dokumen-dokumen yang mirip

DIAGNOSIS PENYAKIT AKIBAT INFEKSI VIRUS PADA ANAK MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang dan Permasalahan

BAB III ANALISIS SISTEM

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KANKER PAYUDARA MENGGUNAKAN CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT DEMAM PADA BALITA MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR DAN FORWARD CHAINING BERBASIS VISUAL BASIC

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Ilmu Komputer Fakultas Matematika dan

PENERAPAN METODE CERTAINTY FACTOR DALAM MENDETEKSI DINI PENYAKIT TROPIS PADA BALITA

SISTEM PAKAR DIAGNOSA AWAL PENYAKIT GINJAL DENGAN METODE FUZZY LOGIC UNTUK PENENTUAN CERTAINTY FACTOR

KETIDAKPASTIAN MACAM PENALARAN

SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSA GEJALA DEMAM UTAMA PADA ANAK MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

Sistem Pakar Untuk Mengetahui Gangguan Depresi Mayor Dengan Menggunakan Faktor Kepastian

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT PADA ANAK USIA 0-36 BULAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR (CF) Kunto Nashiruddin Ahmad ( ) 2

Jurnal Ilmiah INOVASI, Vol.14 No.2 Hal , Mei-September 2014, ISSN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang semakin canggih dan pengetahuan yang semakin luas maka semakin banyak

Aplikasi untuk Diagnosis Penyakit pada Anak dan Balita Menggunakan Faktor Kepastian

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT ALOPESIA PADA MANUSIA DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB III LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dipaparkan teori-teori yang melandasi di dalam pembangunan sistem pakar yang penulis akan buat.

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH VIRUS INFLUENZA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR PENDIAGNOSA PENYAKIT TUBERKULOSIS

APLIKASI DIAGNOSIS PENYAKIT HEPATITIS MENGGUNAKAN J2ME DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

APLIKASI PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KANKER SERVIKS DENGAN METODE ANALISIS FAKTOR KEPASTIAN

KUANTIFIKASI PERTANYAAN UNTUK MENDAPATKAN CERTAINTY FACTOR PENGGUNA PADA APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT.

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT SALURAN PENCERNAAN MENGGUNAKAN METODE DEMPSTER SHAFER

CERTAINTY FACTOR UTHIE

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT SAPI DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR BERBASIS ANDROID

BAB I PENDAHULUAN. membahayakan nyawa seseorang, Ironisnya gejala gejala tersebut seringkali

SISTEM PAKAR BERBASIS WEB UNTUK DIAGNOSA AWAL PENYAKIT THT

BAB I PENDAHULUAN. yaitu dengan suatu media konsultasi yang bersifat online. mengemukakan pesoalan-persoalan yang terjadi kemudian pakar akan

DIAGNOSA PENYAKIT MANUSIA YANG DIAKIBATKAN OLEH GIGITAN HEWAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT GIGI DAN MULUT MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR (Study Kasus di Puskesmas Campurdarat Tulungagung) SKRIPSI

SISTEM PAKAR DIAGNOSIS KEJIWAAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR (STUDI KASUS RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI SUMATERA UTARA)

Implementasi Metode Certainty Factor Dalam Mendiagnosa Penyakit Kulit

APA ITU TB(TUBERCULOSIS)

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT KANDUNGAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

Identifikasi Penyakit Sistem Pernafasan Pada Manusia Menggunakan Metode Certainty Factor Berbasis WEB

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

MACAM-MACAM PENYAKIT. Nama : Ardian Nugraheni ( C) Nifariani ( C)

BAB 1 Pendahuluan Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

Materi Penyuluhan Konsep Tuberkulosis Paru

HARYO WICAKSONO

Rancang Bangun Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Penyakit Meningitis Menggunakan Metode Naïve Bayes Berbasis Web

MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT ANAK DENGAN GEJALA DEMAM MENGGUNAKAN NAIVE BAYESIAN CLASSIFICATION

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

SISTEM PAKAR BERBASIS MOBILE UNTUK MENDETEKSI PENYAKIT PADA GINJAL

BAB II LANDASAN TEORI

SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT TANAMAN KELAPA SAWIT DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT TANAMAN KELAPA SAWIT DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

