BAB III Tahapan Pendampingan KTH



dokumen-dokumen yang mirip
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA

Keputusan Menteri Kehutanan No. 31 Tahun 2001 Tentang : Penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI GORONTALO PROVINSI GORONTALO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.01/MENHUT-II/2004 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN MAROS. NOMOR : 05 Tahun 2009 TENTANG KEHUTANAN MASYARAKAT DI KABUPATEN MAROS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BERITA NEGARA. KEMEN-LHK. Perlindungan. Pengelolaan. LHK. Peran. Masyarakat. Pelaku Usaha. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

PERATURAN DAERAH KOTA MATARAM NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENATAAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA/KELURAHAN

A. Bidang. No Nama Bidang Nama Seksi. 1. Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan. - Seksi Perencanaan dan Penatagunaan Hutan

VII. RANCANGAN PROGRAM PENGUATAN KAPASITAS LMDH DAN PENINGKATAN EFEKTIVITAS PHBM

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.29/Menhut-II/2013 TENTANG PEDOMAN PENDAMPINGAN KEGIATAN PEMBANGUNAN KEHUTANAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIAMIS NOMOR 9 TAHUN 2007 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

BUPATI PURWOREJO PROVINSI JAWA TENGAH

PEMERINTAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.44/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN UNIT PERCONTOHAN PENYULUHAN KEHUTANAN

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG

MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN,

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PEMERINTAH KABUPATEN MAJENE

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 6 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG

I. PENDAHULUAN. kabupaten/kota dapat menata kembali perencanaan pembangunan yang

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 5 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN PENATAAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Dinas Kesehatan balita 4 Program Perencanaan Penanggulangan

PEMERINTAH KABUPATEN PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN WALIKOTA KEDIRI NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG SISTEM MANAJEMEN PEMBANGUNAN PARTISIPATIF KOTA KEDIRI

PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TABANAN NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TABANAN,

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PERLINDUNGAN HUTAN

PEMERINTAH KABUPATEN GRESIK PERATURAN DAERAH KABUPATEN GRESIK NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG

Himpunan Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Tahun

PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN URUSAN WAJIB LINGKUNGAN HIDUP

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.52, 2010 Kementerian Pertanian. Pelatihan. Pertanian Swadaya. Pedoman.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKAYANG NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BONDOWOSO PROVINSI JAWA TIMUR

6.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan

BAB II VISI, MISI, TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.84/MENLHK-SETJEN/KUM.1/11/2016 TENTANG PROGRAM KAMPUNG IKLIM

PEMERINTAH KABUPATEN SUKOHARJO

PENYULUHAN DAN KEBERADAAN PENYULUH

VIII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENYULUHAN KEHUTANAN

RENJA PUSAT PENYULUHAN TAHUN 2017 PUSAT PENYULUHAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN.

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.57/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PEMBINAAN KELOMPOK TANI HUTAN

TABEL 6.1 STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

PEMERINTAHAN KABUPATEN BINTAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. dilaksanakan/diterapkan dalam rangka peningkatan produksi

KEMENTERIAN KEHUTANAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM KEHUTANAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEHUTANAN

PEMERINTAH KABUPATEN PURBALINGGA

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 81 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA

BUPATI LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Mamuju Utara di Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Negara

Hubungan Karakteristik Individual Anggota Masyarakat dengan Partisipasi Masyarakat dalam Pelestarian Hutan

BUPATI SUKOHARJO PERATURAN BUPATI SUKOHARJO NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

PEMERINTAH KABUPATEN TUBAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TUBAN NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN

BAB I PENDAHULUAN. pembukaan Undang-Undang Dasar Pembangunan merupakan proses. untuk mencapai kondisi yang lebih baik dari sekarang.

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG PEMBERDAYAAN DAN PERLINDUNGAN KOPERASI

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BINTAN TAHUN 2008 NOMOR 4

PEMERINTAH KABUPATEN ASAHAN SEKRETARIAT DAERAH Jalan Jenderal Sudirman No.5 Telepon K I S A R A N

PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 74 TAHUN 2016 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BADAN PARTISIPASI MASYARAKAT DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN KABUPATEN KUPANG. Bagian Pertama Badan. Pasal 32

VII. STRATEGI DAN PROGRAM PENGUATAN KELOMPOK TANI KARYA AGUNG

S A L I N A N LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DEMAK NOMOR 5 TAHUN 2010

PERENCANAAN WATANG BACUKI

Pelatihan Fasilitator Pengelolaan Konflik Sumberdaya Hutan

WALIKOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 TENTANG PERHUTANAN SOSIAL

