Kata Kunci: UPJA, Alsin, Sistem Perguliran

dokumen-dokumen yang mirip
PEMBENTUKAN MODEL UNIT PELAYANAN JASA ALAT DAN MESIN SAPI PERAH

PENGKAJIAN POTENSI PENGEMBANGAN USAHA SAPI PERAH RAKYAT DI KABUPATEN TRENGGALEK

1 I PENDAHULUAN. sapi perah sehingga kebutuhan susu tidak terpenuhi, dan untuk memenuhi

ANALISIS ATAS KEMUNGKINAN PENGEMBANGAN MODEL UNIT PELAYANAN JASA ALAT DAN MESIN PETERNAKAN SAPI PERAH DI JAWA BARAT 1 ABSTRAK

Kajian Koperasi Persusuan di Jawa Barat Oleh Achmad Firman 1

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian, pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Perkembangan Koperasi tahun Jumlah

KAJIAN KOPERASI PERSUSUAN DI JAWA BARAT

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

RINGKASAN EKSEKUTIF HENNY NURLIANI SETIADI DJOHAR IDQAN FAHMI

LAPORAN KINERJA 2014 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

1 of 8 7/31/17, 9:02 AM

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA. Berikut ini merupakan gambaran umum pencapaian kinerja Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur :

Lilis Nurlina Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-undang No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian pasal 2

BAB IV GAMBARAN UMUM ORGANISASI

Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Wawancara Mengenai Kondisi Internal dan Eksternal KUD Puspa Mekar

2 seluruh pemangku kepentingan, secara sendiri-sendiri maupun bersama dan bersinergi dengan cara memberikan berbagai kemudahan agar Peternak dapat men

KAJIAN KOPERASI PERSUSUAN DI JAWA BARAT

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan

a. Programa Penyuluhan Desa/Kelurahan atau unit kerja lapangan;

Bab I. Pendahuluan. memberikan bantuan permodalan dengan menyalurkan kredit pertanian. Studi ini

7.2. PENDEKATAN MASALAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK SAPI POTONG DAN SAPI BAKALAN KARAPAN DI PULAU SAPUDI KABUPATEN SUMENEP

PENDAHULUAN. peternak, khususnya bagi yang berminat meningkatkan skala usahanya. Salah satu

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Peternakan Sapi Perah di Indonesia

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Uraian Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

1 III METODE PENELITIAN. (Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara) Jabar yang telah mengikuti program

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia.

IV. ANALISIS DAN SINTESIS

Inventarisasi dan Pemetaan Lokasi Budidaya dan Lumbung Pakan Ternak Sapi Potong (Inventory and Mapping of Cattle and Feed Resources)

dan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan IPS. Usaha

PENGANTAR. Ir. Suprapti

PENDAHULUAN. produksi yang dihasilkan oleh peternak rakyat rendah. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012), produksi susu dalam negeri hanya

PENINGKATAN EFISIENSI SISTEM PRODUKSI STUDI KASUS PETANI PADI SAWAH ORGANIK DI KABUPATEN BOYOLALI JAWA TENGAH

HUBUNGAN FUNGSI-FUNGSI KOPERASI DENGAN KEBERDAYAAN PETERNAK SAPI PERAH ( Kasus pada Koperasi Persusuan di Kabupaten Bandung) Unang Yunasaf

PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI WADAH KOPERASI UNTUK MENCAPAI KETAHANAN PANGAN. Menteri Pertanian RI Pada : Jakarta Food Security Summit (JFSS)

FORM D A. URAIAN KEGIATAN

I. PENDAHULUAN. Sumber : BPS (2009)

Hubungan antara Dinamika Kelompok dengan Keberdayaan Peternak Ade Triwahyuni

TINGKAT EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE PENYULUHAN PENGEMBANGAN TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN TANJUNGSARI

PENETAPAN KINERJA DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN JOMBANG TAHUN ANGGARAN 2015

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Sentra Peternakan Rakyat (yang selanjutnya disingkat SPR) adalah pusat

PENGUKURAN KINERJA PRIORITAS KEEMPAT

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Susu merupakan salah satu bahan pangan yang penting bagi pemenuhan

HUBUNGAN ANTARA IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DENGAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH

Peran dan fungsi pemerintah pada era otonomi daerah adalah. berupa pelayanan dan pengaturan (fasilitator, regulator dan dinamisator)

I. PENDAHULUAN. pasokan sumber protein hewani terutama daging masih belum dapat mengimbangi

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PETERNAKAN

BAB I. PENDAHULUAN. [Januari, 2010] Jumlah Penduduk Indonesia 2009.

