RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

dokumen-dokumen yang mirip
FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESWAN TAHUN 2016

CAPAIAN KINERJA KELUARAN (OUTPUT ) UTAMA APBN PKH TAHUN 2014

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PETERNAKAN DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Revisi ke 05 Tanggal : 27 Desember 2017

RENCANA STRATEGIS. PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN (Revisi II-Review)

LAPORAN REALISASI KEGIATAN APBN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2015 KEADAAN s/d AKHIR BULAN : DESEMBER 2015

RENCANA STRATEGIS (Revisi II) PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

LAPORAN KINERJA. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan

LAPORAN KINERJA 2014 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

RENCANA KINERJA TAHUNAN BPTU-HPT DENPASAR TAHUN 2016

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PETIKAN TAHUN ANGGARAN 2017 NOMOR : SP DIPA /2017

Tabel. 2.1 Pencapaian Kinerja Pelayanan Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh Provinsi Aceh

Revisi ke 01 Tanggal : 18 April 2017

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

PENETAPAN KINERJA DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN JOMBANG TAHUN ANGGARAN 2015

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PETIKAN TAHUN ANGGARAN 2017 NOMOR : SP DIPA /2017

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN, DAN PENDANAAN INDIKATIF

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia.

I. PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2016

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2015 NOMOR : SP DIPA /2015

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

OLEH DR. Drh. RAIHANAH, M.Si. KEPALA DINAS KESEHATAN HEWAN DAN PETERNAKAN ACEH DISAMPAIKAN PADA :

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA. Berikut ini merupakan gambaran umum pencapaian kinerja Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur :

OPERASIONAL PROGRAM TEROBOSAN MENUJU KECUKUPAN DAGING SAPI TAHUN 2005

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2013, No.6 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini, yang dimaksud dengan: 1. Pemberdayaan Peternak adalah segala upaya yang dila

Terlampir. Terlampir

Revisi ke 02 Tanggal : 16 Maret 2017

Rencana Strategis. Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak DUMMY RENSTRA

GUBERNUR SUMATERA BARAT

RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKA DINAS PERKEBUNAN DAN PETERNAKAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

Kata Pengantar. Jakarta, Februari 2016 Direktur Jenderal. Muladno

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)

WALIKOTA MALANG PROVINSI JAWA TIMUR

V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

MASALAH DAN KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUK PETERNAKAN UNTUK PEMENUHAN GIZI MASYARAKAT*)

LAPORAN REFLEKSI AKHIR TAHUN 2014 DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SUMATERA UTARA

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

MATRIK RENSTRA DINAS PETERNAKAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN

BUPATI MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEMBERDAYAAN PETERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 42 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PETERNAKAN KABUPATEN BLITAR BUPATI BLITAR,

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 35 TAHUN 2008 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN BUPATI MADIUN,

Kata Pengantar. Januari Direktur Jenderal, Ir. Syukur Iwantoro, MS. MBA NIP

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

GUBERNUR PAPUA PERATURAN GUBERNUR PAPUA

Revisi ke : 04 Tanggal : 31 Desember 2014

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan daerah pada hakekatnya merupakan bagian integral dan

BAB VI INDIKATOR KINERJA YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

GUBERNUR JAWA TENGAH

BAB III METODOLOGI. struktur organisasi dan pembagian tugas berdasarkan Keputusan Presiden R.I. No.

Kesiapan Pemerintah di Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Perkembangan Koperasi tahun Jumlah

(Rp.) , ,04

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA DAN PENDANAAN INDIKATIF

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 2013

SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 47 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 63 TAHUN 2016 TENTANG

Ayam Ras Pedaging , Itik ,06 12 Entok ,58 13 Angsa ,33 14 Puyuh ,54 15 Kelinci 5.

RENCANA KERJA TAHUNAN BALAI INSEMINASI BUATAN LEMBANG TAHUN 2018

2 seluruh pemangku kepentingan, secara sendiri-sendiri maupun bersama dan bersinergi dengan cara memberikan berbagai kemudahan agar Peternak dapat men

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Uraian Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur

Revisi ke 01 Tanggal : 05 Januari 2015

EVALUASI KEGIATAN DIREKTORAT KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER TAHUN 2017 & RENCANA KEGIATAN TAHUN 2018 RAKONTEKNAS II SURABAYA, 12 NOVEMBER 2017

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Kredit Usaha. Pembibitan Sapi. Pelaksanaan. Pencabutan.

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan yang dihadapi Provinsi Jambi salah satunya adalah pemenuhan

PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN Jalan Patriot No. 14, (0262) Garut

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

PEDOMAN PELAKSANAAN KREDIT USAHA PEMBIBITAN SAPI

KERAGAAN PENGEMBANGAN TERNAK SAPI POTONG YANG DIFASILITASI PROGRAM PENYELAMATAN SAPI BETINA PRODUKTIF DI JAWA TENGAH

DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH TAHUN 2015

LEGISLASI 1 KEDOKTERAN HEWAN UB SISTEM KESEHATAN HEWAN NASIONAL DAN KEBIJAKAN BIBIT

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. dalam pembangunan sektor pertanian. Pada tahun 1997, sumbangan Produk

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL Dalam Mendukung KEMANDIRIAN PANGAN DAERAH

PENGEMBANGAN KOMODITAS SAPI POTONG (TERNAK RUMINANSIA) DI KALIMANTAN TIMUR

Samarinda, 29 Februari 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN

PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER BAB I PENDAHULUAN

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 64 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PEMBIAYAAN PERTANIAN TA. 2014

VISI. Terwujudnya masyarakat yang mandiri, sejahtera melalui peningkatan pembangunan peternakan.

Transkripsi:

RENCANA STRATEGIS PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN 2015-2019 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian TAHUN 2015

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.. DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... BAB I PENDAHULUAN... 2 A. Kondisi Umum. 3 B. Potensi dan Permasalahan... 9 BAB II VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN... 14 A. Visi 14 B. Misi... 14 C. Tujuan... 15 D. Sasaran... 15 BAB III. ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN. 18 A. Arah Kebijakan Pembangunan Pertanian... 18 B. Arah Kebijakan dan Strategi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan... C. Kerangka Regulasi dan Kelembagaan... 22 1. Kerangka Regulasi..... 22 2. Kerangka Kelembagaan..... 23 BAB IV. PROGRAM DAN KEGIATAN... 25 A. Program... 25 B. Kegiatan..... 26 BAB V. PEMBIAYAAN DAN INDIKATOR KINERJA UTAMA. A. Pembiayaan... B. Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Arsitektur Dan Informasi Kinerja (ADIK)... i ii iv v 19 31 31 32 ii

C. Pengukuran Kinerja. 38 BAB VI. PENUTUP... 41 LAMPIRAN... 43 iii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1. Peta Dinamika Sistem Faktor Strategis Lingkungan Tugas Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.... Gambar 3.1. Tahapan Menuju Pertanian Bioindustri... 18 Gambar 5.1. Struktur IKU dan IKK dalam ADIK. 33 10 iv

DAFTAR TABEL Tabel 1.1. Keragaan Variabel Ekonomi... 3 Tabel 1.2. Keragaan Variabel Ekonomi Produksi dan Populasi... 4 Tabel 1.3. Keragaan Variabel Produksi Susu dan Telur... 5 Tabel 1.4 Analisis Lingkungan Strategis.. 9 Tabel 1.5. Revaluasi Faktor Lingkungan Internal-Eksternal Strategis untuk Analisis Strategi.. 11 Tabel 1.6. Analisis Lingkungan Strategis Untuk Analisis Strategis... 12 Tabel 2.1. Indikator Kinerja Utama (IKU)... 16 Tabel 5.1. Tabel 5.2. Pembiayaan Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2015-2019... Indikator Kinerja dan Kebutuhan Pendanaan Peternakan dan Kesehatan Hewan 205-2019... Tabel 5.3. Kriteria Pengukuran Indikator Kinerja... 39 31 35 v

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Arsitektur Dan Informasi Kinerja (ADIK) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampiran 2. Keterkaitan Output dan Aktifitas Masing-Masing Eselon II 46 Lampiran 3. Sasaran Populasi Sapi Potong Tahun 2015 2019... 53 Lampiran 4. Sasaran Populasi Sapi Perah Tahun 2015 2019... 54 Lampiran 5. Sasaran Populasi Kerbau Tahun 2015 2019... 55 Lampiran 6. Sasaran Populasi Kambing Tahun 2015 2019... 56 Lampiran 7. Sasaran Populasi Domba Tahun 2015 2019... 57 Lampiran 8. Sasaran Populasi Babi Tahun 2015 2019... 58 Lampiran 9. Sasaran Populasi Ayam Buras Tahun 2015 2019... 59 Lampiran 10. Sasaran Populasi Ayam Petelur Tahun 2015 2019... 60 Lampiran 11. Sasaran Populasi Ayam Pedaging Tahun 2015 2019... 61 Lampiran 12. Sasaran Populasi Itik Tahun 2015 2019... 62 Lampiran 13. Sasaran Produksi Daging Sapi Tahun 2015 2019... 63 Lampiran 14. Sasaran Produksi Daging Kerbau Tahun 2015 2019... 64 Lampiran 15. Sasaran Produksi Daging Kambing Tahun 2015 2019... 65 Lampiran 16. Sasaran Produksi Daging Domba Tahun 2015 2019... 66 Lampiran 17. Sasaran Produksi Daging Babi Tahun 2015 2019... 67 Lampiran 18. Sasaran Produksi Daging Ayam Buras Tahun 2015 2019... 68 Lampiran 19. Sasaran Produksi Daging Ayam Petelur Tahun 2015 2019.. 69 Lampiran 20. Sasaran Produksi Daging Ayam Pedaging Tahun 2015 2019. 70 Lampiran 21. Sasaran Produksi Daging Itik Tahun 2015 2019... 71 Lampiran 22. Sasaran Produksi Telur Ayam Buras Tahun 2015 2019... 72 Lampiran 23. Sasaran Produksi Telur Ayam Petelur Tahun 2015 2019... 73 Lampiran 24. Sasaran Produksi Telur Itik Tahun 2015 2019... 74 Lampiran 25. Sasaran Produksi Susu Tahun 2015 2019... 75 43 vi

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB I PENDAHULUAN Sesuai dengan Nawa Cita, visi pembangunan peternakan dan keswan memilih kedaulatan dan keamanan pangan asal ternak. Pemilihan aspek kedaulatan dan keamanan pangan telah pula mempertimbangkan keselarasan dengan visi kementerian pertanian dan telah sesuai dengan tugas fungsi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Sesuai dengan ketentuan, maka Rencana Strategis Teknokratik 2015 2019 merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Kementerian Pertanian mempunyai Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) berupa Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) hingga 2045 dan Rentra 2015-2019 yang menjadi dasar dari disusunnya Rencana Strategis 2015 2019 Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan. Tugas pokok dan fungsi yang diamanatkan kepada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah menyusun kebijakan dibidang produksi ternak dan kesehatan hewan dengan fungsinya mencakup kebijakan dibidang perbibitan, pakan, budidaya ternak, kesehatan hewan serta kesehatan masyarakat veteriner dan pasca panen. Berdasarkan fungsi-fungsi tersebut maka selama kurun waktu sampai dengan 2019 maka tujuan kedaulatan dan keamanan pangan menjadi target utama. Maksud dan tujuan disusunnya Renstra ini agar dapat menjadi arahan dalam mengelola tugas pokok fungsi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam rangka mencapai kedaulatan dan keamanan pangan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak, dan menciptakan lapangan pekerjaan melalui peningkatan populasi dan produksi daging sapi dan kerbau serta ternak lainnya. Penyusunan Renstra telah memperhatikan berbagai dinamika lingkungan strategis global, regional, nasional dan sektoral. Sehingga dapat menjawab persoalan masa kini, tantangan dan peluang masa depan. Penggunaan metode dan teknik yang tepat untuk penyusunan renstra tersebut dengan memakai system thinking/system dynamics. 2

A. KONDISI UMUM Kondisi umum Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang menyelenggarakan kebijakan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan ditunjukan dari variabel yaitu makro ekonomi, teknis dan fungsional. Dari variabel makro ekonomi ditunjukan dari perkembangan PDB sub sektor peternakan dan kesehatan hewan, investasi baik penanaman modal asing dan dalam negeri, penyerapan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan peternak. Dari variabel teknis dapat dilihat dari pertumbuhan populasi ternak, pertumbuhan produksi dan produktivitas. Sedangkan variabel fungsional yang mendukung variable teknis dan ekonomis dapat dilihat dari fungsi perbibitan, budidaya, pakan, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner serta pascapanen. Untuk melihat keragaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.1. s.d Tabel 1.3 Tabel 1.1 Keragaan Variabel Ekonomi No. Variabel Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 r 1. Ekonomis a. PDB (Rp Milyar) 38.214 40.040 41.919 43.914-4,39 b. Tenaga kerja (orang) 4.167.894 4.204.213 4.238.209 4.557.503-3,07 c. Investasi 1) PMDN (Rp Juta) 1.227.357 247.244 97.445 360.684-444.125 2) PMA (US $ Ribu) 25.027 21.136 19.822 11.301-15.964 d. Perdagangan ternak 1) Eksport (US $ Juta) 1.599 557 575-2) Import (US $ Juta) 3.045 2.698 3.022 - e. Kesejahteraan peternak - 104 101 101 102 3

Tabel 1.2 Keragaan Variabel Produksi dan Populasi No. Variabel Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 r 2. Teknis a.populasi dan Produksi Daging 1) Sapi potong a)populasi (ribu ekor) 13.582 14.824 15.981 12.686 14.703 18,68 b)produksi daging (ribu ton) 436,5 485,3 508,9 504,8 540,0 5,77 2) Kerbau a)populasi (ribu ekor) 2.000 1.305 1.438 1.110 1.321 (24,91) b)produksi daging (ribu ton) 35,9 35,3 37,0 37,8 41,2 3,56 3) Kambing a)populasi (ribu ekor) 16.620 16.946 17.906 18.500 19.216 19,90 b)produksi daging (ribu ton) 68,8 66,3 65,2 65,2 67,9 (1,60) 4) Domba a)populasi (ribu ekor) 16.620 16.946 17.906 18.500 19.216 19,90 b)produksi daging (ribu ton) 44,9 46,8 44,4 41,5 43,6 (3,93) 5) Babi a)populasi (ribu ekor) 7.477 7.525 7.900 7.611 7.873 12,81 b)produksi daging (ribu ton) 212,0 224,8 232,1 298,4 311,1 9,61 6) Kuda a)populasi (ribu ekor) 419 409 437 434 455 13,69 b)produksi daging (ribu ton) 2,0 2,2 2,9 1,8 2,5 11,03 7) Ayam buras a)populasi (ribu ekor) 257.544 264.340 274.564 276.777 286.538 13,87 b)produksi daging (ribu ton) 267,6 264,8 267,5 319,6 332,1 6,28 8) Ayam Ras Petelur a)populasi (ribu ekor) 105.210 124.636 138.718 146.622 154.657 35,37 b)produksi daging (ribu ton) 57,7 62,1 66,1 77,1 81,0 8,11 9) Ayam Ras Pedaging a)populasi (ribu ekor) 986.872 1.177.991 1.244.402 1.344.191 1.481.872 39,42 b)produksi daging (ribu ton) 1.214,3 1.337,9 1.400,5 1.497,9 1.524,9 6,77 10) Itik a)populasi (ribu ekor) 44.302 43.488 44.357 43.710 44.095 8,50 b)produksi daging (ribu ton) 26,0 28,2 30,1 32,1 32,5 4,79 4

Tabel 1.3. Keragaan Variabel Produksi Susu dan Telur No. 2 Teknis Variabel Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 b.populasi dan Produksi Susu 1) Sapi perah a)populasi (ribu ekor) 488 597 612 444 483 8,95 b)produksi susu (ribu ton) 909,5 974,7 959,7 786,8 798,4 (0,19) c. Populasi dan Produksi Telur 1) Ayam buras a)populasi (ribu ekor) 257.544 264.340 274.564 276.777 286.538 13,87 b)produksi telur (ribu ton) 175,5 187,6 197,1 194,6 197,4 4,24 2) Ayam Ras Petelur a)populasi (ribu ekor) 105.210 124.636 138.718 146.622 154.657 35,37 b)produksi telur (ribu ton) 945,6 1.027,8 1.139,9 1.224,4 1.299,2 7,42 3) Itik a)populasi (ribu ekor) 44.302 43.488 44.357 43.710 44.095 8,50 b)produksi telur (ribu ton) 245,0 256,2 265,0 264,1 267,8 2,54 4) Puyuh a)populasi (ribu ekor) 7.054 7.357 12.234 12.553 12.635 65,85 b)produksi telur (ribu ton) 13,4 8,2 15,8 18,9 19,1 14,88 5) Itik Manila a)populasi (ribu ekor) - - 4.938 7.645 8.680 22,78 b)produksi telur (ribu ton) - - 11,0 26,3 29,3 30,26 r Pada Tabel 1.1 tersebut nampak bahwa dari aspek ekonomi makro yaitu PDB berdasarkan angka konstan meningkat sebesar 4,39% sedangkan penyerapan tenaga kerja tumbuh sebesar 3,07% pada tahun yang sama selama periode tahun 2010 2013. Untuk investasi baik PMA maupun PMDN tumbuh sebesar Rp.44125,0 juta rupiah dan PMA US$ 15.964 ribu dollar. Kenaikan pendapatan dan kesejahteraan petani peternak (NTP) mengalami peningkatan yang masih berada dikisaran 102. Sedangkan, pada aspek perdagangan ternak, peternakan dan kesehatan hewan masih mengalami devisit ekspor dibandingkan impor. Dari variabel teknis pada Tabel 1.2 dapat dicermati bahwa peningkatan populasi dan produksi daging menunjukan bahwa semua jenis ternak mengalami peningkatan populasi kecuali kerbau yang menurun sebesar 24,91% per tahun selama periode tahun 2010 2014. Dalam periode yang sama, untuk peningkatan produksi daging, semua jenis ternak mengalami peningkatan kecuali produksi daging kambing yang menurun 1,60%, domba 3,93% dan produksi susu terjadi sedikit penurunan yaitu sebesar 0,19% per tahun. 5

