BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Prosiding Seminar Nasional dan Workshop Perkembangan Terkini Sains Farmasi dan Klinik IV tahun 2014

Di sampaikan Oleh: Azis Ikhsanudin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

GEL. Pemerian Bahan. a. Glycerolum (gliserin)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan dan Hasil Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia

J. Gaji dan upah Peneliti ,- 4. Pembuatan laporan ,- Jumlah ,-

I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH

FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN SEMI SOLID GEL LAPORAN PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN SEMI SOLID GEL

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. dan merupakan penyakit yang banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan Ca-Bentonit. Na-bentonit memiliki kandungan Na +

BAB I PENDAHULUAN. Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastis, yang

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA I

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian. Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )

UJI EFEKTIVITAS MINYAK ATSIRI BUNGA KENANGA (Canangium odoratum Baill) TERHADAP DAYA BUNUH LARVA NYAMUK Culex quinquefasciatus SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ISOLASI BAHAN ALAM. 2. Isolasi Secara Kimia

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Tanaman ini termasuk jenis tumbuhan dari

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

KELOMPOK 4 : SEDIAAN GEL

IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. Selain itu, semakin tinggi kadar patchouli alcohol maka semakin tinggi pula indeks bias yang dihasilkan.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

GEL & AEROSOL Perbedaan gel dan jeli Formulasi dan evaluasi Jenis aerosol kosmetik Formulasi Aerosol Contoh-contoh formula

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. turunan asam amino fenil alanin yaitu 2-acetyl-1-pyrroline (Faras et al., 2014).

UJI EFEKTIFITAS MINYAK ATSIRI BUNGA MELATI (Jasminum sambac L) TERHADAP DAYA BUNUH LARVA NYAMUK CULEX (Culex quinquefasciatus)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang

I. PENDAHULUAN. aegypti. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat. kejadian luar biasa atau wabah (Satari dkk, 2005).

I. PENDAHULUAN. Demam berdarah dengue (DBD), merupakan penyakit yang masih sering

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Syarat Tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam bidang kosmetik adalah jambu

II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jagung manis (Zea mays sacharata Sturt.) dapat diklasifikasikan

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.)

PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK TEMU LAWAK (Curcuma xanthorrhiza) TERHADAP JUMLAH NYAMUK Aedes aegypti YANG HINGGAP PADA TANGAN MANUSIA

MATERIA MEDIKA INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II METODE PENELITIAN. A. Kategori Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kedudukan nyamuk Aedes sp dalam klasifikasi hewan menurut Soegijanto (2006)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lemak dan minyak adalah golongan dari lipida (latin yaitu lipos yang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PEMBAHASAN. I. Definisi

BAB 3 PERCOBAAN. Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah kelinci albino New Zealand yang diperoleh dari peternakan kelinci di Lembang.

BAB IV PROSEDUR KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. gel pengharum ruangan tersebut menghambat pelepasan zat volatile, sehingga

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membentuk konsistensi setengah padat dan nyaman digunakan saat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan dari formula Hair Tonic sari lidah buaya (Aloe vera L.) dengan

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan A. PENENTUAN FORMULA LIPSTIK

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman srikaya memiliki bentuk pohon yang tegak dan hidup tahunan.

BAB I PENDAHULUAN. Hasil hutan non kayu sebagai hasil hutan yang berupa produk di luar kayu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Sumber:

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Botani Bunga Matahari

TINJAUAN PUSTAKA Botani

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Daun kemangi (Ocimum basilicum L.) memiliki kandungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Deskripsi Tanaman Sukun (Artocarpus communis Frost) Dalam sistematika tumbuh-tumbuhan tanaman sukun dapat

Lemak dan minyak merupakan sumber energi yang efektif dibandingkan dengan karbohidrat dan protein Satu gram lemak atau minyak dapat menghasilkan 9

TINJAUAN PUSTAKA. Di Indonesia tanaman seledri sudah dikenal sejak lama dan sekarang

I. PENDAHULUAN. Aedes aegypti L. merupakan jenis nyamuk pembawa virus dengue,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN KUNYIT. Feri Manoi

BAB III METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

Transkripsi:

4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Uraian Tentang Tanaman 1. Kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson) a. Tanaman kenanga (C. odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson) termasuk ke dalam taksonomi sebagai berikut (Cronquist, 1981): Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Magnoliales Famili : Annonaceae Genus : Cananga Spesies : Cananga odorata (Lam.) Hook.f & Thomson b. Deskripsi Tanaman Berupa tanaman berbentuk pohon. Daun memiliki ciri berbentuk bulat telur, tunggal, tersebar dengan ujung meruncing dan berdasar bundar serta bertulang menyirip. Batangnya memiliki ciri berkayu, bulat, bercabang dan berwarna hijau kotor. Perakaran berbentuk akar tunggang dan berwarna coklat. Sedangkan bunganya memiliki ciri majemuk berbentuk payung berwarna hijau pada waktu masih muda dan setelah tua berwarna kuning, berbau harum (Anonim, 2000). Gambar 1. Bunga kenanga Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson

5 c. Kandungan Kimia Kandungan kimia yang terdapat dalam kenanga (Cananga odorata (Lam.) Hook.f. & Thomson) antara lain minyak atsiri, flavonoid, polifenol, dan saponin (Anonim, 2000). Kandungan kimia yang terdapat di dalam minyak atsiri bunga kenanga antara lain ester-ester dari asam format, asetat, valerat, benzoat. Terpenoid, linalool, nerol, farnesol, dan karsiofilena (Gunawan dan Mulyani, 2004). 2. Kemangi (Ocimum basilicum L.) a. Tanaman kemangi (O. basilicum L.) termasuk ke dalam taksonomi sebagai berikut (Backer dan Bakkuizen, 1963) : Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Lamiales Famili : Lamiaceae Genus : Ocimum Spesies : Ocimum basillicum L. b. Deskripsi Tanaman Batang berkayu, segi empat, beralur dan bercabang, berbulu dan berwarna hijau atau keunguan. Daun berwarna hijau atau keunguan, ujung runcing, menyirip, permukaan daun agak kasar dan berbulu. Bunga berwarna putih atau keunguan, rangkaian bunga majemuk (tunggal). Biji berbentuk bulat telur, berwarna cokelat-hitam (Hadipoentyanti dan Wahyuni, 2008). Gambar 2. Herba kemangi Ocimum basillicum L.

6 c. Kandungan Kimia Kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman kemangi antara lain minyak atsiri, flavonoida, tanin, dan saponin. Sedangkan kandungan kimia yang terdapat dalam minyak atsiri kemangi antara lain eugenol, methyl eugenol, linalool, sineol dan geraniol (Hadipoentyanti dan Wahyuni, 2008). B. Minyak atsiri Minyak atsiri adalah zat berbau dalam tanaman yang disebut juga sebagai minyak menguap, minyak eteris, atau minyak esensial karena pada suhu biasa (suhu kamar) dan dalam udara terbuka mudah menguap. Karena memiliki bau yang mewakili tanaman asalnya maka digunakan istilah esensial. Dalam keadaan segar dan murni tanpa kontaminan, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Pada penyimpanan lama warnanya dapat berubah menjadi lebih tua (gelap) karena teroksidasi dan membentuk resin. Sebagai pencegahan, minyak atsiri harus di lindungi dari pengaruh cahaya, misal disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap. Bejana tersebut juga diisi penuh sehingga tidak memungkinkan minyak atsiri tidak berhubungan langsung dengan oksigen udara, ditutup rapat, serta disimpan pada tempat yang kering dan sejuk (Gunawan dan Mulyani, 2004). Berdasarkan senyawa kimianya, minyak atsiri bukan merupakan senyawa yang tunggal, melainkan tersusun dari berbagai komponen. Komponen tersebut terdiri dari kelompok terpenoid dan fenil propana. Pengelompokan tersebut berdasarkan pada awal terbentuknya minyak atsiri dalam tanaman. Melalui asal-usul biosintetik, minyak atsiri dapat dibedakan menjadi: 1. Turunan terpenoid, terbentuk melalui jalur biosintesis asam asetat mevalonat

7 2. Turunan fenil propanoid yang merupakan senyawa aromatik, terbentuk melalui jalur biosintesis asam sikimat (Gunawan dan Mulyani, 2004). C. Penyulingan (Destilasi) Metode destilasi merupakan metode yang lazim digunakan dalam penyulingan minyak atsiri. Metode destilasi umumnya dilakukan terhadap bagian tanaman yang mengandung minyak. Dasar metode ini yaitu memanfaatkan perbedaan titik didih dari suatu campuran komponen yang terdiri dari dua jenis cairan atau lebih (Gunawan dan Mulyani, 2004). Beberapa metode destilasi yang umumnya digunakan yaitu metode destilasi kering, dimana prosesnya langsung dari bahannya tanpa menggunakan air. Metode ini paling sesuai untuk bahan tanaman yang kering dan untuk minyak-minyak yang tahan terhadap pemanasan atau tidak mengalami perubahan bau dan warna ketika dipanaskan, contoh bahan yang sesuai untuk metode ini yaitu oleoresin dan copaiba. Sedangkan metode yang kedua yaitu destilasi air, metode ini terdiri dari destilasi air dan uap air serta destilasi uap air langsung (Gunawan dan Mulyani, 2004). Metode destilasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode uap air. Metode ini dapat digunakan untuk bahan kering maupun bahan segar dan terutama digunakan untuk minyak-minyak yang kebanyakan dapat rusak akibat panas langsung. Seluruh bagian tanaman yang akan digunakan dihaluskan kemudian dimasukkan ke dalam bejana yang bentuknya mirip dandang. Bahan tanaman ditaruh di dalam bejana bagian atas kemudian uap air yang dihasilkan oleh air mendidih dari bawah dandang (Gunawan dan Mulyani, 2004).

