GUILTY FEELING PADA RESIDIVIS

dokumen-dokumen yang mirip
DINAMIKA KONSEP DIRI PADA NARAPIDANA MENJELANG BEBAS DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN SRAGEN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. masalah ini merupakan masalah sensitif yang menyangkut masalah-masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. UUD 1945 pasal 1 ayat (3) bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum yang

BAB I. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum, sehingga setiap

menegakan tata tertib dalam masyarakat. Tujuan pemidanaan juga adalah untuk

BENTUK-BENTUK DISTORSI KOGNITIF NARAPIDANA WANITA YANG MENGALAMI DEPRESI DI LAPAS SRAGEN

P, 2015 PERANAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS IIA BANDUNG DALAM UPAYA MEREHABILITASI NARAPIDANA MENJADI WARGA NEGARA YANG BAIK

BAB I PENDAHULUAN. Merebaknya kasus kejahatan dari tahun ke tahun memang bervariasi,

PENDAHULUAN. penyalahgunaan, tetapi juga berdampak sosial, ekonomi dan keamanan nasional,

Pengertian dan Sejarah Singkat Pemasyarakatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Kriminalitas Sebagai Masalah Sosial

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan Nasional pada dasarnya merupakan pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. penelitian, manfaat penelitian, definisi terminologi, cakupan dan batasan yang dipakai

BAB I PENDAHULUAN. I.1. JUDUL LEMBAGA PEMASYARAKATAN Yang Berorientasi Kepada Pembentukan Suasana Pendukung Proses Rehabilitasi Narapidana

BAB I PENDAHULUAN. Terabaikannya pemenuhan hak-hak dasar warga binaan pemasyarakatan

BAB I PENDAHULUAN. para pemimpin penjara. Gagasan dan konsepsi tentang Pemasyarakatan ini

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah perilaku yang menyimpang dari norma, selalu menjadi bahan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai salah satu institusi

BAB I PENDAHULUAN. kejahatan yang bersifat trans-nasional yang sudah melewati batas-batas negara,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ribu orang di seluruh Indonesia, hingga Oktober 2015 jumlah narapidana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakangMasalah. Dalam era pertumbuhan dan pembangunan dewasa ini, kejahatan

PROFIL NARAPIDANA BERDASARKAN HIERARKI KEBUTUHAN ABRAHAM MASLOW. Skripsi. Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

BAB II URAIAN TEORITIS. Teori adalah konsep-konsep yang merupakan abstraksi dan hasil

Institute for Criminal Justice Reform

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial yang tidak

I. PENDAHULUAN. berlainan tetapi tetap saja modusnya dinilai sama. Semakin lama kejahatan di ibu

KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB DAN HUKUMAN MATI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Rasa Bersalah. diri dan peristiwa negatif (Baumeiste r dkk., 2007). Hal ini menjelaskan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Hukum diciptakan oleh manusia mempunyai tujuan untuk menciptakan

BAB I PENDAHULUAN. diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara hukum yang memiliki konstitusi tertinggi dalam

BAB I PENDAHULUAN. untuk anak-anak. Seperti yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang

NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI PERBANDINGAN PENJATUHAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERTAMA DAN RESIDIVIS.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum, maka

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara hukum, hal tersebut tercermin dalam UUD

2016 POLA ADAPTASI MANTAN NARAPIDANA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

PENGAWASAN PEMBERIAN REMISI TERHADAP NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LAPAS) KLAS IIA ABEPURA

PERSPEKTIF DAN PERAN MASYARAKAT DALAM PELAKSANAAN PIDANA ALTERNATIF

SELF EFFICACY ANAK DIDIK PEMASYARAKATAN DI LAPAS ANAK KLAS IIA BLITAR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dewasa ini narapidana tidak lagi dipandang sebagai objek melainkan

BAB I PENDAHULUAN. telah ditegaskan dengan jelas bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

dianggap sebagai trouble maker atau pembuat kerusuhan yang selalu mewaspadainya. Sikap penolakan masyarakat membuat narapidana

BAB I PENDAHULUAN. peradilan negara yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk mengadili

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Institute for Criminal Justice Reform

BAB I PENDAHULUAN. Pembahasan kriminalitas di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari

BAB I PENDAHULUAN. perampokan, pembunuhan, narkoba, penipuan dan sebagainya. Dari semua tindak

I. PENDAHULUAN. hidup sebagai makhluk sosial, melakukan relasi dengan manusia lain karena

PENJELASAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBINAAN DAN PEMBIMBINGAN WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN

BAB III. Pemasyarakatan Anak Blitar. 3.1 Pola Pembinaan Anak Pelaku Tindak Pidana Di Lembaga

PENGARUH HARAPAN TERHADAP KECENDERUNGAN RESIDIVIS PADA NARAPIDANA DI LAPAS KLAS I MALANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 99 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kenyataan menunjukkan bahwa semakin maju masyarakat,

BAB II PENGERTIAN ANAK PIDANA DAN HAK-HAKNYA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK

I. PENDAHULUAN. Anjarsari (2011: 19), mengatakan bahwa kenakalan adalah perbuatan anti. orang dewasa diklasifikasikan sebagai tindakan kejahatan.

