PEMANFAATAN DAUN INDIGOFERA SEBAGAI PEWARNA ALAMI BATIK

dokumen-dokumen yang mirip
PEMANFAATAN LIMBAH SERBUK KAYU MAHONI SEBAGAI PEWARNA ALAMI BATIK

Dian Ramadhania, Kasmudjo, Panji Probo S. Bagian Teknologi Hasil Hutan,Fakultas Kehutanan, UGM Jl. Agro No : 1 Bulaksumur Yogyakarta.

KUALITAS PEWARNAN BATIK YANG DIHASILKAN DARI PERBEDAAN KONSENTRASI dan BAHAN FIKASI BAHAN PEWARNA DAUN MANGGA ARUM MANIS (Mangifera Indica LINN)

Pemanfaatan Bagian Cabang dan Pucuk Cabang Dalbergia latifolia sebagai Pewarna Alami Kain Batik

KUALITAS BAGIAN CABANG DAN PUCUK CABANG Manilkara kauki SEBAGAI PEWARNA ALAMI KAIN BATIK

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Zat Warna Alami dari Buah Mangrove Spesies Rhizophora stylosa sebagai Pewarna Batik dalam Skala Pilot Plan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN EKSTRAK WARNA DAUN ALPUKAT SEBAGAI ZAT PEWARNA ALAM (ZPA) TEKSTIL PADA KAIN SUTERA

KEWIRAUSAHAAN (Kode : G-02)

Pengaruh Konsentrasi dan Jenis Bahan Fiksasi dalam Pemanfaatan Daun Jati (Tectona grandis Linn.f ) sebagai Bahan Pewarna Alami Batik

ZAT WARNA BEJANA/INDHANTHREN UNTUK PEWARNAAN BATIK

PENGARUH EKSTRAKSI ZAT WARNA ALAM DAN FIKSASI TERHADAP KETAHANAN LUNTUR WARNA PADA KAIN BATIK KATUN

PENGARUH EKSTRAKSI ZAT WARNA ALAM DAN FIKSASI TERHADAP KETAHANAN LUNTUR WARNA PADA KAIN BATIK KATUN

Bayu Wirawan D. S. 1, Hazbi As Siddiqi 2. Dosen Program Studi Teknik Batik, Politeknik Pusmanu

Emy Budiastuti dan Kapti Asiatun ( Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana FT UNY)

LAPORAN TUGAS AKHIR PEMBUATAN DAN APLIKASI ZAT WARNA ALAMI DARI BUAH MANGROVE JENIS Rhizophora stylosa

PENCELUPAN PADA KAIN SUTERA MENGGUNAKAN ZAT WARNA URANG ARING (ECLIPTA ALBA) DENGAN FIKSATOR TAWAS, TUNJUNG DAN KAPUR TOHOR

Titiek Pujilestari Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jl. Kusumanegara No.7 Yogyakarta

ALAT PENGERING BERKABUT UNTUK MENGHASILKAN ZAT WARNA ALAMI DARI KULIT KAYU MAHONI, JAMBAL, DAN TINGI GUNA MENGGANTIKAN SEBAGIAN WARNA SINTETIK BATIK

III. METODE PENELITIAN

Membuat Tekstil Dengan Teknik Rekalatar

TEKNIK EKSPLORASI ZAT PEWARNA ALAM DARI TANAMAN DI SEKITAR KITA UNTUK PENCELUPAN BAHAN TEKSTIL Noor Fitrihana,ST Jurusan PKK FT UNY

SENI KERAJINAN BATIK. Oleh : Ismadi Pendidikan Seni Kerajinan Jur. Pend. Seni Rupa FBS UNY

Agus Haerudin, Dana Kurnia Syabana, Dwi Wiji Lestari Balai Besar Kerajinan dan Batik Jl. Kusumanegara No. 7 Yogyakarta

BAB IV KAJIAN KULIT BUAH KAKAO SEBAGAI PEWARNA ALAMI PADA TEKSTIL

Titiek Pujilestari dan Irfa ina Rohana Salma Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jl. Kusumanegara No.7 Yogyakarta

