BAB III PENGAMATAN GPS EPISODIK DAN PENGOLAHAN DATA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISIS. Lama Pengamatan GPS. Gambar 4.1 Perbandingan lama pengamatan GPS Pangandaran kala 1-2. Episodik 1 Episodik 2. Jam Pengamatan KRTW

BAB IV PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGOLAHAN DATA

B A B IV HASIL DAN ANALISIS

BAB 3 PENGOLAHAN DATA DAN HASIL. 3.1 Data yang Digunakan

BAB III KARAKTERISTIK DAN PENGOLAHAN DATA GPS GUNUNGAPI PAPANDAYAN

B A B III GPS REALTIME UNTUK PENGAMATAN TROPOSFER DAN IONOSFER

BAB III PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 4 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

BAB III PENENTUAN ZENITH TROPOSPHERIC DELAY

BAB 3 PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. Halaman Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 PEMBAHASAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB Analisis Perbandingan Hasil LGO 8.1 & Bernese 5.0

GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) Mulkal Razali, M.Sc

ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL

B A B I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. bab 1 pendahuluan

PEMANTAUAN POSISI ABSOLUT STASIUN IGS

DAFTAR PUSTAKA. Abidin, H.Z. (2000). Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya. PT Pradnya Pramita, Jakarta. Cetakan kedua.

BAB III GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

ANALISA NILAI TEC PADA LAPISAN IONOSFER DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGAMATAN GPS DUA FREKUENSI PEMBIMBING EKO YULI HANDOKO, ST, MT

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar belakang. tatanan tektonik yang kompleks. Pada bagian barat Indonesia terdapat subduksi

ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP

Analisis Metode GPS Kinematik Menggunakan Perangkat Lunak RTKLIB

Latar Belakang STUDI POST-SEISMIC SEISMIC GEMPA ACEH 2004 MENGGUNAKAN DATA GPS KONTINYU. Maksud & Tujuan. Ruang Lingkup

ANALISIS PERGESERAN AKIBAT GEMPA BUMI SUMATERA 11 APRIL 2012 MENGGUNAKAN METODE GPS CONTINUE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS. Gambar 4.1 Suhu, tekanan, dan nilai ZWD saat pengamatan

BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Global Positioning System (GPS) Konsep Penentuan Posisi Dengan GPS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Jurnal Geodesi Undip Januari 2014

BAB I PENDAHULUAN I. 1 LATAR BELAKANG

BAB II SISTEM SATELIT NAVIGASI GPS

METODE PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

BAB 3 DATA DAN PENGOLAHAN DATA. Tabel 3.1 Data dampak penurunan tanah

Analisa Pergeseran Titik Pengamatan GPS pada Gunung Merapi Periode Januari-Juli 2015

BAB III PEMANFAATAN SISTEM GPS CORS DALAM RANGKA PENGUKURAN BIDANG TANAH

Analisa Pengolahan Data Stasiun GPS CORS Gunung Merapi Menggunakan Perangkat Lunak Ilmiah GAMIT/GLOBK 10.6

PENGUKURAN GROUND CONTROL POINT UNTUK CITRA SATELIT CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DENGAN METODE GPS PPP

PETA TERESTRIAL: PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGELOLAAN DATA GEOSPASIAL CB NURUL KHAKHIM

PENGARUH DATA METEOROLOGI TERHADAP NILAI KOORDINAT HASIL PENGAMATAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

Jurnal Geodesi Undip April 2016

Analisa Kecepatan Pergeseran di Wilayah Jawa Tengah Bagian Selatan Menggunakan GPS- CORS Tahun

KAJIAN REGANGAN SELAT BALI BERDASARKAN DATA GNSS KONTINU TAHUN ABSTRAK

BAB VII ANALISIS. Airborne LIDAR adalah survey untuk mendapatkan posisi tiga dimensi dari suatu titik

BAB III METODE PENELITIAN

PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK

BAB IV ANALISIS Seismisitas sesar Cimandiri Ada beberapa definisi seismisitas, sebagai berikut :

BAB II SEISMISITAS WILAYAH INDONESIA KHUSUSNYA PANGANDARAN DAN SURVEI GPS SEBAGAI METODE PEMANTAUAN DEFORMASI BUMI

Pengaruh Waktu Pengamatan Terhadap Ketelitian Posisi dalam Survei GPS

STUDI TENTANG CONTINUOUSLY OPERATING REFERENCE STATION GPS (Studi Kasus CORS GPS ITS) Oleh: Prasetyo Hutomo GEOMATIC ENGINEERING ITS