1. Kinerja Fungsi Perbibitan Ternak Fungsi perbibitan ternak selama lima tahun adalah menyusun berbagai peraturan sesuai dengan kewenangannya yaitu satu peraturan pemerintah, 16 Permentan dan 29 Standard Nasional Indonesia. Selain itu, dari aspek teknis telah dilepas rumpun/galur yang dituangkan dalam 60 Keputusan Menteri Pertanian serta pewilayahan sumber bibit ternak pada dua lokasi yang ditetapkan. Dari uji zuriat telah dihasilkan delapan provenbull dan enam calon bull dari pengujian 80 ekor pejantan terpilih. Sedangkan uji performan telah menghasilkan 324 ekor sapi potong unggul asli dan lokal, induk terseleksi pada 18 kabupaten di 15 provinsi. Telah dibangun lembaga sertifikasi produk (LSpro) benih dan bibit ternak sejak tahun 2011 dan saat ini dalam proses akreditasi KAN. LSPro telah mensertifikasi bibit sapi potong dan sapi perah 136 ekor, semen beku lebih dari 3,4 juta dosis, embrio 655 embrio. Jumlah bibit yang sesuai standar surat keterangan layak bibit (LKSB) sebanyak 7.569. Kinerja operasional kegiatan perbibitan selama lima tahun adalah penguatan kelompok pembibitan ternak ruminansia sapi potong dan kerbau, kambing dan domba, serta ternak non ruminansia (ayam lokal dan kelompok kelinci dan babi). Untuk kegiatan lainnya adalah penyelamatan sapi kerbau betina produktif (insentif sapi kerbau betina bunting dan penambahan indukan sapi potong dan sapi perah), penguatan pembibitan sapi lokal asli di tiga pulau dan penguatan pembibitan sapi potong di kabupaten terpilih. Khusus untuk kerbau dilakukan pembibitan kerbau di tujuh kabupaten terpilih. Dari aspek perkreditan, pelaku usaha yang telah memanfaatkan subsidi bunga melalui Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS) relatif masih rendah. Berbeda dengan fasilitasi asuransi ternak bibit sapi potong dan sapi perah yang meningkat pemanfaatannya. Kinerja utama perbibitan ialah tercapainya swasembada semen beku tahun 2012 dan tercapainya swasembada pejantan unggul tahun 2013. Ekspor semen beku produksi dalam negeri telah dijajaki dan dilakukan ke tujuh Negara sehingga diharapkan menjadi salah satu sumber untuk meningkatkan pendapatan Negara ke depannya. 2. Kinerja Fungsi Pakan Ternak Kinerja fungsi pakan ternak yang dilaksanakan sejak tahun 2011 antara lain, yaitu: pengembangan integrasi ternak ruminansia dan ternak unggas dibeberapa kelompok dan lokasi. Untuk membantu kecukupan pakan ternak ruminansia telah dikembangkan pengembangan sumber benih/bibit HPT di UPT PUSAT dan UPT Daerah yang didistribusikan ke kelompok dalam kegiatan pengembangan sumber benih/bibit HPT. Selain 6

itu, dikembangkan pula padang penggembalaan ternak di 6 provinsi terutama di provinsi Indonesia Timur yaitu Papua Barat, NTT, NTB, Sulteng, Sultra dan Aceh. Untuk pemanfaatan lahan kehutanan telah dikembangkan HPT dilahan kehutanan pada beberapa kelompok. Selain itu, juga berhasil dilakukan pengembangan dan penanaman pakam berkalitas dan Pengembangan Unit Pengolahan Bahan Pakan (UBP), pengembang unit pengolah pakan baik untuk ruminansia maupun perunggasan. Untuk menjaga mutu pakan telah diperkuat laboratorium pakan daerah di enam lokasi serta pengawasan mutu pakan dan bimtek di seluruh provinsi. Sedangkan dari aspek regulasi telah dibuat 5 Peraturan Menteri Pertanian dibidang pakan. 3. Kinerja Fungsi Budidaya Ternak Berbagai upaya dan kegiatan yang dilakukan selama periode waktu tersebut adalah pengembangan usaha budidaya ternak 3.941 kelompok, pembangunan pos IB/ULIB 600 Kelompok dan penguatan kelembagaan IB 3.787 Unit. Selanjutnya dalam meningkatkan dalam pelaksanaan IB telah dilakukan peningkatan kapasitas petugas IB 3.792 Orang, optimalisasi IB 5.564.374 Dosis, fasilitasi N2 cair 800.610 Liter dan kendaraan roda dua petugas IB. Untuk peningkatan kawin alam telah dilakukan pengadaan pejantan INKA 9.292 Ekor. Pengembangan indukan sapi di Papua dan Papua Barat serta pengembangan sapi potong pada kegiatan UPPO, Inpres Percepatan Daerah Tertinggal dan pengembangan budidaya ternak melalui SMD dan LM3 3.091 Kelompok. Ekspor babi, kambing dan domba dan ekspor obat hewan, merupakan keberhasilan penting selama kurun waktu lima tahun terakhir. 4. Kinerja Fungsi Kesehatan Hewan Pada aspek kesehatan hewan telah dilakukan berbagai upaya dan kegiatan, yaitu: kesiap-siagaan wabah 24.203.896 dosis, penguatan kelembagaan dan sumber daya kesehatan hewan 237 unit, penguatan laboratorium pengujian dan penyidikan veteriner dan penguatan survailant PHMSZ 344.952 Sampel. Dibidang obat hewan telah ditingkatkan kapasitas produksi obat hewan, peningkatan pengujian mutu obat hewan dan revitalisasi pengawas obat hewan di berbagai daerah sebesar 24.469.659 dosis. Penanggulangan gangguan reproduksi pada sapi dan kerbau dan penyakit parasiter sebesar 781.741 dosis untuk program swasembada daging sapi telah dikerjakan selama kurun waktu lima tahun terakhir. Kemandirian vaksin AI yang berasal dari strain virus local yang berasal dari master seed yang dapat dijadikan vaksin AI sehingga impor vaksin AI dapat dihentikan. Sedangkan regulasi terkait 7

bidang kesehatan hewan mencakup 4 Peraturan Menteri Pertanian dan 3 rancangan Permentan. Pembebasan dan mempertahankan PHMS yaitu penyakit Brucellosis di pulau Madura dan pulau Sumba, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Rabies di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, DKI, Papua, Papua Barat, NTB, Kepulauan Riau, dan Kepulauan Bangka Belitung. Hog Cholera di provinsi Sumatera Barat 5. Kinerja Fungsi Kesmavet dan Pascapanen Upaya dan kegiatan untuk mendukung Kinerja Kesehatan Masyarakat Veteriner Dan Pascapanen adalah fasilitasi RPH 134 paket dan pembangunan tempat penampungan unggas 46 paket, penataan kios daging 76 unit di beberapa wilayah penting di Indonesia. Selain itu telah dilakukan pengadaan alat transportasi daging berpendingin 28 unit untuk RPH selain melengkapi jumlah cold storage 18 unit. Dibidang persusuan telah dibangun tempat pengumpulan susu di 33 kelompok peternak sapi perah. Selaian itu juga, telah dilakukan pengadaan peralatan kesmavet 88 paket dan peningkatan pelayanan teknis mutu produk hewan 94.972 sampel. Pada aspek sumber daya manusia telah dilakukan pembinaan SDM kesmavet dan pascapanen. Terkait regulasi Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen telah diterbitkan 1 Peraturan Pemerintah, 12 Peraturan Menteri Pertanian, 3 rancangan Permentan dan 1 Standart Nasional Indonesia serta dua Standart Kompetensi Kerja Nasional. Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk unit usaha pangan asal hewan 6. Kinerja Fungsi Kesekretariatan Dari aspek Kesekretariatan dan Pelaksanaan Manajemen Pembangunan Peternakan Dan Kesehatan Hewan telah dilakukan perbaikan penyusunan perencanaan program dan anggaran 528 laporan, penyusunan LHP dan evaluasi program kegiatan serta penyediaan data informasi yang berkualitas 521 Laporan. Dari aspek kepegawaian organisasi hukum 57 laporan serta administrasi perkantoran telah dibenahi berbagai laporan yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan termasuk penyusunan pelaksanaan administrasi keuangan dan asetnya yang makin berkualitas masing-masing sebesar 57 laporan dan 474 laporan. Pendataan ternak sapi potong, sapi perah dan kerbau yang merupakan kerjasama dengan BPS dengan metode sensus, pembangunan website Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, penerapan pengembangan 8

kawasan, penerapan ISO dan pelayanan rekomendasi untuk peningkatan kualitas pelayanan. Keberhasilan-keberhasilan tersebut mendorong indeks penerapan nilai budaya kerja dan indeks kepuasan masyarakat semakin meningkat dengan nilai mutu budaya kerja berklasifikasi baik dan indeks IKM juga meningkat dengan nilai baik. Dari aspek regulasi Peraturan Perundang- Undangan telah diselesaikan 5 Peraturan Pemerintah, satu Peraturan Presiden, 45 Peraturan Menteri Pertanian dan 90 keputusan menteri pertanian. Disamping itu telah dilakukan revisi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 menjadi undang-undang nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan. B. POTENSI DAN PERMASALAHAN Untuk mengetahui potensi dan permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan peternakan dan kesehatan hewan melalui kebijakan fungsifungsinya dapat dikaji melalui eksplorasi dan analisis lingkungan internal dan eksternal, yang mencakup aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weakneses), peluang (opportunity), dan ancaman (threats). Analisis lingkungan terbagi atas lingkungan internal berupa aspek kekuatan dan kelemahan, sedangkan analisis lingkungan eksternal berupa peluang dan ancaman. Hasil analisis kedua factor tersebut dengan menggunakan metode system thingking atau analisis system dynamic adalah seperti ditunjukkan pada Tabel 1.4. Tabel 1.4. Analisis Lingkungan Strategis Aspek Internal Kekuatan a. Kekayaan jenis plasma nuftah b. Tersedianya biomas pakan c. Kemampuan konservasi lahan d. Tersedianya sumber pakan lokal e. Adanya keswan & kesmavet f. Bebas PMK Kelemahan a. Kelembagaan (efektifitas kemitraan, peran koperasi, dukungan perbankan & asuransi) Aspek Eksternal Peluang a. Pasar produk peternakan b. Potensi sumber daya & penggerak pertumbuhan ekonomi c. Political will kemitraan d. Kesadaran global (food safety, biosecurity, kesejahteraan hewan, dan kualitas lingkungan) e. Perkembangan teknologi Ancaman a. Persaingan dan liberalisasi pasar b. Ketergantungan sarana produksi dari impor c. Perubahan iklim yang berpengaruh 9

Aspek Internal b. Konsistensi kebijakan dan instrumentasi kebijakan c. Tumpang tindihnya peraturan dalam produksi dan bisnis) d. Ego sektoral e. Kemampuan SDM f. Infrastuktur (kualitas RPH, sarana transportasi) g. Law enforcement, reward dan punisment Aspek Eksternal pada pengadaan pakan & keshatan hewan d. Penurunan angkatan kerja di sektor peternakan e. Penyakit eksotik f. Kesepakatan internasional yang tidak menguntungkan (terkait HKI dan animal welfare) g. Persaingan dalam penggunaan lahan dan alih fungsi lahan Kebutuhan Protein Meat Inventory (kualitas ASUH) - - Sertifikasi dan Registrasi + + Konsumsi Daging Handling/transport + Coverage - + B B1 Kapasitas Produksi Daging - B7 + Protein Substitusi + + Harga Daging - Modal + B2 R3 + + Iklim Usaha + + + Import Daging R4 + Perizinan/ Sertifikasi Populasi Sosialisasi - B3 + + Jumlah Peternak - Import Ternak B5 Herd Inventory B6 + Kapasitas Lahan Pakan Area + + Penularan Zoonosis + Kompos - - + + Kapasitas Budidaya R1 + R2 - B4 Jumlah bibit + Import Bibit + + + Pertanian + Kapasitas Produksi Pakan + + R5 + + Produksi Benih vaksin&obat + R6 R + Teknologi Peternakan Kualitas Indukan + Gambar 1.1. Peta Dinamika Sistem Faktor Strategis Lingkungan Tugas Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan 10

Pada Tabel 1.4 melalui system dinamic akan tergambarkan hubungan antar faktor-faktor tersebut yang ditunjukkan oleh causal loop keterkaitan faktor strategis yang mengambil sudut pandang komoditi daging sebagai proxy untuk ketahanan dan kemandirian pangan asal ternak. Hasilnya adalah penggunaan total variabel yang diformulasikan dalam simulasi computer stock flow diagram pada Gambar 1.1 Sedangkan manajemen pengelolaan peternakan yang dilakukan oleh lima fungsi untuk memenuhi supply chains dan divalidasi serta analisis strategi diperoleh kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman seperti pada Tabel 1.5. Tabel 1.5. Revaluasi Faktor Lingkungan Internal-Eksternal Strategis untuk Analisis Strategi Aspek Internal Kekuatan a. Kekayaan jenis b. Biomas pakan c. Pakan lokal d. Keswan & kesmavet Kelemahan a. Kelembagaan (kemitraan, koperasi, perbankan ) b. Infrastuktur Aspek Eksternal Peluang a. Pasar produk b. Kesadaran global Ancaman a. Persaingan dan liberalisasi b. Ketergantungan impor produksi c. Penurunan angkatan kerja d. Penyakit eksotik e. Alih fungsi lahan Analisis berbagai faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman berdasarkan simulasi dengan berbagai skenario baik dengan parameter tunggal maupun agregat dari parameter terpilih yang mempunyai leverage disampaikan pada Tabel 1.6. 11

Tabel 1.6. Analisis Lingkungan Strategis Untuk Analisis Strategi Kekuatan: - Kekayaan jenis - biomas pakan - pakan lokal - keswan & kesmavet Kelemahan: - Kelembagaan (kemitraan, koperasi, perbankan) - Infrastuktur Peluang: - Pasar produk - Kesadaran global Ancaman: - Persaingan dan liberalisasi - Ketergantungan impor produksi - Penurunan angkatan kerja - Penyakit eksotik alih fungsi lahan - Meningkatkan daya saing melalui pemanfaatan sumber daya lokal - Meningkatkan building capacity ayam buras - Meningkatkan maksimum security - Memetakan lahan dan sentra ternak - Pengembangan peternakan bioindustri berkelanjutan - Pengembangan sistem kesehatan hewan - Pengembangan system pendukung biobisnis peternakan - Mendistribusikan ternak dari daerah padat ke daerah pakan berlimpah - Mengembangkan kawasan perbibitan berbasis kepulauan - Mengembangkan sentra ternak dan pakan ternak berbasis tanaman - Restrukturisasi pasar peternakan - Penguatan kelembagaan usaha peternakan dan keswan - Mengembangkan system investasi - Pengembangan kawasan - Pengembangan sistem pendukung biobisnis peternakan - Penyusunan transformasi peternakan rakyat ke industri - Penguatan kelembagaan usaha peternakan dan keswan - Memperlancar arus produk peternakan - Memperkuat regulasi untuk kemandirian dan kemapanan peternak - Memperkuat infrastruktur peternakan dan keswan - Merevitalisasi kelembagaan usaha menuju koperasi - Memperkuat tataniaga dan pemberian instensif 12

BAB II VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 13

BAB II VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN Berdasarkan analisis internal dan eksternal serta menjaga konsistensi program, maka, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, menyusun Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran organisasi. A. VISI Visi ini telah mempertimbangkan keselarasan dengan Visi Presiden yang tertuang di dalam Nawa Cita yaitu Terwujudnya Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian. Demikian juga Visi Kementerian Pertanian yaitu Terwujudnya Sistem Pertanian Bio-Industri Berkelanjutan Yang Menghasilkan Beragam Pangan Sehat Dan Produk Bernilai Tambah Tinggi Berbasis Sumberdaya Lokal Untuk Kedaulatan Pangan Untuk Kesejahteraan Petani. Kedaulatan pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan pangan (asal ternak) yang menjamin hak atas pangan (asal ternak) bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk menentukan sistem pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal. Sedangkan keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. B. MISI Terwujudnya Kedaulatan dan Keamanan Pangan Asal Ternak Untuk mencapai visi terwujudnya kedaulatan dan keamanan pangan asal ternak maka Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mempunyai misi: 1. Mewujudkan kedaulatan/ kemandirian pangan asal ternak 2. Meningkatkan nilai tambah dan daya saing ternak dan produk ternak. 3. Mengembangkan peternakan dan kesehatan hewan berbasis bioindustri berkelanjutan. 4. Meningkatkan kualitas pelayanan publik bidang peternakan dan kesehatan hewan. 14

C. TUJUAN Tujuan yang hendak dicapai dalam penyelengaraan pembangunan peternakan dan kesehatan, adalah: 1. Meningkatkan populasi, produksi dan produktivitas ternak. 2. Meningkatkan kualitas komoditas ternak 3. Meningkatkan produk ternak yang ASUH dan berorientasi ekspor 4. Meningkatkan status kesehatan hewan. 5. Mengembangkan usaha peternakan yang terintegrasi 6. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak D. SASARAN Untuk mewujudkan, visi, misi dan tujuan pembangunan peternakan dan keswan, sasaran yang ingin dicapai adalah: 1. Meningkatnya produksi pangan asal ternak 2. Meningkatnya daya saing peternakan 3. Meningkatnya kesejahteraan peternak Masing-masing sasaran tersebut mempunyai indikator yang ingin dicapai selama kurun waktu 2015 2019 yang selanjutnya disebut Indikator Kinerja Utama (IKU). Adapun IKU tersebut dapat dirumuskan pada Tabel 2.1 15

Tabel 2.1. Indikator Kinerja Utama (IKU) No Sasaran Strategis 1. Peningkatan produksi pangan asal ternak 2. Peningkatan daya saing peternakan 3. Peningkatan kesejahteraan peternak Indikator a. Produksi daging sapi kerbau (000 ton) b. Produksi daging ternak lainnya (000 ton) c. Produksi telur (000 ton) d. Produksi susu (000 ton) a. Peningkatan status kesehatan hewan (terbebaskannya dari target yang telah ditetapkan) % b. Jumlah sertifikat (volume) c. Jumlah ekspor obat hewan (volume) d. Jumlah ekspor semen beku (volume) e. Jumlah ekspor produk peternakan (volume) f. Jumlah ekspor ternak hidup (volume) Nilai Tukar Peternakan (indeks) TARGET 2015 2016 2017 2018 2019 545,29 3.438,01 3.131,89 799,97 70 25.865 588,56 3.678,67 3.393,36 850,77 73 26.000 639,61 3.796,88 3.565,86 910,57 76 27.000 694,96 3.969,57 3.655,43 980,88 78 28.000 755,04 4.167,51 3.770,04 1.063,56 80 29.000 106,94 107,23 107,53 107,82 108,12 16

BAB III ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN 17

BAB III ARAH KEBIJAKAN, STRATEGI, KERANGKA REGULASI DAN KERANGKA KELEMBAGAAN A. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN Dalam kurun waktu 2015-2019 arah kebijakan yang ditempuh oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengacu dengan arah kebijakan jangka menengah pembangunan pertanian nasional. Kebijakan pembangunan pertanian tersebut adalah mewujudkan sistem pertanian bioindustri berkelanjutan yang menghasilkan beragam pangan sehat dan produk bernilai tambah tinggi berbasis sumber daya lokal untuk kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Kementerian Pertanian telah menetapkan 8 tahapan menuju pertanian industri. Tahapan periode tahun 2015-2019 dirumuskan untuk kokohnya pondasi bioindustri yang berkelanjutan, sehingga pada tahun 2045 yaitu tahapan akhir pertanian bioindustri, dapat terwujud tahapan pertanian Indonesia bermartabat, mandiri, maju, adil dan makmur. Gambar 3.1. Tahapan Menuju Pertanian Bioindustri 18

