TERMITES ENDANGERED TRADITIONAL MEDICAL PLANTS

dokumen-dokumen yang mirip
KEY TO THE LACESSITTERMES HOLMGREN (TERMITIDAE: NASUTITERMITINAE) FROM SUMATRA

CHECKLIST OF TERMITE (ISOPTERA) RECORDED FROM BUKIT LAWANG, NORTH SUMATRA

PENGENALAN RAYAP PERUSAK KAYU YANG PENTING DI INDONESIA

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2017 ISBN:

RAYAP KAYU (ISOPTERA) PADA RUMAH-RUMAH ADAT MINANGKABAU DI SUMATERA BARAT

Deskripsi ulang dan sarang Bulbitermes germanus (Haviland) (Isoptera: Termitidae) di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Identifikasi Rayap Pada Kayu Umpan Di Kampung Babakan Cimareme Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur

KERAGAMAN JENIS RAYAP PADA HUTAN SEKUNDER DAN AGROFORESTRI DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, SULAWESI TENGAH

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODOLOGI PENELITIAN. tiga tipe kebun kakao di Desa Cipadang. Secara administratif, Desa Cipadang

Karakteristik Populasi Rayap Tanah Coptotermes spp (Blattodea: Rhinotermitidae) dan Dampak Serangannya

Muhammad Sayuthi Laboratorium Hama Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

Zulkaidhah 1), Abdul Hapid 1) dan Ariyanti 1) Staf Pengajar Jurusan Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako Palu,

IDENTIFIKASI SPESIES RAYAP PERUSAK TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) Termite Species Identification as Pests to Jatropha curcas L.

BIOLOGI DAN PENGENDALIAN RAYAP HAMA BANGUNAN DI INDONESIA

KOMPOSISI RAYAP DI KEBUN GAMBIR MASYARAKAT DI KANAGARIAN SIGUNTUR MUDA KECAMATAN KOTO XI TARUSAN KABUPATEN PESISIR SELATAN JURNAL

I. PENDAHULUAN. tiap tahunnya (Rachmawati, 1996), sedangkan menurut Wahyuni (2000), di Kabupaten

BAB III METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Keberadaan sekolah-sekolah sekarang ini dianggap masih kurang

Jenis-jenis Rayap (Isoptera) di Kawasan Hutan Bukit Tengah Pulau dan Areal Perkebunan Kelapa Sawit, Solok Selatan

PENGGUNAAN OLI DAN INSEKTISIDA UNTUK MENGENDALIKAN RAYAP DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

SEBARAN DAN UKURAN KOLONI SARANG RAYAP POHON Nasutitermes sp (ISOPTERA: TERMITIDAE) DI PULAU SEBESI LAMPUNG SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI

Rayap, Serangannya, dan Cara Pengendalian

I. PENDAHULUAN. Perkebunan memiliki peran yang penting dalam pembangunan nasional,

KERAGAMAN SPESIES RAYAP DI KAMPUS UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG GUNUNGPATI SEMARANG

KEANEKARAGAMAN KOMUNITAS RAYAP PADA TIPE PENGGUNAAN LAHAN YANG BERBEDA SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN TEGUH PRIBADI

KEANEKARAGAMAN SPESIES RAYAP PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN KARET MILIK RAKYAT DI JAMBI TRI UTAMI NINGSIH

Keanekaragaman Rayap Tanah di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi

PENGGUNAAN OLI DAN INSEKTISIDA UNTUK MENGENDALIKAN RAYAP DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Keanekaragaman Jenis Rayap Tanah dan Dampak Serangan Pada Bangunan Rumah di Perumahan Kawasan Mijen Kota Semarang

KEANEKARAGAMAN JENIS RAYAP DI KEBUN KELAPA SAWIT PT. BUMI PRATAMA KHATULISTIWA KECAMATAN SUNGAI AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA

IDENTIFIKASI TINGKAT SERANGAN DAN JENIS RAYAP YANG MERUSAK BANGUNAN DI KOTA AMBON

TINJAUAN PUSTAKA. A. Biologi dan Morfologi Rayap (Coptotermes curvignatus) Menurut (Nandika et, al.dalam Pratama 2013) C. curvignatus merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. Kota Medan mempunyai 805 sekolah dasar dengan perincian 401 buah

I. PENDAHULUAN. Indonesia di pasaran dunia. Kopi robusta (Coffea robusta) adalah jenis kopi

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman mahkota dewa memiliki nama ilmiah Phaleria macrocarpa Boerl.,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati.

