HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTERISTIK LENDIR VAGINA KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE) SETELAH SINKRONISASI ESTRUS DENGAN PROSTAGLANDIN KADEK DWI SETIAWAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Jawarandu merupakan kambing lokal Indonesia. Kambing jenis

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Dalam usaha meningkatkan penyediaan protein hewani dan untuk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu kabupaten diantara 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Barat sekitar SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus)

I. PENDAHULUAN. jika ditinjau dari program swasembada daging sapi dengan target tahun 2009 dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu sapi yang banyak

Sexual behaviour Parturient behaviour Nursing & maternal behaviour

TINJAUAN PUSTAKA Siklus Reproduksi Kuda

HUBUNGAN BODY CONDITION SCORE (BCS),

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone

I. PENDAHULUAN. Propinsi Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar untuk

UPAYA PENINGKATAN EFISIENSI REPRODUKSI TERNAK DOMBA DI TINGKAT PETAN TERNAK

ONSET DAN LAMA ESTRUS KAMBING KACANG YANG DIINJEKSIPROSTAGLANDINF2α PADA SUBMUKOSA VULVA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Estrus Setelah Penyuntikan Kedua PGF 2α. Tabel 1 Pengamatan karakteristik estrus kelompok PGF 2α

HASIL DAN PEMBAHASAN. pejantan untuk dikawini. Diluar fase estrus, ternak betina akan menolak dan

I. PENDAHULUAN. Selatan. Sapi pesisir dapat beradaptasi dengan baik terhadap pakan berkualitas

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dilakukan dengan purposive sampling, menggunakan 25 ekor

I. PENDAHULUAN. dengan tujuan untuk menghasilkan daging, susu, dan sumber tenaga kerja sebagai

MATERI DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 1999 sampai dengan

I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan merupakan prioritas ke-5 tingkat Nasional dalam Rancangan

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem

I. PENDAHULUAN. hari. Dalam perkembangannya, produktivitas kerbau masih rendah dibandingkan dengan sapi.

2. Mengetahui waktu timbulnya dan lamanya estrus pada setiap perlakuan penyuntikan yang berbeda. Manfaat Penelitian

Animal Agriculture Journal, Vol. 1. No. 2, 2012, p Online at :

Tatap muka ke 13 & 14 SINKRONISASI / INDUKSI BIRAHI DAN WAKTU IB

I. PENDAHULUAN. yang mayoritas adalah petani dan peternak, dan ternak lokal memiliki beberapa

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20

PENGARUH JENIS SINKRONISASI DAN WAKTU PENYUNTIKAN PMSG TERHADAP KINERJA BERAHI PADA TERNAK KAMBING ERANAKAN ETAWAH DAN SAPERA

LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL TAMPILAN BIRAHI KAMBING LOKAL YANG BERBEDA UMUR HASIL SINKRONISASI MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2 DI KABUPATEN BONE BOLANGO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi sapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelamin sehingga tidak menimbulkan kematian pada anak atau induk saat

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terus

MAKALAH BIOTEKNOLOGI PETERNAKAN PENINGKATAN POPULASI DAN MUTU GENETIK SAPI DENGAN TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO. DOSEN PENGAMPU Drh.

Pemantauan dan Pengukuran Proses Layanan Purna Jual. Kegiatan Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal. Kepala BIB Lembang

BAB I PENDAHULUAN. khususnya daging sapi dari tahun ke tahun di Indonesia mengalami peningkatan

HASlL DAN PEMBAHASAN

CARA MUDAH MENDETEKSI BIRAHI DAN KETEPATAN WAKTU INSEMINASI BUATAN (IB) PADA SAPI INSEMINASI BUATAN(IB).