Hubungan antara Karakteristik Petani dan Dinamika Kelompok Tani dengan Keberhasilan Program PUAP

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Sapi Perah

Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan ISSN: Vol. 2 No. 1 Tahun 2017

I PENDAHULUAN. sektor peternakan merupakan salah satu bagian dari sektor pertanian yang perlu

CAPAIAN KINERJA SKPD DALAM PENCAPAIAN 9 PRIORITAS PROGRAM PEMBANGUNAN RKPD 2014

BAB I. PENDAHULUAN A.

Hubungan Fungsi-Fungsi Koperasi dengan Keberdayaan Peternak Sapi Perah (Relationship Cooperative Function with Empowerment of Dairy Farmers)

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

Sektor Sektor Pertanian

KONTRIBUSI USAHA PETERNAKAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. serta dalam menunjang pembangunan nasional. Salah satu tujuan pembangunan

PENGARUH LAMA WAKTU TRANSPORTASI SUSU SEGAR TERHADAP TINGKAT KONTAMINAN MIKROB (STUDI KASUS DI WILAYAH KUD SARWAMUKTI, LEMBANG, JAWA BARAT)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang memiliki peranan cukup penting dalam memberikan

BAB I PENDAHULUAN. maju dalam produk susu, hal ini terlihat akan pemenuhan susu dalam negeri yang

Animal Agricultural Journal, Vol. 2. No. 2, 2013, p 1-7 Online at :

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

PERAN DAN UPAYA KOPERASI PETERNAK SAPI PERAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS SUSU DI JAWA BARAT

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian Administratif Daerah

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

PRODUKTIVITAS DAN ANALISA KELAYAKAN USAHA TERNAK SAPI POTONG DI YOGYAKARTA (POSTER) Tri Joko Siswanto

I. PENDAHULUAN Kebijakan otonomi daerah yang bersifat desentralisasi telah merubah

BAGIAN PEREKONOMIAN DINAS PERTANIAN ,95 JUMLAH

AGRIBISNIS KAMBING - DOMBA

I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)

PENDAHULUAN. Latar Belakang. berbagai permasalahan persusuan pun semakin bertambah, baik

KERAGAAN PENGEMBANGAN TERNAK SAPI POTONG YANG DIFASILITASI PROGRAM PENYELAMATAN SAPI BETINA PRODUKTIF DI JAWA TENGAH

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SISTEM AGRIBISNIS BIBIT TEBU ASAL KULTUR JARINGAN BPTP SULAWESI SELATAN

Animal Agricultural Journal, Vol. 2. No. 2, 2013, p Online at :

Bahan Kuliah ke 9: UU dan Kebijakan Pembangunan Peternakan Fakultas Peternakan Unpad KEBIJAKAN DALAM INDUSTRI TERNAK NON RUMINANSIA

SISTEM INTEGRASI SAPI DI PERKEBUNAN SAWIT PELUANG DAN TANTANGANNYA

Transkripsi:

