HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Liana Dharmawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 15 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Ultrasonografi Korpus Luteum Gambar 4 Gambaran ultrasonografi perubahan korpus luteum (garis putus-putus). Pada hari sebelum pemberian PGF 2α (H-1) korpus luteum bersifat hyperechoic dan akan beregrasi dari hari saat pemberian PGF 2α (H0) sampai hari ke-2 setelah pemberian PGF 2α (H2). Pada hari ke-3 setelah pemberian PGF 2α (H3) terbentuk korpus hemoragikum yang bersifat hypoechoic Gambaran ultrasonografi setelah diinduksi estrus difokuskan pada regresi korpus luteum (Gambar 4), dimana terdapat korpus luteum yang bersifat hyperechoic pada hari ke-2 setelah pemberian PGF 2α (H2) dan hypoechoic pada hari ke-3 setelah pemberian PGF 2α (H3). Korpus luteum terbentuk dari sel-sel luteal yang mengisi ruang folikel setelah ovulasi, sel-sel luteal ini berfungsi untuk menghasilkan hormon progesteron (Johnson dan Everitt 1995). Korpus luteum mengalami regresi dari hari ke-0 (H0) sampai hari ke-2 (H2) dengan diameter 2,2 cm menjadi 1,1 cm setelah pemberian PGF 2α mengakibatkan gambaran ultrasonografi korpus luteum bersifat hyperechoic. Gambaran hyperechoic disebabkan oleh matinya sel-sel luteal yang kemudian membentuk jaringan ikat, matinya sel-sel luteal menyebabkan terjadi penurunan kadar plasma progesterone (Bergfelt dan Adams 2007). Pada saat ovulasi atau hari ke-3 setelah pemberian PGF 2α (H3) terbentuk korpus hemoragikum berdiameter 3,5 cm, dimana korpus hemoragikum memilki kandungan progesteron yang rendah (Hafez dan Hafez
2 ), sedangkan pada hari saat pemberian PGF 2α (H0) korpus luteum berdiameter 2,2 cm dan bersifat hyperechoic dengan kadar plasma progesterone yang tinggi karena terbentuknya sel luteal (Bergfelt dan Adams 2007). Gambaran Ultrasonografi Folikel Gambar 5 Gambaran ultrasonografi folikel (garis putus-putus) bersifat anechoic, pertumbuhan folikel terlihat dari perubahan bentuk folikel dari bulat pada 0 jam stelah pemberian hcg menjadi bentuk pear shape pada 72 jam setelah pemberian hcg Gambaran ultrasonografi setelah diinduksi ovulasi difokuskan pada perkembangan folikel yang bersifat anechoic. Perkembangan folikel dapat dilihat dari bentuk folikel bulat berdiamter 3,1 cm pada jam ke-0 menjadi bentuk yang tidak bulat atau yang sering disebut pear shape berdiameter 4,8 cm pada jam ke- 72 (Gambar 5). Hasil ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kahn (2004) dimana folikel akan bersifat anechoic dengan garis tepi yang merupakan dinding folikel bersifat hypoechoic atau hyperecohoic dan bentuk folikel akan terlihat irregular saat akan terjadi ovulasi.
3 17 Dinamika Perkembangan Folikel dan Regresi Korpus Luteum Saat Diinduksi Estrus Gambar 6 Perkembangan folikel dan regresi korpus luteum pada induksi estrus. Onset estrus kuda A dan B pada hari ke-1, sedang kuda C hari ke-2. Ovulasi kuda A terjadi pada hari ke-3, sedang kuda B dan C hari ke-4 Pada Onset estrus pada kuda A dan B (Gambar 6) terjadi pada hari pertama, sedangkan Kuda C (Gambar 6) onset estrus pada hari kedua. Hasil ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Samper (2008) kisaran antara awal pemberian PGF 2α sampai dengan onset estrus terjadi pada 48 jam pertama. Akan tetapi hasil ini berbeda dengan yang dilakukan oleh Estrada dan Samper (2003) yang melaporkan bahwa dengan pengguanaan 7.5 mg PGF 2α pada awal hari ke-5 setelah ovulasi akan menyebabkan onset estrus dalam jangka waktu 3-4 hari. Perbedaan onset estrus tersebut dikarenakan konsentrasi PGF 2α yang berbeda dan pada penelitian Estrada dan Samper (2003) tersebut dimungkinkan diameter
4 18 korpus luteum masih besar sehingga regresi korpus luteum akan berlangsung lebih lama. Pada kuda A dan B onset estrus terjadi saat diameter folikel terbesar dan korpus luteum kuda A 3,3 cm dan 2,1 cm; kuda B 3,4 cm dan 1,3 cm, sedangkan kuda C onset estrus terjadi dengan diameter folikel terbesar 3,5 cm dan korpus luteum 1,4 cm. Berdasarkan data yang diperoleh dari ketiga kuda tersebut didapat rata-rata nilai diameter folikel terbesar dan korpus luteum saat onset estrus yaitu 3,4 cm dan 1,6 cm. Ovulasi pada kuda A terjadi pada hari ke-3, sedangkan kuda B dan C ovulasi terjadi pada hari ke-4. Hasil penelitian ini dapat diterima berdasarkan hasil pengamatan Bergfelt (2007) dimana ovulasi terjadi 3,7±0,4 hari dengan metode yang sama yaitu sinkronisasi ovulasi yaitu dilakukan sinkronisasi estrus yang kemudian dilanjutkan dengan induksi ovulasi. Pengamatan tingkah laku estrus Tabel 2 Hasil teasing scoring pengamatan tingkah laku estrus pada 3 ekor kuda Teasing scores hari ke- setelah pemberian PGF 2α Kuda A B C Hasil pengamatan estrus berdasarkan scoring pada 3 ekor kuda yang ditunjukkan pada table 2, terlihat onset estrus pada 3 ekor kuda saat score 2. Score 2 ditandai dengan sedikit ada ketertarikan, kadang mendekati pejantan, menunjukkan winked vulva dan mengangkat ekor. Kuda A dan B onset estrus terjadi pada hari ke-1 setelah pemberian PGF 2α, sedangkan kuda C pada hari ke-2. Ovulasi pada kuda A,B dan C terjadi saat score 4 yang ditandai dengan ketertarikan yang kuat, menyodorkan pantat pada jantan, dan winked vulva dan urinasi yang berkelanjutan. Kuda B dan C ovulasi terjadi pada hari ke-4 setelah pemberian PGF 2α, sedangkan kuda A pada hari ke-2.
