BAB III PROGRAM PERANCANGAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISA TAPAK

b. Kebutuhan ruang Rumah Pengrajin Alat Tenun

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PROYEK

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang.

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. disesuaikan dengan tema bangunan yaitu sebuah fasilitas hunian yang

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. kendaraan dan manusia akan direncanakan seperti pada gambar dibawah ini.

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Berdasarkan dari tema yang di angkat yaitu Green Architecture maka

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik

BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB III : DATA DAN ANALISA

RESORT DENGAN FASAILITAS MEDITASI ARSITEKTUR TROPIS BAB V KONSEP PERANCANGAN. 5.1 Konsep dasar perancanagan. 5.2 Konsep perancangan

PROGRAM RUANG. 1. Bagian Depan Kelompok Elemen Unsur Kegiatan Bagian Komersial Kios Perdagangan barang-barang kebutuhan sehari-hari

Jenis dan besaran ruang dalam bangunan ini sebagai berikut :

BAB VI KONSEP RANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan. mengenai isu krisis energi dan pemanasan global.

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb :

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB V. KONSEP PERENCANAAN dan PERANCANGAN. Konsep perancangan makro meliputi perancangan skema organisasi ruang

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa

Lapas Kelas I A Kedungpane

BAB V KONSEP. mengasah keterampilan yaitu mengambil dari prinsip-prinsip Eko Arsitektur,

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN

BAB III METODE PERANCANGAN. pengumpulan data, analisis, dan proses sintesis atau konsep perancangan.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. aktivitas sehari-hari. mengurangi kerusakan lingkungan.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan. Kostel. yang ada didalam. Pelaku kegiatan dalam Kostel ini adalah :

BAB III METODE PERANCANGAN. proses merancang, disertai dengan teori-teori dan data-data yang terkait dengan

BAB IV ANALISA PERANCANGAN

BAB V KONSEP. dasar perencanaan Asrama Mahasiswa Binus University ini adalah. mempertahankan identitas Binus University sebagai kampus Teknologi.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA YANG UNGGUL, INKLUSIF, DAN HUMANIS

Dari pertimbangan diatas dibuat konsep tata ruang

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. yang mampu mengakomodasi kebutuhan dari penghuninya secara baik.

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN

BAB IV ANALISIS PERANCANGAN. 4.1 Analisis Obyek Rancangan Terhadap Kondisi Eksisting

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Nusantara ini dibagi menjadi beberapa bagian kegiatan, yaitu :

BAB V KONSEP. V.1.1. Tata Ruang Luar dan Zoning Bangunan

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB V KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN

Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Bab V Konsep Perancangan

BAB VI HASIL RANCANGAN. tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental,

BAB V KONSEP DASAR DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR I DESTI RAHMIATI, ST, MT

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISA TAPAK

BAB V KONSEP PERANCANGAN

PERANCANGAN KAWASAN PERMUKIMAN MELALUI PENDEKATAN SUSTAINABLE URBAN DRAINAGE SYSTEMS DI SRENGSENG JAKARTA BARAT LAPORAN TUGAS AKHIR.

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pelatihan

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. perumahan di Kota Sleman dan lahan pertanian masih tetap. penggunaan tanah sebagai pertimbangan utama, juga harus

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan sesama mahasiswa. tinggal sementara yang aman dan nyaman. keberlanjutan sumber daya alam.

BAB II ANALISIS TAPAK. mengatakan metoda ini sebagai Metoda Tulang Ikan. Pada kegiatan Analisa, Dosen

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. Terakota di Trawas Mojokerto ini adalah lokalitas dan sinergi. Konsep tersebut

BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis

BAB III METODE PERANCANGAN. teori-teori dan data-data yang di dapat dari studi literatur maupun studi lapangan, sehingga dari

BAB III: DATA DAN ANALISA

Gambar 5.1. Zoning Ruang (sumber:konsep perancangan.2012)

International Fash on Institute di Jakarta

BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep perancangan yang digunakan dalam perancangan kembali pasar