STRATEGI PROMOSI ALAT DAN MESIN SAPI PERAH DALAM RANGKA PENINGKATAN KUALITAS SUSU MELALUI PEMBENTUKAN MODEL UNIT PELAYANAN JASA ALAT DAM MESIN (UPJA) DAN SISTEM PERGULIRAN 1 Oleh: Achmad Firman, Sri Rahayu, Sondi Kuswaryan, Cecep Firmansyh, dan Anita Fitriani Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Abstrak Upaya peningkatan kemampuan peternak ke arah perbaikan kualitas sapi perah dan susu harus terus diupayakan karena ujung tombak dari komoditas susu yang dihasilkan dari peternakan sapi perah berasal dari peternakan rakyat. Salah satu upaya peningkatan kualitas susu melalui penggunaan alat dan mesin (Alsin) yang tepat guna. Unit Pelayanan Jasa Alsin (UPJA) merupakan salah satu model yang dikembangkan di peternakan sapi perah dalam rangka mengintrodusir penggunaan Alsin di tingkat kelompok peternak sapi perah. Hasil kajian menunjukkan bahwa model UPJA yang dibangun harus disesuaikan dengan potensi, lokasi, dan kemampuan SDM kelompok. Keberhasilan program UPJA selain ditentukan oleh partisipasi kelompok juga ditentukan oleh peranan ketua kelompok. Berhasilnya sistem perguliran milkcan di dari 8 milkcan menjadi 28 milkcan pada akhir program merupakan keberhasilan pemberdayaan kelompok. Pada keberhasilan program terletak pada alat sprayer untuk pencegahan mastitis sedangkan ember aluminium tidak berhasil digulirkan karena ember tersebut tidak memenuhi standar kualitas. Kata Kunci: UPJA, Alsin, Sistem Perguliran PROMOTION STRATEGY OF DAIRY EQUIPMENT AND MACHINERY TO IMPROVE MILK QUALITY THROUGH DEVELOPMENT MODEL OF EQUIPMENT AND MACHINE SERVICE UNIT (UPJA) AND RETURNING SYSTEM FUND Abstact The increasing skill of farmer to improve milk quality is very important. Using equipment and machine can help farmer to improve milk quality. Equipment and Machine Service Unit is one model to promote equipment and machine in dairy farmer, specially in group level. The result research showed that the UPJA development model must be built based on potential, location, and group skill. Participation and leader skill were main key to build UPJA in group level. Harapan Jaya group could prove that UPJA model could help the group to procure milkcan from 8 units to be 28 units by return system fund. It was different with Mekar Asih group that the group could use sprayer to prevent mastitis disease. However, the group was not success in return system, specially in aluminum pail because the aluminum pail did not require the standard quality. Key Words: UPJA, equipment and machine, return system 1 Makalah ini disampaikan sebagai makalah pendukung pada acara Focus Group Discus sion: Arah Pengembangan Indust ri Persusuan Jangka Panjang, 18-19 Januari 2008, Hotel Puri Khatulistiwa Jatinangor, Sumedang