BAB I PENDAHULUAN. Dasar hukum dari Pembebasan bersyarat adalah pasal 15 KUHP yang

Wajib Lapor Tindak KDRT 1

BAB I PENDAHULUAN. menolong dalam menghadapi kesukaran. c). menentramkan batin. 1 Realitanya,

BAB III LEMBAGA PEMASYARAKATAN ANAK DI INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. 2. Persamaan perlakuan dan pelayanan; 5. Penghormatan harkat dan martabat manusia;

Transkripsi:

GUILTY FEELING PADA RESIDIVIS SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persayaratan Dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh: TRI SETYONUGROHO F. 100 020 204 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kejahatan yang ada di tengah masyarakat merupakan suatu permasalahan yang menuntut banyak perhatian dari berbagai pihak, karena kejahatan merupakan tindakan antisosial yang ditentang oleh negara. Kejahatan sebagai perbuatan yang antisosial harus memperoleh tentangan dari negara, dengan pemberian penderitaan yaitu hukuman. Kejahatan merupakan tindakan hasil ekspresi emosi yang tidak stabil. Indonesia merupakan negara hukum, dimana ketika sesorang melanggar hukum pidana negara akan dikenakan hukuman penjara yang akan ditempatkan kedalam lembaga pemasyarakatan. Lembaga pemasyarakatan bertujuan untuk membuat para narapida jera untuk tidak melakukan tindak kejahatan lagi. Lembaga pemasyarakatan juga memberikan bekal kepada narapidana untuk mempersiapkan ketika narapidana usai menjalani masa tahanan. Hukuman penjara saat ini menganut falsafah pembinaan narapidana yang dikenal dengan nama Pemasyarakatan, dan istilah penjara telah diubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan berfungsi sebagai wadah pembinaan untuk melenyapkan sifat-sifat jahat melalui pendidikan pemasyarakatan. Hal ini berarti kebijaksanaan dalam perlakuan terhadap narapidana yang bersifat mengayomi masyarakat dari gangguan kejahatan sekaligus mengayomi para narapidana dan memberi bekal hidup narapidana

setelah narapidana kembali ke masyarakat (Saheroji dalam Hafida, 2004). Karena secara tidak langsung kondisi disebuah Lembaga Pemasyarakatan sangatlah berbeda jauh dengan kondisi yang ada dilingkungan masyarakat. Narapidana yang telah masuk menghuni Lembaga Pemasyarakatan akan mendapatkan sterotip buruk dari masyarakat, selain itu kondisi yang penuh tekanan juga dapat mempengaruhi kondisi mental narapidana. Visi Lembaga Pemasyarakatan IIA Sragen adalah memulihkan kesatuan hubungan hidup, kehidupan dan penghidupan warga binaan pemasyarakatan sebagai individu, anggota masyarakat dan makhluk Tuhan YME (Membangun Manusia Mandiri). Untuk mencapai visi, Lembaga Pemasyarakatan IIA Sragen mempunyai beberapa misi antara lain yaitu melaksanakan perawatan tahanan, pembinaan dan pembimbingan warga binaan pemasyrakatan serta pengelolaan benda sitaan negara dalam kerangka penegakan hukum, pencegahan dan penanggulangan kejahatan serta pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia. Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan diberikan pengertian sebagai berikut : Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan, dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pembinaan dalam tata peradilan pidana. Pasal 1 angka 2 Undang-undang No. 12 Tahun 1995 memberikan batasan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas warga binaan pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga

dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Pada saat ini, masyarakat masih mempunyai pandangan yang negatif terhadap sosok narapidana (napi). Narapidana oleh masyarakat dianggap sebagai trouble maker atau pembuat kerusuhan yang selalu meresahkan masyarakat sehingga perlu diwaspadai (Rahmawati, 2004). Lembaga pemasyarakatan terkadang dijumpai narapidana yang berstatus sebagai reisidivis. Residivis yaitu seseorang yang pernah terlibat dalam pelanggaran hukum pidana dan telah dijatuhi vonis serta telah melakukan masa tahanan yang kemudian ia mengulangi pelanggaran hukum kembali minimal lebih dari satu kali, baik pengulangan pelanggaran hukum yang pernah dilakukan sebelumnya ataupun pelanggaran hukum yang berbeda dari sebelumnya. Berdasarkan inventarisasi data yang diperoleh dari Lembaga Pemasyarakatan IIA Sragen diketahui bahwa terdapat 249 narapidana. Dari jumlah narapidana yang ada terdapat 13 residivis. Pada umumnya kasus yang muncul pada residivis yang ada di Lembaga Pemasyarakatan IIA Sragen adalah sama dengan tindakan pidana yang telah dilakukan. Seorang residivis dapat melakukan tindak pidana lebih dari dua kali, kasus-kasus yang sering muncul merupakan kasus yang sama dengan kasus tindak pidana yang telah dilakukan dan mendapatkan vonis pidana. Motif residivis ketika mengulangi tindak pidana yang dilakukan sebagian besar adalah sama seperti motif-motif sebelumnya.