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISA. Berdasarkan referensi dari studi banding: susun untuk menambah efisiensi kerja. pembukaan kios di pagi hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR III DESTI RAHMIATI, ST, MT

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

MATA KULIAH PERENCANAAN TAPAK

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,

BAB V Program Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur

BAB VI KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Transkripsi:

29 BAB III PROGRAM PERANCANGAN A. Tata Ruang Makro 1. Penentuan Lokasi Site Gambar 3.1 Peta Kabupaten Bone Bolango (Sumber: Dokumen Faksi Bone Bolango) Pemilihan lokasi site harus memperhatikan beberapa aspek yang menyangkut rencana pengembangan Bagian Wilayah Kota (BWK) seperti yang termuat pada struktur ruang dalam Buku Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bone Bolango 2001-2011 yaitu sebagai berikut: BWK A meliputi beberapa wilayah yaitu Bone Pantai, Bone Raya, dan Bone Bolango. Pemenfaatannya adalah sebagai pemusatan kegiatan perdagangan, permukiman, dan merupakan pusat transportasi antar laut.

30 BWK B meliputi wilayah Bolango, Tapa dan Kabila Bone. Wilayah ini difungsikan sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, dan permukiman. BWK C meliputi wilayah Tilongkabila, Suwawa, Suwawa Timur. Pemanfaatannya adalah sebagai pusat industri, kerajinan, kegiatan pendidikan dan permukiman. BWK D meliputi beberapa wilayah yaitu Kabila. Pemanfaatan kawasannya sebagai pusat rekreasi, pemerintahan Kabupaten, dan pemukiman. Lokasi yang sesuai dengan pemanfaatan BWK Kabupaten Bone Bolango adalah BWK C, Kecamatan Tilongkabila tepatnya di kelurahan Iloheluma.

31 Gambar 3.2 Pemilihan Lokasi (Sumber: Survei Lapangan) a. Definisi Site

32 Site adalah kapling yang akan dibangun suatu bangunan lengkap dengan flownya, sedangkan Tapak adalah lokasi tempat berdirinya bangunan, dengan menganalisis tapak akan membantu perancang dalam pemilihan letak Main Entrance (ME), posisi layout dan hal -hal lainnya yang berhubungan dengan perancangan. b. Kriteria Site Salah satu hal yang cukup penting dalam pemilihan site adalah dengan memperhatikan kriteria-kriteria site yang memenuhi syarat dari segi fisik, tata lingkungan dan kebutuhannya : 1) Berada di lokasi yang strategis, yaitu dekat dengan sarana-sarana umum. 2) ukuran site yang memadai, yaitu mampu menampung 1000 unit rumah. 3) Lingkungan yang tertib dan teratur, akses dan kemudahan transportasi untuk masyarakat baik dari dalam maupun dari luar Gorontalo. 4) Tersedianya jaringan utilitas di lokasi site. c. Alternatif Penentuan site Dalam penentuan lokasi ini di ambil 2 (dua) alternatif site sebagai bahan pertimbangan untuk memperoleh lokasi site yang memenuhi kriteria di atas. Adapun dua alternatif site yang diambil tersebut yaitu : 1) Site 1, berada di jalan Tapa Suwawa kelurahan Iloheluma Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. 2) Site 2, berada di jalan raya DPRD Kabupaten Bone Bolango

33 Gambar 3.3 Site 1 (Sumber: Survei Lapangan)) Gambar 3.4 Site 2 (Sumber: Survei Lapangan) Tabel 3.1 Pembobotan Pemilihan Site

