BAB III LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III LANDASAN TEORI. SK.687/AJ.206/DRJD/2002 tentang tentang pedoman teknis penyelenggaraan

BIAYA POKOK ANGKUTAN BUS TRANS JOGJA PASCA KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (241T)

BAB III LANDASAN TEORI

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2007 NOMOR 10 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 13 TAHUN 2007 TENTANG

BAB III LANDASAN TEORI. a. UU No. 22 Tahun 2009 Tentang lalu Lintas dan Angkutan. b. PP No. 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 89 TAHUN 2002 TENTANG

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN RI. DI REKTORAT J ENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Addendum Dokumen Pengadaan

penumpang yang dilakukan system sewa atau bayar. Termasuk dalam pengertian angkutan kota (bus, minibus, dsb), kereta api, angkutan air dan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK) SEBAGAI DASAR PENENTUAN TARIF ANGKUTAN UMUM PENUMPANG (AUP)

STUDI PENENTUAN TARIF PENUMPANG ANGKUTAN BUS KECIL. ( Studi Kasus Trayek Medan-Tarutung ) TUGAS AKHIR. Diajukan Untuk Memenuhi Syarat

TINJAUAN PENETAPAN TARIF TAKSI DI KOTA PADANG

BAB IV DATA DAN ANALISIS. yang telah ditentukan Kementerian Perhubungan yang intinya dipengaruhi oleh

ANALISIS TARIF BUS TRANS BALIKPAPAN TRAYEK TERMINAL BATU AMPAR- PELABUHAN FERI KARIANGAU

berakhir di Terminal Giwangan. Dalam penelitian ini rute yang dilalui keduanya

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. DAMRI rute bandara Soekarno Hatta _ Bogor, dibuat bagan alir sebagai berikut :

BAB III LANDASAN TEORI. maupun taksi kosong (Tamin, 1997). Rumus untuk menghitung tingkat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ANALISA KELAYAKAN TARIF ANGKUTAN UMUM DALAM KOTA KUPANG

STUDI EFEKTIFITAS PELAYANAN ANGKUTAN KOTA JURUSAN ABDUL MUIS DAGO

BAB IV ANALISIS DATA. yang bertempat di Pool DAMRI jalan Tipar Cakung No. 39 Jakarta Timur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Secara spesifik, tahapan-tahapan langkah yang diambil dalam menentukan tarif

Nindyo Cahyo Kresnanto

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISA KELAYAKAN TARIF ANGKUTAN UMUM DALAM KOTA MANADO (STUDI KASUS : TRAYEK PUSAT KOTA 45 MALALAYANG)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KAJIAN JASA TRAVEL JURUSAN PALANGKARAYA-SAMPIT DITINJAU DARI BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN PENUMPANG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Secara spesifik, tahapan-tahapan langkah yang diambil dalam menetukan tariff

BAB III LANDASAN TEORI. International Airport akan melibatkan partisipasi dari stakeholders termasuk

Fransiska Nathalia Marganda Libertina,

BAB 2 LANDASAN TEORI

STUDI PENENTUAN TARIF PENUMPANG ANGKUTAN BUS SEDANG (Studi Kasus Trayek Lhokseumawe-Bireuen)

BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. TARIF TOL

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

LAMPIRAN 1. Baru Kredit, suku bunga %/Thn Bekas Leasing, suku bunga %/Thn Lainnya, sebutkan!

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

KAJIAN TARIF ANGKUTAN UMUM TRAYEK PAAL DUA POLITEKNIK DI KOTA MANADO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. selamat, aman, nyaman, dan terjangkau. perkotaan dibagi menjadi dua kelompok yaitu choice dan captive.

Kata Kunci : Biaya Operasional Kendaraan, Kenaikan Tarif, Kenaikan Harga BBM, 2015

CONTOH 1 : PERMOHONAN IZIN USAHA ANGKUTAN

ANGKUTAN KOTA DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI DKI JAKARTA 26 MEI 2008

ANALISA KARAKTERISTIK MODA TRANSPORTASI ANGKUTAN UMUM RUTE MANADO TOMOHON DENGAN METODE ANALISA BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK)

ANALISIS SUBSIDI ANGKUTAN PERDESAAN MELALUI BIAYA OPERASI KENDARAAN (BOK) DI KABUPATEN SLEMAN

BAB IV ANALISIS DATA. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada hari senin tanggal 10 November