PENDAHULUAN Latar Belakang Upaya peningkatan populasi sapi perah secara besar-besaran telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 1979 1980 dengan mengimpor sapi perah yang berkualitas dari Australia dan Selandia Baru. Usaha ternak sapi perah pun menampakkan hasilnya seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu. Perkembangan pada agribisnis sapi perah mulai nampak dengan berkembangnnya kelembagan pada agribisnis sapi perah, seperti koperasi, balai inseminasi buatan, industri pengolahan susu, pabrik pakan, perusahaan pensuplai kebutuhan mesin dan peralatan sapi perah, dan sebagainya. Namun, akhir-akhir ini perkembangan jumlah populasi sapi perah, khususnya di Jawa Barat, mengalami pasang surut. Berdasarkan data dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (2004), jumlah sapi perah di Jawa Barat tahun 2000, 2001, 2002, dan 2003 masing-masing sejumlah 70.266, 62.994, 80.089, dan 79.496 ekor. Di samping itu dilaporkan pula bahwa terdapat sekitar 11 Koperasi/KUD susu mengalami stagnasi usaha, bahkan ada beberapa koperasi yang mengalami kebangkrutan akibat salah urus koperasi. Kondisi ini dapat mengakibatkan peternak menjadi tidak bergairah lagi untuk berusaha di peternakan sapi perah. Permasalahan di atas merupakan cerminan bahwa terdapat ketidakharmonisan sistem yang terjadi pada agribisnis sapi perah. Oleh karena itu diperlukan upaya bersama dalam mengelola agribisnis sapi perah melalui kinerja bersama dari seluruh pelaku agribisnis sapi perah, terutama peternak. Upaya peningkatan kemampuan peternak dan sistem yang menunjang ke arah perbaikan kualitas sapi perah dan susu harus terus diupayakan karena ujung tombak dari komoditas susu yang dihasilkan dari peternakan sapi perah berasal dari peternakan rakyat. Salah satu upaya peningkatan produktivitas ternak sapi perah dapat dilakukan melalui penggunaan alat dan mesin (Alsin) yang tepat guna agar pencapaian tujuan peningkatan produksi dapat tercapai. Penggunaan Alsin untuk usaha peternakan sapi perah diperlukan dalam semua proses produksi, yaitu pra produksi, produksi, panen, pasca panen (pengolahan hasil), dan distribusi. Namun, penggunaan Alsin pada usaha peternakan rakyat masih sangat terbatas disebabkan tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak untuk membeli Alsin tersebut sehingga mereka cenderung menggunakan peralatan tradisional yang sederhana penggunaannya, mudah dijangkau, murah, dan tersedia setiap saat. Bertitiktolah dari kondisi tersebut di atas, upaya introdusir Alsin sapi perah harus mampu meningkatkan produktivitas ternak dan kualitas susu yang dihasilkannya. Di samping itu, Alsin yang dii ntrodusir harus mudah dijangkau, mudah pengoperasiannya dan perbaikannya, tersedia setiap saat, dan tersedianya lembaga yang menyediakan atau memperbaiki Alsin tersebut bila terjadi kerusakan. Oleh karena itu, perlu diupayakan suatu kelembagaan yang tersistem yang dapat memberikan pelayanan Alsin dalam bentuk Unit Pelayanan Jasa Alat Mesin (UPJA) khususnya untuk usaha peternakan sapi perah. Secara kelembagaan, agribisnis sapi perah telah mempunyai sistem kelembagaan yang cukup baik dibandingkan dengan komoditas peternakan lainnya dengan koperasi sebagai lembaga yang mewakili peternak dalam penyediaan sarana dan prasaran produksi untuk sapi perah termasuk menerima penyerapan hasil produksi susu dari para peternak. Keterkaitan antara peternak dan koperasi sangat erat kaitannya terutama dalam upaya peningkatan produksi dan kualitas susu yang dihasilkan. Oleh 1

karena itu, upaya pembentukan model UPJA pada tingkat kelompok peternak dan koperasi diduga tidak akan terlalu sulit dilakukan. Kajian model UPJA sapi perah merupakan hasil kerjasama antara Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. Identifikasi Masalah Permasalahan yang dapat diidentifikasi pada kajian ini adalah belum adanya sistem kerja dan model UPJA yang berkesinambungan di tingkat kelompok peternak sapi perah dan koperasi persusuan. Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan pengkajian ini adalah untuk menghasilkan sistem kerja dan model UPJA yang sesuai bagi kelompok dan koperasi peternak sapi perah di wilayah studi. METODE PENELITIAN Materi Kajian Materi kajian dari penelitian ini adalah kelompok peternak sapi perah yang menjadi anggota koperasi dan koperasi/kud di wilayah studi. Adapun kelompok peternak yang akan dijadikan objek studi adalah kelompok peternak Harapan Jaya di KSU Tandangsari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang dan Kelompok Mekar Asih di KPSBU, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Pemilihan kelompok diambil secara sengaja (accidental sampling). Metode Kajian Metode pendekatan yang dilakukan dalam membentuk model UPJA adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), Focus Group Discussion (FGD). dan bantuan permodalan berupa peralatan yang diperlukan oleh kelompok berdasarkan sistem perguliran. Di samping itu, diperlukan inisiator dan fasilitator (INFAS) dari luar kelompok pada tahap awal pembentukan model UPJA sampai kelompok tersebut mampu untuk melanjutkan program-programnya tanpa bantuan INFAS. Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam membentuk model UPJA di wilayah studi, yaitu: A. Tahapan Persiapan yang meliputi Konsultasi dan dialog dengan nara sumber lokal termasuk ketua kelompok dan tokoh koperasi menyampaikan tujuan kegiatan yang akan dilakukan Menganalisis data sekunder Pemetaan kawasan peternakan sapi perah di wilayah studi. B. Tahapan Perancangan Kegiatan yang meliputi Rencana garis besar kegiatan (outline). Merancang teknik-teknik kegiatan yaitu dengan cara diskusi kelompok terarah (Focus Group Discussion) Merumuskan tujuan dan kebutuhan informasi C. Tahapan PRA dengan mengembangkan Identifikasi peternakan yang diobservasi. Kegiatannya terarah kepada permasalahan peternak/kelompok peternak. D. Tahapan FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan di lapangan lebih difokuskan pada sistem bottom up planning yang mengedepankan hasil putusan 2

