I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
TEKNIK BUDIDAYA ROTAN PENGHASIL JERNANG

Agroindustri Jernang. Mahya Ihsan

Silvikultur intensif jenis rotan penghasil jernang (bibit, pola tanam, pemeliharaan)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BUDIDAYA ROTAN JERNANG

PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1

Budidaya Jenis rotan penghasil jernang JENIS: JERNANG

Oleh/By : Totok K. Waluyo ABSTRAK. Jernang adalah resin yang merupakan hasil sekresi buah rotan jernang

TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit

Dairi merupakan salah satu daerah

III.TATA CARA PENELITIAN

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Oleh : Iskandar Z. Siregar

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA)

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta.

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah di Dusun Tegalrejo, Taman Tirto,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu

Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica)

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

Benih kelapa genjah (Cocos nucifera L var. Nana)

TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. pertumbuhan tanaman cabai merah telah dilakukan di kebun percobaan Fakultas. B.

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman mentimun ( Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2006) dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL BUDIDAYA KUNYIT. Mono Rahardjo dan Otih Rostiana

PENGEMBANGAN PEPAYA SEBAGAI KOMODITAS UNGGULAN DAERAH INSTITUT PERTANIAN BOGOR

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium

Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,

BUDIDAYA CABAI PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. petani responden menyebar antara tahun. No Umur (thn) Jumlah sampel (%) , ,

BAB I PENDAHULUAN. B. Tujuan Penulisan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subhan dkk. (2005) menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif pada

PERBANYAKAN BAHAN TANAM LADA DENGAN CARA STEK

Pengelolaan hhbk femo

Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk

MANAJEMEN TANAMAN PAPRIKA

BUDIDAYA SUKUN 1. Benih

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Gedung Hortikultura Universitas Lampung

III. BAHAN DAN METODE

III. PENANGANAN PANEN DAN PASCAPANEN TANAMAN OBAT SECARA UMUM

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

Lokasi Kajian Metode Penelitian Lanjutan Metode Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

VI ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BELIMBING DEWA

III. METODE PENELITIAN. Kecamatan Medan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat kira-kira 12 m dpl,

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

PENYIAPAN BIBIT UBIKAYU

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari sampai Maret B. Penyiapan Bahan Bio-slurry

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian

MENGENAL KELAPA DALAM UNGGUL LOKAL ASAL SULAWESI UTARA (Cocos nucifera. L) Eko Purdyaningsih,SP PBT Ahli Muda BBPPTPSurabaya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

Menurut van Steenis (2003), sistematika dari kacang tanah dalam. taksonomi termasuk kelas Dicotyledoneae; ordo Leguminales; famili

II. TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit

I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian

PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

TEKNOLOGI SAMBUNG PUCUK PADA DUKU KUMPEH

Bibit Sehat... Kebun Kopi Selamat

III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai 3 Juni Juli 2016 di Green House

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena

III. BAHAN DAN METODE

Cara Menanam Cabe di Polybag

Teknologi Praktis : Agar Populasi Tanaman Pepaya Bisa 100 Persen Berkelamin Sempurna (Hermaprodit) dan Seragam

VI ANALISIS KERAGAAN USAHATANI KEDELAI EDAMAME PETANI MITRA PT SAUNG MIRWAN

TINJAUAN PUSTAKA. keputih-putihan atau kekuning-kuningan serta kehitam-hitaman. Batang tanaman

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mentimun dapat diklasifikasikan kedalam Kingdom: Plantae; Divisio:

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Yogyakarta, GreenHouse di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

III. METODE KEGIATAN TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Selongisor RT 03 RW 15, Desa Batur,

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Pada Tahun Kelompok

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gladiol (Gladiolus hybridus) berasal dari bahasa latin Gladius yang berarti

BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. )

BUDIDAYA DAN TEKNIS PERAWATAN GAHARU

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Way Kanan merupakan salah satu wilayah pemekaran dari wilayah

Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag

Teknik Membangun Persemaian Pohon di Desa

PETUNJUK LAPANGAN 3. PANEN DAN PASCAPANEN JAGUNG

III. BAHAN DAN METODE

PRODUCT KNOWLEDGE PEPAYA CALINA IPB 9

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

Daun pertama gandum, berongga dan berbentuk silinder, diselaputi plumula yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun. Daun tanaman gandum

Teknik Budidaya Tanaman Pepaya Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Bio~FOB

Transkripsi:

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan cukup tinggi adalah jernang. Jernang merupakan resin yang dihasilkan dari buah rotan yang memiliki warna merah bata sehingga dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama dragon blood. Jernang dimanfaatkan sebagai bahan pewarna vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat dan sebagainya. Manfaat lain dari jernang adalah sebagai bahan obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido) serta pembeku darah karena luka (Grieve 2006 dalam Waluyo, 2008). Beragamnya manfaat jernang menyebabkan kebutuhan terhadap produk ini terus meningkat. Rotan penghasil jernang banyak tumbuh di wilayah Sumatera bagian selatan dan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan jernang oleh masyarakat dilakukan dengan cara memanen buah muda dari hutan. Buah yang dimanfaatkan adalah buah jernang muda karena resin akan berkurang dengan semakin bertambah tua buah tersebut. Pemanenan buah muda menjadi salah satu penghambat regenerasi rotan jernang. Hal ini yang menjadikan rotan jernang semakin sulit dijumpai dan produksinys terus menurun. Selain itu, kerusakan hutan, kebakaran dan berkurangnya luas hutan menyebabkan semakin terancamnya habitat rotan jernang. Masyarakat desa yang berprofesi sebagai penjernang sudah lama memanen rotan jernang dari alam dan menjualnya kepada pengumpul yang ada di desa. Secara umum masyarakat belum mengetahui manfaat dari produk akhir resin jernang. Masyarakat hanya melakukan perburuan terhadap jernang dengan memanen buah dari hutan. Sebagian penjernang melakukan ekstraksi resin di dalam hutan terutama bagi penjernang yang memasuki hutan dalam waktu yang cukup lama. Pola pemanenan rotan jernang yang dilakukan masyarakat mulai mempertimbangkan aspek kelestariannya. Walaupun masih ada sebagian penjernang yang masih memiliki prilaku yang kurang baik dengan menebang batang jernang untuk memanfaatkan batang dan umbutnya. 1

Kondisi terkini, rotan jernang di hutan alam sudah sangat sulit didapatkan. Untuk mendapatkan 1-2 kg jernang membutuhkan waktu 2 pekan, padahal 10-15 tahun silam hanya perlu waktu 1 pekan di hutan untuk memperoleh 7-10 kg jernang (Panjaitan, 2011). Budidaya terhadap rotan jernang masih sangat terbatas, seperti dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi melalui Kelompok Tani Bangko Jaya Koning seluas 10 Ha. Selain itu masyarakat di Kecamatan Mekakau ilir Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan dan masyarakat di Kecamatan Nasal Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Pola pemanfaatan jernang telah dilakukan secara turun-temurun tanpa aturan main dan kelembagaan yang menaunginya. Masyarakat memanfaatkan sumberdaya hutan jernang sebagai sesuatu yang open akses. Setiap anggota masyarakat dapat melakukan pengambilan buah jernang kapan saja dalam kapasitas yang tidak terbatas. Kondisi tersebut sangat membahayakan bagi keberlangsungan rotan jernang di alam dan sumber mata pencarian alternatif masyarakat. Domestikasi rotan jernang perlu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan rotan jernang yang mengandalkan sumber dari alam, menyebabkan jernang belum bisa dijadikan sebagai sumber ekonomi rumah tangga karena ketidakpastian keberadaan dan jumlah hasil panennya. Untuk mengetahui karakteristik masyarakat yang melakukan pemanfaatan rotan penghasil jernang dilakukan survei sosial ekonomi rumah tangga dan lembaga sosial yang ada. Jernang merupakan komoditi khusus (spesifik) sehingga pasarnya masih sangat terbatas. Dengan kata lain, pasar yang ada belum seperti komoditi lainnya seperti sawit dan karet, sehingga perlu adanya upaya untuk membuka pasar yang lebih luas. Selama ini, pemasaran jernang dilakukan dengan menjual pada tengkulak dengan harga yang tidak pasti. Adanya asimetri informasi mengenai tingkat harga mengakibatkan masyarakat hanya bisa berlaku sebagai price taker. Karena harga telah ditentukan oleh tengkulak yang datang ke desa. Oleh karena itu diperlukan adanya penguatan kelembagaan yang mampu mengatur pemanfaatan rotan penghasil jernang di masyarakat, dan lebih lanjut mampu memberikan alternatif pasar sehingga harga tidak hanya dikendalikan oleh tengkulak Dengan melihat kondisi diatas maka dilakukan penelitian tentang strategi konservasi, budidaya, kelembagaan dan tataniaga rotan jernang untuk meningkatkan 2

produksi dan produktivitas rotan jernang. Dengan demikian diharapkan rotan jernang dapat menjadi salah satu komoditas HHBK unggulan di regional Sumatera bagian selatan. B. Rumusan masalah Potensi produksi jernang semakin menurun disebabkan oleh pola pemungutan yang tidak lestari dan belum adanya kelembagaan yang kuat. Saat ini, jernang sebagian besar dihasilkan melalui ekstraksi dari hutan alam dan masih sedikit upaya pembudidayaannya. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka yang menjadi topik permasalahan adalah: 1. Belum tersedianya informasi persyaratan tumbuh dan kesesuaian lahan untuk budidaya rotan jernang (sebaran dan identifikasi jenis). 2. Belum banyak upaya konservasi rotan jernang di hutan alam. 3. Rendahnya produktivitas (kuantitas dan kualitas) produk-produk rotan jernang karena belum menggunakan teknik budidaya dan pengolahan pasca panen yang tepat. 4. Belum tersedianya kelembagaan sosial ekonomi masyarakat yang melakukan pemanfaatan rotan penghasil jernang. 5. Belum tersedianya sistem tataniaga dan nilai tambah rotan jernang. C. Tujuan dan Sasaran Penelitian pada tahun 2015 memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Menyediakan data dan informasi jenis dan sebaran jernang di provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu. 2. Menyediakan data dan informasi pemanenan dan pengolahan pasca panen. 3. Mengetahui teknik pembibitan secara generatif rotan penghasil jernang. 4. Menyediakan data dan informasi pengetahuan lokal pemanfaatan rotan oleh masyarakat 5. Menyediakan data dan informasi tata niaga dan kelembagaan pengusahaan rotan jernang 3