PENGARUH FIKSATOR PADA EKSTRAK AKAR MENGKUDU TERHADAP PEWARNAAN JUMPUTAN

SENI KERAJINAN BATIK TEKNIK/PROSES MEMBATIK. Oleh: ISMADI PEND. SENI KERAJINAN JUR. PEND. SENI RUPA FBS UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan Latifah, 2007; Bariqina dan Ideawati, 2001). Batang-batang rambut

Proses pemberian warna pada bahan tekstil secara merata dengan menggunakan media air.

Dosen Program Studi Teknik Batik Politeknik Pusmanu Pekalongan 2) Program Studi D3 Teknik Batik Politeknik Pusmanu Pekalongan

TEKNIK PENGOLAHAN ZAT WARNA ALAM (ZPA) UNTUK PEWARNAAN BATIK

Diterima: 19 Oktober 2016, revisi akhir: 8 Desember 2016 dan disetujui untuk diterbitkan: 10 Desember 2016

BAB I PENDAHULUAN. Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja, 1997).

BAB II METODE PERANCANGAN. A. Analisis Permasalahan. diperlukan analisis pada permasalahan tersebut ; analisa yang pertama diperoleh

PEMANFAATAN ZAT WARNA ALAM DARI EKSTRAK KULIT AKAR MENGKUDU (Morinda citrifolia Linn) PADA KAIN KATUN

KRiYA TEKSTIL DAN BATIK 1 OLEH: TITY SOEGIARTY JURUSAN PENDIDIKAN SENI RUPA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009

2014 EKSPERIMEN WARNA ALAM MANGGA ARUMANIS, MANGGA GEDONG GINCU DAN MANGGA SIMANALAGI SEBAGAI PEWARNA KAIN SUTERA

BAB I PENDAHULUAN. Warna memiliki peranan dan fungsi penting dalam kehidupan yang dapat

BAB III METODE PENELITIAN

IMPLEMENTASI EKO-EFISIENSI PADA INDUSTRI BATIK CAP YANG MELAKUKAN PROSES PENCELUPAN PADDING

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Mandi Padat Transparan dengan Penambahan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera) BAB III METODOLOGI

Perbedaan Kualitas Kulit Samak Dari Berbagai Provenans Akasia (Acacia mangium Willd) dan Kepekatan

PENGARUH VARIASI ph DAN FIKSASI PADA PEWARNAAN KAIN KAPAS DENGAN ZAT WARNA ALAM DARI KAYU NANGKA TERHADAP KUALITAS HASIL PEWARNAANNYA

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Tinjauan Pustaka. Nama daerah :tahi kotok (Sunda), kenikir (Jawa)

Jurusan Teknologi Industri Pertanian-Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Jl. Veteran-Malang *

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. adalah salah satu tekstil tradisi yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi

I. PENDAHULUAN. lainnya. Secara visual, faktor warna berkaitan erat dengan penerimaan suatu

PENDAHULUAN Batik merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang saat ini telah berkembang pesat, baik lokasi penyebaran, teknologi maupun desainnya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Yogyakarta merupakan salah satu pusat industri batik yang dikenal sejak

PEMANFAATAN TANAMAN KEMBANG TELEKAN SEBAGAI PEWARNA ALAM BATIK PADA KAIN MORI PRIMA SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Yudi Satria dan Dwi Suheryanto Balai Besar Kerajinan dan Batik, Jl. Kusumanegara no. 7, Indonesia,

Kata kunci: Kulit buah siwalan, Zat warna alam, Pre-mordating, Kain katun. ISBN

Pewarna Alami untuk Pangan KUNING MERAH SECANG

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan

PENGARUH JENIS FIKSATIF TERHADAP KETUAAN DAN KETAHANAN LUNTUR KAIN MORI BATIK HASIL PEWARNAAN LIMBAH TEH HIJAU

PENGEMBANGAN TEKNIK PEWARNAAN ALAMI PADA KERAJINAN SERAT ALAMI DI CV BHUMI CIPTA MANDIRI SENTOLO, KULON PROGO, YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang melibatkan 2 faktor perlakuan


BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SERAT ALAMI DAN SERAT BUATAN (SINTETIS) SERAT ALAMI DAN SERAT BUATAN (SINTETIS)

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel bertempat di daerah Cihideung Lembang Kab

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

ion dari dua zat atau lebih. Pelarut etanol akan melarutkan senyawa polar yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGGUNAAN LILIN DARI MINYAK BIJI KARET UNTUK PEMBUATAN KAIN BATIK THE USE OF WAX FROM RUBBER SEED OIL FOR THE MANUFACTURE OF BATIK FABRIC

BAB III PROSES DAN TEKNIK PENCIPTAAN

STABILISASI LIMBAH CAIR HASIL PENGOLAHAN GAMBIR DAN APLIKASINYA SEBAGAI PEWARNA PADA KAIN SUTERA

UJI KADAR SISA ETANOL DAN ABU TOTAL EKSTRAK ETANOL 80 % DAUN BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus) DAN TANAMAN ANTING-ANTING (Acalypha indica Linn)

LAPORAN PRAKTIKUM. PENGUJIAN SIFAT LARUTAN ASAM DAN BASA Disusun Oleh: Feby Grace B. kombo ( ) UNIVERSITAS SAM RATULANGI

LUKISAN DENGAN TEKNIK PEWARNAAN ALAM DI PERUSAHAAN PRAM S BATIK NATURAL COLOUR YOGYAKARTA SKRIPSI

J. Gaji dan upah Peneliti ,- 4. Pembuatan laporan ,- Jumlah ,-

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A EFEKTIVITAS AMPAS TEH SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA TEKSTIL MALACHITE GREEN

Prosiding Seminar Nasional Jurusan PTBB FT UNY, Volume 4, Tahun 2009

BAB II METODE PERANCANGAN

PENGARUH PEWARNAAN TERHADAP KELUNTURAN WARNA RAMBUT MENGGUNAKAN PEWARNA ALAMI LIMBAH BIJI PEPAYA TERHADAP PENCUCIAN

PENGUJIAN KETAHANAN LUNTUR TERHADAP PENCUCIAN DAN GOSOKAN TEKSTIL HASIL PEWARNAAN DENGAN EKSTRAK CURCUMIN INDUK KUNYIT

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian. Lokasi pengambilan sampel bertempat di sepanjang jalan Lembang-

BAB III METODE PENELITIAN

I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah,

HO-2 PROSES PEMBUATAN BATIK

PENELITIAN POTENSI PENCEMARAN DARI 41 INDUSTRI BATIK DI KLASTER BATIK SRAGEN

PEMANFAATAN LIMBAH KAYU NANGKA UNTUK BAHAN PEWARNA TEKSTIL

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH

IMPLEMENTASI EKO-EFISIENSI PADA INDUSTRI PRINTING BATIK

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Ubi jalar ± 5 Kg Dikupas dan dicuci bersih Diparut dan disaring Dikeringkan dan dihaluskan Tepung Ubi Jalar ± 500 g

PENGARUH BAHAN FIKSASI TERHADAP INTENSITAS WARNA DAN KETAHANAN LUNTUR PEWARNAAN KULIT CRUST IKAN PARI DENGAN PEWARNA SECANG (Caesalpinia sappan L)

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Transkripsi:

PEMANFAATAN DAUN INDIGOFERA SEBAGAI PEWARNA ALAMI BATIK Kasmudjo dan Panji Probo Saktianggi Bagian Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada Jl. Agro No.1 Bulaksumur, Yogyakarta ABSTRAK Tren mode dunia saat ini cenderung mengarah kepada back to nature atau kembali ke alam, sehingga perkembangan pewarna alami semakin meningkat. Salah satu yang saat ini diminati adalah pada pewarnaan batik dengan menggunakan pewarna alami. Penelitian ini mengemukakan tentang pemanfaatan ekstrak daun indigofera sebagai pewarna alami batik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan memanfaatkan daun indigofera sebagai penghasil warna batik. Selain itu, juga untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel penelitian terhadap nilai ketahanan luntur serta mengaplikasikan pewarna alami yang dihasilkan sebagai penyoga batik yang menghasilkan warna biru. Ekstraksi daun Indigifera tinctoria LINN dilakukan dengan ekstraksi panas (perebusan) selama 2 jam. Ekstrak yang dihasilkan digunakan sebagai pewarna kain batik. Variabel yang diteliti berupa konsentrasi bahan pewarna (1 liter air : 5 kg bahan, 1 liter air : 10 kg bahan dan 1 liter air : 15 kg bahan) dan bahan fiksasi pewarna mineral (tawas, kapur) maupun alami (jelawe). Parameter pengujian yang diteliti adalah kadar ekstraktif daun, ketahanan luntur warna terhadap keringat asam, ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari, dan ketahanan terhadap pencucian air panas 40 0 C. Dari penelitian ini diharapkan pewarna alami yang dihasilkan memiliki ketahanan luntur warna yang tinggi dan dapat digunakan sebagai pewarna batik yang ramah lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pengujian ketahanan luntur warna dan penodaan terhadap keringat asam dan pencucian 40 o C serta ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari menunjukkan hasil yang sangat baik (tinggi) yaitu skala 4-5. Perbedaan konsentrasi dan bahan fiksasi tidak berpengaruh terhadap tiga parameter di atas. Analisis mengenai kadar total phenol, kadar tanin, kadar flavonoid daun indigofera berturutturut adalah 21,35%, 0,67% dan 0,39% sehingga tergolong tinggi. Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa daun indigofera sangat berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai zat pewarna alami. Kata kunci : pewarna alami, bahan fiksasi, kualitas batik PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan penggunaan pewarna alami sebagai pewarna tekstil belakangan ini semakin meningkat. Hal tersebut terkait dengan standar lingkungan dan larangan penggunaan pewarna sintetis yang mengandung gugus azo, seperti di Jerman dan Belanda yang mensyaratkan penggunaan bahan pewarna tekstil yang ramah lingkungan dan tidak menghendaki pemakaian pewarna sintetis. Dengan pelarangan penggunaan pewarna sintetis yang mengandung gugus azo tersebut merupakan moment yang tepat untuk mengenalkan kembali pewarna alam yang telah lama ditinggalkan. Penggunaan pewarna tekstil sintetis yang mengandung logam berat akan menimbulkan dampak lingkungan, antara lain pencemaran tanah, air, udara dan dampak langsung bagi manusia seperti kanker kulit, kerusakan otak dan lain-lain. Terdapat pewarna alami pada awal pewarnaan dan proses pewarnaan tidak menggunakan logam berat, besi, bahan kimia toksin dan garam. Disamping itu bahan pewarna dapat diekstrak dari bagian 542