dicapai berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah dengan kegiatan sebagai berikut: Menyusun program kegiatan Perumusan tujuan yang akan dicapai Menentukan sasaran dari kegiatan Menentukan rangkaian kegiatan termasuk di dalamnya pelatihan (administrasi, keuangan, organisasi) dan pemberian bantuan peralatan. Menentukan indikator keberhasilan kegiatan input, proses dan output Monitoring dan evaluasi HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum kosep dasar dari Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Peternakan (UPJA Peternakan) adalah sebagai perorangan atau kelompok yang usahanya menyewakan alat dan mesin peternakan dengan tujuan mendapatkan penghasilan dan keuntungan (Ditjen Bina Sarana Pertanian, 2002). Adapun status UPJA Peternakan adalah sebagai lembaga ekonomi pedesaan di luar usahatani yang melaksanakan upaya optimalisasi pemanfaatan Alsin peternakan melalui pelayanan jasa Alsin peternakan guna mendapatkan keuntungan usaha yang dikelola berdasarkan skala ekonomi, berorientasi pasar serta didukung oleh SDM yang bekerja secara profesional. Adapun hasil penelitian dan implementasi program Alsin yang dilakukan di dua kelompok peternak sapi perah, yaitu KPSBU Lembang dan KSU Tandangsari Sumedang adalah sebagai berikut: 1. Tahapan Identifikasi Kebutuhan Pada tahap ini aktivitas kegiatan difokuskan pada identifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan Alsin dalam rangka peningkatan produktivitas ternak. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk mengenal lebih jauh mengenai keinginan, potensi, hambatan, dan peluang yang terdapat di kedua kelompok. Hasil identifikasi kebutuhan Alsin dari kedua kelompok tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Identifikasi Kebutuhan Alsin pada dan Harapan Jaya Identifikasi Kebutuhan Alsin Permasalahan Potensi 1. Sering terjadinya gejala sub klinis mastitis 2. Menurunnya tingkat Total Solid (TS) karena masalah hijauan 3. Ember yang digunakan untuk pemerahan adalah ember plastik alasannya karena ember tersebut murah dan tidak mudah rusak 1. Adanya kerjasama antara kelompok dengan pihak 1. Tingginya Total Plate Count (jumlah bakteri), yaitu di atas 1 juta/cc dan rendahnya TS, yaitu kisaran 11,3 11,9 % sehingga harga susu rendah 2. Kurangnya air dan hijauan saat musim kemarau 1. Akses jalan baik 2. Memiliki gedung pertemuan 3