8 D. Repelan Repelan merupakan bahan yang kemampuannya digunakan sebagai penolak serangga dari manusia sehingga dapat digunakan untuk menghindari gigitan atau gangguan serangga terhadap manusia. Penggunaan repelan yaitu dengan cara menggosokannya pada tubuh atau menyemprotkannya pada pakaian (Soedarto, 1989). Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam repelan yaitu tidak mengganggu pemakainya, tidak melekat atau lengket, memiliki bau yang menyenangkan pemakainya dan orang di sekitarnya, tidak menimbulkan iritasi pada kulit, tidak beracun, tidak merusak pakaian serta memiliki daya usir terhadap serangga hendaknya bertahan cukup lama (Soedarto, 1989). Contoh senyawa kimia yang saat ini direkomendasikan yaitu menggunakan N,N-diethylmetatoluamide (DEET) sebagai zat aktif. DEET merupakan repelan yang tidak berbau namun dapat menimbulkan rasa terbakar jika mengenai membran mukosa pada tubuh, selain itu juga dapat merusakkan benda-benda yang terbuat dari plastik maupun bahan sintetik lainnya (Soedarto, 1989). Zat aktif tersebut jika dioleskan pada kulit atau pakaian dapat menolak nyamuk, tungau/caplak serta artropoda lainnya (Sembel, 2009). Gambar 3. Rumus struktur DEET (N, N-diethyl-m-toluamide) Ethyl hexanediol merupakan contoh lain dari repelan namun efeknya lebih rendah dari DEET (Soedarto, 1989). Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh DEET yaitu terjadinya iritasi pada kulit pada orangorang yang sensitif serta dapat menyebabkan blister jika pemakaian pada konsentrasi yang tinggi. DEET juga bersifat sebagai racun jika termakan (Sembel, 2009).

9 E. Gel Gel atau yang biasa disebut jeli, merupakan suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Gel digolongkan sebagai sistem dua fase apabila massa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang terpisah (misalnya Gel Aluminium Hidroksida). Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma (misalnya Magma Bentonit). Baik gel maupun magma dapat berupa tiksotropik, membentuk semi padat jika dibiarkan dan membentuk cair jika digojog. Pada etiket harus tertera dikocok dahulu sebelum digunakan (Anonim, 1995). Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik seperti karbomer atau gom alam seperti tragakan. Gel dapat digunakan secara topikal maupun dimasukkan ke dalam lubang tubuh (Anonim, 1995). F. Uraian Bahan 1. Carbopol (Aqupec HV 505) Carbopol termasuk dalam kelompok polimer asam akrilat. Pemeriannya berupa serbuk putih, higroskopik, bersifat asam dan mempunyai bau khas. Carbopol dapat terdispersi dalam air untuk membentuk larutan koloidal bersifat asam. Carbopol dapat digunakan sebagai gelling agent jika penggunaannya pada konsentrasi 0,5-2,0% (Rowe et al., 2005). Karakteristik dari carbopol itu sendiri yaitu larut dalam air dan alkohol, menunjukan viskositas yang tinggi pada konsentrasi kecil, bekerja efektif pada range ph yang luas, berbentuk cairan kental transparan (Afidah, 2008).

10 Gambar 4. Rumus struktur Carbopol 2. Etanol 96% Pemerian dari etanol yaitu merupakan cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, memiliki bau yang khas dan rasa yang panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap. Kelarutan dari etanol yaitu sangat mudah larut dalam air, kloroform P dan dalam eter P (Anonim, 1979). Etanol digunakan sebagai pelarut dalam sediaan topikal pada konsentrasi 60-90% (Rowe et al, 2005). Gambar 5. Rumus struktur Etanol 3. Nipagin Pemerian dari nipagin yaitu serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti rasa tebal. Kelarutan dari nipagin yaitu larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam 3,5 bagian etanol (95%) P dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol P panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan tetap jernih (Anonim, 1979). Nipagin digunakan sebagai pengawet pada konsentrasi 0,02-0,3% (Rowe et al, 2005).

