TINJAUAN YURIDIS ATAS PENIPUAN DOKUMEN DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. memegang peranan penting bagi perkembangan ekonomi Indonesia. bagi masing-masing pihak yaitu pihak penjual diwajibkan melakukan

BAB I PENDAHULUAN. barang antar pengusaha yang masing masing bertempat tinggal di negara negara

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 5/6/PBI/2003 TENTANG SURAT KREDIT BERDOKUMEN DALAM NEGERI GUBERNUR BANK INDONESIA,

TATA CARA PEMBAYARAN TRANSAKSI DALAM KONTRAK

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Aset. Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri

BAB I PENDAHULUAN. dalam suatu perdagangan yang lazim dikenal dengan perdagangan ekspor-impor.

Pembayaran Transaksi Ekspor Impor. Pertemuan ke-13

Materi Minggu 7. Prosedur Dasar Pembayaran Internasional

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu pakar ekonomi dari Inggris, David Ricardo, menyatakan dalam teori

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perdagangan internasional kegiatan beli disebut impor dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pesatnya perkembangan dalam bidang usaha pada zaman modern

BAB II TINJAUAN UMUM RED CLAUSE L/C DALAM TRANSAKSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini berisi tinjauan terhadap kepustakaan yang ada, sepanjang yang

I. PENDAHULUAN. internasional negara-negara di dunia, khususnya yang didasarkan pada kepentingankepentingan

KETERKAITAN PERBANKAN DALAM TRANSAKSI WAREHOUSE RECEIPT 1. Oleh: Dr. Ramlan Ginting, S.H., LL.M 2

BAB III SISTEM PEMBAYARAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan Indonesia, (Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2006), hal. 41.

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 5/11 /PBI/2003 TENTANG PEMBAYARAN TRANSAKSI IMPOR GUBERNUR BANK INDONESIA,

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. membeli dan menjual (perdagangan) barang antara pengusaha yang bertempat di

BAB I PENDAHULUAN. segala sesuatunya bersifat praktis dan aman, khususnya dalam bidang

Syarat Pembayaran dlm Jual Beli Perniagaan

BAB I PENDAHULUAN. sehingga barang dan jasa yang diproduksi pun berbeda. Untuk memenuhi

BAHAN KULIAH HUKUM PERNIAGAAN/PERDAGANGAN INTERNASIONAL MATCH DAY 11. SISTEM PEMBAYARAN DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL LETTER of CREDIT (L/C)

Bab 17 Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN)

BAB II TINJAUAN TERHADAP TRANSAKSI EKSPOR IMPOR DENGAN MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT

CARA PEMBAYARAN JUAL BELI: JENIS, KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DR. YETTY KOMALASARI DEWI KULIAH 5

Kodifikasi Peraturan Bank Indonesia. Jasa Bank. Pembayaran Transaksi Impor

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. maka hubungan dagang tersebut tidak hanya dilakukan antara para pengusaha

Syarat-Syarat dan Ketentuan Transaksi. Version

BAB 1 KONSEP PERDAGANGAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. tahun terakhir merupakan refleksi minat masyarakat terhadap ekonomi syariah

BAB I PENDAHULUAN. Penulis memilih judul "Trust Receipt dalam Mengatasi Persoalan Tidak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ekspor adalah kegiatan pengiriman dan penerimaan barang yang dilakukan oleh para

BAB II TINJAUAN PERBANDINGAN STANDBY LETTER OF CREDIT DENGAN BANK GARANSI DALAM TRANSAKSI PERBANKAN

PERJANJIAN JUAL BELI DENGAN MENGGUNAKAN L/C (LETTER of CREDIT) PADA CV. GOLDEN TEAK GARDEN SEMARANG

Prosedur Dasar Pembayaran Internasional. By : Afrila Eki Pradita, S.E., MMSI

BAB I PENDAHULUAN. sumber alam, iklim, letak geografis, penduduk, keahlian, tenaga kerja,

TINJAUAN YURIDIS TENTANG BENTUK PEMBAYARAN EKSPOR-IMPOR FURNITURE PADA CV.MUGIHARJO BOYOLALI

BAB II PERJANJIAN EKSPOR IMPOR DAN SISTEM PEMBAYARAN DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL. A. Pengertian dan Pengaturan Hukum dalam Transaksi Ekspor Impor

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN EKSPOR IMPOR

METODE PEMBAYARAN TAGIHAN SUPLIER MELALUI SURAT KREDIT BERDOKUMEN DALAM NEGERI (SKBDN) PADA PT. ADHIKARYA (PERSERO) TBK DIVISI KONSTRUKSI III MEDAN

Proses dan Prosedur Impor. Pertemuan ke-9

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan-hubungan dagang yang bersifat lintas batas dapat mencakup

PERLINDUNGAN TERHADAP BANK DALAM TRANSAKSI PERDAGANGAN DENGAN MENGGUNAKAN SARANA LETTER OF CREDIT / LC. Oleh : Sarah D.L.

Berbagai Dokumen Penting Ekspor. Pertemuan ke-6

PRODUK & LAYANAN VALUTA ASING. Surabaya, 15 Desember 2016

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Abdulkadir Muhammad (2000:225), yang dimaksud perjanjian adalah

TANGGUNG JAWAB HUKUM ADVISING BANK DALAM PEMBAYARAN BARANG DENGAN MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT

Syariah Mandiri (BSM) menerapkan produk L/C ini untuk melayani transaksi. hanya terietak pada saat pembayaran weselnya saja. Untuk sight L/C, bank

BAB III SIMULASI PENGISIAN L/C

BAB I PENDAHULUAN. Transaksi perdagangan luar negeri merupakan suatu rangkaian kegiatan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. dan pendapatan negara (export earnings) yang merupakan salah satu sumber

BAB I PENDAHULUAN. makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, kesinambungan dan. peningkatan pelaksanaan pembangunan nasional yang berasaskan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2017 TENTANG CARA PEMBAYARAN BARANG DAN CARA PENYERAHAN BARANG DALAM KEGIATAN EKSPOR DAN IMPOR

BAB I PENDAHULUAN. Seiring majunya ekonomi suatu negara, maka semakin banyak. kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan

Pendanaan Ekspor dan Impor

BAB I PENDAHULUAN. Penulis memilih Penelitian hukum dengan judul: Problematika Hukum

LETTER OF CREDIT. Dina W. W Kariodimedjo Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Letter of Credit 1 FH UGM

KAJIAN HUKUM MENGENAI LETTER OF CREDIT SEBAGAI SALAH SATU CARA PEMBAYARAN DALAM TRANSAKSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL SKRIPSI

MENYIMAK KASUS LC FIKTIF BNI KEBAYORAN BARU

Fendhi Harsinto Aji NIM : C

SKBDN. 1. Konsep SKBDN (Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri) 1.2 Tujuan Penerbitan SKBDN

BAB I PENDAHULUAN. Pengenalan transaksi ekspor impor

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Tugas dalam Memenuhi Syarat untuk Mencapai Gelar Sajana Hukum. Oleh :

BAB II LANDASAN TEORI. miliki kepada bangsa lain atau negara asing dengan mengharapkan

PELAKSANAAN PERJANJIAN JUAL BELI DENGAN MENGGUNAKAN L/C (LETTER OF CREDIT) PADA PT. BATIK DANAR HADI SURAKARTA

BAB III TINJAUAN YURIDIS MENGENAI KLAUSULA BAKU DALAM PERJANJIAN KARTU KREDIT BANK MANDIRI, CITIBANK DAN STANDARD CHARTERED BANK

BAB II LANDASAN TEORI

MEKANISME PEMBAYARAN MELALUI LETTER OF CREDIT (L/C) DALAM TTRANSAKSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL PADA PT. SEMEN BOSOWA MAROS

2. Proses dan langkah langkah L/C:

PERTANGGUNGJAWABAN IMPORTIR ATAS KERUGIAN EKSPORTIR AKIBAT DARI FREE ON BOARD TRAP

BAB 3 METODE PENULISAN

Anita Asnawi, S.Sos., MM.