Identifikasi Kebutuhan Alsin Kebutuhan Alsin kehutanan untuk mengelola lahan 2. Terdapatnya potensi hijauan, seperti kaliandra, yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak Kebutuhan Alsin yang menjadi skala prioritas kelompok adalah: 1. Alat untuk mencegah mastitis 2. Alat pembenihan dan penanaman kaliandra jenis bunga putih sebagai pakan alternatif 3. Penggunaan ember perah yang terbuat dari aluminium atau stainlessteel. kelompok Kebutuhan Alsin yang menjadi skala prioritas kelompok dan sesuai dengan program KSU Tandangsari adalah Milkcan. 2. Tahapan Rencana Tindak Berdasarkan hasil informasi yang diperoleh pada tahap identifikasi dan pihak KPSBU, tahapan ini dititikberatkan pada penyusunan UPJA yang disesuaikan dengan kondisi kelompok. Berdasarkan hasil musyawarah dan kesepakatan kelompok, maka disusun hal-hal sebagai berikut: a. Kesepakatan Kelompok pada Alsin melalui sistem perguliran memerlukan sprayer dan ember aluminium atau stainlessteel dengan sistem perguliran memerlukan milkcan. b. Model dan sistem UPJA Kelompok yang dibangun membentuk model UPJA sebagai berikut: 9 10 Pembinaan dan Pengendalian (Koperasi) 5 6 1 Penyedia Alsinnak (ember perah dan sprayer) 8 7 Unit Pelayanan Jasa Alsin (UPJA) Kelompok 2 Institusi/Perorangan Inisiator dan Fasilitator (INFAS) 4 3 Pengguna Jasa Alsinnak (Anggota Kelompok) Ilustrasi 1. Model UPJA di 4

membentuk model UPJA sebagai berikut: 9 10 Pembinaan dan Pengendalian (Koperasi) 5 6 1 Penyedia Alsinnak (milkcan impor) 8 7 Unit Pelayanan Jasa Alsin (UPJA) Kelompok 2 Institusi/Perorangan Inisiator dan Fasilitator (INFAS) Perbaikan Alsinnak 4 3 Pengguna Jasa Alsinnak (Anggota Kelompok) Ilustrasi 2. Model UPJA di 3. Tahapan Implementasi Program Tahapan ini merupakan tahapan pelaksanaan ujicoba model UPJA kelompok yang dimediasi oleh bantuan program Alsin kepada kelompok dari Dinas Peternakan Jawa Barat. Bantuan Alsin ini hanya sebagai stimulan atau modal awal kelompok yang diharapkan modal ini dapat berkembang sehingga setiap anggota bisa memperoleh Alsin sesuai dengan yang disepakati melalui sistem perguliran. Adapun uraian dari pelaksanaan program UPJA kelompok adalah sebagai berikut: Tabel 2. Mekanisme dan Implementasi Program UPJA Kelompok Implementasi UPJA a. Bantuan Peralatan b. Sistem Perguliran Bantuan diberikan dalam bentuk alat yang diperlukan, seperti sprayer untuk pengendalian mastitis sebanyak 20 buah dan ember perah aluminium sebanyak 12 buah yang dibuat oleh industri kecil aluminium dari Kopo- Bandung. Disepakati bahwa beban yang diberikan kepada anggota terhadap kedua barang tersebut sebesar Rp 200.000 yang dibayar dengan cara memotong pembayaran susu Bantuan peralatan milkcan sebanyak 8 buah yang diberikan secara hibah dibeli dari GKSI Jawa Barat Skenario yang disepakati adalah sistem tanggung renteng, yaitu dengan menggunakan cadangan keuangan kelompok dalam rangka perguliran dana diperoleh dari bonus TPC, pemotongan tabungan dari setoran susu sore, dan 5