Mengacu pada rumusan di atas, maka Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada 2015-2019 menetapkan arah kebijakan Terwujudnya Kedaulatan dan Keamanan Pangan Asal Ternak mendukung kokohnya pondasi bioindustri yang berkelanjutan. Untuk mewujudkan Terwujudnya Kedaulatan dan Keamanan Pangan Asal Ternak langkah yang akan ditempuh pembangunan pertanian adalah (i) menjadikan komoditas ekspor, penyedia bahan baku bioindustri dan bio energy dengan pendekatan kawasan, (ii) meningkatkan kualitas, nilai tambah dan daya saing produk pertanian, (iii) menyediakan prasarana dan sarana dasar pertanian, (iv) memberikan perlindungan dan pemberdayaan petani, dan (v) meningkatkan tata kelola kepemerintahan yang baik. B. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN Selaras dengan arah kebijakan pembangunan pertanian maka Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan merumuskan strategi untuk pemenuhan pangan asal ternak dan pembangunan agribisnis peternakan rakyat sebagai berikut: 1. Pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik lokal Indonesia memiliki sumber daya plasma nutfah yang merupakan sumber daya genetic local yang berlimpah. Oleh karena itu pelestarian dan pemanfaatannya melalui berbagai program konversi dan pemuliabiakan harus terus dilanjutkan dan menjadi strategi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. Untuk melindungi sumber daya genetic local pemerintah telah menyusun pelestarian dan pemanfaatan ternak local yang berpotensi untuk dikembangkan yaitu: ternak asli sapi yang meliputi 6 rumpun, kerbau 6 rumpun asli, kambing 5 rumpun, domba 6 rumpun, ayam 7 rumpun, itik 13 rumpun dan kuda 1 rumpun asli. Pemerintah akan mengatur dari sisi konsumsi ternak tersebut dan pelestariannya. 2. Penguatan kawasan dan kelembagaan peternakan Pemerintahan Jokowi JK telah memutuskan untuk membangun dari pinggiran. Oleh karena itu fokus pembangunan peternakan dan kesehatan hewan diarahkan kepada pembangunan kawasan. Telah diputuskan terdapat 100 kawasan pengembangan sapi potong, 13 kawasan pengembangan kebau, 11 kawasan pengembangan kambing, 6 kawasan pengembangan sapi perah, 5 kawasan pengembangan domba dan 9 pengembangan kawasan babi diberbagai kabupaten/kota di Indonesia. Pengembangan kawasan akan memperkuat kelembagaan peternakan dan 19

kesehatan hewan yang diharapkan dapat memperkuat simpul-simpul pelayanan teknis pelayanan ekonomi lainnya. 3. Penguatan infrastruktur dan pelayanan teknis Penguatan infrastruktur dan peningkatan pelayanan teknis merupakan menjadi dua hal yang saling mendukung. Pelayanan teknis peternakan dan kesehatan hewan menjadi optimal apabila ada infrastrukturnya. Oleh karena itu dalam hal pelayanan teknis melalui fungsi-fungsi pembangunan peternakan dan keswan yaitu pelayan perbibitan, budidaya, pakan, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner dan pasca panen masing-masing memerlukan infrastruktur sesuai dengan fungsinya. Pelayanan fungsi-fungsi peternakan sangat memerlukan adanya unit pelayanan teknis yang dapat menjangkau sampai ditingkat lapangan. Oleh karena itu dalam kurun waktu 5 tahun mendatang diperlukan penguatan UPT baik UPT pusat maupun UPT daerah. Ditingkat lapangan juga akan diperkuat infrastruktur pelayanan fungsi yaitu pendirian village breeding center, lumbung pakan, puskeswan, pos IB, sampai kepada sarana padang penggembalaan terutama di wilayah timur Indonesia. 4. Pemberdayaan Peternakan dan Daya Saing Pemberdayaan peternak sesuai yang diamanahkan dalam Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2013 bahwa pemberdayaan peternak adalah segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah Kabupaten/Kota dan pemangku kepentingan di bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk meningkatkan kemandirian, memberikan kemudahan dan kemajuan usaha, serta meningkatkan daya saing dan kesejahteraan Peternak. Dengan demikian pemberdayaan peternak mencakup daya saingnya. Untuk ini akan dibuka akses dan kemudahan peternak terhadap sumber pembiayaan, permodalan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi. 5. Peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas (kualitas) SDM peternakan dan kesehatan hewan Angkatan kerja peternakan dan kesehatan hewan menunjukkan kecenderungan yang semakin menua. Hal tersebut menunjukkan bahwa lapangan usaha peternakan dan kesehatan hewan mulai tidak menarik bagi generasi muda. Data sakernas menunjukkan bahwa tenaga kerja subsektor peternakan pada tahun 2013 didominasi oleh tenaga kerja laki-laki sebanyak lebih dari 2,4 juta orang (58,7%) sedangkan komposisi tenaga kerja perempuan lebih dari 1,7 juta orang (41, 3%) pada umumnya tenaga kerja perempuan berpendidikan SD masih cukup dominan. Data sakernas menunjukkan juga bahwa lebih dari 1,6 juta orang (37,1%) berpendidikan 20

SD. Oleh karena itu, peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas SDM peternakan dan kesehatan hewan menjadi kunci dari strategi lainnya. Upaya peningkatan tersebut dilakukan melalui pendidikan formal maupun informal. Melalui program pemerintah selalu terkait di dalamnya untuk peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas SDM. 6. Penerapan Teknologi dan Sistem Informasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyadari bahwa penerapan teknologi merupakan faktor terpenting untuk peningkatan produksi dan produktivitas ternak. Saat ini tingkat kematian, angka kesakitan, pertambahan berat badan, lamanya calving interval dan masalah kurangnya pakan pada musim kemarau dan masih lemahnya penataan pemotongan ternak (TPH) disadari dapat dipecahkan dengan penerapan teknologi dibidang pembibitan, budidaya, pakan, kesehatan hewan, dan kesehatan masyarakat veteriner melalui teknologi dan bioteknologi. Penerapan teknologi dapat ditempuh dengan melakukan kerja sama dengan lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Demikian juga untuk sistem informasi akan ditempuh mengikuti perkembangan yang berbasis computer, antara lain: dibidang perencanaan sudah mulai diterapkan e- planning dan bidang pengadaan barang dan jasa melalui e-procurement. Dibidang teknis pelayanan dikembangkan sms gateway untuk pemotongan ternak dan ISIKHNAS untuk kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, menjadi bagian e-government. 7. Penguatan Regulasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Dalam hal regulasi penguatan akan terus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan telah direvisi menjadi Undang-Undang No. 41 tahun 2014 tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan. Sebagai turunannya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah banyak menyusun Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri Pertanian. Sesuai dengan perkembangan, berbagai peraturan tersebut akan mengalami penambahan, revisi, atau pencabutan. 8. Mendorong insentif peternakan Mendorong insentif peternakan akan dilakukan ditngkat peternak maupun badan usaha berbentuk koperasi, BUMN, BUMD dan Perusahaan. Insentif dapat diberikan dalam pemberian bantuan modal khususnya kepada peternak sasaran, pembebasan bea masuk untuk bibit, pembebasan pajak 21

dan berbagai kemudahan lainnya untuk menarik investasi. Diakui bahwa investasi di bidang peternakan dan kesehatan hewan realisasinya masih rendah tidak sesuai harapan. Dalam rangka menuju kemandirian dan keamanan pangan menuju bioindustri peternakan dan kesehatan hewan maka berbagai bentuk insentif akan dikembangkan sesuai dengan peraturan perundangan. Insentif mengandung arti perlindungan terhadap petani peternak dan sumber daya lokal. Oleh karena itu bentuk-bentuk insentif ini akan berbeda dengan untuk korporasi. 9. Perbaikan Tata Niaga Ternak dan Produk Ternak Mata rantai yang panjang komoditas ternak dan produknya sudah lama disadari. Tata niaga ternak potong yang sangat panjang dari wilayah produsen ternak di NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan ke Jakarta sebagai wilayah konsumen menyebabkan peternak menerima margin keuntungan yang kecil dibandungkan pedagang, distributor dan pengecer. Untuk peternakan unggas khususnya ayam ras masalah tata niaga dan pemasaran produknya terjadi sebagai akibat pertentangan antara peternak mandiri, kemitraan dan perusahaan. Perusahaan cenderung mengusahakan dalam usaha yang terintegrasi sehingga usahanya menjadi lebih efisien. Dalam kurun waktu lima tahun kedepan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan akan meningkatkan koordinasi lintas sektor khususnya dengan Kementerian terkait. Dengan Kementerian Perhubungan terus dijajaki adanya pengadaan kapal ternak untuk lebih meningkatkan pendapatan peternak di daerah produsen sebagai akibat berkurangnya kerugian pasca panen. Selain itu di daerah-daerah produsen ternak akan dibangun rumah potong hewan (RPH) modern sehingga angkutan ternak digantikan oleh mata rantai dingin untuk mengurangi perlakuan yang tidak sesuai dengan kaidah animal welfare. Dengan Kementerian Perdagangan terus akan dilakukan kerjasama dalam bentuk tim misalnya tim harga agar harga tidak naik dan menyesuaikan dengan suplay ternak lokal. C. KERANGKA REGULASI DAN KELEMBAGAAN Operasionalisasi dari kebijakan tersebut memerlukan piranti regulasi sehingga kebijakan dapat terlaksana dengan baik di lapangan. 1. Kerangka Regulasi Kerangka regulasi adalah kebutuhan regulasi yang diperlukan dalam rangka kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kepentingan para stakeholder. Selama kurun waktu 2015 2019 regulasi yang dibutuhkan banyak terkait dengan peraturan daerah yang mengatur: tataruang peternakan dan keswan; pengendalian 22

pemotongan betina produktif; penetapan kawasan peternakan; pengembangan ternak dilahan sawit/hutan, pelayanan kesehatan masyarakat veteriner dan pascapanen. Selain itu akan didorong dan diarahkan badan, instansi dan berbagai perusahaan untuk mengembangkan CSR/BKBL di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Tata ruang memerlukan regulasi di bidang lahan yaitu percepatan penerbitan pergub/perbup untuk penyempurnaan peraturan daerah nomor 41/2009. Di bidang sarana dan prasarana serta pembiayaan diperlukan regulasi sarana peternakan untuk pengembangan sistem perbenihan dan mempercepat serta mempermudah persyaratan akses peternak pada skim kredit. Untuk perlindungan peternak sebagai implementasi Undang- Undang Nomor 19/2013 masih perlu dikembangkan beberapa peraturan pemerintah dan peraturan menteri pertanian. Kebutuhan regulasi lainnya terkait dengan bidang ekspor dan impor produk peternakan dan regulasi untuk kemudahan investasi pada sector peternakan dan kesehatan hewan. 2. Kerangka Kelembagaan Kelembagaan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan selama ini mengacu pada Permentan Nomor 61 Tahun 2010 sebagai bagian dari organisasi Kementerian Pertanian, kelembagaan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan kurun waktu 2015 2019 akan terus menyesuaikan dengan tuntutan pelayanan masyarakat. Saat ini dirasakan perlunya tambahan organisasi atau unit kerja baru atau penggabungan unit kerja. Pelayanan yang dirasa mendesak adalah pelayanan untuk pembinaan dan pengembangan rumah potong hewan dan perbibitan untuk memperbaiki sistem yang sudah terbentuk. Di samping itu, sudah dirasakan adanya tumpang tindih beberapa unit kerja dan beberapa kegiatan yang dilaksanakan di lapangan. Oleh karena itu, kelembagaan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan akan menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan manajemen yang selalu berubah. Organisasi maupun kelembagaan perubahan secara dinamis tersebut menyesuaikan dengan organisasi dan kelembagaan lintas sektor atau lintas kementerian serta lintas wilayah dengan pemda dan pihak swasta. 23

BAB IV PROGRAM DAN KEGIATAN 24

BAB IV PROGRAM DAN KEGIATAN A. PROGRAM Dengan melihat berbagai permasalahan, potensi dan tantangan serta peluang yang telah dianalisis berdasarkan analisis SWOT dengan pendekatan system dynamic maka dalam tahun anggaran 2015-2019 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah merumuskan programnya yaitu Pemenuhan Pangan Asal Ternak dan Agribisnis Peternakan Rakyat. Terdapat 2 (dua) kata kunci dalam program tersebut, yaitu: pemenuhan pangan asal ternak yang mengarah pada pencapaian peningkatan populasi dan produksi ternak (daging, telur dan susu). Kata kunci kedua adalah agribisnis peternakan rakyat yang m Terdapat 2 (dua) kata kunci dalam program tersebut, yaitu: pemenuhan pangan asal ternak yang mengarah pada pencapaian peningkatan populasi dan produksi ternak (daging, telur dan susu). Kata kunci kedua adalah agribisnis peternakan rakyat yang mengarah pada peningkatan daya saing peternakan dan kesehatan hewan. Program ini dilakukan dengan pendekatan ekonomis, pendekatan agribisnis dan pendekatan teknis. Dengan pendekatan ekonomis yaitu perbaikan tataniaga ternak dan produk ternak, mendorong insentif peternakan dan pemberdayaan peternak maka sasarannya adalah peningkatan produksi daging, telur dan susu. Sasaran lainnya adalah pengembangan ekspor dan daya saing yang mencakup komoditas kambing dan babi serta produk ternak berupa kulit, tanduk, semen beku dan obat hewan. Nilai tukar peternak juga menjadi sasaran dengan pendekatan ekonomis. Pendekatan agribisnis berupa penguatan kawasan dan kelembagaan peternakan, regulasi peternakan dan kesehatan hewan serta penerapan teknologi dan sistem informasi. Adapun yang menjadi fokus komoditas dan lokasinya adalah pengembangan delapan komoditas peternakan sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, domba, ayam lokal, itik, babi dan ayam ras yang mengarah pada pengolahan. Melalui pendekatan agribisnis juga akan dikembangkan pengembangan kawasan dan peternakan komunal. Pendekatan teknis yaitu penguatan infrastruktur pelayanan teknis peternakan dan kesehatan hewan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetic lokal serta peningkatan jumlah dan penguatan kapasitas SDM peternakan dan kesehatan hewan melalui kegiatan utama: produksi ternak, produksi pakan ternak, produksi bibit ternak, peningkatan penanganan kesehatan hewan dan penjaminan pangan yang ASUH dan pascapanen. 25

Program dan kegiatan ini diarahkan untuk tercapainya produksi pangan asal ternak untuk mencapai kemandirian dan kedaulatan pangan nasional. B. KEGIATAN Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 pasal 1 disebutkan bahwa pengertian Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja pada kementerian Negara/lembaga atau unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. Sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, maka kegiatan utama yang akan diimplementasikan dalam tahun 2015-2019 adalah kegiatan produksi bibit ternak, produksi ternak, produksi pakan ternak, penanganan PHMS, jaminan pangan yang ASUH dan kegiatan dukungan manajemen teknis. Hasil kinerja utama fungsi kegiatan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang ingin dicapai adalah: 1. Fungsi perbibitan. a. Produksi Bibit Ternak, dengan indicator; Jumlah produksi semen beku (dosis); Jumlah produksi embrio ternak (embrio);jumlah produksi bibit ternak ruminansia (ekor); Jumlah produksi bibit ternak unggas dan babi (ekor); b. Penguatan Kelembagaan Perbibitan, dengan indicator, Jumlah kelompok pembibitan ternak yang menerapkan prinsip-prinsip pembibitan; Jumlah penetapan wilayah sumber bibit dan penetapan/pelepasan rumpun/galur ternak (Kepmentan); Jumlah kelompok pembibitan yang berbadan hukum (kelompok); dan Jumlah kelembagaan yang menerapkan manajemen mutu (unit); c. Jaminan mutu bibit, dengan indicator Jumlah bibit bersertifikat (sertifikat); Jumlah bibit ber SKLB. 2. Fungsi budidaya ternak a. Perbaikan manajemen pemeliharaan ternak, dengan indicator: Penurunan Calving Interval (bulan); Penurunan SC (rasio); Jumlah kebuntingan hasil IB (ekor); Jumlah kebuntingan hasil Kawin Alam (ekor); Jumlah kelahiran hasil IB dan Kawin Alam (ekor); Jumlah 26

kelahiran ternak lainnya (kambing, domba, babi) (ekor); Jumlah ternak unggas siap potong (ekor); Jumlah telur yang dihasilkan (kg); Jumlah surat keterangan atau sertifikat penerapan prinsip-prinsip GFP. b. Penguatan Usaha dan Kelembagaan Peternak, dengan indikator Jumlah kelompok ternak yang berbadan hukum (klpk); Jumlah kelompok/gapoktan yang mampu mengakses sumber pembiayaan (klpk); Jumlah kawasan peternakan yang terbangun (lokasi); Jumlah plasma peternak unggas (peternak); Jumlah regulasi bidang budidaya ternak. 3. Fungsi pakan ternak a. Produksi HPT berkualitas, dengan indikator; jumlah produksi HPT (ton/bk); Jumlah bibit/benih HPT (stek) b. Produksi pakan olahan dan bahan pakan, dengan indikator; Jumlah produksi pakan olahan dan bahan pakan (ton); peningkatan PBBH (kg/ekor/hari); dan Peningkatan produksi susu (liter/ekor/hari) c. Peningkatan mutu dan keamanan pakan, dengan indikator: penerbitan sertifikat mutu, NPP dan CPPB 4. Fungsi kesehatan hewan a. Peningkatan status kesehatan hewan, dengan indikator, Jumlah wilayah kejadian penyakit berbasis surveilans (wilayah); Jumlah wilayah pencegahan dan pemberantasan PHMS (wilayah); Jumlah wilayah penanganan gangguan reproduksi (wilayah); Jumlah pembebasan wilayah PHMS (wilayah); Jumlah wilayah bebas PHMS (wilayah) b. Jumlah sertifikat yang diterbitkan, dengan indicator: CPOHB; Nomor pendaftaran obat hewan; Kompartemen bebas AI; Kesehatan hewan ekspor-impor (SRP) c. Peningkatan produksi vaksin dan bahan biologik serta obat hewan, dengan indikator: Jumlah produksi vaksin, bahan biologik dan obat hewan (dosis) d. Peningkatan pelayanan kesehatan hewan, dengan indikator: Jumlah unit pelayanan kesehatan hewan e. Penguatan sistem informasi kesehatan hewan nasional, dengan indikator: Jumlah kabupaten/kota yang telah menerapkan isikhnas 5. Fungsi kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen a. Jaminan Keamanan Pangan Asal Ternak, dengan indikator; Jumlah pengujian produk pangan asal ternak (sampel); Jumlah NKV (unit usaha); Jumlah Sertifikat Pangan Asal Ternak (buah) 27

b. Jumlah unit yang menerapkan prinsip pencegahan penularan zoonosis (unit ) c. Jumlah unit yang menerapkan kesrawan (unit) d. Pemenuhan persyaratan teknis produk ternak prospektif, dengan indikator: Jumlah sertifikat/surat Keterangan produk ternak prospektif 6. Fungsi kesekretariatan a. Implementasi SAKIP, dengan indicator penilaian SAKIP; kontribusi opini BPK terhadap kinerja pembangunan b. Sistem informasi, dengan indicator; sistem informasi yang terpelihara, dan jumlah sistem informasi yang dibangun c. Informasi capaian kinerja, dengan indicator, jumlah dan kualitas capaian kinerja dan ketepatan waktu penyampaian informasi kinerja d. NSPK dan regulasi, dengan indicator, jumlah NSPK yang diterbitkan, jumlah regulasi yang diterbitkan e. IPNBK dan IKM, dengan indicator: Indeks IPNBK dan IKM f. Kualitas pelayanan informasi publik. Untuk menghasilkan kinerja output fungsi tersebut, akan dilakukan berbagai aktifitas kegiatan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, sebagai berikut: 1. Meningkatkan produksi bibit ternak : a. Meningkatkan produksi benih ternak (dosis) b. Meningkatkan produksi bibit ternak (ekor) c. Memperkuat kelembagaan perbibitan ternak (kelompok) d. Memperkuat wilayah perbibitan 2. Meningkatkan produksi ternak : a. Mengembangkan budidaya sapi potong, sapi perah dan kerbau yang menerapkan GFP (kelompok) b. Mengembangan ruminansia kecil yang menerapkan GFP (kelompok) c. Mengembangakan budidaya ternak unggas dan aneka ternak yang menerapkan GFP (kelompok) d. Memperkuat kelembagaan peternak (kegiatan) e. Optimalisasi IB dan gertak berahi (akseptor) 3. Meningkatkan produksi pakan ternak : a. Mengembangkan HPT (stek) b. Mengembangkan pakan olahan/bahan pakan (ton) c. Mengembangkan mutu dan keamanan pakan (sampel) 28

4. Meningkatkan penanganan PHMSZ : a. Melaksanakan Pengendalaian, pencegahan dan pemberantasan PHMSZ (dosis) b. Melaksanakan Penyidikan dan pengujian penyakit hewan dan sertifikasi obat hewan (sampel) c. Memperkuat kelembagaan otovet (unit) d. Memproduksi vaksin dan bahan biologis (dosis) e. Memperkuat Siskeswanas (provinsi) 5. Peningkatan jaminan pangan yang ASUH : a. Menerapkan penjaminan produk hewan yang ASUH (unit) b. Mencegah penularan zoonosis (unit) c. Melaksanakan penerapan Kesrawan (unit) d. Melaksanakan pemenuhan pesyaratan teknis produk hewan prospektif (unit usaha) 6. Peningkatan dukungan manajemen teknis dan kesekretariatan : a. Melaksanakan penerapan SAKIP (Dokumen) b. Melaksankan dukungan kesekretariatan lainnya 29