5 Gambar 7 Visualisasi scoring tingkah laku estrus. Skor 0 tidak menunjukkan tandatanda menerima jantan, bahkan agresif menyerang, menendang dan meringkik, skor 1 tidak menolak terhadap pejantan, skor 2 sedikit ada ketertarikan, kadang mendekati pejantan, menunjukkan winked vulva (vulva mengedip) dan mengangkat ekor, skor 3 lebih menunjukkan ketertarikan, mengangkat ekor, squatting (berdiri jongkok) dan urinasi dan skor 4 ketertarikan yang kuat, menyodorkan pantat pada jantan dan winked vulva (vulva mengedip) serta urinasi yang berkelanjutan 19
6 20 Dinamika Perkembangan Folikel dan Regresi Korpus Luteum Setelah Diinduksi Ovulasi Gambar 8 Perkembangan folikel dan regresi korpus luteum pada induksi ovulasi. Ovulasi kuda A 52 jam, kuda B 72 jam dan kuda C 64 jam setelah pemberian hcg Dinamika ovari pada kuda A (Gambar 8) setelah diinduksi hcg dengan perkembangan diameter folikel preovulasi dari 3,3 cm menjadi 4,7 cm sebelum terjadi ovulasi, sedangkan regresi korpus luteum terlihat dari jam ke-0 sampai jam ke-52 dengan diameter 2,1 cm menjadi 1,2 cm. Dinamika ovari pada kuda B (Gambar 8) setelah diinduksi hcg dengan perkembangan diameter folikel preovulasi dari 3,4 cm menjadi 4,8 cm sebelum terjadi ovulasi, sedangkan regresi korpus luteum terlihat dari jam ke-0 sampai jam ke-72 dengan diameter 1,3 cm menjadi 0,6 cm. Dinamika ovari pada kuda C (Gambar 8) setelah diinduksi hcg dengan perkembangan diameter folikel preovulasi dari 3,2 cm menjadi 3,9 cm sebelum terjadi ovulasi, sedangkan regresi korpus luteum terlihat dari jam ke-0 sampai jam ke-64 dengan diameter 1,8 cm menjadi 0,7 cm.
7 21 Pertumbuhan folikel setelah pemberian hcg pada kuda A 0,26 mm/jam, kuda B 0,19 mm/jam, dan kuda C 0,01 mm/jam, data ini diperoleh dengan cara menghitung selisih antara diameter folikel yang akan ovulasi dengan diameter folikel pada awal pemberian hcg. Menurut Ivkov (1999) pertumbuhan folikel preovulatori 2,4 mm/hari, sedangkan Kahn (2004) pertumbuhan folikel pada siklus normal kuda antara 2-2,5 mm/hari. Apabila hasil penelitian Kahn tersebut dikonversi menjadi per-jam, maka pertumbuhan folikel 0,08-0,1 mm/jam. Berdasarkan hasil tersebut, maka pemberian hcg akan mempercepat pertumbuhan folikel preovulasi. Hasil induksi ovulasi kuda A,B dan C sesuai dengan yang dilakukan Estrada dan Samper (2003) dengan pemberian hcg saat diameter folikel terbesar 30 mm, maka ovulasi akan terjadi jam setelah pemberian. Akan tetapi, menurut Gastal et al. (2006) dengan dosis 1500 IU hcg yang disuntikkan saat diameter folikel terbesar mencapai 35 mm akan menyebabkan ovulasi pada 44.0±1.0 jam setelah penyuntikan. Hasil penelitian Gastal et al. (2006) ovulasi terjadi lebih awal dibandingkan penelitian ini, hal ini disebabkan metode pemberian hcg dilakukan saat folikel berukuran 35 mm, sedangkan penelitian ini hcg diberikan saat folikel berukuran 30 mm. Data Hasil Pengamatan Sinkronisasi Ovulasi Tabel 3 Data rata-rata 3 ekor kuda hasil pengamatan sinkronisasi ovulasi Parameter Rata-rata±SD Diameter CL (cm) Awal perlakuan PGF 2α 1,9±0,4 Awal perlakuan hcg 1,8±0,5 Saat ovulasi 0,8±0,3 Diamater folikel terbesar (cm) Awal perlakuan PGF 2α 3,0±0,2 Awal perlakuan hcg 3,3±0,1 Saat ovulasi 4,5±0,5 Estrus (hari) Interval awal perlakuan PGF 2α hingga onset estrus 1,3±0,6 Durasi estrus 4,0±1,0 Interval mencapai ovulasi Awal perlakuanpgf 2α (hari) 3,2±1,0 Awal perlakuan hcg (jam) 62,7±10,1