PENGOLAHAN HASIL HUTAN tumbuhan hanya memerlukan air sebagai pelarutnya, dan sisa limbah padat yang dihasilkan dapat didegradasi alam atau dapat digunakan sebagai kompos. Pewarna alam dapat dihasilkan dari tumbuhan, seperti dari bagian batang, akar, daun, bunga, kulit batang dan sebagainya. Menurut Heyne (1987) terdapat sekitar 150 jenis tanaman yang intensif menghasilkan pewarna alam. Warna yang dihasilkan meliputi warna dasar (merah, biru, kuning) dan warna-warna kombinasi seperti coklat, jingga, dan nila. Dari keseluruhan jenis tumbuhan yang digunakan sebagai pengahasil zat warna alam, belum semuanya sudah diuji ketahanan lunturnya. Pada penelitian ini digunakan daun Indigofera, yang dapat menghasilkan warna biru indigo (Nila Jawa). Kelemahan dari pewarna alami yaitu ketahanan lunturnya yang lebih rendah dari pewarna sintetis. Untuk memperoleh ketahanan luntur yang tinggi perlu dilakukan proses fiksasi (pembangkitan warna) yang bertujuan untuk mempertajam warna dan supaya tidak mudah luntur. Dari uraian tersebut, maka dilakukan penelitian berupa usaha pengikatan pewarna dengan menggunakan bahan fiksasi berupa tawas, kapur dan jalawe. Pemilihan bahan fiksasi tersebut didasarkan pada sifat zat yang relatif tidak membahayakan lingkungan dan sering digunakan pada penelitian-penelitian di BBKB. Sebagai bahan pewarna alami digunakan daun Indigofera dengan cara direndam selama 24 jam dengan mengggunakan pelarut air. Pada penelitian ini pewarna yang dihasilkan juga akan dicobakan sebagai pewarna batik dan diuji kualitasnya melalui nilai ketahanan luntur warna yang dihasilkan. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah : 1. Memanfaatkan daun Indigofera tinctoria LINN sebagai bahan pewarna alami batik yang ramah lingkungan. 2. Mengetahui konsentrasi bahan pewarna yang menghasilkan ketahanan luntur warna yang optimal. 3. Mengetahui bahan fiksasi (tawas, kapur, jelawe) yang menghasilkan ketahanan luntur warna yang optimal. 4. Mengaplikasikan pewarna yang dihasilkan sebagai penyoga / pewarna batik. Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang pewarna alami dari daun Indigofera sebagai pewarna tekstil/batik sehingga dapat dijadikan pedoman ataupun pertimbangan bagi pengusaha tekstil/batik atau pengrajin dalam penggunaan pewarna alam. Disamping itu diharapkan dapat mengurangi penggunaan zat pewarna sintetis yang mencemari lingkungan. BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah Daun Indigofera (Indigofera tinctoria LINN), dengan bahan fiksasi berupa Tawas Kapur, dan Jelawe. Bahan lain yang digunakan yaitu Air, Aquades, Soda Abu, Kanji, Natrium Klorida, Histridin mono hidrochlorida, Asam Laktat, Dinatrium ortofosfat nonhidrat, Sabun, Lilin, dan Alkohol. Untuk aplikasi digunakan Kain wol, Kain polyester, Kain mori Birkolin. Peralatan utama yang gigunakan antara lain : alat ekstraksi, timbangan analitik, pemanas, pengaduk, gelas ukur, ph meter, linitest, Gray Scale, AATCC Persipirationtester, Standart celupan berupa Blue wool Gray Scale JIS L 0804 : alat evaluasi perubahan warna sampel uji. Staining Scale JIS L 0805, Cating, Blue Wool, Fade-Ometer, Wira, Pendingin Gelas beker : alat uji kadar ekstraktif larut air panas dan dingin, Cawan saring 3 Mikron. Prosedur 1. Pembuatan ekstrak pewarna : yaitu dengan daun yang memiliki konsentrasi yang berbeda, yakni (1:5, 1:10 dan 1:15), dimana 1 kg bahan bahan dengan 5, 10 dan 15 liter 543

