SURAT EDARAN Nomor: SE 800/ 012 /BKD/2014

dokumen-dokumen yang mirip
SURAT EDARAN Nomor: SE 3559 /MK.1/2009

SURAT EDARAN MENTERI KEUANGAN R.I. No. SE-3559/MK.1/2009

BUPATI BANDUNG PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR : 12 TAHUN 2009 TENTANG

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti PNS.

BERITA DAERAH KOTA BEKASI PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 06 TAHUN 2014 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BEKASI

BUPATI LUMAJANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI LUMAJANG NOMOR 21 TAHUN 2018 TENTANG

SURAT EDARAN NOMOR : 850/576/ /2018 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI

: 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur. batan. Menimbang : a Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 44 TAHUN 2016 TENTANG

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTITUT PERTANIAN BOGOR DIREKTORAT SUMBERDAYA MANUSIA PROSEDUR OPERASIONAL BAKU CUTI PNS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

Nomor : 800 / 17 -Dukum/Bapegdikltda Banjarbaru, 9 Januari 2012

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR: KEP. 08 TAHUN 2012

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2016, No Nomor 152, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5071); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

KEPUTUSAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR : 188.4/262/BKD/2014 TENTANG

Nomor : 800 / 474 -Dukum/BKD &Diklat Banjarbaru, 26 Februari 2014 Lampiran : 6 (enam) lembar Perihal : Pemberian Cuti Sakit dan Cuti

STANDAR PELAYANAN PADA JENIS PELAYANAN PEMBERIAN CUTI PNS DI KABUPATEN BLORA

PROSEDUR MUTU PERMINTAAN DAN PEMBERIAN CUTI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2015 TENTANG

Cuti Tahunan. Cuti Sakit. Syarat-syarat Mengajukan Cuti Tahunan

Kepada : SURAT- EDARAN NOMOR: 01/SE/1977 TENTANG PERMINTAAN DAN PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

WALIKOTA SALATIGA PERATURAN WALIKOTA SALATIGA NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG PENDELEGASIAN SEBAGIAN WEWENANG PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

2015, No Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Le

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Di - Banjarbaru. Demikian disampaikan untuk menjadi perhatian sebagaimana mestinya. a.n. WALIKOTA BANJARBARU Plt. Sekretaris Daerah Kota

CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2013

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK. Tunjangan. Kinerja Pegawai.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

KEPUTUSAN KEPALA BAGIAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR : 188 / 110 / / 2013

KEPUTUSAN KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

CUTI PNS BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA. ( PP Nomor 24 Tahun 1976 ) Direktorat Peraturan Perundang-undangan

MANUAL PROSEDUR CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok- Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan L

WALI KOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN BUPATI TEMANGGUNG NOMOR 68 TAHUN 2009 TENTANG

2016, No Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976 tentang Cuti Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 57

PENGATURAN CUTI BAGI PNS DALAM PP NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG MANAJEMEN PNS KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI 2018

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENGAJUAN DAN PERSETUJUAN CUTI DAN IJIN

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 45/Permentan/OT.140/4/2014

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2011 TENTANG

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

: BKPP.800/668ru1/2017. Tata Cara Permintaan dan Pemberian Cuti

BUPATI BIMA PERATURAN BUPATI BIMA NOMOR 15 A TAHUN 2014 TENTANG

-1- REPUBLIK INDONESIA

WALIKOTA PROBOLINGGO

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

B U P A T I B I M A DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BIMA,

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 442/KMK.011/2011 TENTANG PEMBENTUKAN KOMITE VERIFIKASI PEMBERIAN PEMBEBASAN ATAU

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG

2015, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 90 TAHUN 2014 TENTANG HARI DAN JAM KERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

2016, No Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republ

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 41/PMK.01/2011 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

BUPATI BLORA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 80 TAHUN 2016 TENTANG

SURAT KEPUTUSAN BADAN PELAKSANA HARIAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN'AISYIYAH YOGYAICARTA NOMOR

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : SERI : E PERATURAN WALI KOTA BEKASI NOMOR 42 TAHUN 2017 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

