MODUL 4 DRAINASE JALAN RAYA

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM DRAINASE PERMUKAAN

TUJUAN PEKERJAAN DRAINASE

Berfungsi mengendalikan limpasan air di permukaan jalan dan dari daerah. - Membawa air dari permukaan ke pembuangan air.

DESAIN BANGUNAN IRIGASI

GORONG-GORONG Anita Winarni Dwi Ratna Komala Novita Priatiningsih

Sambungan Persil. Sambungan persil adalah sambungan saluran air hujan dari rumah-rumah ke saluran air hujan yang berada di tepi jalan

RC TEKNIK IRIGASI DAN DRAINASE

PERANCANGAN BANGUNAN PELENGKAP DRAINASE GORONG-GORONG. Disusun untuk Memenuhi. Tugas Mata Kuliah Drainase. Disusun Oleh:

BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN

9. Dari gambar berikut, turunkan suatu rumus yang dikenal dengan rumus Darcy.

BAB 4 PERENCANAAN ALTERNATIF SOLUSI

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

PERANCANGAN SISTEM DRAINASE

HIDROLIKA SALURAN TERTUTUP -CULVERT- SEBRIAN MIRDEKLIS BESELLY PUTRA TEKNIK PENGAIRAN

Spesifikasi kereb beton untuk jalan

BAB III METODE ANALISIS

BUPATI SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKOHARJO NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG GARIS SEMPADAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Perencanaan Sistem Drainase Pembangunan Hotel di Jalan Embong Sawo No. 8 Surabaya

BAB II KOMPONEN PENAMPANG MELINTANG

PERENCANAAN SALURAN. Rencana pendahuluan dari saluran irigasi harus menunjukkan antara lain :

1. DEFINISI BENDUNGAN

BAB III LANDASAN TEORI. A. Hidrologi

KAJIAN HIDROLIK PADA BENDUNG SUMUR WATU, DAERAH IRIGASI SUMUR WATU INDRAMAYU

BAB I PENDAHULUAN. terbentuk secara alami yang mempunyai fungsi sebagai saluran. Air yang

Perancangan Saluran Berdasarkan Konsep Aliran Seragam

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum

BAB 9. B ANGUNAN PELENGKAP JALAN

Suatu kriteria yang dipakai Perancang sebagai pedoman untuk merancang

BAB III LANDASAN TEORI. A. Hidrologi

BAB VII PERENCANAAN JARINGAN UTAMA

STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN

PERSYARATAN JARINGAN DRAINASE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. parameter yang tertulis dalam kriteria di bawah ini. Nilai-nilai yang

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh

BAB III LANDASAN TEORI A. Hidrologi Menurut Triatmodjo (2008), Hidrologi adalah ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, baik mengenai terjadinya,

REKAYASA JALAN REL. MODUL 6 : Tanah dasar, badan jalan dan Drainase jalan rel PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

Bab III HIDROLIKA. Sub Kompetensi. Memberikan pengetahuan tentang hubungan analisis hidrolika dalam perencanaan drainase

TANAH DASAR, BADAN JALAN REL DAN DRAINASI

BAB V RENCANA PENANGANAN

Persyaratan agar Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut:

BAB II LANDASAN TEORI

RC MODUL 2 KEBUTUHAN AIR IRIGASI

BAB V ANALISIS HIDROLIKA DAN PERHITUNGANNYA

BAB I PENDAHULUAN Tinjauan Umum

BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISIS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1 BAB VI ANALISIS HIDROLIKA

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II PENAMPANG MELINTANG JALAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 93

254x. JPH = 0.278H x 80 x 2.5 +

Perencanaan Geometrik Jalan

GAMBAR KONSTRUKSI JALAN

TATA CARA PEMBUATAN RENCANA INDUK DRAINASE PERKOTAAN

BAB VIII PERENCANAAN BANGUNAN PELIMPAH (SPILLWAY)