MATERI DAN METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian

I. TINJAUAN PUSTAKA. tidak vital bagi kehidupan tetapi sangat penting bagi kelanjutan keturunan suatu

5 KINERJA REPRODUKSI

I. PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan salah satu penghasil protein hewani, yang dalam

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. kebutuhan sehingga sebagian masih harus diimpor (Suryana, 2009). Pemenuhan

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sapi dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. menggunakan metode artificial vagaina (AV). Semen yang didapatkan kemudian

BAB VI TEKNOLOGI REPRODUKSI

TINGKAT PENCAPAIAN SIKLUS BIRAHI PADA KAMBING BOERAWA DAN KAMBING KACANG MELALUI TEKNOLOGI LASER PUNKTUR

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I. PENDAHULUAN A.

M. Rizal Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, Ambon ABSTRAK

PEMANFAATAN LARUTAN IODIN POVIDON SEBAGAI HORMON STIMULAN GERTAK BERAHI KAMBING SECARA ALAMIAH

I PENDAHULUAN. dikembangkan di Indonesia. Sistem pemeliharannya masih dilakukan secara

EFEKTIVITAS PENYUNTIKAN ESTRO-PLAN (PGF-2Α SINTETIS) TERHADAP PENYERENTAKAN BERAHI SAPI BALI DI KABUPATEN PINRANG SULAWESI SELATAN

PERBAIKAN FERTILITAS MELALUI APLIKASI HORMONE GONADOTROPIN PADA INDUK SAPI BALI ANESTRUS POST-PARTUM DI TIMOR BARAT

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian mengenai Perbedaan Intensitas Berahi pada Generasi Pertama

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Indonesia. Sebagai ternak potong, pertumbuhan sapi Bali tergantung pada kualitas

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Persebaran Kambing Peranakan Ettawah (PE) galur lainnya dan merupakan sumber daya genetik lokal Jawa Tengah yang perlu

KAJIAN KEPUSTAKAAN. sangat besar dalam memenuhi kebutuhan konsumsi susu bagi manusia, ternak. perah. (Siregar, dkk, dalam Djaja, dkk,. 2009).

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 19 April 2016, bertempat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sapi Persilangan Simmental dan Peranakan Ongole. Sapi hasil persilangan antara sapi peranakan Ongole (PO) dan sapi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi PO adalah sapi persilangan antara sapi Ongole (Bos-indicus) dengan sapi

BAB I PENDAHULUAN. agar diperoleh efisiensi dan efektifitas dalam penggunaan pejantan terpilih,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dibagikan. Menurut Alim dan Nurlina ( 2011) penerimaan peternak terhadap

LAPORAN PROGRAM PENERAPAN IPTEKS

PUBERTAS DAN ESTRUS 32 Pubertas 32 Estrus 32 Waktu kawin 33

KEGIATAN SIWAB DI KABUPATEN NAGEKEO

PENYERENTAKAN BERAHI DENGAN PROGESTERON DALAM SPONS PADA TERNAK DOMBA DI KABUPATEN CIANJUR

PENDAHULUAN. pemotongan hewan (TPH) adalah domba betina umur produktif, sedangkan untuk

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. betina dengan kambing Etawah jantan. Berdasarkan tipe kambing PE digolongkan

SINKRONISASI ESTRUS PADA DOMBA GARUT (Ovis aries) MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN DAN PROGESTERON AEPUL

KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Pola saluran pemasaran terdiri dari: a) Produsen Ketua Kelompok Ternak Lebaksiuh Pedagang

TINJAUAN PUSTAKA. Asal-usul, Karakteristik dan Penampilan Reproduksi Kambing Kacang

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. dan sekresi kelenjar pelengkap saluran reproduksi jantan. Bagian cairan dari

KEGAGALAN REPRODUKSI PADA TERNAK KELINCI

PENDAHULUAN. Latar Belakang. setiap tahunnya, namun permintaan konsumsi daging sapi tersebut sulit dipenuhi.

