SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS MATA KULIAH SURVEILANS GIZI. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi O L E H :

SEKILAS TENTANG RAWAN PANGAN. Written by adminbkpp2 Wednesday, 20 May :37 - Last Updated Wednesday, 20 May :59

BUTIR KEGIATAN ANALIS KETAHANAN PANGAN BIDANG KERAWANAN PANGAN

Lampiran 2. PERATURAN MENTERI PERTANIAN/KETUA HARIAN DEWAN KETAHANAN PANGAN Nomor : 43/Permentan/OT.140/7/2010 Tanggal : 27 Juli 2010 PEDOMAN

METODE PENELITIAN. No Data Sumber Instansi 1 Konsumsi pangan menurut kelompok dan jenis pangan

METODE. Keadaan umum 2010 wilayah. BPS, Jakarta Konsumsi pangan 2 menurut kelompok dan jenis pangan

BAB I PENDAHULUAN. untuk jangka waktu tertentu yang akan dipenuhi dari penghasilannya. Dalam

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting terhadap pemenuhan

Lampiran 3. PERATURAN MENTERI PERTANIAN/ KETUA HARIAN DEWAN KETAHANAN PANGAN Nomor : 43/Permentan/OT.140/7/2010 Tanggal : 27 Juli 2010 PEDOMAN

POLA PANGAN HARAPAN (PPH)

I. PENDAHULUAN. yang mendasar atau bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) yang penyelenggaraannya

KATA PENGANTAR. Semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Samarinda, April 2016 Kepala, Ir. Fuad Asaddin, M.Si. Nip

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh suatu kelompok sosial

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan rumah tangga yang

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

KOMPOSISI KONSUMSI ENERGI DAN PROTEIN YANG DIANJURKAN

BAB I PENDAHULUAN. cukup mendasar, dianggapnya strategis dan sering mencakup hal-hal yang bersifat

PROFIL BADAN KETAHANAN PANGAN PROVINSI NTB

BAB I PENDAHULUAN. adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang di olah

KETAHANAN PANGAN DAN GIZI

II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI. merupakan hak asasi, tidak dapat ditunda, dan tidak dapat disubtitusi dengan bahan

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2011

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) : MEWUJUDKAN JAWA TIMUR LEBIH SEJAHTERA, BERDAYA SAING MELALUI KETAHANAN PANGAN YANG BERKELANJUTAN

TINGKAT KEMISKINAN DI INDONESIA TAHUN 2007

BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU

PETUNJUK PELAKSANAAN SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI

POLA PANGAN HARAPAN PADA MASYARAKAT DI KELURAHAN BANMATI KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI JAWA TENGAH SEPTEMBER 2013

PROFIL KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH MARET 2014


POLA KONSUMSI PANGAN DAN PERMINTAAN BERAS OLEH RUMAH TANGGA PENGOLAH GULA MERAH AREN DI KABUPATEN KENDAL

BAB. I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN DAN GIZI : FAKTOR PENDUKUNG PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Buletin IKATAN Vol. 3 No. 1 Tahun

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI BANTEN MARET 2015

Ketahanan Pangan Masyarakat

BADAN PUSAT STATISTIK

PROFIL DINAS KETAHANAN PANGAN PROVINSI NTB

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2002 TENTANG KETAHANAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT

PROFIL KEMISKINAN DI SULAWESI TENGGARA SEPTEMBER 2015 RINGKASAN

ANALISIS KETAHANAN PANGAN REGIONAL DAN TINGKAT RUMAH TANGGA (Studi Kasus di Provinsi Sulawesi Utara)

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, (7) Tempat dan Waktu Penelitian.

Pola Pengeluaran dan Konsumsi Penduduk Indonesia 2013

BAB II LANDASAN TEORI. bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan-bahan lainnya yang

BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU

PROFIL KEMISKINAN DI PROVINSI NTT MARET 2010

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2002 TENTANG KETAHANAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia masih memerlukan perhatian yang lebih terhadap persoalan

BAB I PENDAHULUAN. laut ini, salah satunya ialah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2002 TENTANG KETAHANAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PROFIL KEMISKINAN DI NUSA TENGGARA TIMUR SEPTEMBER 2015

I. PENDAHULUAN. Indonesia telah mencapai 240 juta jiwa (BPS, 2011). Hal ini merupakan sumber daya

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN. Pertanian. Konsumsi Pangan. Sumber Daya Lokal.

