HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN ADVERSITY DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA



dokumen-dokumen yang mirip
HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY INTELLIGENCE DENGAN MOTIVASI BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sumber daya manusia yang berkualitas agar perusahaan dapat bersaing dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Era perdagangan bebas ASEAN 2016 sudah dimulai. Melahirkan tingkat

HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN KECEMASAN TERHADAP PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA (PHK)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk memperdalam ilmu sebagai bekal dalam menghadapi dunia kerja nantinya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam rentang kehidupan, individu berkembang dari masa kanak-kanak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan organisasi haruslah sejalan dengan dinamika perubahan baik

SKRIPSI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurursan Pendidikan Akuntansi

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang menarik dibanyak negara, termasuk negara-negara berkembang seperti

BAB I PENDAHULUAN. orang tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja.

BAB I PENDAHULUAN. mengatasi hambatan maupun tantangan yang dihadapi dan tentunya pantang

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KEMAMPUAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan setiap individu serta watak dan peradaban bangsa yang bermartabat

BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA SMP AKSELERASI. Skripsi

HUBUNGAN ANTARA KECENDERUNGAN EKSTROVERT DENGAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA FKIP PBSID UMS SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. siswa agar memiliki kesiapan untuk memasuki dunia kerja. Para siswa SMK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sumber daya manusia yang bermutu tinggi karena maju mundurnya sebuah negara

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu bisnis yang bergerak di bidang jasa adalah perbankan. Di era

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. individu, khususnya individu yang telah menyandang gelar Strata Satu atau

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang dimilikinya. Dengan bekerja, individu dapat melayani kebutuhan masyarakat,

PENGARUH BIMBINGAN BELAJAR TERHADAP KECEMASAN SISWA DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Banyak masyarakat yang kesulitan dalam mendapatkan penghasilan untuk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan tinggi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Lembaga

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN. FEAR of SUCCESS PADA WANITA BEKERJA

PENERIMAAN DIRI PADA WANITA BEKERJA USIA DEWASA DINI DITINJAU DARI STATUS PERNIKAHAN

Skripsi. Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1

HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN VOKASIONAL DENGAN INTENSI BERWIRAUSAHA PADA MAHASISWA

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi

HUBUNGAN ANTARA SENSE OF HUMOR DENGAN STRES KERJA PADA KARYAWAN. Skripsi. Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari hari, manusia selalu mengadakan bermacammacam

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi (Susilo, 2008). rasional berfungsi utama pada jenis Homo sapiens, makhluk mamalia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mahasiswa merupakan tahap memasuki masa dewasa dini. Hurlock (2002)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berpengaruh terhadap kemajuan perusahaan adalah karyawan yang berkualitas.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Diajukan Oleh : DAMAR CAHYO JATI J

BAB I PENDAHULUAN. dapat menampung pencari kerja, akibatnya banyak rakyat Indonesia baik yang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dimana awal kehidupan sebagai mahasiswa di perguruan tinggi, individu (remaja)

2016 PERAN BIMBINGAN KARIR, MOTIVASI MEMASUKI DUNIA KERJA DAN PENGALAMAN PRAKERIN TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA SMK

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN ENTREPRENEURSHIP PADA MAHASISWA UMS

PERAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA TERHADAP KONSEP DIRI AKADEMIK PADA SISWA SMP

BAB 1 PENDAHULUAN. di dunia ini, makin bertambah kompleks masalah-masalah kehidupan manusia dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mutu pendidikan yang rendah merupakan problem besar yang melanda dunia

BAB I PENDAHULUAN. pada kesiapannya dalam menghadapi kegiatan belajar mengajar.

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha telah mencapai era globalisasi, dimana

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan penghabisan dari setiap orang sukses adalah mencapai


BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Risky Melinda, 2014

HUBUNGAN ANTARA KOMPETISI KERJA DENGAN PRESTASI KERJA PADA KARYAWAN. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN. menuntut perusahaan mampu bertahan dan berkompetisi dengan perusahaan lain,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kecenderungan perubahan sosial dalam masyarakat. Masyarakat masa depan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merupakan masalah nasional dari kalangan pengusaha dan para ahli yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kehidupan di tengah masyarakat modern memiliki tingkat persaingan yang

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN KEYAKINAN DIRI (SELF-EFFICACY) DENGAN KREATIVITAS PADA SISWA AKSELERASI

PENGARUH PEMBERIAN UPAH, JAMINAN SOSIAL DAN MOTIVASI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PO. ROSALIA INDAH PALUR

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. pencapaian target yang akan dicapai secara professional (Ismirani, 2011). pada perasaan tertekan atau stres (Badiah, 2013).