BERITA NEGARA. No.675, 2016 KEMENDIKBUD. Tunjangan Kinerja. Juklak. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.73/KP.403/MPEK/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.66/MENHUT-II/2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERIAN TUNJANGAN KINERJA BAGI PEGAWAI DI

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 68/Permentan/OT.140/11/2012

2017, No Peraturan Presiden Nomor 130 Tahun 2017 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (

Transkripsi:

PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SEKRETARIAT DAERAH Kompleks Perkantoran dan Pemukiman Terpadu Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Kelurahan Air Itam Pangkalpinang ( 0717 ) 439325-327 Pangkalpinang, 4 Maret 2014 Yth. Kepada 1. Staf Ahli Gubernur 2. Assisten Sekretaris Daerah 3. Sekretaris DPRD/ KPU/ DPP KORPRI/ Bakorluh 4. Kepala Badan/ Dinas/ Biro /Kantor /Satuan 5. Inspektur/ Direktur RSJD/ Direktur RSUDP 1 sampai 5 di lingkungan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung SURAT EDARAN Nomor: SE 800/ 012 /BKD/2014 Dalam rangka menertibkan pelaksanaan cuti di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bersama ini kami beritahukan bahwa: A. Cuti Tahunan 1. Hak Cuti Tahunan a. Merupakan hak PNS, termasuk CPNS yang telah bekerja secara terus menerus selama 1 (satu) tahun. b. CPNS hanya berhak atas cuti tahunan, kecuali ditentukan lain oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti berdasarkan pertimbangan kemanusiaan. c. Cuti tahunan hanya dapat diberikan 1 (satu) kali dalam setahun. 2. Penggunaan Cuti Tahunan a. Penggunaan cuti tahunan dapat digabungkan dengan cuti bersama, dengan jumlah paling sedikit menjadi 3 (tiga) hari kerja. b. PNS yang menggunakan cuti tahunan dalam waktu bersamaan maksimal 5 (lima) persen dalam satu SKPD. c. Bagi PNS pada unit pelayanan yang tidak menjalani cuti bersama dan libur nasional, melampirkan surat keterangan tidak menjalani cuti bersama dan libur nasional dan berhak atas cuti tahunan selama 12 (dua belas) hari kerja. 3. Penangguhan Cuti Tahunan yang Tersisa a. Cuti tahunan yang tersisa 6 (enam) hari kerja atau kurang tetap menjadi hak PNS yang bersangkutan. b. Cuti tahunan yang tersisa lebih dari 6 (enam) hari kerja harus dimintakan penangguhan oleh PNS/CPNS kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti, agar penangguhan dimaksud dapat dilaksanakan tahun berikutnya. c. Pejabat yang berwenang memberikan cuti dapat menangguhkan cuti tahunan paling lambat akhir bulan Desember tahun yang berjalan.

