JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (204) -6 Diagnosis Transformator Daya Menggunakan Metode Indeks Kesehatan Transformator Akhbar Candra M, Dimas Anton Asfani, dan I.G.N. Satriyadi Hernanda. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60 E-mail: akhbar.candra@mhs.ee.its.ac.id, anton@ee.its.ac.id, didit@ee.its.ac.id Abstrak Transformator daya merupakan salah satu peralatan listrik yang mempunyai peran sentral dan kritis pada sistem tenaga listrik. Untuk menghindari kegagalan pada transformator daya, dibutuhkan antisipasi dengan pemantauan dan pemeliharaan kondisi transformator. Penelitian ini menyajikan informasi mengenai diagnosis kondisi transformator berdasarkan Indeks Kesehatan Transformator. Metode Indeks Kesehatan Transformator memberikan penilaian kondisi transformator secara komprehensif. Hasil metode ini membagi penilaian kondisi transformator daya menjadi beberapa kategori, sesuai dengan prediksi umur operasi transformator dan level penurunan kondisi komponen transformator. Analisis gas-gas terlarut, minyak, dan furan (kertas isolasi) dilakukan untuk mengetahui jenis kegagalan yang terjadi pada transformator. Hasil analisis tersebut adalah prediksi umur operasi, jenis kemungkinan kegagalan, dan rekomendasi tindakan pemeliharaan transformator mendatang. Untuk aplikasi, metode ini diterapkan pada data uji transformator yang disediakan oleh PT.PLN-PUSLITBANG. Kata Kunci Analisis, Diagnosis, Indeks Kesehatan Transformator, Transformator Daya, K I. PENDAHULUAN erusakan pada transformator daya akan mengakibatkan sistem penyaluran tenaga listrik terputus dan menyebabkan kerugian yang besar. Untuk mengantisipasi kerusakan diperlukan pemantauan dan pemeliharaan transformator. Selain itu terdapat permintaan peningkatan performa teknik transformator dari para pemilik transformator. Menurut manufaktur usia transformator daya diperkirakan antara 25-40 tahun, tetapi terkadang terdapat transformator yang usianya di bawah range usia minimal telah rusak []. Meskipun tingkat kerusakan rendah, tetapi terdapat bukti bahwa transformator tersebut berada pada atau dekat dengan masa akhir operasinya. Kondisi kesehatan transformator dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor kimia, elektrik, dan mekanik. Faktor-faktor ini menyebabkan pengujian transformator yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Metode Indeks Kesehatan Transformator menawarkan penilaian kondisi transformator secara komprehensif. Metode ini melakukan pendekatan ilmiah secara objektif dan kuantitatif. Selain itu metode ini juga menggabungkan hasil pengamatan operasi, inspeksi lapangan, dan pengujian laboratorium. Data-data kondisi transformator yang digunakan dalam metode Indeks Kesehatan Transformator adalah gas terlarut, minyak, dan furan. Gas terlarut adalah gas hidrogen (H 2 ), metana (CH 4 ), etana (C 2 H 4 ), etilen (C 2 H 6 ), asetilen (C 2 H 2 ), karbon dioksida (CO 2 ), dan karbon monoksida (CO). Sedangkan kondisi minyak adalah breakdown voltage, interfacial tension, acid, dan water content. Lalu furan adalah merupakan gas 2 furfural (2FAL). Banyak metode untuk penilaian transformator meliputi pemantauan suhu minyak atau konduktor, kelembaban, kualitas minyak, DGA, FRA, Recovery Voltage, Thermal Imaging,Tap Changer Test, dan Bushing Test [2]-[9]. Namun, tidak ada metode yang mengetahui kondisi transformator daya melalui seluruh gabungan data uji yang tersedia. Permasalahan ini menyebabkan tingkat kesimpulan yang berbeda, sesuai kebutuhan pengujian, atau penilaian yang tidak menyeluruh terhadap kondisi kesehatan transformator. Diagnosis