HUBUNGAN ADVERSITY QUOTIENT DAN KECERDASAN RUHANIAH DENGAN KECENDERUNGAN POST POWER SYNDROME PADA ANGGOTA TNI AU DI LANUD ISWAHJUDI MADIUN.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman diabad 21 ini memperlihatkan perubahan yang begitu

BAB I PENDAHULUAN. digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

IRRA MAYASARI F

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

PERBEDAAN MOTIVASI MENGEMBANGKAN KARIR ANTARA TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT PADA KARYAWAN. Skripsi

BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ditandai dengan adanya perkembangan yang pesat pada individu dari segi fisik, psikis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan rakyatnya rendah dan tidak berkualitas. Sebaliknya, suatu negara dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan hal yang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Dalam perencanaan pembangunan, data mengenai ketenagakerjaan memegang

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN KECEMASAN SEBELUM MENGHADAPI PERTANDINGAN PADA ATLET FUTSAL NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Statistik Republik Indonesia (2013), menyatakan tingkat pengangguran

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sedang membangun, khususnya di bidang industri. Oleh karena itu, banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. jiwa, kepribadian serta mental yang sehat dan kuat. Selayaknya pula seorang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. prasarana, fisik sekolah, kualitas guru, pemutakhiran kurikulum,dan juga tidak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mutia Faulia, 2014

HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN SBMPTN NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

NURDIYANTO F

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan baru semakin memperburuk suasana. Dalam sebuah survei yang dilakukan Princeton Survey Research

BAB I PENDAHULUAN. ini, banyak usaha atau bahkan industri yang menolak para pelamar kerja karena

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ujian Nasional (UN) merupakan salah satu sumber penyebab kecemasan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. membuat manusia dituntut untuk mengikuti segala perubahan yang terjadi dengan

BAB I PENDAHULUAN. Permasalahan tenaga kerja di Indonesia akhir-akhir ini semakin kompleks.

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP INSENTIF DAN BERPIKIR POSITIF DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI

Hubungan Antara Karakteristik Pekerjaan Dengan Etos Kerja

PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah secara

HUBUNGAN ANTARA PEMALASAN SOSIAL DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK. S K R I P S I Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1

BAB I. A. Latar Belakang Masalah. kawasan Asia terutama yang terjadi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997

BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang perekonomian, perindustrian, dan pendidikan. yang diambil seseorang sangat erat kaitannya dengan pekerjaan nantinya.

melalui Tridharma, dan; 3) mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan memperhatikan nilai Humaniora.

BAB I PENDAHULUAN. lapangan pekerjaan sehingga mengakibatkan sebagian orang tidak memiliki

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. menuntut perusahaan harus mampu bertahan dan berkompetisi. Salah satu hal

BAB I PENDAHULUAN. mengikuti dan meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan tegnologi. menciptakan SDM yang berkualitas adalah melalui pendidikan.

Transkripsi:

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN ADVERSITY DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh derajat sarjana S-1 Psikologi Oleh : Ayu Titaningsih F 100 030 260 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 1

2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan di tengah masyarakat modern memiliki tingkat mobilitas dan perubahan yang tinggi dan dapat menganggu kestabilan emosi seseorang. Hal ini karena suatu perubahan yang dialami individu belum tentu menyenangkan, tetapi ada kalanya muncul situasi yang membawa kecemasan. Tingkat persaingan semakin tinggi untuk mendapatkan suatu pekerjaan atau kesempatan bekerja dapat menyebabkan kecemasan bagi individu yang belum mendapat pekerjaan. Mulyadi, (2003) mengungkapkan kecemasan pada umumnya berhubungan dengan adanya situasi yang mengancam atau membahayakan. Seiring berjalannya waktu, keadaan cemas tersebut biasanya akan dapat teratasi sendiri. Namun, ada keadaan cemas yang berkepanjangan karena faktor penyebab atau pencetus tertentu. Misalnya kecemasan terhadap dunia kerja yang timbul akibat kompetisi untuk mendapatkan kesempatan meraih pekerjaan. Tingkat persaingan semakin tinggi untuk mendapatkan suatu pekerjaan atau kesempatan bekerja dapat menyebabkan kecemasan bagi individu yang belum mendapat pekerjaan Sempitnya lapangan pekerjaan dapat menimbulkan kecemasan pada individu karena tingkat persaingan dan tuntutan biaya hidup yang semakin tinggi. Apalagi kalau individu tidak punya kemampuan atau skill yang memadai sesuai dengan permintaan bidang pekerjaan yang ada. Kecemasan merupakan faktor emosional.