8 22 Hasil penelitian sinkronisasi ovulasi yang dilakukan dengan pemberian PGF 2α 10 mg intra muskuler dan hcg 1500 IU intra muskuler didapatkan hasil pada tabel 1, dimana rata-rata diameter folikel terbesar dan korpus luteum pada saat awal perlakuan PGF 2α sebesar 3,0±0,2 cm dan 1,9±0,4 cm; sedangkan pada saat awal perlakuan hcg sebesar 3,3 ± 0,1 cm dan 1,8±0,5 cm; saat ovulasi sebesar 4,5±0,5 cm dan 0,8±0,3 cm. Berbeda dengan penelitian yang dilaporkan oleh Bergfelt et al. (2007) melaporkan bahwa dalam penelitian yang telah dilakukannya, rata-rata diameter folikel terbesar pada saat awal perlakuan PGF 2α sebesar 2,27±0,19 cm, sedangkan pada awal perlakuan hcg sebesar 3,15±0,15 cm, dan rata-rata diameter folikel terbesar maksimal yang dicapai satu hari sebelum ovulasi sebesar 3,65±0,1 cm. Rata-rata interval awal perlakuan PGF 2α hingga onset estrus sepanjang 1,3±0,6 hari, sedangkan rata-rata durasi estrus sepanjang 4,0±1,0 hari. Interval mencapai ovulasi dari awal perlakuan PGF 2α selama 3,2±1,0 hari, sedangkan dari awal perlakuan hcg 62,7±10,1 jam. Hasil sinkronisasi estrus sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Samper (2008), yang telah dilaporkan bahwa dalam rata-rata onset estrus akan terjadi dalam kurun waktu 3-4 hari setelah perlakuan PGF 2α. Ditambahkan bahwa kisaran antara awal perlakuan PGF 2α sampai dengan onset estrus dan tercapainya ovulasi dapat berkisar antara 48 jam sampai dengan 12 hari, tergantung dari diameter folikel yang akan ovulasi. Akan tetapi, hasil induksi ovulasi ini kurang sesuai dengan yang dilaporkan oleh Gastal et al. (2006) bahwa dengan pemberian 1500 IU hcg akan didapatkan interval mencapai ovulasi sepanjang 44,0±1,0 jam. Hal ini disebabkan pemberian hcg pada penelitian Gastal et al. (2006) melalui intravena yang akan memberikan efek lebih cepat daripada intra muskuler. Hasil sinkronisasi ovulasi pada penelitian ini telah mendapatkan hasil yang diharapkan, dengan cara dilakukan manipulasi hormonal reproduksi untuk mempercepat terjadinya ovulasi. Hal tersebut ditunjukkan dengan terjadinya ovulasi pada rata-rata ketiga ekor kuda terjadi 3,2±0,1 hari setelah pemberian PGF 2α yang diikuti pemberian hcg saat folikel terbesar berukuran 30 mm.
HASIL DAN PEMBAHASAN
13 HASIL DAN PEMBAHASAN Sinkronisasi Estrus dan Waktu Ovulasi Folikel Untuk sinkronisasi estrus dan induksi ovulasi dilakukan pemberian PGF 2α sebanyak 2 ml i.m dan hcg 1500 IU. Hasil seperti tertera pada
TINJAUAN PUSTAKA Siklus Reproduksi Kuda
3 TINJAUAN PUSTAKA Siklus Reproduksi Kuda Siklus reproduksi terkait dengan berbagai fenomena, meliputi pubertas dan kematangan seksual, musim kawin, siklus estrus, aktivitas seksual setelah beranak, dan
DINAMIKA OVARIUM PADA KUDA HASIL PERSILANGAN PEJANTAN THOROUGHBRED DENGAN INDUK LOKAL INDONESIA MUHAMMAD DANANG EKO YULIANTO
DINAMIKA OVARIUM PADA KUDA HASIL PERSILANGAN PEJANTAN THOROUGHBRED DENGAN INDUK LOKAL INDONESIA MUHAMMAD DANANG EKO YULIANTO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011 PERNYATAAN MENGENAI
GAMBARAN ULTRASONOGRAFI DAN KARAKTERISTIK ESTRUS SETELAH SINKRONISASI OVULASI PADA INDUK KUDA PERSILANGAN ANANG TRIYATMOKO
GAMBARAN ULTRASONOGRAFI DAN KARAKTERISTIK ESTRUS SETELAH SINKRONISASI OVULASI PADA INDUK KUDA PERSILANGAN ANANG TRIYATMOKO FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 ABSTRAK ANANG TRIYATMOKO.
TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Kuda Lokal Indonesia
TINJAUAN PUSTAKA Kuda dan Perkembangannya di Indonesia Kuda modern (Equus caballus) yang saat ini terdapat diseluruh dunia berasal dari binatang kecil yang oleh beberapa ilmuwan disebut sebagai Eohippus
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
i PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA SINKRONISASI ESTRUS PADA KUDA PERSILANGAN PEJANTAN THOROUGHBRED DENGAN INDUK LOKAL INDONESIA YANG DIAMATI MENGGUNAKAN ULTRASONOGRAFI (USG) PKM GAGASAN TERTULIS DIUSULKAN
HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Estrus Setelah Penyuntikan Kedua PGF 2α. Tabel 1 Pengamatan karakteristik estrus kelompok PGF 2α
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Estrus Setelah Penyuntikan Kedua PGF 2α Hasil penelitian didapatkan 13 dari 15 ekor domba (87,67%) menunjukan respon estrus dengan penyuntikan PGF 2α. Onset estrus berkisar
HASIL DAN PEMBAHASAN
9 A B Hari ke- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16-17 Gambar 8 Teknik penyuntian PGF 2α. (A) Penyuntikan pertama, (B) Penyuntikan kedua, (C) Pengamatan estrus yang dilakukan tiga kali sehari yaitu pada
HASIL DAN PEMBAHASAN. pejantan untuk dikawini. Diluar fase estrus, ternak betina akan menolak dan
30 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kualitas Estrus 4.1.1 Tingkah Laku Estrus Ternak yang mengalami fase estrus akan menunjukkan perilaku menerima pejantan untuk dikawini. Diluar fase estrus, ternak betina
Tatap muka ke 13 & 14 SINKRONISASI / INDUKSI BIRAHI DAN WAKTU IB
Tatap muka ke 13 & 14 PokokBahasan : SINKRONISASI / INDUKSI BIRAHI DAN WAKTU IB 1. Tujuan Intruksional Umum Mengerti tujuan sinkronisasi / induksi birahi Mengerti cara- cara melakuakn sinkronisasi birahi/induksi
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam upaya menjadikan subsektor peternakan sebagai pendorong kemandirian pertanian Nasional, dibutuhkan terobosan pengembangan sistem peternakan. Dalam percepatan penciptaan
BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan timbulnya sifat-sifat kelamin sekunder, mempertahankan sistem
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Estrogen merupakan hormon steroid yang dihasilkan oleh sel granulosa dan sel teka dari folikel de Graaf pada ovarium (Hardjopranjoto, 1995). Estrogen berkaitan dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu kabupaten diantara 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu kabupaten diantara 5 Kabupaten yang terdapat di provinsi Gorontalo dan secara geografis memiliki
I. PENDAHULUAN. Selatan. Sapi pesisir dapat beradaptasi dengan baik terhadap pakan berkualitas
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sapi pesisir merupakan salah satu bangsa sapi lokal yang banyak di pelihara petani-peternak di Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Pesisir Selatan. Sapi pesisir dapat
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI...
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN.... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR LAMPIRAN... INTISARI...... ABSTRACT... ii iii v vii viii ix x xii xiii BAB I.
I. PENDAHULUAN. dengan tujuan untuk menghasilkan daging, susu, dan sumber tenaga kerja sebagai
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kerbau merupakan salah satu ternak ruminansia yang dikembangkan dengan tujuan untuk menghasilkan daging, susu, dan sumber tenaga kerja sebagai hasil utama serta pupuk organik
I. PENDAHULUAN. jika ditinjau dari program swasembada daging sapi dengan target tahun 2009 dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging dan merupakan komoditas peternakan yang sangat potensial. Dalam perkembangannya, populasi sapi potong belum mampu
I. PENDAHULUAN. yang mayoritas adalah petani dan peternak, dan ternak lokal memiliki beberapa
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ternak lokal berperan penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan yang mayoritas adalah petani dan peternak, dan ternak lokal memiliki beberapa sifat unggul dibandingkan
HASIL DAN PEMBAHASAN
9 Deteksi Estrus Pengukuran hambatan arus listrik lendir vagina dilakukan dua kali sehari (pagi dan sore) selama lima hari berturut-turut. Angka estrus detektor direkapitulasi dalam bentuk tabel secara
BAB I PENYERENTAKAN BERAHI
BAB I PENYERENTAKAN BERAHI 1.1 Pendahuluan Penyerentakan berahi (Sinkronisasi Estrus) merupakan suatu proses manipulasi berahi pada sekelompok ternak betina. Adapun alasan dilakukannya Penyerentakan berahi
TINJAUAN PUSTAKA. Hormon dan Perannya dalam Dinamika Ovari
TINJUN PUTK Hormon dan Perannya dalam inamika Ovari Gonadotrophin eleasing Hormone (GnH). GnH tidak secara langsung mempengaruhi ovarium, tetapi hormon yang dihasilkan hipotalamus ini bekerja menstimulus
I. PENDAHULUAN. Propinsi Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar untuk
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Propinsi Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar untuk pengembangan ternak sapi potong. Kemampuan menampung ternak sapi di Lampung sebesar
BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sapi Bali (Bos sondaicus, Bos javanicus, Bos/Bibos banteng) merupakan plasma
BAB I. PENDAHULUAN Latar Belakang Sapi Bali (Bos sondaicus, Bos javanicus, Bos/Bibos banteng) merupakan plasma nutfah nasional Indonesia, hasil domestikasi dari banteng liar beratus-ratus tahun yang lalu.