PEMODELAN TINGKAT AKTIVITAS SESAR CIMANDIRI BERDASARKAN DATA DEFORMASI PERMUKAAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Analisis Metode GPS Kinematik Menggunakan Perangkat Lunak RTKLIB

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014

KARAKTERISTIK DEFORMASI GUNUNG MURIA PERIODE

BAB 4 HASIL PENGOLAHAN DATA & ANALISIS

Analisis Ketelitian Penetuan Posisi Horizontal Menggunakan Antena GPS Geodetik Ashtech ASH111661

ANALISIS DEFORMASI JEMBATAN SURAMADU AKIBAT PENGARUH ANGIN MENGGUNAKAN PENGUKURAN GPS KINEMATIK

Analisa Perubahan Kecepatan Pergeseran Titik Akibat Gempa Menggunakan Data SuGar (Sumatran GPS Array)

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

ANALISIS DEFORMASI GUNUNG API BATUR BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS BERKALA TAHUN 2008, 2009, 2013, DAN 2015

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penentuan posisi/kedudukan di permukaan bumi dapat dilakukan dengan

SURVEI HIDROGRAFI PENGUKURAN DETAIL SITUASI DAN GARIS PANTAI. Oleh: Andri Oktriansyah

Analisis Deformasi Gunung Merapi Berdasarkan Data Pengamatan GPS Februari- Juli 2015

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Gunungapi

sensing, GIS (Geographic Information System) dan olahraga rekreasi

BAB 1 PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2015

Studi Kinerja Perangkat Lunak Starpoint untuk Pengolahan Baseline GPS Irwan Gumilar, Brian Bramanto, dan Teguh P. Sidiq

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

MODUL 3 GEODESI SATELIT

Studi Penelitian Penurunan Tanah Kota Surabaya Menggunakan Global Positioning System

PPK RTK. Mode Survey PPK (Post Processing Kinematic) selalu lebih akurat dari RTK (Realtime Kinematic)

BAB 2 DASAR TEORI. 2.1 Global Positioning System (GPS)

On The Job Training PENGENALAN CORS (Continuously Operating Reference Station)

Perbandingan Hasil Pengolahan Data GPS Menggunakan Hitung Perataan Secara Simultan dan Secara Bertahap

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS UNTUK SURVEI TERUMBU KARANG. Winardi Puslit Oseanografi - LIPI

BAB II Studi Potensi Gempa Bumi dengan GPS

BAB IV ANALISIS 4.1 Vektor Pergeseran Titik Pengamatan Gunungapi Papandayan

URUTAN PENGGUNAAN E-GNSS SECARA UMUM

GEOTAGGING+ Acuan Umum Mode Survei dengan E-GNSS (L1)

Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-titik Kerangka Dasar Pemetaan Skala Besar

BLUNDER PENGOLAHAN DATA GPS

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

STUDI KINERJA PERANGKAT LUNAK LEICA GEO OFFICE 8.1 UNTUK PENGOLAHAN DATA GPS BASELINE PANJANG TUGAS AKHIR. Oleh: SIDIQ PURNAMA AGUNG

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Gambar sesar aktif disekitar Bandung [ Anugrahadi, 1993]

BAB 3 PEMBAHASAN START DATA KALIBRASI PENGUKURAN OFFSET GPS- KAMERA DATA OFFSET GPS- KAMERA PEMOTRETAN DATA FOTO TANPA GPS FINISH

Jurnal Geodesi Undip Januari 2017

BAB 3 PERBANDINGAN GEOMETRI DATA OBJEK TIGA DIMENSI

BAB II CORS dan Pendaftaran Tanah di Indonesia

BAB III Deformasi Interseismic di Zona Subduksi Sumatra

Aplikasi Survei GPS dengan Metode Statik Singkat dalam Penentuan Koordinat Titik-Titik Kerangka Dasar Pemetaan Skala Besar

Jurnal Geodesi Undip Oktober 2014

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

Transkripsi:

BAB III PENGAMATAN GPS EPISODIK DAN PENGOLAHAN DATA 3.1 Pengamatan Data Salah satu cara dalam memahami gempa bumi Pangandaran 2006 adalah dengan mempelajari deformasi yang mengiringi terjadinya gempa bumi tersebut yaitu coseismik dan postseismik. Dalam tugas akhir ini penulis membatasi deformasi yang diamati adalah hanya pada deformasi postseismik saja. Untuk melakukannya diperlukan data pengamatan dari stasiun-stasiun pengamatan GPS. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa informasi yang ingin ditampilkan adalah informasi perubahan atau pergeseran titik-titik di sekitar daerah gempa sehingga dapat dijadikan informasi untuk mengetahui karakteristik deformasi postseismik Pangandaran. Pengamatan data dilakukan dengan metode survei statik secara episodik yaitu dengan menempatkan receiver - receiver GPS di titik-titik sekitar Pangandaran pada tahun 2006 dan 2007. Survei GPS Pangandaran ini merupakan hasil kerjasama antara ITB (diwakili oleh KK Geodesi ITB) dengan Nagoya University, Tokyo University dan LIPI. Titik-titik pengamatan GPS ditempatkan di titik-titik BPN dan titik-titik lainnya. Dari dua kali pengamatan, jumlah titik-titik yang diamati sekitar 30 titik per kalanya dengan catatan ada titik-titik yang diamati pada kala ke-1 tetapi tidak diamati pada kala, namun ada juga titik-titik pengamatan baru pada kala ke-2 yang tentunya dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya. Hasil pengamatan dari dua kala ini akan diolah secara diferensial yang diikatkan ke kerangka ITRF 2005 yang menyebar di seluruh dunia. Distribusi dari titik-titik pengamatan GPS dapat dilihat pada gambar 3.1. 36

Letak titik-titik pengamatan GPS Pangandaran. Gambar 3.1 Distribusi titik-titik pemantauan di Pangandaran (Google earth) 37

Adapun visualisasi dari beberapa titik-titik pengamatan GPS di Pangandaran dapat ditunjukkan pada gambar 3.2 di bawah ini : 0448 0270 0456 0459 0461 0462 0464 0465 0466 38

0468 0472 1270 1274 1321 1322 0452 GP01 KRTW Gambar 3.2 Foto Titik-Titik Survei GPS Pangandaran 39

3.1.1 Survei GPS Pangandaran kala ke-1 Sekitar seminggu setelah gempa Pangandaran yang diikuti tsunami menerjang pantai selatan Jawa, survei GPS Pangandaran kala ke-1 langsung dilakukan. Pengamatan dilakukan pada mulai tanggal 23 Juli sampai dengan tanggal 30 Juli 2006. Pada saat melakukan survei ke Pangandaran ini, tidak hanya dilakukan pengamatan GPS kala 1 saja, tetapi juga dilakukan pengukuran ketinggian tsunami berdasarkan bukti fisis di lapangan dan mewawancarai para penduduk setempat tentang bagaimana mereka merasakan gempa. Jumlah titik yang diamati pada kala ke-1 ini adalah 28 titik pengamatan GPS. Lama pengamatan berkisar dari 10 jam sampai 20 jam dan pada umumnya dari lama pengamatan tersebut sudah cukup untuk mendapatkan ketelitian posisi hingga level mm. Untuk lebih jelasnya lama pengamatan GPS dapat dilihat pada tabel 3.1 di halaman selanjutnya. Adapun jenis receiver GPS yang digunakan pada survei GPS kali ini yaitu TRIMBLE 4000 SSI dan ASHTECH Z-XII3. Perincian dari jenis receiver dan tipe antenanya adalah 24 titik pengamatan menggunakan jenis TRIMBLE 4000 SSI dan 4 titik pengamatan lainnya menggunakan jenis ASHTECH Z-XII3. Perbedaan antara kedua jenis receiver tersebut tidak akan mempengaruhi hasil pengukuran karena data akan diolah menggunakan perangkat lunak yang mampu menangani berbagai jenis antena receiver dalam satu campaign karena tersedianya fasilitas untuk mengkalibrasi kesalahan pusat fase antena yang bermacam-macam. 40