Sedangkan sasaran yang ingin dicapai sebagai berikut: 1. Tersedianya IPTEK pembibitan tanaman rotan jernang 2. Tersedianya IPTEK strategi konservasi dan pemanfaatan rotan jernang dari hutan alam 3. Tersedianya IPTEK kelembagaan, tata niaga dan peningkatan nilai tambah rotan jernang D. Luaran 1. Informasi sebaran, persyaratan tumbuh dan kesesuian lahan rotan jernang di Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu sebagai base line pengembangan. 2. Teknik bibit sebagai bahan untuk pengembangan budidaya 3. Teknik pemanenan dan pengolahan pasca panen 4. Informasi sosial ekonomi dan kelembagaan rotan jernang 5. Informasi tataniaga dan peningkatan nilai tambah 4

A. Jernang II. TINJAUAN PUSTAKA Jernang merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan komponen resin hasil ekstraksi buah rotan jernang. Resin tersebut menempel dan menutupi bagian luar buah rotan. Dalam perdagangan jernang dikenal dengan nama dragon s blood, kino, red benzoin, jernang manday, jernang beruang, jernang kuku, getah badak, dan getih warak. Masyarakat di sekitar kawasan hutan memanen jernang dari hutan alam dengan cara berburu secara berkelompok maupun perorangan. Musim berburu jernang dilakukan pada bulan September-Desember (Sumadiwangsa, 1973; Elvidayanty dan Erwin, 2006 dalam Waluyo, 2008) Jernang termasuk dalam kelompok resin keras yaitu padatan yang mengkilat; bening atau kusam atau berwarna merah; rapuh; meleleh bila dipanaskan dan mudah terbakar dengan mengeluarkan asap dan bau yang khas; berbentuk amorf; berat jenis 1,18-1,20; bilangan asam rendah; bilangan ester sekitar 140, titik cair sekitar 120 0 C; larut dalam alkohol, eter, minyak lemak dan minyak atsiri, sebagian larut dalam kloroform, etil asetat, petroleum spiritus dan karbon disulfide serta tidak larut dalam air (Sumadiwangsa, 1973; Sumadiwangsa 2000; Coppen 1995 dalam Waluyo, 2008). Komponen kimia utama pada resin yang dihasilkan dari buah jernang adalah resin ester dan dracoresino tannol (57-82 %). Selain itu resin berwarna merah tersebut juga mengandung senyawa-senyawa seperti dracoresene (14 %), dracoalban (hingga 2,5 %), resin tidak larut (0,3 %), residu (18,4 %), asam benzoate, asam benzoilasetat, dracohodin, dan beberapa pigmen terutama nordracorhodin dan nordracorubin (Chu, 2006 dalam Risna 2006 dalam Waluyo, 2008). Kegunaan jernang yaitu sebagai bahan bahan pewarna vernis, keramik, marmer, alat dari batu, kayu, rotan, bambu, kertas, cat dan sebagainya. Selain itu juga digunakan sebagai bahan obat-obatan seperti diare, disentri, obat luka, serbuk untuk gigi, asma, sipilis, berkhasiat apbrodisiac (meningkatkan libido) serta kegunaan lainnya (Anonim, 2006; Grieve 2006 dalam Waluyo, 2008). B. Rotan Penghasil Jernang Rotan berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan jenis 5

tanaman Palmae yang tumbuh memanjat. Jenis-jenis rotan penghasil jernang antara lain: Daemonorops draco BL., D.didymophyllus BECC., D. mattanensis BECC., D. micranthus BECC., D. propinquus BECC., D. ruber BL., D. draconcellus BECC., D. micracanthus BECC., D. motleyi BECC., D. sabut BECC., dan lain-lain. (Heyne, 1987; Dransfield dan Manokaran, 1994; dalam Waluyo, 2008). Rotan jernang di Indonesia dikenal juga dengan nama rotan tunggal. Tanaman ini berkerabat dekat dengan tanaman rotan getah, rotan latung, rotan sendang, rotan tanah, rotan manau padi, rotan lilin, rotan bulu rusa, dan rotan sabut. Klasifikasi rotan jernang Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Sub Kelas : Arecidae Ordo : Arecaceae Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan) Genus : Daemonorops Spesies : Daemonorops spp. Tanaman ini bisa dijumpai di semenanjung Malaya, Sumatera, dan dataran rendah pada 300 m dpl. Tanaman ini tumbuh merambat dan membutuhkan tanaman kayu-kayuan sebagai media tegakannya. Batang tanaman ini membentuk rumpun, diameter 12 mm, panjang ruas 18 35 cm, warna coklat kekuningan dan mengkilat, hati berwarna putih. Sedangkan daunnya adalah daun majemuk menyirip, anak daun berbentuk lanset seperti pita, bagian atas anak daun dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadapan-hadapan. Bunganya mempunyai malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang yang berduri. Buahnya berbentuk bulat, coklat merah, dan berbiji tunggal. Ciri-ciri botanis beberapa rotan penghasil jernang: 1. D. draco BL. D. draco disebut juga dengan rotan jernang, rotan Palembang, jernang besar. Jenis ini merupakan rotan jernang klasik asal Sumatera. 6

2. D. didymophyllus BECC D. didymophyllus disebut juga uwi jernang kecil (Palembang) dan rotan udang (Malaka). Jenis rotan ini mempunyai buah yang besar, menghasilkan 6 buah batang menyulur yang panjangnya kira-kira 30 m. Mempunyai diameter 10-10 mm, dengan buku-buku yang menceruk dan ruas-ruas yang panjangnya 10-18 cm. Permukaannya kusam sampai coklat muda. Jenis rotan ini kuat, namun sifat lentur dan kemampuan belah kurang baik, dan mempunyai inti yang berlubang. Karena sifat-sfat tersebut jenis ini diklasifikasikan rotan yang bernilai rendah. Jenis ini sudah jarang diambil jernangnya oleh masyarakat Palembang. 3. D. mattanensis BECC Jenis ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan. Produksi jernang dari rotan ini hanya sedikit. 4. D. micranthus BECC Jenis ini pada umumnya tersebar di Semenanjung Malaysia. 5. D. propinquus BECC Jenis ini disebut juga dengan jernang paya (Kubu) dan tersebar di Semenanjung Malaysia dan Sumatera. Jenis yang tersebar Di Semenanjung Malaysia, menghasilkan jernang dengan mutu baik namun oleh suku Kubu tidak digunakan. 6. D. draconcellus BECC D. draconcellus bisa ditemukan di Serawak dan Kalimantan Barat dan dikenal masyarakat dengan sebutan rotan jerman atau rotan jernang (Pontianak). Jenis ini dianggap sebagai salah satu rotan yang menghasilkan jernang terbaik dengan warna merah tua yang indah. Diameter mencapai 6-8 mm dengan ruas-ruas yang panjangnya 15-30 cm. Permukaannya kuning muda mengkilat, intinya kelabu kekuning-kuningan, sangat lentur dan sebagai rotan penjalin yang baik. 7. D. ruber BL Jenis ini ditemukan di Jawa dan Sumatera. Buahnya dimanfaatkan untuk memerahi rotan yang dikupas. Rotan kupasan ini ditimbuni tanah basah selama 15 hari lalu dikeringkan 6 hari dan dua kali selama beberapa jam direndam dalam air rebusan buah rotan yang telah dtumbuk. 7