4. Penggunaan Cuti Tahunan yang Tersisa a. Cuti tahunan yang tersisa yang digabungkan penggunaannya dengan cuti tahunan tahun yang sedang berjalan, dapat diambil untuk paling lama: 1) 18 (delapan belas) hari kerja termasuk cuti tahunan yang sedang berjalan dan 1 (satu) tahun sebelumnya; dan 2) 24 (dua puluh empat) hari kerja termasuk cuti tahunan yang sedang berjalan, apabila cuti tahunan tidak diambil dalam dua tahun sebelumnya. b. Cuti tahunan yang tersisa lebih dari 3 (tiga) tahun termasuk cuti tahunan yang sedang berjalan dianggap hangus. B. Cuti Besar 1. Hak Cuti Besar a. Merupakan hak PNS yang telah bekerja paling kurang 6 (enam) tahun secara terus menerus. b. PNS yang akan/telah menjalani cuti besar tidak berhak lagi atas cuti tahunan dalam tahun yang bersangkutan. c. Selama menjalankan cuti besar, PNS yang bersangkutan tidak berhak atas tunjangan jabatan dan tidak memperoleh TPP. 2. Penggunaan Cuti Besar a. PNS perlu merencanakan penggunaan cuti besar sejak awal tahun. b. Cuti besar dapat digunakan oleh PNS untuk 1) memenuhi kewajiban agama misalnya menunaikan ibadah haji dengan melampirkan BPIH. 2) persalinan anaknya yang keempat apabila PNS yang bersangkutan mempunyai hak cuti besar menjelang persalinan; atau 3) keperluan lainnya sesuai pertimbangan pejabat yang berwenang memberikan cuti. c. PNS yang akan/telah menggunakan cuti besar berhak atas: 2) cuti sakit; 3) cuti bersalin untuk persalinan anaknya yang pertama, kedua, dan ketiga; d. PNS yang telah menggunakan cuti besar baru berhak kembali menggunakan cuti besar setelah bekerja paling kurang 6 (enam) tahun berikutnya secara terus menerus. C. Cuti Sakit 1. Hak Cuti Sakit merupakan hak PNS. Untuk PNS/CPNS wanita yang mengalami gugur kandungan diberikan selama 45 (empat puluh lima) hari kalender. 2. Penggunaan Cuti Sakit a. PNS yang menderita sakit lebih dari 2 (dua) hari harus melampirkan surat keterangan dokter dari rumah sakit pemerintah/puskesmas/dokter swasta yang di tunjuk oleh Mentri Kesehatan. b. PNS yang telah menggunakan cuti sakit untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan telah aktif bekerja kembali, berhak atas: pada tahun sebelum digunakan cuti sakit; 4) cuti bersalin;

D. Cuti Bersalin 1. Hak Cuti Bersalin a. Merupakan hak PNS/CPNS wanita untuk persalinan anaknya yang pertama, kedua, dan ketiga selama PNS/CPNS. b. Cuti bersalin yang digunakan oleh CPNS wanita untuk persalinan anaknya yang pertama akan mengurangi hak cuti persalinan setelah yang bersangkutan menjadi PNS. 2. Penggunaan Cuti Bersalin dan Cuti Lain untuk Bersalin a. PNS yang telah menggunakan cuti bersalin, berhak atas: pada tahun sebelum digunakan cuti bersalin setelah bekerja kembali paling kurang 3 (tiga) bulan; 4) cuti sakit; b. PNS wanita dapat diberikan cuti besar untuk persalinan anaknya yang keempat, apabila yang bersangkutan mempunyai hak cuti besar menjelang persalinan. c. PNS wanita yang akan/telah menggunakan cuti besar untuk persalinan anaknya yang keempat tidak berhak lagi atas cuti tahunannya dalam tahun yang bersangkutan. d. PNS wanita yang akan/telah menggunakan cuti besar tersebut berhak atas: 2) cuti sakit; 3) cuti karena alasan penting. e. PNS wanita dapat diberikan cuti di luar tanggungan negara untuk persalinan anaknya yang kelima dan seterusnya. E. Cuti Karena Alasan Penting 1. Penggunaan Cuti Karena Alasan Penting a. Selain karena alasan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan (Ibu, bapak, Isteri/suami, anak, adik, kakak, mertua, atau menantu sakit keras atau meninggal dunia, serta PNS yang melangsungkan pernikahan pertama), PNS/CPNS juga berhak atas cuti karena alasan penting karena melaksanakan ibadah umroh serta karena terjadinya kondisi force major, misalnya banjir, tanah longsor, kebakaran, dan gempa bumi.. b. Lamanya cuti alasan penting melangsungkan pernikahan pertama di dalam daerah sebanyak 12 hari kalender, sedangkan untuk pernikahan pertama di luar daerah sebanyak 14 hari kalender. c. PNS yang telah menggunakan cuti karena alasan penting, berhak atas: pada tahun sebelum digunakan cuti karena alasan penting setelah bekerja kembali paling kurang 3 (tiga) bulan; 4) cuti sakit; 5) cuti bersalin.