ANALISIS PENENTUAN TARIF STANDAR ANGUTAN KOTA DI KABUPATEN BANYUWANGI. Rahayuningsih ABSTRAK

Grafik jumlah penumpang TransJakarta rata-rata perhari

BABIII LANDASAN TEORI

KAJIAN TARIF ANGKUTAN UMUM PENUMPANG DI PULAU TAGULANDANG

BAB IV ANALISIS DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EVALUASI KINERJA ANGKUTAN PENGUMPAN TRANS SARBAGITA DI KOTA DENPASAR TUGAS AKHIR

BAB I BIAYA OPERASI KENDARAAN

EVALUASI TARIF ANGKUTAN UMUM BERDASARKAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN (BOK) (Studi trayek Cilawu-Garut Kota Kabupaten Garut)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan dari hasil seluruh analisis dan pembahasan dalam tugas akhir

EVALUASI TARIF DAN MUTU PELAYANAN ANGKUTAN ANTAR PROVINSI (Studi Kasus: Angkutan Minibus Jurusan Puruk Cahu Banjarmasin)

ANALISA BIAYA OPERASI KENDARAAN (BOK) ANGKUTAN UMUM ANTAR KOTA DALAM PROPINSI RUTE PALU - POSO

BAB I PENDAHULUAN. sistem transportasi seimbang dan terpadu, oleh karena itu sistem perhubungan

2017, No Republik Indonesia Nomor 5070) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peratur

KOMPONEN BIAYA DAN FORMULASI PERHITUNGAN

Struktur organisasi BIDANG ANGKUTAN SARANA DAN PRASARANA TUGAS POKOK DAN FUNGSI

PERHITUNGAN VEHICLE OPERATION COST GUNA KESINAMBUNGAN PERUSAHAAN: (STUDI KASUS SHUTTLE SERVICE TUJUAN BANDUNG-BANDARA SOEKARNO HATTA)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. angkutan jalan pada pasal 1 angka 3 disebutkan bahwa angkutan adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu obyek. Objek yang dipindahkan mencakup benda tak bernyawa seperti sumber daya alam,


LAMPIRAN C DAFTAR ISTILAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KAJIAN BIAYA OPERASIONAL KENDARAAN UMUM JALUR TERMINAL MARDIKA AIR SALOBAR DI KOTA AMBON

KAJIAN KELAYAKAN TRAYEK ANGKUTAN UMUM DI PURWOKERTO

Handy Nugroho 1), Ratna Purwaningsih 2)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi (2005) Evaluasi adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS KEBUTUHAN ANGKUTAN UMUM PENUMPANG KOTA MANADO (Studi Kasus : Paal Dua Politeknik)

2017, No diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepela

PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP TARIF BUS TRANS METRO BANDUNG (KORIDOR II JURUSAN CICAHEUM-CIBEUREUM)

BAB III. Landasan Teori Standar Pelayanan Kinerja Angkutan Umum

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PENGOPERASIAN ANGKUTAN SEKOLAH DI KOTA DENPASAR (STUDI KASUS SEKOLAH RAJ YAMUNA) (030T)

STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) ANGKUTAN PEMADU MODA TRAYEK BANDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU BANGKINANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

GUBERNUR SUMATERA BARAT

PENENTUAN OPERASIONAL JARINGAN ANGKUTAN UMUM DI KAWASAN METROPOLITAN PONTIANAK BERBASIS BRT (BUS RAPID TRANSIT)

yang sebenarnya dalam setiap harinya. Faktor muat (loadfactor) sangat dipengaruhi

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

PERATURAN BUPATI PANDEGLANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG,

BAB II STUDI PUSTAKA STUDI PUSTAKA EVALUASI KINERJA OPERASIONAL ARMADA BARU PERUM DAMRI UBK SEMARANG TRAYEK BANYUMANIK - JOHAR

GUBERNUR SUMATERA BARAT

ANALISIS TARIF ANGKUTAN PEDESAAN BERDASARKAN BIAYA OPERASI KENDARAAN (BOK) (Studi Kasus Kabupaten Gayo Lues Nanggroe Aceh Darussalam)

PENENTUAN TARIF ANGKUTAN UMUM (BUS) ANTARKOTA (STUDI KASUS : ANGKUTAN UMUM BUS TRAYEK BITUNG-MANADO)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Transkripsi:

16 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Penentuan Tarif Perhitungan biaya untuk menetapkan tarif angkutan umum sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor : SK. 687 / AJ. 206 / DRJD / 2002 seperti di bawah ini. 1. Pengertian umum a. Biaya pokok atau biaya produksi adalah besaran pengorbanan yang dikeluarkan untuk menghasilkan satu satuan unit produksi jasa angkutan. b. Tarif angkutan umum penumpang kota merupakan hasil perkalian antara tarif pokok dan jarak (kilometer) rata-rata satu perjalanan ditambah 10 % untuk jasa keuntungan perusahaan, rumusnya adalah : Tarif = (tarif pokok x jarak rata-rata) + 10 % (3-1) Tarif biaya pokok Tarif Pokok =..(3-2) Faktor pengisian x kapasitas kendaraan c. Faktor muat (Load Factor) merupakan perbandingan antara kapasitas terjual dan kapasitas tersedia untuk satu perjalanan yang biasa dinyatakan dalam persen (%). Faktor muat untuk perhitungan tarif umumnya adalah 70 %. d. Satuan produksi adalah pembagi terhadap total biaya produsi sehingga dapat ditentukan besar per satuan produksi.