TUGAS AKHIR. Perencanaan Sistem Drainase Pembangunan Hotel di Jalan Embong sawo No. 8 Surabaya. Tjia An Bing NRP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

BAB V PEMBAHASAN. lereng tambang. Pada analisis ini, akan dipilih model lereng stabil dengan FK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III LANDASAN TEORI

Modul 4 ANALISA HIDROLIKA UNTUK PERENCANAAN SALURAN DRAINASE

PROGRAM PENDIDIKAN EKSTENSION DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. keterangan melalui kutipan teori dari pihak yang kompeten di bidang

Penampang Melintang Jalan Tipikal. dilengkapi Trotoar

BAB VII PENELUSURAN BANJIR (FLOOD ROUTING)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pemberdayaan Masyarakat

PENENTUAN LOKASI (Route Location)

Perencanaan Geometrik & Perkerasan Jalan PENDAHULUAN

PILIHAN TEKNOLOGI SALURAN SIMPANG BESI TUA PANGLIMA KAOM PADA SISTEM DRAINASE WILAYAH IV KOTA LHOKSEUMAWE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI 3.1 METODE ANALISIS DAN PENGOLAHAN DATA

KRITERIA PERENCANAAN BENDUNG KARET

SISTEM DRAINASE UNTUK MENANGGULANGI BANJIR DI KECAMATAN MEDAN SUNGGAL (STUDI KASUS : JL. PDAM SUNGGAL DEPAN PAM TIRTANADI)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daerah sekitar hilir Sungai. Banjir yang terjadi dapat mengakibatkan kerugian.

1.5. Potensi Sumber Air Tawar

Tabel Posisi titik acuan (BM, dalam meter) di lokasi MIFEE

Gambar 7. Peta Ikhtisar Irigasi

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. Salah satu fungsi pembangunan sabo dam adalah untuk

BAB V ANALISA DATA. Analisa Data

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

Cara Mengukur dan Menghitung Debit Saluran

1.3. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui pola jaringan drainase dan dasar serta teknis pembuatan sistem drainase di

I. PENDAHULUAN. Hujan merupakan komponen masukan yang paling penting dalam proses

BAB III KABEL BAWAH TANAH

Persyaratan Teknis jalan

ANALISIS SKEMA PLTM DAN STUDI OPTIMASI

11/26/2015. Pengendalian Banjir. 1. Fenomena Banjir

PERENCANAAN BENDUNG. Perhitungan selengkapnya, disajikan dalam lampiran. Gambar 2.1 Sketsa Lebar Mercu Bendung PLTM

Pengertian Garis Kontur, Peraturan, & Cara PembuatanDEFINISI, GEOGRAFI, IPS ON FEBRUARY 23, 2016 NO COMMENTS

PERENCANAAN GEOMETRIK DAN PERKERASAN RUAS JALAN ARIMBET-MAJU-UJUNG-BUKIT-IWUR PROVINSI PAPUA

Sub Kompetensi. Bab III HIDROLIKA. Analisis Hidraulika. Saluran. Aliran Permukaan Bebas. Aliran Permukaan Tertekan

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. - Drainase bawah permukaan (Sub Surface Drainage). Perencanaan dimulai dengan membuat rute drainase yang akan ditinjau

BAB II PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH. curah hujan ini sangat penting untuk perencanaan seperti debit banjir rencana.

PEDOMAN. Perencanaan Trotoar. Konstruksi dan Bangunan DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN 1-27

Transkripsi:

MODUL 4 DRAINASE JALAN RAYA

TUJUAN PEKERJAAN DRAINASE PERMUKAAN UNTUK JALAN RAYA a) Mengalirkan air hujan dari permukaan jalan agar tidak terjadi genangan. b) Mengalirkan air permukaan yang terhambat oleh adanya jalan raya ke alur-alur alam, sungai atau badan air lainnya. c) Mengalirkan air irigasi atau air buangan melintasi jalan raya, sehingga fungsinya tidak terganggu.