air. Daun direndam di dalam air sampai larutan berubah menjadi warna biru (kurang lebih 24-48 jam), kemudian disaring larutan pewarna diaduk selama 0,5 jam dengan menambahkan 30 gram kapur. Setelah menjadi pasta, ditambahkan kapur dan gula aren dengan perbandingan 1:1, campuran larutan ini dibiarkan 10 jam dan larutan siap digunakan untuk pencelupan. 2. Pewarnaan kain meliputi : pemordanan, penganjian kain, pengecapan kain (pembatikan), pencelupan dalam pewarna, proses fiksasi (menggunakan tawas, kapur dan jelawe) dengan konsentrasi masing-masing sebesar 25 g/l, pelorodan dan penjemuran kain. 3. Pengujian : Yaitu pengujian kualitas pewarnaan batik berupa uji Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat Asam, uji Tahan Luntur Warna Terhadap Sinar Matahari, uji Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian 40ºC Analisis Data Pengujian kualitas pewarnaan batik menggunakan Rancangan Lengkap (CRD). Faktor yang digunakan yaitu perbedaan konsentrasi dan bahan fiksasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada nilai perubahan ini meliputi pengujian tahan luntur warna terhadap keringat, sinar matahari dan pencucian (sabun). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Nilai Perubahan Warna Pengujian Tahan Luntur terhadap Keringat Asam Konsentrasi (K) Ulangan 1 2 3 K1 F1 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 K2 F1 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 F1 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 Keterangan : F1: Kapur K1: Konsentrasi 1 : 5 Kategori nilai rendah = 1, 1-2, 2 F2: Tawas K2 : Konsentrasi 1 : 10 Kategori nilai sedang = 2-3, 3, 3-4 F3: Jelawe : Konsentrasi 1 : 15 Kategori nilai tinggi = 4, 4-5,5 Tabel 2. Nilai Perubahan Warna Pengujian Sifat Tahan Luntur terhadap Sinar Matahari Konsentrasi (K) K1 Ulangan 1 2 3 F1 4 4 4 K2 F1 4 4 4 F1 4 4 4 544

PENGOLAHAN HASIL HUTAN Tabel 3. Nilai Perubahan Warna Pengujian Sifat Tahan Luntur terhadap Pencucian 40 o Konsentrasi (K) Ulangan 1 2 3 K1 F1 4-5 4-5 4-5 K2 F1 4-5 4-5 4-5 F1 4-5 4-5 4-5 Pada nilai penodaan warna ini meliputi pengujian tahan luntur warna terhadap keringat asam dan pencucian sabun. Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4. Nilai Penodaan Warna Pengujian Tahan Luntur terhadap Keringat Asal Konsentrasi K1 Penodaan Warna Kapas Wool Poliester F1 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 K2 F1 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 F1 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 4-5 Tabel 5. Nilai Penodaan Warna Pengujian Tahan Luntur terhadap Pencucian 40 o Konsentrasi K1 Penodaan Warna Kapas Wool Poliester F1 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 4 4 4 4-5 4-5 4-5 K2 F1 4-5 4-5 4-5 4 4 4 4-5 4-5 4-5 4 4 4 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 4 4 4 4-5 4-5 4-5 F1 4-5 4-5 4-5 4 4 4 4-5 4-5 4-5 4 4 4 4-5 4-5 4-5 F3 4-5 4-5 4-5 4 4 4 4-5 4-5 4-5 Parameter tambahan untuk kadar ekstraktif daun indigofera yang dilakukan adalah sebagai berikut : 545

