GREY AREA DALAM PERPAJAKAN DI INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
Modul ke: Manajemen Perpajakan

BAB IV EVALUASI PERENCANAAN PAJAK UNTUK MENGEFISIENSIKAN BIAYA PAJAK BADAN PADA PT. UB. IV.1. Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi PT.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

ANALISIS PENERAPAN TAX PLANNING ATAS BIAYA KESEJAHTERAAN KARYAWAN SEBAGAI UPAYA PENGHEMATAN PEMBAYARAN PAJAK PADA PT GORONTALO CEMERLANG

III/$ 2 0 A A KREDIT PAJAK DALAM NEGERI N P W P : NAMA WAJIB PAJAK : PERIODE PEMBUKUAN : s.d.

SPT TAHUNAN SEBELUM MENGISI BACA DAHULU BUKU PETUNJUK PENGISIAN ISI DENGAN HURUF CETAK/DIKETIK DENGAN TINTA HITAM BERI TANDA "X" PADA

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Mardiasmo ( 2006 ) mendefinisikan, Pajak adalah iuran rakyat

RUGI LABA BIAYA FISKAL

NOMOR :. TANGGAL : MULAI TAHUN PAJAK :

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1 Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi PT. DS. Pada prinsipnya terdapat perbedaan pengakuan penghasilan dan beban antara

BAB IV EVALUASI PENERAPAN PERENCANAAN PAJAK PPH BADAN PT LAM. diwajibkan untuk memenuhi kewajiban perpajakannya. Sebagai Wajib Pajak badan, PT

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WP BADAN 1771

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

Daftar Kuesioner. Peranan Perencanaan Pajak. ( Variabel X ) Menerapkan Peraturan Perpajakan. Dengan Benar

BAB IV EVALUASI PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT TGS

4. PPh TERUTANG (Pilih salah satu sesuai dengan kriteria Wajib Pajak. Untuk lebih jelasnya, lihat Buku Petunjuk Pengisian SPT) 10a. 10b.

UNIVERSITAS INDONESIA PT ELEKTRINDO MAKALAH

Kewajiban yang harus dipenuhi oleh wajib pajak badan setelah memperoleh NPWP

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 138 TAHUN 2000 TENTANG

BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

Materi: 17 MANAJEMEN PERPAJAKAN (Tax Management)

02FEB. Manajemen Perpajakan

BAB IV PERENCANAAN PAJAK PENGHASILAN UNTUK MENGEFISIENKAN BEBAN PAJAK PADA PT BPR WS

BAB II LANDASAN TEORI

KLASIFIKASI BIAYA DAN KOMPENSASI KERUGIAN. Aris Munandar, SE., M.Si

PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26

BAB IV EVALUASI PERENCANAAN PAJAK UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PADA PT ADIS

Workshop Perpajakan Manajemen Risiko Perpajakan & Tax Planning Pasca Tax Amnesty. Dr. Nur Hidayat, SE, ME, Ak, CA, BKP

BAB IV REKONSILIASI FISKAL UNTUK MENGHITUNG PAJAK TERUTANG PADA PERUSAHAAN KONTRAKTOR PT. MANDIRI CIPTA

BAB II LANDASAN TEORI. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah kontribusi wajib kepada Negara

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV PEMBAHASAN. Evaluasi Pendapatan dan Beban pada Laporan Laba Rugi PT MMS

DAFTAR BIAYA FISKAL DEDUCTIBLE DEDUCTIBLE

1. Pengertian Penghasilan Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pengertian penghasilan menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan

BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan yang utama di Indonesia

BAB II TINJAUAN TEORITIS. merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan pembangunan nasional dan

BAB IV PEMBAHASAN. Penjelasan mengenai akun akun dalam laporan keuangan PT Mitra Wisata Permata

lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

BAB IV PERENCANAAN PAJAK DALAM RANGKA MENGEFISIENKAN PAJAK PENGHASILAN BADAN PADA PT PRIMA SINDO

BAB IV PEMBAHASAN. maksud agar perkembangan usaha pada akhir periode tertentu dapat diketahui.