GENANGAN DI JALAN Kelancaran lalu lintas terhambat Kegiatan sos ek terhambat Genangan Boros Bahan Bakar Kerusakan Mesin

GENANGAN Timbunan jalan menghambat aliran permukaan genangan

GENANGAN Aliran saluran irigasi / saluran pembuang terputus oleh jalan : a) Suplai air irigasi terganggu b) Pembuangan air terganggu genangan

Penampang melintang jalan dengan saluran drainase

CONTOH GAMBAR

Drainase jalan raya dengan saluran median

Saluran drainase di jalan yang menurun.

CONTOH GAMBAR

Saluran drainase di jalan Fungsi : * Menerima limpasan hujan dari permukaan jalan dan dari lahan sekitarnya saluran tepi / side ditch

CONTOH GAMBAR

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN PENTING!!!! X = g/s. W L = (W 2 + X 2 ) hg = X. g hs = W. S h = hg + hs i = h / L

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN Contoh (1): Suatu ruas jalan raya dengan W(1/2 lebar) = 7,00 meter Jalan mendatar dengan kemiringan melintang 1,5% Caspal = 0,90 dan nd = 0,02 Lebar berm = 2 meter ; Cberm = 0,17 ; nd =0,10 Kecepatan di saluran tepi adalah 0,50 m/dt. Jika R 24 = 50 mm Hitung debit di ujung hilir saluran jika panjang saluran 200 meter.

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN

PERENCANAAN SALURAN TEPI JALAN

MACAM MACAM BENTUK PENAMPANG SALURAN SAMPING

MACAM MACAM BENTUK PENAMPANG SALURAN SAMPING

BANGUNAN TERJUN UNTUK MENGATASI MEDAN YANG CURAM

BANGUNAN TERJUN UNTUK MENGATASI MEDAN YANG CURAM

BANGUNAN TERJUN UNTUK MENGATASI MEDAN YANG CURAM

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

FASILITAS DI DRAINASE JALAN Street inlet Fungsi : memberi jalan limpasan hujan masuk ke saluran tepi

FASILITAS DI DRAINASE JALAN Pemasangan inlet mempunyai ketentuan sebagai berikut : tempat yang tidak menyebabkan gangguan terhadap lalu lintas maupun pejalan kaki. daerah yang rendah dimana limpasan air hujan menuju ke arah tersebut. Air yang masuk melalui street inlet harus dapat secepatnya masuk ke saluran. Jumlah street inlet harus cukup untuk menangkap limpasan air hujan pada jalan yang bersangkutan. Untuk kemiringan jalan lebih besar dari 5%, deflector inlet lebih sesuai, asal kotoran dari jalan tidak tertahan di kisi-kisinya. Untuk kemiringan kurang dari 5% dimana kemungkinan mudah terjadi penyumbatan, maka undepressed inlet atau tipe kombinasi lebih cocok. Jarak antara inlet : Praktis : antara 90 120 m, dengan jarak yang lebih pendek untuk kemiringan memanjang yang kecil. Dengan perumusan : D = jarak antara street inlet (m) w = lebar jalan (m) s = kemiringan (%)

Street inlet

Street inlet : Gutter

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

FASILITAS DI DRAINASE JALAN Manholes / bak kontrol : - Untuk keperluan pemeliharaan pengawasan - Tempat bertemunya lebih dari satu saluran - Tempat perubahan dimensi saluran - Tempat penyesuaian perubahan kemiringan saluran Pertemuan jalan seringkali dipilih untuk menempatkan manholes. Manholes tidak ditempatkan dilapisan perkerasan jalan. Jarak maksimum 90 120 m Untuk saluran besar yang dapat dilalui satu orang, jarak manholes > 150 m

FASILITAS DI DRAINASE JALAN Prinsip pokok perencanaan manholes : Ruang cukup untuk satu orang yang bekerja di dalamnya. Penutup (cover) yang ada di permukaan jalan harus cukup kuat terhadap beban lalu lintas di atasnya. Pemasangan harus rata agar tidak mengganggu lalu lintas (pejalan kaki, kendaraan) diatasnya. Mudah dibuka oleh petugas, tapi tidak mudah dibuka oleh orang yang tidak berwenang.