kondisi transformator menggunakan metode Indeks Kesehatan Transformator adalah mengukur kondisi transformator berdasarkan berbagai kriteria kondisi yang terkait dengan faktor-faktor degradasi jangka panjang yang secara kumulatif berpengaruh pada masa hidup operasi transformator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan transformator, gangguan atau kegagalan yang terjadi, serta mengeluarkan rekomendasi tindakan transformator. II. INDEKS KESEHATAN TRANSFORMATOR Indeks Kesehatan Transformator merupakan salah satu metode penilaian sebuah aset atau peralatan. Indeks Kesehatan Transformator merupakan sebuah metode yang menggabungkan hasil pengamatan operasi, inspeksi lapangan, serta pengujian lapangan atau laboratorium menjadi sebuah indeks objektif dan kuantitatif. Hasilnya mengambarkan kondisi kesehatan keseluruhan dari sebuah aset. Selain itu Indeks Kesehatan Transformator adalah suatu perangkat untuk mengelola aset dan identifikator untuk kebutuhan investasi, seperti memprioritaskan investasi modal dan program pemeliharaan []. Tujuan penilaian Indeks Kesehatan Transformator adalah mengukur kondisi peralatan berdasarkan berbagai kriteria kondisi yang terkait dengan faktor-faktor degradasi jangka panjang yang secara kumulatif mengakibatkan akhir masa usia operasi aset. Penilaian ini mencakup, identifikasi aset yang
JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (204) -6 2 berada pada atau dekat dengan akhir masa usia operasi dan aset beresiko gagal tinggi yang membutuhkan pengeluaran biaya untuk penggantian aset. Hasil Indeks Kesehatan Transformator berbeda dari hasil uji pemeliharaan atau diagnosis berbasis kondisi, yang menekankan pada pencarian kerusakan dan ketidakefisiensian. Dalam literature beberapa studi [], pembelajaran metode Indeks Kesehatan Transformator merujuk kepada standar industri dan penilaian pakar. Dalam menghitung nilai Indeks Kesehatan Transformator, nilai setiap parameter dicari berdasarkan batas standar internasional yang dipakai dan rumus. Setiap nilai parameter yang telah didapat kemudian dijumlahkan semua untuk mendapat nilai akhir Indeks Kesehatan Transformator. Adapun parameterparameternya adalah sebagai gas terlarut atau DGA (Dissolved Gas Analysis), minyak isolasi trafo dan furan (isolasi kertas). Penilaian gas terlarut merujuk kepada standar IEEE C57.04-2008 dan ditunjukkan pada Tabel. Penilaian kondisi minyak isolasi seperti BDV, water content, acid, dan IFT merujuk kepada standar IEEE C57.06-2006 dan ditunjukkan pada Tabel 2. Penilaian furan (kertas isolasi) ditunjukkan pada Tabel 3. Untuk mencari nilai Indeks Kesehatan Transformator setiap parameter dapat digunakan rumus sebagai berikut [] : n i= Si x Wi Wi n i= Jumlah parameter yang digunakan dalam Indeks Kesehatan Transformator dinyatakan oleh n. Penilaian skor sebuah parameter dinyatakan dalam Si. Nilai sebuah Si dapat berupa, 2, 3, 4, 5, dan 6. Setiap parameter selain memiliki skor penilaian (Si), memiliki juga faktor bobot (Wi). Nilai Wi dapat berupa, 2, 3, dan 5 tergantung faktor keberpengaruhannya dalam suatu parameter. Pemberian skor (Si) dan faktor bobot (Wi) ini sudah ditentukan dalam metode Indeks Kesehatan Transformator, sesuai dengan batasan dalam standar internasional (IEEE). Penilaian setiap parameter akan menghasilkan sebuah nilai A, B, C, D, E seperti pada Tabel 4. Sedangkan untuk mencari nilai akhir Indeks Kesehatan Transformator adalah dengan menggunakan rumus dibawah ini [] : () Tabel. Penilaian Skor DGA [6] Gas Skor (Si) Bobot 2 3 4 5 6 (Wi) H2 00 00-200 - 300-500- >700 2 200 300 500 700 CH4 75 75-25- 200-400- >600 3 25 200 400 600 C2H6 65 65-80 - 00-20- >50 3 80 00 20 50 C2H4 50 50-80 80-00 00-50 50-200 >200 3 C2H2 3 3-7 7-35 35-50 50-80 >80 5 CO 350 350-700 CO2 2500 2500-3000 Tabel 2. Penilaian Skor Minyak [] Tegangan Skor Bobot Parameter Minyak (69 230 kv ) (Si) (Wi) Breakdown Voltage 52 (kv) 47-52 2 3 35-47 3 35 4 Water Content (ppm) Acid (MgKOH/mg) Interfacial Tension (dyne/cm) 700-900 3000-4000 900-00 4000-5000 00-400 5000-7000 20 20-25 2 25-30 3 30 4 0.04 0.04-0. 