PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN II TAHUN 2012

dokumen-dokumen yang mirip
PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I TAHUN 2011

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN III TAHUN 2010

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI SEMESTER I 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI SEMESTER I 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2013

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2014 SEBESAR 3,41 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN III 2016

PDRB/PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2008

BPS PROVINSI SULAWESI SELATAN

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013 SEBESAR 2,93 PERSEN

BERITA RESMI STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2008

PERTUMBUHAN PDRB TAHUN 2013 MENCAPAI 6,2 %

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2011

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERKEMBANGAN PDRB Triw I-2009 KALSEL

BADAN PUSAT STATISTIK

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2008

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2008 SEBESAR -3,94 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014

BERITA RESMI STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI SEMESTER I 2017

BERITA RESMI STATISTIK

PDRB/PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2009

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN III 2015

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008

BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TRIWULAN I TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013 SEBESAR -3,30 PERSEN

EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN I 2014 TUMBUH 6,5 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2008 SEBESAR 6,30 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011

No. 64/11/13/Th.XVII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SUMATERA BARAT TRIWULAN III 2014

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN II-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH

BERITA RESMISTATISTIK

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BERITA RESMI STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2016

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TAHUN 2008 SEBESAR 5,02 PERSEN

KINERJA PEREKONOMIAN SULAWESI SELATAN TRIWULAN II 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007 SEBESAR 4,89 PERSEN

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN UTARA TRIWULAN II

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI BANTEN TRIWULAN I-2014

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2009 SEBESAR 3,88 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011

PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2011 SEBESAR 7,96 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI ACEH

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2011

PERTUMBUHAN EKONOMI BANTEN TRIWULAN IV TAHUN 2013

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN IV TAHUN 2013

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2007

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013

BERITA RESMI STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA

PERTUMBUHAN EKONOMI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2016

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2007

PERTUMBUHAN EKONOMI PAPUA BARAT TRIWULAN II-2013

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2014 SEBESAR 4,24 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR -2,98 PERSEN

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II -2016

PERTUMBUHAN EKONOMI BANTEN TRIWULAN II TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III-2009

Transkripsi:

No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN II TAHUN Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II- mencapai 2,81 persen dibandingkan Triwulan I - yang mengalami kontraksi sebesar 0,06 persen (quarter to quarter/q-to-q). Pertumbuhan pada Triwulan II- ini sepenuhnya didorong oleh seluruh sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor bangunan sebesar 6,03 persen. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada sektor angkutan dan komunikasi sebesar 1,90 persen. Jika dibandingkan dengan Triwulan II-2011 (year on year/y-on-y), PDRB Bali mengalami pertumbuhan sebesar 6,76 persen, yang juga didorong oleh seluruh sektor ekonomi. Sektor ekonomi dominan dan memiliki pertumbuhan tertinggi (economic drive) terjadi pada sektor bangunan sebesar 17,91 persen. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada sektor pertanian sebesar 3,35 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Bali pada Semester I- dibandingkan dengan Semester I-2011 tumbuh sebesar 6,43 persen. Besaran nominal PDRB Bali atas dasar harga berlaku pada Triwulan II- mencapai Rp 20,59 trilyun, sedangkan atas dasar harga konstan 2000 mencapai Rp 8,12 trilyun. Dari keseluruhan PDRB yang tercipta, sebesar Rp 12,07 trilyun merupakan konsumsi rumahtangga dengan kontribusi sebesar 58,65 persen. Pertumbuhan ekonomi triwulan II didorong oleh tumbuhnya seluruh komponen pembentuk PDRB dengan pertumbuhan tertinggi untuk komponen PMTDB, dengan pertumbuhan 5,07 persen (q-to-q) dan 19,43 persen (y-o-y). Secara spasial kontribusi terbesar pembentukan Perekonomian Bali Triwulan II- disumbang oleh Kabupaten Badung sebesar 25.28 persen dan Kota Denpasar sebesar 21.01 persen. Untuk sumber pertumbuhannya (Source of Growth) Triwulan II- secara q-to-q perekonomian Bali cenderung dipengaruhi pula oleh Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yang juga mengalami pertumbuhan sebesar 0,58 persen dan untuk y-on-y Kabupaten Badung dan Kota Denpasar juga tumbuh positif sebesar 1,48 persen dan 1,56 persen. 1. Pertumbuhan Ekonomi Bali Triwulan II Perekonomian Bali pada triwulan ini tumbuh positif setelah triwulan sebelumnya sempat mengalami kontraksi. Pertumbuhan yang terjadi didorong oleh seluruh sektor ekonomi dan sekaligus mengindikasikan terjadinya peningkatan kinerja perekonomian pada triwulan ini. Pada beberapa sektor seperti pertanian, peningkatan kinerja dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti iklim dan cuaca yang membaik, peningkatan luas panen bersih untuk komoditas tanaman bahan makanan terutama Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus 1