34 No Kriteria Bobot Alternatif Site 1 Alternatif Site 2 Kondisi N B.N Kondisi N B.N 1 Aksebilitas 25% Pencapaian mudah karena berada di dekat persimpangan jalan menuju jalan raya DPRD 0,5 12,5% Dapat dicapai melalui jalan utama 0,3 7,5% 2 Sirkulasi 25% Pencapaian dari segala arah mudah 0,5 12,5% Pencapaian dari beberapa arah mudah 0,3 7,5% 3 Topografi 10% Topografi tanah datar tidak berkontur. 0,5 5% Topografi tanah datar tidak berkontur. 0,5 5% 4 Daya tarik 30% Dekat dengan fasilitas penunjang ruang publik. 0,5 15% dekat dari fasilitas penunjang ruang publik. 0,5 15% 5 Kepadatan jalur lalu lintas 10% Aktivitas dan lalu lintas cukup tinggi 0,3 3% Aktivitas dan lalu lintas cukup tinggi 0,3 3% Jumlah 100% 48% 38% (Sumber: Survei Lapangan) Keterangan nilai : 0,5 = Baik 0,3 = Cukup 0,1 = Kurang Catatan: N = Nilai B.N = Bobot x Nilai Dari hasil pembobotan yang sesuai dengan kriteria pemilihan site pada tabel 3.1, maka site yang terpilih adalah Site 1.

35 Gambar 3.5 Lokasi Site (Sumber: Survei Lapangan) 1) Data Site Batas-batas Sebelah Utara Sebelah timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Lahan perkebunan : Lahan perkebunan : Pemukiman Penduduk : Pemukiman Penduduk

36 Gambar 3.6 Batas-batas Site (Sumber: Survei Lokasi) 2) Kondisi administratif Kabupaten Kecamatan Kelurahan BWK : Bone Bolango : Tilongkabila : Iloheluma : C

37 2. Analisa Site a. Kondisi Lahan/Geologi Gambar 3.7 Kondisi Lahan/Geologi (Sumber: Survei Lapangan) Keterangan: 1) Perkebunan 2) Perkebunan 3) Pemukiman penduduk 4) Pemukiman penduduk Site memiliki ukuran yang sangat luas (±30Ha) sehingga mampu menampung 1000 unit rumah beserta fasilitas penunjangnya.

38 b. Topografi Gambar 3.8 Topografi/Bentuk Muka Tanah (Sumber: Survei Lapangan) Topografi mempengaruhi rancangan dalam 3 hal yaitu: 1) Iklim dan cuaca 2) Bidang muka tanah 3) Mengembangkan karakter tapak Analisis tanah menjadi penting karena mempengaruhi potensi fisik tapak lokasi, pemilihan konstruksi dan sifat ekologis sebagai media penunjang kehidupan tumbuh-tumbuhan/vegetasi. Kondisi tanah pada lokasi site tiak berkontur. Hanya memerlukan sedikit perataan.

39 c. Orientasi Arah Matahari Gambar 3.9 Orientasi Arah Matahari (Sumber: Survei Lapangan) Bangunan dapat memanfaatkan sudut jatuhnya sinar matahari pagi untuk memberikan pencahayaan alami pada bangunan dan menghindari bukaan pada saat panas teriknya matahari masuk kedalam bangunan.

40 d. Orientasi Arah Angin Gambar 3.10 Orientasi Arah Angin (Sumber: Survei Lapangan) Angin berhembus dari arah utara ke selatan. Kondisi ini dapat dimanfaatkan dengan memperbanyak bukaan diarah utara untuk memanfaatkan angin sebagai penghawaan alami

41 e. Noise/Kebisingan Keterangan: Gambar 3.11 Sumber Kebisingan (Sumber: Survei Lapangan) Kebisingan yang berasal dari aktfitas penduduk Kebisingan yang berasal dari kendaraan bermotor

42 f. Hujan 2 1 3 Gambar 3.12 Solusi Curah Hujan (Sumber: GambarAutocad) 1) Oevrstek berfungsi untuk mengurangi pancaran air hujan yang masuk ke dalam bangunan 2) Penggunaan talang air uuntuk mengatur aliran air hujan agar mengalir hingga ke saluran air 3) Saluran air berfungsi untuk mengalirkan air hujan maupun air kotor sampai ke saluran terakhir.