8. D. motleyi BECC. D. motleyi disebut juga dengan royan jernang laki (Banjarmasin) dan dapat ditemukan di Kalimantan. Batangnya kasar, getas, tidak digunakan, tapi menghasilkan buah yang sangat kaya dengan jernang dan termasuk salah satu jenis rotan penghasil jernang bermutu terbaik. C. Teknik Ekstraksi Buah Menurut laporan ITTO (2007) dan Waluyo (2008), ekstraksi buah rotan jernang secara tradisional telah dilakukan oleh Suku Anak Dalam (SAD) di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD), Kab. Sarolangun dan oleh Suku Melayu Jambi (SMJ) di Taman Nasional Kerinci Seblat, Kab. Merangin, Jambi. 1. Ekstraksi yang dilakukan oleh suku anak dalam di TN Bukit 12 Peralatan yang dilakukan adalah ambung yaitu keranjang yang terbuat dari rotan, kayu penumbuk dan lembaran plastik untuk menapung jernang hasil ekstraksi. Tahapan-tahapan ekstraksi sebagai berikut : a. Buah rotan jernang dilepas dari tandan b. Buah rotan jernang dimasukkan ke dalam keranjang rotan yang dinamakan ambung c. Buah rotan jernang di dalam ambung ditumbuk secara perlahan d. Jernang keluar melalui celah-celah ambung dan tertampung dalam plastik. e. Proses ini menghasilkan rendemen sekitar 7,42%. Teknik ekstraksi dilakukan dengan menumbuk buah rotan dengan hati-hati guna menghindari kulit buah terkelupas dan buah rotan hancur. Teknik ekstraksi ini tergolong ekstraksi kering karena tanpa menggunakan media air atau pelarut. Jernang yang dihasilkan dengan cara ini sedikit tercampur dengan sisik kulit buah rotan. Serbuk jernang hasil ekstraksi dimasukkan dalam wadah plastik dan dalam waktu + 30 menit akan menggumpal/mengeras. Untuk mempercepat penggumpalan, serbuk jernang dalam plastik biasanya dikukus selama + 5 menit. 2. Suku Melayu Jambi Kabupaten Merangin Peralatan yang digunakan adalah sarau yaitu keranjang yang terbuat dari rotan dengan bentuk tinggi ramping dan bagian atas tidak dijalin sehingga bisa diikat. Tahapan-tahapan ekstraksi sebagai berikut : 8

a. Buah rotan jernang dilepas dari tandan. b. Buah rotan jernang dimasukkan ke dalam keranjang rotan yang dinamakan sarau. c. Sarau yang diisi jernang diguncang atau digoyang ke atas dan ke bawah. d. Jernang keluar melalui celah-celah ambung dan tertampung di plastik/kertas. e. Proses ini menghasilkan rendemen sekitar 6,41%. f. Teknik ekstraksi yang dilakukan tergolong ekstraksi kering, tapi hasilnya lebih bersih dibandingkan jernang hasil ekstraksi Suku Anak Dalam. D. Tataniaga dan Nilai tambah Tata niaga atau biasa disebut pemasaran merupakan bagian yang sangat penting dalam setiap kegiatan produksi. Saluran tata niaga jernang akan menggambarkan proses pendistribusian jernang mulai dari petani yang melakukan ekstraksi rotan sampai kepada konsumen akhir. Dari saluran tata niaga tersebut dapat diketahui lembagalembaga tata niaga yang terlibat dalam pemasaran jernang di lokasi penelitian. Tingkat efisiensi pemasaran jernang dapat diketahui dengan menghitung marjin pemasaran dan farmer s share. Marjin pemasaran terdiri dari dua komponen, yaitu biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran. Marjin pemasaran jernang adalah biaya pemasaran jernang ditambah keuntungan pemasarannya. Marjin pemasaran dapat dirumuskan dengan menghitung selisih antara harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen (Mukson et al., 2005). Andayani (2005) mengungkapkan bahwa besarnya marjin pemasaran tersebut dapat dirumuskan dengan : Mp = Pr Pf dimana: Mp = marjin pemasaran Pr = harga di tingkat pengecer Pf = harga di tingkat produsen Lebih lanjut, menurut Hendarto dan Wibowo (2005), marjin rantai pemasaran adalah jumlah marjin pada setiap rantai pemasaran, yang dirumuskan dengan: dimana: M i m i = n i=1 M i = marjin pada titik rantai pemasaran ke i atau m i = (P i P i 1 ) 9 n i=1

P i = harga penjualan pada titik rantai pemasaran ke i P i-1 = harga penjualan pada titik rantai pemasaran ke i-1 m i = total marjin rantai pemasaran Untuk mengetahui besarnya persentase harga di tingkat produsen terhadap harga di tingkat konsumen dilakukan dengan menghitung farmer s share yang dirumuskan dengan formula: dimana: Ps Pp Pc FS = Pp Pc x 100% = Farmer s share = harga di tingkat produsen = harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir Semakin tinggi nilai presentase farmer s share yang diterima petani, maka kegiatan pemasaran yang dilakukan semakin efisien (Rosmawati, 2011). Farmer s share digunakan untuk melihat seberapa besar bagian yang diterima oleh petani ketika melakukan kegiatan pemasaran komoditi jernang, sehingga farmer s share mempunyai hubungan yang negatif dengan marjin pemasaran. Di mana semakin tinggi marjin pemasaran maka bagian yang diperoleh petani akan semakin rendah (Setiorini, 2008). Untuk menghitung efisiensi pemasaran formula yang digunakan adalah: dimana: EP TB TNP = Efisiensi pemasaran = Total biaya pemasaran = Total nilai produk Ep = Tb Tnp Dengan kaidah keputusan sebagai berikut: 0 33% = Efisien 34-67% = Kurang efisien 68 100% = Tidak efisien x 100% 10

III. METODOLOGI/PROSEDUR A. Kerangka Pemikiran Kerangka pemikiran dimulai dari permasalahan yang dihadapi terhadap jernang (Gambar 1) dan selanjutnya dipecahkan melalui beberapa solusi penelitian yang akan dilaksanakan (Gambar 2) Gambar 1. Pohon Masalah Gambar 2. Pohon solusi 11

B. Ruang Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan penelitian strategi konservasi, budidaya dan tata niaga rotan jernang tahun 2015 adalah: 1. Kajian potensi (sebaran dan identifikasi jenis) rotan jernang di Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu. 2. Peningkatan produktivitas (kuantitas dan kualitas) produk-produk rotan jernang melalui teknik pembibitan 3. Peningkatan produksi jernang di hutan alam (cara pemanenan, ekstraksi buah, pemeliharaan tanaman) 4. Kajian sosial ekonomi masyarakat dalam pemanfaatan rotan jernang (karakteristik dan kelembagaan sosial) 5. Kajian sistem tata niaga (peningkatan nilai tambah dan pemasaran) C. Bahan dan Metodologi Pelaksana Kegiatan 1. Bahan Penelitian Bahan yang digunakan dalam penelitian meliputi areal yang ditumbuhi jernang, tanaman jernang, buah jernang dan masyarakat yang memanfaatkan rotan jernang. Sedangkan alat yang digunakan meliputi alat lapangan, laboratorium dan wawancara. 2. Metodologi Pelaksanaan Kegiatan a. Survey sebaran dan karakter tempat tumbuh Data Primer: posisi geografi, jumlah batang/rumpun, karakter habitat (intensitas cahaya, suhu dan kelembaban udara, suhu dan kelembaban tanah, sifat fisik dan kimia tanah). Data sekunder: wawancara terhadap masyarakat (penjernang, pembudidaya dan pedagang) dan instansi yang terkait mengenai data potensi jernang, sebaran rotan jernang, teknik budidaya rotan jernang, dan pengolahan jernang. b. Kajian pengetahuan lokal Kajian pengetahuan lokal sosial ekonomi masyarakat yang melakukan pemanfaatan rotan jernang dilakukan dengan metode survei rumah tangga (pengaturan waktu pemanenan, penentuan jangkauan lokasi pemanenan, penentuan tim pemanenan, dan penanganan pasca pemanenan), wawancara kepada stakeholder tekait dan wawancara kepada masyarakat yang dipilih sebagai responden. Focus group 12

discussion dilakukan untuk menggali informasi secara mendalam dan mengkonfirmasi informasi yang telah didapatkan sebelumnya. c. Strategi konservasi Kegiatan meliputi pengumpulan informasi terbaru mengenai jenis dan sebaran habitat rotan jernang, identifikasi pemanfaatan hasil dan kemampuan penyediaan dalam habitat, identifikasi ancaman terhadap kelestarian, analisis stratetgi konservasi insitu/eksitu, kajian zonasi kawasan perlindungan dan pemanfaatan serta analisis stakeholher (pemangku kepentingan) dan penyusunan strategi konservasi. d. Kesesuaian lahan dan tempat tumbuh untuk pengembangan budidaya Kegiatan meliputi analisis tanah, iklim dan topografi dalam penetapan kesesuaian lahan dan tempat tumbuh. Kegiatan ini menghasilkan peta kesesuaian lahan untuk pengembangan budidaya rotan jernang e. Teknologi budidaya (perbanyakan bibit) Kegiatan ini meliputi: teknik pembibitan. f. Teknik pemanenan dan pengolahan pasca panen Kegiatan meliputi pengumpulan informasi teknik pemanen dan cara penyimpanan buah pada hutan alam dan cara pengolahan buah untuk mendapatkan resin jernang dan cara penyimpanan resin jernang yang dilakukan oleh masyarakat. g. Kajian tataniaga dan nilai tambah rotan jernang Snowball sampling dilakukan untuk menelusuri tata niaga jernang dengan menghubungi petani pemanen jernang, pedagang pengumpul, dan komponen tata niaga lainnya. h. Kajian sosial ekonomi dan kelembagaan Kegiatan meliputi analisis kesejahteraan, analisis nilai tambah dan analisis biaya manfaat budidaya rotan jernang. 13