PENDAHULUAN. Latar Belakang. Dalam usaha meningkatkan penyediaan protein hewani dan untuk
PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam usaha meningkatkan penyediaan protein hewani dan untuk mencapai swasembada protein asal ternak khususnya swasembada daging pada tahun 2005, maka produkksi ternak kambing
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Jawarandu merupakan kambing lokal Indonesia. Kambing jenis
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Jawarandu Kambing Jawarandu merupakan kambing lokal Indonesia. Kambing jenis ini banyak diternakkan di pesisir pantai utara (Prawirodigdo et al., 2004). Kambing Jawarandu
PERBAIKAN FERTILITAS MELALUI APLIKASI HORMONE GONADOTROPIN PADA INDUK SAPI BALI ANESTRUS POST-PARTUM DI TIMOR BARAT
PERBAIKAN FERTILITAS MELALUI APLIKASI HORMONE GONADOTROPIN PADA INDUK SAPI BALI ANESTRUS POST-PARTUM DI TIMOR BARAT Amirudin Pohan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, NTT ABSTRAK Induk Sapi Bali yang
DINAMIKA OVARIUM DAN DETEKSI KEBUNTINGAN DINI PADA KAMBING KACANG (Capra hircus) SANTOSO
DINAMIKA OVARIUM DAN DETEKSI KEBUNTINGAN DINI PADA KAMBING KACANG (Capra hircus) SANTOSO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terus
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terus meningkat sehingga membutuhkan ketersediaan makanan yang memiliki gizi baik yang berasal
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sel Darah Merah Jumlah sel darah merah yang didapatkan dalam penelitian ini sangat beragam antarkelompok perlakuan meskipun tidak berbeda nyata secara statistik. Pola kenaikan
Anatomi/organ reproduksi wanita
Anatomi/organ reproduksi wanita Genitalia luar Genitalia dalam Anatomi payudara Kelainan organ reproduksi wanita Fisiologi alat reproduksi wanita Hubungan ovarium dan gonadotropin hormon Sekresi hormon
BAB V INDUKSI KELAHIRAN
BAB V INDUKSI KELAHIRAN 5.1 Pendahuluan Induksi kelahiran merupakan suatu proses merangsang kelahiran dengan mengunakan preparat hormon dengan tujuan ekonomis. Beberapa alasan dilakukannya induksi kelahiran
I. PENDAHULUAN. hari. Dalam perkembangannya, produktivitas kerbau masih rendah dibandingkan dengan sapi.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kerbau sangat bermanfaat bagi petani di Indonesia yaitu sebagai tenaga kerja untuk mengolah sawah, penghasil daging dan susu, serta sebagai tabungan untuk keperluan dikemudian
PENGARUH SUPEROVULASI PADA LAJU OVULASI, SEKRESI ESTRADIOL DAN PROGESTERON, SERTA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN UTERUS DAN KELENJAR SUSU TIKUS PUTIH (Rattus Sp.) SELAMA SIKLUS ESTRUS TESIS OLEH : HERNAWATI
2. Mengetahui waktu timbulnya dan lamanya estrus pada setiap perlakuan penyuntikan yang berbeda. Manfaat Penelitian
2 2. Mengetahui waktu timbulnya dan lamanya estrus pada setiap perlakuan penyuntikan yang berbeda. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini diharapkan akan mempermudah dalam menentukan waktu yang tepat
PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN
Pendahuluan 5. PROFIL HORMON TESTOSTERON DAN ESTROGEN WALET LINCHI SELAMA PERIODE 12 BULAN Hormon steroid merupakan derivat dari kolesterol, molekulnya kecil bersifat lipofilik (larut dalam lemak) dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu sapi yang banyak
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Peranakan Ongole (PO) Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu sapi yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat di Indonesia. Populasi sapi PO terbesar berada di
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sapi Persilangan Simmental dan Peranakan Ongole. Sapi hasil persilangan antara sapi peranakan Ongole (PO) dan sapi
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Persilangan Simmental dan Peranakan Ongole Sapi hasil persilangan antara sapi peranakan Ongole (PO) dan sapi Simmental dengan nama SIMPO. Sapi SIMPO merupakan hasil
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Barat sekitar SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Kambing Pada mulanya domestikasi kambing terjadi di daerah pegunungan Asia Barat sekitar 8000-7000 SM. Kambing yang dipelihara (Capra aegagrus hircus) berasal
LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL TAMPILAN BIRAHI KAMBING LOKAL YANG BERBEDA UMUR HASIL SINKRONISASI MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2 DI KABUPATEN BONE BOLANGO
LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL TAMPILAN BIRAHI KAMBING LOKAL YANG BERBEDA UMUR HASIL SINKRONISASI MENGGUNAKAN PROSTAGLANDIN F2 DI KABUPATEN BONE BOLANGO HAMZA BAU NIM. 621408018 TELAH DIPERIKSA DAN DISETUJUI
BAB I PENDAHULUAN. khususnya daging sapi dari tahun ke tahun di Indonesia mengalami peningkatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah.ternak dan hasil produksinya merupakan sumber bahan pangan protein yang sangat penting untuk peningkatan
ONSET DAN LAMA ESTRUS KAMBING KACANG YANG DIINJEKSIPROSTAGLANDINF2α PADA SUBMUKOSA VULVA
ONSET DAN LAMA ESTRUS KAMBING KACANG YANG DIINJEKSIPROSTAGLANDINF2α PADA SUBMUKOSA VULVA (Onset and Etrus Duration of Kacang Goat Injected with Prostaglandin F2α in Vulva Submucosal) Fahrul Ilham, Safriyanto
Sexual behaviour Parturient behaviour Nursing & maternal behaviour
Sexual behaviour Parturient behaviour Nursing & maternal behaviour Rangsangan seksual libido Berkembang saat pubertas dan setelah dewasa berlangsung terus selama hidup Tergantung pada hormon testosteron
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Perkembangan fase prapubertas menjadi pubertas membutuhkan jalur yang
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Siklus Menstruasi Remaja Perkembangan fase prapubertas menjadi pubertas membutuhkan jalur yang utuh dari hipotalamus-hipofise-ovarium. Struktur alat reproduksi, status nutrisi,
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Proses adaptasi terhadap lingkungan kandang penelitian telah dilakukan pada 13 ekor rusa. Enam ekor yang menunjukkan gejala estrus dan dapat diduga bahwa rusa tersebut tidak bunting.