2 0.-0.5 3 0.5 4 30 23-30 2 8-23 3 8 4 Tabel 3. Penilaian Skor Furan [] Gas 2 FAL Nilai Kondisi 0 00 A Bagus 00 250 B Normal 250 500 C Waspada 500 000 D Jelek > 000 E Sangat Jelek >400 >7000 4 2 n J = Kj x HIFj n x 00% j = 4Kj Perhitungan Indeks Kesehatan Transformator akhir adalah perkalian antara faktor indeks kesehatan (HIFj) dengan bobot setiap parameter (Kj) dibagi dengan skor maksimum kondisi, kemudian dikalikan 00. Dalam menentukan HIFj, nilai hasil penilaian setiap parameter A, B, C, D, E, akan dikonversi menjadi angka 4 sampai 0. Nilai A berarti 4, B berarti 3, C berarti 2, D berarti 2 dan E berarti 0. Rincian nilai HIFj dan Kj untuk setiap parameter pengujian transformator ditunjukkan pada Tabel 5. Hasil perhitungan akhir ini akan membagi nilai ke dalam indeks angka dari 0 sampai dengan 00. Kondisi nilai 0 menunjukkan (2) Tabel 4. Penilaian Per Parameter [] Nilai Kondisi Deskripsi A Bagus <.2 B Normal.2 x <.5 C Waspada.5 x < 2 D Jelek 2 x < 3 E Sangat Jelek 3 transformator dalam degradasi sempurna dan nilai 00 menunjukkan kondisi sehat sempurna. Hal ini ditunjukkan seperti pada Tabel 6 yang menjelaskan mengenai penilaian akhir transformator menurut metode Indeks Kesehatan Transformator.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (204) -6 3 Tabel 5. Penilaian Skor Indeks Kesehatan Transformator [] No. Parameter Rating Kj Transformator Kondisi HIFj DGA 0 A,B,C,D,E 4,3,2,,0 2 Minyak 8 A,B,C,D,E 4,3,2,,0 3 Furan 5 A,B,C,D,E 4,3,2,,0 Tabel 6. Penilaian Akhir [] Indeks Kesehatan Trafo Kondisi Deskripsi 85-00 Sangat Penurunan kondisi dari Bagus komponen terbatas 70-85 Bagus Penurunan kondisi yang signifikan dari beberapa komponen 50-70 Cukup Penurunan kondisi yang menyebar atau serius pada komponenkomponen spesifik 30-50 Jelek Penurunan kondisi serius dan menyebar pada komponen-komponen spesifik 0-30 Sangat Jelek Parameter Minyak Penurunan kondisi serius dan menyebar lebih luas pada komponenkomponen spesifik Tabel 7. Batasan Parameter Minyak Trafo [] Kelas Tegangan Prediksi Umur Transformator Lebih dari 5 Lebih dari 0 Sampai 0 Kurang dari 3 0 69 kv 69-230 kv > 230 kv Breakdown Voltage kv minimum mm gap 23 28 30 2 mm gap 40 47 50 Water Content ppm maksimum 35 25 20 Acid MgKOH/mg maksimum 0.2 0.5 0.0 Interfacial Tension dyne/cm minimum 25 30 32 III. ANALISIS KEGAGALAN DAN REKOMENDASI Pada tahap ini dirancang beberapa metode untuk mengidentifikasi kemungkinan kegagalan yang terjadi dan rekomendasi tindakan yang harus dilakukan terhadap transformator daya. Untuk analisis kegagalan digunakan metode perbandingan minyak, Key Gas, dan rasio Doernenburg. Sedangkan untuk diagnosis rekomendasi tindakan menggunakan metode TDCG dan perbandingan batas minimum minyak. Diagram alir desain metode analisis ditunjukkan pada Gambar. Gambar.. Diagram Alir Analisis Transformator Daya A. Perbandingan Minyak Analisis perbandingan minyak adalah membandingkan nilai nilai batas maksimum atau minimum dari parameter minyak dengan nilai data pengujian minyak. Jika nilai-nilai tersebut berada pada batasnya, maka nilai tersebut menunjukkan jenis kemungkinan kegagalan. Ada empat jenis kemungkinan kegagalan yang mungkin