BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

AS IR O R U O TI U N TI G P AD

Bab 3 Parameter Simulasi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. nirkabel dan merupakan turunan dari MANET (Mobile Ad hoc Network). Tujuan

BAB 1 PENDAHULUAN. bagian dalam pekerjaan. Dalam melakukan pemasangan kabel perlu

Penyelesaian Traveling Salesperson Problem dengan Menggunakan Algoritma Semut

BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Penjadwalan Definisi Penjadwalan Kegiatan Belajar Mengajar

LANDASAN TEORI. Bab Konsep Dasar Graf. Definisi Graf

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANT COLONY OPTIMIZATION

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

Analisa Routing Pada Jaringan Data Multi Jalur Menggunakan Metode Ant Colony Optimization (ACO)

PENGARUH DENSITAS WIRELESS MOBILE NODE DAN JUMLAH WIRELESS MOBILE NODE SUMBER TERHADAP PATH DISCOVERY TIME PADA PROTOKOL ROUTING AODV

UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

JURNAL IT STMIK HANDAYANI

BAB III ALGORITMA ANT DISPERSION ROUTING (ADR)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Traveling Salesman Problem (TSP) dikenal sebagai salah satu masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISA PERBANDINGAN METODE ROUTING DISTANCE VECTOR DAN LINK STATE PADA JARINGAN PACKET

Pemanfaatan Algoritma Semut untuk Penyelesaian Masalah Pewarnaan Graf

I. PENDAHULUAN. Umumnya lembaga pemerintahan maupun pendidikan mempunyai website yang

Pembandingan Kinerja Antara Protokol Dynamic Source Routing Dan Zone Routing Pada Jaringan Ad-Hoc Wireless Bluetooth

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Perbandingan Algoritma Dijkstra Dan Algoritma Ant Colony Dalam Penentuan Jalur Terpendek

LEMBAR PENGESAHAN LEMBAR PERNYATAAN HAK CIPTA ABSTRAK...

PENDUKUNG SISTEM PEMASARAN DENGAN ALGORITMA ANT COLONY ABSTRAK

IMPLEMENTASI ALOKASI JADWAL MATA PELAJARAN SMU MENGGUNAKAN ALGORITMA KOLONI SEMUT (AKS)

BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI SOFTSWITCH. suatu pemodelan softswitch ini dilakukan agar mampu memenuhi kebutuhan

Desain Rute Terpendek untuk Distribusi Koran Dengan Algoritma Ant Colony System

ROUTING. Budhi Irawan, S.Si, M.T

1.4. Batasan Masalah Batasan-batasan masalah dalam pembuatan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN. aplikasi-aplikasi jaringan memerlukan sejumlah node-node sensor terutama untuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

STUDI PERBANDINGAN ALGORITMA CHEAPEST INSERTION HEURISTIC DAN ANT COLONY SYSTEM DALAM PEMECAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Analisa Pencarian Jarak Terpendek Lokasi Wisata di Provinsi Sumatera Utara Menggunakan Algoritma Ant Colony Optimization (ACO)

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat menyelesaikan masalah maka perlu dirumuskan terlebih dahulu langkahlangkah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

APLIKASI SIMULATED ANNEALING UNTUK MENYELESAIKAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN ANALISIS SIMULASI. Pada saat menjalankan simulasi ini ada beberapa parameter yang ada dalam

SIMULASI DYNAMIC ROUTING MENGGUNAKAN ANT ROUTING DI GEDUNG GIRI SANTIKA UPN VETERAN JATIM TUGAS AKHIR. Oleh : Hendri Tri Hermawan NPM.

Algoritma Koloni Semut dan Manfaatnya untuk Menentukan Jalur Pengumpulan Sampah

ALGORITMA GENETIC ANT COLONY SYSTEM UNTUK MENYELESAIKAN TRAVELING SALESMAN PROBLEM

METODE PENELITIAN. Studi Pustaka. Proses Simulasi. Analisis Hasil. Gambar 11 Metode penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. yang dikerahkan di daerah pemantauan dengan jumlah besar node sensor mikro.