3 Kecemasan merupakan sebagian dari situasi kehidupan yang tidak mungkin ditiadakan. Perstonjee (1992) menyatakan kecemasan merupakan suatu tahapan ketegangan emosional yang ditandai dengan ketakutan yang amat sangat dan gejalagejala yang mengancam individu sehingga menimbulkan kecemasan. Kecemasan sering dialami terhadap hal-hal yang belum diketahui kepastiannya, misal terhadap masa daepannya, terhadap rencana yang sedang diangankan dan sempitnya lapangan pekerjaan. Kecemasan merupakan keadaan atau kondisi emosi yang tidak menyenangkan yang dicirikan dengan perasaan tegang, keadaan dan kekhawatiran kerena tergiatnya atau terbangkitnya sistem syaraf otonom. Husada (1991) mengatakan kecemasan disebabkan tekanan dari dalam diri seseorang yang merasa takut akan terjadinya sesuatu hal yang tidak layak, dan ini berhubungan dengan harga dirinya, individu yang mengalami kecemasan hanya mengenai konflik secara samar-samar dan hanya menyadari suatu keadaan yang menakutkan. Pengertian kecemasan menghadapi dunia kerja kaitannya dalam penelitian ini diartikan sebagai perasaan takut atau perasaan tidak tenang yang dapat meningkatkan ketegangan dalam menghadapi kurangnya kesempatan yang dimiliki individu dalam lapangan pekerjaan atau profesi tertentu. Ambarwati (2003), dalam hasil penelitiannya memaparkan bahwa cemas tidaknya seseorang terhadap sempitnya lapangan pekerjaan bukan berasal dari pengakuan umum oleh karena itu diharapkan apabila seseorang merasa cemas terhadap kesempatan lapangan pekerjaan dan menyadari bahwa ia harus memecahkan masalah tersebut, maka akan timbul

4 prakarsa, ide ide yang cemerlang untuk mencari terobosan guna menanggulangi keterbatasan lapangan pekerjaan karena semakin tingginya tingkat persaingan kerja. Data dari Biro Pusat Stastisk (Lukman Santoso dalam CyberNas, 2009) memaparkan tentang angka pengangguran dari tahun 2006 sampai 2009 mengalami peningkatan. Bulan Agustus (2006) terjadi peningkatan yakni dari 182.629 jiwa menjadi 226.261 jiwa sedangkan program diploma berjumlah 224.964 jiwa, pada bulan Februari (2007) pengangguran tercatat sebesar 409.890 jiwa sedangkan program diploma sebesar 330.316 jiwa. Sedangkan pada tahun 2008 tercatat lulusan SMA menyumbang angka yang paling besar sekitar sebanyak 3.369.959 juta jiwa diikuti pengangguran SD sebanyak 2.179. 792 juta jiwa, SMP sebanyak 2.166.619 juta jiwa, diploma/akademi sebanyak 519.867 jiwa dan universitas sebanyak 626.202 jiwa. Begitu pula data pada bulan Februari 2009 ada peningkatan pengangguran tercatat sebanyak 9.258.964 juta jiwa dari total angkatan kerja sekitar 113.744.408 juta jiwa, dari jumlah 9,39 juta jiwa penganggur tersebut sebagian besar ada didesa jika dilihat dari latar belakang pendidikan SD kebawah sebanyak 2.508.253 juta jiwa, SLTP sebanyak 2.094.378 juta jiwa, SMA sebanyak 2.341.592 juta jiwa, SMK sebanyak 1.415.696 juta jiwa, sedangkan diploma sampai sarjana sebanyak 891.638 jiwa. Merupakan suatu presentase peningkatan pengangguran terdidik yang sangat tinggi di Indonesia, jumlah ini diprediksi semakin meningkat apabila tidak segera diatasi, sementara itu perusahaan-perusahaan semakin selektif dalam menerima karyawan. Semua ini menuntut individu untuk bisa pandai-pandai mengatur strategi, mencari gagasan dan bersikap mandiri untuk menyiasatinya.