I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 1. Cukup jelas. Pasal 2

BAB 4 PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Perencanaan Pajak (Tax Planning) Pada PT. Yusonda

BAB IV PERBANDINGAN LABA BERSIH MENURUT STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DENGAN PENGHASILAN KENA PAJAK SEBELUM PAJAK

Abstrak. Kata Kunci: Eksposur Pajak; Pajak Ditanggung Perusahaan; PPh pasal 21; PPh Pasal 23. Abstract

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Kewajiban Perpajakan PT.Klinik Sejahtera PT.Klinik Sejahtera adalah salah satu klien dari KKP Adiyanto Consultant

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. untuk Tahun 2008, 2009, dan 2010 atas laporan keuangan, Surat Pemberitahuan (SPT)

DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL TAHUN PAJAK 2 0 NPWP : NAMA WAJIB PAJAK : BULAN / TAHUN PEROLEHAN HARGA PEROLEHAN (US$)

EVALUASI ATAS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA PT SNI. Dalam rangka pemanfaatan Undang undang Perpajakan secara optimal untuk

BAB IV EVALUASI DAMPAK PERENCANAAN PAJAK TERHADAP OPTIMALISASI BEBAN PAJAK PT ARTHA DAYA COALINDO.

BAB 1 PENDAHULUAN. Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan bagi negara untuk

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. berhubungan dengan penghasilan juga berhubungan dengan Pajak

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan yang terdapat pada bab 4,

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penghasilan badan yang dilakukan oleh PT Bank MAJU, maka dengan hasil penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini dimana persaingan menjadi semakin ketat dan bersifat global,

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB IV PEMBAHASAN. IV.I Analisis Rekonsiliasi Laporan Laba Rugi Pada PT.NRI

LAMPIRAN - I. SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26

BAB II LANDASAN TEORITIS. 2.1 Pengertian dan Fungsi Pajak Penghasilan. 1. Pengertian Pajak Penghasilan (PPh)

Sistem/Cara Pemungutan Pajak ada 3, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang dimana pendapatan terbesar

PAJAK PERUSAHAAN Pajak penghasilan perusahaan Pajak pihak ketiga PPN dan PPnBM Pajak Lain-lain 2

BAB IV PEMBAHASAN. Pengenaan Pajak atas Penghasilan PT PIBS. PT PIBS adalah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi.

MINGGU PERTAMA KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

BAB IV. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT. EVALUASI PERHITUNGAN PPh BADAN PADA MPT

Modul Perpajakan PAJAK PENGHASILAN PASAL 23/26 DEFINISI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 1985 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN 1984 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang

Ilustrasi TAX PLANNING. Oleh BAMBANG KESIT

a. Rp ,00 d. Rp ,00 b. Rp ,00 e. Rp ,00.

bambang kesit, 2010 halaman 1 dari 10 perpajakan, prodi akuntansi-feuii MODUL : TEKNIK REKONSILIASI FISKAL UNTUK MENGHITUNG PPh Badan

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Soal Kasus Pembukuan atau Pencatatan( contoh ini menggunakan aturan lama untuk ptkpnya lebih baik lihat aturan terbaru)

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Biaya Pada Laporan Laba Rugi pada PT QN

DASAR-DASAR PERPAJAKAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Evaluasi Pada Laporan Laba Rugi PT Rysban Jaya Agung

BAB II TELAAH PUSTAKA Pengertian Penghasilan menurut Akuntansi dan Pajak. Penghasilan menurut SAK No. 23 meliputi pendapatan (revenue)

MODUL V REKONSILIASI FISKAL

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam rangka pemanfaatan Undang-Undang Perpajakan secara optimal untuk

BAB III PEMBAHASAN. A. Penerapan Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21. metode pembebanan PPh Pasal 21 pada perusahaan (net), metode pembebanan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengertian pajak yang dikemukakan oleh Mardiasmo (2011). Pajak

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SPT TAHUNAN PPh WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI 2 0

