IV. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai Januari 2013.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian telah dilakukan di lahan pertanaman padi sawah (Oryza sativa L.) milik

III. BAHAN DAN METODE

VI. EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN HORTIKULTURA DI HULU DAS JENEBERANG

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu. Prosedur Penelitian dan Parameter Pengamatan

V. EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN UNTUK PERTANIAN DI HULU DAS JENEBERANG

VIII. ANALISIS KEBERLANJUTAN USAHATANI TANAMAN HORTIKULTURA PADA LAHAN BERLERENG DI HULU DAS JENEBERANG

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

METODE PENELITIAN. Sampel tanah untuk analisis laboratorium yaitu meliputi sampel tanah terusik dan sampel tanah tidak terusik. 2.

III. METODOLOGI PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif (descriptive research) yaitu

BAB III METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. yang mungkin dikembangkan (FAO, 1976). Vink, 1975 dalam Karim (1993)

POTENSI DAS DELI DALAM MENDUKUNG PERTANIAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN EVALUASI KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN ABSTRAK

BAB III METODE PENELITIAN. dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuannya (Moh.

III. METODOLOGI PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. yang merupakan kesatuan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya

TATACARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni Oktober 2015 dan dilakukan

GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) DI KECAMATAN MUARA KABUPATEN TAPANULI UTARA

Evaluasi Lahan. proses perencanaan penggunaan lahan (land use planning). Evaluasi lahan

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.) Tanaman ubi jalar tergolong famili Convolvulaceae suku Kangkungkangkungan,

IV. METODE PENELITIAN

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Penelitian memerlukan suatu metode untuk memudahkan peneliti untuk

LAPORAN KEMAJUAN TERMIN I X.46

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam

KAJIAN KEMAMPUAN LAHAN DI KECAMATAN SLOGOHIMO KABUPATEN WONOGIRI

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...

BAB III METODE PENELITIAN. adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada, walaupun kadang-kadang

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Provinsi Lampung memiliki kegiatan pembangunan yang berorientasikan pada potensi sumberdaya alam

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III PRODUSER PENELITIAN. Metode Deskriptif Eksploratif, dalam metode yang mengungkap masalah atau

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Gambar 3. Peta Orientasi Lokasi Studi

PENDAHULUAN Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

KAJIAN KORELASI KARAKTERISTIK AGROEKOLOGI TERHADAP PRODUKSI KELAPA SAWIT DAN KARET DI PROVINSI LAMPUNG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu sumberdaya alam yang dibutuhkan umat

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan pada lahan pertanaman ubi kayu (Manihot esculenta

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di lahanpertanaman ubi kayu yang telah ditanami

IV. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Analisis terhadap sampel tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas

KONSEP EVALUASI LAHAN

3.2 Alat. 3.3 Batasan Studi

Analisis Kesesuaian Lahan Pertanian dan Perkebunan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. penelitian dengan baik dan benar, metode penelitian juga merupakan suatu cara

PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI BERBASIS LAND USE DAN LAND SLOPE DI SUB DAS KRUENG SIMPO

BAB I. kemampuannya. Indonesia sebagai Negara agraris memiliki potensi pertanian

III METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. A. Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

MODEL USAHATANI SAYURAN DATARAN TINGGI BERBASIS KONSERVASI DI DAERAH HULU SUNGAI CIKAPUNDUNG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

TUGAS KULIAH SURVEI TANAH DAN EVALUASI LAHAN SETELAH UTS

I. PENDAHULUAN. dapat menghasilkan genotip baru yang dapat beradaptasi terhadap berbagai

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. Untuk dapat melakukan perencanaan secara menyeluruh dalam hal

H2O2 10%, HCl 2 N, KCNS, K4Fe(CN)6, H2O, KCl, K2Cr2O7, H2SO4,

KESESUAIAN LAHAN TANAM KENTANG DI WILAYAH BATU

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 1, (2016) ISSN: ( Print)

BAB II FAKTOR PENENTU KEPEKAAN TANAH TERHADAP LONGSOR DAN EROSI

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata

AGIHAN KESUBURAN TANAH PADA LAHAN PADI SAWAH DI KECAMATAN JOGOROGO KABUPATEN NGAWI PROPINSI JAWA TIMUR

I. TINJAUAN PUSTAKA. bahan induk, relief/ topografi dan waktu. Tanah juga merupakan fenomena alam. pasir, debu dan lempung (Gunawan Budiyanto, 2014).

