang tindih IUP, Pemantauan zona pertambangan, Kolaborasi data spatial dengan lembaga lain dan Analisis Data Statistik yang terkait dengan IUP ini

3.5. LINGKUP WILAYAH PERTAMBANGAN WILAYAH PERTAMBANGAN (WP) WILAYAH USAHA PERTAMBANGAN (WUP) WILAYAH PERTAMBANGAN RAKYAT (WPR) WILAYAH PENCADANGAN NEGARA (WPN) WIUP Eksplorasi WIUP Operasi Produksi IPR WPN WUPK WIUP IPR : Wilayah Izin Usaha Pertambangan : Izin Pertambangan Rakyat WUPK : Wilayah Usaha Pertambangan Khusus WIUPK : Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus WIUPK

NO PULAU PELAKSANAAN REKONSILIASI WP PROGRESS 1 SULAWESI 13 JUNI 2013 2 KALIMANTAN 03 JULI 2013 3 MALUKU 22 AGUSTUS 2013 4 PAPUA 22 AGUSTUS 2013 5 SUMATRA 05 SEPTEMBER 2013 6 BALI, NUSA TENGGARA 12 SEPTEMBER 2013 7 JAWA 19 SEPTEMBER 2013 SUDAH DITETAPKAN MELALUI KEPMEN NOMOR 2737K/30/MEM/2013 SUDAH DITETAPKAN MELALUI KEPMEN NOMOR 4003K/30/MEM/2013 SUDAH DITETAPKAN MELALUI KEPMEN NOMOR 4002K/30/MEM/2013 SUDAH DITETAPKAN MELALUI KEPMEN NOMOR 4004K/30/MEM/2013 DISAMPAIKAN KE BIRO HUKUM MELALUI SURAT DIREKTUR NOMOR 1933/31/DBP/2013 TANGGAL 25 NOVEMBER 2013 DISAMPAIKAN KE BIRO HUKUM MELALUI SURAT DIREKTUR NOMOR 1933/31/DBP/2013 TANGGAL 25 NOVEMBER 2013 DISAMPAIKAN KE BIRO HUKUM MELALUI SURAT DIREKTUR NOMOR 1933/31/DBP/2013 TANGGAL 25 NOVEMBER 2013

3.6. SURVEYOR WITTNESS Surveyor yang ditunjuk pemerintah untuk melakukan pengawasan kegiatan survey batubara (sampling) yang dilakukan oleh surveyor. 3.7. PEMBAYARAN DIMUKA UPFRONT ROYALTY KEWAJIBAN Cara pembayaran PNBP sebelumnya menyebabkan terjadi tunggakan kewajiban yang jumlahnya sangat besar Sebagai upaya sementara Ditjen Minerba menerbitkan Surat Edaran Dirjen 04.E / 2013 Tata cara pembayaran PNBP dimuka ini akan diatur dalam peraturan menteri Secara prinsip pembayaran dimuka akan disinkronisasikan dengan kegiatan admininstrasi pengapalan yang melibatkan pihak terkait seperti surveyor dalam menerbitkan Laporan Survey.

3.8. EKSPORTIR TERDAFTAR Peraturan: Menteri Perdagangan Peraturan Nomor 39 / M-DAG / PER / 7/2014 tentang ekspor Batubara dan Batubara Produk, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 49 / M-DAG / PER / 8/2014, dan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Nomor 714.K / 30 / DJB / 2014 tentang Tata Cara dan Persyaratan Rujukan Eksportir Terdaftar Batubara; Tujuan: meningkatkan pengawasan penjualan ekspor batubara untuk dalam rangka pengendalian penjualan batubara, pengutamaan pasokan kebutuhan dalam negeri jangka panjang dan optimalisasi penerimaan negara dari ekspor batubara 3.9. PENYESUAIAN TARIF ROYALTI 1. Royalti batubara untuk IUP akan direvisi, meningkat dari IUP yang ada: 3%, 5%, dan 7%. 2. Jenis dan tarif PNBP mempertimbangkan beberapa aspek: sistem penambangan(tambang terbuka dan tambang bawah tanah),tingkat produksi dan harga batubara (kualitas dan harga pasar)

IV. PENUTUP

PENUTUP 1. Kebijakan Energi Nasional digunakan sebagai acuan dalam menetapkan Kebijakan Batubara Nasional. 2. Perlu dilakukan eksplorasi secara intensif untuk meningkatkan cadangan dan sumber daya batubara. 3. Batubara diprioritaskan sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik dan industri. 4. Pemanfaatan batubara dalam negeri ke depan diarahkan untuk peningkatan nilai tambah batubara. 5. Proyeksi kebutuhan batubara dalam negeri untuk periode 5 tahun ke depan meningkat sebesar 8% per tahun, sedangkan produksi batubara meningkat rata-rata sebesar 1% per tahun.

6. Pengendalian produksi batubara dilakukan dengan mengurangi ekspor batubara dan meningkatkan pemanfaatan batubara untuk kebutuhan dalam negeri. 7. Strategi dan upaya lain pemerintah dalam mengoptimalkan manfaat dari pengusahaan batubara adalah dengan: Pengaturan harga jual batubara Pengaturan pelabuhan export Penataan IUP (CNC dan MOMI) Penunjukan surveyor wittness Renegosisasi kontrak PKP2B dan KK Penyesuaian tarif royalti Pembayaran royalti dimuka Peregristasian eksportir 8. Dengan mengatur kembali sektor pertambangan, Pemerintah sedang mencoba yang terbaik untuk sektor batubara sehingga dapat menjadi winwin solution bagi masyarakat Indonesia, negara, dan investor sehingga kami berharap lebih banyak investasi ke sektor batubara.

www.minerba.esdm.go.id