terjadi. Kegagalan tegangan tembus yang diakibatkan nilai BDV dibawah batas minimumnya. Kedua adalah kelembaban yang diakibatkan oleh nilai water content yang melebihi batas maksimum. Lalu korosi pada komponen internal trafo, akibat nilai acid yang tinggi. Yang terakhir adalah munculnya endapan akibat nilai IFT yang melewati batas minimum. Nilai-nilai batas parameter minyak merujuk pada standar IEEE C57.06-2006 yang ditunjukkan pada Tabel 7. B. Key Gas Start Perhitungan Indeks Kesehatan Analisis Kegagalan dengan Perbandingan Minyak & Furan, Metoda Key Gas, dan Rasio Doernenburg. Analisis Rekomendasi Tindakan TDCG dan Perbandingan Minyak Hasil Diagnosis Kondisi Trafo Daya Secara Keseluruhan End Metode Key Gas digunakan untuk menentukan kegagalan pada transformator berdasarkan kadar gas terlarut yang paling dominan di dalam minyak isolasi. Gas yang dominan tersebut disebut Key Gas. Klasifikasi kondisi transformator berdasarkan kandungan gas dominan yang ditimbulkan adalah dekomposisi thermal minyak, dekomposisi thermal kertas isolasi, partial discharge, dan arcing. Hasil dekomposisi thermal pada minyak adalah berupa gas etilen dan metana. Selain itu ditemukan juga gas hidrogen dan etana dalam jumlah kecil. Gas dominan adalah etilen. Jumlah karbon dioksida dan karbon monoksida yang meningkat, merupakan indikator dari dekomposisi thermal pada kertas isolasi yang berlebihan panas. Gas dominan adalah karbon monoksida. Partial discharge atau peluahan elektrik energi rendah akan menghasilkan gas hidrogen dan metana, dengan sedikit jumlah gas etana dan etilen. Gas dominan adalah hidrogen. Jumlah gas hidrogen dan asetilen tinggi saat terjadi arcing, dengan sedikit gas metana dan etilen. Gas karbon dioksida dan karbon monoksida juga dapat terbentuk jika terjadi di kertas isolasi. Gas dominan adalah asetilen.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (204) -6 4 C. Rasio Doernenburg Metode rasio Doernenburg adalah membandingkan konsentrasi gas-gas terlarut dengan konsentrasi limit L. Metode ini menggunakan rasio R, R2, R3 dan R4. R adalah perbandingan antara metana dibagi hidrogen. R2 adalah perbandingan antara asetilen dibagi etilen. R3 adalah perbandingan antara asetilen dibagi metana. R4 adalah perbandingan antara etana dibagi asetilen. Batas konsentrasi L merujuk pada standar IEEE C57.04-2008 atau terlihat seperti pada Tabel 8. Nilai-nilai rasio Doernenburg akan menghasilkan diagnosis kegagalan seperti ditunjukkan pada Tabel 9. D. TDCG (Total Dissolved Combustile Gas) Metode analisis TDCG digunakan untuk mengawasi degradasi material isolasi transformator dengan menghitung jumlah volume gas yang terbentuk [0]. Total volume gas yang terbentuk digunakan sebagai indikator kegagalan yang terjadi. Keadaan transformator ditandakan dengan level kondisi dari transformator yang ditunjukkan pada Tabel 0. Kondisi menjelaskan bahwa level TDCG pada tingkat ini mengindikasikan kondisi transformator tidak bermasalah. Jika nilai salah satu gas diluar dari kondisinya, Tabel dapat digunakan untuk investigasi tambahan. Kondisi 2 menjelaskan bahwa level TDCG pada skala ini menandakan terjadinya dekomposisi ringan dan mengharuskan re-sampling DGA. Kondisi 3 menjelaskan bahwa level TDCG pada skala ini menandakan terjadi dekomposisi tingkat tinggi dan mengharuskan re-sampling DGA. Kondisi 4 menjelaskan bahwa level TDCG pada tingkat ini menandakan dekomposisi parah. Jika lanjut beroperasi memungkinkan kegagalan. Resampling DGA diharuskan dengan cepat. Jika sebelumnya terdapat riwayat pengujian, maka dapat diketahui bahwa transformator berada dalam kondisi stable (jumlah gas