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Sebaran dan Karakteristik Habitat Hasil survey terhadap sebaran alami dan budidaya rotan jernang di Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu (Tabel 1 dan Gambar 1). Tabel 1. Data sebaran rotan jernang No Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa 1 Sumatera Selatan Muara Enim Semende Darat Ulu Danau Gerak, Tanjung Tiga, Tanjung Agung dan Muara Danau Semende Darat Laut Penindaian Ogan Komering Muara dua Rantau Panjang Ulu Selatan Banding Bandar Agung, Sipatuhu (OKUS) Agung Mekakau Kota dalam, Pere an Ilir Buai Rawan Ruwos Muara dua Dusun Sundan Pagar Alam Muara Tenang Lahat Tanjung Sakti Pumu Genting 2 Bengkulu Bengkulu Selatan Manna Kaur Nasal Suku Tiga Keterangan : Cetak Tebal merupakan lokasi pengepul dan pengolahan Gambar 3. Peta sebaran rotan jernang Sebaran alami rotan jernang terdapat di dataran tinggi terutama di sepanjang 14

bukit Barisan Selatan. Di Kabupaten Muara Enim kondisi hutan yang menjadi habitat rotan jernang relatif baik, kerapatan dan keragaman jenis pohon dan vegetasi lainnya cukup tinggi. Pohon yang tumbuh termasuk jenis yang komersil untuk kayu pertukangan dan memiliki diameter yang cukup yaitu mencapai 100 cm. Sedangkan di OKUS, Pagar Alam dan Lahat kondisi hutan yang ditumbuhi rotan jernang kurang baik karena telah terganggu oleh aktifitas manusia berupa pembukaan lahan dan banyak lahan yang terbakar akibat musim kemarau panjang. Tumbuhan rotan jernang yang tertinggal terdapat dilembah-lembah dan lereng-lereng yang curam. Pada lokasi yang jauh dari jangkau masyarakat rotan jernang masih memiliki kerapatan yang tinggi, begitu juga dengan kerapatan dan keragaman jenis pohon dan vegetasi lainnya cukup tinggi. Di daerah berlereng jarang ditemui pohon diameter berkisar 15-20 cm. Rotan jernang masih terdapat di hutan alam yang berdekatan dengan kebun masyarakat dan sampai jauh menyusuri bukit barisan. Ditemukan cukup banyak jenis pohon yang tumbuh (berasosiasi) di sekitar rumpun jernang di antaranya adalah: kayu beke, bintangor, kelat, kapas, medang kuning, medang berbah, mentiru, pepuyuh, medang pauh, udang-udang, rambtan hutan, mahang, pasang putih, medang liot, kopi-kopi dan lainnya. Tabel 2. Data jenis rotan jernang dan kondisi tempat tumbuh Lokasi Jenis Ketinggian tempat (m dpl) Topografi Muara Enim Lonjong, lengkukup 1.200 1.600 Bergelombang 10-45 O Ogan Komering Bulat 400-500 Tebing-tebing curam 80 O Ulu Selatan Datar (budidaya) (OKUS) Pagar Alam Lonjong, 1.200 1.300 Tebing-tebing curam 80 O lengkukup Lahat Lonjong, bulat 300-360 Bergelombang Bengkulu Selatan Bulat 20-25 Datar (budidaya) Keterangan: Penamaan jenis berdasarkan penjernang dan pengepul Secara alami struktur tanah tempat tumbuh rotan jernang relatif gembur dengan solum yang dalam (lebih dari 30 cm) dan ketebalan serasah termasuk sedang (sekitar 5 10 cm). Habitat rotan jernang secara umum adalah didaerah lembah yang lembab, sepanjang sungai atau mata air, lereng-lereng yang curam. Posisi tempat tumbuh merupakan daerah lembah, sehingga batang rotan jernang akan merambat memanfaatkan pohon yang ada di sekitarnya. Tempat tumbuh alami ini diduga bukan 15

merupakan karakter tempat tumbuh jernang, tetapi karena didaerah yang datar tumbuhan jernang telah habis. Kepunahan tumbuhan jernang didaerah datar disebabkan pemakaian lahan untuk kebun kopi dan lada serta pemanenan rotan jernang yang tidak lestari. Selain itu jernang yang tumbuh didaerah datar lebih mudah dipanen sehingga lebih cepat punah. Struktur tanah tempat tumbuh rotan jernang relatif gembur dengan solum yang dalam (lebih dari 30 cm) dan ketebalan serasah termasuk sedang (sekitar 5-10 cm). Tanah berwarna hitam dan banyak mengandung pasir serta tekstur yang remah. Karakteristik Tanah Berdasarkan hasil analisis laboratorium, Jernang yang ditemukan di Muara Danau, Tanjung Tiga dan Danau Gerak tumbuh pada tanah dengan karakteristik sebagai berikut; a. Tekstur tanah porous, artinya persentasi kandungan pasir pada tanah tersebut tinggi, sehingga mudah untuk meloloskan air dan tidak mengakibatkan terjadinya genangan. b. Kondisi tanah sangat masam. c. Memiliki kesuburan tanah rendah hingga sedang. d. Memiliki kandungan C yang tinggi hingga sangat tinggi. Kandungan C yang berasal dari serasah dedaunan dapat menjaga kelembaban tanah. Budidaya yang dilakukan masyarakat bervariasi mulai dari pematang sawah, kebun kopi dan kebun karet. Budidaya masih dilakukan secara terbatas dengan memanfaatkan lahan yang telah tersedia. Penanaman dilakukan oleh masyarakat memanfaatkan bahan yang tersedia, yaitu benih dan bibit. Benih ditanaman di sekitar pohon yang terdiri dari 3-10 biji, sedangkan bibit ditanam satu bibit setiap lubang. Desa Suku Tiga merupakan tanaman yang berada di pematang sawah. Penanaman jernang oleh masyarakat di Desa Pere an dilakukan secara terbatas dilahan kebun. Jernang ditanam diantara tanaman kopi, lada, aren dan durian. Tanaman rotan jernang telah berumur 6 tahun dan mulai berbuah pada umur 4 tahun. Saat ini, satu rumpun jernang telah menghasil 4 kg dan setahun dilakukan 2 kali panen. Dusun Sunda penanaman sekitar 2.000 batang di kebun karet berumur 18 bulan. 16

Gambar 4. Pengambilan materi herbarium B. Potensi Rotan Jernang Potensi tanaman rotan jernang cukup tinggi, tingkat permudaan relatif masih bervariasi, tetapi kurang berimbang, jarang ditemukan pada tingkat semai, sehingga yang dominan adalah rumpun muda sampai tua (telah berbuah). Kerapatan rumpun rotan jernang paling tinggi di Desa Tanjung Tiga, mencapai 23 rumpun dalam luasan 400 m 2 atau sekitar 500 rumpun/ha. Jumlah batang dalam satu rumpun cukup bervariasi, berkisar antara 2-16 batang. Pada rumpun tua terdapat beberapa batang rotan dengan panjang mencapai belasan sampai puluhan meter, batang tersebut akan tumbuh menjalar di permukaan tanah dan merambat memanfaatkan pohon di sekitarnya. Berdasarkan pengalaman penjernang dan pengepul, produktivitas jernang terus menurun dari tahun ke tahun. Turunnya produktivitas rotan jernang dapat disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah: Pengambilan umbut untuk konsumsi (bahan baku sayur) oleh masyarakat terutama di kawasan hutan yang berdekatan dengan pemukiman. Umbut rotan bagi masyarakat (Semendo) merupakan sayuran khas atau special dihidangkan untuk 17

para tamu dan diperjual belikan di kalangan (pasar lokal tradisional), terutama pada bulan puasa. Pengambilan batang rotan jernang. Bagi masyarakat sekitar hutan, batang rotan jernang memiliki sifat dan karakter penggunaan yang baik sebagai bahan baku berbagai kerajinan dan penggunaan lain, sehingga batang rotan dewasan yang telah berbuah banyak dipanen untuk kebutuhan tersebut. Pemanenen tersebut akan berimplikasi langsung terhadap ketersediaan tanaman induk yang akan berperan dalam regenerasi. Pemanenan buah jernang. Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, intensitas pemanenan buah jernang yang dilakukan oleh penjernang cukup tinggi, sejalan dengan makin tingginya harga jernang. Buah jernang yang dipanen adalah buah jernang muda (berukuran kurang dari 1 cm) karena mengandung resin jernang yang paling banyak. Pada prakteknya semua buah yang ditemukan akan dipanen sehingga tidak ada buah jernang yang sampai tua. Aktivitas tersebut secara langsung akan berpengaruh terhadap ketersediaan bahan perbanyakan yang diharapkan akan tumbuh. Kemampuan perkecambahan buah rotan jernang rendah dan lambat. Kondisi tersebut menyebabkan jarang ditemukan perkecambahan alami rotan jernang di alam, sehingga regenerasi permudaanya sangat rendah. Belum ada tindakan campur tangan manusia dalam upaya peningkatan jumlah populasi (penanaman) rotan jernang di alam. Potensi buah jernang ditentukan berbagai faktor antara lain jenis rotan jernang, kesuburan lahan, ruang tumbuh dan kesehatan pohon. Jenis rotan memiliki karakter buah yang berbeda, jenis rotan jernang lonjong memiliki buah yang paling banyak dan jenis lain memiliki buah yang jarang (data menyusul). Kesuburan lahan dan ruang tumbuh berpengaruh dengan jumlah batang pada rumpun, jumlah tandan setiap batang dan panjang tandan serta jumlah buah. Sedangkan kesehatan pohon sangat menentukan produksi buah, berdasarkan pengalaman penjernang setelah batang ditarik untuk pemanenan pada tahun berikutnya rotan tersebut tidak berbuah. Hal ini disebabkan batang jernang mengalami proses pemulihan untuk memperbaiki pertumbuhan. Resin jernang merupakan produk akhir dari rotan jernang. Rendemen dan kadar 18