Tabel 6. Pengujian Kadar Ekstraktif Daun Indigofera No. Parameter Uji Kadar (%) Metode 1 Flavonoid 0,39 TLC 2 Tanin 0,67 TLC 3 Total Phenol 21,35 Spektrofotometri PEMBAHASAN Nilai Perubahan Warna Pada nilai perubahan warna ini meliputi pengujian terhadap sifat tahan luntur warna terhadap keringat, sinar matahari dan pencucian (sabun). Secara rinci dapat dilihat pada tabel dibawah ini: 1. Uji Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat Seluruh nilai perubahan termasuk ke dalam kategori tinggi (4-5), sehingga tidak perlu dilakukan uji statistik. Nilai ini telah memenuhi syarat kualitas yakni minimal 3 (sedang). Kedua faktor memberikan pengaruh yang sama kuat (memadai) terhadap nilai perubahan warna pada ketahanan luntur warna terhadap keringat asam. Hal ini diduga karena bahan fiksasi dapat mengikat kuat bahan pewarna pada kain dan bahan pewarna dapat meresap masuk dengan sempurna ke dalam serat kain, sehingga pada saat dikenai larutan asam zat warna tidak terlepas. Hal ini diperkuat oleh Hasanudin dkk (2001), yang menyatakan bahwa zat warna yang masuk ke dalam serat kain dengan sempurna tidak akan terlepas pada saat di uji dengan larutan asam. Lestari (2002) juga menyebutkan bahwa zat warna bejana dari indigofera memiliki ketahanan luntur warna yang bagus. 2. Uji Tahan Luntur Terhadap Sinar Matahari Nilai pengujian masuk dalam kategori tinggi (4), dan nilai ini semua memenuhi syarat kualitas yakni minimal 4 (kategori tinggi). Ikatan yang kuat dan stabil antara kain dengan zat warna menyebabkan rantai molekul warna tidak mudah putus walaupun terkena sinar ultraviolet dan energi panas dari sinar matahari. Menurut Hasanudin dkk (2001), sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet dan energi panas yang menyerang rantai molekul zat warna dapat menyebabkan rantai molekul zat warna putus. Menurut Hasanudin dan Widjiati (2002), nilai ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari lebih ditentukan oleh stabil dan tidaknya struktur molekul zat warna apabila terkena energi panas dan sinar ultra violet. Selain itu, karena indigofera adalah zat warna bejana yang akan timbul warnanya setelah kontak dengan udara (teroksidasi). Hal ini menyebabkan zat warna akan menempel kuat pada kain dan daya luntur warna tinggi (Lestari, 2002) 3. Uji Tahan Luntur Terhadap Pencucian 40 o C Seluruh nilai perubahan termasuk ke dalam kategori tinggi (4-5), sehingga tidak perlu dilakukan uji statistik. Nilai ini telah memenuhi syarat kualitas yakni minimal 3-4 (sedang). Menurut Hasanudin dan Widjiati (2002) yang menyatakan bahwa sifat tahan luntur warna pencucian ditentukan oleh kuat lemahnya ikatan yang terjadi antara serat dan zat warna. Hal ini diperkuat oleh Hasanudin dkk (2001), yang menyatakan dalam pengujian ini bahan tekstil direndam dalam larutan sabun dan dikenai gerakan-gerakan mekanik. Warna pada bahan tekstil diserang oleh zat kimia dan gerak mekanik sehingga apabila ikatan antara zat pewarna dan serat kuat, warna pada kain tidak akan luntur. Sulaeman dkk (2000) juga menyebutkan adanya Ca 2+ dari larutan kapur, ataupun Al 3+ dari larutan tawas akan menyebabkan ikatan antara ion-ion tersebut dengan tanin yang telah berada di dalam serat berikatan dengan serat sehingga molekul zat pewarna alam yang berada di dalam serat menjadi lebih besar. Hal ini mengakibatkan molekul zat 546