cenderung tetap atau meningkat dalam jumlah sedikit) atau unstable (jumlah gas meningkat secara signifikan). Tabel digunakan ketika terdapat lebih dari satu hasil data pengujian atau memiliki riwayat pengujian. IV. HASIL DIAGNOSIS Data-data kondisi transformator daya seperti gas terlarut, minyak isolasi, dan furan berasal dari PT.PLN-PUSLITBANG (Perusahaan Listrik Negara - Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan) [2]. Untuk mengetahui kondisi kesehatan sebuah data transformator daya menurut metode Indeks Kesehatan Transformator pada penelitian ini digunakan sebuah simulasi perhitungan menggunakan GUI matlab. Gambar 2 menampilkan tampilan penilaian Indeks Kesehatan Transformator menggunakan GUI matlab. Berdasarkan perhitungan Indeks Kesehatan Transformator pada 275 unit data tranformator daya, didapatkan hasil lima buah kategori kondisi transfomator daya. Nilai yang didapat bervariasi antara range nilai terendah adalah.9 dan nilai tertinggi adalah 00. Trafo yang berada dalam kategori sangat bagus berjumlah 49 unit dengan range nilai antara 85.7 00. Trafo dalam kategori bagus berjumlah 48 unit dengan range nilai antara 7.42-80.95. Sedangkan untuk kategori cukup didapatkan sejumlah 39 unit dengan range nilai antara 5.9-69.04. Trafo yang berada dalam kategori jelek dan sangat jelek adalah berjumlah masing-masing 30 unit dan 9 unit. Tabel 8. Batas Konsentrasi Gas Terlarut [0] Gas Konsentrasi L (ppm) Hidrogen 00 Metana 20 Karbon Monoksida 350 Asetilen Etilen 50 Etana 65 Tabel 9. Tabel Rasio Doernenburg [0] Diagnosis R R2 R3 R4. Dekomposisi Thermal >.0 < 0.75 < 0.3 > 0.4 2. Partial Discharge < 0. Tidak signifikan < 0.3 > 0.4 3. Arcing 0. -.0 > 0.75 > 0.3 < 0.4 Tabel 0. Klasifikasi Konsentrasi Gas Terlarut [0] Status Kondisi Kondisi 2 Kondisi 3 Kondisi 4 Level TDCG < 720 ppm 72-920 ppm.92-4.630 ppm > 4.630 ppm Tabel. Tindakan Berdasarkan TDCG dalam Minyak Isolasi [0] Rating Level TDCG Interval TDCG (ppm/ Sampling Prosedur Operasi hari) < 0 Per 2 bulan Kontinyu Operasi Normal < 720 ppm 0-30 Per 3 bulan > 30 Per bulan 72-920 ppm 92-4638 ppm > 4639 ppm < 0 Per 4 bulan Penggunaan trafo perlu diperhatikan. Pada kondisi 0-30 Per bulan ini perlu dilakukan analisis individual gas serta penetapan besarnya > 30 Per bulan pembebanan. < 0 Per bulan Penggunaan trafo sangat perlu diperhatikan. Pada 0-30 Per minggu kondisi ini perlu untuk melakukan analisis individual gas. (Pabrik > 30 Per minggu menyarankan plan outage). < 0 Per minggu Trafo pada kondisi ini perlu dipertimbangkan untuk 0-30 Per hari dilepaskan dari sistem (Memperhatikan saran dari > 30 Per hari pabrik).
JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (204) -6 5 Jumlah masing-masing transformator setiap kategori dijelaskan pada Tabel 2, yang pembagian kategorinya berdasarkan Tabel 6. Untuk hasil kemungkinan kegagalan yang terjadi ada tujuh jenis kegagalan dari metode analisis kegagalan. Kegagalan yang ditemukan oleh metode Key Gas adalah dekomposisi selulosa, dekomposisi minyak, partial discharge, dan arcing. Kegagalan yang ditemukan oleh metode perbandingan minyak adalah tegangan tembus, kelembaban, korosi, endapan, dan penuaan pada kertas isolasi. Adapun kegagalan yang terjadi dapat bervariasi dari kombinasi kegagalan di atas pada satu buah transformator daya. Dekomposisi selulosa rentan terjadi karena jumlah karbon monoksida melebihi batas maksimum lebih dari 350 ppm. Dekomposisi minyak terjadi karena jumlah etilen melebihi batas maksimum lebih 50 ppm. Partial discharge terjadi karena jumlah hidrogen melebihi batas maksimum lebih dari 00 ppm. Arcing terjadi karena jumlah asetilen