FASILITAS DI DRAINASE JALAN

TIKUNGAN Penampang saluran tetap seragam, jari-jari sama, kemiringan sama

GORONG - GORONG FUNGSI: - Meneruskan aliran saluran yang terpotong oleh jalan/jalan raya. * saluran buangan / drainase * saluran irigasi - Meneruskan aliran dari kolam penampung (pond, busem) ke saluran / sungai hilir atau laut. - Meneruskan aliran dari lahan melalui alur-alur di permukaan tanah.

GORONG - GORONG Data yang diperlukan : Debit yang akan dilewatkan gorong-gorong Muka air di hulu (di saluran, lahan, pond) Muka air di hilir (saluran, laut) Jaringan saluran (irigasi) Konstruksi jalan yang akan yang bersilangan dengan gorong-gorong. Lokasi :

GORONG - GORONG

GORONG - GORONG Gorong gorong untuk pembuangan sauran median.

GORONG - GORONG Tipe dan Material ketahanan dan kekuatan konstruksi, kekasaran, ketahanan terhadap abrasi dan korosi serta kekedapan air. Tipe Penampang Melintang Material Pipa, tunggal atau lebih dari satu Metal bergelombang, beton pratekan, besi tuang Pipa lengkung,tunggal atau lebih dari satu Bentuk box, tunggal atau lebih dari satu Gorong-gorong jembatan, tunggal atau lebih dari satu Metal bergelombang Beton pratekan Beton pratekan Lengkung Beton pratekan, metal bergelombang, pasangan batu diatas pondasi beton

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

PERENCANAAN GORONG GORONG Perencanaan Hidrolik Kasus I : Terjadi pada kondisi air rendah, dimana tinggi air di hulu kurang dari 1,2 x tinggi gorong-gorong. Sifat aliran mengikuti sifat aliran di saluran terbuka seperti halnya aliran melalui pelimpah. Kasus menunjukkan profil muka air pada kondisi air rendah di hulu dan di hilir, serta pada kemiringan terjal. Kasus II : Ada 3 kemungkinan dimana tinggi air di hulu lebih besar dari 1.2 x tinggi gorong-gorong. Kasus IIa : ketinggian di hulu + 1.5 x tinggi gorong-gorong, maka sifat aliran dapat disamakan dengan aliran dalam lubang (orifice) dengan penampang segiempat. Aliran dalam pipa tidak penuh. Kasus IIb : aliran dalam gorong-gorong penuh karena kemiringan yang sangat landai. Kasus IIc, muka air di hilir menutup lubang (lubang gorong-gorong tenggelam).

PERENCANAAN GORONG GORONG RUMUS PERHITUNGAN Kehilangan tinggi di inlet : h e = dimana : h e = kehilangan tinggi di inlet k e = koefisien kehilangan di inlet Harga K e dapat dilihat pada Tabel. Kehilangan tinggi total di sepanjang gorong-gorong (He) : H e = (1 + k e + I.L) Dimana : I = kemiringan saluran, dapat dihitung dari I = L = panjang gorong-gorong k e = koefisien kehilangan di inlet, berkisar antara 0,4 untuk penampang persegi sampai dengan 0,1 untuk bentuk dibulatkan. n = koefisien kekasaran Manning v = kecepatan aliran dalam gorong-gorong