II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Bali (Bibos sondaicus) yang ada saat ini diduga berasal dari hasil
9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sapi Bali Sapi Bali (Bibos sondaicus) yang ada saat ini diduga berasal dari hasil domestikasi banteng liar (Bibos banteng). Proses domestikasi sapi Bali itu terjadi sebelum 3.500
GAMBARAN ULTRASONOGRAFI OVARIUM KAMBING KACANG YANG DISINKRONISASI DENGAN HORMON PROSTAGLANDIN F 2 ALFA (PGF 2 α) DOSIS TUNGGAL
ISSN : 1978-225X GAMBARAN ULTRASONOGRAFI OVARIUM KAMBING KACANG YANG DISINKRONISASI DENGAN HORMON PROSTAGLANDIN F 2 ALFA (PGF 2 α) DOSIS TUNGGAL Study of Ovarian Ultrasoundography of Local Goat Synchronized
OLEH : HERNAWATI. Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Biologi
PENGARUH SUPEROVULASI PADA LAJU OVULASI, SEKRESI ESTRADIOL DAN PROGESTERON, SERTA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN UTERUS DAN KELENJAR SUSU TIKUS PUTIH (Rattus Sp.) SELAMA SIKLUS ESTRUS TESIS OLEH : HERNAWATI
PENGARUH BERBAGAI DOSIS PROSTAGLANDIN (PGF2α) TERHADAP KARAKTERISTIK ESTRUS PADA DOMBA GARUT
PENGARUH BERBAGAI DOSIS PROSTAGLANDIN (PGF2α) TERHADAP KARAKTERISTIK ESTRUS PADA DOMBA GARUT THE EFFECTS OF VARIOUS DOSES OF PROSTAGLANDIN (PGF2Α) ON THE CHARACTERISTICS OF ESTRUS IN GARUT EWES Asep Nasirin,
PEMANFAATAN LARUTAN IODIN POVIDON SEBAGAI HORMON STIMULAN GERTAK BERAHI KAMBING SECARA ALAMIAH
PEMANFAATAN LARUTAN IODIN POVIDON SEBAGAI HORMON STIMULAN GERTAK BERAHI KAMBING SECARA ALAMIAH Gatot Ciptadi Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang ABSTRAK Tujuan penelitiani
BAB I PENDAHULUAN. Gamba. r 1. Beberapa Penyebab Infertilitas pada pasangan suami-istri. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Infertilitas dalam arti klinis didefinisikan sebagai Ketidakmampuan seseorang atau pasangan untuk menghasilkan konsepsi setelah satu tahun melakukan hubungan seksual
EFEKTIVITAS PENYUNTIKAN ESTRO-PLAN (PGF-2Α SINTETIS) TERHADAP PENYERENTAKAN BERAHI SAPI BALI DI KABUPATEN PINRANG SULAWESI SELATAN
EFEKTIVITAS PENYUNTIKAN ESTRO-PLAN (PGF-2Α SINTETIS) TERHADAP PENYERENTAKAN BERAHI SAPI BALI DI KABUPATEN PINRANG SULAWESI SELATAN (Efficacy of Estro-plan (PGF-2α synthetic) Injection on Oestrus Synchronization
I. PENDAHULUAN. Ketahanan pangan merupakan prioritas ke-5 tingkat Nasional dalam Rancangan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Ketahanan pangan merupakan prioritas ke-5 tingkat Nasional dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kementrian Pertanian Tahun 2010-- 2014 (Anonim
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Penelitian ini dimulai dari bulan Agustus sampai
TINJAUAN PUSTAKA Domba Garut Gambar 1
TINJAUAN PUSTAKA Domba Garut Secara taksonomi domba termasuk ke dalam kingdom Animalia, filum Chordata, kelas Mamalia, ordo Artiodactyla, family Bovidae, genus Ovis dan spesies Ovis aries. Dari sisi genetik
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diambil berdasarkan gambar histologik folikel ovarium tikus putih (Rattus
A. Hasil Penelitian BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian mengenai pengruh pemberian ekstrak kacang merah (Phaseolus vulgaris, L.) terhadap perkembangan folikel ovarium tikus putih diambil
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Berdasarkan tingkat keberhasilan ikan lele Sangkuriang memijah, maka dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok perlakuan yang tidak menyebabkan
Siklus menstruasi. Nama : Kristina vearni oni samin. Nim: Semester 1 Angkatan 12
Nama : Kristina vearni oni samin Nim: 09031 Semester 1 Angkatan 12 Saya mengkritisi tugas biologi reproduksi kelompok 7 tentang siklus menstruasi yang dikerjakan oleh saudari Nela Soraja gusti. Tugas mereka
Anatomi sistem endokrin. Kerja hipotalamus dan hubungannya dengan kelenjar hormon Mekanisme umpan balik hormon Hormon yang
Anatomi sistem endokrin Kelenjar hipofisis Kelenjar tiroid dan paratiroid Kelenjar pankreas Testis dan ovum Kelenjar endokrin dan hormon yang berhubungan dengan sistem reproduksi wanita Kerja hipotalamus
TINJAUAN PUSTAKA. Penambahan tahun 2010 (ekor) G G G G KPI G G Jumlah Total
3 TINJAUAN PUSTAKA Kuda Generasi dan Kuda Pacu Indonesia Kuda pacu Indonesia (KPI) merupakan kuda Indonesia hasil grading up dari kuda betina Indonesia dengan pejantan Thoroughbred sampai generasi ketiga
PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK
1 PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Reproduksi Oleh : Ardan Legenda De A 135050100111093 Mirsa Ita Dewi Adiana 135050100111189 Ari Prayudha 135050100111098
BAB I PENDAHULUAN. Monosodium glutamat (MSG) yang lebih dikenal dengan merk dagang. Ajinomoto telah lama digunakan sebagai tambahan penyedap masakan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Monosodium glutamat (MSG) yang lebih dikenal dengan merk dagang Ajinomoto telah lama digunakan sebagai tambahan penyedap masakan. Penggunanya bukan hanya ibu-ibu rumah
HASlL DAN PEMBAHASAN
HASlL DAN PEMBAHASAN Siklus Estrus Alamiah Tanda-tanda Estrus dan lama Periode Estrus Pengamatan siklus alamiah dari temak-ternak percobaan dilakukan dua kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari.
PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK
1 PAPER SINKRONISASI ESTRUS PADA TERNAK Untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Reproduksi Oleh : Ardan Legenda De A 135050100111093 Mirsa Ita Dewi Adiana 135050100111189 Ari Prayudha 135050100111098
TINJAUAN PUSTAKA. Ngadiyono (2012) menyatakan sapi bali (Bibos Sondaicus) yang ada saat ini
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Bali Ngadiyono (2012) menyatakan sapi bali (Bibos Sondaicus) yang ada saat ini diduga berasal dari hasil domestikasi banteng liar (Bibos banteng). Proses domestikasi sapi
BAB I PENDAHULUAN. (dengan cara pembelahan sel secara besar-besaran) menjadi embrio.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Seorang wanita disebut hamil jika sel telur berhasil dibuahi oleh sel sperma. Hasil pembuahan akan menghasilkan zigot, yang lalu berkembang (dengan cara pembelahan sel
KESEHATAN REPRODUKSI* Oleh: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes**
KESEHATAN REPRODUKSI* Oleh: Dr. drh. Heru Nurcahyo, M.Kes** A. Pengantar Sistem reproduksi pada manusia dapat dibedakan menjadi sistem reproduksi laki-laki dan wanita sesuai jenis kelaminnya. 1. Sistem
... Tugas Milik kelompok 8...
... Tugas Milik kelompok 8... 6. Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan
HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. (a) Luar kandang, (b) Dalam kandang
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Balai Embrio Ternak (BET) yang terletak di Desa Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Topografi lokasi
SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN INFERTIL
SYARAT-SYARAT PEMERIKSAAN INFERTIL Setiap pasangan infertil harus diperlakukan sebagai satu kesatuan yang berarti apabila istri saja sedangkan suaminya tidak mau diperiksa, maka pasangan ini tidak diperiksa.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Jenis Kelamin Belut Belut sawah merupakan hermaprodit protogini, berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa pada ukuran panjang kurang dari 40 cm belut berada pada
PUBERTAS DAN ESTRUS 32 Pubertas 32 Estrus 32 Waktu kawin 33
PUBERTAS DAN ESTRUS 32 Pubertas 32 Estrus 32 Waktu kawin 33 HORMON KEBUNTINGAN DAN KELAHIRAN 33 Peranan hormon dalam proses kebuntingan 33 Kelahiran 34 MASALAH-MASALAH REPRODUKSI 35 FERTILITAS 35 Faktor
MATERI DAN METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian
MATERI DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan Januari 2007 sampai dengan bulan Juli 2007. Lokasi penelitian berada pada dua kenagarian yaitu Kenagarian Sungai
SINKRONISASI ESTRUS MELALUI MANIPULASI HORMON AGEN LUTEOLITIK UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI REPRODUKSI SAPI BALI DAN PO DI SULAWESI TENGGARA
17 SINKRONISASI ESTRUS MELALUI MANIPULASI HORMON AGEN LUTEOLITIK UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI REPRODUKSI SAPI BALI DAN PO DI SULAWESI TENGGARA Oleh: Takdir Saili 1), Ali Bain 1), Achmad Selamet Aku 1),
1. Perbedaan siklus manusia dan primata dan hormon yang bekerja pada siklus menstruasi.
Nama : Hernawati NIM : 09027 Saya mengkritisi makalah kelompok 9 No 5 tentang siklus menstruasi. Menurut saya makalah mereka sudah cukup baik dan ketikannya juga sudah cukup rapih. Saya di sini akan sedikit
PENGARUH JENIS SINKRONISASI DAN WAKTU PENYUNTIKAN PMSG TERHADAP KINERJA BERAHI PADA TERNAK KAMBING ERANAKAN ETAWAH DAN SAPERA
PENGARUH JENIS SINKRONISASI DAN WAKTU PENYUNTIKAN PMSG TERHADAP KINERJA BERAHI PADA TERNAK KAMBING ERANAKAN ETAWAH DAN SAPERA (Effect of Synchronization Type and PMSG Injection Time on Estrus Performance
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ini dilakukan pada 8 induk ikan Sumatra yang mendapat perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukan Spawnprime A dapat mempengaruhi proses pematangan akhir
Sonogram Dinamika Ovarium pada Kambing Kacang (Capra hircus)
ISSN : 1411-8327 Sonogram Dinamika Ovarium pada Kambing Kacang (Capra hircus) (SONOGRAM OF OVARIAN DYNAMIC IN KACANG GOAT (CAPRA HIRCUS)) Santoso 1,3, Amrozi 2, Bambang Purwantara 2, Herdis 3 1 Mahasiswa
TINJAUAN PUSTAKA Siklus Estrus Sapi Betina Folikulogenesis
TINJAUAN PUSTAKA Siklus Estrus Sapi Betina Sistem reproduksi sapi betina lebih kompleks daripada hewan jantan, karena terdiri atas beberapa organ yang memiliki peran dan fungsi masing- masing. Ovarium
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kinerja Induk Parameter yang diukur untuk melihat pengaruh pemberian fitoestrogen ekstrak tempe terhadap kinerja induk adalah lama kebuntingan, dan tingkat produksi anak
Pengaruh Waktu Pemberian Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) terhadap Jumlah Korpus Luteum dan Kecepatan Timbulnya Berahi pada Sapi Pesisir
Jurnal Peternakan Indonesia, Oktober 2014 Vol. 16 (3) ISSN 1907-1760 Pengaruh Waktu Pemberian Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) terhadap Jumlah Korpus Luteum dan Kecepatan Timbulnya Berahi pada Sapi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Siklus Menstruasi Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium (Prawirohardjo, 2005), sedangkan
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Perlakuan penyuntikan hormon PMSG menyebabkan 100% ikan patin menjadi bunting, sedangkan ikan patin kontrol tanpa penyuntikan PMSG tidak ada yang bunting (Tabel 2).
