Bab II Geologi. Tesis



dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II GEOLOGI CEKUNGAN TARAKAN

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN UMUM

Bab II Geologi Regional

BAB II TINJAUAN PUSTAKA : GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN UMUM

3.2.3 Satuan Batulempung. A. Penyebaran dan Ketebalan

BAB II GEOLOGI REGIONAL

II. TINJAUAN PUSTAKA. Zona penelitian ini meliputi Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Bab III Geologi Daerah Penelitian

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II GEOLOGI REGIONAL

Geologi dan Potensi Sumberdaya Batubara, Daerah Dambung Raya, Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL

BAB 2 Tatanan Geologi Regional

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN GEOLOGI

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur

KAJIAN POTENSI TAMBANG DALAM PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG DI DAERAH SUNGAI MERDEKA, KAB. KUTAI KARTANEGARA, PROV. KALIMANTAN TIMUR

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Umur GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan

Umur dan Lingkungan Pengendapan Hubungan dan Kesetaraan Stratigrafi

PROSPEKSI ENDAPAN BATUBARA DI DAERAH KELUMPANG DAN SEKITARNYA KABUPATEN MAMUJU, PROPINSI SULAWESI SELATAN

BAB II GEOLOGI REGIONAL

KONTROL STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP SEBARAN ENDAPAN KIPAS BAWAH LAUT DI DAERAH GOMBONG, KEBUMEN, JAWA TENGAH

Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 34 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

KAJIAN ZONASI DAERAH POTENSI BATUBARA UNTUK TAMBANG DALAM CEKUNGAN TARAKAN, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB IV Kajian Sedimentasi dan Lingkungan Pengendapan

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III STRATIGRAFI 3. 1 Stratigrafi Regional Pegunungan Selatan

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Bab II Kondisi Umum Daerah Penelitian

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL DAERAH PENELITIAN

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

memiliki hal ini bagian

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN UMUM

Geologi dan Studi Fasies Karbonat Gunung Sekerat, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

BAB II TINJAUAN UMUM

INVENTARISASI BATUBARA BERSISTIM DI DAERAH SUNGAI SANTAN DAN SEKITARNYA KABUPATEN KUTAI TIMUR, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II KEADAAN UMUM DAN KONDISI GEOLOGI

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

Foto III.14 Terobosan andesit memotong satuan batuan piroklastik (foto diambil di Sungai Ringinputih menghadap ke baratdaya)

Subsatuan Punggungan Homoklin

BAB II STRATIGRAFI REGIONAL

BAB 2 GEOLOGI REGIONAL

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB II TINJAUAN GEOLOGI 2.1 GEOLOGI REGIONAL

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada gambar di bawah ini ditunjukkan lokasi dari Struktur DNF yang ditandai

GEOLOGI REGIONAL. Gambar 2.1 Peta Fisiografi Jawa Barat (van Bemmelen, 1949)

Geologi dan Studi Fasies Karbonat Gunung Sekerat, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN GEOLOGI REGIONAL

BAB II TINJAUAN UMUM

Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 19 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB II KERANGKA GEOLOGI CEKUNGAN SUMATERA UTARA

BAB II GEOLOGI REGIONAL

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Utara dan Barat, Selat Makassar di sebelah Timur dan Laut Jawa di sebelah

Foto 3.5 Singkapan BR-8 pada Satuan Batupasir Kuarsa Foto diambil kearah N E. Eko Mujiono

Transkripsi:

Bab II Geologi II.1 Kesampaian Daerah Daerah penelitian merupakan daerah konsesi PKP2B PT. Berau Coal site Lati. Daerah Lati secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Gambar II.1). Areal Lati terletak ± 7 km sebelah utara Sungai Berau atau terletak sejauh ± 35 km dari kota terdekat, yaitu kota Tanjung Redeb. Kesampaian lokasi daerah tambang tersebut dapat ditempuh dengan rute sebagai berikut : Dari Jakarta Balikpapan dengan pesawat terbang selama ± 2 jam kemudian dari Balikpapan Tanjung Redeb dengan pesawat terbang ditempuh selama 1,5 jam atau dari Kota Samarinda menuju Tanjung Redeb dapat juga ditempuh dengan menggunakan kendaraan darat selama 20 jam. Atau dapat juga dengan menggunakan transportasi kapal laut sampai ke Pelabuhan Tanjung Redeb dengan lama perjalanan 26 jam. Dari Tanjung Redeb menuju lokasi tambang di Lati dapat ditempuh dengan menggunakan speed boat dari dermaga khusus perusahaan PT. BC di Sungai Kelay dengan waktu tempuh selama sekitar 30 menit atau dapat juga dengan menggunakan kendaraan darat dengan waktu tempuh 45 menit. Sambarata LATI Punan Birang Binungan Kelai LOKASI PENELITIAN UTM 1984 ZONA 50 N Gambar II.1. Lokasi daerah penelitian (PT Berau Coal, 2006). 6