PENGOLAHAN HASIL HUTAN pewarna alam akan sukar keluar dari pori-pori serat dan akan memperkuat ketahanan luntur. Lestari (2002) juga menyebutkan bahwa zat warna bejana (misalnya indigo) merupakan zat warna alam yang memiliki ketahanan luntur warna yang paling unggul jika dibandingkan dengan zat warna mordan, direk maupun zat warna basa/asam. Nilai Penodaan Warna 1. Uji Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat Asam Seluruh nilai penodaan termasuk ke dalam kategori tinggi (4-5), sehingga tidak perlu dilakukan uji statistik. Nilai ini telah memenuhi syarat kualitas yakni minimal 3 (sedang). Hasil ini diduga karena bahan pewarna daun indigo dapat meresap masuk ke dalam serat kain dengan sempurna pada saat proses pencelupan. Menurut Hasanudin dkk (2001), menyatakan bahwa zat warna yang masuk ke dalam serat kain dengan sempurna tidak akan terlepas pada saat di uji dengan larutan asam. Menurut Martono, Zuhdi dan Retnowati (2007) menyatakan bahwa serat polipetida seperti wool, kapas merupakan media yang terbaik untuk pewarnaan dengan pewarna alami karena tingginya kandungan gugus polar yang berikatan dengan pewarna alami secara mudah, hal inilah yang menyebabkan nilai ketahanan penodaan luntur warna tinggi. 2. UjiTahan Luntur Terhadap Pencucian 40 o C Seluruh nilai penodaan termasuk ke dalam kategori tinggi (4-5), sehingga tidak perlu dilakukan uji statistik. Nilai ini telah memenuhi syarat kualitas yakni minimal 3 (sedang). Menurut Hasanudin dkk (2001), dalam pengujian ini bahan tekstil direndam dalam larutan sabun dan dikenai gerakan-gerakan mekanik warna pada bahan tekstil diserang oleh zat kimia dan gerak mekanik. Apabila ikatan antara zat pewarna dan serat kuat, warna pada kain tidak akan luntur. Nilai Kadar Ekstraktif Kadar ekstraktif adalah informasi tambahan/pendukung, diperoleh : golongan phenolik yang dihasilkan daun indigofera 21,35%. Menurut Soenardi (1976) kadar zat ektraktif rata-rata adalah 3-8% dari berat kering tanur, sedangkan menurut Tsoumis (1968) sebesar 1-10%. Berdasarkan nilai di atas,maka kadar ekstraktif daun indigofera dikategorikan tinggi. Dari hasil tersebut, maka daun indigofera mempunyai potensi yang memadai untuk dimanfaatkan sebagai pewarna alami. KESIMPULAN 1. Daun Indigofera mempunyai peluang yang sangat baik untuk digunakan sebagai zat pewarna alami khususnya untuk batik. 2. Hasil pengujian kualitas pewarnaan meliputi nilai penodaan dan perubahan warna uji tahan luntur warna terhadap keringat asam, cahaya matahari dan pencucian menunjukkan hasil yang sangat baik (tinggi). 3. Perbedaan konsentrasi dan bahan fiksasi tidak mempengaruhi kualitas pewarnaan. 4. Perbedaan bahan fiksasi hanya akan mempengaruhi hasil warna akhir dari batik DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1994. Katalog Standar Nasional Indonesia. Bidang Industri. Departemen Perindustrian. Pusat Standarisasi Indonesia. Jakarta., 2000. Zat Warna dan Zat Pembantu dalam Pembatikan. Seri BIPIK 18. Departemen Perindustrian. Yogyakarta, 2002. Tanaman Obat Indonesia. Edisi : Mahoni. http://iptek.net.htm., 2005. Pewarna Alam. http:// www.plh_smk.or.id., 2008. Indigofera. www.ditjenbun.deptan.go.id. 547

, 2010. Standar Industri Indonesia. Cara Uji Tekstil. SNI ISO 105-A02-2010. dan SNI ISO 105-A03-2010. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Tekstil. Bandung. Hasanudin dan Widjiati. 2002. Penilaian Proses Pencelupan Zat Warna Soga Alam Pada Batik Kapas. Departemen Perindutsrian dan Perdagangan Republik Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan Batik. Yogyakarta. Her dan Eka, 2002. Teknologi Pewarna Alam. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik. Yogyakarta. Heyne, 1987. Tumbuhan Berguna di Indonesia Jilid I. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Lestari, K., 1999. Proses Ekstraksi dan Pudarisasi Bahan Pewarna Alam. Makalah Seminar Revival of Natural Colors. Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Yogyakarta., 2002. Promosi Dagang, Industri dan Investasi Melalui Workshop Pewarnaan Batik Kria Tekstil (Tekstil Kerajinan Tenun) Dengan Zat Warna Alam. Departemen Perindutsrian dan Perdagangan Republik Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan Batik. Yogyakarta. Martono, Z.M., dan Retnowati T.H., 2007. Pengembangan Desain Kerajinan Serat Alami Dengan Pewarna Alami. Laporan Hasil Penelitian. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Yogyakarta. Sulaiman, Riyanto, Mudjini dan Widjiwati., 2000. Peningkatan Ketahanan Luntur Zat Warna Alam dengan Cara Penerjaan Iring. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik. Yogyakarta 548