IDENTIFIKASI DAN POTENSI KERUSAKAN RAYAP PADA TANAMAN TEMBESU ( Fagraea fragrans) DI KEBUN PERCOBAAN WAY HANAKAU, LAMPUNG UTARA

POPULASI RAYAP PADA PERTANAMAN LADA DI WAY KANAN, LAMPUNG

Rayap Sebagai Serangga Perusak Bangunan & Pengendaliannya (Implementasi SNI 2404:2015 dan SNI 2405: 2015)

I. PENDAHULUAN. (Sujatnika, Joseph, Soehartono, Crosby, dan Mardiastuti, 1995). Kekayaan jenis

HASIL. lorong kembara di batang tanaman (b) Data ukuran sarang rayap yang ditemukan.

I. PENDAHULUAN. keanekaragaman hayati flora dan fauna. Kondisi iklim tropis dan berbagai jenis

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2017 ISBN:

TINJAUAN PUSTAKA Klasifikasi dan Biologi Rayap

ABSTRACT STRUCTURE AND COMPOSITION OF THE VEGETATION IN HEPANGAN AGROFORESTRY SYSTEM AT GUMAY ULU AREA LAHAT DISTRICT SOUTH SUMATERA

BAB I PENDAHULUAN. 41 tahun 1999). Menurut Indriyanto (2006), hutan merupakan masyarakat

PEMANFAATAN TUMBUHAN OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT SUKABUMI MUHAMMAD IRKHAM NAZMURAKHMAN

IDENTIFIKASI RAYAP YANG MENYERANG TUMBUHAN PADA ZONA PEMANFAATAN YANG BERBEDA DI KEBUN RAYA UNMUL SAMARINDA (KRUS)

POPULASI RAYAP PADA PERTANAMAN LADA DI WAY KANAN, LAMPUNG

TINJAUAN PUSTAKA. Sistematika hama rayap (Coptotermes curvinagthus Holmgren) menurut

I. PENDAHULUAN. tinggi adalah Taman Hutan Raya Wan Abdurahman. (Tahura WAR), merupakan

TINJAUAN PUSTAKA. setiap kecamatan di Kota Medan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Data jumlah sekolah menengah pertama di setiap kecamatan

Preferensi Substrat dan Kepadatan Populasi Faunus Ater Di Perairan Ekosistem Mangrove Sungai Reuleung Leupung Kabupaten Aceh Besar

KEANEKARAGAMAN JENIS MAMALIA KECIL PADA TIGA HABITAT YANG BERBEDA DI LHOKSEUMAWE PROVINSI ACEH

I. PENDAHULUAN. Salah satu primata arboreal pemakan daun yang di temukan di Sumatera adalah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN dengan pusat pemerintahan di Gedong Tataan. Berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. Anggapan ini terbentuk berdasarkan observasi para ahli akan keanekaragamannya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. organisme hidup yaitu tumbuhan (Praptoyo, 2010). Kayu termasuk salah satu hasil

Pemetaan Pandan (Pandanus Parkins.) di Kabupaten dan Kota Malang

KEANEKARAGAMAN PHYTOTELMATA SEBAGAI TEMPAT PERINDUKAN ALAMI NYAMUK DEMAM BERDARAH DI KOTA METRO PROVINSI LAMPUNG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Nama Responden Jabatan Pekerjaan Jenis Kelamin (P/L) Alamat JOSEPTIAN PURBA Direktur L Jl. Gaperta Ujung Perumahan Tosiro Indah No.

Identifikasi Rayap Di Bangunan Cagar Budaya Lawang Sewu Kota Semarang. Identification Of Termites In Lawang Sewu Heritage Building Semarang City

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2015 ISBN:

SERANGAN RAYAP COPTOTERMES

BAB I PENDAHULUAN. Hasil hutan non kayu sebagai hasil hutan yang berupa produk di luar kayu

I. MATERI DAN METODE PENELITIAN Letak Giografis Lokasi Penelitian Pekanbaru terletak pada titik koordinat 101 o o 34 BT dan 0 o 25-

PRAKATA. merupakan laporan hasil penelitian mengenai Inventarisasi Jamur Pelapuk Putih

Morfometrik dan Karakteristik Serangan Coptotermes sp. Pada Gedung Pemerintahan di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan

JENIS-JENIS RAYAP(INSEKTA: ISOPTERA) YANG TERDAPAT DI KECAMATAN BANGUN PURBA KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

I. PENDAHULUAN. Siamang (Hylobates syndactylus) merupakan salah satu jenis primata penghuni

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. pantai yang mempunyai arti strategis karena merupakan wilayah terjadinya

DAFTAR PUSTAKA. Anonim Obor. Biro Perencanaan Perum Perhutani Unit I. Jawa Tengah.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

KARAKTERISTIK HABITAT Trigona spp. DI HUTAN LARANGAN ADAT DESA RUMBIO KABUPATEN KAMPAR

II. TINJAUAN PUSTAKA

Anang Kadarsah ABSTRACT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN

IDENTIFIKASI DAMPAK DAN TINGKAT SERANGAN RAYAP TERHADAP BANGUNAN DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI

BAB I PENDAHULUAN. dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Anonim, 2006). Dengan. Banyak faktor yang membuat potensi hutan menurun, misalnya