KUANTIFIKASI PERTANYAAN UNTUK MENDAPATKAN CERTAINTY FACTOR PENGGUNA PADA APLIKASI SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT

IMPLEMENTASI METODE CERTAINTY FACTOR UNTUK PENENTUAN KEPASTIAN ATURAN PENYAKIT PADA ANAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Tabel 2.1 Perbandingan Tinjauan Pustaka

SISTEM PAKAR MENDIAGNOSA PENYAKIT DAN HAMA TANAMAN PADI ORGANIK VARIENTAS IR 64 DENGAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KELAMIN PADA PRIA MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING DAN CERTAINTY FACTOR BERBASIS WEB

BAB I PENDAHULUAN. seiring dengan kebutuhan manusia yang semakin banyak dan kompleks. Hal ini yang

APLIKASI DIAGNOSIS PENYAKIT HEPATITIS UNTUK MOBILE DEVICES MENGGUNAKAN J2ME

Uncertainty (Ketidakpastian)

BAB I PENDAHULUAN. membantu proses dan cara berpikir manusia yang disebut sebagai artificial

S T O P T U B E R K U L O S I S

APLIKASI SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT GINJAL DENGAN METODE DEMPSTER-SHAFER

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1.3 Batasan Masalah Adapun batasan masalahnya adalah sebagai berikut: 1. Uji coba perangkat lunak

SISTEM PAKAR DIAGNOSIS PENYAKIT UMUM PADA MANUSIA MENGGUNAKAN PHP DAN MYSQL

4/28/2016. Selasa, 26 April 2016 ^ K10

DIAGNOSIS PENYAKIT KEJIWAAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSA PENYAKIT KULIT PADA MANUSIA SERTA PENGOBATANNYA MENGGUNAKAN TANAMAN OBAT BERBASIS WEB

Metode Tsukamoto untuk Mendiagnosa Penyakit Infeksi pada Manusia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis Dapat Disembuhkan

SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSIS PENYAKIT GINJAL DENGAN METODE FORWARD CHAINING

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penyakit gigi pada manusia menduduki urutan pertama dari daftar 10

BAB II LANDASAN TEORI. Landasan teori atau kajian pustaka yang digunakan dalam membangun

DIAGNOSA PENYAKIT JANTUNG DENGAN METODE PENELUSURAN FORWARD CHAINNING-DEPTH FIRST SEARCH

KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN PENDERITA TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN PERILAKU KEPATUHAN MINUM OBAT

BAB I PENDAHULUAN. Lulusan kedokteran gigi di tuntut untuk menyelesaikan pasien dengan

BAB I PENDAHULUAN. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain

Jurnal Riset Sains dan Teknologi Volume 1 No. 1 Maret 2017

SISTEM PAKAR DIAGNOSA AWAL PENYAKIT USUS BUNTU DENGAN MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR BERBASIS WEB SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

Awal Kanker Rongga Mulut; Jangan Sepelekan Sariawan

APLIKASI SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT KANKER MENGGUNAKAN METODE CERTAINTY FACTOR

BAB I PENDAHULUAN. dari ilmu komputer, yaitu kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Artificial

Tema Lomba Infografis Community TB HIV Care Aisyiyah 2016

Aplikasi Sistem Pakar untuk Mendiagnosa Gangguan Pernafasan pada Anak Menggunakan Metode CF (Certainty Factor)

Kanker Darah Pada Anak Wednesday, 06 November :54

Rancang Bangun Sistem Pakar Pendiagnosa Penyakit Paru-Paru Menggunakan Metode Case Based Reasoning

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu kedokteran mengalami kemajuan pesat yang ditandai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