PERENCANAAN SUMBER DAYA PADA PROYEK DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANT COLONY

BAB 2 LANDASAN TEORI. Perancangan sistem merupakan penguraian suatu sistem informasi

ALGORITMA SEMUT PADA PENJADWALAN PRODUKSI JOBSHOP

DYNAMIC ROUTING. Semua router memiliki informasi lengkap mengenai topologi, link cost. Contohnya adalah algoritma link state.

PENERAPAN ALGORITMA ANT COLONY UNTUK TRAVELLING SALESMAN PROBLEM PADA PERANGKAT BERGERAK

IMPLEMENTASI METODE ANT COLONY OPTIMIZATION UNTUK PEMILIHAN FITUR PADA KATEGORISASI DOKUMEN TEKS

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV ANALISIS MASALAH

BAB I PENDAHULUAN. pada layer Network, layer ketiga dari tujuh OSI (Open System Interconnection)

JARINGAN KOMPUTER S1SI AMIKOM YOGYAKARTA

Analisa Kualitas Aplikasi Multimedia pada Jaringan Mobile IP Versi 6

BAB III IMPLEMENTASIALGORITMA GENETIK DAN ACS PADA PERMASALAHAN TRAVELLING SALESMAN PROBLEM

Gambar 1. Hop multi komunikasi antara sumber dan tujuan

BAB 2 LANDASAN TEORI

1 BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1-1. Hybrid Ad Hoc Wireless Topology

Bab 3 Metode dan Perancangan Sistem

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengiriman barang dari pabrik ke agen atau pelanggan, yang tersebar di berbagai


ALGORITMA BELLMAN-FORD DALAM DISTANCE VECTOR ROUTING PROTOCOL

Penyelesaian Masalah Travelling Salesman Problem Menggunakan Ant Colony Optimization (ACO)

Pengukuran Beban Komputasi Algoritma Dijkstra, A*, dan Floyd-Warshall pada Perangkat Android

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Content Delivery Network adalah sebuah sistem yang berfungsi sebagai

CLONING-BASED ALGORITHM DAN APLIKASINYA DALAM TRAVELLING SALESPERSON PROBLEM

AKSES INFORMASI PENGIRIMAN BARANG DI KANTOR POS JEMUR SARI UNTUK AREA SURABAYA TIMUR MENGGUNAKAN METODE ANT COLONY OPTIMIZATION BERBASIS WAP

BAB 1 PENDAHULUAN. tempat tujuan berikutnya dari sebuah kendaraan pengangkut baik pengiriman melalui

Penggunaan Graf dalam Algoritma Semut untuk Melakukan Optimisasi

BAB II LANDASAN TEORI

Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

file:///c /Documents%20and%20Settings/Administrator/My%20Documents/My%20Web%20Sites/mysite3/ebook/pc/konsep%20router.txt

PENENTUAN RUTE OPTIMAL PADA KEGIATAN PENJEMPUTAN PENUMPANG TRAVEL MENGGUNAKAN ANT COLONY SYSTEM

Artikel Ilmiah oleh Siti Hasanah ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing.

BAB I. PENDAHULUAN. Teknologi jaringan Wi-Fi (Wireless Fidelity) saat ini memperlihatkan

Penerapan Teori Graf Pada Algoritma Routing

PERANCANGAN DAN SIMULASI PENCARIAN JALUR TERAMAN PADA PERUTEAN KENDARAN

BAB I PENDAHULUAN. multimedia memasuki dunia internet. Telepon IP, video conference dan game

VEHICLE ROUTING PROBLEM UNTUK DISTRIBUSI BARANG MENGGUNAKAN ALGORITMA SEMUT

Matematika dan Statistika

BAB I PENDAHULUAN. Koneksi antar jaringan yang sering disebut dengan internetwork terbentuk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