KERAGAMAN LEPIDOPTERA PADA DUKUH DAN KEBUN KARET DI DESA MANDIANGIN KABUPATEN BANJAR

Rayap Sebagai Serangga Perusak Kayu Dan Metode Penanggulangannya

HERBARIUM. Purwanti widhy H 2012

DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009

KERUGIAN EKONOMIS AKIBAT SERANGAN RAYAP PADA BANGUNAN RUMAH MASYARAKAT DI DUA KECAMATAN (MEDAN DENAI DAN MEDAN LABUHAN)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Tanaman lada (Piper nigrum L) merupakan salah satu komoditi ekspor.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

Jurnal Natural Vol. 13, No. 2, 2013 TERMITES ENDANGERED TRADITIONAL MEDICAL PLANTS Syaukani Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala Darussalam 23111 Banda Aceh, Indonesia. Email. Syaukani@gmail.com Abstract. Surveys on traditional medical plants affected by termites have been conducted since June to August 2010 at Ketambe, northern Aceh. Traditional medical plants and their natural habitats weree obtained through interviewing local people. Termites were collected by adopted a Standardized Sampling Protocol and final taxonomic confirmation was done with the help of Termite Research Group (the Natural History Museum, London). About 20 species of medical plants were attacked by termites with various levels. Nine genera and 20 species were collected from various habitats throughout Ketambe, Simpur as well as Gunung Setan villages. Coffe (Coffea arabica), hazelnut (Aleurites moluccana), and areca (Area catechu) were among the worse of traditional medical plant that had been attached by the termites. Keywords: Traditional medical plants, termite, northen Aceh I. INTRODUCTION Rayap dikenal sebagai hamaa dalam industri perkebunan dan perkayuan dikarenakan nilai kerugian ekonomi yang ditimbulkannya semakin meningkat. Serangga ini tidak hanya menyerang kayu yang sudah mati, akan tetapi kayu dan pohon yang masih hidup juga tidak luput dari gangguannya [1,20]. Spesies tertentu dari genera Coptotermes dan Microcerotermes [3], Macrotermes dan Odontotermes [2] merupakan hama yang menyerang tanaman yang masih hidup maupun yang sudah mati. Secara taksonomi rayap diklasifikasikan ke dalam serangga sosial yang termasuk ke dalam kelompok Ordo Isoptera [3], populasi suatu koloni bervariasi dari hanya beberapa individu sampai lebih dari satu juta [4]. Sampai saat ini lebih dari 2.800 spesies dan 281 genera rayap telah di identifikasi di seluruh dunia yang terbagi ke dalam tujuh famili (Mastotermitidae, Serritermitidae, Kalotermitidae, Rhinotermiti- dan Termi- dae, Termopsidae, Hodotermitidae tidae) [5,20]. Lima famili yang terakhir tersebar di Wilayah Oriental [6], sedangkan di Indo-Malayan hanya ditemukan tiga famili (Kalotermitidae, Rhinotermitidae dan Termiti- material kayu dae) [7,18,19]. Proses dekomposisi berbagai yang berguguran di lantai hutan tidak terlepas dari peranan berbagai jenis rayap sebagai salah satu invertebrata pengurai [8,9,10,12,20,21,22]. Sisa material kayu yang telah diuraikan rayap akan dikembalikan lagi ke alam dalam bentuk feses yang langsung menjadi nutrien bagi tumbuhan, ataupun berupa pecahan material yang lebih kecil sehingga bisa dimanfaatkan oleh organisme lainnya [17]. Rayap mampu mengurai serasah daun lebih dari 38 kg/ha/minggu. Jumlah ini sebanding dengan 32% dari keseluruhan dedaunan yang gugur di lantai hutan [14]. 15