Implementasi UPJA Rp 40.000/bulan per anggota pemotongan dari Tabungan Hari Raya Rp 100.000/orang. Adapun perkiraan pemenuhan kebutuhan milkcan untuk seluruh anggota dilakukan dengan scenario, sebagai berikut: September 2005. Bonus TPC Kelompok sebesar Rp 2.160.896 dan pemotongan tabungan setoran susu sore sebesar Rp 800.000, sehingga total dana yang diperoleh Rp 2.960.896. Jumlah dana tersebut dapat dibelikan milkcan sebanyak 8 buah. Oktober 2005. Pemotongan tabungan hari raya sebesar Rp 100.000/anggota dikalikan dengan 25 orang sehingga dana yang dapat dikumpulkan sebanyak Rp 2.500.000 ditambah dengan pemotongan tabungan sore hari sebesar Rp 800.000. Sehingga total dana yang diperoleh Rp 3.300.000 atau setara dengan 9 buah milkcan. Nopember 2005. Dana dari bonus TPC sebesar Rp 2.100.000 ditambah dengan pemotongan tabungan sore hari sebesar Rp 800.000 sehingga total dana yang diperoleh Rp 2.900.000. Kemudian ketua kelompok memberikan pinjaman dana kepada anggota sebesar Rp 2.000.000 dan kasbon dari tabungan hari raya sebesar Rp 1.000.000, maka total dana yang terkumpul sebesar Rp 5.900.000 atau setara dengan 16 milkcan. Desember 2005. Dana dari bonus TPC sebesar Rp 1.450.000 dan pemotongan tabungan sore hari sebesar Rp 800.000. Sehingga total dana yang diperoleh Rp 2.250.000 atau setara dengan 6 buah milkcan. Maka total milkcan yang dapat dibeli oleh dari bulan September sampai dengan Desember 2005 sebanyak 47 buah. c. Sistem Modal bantuan berupa Modal bantuan berupa peralatan 6

Implementasi UPJA penguatan kelompok peralatan diharapkan menjadi stimulan untuk menggulirkannya sehingga pada akhirnya dapat dijadikan modal kelompok. Partisipasi aktif seluruh anggota sangat diperlukan guna membangun sistem transparansi kegiatan UPJA d. Penyuluhan Penyuluhan penggunaan peralatan ember perah aluminium dan sprayer dilakukan oleh Tim Fakultas Peternakan UNPAD Penyuluhan penyusunan administrasi untuk sistem perguliran dilakukan oleh Tim Fakultas Peternakan UNPAD diharapkan menjadi stimulan untuk menggulirkannya sehingga pada akhirnya dapat dijadikan modal kelompok. Partisipasi aktif seluruh anggota sangat diperlukan guna membangun sistem transparansi kegiatan UPJA Penyuluhan penggunaan peralatan milkcan dan kebersihannya dilakukan oleh Tim Fakultas Peternakan UNPAD Penyuluhan penyusunan administrasi untuk sistem perguliran dilakukan oleh Tim Fakultas Peternakan UNPAD 4. Tahapan Evaluasi Program Tahapan evaluasi program dilakukan agar pelaksanaan program yang selama ini dijalankan bisa berjalan baik atau tidak. Evaluasi ini berfungsi sebagai kontrol baik yang dilakukan oleh koperasi, kelompok ataupun institusi INFAS guna perbaikan program selanjutnya. Hasil evaluasi program pembentukan model UPJA di kedua kelompok tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Evaluasi Program Pembentukan Model UPJA Evaluasi a. Bantuan Pengadaan Alsin terhadap kelompok Hasil evaluasi terhadap sprayer cukup baik dan bermanfaat karena dapat langsung dipergunakan kepada ternak sapi perah guna mencegah mastitis dan sampai program selesai pada tahun 2005, penyakit subklinis mastitis tidak terlihat lagi. Hasil evaluasi terhadap ember perah aluminium buatan industri kecil di Kopo-Bandung oleh pihak KPSBU menunjukkan ember cukup baik tetapi permukaannya belum halus Hasil evaluasi terhadap milkcan adalah milkcan dapat langsung dipergunakan oleh anggota. Namun, berdasarkan hasil evaluasi anggota kelompok bahwa alat pegangan milkcan kurang kuat sehingga bisa merusak milkcan Dengan digunakannya milkcan sebagai alat pengangkut susu dari peternak ke tempat penampungan susu terjadi peningkatan kualitas susu, terutama berkurangnya jumlah bakteri. Hasil uji 7