Tabel 3.1 Lama pengamatan GPS kala ke-1 No. Titik DOY (Day of year) 204 205 206 207 208 209 210 1 0270-18 jam - - - - - 2 0437 - - - - - - 18 jam 3 0444 - - 17 jam - - - - 4 0448 - - - - - 13 jam - 5 0452 - - - - - 13 jam - 6 0455 - - - - - - 17 jam 7 0456 - - - - - - 16 jam 8 0457 - - - - - - 15 jam 9 0459 - - - - 13 jam - - 10 0461 - - - 11 jam - - - 11 0462 13 jam - - - - - - 12 0464 15 jam - - - - - - 13 0465 - - - 13 jam - - - 14 0466 - - - - 13 jam - - 15 0468 - - - - - 19 jam - 16 0471 - - - - - 19 jam - 17 0472 - - - - - 19 jam - 18 1270 - - 12 jam - - - - 19 1272-14 jam - - - - - 20 1274 - - 15 jam - - - - 21 1275 - - - 18 jam - - - 22 1276 - - - 15 jam - - - 23 1320 - - 12 jam - - - - 24 1321-18 jam - - - - - 25 1322-16 jam - - - - - 26 GP01-24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 27 KRTW - - - - - 9 jam - 28 LGJW - - - 9 jam - - - 41

3.1.2 Survei GPS Pangandaran Kala ke-2 Survei GPS Pangandaran kala ke-2 ini dilakukan setahun setelah gempa Pangandaran 2006 yaitu pada tanggal 9 Agustus sampai dengan 14 Agustus 2007. Dengan selang waktu selama satu tahun itu (2006-2007) diharapkan hasil pengamatan GPS tersebut dapat melihat sinyal deformasi postseismik Pangandaran. Pada pengamatan yang kedua ini diamati titik-titik baru yang berjumlah 4 buah titik yaitu 1273, 1661, GPS2, dan ORFP. Tetapi ada 2 titik yang pada kala ke-1 diamati namun pada pengamatan kali ini tidak diamati yaitu 0444 dan 1274. Dari pengamatan kala ke-2 ini total titik yang diamati berjumlah 30 titik dengan masing-masing pengamatan selama 15-24 jam. Lama pengamatan kali ini kurang lebih sama dengan lama pengamatan kala ke-1 sehingga ketelitian posisi yang dihasilkan juga kurang lebih akan sama. Tabel 3.2 di bawah ini memperlihatkan lama pengamatan pada setiap titik pengamatan GPS. 42

Tabel 3.2 Lama pengamatan GPS kala ke-2 DOY (Day of Year) No. Titik 221 222 223 224 225 226 1 0270-20 jam - - - - 2 0437 - - - - - 19,5 jam 3 0448 - - - - 15 jam - 4 0452 - - - - 21 jam - 5 0455 - - - - 19 jam - 6 0456 - - - - 18 jam - 7 0457 - - - - - 21 jam 8 0459 - - - - 19 jam - 9 0461 - - 21 jam - - - 10 0462-23 jam - - - - 11 0464 15 jam - - - - - 12 0465-21 jam - - - - 13 0466 - - - 9 jam - - 14 0468 - - - - 19 jam - 15 0471 - - - 21 jam - - 16 0472 - - 19 jam - - - 17 1270-21 jam - - - - 18 1272 14 jam - - - - - 19 1273 - - 19 jam - - - 20 1275-17 jam - - - - 21 1276 - - 14 jam - - - 22 1320 14 jam - - - - - 23 1321-19 jam - - - 24 1322 13 jam - - - - - 25 1661 - - - 18 jam - - 26 GP01-24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 24 jam 27 GPS2-20 jam - - - - 28 KRTW - - - 21 jam - - 29 LGJW - - 21 jam - - - 30 ORFP 15 jam - - - - - Berbeda dengan survei GPS kala ke-1, pada pengamatan kali ini jenis receiver yang digunakan untuk semua titik pengamatan adalah sama yaitu jenis TRIMBLE 4000SS1. 43

3.2 Pengolahan Data Data pengamatan GPS dalam dua kala selanjutnya diolah dengan menggunakan metode diferensial dengan moda jaring. Titik-titik di sekitar Pangandaran diikatkan ke dalam suatu jaring kerangka dasar dimana titik-titik ikat terletak di luar objek pengamatan yang posisinya dianggap stabil atau dengan kata lain titik-titik ikat tersebut terletak di luar Pangandaran. Titik-titik ikat tersebut adalah titik-titik yang berjumlah 20 stasiun GPS yang tersebar di seluruh dunia (ITRF2005). Adapun ke 20 titik tersebut terletak pada lempeng-lempeng yang mengelilingi daerah pengamatan GPS yang dimaksudkan untuk melihat deformasi titik-titik pengamatan. Visualisasi dari sebaran titik-titik IGS dapat dilihat pada gambar 3.3. Gambar 3.3 Titik-titik IGS (20 titik) untuk pemantauan postseismik Pangandaran Ada dua tahapan utama dalam pengolahan data pada tugas akhir ini yaitu yang pertama pengolahan data GPS untuk menghasilkan koordinat titik-titik pantau dalam dua kala dan kemudian dari hasil pengolahan tersebut akan ditentukan vektor pergeserannya dari dua kala sehingga dapat diketahui kecepatan dan pola deformasi di Pangandaran. 44