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

VISI, MISI DAN PORGRAM VISI

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN DESA BOJONGGENTENG KECAMATAN JAMPANGKULON KABUPATEN SUKABUMI NOMOR 8 TAHUN 2017

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyuluh Pertanian Dalam UU RI No. 16 Tahun 2006 menyatakan bahwa penyuluhan pertanian dalam melaksanakan tugasnya

WALIKOTA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 40 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.42/Menhut-II/2012 TENTANG PENYULUH KEHUTANAN SWASTA DAN PENYULUH KEHUTANAN SWADAYA MASYARAKAT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DI KELURAHAN

KEPALA DESA NITA KABUPATEN SIKKA PERATURAN DESA NITA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA NITA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN EKOWISATA DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Transkripsi:

BAB III Tahapan Pendampingan KTH Teknik Pendampingan KTH 15

Pelaksanaan kegiatan pendampingan KTH sangat tergantung pada kondisi KTH, kebutuhan dan permasalahan riil yang dihadapi oleh KTH dalam melaksanakan pembangunan kehutanan, maupun kebutuhan dan permasalahan berkaitan dengan upaya peningkatan kesejahteraan KTH. Oleh karena itu tidak ada acuan pelaksanaan pendampingan KTH yang baku, yang dapat diterapkan di semua lokasi. Dalam konsep pendampingan, perlu digarisbawahi bahwa peran pendamping adalah sebagai fasilitator, motivator, dinamisator dan lainnya, sehingga peran utama harus dilakukan oleh KTH itu sendiri. Untuk melaksanakan kegiatan pendampingan yang berdaya guna dan berhasil guna, garis besar tahapan yang perlu dilakukan oleh para pendamping adalah: A. Tahap Persiapan Tahap persiapan merupakan tahap awal dan fondasi bagi pelaksanaan pendampingan kegiatan pembangunan kehutanan. Tahap persiapan bertujuan menyadarkan dan memotivasi KTH agar mau berpartisipasi dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk peningkatan keberdayaan dan kesejahteraan mereka. Kesadaran tentang manfaat dan pentingnya kegiatan pendampingan bagi KTH, akan memotivasi KTH untuk terlibat aktif dalam kegiatan pendampingan. B. Tahap Identifikasi Tahap identifikasi merupakan suatu tahap dimana pendamping bersama masyarakat mengenali dan menggali potensi sumberdaya dan permasalahan berkaitan dengan pembangunan kehutanan di wilayah pendampingan. Ketepatan dalam mengidentifikasi merupakan hal penting yang harus diperhatikan karena akan mempengaruhi keberhasilan pendampingan. Identifikasi bersama masyarakat penting Teknik Pendampingan KTH 17

dilakukan karena seringkali persepsi dan penilaian pendamping kurang tepat atau tidak sesuai dengan persepsi dan penilaian masyarakat. C. Tahap Perencanaan Tahap ini merupakan tahap penentuan kegiatan pendampingan yang terkait dengan program pembangunan kehutanan yang akan dilaksanakan. Penentuan kegiatan pendampingan ini dipertimbangkan atas dasar hasil dari tahap identifikasi. Pelibatan masyarakat secara aktif dalam proses perencanaan merupakan tahap penting untuk menumbuhkan sense of belonging terhadap kegiatan pendampingan yang direncanakan. Pada tahapan ini penting sekali pendamping memperhatikan peranannya sebagai fasilitator, yang memberikan berbagai alternatif tetapi tidak mengambil keputusan untuk masyarakat. Masyarakat sendiri yang menentukan pilihan program yang ditawarkan pendamping, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. D. Tahap Pelaksanaan Inti dari tahap pelaksanaaan pendampingan KTH ialah meningkatkan kapasitas KTH dalam melakukan empat aspek kelola yaitu kelola kelembagaan, kelola sosial, kelola usaha dan kelola lingkungan. 1. Peningkatan kapasitas dalam kelola kelembagaan Pelaksanaan pendampingan dalam kelola kelembagaan adalah kegiatan dalam rangka menumbuhkembangkan kelembagaan KTH sehingga menjadi organisasi yang dinamis dan mandiri. Kelola kelembagaan tidak hanya berkaitan dengan administrasi dan struktur organisasi, tetapi juga mengembangkan aturan dan kesepakatan kelompok yang mengatur hubungan antara pengurus dan anggota, kepemimpinan dan regenerasi/kaderisasi pemimpin. 18 Teknik Pendampingan KTH