BAB II FAAL KELAHIRAN

III. METODE 3.1. Waktu dan Tempat 3.2. Alat dan Bahan 3.3. Tahap Persiapan Hewan Percobaan Aklimatisasi Domba

KAWIN SUNTIK/INSEMINASI BUATAN (IB) SAPI

GAMBARAN AKTIVITAS OVARIUM SAPI BALI BETINA YANG DIPOTONG PADA RUMAH PEMOTONGAN HEWAN (RPH) KENDARI BERDASARKAN FOLIKEL DOMINAN DAN CORPUS LUTEUM

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sapi Bali (Bos sondaicus, Bos javanicus, Bos/Bibos banteng) merupakan plasma

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Potong. potong adalah daging. Tinggi rendahnya produksi penggemukan tersebut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rusa Timor (Rusa timorensis) merupakan spesies bendera (flag species)

Pengaruh Pemberian Prostaglandin F2 Alpha Terhadap Waktu Kemunculan Birahi dan Keberhasilan Inseminasi Buatan Sapi Brahman Cross (Bx) Heifers

ABSTRACT. Key words: Ongole Offspring, Estrous, Estrous Synchronization, PGF 2 α, Parities

PERFORMA REPRODUKSI PADA SAPI POTONG PERANAKAN LIMOSIN DI WILAYAH KECAMATAN KERTOSONO KABUPATEN NGANJUK

I. PENDAHULUAN. Lampung (2009), potensi wilayah Provinsi Lampung mampu menampung 1,38

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sapi Persilangan Simmental Peranakan Ongole (SimPO)

EFEKTlVlTAS LAMA PEMBERIAN IMPLAN PROGESTERON INTRAVAGINAL' DAN WAKTU INSEMINAS1 TERHADAP PENAMPILAN REPRODUKSI KAMBING PERANAKAN ETAWAH

PENYEREMPAKAN BERAHI DENGAN MENGGUNAKAN CIDR PADA DOMBA RAKYAT DI KECAMATAN NAGRAG

SINKRONISASI ESTRUS MELALUI MANIPULASI HORMON AGEN LUTEOLITIK UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI REPRODUKSI SAPI BALI DAN PO DI SULAWESI TENGGARA

Transkripsi:

9 Deteksi Estrus Pengukuran hambatan arus listrik lendir vagina dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore) selama lima hari berturut-turut. Angka estrus detektor direkapitulasi dalam bentuk tabel secara berurutan. Selanjutnya, data tersebut dikonfirmasi dengan tanda-tanda tingkah laku estrus yang teramati. Tanda-tanda estrus ditunjukkan dengan respon diam dinaiki saat pejantan pengusik dimasukkan. Data yang terkumpul kemudian diterjemahkan menjadi data sebelum estrus, saat estrus, dan sesudah estrus untuk selanjutnya dianalisa nilai rataan dari masing-masing tanda tersebut. Analisis Data Hasil penelitian yang didapat berupa data kuantitatif berupa perhitungan angka estrus detektor sebelum estrus, pada waktu estrus, dan setelah estrus kambing peranakan Etawah dari masing-masing kelompok hormon prostaglandin. Data yang diperoleh dari perhitungan tersebut selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan dihubungkan dengan referensi yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas Lendir Vagina Hasil Sinkronisasi Estrus Kelompok Penyuntikan Intramuskular Penentuan status estrus menggunakan estrus detektor setelah sinkronisasi estrus dengan prostaglandin F2α pada kambing PE kelompok intramuskular menunjukkan hasil sebanyak 3 dari 10 ekor (30%) kambing betina memperlihatkan respon estrus jelas yang ditandai dengan diam saat dinaiki pejantan pengusik. Data nilai pengukuran hambatan arus listrik lendir vagina kambing betina estrus pada kelompok intramuskular secara umum memperlihatkan pola hambatan arus listrik sebelum estrus menunjukkan angka yang relatif tinggi, kemudian menurun pada saat estrus dan meningkat lagi setelah estrus (Tabel 1). Pola yang seperti ini sama dengan hasil penelitian yang diperoleh Rezac et. al (2001) pada kambing perah dan Setiadi dan Aepul (2010b) pada domba garut. Pola hambatan arus listrik yang demikian disebabkan karena terjadinya perubahan komposisi di dalam vagina, dimana lendir vagina lebih banyak terkumpul (Setiadi dan Aepul 2010b).