Pemanfaatan Algoritma Hybrid Ant Colony Optimization dalam Menyelesaikan Permasalahan Capacitated Minimum Spanning Tree. Tamam Asrori ( )

Transkripsi:

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Routing 2.1.1 Definisi Routing Routing adalah inti dari semua kontrol jaringan, yaitu mekanisme yang digunakan untuk mengirimkan paket serta mengarahkan dan menentukan jalur yang akan dilewati paket dari satu jaringan ke jaringan yang lain. Pembahasan tentang routing telah meliputi bidang ilmu komputer lebih dari dua dekade, tetapi routing secara komersial menjadi populer pada pertengahan tahun 1980. Routing pada sistem terdistribusi dapat dikarakteristikkan sebagai berikut. Graf G = (V,E) adalah graf yang berbobot, dimana setiap node pada himpunan V merepresentasikan proses/antrian/unit pengirim dan setiap rusuk adalah sistem transmisinya. Tugas utama dari algoritma routing adalah meneruskan aliran data dari sumber ke nodenode tujuan dan memaksimalkan performansi jaringan. Pada kasus tertentu jaringan komunikasi (Steenstrup, 1995; Bertskas dan Gallager, 1992), algoritma routing harus mengatur kumpulan dari fungsi-fungsi dasar dan secara ketat berinteraksi dengan kemacetan dan algoritma kontrol pemasukan data, dengan aturan yang berhubungan dengan antrian, dan lalu lintas pemakai. Inti dari fungsi routing adalah: 1. Akuisi, pengorganisasian, dan distribusi informasi lalu lintas pemakai dan keadaan jaringan. 2. Penggunaan informasi tersebut untuk membangkitkan kemungkinan rute rute yang dapat memaksimalkan performansi 3. Meneruskan lalu lintas pemakai ke rute rute tertentu.

2.1.2 Komponen Routing Terdapat dua aktifitas dasar routing yaitu menentukan jalur routing optimal dan transportasi informasi antar jaringan. Protokol routing adalah metode metode yang digunakan oleh router untuk saling mengkomunikasikan informasi NLR (Network Layer Reachability). Protokol routing menggunakan matriks untuk mengevaluasi jalur mana yang terbaik untuk perjalanan paket data. Untuk membantu proses penentuan jalur, algoritma routing menginisial dan menjaga tabel routing yang memiliki informasi rute. Variasi informasi rute tergantung dengan algoritma routing yang digunakan. Algoitma routing mengisi tabel routing dengan informasi informasi yang berbeda. Tujuan/hop selanjutnya memberitahu router bahwa partikel node tujuan dapat dicapai secara optimal dengan cara mengirim paket ke partikel router yang merepresentasikan hop selanjutnya ke tujuan akhir. Ketika router menerima paket data, router memeriksa alamat tujuan dan berusaha menggabungkan alamat ini dengan hop selanjutnya. Tabel routing dapat juga berisi informasi lainnya, seperti data tentang jalur yang diinginkan. Router membandingkan matriks untuk menentukan rute optimal, dan matriks matriks ini berbeda tergantung dengan desain algoritma routing yang digunakan. Router saling berkomunikasi dan memelihara tabel routingnya melalui transmisi pesan yang beragam. Dengan menganalisa pembaharuan (update) routing dari semua router yang ada, sebuah router dapat membangun detail topologi jaringan. 2.1.3 Algoritma Routing Algoritma routing adalah mekanisme untuk menemukan rute / lintasan yang harus dilalui oleh suatu paket dari suatu node sumber ke node tujuan. Tujuan utama dari algoritma routing adalah memilih rute pada jaringan sehingga total delay untuk setiap paket menjadi minimum. Algoritma routing dibagi menjadi dua kelas yaitu nonadaptive dan adaptive, tergantung bagaimana rute rute di kalkulasikan.

