PRAKTEK PERADILAN PIDANA Kode Mata Kuliah : MI 020

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR PUSTAKA. Ali, Achmad, Menguak Realitas Hukum: Rampai Kolom Dan Artikel Pilihan Dalam Bidang Hukum, (Jakarta: Kencana, 2008).

SISTEM PERADILAN PIDANA KODE MATA KULIAH : WHI 6258

GARIS-GARIS BESAR PERKULIAHAN (GBPP)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. sebagaimana diuraikan dalam bab sebelumnya dapat dikemukakan kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA. Bakhri, Syaiful, 2009, Hukum Pembuktian Dalam Praktik Peradilan Pidana, Cetakan I, P3IH FH UMJ dan Total Media, Yogyakarta.

Fakultas Hukum UNTAG Semarang

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis diatas maka dapat ditarik kesimpulan

Fakultas Hukum UNTAG Semarang

SILABUS FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG 2013

Fakultas Hukum UNTAG Semarang

DAFTAR PUSTAKA. Admasasmita Romli, Sistem Peradilan Pidana Kontemporer. Jakarta: Kencana

BAB III PENUTUP. pidana pembunuhan berencana yang menggunakan racun, yaitu: b. Jaksa Penuntut Umum membuat surat dakwaan yang merupakan dasar

BAB IV PENUTUP A. Simpulan

FAKULTAS HUKUM UNIVERS

BAB III PENUTUP. sebagai jawaban dari permasalahan dalam penulisan hukum ini yakni bahwa:

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Setelah dilakukan penelitian dan pembahasan, maka dapat dirumuskan

BAB III PENUTUP. menyimpulkan mengenai Penerapan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

KEWENANGAN JAKSA PENUNTUT UMUM DALAM PROSES PRA PENUNTUTAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA 1 Oleh : Richard Olongsongke 2

LUMAJANG TENTANG DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERJUDIAN

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat. disimpulkan sebagai berikut:

Lex Crimen Vol. V/No. 4/Apr-Jun/2016

Lex Administratum, Vol. IV/No. 3/Mar/2016. PERAN ALAT BUKTI PETUNJUK DALAM TINDAK PIDANA UMUM MENURUT KUHAP 1 Oleh : Dedi Hartono Latif 2

DAFTAR PUSTAKA. Ali, Mahrus Dasar-Dasar Hukum Pidana dalam Sudarto, Hukum Pidana I. Semarang: Badan Penyediaan Bahan-Bahan Kuliah, FH UNDIP

GANTI RUGI ATAS KESALAHAN PENANGKAPAN, PENAHANAN PASCA PUTUSAN PENGADILAN 1 Oleh: David Simbawa 2

BAB IV PENUTUP A. Simpulan

REKAM MEDIS SEBAGAI PEMBUKTIAN PERKARA MALPRAKTEK DI BIDANG KEDOKTERAN PENULISAN HUKUM. Oleh : EL WARDA KHAERANI NIM :

Lex Crimen Vol. VII/No. 1 /Jan-Mar/2018. H. Rusli Muhammad, Hukum Acara Pidana Kontemporer, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007, hlm. 185.

Lex Crimen Vol. VI/No. 3/Mei/2017

AKIBAT HUKUM SURAT DAKWAAN BATAL DAN SURAT DAKWAAN DINYATAKAN TIDAK DAPAT DITERIMA DALAM PERKARA PIDANA 1 Oleh : Wilhelmus Taliak 2

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR YANG MENJADI KORBAN TINDAK PIDANA PENCABULAN

AKIBAT HUKUM PENGHENTIAN PENYIDIKAN PERKARA PIDAN DAN PERMASALAHANNYA DALAM PRAKTIK

DAFTAR PUSTAKA. Adami Chazawi, 2008, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Bandung, Alumni,

AKIBAT HUKUM PERALIHAN TANGGUNG JAWAB PENYIDIK ATAS BENDA SITAAN 1 Oleh : Noldi Panauhe 2

KONSISTENSI HAKIM MENJATUHKAN PUTUSAN DALAM HAL TERJADI PERBARENGAN TINDAK PIDANA (CONCURCUS REALIS) PENULISAN HUKUM

EKSISTENSI SAKSI MAHKOTA KAITANNYA DENGAN SPLITSING DALAM PEMBUKTIAN PERKARA PIDANA

Lex Crimen Vol. V/No. 4/Apr-Jun/2016. EKSEPSI DALAM KUHAP DAN PRAKTEK PERADILAN 1 Oleh : Sorongan Terry Tommy 2

DAFTAR PUSTAKA. Achmad Ali, Menguak Realitas Hukum, Rampai Kolom dan Artikel Pilihan dalam. Bidang Hukum, Prenada Media Group, Jakarta, 2008.