Metode Inferensi Certainty Factor untuk Membangun Sistem Pakar Pendiagnosa Jenis Penyakit TB Munirah Muslim 1, Dr. Retantyo Wardoyo., MSc 2, Aslan Alwi 3 1,2 Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada 3 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Ponorogo e-mail : munirah.muslim@mail.ugm.ac.id, rw@ugm.ac.id, aslan.alwi@yahoo.co.id Abstract Di dalam kenyataan, sering bahwa orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan atau melakukan penalaran dalam rangka mendiagnosa penyakit, tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan observasi statistik guna meyakinkan secara presisi dari penalaran-penalaran yang dibuat untuk melakukan diagnosa penyakit, karena itu dalam usaha untuk membangun sistem pakar yang berpijak pada keadaan di atas, peneliti menggunakan metode certainty factor untuk membangun sistem pakar diagnosa penyakit dimana seorang dokter ketika berperan sebagai pakar untuk merumuskan sebuah rule, tidak perlu terlebih dahulu menggunakan analisis statistik dalam membangun rule-rule nya tetapi dia hanya berbekalkan kepada pengetahuan dari kepakaran yang dimilikinya sebagi seorang dokter dan pengalaman-pengalaman yang menyertainya, ketika mendiagnosa penyakit kepada pasiennya. Metode inferensi certainty factor adalah metode inferensi yang tidak didasarkan pada observasi statistik, akan tetapi lebih kepada berbasiskan tingkat kepercayaan atau kepastian yang diasumsikan atau diprediksi oleh pakar. Sehingga diperoleh hasil bahwa keadaan yang tidak pasti pada penalaran dapat dimodelkan oleh metode ini. Kata kunci; certainty factor, uncertainity, sistem pakar, tingkat kepercayaan, measure of belief, measure of disbelief. I. PENDAHULUAN Makalah ini berusaha menyajikan kemampuan daripada metode certainty factor dalam mengatasi kendala pembuatan sistem pakar dimana pakar yang bersangkutan (dokter) tidak memiliki dasar argumen yang kuat atau suatu pendahuluan survei dan analisa statistik yang mencukupi untuk membangun rule-rule diagnosa penyakit. Makalah ini sisi ilmiahnya ada pada penjelasan kemampuan metode certainty factor untuk merumuskan rule-rule tersebut. Rule-rule yang hanya dibangun berdasarkan derajat kepercayaan pakar bersumber dari pengalamannya saja, tanpa survei dan analisa statistik. Peneliti memberikan pengantar dan contohcontoh rule dari penyakit TB sebagai uji coba metode. Pada sifatnya ini hanyalah demonstrasi, bukan benar-benar pengumpulan rule yang di dasarkan atas argumentasi dan referensi ilmiah bagi penyakit tubercolosis, karena itu pengantar penyakit ini diambil sekedarnya dari berbagai sumber di internet yang tercantum pada daftar pustaka makalah ini, demikian pula rule-rule diagnosa diambil sekedarnya dari referensireferensi yang tercantum di daftar pustaka makalah ini. Pengambilan sampel rule-rule secara acak dari referensi di interent, dimaksudkan bahwa penelitian bukanlah tentang penyakit tubercolosis, tetapi tentang penjelasan kemampuan metode certainty factor, dan demikian membutuhkan bahan yang cukup untuk demonstrasi kalkulasinya. Baiklah dimulai dari penjelasan Penyakit Tubercolosis (TB) yang menjadi bahan demosntrasi dalam pengembangan sistem pakar berbasiskan inferensi certainty factor ini, adalah penyakit yang tidak saja menyerang paru-paru, akan tetapi juga menyerang organ-organ tubuh lain, seperti selaput otak, kulit, ginjal, dan sebagainya, karenanya, pada proses diagnosa penyakit TB memerlukan prediksi