II.2 Geologi Regional Areal Lati terletak pada Cekungan Berau yang merupakan anak Cekungan Tarakan. Cekungan Tarakan (Gambar II.2) merupakan salah satu dari 3 (tiga) Cekungan Tersier utama yang terdapat di bagian timur continental margin Kalimantan (dari utara ke selatan: Cekungan Tarakan, Cekungan Kutai, dan Cekungan Barito), dicirikan oleh hadirnya batuan sedimen klastik sebagai penyusunnya yang dominan, berukuran halus sampai kasar dengan beberapa endapan karbonat. Secara fisiografi Cekungan Tarakan bagian barat dibatasi oleh lapisan pra-tesier Pegunungan Kuching dan dipisahkan dari Cekungan Kutai oleh kelurusan timur-barat Pegunungan Mangkalihat. Cekungan Tarakan berupa depresi berbentuk busur yang terbuka ke Timur ke arah Selat Makasar/Laut Sulawesi yang meluas ke utara (Sabah) dan berhenti pada zona subduksi di Pegunungan Semporna dan merupakan cekungan paling utara di Kalimantan. Pegunungan Kuching dengan inti lapisan pra-tersier terletak di sebelah baratnya sedangkan batas selatannya adalah Punggungan Suikerbood dan Pegunungan Mangkalihat. Gambar II.2. Peta tektonik Pulau Kalimantan dan posisi cekungan sedimen (dalam Islah, T. dan Fujiono, H., 2005). 7

Proses pengendapan Cekungan Tarakan dimulai dari proses pengangkatan (transgresi) yang diperkirakan terjadi pada kala Eosen sampai Miosen awal bersamaan dengan terjadinya proses pengangkatan gradual pada Pegunungan Kuching dari barat ke timur. Pada Kala Miosen Tengah terjadi penurunan (regresi) pada Cekungan Tarakan yang dilanjutkan dengan terjadinya pengendapan progradasi ke arah timur dan membentuk endapan delta, yang menutupi endapan prodelta dan batial. Cekungan Tarakan mengalami proses penurunan secara lebih aktif lagi pada kala Miosen sampai Pliosen. Proses sedimentasi delta yang tebal relatif bergerak ke arah timur terus berlanjut selaras dengan waktu (Mobil Oil Exploration, Lati Feasibility Study,1985). Secara rinci daerah ini diduga mengalami paling sedikit empat kali fase tektonik yang dimulai dari Kapur hingga Pleistosen, sebagai berikut: 1. Kapur Akhir, terjadi perlipatan dan pensesaran serta pemalihan regional derajat rendah pada Formasi Bangara yang berumur Kapur Akhir-Eosen Awal (Situmorang & Burhan, 1992). 2. Eosen Awal-Miosen Akhir, Cekungan Tarakan dimulai dengan rifting di Laut Sulawesi yang memisahkan bagian barat dan utara Sulawesi dengan bagian timur Kalimantan (Hamilton, 1979). Ekstensional dan subsiden dimulai pada waktu Eosen Tengah hingga Eosen Akhir (Burollet & Salle, 1981; Situmorang, 1983). Fase tektonik ekstensional ini membuka Cekungan Tarakan ke arah timur sebagai indikasi dari blok pensesaran ke timur. Pada Eosen-Miosen Awal terjadi transgresi bersamaan dengan perlipatan dan pensesaran di Cekungan Tarakan. Sementara itu Sub-Cekungan Berau dan Sub-Cekungan Tidung juga mulai berkembang sejak Eosen Akhir hingga Miosen Tengah. Sedimentasi laut terus berlanjut dari Miosen Awal bagian atas hingga Miosen Tengah yang ditandai dengan terbentuknya Formasi Naintupo di utara dan Formasi Birang pada Sub-Cekungan Berau di selatan yang berumur Miosen Awal-Miosen Tengah (Lentini & Darman, 1996). Pada awal Miosen Tengah, terjadi pengangkatan secara regional sehingga terjadi perubahan lingkungan pengendapan, dengan munculnya Tinggian Mangkalihat dan Tinggian Latong/Tinggian Sebuku serta pembentukan sistem 8