Kekhususan Jual Beli Perusahaan

LAPORAN KEUANGAN BANK UMUM

LALU LINTAS PEMBAYARAN LUAR NEGERI dan DALAM NEGERI. By : Afrila Eki Pradita, S.E., MMSI

-2- teknologi, melindungi neraca pembayaran dan/atau neraca perdagangan, meningkatkan produksi, dan memperluas kesempatan kerja. Di lain sisi, pemilih

E UNIVERSITAS SEBELAS MARET

BAB II TINJAUAN TENTANG LETTER OF CREDIT (L/C) kegiatan jual beli yang dilakukan oleh negara yang satu dengan negara yang lain.

BAB I PENDAHULUAN. dan memperlancar perdagangan dalam maupun luar negeri karena adanya

MANAJEMEN JASA-JASA BANK. /

BAB V PENUTUP. Berdasarkan uraian pada Bab-bab sebelumnya dapat diambil

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. A. Prosedur Transaksi Ekspor dan Impor dengan Mekanisme L/C pada Citi

BAB I PENDAHULUAN. exchange of goods and services between nations dan selanjutnya as

Jasa Jasa Perbankan. 1. Transfer 2. Inkaso 3. Bank garansi 4. Letter of Credit 5. Waliamanat 6. Kliring

BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

BAB XIII PROSEDUR IMPOR - 1

ASPEK HUKUM STANDBY LETTER. Oleh SURI SEKAR AYU

MEKANISME PENYELESAIAN PEMBAYARAN KEGIATAN EKSPOR IMPOR DENGAN MENGGUNAKAN LETTER OF CREDIT DAN BILL EXCHANGE. Oleh: Suyanti

a. nama dan/atau logo Bank; dan b. pernyataan bahwa Bank terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 6

TEKNIS PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEKANISME PEMBAYARAN PRODIP I KEPABEANAN DAN CUKAI 1

BAB II KEDUDUKAN CORPORATE GUARANTOR YANG TELAH MELEPASKAN HAK ISTIMEWA. A. Aspek Hukum Jaminan Perorangan Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

SATUAN ACARA PENGAJARAN ( SAP )

BAB I PENDAHULUAN. pengusaha-pengusaha yang bertempat di negara-negara yang berbeda. dan cara yang berbeda-beda (Roselyne Hutabarat, 1996: 1).

Amelia Febriani Kelompok 3 Buku Kerja Dokumen Produk Ekspor

ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA PIHAK DALAM TRANSAKSI EXPOR-IMPOR DENGAN MENGGUNAKAN L/C (LETTER OF CREDIT) SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN

Transkripsi:

TINJAUAN YURIDIS ATAS PENIPUAN DOKUMEN DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT SKRIPSI Oleh : LINTANG RIZKI PUSPITASARI E1A009049 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS HUKUM PURWOKERTO 2013

TINJAUAN YURIDIS ATAS PENIPUAN DOKUMEN DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Oleh : LINTANG RIZKI PUSPITASARI E1A009049 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS HUKUM PURWOKERTO 2013 i

Lembar Pengesahan Skripsi TINJAUAN YURIDIS ATAS PENIPUAN DOKUMEN DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT Oleh: LINTANG RIZKI PUSPITASARI E1A009049 Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Diterima dan Disahkan Pada Tanggal.. Pembimbing I, Pembimbing II, Penguji, Sukirman, S.H., M.Hum. Hj. Krisnhoe. Kartika W., S.H.,M.Hum. Hendro Punto Adji S.H. M.S. NIP. 19581006 198403 1 001 NIP. 19591031 198703 2 001 NIP. 19501019 197603 1 001 Mengetahui Dekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Dr. Angkasa, S.H., M.Hum. NIP. 19640923 198901 1 001 ii

SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya: Nama : LINTANG RIZKI PUSPITASARI NIM : E1A009049 Judul Skripsi : TINJAUAN YURIDIS ATAS PENIPUAN DOKUMEN DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT Menyatakan bahwa skripsi yang saya buat ini adalah betul-betul karya saya sendiri dan tidak menjiplak hasil karya orang lain maupun dibuatkan oleh orang lain. Dan apabila terbukti saya melakukan Pelanggaran sebagaimana tersebut di atas, maka saya bersedia dikenai sanksi apapun dari Fakultas. Purwokerto, Februari 2013 LINTANG RIZKI PUSPITASARI iii

PRAKATA Puji dan Syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Tinjauan Yuridis atas Penipuan Dokumen dalam Transaksi Letter of Credit sebagai syarat untuk mencapai gelar Kesarjanaan Ilmu Hukum. Penulis berharap agar skripsi ini bisa menjadi masukan bagi pihakpihak yang juga meneliti hal yang serupa dan dapat menjadi tambahan kepustakaan bagi masalah yang terkait. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, sehingga diharapkan kritik dan masukan yang membangun bagi skripsi ini sangat diharapkan. Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, masukan, saran dari banyak pihak, hal ini yang membuat penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr Angkasa, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman. 2. Bapak Sukirman S.H., M.Hum., selaku pembimbing I yang telah banyak membantu memberikan bimbingan, petunjuk, masukan dalam penulisan skripsi ini. 3. Ibu Krisnhoe Kartika W. S.H., M.Hum., selaku pembimbing II yang telah banyak membantu memberikan bimbingan, petunjuk, masukan dalam penulisan skripsi ini. iv

4. Bapak Hendro Punto Adji S.H., M.S., selaku penguji yang telah memberikan saran dan masukan bagi penyempurnaan skripsi ini. 5. Bapak Sunarto S.H., selaku pembimbing akademik atas seluruh motivasi yang diberikan selama ini. 6. Dosen Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman yang telah membekali ilmu pengetahuan, wawasan serta pengalaman yang berguna. 7. Pimpinan beserta staff dari PT Bank OCBC NISP Kantor Pusat yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk melakukan penelitian dan memberikan keterangan yang diperlukan bagi penyelesaian skripsi ini. 8. Mama dan Ayah atas semua dukungan, kasih sayang, bantuan, serta motivasi yang tidak henti-hentinya selama ini. Terima kasih untuk semuanya, dan semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan. 9. Mas Bagas atas masukan, saran dan kritik bagi penulisan skripsi ini serta perhatian dan kebaikan yang selama ini telah diberikan. Dhani atas bantuan, hiburan dan dukungan bagi penulis. v

10. Nui yang telah memberikan motivasi untuk menulis skripsi dan memberikan penghiburan setiap saat. Terima kasih sudah menjadi teman yang sangat baik selama ini. 11. Sahabatku Mela, Anis, dan Afril atas semua motivasi, dukungan, saran yang diberikan bagi penulis selama mengerjakan skripsi. Terima kasih karena telah menemani dan menghibur selama perkuliahan. 12. Aditya Yogas atas dukungan, bimbingan, dan semangat dalam pengerjaan skripsi ini dan juga atas semua bantuan yang diberikan selama perkuliahan. 13. Alvin, Daniel, Ilham, Toro, Kiki, Foni, Tofik, Bimo, untuk semua bantuan selama kuliah dan jadi penghibur saat jenuh dengan skripsi. Serta rekanrekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman yang tidak dapat disebut satu persatu atas semua dukungan dan bantuan yang diberikan. Purwokerto, Februari 2013 Penulis vi

TINJAUAN YURIDIS ATAS PENIPUAN DOKUMEN DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT Oleh: LINTANG RIZKI PUSPITASARI E1A009049 ABSTRAKSI Dalam pembiayaan L/C, eksportir berhak menerima pembayaran atas pengajuan dokumen-dokumen yang memenuhi persyaratan L/C. Adanya pemenuhan dokumen-dokumen oleh ekportir menyebabkan bank yang ditunjuk (nominated bank) dapat berupa bank penegosiasi (negotiating bank), bank pembayar (paying bank), atau bank pengaksep (accepting bank), akan membayar tagihan eksportir atas pengajuan dokumen-dokumen yang memenuhi persyaratan L/C. Selanjutnya bank penerbit akan melakukan penggantian pembayaran kepada bank yang ditunjuk karena telah melakukan pembayaran kepada eksportir. Pokok permasalahan yang disampaikan dalam skripsi ini adalah bagaimana bagaimana hubungan antara sales contract yang dibuat antara penjual dengan pembeli terhadap pemeriksaan dokumendokumen yang sedang dinegosiasikan dalam L/C yang mengandung penipuan dan tindakan bank penerbit apabila ada permohonan penolakan pembayaran yang diajukan oleh importir karena terdapat penipuan terhadap dokumen dalam L/C. Penelitian ini adalah penelitian hukum kepustakaan (normatif) yang berupa penemuan hukum in concreto. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan dan studi documenter serta wawancara sebagai data pendukung. Data yang terkumpul kemudian disajikan dalam bentuk teks naratif yang disusun secara sistematis. Hasil penelitian dalam hal terjadi penipuan, tidak dibayarnya beneficiary oleh bank penegosiasi karena terdapat penipuan dokumen (forged or fraudulent document) merupakan bukti batal demi hukumnya prinsip keterikatan dokumen. Selanjutnya karena adanya penolakan pembayaran dari bank penegosiasi terhadap beneficiary, menimbulkan antara L/C dengan kontrak-kontrak lainnya termasuk sales contract yang akan menjadi satu kesatuan. Sehingga dapat saja bank penerbit menolak permohonan penolakan pembayaran dari beneficiary apabila terdapat hal-hal yang menyebabkan pengecualian penipuan tidak berlaku atau dengan kata lain tindakan bank penerbit dapat menerima atau menolak permohonan penolakan pembayaran. Kata kunci: Penipuan dokumen, Letter of Credit vii