Sedikitnya kajian yang dilakukan tentang interaksi antara serangga dengan tumbuhan di hutan tropis mengakibatnya banyak potensi sumber daya alam yang dapat dipergunakan sebagai insektisida di hutan tropis Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal, terutama dalam pemanfatan jenis serangga tertentu sebagai agen pengendalian hayati. Sekitar 25% obat-obatan yang dipakai di dunia ini bahan baku utamanya berasal dari hutan tropis. Obat-obatan tersebut yang sudah lazim dikenal adalah berupa obat bius, nyeri di otot, oral kontrsepsi, hipertensi, malaria, diare, kanker dan lainnya [13]. Sampai saat ini belum ada informasi tentang berbagai jenis rayap yang menyerang tanaman obat di Indonesia. Di samping itu juga akan terungkap tentang perilaku rayap dalam menginfeksi suatu tanaman obat di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. II. MATERIALS AND METHODS Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di tiga desa, yaitu Ketambe, Simpur, dan Gunung Setan, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh yang dari Juni- November 2010. Bahan dan Alat Bahan-bahan dan peralatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: Parang, gergaji, cangkul kecil, tempayan dan wadah plastik, forceps berbagai ukuran, meteran dan alat-alat tulis, kamera digital, botol vials berbagai ukuran, plastik pembungkus dan pengikat, ethanol dan peta, mikroskop sterio, Heliconsofware, cawan petri, mounting-slide medium, insect-pins berbagai ukuran, dan kertas label. Metode Kerja Data berbagai jenis tumbuhan obat tradisional diperoleh dengan mewawancarai masyarakat yang tinggal di desa Simpur, desa Ketambe dan desa Gunung Setan. Wawancara ditujukan kepada tiga kelompok responden (Tabel 1). Tabel 1. Kelompok responden yang diwawancarai untuk mengetahui tumbuhan obat tradisional di Kecamatan Ketambe No. Kelompok Responden 1. Perangkat desa: -Kepala desa -Kepala dusun 2. Tabib (dukun Kampung) 3. Masyarakat Keterangan kepala desa (1 orang), kepala dusun (3 orang) per desa 2 orang 20 orang per desa Berdasarkan informasi yang telah diperoleh melalui wawancara, maka dilakukan survei di sekitar perumahan warga, kebun, dan sekitar hutan. Metode yang dipergunakan dalam mengoleksi rayap adalah Standardized Sampling Protocol [13,17,33]. Untuk memudahkan dalam pengambilan data, dua orang warga masyarakat yang mempunyai penge-tahuan tentang tumbuhan obat tradisonal selalu mendampingi peneliti dalam pengambilan data. Pencarian tanaman yang berpotensi sebagai obat dilakukan dengan penyisiran di setiap habitat yang diduga terdapat berbagai jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat. Adanya lorong-lorong kembara yang menempel di batang pohon, sarang rayap, serta iring-iringan rayap yang sedang bergerak di lantai hutan merupakan indikasi yang memudahkan dalam menemukan lokasi sarang rayap. Diusahakan untuk mengoleksi rayap dari kasta prajurit, kasta pekerja dan laron sekitar 50 individu per koloni. Semua spesimen rayap yang telah dikoleksi diawetkan dalam ethanol 80% dan dibawa ke laboratorium untuk diiden-tifikasi. Rayap yang telah dikoleksi di lapangan diidentifakasi dengan mengacu kepada ribuan spesiman rayap yang telah dikoleksi dari berbagai tempat di Asia Tenggara. Untuk jenisjenis rayap yang sulit diidentifikasi dikonsultasikan dengan peneliti dari Termite Research Group, Natural History Museum (London). 16

untuk mendapatkan keakuratan data taksonomi. Karakter-karakter morfologi yang dipergunakan dalam penelitian ini mengacu pada [12,28, 30,32,34,35,]. Metode pengukuran untuk setiap spesies mengacu pada [28,35]. III. RESULTS AND DISCUSSION Jenis rayap yang menyerang tumbuhan obat tradisional Ditemukan tiga famili, sembilan genus dan 20 jenis rayap yang menyerang berbagai jenis tumbuhan obat tradisional di Kecamatan Ketambe (Tabel 2). Termitidae mempunyai jumlah jenis yang tertinggi (14), Rhinotermitidae (5) dan hanya satu spesies (Cryptotermes breviacaudatus) yang mewakili Kalotermitidae. Tabel 2. Jenis-jenis rayap yang menyerang tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tradisional di Ketambe, Ekosistem Leuser No. Famili Genus Spesies 1 Kalotermitidae Cryptotermes Cryptotermes breviacaudatus 2 Rhinotermitidae Coptotermes Coptotermes sepangensis 3 C. kalshoveni 4 C. havilandi 5 Schedorhinotermes Schedorhinotermes sarawakensis 6 S. medioobscurus 7 Termitidae Macrotermes Macrotermes malaccensis 8 Odontotermes Odontotermes grandiceps 9 O. oblongatus 10 O. sarawakensis 11 O. denticulatus 12 Bulbitermes Bulbitermes subulatus 13 B. constrictus 14 B. neopusillus 15 Nasutitermes Nasutitermes neoparvus 16 N. longinasoides 17 N. matangensis 18 N. sp. X1 of SYK 19 Hospitalitermes Hospitalitermes hospitalis 20 Lacessititermes Lacessititermes. sp. nov Total 3 9 20 Tumbuhan obat tradisional yang diserang rayap Tanaman kopi (Coffea arabica) merupakan tanaman yang sudah cukup lama dikenal sebagai tumbuhan yang mampu mengobati berbagai jenis penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman ini paling banyak diserang oleh rayap (5 jenis): C. sepangensis, M. malaccensis, O. oblongatus, O. sarawakensis, dan N. neoparvus. C. sepangensis dan O. oblongatus menyerang tanaman kopi yang masih hidup maupun yang sudah mati dan banyak membangun lorong-lorong kembara di bagian batang sampai masuk ke dalam tanah. Diduga bahwa awal serangan dimulai dengan membangun lorong-lorong kembara dari bagian pangkal atau akar, selanjutnya mulai menginfeksi bagian-bagian tanaman kopi yang sudah mulai kering, lalu masuk ke dalam bagian batang. Sedangkan O. sarawakensis, M. 17