43 3. Pola Tata Ruang Luar 1) Site Site pada perumahan ini direncanakan dengan bentuk konvensional dengan pola jalan grid untuk memudahkan pengaturan tiap unit bangunan serta pemanfaatan lahannyapun lebih maksimal 2) Tanaman Tanaman digunakan pada kawasan ini berupa pepohonan sebagai pelindung yang akan disebar di area perumahan terutama disepanjang jalur hijau, Selain pohon, digunakan tanaman semak, liana dan perdu untuk memperindah taman dan fasilitas penunjang lainnya. B. Tata Ruang Mikro 1. Pemakai Seperti perumahan-perumahan pada umumnya, pelaku kegiatan pada Perumahan ini adalah: 1) Masyarakat Masyakarat dalam hal ini dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu: Penghuni Perumahan perumahan. Adalah masyarakat yang tinggal, dan berinteraksi di lingkungan Pengunjung/tamu

44 Adalah masyarakat yang datang ke lingkungan perumahan untuk berkunjung ke keluarga, teman yang tinggal di perumahan. 2) Pihak Pengembang/Development dan Pemasaran/Marketing Adalah pihak yang membangun dan memasarkan perumahan. 3) Pihak Pengelola perumahan. Adalah pihak yang mengelola, mengurus, menjaga lingkungan berikut: Kegiatan kegiatan yang ada dalam kawasan dapat diklasifikasikan sebagai

45 2. Aktifitas Secara Umum Aktivitas penghuni perumahan antara lain: Penghuni perumahan Mainentrance Kompleks perumahan Istirahat beraktifitas Mini Market Taman kompleks Lapangan badminton Masjid Kompleks Perumahan Gambar 3.13 Pola Aktivitas Penghuni Perumahan (Sumber: Survei) Aktivitas Pengunjung antara lain: Pengunjung Mainentrance

46 Gambar 3.14 Pola Aktivitas Pengunjung Perumahan (Sumber: Survei) Pola Aktifitas Pengembang: Pengembang Mainentrance

47 Gambar 3.15 Pola Aktivitas Pengenbang Perumahan (Sumber: Survei) Pola Aktifitas Pengelola Perumahan: Satpam Mainentrance

48 Gambar 3.16 Pola Aktivitas Pengelola Perumahan (Sumber: Survei) C. Program Ruang 1. Fasilitas Ruang Secara garis besar fasilitas bangunan yang ada meliputi: 1) Fasilitas Service 2) Fasilitas Hunian 3) Fasilitas rekreasi dan bangunan Penunjang 2. Kebutuhan Ruang a. Dasar Pertimbangan

49 Kebutuhan ruang berdasarkan program kegiatan yang berlangsung, yang menentukan fungsi dan pengaturan ruang. Kebutuhan ruang berdasarkan pelaku kegiatan, sifat dan pola aktivitas dari pelaku kegiatan tersebut. b. Pengelompokan Kebutuhan Ruang Tabel 3.2 Pengelompokan Kebutuhan Ruang No. Fasilitas No. Jenis Ruang Sifat Ruang Publik Private Service 1 2 3 4 5 7 8 1 Kebutuhan Ruang Service 1 Pos Satpam 2 2 Rumah tipe 28 Kebutuhan Ruang 3 Rumah tipe 36 Hunian 4 Rumah tipe 60 3 Kebutuhan Fasilitas Rekreasi dan Bangunan Penunjang 5 Gazebo 6 Playground Lapangan 7 Badminton 8 TK 10 Taman 11 Parkir umum 12 masjid 3. Pola Hubungan Ruang

50 Area Private Area Publik Area Service Gambar 3.17 Pola Hubungan Ruang (Sumber: data tugas akhir) Keterangan: : Hubungan langsung : Hubungan tidak langsung 4. Besaran Ruang Untuk mendapatkan besaran ruang pada Perumahan, digunakan beberapa cara diantaranya dengan studi banding dan standar dalam literatur. Adapun standar-standar yang digunakan dalam perancangan perumahan ini bersumber dari buku data arsitek dan SNI. Sesuai dengan peraturan pemerintah, jumlah unit yang akan dibangun adalah 1000 unit yang terdiri dari 60% rumah tipe 28 (600 unit), 30% rumah tipe 36 (300 unit) dan 10% rumah tipe 60 (100 unit). Luas sitenya adalah 30Ha dengan KDB 60%. 60% dari 300000m 2 adalah 180000 m 2. a. Fasilitas Servis Tabel 3.3 Kebutuhan Ruang Fasilitas Servis