THE JUDICIAL REVIEW OF FRAUDULENT DOCUMENT ON THE TRANSACTION OF LETTER OF CREDIT ABSTRACT Refer to L/C financing, exporter have a right to receive payment against their documents presentation as comply with L/C terms. The presentation of exporter s documents made a nominated bank as acted as negotiating bank, paying bank or accepting bank will pay exporter s draft due to the documents presentation which it had passed as comply with L/C terms. Issuing bank will make a reimbursement to nominated bank as it had made a payment to exporter. The main problem will be described in this writing: How is the relationship between sales contract made by seller and buyer against documents verification under negotiating progress contained the fraud and how is the action of issuing bank when a submission of payment rejection came from importer as L/C documents fraud was underlying on it. This research is a librarian legal research (normative) to gain legal finding in concreto. Methods of data collection is done by using a literature study and documentary studies and interviews as supporting data. The collected data is then presented in the form of narrative text and arranged systematically. Based on the findings, the condition of unpaid bills occurred on beneficiary by negotiating bank as the result of forged or fraudulent document are the evidence of void ab initio for the principles of dependence documents. Afterwards, the action of payment rejection by negotiating bank to the beneficiary, will appear the relationship between L/C with other contracts, including sales contract became a unity. Then if any fraud arises, issuing bank can push away a submission of payment rejection by beneficiary when any reason caused by the fraud exception is not valid or in other words, the action of issuing bank can approve or reject the submission of payment rejection. Key Words: documents fraud, Letter of Credit viii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL......i HALAMAN PENGESAHAN.....ii SURAT PERNYATAAN...iii PRAKATA... iv ABSTRAK...vii ABSTRACT.. viii DAFTAR ISI...........ix BAB I PENDAHULUAN....1 A. Latar Belakang Permasalahan...1 B. Perumusan Masalah.....11 C. Tujuan Penelitian....11 D. Kegunaan Penelitian...11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...13 A. Tinjauan Umum Transaksi Ekspor Impor.....13 1. Pengertian Transaksi Ekspor Impor.....13 ix

2. Pihak-Pihak Dalam Transaksi Ekspor Impor...17 3. Pembayaran Dalam Transaksi Ekspor Impor...17 B. Tinjauan Umum Letter of Credit (L/C).....20 1. Pengertian Letter of Credit (L/C)....20 2. Klasifikasi Letter of Credit (L/C)....21 3. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Letter of Credit (L/C)....36 4. Perjanjian Dasar Pembukaan Letter of Credit (L/C)....41 5. Prosedur Pembukaan Letter of Credit (L/C).....45 6. Dokumen-Dokumen Dalam Letter of Credit (L/C).....47 7. Pembayaran Letter of Credit (L/C).. 67 BAB III METODE PENELITIAN...73 A. Metode Pendekatan.....73 B. Spesifikasi Penelitian.. 73 C. Lokasi Penelitian.....74 D. Sumber Data......74 E. Metode Pengumpulan Data......75 F. Metode Penyajian Data.. 76 x

G. Metode Analisis Data......77 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 78 A. Hasil Penelitian......78 B. Pembahasan.....104 BAB V PENUTUP...127 A. Simpulan..127 B. Saran.....129 DAFTAR PUSTAKA xi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia memiliki beraneka ragam kebutuhan yang harus dipenuhi, agar dapat menunjang kelangsungan hidupnya. Dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya, manusia mengadakan hubungan dengan manusia lain yaitu dengan melakukan perdagangan. Perdagangan ialah pemberian perantaraan kepada produsen dan konsumen untuk membeli dan menjual barang-barang yang memudahkan dalam memajukan pembelian dan penjualan itu. 1 Rafiqul Islam memberi batasan dari perdagangan internasional sebagai a wide ranging, transnational, commercial exchange of goods and services between individual business persons, trading bodies an states. 2 Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi yang berbedabeda antara negara satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan tersebut kemudian mempengaruhi timbulnya perdagangan internasional. Menurut Hartono Hadisoeprapto, pelaksanaan perdagangan di dalam negeri lebih mudah dilaksanakan dan tidak terdapat banyak hambatan jika dibandingkan dengan perdagangan internasional. Hambatan dalam perdagangan internasional antara lain disebabkan karena terpisahnya pembeli dan penjual 1 Farida Hasyim, Hukum Dagang, cet. 1, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 5 2 Rafiqul Islam sebagaimana dikutip Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional, cet.1, (PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005),Hal. 7

2 secara geografis, adanya batas-batas kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan. Selain itu masing-masing negara memiliki peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah negara masing-masing, serta perbedaan mata uang yang berlaku di masing-masing negara tentu saja merupakan beberapa faktor penghambat perdagangan internasional. 3 Adanya perbedaan mata uang dapat dikatakan sebagai suatu penghambat dalam hal pembayaran. Bagi pengirim atau penjual barang harus terlebih dulu ada jaminan pembayaran terhadap barang yang dijualnya. Tanpa jaminan dari pihak pembeli tidak mungkin penjual berani melepas barang dagangannya. Begitu pula bagi pihak pembeli perlu ada jaminan untuk memperoleh barang dengan disertai jumlah dan kualitas yang diinginkannya. Bagi mereka yang berdagang masih dalam satu pulau atau masih dalam satu negara hal ini mungkin tidak menjadi masalah serius. Tapi bagi mereka yang dibatasi oleh jarak yang jauh dan waktu yang lama, apalagi antar negara jelas masalah pengiriman barang dan pembayaran akan menjadi masalah besar. Penggunaan Letter of Credit (L/C) dapat menjadi salah satu solusi untuk terciptanya kelancaran dalam mekanisme pembayaran perdagangan internasional. Menurut Ramlan Ginting, metode pembayaran perdagangan internasional dapat dilakukan dalam berbagai bentuk: 1. Letter of Credit; 2. Non-Letter of Credit a. Advance Payment; b. Collection; c. Open Account; 3 Hartono Hadisoeprapto, Kredit Berdokumen (Letter Of Credit) Cara Pembayaran Dalam Jual Beli Perniagaan, Yogyakarta, Liberty Offset, 1991, Hal. 2

3 d. Consigment. 4 Sistem pembayaran dengan L/C ini merupakan cara yang paling aman bagi eksportir untuk memperoleh hasil penjualan barangnya dari importir, asalkan eksportir tersebut dapat menyerahkan dokumen-dokumen sesuai dengan yang disyaratkan dalam L/C. Dengan penerbitan L/C ini sebuah bank bertindak sebagai pengganti importir yakni pihak yang memberikan kepercayaan dan kepastian kepada penjual bahwa pembayaran akan dilakukan oleh bank tersebut sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang terdapat di dalam L/C. 5 L/C adalah setiap jenis kesepakatan atau komitmen atau janji dari issuing bank yang tidak bisa dibatalkan secara sepihak untuk melakukan pembayaran kepada beneficiary apabila menerima dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi L/C. 6 Kegunaan L/C adalah untuk menampung dan menyelesaikan kesulitankesulitan dari pihak pembeli (importir) maupun penjual (eksportir) dalam transaksi perdagangan. Dengan kata lain L/C menjamin kelancaran pembayaran dan pengiriman barang sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat antara eksportir dengan importir melalui itikad baik kedua belah pihak. 7 Definisi L/C menurut Black s Law Dictionary ialah sebagai berikut: sebuah instrumen oleh penerbit (biasanya sebuah bank), atas permintaan nasabahnya, menyetujui untuk menjamin sebuah wesel atau permintaan 4 Ramlan Ginting, Transaksi Bisnis dan Perbankan Internasional, cet.2 (Revisi), Salemba Empat, Jakarta, 2008, hal. 12-16. 5 Roselyne Hutabarat, Transaksi Ekspor Impor, cet.3 Erlangga, Jakarta, 1990, hal.13 6 Ec Warsidi, Letter of Credit; A Guide To The Impact Of The New Rules Of UCP 600, cet.1, Komexindo.press, Surabaya, 2009, hal. 12. 7 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, cet.1, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005 hal.186.