Laporan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tahun 2015 BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. indeks pembangunan manusia (Badan Pusat Statistik, 2013). Walaupun Indonesia

METODE PENELITIAN. Tabel 1 Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian. Tahun Publikasi BPS Kabupaten Lampung Barat

Gambar 1.1 Persentase konsumsi pangan di Indonesia

TINGKAT KEMISKINAN DI DKI JAKARTA MARET 2016

PROFIL KEMISKINAN DI MALUKU UTARA SEPTEMBER 2014

prasyarat utama bagi kepentingan kesehatan, kemakmuran, dan kesejahteraan usaha pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas guna meningkatkan

ANALISIS WILAYAH RAWAN PANGAN DAN GIZI KRONIS SERTA ALTERNATIF PENANGGULANGANNYA 1)

Standar Pelayanan Minimal

METODE PENELITIAN Desain, Sumber dan Jenis Data

I. PENDAHULUAN. cukup. Salah satu komoditas pangan yang dijadikan pangan pokok

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI MENDUKUNG PERCEPATAN PERBAIKAN GIZI

BPSPROVINSI JAWATIMUR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

BAB III METODOLOGI. Dalam kerangka pikir ini digambarkan secara sistematis pola pikir dalam

PERBEDAAN POLA PANGAN HARAPAN DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN KABUPATEN SUKOHARJO (Studi di Desa Banmati dan Kelurahan Jetis)

TINGKAT KEMISKINAN DI PROVINSI BENGKULU SEPTEMBER 2015

BPS PROVINSI KEPULAUAN RIAU

Transkripsi:

SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI A. Pendahuluan Berdasarkan Undang-undang Pangan Nomor: 18 Tahun 2012, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketika kondisi pangan bagi negara sampai dengan perorangan tidak terpenuhi maka kondisi yang akan terjadi adalah kondisi kerawanan pangan, sehingga kerawanan pangan dapat diartikan adalah kondisi tidak tersedianya pangan yang cukup bagi individu/perorangan untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Kerawanan pangan juga dapat didefinisikan sebagai kondisi apabila rumah tangga (anggota rumah tangga) mengalami kurang gizi sebagai akibat tidak cukupnya ketersediaan pangan (physical unavailability of food), dan/atau ketidak mampuan rumah tangga dalam mengakses pangan yang cukup, atau apabila konsumsi makanannya (food intake) berada dibawah jumlah kalori minimum yang dibutuhkan. Terjadinya kondisi kerawanan pangan dapat disebabkan oleh banyak faktor, namun setidaknya dapat disebabkan oleh antara lain: (a) tidak adanya akses secara ekonomi bagi individu/rumah tangga untuk memeperoleh pangan yang cukup; (b) tidak adanya akses secara fisik bagi individu rumah tangga untuk memperoleh pangan yang cukup; (c) tidak tercukupinya pangan untuk kehidupan yang produktif individu/rumah tangga; dan (d) tidak terpenuhinya pangan secara cukup dalam jumlah, mutu, ragam, keamanan, serta keterjangkauan harga. Di samping itu, kerawananan pangan dapat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang ditentukan oleh tingkat pendapatannya. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan menurunnya daya beli pangan akan memperburuk konsumsi energi dan protein masyarakat. Kondisi rawan pangan dapat dibedakan berdasarkan waktunya yaitu rawan pangan kronis dan rawan pangan transien. Rawan pangan kronis adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi standar minimum kebutuhan pangan anggotanya pada periode lama karena keterbatasan kepemilikan lahan, asset produktif,