dua delta Tidung (di sebelah utara) dan Berau (di sebelah selatan). Kemudian pada Miosen Tengah terjadi regresi di Cekungan Tarakan. Pada Miosen Tengah - Akhir, terjadi progradasi ke arah timur yang ditunjukkan oleh Formasi Latih di sekitar Teluk Bayur dan Formasi Menumbar di Berau, serta Formasi Meliat dan Formasi Tabul di utara. 3. Miosen Akhir Pliosen, Cekungan Tarakan secara tektonik lebih stabil pada Miosen Akhir hingga Pliosen dengan sedimentasi deltaik dari barat melewati beberapa sistem aliran. Selama fase ini kombinasi dari subsiden dan grafiti cekungan menyebabkan sesar yang menciptakan ruang akomodasi untuk peningkatan volume endapan-endapan deltaik (Darman, 1999). Pada Mio- Pliosen terjadi regresi di Cekungan Tarakan, hal ini ditandai dengan terbentuknya Formasi Sanjau dan Formasi Domaring di selatan serta Formasi Tarakan di utara yang semuanya berumur Pliosen dan mengandung batubara tebal dengan kualitas yang rendah dan kemudian diikuti oleh terobosan andesit yang mengalami alterasi dan mineralisasi. 4. Pliosen Pleistosen, fase tektonik yang terakhir merupakan pengaktifan kembali dari pergerakan sesar transform sepanjang sesar mendatar (wrench faults) melintasi Selat Makasar dimulai pada Pliosen Atas dan menerus hingga saat ini, yang mengakibatkan morfologi atau fisiografi yang terlihat sekarang. Tiga zona utama sesar menganan (dextral wrench), dan beberapa sesar mendatar dengan skala kecil ditemukan di Cekungan Tarakan. Zona sesar Sempurna merupakan zona sesar mendatar paling utara yang memisahkan volkanik-volkanik Tinggian Sempurna dari sedimen-sedimen Neogen di Pulau Sebatik. Sesar mendatar utama yang ketiga membentuk batas di selatan Sub- Cekungan Muara, sepanjang tepi laut utara dari Tinggian Mangkalihat (Darman, 1999). Sistem delta berumur Pliosen dan Pleistosen meluas ke seluruh cekungan dan berlanjut hingga batas tepi continental shelf, ditandai dengan hadirnya Formasi Sajau dan Formasi Waru di selatan serta Bunyu Beds di utara (Lentini dan Darman, 1996). 9

Ditinjau dari fasies dan lingkungan pengendapannya, Cekungan Tarakan terbagi menjadi 4 (empat) Sub Cekungan (Gambar II.3) yaitu : Sub Cekungan Tidung: terletak paling utara, meluas ke Sabah dan berkembang pada kala Eosen Akhir sampai Miosen Tengah. Dipisahkan dari anak Cekungan Berau di sebelah selatannya oleh Punggungan Latong. Sub Cekungan Tarakan: berkembang terutama pada daerah lepas pantai dan terisi oleh sekuen tebal sedimen darat Akhir Miosen yang tidak selaras dengan lapisan dan struktur sebelumnya. Sub Cekungan Muras: terletak di lepas pantai Tinggian Mangkaliat. Terutama mengandung terumbu dan sedimen karbonat. Sub Cekungan Berau: terletak di bagian paling selatan Cekungan Tarakan yang berkembang dari Eosen sampai Miosen dan mempunyai sejarah pengendapan yang sama dengan Sub Cekungan Tidung. Gambar II.3. Peta pembagian Sub Cekungan Tarakan (Tossin dan Kadir, 1996). 10