4 lainnya untuk pembayaran kepada pihak ketiga (beneficary) sepanjang wesel atau permintaan tersebut sudah memenuhi dengan persyaratan yang diminta, dan tidak memandang apakah ada perjanjian yang mendasarinya antara si nasabah dan beneficiary itu sudah terpenuhi. 8 Emmy Pangaribuan Simanjuntak mengatakan sebenarnya pengertian L/C itu sendiri adalah suatu surat perintah membayar kepada seorang atau beberapa orang yang dialamati untuk melakukan pembayaran sejumlah uang tertentu yang disebut di dalam surat perintah itu adalah suatu bank dan yang dialamati adalah suatu bank juga. 9 berikut: Selanjutnya Amir M.S. memberikan suatu definisi bagi L/C yaitu sebagai L/C ialah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank devisa bersangkutan dan ditujukan kepada eksportir di luar negeri yang menjadi relasi dari importir tersebut. Isi surat itu menyatakan bahwa eksportir penerima L/C diberi hak oleh importir untuk menarik wesel (surat perintah untuk melunasi utang) atas Bank Pembuka untuk sejumlah uang yang disebut dalam surat itu. Bank yang bersangkutan menjamin untuk mengakseptir atau menghonorir wesel yang ditarik tersebut asal sesuai dan memenuhi semua syarat yang tercantum dalam surat itu. 10 Menurut John F. Dolan, L/C adalah perbuatan yang sesungguhnya dilakukan salah satu pihak (penerbit) untuk menganti kekuatan finansialnya untuk pihak lainnya (the account party) dengan mana perbuatan itu mensyaratkan 8 Black s Law Dictionary, Eight Edition, West-Thomson, USA, 2004,hal. 923. 9 Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Pembukaan Kredit Berdokumen (Documentary Creditopening) dalam Ramlan Ginting, Letter of Credit Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis cet. 2 Salemba Empat, Jakarta, 2002, hal. 16. 10 Amir M.S., Letter of Credit Dalam Bisnis Ekspor Impor, cet.3, CV. Teruna Grafika, Jakarta, 1999, hal.1

5 penyerahan sebuah wesel atau tuntutan pembayaran dan, yang paling sering, dokumen-dokumen lainnya. 11 Pada hakikatnya L/C adalah alat pembayaran, oleh karena itu keseimbangan hak dan kewajiban para pihak dalam L/C harus dipertahankan secara adil dan keterbukaan dalam pelaksanaan L/C merupakan suatu keharusan karena inti L/C adalah perwujudan pembayaran sejumlah uang senilai L/C. 12 Perwujudan keseimbangan antara hak dan kewajiban pihak dalam L/C ini tercermin dari adanya kewajiban bagi pemohon untuk membayar bank penerbit yang untuk dan atas nama pemohon melakukan pembayaran harga barang dengan L/C kepada penerima yang menyampaikan kepada bank penerbit dokumendokumen yang dipersyaratkan setelah pemohon memperoleh barang yang yang dibayar berdasarkan L/C. Apabila bank penerbit memberi kuasa kepada bank yang ditunjuk untuk melakukan pembayaran harga barang kepada penerima, bank penerbit memiliki kewajiban untuk membayar kembali kepada bank yang ditunjuk sejumlah uang yang telah dibayarkannya kepada penerima. Hak dan kewajiban dari masing-masing pihak adalah sesuai dengan kesepakatan berdasarkan kontrak yang disetujui para pihak yang memuat jumlah pembayaran yang akan direalisasikan sebagai pengganti pengiriman barang oleh penerima kepada pemohon. Saat pelaksanaan hak dan kewajiban juga dilakukan dengan merujuk kepada kesepakatan masing-masing pihak berdasarkan kontrak. Terdapat ketentuan yang universal untuk metode pembayaran L/C yaitu UCP. The Uniform Customs and Practice for Documentary Credit (UCP) adalah 11 John F. Dolan, The Law of Letter of Credit, second edition, (Warren, Gorham & Lamont, Inc., Boston Massachusets, 1991), hal.2-4. 12 Ramlan Ginting, Op.Cit., hal.7.

6 salah satu produk dari ICC. The International Chamber of Commerce (ICC) didirikan pada tahun 1919. Badan ini berkedudukan di Paris. Tujuannya pada waktu itu, dan sampai sekarang masih terus berlaku, adalah melayani dunia usaha dengan memajukan perdagangan, penanaman modal, membuka pasar untuk barang dan jasa, serta memajukan aliran modal. 13 UCP yang merupakan produk dari ICC, yang diterbitkan di tahun 1933 dan mengalami revisi terakhir pada tahun 2007. UCP hasil revisi 2007 tersebut sering dinamakan UCP 600 yang berlaku tanggal 1 Juli 2007. Penyebutan UCP 600 didasarkan pada nomor publikasi UCP revisi 2007 yaitu nomor 600. Sebelum lahir ketentuan UCP 600, terlebih dahulu berlaku ketentuan UCP 500. Adapun ketentuan UCP 500 berlaku dari tanggal 1 Januari 1994 sampai dengan 1 Juli 2007. Namun, secara formal UCP 600 tidak mencabut UCP 500. Artinya dalam UCP 600 tidak ada ketentuan mengenai pencabutan UCP 500. ICC yang menerbitkan UCP 600 menyatakan bahwa UCP 600 berlaku mulai tanggal 1 Juli 2007, tetapi tidak mencabut atau menyatakan UCP 500 tidak berlaku lagi sejak saat itu. Oleh karena itu, berdasarkan asas kebebasan berkontrak, para pihak dalam L/C masih dapat melakukan kesepakatan untuk memberlakukan UCP 500 atau UCP 600. 14 UCP bukan merupakan produk hukum sebagaimana undang-undang atau konvensi internasional, melainkan kompilasi kebiasaan dan praktik internasional mengenai L/C. UCP bertujuan menciptakan keseragaman praktik L/C secara 13 Huala Adolf, Op.Cit., Hal.47 14 Ramlan Ginting, Op.Cit., Hal. 2

7 universal. Dengan demikian UCP dapat dikatakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan L/C sehingga sejauh mungkin perbedaan atau kesalahan penafsiran di antara para pihak dalam pelaksanaan L/C dapat dihindari. 15 Berdasarkan prinsip indepedensi L/C kesesuaian dokumen-dokumen yang diajukan dengan persayaratan L/C semata-mata dengan merujuk kepada L/C tanpa memperhatikan kontrak penjualan. Sebagaimana telah dikemukakan dalam artikel 3 UCP 500 atau artikel 4 UCP 600, ditekankan keterpisahan L/C terhadap kontrak penjualan dan kontrak lainnya. Materi ketentuan ini merupakan landasan bagi keberadaan prinsip independensi dalam transaksi L/C. 16 Selanjutnya dalam artikel 4 UCP 500 atau artikel 5 UCP 600, ditekankan bahwa dalam transaksi L/C bank hanya berurusan dengan dokumen dan tidak berurusan dengan barang, jasa, atau pelaksanaan lainnya. Ketentuan dalam UCP tersebut merupakan landasan bagi prinsip keterikatan pada dokumen dalam transaksi L/C. 17 Dalam artikel 14 a UCP 500 atau artikel 14 a UCP 600 ditegaskan bahwa pembayaran L/C didasarkan pada kesesuaian antara persyaratan L/C dan dokumen-dokumen yang diajukan yang dilihat berdasarkan on their face. Adapun materi ketentuan ini merupakan dasar bagi penentuan kesesuaian. 18 Dalam pembiayaan L/C, eksportir berhak menerima pembayaran atas pengajuan dokumen-dokumen yang memenuhi persyaratan L/C. Tiada pembayaran tanpa pengajuan dokumen. Bank yang ditunjuk (nominated bank) dapat berupa bank penegosiasi (negotiating bank), bank pembayar (paying bank), 15 Ramlan Ginting,Op.Cit., Hal. 31 16 Ramlan Ginting, Letter of Credit Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis cet. 2, Universitas Trisakti, Jakarta, 2007, Hal. 154 17 Ramlan Ginting, Loc.Cit. 18 Ramlan Ginting, Loc.Cit..