Evaluasi b. Perguliran Dana sehingga perlu diperhalus dan ember tersebut harus ditambah tingginya 5 cm serta memakai dudukan ember agar tidak mudah jatuh Sehubungan ember perah aluminium baru tahap ujicoba produksi oleh industri kecil tersebut, maka jumlah produksinya baru 12 buah. Berdasarkan informasi dari pengusaha aluminium tersebut, untuk menghasilkan ember yang halus diperlukan moster atau cetakan dari besi dan harganya mencapai Rp 100 juta. Cetakan untuk membuat ember aluminium ujicoba tersebut terbuat dari tanah liat sehingga permukaanya tidak halus. Hasil perguliran dana dari pembelian ember aluminium oleh anggota Kelompok Mekar Asih tidak berjalan dengan baik karena ember yang dihasilkan tidak memenuhi standar.. laboratorium yang dilakukan oleh Tim Fakultas Peternakan UNPAD terhadpa kualitas susu di tempat penampungan susu terhadap para anggota yang menggunakan milkcan, terdapat penurunan jumlah bakteri sebanyak 25%. Dana awal dari program sebanyak Rp 3.000.000 untuk pembelian 8 buah milkcan telah bergulir menjadi 28 milkcan. Artinya sebanyak 20 buah milkcan merupakan hasil perguliran dari anggota kelompok. Nilai milkcan tersebut setara dengan dana sebesar Rp 7.500.000. KESIMPULAN Berdasarkan hasil kajian dan implementasi program bantuan Alsin melalui sistem bergulir dengan menggunakan model UPJA dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Model UPJA yang dibangun harus disesuaikan dengan potensi, lokasi, dan kemampuan SDM kelompok. 2. Keberhasilan program UPJA selain ditentukan oleh partisipasi kelompok juga ditentukan oleh peranan ketua kelompok. 3. Berhasilnya perguliran milkcan di dari 8 milkcan menjadi 28 milkcan pada akhir program merupakan keberhasilan pemberdayaan kelompok. 4. Pada keberhasilan program terletak pada alat sprayer untuk pencegahan mastitis sedangkan ember aluminium tidak berhasil digulirkan karena ember tersebut tidak memenuhi standar kualitas. 8

DAFTAR PUSTAKA BPPT. 1998. Pasca Panen Susu. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta. http://www.pustaka-deptan.go.id. 25 Nop. 2005. Departemen Pertanian. 2002. Pedoman Umum Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis Melalui Penguatan Modal Usaha Kelompok Tahun Anggaran 2003. Departemen Pertanian. Jakarta Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. 1998. Materi Pembinaan Kemitraan Usaha Pengolahan hasil Peternakan. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. Ditjen Bina Produksi Peternakan. 2002. Pedoman Umum Alat dan Mesin Sapi Potong. Departemen Pertanian. Jakarta Ditjen Bina Produksi Peternakan. 2003. Pedoman Umum Alat dan Mesin Sapi Perah. Departemen Pertanian. Jakarta Ditjen Bina Produksi Peternakan. 2004. Pedoman Umum Pengembangan UPJA Mandiri dan Profesional. Departemen Pertanian. Jakarta Ditjen Bina Produksi Peternakan. 2002. Pedoman Umum Penumbuhan dan Pengembangan UPJA Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta Nur Kasim, William Djaja, dan Achmad Firman. Kajian Pengembangan Model Unit Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Peternakan. Dinas Peternakan Jawa Barat dan Fakultas Peternakan UNPAD. Bandung Soetrisno L. 1995. Memberdayakan Masyarakat dalam Pembangunan Indonesia. Makalah Seminar Internasional Strategi Pembangunan Ekonomi dan Bisnis di Indonesia: Refleksi dan Aktualisasi 40 Tahun Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Sulistyo dan Sri R. 1994. Potensi dan Prospek Pengembangan Keswadayaan Masyarakat Desa Jatisari, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dalam Mubyarto Keswadayaan Masyarakat Desa Tertinggal. Aditya Media. Yogyakarta. Sub Dinas Bina Sarana Pertanian. 2003. Pedoman Teknis Pengembangan Model UPJA Inseminasi Buatan. Departemen Pertanian. Jakarta Tim Peneliti Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. 2003. Analisis Usaha Kemitraan Usaha Sapi Potong, Sapi Perah, dan Ayam Ras. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat. Bandung. 9