Berikut beberapa kegiatan pendampingan kelola kelembagaan: a. Penyusunan dan pengembangan struktur organisasi kelompok tani hutan b. Pembagian tugas, peran dan tanggung jawab pengurus c. Penyusunan dan internalisasi aturan kelompok d. Penyusunan kelengkapan administrasi kelompok (buku-buku administrasi, papan nama kelompok, dan sebagainya) e. Pengembangan manajemen kelompok tani hutan melalui pembelajaran bersama ( learning together ) f. Pembentukan kader dan regenerasi kepemimpinan dalam kelompok. 2. Peningkatan kapasitas dalam Kelola Sosial Pendampingan KTH dalam mengembangkan kelola sosial yaitu menumbuhkembangkan modal sosial kelompok : kepercayaan, kejujuran, keswadayaan dan kerja sama/gotong royong sehingga menjadi kelompok yang dinamis, kokoh, mandiri dan berkelanjutan. Berikut beberapa kegiatan pendampingan kelola sosial antara lain: a. Menumbuhkembangkan semangat kekeluargaan, kerjasama, kesetaraan, partisipasi, dan keswadayaan b. Memperkuat rasa tanggung jawab c. Meminimalisir konflik internal dan eksternal d. Meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat sekitar e. Mengembangkan kegiatan yang bermanfaat bagi kelompok dan masyarakat sekitar f. Melestarikan dan mengembangkan kearifan lokal berkaitan dengan pelestarian sumberdaya alam dan hutan; Teknik Pendampingan KTH 19

3. Peningkatan kapasitas dalam Kelola Kawasan dan Kelola Usaha Pendampingan dalam kelola kawasan dilakukan dalam rangka menumbuhkan partisipasi kelompok tani hutan terhadap kegiatan pembangunan kehutanan dalam kawasan. Secara tidak langsung kegiatan kelola kawasan dapat menjaga keutuhan kawasan dan melestarikan fungsi ekologis hutan. Sementara pendampingan kelola usaha dilakukan dalam rangka memfasilitasi KTH sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok untuk meningkatkan kesejahteraan angotanya. Pendampingan kelola kawasan dan kelola usaha dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan sebagai berikut: a. Kelola Kawasan 1) Memfasilitasi identifikasi potensi sumberdaya alam di dalam dan sekitar hutan 2) Memfasilitasi izin pengelolaan kawasan hutan melalui HKm, HD atau HTR berdasarkan potensi yang ada 3) Memfasilitasi pengelolaan sumberdaya hutan dan lahan dengan arif dan bijaksana 4) Memfasilitasi pengembangan potensi jasa lingkungan dan ekowisata 5) Memfasilitasi penyelesaian konflik tata batas wilayah/tenurial kawasan hutan b. Kelola Usaha 1) Memfasilitasi penguatan dan pengembangan usaha kelompok 2) Memfasilitasi Inventarisasi asset kelompok tani kehutanan (luas lahan garapan kelompok, sarprodi, modal berjalan, dsb) 3) Memfasilitasi penyusunan analisis usaha tani kehutanan 20 Teknik Pendampingan KTH

4) Memfasilitasi penguatan modal kelompok 5) Memfasilitasi penyusunan strategi pengembangan usaha tani kehutanan 6) Memfasilitas divesifikasi usaha produktif kehutanan lainnya c. Pengembangan Jaringan Kemitraan 1) Memfasilitasi akses informasi teknologi, pemasaran dan permodalan dengan berbagai pihak 2) Memfasilitasi kegiatan-kegiatan Temu Usaha kelompok tani hutan dengan Pelaku Usaha, bank, dan dinas perkoperasian 3) Memfasilitasi KTH dalam melakukan perjanjian kerjasama / penyusunan MOU dengan Pelaku Usaha 4. Peningkatan kapasitas dalam Kelola Lingkungan Kelola lingkungan adalah tentang bagaimana kontribusi dan peran keberadaan kelompok terhadap peningkatan kualitas lingkungan sekitar. Keberadaan kelompok harus mampu menjadi contoh dan pelopor terhadap kelestarian lingkungan sekitar sehingga memberikan kehidupan yang lebih nyaman bagi masyarakat sekitar. Kegiatan kelompok harus mampu memberikan dampak positif yang dapat dinikmati oleh masyarakat lainnya diluar kelompok. Salah satu kegiatan nyata yang dapat dirasakan bersama adalah melalui kegiatan kelola lingkungan. Beberapa kegiatan kelola lingkungan yang perlu didampingi yaitu: a. Melakukan kegiatan penghijauan swadaya b. Memelihara daerah aliran sungai sekitar lokasi kelompok c. Berpartisipasi dalam pencegahan kebakaran hutan d. Meminimalisir tindakan penebangan liar dan perambahan hutan e. Menjaga dan melestarikan mangrove Teknik Pendampingan KTH 21