MAKALAH BIOTEKNOLOGI PETERNAKAN PENINGKATAN POPULASI DAN MUTU GENETIK SAPI DENGAN TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO. DOSEN PENGAMPU Drh.
MAKALAH BIOTEKNOLOGI PETERNAKAN PENINGKATAN POPULASI DAN MUTU GENETIK SAPI DENGAN TEKNOLOGI TRANSFER EMBRIO DOSEN PENGAMPU Drh. BUDI PURWO W, MP SEMESTER III JUNAIDI PANGERAN SAPUTRA NIRM 06 2 4 10 375
Pemantauan dan Pengukuran Proses Layanan Purna Jual. Kegiatan Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal. Kepala BIB Lembang
LEMBAR PENGESAHAN Pemantauan dan Pengukuran Proses Layanan Purna Jual 31 Okt 2016 1 dari 5 Kegiatan Nama Jabatan Tanda Tangan Tanggal Diperiksa oleh KRISMONO, SST Kasubbag TU 31 Oktober 2016 Disyahkan
KONSENTRASI PROGESTERON PLASMA PASCA TERAPI ANTIBIOTIK DAN PROSTAGLANDIN TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN PADA SAPI PYOMETRA
KONSENTRASI PROGESTERON PLASMA PASCA TERAPI ANTIBIOTIK DAN PROSTAGLANDIN TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN PADA SAPI PYOMETRA Plasma Progesterone Concentration Post Therapy of Antibiotics and Prostaglandin Healing
I. PENDAHULUAN. Kinali dan Luhak Nan Duomerupakandua wilayah kecamatan dari. sebelaskecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman Barat. Kedua kecamatan ini
I. PENDAHULUAN A. LatarBelakang Kinali dan Luhak Nan Duomerupakandua wilayah kecamatan dari sebelaskecamatan yang ada di Kabupaten Pasaman Barat. Kedua kecamatan ini terletak berdampingan.secara geografis
ABSTRACT. Key words: Ongole Offspring, Estrous, Estrous Synchronization, PGF 2 α, Parities
RESPON KECEPATAN TIMBILNYA ESTRUS DAN LAMA ESTRUS PADA BERBAGAI PARITAS SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) SETELAH DUA KALI PENYUNTIKAN PROSTAGLANDIN F 2 α (PGF 2 α) The Response of Estrus Onset And Estrous Duration
II. TINJAUAN PUSTAKA. sebesar 90-95% dari total kebutuhan daging sapi dalam negeri, sehingga impor
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Swasembada Daging Sapi Swasembada daging sapi adalah kemampuan penyediaan daging produksi lokal sebesar 90-95% dari total kebutuhan daging sapi dalam negeri, sehingga impor sapi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua bagian dari tubuh rusa dapat dimanfaatkan, antara lain daging, ranggah dan
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rusa Timor (Rusa timorensis) Rusa Timor (Rusa timorensis) merupakan salah satu contoh rusa yang ada di Indonesia yang memiliki potensi cukup baik untuk dikembangkan. Hampir
3 METODOLOGI PENELITIAN
12 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Maret sampai dengan bulan November 2012 di Instalasi Penelitian Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, Bogor. Analisis hormon testosteron
BAB I. PENDAHULUAN A.
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aplikasi bioteknologi reproduksi di bidang peternakan merupakan suatu terobosan untuk memacu pengembangan usaha peternakan. Sapi merupakan salah satu jenis ternak
Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture Lampung University Soemantri Brojonegoro No.1 Gedung Meneng Bandar Lampung ABSTRACT
Pengaruh Paritas Terhadap Persentase Estrus dan Kebuntingan Pada Sapi Bali yang Disinkronisasi Estrus dengan Dua Kali Penyuntikan Prostaglandin F 2 α (PGF 2 α) The Effect of Parities on The Percentage
STIMULASI LASER SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK INDUKSI ESTRUS PADA KAMBING BLIGON LASER STIMULATION AS AN ALTERNATIVE FOR ESTRUS INDUCTION ON BLIGON GOATS
STIMULASI LASER SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK INDUKSI ESTRUS PADA KAMBING BLIGON LASER STIMULATION AS AN ALTERNATIVE FOR ESTRUS INDUCTION ON BLIGON GOATS Sigit Bintara* Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian. Gambaran mikroskopik folikel ovarium tikus putih betina ((Rattus
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Gambaran mikroskopik folikel ovarium tikus putih betina ((Rattus norvegicus, L) dengan perbesaran 4x10 menggunakan teknik pewarnaan Hematoxilin-eosin
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keluarga Berencana (KB) 2.1.1 Pengertian Keluarga Berencana Berdasarkan UU no 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, keluarga
II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Bali berasal dari banteng (Bibos banteng) yang telah didomestikasi berabadabad
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sapi Bali Sapi Bali berasal dari banteng (Bibos banteng) yang telah didomestikasi berabadabad lalu. Beberapa sinonim sapi Bali yaitu Bos javanicus, Bos banteng dan Bos sondaicus