BAB V PEMBIAYAAN DAN INDIKATOR KINERJA UTAMA 30

BAB V PEMBIAYAAN DAN INDIKATOR KINERJA UTAMA A. PEMBIAYAAN Pembiayaan untuk pembangunan peternakan dan kesehatan hewan dapat berasal dari sektor pemerintah, swasta dan masyarakat. Dari sektor pemerintah dapat dilakukan melalui dana APBN, APBD provinsi dan APBD kabupaten/kota, sedangkan dari sektor swasta dapat berasal dari PMA dan PMDN dan dari sektor masyarakat berupa swadaya masyarakat untuk investasi di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Pembiayaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan PDB peternakan dan membuka kesempatan kerja. 1. Pembiayaan Dari Pemerintah (APBN dan APBD) Dalam rangka mencapai visi dan misi yang telah ditetapkan, maka Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan diharapkan dapat merumuskan kebijakan dan melaksanakan kebijakan, menggerakkan fungsi-fungsi peternakan dan kesehatan hewan di bidang pengembangan perbibitan, pakan, budidaya ternak, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner dan pascapanen serta meningkatkan kualitas pelayanan publik dibidang peternakan dan kesehatan hewan. Fungsi APBN diharapkan dapat menjadi faktor stabilisasi, distribusi dan alokasi untuk mengungkit berbagai kegiatan yang ada di masyarakat. Adapun pembiayaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang bersumberkan dari APBN selama tahun 2015 2019 disampaikan pada Tabel 5.1. Tabel 5.1. Pembiayaan Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2015-2019 Anggaran (Rp. Miliar) TOTAL No FUNGSI 2015 2016 2017 2018 2019 1 Perbibitan 370,79 555,00 571,00 600,00 630,00 2.726,79 2 Budidaya 1.209,65 1.129,41 1.417,84 1.541,04 1.682,40 6.980,35 3 Pakan 887,63 746,13 800,43 874,00 980,00 4.288,18 4 Keswan 402,01 420,45 444,49 455,97 531,21 2.254,12 5 Kesmavet PP 178,90 192,30 201,22 210,78 220,80 1.004,02 6 Sekretariat 293,80 316,30 331,30 347,40 364,70 1.653,51 TOTAL 3.3342,78 3.359,59 3.766,28 4.029,20 4.409,11 18.906,96 31

Alokasi APBN tersebut yang tersedia untuk berbagai fungsi peternakan dan kesehatan hewan diharapkan dapat menjadi pengungkit pertumbuhan PDB peternakan, menggaet investasi, serta membuka kesempatan lapangan kerja yang baru dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Pembiayaan dari APBD, jumlahnya diharapkan sebesar 30% dari APBN dan bersinergi dengan aktifitas kegiatan yang muaranya mendukung pencapaian target kinerja IKU dan fungsi kegiatan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. 2. Pembiayaan Dari Sektor Swasta Pembiayaan dari sektor swasta baik berasal dari PMA dan PMDN harus terus ditingkatkan terutama difokuskan di berbagai wilayah kawasan Indonesia Timur karena selama ini penanaman modal masih terkonsentrasi di kawasan barat Indonesia. Peluang dan potensi investasi sektor swasta di Indonesia Timur terbuka luas terutama dengan peternakan dan sistem ranch serta berbagai industri pendukungnya. Kebijaksanaan pemerintah yang banyak memberikan kemudahan investasi di Indonesia Timur dapat berupa kemudahan perijinan, hak guna lahan, tax holiday, skim kredit khusus akan mendorong pihak swasta menanamkan investasinya. 3 Pembiayaan Dari Masyarakat Pembiayaan dari masyarakat dapat berbentuk investasi dibidang pembibitan atau re-investasi ternak yang dimilikinya. Dibandingkan dengan pembiayaan dari APBN dan swasta ternyata pembiayan dari masyarakat cukup besar sehingga pembiayaan dari masyarakat merupakan faktor utama dalam pembiayaan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. B. INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) DAN ARSITEKTUR DAN INFORMASI KINERJA (ADIK) 1. Indikator Kinerja Utama Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Sedangkan program merupakan instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan. Kegiatan adalah penjabaran 32

dari program yang rumusannya mencerminkan tugas dan fungsi eselon II/ Satker/Penugasan tertentu yang berisikan komponen untuk mencapai keluaran dengan indikator kinerja yang terukur. Sasaran program (outcome) adalah hasil yang akan dicapai dari suatu program dalam rangka pencapaian sasaran strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan yang mencerminkan pelaksanaan kinerja fungsi atau berfungsinya keluaran (output). Outcome tersebut merupakan agregasi dan atau sinergitas berbagai output fungsi kegiatan yang mencerminkan kinerja fungsi dalam program tersebut. Ukuran keberhasilan kinerja Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam menjalankan fungsinya, dilihat dari Indikator Kinerja Utama (IKU) program. Sedangkan pada level eselon II, ukuran kinerja fungsi kegiatan, dicerminkan dalam Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) dan IKU. Adapun berdasarkan struktur posisi IKU dan IKK dapat dicerminkan pada Gambar 5.1. PKH INPUT LEVEL ORGANISASI AKTIFITAS PKH OUTPUT DAN INDIKATOR ES I LEVEL FUNGSI OUTCOME DAN INDIKATOR IKU BIT INPUT BIT AKTIFITAS BIT OUTPUT ES II DAN INDIKATOR BUD INPUT BUD AKTIFITAS BUD OUTPUT ES II DAN INDIKATOR PAK INPUT PAK AKTIFITAS PAK OUTPUT ES II DAN INDIKATOR KH INPUT KH AKTIFITAS KH OUTPUT ES II DAN INDIKATOR KMV INPUT KMV AKTIFITAS KMV OUTPUT ES II DAN INDIKATOR Komponen kegiatan IKK Gambar. 5.1 Struktur IKU dan IKK dalam ADIK 33

2. Arsitektur Dan Informasi Kinerja (ADIK) Sesuai dengan undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengamanatkan agar penganggaran di Indonesia menggunakan cara penganggaran berbasis kinerja dengan orientasi pada outcome. Seiring dengan semangat untuk menerapkan secara penuh performan base budgeting diperlukan penguatan rencana strategis dengan penataan arsitektur kinerja dalam Rencana Kerja Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKAKL). Arsitektur kinerja tersebut menggunakan pendekatan kerangka logika (logik model) program dengan basis pada outcome yang komponennya terdiri atas outcome, output, aktivitas, input dengan berbagai indikator dan target untuk masing-masing outcome dan output. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah menyusun kerangka logik model yang dituangkan dalam ADIK untuk tahun 2016 2019. Di dalam ADIK tersebut disebutkan sebagai input adalah anggaran, SDM, gedung dan bangunan, peralatan dan mesin, prasarana dan sarana, data dan informasi, NSPK dan organisasi kelembagaan peternakan dan kesehatan hewan. Dengan input tersebut maka outcome yang diharapkan adalah sasaran IKU berupa peningkatan produksi pangan asal ternak, peningkatan daya saing peternakan, dan peningkatan kesejahteraan peternak. Memenuhi Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara maka Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan telah menyusun ADIK untuk tahun 2015 2019. ADIK Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan disajikan pada Lampiran- 1. Untuk mengetahui keterkaitan antara outcome dengan output maka ditampilkan output masing-masing eselon II yang bersinergi untuk menghasilkan output eselon I untuk menghasilkan outcome Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Adapun keterkaitan masingmasing output dan aktifitas eselon II untuk menghasilkan outcome Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan disampaikan pada Lampiran-2. Rincian target kinerja program dan kegiatan serta alokasi dananya per tahun dalam kurun waktu tahun 2015 2019 disajikan pada Tabel 5.2. 34

Tabel 5.2 Indikator Kinerja dan Kebutuhan Pendanaan Peternakan dan Kesehatan Hewan 2015-2019 NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR PROGRAM PEMENUHAN PANGAN ASAL TERNAK DAN AGRIBISNIS PETERNAKAN RAKYAT 1. Meningkatnya produksi pangan Produksi Daging Sapi/Kerbau (ribu asal ternak ton) TARGET PRAKIRAAN MAJU 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 545,29 588,56 639,61 694,96 755,04 Produksi Daging ternak lainnya 3.438,01 3.678,67 3.796,88 3.969,57 4.167,51 (ribu ton) Produksi Telur (ribu ton) 3.131,89 3.393,36 3.565,86 3.655,43 3.770,04 Produksi Susu (ribu ton) 799,97 850,77 910,57 980,88 1.063,56 ALOKASI (Rp Miliar) PRAKIRAAN MAJU TOTAL ALOKASI 2015-2019 (Rp Miliar) 3.342,78 3.359,59 3.766,28 4.029,20 4.409,11 18.906,96 2. Meningkatnya daya saing peternakan 3. Meningkatnya kesejahteraan peternak Peningkatan status kesehatan hewan (%) 70 73 76 78 80 Jumlah sertifikat (buah) 25.000 26.000 27.000 28.000 29.000 Nilai Tukar Peternak 106,94 107,23 107,53 107,82 108,12 1 Peningkatan Produksi Ternak 1.209,65 1.129,41 1.417,84 1.541,04 1.682,40 6.980,34 Meningkatnya Manajemen 0 001 Pemeliharaan Ternak Mendukung Pengembangan budidaya Ternak 1.075 1.075 1.136 1.167 2.909 621,226 467,863 668,017 687,785 708,115 3.153,01 Peningkatan Populasi dan Produksi Potong (kelompok) 002 Ternak Pengembangan ternak perah 111 122 134 148 163 54,667 40,507 46,822 54,335 63,307 259,64 (kelompok) 003 Pengembangan Budidaya Ternak 245 310 325 341 359 56,088 61,000 64,140 67,782 71,347 320,36 Unggas dan Aneka Ternak (kelompok) 004 Penguatan Usaha dan Kelembagaan Peternak (Kegiatan) 15 50 60 70 85 46,134 72,571 89,994 111,692 138,735 459,13 005 Optimalisasi IB dan Sinkronisasi Berahi (akseptor) 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 2.000.000 431,540 487,470 548,869 619,447 700,892 2.788,22 35

NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR TARGET PRAKIRAAN MAJU ALOKASI (Rp Miliar) PRAKIRAAN MAJU 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 TOTAL ALOKASI 2015-2019 (Rp Miliar) 2 Peningkatan Produksi Pakan Ternak 887,63 746,13 800,43 874,00 980,00 4.288,18 Meningkatnya ketersediaan pakan ternak 001 Pengembangan Hijauan Pakan Ternak (Ha) 5.368.000 10.000 11.000 12.000 13.000 659,718 480,375 518,275 557,575 604,500 2.820,44 002 Pengembangan Pakan 20.493 14.405 14.535 16.765 18.510 174,972 185,300 206,700 248,600 300,300 1.115,87 Olahan/Bahan Pakan (ton) 003 Pengembangan Mutu dan Keamanan Pakan (sampel) 6.700 7.600 7.850 8.100 8.350 52,937 80,450 75,450 67,825 75,200 351,86 3 Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan Menular Strategis dan Penyakit Zoonosis Meningkatnya Status Kesehatan Hewan 001 Pengendalian, pencegahan dan pemberantasan Penyakit Hewan Menular Strategis Zoonosis (PHMSZ), Viral, Bakterial, parasit dan gangguan reproduksi (dosis) 002 Pengujian Penyakit Hewan dan sertfikasi obat hewan (sampel) 003 Penguatan Kelembagaan Otoritas Veteriner (wilayah) 004 Produksi vaksin dan bahan biologik (dosis) 005 Penguatan Sistem Kesehatan Hewan Nasional (SISKESWANNAS)/ wilayah 402,01 420,45 444,49 455,97 531,21 2.254,12 4.276.556 4.800.000 5.400.000 6.000.000 7.100.000 212,319 123,563 132,803 135,945 173,368 778,00 131.600 284,575 188.800 225.000 270.000 60,722 101,613 108,679 111,679 115,940 498,63 34 34 34 34 34 76,929 93,374 97,695 98,035 124,990 491,02 8.377.775 8.500.000 8.550.000 8.600.000 8.700.000 18,910 86,148 88,414 93,414 100,746 387,63 34 34 34 34 34 33,130 15,753 16,895 16,895 16,162 98,84 36

NO PROGRAM/KEGIATAN SASARAN INDIKATOR 4 Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Benih dan Bibit Meningkatnya kualitas dan kuantitas benih dan Bibit 001 Peningkatan Produksi Benih Ternak (Dosis) 002 Peningkatan Produksi Bibit Ternak (Ekor) 003 Penguatan Kelembagaan dan Wilayah Perbibitan Ternak (Sertifikat/SKLB) TARGET PRAKIRAAN MAJU 2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019 35 ALOKASI (Rp Miliar) PRAKIRAAN MAJU TOTAL ALOKASI 2015-2019 (Rp Miliar) 370,79 555,00 571,00 600,00 630,00 2.726,79 4.803.800 5.050.000 5.150.000 5.400.000 5.650.000 83,279 87,267 91,500 93,733 94,386 450,16 460.676 535.000 565.000 595.000 630.000 219,167 291,702 293,573 304,653 315,276 1.424,37 3.756.065 4.050.000 4.150.000 4.350.000 4.550.000 68,343 176,031 185,927 201,614 220,338 852,25 5 Penjaminan Produk Hewan yang ASUH dan Berdaya Saing 178,90 192,30 201,22 210,78 220,80 1.004,02 Meningaktanya produksi hewan yanga ASUH dan Berdaya Saing 001 Penjaminan Produk hewan yang 79 120 166 173 180 167,07 175,43 184,20 193,41 203,08 923,19 ASUH (unit) 002 Pencegahan penularan zoonosis 22 30 30 30 30 5,72 7,55 7,80 8,15 8,50 37,72 (unit) 003 Penerapan Kesejahteraan Hewan 29 40 40 40 40 4,29 7,10 7,10 7,10 7,10 32,69 (unit) 004 Pemenuhan Persyaratan Teknis Produk Hewan Prospektif (unit) 8 20 25 25 25 1,82 2,23 2,13 2,13 2,13 10,42 6 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Ditjen Peternakan dan Keswan 293,80 316,30 331,30 347,40 364,70 1.653,51 Terjaminnya dukungan manajemen teknis 001 Penerapan SAKIP (dokumen) 726 656 665 670 676 93,01 101,46 101,42 101,43 101,52 498,84 002 Kegiatan kesekretariatan lainnya (bulan) 12 12 12 12 12 200,79 214,84 229,88 245,97 263,19 1.154,67 36 37

C. PENGUKURAN KINERJA Penganggaran berbasis kinerja merupakan penyusunan anggaran yang dilakukan dengan memperhatikan antara pendanaan dengan output dan outcome yang diharapkan, termasuk efisiensi dalam pencapaian output dan outcome tersebut. Sesuai pasal 7, PP Nomor 21 Tahun 2004 Direktorat Jenderal Peternakan dan Keswan diharuskan menyusun anggaran dengan mengacu kepada indikator kinerja, standar biaya dan evaluasi kinerja. Pengukuran kinerja dimaksudkan untuk mempermudah para perencana di pusat dan daerah dalam menyusun rencana program/kegiatan dan rancangan outcome dan outputnya. Selain itu juga bermanfaat untuk mempermudah pelaksana dalam melaksanaakan program/kegiatan dan mempermudah evaluator dan auditor dalam mengevaluasi kinerja dan audit kinerja. Oleh karena itu dalam menetapkan pengukuran indicator kinerja dapat dilakukan dengan melengkapi informasi indikator kinerja yang sekurangt-kurangnya terdiri dari 13 informasi yang mencakup hal-hal seperti pada Tabel 5.3. Sedangkan sebagai acuan dalam evaluasi keberkaitan variable teknis telah disusun target per propinsi untuk sasaran populasi (Lampiran 3 s.d 12); sasaran produksi daging (Lampiran 13 s.d 21); sasaran produksi telur (Lampiran 22 s.d 24); dan sasaran produksi susu (Lampiran 25). Untuk menghasilkan evaluasi kinerja yang obyektif dan seragam, dalam pelaksanaanya diperlukan standard pengukuran terhadap indicator kinerja yang telah ditetapkan. Untuk itu perlu disusun Standard Baku Pengukuran Indikator Kinerja (SBIK) yang disusun terpisah dari Dokumen Rencana Strategis Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan. 38

Tabel. 5.3. Kriteria Pengukuran Indikator Kinerja NO INFORMASI INDIKATOR KINERJA KETERANGAN 1. Nama Indikator Mengidentifikasi nama dan kategori indicator (indicator output/outcome) 2. Tujuan/Kepentingan Menjelaskan apa yang ingin dicerminkan dari sebuah indicator dan mengapa indikatir itu oenting 3. Metode Penghitungan Menggambarkan cara menghitung indicator 4. Tipe Penghitungan Merupakan indicator kinerja yang bersifat kumulatif atau non kumulatif 5. Indikator Baru Mengidentifikasi indicator baru atau indicator lama yang berubah sasaran kinerjanya di banding tahun sebelumnya. 6. Kinerja yang Diharapkan Mengidentifikasikan tingkat dan arah kinerja yang diharapkan 7. Standart Indikator Mengidentifikasi kinerja yang dapat diterima 8. Penanggungjawab Indikator Mengidentifikasi tanggung jawab secara organisasi mengenai definisi, analisis data, interpretasi dan pelaporan yang terkait dengan indicator 9. Pengelola Data Indikator Mengidentifikasi unit organisasi penanggungjawab dalam pengumpulan dan penyediaan data indicator sesuai jadwal 10. Waktu Pelaksanaan Pengumpulan Tanggal/bulan yang ditetapkan untuk Data Indikator memulai pengumpulan data indicator 11. Jadwal Pelaporan Mengidentifikasi apakah indicator dilaporkan pertigabulan,persemester/ataupertahun 12. Sumber/Pengumpulan Data Menggambarkan dari mana informasi di dapat dan bagaimana pengumpulannya 13. Hambatan Pengumpulan Data Mengidentifikasi hambatan pengumpulan data dan informasi terkait dengan pengukuran kinerja Pengukuran Indikator Kinerja program dan kegiatan Ditjen Peternakan dan Keswan akan ditetapkan lebih lanjut dalam Pedoman Standard Baku Pengukuran Indikator Kinerja (SBIK). 39

BAB VI PENUTUP 36 40

BAB VI PENUTUP Rencana Strategis Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan 2015-2019 merupakan dokumen perencanaan jangka menengah kurun waktu 5 (lima) tahun yang memuat visi, misi, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan prioritas. Dokumen Rencana Strategis tersebut merupakan panduan bagi pimpinan untuk menghasiikan rancangan program dan kegiatan yang konsisten sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian, diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan standard dan rencana kerja serta evaluasi selama tahun 2015-2019. Implementasi Rencana Strategis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 2015-2019 setiap tahun masih harus disusun dokumen Rencana Kerja Tahunan (RKT). Dokumen tersebut, masih dimungkinkan mengalami penyesuaian berdasarkan kebutuhan menyesuaikan perubahan kebijakan, permasalahan, dan hasil evaluasi pelaksanaan program pembangunan peternakan dan kesehatan hewan. Menyadari bahwa pencapaian pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tidak mudah, maka hanya dengan tekad dan integritas para penyelenggara negara di Lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, disertai dengan intensitas koordinasi dengan pelaksana pembangunan di daerah dan Eselon I lingkup Kementerian Pertanian dan Instansi Terkait, maka tujuan dan sasaran pembangunan peternakan dan kesehatan hewan akan dapat dicapai. 41