5 Salah satu determinan yang diasumsikan berperan terhadap kecemasan menghadapi dunia kerja adalah kecerdasan adversity. Stoltz (Kusuma, 2004) mengemukakan bahwa kecerdasan adversity (AQ) berakar pada bagaimana individu merasakan dan menghubungkan dengan tantangan-tantangan. Orang yang memiliki AQ lebih tinggi tidak menyalahkan pihak lain atas kemunduran yang terjadi dan mereka bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Menambahkan penjelasan di atas Kusuma (2004) menyatakan kecerdasan adversity adalah kemampuan seseorang mengubah hambatan menjadi peluang. Seseorang yang mempunyai kecerdasan adversity rendah dan karenanya tidak mempunyai kemampuan untuk bertahan dalam kesulitan, potensinya akan tetap kecil untuk meraih sukses. Sebaliknya seseorang yang mempunyai kecerdasan adversity tinggi akan berkembang pesat. Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah. Berkaitan dengan kecemasan menghadapi sempitnya dunia kerja maka orang yang memiliki AQ tinggi akan berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi kecemasan yang dialaminya. Berkaitan dengan hal di atas Harber (Musthofa, 2004) menambahkan, bahwa kecerdasan adversity melibatkan kemampuan-kemampuan khas manusia seperti pikiran, perasaan, pemrosesan informasi, belajar, mengingat dan sebagainya. Implikasi kecerdasan adversity tidak terjadi begitu saja, tetapi juga melibatkan pengalaman atau proses berpikir seseorang. Kemampuan akan lebih merangsang pikiran-pikiran yang tangguh dan mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di tengah-tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat..

6 Penelitian mengenai kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja menarik untuk dilakukan mengingat pada masa sekarang semakin banyak pengangguran terdidik.. Saat ini dan juga kedepan kecerdasan adversity akan sangat dibutuhkan untuk mengurangi pengangguran terdidik. Maka dari itu aspek-aspek dalam kecerdasan adversity agar dapat dioptimalkan sehingga mahasiswa mampu mengatasi masalah, mengambil resiko dan merespon keadaan kesempatan pada duina kerja yang semakin sempit. Kenyataan yang terjadi pada masa sekarang permasalahan ketenagakerjaan di Indonesia semakin kompleks. Dunia pendidikan Indonesia belum mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga para lulusan perguruan tinggi khususnya tingkat Diploma 3 yang diorientasikan untuk siap terjun ke dunia kerja ternyata belum siap pakai untuk digunakan sebagai tenaga kerja yang sesungguhnya. Hal tersebut antara lain dapat diamati dari jumlah pengangguran yang terus meningkat dan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini. Kondisi ini dapat menyebabkan para pencari kerja mengalami kecemasan yang semakin tinggi, dan tidak pungkir banyak fenomena dimana seseorang mengakhiri hidupnya diakibatkan tidak mendapatkan pekerjaan layak. Kontradiksi ini menimbulkan pertanyaan apakah individu yang memiliki kecerdasan adversity tinggi akan mampu meminimalkan kecemasan dalam menghadapi dunia kerja? Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah ada hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi sempitnya dunia kerja? Mengacu dari rumusan penelitian tersebut maka penulis tertarik untuk mengkaji secara empiris dengan melakukan penelitian berjudul:

7 Hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi sempitnya dunia kerja. B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1. Hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja. 2. Tingkat kecerdasan adversity pada subjek penelitian 3. Tingkat kecemasan menghadapi dunia kerja. 4. Sumbangan kecerdasan adversity terhadap kecemasan menghadapi dunia kerja. C. Manfaat Penelitian 1. Bagi pimpinan STIE AMA Salatiga Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi mengenai hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, sehingga dapat menerapkan model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan kecerdasan adversity sebagai salah satu komponen untuk mengurangi kecemasan terhadap sempitnya peluang kerja 2. Bagi Dosen STIE AMA Salatiga Hasil penelitian ini memberikan sumbangan informasi dan wacana pemikiran sebagai salah satu model pembelajaran bagi mahasiswa khususnya yang berkaitan dengan hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja

8 3. Bagi subjek penelitian mahasiswa STIE AMA Salatiga Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi mengenai hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk lebih memahami dan mensiasati peluang kerja yang semakin sempit 4. Bagi ilmuwan psikologi Bagi ilmu pengetahuan khususnya bidang psikologi industri hasil-hasil penelitian ini akan memberikan gambaran dan informasi serta menambah khasanah penelitian khususnya yang berkaitan dengan hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja. 5. Bagi Fakultas Psikologi Penelitian ini dapat memberikan kontribusi akademis untuk memperkaya khasanah hasil penelitian dan pengembangan di bidang psikologi industri khususnya yang berkaitan dengan hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja 6. Bagi penelitian sejenis Diharapkan dapat menjadi bahan refrensi untuk pengembangan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara kecerdasan adversity dengan kecemasan menghadapi dunia kerja

9