dan kekurangan pendapatan. Sedangkan rawan pangan transien adalah suatu keadaan rawan pangan yang bersifat mendadak dan sementara yang disebabkan oleh perbuatan manusia maupun alam. Kerawanan pangan di Indonesia dapat diketahui dari tingkat kecukupan gizi masyarakat yang diukur dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG merupakan tingkat konsumsi zat-zat gizi esensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat di suatu negara. AKG diperoleh dari data Susenas BPS yang dikumpulkan setiap triwulan dalam tahun. Angka kecukupan konsumsi kalori penduduk Indonesia per kapita per hari berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) 2004 adalah 2000 kkal. Persentase rawan pangan berdasar angka kecukupan gizi (AKG) suatu daerah, dihitung dengan menjumlahkan penduduk dengan konsumsi kalori kurang dari 1400 kkal (70% AKG) perkapita dibagi dengan jumlah penduduk pada golongan pengeluaran tertentu. Tahun 2008 sampai dengan saat ini terjadi peningkatan persentase jumlah penduduk rawan pangan setiap tahun (Tabel 1). Tabel 1. Persentase Angka Rawan Pangan Tahun 2008-2012 Tahun < 70% AKG 70%-89,9% AKG 90% AKG N (x1 juta) % N (x1juta) % N (x 1 juta) % 2008 25,11 11,07 62,38 27,50 139,34 61,43 2009 33,29 14,47 72,72 31,62 123,96 53,90 2010 35,71 15,34 72.44 31,12 124,61 53,53 2011 42,08 17,41 78,48 32,48 121,01 50,10 2012 47,64 19.46 80,57 32.91 116,61 47.63 Keterangan: N = Jumlah penduduk Indonesia; Sumber: BPS, 2013 (diolah) Berdasarkan Tabel 1. Persentase Angka Rawan Pangan Tahun 2008-2012, diperoleh bahwa pada tahun 2012 ternyata masih terdapat 47,64 juta penduduk atau 19,46 persen dari seluruh penduduk di Indonesia yang mengalami kondisi sangat rawan pangan dan apabila dibiarkan terjadi selama dua bulan berturut-turut akan menjadi rawan pangan akut yang menyebabkan kelaparan (BPS, 2013). Hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) BPS menjelaskan bahwa ada 13 kelompok makanan yang digunakan untuk mengetahui kecukupan kalori per hari yaitu: (1) padi-padian; (2) umbi-umbian; (3) ikan; (4) daging; (5) telur dan susu; (6) sayursayuran; (7) kacang-kacangan; (8) buah-buahan; (9) minyak dan lemak; (10) bahan

minuman; (11) bumbu-bumbuan; (12) konsumsi lainnya; dan (13) makanan dan minuman jadi. Konsumsi bahan makanan tersebut akan mempengaruhi jumlah kalori yang dihasilkan per harinya. Konsumsi kalori kurang dari 1400 kkal dapat dipengaruhi oleh penurunan kuantitas konsumsi pangan. Penurunan tersebut apabila ditinjau dari aspek permintaan dan penawaran bahan pangan dipengaruhi oleh beberapa hal: a. Permintaan bahan pangan Permintaan bahan pangan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti harga pangan dan pendapatan seseorang. Terkait dengan kecukupan konsumsi pangan, fluktuasi harga memberi pengaruh pada jenis makanan dan ketersediaan pangan yang dikonsumsi. Disisi lain, pendapatan juga berpengaruh terhadap jenis dan banyaknya bahan pangan yang dikonsumsi. rumah tangga dengan pendapatan yang cukup, cendrung akan mengkonsumsi bahan pangan yang lebih banyak dan mampu mencukupi kebutuhan kalorinya per hari. b. Penawaran bahan pangan Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penawaran bahan pangan adalah biaya produksi bahan pangan tersebut. Tidak adanya kenaikan produktivitas dan efisiensi, kenaikan harga faktor-faktor produksi akan menaikan biaya produksi. Apabila dikaitkan dengan kecukupan kebutuhan kalori, kenaikan biaya produksi bahan pangan akan berpengaruh pada penurunan jumlah produksi bahan pangan yang dihasilkan, sehingga jumlah penawaran akan berkurang. Penawaran yang berkurang akan berpengaruh pada pemenuhan bahan makanan,dimana ketersediaan pangan berkurang. Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang masuk dalam kategori rawan pangan dan gizi setiap tahun membuat pemantauan rutin terhadap kondisi pangan dan gizi di suatu daerah perlu dilakukan. Beberapa peraturan yang mendukung pelaporan situasi pangan dan gizi di daerah tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) kepada Pemerintah bahwa kepala daerah wajib melaporkan situasi ketahanan pangan di daerah sebagai bagian dari LPPD.