BAB V PENUTUP tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Informasi

DAFTAR PUSTAKA. Adami Chazawi, 2005, Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia, Bayumedia Publishing, Malang.

DAFTAR PUSTAKA. Arief, Barda Nawawi, Kebijakan Kriminal, op.cit, hal.2

BAB IV PENUTUP A. Simpulan

DAFTAR PUSTAKA. Grafika, Jakarta Grafika, Anton M.Moelijono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1998

EKSISTENSI SAKSI MAHKOTA SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PERKARA PIDANA

KEMUNGKINAN PENYIDIKAN DELIK ADUAN TANPA PENGADUAN 1. Oleh: Wempi Jh. Kumendong 2 Abstrack

DAFTAR PUSTAKA. A. Buku-Buku Adami Chazawi, 2011, Pelajaran Hukum Pidana I, Jakarta, Raja Grafindo Persada

Lex Crimen Vol. IV/No. 2/April/2015

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai Negara hukum, Pasal 28 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Dari uraian hasil penelitian dan analisa yang telah dilakukan oleh penulis,

DAFTAR PUSTAKA. A. Sukarno, Muhadar, Maskun, 2013, Filsafat Hukum Teori dan Praktik, Kencana, Jakarta

PENCABUTAN KETERANGAN TERDAKWA DALAM BAP DI MUKA SIDANG PANGADILAN (STUDI KASUS DI PENGADILAN NEGERI DENPASAR)

BAB I PENDAHULUAN. Perbuatan yang oleh hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana

PELAKSANAAN PEMBERIAN HAK KEBEBASAN BAGI TERSANGKA DALAM MEMBERIKAN KETERANGAN KEPADA APARAT PENYIDIK MENURUT PASAL 52 DAN 117 KUHAP

DAFTAR PUSTAKA. Ali, Mahrus, 2011, Hukum Pidana Korupsi di Indonesia, UII Pers, Yogyakarta.

DAFTAR PUSTAKA. Andi Hamzah, Asas - Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2008.

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Dari hasil pembahasan dapat dikemukakan kesimpulannya sebagai. berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Ketentuan Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

KLINIK HUKUM PERDATA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS LAMPUNG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS FORMULIR KONTRAK PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN. tercipta pula aturan-aturan baru dalam bidang hukum pidana tersebut. Aturanaturan

PENULISAN HUKUM. Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Kesarjanaan Dalam Bidang Ilmu Hukum

Lex Privatum Vol. V/No. 8/Okt/2017

PENGHENTIAN PENUNTUTAN PERKARA PIDANA OLEH JAKSA BERDASARKAN HUKUM ACARA PIDANA 1 Oleh: Daniel Ch. M. Tampoli 2

DAFTAR PUSTAKA. Adji, Indriyanto Seno. Korupsi dan Hukum Pidana. Jakarta : Kantor Pengacara & Konsultasi Hukum Prof. Oemar Seno Adji, SH&Rekan, 2001.

Lex Privatum Vol. V/No. 7/Sep/2017

Kata kunci: Pencabutan keterangan, terdakwa. AKIBAT HUKUM TERHADAP PENCABUTAN KETERANGAN TERDAKWA DI PENGADILAN 1 Oleh: Efraim Theo Marianus 2

Prakoso, D, (1988), Hukum Penitensir di Indonesia, Bandung: Armico.

BAB III PENUTUP. A. Kesimpulan. Sebagaimana tertulis dalam rumusan masalah, akhirnya penulis

DAFTAR PUSTAKA. A. Abidin, Farid, Zainal, 1995, Hukum Pidana I, Jakarta: Sinar Grafika.

BAB I PENDAHULUAN kemudian Presiden mensahkan menjadi undang-undang pada tanggal. 31 Desember 1981 dengan nama Kitab Undang-undang Hukum Acara

Penerapan Tindak Pidana Ringan (Studi Putusan Pengadilan Negeri Kisaran Nomor 456/Pid.B/2013/PN.Kis)

PRAPENUNTUTAN DALAM KUHAP DAN PENGARUH BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1 Oleh: Angela A.