tinggi melebihi gas-gas lainnya. Tegangan tembus terjadi karena jumlah BDV melebihi batas minimumnya yakni 28 kv. Kelembaban atau kandungan air tinggi karena jumlah water content melebihi batas maksimum lebih dari 25 ppm. Korosi terjadi karena nilai acid melebihi batas maksimum 0.5 mgkoh/mg. Endapan muncul karena jumlah IFT melebihi batas minimum yaitu 30 dyne/cm. Penuaan kertas isolasi dapat dideteksi dari jumlah gas 2 furfural. Semakin besar jumlah gas 2 furfural maka semakin buruk kualitas kertas isolasi tersebut. Tabel 3 menjelaskan mengenai jenis-jenis kemungkinan kegagalan yang terjadi pada transformator daya di pulau Sumatera. Berdasarkan kemungkinan kegagalan yang terjadi, maka menghasilkan tiga jenis tindakan yang sebaiknya dilakukan kepada transformator. Hasil ini didapatkan dari analisis TDCG. Ketiga jenis rekomendasi tindakan transformator tersebut adalah lanjut beroperasi normal, lanjut beroperasi dengan catatan, dan re-sampling pengujian, untuk memastikan kegagalan fungsi yang terjadi. Sedangkan untuk saran pengujian trafo selanjutnya didapatkan dalam interval 3 bulan dan 2 bulan [0]. Ada dua macam saran perlakuan minyak transformator, yakni rekondisi dan reklamasi. Saran perlakuan minyak trafo didapatkan dari analisis perbandingan batas minyak minimum. Jika nilai BDV atau dan water content buruk maka tindakan yang harus dilakukan adalah rekondisi atau filter. Sedangkan jika nilai acid atau dan IFT buruk maka tindakan yang harus dilakukan adalah reklamasi. Buruk disini berarti telah melewati batas yang ditetapkan []. Tabel 2. Hasil Penilaian Indeks Kesehatan Transformator Kategori Jumlah Sangat Bagus 49 Bagus 48 Cukup 39 Jelek 30 Sangat Jelek 9 Total 275 Tabel 3. Jenis Kemungkinan Kegagalan Pada Trafo No Jenis Kemungkinan Kegagalan Jumlah Arcing 2 Dekomposisi Minyak 3 3 Dekomposisi Selulosa 5 4 Dekomposisi Selulosa & Endapan 23 5 Dekomposisi Selulosa, Endapan & Korosi 5 6 Dekomposisi Selulosa, Endapan & Tegangan Tembus 7 Dekomposisi Selulosa, Endapan, Korosi, & Kerusakan Kertas Tinggi 8 Dekomposisi Selulosa, Lembab, Endapan & Penuaan Kertas Tidak Normal 2 9 Dekomposisi Selulosa, Lembab, Endapan, & Korosi 9 0 Dekomposisi Selulosa, Lembab, & Endapan 3 Dekomposisi Selulosa, Lembab, & Tegangan Tembus 2 Dekomposisi Selulosa, Lembab, Endapan & Kerusakan Kertas Tinggi 3 3 Dekomposisi Selulosa, Lembab, Endapan, Korosi & Tegangan Tembus 4 Dekomposisi Selulosa, Lembab, Endapan, Korosi, & Akhir Umur Kertas 5 Dekomposisi Thermal 6 Endapan 47 7 Endapan & Korosi 5 8 Lembab 2 9 Lembab & Endapan 2 20 Lembab, Endapan & Kerusakan Kertas Tinggi 2 Lembab, Endapan, & Korosi 4 22 Partial Discharge 3 23 Penuaan Kertas Tidak Normal, Endapan & Lembab Total 25 Gambar. 2. Simulasi Penilaian Indeks Kesehatan Transformator
JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (204) -6 6 Jika kita menghitung jumlah kegagalan dibagi dengan jumlah transformator daya dalam setiap nilai kategori Indeks Kesehatan Transformator dan dikalikan seratus, maka kita akan mendapatkan probabilitas populasi kegagalan yang terjadi dalam persen. Dengan teknik analisis korelasi didapatkan nilai koefisien korelasi r adalah -0,63. Nilai r (negatif) ini menyatakan hubungan antara probabilitas populasi kegagalan dengan nilai Indeks Kesehatan Transformator dengan hubungan yang berbanding terbalik. Semakin kecil nilai Indeks Kesehatan Transformator maka semakin besar jumlah probabilitas populasi kegagalan yang terjadi. Hubungan ini seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. Nilai Indeks Kesehatan Trafo vs Probabilitas Populasi Kegagalan(%) V. KESIMPULAN (%) Indeks Kesehatan