BAB IV EVALUASI DAMPAK PERENCANAAN PAJAK UNTUK MEMINIMALKAN BEBAN PAJAK PADA PT ABS INDUSTRI INDONESIA

Transkripsi:

GREY AREA DALAM PERPAJAKAN DI INDONESIA OLEH BAMBANG KESIT Program Studi Akuntansi Universitas Atma Jaya Yogyakarta 2015

DIFFERENT PERSPECTIVE, DIFFERENT CONCLUSION 2

1. PENGANTAR 1. Sistem hukum di Indonesia dan bagaimana menafsirkan peraturan pajak 2. Bicara tentang pajak Sdak boleh hitam push 3. Harus bersikap sebagai prakssi perpajakan

ENTITAS BISNIS TAX PLANNING TAX POLICY TAX LAW TAX ADMNST

Grey area perpajakan adalah sebuah keadaan, transaksi atau kejadian yang dicurigai berat terekspos oleh aturan perpajakan, akan tetapi Sdak ada aturan pajak yang berlaku sekarang yang bisa diterapkan terhadap hal tersebut. Grey Area dapat dipetakan sebagai berikut:

1. Grey area di KUP a. Pengurus WP badan belum ber- NPWP, aspek pajak atas WP pindah domisili b. Terlambat NPWP (termasuk ekspatriate) atau PKP, mengajukan keberatan tanpa membayar SKPKB c. Jatuh tempo penyetoran/pelaporan pajak di hari Sabtu d. Hak atas imbalan bunga bagi WP, banding atas kasus keberatan yang Sdak memenuhi syarat formal e. NPWP WP orang pribadi yang sudah meninggal dunia, pengisian da\ar harta bagi WP orang pribadi

2. Grey area di Pajak Penghasilan a. Masalah taxability suatu penghasilan (pinjam bendera, selisih kurs atas deposito valas dsb) b. Masalah deducsbility pengeluaran (promosi, kupon makan, pajak daerah, sanksi, biaya penagihan pajak dsb) c. Harta menurut pajak vs aksva menurut akuntansi, pengelompokkan harta aspek pajak atas goodwill d. Bonus karyawan yang dihitung dari laba tahun lalu, pengaruh rugi selisih kurs pada angsuran PPh Pasal 25 e. Menentukan tes waktu untuk BUT (fisik atau kontrak) dsb

3. Grey area di PPh Pasal 21/26 a. Direksi Sdak digaji oleh perusahaan, ekspatriate digaji di bawah standar b. Gross up PPh Pasal 21 yang Sdak konsisten, karyawan daerah dipotong di pusat (tempat terutang) c. Pemotongan PPh Pasal 21 terhadap sekutu firma dsb

4. Grey area di PPh Pasal 23/26/Final a. Gross up PPh Pasal 23 sepihak, kontrak bagi hasil tapi Sdak ada JO, kredit konsumen vs financial leasing b. Pemotongan PPh Pasal 26 atas penghasilan di luar P3B, BUT aksvitas dan PPh Pasal 26- nya

5. Grey area di PPN a. Pengkreditan pajak masukan tanggung jawab renteng, kriteria barang merah b. Faktur Pajak dengan metode QQ, mencantumkan harga include PPN di Faktur Pajak c. Faktur Pajak ditulis tangan, stempel di FP, diskon/ margin vs komisi/bonus, cash discount d. Membayar PPN membangun sendiri di luar lokasi bangunan e. Aspek PPN atas jasa perdagangan, konsinyasi, penyerahan antar cabang (fisik atau dokumen) f. Penyerahan JKP di kawasan berikat/epte

Grey area perpajakan adalah sebuah keadaan, transaksi atau kejadian yang dicurigai berat terekspos oleh aturan perpajakan, akan tetapi Sdak ada aturan pajak yang berlaku sekarang yang bisa diterapkan terhadap hal tersebut. Faktor grey area perpajakan yang terjadi dalam sesap kondisi dapat dipakai dalam tax planing, untuk menghasilkan beban pajak penghasilan yang efisien, dengan cara:

1. Usahakan penghasilan tersebut Sdak termasuk pengersan penghasilan yang dapat dikenakan pajak penghasilan atau penghasilan yang kena pajak digans dengan penghasilan yang Sdak kena pajak atau pengenaan pajaknya ditangguhkan. 2. Tinggkatkan biaya- biaya yang dapat dikurangkan atau biaya tertentu yang Sdak dapat dikurangkan dari penghasilan kena pajak dikurangi dan dialihkan ke biaya- biaya yang dapat dikurangkan. 3. Perpanjang jangka waktu pengenaan pajak atas penghasilan atau perpendek jangka waktu biaya- biaya yang dapat dikurangkan. 4. PerSmbangkan antara naiknya penghasilan dengan beban pajak yang meningkat, atau naiknya biaya tertentu dengan berkurangnya beban pajak, dan hasil akhir (neto) harus memperbesar laba setelah pajak penghasilan.

Prinsip Taxable Dan Deductable Prinsip taxable dan deductable merupakan prinsip yang lazim dipakai dalam perencanaan pajak, yang pada umumnya mengubah biaya yang Sdak boleh dikurangkan menjadi biaya yang boleh dikurangkan dan sebaliknya mengubah penghasilan yang merupakan objek pajak menjadi penghasilan yang bukan objek pajak, dengan konsekuensi terjadinya perubahan pajak terutang akibat pengubahan tersebut.

Sebagai ilustrasi pemberian dalam bentuk natura dan kenikmatan kepada para pegawai, berdasarkan pasal 4 ayat (3) huruf d undang- undang Pajak Penghasilan, penghasilan yang bukan merupakan objek pajak bagi karyawan, sehingga Sdak dipajaki atas penghasilan tersebut. Sebaliknya dari sudut pandang perusahaan yang mengeluarkan biaya tersebut, secara komersial merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan, tetapi berdasarkan pasal 9 ayat (1) huruf e Undang- undang Pajak Penghasilan merupakan biaya yang Sdak boleh dikurangkan. Apabila pemberian dalam bentuk natura dan kenikmatan, sepers dokter dan obat misalnya, diubah menjadi tunjangan kesehatan, maka berdasarkan pasal 4 ayat (1) huruf a Undang- undang Pajak Penghasilan, tunjangan kesehatan yang diberikan dalam dalam bentuk uang tesebut merupakan penghasilan yang akan dipajaki dan dilain pihak berdasarkan pasal 6 ayat (1) huruf a biaya tunjangan tesebut dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan.

MEMAKSIMALKAN PENGURANGAN Memaksimalkan pengurangan (maximizing deduc4on), ialah pengalihan pemberian dalam bentuk natura (fringe benefit atau payment in kid) ke bentuk tunjangan- tunjangan yang dapat dikurangkan sebagai biaya sesuai prinsip dapat dipajaki (taxable) dan dapat dikurangkan (deductable) yang dianut ketentuan perundang- undangan perpajakan.

Pengelolaan Transaksi Yang Berkaitan Dengan Pemberian Kesejahteraan Karyawan Peluang melakukan efisiensi PPh Badan sangat banyak yang dapat dilakukan pada biaya- biaya yang berkaitan dengan kesejahteraan karyawan. Strategi efisiensi PPh Badan yang berkaitan dengan biaya kesejahteraan karyawan ini, sangat tergantung dari kondisi perusahaan, sebagai berikut: 1. Pada perusahaan yang memperoleh penghasilan kena pajak (tax income) yang telah dikenakan tarif tersnggi (di atas Rp 100 juta) dan pengenaan PPh Badannya Sdak final, diupayakan seminimal mungkin memberikan kesejahteraan karyawan dalam bentuk natura dan kenikmatan (fringe benefit) karena pengeluaran ini Sdak dapat dibebankan sebagai biaya. 2. Bagi perusahaan yang masih rugi, pemberian natura dan kenikmatan akan menurunkan PPh Pasal 21 sementara PPh Badan tetap nihil.