Formasi pembawa batubara yang terdapat di Cekungan Tarakan adalah Formasi Tabul dan Formasi Sajau. Formasi Tabul terdiri dari perselingan batulempung, batulumpur, batupasir, batugamping dan batubara di bagian atas, yang berumur Miosen Atas dan diendapkan pada lingkungan delta-laut dangkal. Sedangkan Formasi Sajau tersusun oleh batupasir kuarsa, batulempung, batulanau, batubara, lignit dan konglomerat, yang diendapkan mulai dari Pliosen Awal sampai dengan Plistosen Akhir pada lingkungan fluviatil-delta. Sedangkan formasi pembawa batubara pada Sub Cekungan Berau adalah Formasi Birang dan Formasi Latih. Formasi Birang didominasi oleh fraksi halus (batulumpur) yang diendapkan di lingkungan laut dalam sampai delta. Bagian atas Formasi Birang ini merupakan perulangan yang terbentuk pada lingkungan delta, termasuk lapisan batubara. Bagian atas Formasi Birang ini menjemari dengan Formasi Latih yang umurnya relatif lebih muda. Formasi Latih tersusun oleh fraksi klastik halus sampai kasar serta lapisan batubara yang diendapkan di lingkungan delta sampai lingkungan darat. Berdasarkan Peta Geologi keluaran Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung pada Lembar Tanjung Redeb, secara regional daerah anak cekungan terdiri dari batuan sedimen, batuan gunung api dan batuan beku dengan kisaran umur dari PraTersier (Kapur) hingga Kuarter. Anak Cekungan Berau dari yang tua ke muda terdiri dari Formasi Banggara (Kbs), Formasi Sambakung (Tes), Formasi Tabalar (Teot), Formasi Birang (Tomb), Formasi Latih (Tml), Formasi Tabul (Tmt), Formasi Labanan (Tmpl), Formasi Domaring (Tmpd), Formasi Sinjin (Tps), Formasi Sajau (TQps), dan Endapan aluvial (Qa) (Gambar II.4). 11

Gambar II.4. Stratigrafi Cekungan Tarakan (Haq dkk., 1988 dalam Laporan Akhir Studi Kelayakan PT. Berau Coal, 2006). a. Formasi Bangara (Kbs): merupakan perselingan batulempung malih, batulempung terkersikkan, batulempung hitam bersisipan serpih, dan laminasi tufa, mengandung radiolaria, satuan batuan merupakan endapan flysch dan diperkirakan berumur kapur. b. Formasi Sembakung (Tes): tersusun dari batulempung, batulanau, dan batupasir di bagian bawah; Batupasir kuarsa, batugamping pasiran, rijang dan tufa di bagian atas; mengandung fosil nummulites sp, Discocylclina sp, Operculina sp, Globigerina sp, Reusela sp, Nodosaria sp, Planulina sp, 12

Amphistegina sp dan Borelis sp; Tebal satuan batuan lebih dari 1000 m, diendapkan dalam lingkungan laut, berumur Eosen. c. Formasi Tabalar (Toet): terdiri dari napal abu abu, batupasir, serpih, sisipan batugamping dan konglomerat alas di bagian bawah, batugamping dolomit, kalkarenit, dan sisipan napal di bagian atas; diendapkan dalam lingkungan fluviatil - laut dangkal; tebal satuan mencapai 1000 m, berumur Eosen Oligosen. d. Formasi Birang (Tomb): merupakan perselingan napal, batugamping dan tufa di bagian atas, dan perselingan rijang, napal, konglomerat, batupasir kuarsa dan batugamping di bagian bawah. Tebal satuan batuan lebih dari 1100 m; mengandung fosil antara lain: Lepidocylina ephicides, Spiroclypeus sp, Miogypsina sp, Margionopora vertebralis, Operculina sp, Globigerina tripartita, Globoquadrina altispira, Globorotalia mayeri, Globorotalia peripheronda, Globigerinoides immaturus, Globigerinoides sacculifer, Pra Orbulina transitoria, Uvigerina sp, Cassidulina sp. Kisaran umur Oligosen Miosen. e. Formasi Latih (Tml): tersusun dari batupasir kuarsa, batulempung, batulanau, dan batubara di bagian atas; bersisipan serpih pasiran dan batugamping di bagian bawah. Lapisan batubara (0,2 5,5 m), berwarna hitam, coklat; tebal satuan batuan kurang lebih 800 m, diendapkan dalam lingkungan delta, estuarin, dan laut dangkal; mengandung fosil antara lain: Pra Orbulina glomerosa, Pra Orbulina transitioria; berumur Miosen Awal Miosen Tengah. f. Formasi Tabul (Tmt): terdiri dari batupasir, batulempung konglomerat, dan sisipan batubara; mengandung Operculina sp, tebal satuan kurang lebih 1050 m. Satuan batuan merupakan endapan regresif delta, berumur Miosen Akhir. g. Formasi Labanan (Tmpl): merupakan perselingan konglomerat aneka bahan, batupasir, batulanau, batulempung disisipi batugamping dan batubara. Lapisan batubara (0,2 1,5 m) berwarna hitam, coklat. Tebal satuan lebih kurang 450 m, diendapkan dalam lingkungan fluviatil. Berumur Miosen Akhir Pliosen. 13