8 atau bank pengaksep (accepting bank), akan membayar tagihan eksportir atas pengajuan dokumen-dokumen yang memenuhi persyaratan L/C. Selain itu bank penerbit (issuing bank) akan melakukan pembayaran kembali kepada bank yang ditunjuk atas pengajuan dokumen-dokumen yang memenuhi persyaratan L/C. Akhirnya, importir (applicant) akan melakukan pembayaran kembali kepada bank penerbit atas pengajuan dokumen-dokumen yang memenuhi persyaratan L/C kepada importir. 19 Komitmen importir untuk melakukan pembayaran kembali kepada bank penerbit hanya didasarkan pada pemenuhan persyaratan L/C. Komitmen membayar tidak memiliki keterkaitan dengan realisasi barang, jasa, atau pelaksanaan (performance). Setelah L/C diterbitkan, importir tidak dapat meminta pengurangan nilai (reduction in price) atau persyaratan yang lebih baik. Salah satu masalah yang mendasar, yaitu UCP tidak mengatur masalah penipuan (fraud) dalam transaksi L/C. Penipuan dalam transaksi L/C tidak diatur dalam UCP 500 (artikel 15) atau dalam UCP 600 (artikel 34). Penipuan murni merupakan pengaturan hukum dalam Hukum L/C. Amerika merupakan negara pertama yang menemukan dasar hukum penipuan dalam transaksi L/C sebagaimana pada putusan pengadilan Amerika dalam kasus Sztejn vs J. Henry Schroder Banking Corp., 32 N.Y.S. 2 d 631. Di mana putusan pengadilan kasus Sztejn ini kemudian diikuti dengan pengaturan dalam artikel 5 Uniform Commercial Code di Amerika. Penipuan merupakan alasan hukum bagi bank penerbit (issuing bank) atau kuasanya untuk menolak melakukan pembayaran L/C 19 Ramlan Ginting, Op.Cit., Hal. 44

9 kepada penerima walaupun semua dokumen yang diajukannya kepada bank sesuai dengan persayaratan L/C. 20 Kasus Bossier Bank & Trust Co. vs. Union Planters Nat l Bank adalah salah satu contoh kasus penipuan dokumen dalam L/C. Dalam kasus ini hakim memutuskan bahwa bank penerbit dapat dibenarkan menolak pembayaran L/C dalam hal konosemen yang mengandung unsur penipuan (fraudulent bill of lading). Pada kasus ini L/C mensyaratkan penyerahan konosemen yang diterbitkan setelah barang berada di atas kapal (on board bill of lading) yang menyatakan barang telah dimuat di atas kapal tidak melewati tanggal 15 Januari 1975. Konosemen disampaikan kepada bank penerbit sesuai dengan persyaratan tersebut, tetapi konosemen ini mengandung unsur penipuan. Hal ini karena tanggal pemuatan barang ke atas kapal dipalsukan sebab kapal yang seharusnya memuat barang belum tiba di pelabuhan muat pada tanggal 15 Januari 1975. Meskipun penerima telah menyampaikan semua dokumen yang dipersyaratkan dalam L/C kepada bank penerbit, dalam kasus ini bank penerbit menolak melakukan pembayaran karena bank penerbit mengetahui terdapat penipuan dalam transaksi L/C yaitu pemalsuan tanggal konosemen. Berbeda dengan kasus Bossier Bank, pada Putusan Pengadilan Inggris dalam kasus United City Merchants vs. Royal Bank of Canada, bill of lading menunjukkan bahwa pengapalan barang dilakukan tanggal 15 Desember 1976. Faktanya, pengapalan dilakukan tanggal 16 Desember 1976. Tanggal pengapalan terakhir berdasarkan L/C adalah tanggal 15 Desember 1976. Pemberian tanggal 20 Ibid, Hal. 3.

10 pada bill of lading dilakukan oleh pegawai loading broker untuk pengangkut. Penjual tidak mengetahui mengenai terjadinya pemalsuan tanggal bill of lading tersebut, ia percaya bahwa pengapalan barang dilakukan tanggal 15 Desember 1976. Putusan Pengadilan menyatakan bahwa bank berhak untuk dibayar kembali oleh nasabahnya atas penyerahan dokumen-dokumen yang termasuk di dalamnya dokumen yang dipalsukan, di mana dokumen-dokumen tersebut telah diteliti dengan wajar (due care) dan pemalsuan tersebut tidak terdeteksi. Dengan demikian pembeli diharuskan untuk membayar kepada bank penerbit. Dalam kasus ini, kesalahan bukan dilakukan oleh penjual, karena penjual tidak melakukan penipuan atau mengetahui adanya penipuan. 21 PT. Bank OCBC NISP (Tbk) Kantor Pusat merupakan salah satu penyedia jasa transaksi dengan menggunakan L/C. Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tindakan Bank OCBC NISP sebagai bank penerbit seandainya terjadi kasus penipuan dokumen sebagaimana yang telah disebutkan dan mencoba menuangkannya dalam bentuk skripsi yang berjudul TINJAUAN YURIDIS ATAS PENIPUAN DOKUMEN DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT. 21 Ibid, hal. 67

11 B. Perumusan Masalah 1. Bagaimana hubungan hukum antara sales contract yang dibuat antara penjual dengan pembeli terhadap pemeriksaan dokumen-dokumen yang sedang dinegosiasikan dalam L/C yang mengandung penipuan? 2. Bagaimana tindakan hukum bank penerbit jika terdapat permohonan penolakan pembayaran atas dasar penipuan terhadap dokumen dalam L/C? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan masalah-masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini maka tujuan penelitian ini sebagai berikut : 1. Mengetahui hubungan hukum antara sales contract yang dibuat antara penjual dengan pembeli terhadap pemeriksaan dokumen-dokumen yang sedang dinegosiasikan dalam L/C yang mengandung penipuan. 2. Mengetahui mengenai tindakan bank penerbit jika terdapat permohonan penolakan pembayaran atas dasar penipuan terhadap dokumen dalam L/C. D. Kegunaan Penelitian 1. Secara Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah kepustakaan ilmu hukum khususnya hukum dagang, sehingga hukum dapat selalu selaras dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

12 2. Secara Praktis a. Sebagai sarana pembelajaran bagi akademisi dan masyarakat umum, mengenai masalah yang berkaitan dengan penipuan dokumen dalam transaksi L/C; b. Sebagai masukan (input) bagi pihak terkait dalam transaksi L/C.