BAB I PENDAHULUAN. dapat lagi diserahkan kepada peraturan kekuatan-kekuatan bebas dalam

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI S I L A B U S

BAB I PENDAHULUAN. landasan konstitusional bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI

BAB III PENUTUP. terdahulu, maka penulis menyimpulkan beberapa hal yaitu :

BAB IV PENUTUP A. Simpulan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam konstitusi Indonesia, yaitu Pasal 28 D Ayat (1)

DAFTAR PUSTAKA. Asikin, Zainal & Amiruddin, 2003, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Mataram: Divisi Buku Perguruan Tinggi PT.

BAB I PENDAHULUAN. Pertama, hal Soerjono Soekanto, 2007, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cetakan

KLINIK HUKUM ANTI KORUPSI FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA

BAB III PENUTUP. serta pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa peranan hakim adalah

SANKSI PIDANA PELANGGARAN KEWAJIBAN OLEH APARATUR HUKUM DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DI INDONESIA 1 Oleh: Wailan N. Ransun 2

Transkripsi:

PRAKTEK PERADILAN PIDANA Kode Mata Kuliah : MI 020 Tim Penyusun : I Ketut Keneng, SH.,MH. I Dewa Made Suartha, SH.,MH. I Wayan Sutara Djaya, SH.,MH. S.L.P Dawisni Manik Pinatih, SH. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS UDAYANA BALI INDONESIA 2008/2009 1

PERKULIAHAN PRAKTEK PERADILAN PIDANA I. Identitas Mata Kuliah Nama MK : Praktek Peradilan Pidana Kode MK/SKS : MI 020/2 Semester : VI Status MK : Wajib II. Pengajar Nama : I Ketut Keneng, SH.,MH. Alamat : Jl Gunung Lingga I A No. It Denpasar Telepon / HP : 0361.431876 / 08123653919 E mail : Nama : I Dewa Made Suartha, SH., MH Alamat : Jl Drupadi XVII Dewi Uma I No. 11 Denpasar Telepon : 0361 7946782 / 08123954672 E mail : III. Deskripsi Perkuliahan Praktek peradilan pidana merupakan mata kuliah mata kuliah wajib yang menjadi mata kuliah praktek dalam peradilan pidana. Mata kuliah ini adalah merupakan kelanjutan dari mata kuliah Hukum Acara Pidana. Dengan demikian, bahasan dalam mata kuliah ini mengenai badan badan peradilan (kompetensi pengadilan), fungsionaris pengadilan dan tata ruang siding pengadilan dalam peradilan umum khususnya peradilan pidana, proses pemeriksaan di pengadilan dalam peradilan umum khususnya perkara pidana, menganalisa sendiri setiap permasalahan hukum khususnya yang sedang dibahas dalam praktik, berpraktik sendiri terhadap perannya masing masing didalam pemeriksaan perkara didepan sedan gpengadilan khususnya dalam perkara pidana. IV. Organisasi Materi 1. Kedudukan dan Pengertian Praktik Peradilan Pidana 1) Status Praktik Peradilan Pidana dalam kurikulum 2) Pengertian Praktik Peradilan Pidana 3) Hubungan Praktik Peradilan Pidana dengan ilmu ilmu sosial lainnya 4) Lembaga lembaga peradilan di Indonesia 5) Fungsionaris pengadilan 1

6) Tata ruang sidang pengadilan 2. Peradilan umum dengan segala eksistensinya 1) Pengertian Peradilan Umum 2) Kekuasaan kehakiman 3) Hierarki (urutan lembaga pelaksana kekuasaan kehakiman di lingkungan peradilan umum) 4) Hubungan fungsionaris pengadilan dalam tugas/wewenang dengan penegak hukum lainnya 3. Praktik membuat surat surat yang terkait dengan pemeriksaan perkara di pengadilan 1) Pengertian praktik membuat surat surat yang terkait dengan pemeriksaan perkara pidana 2) Mahasiswa dapat membuat sendiri surat surat yang terkait dengan perkara pidana 3) Mahasiswa dapat menilai sendiri akibat hukum kesalahan/kekeliruan suratsurat tersebut 4. Prakti peragaan sidang peradilan 1) Pengertian praktik peragaan sidang peradilan 2) Kelompok mahasiswa praktik sidang perkara pidana 3) Kelompok mahasiswa wajib mengomentari praktik peragaan sidang perkara pidana V. Metode dan Strategi Perkuliahan Metode perkuliahan yang dipakai yaitu Problem Based Learning (PBL) Method Karena itu, strategi pembelajaran berupa Tanya jawab, tugas terstruktur, diskusi, belajar mandiri, diskusi berkelompok terarah (Focus Group Discussion), dan permainan peran (Rule Play). Pada awalnya perkuliahan, tanya jawab dilakukan untuk mengetahui pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (Prior Knowledge) oleh mahasiswa dan untuk melakukan Brainstorming atas permasalahan permasalahan yang telah diidentifikasi. Praktik peragaan perkara pidana dilakukan dalam perkara pidana, mahasiswa berperan sesuai dengan peran yang ada dalam perkara pidana. 3