10 Tabel 1 Nilai hambatan arus listrik betina estrus setelah sinkronisasi dengan prostaglandin pada kelompok intramuskular Hari pengamatan estrus ke KO8 840 820 740 350 320 360 390 420 450 550 530 M91 660 440 440 500 550 380 370 330 340 440 410 K18 860 990 720 610 600 630 620 470 450 960 990 P: pagi, S: sore, kuning: sebelum estrus, coklat: saat estrus, hijau: sesudah estrus. Nilai pengukuran hambatan arus listrik lendir vagina kelompok betina estrus menunjukkan angka tertinggi 820 unit pada saat estrus, dan memiliki nilai terendah 320 unit. Nilai hambatan arus listrik lendir vagina yang ditunjukkan pada saat hewan estrus memiliki nilai yang relatif tinggi, meskipun pada saat estrus serviks lebih aktif menghasilkan lendir vagina yang bersifat encer. Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan nilai hambatan arus listrik lendir vagina diantara hewan yang estrus. Hal ini kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan jumlah dan konsistensi lendir vagina yang dihasilkan, kandungan hormon hewan, dan kondisi folikel pada saat estrus. Sementara itu pola yang tidak sama ditunjukkan oleh hasil sinkronisasi kelompok betina tidak estrus (Tabel 2). Perubahan angka estrus detektor yang didapat menunjukkan hasil yang tidak beraturan jumlah penurunan dan peningkatannya. Nilai pengukuran estrus detektor kelompok betina tidak estrus setelah prostaglandin menunjukkan adanya penurunan angka estrus detektor, meskipun hewan tidak menunjukkan gejala estrus. Hal ini kemungkinan disebabkan karena gejala estrus yang ditimbulkan sangat singkat dan terbatasnya waktu pengamatan yang dilakukan. Tabel 2 Nilai hambatan arus listrik betina tidak estrus setelah sinkronisasi dengan prostaglandin pada kelompok intramuskular K24 610 460 470 660 600 400 440 460 490 810 800 S00 740 660 580 530 530 620 630 880 840 670 690 M52 990 860 760 880 890 800 800 770 710 860 870 K14 670 450 410 470 480 500 510 740 750 380 370 K12 440 390 380 430 520 470 460 430 480 860 880 K23 770 640 610 630 630 670 700 810 850 740 700 S01 930 880 790 710 740 760 740 770 790 880 800 P: pagi, S: sore.