Situasi pangan dan gizi juga digunakan sebagai kondisi awal tingkat pencapaian pelayanan dasar dan kondisi pencapaian target penanganan daerah rawan pangan yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 65/Permentan/OT.140/12/2010 tentang Sistem Pelayanan Minimal (SPM) bidang ketahanan pangan di propinsi dan kabupaten/kota khususnya mengenai penanganan kerawanan pangan. Sejak tahun 2010, Badan Ketahanan Pangan telah menyempurnakan suatu alat analisis pemantauan situasi pangan dan gizi yang dikenal dengan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian/Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan Nomor 43 Tahun 2010 tentang Pedoman Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi merupakan serangkaian proses untuk mengantisipasi kejadian rawan pangan dan gizi melalui pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi. Kegiatan SKPG terdiri dari analisis data situasi pangan dan gizi bulanan dan tahunan serta penyebaran informasi. Data bulanan dan tahunan tersebut menginformasikan tentang 3 (tiga) aspek utama yaitu ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan yang menjadi dasar untuk menganalisis situasi pangan dan gizi di suatu daerah. Hasil SKPG dapat digunakan sebagai dasar pelaksanaan investigasi untuk menentukan tingkat kedalaman kejadian kerawanan pangan dan gizi di lapangan serta intervensi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan masyarakat. Dalam melaksanakan SKPG, pemerintah, pemerintah propinsi, dan pemerintah kabupaten/kota membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pangan dan Gizi yang berada di bawah koordinasi Dewan Ketahanan Pangan. Hasil analisis SKPG oleh Pokja Pangan dan Gizi Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota dilaporkan kepada pimpinan masingmasing untuk penentuan langkah-langkah intervensi dan untuk perumusan kebijakan program pada tahun berikutnya. Dalam upaya melakukan penyebaran informasi mengenai situasi pangan dan gizi di beberapa daerah serta penyediaan data-data pendukung dalam kegiatan SKPG di Propinsi/Kabupaten/Kota, maka Badan Ketahanan Pangan secara resmi mempublikasikan kegiatan SKPG seperti : (1) data-data pendukung SKPG; (2)

dokumen-dokumen pendukung SKPG; (3) rekapitulasi pengiriman laporan SKPG oleh propinsi/kabupaten/kota; dan (4) analisis hasil SKPG yang merupakan informasi situasi pangan dan gizi di beberapa propinsi dan kabupaten/kota. Diharapkan dengan adanya informasi yang ditampilkan ini dapat memberikan manfaat dan kegunaan bagi pelaksana kegiatan SKPG di Propinsi dan Kabupaten/Kota serta masyarakat umum yang akan memanfaatkan informasi mengenai situasi pangan dan gizi. B. Indikator Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Situasi pangan dan gizi suatu daerah pada kegiatan SKPG, secara garis besar dibagi menjadi dua komponen, yaitu situasi pangan dan situasi gizi. Situasi pangan mencakup dua aspek pembahasan, yaitu aspek ketersediaan dan aspek akses. Aspek ketersediaan berkaitan dengan kenaikan atau penurunan produksi bahan pangan yang berpengaruh pada kecukupan konsumsi bahan pangan. Sedangkan aspek akses berkaitan dengan fluktuasi harga pangan dan berpengaruh pada daya beli masyarakat untuk mengakses bahan pangan. Situasi gizi suatu masyarakat berkaitan dengan kondisi kesehatan balita, dimana berpengaruh pada tumbuh kembang balita. Situasi tersebut akan menggambarkan kondisi kecukupan pangan suatu daerah dan potensi terjadinya ketidakcukupan pangan. 1. Analisis SKPG Bulanan a. Ketersediaan Pangan Indikator yang digunakan pada aspek ketersediaan adalah luas tanam dan luas puso dari empat komoditas, yaitu padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Berdasarkan analisis, akan diperoleh persentase luas tanam dan luas puso pada bulan berjalan/bulan analisis dibanding dengan rata-rata luas tanam bulan bersangkutan lima tahun terakhir. Nilai persentase yang dihasilkan akan menunjukan tingkat rawan pangan wilayah tersebut.