Algoritma non-adaptive atau disebut juga algoritma statik, keputusan routing tidak berdasarkan penaksiran arus trafik dan topologi. Pada algoritma statik, jalur diambil oleh paket hanya tergantung pada basis sumber dan tujuan, tanpa memperdulikan status jaringan. Sebagai gantinya, rute adalah pra-komputasi dan diberikan kepada router secara offline. Algoritma adaptive merubah keputusan routingnya untuk menggambarkan perubahan pada topologi dan trafik. Adaptive routing dapat lebih mudah menyesuaikan pada situasi yang tidak konsisten, bergabung dengan node atau kegagalan link atau perubahan lokal topologi. 2.2 Ant Colony System 2.2.1 Sejarah Ant Colony System Sistem cerdas menjadi bagian dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seiring dengan berkembangnya teknologi, aplikasi aplikasi yang menerapkan sistem cerdas semakin banyak untuk menyelesaikan berbagai macam permasalahan optimisasi. Salah satu algoritma yang menerapkan sistem cerdas ini adalah algoritma Ant Colony System (ACS). ACS merupakan pendatang baru pada sistem cerdas. Algoritma ini dikemukakan oleh Marco Dorigo dan Luca Gambardella pada tahun 1996. Sesuai dengan namanya, algoritma ini dibuat berdasarkan prinsip dan prilaku alami dari sistem koloni semut dalam mencari makanannya. Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan fakta bahwa semut dapat menemukan rute terpendek dalam mencari makanannya. Hal inilah yang menginspirasi terciptanya algoritma ACS.

2.2.2 Perilaku Koloni Semut Semut adalah serangga sosial. Semut dapat bekerja sama dengan koloninya secara efektif untuk melaksanakan sejumlah pekerjaan, contohnya mencari rute terpendek dari sarang ke sumber makanan dan kembali ke sarang mereka tanpa menggunakan petunjuk yang nyata. Semut dapat bekerja sama dengan koloninya dan bertukar informasi secara tidak langsung yang disebut dengan stigmergy. Pada saat melakukan suatu rute perjalanan, semut meletakkan sejumlah informasi pada daerah yang dilaluinya yaitu feromon yang merupakan zat yang dikeluarkan oleh semut untuk mendeteksi dan merespon keberadaan dari semut lainnya. Dengan feromon ini, semut menandai daerah yang dilaluinya. Semut berikut yang melalui jalur tersebut akan mengidentifikasikan feromon yang diletakkan oleh semut sebelumnya dan memutuskan dengan probabilitas yang tinggi untuk mengikutinya dan menguatkan jalur yang dipilihnya dengan feromon miliknya. Proses dari stigmergy ini dapat diilustrasikan seperti pada gambar 2.1. E t =0 E 30 semut t =1 E d=1 d=0.5 D 15 semut 15 semut D 10 semut 20 semut D H C H C H C d=1 B B d=0.5 15 semut B 10 semut 20 semut 15 semut 30 semut 30 semut A A A (a) (b) (c) Gambar 2.1. Proses stigmergy

Keterangan: 1. Graf dengan jarak D H = H B = 1, dan D C = C B = 0.5. E adalah sarang dan A adalah sumber makanan. 2. Pada saat t=0 belum terdapat jejak, semut memilih untuk bergerak kearah kiri atau kekanan dengan probabilitas 3. Pada saat t=1, jejak feromon lebih kuat pada jarak yang lebih pendek, sehingga lebih banyak semut memilih jalur tersebut untuk dilewati. Berdasarkan sifat alamiah semut yang dapat menemukan jarak terpendek inilah banyak permasalahan optimisasi yang terinspirasi dengan menggunakan prinsip semut tersebut. Perbedaan agen semut yang dipakai dalam pemecahan masalah optimisasi dengan semut alami adalah pada agen semut terdapat memori, sehingga semut semut ini memiliki kemampuan untuk menyimpan data data atau hasil kunjungan mereka pada setiap rute perjalanan. Konsep ACS telah banyak diterapkan dalam berbagai kajian permasalahan optimisasi kombinatorial seperti traveling salesman problem (TSP), quadratic assignment problem, jobscheduling, vehicle routing, graph coloring, dan network routing. Pada penelitian ini, konsep dari perilaku semut yang akan dibahas lebih lanjut adalah ACS pada routing jaringan, bagaimana agen agen semut dapat memecahkan permasalahan routing dan bagaimana hasil kinerja routing tersebut jika menerapkan algoritma ACS. 2.2.3 AntNet Ant Colony System pada routing jaringan disebut dengan AntNet. Pada AntNet, semut mengikuti proses yang iteratif, setiap semut membangun solusi dengan menggunakan dua tipe informasi lokal yaitu informasi masalah masalah tertentu ( seperti jarak kota pada Travelling Salesman Problem) dan informasi baru yang ditambah oleh semut selama iterasi algoritma sebelumnya. Faktanya, ketika membangun solusi, setiap semut membangun informasi pada karakteristik permasalahan dan pada saat performansinya sendiri dan menggunakan informasi ini untuk memodifikasi representasi masalah yang dilihat oleh semut lainnya. Representasi masalah yang dimodifikasi mengandung informasi solusi yang baik pada masalah sebelumnya dan dapat dibangun solusi baru yang lebih baik lagi.