h. Formasi Domaring (Tmpd): tersusun dari batugamping terumbu, batugamping kapuran, napal, dan sisipan batubara muda; diendapkan dalam lingkungan rawa litoral. Tebalnya mencapai 1000 m, berumur Miosen Akhir Pliosen. i. Formasi Sinjin (Tps): merupakan perselingan tufa, aglomerat, lapili, lava andesit piroksen, tufa terkersikan, batulempung tufaan dan kaolin, mengandung lignit, kuarsa, feldsfar, dan mineral hitam. Tebal satuan batuan lebih dari 500 m. j. Formasi Sajau (TQps): merupakan perselingan batulempung, batulanau, batupasir, konglomerat, disisipi batubara, mengandung moluska, kuarsit dan mika; menunjukan struktur silang siur dan laminasi. Lapisan batubara (0,2 1 m) berwarna hitam, coklat. Tebal satuan batuan lebih kurang 775 m, diendapkan dalam lingkungan fluviatil dan delta. k. Endapan Aluvial (Qa): tersusun dari lumpur, lanau, pasir, kerikil, kerakal dan gambut berwarna kelabu sampai kehitaman, tebalnya lebih dari 40 m. Tabel II.1. Kolom stratigrafi daerah Berau (Mobil Oil, 1985 dalam Laporan Akhir Studi Kelayakan PT. Berau Coal, 2006). 14

II.3 Struktur Geologi Struktur geologi regional yang ada di sekitar daerah pemetaan berupa lipatan sesar normal dan sesar geser dengan kelurusan menunjukan arah utama baratlaut tenggara dan baratdaya timurlaut. Struktur lipatan seperti antiklin dan sinklin berarah baratlaut tenggara dan baratdaya timurlaut (Gambar II.5). Di daerah ini diduga telah terjadi empat kali tektonik. Tektonik awal terjadi pada Akhir Kapur atau lebih tua. Gejala ini mengakibatkan perlipatan, pensesaran dan pemalihan regional derajat rendah pada Formasi Bangara. Pada Eosen Awal di bagian tengah dan barat (Peta Geologi Regional Lembar Tanjung Redeb P3G, Bandung 1995) terbentuk Formasi Sembakung dalam lingkungan laut dangkal, diikuti pengendapan Formasi Tabalar di bagian tenggara, pada kala Eosen Oligosen dan diikuti tektonik kedua. Sesudah kegiatan tektonik kedua tersebut terjadi pengendapan Formasi Birang di bagian timur, tengah dan selatan maupun di bagian barat pada kala Oligosen Miosen. Setempat diikuti terobosan andesit yang mengalami alterasi dan mineralisasi. Di samping itu juga terjadi kegiatan gunungapi sehingga terbentuk Satuan Gunungapi Jelai di bagian Barat. Pengendapan Formasi Birang diikuti pengendapan Formasi Latih di bagian selatan yaitu di daerah Teluk Bayur dan sekitarnya. Pengendapan itu berlangsung pada akhir Miosen Awal hingga Miosen Tengah diikuti kegiatan tektonik ketiga. Setelah kegiatan tektonik tersebut pada akhir Miosen Akhir hingga Pliosen terendapkan Formasi Labanan di Baratdaya dan Formasi Domaring di bagian timur, sedangkan di bagian utara terjadi Pengendapan Formasi Tabul, pada akhir Miosen Akhir diikuti kegiatan gunungapi sehingga terbentuk Formasi Sinjin di daerah baratdaya dan utara pada kala Pliosen dan selanjutnya diikuti pengendapan Formasi Sajau pada Plio Plistosen. Pada Kala Pliosen atau sesudah pengendapan Formasi Sajau dan Formasi yang lebih tua di bawahnya terlipat, tersesarkan, dan menghasilkan bentuk morfologi atau fisiografi yang terlihat sekarang. 15

BERAU SUB BASIN Gambar II.5. Struktur regional Cekungan Tarakan (Sitomurang dan Burhan, 1992 dalam Laporan Akhir Studi Kelayakan PT. Berau Coal, 2006). 16