dracolin resin ditentukan oleh jenis rotan jernang. Berdasarkan pengalaman pengolah rotan jernang jenis rotan yang paling tinggi sampai terendah dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rendemen resin jernang murni (super) berdasarkan jenis No Jenis Rotan Rendemen (%) 1 Gajah - 2 Jantung 5 7 3 Burung 1 1,2 4 Lonjong 0,7 0,9 5 Lengkukup 0,5 0,6 5 Jawa 0,3 Gambar 5. Buah jernang burung (a) dan Buah jernang lonjong (b) C. Pemanenan Kegiatan pemanenan rotan jernang yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan (penjernang). Kegiatan ini dimulai pada bulan september setelah selesai panen hasil perkebunan dan pertanian. Biasanya kelompok penjernang terdiri dari 5 10 orang, mereka bersama-sama masuk ke dalam hutan dalam kurun waktu tertentu, sekitar 1-2 minggu. Mereka akan membangun pondok di dalam hutan sebagai base camp untuk tempat tinggal dan tempat memproses dan menyimpan hasil panen. Buah rotan jernang yang dipanen diutamakan yang masih kecil dan muda (ukuran diameter < 1 cm) karena mengandung resin jernang paling tinggi. Pada 19

prakteknya, baik buah muda maupun buah tua buah jernang tetap akan dipanen. Buah rotan jernang yang diperoleh dapat langsung diolah didalam hutan atau bawa keluar dalam bentuk buah untuk dijual. Pemanenan buah jernang yang dilakukan dalam kurun waktu beberapa tahun ini cukup tinggi. Semua buah yang ditemukan akan dipanen seluruhnya, sehingga sulit ditemukan buah jernang tua. Pola panen tersebut berpengaruh terhadap ketersediaan bibit atau anakan di hutan sebagai sarana perkembangbiakan rotan jernang. Pemanenan dilakukan dengan cara menarik batang jernang ke bawah untuk memudahkan pemetikan. Biasanya batang jernang yang akan dipanen dipukul-pukul untuk mengelupaskan kulit batang jernang yang memiliki duri. Selanjutnya batang rotan ditarik sampai buah dapat dipanen dengan mudah. Bahkan batang-batang yang sulit untuk ditarik langsung dipotong. Berdasarkan pengalaman para penjernang penarikan batang menyebabkan rotan mengalami stagnan dalam pertumbuhan, sehingga pada tahun selanjutnya tidak menghasilkan buah. Gambar 6. Pemanenan dan hasil panen rotan jernang D. Pengolahan Pasca Panen Pengolahan pasca panen dapat dilakukan di dalam hutan atau dipengepul. Pengolahan buah di dalam hutan hanya memperoleh resin jernang dengan kualitas super, sedangkan buah sisa gosok ditinggal di dalam hutan. Pengolahan buah jernang secara langsung di dalam hutan umumnya dilakukan jika lokasi pencarian buah jernang jauh dari desa. Proses pengolahan buah jernang menjadi resin jernang yang dilakukan 20

di dalam hutan sangat sederhana, sebagai berikut: 1. Buah yang sudah dipetik diangin-anginkan dengan cara digantung di dalam tenda minimal 1 jam. 2. Selanjutnya buah dipetik/dirontokkan dari tangkai 3. Buah kemudian digosok dengan alas kawat kasa 4. Resin jernang yang keluar dari kasa dikumpulkan 5. Tepung yang diperoleh diayak untuk membersihkan kotoran. 6. Buah sisa gosok dibuang di dalam hutan. Pengolahan yang dilakukan di pengepul dapat menghasilkan produk yang beragam, bisa menghasilkan sampai 7 grade kualitas. Produk-produk yang dihasilkan dari pengolahan buah mulai dari kualitas super sampai sampah dan pengolahan tangkai buah. Buah jernang sisa penggilingan dapat diolah menjadi resin dengan berbagai kualitas. Proses pengolahan buah rotan jernang untuk mendapatkan resin dengan langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut: 1). Buah jernang dirontokkan dari tangkai dengan cara didiamkan 3-4 hari buah akan lepas sendiri atau dipotong dengan gunting sampai pada bagian pangkal tangkai, hal ini dilakukan untuk mengambil resin yang menempel pada tangkai buah dalam upaya meningkatkan rendemen. 2). Buah dipisahkan berdasarkan ukuran besar, sedang dan kecil. Pembagian ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu pada buah segar dengan memisahkan pertangkai dan pada buah yang telah rontok diayak dengan kawat sehingga buah ukuran kecil jatuh dan ukuran besar tertahan pada ayakan. 3). Buah ukuran sedang dan besar langsung dimasukan dalam mesin penggiling sekitar 15-20 menit, biasanya setiap pengolah mempunyai cara tersendiri sehingga resin masih tersisa pada buah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan grade resin pada pengolahan berikutnya. Pada proses ini diperoleh resin jernang kualitas SUPER. Buah sisa penggilingan kemudian dijemur 4-5 hari. 4). Buah ukuran kecil langsung dijemur, karena kalau dimasukkan mesin penggiling resinnya tidak lepas. Buah selanjutnya ditumbuk dengan menghasilkan jernang kualitas SUPER. 21

5). Buah besar, sedang dan kecil selanjutnya dicampurkan untuk ditumbuk. Hasil tumbukan pertama menghasilkan Grade A1, tumbukan kedua menghasilkan Grade A2, tumbukan ketiga menghasilkan Grade A3, tumbukan keempat selanjutnya menghasilkan Grade A4 (Ketok 0) dan sampah serta biji. 6). Selanjutnya serbuk resin dibungkus sesuai dengan grade masing-masing. Semua hasil pengolahan laku dijual. Gambar 7. Proses Pengolahan buah jernang Sedangakan proses pengeluaran jernang dari tangkai buah dilakukan dengan memukul-mukul tangkai buah atau menggosoknya dengan kaki setelah dijemur terlebih dahulu. Tepung kulit buah diperoleh dengan menghancurkan kulit buah dengan cara menumbuk buah yang telah kering jemur menggunakan alu, selanjutnya diayak dan siap jual. Metoda penentuan mutu masih sangat sederhana, hanya secara visual atau 22

dengan metoda pembakaran. Kandungan resin dapat ditentukan dengan mengosokan serbuk pada kertas atau dengan membakar resin. Para pedangang telah terampil dalam menentukan kualitas serbuk berdasarkan kandungan resinya. Bahkan pedagang telah dapat mengukur kadar dengan mengunakan larutan etanol untuk lebih akurat. Tabel 4. Kualitas resin hasil pengolahan rotan jernang lonjong No Tingkatan (grade) Kadar resin Bahan olahan 1 Super 70-75 % Buah jernang 2 Grade A1 25% Tumbukan buah kering 1 3 Grade A2 18 % Tumbukan buah kering 2 4 Grade A3 12 % Tumbukan buah kering 3 5 Ketok 0 > 5 % Tumbukan 4-5 6 Sampah 5 % Sisa ayakan terakhir 7 Biji Biji sisa tumbukan E. Pembibitan Rotan Jernang Proses perkecambahan rotan jernang membutuhkan perlakuan dan pengkondisian tertentu untuk meningkatkan daya berkecambah, kecepatan dan keseragaman. Biji rotan jernang yang memiliki cangkang yang keras sehingga memiliki dormansi fisik. Cangkang yang keras menjadi masalah pada perkecambahan diduga salah satu penyebab rendahnya daya berkecambah. 1. Penyediaan bahan perbanyakan Tujuan umum kegiatan pembibitan adalah penyediaan bibit dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang seragam sesuai dengan kebutuhan penanaman, baik jumlah maupun tata waktunya. Penggunaan bahan perbanyakan yang memiliki kualitas yang baik akan turut menentukan keberhasilan pembibitan di persemaian. Bahan perbanyakan yang digunakan dalam pembibitan rotan jernang adalah benih yang berasal dari buah hasil pengunduhan di lapangan. Buah rotan jernang yang layak dijadikan sebagai bahan perbanyakan adalah buah yang telah masak secara fisiologis yang ditandai dengan warna kulit buah yang berwarna kuning atau coklat tua dan mengkilap. Benih yang baik adalah benih yang berasal dari buah yang sudah masak (tua) dengan ditandai warna buah coklat kemerahan (Januminro, 2000) dan warna biji coklat kehitaman dan keras, sedang buah yang masih muda berwarna kehijauan. Ekstraksi buah rotan jernang dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu: cara basah dan cara kering. Cara basah yaitu dengan menggosok buah sampai bersih dengan 23

air. Sedangkan cara kering dilakukan dengan cara mengupas buah untuk membuang kulit dan daging buah. Gambar 8. Buah dan benih rotan jernang 2. Perkecambahan Benih rotan memiliki kulit (cangkang) yang keras dan sulit ditembus oleh air, sehingga untuk membantu imbibisi air dilakukan pencongkelan terhadap mata benih dan dilanjutkan dengan pencucian dengan atonik. Selanjutnya benih disimpan dalam plastik yang kedap udara pada hari ke-10 benih mulai berkecambah. Benih yang berkecambah diseleksi setiap minggu untuk dipindahkan kedalam polybag dengan media cocopeat. Gambar 9. Kecambah rotan jernang 3. Penyapihan Kecambah rotan jernang selanjutnya dipelihara sampai plumula berkembang sempurna menjadi calon batang seperti jarum berukuran 3-5 cm dan memiliki akar sekitar 3 helai. Media sapih yang digunakan bisa berupa topsoil atau campuran topsoil, cocofit dan pupuk kandang dalam wadah polibag berukuran 10 x 12 cm. 4. Pemeliharaan Pemeliharaan bibit rotan jernang yang dilakukan meliputi penyiraman, pemupukan, pengendalian gulma, hama dan penyakit, penggantian polibag, seleksi dan sortasi bibit. Penyiraman dilakukan secara periodik dan disesuaikan dengan kebutuhan. 24