F. Pengajuan Permohonan Hak Cuti 1. Permohonan cuti yang akan dijalankan di dalam negeri dan sudah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang memberikan cuti, harus disampaikan kepada pejabat yang berwenang menetapkan surat izin cuti paling lama 7 (tujuh) hari kerja sebelum tanggal pelaksanaan cuti, kecuali permohonan: a. cuti sakit; b. cuti karena alasan penting. 2. Cuti yang akan dijalankan di luar negeri harus mendapatkan izin dari Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. 3. Permohonan cuti yang akan dijalankan di luar negeri dan izin ke luar negeri, harus disampaikan kepada Sekretariat Jenderal Kemendagri cq. Kepala Pusat Administrasi Kerjasama Luar Negeri paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sebelum tanggal pelaksanaan cuti, kecuali permohonan: a. cuti sakit; b. cuti karena alasan penting. G. Cuti di Luar Tanggungan Negara 1. PNS yang telah bekerja paling kurang 5 (lima) tahun secara terus-menerus dapat diberikan cuti di luar tanggungan negara karena alasan-alasan pribadi yang penting dan mendesak. 2. Cuti di luar tanggungan negara dapat diberikan untuk paling lama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) tahun apabila ada alasan-alasan yang penting untuk memperpanjangnya. 3. Alasan-alasan pribadi yang penting dan mendesak tersebut dapat dipertimbangkan oleh atasan langsung PNS yang bersangkutan apabila disertai dengan buktibukti yang mendukung. 4. PNS yang bekerja kembali di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung setelah melaksanakan cuti di luar tanggungan negara tidak berhak atas cuti tahunan yang tersisa dan berhak atas: a. cuti bersama; b. cuti tahunan pada tahun yang sedang berjalan setelah bekerja kembali paling kurang 3 (tiga) bulan; c. cuti besar, yaitu setelah bekerja kembali paling kurang 6 (enam) tahun secara terus- menerus; d. cuti sakit; e. cuti bersalin; f. cuti karena alasan penting.

H. Izin Meninggalkan Tugas 1. Pemberian izin meninggalkan tugas bagi PNS/CPNS diberikan paling lama 2 (dua) hari kerja selama setahun. 2. Izin Meninggalkan tugas bagi Fungsional Umum, Fungsional Tertentu, Eselon III dan Eselon IV cukup disampaikan secara tertulis ke Kepala SKPD masing-masing. 3. Bagi Eselon II yang izin meninggalkan tugas disampaikan kepada Gubernur Prov. Kep. Babel dan diterbitkan izin tersebut melalui BKD Prov. Kep. Babel. I. Izin Dispensasi 1. Pemberian Izin dispensasi diberikan dengan ketentuan : a. Kegiatan olahraga dengan tujuan mengatasnamakan negara maka harus melampirkan rekomendasi dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. b. Kegiatan olahraga dengan tujuan mengatasnamakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung maka harus melampirkan rekomendasi dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau instasi pelaksana. c. Kegiatan Pramuka dengan tujuan mengatasnamakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung maka harus melampirkan rekomendasi dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau instasi pelaksana. d. Kegiatan Seni/Budaya dengan tujuan mengatasnamakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung maka harus melampirkan rekomendasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau instasi pelaksana. 2. PNS yang mengajukan izin dispensasi harus diketahui atasan langsung dan disetujui Kepala SKPD masing-masing. Pemberitahuan ini perlu diinformasikan kepada seluruh pegawai di lingkungan Saudara. Atas perhatian dan kerjasama Saudara kami ucapkan terima kasih. a.n. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Sekretaris Daerah, ttd Ir. H. Syahrudin, M.Si Pembina Utama Madya NIP. 19620213 199003 1 003 Tembusan: 1. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung 2. Sekretaris Daerah Prov. Kep. Bangka Belitung