II.4 Geologi Lati Konsesi Lati dibatasi oleh Punggungan Latong yang merupakan daerah dengan topografi tinggi sejak kala Oligosen, yang memisahkan Sub Cekungan Berau dengan Sub Cekungan Tidung di bagian utara. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mobil Oil tahun 1985 dan P3G tahun 1995 yang kemudian diperbaharui oleh PT. Berau Coal berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan selama melaksanakan kegiatan eksplorasi, diketahui bahwa satuan batuan di areal ini dapat dibagi menjadi beberapa kelompok formasi, yaitu : Formasi Birang (Tomb): Perselingan napal, batugamping dan tufaf di bagian atas, dan perselingan rijang, napal, konglomerat, batupasir kuarsa, dan batugamping di bagian bawah; Tebal satuan batuan lebih dari 1100 m; mengandung fosil antara lain: Lepidocylina ephicides, Spiroclypeus sp, Miogypsina sp, Margionopora vertebralis, Operculina sp, Globigerina tripartita, Globoquadrina altispira, Globorotalia mayeri, Globorotalia peripheronda, Globigerinoides immaturus, Globigerinoides sacculifer, Pra Orbulina transitoria, Uvigerina sp, Cassidulina sp. Kisaran Umur Oligosen Miosen. Formasi Latih (Tml): Batupasir kuarsa, batulempung, batulanau, dan batubara di bagian atas; bersisipan serpih pasiran dan batugamping di bagian bawah. Lapisan batubara (0,2 5,5 m), berwarna hitam, coklat; tebal satuan batuan kurang lebih 800 m, diendapkan dalam lingkungan delta, estuarin, dan laut dangkal; mengandung fosil antara lain: Pra Orbulina glomerosa, Pra Orbulina transitioria; berumur Miosen Awal Miosen Tengah. Endapan Aluvial (Qa): Lumpur, lanau, pasir, kerikil, kerakal, dan gambut berwarna kelabu sampai kehitaman, tebalnya lebih dari 40 m. 17

Berdasarkan Sandi Stratigrafi Nasional Indonesia, maka heterogenitas batuan yang terdapat di areal ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa satuan batuan, diurut dari tua ke muda yaitu (Gambar II.6) : a. Satuan batulumpur, menempati sebagian besar dari wilayah penelitian dan merupakan satuan batuan yang paling atas dari Formasi Latih. Di dalam satuan batuan ini tersisipi oleh batupasir berukuran halus hingga sangat halus. b. Satuan batugamping, menempati bagian timur daerah penelitian yang meliputi 2% dari luas areal Lati. Berdasarkan dari rekonstruksi penampang geologi, maka tebal satuan batugamping diperkirakan 600 m. Berdasarkan kesebandingan stratigrafi, satuan ini berumur Miosen Tengah. Secara megaskopis satuan batugamping ini memiliki karakteristik antara lain: warna segar abu-abu terang, sedangkan warna lapuknya abu-abu gelap, masif, terpilah sedang, porositas terbuka, tersemenkan dengan baik, kompak, dan memiliki kandungan mineral kalsit pada masa dasarnya. Secara megaskopis pada batugamping tersebut dijumpai fosil Foraminifera. c. Satuan batulempung, menempati 15% luas daerah Lati, tersebar di bagian barat dan timur. Satuan batuan ini terdiri atas batulempung bersisipan dengan batupasir, yang memiliki struktur paralel laminasi. Berdasarkan kesebandingan stratigrafi, satuan ini berumur Miosen Tengah. d. Satuan batupasir, menempati 25% dari luas daerah Lati. Berdasarkan dari hasil rekonstruksi penampang geologi, satuan batupasir ini diperkirakan memiliki ketebalan ± 425 m, terdiri atas batupasir yang bersisipan dengan batulempung. Berdasarkan kesebandingan stratigrafi, satuan ini berumur Miosen Tengah. e. Satuan batupasir sisipan batubara, menempati 28% dari luas daerah Lati. Berdasarkan dari hasil rekonstruksi penampang geologi, satuan batupasir ini diperkirakan memiliki ketebalan ± 400 m. Terdiri atas batupasir yang bersisipan dengan batulempung dan batubara yang 18