TINJAUAN PUSTAKA. Survei Tanah. potensi sumber dayanya adalah survei. Sebuah peta tanah merupakan salah satu

KEMAMPUAN LAHAN DI KECAMATAN SIMO KABUATEN BOYOLALI PROPINSI JAWA TENGAH. Skripsi S-1 Program Studi Geografi

KAJIAN EROSI TANAH DENGAN PENDEKATAN WISCHMEIER PADA DAS KALIMEJA SUBAIM KECAMATAN WASILE TIMUR KABUPATEN HALMAHERA TIMUR

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pengambilan sampel tanah dilakukan di Lahan pesisir Pantai Desa Bandengan,

METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. yang lebih baik. Menurut Bocco et all. (2005) pengelolaan sumber daya alam

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

3. TAHAP ANALISA CONTOH TANAH 4. TAHAP ANALISA DATA

III. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Era globalisasi yang terjadi saat ini telah melahirkan tuntutan kehidupan yang semakin

Berdasarkan TUJUAN evaluasi, klsifikasi lahan, dibedakan : Klasifikasi kemampuan lahan Klasifikasi kesesuaian lahan Kemampuan : penilaian komponen lah

I. PENDAHULUAN. penduduk di Indonesia bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber. kehidupan utama (Suparyono dan Setyono, 1994).

KEMAMPUAN LAHAN DI KECAMATAN JATINOM KABUATEN KLATEN PROVINSI JAWA TENGAH

III METODOLOGI. Gambar 2. Peta lokasi penelitian.

Perkembangan Potensi Lahan Kering Masam

Tri Fitriani, Tamaluddin Syam & Kuswanta F. Hidayat

TINJAUAN PUSTAKA. fisik lingkungan yang hampir sama dimana keragaman tanaman dan hewan dapat

PANDUAN METODOLOGI ANALISIS ZONE AGRO EKOLOGI PANDUAN KARAKTERISASI DAN ANALISIS ZONE AGROEKOLOGI

BAB III METODE PENELITIAN. menyelidiki keadaan, kondisi, atau hal-hal lain yang hasilnya dipaparkan dalam

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di DAS Hulu Mikro Sumber Brantas, terletak di Desa

Transkripsi:

47 IV. METODE PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) Jeneberang yang terletak di Kabupaten Gowa (Gambar 3). Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Desember 2009. 4.2. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Peta dasar yaitu Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 50.000 dan peta turunannya yaitu peta elevasi dan peta kemiringan lereng tahun 1983. Peta tematik yaitu peta penggunaan lahan (tahun 2007), peta jenis tanah (tahun 1983), dan peta administrasi (tahun 2005) wilayah hulu DAS Jeneberang dengan skala 1 : 50.000. Bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk analisis sifat kimia dan fisika tanah di Laboratorium. Kuesioner yang digunakan untuk pengambilan data primer tentang karakteristik sumberdaya di daerah hulu DAS Jeneberang yang meliputi biofisik lahan, sosial-budaya, ekonomi dan kelembagaan. Alat yang digunakan yaitu peralatan untuk survei dan pengambilan sampel tanah yang terdiri atas bor tanah, ring sampel, global positioning system (GPS), abney level, buku Munsell Soil Color Chart, skop, cangkul, pisau, meter, kamera, kantong plastik untuk sampel tanah komposit, dan alat tulis. 4.3. Prosedur Pelaksanaan Penelitian 4.3.1. Penentuan Satuan Lahan Berdasarkan Agroekologi Sistem pertanian berkelanjutan akan terwujud hanya apabila lahan digunakan untuk sistem pertanian yang tepat dengan cara pengelolaan yang sesuai. Apabila lahan tidak digunakan dengan tepat, produktivitas akan cepat menurun dan ekosistem menjadi terancam rusak. Penggunaan lahan yang tepat selain menjamin bahwa lahan dan alam ini memberikan manfaat untuk pemakai pada masa kini, juga menjamin bahwa sumberdaya alam ini bermanfaat untuk