51 No. Jenis Ruang Luas (m 2 ) Ket. 1 2 3 4 1 Pos Satpam 10 Analisa sub total 10 Sirkulasi 3 30% Total 13 Grand Total 2 x 13 = 26 b. Fasilitas Hunian Perhitungan luas kapling: 1) Rumah Tipe 28 = 70 x 28 30 = 65 => 65 + 28 = 93m 2 (600 unit = 55800m 2 ) Ruang-ruang yang terdapat pada rumah tipe 28 adalah: Dua buah ruang tidur Ruang keluarga Ruang makan Dapur KM/WC 2) Rumah Tipe 36 = 70 x 36 30 = 84 => 84 + 36 = 120m 2 (300 unit = 36000m 2 ) Ruang-ruang yang terdapat pada rumah tipe 36 adalah: Dua buah ruang tidur

52 Ruang keluarga Ruang makan Dapur KM/WC Teras 3) Rumah Tipe 60 = 70 x 60 30 = 140 => 140 + 60 = 200m 2 (100 unit = 20000m 2 ) Ruang-ruang yang terdapat pada rumah tipe 60 adalah: Tiga buah ruang tidur Ruang keluarga Ruang makan Ruang Cuci Dapur KM/WC Teras c. Fasilitas Penunjang Tabel 3.4 Kebutuhan Ruang Fasilitas Penunjang

53 No Jenis Ruang Jumlah Pemakai Standar Gerak (m 2 /Org) Luas (m 2 ) Ket. 1 2 4 5 6 7 1 Gazebo 3% dari 5000 orang = 150 orang /4 orang = 30 Unit 1.2 180 SPT 2 Playground 17% dari 5000 orang = 850 6 5100 SPT 3 Lapangan Badminton 1% dari 5000 orang = 50 orang/ 10 orang = 5 unit (13,40 x 6,10) = 81,74 x 5 = 408,7 NAD 4 Masjid 5 TK 7% dari 5000 orang = 350 orang 18% dari 1000 = 180 orang 1,2 420 SNI 1,5 270 SNI 6 taman 5000 orang 5000 7 Mini Market 5000 orang 480 x 2 = 960 8 Jalur hijau 5000 orang 2,5 12500 Sub total 24838,7 SNI SNI SNI Sirkulasi 30% 7451,61 Total 32290,31 Keterangan: NAD : Neufert, Ernst, Architect Data I & II SPT : Standart Perencanaan Tapak Analisa : Pendekatan Berdasarkan Hasil Pengamatan/Perhitungan SNI : Standar Nasional Indonesia Rekapitulasi Kebutuhan Ruang 1) Fasilitas Hunian:

54 Type 28: 65 x 600 = 39000 m 2 Type 36: 84 x 300 = 25200 m 2 Type 60: 140 x 100 = 14000 m 2 2) Fasilitas Service 26 m 2 3) Fasilitas Penunjang 32290,31 m 2 + BC = 110516,31 m 2 Total Area yang Dibutuhkan Total Luas Ruang = 110516,31 m 2 OS : BC = 70 : 30 OS = 70/30 x BC = 70/30 x 110516,31 m 2 = 257871,39 m 2 Luas Site = OS + BC = 257871,39 m 2 + 110516,31 m 2 = 268927,7 m 2 D. Sistem Struktur Sisitem struktur pada barang sangat berpengaruh pada massa, kesan suatu barang, harga barang, pemakaian material serta hal-hal lain juga berhubungan dengan bangunan. Adapun kriteria pemilihannya adalah sebagai berikut: Fungsi bangunan