memiliki ketebalan 0,30-1,00 m. Berdasarkan kesebandingan stratigrafi, satuan ini berumur Miosen Tengah. g. Satuan batulempung sisipan batubara, menempati 27% dari luas daerah Lati. Berdasarkan dari hasil rekonstruksi penampang geologi, satuan batulempung ini diperkirakan memiliki ketebalan 325 m, terdiri atas dominan batulempung dengan sisipan batupasir dan batubara yang mempunyai ketebalan berkisar dari 0,50 5,00 m. Lapisan ini merupakan satuan batuan termuda yang berumur Miosesn Tengah. h. Endapan aluvium, tersebar pada bagian timurlaut daerah pemetaan, mencakup luas daerah 3% dari luas daerah pemetaan. Endapan aluvial ini merupakan fragmen lepas berukuran kerikil hingga lempung serta material hasil erosi batuan sekitarnya. Umur endapan ini diperkirakan Holosen dan terus berkembang hingga sekarang. Gambar II.6. Peta geologi lokal overlay dengan peta Landsat TM daerah Lati, Sub Cekungan Berau (Heriawan, M.N. dan Koike, K., 2007). Penyusun batuan yang menjadi Formasi Latih merupakan formasi pembawa batubara utama di daerah penyelidikan. Menurut Maryanto, et.al., 2005, bagian bawah dari Formasi Latih berupa batulumpur gampingan yang mengandung bintal 19

siderit dan jejak tumbuhan dan berstruktur perarian sejajar. Di dalam batulumpur ini hadir beberapa sisipan batupasir berukuran halus hingga sangat halus, gampingan, mengandung siderit, kadang-kadang dengan jejak galian organisme, dan ukuran butir halus hingga sangat halus. Dengan pola lapisan mengasar dan menebal ke atas dimulailah pengendapan bagian tengah Formasi Latih, terdiri dari perlapisan batupasir, membutir sedang hingga halus, berwarna abu-abu sangat terang kecoklatan, dan kurang tersemenkan. Batuan kadang-kadang karbonan dan lumpuran. Beberapa lapisan batupasir yang terpola memanjang sesuai dengan bidang perlapisannya. Lapisan batuan ini memiliki ketebalan 20 150 cm dan secara umum terpola mengasar dan menebal ke arah atas. Struktur yang berkembang di dalam batupasir ini meliputi lapisan bersusun, perarian sejajar, perarian bergelombang, gelembur arus, tulang ikan (herringbone), pembebanan, dan galian organisme. Perlapisan batupasir sedang hingga sangat halus tersebut selanjutnya tertindih erosional oleh batupasir kasar hingga sangat kasar konglomeratan, ketebalan lapisan 980 cm. Unsur gampingan masih hadir di dalam batupasir ini meskipun intensitasnya terbatas. Struktur sedimen yang berkembang di dalam batuan pasir tersebut meliputi lapisan bersusun dan silang siur mangkok besar serta diikuti oleh perarian sejajar yang didukung oleh batupasir sedang hingga sangat halus. Batupasir tersebut terakhir selanjutnya berkembang menjadi batulumpur yang mengawali bagian atas Formasi Latih. Batuan Formasi Latih bagian atas terdiri dari batulumpur yang kadang-kadang berkembang menjadi batulempung dengan beberapa sisipan batupasir yang bersifat gampingan, serpih batubaraan, dan batubara. Sisipan batupasir hadir dengan mengandung sedikit karbonan dan kadang-kadang gampingan. Struktur sedimen yang berkembang pada batupasir ini meliputi lapisan bersusun, perarian sejajar, perarian bergelombang, perarian silang-siur, gelembur arus, pembebanan, dan galian organisme. Sisipan batupasir ini berulang secara berirama beberapa kali hingga mencapai bagian teratas dari Formasi Latih yang runtunan batuannya dikuasai oleh batulumpur karbonan dengan sisipan batubara. 20