3.2.1 Metode Pengolahan Data Dalam melakukan pengolahan data untuk mendapatkan koordinat tiap titik ini, seluruh prosesnya menggunakan software ilmiah Bernese 5.0 yang dikembangkan oleh Astronomical Institute University of Berne Swiss. Dengan software ini maka berbagai aplikasi yang menuntut ketelitian posisi yang tinggi dapat terpenuhi seperti pengadaan jaringan kontrol, pemantauan geodinamika bumi dan pemantauan bangunan-bangunan tinggi termasuk dalam pemantauan deformasi postseismik di Pangandaran ini. Adapun proses pengolahan di software tersebut meliputi berbagai tahapan pengolahan yang dijelaskan oleh gambar 3.4 berikut. 45

Data Pengamatan GPS Pangandaran 2006 dan 2007 Data Pengamatan GPS Titik-titik IGS IGS File (Precise Orbit, Pole, Clock, DCB) Data Format RINEX IGS File dalam Format Bernese Data Pengamatan Format Bernese Single Point Positioning Data Input - station information - titik-titik IGS 2005 - koordinat titik - kecepatan titik - kode titik Pembentukan Baseline Otomatis (OBS-MAX) Jaring Optimum Solusi Jaring (Ambiguity-Float) Resolusi Ambiguitas Solusi Jaring (Ambiguity-fixed) Hasil Koordinat (X,Y,Z) dan Standar Deviasi Gambar 3.4 Alur Pengolahan Data GPS Pangandaran pada Bernese 5.0 46

Dari alur pengolahan di atas dapat dilihat bahwa data yang diperlukan tidak hanya RINEX pengamatan saja, namun dibutuhkan informasi-informasi pendukung antara lain : Precise ephemeris dalam format igswwwwd.sp3 dan igswwwwd.erp yang didapatkan dengan cara men-download di http://igscb.jpl.nasa.gov Differensial code bias (DCB) satelit dalam format P1P2yymm.DCB dan P1C1yymm.DCB dengan cara men-download format tersebut pada alamat website http://aiub-download.unibe.ch/code/2006/ Parameter ionosfer dengan format CODwwwwd.ION yang di-download di http://aiub-download.unibe.ch/code/2006/ Setiap campaign pengolahan dalam Bernese 5.0 memiliki folder pengguna masing-masing yang namanya disesuaikan dengan keinginan. Dalam folder tersebut terdapat folder-folder tempat data baik input maupun output. Dalam alur pengolahan di atas yang dimaksud dengan data input adalah file-file yang harus dibuat sebelum melakukan pengolahan data. File-file tersebut dapat berupa : EXAMPLE.STA EXAMPLE.ABB IGS_00.CRD IGS_00_R.CRD IGS_00.VEL IGS_00_R.VEL IGS_00.FIX Semua file data input tersebut didapat dari meng-copy dari folder example atau dengan men-download pada alamat http://aiub-download.unibe.ch/. 47

Parameter yang digunakan dalam pengolahan data GPS ini ditampilkan pada tabel 3.3. Tabel 3.3 Parameter Pengolahan Data GPS Parameter Bernese 5.0 Sudut Elevasi 10º Interval data pengamatan 30 detik Gelombang yang digunakan L1 dan L2 Informasi orbit Precise Ephemeris Metode pemecahan ambiguitas fase QIF (Quasi Ionosphere Free) Penanganan bias troposfer Saastamoinen Sebuah tool yang terdapat pada Bernese 5.0 dan digunakan dalam pengolahan data tugas akhir ini adalah BPE (Bernese Processing Engine). Pada intinya BPE akan menyelesaikan seluruh program dan script dalam sekali pengolahan sehingga dapat mengefisiensikan proses pengolahan data GPS. Dewasa ini BPE banyak digunakan dalam analisis harian jaringan permanen GPS dan otomatisasi analisis dari GPS campaign yang besar (Dach, R). BPE terdiri dari beberapa komponen penyusunnya, yaitu dapat ditunjukkan pada tabel 3.4 ini : Tabel 3.4 Komponen BPE pada program Bernese 5.0 Bagian Fungsi Processing Control File (PCF) Daftar job yang akan dilakukan CPU Control File Letak CPU yang akan dijalankan Run BPE Dasar organisasi yang menjalankan BPE Client User Script Script yang harus dijalankan Input Option Direktori Option yang dimasuki input ke dalam program Fungsi-fungsi dari komponen BPE di atas dijalankan dengan suatu mekanisme tertentu dan ditampilkan pada gambar 3.5 di bawah ini. 48