Kesejahteraan karyawan yang dapat direkayasa terdiri dari: 1. PPh Pasal 21 karyawan, dengan alternasf : a. PPh ditanggung karyawan yang bersangkutan. AlternaSf ini pemberi kerja hanya sebagai pemotong pajak saja, jadi Sdak berpengaruh terhadap penghasilan perusahaan. b. Tunjangan PPh. AlternaSf kedua ini bersifat taxable bagi karyawan dan deduc4ble bagi pemberi kerja. c. PPh ditanggung oleh perusahaan. AlternaSf yang kesga ini merupakan kenikmatan bagi karyawan dan bersifat non deduc4ble biaya bagi pemberi kerja.

2. Pengobatan/kesehatan karyawan, dengan alternasf: a. perusahaan mendirikan klinik sendiri atau bekerja sama dengan pihak rumah sakit tertentu. b. karyawan diberi tunjangan kesehatan secara rusn baik sakit maupun Sdak. 3. Pembayaran premi asuransi untuk pegawai, dengan alternasf: a. Premi ditanggung perusahaan. b. Premi ditanggung oleh karyawan yang bersangkutan. c. Premi sebagian ditanggung karyawan sebagian ditanggung oleh perusahaan.

4. Rumah dinas karyawan, dengan alternasf: a. Perusahaan menyediakan rumah dinas. b. Perusahaan memberikan tunjangan perumahan. 5. Transportasi untuk karyawan, dengan alternasf: a. Perusahaan menyediakan mobil dinas. b. Perusahaan memberikan tunjangan transportasi.

6. Pakaian kerja karyawan, dengan alternasf: a. Pekaian kerja sehubungan dengan lingkungan kinerja, misalnya satpam, seragam pegawai hotel, pilot dan lain- lain. b. seragam karyawan pada umumnya. 7. Makan, dengan alternasf: a. Perusahaan memberikan beras atau menyediakan katering untuk karyawan. b. Tunjangan beras atau uang makan. 8. Bonus dan jasa produksi, dengan alternasf: a. dibebankan dalam tahun berjalan. b. dibebankan pada laba yang ditahan.

Pemilihan Metode Penyusutan Penyusutan AkSva tetap dan amorssasi aksva Sdak berwujud yang diakui oleh fiskus sejak tahun 1995 terdiri (dua) metode yaitu 1. metode garis lurus, dan 2. metode saldo menurun.

Transaksi yang Berkaitan dengan Pemungut Pajak Selain sebagai pembayar pajak perusahaan juga sebagai pemotong pajak tehadap pihak kesga (witholding tax). Masalah yang seringkali Smbul adalah pihak yang bersangkutan Sdak bersedia dipotong pajaknya. Apabila perusahaan Sdak memotong witholding tax (misalnya PPh 23, atas jasa konsultan), maka perusahaan akan menanggung akibatnya jika dilakukan pemeriksaan oleh fiskus karena perusahaan akan dikenakan kewajiban untuk membayar witholding tax dimaksud ditambah denda bunga atas keterlambatan penyetoran sebasar 2% sebulan dari pokok pajak. Untuk mengatasi, perusahaan sebaiknya me- mark up nilai transaksi supaya nilai tersebut sudah termasuk pajak, karena jika perusahaan hanya membayar PPh Pasal 23 tersebut, maka PPh yang dibayar oleh perusahaan Sdak dapat dibebankan sebagai biaya.

Permohonan Pengurangan Pembayaran (Lump Sum) PPh Ps. 25 Besarnya pembayaran PPh Pasal 25 tergantung dari besarnya PPh terutang tahun lalu. Pengajuan pengurangan pembayaran lump- sum (angsuran masa) PPh Pasal 25 disampaikan ke KPP yang bersangkutan dengan melampirkan: a. Proyeksi perhitungan laba/rugi tahun yang bersangkutan; b. Proyeksi neraca pada akhir tahun yang bersangkutan. Proyeksi besarnya PPh badan yang terutang, yang ternyata akan terjadi kelebihan pembayaran pajak, apabila besarnya lump- sum Sdak dikurangi.

Berlanjut ke file 02 dan 03