padi sawah. Sementara pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) pertumbuhan yang terjadi disebabkan karena pada triwulan II ini memasuki musim liburan sekolah, dilangsungkannya beberapa kegiatan pariwisata seperti pesta kesenian Bali (PKB) dan ditunjang oleh faktor keamanan yang cukup kondusif. Sektor bangunan juga menunjukkan kinerja yang meningkat, sejalan dengan dibangunnya beberapa proyek-proyek infrastruktur berskala besar menjelang dilaksanakannya pertemuan APEC pada tahun 2013 mendatang. Secara keseluruhan pada triwulan II- ini ekonomi Bali tumbuh sebesar 2,81 persen dan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1 berikut: Lapangan Usaha Tabel 1 Laju Pertumbuhan PDRB Bali Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (dalam persen) Trw. II- thd Trw. I- Trw.II- thd Trw.II-2011 Sem I- thd Sem I-2011 Sumber pertumbuhan q-to-q Sumber pertumbuhan y-on-y (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Pertanian 4,28 3,35 2,01 0,80 0,65 2. Pertambangan dan Penggalian 4,68 13,13 11,50 0,03 0,09 3. Industri Pengolahan 2,13 4,88 4,24 0,21 0,48 4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,97 7,67 8,15 0,03 0,12 5. Bangunan 6,03 17,91 15,59 0,26 0,72 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 2,16 5,95 6,08 0,70 1,93 7. Pengangkutan dan Komunikasi 1,90 8,32 9,08 0,21 0,91 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2,37 8,37 8,42 0,17 0,59 9. Jasa-jasa 2,78 9,06 8,85 0,40 1,27 PDRB 2,81 6,76 6,43 2,81 6,76 Selama Triwulan II-, laju pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor bangunan sebesar 6,03 persen. Angka ini lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,92 persen. Pertumbuhan sektor konstruksi di Bali pada triwulan II- disebabkan oleh pembangunan infrastruktur berskala besar dalam rangka persiapan menyambut APEC 2013 seperti perbaikan dan perluasan bandara, pembangunan jalan di atas perairan (JDP) yang menghubungkan Benoa dan Nusa Dua dan proyek underpass Simpang Dewa Ruci. Selain itu juga terkait dengan pola penyerapan anggaran pemerintah kabupaten, kota, dan provinsi dimana pada triwulan ini penyerapan anggaran khusus untuk belanja modal lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Peningkatan di sektor konstruksi juga berpengaruh terhadap sektor penggalian. Pada triwulan II- ini, sektor penggalian tumbuh sebesar 4,68 persen. Pertumbuhan ini melambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Beberapa faktor yang menyebabkan karena di beberapa daerah sentra penggalian seperti di Kabupaten Klungkung, pemerintah daerah telah mengeluarkan surat keputusan yang menutup beberapa lokasi penggalian akibat dampak yang kurang baik bagi lingkungan. Namun seiring dengan maraknya pembangunan perumahan yang terjadi di beberapa kabupaten seperti di Kabupaten Tabanan, permintaan bahan galian untuk bangunan khususnya batu padas juga terus meningkat, yang meningkatkan pula aktivitas penggalian batu padas di Kabupaten tersebut. Sektor pertanian triwulan ini juga tumbuh positif setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Pertumbuhan sektor pertanian sangat tergantung faktor cuaca, pada triwulan ini cuaca lebih bersahabat dibandingkan triwulan sebelumnya, selain itu data sektor pertanian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan luas panen bersih sebesar 47,54 persen untuk komoditas tanaman padi sawah, 2 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus

dimana komoditas ini memberikan sumbangan terbesar untuk subsektor tanaman bahan makanan bahkan bagi sektor pertanian secara keseluruhan. Seperti halnya sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) pada triwulan ini juga mengalami hal yang sama. Setelah sempat kontraksi pada triwulan sebelumnya, di triwulan ini tumbuh sebesar 2,16 persen. Pertumbuhan sektor PHR disebabkan karena beberapa faktor seperti musim liburan sekolah, adanya kegiatan Pesta Kesenian Bali (PKB). Musim liburan sekolah telah meningkatkan kunjungan wisatawan domestik sehingga meningkatkan tingkat penghunian kamar hotel sebesar 6,48 poin untuk hotel berbintang dan 14,59 poin untuk hotel non bintang. Pertumbuhan terendah selama Triwulan II- terjadi pada sektor angkutan dan komunikasi. Namun jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sektor ini tumbuh sebesar 1,90 lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yaitu 1,19 persen. Pertumbuhan ini juga ditunjang oleh musim liburan sekolah, dan kegiatan Pesta Kesenian Bali seperti halnya pada sektor pariwisata, karena kedua sektor tersebut saling mempengaruhi. Selain itu kondisi cuaca yang lebih baik jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya juga meningkatkan pertumbuhan di subsektor angkutan. Dari catatan administrasi pelabuhan Padang Bai dan Gilimanuk menunjukkan peningkatan jumlah penumpang dan kendaraan pada kedua pelabuhan tersebut. Perekonomian Bali pada Triwulan II- jika dibandingkan dengan Triwulan II-2011 (y-on-y) tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 6,76 persen. Pertumbuhan ini mencerminkan perubahan tanpa dipengaruhi oleh faktor musim. Pertumbuhan y-on-y tertinggi masih di sektor konstruksi sebesar 17,91 persen. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dari triwulan II-2011 yang hanya mencapai 7,48 persen. Sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor yang tumbuh tertinggi kedua. Sektor ini tumbuh sebesar 13,13 persen namun melambat jika dibandingkan dengan triwulan II-2011 yang sempat tumbuh sebesar 15,07 persen. Selain kedua sektor tersebut, sektor jasa-jasa juga tumbuh sebesar 9,06 persen. Pertumbuhan yang terjadi terkait dengan pola penyerapan anggaran yang lebih baik jika dibandingkan dengan penyerapan anggaran triwulan II-2011. Sektor selanjutnya adalah sektor keuangan yang tumbuh sebesar 8,37 persen; sektor angkutan tumbuh sebesar 8,32 persen; sektor listrik, gas, dan air tumbuh 7,67 persen; sektor PHR tumbuh 5,95 persen; sektor industri dan pertanian masing-masing tumbuh sebesar 4,88 persen dan 3,35 persen. Selanjutnya, PDRB Bali pada semester I dibandingkan dengan Semester I 2011 menunjukkan kenaikan sebesar 6,43 persen, dan terjadi di semua sektor. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan sektor pertanian sebesar 2,01 persen; pertambangan dan penggalian sebesar 11,50 persen; industri pengolahan sebesar 4,24 persen; listrik, gas, dan air bersih sebesar 8,15 persen; bangunan sebesar 15,59 persen; perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 6,08 persen; pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,08 persen; keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 8,42 persen; dan jasa-jasa sebesar 8,85 persen. Jika dilihat dari besarnya sumbangan masing-masing sektor terhadap total pertumbuhan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1, ternyata sektor pertanian merupakan sumber pertumbuhan (source of growth) yang paling dominan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (q-to-q) dan sektor PHR jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya (y-on-y). Pada Triwulan II- (q-to-q), sektor pertanian menyumbang 0,80 persen terhadap total pertumbuhan Triwulan II- yang mencapai 2,81 persen. Sedangkan jika dibandingkan Triwulan II-2011 (y-on-y), sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyumbang 1,93 persen terhadap total pertumbuhan Triwulan II- yang mencapai 6,76 persen. Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus 3

2. Perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2000 Bila dilihat dari nilai absolutnya, perkembangan PDRB Provinsi Bali baik atas dasar harga berlaku maupun harga konstan cenderung terus meningkat. Berdasarkan harga berlaku (secara nominal), pada Triwulan I PDRB Bali mencapai Rp 19,69 trilyun. Setelah itu, angka PDRB Bali meningkat menjadi Rp 20,58 trilyun di Triwulan II atau mengalami kenaikan sebesar 4,55 persen. Peningkatan nilai nominal juga diikuti oleh peningkatan secara riil (harga konstan), dimana PDRB riil Bali terus meningkat dari Rp 7,90 trilyun pada Triwulan I- menjadi Rp 8,12 trilyun di Triwulan II-. Secara nominal (harga berlaku), sektor perdagangan, hotel, dan restoran masih mendominasi PDRB Bali dengan nilai tambah sebesar Rp 6,18 trilyun pada Triwulan II-. Posisi kedua ditempati sektor pertanian dengan nilai tambah sebesar Rp 3,53 trilyun, dan posisi ketiga ditempati oleh sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai tambah sebesar Rp 3,05 triliun dan selanjutnya sektor jasa-jasa dengan nilai tambah masing-masing sebesar Rp 3,00 trilyun. Sementara itu, berdasarkan harga konstan (secara riil), sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor pertanian menempati posisi pertama dan kedua dengan nilai tambah masing-masing sebesar Rp 2,61 trilyun dan Rp 1,53 trilyun. Sedangkan posisi ketiga ditempati oleh sektor jasa-jasa dengan nilai tambah sebesar Rp 1,16 trilyun. Selengkapnya nilai PDRB atas dasar harga berlaku dan harga konstan dapat disimak pada Tabel 2 berikut: Tabel 2 PDRB Bali Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (dalam trilyun rupiah) Lapangan Usaha Triwulan I Berlaku Triwulan II Triwulan I Konstan Triwulan II (1) (2) (3) (4) (5) 1. Pertanian 3,33 3,53 1,47 1,53 2. Pertambangan dan Penggalian 0,15 0,16 0,06 0,06 3. Industri Pengolahan 1,75 1,81 0,77 0,80 4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,40 0,42 0,12 0,13 5. Bangunan 0,98 1,05 0,34 0,36 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 5,97 6,18 2,56 2,61 7. Pengangkutan dan Komunikasi 2,93 3,05 0,88 0,90 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 1,32 1,36 0,57 0,58 9. Jasa-jasa 2,86 3,00 1,13 1,16 PDRB 19,69 20,59 7,90 8,12 3. Struktur PDRB Menurut Lapangan Usaha Struktur perekonomian Bali yang dilihat dari kontribusi masing masing sektor terhadap pembentukan PDRB ditopang oleh dua sektor ekonomi dominan, yakni sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor pertanian. Kontribusi (share) kedua sektor ini masing-masing sebesar 30,04 persen dan 17,13 persen. Jika digabungkan maka kedua sektor tersebut akan memiliki peranan hampir separuh dari PDRB Bali atas dasar harga berlaku. Namun kontribusi sektor pertanian memiliki kecenderungan menurun dari 17,51 persen di Triwulan II-2011 menjadi 17,13 persen di Triwulan II- 4 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus

. Demikian pula halnya dengan sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang juga turun dari 30,63 persen pada triwulan II-2011 menjadi 30,04 persen pada Triwulan II-. Pada sisi lain justru terjadi peningkatan kontribusi untuk sektor angkutan, sektor jasa-jasa dan sektor bangunan dimana pada triwulan II-2011 kontribusi sektor angkutan dan jasa-jasa sebesar 14,34 persen dan sektor bangunan sebesar 4,66 persen dan pada triwulan II- memberikan kontribusi masing-masing sebesar 14,81 persen, 14,58 persen dan 5,12 persen. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa penciptaan nilai tambah yang terjadi untuk kedua sektor dominan tersebut cenderung lebih lambat dari penciptaan nilai tambah total PDRB mengingat pembangunan di sektor pertanian masih terkendala beberapa faktor seperti terjadinya alih fungsi lahan pertanian yang cukup tinggi, turunnya minat masyarakat untuk bertani dan akibat peningkatan biaya produksi di sektor tersebut. Sementara untuk sektor PHR dipengaruhi oleh penurunan kinerja pada sektor tersebut yang tidak sebaik pada tahun sebelumnya. Secara rinci kontribusi masing-masih sektor perekonomian di Bali dapat dilihat pada Tabel 3 berikut: Tabel 3 Kontribusi Masing masing Sektor Terhadap PDRB Provinsi Bali Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (dalam persen) Lapangan Usaha 2011 Triwulan II Triwulan I Triwulan II (1) (2) (3) (4) 1. Pertanian 17,51 16,93 17,13 2. Pertambangan dan Penggalian 0,75 0,76 0,79 3. Industri Pengolahan 9,01 8,91 8,84 4. Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,98 2,03 2,05 5. Bangunan 4,66 4,99 5,12 6. Perdagangan, Hotel, dan Restoran 30,63 30,33 30,04 7. Pengangkutan dan Komunikasi 14,34 14,86 14,81 8. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan 6,78 6,68 6,63 9. Jasa-jasa 14,34 14,51 14,58 PDRB 100,00 100,00 100,00 4. PDRB Provinsi Bali Menurut Penggunaan Memasuki triwulan II-, total PDRB (ADHB) yang mampu diciptakan sebesar Rp 20,59 trilyun. Dari keseluruhan PDRB yang tercipta, sebesar Rp 12,07 trilyun merupakan konsumsi rumahtangga. Konsumsi rumahtangga masih menjadi komponen utama penggerak perekonomian, dengan share sebesar 58,65 persen. Perkembangan yang cukup baik terlihat pada komponen Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB). Nilai PMTDB pada triwulan ini mencapai Rp 6,85 trilyun meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar Rp 6,40 trilyun. Komponen yang juga memberikan sumbangan cukup besar adalah ekspor, yang mencapai Rp 22 trilyun, meningkat dibanding triwulan lalu. Namun peningkatan pada sisi ekspor dibarengi dengan peningkatan pada sisi impor. Bahkan nilai impor lebih tinggi dibanding nilai ekspor. Impor pada triwulan ini mencapai Rp 23,30 persen. Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus 5

Setelah mengalami kontraksi hingga 0,06 persen (q-to-q) di triwulan lalu, pada triwulan II ini perekonomian Bali mulai membaik, dengan pertumbuhan mencapai 2,81 persen dibanding triwulan I. Pertumbuhan ini didorong oleh tumbuhnya seluruh komponen pembentuk PDRB dengan pertumbuhan tertinggi untuk komponen PMTDB. Dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q), PMTDB tumbuh hingga 5,07 persen. Diikuti oleh pertumbuhan pada sisi pengeluaran konsumsi pemerintah dengan pertumbuhan sebesar 4,18 persen. Demikian pula untuk ekspor, meskipun ekspor barang cenderung menurun, total ekspor di triwulan II mengalami kenaikan sebesar 3,14 persen, yang didorong oleh ekspor jasa akibat peningkatan jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun manca negara. Meskipun komponen ekspor membaik, namun komponen impor meningkat lebih tinggi, dengan pertumbuhan sebesar 4,15 persen. Perekonomian triwulan ini bisa dikatakan lebih baik dibanding triwulan yang sama tahun lalu. Jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya (y-on-y), hampir semua komponen pengeluaran mengalami peningkatan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada PMTB dengan pertumbuhan sebesar 19,43 persen. Sementara itu untuk komponen lainnya seperti pengeluaran konsumsi rumahtangga tumbuh 5,49 persen; pengeluaran konsumsi lembaga swasta nirlaba tumbuh 9,32 persen; dan pengeluaran konsumsi pemerintah meningkat 3,51 persen. Sementara itu, ekspor dan impor masing-masing tumbuh 4,70 persen dan 14,77 persen. Dilihat dari sumbangan masing-masing komponen terhadap pertumbuhan total, pertumbuhan PMTDB memegang peranan yang cukup besar. PMTDB menyumbangkan pertumbuhan 5,06 persen. Sementara sumber pertumbuhan lain yang cukup besar adalah komponen pengeluaran konsumsi rumahtangga yang menyumbang pertumbuhan sebesar 3,29 persen dan komponen ekspor sebesar 3,58 persen. Tabel 4 Nilai PDRB Triwulan II-2011, Triwulan I-, dan Triwulan II- Menurut Komponen Penggunaan (dalam trilyun rupiah) Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan Komponen Penggunaan 2011 2011 Trw II Trw I Trw II Trw II Trw I Trw II (1) (2) (3) (4) (5) (5) (6) 1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 10,76 11,81 12,07 4,56 4,76 4,81 2. Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 0,15 0,16 0,17 0,07 0,08 0,08 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 2,32 2,62 2,78 0,72 0,71 0,74 4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 5,37 6,40 6,85 1,98 2,25 2,37 5. a.perubahan Inventori 0,06 0,07 0,07 0,02 0,02 0,02 b.diskrepansi Statistik (1,10) (0,36) (0,11) (0,48) (0,23) (0,16) 6. Ekspor 18,42 21,05 22,05 5,80 5,88 6,07 7. Impor 18,00 22,06 23,30 5,05 5,57 5,80 PDRB 17,99 19,69 20,59 7,61 7,90 8,12 6 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus

Tabel 5 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Bali Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Komponen Penggunaan (dalam persen) Komponen Penggunaan Trw II - 2011 terhadap Trw II - Trw I terhadap Trw II - Sumber pertumbuhan y-on-y Sumber pertumbuhan q-to-q (1) (2) (3) (4) (5) 1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 5,49 1,11 3,29 0,67 2. Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 9,32 1,56 0,09 0,02 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 3,51 4,18 0,33 0,38 4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 19,43 5,07 5,06 1,45 5. Perubahan Inventori (22,13) 4,32 (0,06) 0,01 6. Ekspor 4,70 3,14 3,58 2,34 7. Impor 14,77 4,15 9,81 2,93 PDRB 6,76 2,81 6,76 2,81 Tabel 6 Distribusi Komponen PDRB Penggunaan Provinsi Bali Triwulan II-, Triwulan I-, dan Triwulan II- (dalam persen) Komponen Penggunaan Triwulan II 2011 Triwulan I Triwulan II (1) (2) (3) (4) 1. Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga 59,84 59,95 58,65 2. Pengeluaran Konsumsi Lembaga Swasta Nirlaba 0,82 0,83 0,82 3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 12,92 13,31 13,50 4. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 29,85 32,49 33,28 5. Perubahan Inventori 0,34 0,35 0,35 b. Diskrepansi Statistik (6,13) (1,82) (0,51) 6. Ekspor 102,42 106,90 107,13 7. Impor 100,06 112,01 113,20 PDRB 100,00 100,00 100,00 Dari sisi penggunaan, Perekonomian Bali masih dibentuk oleh pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga, meskipun share-nya di triwulan ini menurun baik dibanding triwulan sebelumnya maupun triwulan yang sama tahun 2011. Konsumsi rumahtangga memberikan kontribusi sebesar 58,65 persen terhadap total PDRB. Peningkatan PDRB di triwulan II ini juga tidak terlepas dari peranan konsumsi pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB). Share (kontribusi) kedua komponen PDRB dari sisi penggunaan ini mengalami peningkatan. Kontribusi konsumsi pemerintah mencapai 13,50 persen. Peningkatan investasi fisik seperti pembangunan jalan di atas perairan (JDP), perluasan bandara, dan pembuatan under pass simpang Dewa Ruci, turut mendongkrak PMTDB di triwulan ini. PMTDB memberi kontribusi terhadap total PDRB sebesar 33,28 persen, meningkat dibanding kontribusi triwulan lalu yang sebesar 32,49 persen. Sementara itu total nilai ekspor (barang dan jasa), di triwulan ini mencapai Rp. 22,05 trilyun, dengan share sebesar 107,13 persen. Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus 7