13 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Transaksi Ekspor Impor 1. Pengertian Transaksi Ekspor Impor Ekspor dan impor merupakan aktivitas yang terdapat dalam perdagangan internasional, oleh karena itu dapat pula transaksi dalam perdagangan internasional dikatakan sebagai transaksi ekspor impor. Di mana transaksi ekspor impor merupakan transaksi perdagangan yang melintasi negara-negara yang berlainan dilihat dari sisi para pihak dalam transaksi tersebut. Ekspor, dipandang dari sudut bahasa Indonesia adalah perbuatan mengirimkan barang ke luar Indonesia, sedang impor, sebaliknya, yaitu memasukkan barang dari luar negeri ke dalam Indonesia. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan No 146/MPP/IV/99 tanggal 22 April 1999 tentang Ketentuan Umum di bidang Ekspor maka diperoleh pengertian ekspor, yaitu kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean sesuai peraturan dan perundangundang yang berlaku. Sedangkan pengertian impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar negeri ke dalam wilayah pabean dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ketentuan yang dimaksud adalah ketentuan ekspor impor yang diatur dalam UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

14 Menurut Pasal 1 angka (13) UU No. 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan, menyebutkan bahwa Impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean. Sedangkan dalam angka (14) disebutkan definisi ekspor yaitu kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean. Menurut Agus Svarnha Nurpatria: Transaksi ekspor-impor adalah transaksi perdagangan internasional (International Trade) yang sederhana dan tidak lebih dari membeli dan menjual barang antara pengusaha-pengusaha yang bertempat di negara yang berbeda. 22 Menurut Etty Susilowati Suhardo yang dimaksud dengan transaksi perdagangan internasional adalah: Suatu rangkaian kegiatan dalam suatu perdagangan yang lazim dikenal dengan perdagangan ekspor impor. Perdagangan ini merupakan suatu transaksi sederhana, yaitu membeli dan menjual barang antar pengusaha yang masing-masing bertempat tinggal di negara-negara yang berbeda. 23 Menurut Amir M.S: Perdagangan luar negeri berarti perdagangan barang dari suatu negeri ke lain negeri di luar batas negara. 24 22 Agus Svarnha Nurpatria, Perjanjian Jual Beli Dengan Menggunakan L/C (Letter of Credit) Pada CV. Golden Teak Garden Semarang, 2007, Hal. 12. 23 Etty Susilowati Suhardo, 2001, Cara Pembayaran dengan Letter of Credit dalam Perdagangan Luar Negeri, Semarang, FH UNDIP, hal. 2 sebagaimana dikutip oleh Agus Svarnha, Hal 1 24 Amir, M.S. Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri, Seri Umum No.2, PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1985, hal. 2.

15 O.P. Simorangkir berpendapat bahwa perdagangan internasional adalah: Perdagangan yang dilaksanakan para pedagang antar negara yang berbeda, mengakibatkan timbulnya akan valuta asing yang mempengaruhi neraca perdagangan negara yang bersangkutan. 25 Melihat definisi-definisi mengenai perdagangan internasional yang dikemukakan oleh beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa transaksi ekpor impor atau yang disebut juga dengan perdagangan internasional, pada hakikatnya adalah perjanjian jual beli antara penjual dengan pembeli yang terpisah satu sama lainnya baik secara geografis maupun oleh batas kenegaraan. 26 Mengenai transaksi ekspor-impor ini tidak diatur secara khusus dalam KUHPerdata maupun dalam KUHDagang, akan tetapi secara umum ketentuan dalam KUHPerdata dalam Bab V Buku III tentang Jual Beli dan ketentuan dalam KUH Dagang tetap berlaku bagi perdagangan ekspor impor Indonesia. 27 Mengingat jual beli merupakan salah satu bentuk perjanjian, maka perjanjian jual beli tunduk pada Hukum Perjanjian pada umumnya. Batasan tentang perjanjian dalam Hukum Perdata terdapat dalam Pasal 1313 KUH Perdata yang menyebutkan : 25 Simorangkir, O.P. Kamus Perbankan, Bina Aksara, Jakarta, 1985, hal.128. 26 Hartono Hadisoeprapto, Op.Cit, Hal. 2. 27 Agus Svarnha Nurpatria, Op. Cit, Hal. 14.

16 Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih yang mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Ketentuan umum yang secara mutlak harus ditaati dalam suatu perjanjian terdapat dalam Pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat-syarat sahnya perjanjian. Dalam Pasal tersebut ditentukan bahwa untuk sahnya perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu : 1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; 2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian; 3. Suatu hal tertentu; 4. Suatu sebab yang hal. Sesuai dengan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, perjanjian yang telah memenuhi syarat sah, mengakibatkan para pihak terikat. Disebutkan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Perjanjian yang telah disepakati tidak dapat ditarik kembali selain dengan kata sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Pasal 1457 KUH Perdata menyebutkan definisi perjanjian jual beli secara umum, dimana disebutkan jual beli adalah suatu perjanjian timbal balik antara penjual dengan pembeli, dengan nama pihak penjual mengikatkan diri untuk menyerahkan suatu benda, sedangkan pihak pembeli mengikatkan diri untuk membayar harga benda sebagai yang telah diperjanjikan.

17 2. Pihak-Pihak Dalam Transaksi Ekspor Impor Hubungan perdagangan luar negeri dalam hal ini ekspor impor sama halnya dengan perdagangan dalam negeri yaitu terdapat pembeli, penjual dan adanya transaksi jual beli. Hanya saja dalam ekspor impor, penjual disebut sebagai eksportir dan pembeli disebut sebagai importir. 28 Selain eksportir dan importir, biasanya terdapat bank sebagai pihak ketiga yang berfungsi untuk menjamin terciptanya kelancaran perdagangan internasional oleh para pihak. Adapun dibutuhkannya bank untuk menjamin kelancaran ekspor impor disni disebabkan wilayah atau domisili penjual dan pembeli melintas batas negara. 3. Pembayaran Dalam Transaksi Ekspor Impor Menurut Ramlan Ginting, pembayaran perdagangan internasional dapat dilakukan dengan cara: 29 1. Letter of Credit 2. Non Letter of Credit a. Advance Payment; b. Collection; c. Open Account; d. Consigment. Menurut Peraturan Pemerintah No 1 Tahun 1982 Tentang Pelaksanaan Ekspor, Impor dan Lalu Lintas Devisa dalam Pasal 3 ayat (1) disebutkan bahwa cara pembayaran ekspor impor adalah dengan tunai atau 28 Agus Svarnha Nurpatria, Op. Cit, Hal. 15. 29 Ramlan Ginting, Op.Cit., Hal. 13

18 dengan kredit. Kemudian dalam penjelasan Pasal 3 ayat (1) tersebut, dijelaskan bahwa cara pembayaran ekspor impor dapat dilakukan dengan: a. Pembayaran di muka ( Advance Payment ) b. Wesel Inkaso dengan kondisi Document Against Payment (D/P) dan Document Against Acceptance (D/A) c. Perhitungan kemudian (Open Account) d. Konsinyasi (Consignment) e. Letter of Credits (L/C) f. Cara pembayaran lain yang lazim dalam perdagangan luar negeri sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli. Pembayaran di muka atau Advance Payment adalah pembayaran yang dilakukan importir kepada eksportir sebelum barang dikapalkan. Kesepakatan cara pembayaran ini dicantumkan dalam kontrak jual beli antara eksportir dengan importir. Advance payment dapat dilakukan melalui bank atau secara langsung kepada eksportir. 30 Cara pembayaran berikutnya adalah Wesel Inkaso yakni cara pembayaran yang dilakukan dengan menggunakan wesel dimana eksportir adalah sebagai penarik wesel (drawer) yang memerintahkan kepada Importir sebagai si tertarik (drawee) untuk membayar sejumlah uang pada waktu yang ditentukan dalam wesel itu. 31 Adapun yang dimaksud dengan D/P atau Documents Against Payment ialah eksportir memrintahkan remitting bank untuk menyerahkan dokumendokumen ekspor langsung kepada importir atau melalui banknya apabila dia sudah membayar, hal ini bisa dilakukan jika kesepakatan pembayarannya 30 Ramlan Ginting, Ibid., Hal. 14. 31 Roselyne Hutabarat, Op. Cit, Hal. 11-12.

19 adalah sight atau unjuk. Dokumen yang dikirim terdiri dari financial documents (sight drafts atau wesel unjuk) dan shipping documents. 32 Selanjutnya yang dimaksud dengan D/A atau Documents Against Acceptance ialah eksportir meminta kepada remitting bank agar mengirimkan dokumen dan memberikan perintah kepada collecting atau presenting bank untuk menyerahkan dokumen kepada importir setelah importir melakukan akseptasi drafts (berjanji akan membayar pada saat jatuh waktu). 33 Pembayaran dengan menggunakan perhitungan kemudian atau open account adalah pengiriman dan penagihan dokumen keuangan oleh eksportir kepada importir dengan menggunakan jasa bank. Dalam open account, ekportir dan importir sepakat bahwa penyelesaian pembayaran jual beli di antara keduanya akan diperhitungkan dalam pembukuan masing-masing atau importir akan melunasi pembayaran pada tanggal yang disepakati. 34 Cara pembayaran dengan konsinyasi atau consignment adalah pengiriman barang yang belum terjual ke luar negeri. Barang hanya dititipkan oleh eksportir kepada importir di luar negeri untuk dijual kepada pihak lainnya. Pembayaran harga barang oleh importir kepada eksportir dilakukan setelah barang terjual. 35 Cara pembayaran dengan menggunakan L/C tidak lepas dari adanya syarat dan kondisi yang ditetapkan oleh pihak yang bersangkutan. Salah satu dari persyaratan itu adalah bahwa pembayaran baru dapat dilaksanakan 32 Ec Warsidi, Op.Cit., Hal. 10 33 Ibid., Hal. 11 34 Ramlan Ginting, Op.Cit., Hal. 16. 35 Ramlan Ginting, Loc.Cit.