VI. Tugas tugas Mahasiswa diwajibkan membahas dan memperagakan Praktik Perkara Pidana, mengerjakan dan mempersiapkan tugas yang ditentukan dalam Block Book. Tugastugas terdiri dari tugas mandiri yang dikerjakan diluar perkuliahan, tugas yang harus dikumpulkan dan tugas tugas yang harus diperagakan dalam Praktik Perkara Pidana. VII. Ujian ujian Ujian ujian terdiri dari : ujian tertulis dalam bentuk esay. Masa tengah semester dan ujian praktek pada akhir semester. Ujian tengah semester atas materi perkuliahan nomor 1 dan 2. sedangkan ujian akhir semester dilakukan atas materi perkuliahan nomor 3 dan 4. materi perkuliahan nomor 1 dan 2 dinilai dari tugas tugas, diskusi (mandiri/kelompok) yang dipresentasikan. Sedangkan untuk materi nomor 3 dan 4 dinilai dari praktek membuat surat surat yang berkait dengan peradilan pidana serta praktek peragaan sidang perkara pidana dan komentar mahasiswa yang tidak terlibat dalam praktek peragaan sidang. VIII. Penilaian meliputi aspek Hard Skill (sikap dan perilaku) dan aspek Soft Skill dilakukan melalui tugas tugas (TT), UTS, dan UAS. Nilai Hard Skills ini diperhitungkan menggunakan rumus nilai akhir (NA) pada buku pedoman FH UNUD, yaitu : NA = (UTS + TT) + 2 (UAS) 2 3 Penilaian Soft Skill (Sikap dan Perilaku) berdasarkan pada pengamatan dalam tatap muka selama perkuliahan, diskusi, pengumpulan tugas tugas, kehadiran, dalam perkuliahan dan pelaksanaan ujian. Nilai Soft Skill ini dikombinasikan dengan NA untuk menentukan Nila Hasil Studi (NHS) mahasiswa. NHS ditentukan dengan kriteria sebagai berikut : 4

Nilai Range A 80 100 B 65 79 C 55 64 D 40 54 E 0 39 X. Bahan Bacaan / Literatur BAHAN BACAAN Amiruddin Hamzah, Kebutuhan Surat Dalam Praktek Proses Pidana (Proses Beracara), CV. Mandar Maju, Bandung, 2003. Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ed. Revisi, Cetakan keempat, Ghalia Indonesia Jakarta, 1990. A.T. Hamid, Praktek Peradilan Perkara Pidana, CV. Al Ikhzan, Surabaya, 1981 H. Hamrat Hamid dan Harun H. Husein, Pembahasan Permasalahan KUHAP Bidang Penuntutan dan Eksekusi (Dalam Bentuk Tanya Jawab) Ed. Kesatu, Sinar Grafika Jakarta, 1992 John Z. Loudoe M., Beberapa Aspek Hukum Materil dan Hukum Acara Dalam Praktek, Bina Aksara, Jakarta, 1981 Lamintang, P.A.F., Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana Dengan Permasalahan Secara Yuridis Menurut Yurisprudensi dan Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana, Sinar Baru, Bandung, 1984 Lilik Muliadi, Hukum Acara Pidana, Normatif, Teoritis, Praktek dan Permasalahannya, PT. Alumni, Jakarta, 2007 Leden Marpaung, Perumusan Memori Kasasi Dan Peninjauan Kembali Perkara Pidana Sinar Grafika, Jakarta 2004, Proses Penanganan Perkara Pidana Bagian Pertama Pengadilan dan Penyelidikan, Sinar Grafika, Jakarta, 1992, Proses Penanganan Perkara Pidana Bagian Kedua Di Kejaksaan dan Pengadilan Negeri, Upaya Hukum dan Kasasi, Sinar Grafika, Jakarta 1992 M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Pemeriksaan 5