5. Profil Spasial Ekonomi Antar Kabupaten di Provinsi Bali Triwulan II Tahun Secara spasial, struktur perekonomian di Bali masih didominasi oleh Wilayah Bali Selatan yaitu posisi pertama ditempati oleh Kabupaten Badung dan posisi kedua ditempati oleh Kota Denpasar dengan kontribusi dari Kabupaten Badung masing-masing sebesar 24,21 persen dan 24,52 persen pada Triwulan I-2011 dan Triwulan II-2011 menjadi 25,27 persen dan 25,28 persen pada Triwulan I- dan Triwulan II-. Kontribusi Kota Denpasar pada Triwulan I-2011 dan Triwulan II-2011sebesar 20,99 persen dan 20,91 persen menjadi 20,87 persen dan 21,01 persen pada Triwulan II-. Wilayah lain yang juga memberikan kontribusi yang cukup besar di luar kedua wilayah tersebut adalah Kabupaten Buleleng, Gianyar, dan Tabanan. Dari sisi pertumbuhan ekonomi secara spasial, pada Triwulan II-, Kabupaten Tabanan tumbuh sebesar 4,1 persen, Kabupaten Klungkung dan Bangli tumbuh sebesar 3,7 persen, Kabupaten Jembrana dan Buleleng tumbuh sebesar 2,9 persen, Kabupaten Badung, Karangasem, dan Kota Denpasar tumbuh sebesar 2,8 persen. Pertumbuhan tertinggi yang terjadi di Kabupaten Tabanan terkait dengan cukup tingginya pertumbuhan sektor pertanian dimana Kabupaten Tabanan merupakan daerah dengan potensi pertanian yang besar. Jika dilihat dari sumber pertumbuhan (Source of Growth) Triwulan II- (q-to-q) perekonomian Bali tumbuh sebesar 2,81 persen, secara spasial pertumbuhan yang terjadi disumbang oleh seluruh kabupaten/kota. Sumber pertumbuhan tertinggi masih disumbang oleh Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yaitu sebesar 0,58 persen. Ini memperlihatkan bahwa kondisi perekonomian Bali cenderung dipengaruhi oleh situasi perekonomian pada kedua daerah tersebut mengingat sektor pariwisata yang memberikan share tertinggi kepada Perekonomian Bali sebagian besar berlokasi di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Demikian pula halnya pertumbuhan ekonomi secara y-on-y, perekonomian Bali Triwulan II- mampu tumbuh sebesar 6,76 persen salah satunya tidak terlepas dari sumbangan Kabupaten Badung sebesar 1,48 persen dan Kota Denpasar sebesar 1,56 persen. Kabupaten Tabel 7 Kontribusi, Pertumbuhan dan Sumber Pertumbuhan Wilayah Kabupaten/Kota Terhadap Pembentukan dan pertumbuhan PDRB Bali (Persen) Kontribusi 2011 Pertumbuhan Trw II- Sumber Pertumbuhan Trw II- Trw I Trw II Trw I Trw II q-to-q y-on-y q-to-q y-on-y c-to-c (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) 1. Jembrana 5,97 5,95 5,92 5,90 2,89 7,15 0,18 0,44 0,42 2. Tabanan 8,39 8,37 8,27 8,34 4,06 6,77 0,35 0,60 0,52 3. Badung 24,21 24,52 25,27 25,28 2,75 7,02 0,58 1,48 1,48 4. Gianyar 12,31 12,26 12,14 12,05 2,34 6,76 0,28 0,82 0,81 5. Klungkung 4,60 4,57 4,50 4,52 3,67 6,06 0,17 0,28 0,24 6. Bangli 3,92 3,90 3,85 3,86 3,65 6,77 0,14 0,26 0,23 7. Karangasem 7,02 7,00 6,87 6,83 2,75 6,71 0,18 0,43 0,44 8. Buleleng 12,60 12,51 12,30 12,21 2,86 7,13 0,35 0,88 0,77 9. Denpasar 20,99 20,91 20,87 21,01 2,83 7,65 0,58 1,56 1,52 PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 2,81 6,76 2,81 6,76 6,43 8 Berita Resmi Statistik Provinsi Bali No. 44/08/51/Th. VI, 6 Agustus

Informasi lebih lanjut hubungi: Didik Nursetyohadi, SST., M.Agb. Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Provinsi Bali Telepon: 0361-238159, Fax: 0361-238162 E-mail: bps5100@bps.go.id