20 apabila telah diserahkan dokumen-dokumen yang secara formal telah memenuhi syarat yang ditetapkan L/C itu kepada bank. Pembayaran dengan L/C dalam pelaksanaannya melibatkan jasa perbankan yang masing-masing berada di negara berlainan. Oleh karena itu penggunaan cara pembayaran dengan L/C membutuhkan kesesuaian cara pembayaran antara bank-bank tersebut, yang diwujudkan dengan adanya keseragaman peraturan. 36 B. Tinjauan Umum Letter of Credit (L/C) 1. Pengertian Letter of Credit (L/C) Amir M. S.: Letter of credit adalah suatu surat yang dikeluarkan bank devisa atas permintaan importir nasabah bank devisa bersangkutan dan ditujukan kepada eksportir di luar negeri yang menjadi relasi dari importir tersebut. Isi surat itu menyatakan bahwa eksportir penerima L/C diberi hak oleh importir importir untuk menarik wesel (surat perintah untuk melunasi utang) atas Bank Pembuka untuk sejumlah uang yang disebut dalam surat itu. Bank yang bersangkutan menjamin untuk mengakseptir atau menghonorir wesel yang ditarik tersebut asal sesuai dan memenuhi syarat yang tercantum di dalam surat itu. 37 Kasmir: Letter of Credit (L/C) adalah jasa bank yang diberikan kepada masyarakat untuk memperlancar pelayanan arus barang, baik arus barang dalam negeri (antar pulau) atau arus barang ke luar negeri (ekspor-impor). Kegunaan Letter of Credit adalah untuk menampung dan menyelesaikan kesulitan-kesulitan dari pihak pembeli (importir) maupun penjual (eksportir) dalam transaksi perdagangan. Dengan kata lain L/C menjamin kelancaran pembayaran dan pengiriman barang sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat antara eksportir dengan importir melalui itikad baik kedua belah pihak. 38 36 Adrian Sutedi, Tinjauan Yuridis Letter of Credit dan Kredit Sindikasi, Bandung, Alfabeta, Hal. 6. 37 Amir. M. S., 2005, Letter of Credit; Dengan Pembahasan Khusus Standby L/C Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta, Penerbit PPM, hal. 1. 38 Kasmir, Op. Cit, hal. 186.

21 Ec Warsidi: L/C merupakan setiap jenis kesepakatan atau komitmen atau janji dari issuing bank yang tidak bisa dibatalkan secara sepihak untuk melakukan pembayaran kepada beneficiary apabila menerima dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi L/C. 39 John F. Dolan: L/C adalah perbuatan yang sesungguhnya dilakukan salah satu pihak (penerbit) untuk menganti kekuatan finansialnya untuk pihak lainnya (the account party) dengan mana perbuatan itu mensyaratkan penyerahan sebuah wesel atau tuntutan pembayaran dan, yang paling sering, dokumen-dokumen lainnya. 40 C.F.G. Sunaryati Hartono: Secara harfiah L/C dapat diterjemahkan sebagai Surat Utang atau Surat Piutang atau Surat Tagihan, tetapi sebenarnya L/C lebih merupakan suatu janji akan dilakukannya pembayaran, apabila dan setelah terpenuhi syaratsyarat tertentu. 41 Gunarto Suhardi: 39 Ec Warsidi, Op.Cit., Hal. 12 40 John F. Dolan, Op.Cit., hal.2-4. 41 C.F.G. Sunaryati Hartono sebagaimana dikutip oleh Ramlan Ginting, Op. Cit, hal. 15.

22 Perjanjian atau pernyataan sepihak dari issuing bank kepada bank korespondennya atau bank lainnya yang ditunjuk oleh bank koresponden tersebut bahwa bila eksportir telah mengapalkan barangnya kepada importir dan semuanya dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan dalam L/C tersebut, maka issuing bank akan membayarkan proceeds dari L/C tersebut kepada beneficiary, yakni orang yang berhak menerima pembayaran. 42 Definisi L/C menurut Black s Law Dictionary adalah sebuah instrumen oleh penerbit (biasanya sebuah bank), atas permintaan nasabahnya, menyetujui untuk menjamin sebuah wesel atau permintaan lainnya untuk pembayaran kepada pihak ketiga (beneficary) sepanjang wesel atau permintaan tersebut sudah memenuhi dengan persyaratan yang diminta, dan tidak memandang apakah ada perjanjian yang mendasarinya antara si nasabah dan beneficiary itu sudah terpenuhi. 43 2. Klasifikasi Letter of Credit (L/C) L/C berdasarkan fungsinya dapat diklasifikasikan menjadi L/C sebagai alat pembayaran dan L/C sebagai alat penjaminan. Sebagai alat pembayaran, L/C memberi rasa aman kepada penerima, sedangkan sebagai alat penjamin, L/C memberi rasa aman kepada pihak terjamin. 44 L/C sebagai alat pembayaran dapat dilaksanakan jika semua dokumen yang diminta L/C telah dipenuhi penerima. Sebaliknya L/C sebagai alat penjaminan dapat dilaksanakan jika pelaksanaan kontrak dasar yang dijamin L/C tidak dapat dilakukan pihak yang dijamin. 42 Gunarto Suhardi sebagaimana dikutip oleh kamushukum.com, 2003, Letter of Credit atau LC (online), tersedia di website http://kamushukum.com/en/letter-of-credit-atau-lc/, diakses tanggal 16 November 2010 pukul 20.29 WIB. 43 Black s Law Dictionary, Eight Edition, 2004, USA, West-Thomson, hal. 923. 44 Ramlan Ginting, Op. Cit, hal. 31.

23 2.1. L/C Sebagai Alat Pembayaran Pada umumya L/C sebagai alat pembayaran diatur di dalam UCP, tetapi pengaturannya tidak terperinci. Oleh karena itu pengaturan UCP tersebut harus dipadukan dengan konsepsi yang berkembang dalam transaksi perbankan internasional baik yang berasal dari rumusan para pakar L/C, putusan pengadilan mengenai L/C maupun kebiasaan dan praktik L/C. L/C sebagai Alat Pembayaran terdiri dari beberapa jenis yang sebagaian diatur dalam UCP dan sebagian lagi dirumuskan oleh doktrin. 2.1.1. L/C dalam UCP a. Sight Payment L/C Sight Payment L/C adalah L/C yang pembayarannya secara tunai. Syarat pembayaran L/C ini menggunakan cara penyerahan dokumen atau wesel kepada issuing bank. Jika bank penerbit menerbitkan sight payment L/C, maka bank penerus diintruksikan untuk melakukan pembayaran atau mengatur pembayaran kepada penerima pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang dipersayaratkan L/C. Cara pembayaran L/C yang demikian dinamakan pembayaran berdasarkan dokumen-dokumen (payment against documents). Jika wesel unjuk ditarik dalam rangka sight payment L/C, maka fungsi wesel hanya sebagai tanda terima pembayaran. Rolf Eberth dan