17 e. Alat produksi adalah sarana angkutan yang digunakan untuk memproduksi jasa angkutan penumpang dengan atau tanpa fasilitas tambahan. f. Fasilitas tambahan yang digunakan pada alat produksi meliputi : 1) Fisik : Alat pendingin udara (AC) 2) Operasional : ekonomi, non ekonomi g. Rit adalah satu kali perjalanan kendaraan dari tempat asal ke tempat tujuan. h. Waktu tempuh/rit adalah lama perjalanan dalam satu rit. i. Jarak tempuh/rit adalah jarak km yang ditempuh untuk satu kali jalan dari tempat asal ke tempat tujuan. j. Jarak tempuh/hari adalah jarak km yang ditempuh dalam satu hari. k. Frekwensi adalah jumlah rit dalam kurun waktu tertentu (per jam, per hari). l. Kapasitas angkut/kapasitas tersedia adalah kapasitas maksimal yang tersedia untuk penumpang (duduk dan berdiri) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. m. Kapasitas terjual adalah jumlah penumpang yang diangkut dihitung berdasarkan jumlah tempat duduk yang terpakai + berdiri x frekwensi. n. Hari operasi per bulan adalah jumlah hari operasi dalam satu bulan. o. Kilometer-kosong adalah kilometer yang tidak produktif yang terjadi pada awal operasi (berangkat dari pool) dan akhir operasi (kembali ke pool). Kilometer-kosong per hari diasumsikan sebesar 3 % dari total kilometertempuh per hari.

18 p. Kilometer-efektif adalah kilometer-tempuh produktif pada saat operasi. q. Seat-km (Pnp-Km) tersedia adalah jumlah tempat duduk-km, dihitung dengan mengalikan jumlah tempat duduk yang tersedia dengan frekwensi serta jarak tempuh dari tempat asal ke tempat tujuan. r. Seat-Km (Pnp-Km) terjual adalah jumlah produksi yang terjaul yang dihitung dengan mengalikan jumlah tempat duduk terjual dengan jarak tempuh dari tempat asal ke tempat tujuan lalu dikalikan dengan frekwensi. 2. Metodologi perhitungan produksi Produksi angkutan penumpang jalan raya dapat ditentukan dalam beberapa bentuk yaitu sebagai berikut : a. Produksi perhitungan kilometer tempuh Kilometer-tempuh angkutan penumpang jalan raya diperoleh dari perhitungan : (jumlah SO x frekwensi/hari x hari operasi/bulan x bulan operasi/tahun x km/rit) + kilometer kosong.(3-3) b. Produksi rit Jumlah rit diperoleh dari perhitungan : (Jumlah bus SO x frekwensi/hari x hari operasi/bulan x bulan operasi/tahun)..(3-4) c. Produksi penumpang orang (pnp diangkut) Jumlah penumpang orang diperoleh dari perhitungan : (Jumlah SO x frekwensi/hari x hari operasi/bulan x bulan operasi/tahun x kapasitas terjual/rit)..(3-5)

19 d. Produksi penumpang Km (seat-km) Jumlah seat-km (pnp-km) diperoleh dari perhitungan : (Jumlah SO x frekwensi/hari x hari operasi/bulan x bulan operasi/tahun x jarak tempuh/rit x kapasitas terjual/rit) (3-6) 3. Struktur biaya Jika ditinjau dari kegiatan usaha, angkutan biaya yang dikeluarkan untuk suatu produksi jasa angkutan yang dijual kepada pemakai jasa, dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu : a. yang dikeluarkan untuk pengelolaan perusahaan, b. yang dikeluarkan untuk operasi kendaraan, c. yang dikeluarkan untuk retribusi, iuran, sumbangan, dan yang berkenaan dengan pemilikan usaha operasi. Untuk kemudahan perhitungan biaya pokok, perlu dilakukan pengelompokan biaya dengan teknik pendekatan sebagai berikut : a. Biaya langsung : biaya yang berkaitan langsung dengan produk jasa yang dihasilkan terdiri atas : 1) biaya tetap *) 2) biaya tidak tetap **) b. Biaya tidak langsung : biaya yang secara tidak langsung berhubungan dengan produk jasa yang dihasilkan, yang terdiri atas : 1) biaya tetap *) 2) biaya tidak tetap **)