Sidang Pengadilan, Banding,Kasasi,dan Peninjauan Kembali, Ed. Kedua, Sinar Grafika Jakarta, 2003, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan, Ed. Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2003 M.H.C Hulman & Soedjonoe D. Sistem Peradilan Pidana Dalam Perspektif Perbandingan Hukum, CV. Raja Wali, Jakarta, 1984 Mustafa, Bachsan, Sistem Hukum Indonesia Terpadu PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003 Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit Undip, Semarang, 1998. Moch Faisal Salam, Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan Praktek, Mandar Maju, Bandung, 2001 M. Karjadi, Peradilan Di Indonesia, Politeia, Bogor, 1975 Mahkamah Agung RI, Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administrasi Pengadilan, Ed. Revisi, Cet. Kelima, 2004 Prodjohamidjojo Martiman, Kedudukan Tersangka dan Terdakwa Dalam Pemeriksaan, Ghalia Indonesia Jakarta, 1984, Strategi Memenangkan Perkara, Pradnya Paramita, Jakarta, 2002 Riduan Halim A., Pokok Pokok Peradilan Umum di Indonesia Dalam Tanya Jawab, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1986 R. Soerosoe, Conto Bentuk Bentuk Surat di Bidang Kepengacaraan Perdata, Sinar Grafika, Bandung, 1990 Sidabutar Mangasa, Hak Terdakwa, Terpidana, Penuntut Umum, Menempuh Upaya Hukum, Pengantar Praktis Pemahaman Upaya Hukum, PT. Raja Grafika Persada, Jakarta, 2001 Subekti, Hukum Pembuktian, Pradnya Paramita, Jakarta, 2001 Soesilo R. Hukum Acara Pidana ; Prosedur Penyelesaian Perkara Pidana Menurut KUHAP Bagi Penega Hukum, Politeia, Bogor, 1982 6

X. Jadwal Perkuliahan PRAKTEK PERADILAN PIDANA Waktu perkuliahan : Senin, 08.00 09.40 Tempat Perkuliahan : LII.C4 Kampus Denpasar NO TANGGAL TOPIK 1 15 September 2008 Pengantar, Penjelasan Petunjuk petunjuk Perkuliahan, Peristilahan, Pengertian dan Status Praktek Peradilan Pidana 2 22 September 2008 Hubungan Prektek Peradilan Pidana dengan Ilmu Ilmu Sosial lainnya, Lembaga Peradilan di Indonesia, Fungsionaris Pengadilan dan Tata Ruang Sidang Pengadilan 3 6 Oktober 2008 Pengertian Peradiln Umum, Kekuasaan Kehakiman, Hirarki Lembaga Peradilan dan Hubungan Fungsionaris Pengadilan Dengan Penegak Hukum Lainnya 4 13 Oktober 2008 Praktek membuat surat surat yang terkait dengan pemeriksaan Perkara Pidana 5 20 Oktober 2008 Praktek peragaan sidang 6 26 Oktober 10 Masa UTS November 2008 7 18 November 2008 Praktek peragaan sidang 8 24 November 2008 Praktek peragaan sidang 9 1 Desember 2008 Praktek peragaan sidang 10 18 Desember 2008 Praktek peragaan sidang 11 15 Desember 2008 Praktek peragaan sidang 12 22 Desember 2008 Praktek peragaan sidang 13 5 17 Januari 2008 Masa UAS 7

PERTEMUAN PERTAMA PERISTILAHAN, PENGERTIAN DAN STATUS PRAKTEK PERADILAN PIDANA BACAAN : Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana, Ghalia Indonesia, 1983 Martiman Pradjohamidjojo, Pembahasan Hukum Acara Pidana Dalam Teori dan Praktek, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 1988 R. Soesilo, Hukum Acara Pidana (Prosedur Penyelesaian Perkara Pidana Menutrut KUHP Bagi PeneGAK Hukum) A.T Hamid, Praktek Peradilan Perkara Pidana, CV. AL Ikhsan, Surabaya, 1981. Tugas 1 : Di Dalam kepustakan sebelumnya dikenal dengan mata kuliah Peradilan Semu (MOOT Cort) yang merupakan bagian dari pendidikan dan Latihan Kemahiran Hukum, disamping konsultasi dan Bantuan Hukum serta Keterampilan Non Litigasi yang kemudian diistilahkan dengan Praktek Peradilan Perkara Pidana Praktek Peradilan Perkara Pidana merupakan mata kuliah wajib yang termasuk dalam kurikulum inti. Karena itu Praktek Peradilan Perkara Pidana sebagai salah satu mata kuliah yang memberikan kompetensi keilmuan, sebagai kompetensi utama bagi mahasiswa. Temukan, identifikasi, dan pemahami peristilah dan pengertiannya. 8