48 generasi penerus dimasa mendatang. Dengan mempertimbangkan keadaan agroekologi, penggunaan lahan berupa sistem produksi dan pilihan-pilihan tanaman yang tepat dapat ditentukan. Dalam penelitian ini kajian mengenai karakterisasi, deliniasi dan analisis zona agroekologi dalam penentuan satuan lahan, dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut : Peta dasar yang digunakan adalah peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 50.000 dan peta turunannya yaitu peta elevasi dan peta kemiringan lereng. Peta tematik berupa peta jenis tanah daerah hulu DAS Jeneberang dengan skala 1 : 50 000. Pembeda wilayah berdasarkan rejim suhu wilayah dibagi dan dibatasi berdasarkan ketinggian tempat yaitu lebih rendah dari 700 meter dari permukaan laut (< 700 m dpl) dan lebih tinggi dari 700 meter dari permukaan laut ( 700 m dpl) (Prasetyo et al., 2001 dalam Sabiham, 2008; Peraturan Menteri Pertanian No. 47/Permentan/OT.140/10/2006 Tentang Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan). Secara topografis, wilayah dipilah-pilah dan dideliniasi berdasarkan kemiringan lereng masing-masing : < 8 %, 8-15 %, 15-25 %, 25-40 %, dan > 40 % (Arsyad, 2006). Dari peta tanah, faktor-faktor tanah utama yang perlu diperhatikan dan membatasi jenis pemanfaatan lahan untuk pertanian adalah tekstur, kemasaman dan drainase. Data curah hujan wilayah penelitian yang digunakan mencakup masa 10 tahun. Dengan menumpang tepatkan (overlay) peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, dan peta elevasi dengan peta tataguna lahan diperoleh peta agroekologi skala 1 : 50 000. Dengan skala 1 : 50 000 maka satuan terkecil yang tergambarkan pada peta adalah 25 ha. Peta administrasi dengan skala 1 : 50 000 diperoleh dari Pemda Kabupaten Gowa. Peta administrasi diperlukan terutama untuk mendeliniasi batas-batas pemerintahan daerah (juridiction boundary) serta untuk memadukan informasi biofisik dengan informasi mengenai sosial, ekonomi, budaya dan kelembagaan.

Gambar 3. Peta lokasi penelitian di hulu DAS Jeneberang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. 49

50 Dengan membandingkan pola penggunaan lahan sekarang dengan pola penggunaan lahan menurut anjuran dengan pendekatan agroekologi dapat disusun bentuk-bentuk intervensi dan dirancang evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan, analisis keberlanjutan dari masing-masing zona agroekologi, serta pemodelan pengembangan tanaman hortikultura di daerah hulu DAS Jeneberang untuk dapat mendukung pertanian maju, tangguh dan berkelanjutan. 4.3.2. Evaluasi Kemampuan Lahan Pengamatan dan pengambilan data sifat-sifat tanah dan lahan untuk keperluan evaluasi kemampuan lahan dilakukan pada setiap zona agroekologi. Sifat-sifat tanah dan lahan yang digunakan dalam evaluasi kemampuan lahan meliputi sifat-sifat fisik dan morfologi tanah dan lahan yang dapat langsung diamati di lapang. Kelas kemampuan lahan di dasarkan pada potensinya untuk pertanian umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang (Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007). Adapun sifat-sifat fisik dan morfologi yang diamati untuk tingkat kelas adalah kemiringan lereng, kepekaan terjadinya erosi, kedalam solum, struktur tanah, keadaan tergenang, drainase, adanya batuan di permukaan, dan salinitas atau kandungan natrium. Klasifikasi kemampuan lahan yang akan digunakan yaitu kelas dan subkelas. Pengelompokan di dalam kelas didasarkan atas intensitas faktor penghambat. Lahan dikelompokkan dalam delapan kelas yaitu kelas I sampai VIII. Untuk pembagian sub kelas, maka yang diamati adalah bahaya erosi (e), genangan air (w), penghambat terhadap perakaran tanaman (s), dan iklim (c). 4.3.3. Penentuan Komoditas Unggulan dan Evaluasi Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Hortikultura Penentuan komoditas unggulan menggunakan data sekunder. Data sekunder meliputi jenis komoditas hortikultura, produktivitas, luas tanam dan luas panen di tingkat kabupaten dan tingkat kecamatan. Pengamatan dan pengambilan data sifat-sifat tanah dan lahan untuk keperluan evaluasi kesesuaian lahan dilakukan pada peta satuan lahan (unit lahan) yang dihasilkan dari overlay peta dasar pada masing-masing zona agroekologi. Pengambilan contoh tanah