Termites Endangered Traditional Medical Plants malaccensis dan N. neoparvus menyerang tanaman kopi yangg sudah mati, mati serta ditemukan juga yang menyerang tanaman kopi yang sudah lapuk. dan O. grandiceps. O. grandiceps dan C. havilandi menyerang batang pinang yang masih hidup dan sudah mati, sedangkan S. medioobscurus dan M. malaccensis hanya ditemukan menyerang batang pinang yang sudah mati tetapi masih tegak berdiri, batang pinang yang sudah tumbang, dan batang pinang yang sudah mulai lapuk. Kemiri (Aleurites moluccana)) merupakan tanatana man yang bernilai ekonomi cukup penting bagi masyarakat Ketambe. Kemiri diserang oleh rayap jenis C. breviacaudatus, C. sepangensis, S. medioobscurus, dan M. malaccensis. malaccensis Rayap yang menyerang batang kemiri umumnya mulai merusak dari bagian akar sampai ke batang di bagian atas (Gambar 1) Umumnya rayap-rayap rayap ini lebih memilih bagian dalam batang yang lebih lembut, lembut sedangkan bagian luar yang keras (kulit batang) dipergunakan sebagai media pelindung untuk melindungi rayap-rayap rayap tersdebut dari dari predator. Bagian luar batang pinang yang keras ini juga berfungsi untuk tetap menjaga kelembaban tubuh rayap. Nangka (Artocarpus Artocarpus heterophyllus) heterophy diserang oleh tiga jenis rayap (C. C. kalshoveni, O. grandiceps, B. neopusillus). ). C. kalshoveni menginfeksi pohon yang masih hidup, sedangkan O. grandiceps dan B. neopusillus menyerang pohon nangka yang sudah mati. C. kalshoveni mulai menyerang batang bata dari bagian akar dan pangkal batang, lalu membangun lorong-lorong lorong kembara mencapai dahan atau bagian tumbuhan yang sudah mulai kering atau lapuk (Gambar 2). Gambar 1. Pohon kemiri (A. A. moluccana) moluccana diserang rayap S. medioobscurus. medioobscuru Hampir semua rayap yang menyerang pohon kemiri lebih memilih menginfeksi bagian dalam batang pohon dibandingkan bagian luar (kulit). C. breviacaudatus dan C. sepangensis menyerang tanaman kemiri yang masih hidup dan sudah mati, sedangkan S. medioobscurus medioobscuru dan M. malaccensis ditemukan di dalam batang kemiri yang sudah mati dan mulai lapuk. Tidak diketahui apakah kedua jenis rayap ini menyerang pohon kemiri ketika tumbuhan ini masih hidup atau baru mulai diserang ketika batang sudah mati. Pinang (Area catechu)) diserang oleh rayap C. havilandi, S. medioobscurus, M. malaccensis, Gambar 2. Pohon nangka (A. A. heterophyllus) heterophyllus diserang rayap C. kalshoveni. 18