PERTEMUAN KEDUA HUBUNGAN PRAKTEK ERADILAN PIDANA DENGAN ILMU ILMU SOSIAL LAINNYA, LEMBAGA LEMBAGA PERADILAN INDONESIA FUNGSIONARIS PERANGADILAN DAN TATA RUANG SIDANG PENGADILAN BACAAN : M Karyadi, Peradilan di Indonesia, Politeia Bogor, 1975 Ridwan Halim, Pokok pokok Peradilan Umum di Indonesia dalam Tanya Jawab, Pradnya Paramita, Jakarta, 1987 I Dewa Made Suartha dkk, Bahan Ajar Peradilan Semu, Bagian Hukum Acara Fakultas Hukum UNUD, 2006 Tugas 2. Mengenai hubungan Praktek Peradilan Pidana dengan lembaga lembaga peradilan di Indonesia, Kekuasaan Kehakiman, Fungsionaris Pengadilan, Tata ruang sidang Pengadilan dan Ilmu Ilmu Sosial lainnya. Perlu kiranya mengetahui peradilan umum dengan segala eksistensinya yang berkaitan dengan praktek peradilan pidan. Disamping itu juga merupakan bagian dari peradilan umum yang mengadili rakyat pada umumnya. Sesuai dengan tujuan hukum acara pidana adalah mencari kebenaran materiil yang tidak bisa diperoleh tanpa bantuan dari ilmu ilmu sosial lainnya. Mengenai tata ruang sidang pengadilan di Indonesia masih dipengaruhi oleh sistem hukum eropa kontinental (asas konkordansi) incasu Belanda yang pernah menjajah Indonesia dan mengingat peraturan pemerintah nomor 27 tahun 1983. Diluar peradilan umum masih ada peradilan khusus yng sistemnya telah diatur dalam undang undangnya. Ketemukan permasalahan praktek peradilan Pidana bila dihubungkan dengan Peradilan Umum dalam segala eksistensinya dan ilmu ilmu sosial lainnya serta pahami kaitannya dalam proses pemeriksaan perkara pidana dimuka sidang pengadilan. 9

PERTEMUAN KETIGA PRAKTEK PERAGAAN SIDANG BACAAN : Andhi Amsah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ed. Revisi, Cetakan Keempat, Ghalia Indonesia, Jakarta 1990. Lilik Muliadi, Hukum Acara Pidana, Normatif, Teoritiss, Praktekdan Permasalahannya, PT. Almuni, Jakarta 2007. Lamintang, PAF, Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana dengan pembahasan secara yuridis menurut Yurisprudensi dan Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana, Sinar Baru Bandung 1984. M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali, Sinar Grafika, Jakarta 2003. Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Badan Penerbit Undip Semarang 1998. I Dewa Made Suartha dkk, Bahan Ajar Peradilan Semu, Bagian Hukum Acara Fakultas Hukum UNUD, 2006 Tugas 3. Praktek Peradilan Pidana meliputi : Persiapan peragaan sidang dan peragaan sidang. Persiapan peragaan sidang terdiri dari : Pemahaman surat panggilan, surat pelimpahan perkara, acara pemeriksan (biasa, singkat, cepat), pembahasan / analisa kasus dan persiapan surat surat yang terkait dengan peragaan Sidang Pidana. Peragan Sidang terdiri dari : Sidang Surat Dakwaan, Esepsi, dan Putusan Sela (Putusan sebelum putusan akhir), Sidang Pembuktian, Sidang Requisitoir dan Pleidooi (termasuk replik, rereplik dan duplik, reduplik) serta Sidang Putusan Akhir. Peragakan Sidang Peradilan Pidana yang tepat dan benar sesuai dengan urut urutanya sampai dengan sidang putusan akhir. 10