11 Gambar 6. Rumus struktur Nipagin 4. Propilenglikol Pemerian dari propilenglikol yaitu berupa cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak manis, dan higroskopik. Kelarutan dari propilenglikol yaitu dapat campur dengan air, etanol (95%) P, dan dengan kloroform P (Anonim, 1979). Propilenglikol dapat digunakan sebagai pelarut dalam sediaan tropikal pada konsentrasi 5-80% (Rowe et al, 2005). Propilenglikol juga dapat digunakan sebagain pelembut pada kulit yang kering (Afidah, 2008). Gambar 7. Rumus struktur Propilenglikol 5. Trietanolamin Trietanolamin merupakan campuran dari trietanolamina, dietanolamina dan monoetanolamina. Pemerian dari trietanolamin yaitu berupa cairan kental, tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip amoniak, higroskopik. Kelarutan dari trietanolamin yaitu mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P, dan dengan kloroform P (Anonim, 1979). Sama halnya dengan senyawa amin yang lain, trietanolamin bersifat basa lemah (Afidah, 2008). Gambar 8. Rumus struktur Trietanolamin

12 G. Aedes aegypti 1. Klasifikasi Nyamuk Aedes aegypti menurut Sembel (2009) termasuk dalam subfamili Culicinae, famili Culicidae, Ordo Diptera, Sub ordo Nematocera, Genus Aedes dan spesies Aedes aegypti. Gambar 9. Nyamuk Aedes aegypti (Anonim, 1998) 2. Perilaku Hidup Nyamuk Aedes aegypti membutuhkan air untuk kelangsungan hidup karena larva nyamuk hidup di air dan hanya bentuk dewasa yang hidup didarat. Telur nyamuk menetas dan menjadi larva dalam air dan memakan organisme kecil. Telur biasanya menetas setelah 2-3 hari sesudah diletakkan. Larva nyamuk menggantungkan tubuh dipermukaan untuk mendapatkan oksigen, biasanya melakukan pergantian kulit sebanyak empat kali dan berpupasi setelah 7 hari. Nyamuk dewasa keluar dan terbang sesudah dua atau tiga minggu (Sembel, 2009) Nyamuk betina menghisap darah manusia atau hewan lain seperti kuda, sapi, babi, dan burung dalam jumlah yang cukup untuk perkembangan telurnya. Nyamuk betina akan mati jika tidak mendapatkan cairan darah yang cukup. Nyamuk jantan biasanya hidup dengan menghisap cairan tumbuhan. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama penyakit demam berdarah (Sembel, 2009). Nyamuk Aedes aegypti aktif pada waktu siang hari (Sembel, 2009). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hadi et al (2012) membuktikan bahwa nyamuk Aedes aegypti dapat menghisap darah pada malam hari (nokturnal) dari jam 18:00 05:50.

13 H. Simplex Lattice Design (SLD) Simplex Lattice Design adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui profil efek campuran terhadap suatu parameter (Bolton, 1997). Metode ini digunakan pada formula gel dengan menggunakan dua campuran zat aktif minyak atsiri bunga kenanga dan herba kemangi. Dasar metode ini yaitu adanya dua variabel bebas X 1 dan X 2. Rancangan tersebut dibuat dengan memilih tiga kombinasi dan yang diamati respon yang diperoleh. Respon yang diperoleh haruslah mendekati tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya baik maksimal maupun minimal (Bolton, 1997). Persamaan umum dari Simplex Lattice Design yang menunjukan respon dan komponen adalah sebagai berikut : Y = X 1 (A) + X 2 (B) + X 12 (A). (B) Y merupakan parameter yang ingin dicapai yaitu kadar kedua zat aktif minyak atsiri yang digunakan. B 1, B 2, B 12 merupakan suatu koefisien yang menyatakan nilai parameter waktu aktifitas repelan gel. Untuk mengetahui nilai (A) dan (B) diperlukan 3 formula sebagai berikut : a. A merupakan percobaan yang menggunakan 100% bagian A dan 0% bagian B b. B merupakan percobaan yang menggunakan 100% bagian B dan 0% bagian A c. (A). (B) merupakan percobaan yang menggunakan campuran 50% bagian A dan 50% bagian B Dengan memasukan respon yang diperoleh dari hasil percobaan ke dalam persamaan di atas maka dapat dihitung harga koefisien X 1, X 2, X 12. Dengan diperolehnya harga-harga koefisien ini maka dapat pula dihitung nilai Y (respon) pada tiap variasi campuran (A) dan (B) sehingga digambarkan profilnya dan didapatkan rancangan formula yang optimum (Bolton, 1997).