20 *) Biaya tetap : biaya yang tidak berubah (tetap) walaupun terjadi perubahan pada volume produksi jasa sampai ke tingkat tertentu. **) Biaya tidak tetap : biaya yang berubah apabila terjadi perubahan pada volume produksi jasa. Berdasarkan pengelompokan biaya itu struktur perhitungan biaya pokok jasa angkutan adalah sebagai berikut : a. Biaya langsung : 1) Penyusutan kendaraan produktif 2) Bunga modal kendaraan produktif 3) Biaya awak bus (sopir dan kondektur) (a) Gaji/upah (b) Tunjangan kerja operasi (uang dinas) (c) Tunjangan sosial 4) Bahan Bakar Minyak (BBM) 5) Biaya ban 6) Biaya service kecil 7) Biaya service besar 8) Biaya pemeriksaan (Overhaul) 9) Biaya penambahan oli 10) Biaya suku cadang dan bodi 11) Biaya cuci bus 12) Biaya retribusi terminal

21 13) Biaya STNK/pajak kendaraan 14) Biaya Kir 15) Biaya Asuransi (a) Asuransi kendaraan (b) Asuransi awak bus b. Biaya tidak langsung: 1) Biaya pegawai selain awak kendaraan (a) Gaji/upah (b) Uang lembur (c) Tunjangan sosial (c.1) Tunjangan perawatan kesehatan (c.2) Pakaian dinas (c.3) Asuransi kecelakaan 2) Biaya pengelolaan (a) Penyusutan bangunan kantor (b) Penyusutan pool dan bengkel (c) Penyusutan inventaris / alat kantor (d) Penyusutan sarana bengkel (e) Biaya administrasi kantor (f) Biaya pemeliharaan kantor (g) Biaya pemeliharaan pool dan bengkel (h) Biaya listrik dan air (i) Biaya telepon dan telegram

22 (j) Biaya perjalanan dinas selain awak kendaraan (k) Pajak perusahaan (l) Izin trayek (m) Izin usaha (n) Biaya pemasaran 4. Pedoman perhitungan biaya pokok Cara perhitungan biaya pokok dapat dilakukan dalam tahap-tahap sebagai berikut : a. Pada kelompok biaya langsung, sebagian biaya dapat secara langsung dihitung per km kendaraan, tetapi sebagian biaya lagi dapat dihitung per km kendaraan setelah dihitung biaya per tahun. b. Biaya tak langsung tidak dapat dihitung secara langsung per km-kendaraan karena komponen-komponen biayanya mempunyai sifat umum atau biaya bersama, yaitu untuk menunjang operasi semua jenis kendaraan/pelayanan. Dengan demikian, untuk melakukan perhitungan biaya tidak langsung, komponen-komponen biaya pengelolaan dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) Biaya total per tahun pegawai selain awak kendaraan dan biaya pengelolaan dihitung. 2) Biaya perusahaan angkutan yang mempunyai lebih dari satu segmen usaha, biaya langsung dapat dialokasikan pada tiap-tiap segmen usaha. Alokasi biaya tidak langsung setiap segmen usaha didasarkan pada proporsi produksi setiap segmen usaha. Sebaliknya bagi perusahaan

23 angkutan yang hanya menyelenggarakan satu segmen usaha, tidak diperlukan pengalokasian biaya tidak langsung. 3) Setelah dilakukan perhitungan biaya setiap segmen usaha, dilakukan perhitungan menurut jenis kendaraan. c. Biaya pokok per kendaraan-km dihitung dengan menjumlahkan biaya langsung dan biaya ttidak langsung. d. Biaya pokok per kendaraan-km itu selanjutnya dibagi dengan pnp-km terjual untuk memperoleh biaya pokok per penumpang-km. 3.2 Pedoman Perhitungan Komponen-Komponen Biaya 1. Komponen biaya langsung a. Biaya penyusutan kendaraan / bus-km Harga kendaraan nilai residu.. (3 7) Produksi bus km / t x masa penyusutan b. Biaya bunga modal / bus-km Bunga modal per taun (3 8) Produksi bus km / taun c. Gaji dan tunjangan awak bus / bus-km Biaya awak bus/t (3 9) Produksi bus km / taun d. Biaya bahan bakar minyak / bus-km Pemakaian BBM/bus/ari (3 10) Km tempu / ari