TABEL 1 KOEFISIEN KEHILANGAN MASUKAN Kendali Keluaran, Penuh atau Sebagian Terisi Jenis Konstruksi dan Rancangan Masukan Koefisien k e Pipa, Beton - Proyeksi dari timbunan, ujung lekuk (beralur) 0.2 - Proyeksi dari timbunan, ujung persegi 0.5 Dinding ujung atau dinding tumpuan - Ujung lekuk pipa (ujung beralur) 0.2 - Ujung persegi 0.5 - Dibulatkan (jari-jari = 1/12 D) 0.2 - Terpotong untuk menyesuaikan lereng timbunan 0.7 - Bagian ujung menyesuaikan lereng timbunan 0.5 - Ujung berlingir,lingir sudut, 37.7 atau 45 0.2 - Masukan sisi atau lereng meruncing 0.2 Pipa, atau Busur-Pipa,Logam Bergerigi - Proyeksi dari timbunan (tanpa dinding ujung) 0.9 - Dinding ujung atau dinding ujung dan dinding tumpuan 0.5 ujung persegi - Terpotong menyesuaikan lereng timbunan, lereng 0.7 diperkeras atau tidak diperkeras - Bagian ujung menyesuaikan lereng timbunan 0.5 - Ujung berlingir,lingir sudut, 37.7 atau 45 0.2 - Masukan sisi atau lereng meruncing 0.2 Kotak, Beton Bertulang

- Proyeksi dari timbunan (tanpa dinding ujung) 0.9 - Dinding ujung atau dinding ujung dan dinding tumpuan 0.5 ujung persegi - Terpotong menyesuaikan lereng timbunan, lereng 0.7 diperkeras atau tidak diperkeras - Bagian ujung menyesuaikan lereng timbunan 0.5 - Ujung berlingir,lingir sudut, 37.7 atau 45 0.2 - Masukan sisi atau lereng meruncing 0.2 Kotak, Beton Bertulang Dinding ujung sejajar dengan tanggul (tanpa dinding tumpuan) - Ujung persegi di 3 ujung 0.5 TABEL 1 KOEFISIEN KEHILANGAN MASUKAN Kendali Keluaran, Penuh atau Sebagian Terisi - Dibulatkan 3 ujung jari-jari ukuran tong, atau ujung 0.2 berlingir di 3 sisi Dinding tumpuan 30 sampai 75 ke tong - Ujung persegi pada puncak 0.4 - Ujung puncak dibulatkan dengan jari-jari 1/12 ukurang 0.2 tong, atau ujung atas lingir Dinding tumpuan, 10 sampai 25 ke tong - Ujung persegi pada puncak 0.5 Dinding tumpuan sejajar (sisi diperluas) - Ujung persegi pada puncak 0.7 - Masukan sisi atau lereng meruncing 0.2

CONTOH SOAL GORONG - GORONG Contoh : Sebuah gorong-gorong ukuran 1 x 1 m direncana untuk mengalirkan debit sebesar 0,600 m3/dt. Kecepatan aliran dalam gorong-gorong 0,75 m/dt. Gorong-gorong persegi sebagian terisi. k e = 0,5. Panjang L = 12 m. n = 0,015. Rencanakan dimensi gorong-gorong dan kehilangan tekanan akibat goronggorong tersebut. Penyelesaian : A = Q/V = 0,600/0,75 = 0,8 m2. B = 1 m h = 0,8 m. P = 1 + 2.0,8 = 2,6 m R = 0,307 m I = (V 2.n 2 )/R 4/3 = (0,75 2.0,015 2 )/0,307 4/3 = 0,00061. Kehilangan tinggi kecepatan V 2 /2g =0,75 2 /(2.9,8) = 0,029 m Kehilangan tekanan total = (1 + 0,5 +0,00061.12).0,029 = 0,044 m.

CONTOH GAMBAR

CONTOH GAMBAR

PENGARUH LOKASI JALAN YANG MEMOTONG SUNGAI THD RESPONSI SUNGAI

PENGARUH LOKASI JALAN YANG MEMOTONG SUNGAI THD RESPONSI SUNGAI

PENGARUH LOKASI JALAN YANG MEMOTONG SUNGAI THD RESPONSI SUNGAI

PENGARUH LOKASI JALAN YANG MEMOTONG SUNGAI THD RESPONSI SUNGAI

PENGARUH LOKASI JALAN YANG MEMOTONG SUNGAI THD RESPONSI SUNGAI