LAMPIRAN 42

Lampiran 1. Arsitektur Dan Informasi Kinerja (ADIK) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan INPUT AKTIFITAS OUTPUT OUTCOME 1. Anggaran 2. SDM 3. Gedung dan bangunan 4. Peralatan dan mesin 5. Prasana dan sarana 6. Data dan informasi 7. NSPK 8. Kelembagaan Peternakan 1. Meningkatkan Produksi Bibit Ternak a. Meningkatkan produksi benih ternak (dosis) b. Meningkatkan produksi bibit ternak (ekor) c. Memperkuat kelembagaan perbibitan ternak (kelompok) d. Memperkuat wilayah perbibitan 2. Meningkatkan Produksi Ternak a. Mengembangkan budidaya sapi potong, sapi perah dan kerbau (kelompok/gfp) b. Mengembangan ruminansia kecil (kelompok/gfp) c. Mengembangakan budidaya ternak unggas dan aneka ternak (kelompok/gfp) d. Memperkuat kelembagaan peternak (kegiatan) e. Optimalisasi IB dan Gertak berahi 3. Meningkatklan Produksi Pakan Ternak a. Mengembangkan HPT (stek) b. Mengembangkan pakan olahan/bahan pakan (ton) c. Mengembangkan mutu dan keamanan pakan (sampel) 1.1 Peningkatan populasi ternak Indikator: a. Peningkatan kelahiran b. Penurunan kematian 1.2 Peningkatan produksi daging sapi/kerbau Indikator: a. Bobot potong b. Jumlah sapi/kerbau siap potong 1.3. Peningkatan produksi daging ternak lainnya Indikator: a. Pertumbuhan produksi unggas (%) b. Pertumbuhan produksi daging daging kado (%) c. Pertumbuhan produksi babi (%) 1.4. Peningkatan produksi susu Indikator: a. Produktifitas susu: liter/ekor/hari b. Penambahan jumlah induk siap produksi: ekor 1.5. Peningkatan produksi telur Indikator : a. Pertumbuhan produki telur itik (%) b. Pertumbuhan produksi telur ayam ras (%) 1. Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak Indikator: a. Produksi Daging Sapi/Kerbau (ribu ton) b. Produksi Daging Ternak Lainnya (ribu ton) c. Produksi Telur (ribu ton) d. Produksi Susu (ribu ton) 43

INPUT AKTIFITAS OUTPUT OUTCOME Lanjutan 4. Meningkatkan Penanganan PHMSZ a. Melaksanakan Pengendalaian, pencegahan dan pemberantasan PHMSZ (dosis) b. Melaksanakan Penyidikan dan pengujian penyakit hewan dan sertifikasi obat hewan (sampel) c. Memperkuat kelembagaan otovet (unit) d. Memproduksi vaksin dan bahan biologis (dosis) e. Memperkuat Siskeswanas (provinsi) 5. Peningkatan Jaminan pangan yang ASUH a. Menerapkan penjaminan produk hewan yang ASUH (unit) b. Mencegah penularan zoonosis (unit) c. Melaksanakan penerapan Kesrawan (unit) d. Melaksanakan pemenuhan pesyaratan teknis produk hewan prospektif (unit usaha) 6. Peningkatan dukungan manajemen teknis dan kesekretariatan a. Melaksanakan penerapan SAKIP (Dokumen) b. Melaksankan 2.1 Prevalensi penyakit (%) a. Penyakit Brucellocis b. Prevalensi penyakit AI 2.2 Pembebasan wilayah Penyakit (wilayah) a. Wilayah Bebas Penyakit Anthrax b. Wilayah bebas penyakit Hog Cholera c. Wilayah Bebas Penyakit AI d. Wilayah Bebas Penyakit Jembrana e. Wilayah Bebas Penyakit Rabies 2.3 Sertikat dan Surat Keterangan (buah) a. Jumlah Sertifikat NKV b. Jumlah sertifikat Pangan Asal Ternak, c. Jumlah Sertifikat Pengujian Mutu Pakan ternak d. Jumlah Nomor Pendaftaran Pakan (NPP) buah e. Jumlah Sertifikat Cara Pembuatan Pakan yang Baik (CPPB) buah f. Jumlah sertifikat CPOHB g. Jumlah sertifikat Kompartemen Bebas AI h. Jumlah Bibit bersertifikat i. Jumlah SKLB j. Jumlah kelompok yang melaksanakan GFP 2.4 Produksi obat hewan, semen dan produk peternakan a. Jumlah produksi obat hewan (dosis) b. Jumlah produksi 2. Peningkatan Daya Saing Peternakan Indikator: a. Peningkatan Status Kesehatan Hewan (%) b. Jumlah Sertifikat (Buah) c. Jumlah ekspor obat hewan (ton) d. Jumlah Ekspor semen beku (ton) e. Jumlah ekspor produk peternakan (ton) f. Jumlah ekspor ternak hidup (ton) 3. Peningkatan Kesejahteraan Peternak Indikator : a. Nilai Tukar Peternak (NTP) 44

kegiatan kesekretariatan lainnya semen beku (dosis) c. Jumlah produksi produk peternakan (kg/ton) 3.1 Peningkatan skala Usaha a. Jumlah kawasan peternakan b. Aksesbilitas kelompok ke sumber pembiayaan (Rp...) (%) 3.2 Peningkatan Kelembagaan Peternak a. Jumlah kelompok ternak yang berbadan hukum (kelompok) 45

Lampiran 2. Keterkaitan Output dan Aktifitas Masing-Masing Eselon II 1. Direktorat Budidaya Ternak INPUT AKTIFITAS OUTPUT/INDIKATOR OUTCOME Es I 1. Anggaran 2. SDM 3. Gedung dan bangunan 4. Peralatan dan mesin 5. Prasana dan sarana 6. Data dan informasi 7. NSPK Budidaya Ternak 1. Melaksanakan perbaikan manajemen pemeliharaan pengembangan usaha ternak sapot, saper, kerbau, kambing, domba, unggas, babi dan aneka ternak. a. Melaksanakan Pembinaan, bimbingan, supervisi dan monev pengembangan usaha ternak sapot, saper, kerbau, kambing, domba, unggas, babi dan aneka ternak b. Melaksanakan optimalisasi IB (akseptor) c. Meningkatkan intensifikasi kawin alam (ekor) d. Melaksanakan penerapan prinsipprinsip GFP pada pelaku usaha budidaya ternak 2. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya ternak a. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya sapi potong b. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya sapi perah c. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya kerbau d. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya kambing e. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya domba f. Melaksanakan pengembangan usaha 1. Perbaikan manajemen pemeliharaan ternak Indikator: a. Penurunan Calving Interval (bulan) b. Penurunan SC (rasio) c. Jumlah kebuntingan hasil IB (ekor) d. Jumlah kebuntingan hasil Kawin Alam (ekor) e. Jumlah kelahiran hasil IB dan Kawin Alam (ekor) f. Jumlah kelahiran ternak lainnya (kambing, domba, babi) (ekor) g. Jumlah ternak unggas siap potong (ekor) h. Jumlah telur yang dihasilkan (kg) i. Jumlah surat keterangan atau sertifikat penerapan prinsip-prinsip GFP 2. Penguatan Usaha dan Kelembagaan Peternak a. Jumlah kelompok ternak yang berbadan hukum (klpk) b. Jumlah kelompok yang mampu mengakses sumber pembiayaan (klpk) c. Berkembangnya kemitraan usaha di bidang budidaya ternak (kemitraan) d. Data dinamika ketersediaan ternak (laporan) e. Jumlah regulasi di bidang usaha dan kelembagaan (buah) 1. Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak 2. Peningkatan Daya Saing Peternakan 46

budidaya babi g. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya unggas lokal h. Melaksanakan pengembangan usaha budidaya aneka ternak 3. Melaksanakan penguatan usaha dan kelembagaan peternak a. Meningkatkan kelembagaan peternak menjadi kelembagaan usaha yang berbadan hukum b. Penilaian Manajemen Usaha Kelompok Peternak dan Pelayanan Petugas Teknis c. Pengembangan kelembagaan peternakan (asoisasi, himpunan, forum, dll) d. Memfasilitasi pengembangan jejaring usaha peternakan e. Mendorong pengembangan kemitraan usaha di bidang budidaya peternakan f. Melakukan analisa data dinamika ketersediaan ternak 4. Dukungan manajemen teknis budidaya ternak 47

2. Direktorat Perbibitan Ternak INPUT AKTIFITAS OUTPUT/INDIKATOR OUTCOME Es I 1. Anggaran 2. SDM 3. Gedung dan bangunan 4. Peralatan dan mesin 5. Prasana dan sarana 6. Data dan informasi 7. NSPK 8. Kelembaga an Perbibitan 1. Meningkatkan produksi benih ternak a. Memproduksi semen beku b. Memproduksi embrio ternak 2. Meningkatkan produksi bibit ternak a. Memproduksi bibit sapi potong b. Memproduksi bibit sapi perah c. Memproduksi bibit kerbau d. Memproduksi bibit kambing/domba e. Memproduksi bibit babi f. Memproduksi bibit ayam g. Memproduksi bibit itik h. Memperkuat pembibitan ternak dikelompok i. Penguatan sapi/kerbau betina bunting 3. Memperkuat kelembagaan dan wilayah perbibitan ternak a. Memperkuat perbibitan di lokasi terpilih b. Meningkatkan kelembagaan perbibitan di daerah c. Meningkatkan SDM perbibitan d. Meingkatkan penerapan teknologi perbibitan e. Meningkatkan pengawasan mutu benih dan bibit ternak f. Melakukan pembinaan sertifiikasi g. Melakukan pembinaan pembibitan 4. Dukungan manajemen teknis perbibita 1. Produksi Bibit Ternak a. Jumlah produksi semen beku (dosis) b. Jumlah produksi embrio ternak (embrio) c. Jumlah produksi bibit ternak ruminansia (ekor) d. Jumlah produksi bibit ternak unggas dan babi (ekor) 2. Penguatan Kelembagaan Perbibitan Ternak a. Jumlah kelompok pembibitan ternak yang menerapkan prinsip-prinsip pembibitan b. Jumlah penetapan wilayah sumber bibit dan penetapan/pelepasan rumpun/galur ternak (Kepmentan) c. Unit Usaha berbadan hukum yang berasal dari kelompok yang memiliki usaha pembibitan d. Jumlah kelembagaan yang menerapkan manajemen mutu (unit) 3. Jaminan mutu bibit a. Jumlah bibit bersertifikat (sertifikat) b. Jumlah bibit ber SKLB 1. Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak 2. Peningkatan Daya Saing Peternakan 48

3. Direktorat Pakan Ternak INPUT AKTIFITAS OUTPUT/INDIKATOR OUTCOME Es I 1. SDM bidang pakan (aparatur, komisi ahli, wastukan) 2. Kelembaga an pendukung kegiatan pakan (BPTU- HPT, BPMSP, BVet) 3. Sapras pendukung produksi pakan 4. Anggaran pakan APBN 5. NSPK bidang pakan 1. Meningkatkan produksi HPT berkualitas a. Pengemb HPT di UPT Pusat b. Pengemb sumber benih/bibit HPT di UPTD c. Pengemb sumber benih/bibit HPT di klp d. Pengemb Unit Usaha HPT e. Pengemb padang penggembalaan f. Pemanfaatan lahan x- tambang g. Pemeliharaan padang penggembalaan h. Integrasi tanamanruminansia i. Gerbangpatas 2. Meningkatkan produksi pakan olahan dan bahan pakan a. UBP b. UPP-R c. UPP-U d. LP-R e. Revit UPP/LP f. Penguatan pakan konsentrat induk sapot g. Penguatan pakan konsentrat sapi perah h. Bahan pakan/fa ternak gangrep i. Penguatan pakan konsentrat sapot gemuk j. Penataan pakan konsentrat di UPT Pusat 3. Meningkatkan mutu dan keamanan pakan a. Pengujian mutu & sertifikasi b. Pelayanan pengujan lab pakan daerah c. Pengujian keamanan pakan/bahan pakan Bvet d. Pengemb kualitas SDM bidang pakan e. Wastu dan keamanan pakan/bahan pakan f. Pengawasan peredaran IP/PP atau FA/FS g. Kortek pakan dekon h. Bimtek & manajemen pakan i. Dukungan Pusat 1. Produksi HPT berkualitas Indikator : a. Jumlah produksi HPT (ton BK) b. Jumlah bibit/benih HPT (stek) 2. Produksi pakan olahan dan bahan pakan Indikator : a. Jumlah produksi pakan olahan dan bahan pakan (ton) b. Peningkt PPBH (kg/ekor/hr) c. Peningkt prod susu (liter/ekor/hr) 3. Peningkatan mutu dan keamanan pakan Indikator : Penerbitan sertifikat pengujian mutu, NPP dan CPPB (buah) 1. Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak 2. Peningkatan Daya Saing Peternakan 49

4. Direktorat Kesehatan Hewan INPUT AKTIFITAS OUTPUT/INDIKATOR OUTCOME Es I 1. Anggaran 2. SDM 3. Gedung dan bangunan 4. Peralatan dan mesin 5. Prasana dan sarana 6. Data dan informasi 7. NSPK 8. Kelembaga an Peternakan dan Keswan 1. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular Strategis dan Zoonosis/PHMSZ (dosis) 2. Penyidikan dan Pengujian Penyakit Hewan dan Sertifikasi Obat Hewan (sampel) a. Surveilans Penyakit Hewan b. Pengujian dan Sertifikasi Obat Hewan 3. Peningkatan Produksi Vaksin, Obat Hewan dan Bahan Biologik (dosis) 4. Penguatan Sistem Kesehatan Hewan Nasional (wilayah) a. Optimalisasi jumlah dan kapabilitas Puskeswan dan Laboratorium Veteriner (unit) b. Penguatan kelembagaan dan fungsi Otoritas Veteriner (unit) c. Penguatan sistem data dan pelaporan d. Dukungan manajemen teknis Keswan (laporan) 1. Peningkatan status kesehatan hewan a. Jumlah wilayah kejadian penyakit berbasis surveilans (wilayah) b. Jumlah wilayah pencegahan dan pemberantasan PHMS (wilayah) c. Jumlah wilayah penanganan gangguan reproduksi (wilayah) d. Jumlah pembebasan wilayah PHMS (wilayah) e. Jumlah wilayah bebas PHMS (wilayah) 2. Jumlah sertifikat a. CPOHB; b. Nomor pendaftaran obat hewan; c. Kompartemen bebas AI; d. d.kesehatan hewan ekspor-impor (SRP) 3. Peningkatan produksi vaksin dan bahan biologik serta obat hewan: a. Jumlah produksi vaksin, bahan biologik dan obat hewan (dosis) 4. Peningkatan pelayanan kesehatan hewan a. Jumlah unit pelayanan kesehatan hewan 5. Penguatan sistem informasi kesehatan hewan nasional a. Jumlah kabupaten/kota yang telah menerapkan isikhnas (pelaporan penurunan angka kesakitan dan kematian) 1. Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak 2. Peningkatan Daya Saing Peternakan 50

5. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Pascapanen INPUT AKTIFITAS OUTPUT/INDIKATOR OUTCOME Es I 1. SDM bidang kesmavet (aparatut, komisi ahli, medic dan paramedic veteriner) 2. Kelembagaan pendukung kegiatan kesmavet (BPMSPH, BVet) 3. Sapras pendukung kesmavet 4. Anggaran kesmavet APBN 5. NSPK bidang kesmavet 1. Monitoring dan surveilanse residu 2. pembinaan dan koordinasi penyediaan pangan ASUH 3. Pembinaan dan Koordinasi Kesmavet dan Pasca Panen 4. Identifikasi, Pembinaan,Pengendalian dan Penanggulangan penyakit Zoonosis dan Pembinaan Penerapan Kesrawan 5. Pengawasan Sanitari Keamanan Produk Hewan 6. Fasilitasi Bangunan RPH Ruminansia 7. Fasilitasi Peralatan RPH Ruminansia 8. Fasilitasi Alat Transportasi Daging 9. Penerapan Penjaminan PH ASUH di RPH 10. Fasilitasi Unit Usaha dalam Proses Sertifikasi ASUH 11. Fasilitasi pemenuhan persyaratan higiene sanitasi unit usaha ekspor 12. Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan 13. Monitoring dan Surveilans Residu dan Cemaran Mikroba 14. Fasilitasi Bimbingan Sertifikasi Produk di Unit Usaha 15. Pengembangan Kapasitas SDM Bidang Kesmavet 16. Penguatan Manajemen Lab. Kesmavet 17. Pengadaan Sarana dan Prasarana Lab. Kesmavet 18. Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Lab. Kesmavet Unit Respon Cepat Pengawas Kesmavet 19. Peningkatan Kapasitas SDM Pengawas Kesmavet 20. Koordinasi Teknis Pengawasan Kesmavet 21. Pemutakhiran Data Pemotongan 1. Jaminan Keamanan Pangan Asal Ternak a. Jumlah pengujian produk pangan asal ternak (sampel) b. Jumlah NKV (unit usaha) c. Jumlah Sertifikat Pangan Asal Ternak (buah) 2. Jumlah unit yang menerapkan prinsip pencegahan penularan zoonosis (unit) 3. Jumlah unit yang menerapkan kesrawan (unit) 4. Pemenuhan persyaratan teknis produk ternak prospektif Indikator : Jumlanak prospektif Peningkatan Daya Saing Peternakan 51

6. Sekretariat Direktorat Jenderal INPUT AKTIFITAS OUTPUT/INDIKATOR OUTCOME Es I 1. Anggaran 2. SDM 3. Sarana dan Prasarana 4. Peralatan dan Mesin 5. Prasarana dan Sarana 6. Data dan Informasi 7. NSPK 8. Kelembagaan Peternakan dan Kesehatan Hewan 1. Menyusun dokumen perencanaan program, anggaran dan kerjasama 2. Melaksanakan kegiatan kehumasan dan informasi publik 3. Pengembangan kompetensi pegawai 4. Melaksanakan hubungan masyarakat 5. Melaksanaan pengelolaan keuangan dan perlengkapan 6. Mengevaluasi dan menyempurnakan organisasi dan tatalaksana 7. Mengelola urusan kepegawaian 8. Evaluasi dan pelaporan kegiatan bidang peternakan dan keswan 9. Penyajian dan pengembangan data dan informasi 10. Pelaksanaan urusan TU dan RT 11. Menyusun NSPK dan Regulasi 12. Pembinaan, koordinasi dan Sosialisasi 1. Implementasi SAKIP Indikator : a. Penilaian SAKIP b. Opini laporan keuangan BPK terhadap kinerja pembangunan 2. Sistem Informasi Indikator : a. Sistem informasi yang terpelihara b. Jumlah sistem informasi yang dibangun 3. IPBNK dan IKM Indikator : a. Nilai IPNBK b. Nilai IKM c. Evaluasi SKP 4. NSPK dan Regulasi Indikator : a. Jumlah NSPK yang diterbitkan b. Jumlah regulasi yang diterbitkan 5. Pengelolaan Data dan Informasi Publik Indikator : a. Jumlah dokumen data dan informasi yang diterbitkan b. Nilai pelayanan informasi publik 1. Peningkatan Produksi Pangan Asal Ternak 2. Peningkatan Daya Saing Peternakan 3. Peningkatan Kesejahteraan Peternak 52