24 E.P. Ellinger mengatakan dalam sight payement L/C janji pembayaran dari bank penerbit ditujukan semata-mata kepada penerima. 45 b. Acceptance L/C Acceptance L/C yang dikenal juga dengan L/C berjangka adalah L/C yang pembayarannya dilakukan dalam suatu jangka waktu tertentu setelah wesel ditunjukkan atau setelah barang dikapalkan. Acceptance L/C merupakan pemberian kredit kepada pembeli oleh penjual, karena pembeli yang berada di luar negeri akan menerima barang-barang tanpa melakukan pembayaran pada saat yang sama melainkan pada jangka waktu tertentu sesuai dengan yang ditetapkan dalam L/C. Dalam acceptance L/C, L/C dibayar pada saat pembayaran jatuh tempo, tidak pada saat pengajuan dokumen-dokumen. Akseptasi dilakukan atas wesel berjangka yang ditarik oleh penerima. Akseptasi atas wesel berjangka berarti jaminan pembayaran pada saat jatuh tempo. Wesel berjangka yang sudah diaksep bersifat dapat dipindahtangankan. Melalui akseptasi penerima memperoleh janji tanpa syarat (unconditional commitment) dari bank untuk membayar pada saat wesel berjangka 45 Ibid, hal. 37

25 jatuh tempo. Terhadap wesel berjangka yang sudah diaksep dapat dijual kepada bank dengan cara diskonto. 46 c. Revocable L/C Y. Sri Susilo dkk menyatakan bahwa revocable L/C ialah L/C yang dapat dibatalkan atau diubah oleh bank penerbit setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak yang menerima pembayaran. 47 Revocable artinya Term and Condition di dalam L/C telah diterbitkan dapat diubah sewaktu-waktu oleh bank penerbit (atas permintaan pembeli) tanpa meminta persetujuan dari pihak bank penerbit maupun penjual. 48 Menurut UCP revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan oleh bank penerbit setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada penerima. 49 Dalam hal ini kedudukan penerima lemah, sebab ia menanggung risiko yang tidak ringan. Hal ini antara lain karena sifatnya, maka L/C tersebut tiba-tiba dibatalkan atau diubah oleh penerbit. Akan tetapi menurut UCP bank penerbit harus melakukan pembayaran kembali kepada bank yang ditunjuk yang telah melakukan pembayaran L/C kepada penerima atas dasar dokumen-dokumen yang diajukan yang sesuai dengan persyaratan L/C dan tidak menerima pemberitahuan perubahan dan pembatalan L/C sebelum dilakukan pembayaran Hal.14 46 Ibid, Hal.38 47 Y Sri Susilo, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, dalam Adrian Sutedi, Op.Cit., 48 Adrian Sutedi, Loc.Cit. 49 Ramlan Ginting, Op. Cit, Hal. 34.

26 dimaksud. Dalam hal ini penerima tetap berhak menerima pembayaran dari penerbit, yang dapat dilakukan dengan menggunakan cara pembayaran secara unjuk (sight payment), akseptasi (acceptance), negosiasi (negotiation), dan pembayaran kemudian (deffered payment). d. Irrevocable L/C UCP menyebutkan istilah irrevocable L/C tanpa memberikan uraian lebih lanjut. Namun demikian, karena irrevocable L/C merupakan lawan dari revocable L/C, maka pengertian irrevocable L/C dapat dimengerti secara implisit sebagai L/C yang perubahan atau pembatalannya harus dengan persetujuan penerima. 50 Adrian Sutedi: Irrevocable L/C adalah suatu L/C yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan semua pihak baik pembeli, penjual, maupun pihak bank yang bersangkutan. Selama jangka waktu berlakunya yang ditentukan dalam L/C, issuing bank tetap menjamin untuk membayar, mengaksep, atau menegoisasi wesel-wesel yang ditarik atas L/C tersebut asalkan syarat-syarat dan kondisi yang ditetapkan di dalamnya terpenuhi. Irrevocable artinya Term and Condition di dalam L/C yang telah diterbitkan hanya boleh diubah atas kesepakatan beneficiary (seller) dengan buyer. L/C jenis ini tidak dapat diubah atau dibatalkan secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi L/C yaitu penerima dan bank penerbit. 51 50 Ramlan Ginting, Ibid, Hal. 84 51 Adrian Sutedi, Op. Cit., Hal. 16

27 e. Negotiation L/C Negotiation L/C adalah L/C yang pembayarannya dengan cara membeli wesel dan/atau dokumen-dokumen yang diajukan penerima. 52 Jika negosiasi dilakukan oleh bank penerbit atau bank pengkonfirmasi selalu tanpa disertai hak regres (without recourse) terhadap penerima, sedangkan negosiasi oleh bank lainnya selalu dengan hak regres (with recourse) terhadap penerima. Negosiasi dapat dilakukan atas wesel unjuk dan wesel berjangka. Tujuan negosiasi adalah untuk memberi kesempatan kepada bank untuk menegosiasi (membeli) wesel dan/atau dokumen-dokumen dari penerima dan kemudian mengajukannya kepada bank penerbit untuk memperoleh pembayaran sesuai dengan persyaratan L/C. f. Deferred Payment L/C Deferred Payment L/C adalah L/C yang pembayarannya dilakukan di kemudian hari. Dalam L/C jenis ini tidak termasuk wesel sebagai dokumen yang diajukan dalam rangka pembayaran L/C. Penerima merasa aman akan mendapat pembayaran pada waktu yang ditentukan karena ada jaminan dari bank penerbit. Untuk mengamankan bank penerbit dari risiko kerugian akibat penyerahan dokumen-dokumen dimaksud, maka penyerahan 52 Ramlan Ginting, Op. Cit., Hal. 92

28 dokumen-dokumen dapat disertai dengan penggunaan instrument trust receipt. 53 Dalam pelaksanaan trust receipt bank melepas bill of lading kepada pemohon atas jaminan pemohon bahwa setelah mengambil alih kepemilikan barang pemohon menguasai barang tersebut sebagai pihak kepercayaan bank dan akan menjual barang dimaksud atas nama bank. Pemohon menjamin untuk menguasai hasil penjualan barang berdasrkan kepercayaan dan akan menyampaikannya kepada bank sebesar minimal sama dengan fasilitas bank yang digunakan pemohon. Dalam trust receipt dimuat persyaratan lain untuk kepentingan bank misalnya pemohon dipersyaratkan untuk menguasai barang dan uang hasil penjualan barang tersebut terpisah dari barang dan uang lainnya dan barang wajib diasuransikan. 54 g. Confirmed L/C Menurut Adrian Sutedi, Confirmed L/C adalah suatu bentuk L/C dimana issuing bank meminta dan memberi kuasa kepada bank koresponden yang ditunjuk untuk mengadviskan juga mengconfirm (menjamin) L/C dengan menambahkan pengikatan dirinya ikut menjamin pembayaran atas beban issuing bank kepada beneficiary. Jika L/C dikonfirmasi oleh bank pengkonfirmasi maka tanggung jawab bank pengkonfirmasi sama dengan tanggung jawab 53 Adrian Sutedi, Op. Cit., Hal. 32 54 Ramlan Ginting, Op. Cit., Hal. 98

29 bank penerbit. 55 Bank pengkonfirmasi yang mengkonfirmasi L/C, menjamin kewajiban bank penerbit dengan menyatakan komitmennya sendiri untuk membayar L/C. Bank pengkonfirmasi tidak dapat menarik diri dari kewajibannya kepada penerima. Bank pengkonfirmasi dan bank penerbit sama-sama memberikan kepastian pembayaran L/C. Dalam Confirmed L/C tercipta kepastian pembayaran ganda. Dalam confirmed L/C, bank pengkonfirmasi tidak memiliki hak regres (right of recourse) terhadap penerima, walaupun cara pembayaran L/C atas dasar negosiasi. 56 Bank pengkonfirmasi baru memiliki hak regres, jika bank pengkonfirmasi melakukan pembayaran kepada penerima dengan under reserve atau dengan penandatangan letter of indemnity oleh penerima. 57 Pembayaran dengan under reserve dilakukan terhadap dokumen-dokumen yang memuat discrepancy. Bank pengkonfirmasi yang melakukan pembayaran atas dokumendokumen yang discrepancy berdasarkan kondisi under reserve berhak menagih kembali nilai yang dibayarkannya kepada penerima jika bank pengkonfirmasi tidak memperoleh pembayaran kembali dari bank penerbit atau reimbursing bank. Pembayaran dengan penandatanganan letter of indemnity sama 55 Goh Tianwah, 1992, Guide to Letter of Credit, sebagaimana dikutip oleh Ramlan Ginting, ibid, Hal. 99 56 Ibid, Hal.100. 57 Ramlan Ginting, Loc. Cit.