51 menggunakan Stratified Random Sampling untuk masing-masing unit lahan. Jumlah contoh tanah untuk keperluan analisis sifat kimia dan fisik tanah sangat tergantung pada banyaknya satuan lahan. Contoh tanah untuk analisis sifat fisik menggunakan ring sampel. Untuk analisis sifat kimia, setiap satuan unit lahan dipilih secara acak sebanyak lima contoh tanah, kemudian dikompositkan. Pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia tanah menggunakan bor tanah sedalam lapisan olah (0 30 cm) dari permukaan tanah. Contoh tanah tersebut kemudian dianalisis di Laboratorium. Analisis sifat kimia tanah meliputi kapasitas tukar kation, ph, N-total, P-tersedia, K dapat ditukar, C-organik, salinitas dan kejenuhan basa. Analisis sifat fisik tanah meliputi tekstur dan permeabilitas tanah. Pengamatan untuk sifat fisik-kimia tanah di lapang dilakukan dengan mengukur beberapa variabel meliputi drainase, kedalaman efektif, kemiringan lereng, panjang lereng, jenis komoditas, dan tutupan vegetasi. Pengukuran kedalaman efektif, kedalaman solum, menggunakan metode minipit, yaitu dengan cara menggali tanah berukuran : panjang, lebar dan kedalaman masing-masing 60 cm, kemudian diukur setiap lapisan/kedalamannya menggunakan meteran. Pengukuran panjang lereng dan kemiringan lereng menggunakan alat abney level. Satuan panjang lereng adalah meter dan kemiringan lereng adalah persen (%). Data iklim yang diperlukan untuk analisis kesesuaian lahan adalah curah hujan sepuluh tahun terakhir. Analisis komoditas unggulan menggunakan metode penilaian location quotient (LQ) berbasis luas tanam. Evaluasi kesesuaian penggunaan lahan dilakukan dengan menggunakan sistem evaluasi yang diadopsi dari FAO dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang disusun berdasarkan persyaratan tumbuh komoditas tanaman berbasis lahan. Komoditas yang terpilih untuk ditentukan kelas kesesuaian lahannya adalah komoditas unggulan. Kriteria yang digunakan disajikan pada Tabel Lampiran 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, dan 12. 4.3.4. Prediksi Erosi Lokasi pengambilan sampel didasarkan pada peta satuan lahan (unit lahan) yang dihasilkan dari overlay peta dasar pada masing-masing zona agroekologi. Pengambilan contoh tanah menggunakan Stratified Random Sampling untuk

52 masing-masing unit lahan. Jumlah contoh tanah untuk keperluan analisis sifat fisik tanah disesuaikan dengan banyaknya satuan lahan. Contoh tanah untuk analisis sifat fisik menggunakan ring sampel. Data biofisik lahan yang diamati meliputi data iklim dan sifat-sifat tanah. Data iklim adalah data curah hujan sepuluh tahun terakhir. Data sifat-sifat tanah meliputi struktur tanah, tekstur, kandungan bahan organik, permeabilitas, panjang dan kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis-jenis vegetasi penutup tanah dan tindakan konservasi. Pendugaan besarnya erosi yang terjadi di lahan pertanian biasanya menggunakan pendekatan persamaan prediksi kehilangan tanah. Prediksi erosi secara komprehensif dengan pendekatan yang dikemukakan dalam The Universal Soil Loss Equation (USLE). 4.3.5. Keberlanjutan Usahatani Hortikultura Berbasis Agroekologi Pada Lahan Berlereng di Hulu DAS Jeneberang Jenis data yang digunakan dalam analisis keberlanjutan pertanian hortikultura pada lahan berlereng di hulu DAS Jeneberang adalah data primer berupa atribut-atribut yang terkait dengan lima dimensi keberlanjutan pembangunan pertanian yaitu dimensi ekologi, ekonomi, sosial, kelembagaan, dan teknologi. Data primer bersumber dari responden dan pakar yang dipilih, serta hasil pengamatan di lokasi penelitian. Metode pengumpulan data dalam analisis keberlanjutan pertanian hortikultura pada lahan berlereng di hulu DAS Jeneberang dilakukan melalui wawancara, diskusi, kuisioner, dan survey lapangan. Responden yang berasal dari wilayah penelitian terdiri dari beberapa pakar dan stakeholder yang berkaitan dengan pengembangan tanaman hortikultura. Penilaian keberlanjutan pertanian hortikultura berbasis agroekologi secara cepat (rapid appraisal) menggunakan metode multi atribut non-parametrik (multi dimentional scaling = MDS). Metode ini merupakan modifikasi dari RAPFISH (The Rapid Appraisal of the Status of Fisheries).