Lampiran 3. Sasaran Populasi Sapi Potong Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 422.020 433.245 445.573 459.208 474.356 2 Sumatera Utara 546.318 560.850 576.809 594.460 614.070 3 Sumatera Barat 341.058 350.130 360.093 371.112 383.354 4 Riau 183.156 188.028 193.378 199.295 205.870 5 Jambi 124.224 127.529 131.157 135.171 139.630 6 Sumatera Selatan 225.462 231.459 238.045 245.330 253.423 7 Bengkulu 110.683 113.627 116.860 120.436 124.409 8 Lampung 598.735 614.661 632.151 651.495 672.987 9 Kepulauan Bangka Belitung 8.562 8.790 9.040 9.317 9.624 10 Kepulauan Riau 18.240 18.725 19.258 19.848 20.502 11 DKI Jakarta 2.201 2.259 2.324 2.395 2.474 12 Jawa Barat 399.811 410.446 422.125 435.042 449.394 13 Jawa Tengah 1.566.130 1.607.788 1.653.536 1.704.136 1.760.352 14 DI. Yogyakarta 284.806 292.382 300.701 309.903 320.126 15 Jawa Timur 3.744.642 3.844.247 3.953.633 4.074.618 4.209.031 16 Banten 48.100 49.379 50.784 52.338 54.065 17 Bali 499.200 512.479 527.061 543.189 561.108 18 Nusa Tenggara Barat 677.514 695.535 715.326 737.216 761.535 19 Nusa Tenggara Timur 838.828 861.140 885.644 912.745 942.855 20 Kalimantan Barat 146.378 150.271 154.547 159.276 164.530 21 Kalimantan Tengah 54.206 55.648 57.231 58.983 60.929 22 Kalimantan Selatan 120.309 123.509 127.024 130.911 135.229 23 Kalimantan Timur 82.578 84.774 87.187 89.854 92.819 24 Kalimantan Utara 14.620 15.008 15.436 15.908 16.433 25 Sulawesi Utara 110.501 113.441 116.669 120.239 124.205 26 Sulawesi Tengah 260.987 267.929 275.553 283.985 293.353 27 Sulawesi Selatan 1.027.366 1.054.693 1.084.704 1.117.897 1.154.774 28 Sulawesi Tenggara 240.507 246.904 253.929 261.700 270.333 29 Gorontalo 182.557 187.413 192.746 198.644 205.197 30 Sulawesi Barat 85.671 87.950 90.453 93.221 96.296 31 Maluku 77.193 79.246 81.501 83.995 86.766 32 Maluku Utara 68.929 70.763 72.776 75.003 77.477 33 Papua Barat 50.280 51.617 53.086 54.710 56.515 34 Papua 83.078 85.288 87.715 90.399 93.381 Indonesia 13.244.850 13.597.154 13.984.055 14.411.979 14.887.400 53

Lampiran 4. Sasaran Populasi Sapi Perah Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 26 27 27 28 29 2 Sumatera Utara 1.977 2.020 2.080 2.152 2.242 3 Sumatera Barat 1.145 1.170 1.204 1.247 1.299 4 Riau 277 283 291 301 314 5 Jambi 67 68 70 72 75 6 Sumatera Selatan 337 344 354 367 382 7 Bengkulu 190 194 200 207 216 8 Lampung 279 285 293 303 316 9 Kepulauan Bangka Belitung 424 433 446 462 481 10 Kepulauan Riau 5 5 5 6 6 11 DKI Jakarta 2.793 2.854 2.938 3.041 3.168 12 Jawa Barat 107.977 110.314 113.586 117.559 122.467 13 Jawa Tengah 107.937 110.274 113.544 117.516 122.422 14 DI. Yogyakarta 4.499 4.596 4.732 4.898 5.102 15 Jawa Timur 231.808 236.826 243.850 252.380 262.916 16 Banten 32 33 34 35 37 17 Bali 148 151 155 161 167 18 Nusa Tenggara Barat 19 19 20 20 21 19 Nusa Tenggara Timur 41 41 43 44 46 20 Kalimantan Barat 176 180 185 191 199 21 Kalimantan Tengah - - - - - 22 Kalimantan Selatan 162 166 171 177 184 23 Kalimantan Timur 29 30 31 32 33 24 Kalimantan Utara - - - - - 25 Sulawesi Utara 110 113 116 120 125 26 Sulawesi Tengah 10 11 11 11 12 27 Sulawesi Selatan 1.466 1.498 1.542 1.596 1.663 28 Sulawesi Tenggara - - - - - 29 Gorontalo 15 15 15 16 17 30 Sulawesi Barat 46 47 48 50 52 31 Maluku 1 1 1 1 1 32 Maluku Utara - - - - - 33 Papua Barat - - - - - 34 Papua 5 5 5 6 6 Indonesia 462.000 472.000 486.000 503.000 524.000 54

Lampiran 5. Sasaran Populasi Kerbau Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 113.097 113.702 114.408 115.215 116.224 2 Sumatera Utara 94.928 95.436 96.029 96.707 97.553 3 Sumatera Barat 87.214 87.681 88.226 88.848 89.626 4 Riau 32.567 32.741 32.945 33.177 33.468 5 Jambi 41.576 41.799 42.059 42.355 42.726 6 Sumatera Selatan 26.584 26.727 26.893 27.083 27.320 7 Bengkulu 17.964 18.060 18.172 18.301 18.461 8 Lampung 22.859 22.981 23.124 23.287 23.491 9 Kepulauan Bangka Belitung 213 214 216 217 219 10 Kepulauan Riau 12 12 12 12 12 11 DKI Jakarta 205 206 207 209 211 12 Jawa Barat 109.412 109.998 110.681 111.462 112.438 13 Jawa Tengah 62.667 63.003 63.394 63.841 64.400 14 DI. Yogyakarta 990 995 1.002 1.009 1.017 15 Jawa Timur 28.415 28.567 28.745 28.947 29.201 16 Banten 99.721 100.255 100.877 101.589 102.479 17 Bali 2.000 2.011 2.023 2.038 2.056 18 Nusa Tenggara Barat 80.913 81.346 81.852 82.429 83.151 19 Nusa Tenggara Timur 134.485 135.205 136.045 137.005 138.204 20 Kalimantan Barat 2.242 2.254 2.268 2.284 2.304 21 Kalimantan Tengah 9.909 9.962 10.024 10.095 10.183 22 Kalimantan Selatan 21.908 22.025 22.162 22.319 22.514 23 Kalimantan Timur 3.971 3.993 4.017 4.046 4.081 24 Kalimantan Utara 3.178 3.195 3.215 3.238 3.266 25 Sulawesi Utara - - - - - 26 Sulawesi Tengah 3.444 3.462 3.484 3.508 3.539 27 Sulawesi Selatan 91.570 92.060 92.632 93.286 94.103 28 Sulawesi Tenggara 2.092 2.103 2.116 2.131 2.150 29 Gorontalo 16 16 16 16 17 30 Sulawesi Barat 7.543 7.584 7.631 7.685 7.752 31 Maluku 17.966 18.062 18.174 18.303 18.463 32 Maluku Utara 779 783 788 793 800 33 Papua Barat 1 1 1 1 1 34 Papua 555 558 561 565 570 Indonesia 1.121.000 1.127.000 1.134.000 1.142.000 1.152.000 55

Lampiran 6. Sasaran Populasi Kambing Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 706.814 733.855 761.923 791.090 821.391 2 Sumatera Utara 915.777 950.812 987.179 1.024.969 1.064.228 3 Sumatera Barat 276.736 287.323 298.313 309.732 321.596 4 Riau 189.553 196.805 204.332 212.154 220.280 5 Jambi 442.928 459.873 477.463 495.740 514.729 6 Sumatera Selatan 356.184 369.811 383.955 398.653 413.923 7 Bengkulu 283.591 294.441 305.702 317.405 329.562 8 Lampung 1.350.943 1.402.626 1.456.274 1.512.021 1.569.936 9 Kepulauan Bangka Belitung 3.477 3.610 3.748 3.891 4.040 10 Kepulauan Riau 23.240 24.129 25.052 26.011 27.008 11 DKI Jakarta 7.143 7.416 7.700 7.995 8.301 12 Jawa Barat 2.759.446 2.865.014 2.974.595 3.088.465 3.206.763 13 Jawa Tengah 4.228.226 4.389.986 4.557.894 4.732.374 4.913.638 14 DI. Yogyakarta 398.582 413.831 429.659 446.106 463.194 15 Jawa Timur 3.167.246 3.288.416 3.414.191 3.544.889 3.680.669 16 Banten 877.460 911.029 945.874 982.083 1.019.700 17 Bali 70.209 72.895 75.683 78.581 81.590 18 Nusa Tenggara Barat 629.733 653.825 678.832 704.819 731.815 19 Nusa Tenggara Timur 638.590 663.021 688.380 714.732 742.108 20 Kalimantan Barat 180.540 187.447 194.616 202.066 209.806 21 Kalimantan Tengah 46.855 48.647 50.508 52.441 54.450 22 Kalimantan Selatan 71.278 74.004 76.835 79.776 82.832 23 Kalimantan Timur 53.979 56.044 58.188 60.416 62.730 24 Kalimantan Utara 12.105 12.568 13.049 13.549 14.068 25 Sulawesi Utara 51.941 53.928 55.991 58.134 60.361 26 Sulawesi Tengah 609.147 632.451 656.641 681.778 707.892 27 Sulawesi Selatan 645.976 670.689 696.342 722.998 750.691 28 Sulawesi Tenggara 157.184 163.197 169.439 175.926 182.664 29 Gorontalo 90.029 93.473 97.048 100.763 104.623 30 Sulawesi Barat 236.904 245.967 255.375 265.151 275.307 31 Maluku 287.770 298.779 310.207 322.082 334.418 32 Maluku Utara 112.378 116.677 121.140 125.777 130.594 33 Papua Barat 24.034 24.953 25.908 26.899 27.930 34 Papua 38.002 39.456 40.965 42.533 44.162 Indonesia 19.944.000 20.707.000 21.499.000 22.322.000 23.177.000 56

Lampiran 7. Sasaran Populasi Domba Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 179.059 191.153 204.069 217.858 232.573 2 Sumatera Utara 678.709 724.552 773.507 825.774 881.551 3 Sumatera Barat 6.311 6.737 7.192 7.678 8.196 4 Riau 5.401 5.766 6.155 6.571 7.015 5 Jambi 87.929 93.868 100.210 106.982 114.208 6 Sumatera Selatan 31.629 33.765 36.047 38.482 41.082 7 Bengkulu 5.638 6.019 6.426 6.860 7.323 8 Lampung 101.439 108.290 115.607 123.419 131.755 9 Kepulauan Bangka Belitung 136 145 155 165 176 10 Kepulauan Riau - - - - - 11 DKI Jakarta 1.338 1.428 1.525 1.628 1.738 12 Jawa Barat 10.703.566 11.426.533 12.198.579 13.022.850 13.902.492 13 Jawa Tengah 2.801.721 2.990.962 3.193.049 3.408.807 3.639.058 14 DI. Yogyakarta 178.773 190.848 203.743 217.510 232.202 15 Jawa Timur 1.351.079 1.442.337 1.539.790 1.643.835 1.754.869 16 Banten 726.235 775.289 827.672 883.598 943.282 17 Bali 43 46 49 53 56 18 Nusa Tenggara Barat 35.513 37.912 40.473 43.208 46.127 19 Nusa Tenggara Timur 72.800 77.718 82.969 88.575 94.558 20 Kalimantan Barat 259 276 295 315 336 21 Kalimantan Tengah 2.668 2.848 3.041 3.246 3.465 22 Kalimantan Selatan 2.727 2.912 3.108 3.318 3.542 23 Kalimantan Timur 261 279 297 318 339 24 Kalimantan Utara 50 54 57 61 65 25 Sulawesi Utara - - - - - 26 Sulawesi Tengah 8.817 9.412 10.048 10.727 11.452 27 Sulawesi Selatan 604 645 688 735 785 28 Sulawesi Tenggara 25 27 29 31 33 29 Gorontalo - - - - - 30 Sulawesi Barat - - - - - 31 Maluku 28.204 30.109 32.143 34.315 36.633 32 Maluku Utara - - - - - 33 Papua Barat 55 58 62 67 71 34 Papua 13 13 14 15 16 Indonesia 17.011.000 18.160.000 19.387.000 20.697.000 22.095.000 57

Lampiran 8. Sasaran Populasi Babi Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 4.257 4.356 4.458 4.562 4.669 2 Sumatera Utara 1.024.935 1.048.854 1.073.417 1.098.494 1.124.214 3 Sumatera Barat 33.114 33.887 34.681 35.491 36.322 4 Riau 48.678 49.814 50.981 52.172 53.393 5 Jambi 63.022 64.492 66.003 67.545 69.126 6 Sumatera Selatan 26.494 27.112 27.747 28.395 29.060 7 Bengkulu 5.805 5.940 6.079 6.221 6.367 8 Lampung 45.568 46.631 47.723 48.838 49.982 9 Kepulauan Bangka Belitung 25.494 26.089 26.700 27.323 27.963 10 Kepulauan Riau 338.754 346.659 354.777 363.066 371.566 11 DKI Jakarta - - - - - 12 Jawa Barat 7.641 7.819 8.002 8.189 8.381 13 Jawa Tengah 166.386 170.269 174.257 178.328 182.503 14 DI. Yogyakarta 14.220 14.552 14.893 15.241 15.598 15 Jawa Timur 48.267 49.393 50.550 51.731 52.942 16 Banten 26.081 26.690 27.315 27.953 28.607 17 Bali 892.568 913.398 934.789 956.627 979.025 18 Nusa Tenggara Barat 58.241 59.601 60.996 62.421 63.883 19 Nusa Tenggara Timur 1.834.531 1.877.344 1.921.308 1.966.193 2.012.229 20 Kalimantan Barat 433.035 443.141 453.519 464.114 474.980 21 Kalimantan Tengah 203.057 207.795 212.662 217.630 222.725 22 Kalimantan Selatan 4.256 4.355 4.457 4.561 4.668 23 Kalimantan Timur 64.381 65.884 67.427 69.002 70.617 24 Kalimantan Utara 31.672 32.411 33.170 33.945 34.740 25 Sulawesi Utara 417.283 427.021 437.021 447.231 457.702 26 Sulawesi Tengah 229.333 234.686 240.181 245.793 251.547 27 Sulawesi Selatan 666.577 682.134 698.108 714.417 731.144 28 Sulawesi Tenggara 45.685 46.751 47.846 48.964 50.110 29 Gorontalo 6.494 6.645 6.801 6.960 7.123 30 Sulawesi Barat 133.927 137.053 140.262 143.539 146.900 31 Maluku 301.594 308.632 315.860 323.239 330.807 32 Maluku Utara 60.093 61.495 62.935 64.406 65.914 33 Papua Barat 102.191 104.576 107.025 109.525 112.090 34 Papua 606.367 620.518 635.050 649.886 665.102 Indonesia 7.970.000 8.156.000 8.347.000 8.542.000 8.742.000 58

Lampiran 9. Sasaran Populasi Ayam Buras Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2.015 2.016 2.017 2.018 2.019 1 Aceh 6.065.434 6.070.881 6.076.328 6.081.797 6.087.266 2 Sumatera Utara 15.573.091 15.587.076 15.601.061 15.615.102 15.629.144 3 Sumatera Barat 4.928.124 4.932.550 4.936.975 4.941.419 4.945.862 4 Riau 3.169.390 3.172.237 3.175.083 3.177.940 3.180.798 5 Jambi 11.540.619 11.550.982 11.561.346 11.571.752 11.582.157 6 Sumatera Selatan 5.285.167 5.289.913 5.294.659 5.299.424 5.304.190 7 Bengkulu 2.994.797 2.997.486 3.000.175 3.002.876 3.005.576 8 Lampung 10.944.089 10.953.917 10.963.745 10.973.612 10.983.480 9 Kepulauan Bangka Belitung 1.683.175 1.684.686 1.686.198 1.687.715 1.689.233 10 Kepulauan Riau 828.732 829.476 830.220 830.967 831.715 11 DKI Jakarta - - - - - 12 Jawa Barat 27.546.762 27.571.500 27.596.238 27.621.075 27.645.912 13 Jawa Tengah 39.383.886 39.419.254 39.454.622 39.490.131 39.525.641 14 DI. Yogyakarta 4.000.231 4.003.824 4.007.416 4.011.023 4.014.629 15 Jawa Timur 33.867.721 33.898.135 33.928.550 33.959.086 33.989.622 16 Banten 9.710.943 9.719.664 9.728.384 9.737.140 9.745.896 17 Bali 4.122.614 4.126.316 4.130.018 4.133.735 4.137.453 18 Nusa Tenggara Barat 5.496.004 5.500.939 5.505.875 5.510.830 5.515.786 19 Nusa Tenggara Timur 10.700.345 10.709.954 10.719.564 10.729.211 10.738.859 20 Kalimantan Barat 6.790.833 6.796.931 6.803.029 6.809.152 6.815.275 21 Kalimantan Tengah 3.172.910 3.175.760 3.178.609 3.181.470 3.184.330 22 Kalimantan Selatan 10.030.406 10.039.414 10.048.422 10.057.465 10.066.509 23 Kalimantan Timur 5.626.773 5.631.826 5.636.879 5.641.953 5.647.026 24 Kalimantan Utara 1.515.649 1.517.010 1.518.371 1.519.738 1.521.104 25 Sulawesi Utara 2.270.478 2.272.517 2.274.556 2.276.603 2.278.650 26 Sulawesi Tengah 4.953.538 4.957.986 4.962.434 4.966.901 4.971.367 27 Sulawesi Selatan 21.888.168 21.907.824 21.927.480 21.947.216 21.966.951 28 Sulawesi Tenggara 9.419.247 9.427.706 9.436.164 9.444.657 9.453.150 29 Gorontalo 1.376.655 1.377.891 1.379.127 1.380.368 1.381.610 30 Sulawesi Barat 4.608.213 4.612.351 4.616.490 4.620.645 4.624.800 31 Maluku 3.855.827 3.859.290 3.862.753 3.866.229 3.869.706 32 Maluku Utara 578.642 579.162 579.681 580.203 580.725 33 Papua Barat 1.399.850 1.401.107 1.402.365 1.403.627 1.404.889 34 Papua 1.945.688 1.947.435 1.949.182 1.950.936 1.952.691 Indonesia 277.274.000 277.523.000 277.772.000 278.022.000 278.272.000 59

Lampiran 10. Sasaran Populasi Ayam Petelur Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2.015 2.016 2.017 2.018 2.019 1 Aceh 313.065 344.372 378.808 416.691 458.359 2 Sumatera Utara 20.209.961 22.230.978 24.454.001 26.899.487 29.589.393 3 Sumatera Barat 10.964.295 12.060.736 13.266.769 14.593.493 16.052.819 4 Riau 189.776 208.754 229.629 252.592 277.851 5 Jambi 842.120 926.333 1.018.963 1.120.863 1.232.947 6 Sumatera Selatan 8.445.170 9.289.696 10.218.635 11.240.534 12.364.570 7 Bengkulu 99.726 109.699 120.668 132.736 146.009 8 Lampung 6.590.363 7.249.406 7.974.322 8.771.782 9.648.947 9 Kepulauan Bangka Belitung 327.030 359.733 395.705 435.277 478.804 10 Kepulauan Riau 538.956 592.852 652.135 717.351 789.085 11 DKI Jakarta - - - - - 12 Jawa Barat 16.578.251 18.236.094 20.059.641 22.065.676 24.272.208 13 Jawa Tengah 27.835.959 30.619.585 33.681.440 37.049.702 40.754.613 14 DI. Yogyakarta 4.214.468 4.635.919 5.099.496 5.609.463 6.170.400 15 Jawa Timur 55.422.327 60.964.619 67.060.875 73.767.197 81.143.799 16 Banten 6.385.570 7.024.134 7.726.524 8.499.204 9.349.110 17 Bali 5.605.701 6.166.278 6.782.885 7.461.197 8.207.305 18 Nusa Tenggara Barat 258.831 284.715 313.185 344.505 378.955 19 Nusa Tenggara Timur 253.780 279.159 307.074 337.782 371.560 20 Kalimantan Barat 3.185.979 3.504.580 3.855.026 4.240.542 4.664.589 21 Kalimantan Tengah 52.634 57.898 63.688 70.056 77.062 22 Kalimantan Selatan 4.160.627 4.576.694 5.034.348 5.537.800 6.091.571 23 Kalimantan Timur 1.538.808 1.692.690 1.861.954 2.048.156 2.252.968 24 Kalimantan Utara 40.489 44.538 48.991 53.890 59.279 25 Sulawesi Utara 1.765.287 1.941.817 2.135.992 2.349.599 2.584.555 26 Sulawesi Tengah 1.143.293 1.257.624 1.383.382 1.521.725 1.673.895 27 Sulawesi Selatan 10.685.340 11.753.886 12.929.235 14.222.204 15.644.401 28 Sulawesi Tenggara 190.223 209.245 230.169 253.187 278.505 29 Gorontalo 416.418 458.060 503.865 554.253 609.678 30 Sulawesi Barat 132.317 145.549 160.103 176.114 193.725 31 Maluku 14.103 15.514 17.065 18.771 20.648 32 Maluku Utara 55.543 61.097 67.207 73.928 81.320 33 Papua Barat 72.412 79.653 87.618 96.380 106.018 34 Papua 159.177 175.095 192.604 211.865 233.051 Indonesia 188.688.000 207.557.000 228.312.000 251.144.000 276.258.000 60