Untuk mengurangi kebutuhan dan kehilangan air pada saat penyiraman, dibuat sistem genangan. Pemupukan bibit rotan jernang sangat dibutuhkan mengingat pertumbuhan bibit yang sangat lambat. Periode pemeliharaan rotan jernang di persemaian yang relatif lama (1 2 tahun) akan berimplikasi terhadap penggantian polibag yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan bibit. Seleksi dan sortasi bibit dilakukan untuk menyeragamkan ukuran akhir bibit. Seleksi bibit dilakukan untuk mengelompokan bibit sesuai dengan ukurannya, bibit yang memiliki pertumbuhan yang lambat dapat dipacu dengan perlakuan pemupukan. Gambar 10. Bibit rotan jernang hasil penyapihan Gambar 11. Pemeliharaan bibit di persemaian 5. Pemacuan pertumbuhan Pemacuan pertumbuhan bibit diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan bibit dipersemaian. Pertumbuhan bibit rotan jernang relatif lambat, sehingga waktu pemeliharaan di persemaian sampai siap tanam bisa mencapai 1 tahun lebih. Hal tersebut akan berimplikasi terhadap biaya pemeliharaan dan pengaturan tata waktu penanaman. Salah satu caranya adalah melalui pemupukan dengan penambahan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman ke dalam media tanam. Uji coba pemupukan yang dilakukan berupa pupuk daun (pupuk daun organk 25

dan anorganik) dan pupuk akar (pupuk tunggal dan majemuk). Rincian jenis dan taraf perlakuan pengujian adalah sebagai berikut: Pupuk Daun Jenis pupuk daun yang digunakan adalah pupuk daun organik dan pupuk daun anorganik. Pupuk organik yang digunakan berbentuk cairan, sedangkan pupuk anorganiknya berbentuk serbuk. Perlakuan yang diujikan adalah konsentrasi pupuk daun dan frekuensi aplikasi pupuk daun. Masing-masing taraf perlakuan yang diujikan adalah sebagai berikut; 1. Pupuk daun organik: Konsentrasi terdiri dari 5 taraf: 0, 2, 4, 6 dan 8 ml/liter Frekuensi terdiri dari 2 taraf: 1 dan 2 minggu sekali 2. Pupuk daun anorganik Konsentrasi terdiri dari 5 taraf: 0, 1, 2, 3 dan 4 gram/liter Frekuensi terdiri dari 2 taraf: 1 dan 2 minggu sekali Pupuk Akar 1. Pupuk majemuk Pupuk majemuk yang digunakan juga terdiri dari 2 jenis, yaitu: majemuk standar (NPK) dan majemuk slow release (Dekastar). Perlakuan pupuk majemuk yang diujikan adalah dosis pupuk yag terdiri dari; Pupuk majemuk standar terdiri dari 5 taraf: 0; 0,25; 0,5; 0,75 dan 1 gram/tanaman Pupuk majemuk slow release terdiri dari 5 taraf: 0; 1; 2; 3 dan 4 gram/tanaman 2. Pupuk tunggal Pupuk tunggal yang digunakan terdiri atas puuk N, pupuk P dan pupuk K. Perlakuan yang diujikan adalah dosis pupuk. Taraf dosis yang diujikan antara lain: Pupuk N terdiri dari 5 taraf: 0; 0,1; 0,2; 0,3 dan 0,4 gram/tanaman Pupuk P terdiri dari 5 taraf: 0; 0,25; 0,5; 0,75 dan 1 gram/tanaman Pupuk K terdiri dari 5 taraf: 0; 0,1; 0,2; 0,3 dan 0,4 gram/tanaman Evaluasi pertumbuhan sebagai respon perlakuan pemupukan yang diterapkan 26

telah direncanakan akan dilakukan secara periodik, tetapi belum sempat dilakukan karena telah diserang penyakit. F. Pengendalian serangan penyakit Bibit yang sehat dan seragam merupakan salah satu penentu keberhasilan kegiatan penanaman. Dalam perkembangannya, bibit yang dipelihara di persemaian tidak akan lepas dari gangguan serangan hama atau penyakit. Berdasarkan pengamatan, bibit rotan jernang yang dipelihara di persemaian KHDTK Kemampo mengalami serangan penyakit yang diduga berupa bercak karat. Penyakit ini menyerang daun bibit rotan jerang dan seranggannya telah terjadi awal bulan September 2015. Gejala awal serangan penyakit ini berupa bercak kuning pada daum yang berkembang menjadi warna coklat dan kering. Pada gejala lanjut bercak menjadi nekrosis, beberapa bercak menyatu membentuk bercak besar tak beraturan. Pada beberapa kasus bagian tengah bercak mengering, rapuh, berwarna kelabu atau coklat muda. Pada serangan yang parah akan menyebabkan kematian bibit. Hasil perhitungan, persentase tanaman yang terserang penyakit ini sebesar 95,05% dan sebanyak 41,38% dari bibit yang terserang tersebut mengalami kematian, sementara bibit rotan jernang yang sehat, tidak terserang penyakut bercak karat, hanya sebesar 5,95%. Penyebab penyakut ini belum bisa diketahui secara pasti, masih menunggu hasil identifikasi. Gejala dan tanda seranga penyakit yang mirip pada tanaman lain, misalnya pada tanaman sawit, kemungkinan penyebab penyakit ini adalah jamur-jamur patogenik dari genera Curvularia, Cochiobolus, Drechslera dan Pestalotiopsis. Adapun spesiesnya antara lain: Curvularia eragrostidis, Curvularia spp., Drechslera halodes, Cochliobolus carbonus, Cochliobolus sp, dan Pestalotiopsis sp. Gambar 12. Kondisi bibit rotan jernang terserang penyakit 27

Upaya pengendalian terhadap serangan penyakit ini yang telah dilakukan sejak awal serangan adalah: Seleksi, isolasi dan eradikasi bibit rotan jernang yang terserang penyakit. Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi resiko penularan penyakit dari bibit yang terserang kepada bibit yang sehat. Pada bibit yang telah terserang parah, dilakukan eradikasi. Pengurangan kelembanan lingkungan di sekitar bibit. Mengingat pada saat awal persemaian berlangsung musim kemarau, maka digunakan sistem genangan untuk menghemat air dengan mengurangi kehilangan air pada sat penyiraman, sehingga sebagai upaya pengurangan kelembaban maka intensitas dan frekuensi penyiraman bibit dikurangi. Penyemprotan fungisida thiram dengan konsentrasi 0,1 0,2% setiap 7 hari sekali (mengadopsi pengendalian penyakit pada bibit sawit). Upaya pengendalian yang telah dilakukan belum memberikan berpengaruh yang baik dalam menurunkan serangan hama dan penyaki. G. Karakteristik Sosial Ekonomi dan Pengetahuan Lokal Masyarakat Penjernang Masyarakat perjernang yang tersebar di lokasi penelitian pada umumnya adalah petani dengan pendapatan yang tidak cukup tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh dari responden, 98,78% dari penjernang adalah petani dengan tingkat pendapatan ratarata sebesar Rp 1.400.000,- per bulan. Seperti disajikan dalam Tabel 5, tingkat pendapatan mereka juga cukup rendah, karena 68,3% hanya berpindidikan setingkat SD dan sisanya berpendidikan SMP atau SMA. Masyarakat penjernang ini sebagian besar masih cukup muda karena untuk masuk ke hutan dan mengumpulkan jernang dibutuhkan tenaga dan kemampuan fisik yang kuat. Rata-rata mereka berumur 37 tahun dan yang paling muda berumur 19 tahun. Apabila ada penjernang yang sudah tua, biasanya mereka hanya bertugas sebagai juru masak dan mengolah jernang. Pengetahuan lokal masyarakat tentang jernang diperoleh dari saudara atau tetangga yang telah melakukan bisnis jernang. Dari responden yang ditemui di lapangan, 91,46% telah mengetahui jernang dan sisanya sebanyak 8,54% belum mengetahui seperti apakah jernang. Alasan masyarakat dalam mencari jernang adalah sebagai mata pencaharian (50,70%), untuk mengisi waktu saat tidak berkebun 28