Gambar 3.5 Function of BPE (University of Berne) Pada umumnya, para pengguna BPE sebenarnya hanya bekerja pada komponen PCF saja karena komponen ini mengandung daftar script dari direktori ${U}/SCRIPT untuk dijalankan dalam urutan pendefinisian yang baik oleh server BPE. Daftar script tersebut mempersilahkan user untuk memilih program mana saja yang ingin dijalankan dan bagaimana input-an setiap scriptnya. Dalam pengolahan data Pangandaran ini PCF yang digunakan adalah BPEDIFOKE.PCF. Dengan memasukkan data-data yang diperlukan dan sesuai dengan pengamatan kepada file PCF ini maka proses pengolahan data dimulai dengan menjalankan program BPE (Start BPE). Jika tidak ada kesalahan maka program akan selesai dan menuliskan ringkasan pemrosesan dalam file PRC setiap sesinya. Seperti telah dijelaskan di atas, baik input maupun output program disajikan dalam sebuah folder khusus. Kedua input dan output tersebut merupakan hal yang sangat penting karena menentukan keberhasilan pengolahan data. Input dan output tersebut ditampilkan dalam beberapa variabel yang bisa diubah sesuai keperluan dalam program PCF. Contoh beberapa variabel pengolahan diferensial ditampilkan pada gambar 3.6 berikut ini. 49

Gambar 3.6 Variabel PCF dalam BPE Pengolahan data Pangandaran baik pada tahun 2006 maupun 2007 menggunakan file PCF yang sama. Mekanisme pengolahannya setiap titik-titik Pangandaran akan diikatkan secara otomatis pada kerangka ITRF (20 stasiun). Dalam program ini strategi pengolahan yang digunakan adalah OBS-MAX yang membuat ke seluruh titik baik titik yang akan ditentukan koordinatnya maupun titik-titik kerangka membentuk sebuah jaring yang optimum sehingga baseline yang terbentuk, ditentukan secara otomatis oleh BPE. Ada banyak sekali script yang digunakan dalam pengolahan data ini yaitu 30 buah script (semua script dapat dilihat pada Lampiran) yang akan dijalankan dalam sekali pengolahan saja untuk setiap sesinya, artinya setiap sesi akan memiliki jaring GPS tersendiri tergantung distribusi pengamatan GPS pada sesi tersebut. Setelah tahapan input file pada PCF telah selesai semua, maka selanjutnya program tersebut dijalankan secara serentak dan BPE akan mendefinisikannya sendiri. Jika proses pengolahan data telah selesai dan benar (tidak terjadi error) maka hasil koordinat titik-titik yang ingin ditentukan beserta standar deviasinya terbentuk dalam folder SOL dengan format file F1_yydoy0.SNX. 50

3.2.2 Hasil Pengolahan Data Dari hasil pengolahan data menggunakan software ilmiah Bernese 5.0 maka dihasilkan koordinat titik-titik pengamatan GPS di Pangandaran dalam dua kala yaitu tahun 2006 dan 2007. Pengolahan menggunakan software ini menyajikan hasil koordinat beserta standar deviasinya dalam sistem koordinat Geosentrik 3-D. Dalam kaitannya studi deformasi vektor pergeseran titik akan lebih terlihat pada bumi fisis, oleh karena itu koordinat hasil pengolahan GPS tersebut ditransformasi ke dalam sistem koordinat toposentrik. Koordinat toposentrik kala 2006 ini berjumlah 25 titiik dengan titik pengamat atau titik referensi adalah titik 0464 dikarenakan titik tersebut berada di tengah-tengah sehingga dapat meminimalisir efek perambatan kesalahan. Adapun koordinat Toposentrik Pangandaran 2006 ditampilkan pada tebel 3.5 di bawah ini: 51