f. Melindungi satwaliar dilindungi dan mencegah terjadinya perburuan satwaliar g. Melakukan kegiatan gotong royong pengelolaan sampah di lingkungan sekitar h. Melakukan gotong royong membagun sarana kebersihan dan kesehatan umum E. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi merupakan tahap penilaian dan pengawasan bersama semua pihak terhadap pelaksanaan pendampingan. Tahap pelaksanaan evaluasi meliputi serangkaian kegiatan yang dimulai dari kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan terhadap kegiatan pendampingan kelompok tani hutan. 1. Monitoring Monitoring diarahkan untuk mengetahui/mencatat progress dan realisasi serta permasalahan yang dihadapi kelompok tani hutan berlandaskan perencanaan yang telah disusun serta kondisi sarana prasarana kelompok dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan kehutanan; 2. Evaluasi Evaluasi diarahkan untuk mengetahui/mencatat/menilai efektifitas dan dampak kegiatan pendampingan kelompok tani hutan dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga petani serta kelestarian fungsi hutan dan lingkungan. 3. Pelaporan Laporan pendampingan diperlukan oleh instansi untuk mengetahui kinerja pendamping dan dampak yang terlihat dari hasil 22 Teknik Pendampingan KTH

pendampingan. Hasil dan dampak kegiatan pendampingan tersebut tentunya harus terekam dalam sebuah laporan.laporan ini kemudian dapat dijadikan acuan pelaksanaan pendampingan sejenis baik oleh pendamping lain maupun oleh instansi terhadap sasaran pendampingan lainnya. F. Tahap Terminasi Tahap terminasi merupakan tahap akhir dari proses pendampingan, dimana seluruh program/kegiatan telah berjalan dan kelompok tani hutan dianggap telah mencapai tahap mandiri sehingga proses pendampingan harus diakhiri. Pendamping meninggalkan komunitas secara bertahap namun masih berperan sebagai mitra bagi kelompok tani hutan/ masyarakat yang telah didampinginya. Pada akhirnya sebuah kelompok tani hutan dituntut untuk dapat lebih mandiri dan unggul dibandingkan kondisi sebelum dilakukan pendampingan. Sehingga fungsi pendampingan sedikit demi sedikit dapat dikurangi porsinya sampai kelompok tani hutan benar-benar telah mandiri dan bahkan diharapkan kelompok tani hutan yang berhasil di dampingi ini akan memberikan pendampingan ulang kepada kelompok tani hutan lainnya atau masyarakat sekitarnya. Dalam tahap ini, pendamping harus benar-benar yakin bahwa proses pemberdayaan dan kegiatan dalam kelompok akan terus berjalan meskipun kelompok sudah tidak didampingi. Pendamping pada tahap ini berperan sebagai mitra bagi kelompok tani hutan yang sudah didampingi dengan tugas sebatas: 1. Memberikan informasi baru tentang hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan dan usaha kelompok Teknik Pendampingan KTH 23

2. Menjembatani hubungan kelompok dengan mitra usaha, pemerintah dan mitra lainnya 3. Membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi kelompok jika diminta. Bagi pendamping, tahap terminasi ini merupakan sebuah akhir dari kegiatan pendampingan terhadap kelompok tani tertentu dan akan melanjutkan pendampingan di kelompok tani lain bahkan pendamping bisa membuka jaringan yang lebih luas untuk dapat mempengaruhi kebijakan publik. Namun bagi kelompok tani hutan yang didampingi, tahap ini adalah sebuah langkah awal untuk mengelola kegiatan sendiri secara mandiri dan berkelanjutan, berhadapan dengan permasalahan nyata yang lebih kompleks dan mampu mengatasi permasalahan sendiri. Tahap terminasi ini menunjukkan bahwa kelompok tani hutan yang didampingi telah mencapai kemandiriannya. Berikut adalah kriteria kelompok yang sudah mandiri: 1. Kelembagaan yang mantap (aturan kelompok yang mengikat, kepemimpinan, pembagian peran, keswadayaan dan kerja sama internal yang solid); 2. Pemecahan masalah dan Pengambilan Keputusan Demokratis; 3. Usaha Produktif Berkembang 4. Akses pemasaran, permodalan, teknologi informasi (kemitraan) berkembang 5. Pendapatan/Ekonomi Meningkat 6. Dampak nyata terhadap pelestarian sumberdaya hutan & lingkungan 24 Teknik Pendampingan KTH