(26,06%), karena mencari jernang cukup mudah dan hasilnya cukup menguntungkan (5,63%), atau karena mengikuti tetangga saja (17,61%). Tabel 5. Karakteristik responden No Karakteristik Respoden (Respondent characteristics) Satuan (Unit) Frekuensi % 1 Umur (Age) 2 Pendidikan (Education) Min 19 Rata-rata 38 Max 70 SD 112 68,29 SMP 34 20,73 SMA 17 10,37 Sarjana 1 0,61 3 Pekerjaan (Occupation) Petani 162 98,78 Non Tani 2 1,22 4 Pendapatan (Income) Rata-rata (Rupiah/Bulan) 1.400.000,- 5 Jumlah Anggota Keluarga (Number of family) Rata-rata 4,25 6 Luas lahan (Land area) Min 0,33 Rata 2,14 Max 10 Sebelumnya masyarakat hanya memanfaatkan umbut rotan untuk dimasak sayur dan dimakan. Selain itu mereka juga sebelumnya memanfaatkan batang rotan untuk mengikat pagar rumah, karena batang rotan ini sangat kuat dan bertahan lama. Dibandingkan Provinsi Sumatera Selatan, masyarakat di Provinsi Bengkulu telah mengetahui dan memanfaatkan jernang terlebih dahulu. Informasi tersebut diperoleh dari pebisnis yang berasal dari Tiongkok. Oleh karena itu, sampai saat ini sebagian besar hasil serbuk jernang yang dikumpulkan oleh masyarakat Bengkulu dan Sumatera Selatan, sebagian besar di kirim ke Tiongkok. H. Kelembagaan Pemanfaatan Rotan Jernang Rotan jernang merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kegiatan pemungutan HHBK seperti rotan jernang masih merupakan aktifitas yang menarik karena untuk memungutnya tidak memerlukan teknik khusus dan dapat memberikan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat 29

pada musim paceklik. Dengan keterbatasan individu seperti pengetahuan, pendidikan dan keahlian, kesempatan bekerja di luar sektor pertanian semakin kecil, serta ketersediaan tenaga kerja yang banyak pada saat musim tertentu menyebabkan kegiatan pemungutan HHBK menjadi salah satu strategi masyarakat pedesaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selama ini rotan jernang masih dipungut di alam dan masih sedikit upaya untuk membudidayakannya. Sebagai sumber daya milik bersama, maka akses terhadap sumberdaya tidak terbatas sehingga setiap orang dapat memanfaatkannya yang pada akhirnya akan cenderung menyebabkan kerusakan terhadap sumberdaya tersebut. Pengambilan secara berlebihan dan tidak mengikuti kaidah kelestarian akan menyebabkan kerusakan pada sumberdaya tersebut. Kegiatan survey kelembagaan rotan jernang dilaksanakan di Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), Provinsi Sumatera Selatan serta Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. 1. Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan Di Muara Enim, masyarakat di Desa Danau Gerak baru mengetahui bahwa buah rotan jernang memiliki manfaat dan nilai ekonomi sejak satu tahun yang lalu, yaitu tahun 2014. Masyarakat mengetahui informasi bahwa rotan jernang dapat dijual dari masyarakat Desa Tanjung Tiga dan Tanjung Agung, dimana pada kedua desa tersebut terdapat pedagang pengumpul jernang. Karena informasi tentang jernang di desa ini relatif baru, masyarakat pencari jernang di Desa Danau Gerak ini juga belum banyak, baru sekitar 7 orang yang biasa masuk ke hutan terbagi dalam 2 kelompok. Kelompok pencari jenang tersebut masuk ke hutan sekitar 4-5 hari dan pada umumnya dapat membawa pulang sekitar 2 kg serbuk jernang. Serbuk jernang tersebut kemudian dijual ke pedagang pengumpul yang terdapat di Desa Tanjung Tiga dengan harga kurang lebih Rp 2,4 juta per kilogram. Masyarakat di Desa Tanjung Tiga relatif lebih dulu mengenal manfaat ekonomi rotan jernang. Beberapa anggota masyarakat telah menjadi pencari jernang sejak tahun 2013. Terdapat kurang lebih 20 orang penjernang di Desa Tanjung Tiga yang setiap musim panen kopi berakhir akan masuk hutan dan mengumpulkan jernang, baik dalam bentuk buah maupun serbuk pertama dan kedua. Musim mencari jernang biasanya 30

terjadi di bulan November April, dimana pada bulan-bulan ini adalah musim paceklik. Sehingga mencari jernang dapat menjadi alternatif untuk memperoleh pendapatan. Jernang dijual kepada pedagang pengumpul yang ada di desa atau mereka menjual langsung kepada pedagang pengumpul yang lebih besar yang ada di desa tetangga, yaitu Desa Tanjung Agung. Pada umumnya, masyarakat yang menjual jernang kepada pedagang pengumpul di luar desa adalah mereka yang tidak tersangkut hutang kepada pedagang pengumpul di desa, serta mereka yang memperoleh hasil panen berupa bubuk jernang dengan kapasitas besar, misalnya sampai 2 atau 3 kg. Bagi mereka yang hanya memperoleh hasil sedikit atau sudah terbebani hutang terlebih dahulu kepada pedagang pengumpul yang ada di dalam desa, akan menjual hasil panen jernangnya kepada pedagang pengumpul yang terdapat di Desa tersebut. Pada musim paceklik, pencari jernang dengan penghidupan yang kurang baik akan berhutang keperluan bahan pokok yang dibutuhkan selama mereka mencari jernang di hutan, setelah mereka kembali dari hutan, mereka akan menjual hasil jernangnya kepada pedagang pengumpul tersebut dan memperoleh hasil penjualan jernang setelah dipotong hutang. Penjernang di Desa Muara Danau, Kabupaten Muara Enim, mengetahui informasi tentang jernang yang memiliki nilai ekonomi tinggi sejak tahun 2014. Sampai saat ini masyarakat di desa ini masih menjual jernang dalam bentuk buah karena mereka belum mengetahui cara mengolah jernang menjadi serbuk. Buah dijual dengan harga Rp 12.000 per kilogram (tahun 2014). Menurut informasi yang diperoleh dari ketua kelompok tani di desa ini, masyarakat yang tertarik untuk mencari jernang di hutan cukup banyak, akan tetapi pengetahuan mereka belum cukup untuk mengidentifikasi rotan jernang. Hal ini disebabkan terdapat banyak jenis rotan di hutan yang berada di wilayah desa mereka. 2. Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan Kabupaten OKUS merupakan salah satu kabupaten yang memiliki potensi rotan jernang alam yang cukup besar dan terdapat beberapa pelaku tataniaga jernang. Berdasarkan data BPS (2015) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ulu. Secara geografis, kabupaten yang terbentuk pada 31

tahun 2004 ini, berada di antara 103 22' - 104º21' Bujur Timur dan 04 14' - 04º55' Lintang Selatan, dengan luas wilayah 549.394 Ha. Secara adminsitrasi, Kabupaten OKU Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Muara Enim di sebelah barat, Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung di sebelah selatan, Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung dan Kabupaten OKU Timur di sebelah timur, serta Kabupaten OKU di sebelah utara. Di Kabupaten OKUS terdapat 2 pelaku pengumpul besar dan pengolah rotan jernang, yaitu Kecamatan Muara Dua dan Kecamatan Banding Agung, kemudian ditelusuri ke pengumpul tingkat desa dan pengumpul tingkat kecamatan. Para pengumpul mendapatkan rotan jernang dari penjernang yang memungutnya dari hutan di sekitar tempat tinggal mereka, baik secara perorangan maupun berkelompok. Harga rotan jernang di tingkat pengumpul desa sebesar Rp. 45.000 - Rp.50.000, sedangkan di tingkat pengumpul tingkat kecamatan/pengolah sebesar Rp. Rp 55.000 - Rp.60.000. Pengumpul di tingkat kecamatan ini umumnya mengumpulkan rotan jernang dari beberapa pemungut yang ada di desa-desa sekitarnya. Saat ini keberadaan rotan jernang mulai berkurang kuantitasnya karena cara pemungutan yang tidak memperhatikan aspek kelestarian dan maraknya alih fungsi hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Untuk mencari rotan jernang, para penjernang harus menempuh perjalanan jauh dibandingkan waktu sebelumnya. Pemungutan rotan jernang biasanya dilakukan setelah musim panen kopi berakhir. Dimulai pada bulan September/Oktober sampai dengan bulan Januari. 3. Kabupaten Kaur dan Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu Penjernang di Provinsi Bengkulu tersebar di Kabupaten Kaur dan Kabupaten Bengkulu Selatan. Pelaku jernang di Provinsi Bengkulu sudah mulai ada sejak tahun 1997/1998, akan tetapi jumlahnya masih sedikit, dan pada umumnya mereka berada di Kota Bengkulu. Selain mengumpulkan jernang dari para pencari jernang di wilayah Bengkulu, para pelaku jernang ini juga mengumpulkan jernang dari beberapa wilayah terdekat seperti Jambi, Padang dan Lampung. Pedagang pengumpul jernang pertama kali yang berada di Bengkulu Kota, mengetahui bahwa jernang adalah salah satu hasil hutan yang memiliki nilai ekonomi dari pengumpul utama jernang yang memiliki hubungan langsung dengan pembeli di 32