Koordinat Toposentrik Pangandaran 2006 Tabel 3.5 Koordinat Toposentrik Pangandaran kala 2006 No. Titik Utara (m) Timur (m) Tinggi (m) std Utara (m) std Timur (m) std Tinggi (m) 1 0270-7366.4647 48250.1029-187.2912 0.0004 0.0008 0.0013 2 0437 14727.2561-57609.7023-64.1701 0.0004 0.0009 0.0015 3 0444 8436.2885-7471.9181 7.5136 0.0004 0.0008 0.0013 4 0448 8200.7798-48999.2109 110.1936 0.0005 0.0009 0.0016 5 0452-12604.6610-91836.9790-480.5416 0.0005 0.0009 0.0016 6 0455-11338.6489-73907.7581-262.7017 0.0007 0.0011 0.0021 7 0456-4467.2666-67338.8291-97.0050 0.0005 0.0008 0.0015 8 0457 2304.5254-58828.7175 79.7107 0.0006 0.0011 0.0020 9 0459-3733.6192-50566.5492 48.4537 0.0004 0.0008 0.0014 10 0461-3539.2581-21812.6054 92.5836 0.0006 0.0014 0.0023 11 0462-9465.3357-15088.1931-26.4380 0.0009 0.0019 0.0030 12 0464 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 13 0465-15352.7621-26774.7929-76.8248 0.0004 0.0008 0.0015 14 0466-14936.5599-38952.1887-21.9763 0.0004 0.0008 0.0014 15 0468-13338.2946-57292.7537-119.5513 0.0004 0.0008 0.0013 16 0471-24808.3355-43882.8151-200.5678 0.0004 0.0007 0.0012 17 0472-25115.3497-34414.3236-144.0274 0.0004 0.0008 0.0013 18 1270 6214.1804 52074.6998-205.5916 0.0005 0.0010 0.0017 19 1272 1948.7811 34403.8869-68.7558 0.0004 0.0008 0.0014 20 1274-10605.6182 65547.2913-345.1983 0.0004 0.0008 0.0013 21 1275-10367.7542 75338.9196-454.3931 0.0004 0.0007 0.0012 22 1276-11589.8861 85085.0376-576.7241 0.0004 0.0007 0.0013 23 1320-907.2870 44104.0612-145.1856 0.0004 0.0009 0.0016 24 1321-6140.5567 25993.7901-58.7137 0.0005 0.0011 0.0020 25 1322-10261.2345 35672.0741-105.5511 0.0004 0.0009 0.0016 26 GP01 28787.6426-38867.6052-1.5564 0.0003 0.0006 0.0011 27 KRTW -24948.0983-45823.5239-194.9162 0.0005 0.0011 0.0018 28 LGJW -25660.3888-31255.5603-125.9383 0.0006 0.0012 0.0022 52