Nilai pengukuran estrus detektor yang tidak teratur juga mengindikasikan tidak konsistennya komposisi lendir vagina yang dihasilkan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pengaruh prostaglandin yang tidak cukup untuk meregresikan corpus luteum. Kondisi ini menyebabkan hewan betina tidak akan memasuki fase folikuler dan tidak menunjukkan gejala berahi. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan Rezac et al. (2001) pada kambing perah, pola perubahan hambatan arus listrisk daerah vagina setelah hewan betina melewati gejala estrus maupun tidak menunjukkan gejala estrus memiliki pola yang tidak beraturan. 11 Kualitas Lendir Vagina Hasil Sinkronisasi Estrus Kelompok Penyuntikan Intravulva Hasil sinkronisasi estrus dengan aplikasi prostaglandin dua kali pada kelompok intravulva menghasilkan 5 dari 10 ekor (50%) kambing betina menunjukkan respon estrus yang jelas dengan ditandai adanya gejala diam dinaiki. Adanya ketidakhadiran gejala estrus kemungkinan disebabkan oleh adanya ketidakcukupan sekresi oestradiol oleh folikel yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya (Setiadi dan Aepul 2010a). Tabel 3 Nilai hambatan arus listrik betina estrus setelah sinkronisasi dengan prostaglandin pada kelompok intravulva M25 760 590 470 480 500 410 400 370 350 590 580 K22 610 460 420 340 280 340 350 440 460 570 550 M61 740 450 390 360 350 370 370 340 330 530 550 H14 450 350 330 300 310 300 300 280 370 460 460 M30 440 400 410 570 560 470 450 420 390 930 910 P: pagi, S: sore, kuning: sebelum estrus, coklat: saat estrus, hijau: sesudah estrus. Nilai hambatan arus listrik lendir vagina betina estrus kelompok prostaglandin intravulva menunjukkan angka yang relatif tinggi pada saat sebelum estrus, kemudian menurun pada saat estrus dan meningkat lagi sesudah estrus. Hasil yang serupa juga ditunjukkan oleh hasil penelitian Setiadi dan Aepul (2010b) pada domba garut dan Rezac et al. (2001) pada kambing perah. Pola hambatan arus listrik lendir vagina yang sedikit berbeda ditunjukkan pada kelompok betina tidak estrus (Tabel 4). Pola perubahan hambatan arus listrik lendir vagina pada kelompok ini menunjukkan penurunan angka setelah perlakuan prostaglandin pada beberapa hewan, namun tidak memperlihatkan gejala estrus seperti yang tampak pada kelompok betina estrus. Beberapa hewan juga menunjukkan adanya peningkatan hambatan arus listrik lendir vagina setelah

12 dilakukan prostaglandin. Pola perubahan hambatan yang ditunjukkan cenderung memperlihatkan pola yang tidak teratur. Tabel 4 Nilai hambatan arus listrik betina tidak estrus setelah sinkronisasi dengan prostaglandin kelompok intravulva M14 520 490 460 370 390 460 420 540 570 810 800 M77 420 430 440 360 400 480 390 440 470 270 290 K13 630 720 750 820 860 850 820 920 960 800 840 M53 880 820 880 970 960 710 700 770 710 700 710 K20 870 940 760 470 490 550 520 560 580 740 760 P: pagi, S: sore. Perbandingan Kualitas Estrus Hasil Sinkronisasi Estrus antara Kelompok Penyuntikan Prostaglandin Intramuskular dan Intravulva Jika dibandingkan dari hasil kelompok perlakuan, dapat dilihat nilai hambatan arus listrik lendir vagina betina estrus memperlihatkan kelompok perlakuan prostaglandin secara intramuskular memiliki nilai yang lebih tinggi (820-320 unit) dibandingkan dengan kelompok prostaglandin secara intravulva (530-280 unit). Data ini mengindikasikan bahwa lendir vagina yang dihasilkan kelompok prostaglandin secara intramuskular memperlihatkan konsistensi yang lebih kental dibandingkan dengan kelompok prostaglandin secara intravulva. Adanya perbedaan karakteristik lendir vagina ini kemungkinan disebabkan oleh aplikasi pemberian hormonal yang berbeda. Konsistensi lendir vagina yang semakin kental memiliki sifat yang semakin sulit untuk ditembus. Dalam hal ini daya hambatan arus listrik yang ditimbulkan akan semakin besar pada kelompok prostaglandin secara intramuskular. Karakteristik lendir vagina ini juga terlihat secara visual pada saat pengamatan gejala estrus. Selain memiliki konsistensi yang lebih kental, lendir vagina kelompok prostaglandin secara intramuskular juga memiliki warna yang lebih keruh dibandingkan kelompok prostaglandin intravulva. Secara umum pola perubahan nilai hambatan arus listrik daerah vagina setelah sinkronisasi estrus pada kelompok perlakuan menunjukkan nilai hambatan arus listrik yang tinggi sebelum memasuki fase estrus, menurun ketika memasuki fase estrus, dan meningkat secara bertahap ketika melewati fase estrus. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Rezac et al. (2001) pada kambing perah. Pola hambatan arus listrik yang demikian kemungkinan disebabkan karena terjadinya perubahan komposisi dan kualitas lendir vagina yang dihasilkan. Sementara itu menurut Kitwood et. al (1993) menyatakan bahwa penurunan nilai hambatan arus listrik lendir vagina pada saat hewan memasuki fase estrus disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen.