53 4.3.6. Model Pengembangan Tanaman Hortikultura Berbasis Agroekologi Pada Lahan Berlereng di Hulu DAS Jeneberang Jenis data yang diperlukan dalam menyusun model pengembangan tanaman hortikultura berbasis agroekologi pada lahan berlereng berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh dari responden, pakar dan instansi yang terkait dengan topik penelitian. Data primer dan sekunder yang diperlukan yaitu variabel-variabel penting yang berpengaruh dalam pengembangan tanaman hortikultura pada lahan berlereng. Pemilihan responden untuk diwawancarai dilakukan dengan menggunakan metode Stratified Random Sampling. Responden (stakeholders) dikelompokkan berdasarkan mata pencaharian dan kontribusinya terhadap kegiatan pertanian hortikultura. Pembagian kelompok stakeholders meliputi petani, pedagang hasil pertanian, pedagang saprodi, tokoh masyarakat, penyuluh pertanian, dan aparat desa dan kecamatan, masyarakat konsumen, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga penyedia modal. Jumlah responden ditetapkan secara proporsional terhadap jumlah populasi dalam kelompok. Data sosial dan ekonomi yang dikumpulkan meliputi umur, pendidikan, pemilikan lahan, jumlah keluarga, jumlah usia produktif, curahan tenaga kerja, upah tenaga kerja, penggunaan sarana produksi, peralatan pertanian, biaya hidup, produktivitas, harga sarana produksi, harga hasil komoditas, pendapatan usahatani, buruh tani, pendapatan non-usahatani, jumlah penduduk, luas lahan usahatani, mata pencaharian, fasilitas penunjang usahatani, fasilitas umum, mobilitas penduduk, ketersediaan teknologi, sumber penyedia teknologi, cara memperoleh teknologi, pelayanan penyuluhan, pelayanan swadaya dalam penyuluhan teknologi ramah lingkungan. Sedangkan data kelembagaan meliputi sumber penyediaan sarana produksi, jenis sarana produksi yang dibutuhkan, jumlah sarana produksi yang dibutuhkan, sumber penyedia modal usahatani, besarnya modal yang dibutuhkan, pemasaran hasil, sistem penjualan, penanganan hasil usahatani. Penelitian ini merupakan penelitian yang berorientasi tujuan (goal oriented), sehingga menggunakan pendekatan sistem yaitu menggunakan pemodelan. Pendekatan sistem digunakan untuk menganalisis suatu kumpulan

54 subsistem dari pertanian tanaman hortikultura dan setiap subsistem terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi dan berhubungan untuk membangun sebuah sistem pertanian tanaman hortikultura berbasis agroekologi. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam analisis sistem adalah analisis kebutuhan, identifikasi sistem, formulasi masalah, dan pemodelan pengembangan tanaman hortikultura berbasis agroekologi. Tahap analisis kebutuhan yaitu menentukan komponen-komponen yang berpengaruh dan berperan dalam sistem pertanian tanaman hortikultura berbasis agroekologi. Kebutuhan setiap komponen atau pelaku berbeda sesuai dengan tujuan dan tingkat kepentingan masing-masing, saling berinteraksi satu sama lain dan berpengaruh terhadap sistem pertanian tersebut. Formulasi masalah disusun berdasarkan sumberdaya dan kepentingan stakeholder. Pertama adalah adanya keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Kedua adalah adanya perbedaan kepentingan diantara stakeholders untuk mencapai tujuan dari sistem tersebut. Identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan khusus dari masalah yang harus diselesaikan untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Hubungan tersebut digambarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab akibat (causal loop). Selanjutnya diagram lingkar sebab akibat tersebut diinterpretasi ke dalam diagram input-output. Berdasarkan analisis kebutuhan, formulasi masalah, dan identifikasi sistem maka rancangan model pengembangan tanaman hortikultura berbasis agroekologi dibangun melalui 3 submodel, yaitu : a. Submodel produksi tanaman hortikultura; komponennya adalah jenis komoditas unggulan, pola tanam, sistem penanaman, pemupukan, pestisida dan amelioran. b. Submodel pengendalian erosi; komponennya adalah iklim, jenis tanah, panjang dan kemiringan lereng, faktor tanaman, pengelolaan lahan, dan tindakan konservasi. c. Submodel kelembagaan dan penyuluhan; komponennya adalah kelembagaan petani, jumlah penyuluhan, dan intensitas penyuluhan.

55 Perumusan rancangan alternatif atau skenario model pengembangan tanaman hortikultuta berbasis agroekologi yang dibangun dari tiga submodel tersebut akan dilakukan dengan menggunakan analisis program Stella 9.0.2.