Sedangkan koordinat Toposentrik Pangandaran 2007 ditampilkan pada tabel 3.6 sebagai berikut : Tabel 3.6 Koordinat Toposentrik Pangandaran kala 2007 No. Titik Utara (m) Timur (m) Tinggi (m) std Utara (m) std Timur (m) std Tinggi (m) 1 0270-7366.4912 48250.1391-187.2529 0.0004 0.0007 0.0013 2 0437 14727.2214-57609.6713-64.1417 0.0004 0.0009 0.0015 3 0448 8200.7440-48999.1858 110.1984 0.0004 0.0008 0.0013 4 0452-12604.7063-91836.9332-480.5329 0.0004 0.0008 0.0014 5 0455-11338.6907-73907.7351-262.6681 0.0007 0.0010 0.0021 6 0456-4467.3146-67338.7988-96.9620 0.0004 0.0007 0.0012 7 0457 2304.4889-58828.6860 79.7315 0.0005 0.0009 0.0016 8 0459-3733.6544-50566.5218 48.4952 0.0004 0.0007 0.0012 9 0461-3539.2975-21812.5686 92.6031 0.0004 0.0009 0.0016 10 0462-9465.3709-15088.0884-26.3411 0.0008 0.0016 0.0026 11 0464 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 12 0465-15352.7975-26774.7736-76.7945 0.0004 0.0007 0.0012 13 0466-14936.6089-38952.1900-21.9599 0.0006 0.0014 0.0023 14 0468-13338.3379-57292.7227-119.5278 0.0004 0.0007 0.0012 15 0471-24808.3686-43882.7897-200.7632 0.0003 0.0006 0.0010 16 0472-25115.3927-34414.2992-143.9919 0.0004 0.0006 0.0011 17 1270 6214.1533 52074.7159-205.5769 0.0004 0.0007 0.0013 18 1272 1948.7656 34403.9144-68.8281 0.0004 0.0007 0.0013 19 1273-7139.0966 58116.6598-266.2493 0.0003 0.0006 0.0011 20 1275-10367.7962 75338.9494-454.3705 0.0005 0.0009 0.0015 21 1276-11589.9093 85085.0715-576.6947 0.0004 0.0007 0.0012 22 1320-907.3109 44104.0829-145.1469 0.0006 0.0011 0.0024 23 1321-6140.6233 25993.7948-58.8842 0.0004 0.0007 0.0012 24 1322-10261.2676 35672.1043-105.5311 0.0004 0.0008 0.0014 25 1661-13823.4098-23709.1725-62.1517 0.0004 0.0006 0.0011 26 GP01 28787.6129-38867.5773-1.5482 0.0003 0.0006 0.0010 27 GPS2-12599.7951-6293.4445-17.7657 0.0007 0.0010 0.0018 28 KRTW -24948.1384-45823.5135-194.9118 0.0003 0.0006 0.0011 29 LGJW -25660.4136-31255.5586-126.0159 0.0004 0.0008 0.0013 30 ORFP 8436.2634-7471.8905 7.7145 0.0005 0.0008 0.0014 53

3.3 Vektor Pergeseran Vektor pergeseran dapat diartikan sebagai besaran yang menyatakan perubahan atau pergeseran suatu benda atau titik dalam selang waktu tertentu. Definisi tersebut jika dikaitkan dengan deformasi yang terjadi di Pangandaran mengartikan adanya pergerakan titik-titik pantau dalam selang pengukuran sehingga vektor pergeseran dapat mengindikasikan terjadinya deformasi tersebut. Besar vektor pergeseran ini didapat dari selisih besaran koordinat toposentrik titik pada kala ke-1 dengan besaran koordinat titik pada kala ke-2. 3.3.1 Besar Vektor Pergeseran Hasil dari pengolahan data ditransformasikan ke toposentrik juga dimaksudkan agar lebih mudah dalam pemahamannya. Selisih dari koordinat-koordinat toposentrik Pangandaran dari Survei GPS episodik 2006-2007 dapat dilihat pada tabel 3.7. Tabel 3.7 Besar Vektor Pergeseran Pangandaran 2006-2007 dalam Sistem Koordinat Toposentrik No. Titik Pergeseran Utara ΔN (cm) Pergeseran Timur ΔE (cm) Pergeseran Tinggi ΔU (cm) 1 0270-2.66 3.62 3.83 2 0437-3.47 3.10 2.83 3 0448-3.58 2.52 0.49 4 0452-4.53 4.58 0.87 5 0455-4.18 2.30 3.37 6 0456-4.80 3.03 4.30 7 0457-3.66 3.15 2.08 8 0459-3.52 2.74 4.15 9 0461-3.94 3.67 1.95 10 0462-3.52 10.47 9.70 11 0465-3.54 1.93 3.03 12 0466-4.90-0.14 1.64 13 0468-4.34 3.10 2.35 14 0471-3.31 2.54-19.54 15 0472-4.30 2.44 3.56 16 1270-2.71 1.61 1.47 17 1272-1.55 2.74-7.23 18 1275-4.20 2.98 2.26 19 1276-2.32 3.39 2.94 20 1320-2.39 2.17 3.87 21 1321-6.66 0.46-17.05 22 1322-3.31 3.02 2.00 23 GP01-2.97 2.78 0.82 24 KRTW -4.00 1.04 0.44 25 LGJW -2.48 0.17-7.75 54

3.3.2 Hasil Plotting Vektor Pergeseran Visualisasi dari vektor pergeseran di atas dihasilkan dengan menggunakan GMT (Generic Mapping Tools) dan dapat dilihat pada gambar 3.7 di bawah ini Gambar 3.7 Plotting Vektor Pergeseran horisontal Toposentrik Pangandaran 2006-2007 (Masih dipengaruhi Sunda Block) 55