Rampah (Parkia intermedia ) diserang oleh tiga jenis rayap (O. grandiceps, B. subulatus, dan B. constrictus). O. grandicep menyerang dibagian kulit dan batang, sedangkan B. constrictus dan B. subulatus hanya menginfeksi bagian kulit dan belum memnginfeksi ke dalam batang. Karena ukuran pohon yang sangat tinggi dan besar sehingga sangat sulit untuk memastikan apakah dibagian atas terdapat dahan dan cabang yang sedang diifeksi olah rayap. Aren (Arenga pinnata) diserang oleh jenis rayap B. subulatus dan Lacessititermes sp. nov. Rayap-rayap ini lebih memilih menyerang bagian dalam pelepah aren, terutam pelepah yang sudah kering dan lapuk. Beberapa pelepah aren sudah kosong (bagian dalamnya telah dimakan rayap) lalu dibiarkan begitu saja. Lacessititermes sp. nov. menyerang pangkal pelepah yang sudah kering yang melekat pada batang (dekat pangal batang), sedikitnya rayap yang terdapat di bagian ini mengindikasikan bahwa makanan utama Lacessititermes sp. nov mungkin bukan material dari pohon aren, tetapi material kayu lainnya yang banyak terdapat di sekitar pohon aren. Lacessititermes sp. nov membangun sarang di bagian tengah pelepah aren yang masih hidup, ukuran sarang sebesar genggaman tangan orang dewasa. Morfologi sarang spesies ini merupakan karakter penting dalam mengidentifikasi sampai ke tingka jenis. Asam kandis (Glucinia xanthochymus) diserang oleh rayap jenis M. malaccensis dan N. sp. X1 of SYK. Tidak diketahui apakah kedua jenis rayap jenis ini menyerang pohon asam kandis ketika masih hidup atau sudah mati. M. malaccensis banyak ditemukan dibagian tengah batang yang sudah mulai lapuk, sedangkan N. sp. X1 of SYK ditemukan di bagian tengah dan luar batang asam kandis yang sudah mulai lapuk. Beberapa koloni semut juga mempergunakan batang asam kandis ini sebagai koloni. Pala (Myristica fragrans) diserang oleh rayap jenis C. kalshoveni, O. grandiceps, dan O. oblongatus. O. grandiceps dan O. oblongatus menyerang batang pala yang sudah mati, serangan dimulai dari bagian kulit pohon terlebih dahulu (rayap banyak menempati celah antara kulit dan batang pala), lalu perlahan menginfeksi ke dalam batang pala. Kemungkinan tingkat kekerasan kayu batang pala sedikit menyukarkan rayap untuk masuk ke dalam batang pala. Banyak ditemukan loronglorong kembara rayap di sekitar pangkal batang. C. kalshoveni menyerang batang pala dibagian yang patah dan jatuh ke tanah (sebagian batang yang tinggal masih hidup). C. kalshoveni banyak ditemukan menempati bagian batang yang bersentuhan langsung dengan permukaan tanah. Tidak diketahui apakah rayap ini menyerang batang pala ketika masih hidup atau sudah mati. Nilam (Pogostemon cablin) diserang oleh rayap jenis S. medioobscurus dan O. grandiceps. Koloni S. medioobscurus yang menyerang nilam ini terletak di dalam pohon kayu (Kayu Slon/Malu Tua) yang berdekatan dengan dengan tanaman nilam. Tidak diketahui kenapa rayap ini hanya menyerang bagian akar tanaman nilam saja. O. grandiceps menyerang akar nilam yang masih hidup dan tanaman nilam yang sudah mati dan jatuh ke tanah. Akar rambut galang (Acacia pennata) diserang oleh N. neoparvus yang menginfeksi hampir seluruh bagian dalam dari liana ini. Preferensi serangan rayap lebih banyak terhadap bagian liana yang sudah mati dan mulai lapuk. Diduga rayap yang menyerang liana ini masuk ke dalam bagian tengah liana melalui bagian yang berhubungan langsung dengan tanah. Kulit luar liana ini tetap terjaga dengan baik, sehingga sangat berguna bagi rayap dalam memproteksi dirinya dari predator. Akar kuning (Acacia sp.) diserang oleh S. sarawakensis dengan tingkat serangan yang cukup parah, sebagian besar bagian tengah liana telah kosong dan berisi rayap. Karena posisi liana ini yang membelit pohon Gelinggang merak sedang (Dysoxylum sp.) sehingga banyak lorong-lorong kembara yang 19