Susilo (dalam Sofia, 2008) menyatakan masalah tindak pidana atau perilaku kriminal selalu menjadi bahan yang menarik serta tidak habis-habisnya untuk dibahas dan diperbincangkan, masalah ini merupakan masalah sensitif yang menyangkut masalah-masalah peraturan sosial, segi-segi moral, etika dalam masyarakat dan aturan-aturan dalam agama. Tindak pidana oleh banyak orang dianggap sebagai suatu kegiatan yang tergolong anti sosial, menyimpang dari moral dan norma-norma di dalam masyarakat serta melanggar aturan-aturan dalam agama. Proses peradilan terpidana akan dijatuhi vonis oleh majelis hakim. Pada saat vonis dijatuhkan ada beberapa hal yang akan meringankan vonis, salah satunya adalah ketika terpidana mengakui kesalahan, dan menyesali yang telah diperbuat. English dan Macker (dalam Moordiningsih, 2000) berpendapat bahwa guilty feeling dihasilkan dari pelanggaran standar internal dan terdapat perasaan menyesal. Rasa penyesalan tersebut muncul karena pikiran, perasaan atau sikap negatif yang tidak dapat diterima, baik oleh diri sendiri atau orang lain. Guilty ada dalam setiap masalah psikologis yang dihadapi setiap orang, tidak menutup kemungkinan dialami juga oleh residivis, karena residivis yang telah melakukan tindak pidana berulang-ulang mungkin akan mengalami guilty feeling. Guilty feeling adalah suatu perasaan berdosa, bersalah atau gagal memenuhi standar hidup tertentu. Allah menciptakan di dalam kita suatu hati nurani, suatu kemampuan untuk menilai benar atau salahnya tindakan-tindakan moral kita. Ada dua jenis guilty feeling: guilty feeling karena pelanggaran moral

dan guilty feeling karena suatu yang tidak jelas. Guilty feeling yang tidak disebabkan oleh dosa, biasanya berhubungan dengan gangguan emosional yang berasal dari pengalaman-pengalaman negatif, khususnya pada masa kecil (Susabda, 2002). Jadi guilty feeling itupun dapat muncul pada seseorang dengan berbagai penyebab dan dalam berbagai bentuk, pada seseorang residivis yang melakukan suatu kesalahan atau melanggar suatu aturan yang ada dapat memunculkan guilty feeling dalam dirinya, dan guilty feeling itupun bisa dalam berbagai bentuk, misalnya seseorang mengalami guilty feeling pada orang tuanya karena merasa perbuatannya mengecewakan mereka, dan bentuk dari guilty feeling itu bisa dengan menghukum dirinya sendiri atau karena sudah terlanjur mengalami guilty feeling maka mereka mengulang-ulangi perbuatannya untuk menghukum dirinya. Perasaan bersalah yang muncul pada diri residivis memiliki ukuran dan bentuk yang berbeda-beda tergantung pada self esteem. Berdasarkan uraian di atas permasalahan yang menarik untuk dibahas di sini adalah Bagaimana guilty feeling pada seorang residivis dan faktor apa saja yang mempengaruhi guilty feeling? Untuk mengkaji permasalahan di atas secara empiris, penulis mengambil judul Guilty feeling pada Residivis. B. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika guilty feeling pada residivis.

C. Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini diharapkan akan diketahui kondisi guilty feeling pada residivis, dan dari hasil tersebut dapat diambil manfaat kepada: 1. Residivis, dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan perbaikan diri atas kondisi yang telah terjadi, yaitu untuk tidak mengulangi kesalahannya kembali yang telah dilakukan. 2. Lembaga pemasyarakatan, dapat dijadikan pertimbangan untuk mengadakan sebuah pelatihan atau program kegiatan tertentu dengan sasaran residivis, dengan tujuan menumbuhkan motivasi untuk menjadi lebih baik. 3. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan teoritik bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan untuk memperkaya khasanah ilmu psikologi khususnya psikologi sosial karena hasil penelitian ini memberi penjelasan tentang kondisi guilty feeling pada residivis.