55 Faktor teknis bangunan Dengan kriteria di atas maka sisitem statistik yang dipakai adalah: 1) Pondasi Untuk Pondasi digunakan pondasi garis. 2) Untuk Atap Bahan atap untuk perumahan adalah seng, dengan kayu sebagai rangka kuda-kuda E. Sistem Utilitas 1. Pembuangan 1) Air kotor dan Kotoran Pembuangan air kotor dan kotoran disediakan dibeberapa tempat dimana terjadi pemakaian air untuk keperluan rumah seperti toilet, dapur, dan kamar mandi. Pada bangunan kawasan ini disediakan septick tank di setiap unit rumah. 2) Sampah Sistem pembuangan sampah, disediakan banyak tempat sampah ditiap klelompok unit rumah dan bangunan-bangunan penunjang, yang nantinya akan diangkut oleh mobil pengangkut sampah. selanjutnya dibawa ke pembuangan akhir. Sampah yang terkumpul dimasing-masing unit perumahan di pilih berdasarkan jenisnya kemudian dibuang ke tempat sampah sesuai dengan jenisnya yang selanjutnya akan diangkut oleh mobil pengangkut sampah.

56 3) Air Hujan/Drainase Agar tidak terjadi genangan air hujan, dibuat saluran drainase di sepanjang tepian jalan yang saling berhubungan dan berakhir di saluran drainase umum yang terdapat di depan kompleks. Saluran yang dipergunakan adalah saluran tertutup. 2. Air Bersih Sumber air bersih untuk tiap unit rumah bersal dari PDAM. Tiap unit rumah disediakan reservoir untuk menampung air bersih sehingga air bersih tetap tersedia padasaat air dari PDAM berhenti sewaktu-waktu. Sedangkan air untuk pemeliharaan taman menggunakan air hujan yang ditampung dengan Rainwater Cachting. 3. Listrik Tenaga dari listrik yang dipakai berasal dari PLN. Tenaga listrik yang berasal dari PLN disambungkan ke meteran di tiap unit perumahan kemudian dihubungkan dengan trafo ke panel utama yang kemudian di alirkan ke panel cabang yang kemudian dibagi unntuk kebutuhan pencahayaan dan lain-lain. Mengingat perumahan ini berjumlah 1000 unit, maka kawasan ini membutuhkan gardu listrik sendiri yang diletakkan didekat kawasan, yang ditransmisikan langsung dari gardu listrik PLN. 4. Penghawaan

57 Perumahan ini mengandalkan penghawaan alami yang berasal dari rumbuh-tumbuhan yang tumbuh di sekitar bangunan. Agar udara dapat masuk, pada tiap unit rumah tentunya dibuatkan ventilasi. Dan jika membutuhkan penghawaan yang lebih, penghuni dapat memanfaatkan buakaan berupa jendela untuk mengoptimalkan udara didalam ruangan. Begitu juga jika penghuni tidak menginginkan udara yang masuk ke dalam ruangan terlalu banyak, penghuni hanya tinggal menutup jendela. 5. Sistem Pecahayaan Pencahayaan alamiah untuk tiap unit perumahan disesuaikan dengan arah terbit dan terbenamnya matahari agar pencahayaannya lebih optimal pada siang hari, sedangkan pada malam hari, menggunakan pencahayaan buatan karena tidak adanya sinar matahari. 6. Sistem Keamanan Sistem keamanan pada kawasan ini menggunakan jasa satpam yang ditempatkan pada pos utama yang terletak di pintu masuk kompleks. Jalan masukutama ke kompleks perumahan ini dibatasi oleh palang yang secara manual dibuka dan di tutup oleh satpam yang berada di pos satpam tersebut. 7. Sistem komunikasi Sistem komunikasi keluar bangunan menggunakan telpon langsung yang disediakan bagi penghuni yang menginginkan adanya telepon rumah. Mengingat

58 saat ini orang lebih banyak menggunakan handphone sebagai alat komunikasi yang lebih praktis.