Transformator membagi kondisi transformator daya menjadi lima buah kategori. Kategori ini adalah sangat bagus, bagus, cukup, jelek, dan sangat jelek. Jumlah transformator dalam kondisi sehat yakni trafo yang berada pada kategori sangat bagus dan bagus adalah 72 %. Untuk transformator yang berada dalam kondisi tidak sehat yakni dalam kategori jelek dan sangat jelek adalah 4 %. Sedangkan transformator yang berkondisi waspada atau berkategori cukup adalah 4 %. Maka dapat kita simpulkan rata-rata transformator daya berada pada kondisi sehat. Terdapat beberapa jenis kemungkinan kegagalan, yaitu dekomposisi selulosa, dekomposisi minyak, partial discharge, arcing, tegangan tembus, kelembaban, korosi, endapan, dan penuaan pada kertas isolasi. Kegagalan yang terjadi dapat bervariasi dari kombinasi kegagalan yang terjadi. Didapatkan tiga jenis rekomendasi tindakan transformator yaitu lanjut beroperasi normal, lanjut beroperasi dengan catatan, dan resampling pengujian. Hubungan antara probabilitas populasi kegagalan dengan nilai Indeks Kesehatan Transformator cukup kuat, karena menurut perhitungan analisis korelasi nilai koefisien korelasi r adalah - 0,63. Semakin kecil nilai Indeks Kesehatan Transformator maka semakin besar jumlah probabilitas populasi kegagalan. Metode Indeks Kesehatan Transformator memiliki kekurangan yaitu tidak mengetahui jenis kegagalan yang terjadi, tetapi memberikan diagnosis kondisi kesehatan trafo secara umum. Oleh karena itu dibutuhkan analisis tambahan untuk mengetahui jenis kemungkinan kegagalan yang terjadi pada trafo daya. DAFTAR PUSTAKA []. A. Jahromi, R. Piercy, S. Cress, J. Service, and W. Fan, "An approach to power transformer asset management using health index," Electrical Insulation Journal & Magazine, IEEE, vol. 25, pp. 20-34, 2009. [2] ABB Service Handbook for Transformers, 2nd ed., Zurich, Switzerland: ABB Management Service, Ltd., 2007. [3]. M. Wang and K. D. Srivastava, Review of condition assessment of power transformers in service, IEEE Electr. Insul. Mag., vol. 8, no. 6, pp. 2 25 Nov./Dec. 2002. [4]. T. K. Saha, Review of modern diagnostic techniques for assessing insulation condition in aged transformers, IEEE Trans. Dielectr. Electr. Insul., vol. 0, no. 5, pp. 903 97, Oct. 2003. [5]. T. Hjartarson and S. Otal, Predicting future asset condition based on current health index and maintenance level, presented at th IEEE Conf. Transmission & Distribution Construction, Operation and Live- Line Maintenance, Albuquerque, NM, Oct. 2006. [6]. A. Naderian, S. Cress, and R. Peircy, An approach to determine the health index of power transformers, inproc. IEEE Int.Symp. Electrical Insulation, Jun. 2008, Vancouver, Canada, pp. 92 96. [7]. CIGRE Working Group 05, An international survey of failures in large power transformers in service, Electra, no. 88, pp. 2 48, May 983. [8]. I. Höhlein, A. J. Kachler, S. Tenbohlen, and T. Leibfried, Transformer life management German experience with condition assessment, Contribution for CIGRE SC2/A2, Jun. 2003. [9]. K. T. Muthanna,A. Sarkar, K. Das, andk. Waldner, Transformer insulation life assessment, IEEE Trans. Power Del., vol.2, no., pp. 50 56, Jan. 2006. [0]. Transformer Committee of the IEEE Power & Energy Engineering Society. 2008. IEEE Guide for the Interpretation of Gases Generated in Oil-Immersed Transformers. IEEE Standard C57.04-2008. []. IEEE Guide for Acceptance and Maintenance of Insulating Oil in Equipment. IEEE Standard 423509 - C57.06-2006. [2]. P.T. PLN PUSLITBANG (Perusahaan Listrik Negara- Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikkan). Indonesia. 203.