Tiongkok. Pada awalnya pembeli dari Tiongkok tersebut hanya mengenalkan jernang dalam bentuk sample saja. Selanjutnya pengumpul jernang dari Bengkulu Kota menyebarkan sampel tersebut ke petani-petani yang biasa masuk hutan, untuk dapat mengumpulkan jernang dari dalam hutan. Petani pencari jernang ini pada awalnya hanya sedikit, akan tetapi setelah banyak yang mengetahui bahwa mencari jernang cukup menguntungkan, jumlah petani pencari jernang ini terus bertambah. Hal ini juga berlaku bagi para pengumpul dan pengolah jernang, yang pada awalnya hanya satu orang di Bengkulu Kota, kemudian tersebar di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kaur. Pada awalnya produksi rotan jernang di Provinsi cukup tinggi, karena sebelumnya rotan tersebut masih banyak tersedia di alam. Akan tetapi produksi ini semakin menurun disebabkan oleh cara pemanenan yang kurang memperhatikan aspek kelestarian, semakin banyaknya lahan yang diubah fungsinya menjadi kebun oleh masyarakat atau dibebani konsesi. I. Tata Niaga dan Nilai Tambah Rotan Jernang Untuk mengetahui tataniaga rotan jernang digunakan metode snowball sampling dimana dimulai dari pelaku pengumpul dan pengolah getah jernang di tingkat kabupaten. Berdasarkan fakta yang ada dilapangan, sistem tataniaga jernang yang ada bersifat tertutup dimana hanya ada sedikit pembeli akhir bubuk jernang dan akses untuk pembeli akhir sangat sulit. Selain itu para pedagang yang ada sebernanya tidak mengetahui secara tepat kadar jernang yang dihasilkan. Hanya orang tertentu saja yang mengetahui bagaimana kualitas bubuk jernang yang dihasilkan. Sehingga untuk pemain/pelaku baru di jernang harus memiliki pengetahuan mengenai menilai kualitas jernang. Pengujian kualitas jernang dilakukan dengan dua cara yaitu membakar dan menggunakan methanol. Buah jernang dikumpulkan oleh petani penjernang dari dalam hutan, setelah itu buah dijual ke pengumpul tingkat desa. Selanjutnya pengumpul tingkat desa ini akan menjual kembali ke pengumpul tingkat desa yang lebih besar atau pengumpul tingkat kota, baik dalam bentuk buah juga atau dalam bentuk bubuk jernang. Pengumpul tingkat kota atau kabupaten kemudian akan memasarkan bubuk jernang ke pembeli besar yang ada di Medan dan Surabaya yang kemudian di ekspor ke Tiongkok. Untuk lebih jelasnya, tataniaga jernang dapat dilihat pada Gambar 12. 33

Rotan jernang yang dikumpulkan di pengumpul besar kemudian diolah menjadi tepung atau bubuk jernang dengan beberapa kelas. Kelas murni merupakan hasil olahan pertama dengan kadar >75%, kemudian diolah lagi menjadi bubuk kesatu, kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai produk akhir yang disebut sebagai sampah. Tabel 5 berikut ini menunjukkan nilai tambah jernang mulai dari buah bertangkai sampai dengan produk akhir jernang. Penjernang Pencari jernang tingkat Desa Penjernang/Pengolah tingkat Desa Pengolah jernang di tingkat Desa Pengolah/pengumpul di tingkat Kabupaten Pengolah/Pengumpul di tingkat Kabupaten Pengumpul di tingkat Propinsi Pengumpul di tingkat Propinsi Exportir Gambar 12. Saluran tataniaga jernang 34

Tabel 5. Nilai tambah jernang No. Jenis Produk Harga Buah Bulat (Rp) Harga Buah Lonjong (Rp) Buah bertangkai 35.000 15.000 Serbuk super 3.500.000 3.000.000 Tumbuk 1 tanpa diambil 1.000.000 400.000 murninya Tumbuk 2 tanpa diambil 400.000 200.000 murninya Tumbuk 1 buah kecil 400.000 100.000 Tumbuk 1 buah besar 200.000 40.000 Tumbuh 2 60.000 30.000 Tumbuk 3 40.000 25.000 Tumbuk 4 30.000 25.000 Sampah 10.000 np Nilai tambah jernang ini cukup bervariasi baik antar wilayah maupun antar jenis. Untuk jenis bulat harga yang diperoleh lebih besar dibandingkan jernang jenis lonjong. Buah bertangkai jernang bulat, dalam 100 kilogram dapat menghasilkan 1 kilogram bubuk jernang. Sedangkan untuk jernang lonjong, dalam 100 kilogram dapat menghasilkan 0.6 kilogram bubuk jernang. 35

V. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Sebaran rotan jernang di provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu meliputi sepanjang bukit barisan selatan dan terdapat 5 jenis rotan jernang. 2. Sistem pemanenan rotan jernang tidak merusak dan membunuh tanaman dan teknik pengolahan pasca panen yang lebih baik dari sebelumnya. 3. Teknik pembibitan secara generatif rotan penghasil jernang yang telah diketahui adalah jenis rotan jernang lonjong. 4. Petani mengumpulkan jernang dari kawasan hutan baik secara perorangan maupun kelompok. 5. Sampai saat ini belum ada aturan tentang bagaimana masyarakat mengambil jernang di hutan. Arahan agar petani jernang cukup mengambil buahnya saja biasanya disampaikan oleh pengumpul dan pengolah jernang. 6. Saluran pemasaran jernang adalah: Petani penjernang pengumpul buah tingkat desa pengolah jernang tingkat desa pengumpul hasil olahan jernang desa pengumpul hasil olahan jernang tingkat kabupaten pengumpul hasil olahan jernang tingkat provinsi exportir Petani penjernang pengumpul buah/ pengolah jernang tingkat desa pengumpul hasil olahan jernang tingkat kabupaten pengumpul hasil olahan jernang tingkat provinsi exportir Petani penjernang pengumpul buah/ pengolah jernang tingkat kabupaten pengumpul hasil olahan jernang tingkat kabupaten pengumpul hasil olahan jernang tingkat provinsi exportir 7. Nilai tambah dalam bisnis jernang pada umumnya diperoleh pengolah jernang dimana buah bertangkai dari jernang diolah menjadi serbuk jernang, tumbukan satu sampai tumbukan akhir dan sampah. 36

DAFTAR PUSTAKA Andayani, W. (2005). Pola Distribusi dan Tingkat Efisiensi Tataniaga Biji Mete (Anacardium occidentale L) Rakyat di Kabupaten Wonogiri. Jurnal Hutan Rakyat,7 (2) 11-42. ITTO, 2007. Guideline on harvesting and extraction techniques of dragon blood. Development of sustainable rattan production and utilization through participation of rattan small holders and industry in Indonesia. Jakarta. Mukson, Santosa, S.I., Setiyawan, H., dan Suryanto, B. (2005). Analisis Efisiensi Pemasaran Telur Ayam Ras di Kabupaten Kendal Jawa Tengah. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner (pp. 755-762). Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Rosmawati, H. (2011). Analisis Efisiensi Pemasaran Pisang Produksi Petani di Kecamatan Lengkit Kabupaten Ogan Komering Ulu. AgronobiS, 3 (5) 1-9. Waluyo, T.K., 2008. Teknik ekstraksi tradisional dan analisis sifat-sifat jernang asal Jambi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 26 No. 1, Maret 2008: 30-40. Puslitbang Hasil Hutan. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Januminro, C.F.M., 2000. Rotan Indonesia: potensi, budidaya, pemungutan, pengolahan, standar mutu, dan prospek pengusahaan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Panjaitan, L. 2011. Panen jernang di pekarangan. Trubus 494 Januari 2011. 37

Lampiran 1. Karakteristik tanah tempat tumbuhnya jernang Tabel 6. Karakteristik tanah pada lokasi survey Parameter Nilai Tanah Muara Danau Tanjung Tiga Danau Gerak C (%) 3,41 9,84 5,00 Tinggi Sangat Tinggi Tinggi N (%) 0,24 0,43 0,29 Sedang Sedang Sedang P (bray) (ppm) 5,10 75,45 53,55 Rendah Sangat Tinggi Sangat Tinggi KTK (me/100g) 10,88 17,40 10,88 Rendah Sedang Rendah K (me/100g) 0,26 0,32 0,32 Rendah Rendah Rendah Na (me/100g) 0,76 0,87 1,09 Sedang Tinggi Sangat Tinggi Ca (me/100g) 0,20 0,25 0,45 Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Mg (me/100g) 0,10 0,10 0,13 Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah ph (H 2 O) 3,80 3,60 3,90 Sangat masam Sangat masam Sangat masam Al (me/100g) 2,04 3,16 2,96 H-dd (me/100g) 0,96 0,84 1,24 Tekstur Pasir (%) 74,08 66,32 91,00 Debu (%) 18,00 25,52 1,96 Liat (%) 7,92 8,16 7,04 Kelas tekstur Pasir berlempung Lempung berpasir Pasir (LS) (SL) (S) 38