Tabel 2. Persentase Peningkatan/Penurunan Luas Tanam dan Luas Puso No Indikator 1 Persentase luas tanam bulan berjalan dibandingkan dengan ratarata luas tanam bulan bersangkutan 5 tahun terakhir 2 Persentase luas puso bulan berjalan dibandingkan dengan ratarata luas puso bulan bersangkutan 5 tahun terakhir Persentase (r) (%) r 5 Bobot -5 r < 5 2 = Waspada - r < -5 3 = Rawan r < -5 5 r < -5 2 = Waspada r > 5 3 = Rawan b. Akses Pangan Aspek akses pada analisis SKPG bulanan menggunakan indikator fluktuasi delapan komoditas harga pangan. Hasil analisis akan menghasilkan persentase rata-rata harga bulan berjalan delapan komoditas dibandingkan dengan rata-rata harga tiga bulan sebelumnya. Berdasarkan nilai persentase yang dihasilkan akan menunjukan tingkat rawan pangan wilayah tersebut. Tabel 3. Persentase Peningkatan/Penurunan Harga Delapan Komoditas No Indikator Persentase (r) (%) Bobot 1 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas beras 2 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas jagung 3 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas ubi kayu r < 5 5 r 20 2 = Waspada r > 20 3 = Rawan

No Indikator Persentase (r) (%) Bobot 4 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas ubi jalar 5 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas gula 6 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas minyak goreng 7 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas daging ayam 8 Persentase rata-rata harga bulan berjalan komoditas telur c. Aspek Pemanfatan Pangan Aspek ketiga yaitu aspek pemanfaatan, menggunakan indikator kesehatan balita. Ada tiga indikator yang digunakan untuk analisis SKPG bulanan, yaitu sebagai berikut:

Tabel 4. Status Gizi Balita No Indikator Persentase (r) (%) Bobot 1 Persentase Balita yg naik BB (N) dibandingkan Jumlah Balita Ditimbang (D) 2 Persentase Balita yg BGM dibandingkan Jumlah Balita ditimbang (D) 3 Persentase balita yang tidak naik berat badannya dalam 2 kali penimbangan berturut-turut (2T) dibandingkan Jumlah Balita ditimbang (D) r > 90 80 r 90 2 = Waspada < 80 3 = Rawan r < 5 5 r 10 2 = Waspada > 10 3 = Rawan r < 10 10 r 20 2 = Waspada > 20 3 = Rawan 2. Analisis SKPG Tahunan a. Aspek ketersediaan Situasi pangan dan gizi pada aspek ketersediaan pangan tahunan diketahui berdasarkan angka rasio ketersediaan pangan. Ini diperoleh dengan menghitung ketersediaan pangan serealia per kapita per hari dibanding nilai konsumsi normatif (300 gram). Nilai konsumsi normatif didasarkan pada pola konsumsi pangan di Indonesia yang menunjukkan bahwa hampir 50% dari kebutuhan total kalori berasal dari serealia. Standar kebutuhan kalori per hari per kapita adalah 2,000 Kkal, dan untuk mencapai 50% kebutuhan kalori dari serealia dan umbi-umbian (menurut angka Pola Pangan Harapan), maka seseorang harus mengkonsumsi kurang lebih 300 gr serealia per hari. Oleh sebab itu dalam

analisis ini, kita memakai 300 gram sebagai nilai konsumsi normatif (konsumsi yang direkomendasikan). Tabel 5. Nilai Rasio Ketersediaan Tahunan Indikator Nilai (r) Bobot Warna Rasio antara ketersediaan dibandingkan dengan konsumsi normatif r > 1,14 1 Hijau 0,90 < r 1,14 2 Kuning r < 0,90 3 Merah b. Aspek Akses Pangan Aspek akses pangan dinilai dengan pendekatan persentase KK Pra-KS dan KS- 1 alasan ekonomi berdasarkan data setahun terakhir. Tabel 6. Nilai Persentase KK Pra-KS dan KS-1 Indikator Persentase (r) (%) Bobot Warna % Pra Sejahtera dan Sejahtera I r < 20 1 Hijau 20 r < 40 2 Kuning 40 3 Merah c. Aspek Pemanfaatan Pangan Indikator status gizi balita yang dinilai dengan prevalensi gizi kurang pada balita di masing-masing yang dikumpulkan sekali setahun melalui kegiatan Pemantauan Status Gizi (PSG). Tabel 7. Nilai Persentase Prevalensi Gizi Kurang Balita Indikator Persentase (r) (%) Bobot Warna Prevalensi gizi kurang pada Balita r < 15 1 Hijau 15 r 20 2 Kuning > 20 3 Merah