mengelilingi pohon Dysoxylum sp. yang berasal dari liana ini. Rayap ini juga sudah mulai menginfeksi pohon Dysoxylum sp. Kelapa (Cocos nucifera) diserang oleh rayap jenis O. grandiceps. Rayap ini menginfeksi bagian pelepah yang sudah mati. Sebagian rayap juga mulai menginfeksi buah kelapa yang sudah kering dan masih bergantungan. Pangkal pelepah yang lembab (banyak terdapat sisa material tumbuhan yang sudah lapuk) menjadi tempat yang ideal bagi O. grandiceps dalam menginfeksi tanaman ini. batang tampu ini sudah mulai kosong dibagian tengahnya. Umumnya rayap ini juga memanfaatkan bagian tengah kayu sebagai sumber makanan, dan lebih mudah membawanya ke dalam sarang (di bagian akar dan pangkal pohon). Sarang rayap ini mempunyai enam pintu yang dijaga oleh rayap kasta prajurit. Terjadi pertarungan antara semut (Selenopsis spp.) dan kasta prajurit Hospitalitermes hospitalis karena semut menyerang iring-iringan kasta pekerja rayap yang sedang mengangkut makanan ke dalam sarang (Gambar 3). Sirih hutan (Piper sarmentosum) diserang oleh rayap jenis N. neoparvus. Umumnya rayap menyerang bagian batang sirih yang merambat di pohon durian (Durio zibethinus) sampai ke bagian tangkai daun, namun tidak ada bagian daun yang diserang oleh rayap jenis ini. Secara visual terlihat bahwa tanaman sirih hutan ini sudah mulai kurang sehat yang ditandai dengan banyak bagian daun sudah mulai kekuningkuningan. Di samping menyerang sirih hutan, rayap ini juga menginfeksi kulit batang durian, serta di beberapa bagian sudah mulai terlihat menginfeksi ke dalam batang durian. Banyak ditemukan rayap bergerombol di dalam kulit batang durian. Buluh (Schizostachyum mosum) diserang oleh rayap jenis O. grandiceps. Rayap ini menginfeksi buluh yang sudah mati, terutama bagian buluh yang sudah mulai lapuk. O. grandiceps menginfeksi buluh dibagian pangkal saja, sedangkan dibagian atas belum terinfeksi. Juga ditemukan koloni semut (Componotus sp.) dibagian buku/segmen buluh bagian atas. Banyaknya serasah yang menutupi pangkal buluh sehingga menyulitkan untuk mendeteksi letak sarang rayap ini. Tampu biasa (Macaranga tanarius) diserang oleh rayap jenis H. hospitalis. Rayap ini mempergunakan bagian akar dan pangkal untuk dijadikan sarang. Hampir seluruh bagian pangkal pohon dibalut dengan tanah dan material-material kayu yang sudah terlebih dahulu dihancurkan untuk membuat sarang. Pemeriksaan secara fisik menunjukkan bahwa Gambar 3. H. hospitalis sedang mengangkut makanan ke dalam sarang di pohon tampu biasa (M. tanarius). Waru (Hibiscus tiliaceus) diserang oleh rayap jenis B. subulatus. Rayap ini terlihat sangat mendominasi pohon waru, karena lebih dari 50% pohon waru sudah diinfeksi oleh rayap. Walaupun sebagain besar pohon ini masih hidup, tetapi bagian dalam batang dan dahan sudah diinfeksi. Rayap ini membangun sarang yang cukup besar di batang pohon waru dan hampir semua dahan terdapat lorong-lorong kembara yang memudahkan rayap dalam mengangkut makanan ke dalam sarang. Secara morfologi sangat sulit membedakan antara 20

sarang B. subulatus dengan N. matangensis yang menginfeksi pohon waru. Tingkem (Bischoffia javanica) diserang oleh rayap jenis N. matanagensis. Belum ditemukan adanya N. matangensis yang menginfeksi bagian dalam kayu, mungkin dikarenakan pohon sangat keras, sehingga N. matangensis hanya menginfeksi bagian kulit saja. Banyak dijumpai lorong-lorong kembara yang disekitar pohon, terutama di bagain pangkal pohon. Banyaknya lorong-lorong kembara yang berhubungan dengan permukaan tanah mengindikasikan bahwa rayap ini mulai menginfeksi pohon tingkem mulai dari dalam tanah. Penulis menyadari bahwa sebenarnya masih cukup banyak jenis-jenis tumbuhan obat yang perlu dikaji sehubungan dengan preferensi rayap dalam menyerang tanaman obat tertentu di Ketambe. Apakah kandungan senyawa kimia tertentu yang terdapat pada suatu jenis tumbuhan menjadi daya tarik teresndiri bagi rayap untuk menginfeksinya, atau kumngkinan ada fonomena lainnya tentang keterkaitan antara suatu jenis rarap dengan jenis tumbuhan tertentu. CONCLUSION Ditemukan tiga famili (Kalotermitidae, Rhinotermitidae, dan Termitidae), sembilan genera dan 20 jenis rayap yang menyerang tumbuhan obat tradisional di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Rayap dari genus Odontotermes mempunyai jumlah jenis yang paling banyak (4 jenis) menyerang tumbuhan obat tradisional. Ditemukan satu jenis rayap baru dari genus Lacessititermes (L. sp. nov.) yang bersarang di pohon aren (Arenga pinnata). Ditemukan 20 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tradisional yang diserang oleh berbagai jenis rayap. Tanaman kopi, kemiri, dan pinang merupakan tumbuhan obat tradisional yang paling banyak diserang rayap. B. subulatus yang mempergunakan pohon waru (Hibiscus tiliaceus) sebagai nestingsite baru pertama dilaporkan sejak lebih lebih seratus tahun. AKNOWLEGMENT Penulis mengucapkan terimaksih kepada Zumaidar, Susan Helmi, Jaili Marlina (MIPA Biologi, Unsyiah) yang telah membantu peneliti selama pengambilan data di lapangan. Usman dan Mat Plin (BKEL) sangat membantu dalam identifikasi tumbuhan obat. Kepala desa, tabib, dan masyarakat desa Ketambe, Simpur, dan Gunung Setan yang sangat membantu selama penelitian ini berlangsung. Natural History Museun (UK), MZB Cibinong, dan Biodiversity Institute of Ontario (Canada) banyak membantu dalam identifikasi rayap. Penelitian ini dilaksanakan atas bantuan dana dari DIKTI (IMHERE Project) dan Skim Penelitian Fundamental (2012-2013). REFERENCES 1. M.L. Roonwal, O.B. Chhotani, 1989, The Fauna of India and the Adjacent Countries, vol. 1. Zoological Survey of India, Calcuta, 672pp. 2. D. Nandika, Y. Rismayadi, F. Diba, 2003, Rayap, biologi dan pengendaliannya. Muhammadiyah University Press, Surakarta, 216pp. 3. M.J. Pearce, 1997, Termites biology and pest management. CAB International, Wallingford, United Kingdom, 172 pp. 4. O.B. Chhotani, 1997, Fauna of India- Isoptera (Termites) Vol. II. Zoological Survey of India, Calcuta, 800pp. 5. S. Kambhampati, P. Eggleton, 2000, Phylogenetics and taxonomy. In Abe T, Bignell DE and Higashi M (eds.), Termites: evolution, sociality, symbiosis, ecology. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht, the Netherlands, pp. 25-51. 6. A.H. Prasetyo, 2007, Biosystematics of Hospitalitermes and Lacessititermes 21