Lampiran 11. Sasaran Populasi Ayam Pedaging Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 5.672.529 6.126.330 6.299.634 6.589.320 6.929.240 2 Sumatera Utara 85.920.083 92.793.671 95.418.664 99.806.436 104.955.116 3 Sumatera Barat 28.644.148 30.935.674 31.810.797 33.273.598 34.990.072 4 Riau 68.883.548 74.394.217 76.498.717 80.016.466 84.144.248 5 Jambi 20.326.502 21.952.618 22.573.624 23.611.659 24.829.706 6 Sumatera Selatan 43.626.531 47.116.645 48.449.504 50.677.426 53.291.705 7 Bengkulu 11.096.904 11.984.653 12.323.681 12.890.379 13.555.350 8 Lampung 55.828.216 60.294.461 62.000.100 64.851.139 68.196.593 9 Kepulauan Bangka Belitung 17.758.392 19.179.060 19.721.607 20.628.493 21.692.648 10 Kepulauan Riau 14.995.218 16.194.833 16.652.960 17.418.737 18.317.311 11 DKI Jakarta - - - - - 12 Jawa Barat 1.203.492.833 1.299.772.003 1.336.540.594 1.398.000.642 1.470.118.818 13 Jawa Tengah 193.916.743 209.430.042 215.354.502 225.257.454 236.877.733 14 DI. Yogyakarta 11.276.546 12.178.668 12.523.184 13.099.055 13.774.792 15 Jawa Timur 302.717.403 326.934.731 336.183.222 351.642.413 369.782.469 16 Banten 114.208.756 123.345.432 126.834.688 132.667.108 139.510.960 17 Bali 13.394.436 14.465.988 14.875.209 15.559.237 16.361.886 18 Nusa Tenggara Barat 9.364.039 10.113.161 10.399.247 10.877.450 11.438.581 19 Nusa Tenggara Timur 1.325.572 1.431.617 1.472.116 1.539.810 1.619.244 20 Kalimantan Barat 23.400.984 25.273.058 25.987.995 27.183.038 28.585.320 21 Kalimantan Tengah 9.125.003 9.855.001 10.133.784 10.599.780 11.146.588 22 Kalimantan Selatan 96.731.410 104.469.903 107.425.199 112.365.084 118.161.623 23 Kalimantan Timur 81.701.579 88.237.688 90.733.799 94.906.141 99.802.031 24 Kalimantan Utara 8.159.886 8.812.675 9.061.972 9.478.682 9.967.655 25 Sulawesi Utara 4.292.273 4.635.653 4.766.789 4.985.987 5.243.198 26 Sulawesi Tengah 16.595.825 17.923.488 18.430.516 19.278.033 20.272.522 27 Sulawesi Selatan 44.858.725 48.447.413 49.817.918 52.108.766 54.796.883 28 Sulawesi Tenggara 9.226.681 9.964.814 10.246.703 10.717.892 11.270.792 29 Gorontalo 1.181.217 1.275.714 1.311.802 1.372.125 1.442.908 30 Sulawesi Barat 3.451.245 3.727.344 3.832.785 4.009.033 4.215.846 31 Maluku 15.854 17.123 17.607 18.417 19.367 32 Maluku Utara 116.238 125.537 129.089 135.025 141.990 33 Papua Barat 1.204.672 1.301.046 1.337.850 1.399.371 1.471.559 34 Papua 4.696.886 5.072.636 5.216.134 5.455.994 5.737.451 Indonesia 2.507.206.878 2.707.782.894 2.784.381.990 2.912.420.189 3.062.662.203 61

Lampiran 12. Sasaran Populasi Itik Tahun 2015 2019 No Provinsi (Ekor) Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 2.396.116 2.461.121 2.527.892 2.596.481 2.666.890 2 Sumatera Utara 2.544.596 2.613.629 2.684.537 2.757.377 2.832.148 3 Sumatera Barat 1.231.814 1.265.232 1.299.558 1.334.819 1.371.015 4 Riau 256.869 263.838 270.996 278.349 285.897 5 Jambi 1.337.902 1.374.198 1.411.480 1.449.778 1.489.091 6 Sumatera Selatan 1.198.082 1.230.585 1.263.971 1.298.266 1.333.471 7 Bengkulu 116.190 119.342 122.580 125.906 129.320 8 Lampung 643.082 660.528 678.449 696.857 715.754 9 Kepulauan Bangka Belitung 55.122 56.617 58.153 59.731 61.351 10 Kepulauan Riau 127.756 131.222 134.782 138.439 142.193 11 DKI Jakarta 25.437 26.127 26.835 27.564 28.311 12 Jawa Barat 8.746.145 8.983.420 9.227.142 9.477.504 9.734.503 13 Jawa Tengah 5.889.127 6.048.893 6.213.002 6.381.580 6.554.628 14 DI. Yogyakarta 553.744 568.767 584.198 600.049 616.320 15 Jawa Timur 4.445.024 4.565.613 4.689.479 4.816.720 4.947.334 16 Banten 2.158.569 2.217.129 2.277.280 2.339.070 2.402.498 17 Bali 658.619 676.486 694.840 713.693 733.046 18 Nusa Tenggara Barat 1.148.186 1.179.335 1.211.331 1.244.198 1.277.936 19 Nusa Tenggara Timur 318.705 327.351 336.232 345.355 354.720 20 Kalimantan Barat 651.429 669.102 687.255 705.902 725.044 21 Kalimantan Tengah 275.685 283.164 290.846 298.738 306.839 22 Kalimantan Selatan 4.633.087 4.758.778 4.887.886 5.020.509 5.156.649 23 Kalimantan Timur 161.525 165.907 170.408 175.031 179.778 24 Kalimantan Utara 72.789 74.764 76.792 78.876 81.015 25 Sulawesi Utara 161.775 166.163 170.671 175.302 180.056 26 Sulawesi Tengah 572.293 587.819 603.767 620.149 636.965 27 Sulawesi Selatan 4.165.611 4.278.619 4.394.700 4.513.942 4.636.345 28 Sulawesi Tenggara 427.880 439.488 451.412 463.660 476.233 29 Gorontalo 51.230 52.620 54.047 55.514 57.019 30 Sulawesi Barat 453.620 465.927 478.567 491.552 504.882 31 Maluku 484.833 497.986 511.497 525.375 539.622 32 Maluku Utara 56.143 57.666 59.230 60.837 62.487 33 Papua Barat 33.995 34.917 35.864 36.837 37.836 34 Papua 60.021 61.649 63.322 65.040 66.804 Indonesia 46.113.000 47.364.000 48.649.000 49.969.000 51.324.000 62

Lampiran 13. Sasaran Produksi Daging Sapi Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 8,83 9,57 10,44 11,38 12,41 2 Sumatera Utara 18,61 20,17 22,00 23,99 26,15 3 Sumatera Barat 23,32 25,27 27,57 30,06 32,77 4 Riau 8,32 9,02 9,84 10,73 11,69 5 Jambi 4,43 4,80 5,23 5,71 6,22 6 Sumatera Selatan 14,64 15,86 17,30 18,86 20,56 7 Bengkulu 4,26 4,62 5,04 5,49 5,99 8 Lampung 14,23 15,42 16,82 18,35 20,00 9 Kepulauan Bangka Belitung 2,99 3,24 3,54 3,86 4,21 10 Kepulauan Riau 0,56 0,61 0,66 0,72 0,79 11 DKI Jakarta 18,19 19,71 21,51 23,45 25,56 12 Jawa Barat 72,57 78,63 85,78 93,54 101,96 13 Jawa Tengah 61,73 66,88 72,96 79,56 86,73 14 DI. Yogyakarta 8,72 9,45 10,31 11,24 12,25 15 Jawa Timur 101,68 110,16 120,18 131,05 142,85 16 Banten 37,03 40,12 43,77 47,73 52,02 17 Bali 9,05 9,80 10,70 11,66 12,71 18 Nusa Tenggara Barat 12,81 13,88 15,14 16,51 18,00 19 Nusa Tenggara Timur 11,19 12,12 13,23 14,42 15,72 20 Kalimantan Barat 8,15 8,84 9,64 10,51 11,46 21 Kalimantan Tengah 4,32 4,68 5,10 5,57 6,07 22 Kalimantan Selatan 9,86 10,69 11,66 12,71 13,86 23 Kalimantan Timur 8,67 9,39 10,24 11,17 12,17 24 Kalimantan Utara 0,63 0,69 0,75 0,82 0,89 25 Sulawesi Utara 4,61 4,99 5,45 5,94 6,47 26 Sulawesi Tengah 4,65 5,04 5,49 5,99 6,53 27 Sulawesi Selatan 14,66 15,88 17,33 18,89 20,59 28 Sulawesi Tenggara 3,89 4,21 4,59 5,01 5,46 29 Gorontalo 3,65 3,96 4,32 4,71 5,13 30 Sulawesi Barat 2,94 3,18 3,47 3,79 4,13 31 Maluku 2,71 2,94 3,21 3,50 3,81 32 Maluku Utara 0,88 0,96 1,05 1,14 1,24 33 Papua Barat 4,12 4,46 4,87 5,31 5,78 34 Papua 2,76 2,99 3,26 3,56 3,88 Indonesia 509,68 552,20 602,43 656,91 716,06 63

Lampiran 14. Sasaran Produksi Daging Kerbau Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 2,52 2,57 2,63 2,69 2,76 2 Sumatera Utara 3,20 3,26 3,34 3,41 3,50 3 Sumatera Barat 2,44 2,49 2,54 2,60 2,67 4 Riau 1,29 1,31 1,34 1,37 1,41 5 Jambi 2,64 2,70 2,76 2,82 2,89 6 Sumatera Selatan 0,77 0,78 0,80 0,82 0,84 7 Bengkulu 0,86 0,88 0,90 0,92 0,94 8 Lampung 0,25 0,25 0,26 0,26 0,27 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 10 Kepulauan Riau 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 11 DKI Jakarta 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 12 Jawa Barat 3,20 3,27 3,35 3,42 3,51 13 Jawa Tengah 2,12 2,17 2,22 2,27 2,32 14 DI. Yogyakarta - - - - - 15 Jawa Timur 0,11 0,12 0,12 0,12 0,12 16 Banten 7,11 7,26 7,42 7,59 7,78 17 Bali 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 18 Nusa Tenggara Barat 3,00 3,06 3,13 3,20 3,28 19 Nusa Tenggara Timur 1,21 1,24 1,27 1,30 1,33 20 Kalimantan Barat 0,07 0,07 0,08 0,08 0,08 21 Kalimantan Tengah 0,04 0,04 0,04 0,05 0,05 22 Kalimantan Selatan 0,78 0,79 0,81 0,83 0,85 23 Kalimantan Timur 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 24 Kalimantan Utara 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 25 Sulawesi Utara - - - - - 26 Sulawesi Tengah 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 27 Sulawesi Selatan 3,21 3,28 3,35 3,43 3,52 28 Sulawesi Tenggara 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 29 Gorontalo - - - - - 30 Sulawesi Barat 0,14 0,14 0,14 0,15 0,15 31 Maluku 0,40 0,41 0,42 0,43 0,44 32 Maluku Utara - - - - - 33 Papua Barat - - - - - 34 Papua 0,06 0,06 0,06 0,06 0,06 Indonesia 35,61 36,36 37,18 38,05 38,98 64

Lampiran 15. Sasaran Produksi Daging Kambing Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 2,26 2,28 2,30 2,32 2,33 2 Sumatera Utara 3,52 3,55 3,58 3,61 3,64 3 Sumatera Barat 0,66 0,66 0,67 0,67 0,68 4 Riau 0,56 0,56 0,57 0,57 0,58 5 Jambi 0,73 0,74 0,74 0,75 0,76 6 Sumatera Selatan 2,26 2,27 2,29 2,31 2,33 7 Bengkulu 0,25 0,25 0,26 0,26 0,26 8 Lampung 2,50 2,52 2,54 2,56 2,58 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,10 0,10 0,10 0,11 0,11 10 Kepulauan Riau 0,09 0,09 0,09 0,09 0,09 11 DKI Jakarta 1,28 1,29 1,30 1,31 1,32 12 Jawa Barat 7,27 7,33 7,39 7,44 7,50 13 Jawa Tengah 10,37 10,45 10,53 10,62 10,70 14 DI. Yogyakarta 1,51 1,53 1,54 1,55 1,56 15 Jawa Timur 15,74 15,87 15,99 16,11 16,24 16 Banten 3,30 3,32 3,35 3,37 3,40 17 Bali 1,71 1,72 1,73 1,75 1,76 18 Nusa Tenggara Barat 0,40 0,40 0,40 0,41 0,41 19 Nusa Tenggara Timur 3,69 3,72 3,75 3,77 3,80 20 Kalimantan Barat 0,52 0,53 0,53 0,53 0,54 21 Kalimantan Tengah 0,34 0,35 0,35 0,35 0,35 22 Kalimantan Selatan 0,67 0,68 0,68 0,69 0,69 23 Kalimantan Timur 0,38 0,39 0,39 0,39 0,40 24 Kalimantan Utara 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 25 Sulawesi Utara 0,40 0,40 0,41 0,41 0,41 26 Sulawesi Tengah 2,50 2,52 2,54 2,56 2,58 27 Sulawesi Selatan 1,62 1,63 1,64 1,65 1,67 28 Sulawesi Tenggara 0,27 0,27 0,27 0,28 0,28 29 Gorontalo 0,18 0,18 0,18 0,18 0,19 30 Sulawesi Barat 0,28 0,28 0,28 0,28 0,29 31 Maluku 0,46 0,46 0,46 0,47 0,47 32 Maluku Utara 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 33 Papua Barat 0,16 0,16 0,16 0,16 0,16 34 Papua 0,13 0,13 0,14 0,14 0,14 Indonesia 66,19 66,71 67,23 67,75 68,28 65

Lampiran 16. Sasaran Produksi Daging Domba Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 0,42 0,43 0,45 0,47 0,49 2 Sumatera Utara 2,16 2,24 2,33 2,43 2,52 3 Sumatera Barat 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 4 Riau 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 5 Jambi 0,17 0,18 0,19 0,20 0,20 6 Sumatera Selatan 0,39 0,40 0,42 0,44 0,46 7 Bengkulu 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 8 Lampung 0,09 0,09 0,10 0,10 0,10 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 10 Kepulauan Riau - - - - - 11 DKI Jakarta 0,49 0,51 0,53 0,55 0,57 12 Jawa Barat 25,47 26,49 27,55 28,65 29,80 13 Jawa Tengah 6,24 6,49 6,75 7,02 7,30 14 DI. Yogyakarta 2,55 2,65 2,76 2,87 2,98 15 Jawa Timur 6,22 6,47 6,73 7,00 7,28 16 Banten 3,54 3,69 3,83 3,99 4,15 17 Bali - - - - - 18 Nusa Tenggara Barat 0,02 0,02 0,02 0,02 0,03 19 Nusa Tenggara Timur 0,44 0,45 0,47 0,49 0,51 20 Kalimantan Barat 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 21 Kalimantan Tengah 0,00 0,01 0,01 0,01 0,01 22 Kalimantan Selatan 0,02 0,02 0,02 0,02 0,03 23 Kalimantan Timur 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 24 Kalimantan Utara - - - - - 25 Sulawesi Utara - - - - - 26 Sulawesi Tengah 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 27 Sulawesi Selatan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 28 Sulawesi Tenggara 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 29 Gorontalo - - - - - 30 Sulawesi Barat - - - - - 31 Maluku 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04 32 Maluku Utara - - - - - 33 Papua Barat - - - - - 34 Papua - - - - - Indonesia 48,32 50,26 52,27 54,36 56,53 66

Lampiran 17. Sasaran Produksi Daging Babi Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 0,05 0,05 0,06 0,06 0,06 2 Sumatera Utara 44,00 46,61 49,38 52,30 55,41 3 Sumatera Barat 0,57 0,60 0,64 0,67 0,71 4 Riau 0,92 0,98 1,03 1,10 1,16 5 Jambi 0,25 0,26 0,28 0,29 0,31 6 Sumatera Selatan 0,64 0,67 0,71 0,76 0,80 7 Bengkulu 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 8 Lampung 0,65 0,69 0,73 0,78 0,82 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,76 0,80 0,85 0,90 0,95 10 Kepulauan Riau 19,15 20,29 21,49 22,77 24,12 11 DKI Jakarta 9,71 10,29 10,90 11,54 12,23 12 Jawa Barat 1,10 1,16 1,23 1,30 1,38 13 Jawa Tengah 1,88 1,99 2,11 2,23 2,37 14 DI. Yogyakarta - - - - - 15 Jawa Timur 3,52 3,73 3,95 4,18 4,43 16 Banten 1,14 1,21 1,28 1,36 1,44 17 Bali 138,27 146,47 155,16 164,36 174,11 18 Nusa Tenggara Barat 0,63 0,66 0,70 0,74 0,79 19 Nusa Tenggara Timur 36,15 38,30 40,57 42,97 45,52 20 Kalimantan Barat 29,55 31,31 33,16 35,13 37,21 21 Kalimantan Tengah 2,73 2,89 3,06 3,25 3,44 22 Kalimantan Selatan 0,15 0,16 0,17 0,18 0,19 23 Kalimantan Timur 1,25 1,33 1,41 1,49 1,58 24 Kalimantan Utara 0,44 0,47 0,49 0,52 0,55 25 Sulawesi Utara 21,48 22,75 24,10 25,53 27,05 26 Sulawesi Tengah 2,67 2,83 3,00 3,18 3,36 27 Sulawesi Selatan 4,42 4,68 4,96 5,25 5,56 28 Sulawesi Tenggara 0,59 0,62 0,66 0,70 0,74 29 Gorontalo 0,10 0,10 0,11 0,12 0,12 30 Sulawesi Barat 0,38 0,41 0,43 0,46 0,48 31 Maluku 3,14 3,33 3,52 3,73 3,96 32 Maluku Utara 0,11 0,12 0,13 0,14 0,14 33 Papua Barat 1,42 1,50 1,59 1,69 1,79 34 Papua 7,03 7,45 7,89 8,36 8,85 Indonesia 334,89 354,76 375,80 398,09 421,70 67