Estrogen menyebabkan terjadinya vasodilatasi daerah vagina yang disertai dengan meningkatnya daya hantar arus listrik daerah vagina, sehingga hambatan arus listrik akan menjadi lebih kecil. Beberapa peneliti juga pernah menjadikan nilai hambatan arus listrik pada daerah vagina sebagai parameter keberhasilan reproduksi, seperti Cavaco- Gonzalves et al. (2006) menyatakan jumlah lendir yang dihasilkan serviks dapat membantu transportasi sperma untuk melakukan pembuahan, sehingga proses fertilisasi dapat terjadi. Selanjutnya, Setiadi dan Aepul (2010b) melaporkan bahwa pola perubahan nilai hambatan arus listrik pada daerah vagina dapat digunakan untuk memprediksi waktu terjadinya estrus dan kualitasnya. Selain itu juga, terdapat hubungan antara nilai hambatan lendir vagina dengan konsentrasi estrogen dan progesterone yang dapat dijadikan alat bantu untuk memprediksi kualitas estrus, kesuburan dan keberhasilan dari proses perkawinan (Bartlewski et al. 1999). Onset munculnya estrus yang didapat memperlihatkan kelompok prostaglandin secara intravulva memberikan hasil yang lebih baik, dimana sebagian besar hewan sudah menunjukkan gejala berahi 24-48 jam setelah. Kondisi ini akan memberikan keuntungan waktu yang lebih cepat untuk melakukan perkawinan secara alami pada ternak. Perbedaan onset estrus yang timbul dapat diakibatkan oleh teknik pemberian prostaglandin yang dilakukan pada hewan (Saoeni 2007). Lama gejala estrus yang timbul juga memperlihatkan hasil yang lebih baik pada kelompok prostaglandin secara intravulva, hasil yang didapat menunjukkan lama gejala estrus berkisar antara 2-5 hari. Sedangkan pada kelompok intramuskular menunjukkan lama gejala estrus 1-2 hari. Adanya perbedaan dalam lama gejala estrus dapat disebabkan oleh faktor umur ternak, kesehatan, dan bobot badan ternak (Toelihere 2003). Gejala estrus yang lebih lama akan memberikan keuntungan waktu yang lebih banyak untuk melakukan perkawinan secara alami pada ternak. Namun demikian perlu dilakukan pengamatan yang lebih lanjut hubungan antara kualitas dan kuantitas folikel yang dihasilkan dengan ketepatan waktu inseminasi. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dilihat bahwa prostaglandin secara intravulva dapat memberikan hasil yang lebih maksimal. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Siregar et al. (2010), yang menyatakan bahwa pemberian prostaglandin F2α akan memberikan kualitas berahi yang baik jika diberikan secara intrauterine atau intravulva karena lokasinya yang lebih mudah untuk didistribusikan langsung melalui mekanisme counter current. Lendir vagina yang didapat juga menunjukkan konsistensi yang lebih cair dan jernih pada kelompok prostaglandin secara intravulva dan memiliki nilai hambatan arus listrik daerah vagina yang lebih kecil pada saat estrus. Pola perubahan hambatan arus listrik yang dihasilkan di daerah vagina sangat dipengaruhi oleh komposisi dan lingkungan daerah vagina tersebut. Perubahan kondisi lingkungan vagina ini sangat dipengaruhi oleh reaksi biokimia yang terjadi di dalamnya (Breeveld- Dwarkasing et al. 2003). 13