(Isoptera, Termitidae, Nasutitermitinae): the Southeast Asian Processionary Termites. PhD thesis, University of London, London, 186pp. 7. M. Ahmad, 1965, Termites (Isoptera) of Thailand. Bulletin of the American Museum of Natural History, 131: 1-113. 8. N.M. Collins, 1983, Termite population and their role in litter removal in Malaysian rain forests. In Sutton SL, Whitmore TC, Chadwick AC (eds.), Tropical Rain Forest: Ecology and Management. Blackwell Scientific Publication, Oxford, pp. 311-325. 9. N.M. Collins, 1989, Termites. In Leith, H. & Werger, M.A.J. (eds.), Tropical Rain Forest Ecosystems, Biogeographical and Eecological Studies, Elsevier, Amsterdam, pp. 455-471 10. F. Gathorne-Hardy, D.T. Jones, Syaukani, 2002, A regional perspective on the effects of human disturbance on the termites on Sundaland. Biodiversity and Conservation, 11: 1991-2006. 11. F. Gathorne-Hardy, Syaukani, P. Eggleton, 2000, The effects of altitude and rainfall on the composition of the termites (Isoptera) of the Leuser Ecosystem (Sumatra, Indonesia). Journal of Tropical Ecology, 17:379-393. 12. T.G. Wood, W.A. Sands, 1978, The role of termites in ecosystems. In Brian MV (ed.), Production ecology of ants and termites. Cambridge University Press, Cambridge, 245-295pp. 13. J. Brimacombe, S. Elliot, 1996, Medical Plants in Gunung Leuser National Park. In van Schaik C, and Supriatna J (eds.), Leuser Santuary. Yayasan Bina Sains Hayati, Indonesia, pp. 330-335. 16. Syaukani, 2008, A new species of Lacessititermes (Isoptera, Termitidae, Nasutitermitinae) from the Mentawai Islands, Indonesia. Sociobiology, 52: 459-469. 17. M. Saleh, 1989, Serangga dan Manusia. Dewan Bahasa dan Pustaka, Kemen-trian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 204pp. 18. R.S. Thapa, 1981, Termites of Sabah, Sabah Forest Record, 12: 1-374. 19. Y.P. Tho, 1992, Termites of Peninsular Malaysia. Malayan Forest Records, 36: 1-224, Forest Research Institute Malaysia, Kepong. 20. Syaukani, 2013, Termites species richness and distribution at residentisial area in PT Arun LNG, Jurnal Natural 13(1):43-49. 21. F.J. Gathorne-Hardy, Syaukani, D.J.G. Inward, 2006, Recovery of termite (Isoptera) assemblages structure from shifting cultivation in Barito Ulu, Kalimantan, Indonesia. Journal of Tropical Ecology 22:605-608. 22. Syaukani, 2012, Checklist of termite (Isoptera) recorded from Bukit Lawang, North Sumatra, Jurnal Natural 12(2):35-39. 23. FJ Gathorne-Hardy, DT Jones, Syaukani, 2002, A regional perspective on the effects of human disturbance on the termites of Sundaland, Biodiversity and Conservation 11: 1991-2006. 14. Matsumoto T. 1978. The role of termites in the decomposition of leaf litter on the forest of Pasoh Forest study area. Malayan Nature Journal, 30 (2): 405-413. 15. D.T. Jones, P. Eggleton, 2000, Sampling termites assemblages in tropical forest: testing a rapid biodiversity assessment protocol. Journal of Applied Ecology 31:191-203 22