Sisipan batubara di bagian atas Formasi Latih memiliki ketebalan berkisar antara 30-380 cm. Sisipan batubara yang terkonsentrasi di bagian atas Formasi Latih secara umum berwarna hitam hingga hitam kecoklatan, gores (streak) coklat muda hingga coklat kehitaman, bright banded hingga dull banded, keras hingga dapat diremas. Lapisan pada umumnya terkekarkan yang memotong tegak lurus bidang perlapisan, batuannya mudah hancur, dengan pecahan subkonkoidal, mempunyai densitas sedang dan sangat jarang rendah atau tinggi. Lapisan batubara kadangkadang mengandung parting lensa batulumpur, batupasir, dan serpih batubaraan. Sebagian kecil batubara mengandung pirit berbutir halus. Bagian bawah dan atas lapisan batubara pada umumnya menjadi kusam dan menyerpih, meskipun kontak dengan lapisan batuan di bawah dan di atasnya masih tegas. Struktur geologi yang berkembang di daerah Lati dan sekitarnya adalah struktur geologi yang berarah relatif baratlaut-tenggara yaitu Sesar Naik, Sinklin Lati dan Antiklin Lati. Tingginya tingkat pelapukan di daerah ini menjadi suatu kendala bagi ditemukannya singkapan-singkapan segar yang dapat dijadikan sebagai indikasi keberadaan suatu zona struktur. Pola struktur geologi daerah Lati yang cukup berkembang ditandai oleh bentuk geometris lipatan. Secara umum jurus dan lapisan batuan yang ada di daerah ini relatif berarah baratlaut - tenggara, yaitu sayap barat sinklin berkisar antara N 300 E N 5 E, sedangkan untuk sayap timur berkisar antara N 160 E - N 180 E. Untuk kemiringan lapisan berkisar antara 8 NE - 40 NE dan 10 SW - 23 SW. Untuk Antiklin Lati, pola jurus yang berkembang pada sayap barat Antiklin Lati berkisar N 140 E N 180 E, sedangkan untuk sayap timur Antiklin Lati berkisar antara N 300 E N 7 E. Sinklin Lati terletak di bagian tengah daerah Lati, memanjang relatif ke arah baratlaut tenggara, sedangkan Antiklin terletak di bagian timur, memanjang relatif ke arah baratlaut tenggara. Ditinjau dari aspek geometrinya, jenis lipatan yang terdapat di daerah Lati diperkirakan sebagai struktur lipatan sinklin asimetri. 21

Arah umum dari sumbu lipatan ini adalah tenggara - baratlaut dengan kemiringan sayap baratdaya berkisar antara 8-40 dan kemiringan sayap timurlaut berkisar antara 10-23. Kemiringan sayap timurlaut cenderung lebih landai dibandingkan sayap sebelah baratdaya. Hal ini menunjukkan bahwa bidang sumbu lipatan (axial plane) tidak tegak lurus terhadap bidang horizontal. Analisis lipatan berdasarkan data-data hasil pengukuran kedudukan bidang perlapisan pada sayap sinklin dengan metode stereografis didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan timurlaut adalah N 163 E/20, kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 342 E/15, arah umum sumbu lipatan adalah N 343 E /88 dan garis sumbu 0, N165 E. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka jenis lipatan adalah Upright Horizontal Fold (Fluety, 1964). Antiklin Lati merupakan imbas sinklin berdasarkan analisis arah jurus dan kemiringan yang pada saat dibuat penampang dengan arah baratdaya timurlaut menunjukan struktur lipatan dengan sumbu berada pada sisi timurlaut daerah Lati, dengan sayap timurlaut memiliki jurus antara N 290º E N 20º E, dengan arah kemiringan 8º - 53º NE, sedangkan sayap baratdaya memiliki jurus dengan arah N 160º E N 180º E, dan arah kemiringan 10º - 23º SW. Sumbu Antiklin Lati berarah baratlaut tenggara, relatif searah dengan sumbu Sinklin Lati. Analisis lipatan berdasarkan data-data hasil pengukuran kedudukan bidang perlapisan pada sayap Antiklin dengan metode stereografis didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 163 E/20, kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 342 E/15 (arah umum sumbu lipatan adalah N 343 E /88 ) dan garis sumbu 0, (N 165 E). Berdasarkan hasil analisis tersebut maka jenis lipatan adalah Upright Horizontal Fold (Fluety, 1964). Berdasarkan hasil evaluasi pemodelan yang dilakukan, diketahui bahwa terdapat sekitar 19 lapisan seam batubara di areal Lati (Tabel II.2). Seam batubara yang dilakukan penyelidikan secara detail hanya 4 (empat) seam utama (seam P, Q, R, dan T). Gambar II.7 memperlihatkan tipikal penampang batubara berdasarkan topografi daerah penelitian. 22

Tabel II.2. Kolom stratigrafi area Lati (PT. Berau Coal, 2006) 23

Gambar II.7. Kondisi morfologi dan sebaran batubara Lati, Berau (PT. Berau Coal, 2006). 24