Lampiran 18. Sasaran Produksi Daging Ayam Buras Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 12,99 13,13 13,28 13,43 13,59 2 Sumatera Utara 18,86 19,07 19,29 19,51 19,73 3 Sumatera Barat 6,17 6,24 6,31 6,38 6,45 4 Riau 3,38 3,42 3,46 3,49 3,53 5 Jambi 8,60 8,70 8,80 8,90 9,00 6 Sumatera Selatan 7,23 7,31 7,40 7,48 7,57 7 Bengkulu 0,49 0,50 0,50 0,51 0,51 8 Lampung 13,95 14,11 14,27 14,44 14,60 9 Kepulauan Bangka Belitung 1,29 1,31 1,32 1,34 1,35 10 Kepulauan Riau 0,91 0,92 0,93 0,94 0,95 11 DKI Jakarta 34,14 34,53 34,93 35,32 35,73 12 Jawa Barat 27,77 28,09 28,41 28,73 29,06 13 Jawa Tengah 45,08 45,59 46,11 46,64 47,17 14 DI. Yogyakarta 5,62 5,69 5,75 5,82 5,88 15 Jawa Timur 39,46 39,91 40,37 40,83 41,29 16 Banten 9,08 9,18 9,29 9,39 9,50 17 Bali 4,79 4,85 4,90 4,96 5,02 18 Nusa Tenggara Barat 6,05 6,12 6,19 6,26 6,33 19 Nusa Tenggara Timur 11,70 11,83 11,97 12,10 12,24 20 Kalimantan Barat 13,83 13,99 14,15 14,31 14,48 21 Kalimantan Tengah 2,17 2,20 2,22 2,25 2,27 22 Kalimantan Selatan 6,12 6,19 6,26 6,33 6,40 23 Kalimantan Timur 6,35 6,42 6,50 6,57 6,65 24 Kalimantan Utara 1,71 1,73 1,75 1,77 1,79 25 Sulawesi Utara 2,50 2,53 2,56 2,59 2,62 26 Sulawesi Tengah 8,72 8,82 8,92 9,02 9,13 27 Sulawesi Selatan 6,48 6,55 6,63 6,70 6,78 28 Sulawesi Tenggara 10,37 10,49 10,61 10,73 10,85 29 Gorontalo 1,55 1,57 1,58 1,60 1,62 30 Sulawesi Barat 5,07 5,13 5,19 5,25 5,31 31 Maluku 0,42 0,43 0,43 0,44 0,44 32 Maluku Utara 0,88 0,89 0,90 0,91 0,92 33 Papua Barat 1,05 1,06 1,07 1,08 1,09 34 Papua 2,14 2,17 2,19 2,22 2,24 Indonesia 326,94 330,67 334,44 338,25 342,11 68

Lampiran 19. Sasaran Produksi Daging Ayam Petelur Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 0,25 0,28 0,30 0,33 0,37 2 Sumatera Utara 14,18 15,60 17,16 18,87 20,76 3 Sumatera Barat 7,96 8,76 9,63 10,60 11,66 4 Riau 0,03 0,03 0,04 0,04 0,04 5 Jambi 0,81 0,89 0,98 1,08 1,19 6 Sumatera Selatan 6,10 6,71 7,38 8,12 8,93 7 Bengkulu 0,03 0,04 0,04 0,04 0,05 8 Lampung 2,55 2,80 3,08 3,39 3,73 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04 10 Kepulauan Riau 0,39 0,43 0,48 0,52 0,58 11 DKI Jakarta 0,69 0,76 0,84 0,92 1,01 12 Jawa Barat 9,62 10,58 11,64 12,80 14,08 13 Jawa Tengah 11,99 13,19 14,51 15,96 17,56 14 DI. Yogyakarta 3,33 3,66 4,03 4,43 4,87 15 Jawa Timur 23,75 26,13 28,74 31,62 34,78 16 Banten 2,75 3,03 3,33 3,66 4,03 17 Bali 3,04 3,34 3,67 4,04 4,45 18 Nusa Tenggara Barat 0,19 0,21 0,23 0,25 0,28 19 Nusa Tenggara Timur 0,04 0,05 0,05 0,06 0,06 20 Kalimantan Barat 3,20 3,52 3,87 4,25 4,68 21 Kalimantan Tengah 0,05 0,06 0,06 0,07 0,08 22 Kalimantan Selatan 1,96 2,15 2,37 2,61 2,87 23 Kalimantan Timur 0,69 0,76 0,84 0,92 1,01 24 Kalimantan Utara 0,02 0,02 0,02 0,02 0,03 25 Sulawesi Utara 1,07 1,18 1,30 1,43 1,57 26 Sulawesi Tengah 0,85 0,93 1,03 1,13 1,24 27 Sulawesi Selatan 2,42 2,66 2,93 3,22 3,54 28 Sulawesi Tenggara 0,14 0,15 0,17 0,18 0,20 29 Gorontalo 0,30 0,33 0,37 0,40 0,44 30 Sulawesi Barat 0,10 0,11 0,12 0,13 0,14 31 Maluku 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01 32 Maluku Utara 0,05 0,05 0,06 0,06 0,07 33 Papua Barat 0,06 0,06 0,07 0,08 0,09 34 Papua 0,12 0,13 0,14 0,15 0,17 Indonesia 98,77 108,65 119,51 131,46 144,61 69

Lampiran 20. Sasaran Produksi Daging Ayam Pedaging Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 6,82 7,37 7,57 7,92 8,33 2 Sumatera Utara 63,81 68,91 70,86 74,12 77,94 3 Sumatera Barat 28,17 30,42 31,28 32,72 34,41 4 Riau 71,77 77,51 79,70 83,37 87,67 5 Jambi 26,75 28,89 29,70 31,07 32,67 6 Sumatera Selatan 51,35 55,45 57,02 59,64 62,72 7 Bengkulu 3,51 3,79 3,89 4,07 4,28 8 Lampung 70,19 75,81 77,95 81,54 85,74 9 Kepulauan Bangka Belitung 23,94 25,85 26,58 27,80 29,24 10 Kepulauan Riau 12,30 13,28 13,66 14,28 15,02 11 DKI Jakarta 217,89 235,32 241,98 253,11 266,16 12 Jawa Barat 950,33 1.026,36 1.055,39 1.103,93 1.160,87 13 Jawa Tengah 208,65 225,34 231,72 242,37 254,88 14 DI. Yogyakarta 54,95 59,34 61,02 63,83 67,12 15 Jawa Timur 274,70 296,68 305,07 319,10 335,56 16 Banten 183,87 198,58 204,19 213,58 224,60 17 Bali 13,20 14,25 14,66 15,33 16,12 18 Nusa Tenggara Barat 7,68 8,29 8,53 8,92 9,38 19 Nusa Tenggara Timur 1,06 1,15 1,18 1,24 1,30 20 Kalimantan Barat 31,36 33,87 34,83 36,43 38,31 21 Kalimantan Tengah 12,38 13,37 13,74 14,38 15,12 22 Kalimantan Selatan 92,81 100,23 103,07 107,80 113,37 23 Kalimantan Timur 54,85 59,24 60,91 63,71 67,00 24 Kalimantan Utara 5,48 5,92 6,08 6,36 6,69 25 Sulawesi Utara 9,22 9,96 10,24 10,71 11,26 26 Sulawesi Tengah 13,61 14,70 15,11 15,81 16,62 27 Sulawesi Selatan 19,17 20,70 21,29 22,27 23,42 28 Sulawesi Tenggara 7,57 8,17 8,40 8,79 9,24 29 Gorontalo 0,97 1,05 1,08 1,13 1,19 30 Sulawesi Barat 2,83 3,06 3,14 3,29 3,46 31 Maluku 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 32 Maluku Utara 0,11 0,12 0,12 0,13 0,13 33 Papua Barat 0,89 0,96 0,98 1,03 1,08 34 Papua 3,85 4,16 4,28 4,47 4,70 Indonesia 2.526,01 2.728,09 2.805,26 2.934,26 3.085,63 70

Lampiran 21. Sasaran Produksi Daging Itik Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 1,69 1,82 1,95 2,09 2,24 2 Sumatera Utara 2,39 2,56 2,75 2,94 3,15 3 Sumatera Barat 0,79 0,84 0,91 0,97 1,04 4 Riau 0,23 0,25 0,27 0,29 0,31 5 Jambi 0,18 0,19 0,21 0,22 0,24 6 Sumatera Selatan 1,48 1,59 1,70 1,82 1,95 7 Bengkulu 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 8 Lampung 0,34 0,37 0,39 0,42 0,45 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,05 0,06 0,06 0,07 0,07 10 Kepulauan Riau 0,09 0,09 0,10 0,11 0,11 11 DKI Jakarta 1,63 1,75 1,88 2,01 2,16 12 Jawa Barat 6,39 6,85 7,34 7,87 8,43 13 Jawa Tengah 3,90 4,18 4,48 4,80 5,14 14 DI. Yogyakarta 0,52 0,56 0,60 0,64 0,69 15 Jawa Timur 5,57 5,97 6,40 6,86 7,35 16 Banten 4,82 5,16 5,53 5,93 6,35 17 Bali 0,39 0,42 0,45 0,48 0,52 18 Nusa Tenggara Barat 0,78 0,84 0,90 0,96 1,03 19 Nusa Tenggara Timur 0,20 0,22 0,23 0,25 0,26 20 Kalimantan Barat 0,60 0,65 0,69 0,74 0,79 21 Kalimantan Tengah 0,16 0,18 0,19 0,20 0,22 22 Kalimantan Selatan 2,33 2,50 2,68 2,87 3,08 23 Kalimantan Timur 0,07 0,08 0,08 0,09 0,10 24 Kalimantan Utara 0,03 0,04 0,04 0,04 0,04 25 Sulawesi Utara 0,11 0,12 0,13 0,14 0,15 26 Sulawesi Tengah 0,39 0,42 0,45 0,48 0,52 27 Sulawesi Selatan 0,85 0,91 0,97 1,04 1,12 28 Sulawesi Tenggara 0,29 0,31 0,34 0,36 0,39 29 Gorontalo 0,04 0,04 0,04 0,04 0,05 30 Sulawesi Barat 0,31 0,33 0,36 0,38 0,41 31 Maluku 0,09 0,09 0,10 0,11 0,12 32 Maluku Utara 0,05 0,05 0,05 0,06 0,06 33 Papua Barat 0,02 0,02 0,03 0,03 0,03 34 Papua 0,04 0,04 0,05 0,05 0,05 Indonesia 36,89 39,53 42,37 45,40 48,65 71

Lampiran 22. Sasaran Produksi Telur Ayam Buras Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 2,66 2,71 2,76 2,80 2,85 2 Sumatera Utara 13,14 13,37 13,60 13,83 14,07 3 Sumatera Barat 3,25 3,31 3,36 3,42 3,48 4 Riau 1,59 1,62 1,65 1,68 1,70 5 Jambi 5,62 5,71 5,81 5,91 6,01 6 Sumatera Selatan 3,38 3,44 3,50 3,56 3,62 7 Bengkulu 1,12 1,14 1,16 1,18 1,20 8 Lampung 9,28 9,44 9,60 9,77 9,94 9 Kepulauan Bangka Belitung 2,19 2,23 2,27 2,31 2,34 10 Kepulauan Riau 0,55 0,56 0,57 0,58 0,59 11 DKI Jakarta - - - - - 12 Jawa Barat 21,70 22,08 22,46 22,84 23,23 13 Jawa Tengah 37,72 38,37 39,03 39,70 40,38 14 DI. Yogyakarta 2,68 2,72 2,77 2,82 2,86 15 Jawa Timur 19,19 19,52 19,86 20,20 20,54 16 Banten 13,38 13,61 13,84 14,08 14,32 17 Bali 3,08 3,13 3,18 3,24 3,29 18 Nusa Tenggara Barat 3,63 3,69 3,75 3,82 3,88 19 Nusa Tenggara Timur 4,70 4,78 4,87 4,95 5,04 20 Kalimantan Barat 3,66 3,72 3,79 3,85 3,92 21 Kalimantan Tengah 2,79 2,83 2,88 2,93 2,98 22 Kalimantan Selatan 8,48 8,62 8,77 8,92 9,07 23 Kalimantan Timur 3,72 3,79 3,85 3,92 3,98 24 Kalimantan Utara 1,00 1,02 1,04 1,06 1,07 25 Sulawesi Utara 1,94 1,98 2,01 2,05 2,08 26 Sulawesi Tengah 3,31 3,37 3,43 3,49 3,55 27 Sulawesi Selatan 12,38 12,59 12,81 13,03 13,25 28 Sulawesi Tenggara 6,31 6,42 6,53 6,64 6,76 29 Gorontalo 1,05 1,07 1,09 1,11 1,13 30 Sulawesi Barat 3,08 3,13 3,19 3,24 3,30 31 Maluku 2,58 2,62 2,67 2,71 2,76 32 Maluku Utara 0,39 0,39 0,40 0,41 0,41 33 Papua Barat 0,50 0,51 0,51 0,52 0,53 34 Papua 1,30 1,32 1,35 1,37 1,39 Indonesia 201,36 204,82 208,34 211,92 215,56 72

Lampiran 23. Sasaran Produksi Telur Ayam Petelur Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 4,75 5,19 5,47 5,61 5,79 2 Sumatera Utara 304,05 332,45 350,56 359,09 370,43 3 Sumatera Barat 141,94 155,20 163,65 167,63 172,93 4 Riau 4,79 5,24 5,52 5,66 5,84 5 Jambi 15,84 17,32 18,27 18,71 19,30 6 Sumatera Selatan 127,72 139,65 147,25 150,84 155,60 7 Bengkulu 1,14 1,25 1,32 1,35 1,39 8 Lampung 111,04 121,41 128,03 131,14 135,28 9 Kepulauan Bangka Belitung 2,68 2,93 3,08 3,16 3,26 10 Kepulauan Riau 6,81 7,45 7,86 8,05 8,30 11 DKI Jakarta - - - - - 12 Jawa Barat 284,34 310,89 327,83 335,80 346,41 13 Jawa Tengah 441,58 482,82 509,13 521,51 537,99 14 DI. Yogyakarta 53,29 58,26 61,44 62,93 64,92 15 Jawa Timur 634,28 693,51 731,29 749,08 772,75 16 Banten 101,02 110,46 116,47 119,31 123,08 17 Bali 79,07 86,45 91,16 93,38 96,33 18 Nusa Tenggara Barat 3,35 3,66 3,86 3,96 4,08 19 Nusa Tenggara Timur 2,85 3,11 3,28 3,36 3,47 20 Kalimantan Barat 42,95 46,96 49,52 50,72 52,32 21 Kalimantan Tengah 0,62 0,67 0,71 0,73 0,75 22 Kalimantan Selatan 73,35 80,20 84,57 86,63 89,37 23 Kalimantan Timur 19,92 21,78 22,97 23,53 24,27 24 Kalimantan Utara 0,52 0,57 0,60 0,62 0,64 25 Sulawesi Utara 21,12 23,09 24,35 24,94 25,73 26 Sulawesi Tengah 14,46 15,81 16,67 17,07 17,61 27 Sulawesi Selatan 138,33 151,25 159,49 163,37 168,53 28 Sulawesi Tenggara 2,41 2,63 2,77 2,84 2,93 29 Gorontalo 5,27 5,76 6,07 6,22 6,41 30 Sulawesi Barat 1,67 1,83 1,93 1,98 2,04 31 Maluku 0,18 0,19 0,21 0,21 0,22 32 Maluku Utara 0,70 0,77 0,81 0,83 0,86 33 Papua Barat 1,69 1,85 1,95 2,00 2,06 34 Papua 2,01 2,20 2,32 2,38 2,45 Indonesia 2.645,74 2.892,81 3.050,42 3.124,61 3.223,32 73

Lampiran 24. Sasaran Produksi Telur Itik Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 9,74 10,11 10,50 10,90 11,32 2 Sumatera Utara 12,47 12,95 13,45 13,96 14,50 3 Sumatera Barat 6,91 7,18 7,45 7,74 8,04 4 Riau 1,90 1,97 2,05 2,13 2,21 5 Jambi 5,66 5,88 6,10 6,34 6,58 6 Sumatera Selatan 5,29 5,49 5,70 5,92 6,15 7 Bengkulu 0,48 0,50 0,52 0,54 0,56 8 Lampung 3,20 3,33 3,46 3,59 3,73 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,27 0,29 0,30 0,31 0,32 10 Kepulauan Riau 0,84 0,87 0,90 0,94 0,97 11 DKI Jakarta 0,18 0,19 0,19 0,20 0,21 12 Jawa Barat 58,59 60,84 63,18 65,61 68,13 13 Jawa Tengah 39,28 40,79 42,36 43,98 45,67 14 DI. Yogyakarta 3,63 3,77 3,91 4,07 4,22 15 Jawa Timur 28,67 29,77 30,92 32,11 33,34 16 Banten 16,67 17,31 17,98 18,67 19,38 17 Bali 4,20 4,36 4,53 4,71 4,89 18 Nusa Tenggara Barat 6,44 6,69 6,95 7,21 7,49 19 Nusa Tenggara Timur 1,54 1,59 1,66 1,72 1,79 20 Kalimantan Barat 3,51 3,65 3,79 3,93 4,08 21 Kalimantan Tengah 1,66 1,72 1,79 1,86 1,93 22 Kalimantan Selatan 32,46 33,71 35,01 36,35 37,75 23 Kalimantan Timur 0,91 0,94 0,98 1,01 1,05 24 Kalimantan Utara 0,41 0,42 0,44 0,46 0,47 25 Sulawesi Utara 1,06 1,10 1,15 1,19 1,24 26 Sulawesi Tengah 3,75 3,90 4,05 4,20 4,36 27 Sulawesi Selatan 25,87 26,86 27,90 28,97 30,08 28 Sulawesi Tenggara 2,81 2,91 3,02 3,14 3,26 29 Gorontalo 0,34 0,35 0,36 0,38 0,39 30 Sulawesi Barat 2,97 3,09 3,21 3,33 3,46 31 Maluku 2,12 2,20 2,29 2,37 2,46 32 Maluku Utara 0,37 0,38 0,40 0,41 0,43 33 Papua Barat 0,19 0,19 0,20 0,21 0,22 34 Papua 0,39 0,41 0,42 0,44 0,46 Indonesia 284,79 295,73 307,10 318,90 331,16 74

Lampiran 25. Sasaran Produksi Susu Tahun 2015 2019 (000 Ton) No Provinsi Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 1 Aceh 0,04 0,04 0,04 0,05 0,05 2 Sumatera Utara 1,39 1,48 1,58 1,71 1,85 3 Sumatera Barat 1,71 1,82 1,95 2,10 2,28 4 Riau 0,15 0,16 0,17 0,19 0,20 5 Jambi 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 6 Sumatera Selatan 0,33 0,35 0,38 0,40 0,44 7 Bengkulu 0,27 0,29 0,31 0,33 0,36 8 Lampung 0,22 0,23 0,25 0,27 0,29 9 Kepulauan Bangka Belitung 0,61 0,65 0,69 0,75 0,81 10 Kepulauan Riau - - - - - 11 DKI Jakarta 5,35 5,69 6,09 6,56 7,12 12 Jawa Barat 259,81 276,31 295,73 318,57 345,42 13 Jawa Tengah 99,21 105,51 112,92 121,64 131,89 14 DI. Yogyakarta 4,99 5,31 5,68 6,12 6,64 15 Jawa Timur 423,36 450,25 481,90 519,11 562,86 16 Banten 0,07 0,08 0,08 0,09 0,10 17 Bali 0,14 0,15 0,16 0,17 0,18 18 Nusa Tenggara Barat 0,03 0,03 0,03 0,03 0,04 19 Nusa Tenggara Timur 0,04 0,04 0,04 0,05 0,05 20 Kalimantan Barat 0,26 0,28 0,30 0,32 0,35 21 Kalimantan Tengah - - - - - 22 Kalimantan Selatan 0,14 0,15 0,16 0,17 0,18 23 Kalimantan Timur 0,04 0,04 0,05 0,05 0,06 24 Kalimantan Utara - - - - - 25 Sulawesi Utara - - - - - 26 Sulawesi Tengah - - - - - 27 Sulawesi Selatan 1,70 1,81 1,93 2,08 2,26 28 Sulawesi Tenggara - - - - - 29 Gorontalo 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 30 Sulawesi Barat 0,07 0,07 0,07 0,08 0,09 31 Maluku - - - - - 32 Maluku Utara - - - - - 33 Papua Barat - - - - - 34 Papua - - - - - Indonesia 799,97 850,77 910,57 980,88 1.063,56 75

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan Telepon: (021) 7815580-83, 7847319, Fax: (021) 7815583 Email: ditjennak@pertanian.go.id; Web: http://ditjennak.go.id