yang konsisten tentang jenis penyakit TB mana yang sedang diderita oleh pasien, agar dapat diarahkan kepada prosedur penanganan yang sesuai. Tubercolusis atau biasa disingkat sebagai TB atau TBC adalah Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tubercolusis. Penyakit ini menyerang paru-paru sehingga terbentuk bintilbintil dalam alveolus, dan berbagai organ tubuh yang lain. Jenis-jenis penyakit TB meliputi diantaranya: 1. Tubercolusis yang menyerang getah bening 2. Tubercolusis yang menyerang usus 3. Tubercolusis yang menyerang kulit 4. Tubercolusis yang menyerang selaput otak 5. Tubercolusis yang menyerang ginjal 6. Tubercolusis yang menyerang tulang II. HIMPUNAN RULE Dibawah ini adalah daftar rule yang dikumpulkan dari berbagai sumber di internet (referensi internet tercantum pada daftar pustaka makalah ini) untuk membedakan penyakit-penyakit TB yang menyerang berbagai organ. Rule 1: JIKA G01: Adanya pembesaran kelenjar getah bening DAN G07: Demam DAN G13: keringat malam DAN G25: rasa tidak enak badan DAN G05: berat badan turun DAN G17: lemas MAKA TB kelenjar P01 Definisi: kuman TB yang menyerang kelenjar getah bening. Rule 2: JIKA G21: nyeri di perut DAN G07: demam DAN G20: nafsu makan turun DAN G06: cairan pada rongga perut(asites) DAN G08: diare DAN G19: muntah MAKA TB usus P02 Definisi: kuman TB yang menyerang usus Rule 3: JIKA DAN G16: leher timbul seperti kulit berisisik DAN G03: badan timbul seperti kulit berisisik DAN G07: demam DAN G04: batuk DAN G13: keringat malam DAN G20: nafsu makan turun DAN G05: Berat badan turun MAKA TB kulit P03 Definisi: kuman yang menyerang kulit Rule 4: JIKA G07: Demam DAN G22: Nyeri kepala DAN G09: Gangguan kesadaran DAN G12: Kejang DAN G11: Kaku kuduk DAN G26: Tes brudzinsky positif DAN G27: Tes kernig yang positif MAKA TB meningitis P04 Definisi: kuman TB yang menyerang selaput otak Rule 5: JIKA G02: Anorexia DAN G05: berat badan turun DAN G07: demam DAN G10: hematuria MAKA TB ginjal P05 Definisi: kuman TB yang menyerang ginjal Rule 6: JIKA G24: pegal-pegal disertai rasa lelah pada sore hari DAN G05: berat badan turun DAN G07: demam DAN G13: keringat malam DAN G02: anorexia DAN G23: nyeri sendi DAN G18: mengalami keterbatasan gerak DAN G15: Kulit diatas daerah yang terasa nyeri kadang teraba panas dan kadang terasa dingin DAN G14: kulit berwarna merah kebiruan MAKA

TB tulang P06 Definisi: kuman TB yang menyerang tulang III. METODE INFERENSI CERTAINTY FACTOR Metode Certainty factor adalah sebuah metode alternatif dari metode penalaran bayes ataupun metode fuzzy ataupun metode lain yang sejenis dalam melakukan inferensi pada kondisi yang tak pasti (uncertainity). Metode ini pada dasarnya adalah berlandaskan pada asumsi keyakinan dari pakar untuk melakukan penalaran. Dimana pada penalaran terjadi ketidakpastian pada fakta, dan pada hipotesis. Serta tidak terdapat cukup data untuk menentukan diagnosa secara cepat bagi pasien. Ukuran ketidakpastian pada penalaran dinyatakan dengan bilangan yang bernama certainty factor atau biasa disingkat sebagai bilangan cf. Di dalam penalaran berdasarkan certainty factor ini, hubungan jika maka dimodelkan dalam bentuk sebagai berikut: JIKA <fakta> {cf(fakta)} MAKA <hipotesis> {cf(hipotesis)} cf(hipotesis,fakta) =cf(fakta)xcf(hipotesis) Tentang cf(fakta): cf(fakta) dihitung berdasarkan asumsi kepercayaan pakar bahwa suatu fakta terjadi, asumsi ini diberi nilai antara -1 hingga 1. Pakar menggunakan kata-kata untuk menggambarkan fakta, dan kata-kata yang digunakannya diberi bobot untuk menentukan nilai cf dari fakta tersebut. Dibawah ini contoh tabel yang membobot katakata dari pakar, dimana setiap kata itu memiliki bobot nilai cf [5]. Tabel 1. Interpretasi nilai cf dari kata-kata Term Certainty factor Definitely not -1.0 Almost certainly not -0.8 Probably not -0.6 Maybe not -0.4 unknown -0.2 to +0.2 Maybe +0.4 Probably +0.6 Almost certainly +0.8 definitely +1.0 Tabel 1. Digunakan juga untuk mengembalikan nilai cf ke dalam bahasa yang dipahami manusia, sebagai penjelasan sistem pakar kepada user. Misalkan hasil perhitungan akhir untuk penalaran atau inferensi menghasilkan nilai cf=0,6, maka hasil ini dibahasakan kembali dengan menggunakan kata probably sesuai tabel 1 di atas. Tentang cf(hipotesis): cf(hipotesis) dihitung berdasarkan asumsi kepercayaan pakar bahwa suatu hipotesis adalah benar manakala fakta terjadi, asumsi ini diberi nilai antara -1 hingga 1, tetapi dalam hitungan yang lebih teliti, asumsi kepercayaan pakar dihitung dalam berdasarkan measure of bilief (MB) dan measure of disbilief (MD). Hitungan ini adalah sebagai berikut: Dimana P(H) adalah prior probability, yaitu asumsi probability H untuk benar. Sedang P(H E) adalah posterior probability H manakala E benar terjadi. Selanjutnya untuk menggunakan kedua ukuran tersebut guna menentukan certainty factor dari rule yaitu cf(hipotesis) adalah dengan menghitungnya dalam rumus sebagai berikut: Tentang cf(hipotesis,fakta): Cf(hipotesis,fakta) atau certainty faktor dari perambatan penalaran dihitung berdasarkan rumus perkalian sebagi beriku: Cf(hipotesis,fakta)= Cf(fakta)x Cf(hipotesis) Manakala susunan rule memiliki evidence atau fakta yang banyak sebagai berikut:

Perhitungan Cf(hipotesis,fakta) adalah sebagai berikut: Untuk susunan rule dengan banyak OR : Perhitungan Cf(hipotesis,fakta) adalah sebagai berikut: Jika terdapat dua rule atau lebih yang menyajikan hipotesis yang sama, misal sebagai berikut: cf(hipotesis) kombinasi keduanya dinyatakan oleh: IV. PENGHITUNGAN CERTAINTY FACKTOR UNTUK RULE-RULE PENYAKIT TB Untuk memudahkan perhitungan, seluruh cf(fakta) dari himpunan rule dikumpulkan dalam satu tabel sebagai berikut: Tabel 2. Cf(fakta) himpunan rule G Fakta (gejala) cf(fakta) G01 Adanya pembesaran kelenjar a1 getah bening G02 Anorexia a2 G03 badan timbul seperti kulit a3 berisisik G04 batuk a4 G05 berat badan turun a5 G06 cairan pada rongga perut(asites) G07 Demam G08 diare G09 Gangguan kesadaran G10 hematuria G11 Kaku kuduk G12 Kejang G13 keringat malam G14 kulit berwarna merah kebiruan G15 Kulit diatas daerah yang terasa nyeri kadang teraba panas dan kadang terasa dingin G16 leher timbul seperti kulit berisisik G17 lemas G18 mengalami keterbatasan gerak G19 muntah G20 nafsu makan turun G21 nyeri di perut G22 Nyeri kepala G23 Nyeri sendi G24 pegal-pegal disertai rasa lelah pada sore hari G25 rasa tidak enak badan G26 Tes brudzinsky positif G27 Tes kernig yang positif a6 a7 a8 a9 a10 a11 a12 a13 a14 a15 a16 a17 a18 a19 a20 a21 a22 a23 a24 a25 a26 a27 Nilai-nilai a1,a2,a3,...,ak ditentukan oleh sistem berdasarkan hasil wawancara sistem pakar terhadap user dengan menggunakan tabel 1. Contoh, misalkan user ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut: Apakah anda mengalami demam dalam beberapa hari ini? Jawab user: mungkin (maybe) karena beberapa hari ini dahi saya panas Kata mungkin (maybe) jika dipadankan dalam tabel 1, nilai cf yang diperoleh adalah: 0,4. Sehingga cf(demam) = 0,4 Selanjutnya untuk menghitung certainty facktor dari hipotesis atau penyakit, dibuat tabel certainty factornya sebagai berikut:

Tabel 3. Cf(penyakit) atau cf(hipotesis) dari himpunan rule P Hipotesis (Penyakit) cf(penyakit) P01 TB kelenjar P01 dari rule 1 b1 P02 TB usus P02 dari rule 2 b2 P03 TB kulit P03 dari rule 3 b3 P04 TB meningitis P04 dari rule 4 b4 P05 TB ginjal P05 dari rule 5 b5 P06 TB tulang P06 dari rule 6 b6 Nilai-nilai b1,b2,b3,...,bn diisi oleh pakar bersangkutan. Sang pakar mengisinya berdasarkan nilai certainty faktor atau derajat kepercayaanya sebuah penyakit terjadi berdasarkan rule-rule yang dimiliki pada himpunan rule. Nilai-nilai b1,b2,b3,...,bn adalah derajat kepercayaan pakar terhadap rule-rule yang disajikan oleh sistem pakar, atau derajat kepercayaan rulerule yang dimasukkan oleh sang pakar sendiri. Contoh, misalkan pakar memasukkan rule 1, yaitu rule yang telah kita tulis sebelumnya di bab sebelum ini, yaitu: JIKA G01: Adanya pembesaran kelenjar getah bening DAN G07: Demam DAN G13: keringat malam DAN G25: rasa tidak enak badan DAN G05: berat badan turun DAN G17: lemas MAKA TB kelenjar P01 Selanjutnya sang pakar memberi nilai kepercayaan terhadap rule ini, ditulis cf(p01) = 0,8 Maka nilai b1=0,8. Akan tetapi perhitungan ini dapat lebih rinci dengan menghitung cf(penyakit) berdasarkan measure of belief (MB) dan measure of disbelief (MD). V. INFERENSI BERDASARKAN CERTAINTY FACTOR Oleh karena rule-rule yang dimiliki seluruhnya dalam bentuk : Maka inferensi dilakukan berdasarkan rumus : Contoh perhitungan: Dari hasil wawancara sistem pakar terhadap user diperoleh bahwa : Cf(G01)=0,3 Cf(G07)=0,6 Cf(G13)=0,4 Cf(G25)=0,8 Cf(G05)=0,9 Cf(G17)=0,2 Dan berdasarkan derajat kepercayaan sang pakar, cf(p01) = 0,8. Maka inferensi dilakukan berdasarkan rule 1 adalah sebagai berikut: Cf(P01,G01 dan G07 dan G13 dan G25 dan G05 dan G17) = min[cf(g01), cf(g07), cf(g13), cf(g25), cf(g05), cf(g17)]x cf(p01). Diperoleh: Cf(P01,G01 dan G07 dan G13 dan G25 dan G05 dan G17) = min [0.3, 0.6, 0.4, 0.8, 0.9, 0.2]x0.8 =0.16 Demikian seterusnya dengan menghitung satu persatu certainty factor bagi tiap-tiap penyakit. VI. KESIMPULAN Penerapan certainty factor bagi perancangan sistem pakar dilakukan untuk mempermudah perhitungan-perhitungan penalaran. Karena tanpa harus menggunakan perhitungan statistik sebagaimana halnya pada metode lain, penalaran telah dapat dilakukan sebagai inferensi bagi sistem pakar. VII. DAFTAR PUSTAKA [1] Anonim (_), Penyakit Pernapasan, sumber: http://dy4yu.files.wordpress.com/2009/06/penyakitpernapasan.pdf, diakses tanggal 22 Juni 2013

[2] Hiswani, (2004), Tuberkolosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3675 /1/fkm-hiswani12.pdf, diakses tanggal 22 Juni 2013. [3] Medison Irvan, Dr., SpP, (_), Pneumonia, Bagian Pulmonologi dan Ilmu Respirasi FK Unand, sumber : http://www.parupadang.com/unduh/2012/pneumonia.pdf, diakses tanggal 22 Juni 2013. [4] Nasution Minasari, Drg., (2008), Infeksi Laring Faring, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara, Medan, Sumber : http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1150 /1/08E00706.pdf, diakses tanggal 22 Juni 2013. [5] Negnevitsky Michael, (2005), Artificial Intelligence A Guide to Intelligence System, Second Edition, Addition Wesley. [6] Zalina Debby, (2013), Macam-Macam penyakit sistem pernafasan manusia, sumber : http://www.debbyzalina.com/blogs/?p=265, diakses tanggal 13 Juli 2013.