Secara informal, algoritma AntNet dan karakteristik utamanya dapat dirangkum sebagai berikut: 1. Pada interval regular dan bersamaan dengan data trafik,dari tiap node node jaringan, setiap semut bersifat asinkron, maju secara acak ke node node yang dipilihnya. 2. Agen semut bertindak secara bersamaan dan bebas, dan berkomunikasi secara tidak langsung, melalui informasi yang mereka baca dan menulis informasinya kembali pada node yang mereka lalui. 3. Setiap agen mencari jarak minimum dari node sumber ke node tujuan. 4. Setiap agen bergerak langkah demi langkah ke node tujuan. Pada setiap node berikutnya, aturan greedy diberlakukan dalam pemilihan node selanjutnya. Hal ini berguna untuk generasi agen lokal dan pemeliharaan informasi. 5. Ketika bergerak, agen mengumpulkan informasi waktu, status kongesti dan identifikasi node pada jalur yang telah dilewati. 6. Ketika agen telah sampai di node tujuan, agen kembali ke node sumber dengan bergerak ke jalur yang sama tetapi berlawanan arah 7. Selama perjalanan pulang, model lokal dari status jaringan dan tabel routing pada setiap node yang dikunjungi dimodifikasi oleh agen sebagai fungsi dari jalur yang mereka ikuti dan kebaikan (goodness) yang diharapkan. 8. Ketika agen sampai kembali ke node sumber, agen tersebut akan mati.

2.2.4 Deskripsi Algoritma AntNet terbagi menjadi dua agen mobile yang homogen yang disebut dengan forward ant dan backward ant. Agen tesebut memiliki sifat yang sama hanya saja berbeda penempatan situasi dan lingkungannya, sehingga mereka dapat menerima input yang berbeda dan menghasilkan output yang berbeda pula. Secara luas agen agen semut ini dapat diklasifikasikan sebagai agen yang deliberatif, karena mereka memiliki tingkah laku dapat meregenerasi kembali dan pada waktu yang sama mereka dapat melakukan pemeliharaan status internal yang komplit. Masing masing agen berkomunikasi dengan cara tidak langsung atau stigmergy. Agen menangkap informasi yang mereka baca dan menulis informasi yang didapat dalam dua struktur data yang disimpan pada setiap node jaringan seperti gambar 2.2 Gambar 2.2. Struktur data yang disimpan oleh AntNet