24 e. Biaya pemakaian ban / bus-km Jumla pemakaian ban x arga ban / bua. (3 11) Km daya taan ban f. Biaya service kecil / bus-km Biaya service kecil (3 12) Km service kecil (5000 km) g. Biaya service besar / bus-km Biaya service besar (3 13) Km service besar (10000 km) h. Biaya general overhoul / bus-km Biaya general overoul per bus / taun. (3 14) Produksi bus km / taun i. Biaya penambahan oli mesin / bus-km Penambaan oli/ari x arga oli/l. (3 15) Km tempu / ari j. Biaya cuci bus Biaya cuci bus / bulan (3 16) Produksi bus km/bulan k. Reribusi terminal Retribusi terminal/ari.. (3 17) Produksi bus km/ari l. Biaya STNK (pajak) kendaraan / bus-km Biaya STNK (3 18) Produksi bus km/taun m. Biaya kir / bus-km Biaya kir/taun (3 19) Produksi bus km/taun

25 n. Biaya asuransi / bus-km Jumla biaya asuransi/taun.. (3 20) Produksi bus km/taun 2. Komponen biaya tidak langsung a. Biaya pegawai selain awak kendaraan Tenaga selain awak kendaraan terdiri atas pimpinan, staf administrasi, tenaga teknis dan tenaga operasi. Jumlah tenaga pimpinan, staf administrasi, tenaga teknik dan tenaga operasi tergantung dari besarnya armada yang dikelola. Biaya pegawai ini terdiri atas gaji/upah, uang lembur dan jaminan sosial. Jaminan sosial berupa : 1) Tunjangan perawatan kesehatan 2) Pakaian dinas 3) Asuransi kecelakaan b. Biaya pengelolaan 1) Penyusutan bangunan kantor 2) Penyusutan bangunan dan perawatan bengkel Masa penyusutan butir (1) & (2) diperhitungkan selama 5 sampai dengan 20 tahun tergantung dari keadaan fisik bangunan tanpa harga tanah. 3) Masa penyusutan inventaris/alat kantor diperhitungkan 5 tahun. 4) Masa penyusutan sarana bengkel diperhitungkan selama 3 sampai dengan 5 tahun. 5) Administrasi kantor meliputi biaya surat menyurat, biaya alat tulis.

26 6) Pemeliharaan kantor, misalnya : pengecatan kantor. 7) Pemeliharaan pool dan bengkel. 8) Listrik dan air 9) Telepon dan telegram serta porto. 10) Biaya perjalanan dinas meliputi perjalanan dinas pimpinan, staf administrasi, teknisi dan tenaga operasi (noncrew). 11) Pajak perusahaan. 12) Izin trayek yang ditentukan berdasarkan peraturan daerah yang bersangkutan dan rutenya. 13) Izin usaha. 14) Biaya pemasaran (biaya promosi). 15) Biaya lain-lain, meliputi biaya pengelolaan yang tidak termasuk dalam unsur biaya pada butir (1) sampai dengan (14). 3.3 Teknik Korelasi Koefisien Kontingensi Koefisien kontingensi digunakan untuk menghitung hubungan antar variabel bila datanya berbentuk nominal. Teknik ini memiliki hubungan erat dengan Chi-Square yang digunakan untuk menguji hipotesis komporatif k sampel independen. Chi-Square dicari dengan menggunakan prosedur tabel silang (crosstabs procedure). Tabel silang dapat menyajikan data penelitian dalam berbagai pengujian dan pengukuran dalam bentuk asosiasi tabel dua. Struktur tabel ditampilkan

27 tergantung dari pilihan pengujian dan pengukuran (test or measure) yang digunakan (Danandjaja, 2012). Dasar pengambilan keputusan yang digunakan pada prosedur tabel silang melalui program SPSS 22.0 for windows, meliputi : 1. Berdasarkan perbandingan Chi-Square hitung dengan Chi-Square tabel : a. Jika Chi-Square hitung < Chi-Square tabel maka Ho diterima. b. Jika Chi-Square hitung > Chi-Square tabel maka Ho ditolak. 2. Berdasarkan probabilitas (signifikansi) : a. Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima. b. Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak. (Dosen narotama, diakses 13 Mei 2014). 3. Berdasarkan korelasi koefisien kontingensi a. Korelasi 0 tidak ada korelasi antara dua variabel b. Korelasi antara >0,00 0,33 korelasi lemah. c. Korelasi antara >0,34 0,66 korelasi cukup kuat. d. Korelasi antara >0,67 0,99 korelasi kuat. e. Korelasi 1 korelasi sempurna. (Sarwono, diakses 11 Juni 2014)