Keterangan: 1. Sebuah tabel routing T k merupakan algoritma vektor jarak tetapi dengan masukan yang probabilitas. T k mendefinisikan probabilitas aturan routing yang diadopsi oleh node k, untuk setiap node tujuan d yang mungkin dan untuk setiap node tetangga n, T k menyimpan sebuah nilai probabilitas P nd yang menggambarkan kabaikan (goodness)/keinginan dalam aturan routing jaringan yang luas, memilih n sebagai node selanjutnya sedangkan node tujuannya adalah d : n Є N k Pnd = 1, d Є [1, N], N k = {tetangga(k)} 2. Sebuah array M k ( μd, σd 2, Wd), dari struktur data mendefinisikan model sederhana parameter statik dari trafik distribusi antar jaringan yang dilihat oleh node k. Modelnya adalah adaptif dan digambarkan oleh contoh properti dan varian komputasi selama waktu perjalanan yang dialami oleh agen mobile, dan dengan memindahkan jendela observasi Wd yang digunakan untuk menyimpan nilai terbaik W terbaikd dari waktu perjalanan agen. Untuk setiap daerah tujuan d dalam jaringan, taksiran properti dan variannya, μd dan σd 2 memberikan representasi waktu yang diharapkan untuk pergi dan kestabilannya. 2.3 Network Simulator Untuk menguji algoritma ACS atau antnet pada jaringan maka dibutuhkan sebuah media yang dapat menggambarkan proses proses yang berjalan pada jaringan komputer. Oleh sebab itu dibutuhkan simulator jaringan yang dapat merepresentasikan algoritma antnet. Pada penelitian ini simulator jaringan yang dipakai adalah Network Simulator versi 2 atau NS2.

NS2 adalah alat simulasi jaringan open source yang banyak digunakan dalam mempelajari struktur dinamik dari jaringan komunikasi. Simulasi dari jaringan nirkabel dan protokol (seperti algoritma routing, TCP, dan UDP) dapat diselesaikan dengan baik dengan simulator ini. Karena kefleksibelannya, NS2 menjadi popular dikalangan komunitas peneliti sejak awal kemunculannya pada tahun 1989. Beberapa fitur yang ada pada NS2 adalah : 1. TCP dan implementasinya 2. Mobilitas 3. Node berupa satelit yang dapat kita tentukan longitude, latitude, dan altitude. 4. Internet routing protocol 5. Berbagai macam model link loss 6. Berbagai macam penghasil trafik (seperti web, telnet, dan sebagainya) 7. Kemampuan mengemulasikan jaringan NS2 terdiri dari dua bahasa pemrograman yaitu C++ dan OTcl (Objek-oriented Tool Command Language). C++ mendefinisikan mekanisme internal dari simulasi objek dan OTcl berfungsi untuk menset simulasi dengan assembly dan mengkonfigurasi objek sebagai penjadwalan diskrit. C++ dan OTcl saling berhubungan menggunakan TclCL. Setelah simulasi, output NS2 dapat berupa basis teks atau animasi berdasarkan simulasi. Untuk menginterprestasikan output ini secara grafik dan interaktif maka dibutuhkan NAM (Network Animator) dan XGraph. Untuk menganalisa tingkah laku dari jaringan user dapat mengekstrak subset dari data teks dan mentransformasikannya agar menjadi lebih atraktif.

Gambar 2.3 merupakan struktur dari NS2 yang menggambarkan kinerja dari NS2 Gambar 2.3. Arsitektur NS2 Pada prakteknya, NS2 merupakan simulasi yang berjalan pada sistem UNIX. Oleh sebab itu NS2 dapat berjalan dengan baik di sistem operasi Linux, OpenBSD, FreeBSD, dan sistem operasi berbasis unix lainnya. Walaupun demikian NS2 dapat juga berjalan pada Windows dengan menggunakan tool tambahan yaitu Cygwin. Cygwin adalah port dari tool pengembangan GNU (GNU s Not UNIX) untuk Microsoft Windows. Hal ini dimungkinkan dengan adanya librari Cygwin sebagai penyedia sistem dan lingkungan UNIX yang dibutuhkan oleh tool GNU tersebut. Singkatnya, Cygwin adalah sebuah lingkungan yang menyerupai Linux untuk Windows. Pada penelitian ini algoritma antnet akan diimplementasikan pada NS2 yang berjalan pada sistem windows yang akan dijelaskan pada bab berikutnya.