BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB II LANDASAN TEORI. Definisi bank menurut UU No. 10/1998 tentang Perbankan Pasal 1, yaitu. meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian mengenai pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non. membutuhkan kajian teori sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis yang berkembang dengan pesat sehingga sangat diperlukan sumber-sumber

BAB I PENDAHULUAN. kembali dana tersebut kepada masyarakat dalam bentuk kredit.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasal 1 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 (Merkusiwati, 2007:100)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perbankan merupakan lembaga keuangan yang berintensitas misal

BAB I PENDAHULUAN. lembaga keuangan terbesar didunia asal Amerika Lehman Brother, kredit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah bank berasal dari bahasa Italia, yaitu banco yang artinya meja atau

BAB 1 PENDAHULUAN. bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi. Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang dan meminjamkan uang.

BAB 1 PENDAHULUAN. ekonomi sebagai financial intermediary atau perantara pihak yang kelebihan dana

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN

PENDAHULUAN. memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi (Halling dan Hayden, 2006).

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. menjadi acuan dalam perekonomian suatu negara. Menurut UU No 10 Tahun

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian (Yuliani, 2007) (Dendawijaya,2006:120).

PENDAHULUAN. memastikan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi (Halling dan Hayden, 2006).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. (Nopirin, 2009:34). Kelangkaan dana yang dimiliki dunia perbankan memicu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan. sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998

BAB I PENDAHULUAN. besar atau paling tidak sama dengan return (imbalan) yang dikehendaki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN. meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Peran strategis tersebut terutama disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. terjadi perkembangan yang sangat pesat dari tahun-tahun sebelumnya. Hal

BAB III PEMBAHASAN. Menurut Veithzal et al (2012:616), laporan keuangan adalah laporan periodik

BAB 1 PENDAHULUAN. potensi dapat bermanfaat untuk pertumbuhan ekonomi, perlu disalurkan. kegiatan yang produktif. (AnggrainiPutri,2011)

BAB I PENDAHULUAN. menunjang berjalannya roda perekonomian mengingat fungsinya sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan perusahaan pada umumnya ditandai dengan kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. Perbankan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan pada umumnya, bank juga berorientasi untuk mendapatkan laba yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Jumingan (2006:239), kinerja keuangan bank merupakan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki banyak kebutuhan, terutama yang berkaitan dengan dana. Dana

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Keberadaan sektor perbankan sebagai subsistem dalam perekonomian suatu


BAB VI KESIMPULAN & SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bursa Efek Indonesia Periode membutuhkan kajian teori sebagai

BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. dilakukan melalui berbagai kebijakan di bidang perbankan tujuan utamanya

BAB I PENDAHULUAN. perencanan tersebut, bank juga berfungsi sebagai media dalam menjalankan

BAB I PENDAHULUAN. Pasar modal merupakan salah satu alternatif pilihan sumber dana jangka panjang bagi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perbankan memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan stabilitas

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Menurunnya kapasitas permintaan dan produksi di sektor riil berpotensi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. berpengaruh pada seluruh aspek di dalamnya. Dapat dikatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari sektor perbankan. Dunia

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya sebagai lembaga intermediasi, penyelenggara transaksi

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Taswan (2006:4), bank adalah lembaga keuangan atau

BAB I PENDAHULUAN. Bank memegang peranan penting bagi pembangunan ekonomi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. banknote. Kata bank berasal dari bahasa Italia banca berarti tempat

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kegiatan perekonomian suatu negara tidak lepas dari transaksi keuangan.

BAB I PENDAHULUAN. hubungan dengan penjualan total aktiva maupun modal sendiri. Profitabilitas

BAB I PENDAHULUAN. memberikan jasa bank lainnya (Martono, 2010 : 37). Tujuan fundamental bisnis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bank merupakan suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan

BAB I PENDAHULUAN. baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyaknya sektor yang tergantung

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan bank syariah di Indonesia menunjukan arah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. alokasi sumber-sumber dana secara efektif dan efisien, bank juga memberikan

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dalam sektor perbankan. Hal ini antara lain dipicu pengalaman negara-negara di

BAB I PENDAHULUAN. negara. Bank sebagai salah satu lembaga keuangan adalah sebuah perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, perkembangan

yang mampu mempunyai profitabilitas yang memadai.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. uang. Secara umum pengertian bank adalah sebuah lembaga intermediasi

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang (Riyadi : 2006) (Kasmir : 2011)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997 merupakan

BAB I PENDAHULUAN. dan lainnya (Hanafi dan Halim, 2009). Sedangkan kinerja keuangan bank dapat

Pengaruh Efisiensi Operasi, Kualitas Aktiva, Permodalan Dan Likuiditas Terhadap Profitabilitas Pada Bank Bumd Tahun

BAB I PENDAHULUAN. keemasan yang puncaknya ditandai dengan keberhasilan beberapa bank besar

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi dimana sektor ekonomi selalu menjadi fokus pemerintah dalam

BAB I PENDAHULUAN. dikenal dengan istilah di dunia perbankan adalah kegiatan funding (Kasmir, 2008:

BAB I PENDAHULUAN. memiliki fungsi intermediasi yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. sistem perekonomian dan sebagai alat dalam pelaksanakan kebijakan moneter

BAB 1 PENDAHULUAN. yang tidak didukung oleh peran perbankan dalam membangun negaranya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Peranan bank dalam kegiatan perekonomian sangat fundamental, setiap

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Bhayangkara Jaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. penyimpan, pemerintah dan masyarakat (Audhya, 2014). Profitabilitas merupakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring dengan adanya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia sejak

BAB I PENDAHULUAN. lembaga perbankan sangat dibutuhkan dalam suatu perekonomian. Kestabilan ini

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Pengertian perbankan dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No.10 Tahun

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk Indonesia. Sektor perbankan berfungsi sebagai perantara keuangan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN. aman dan percaya untuk menanamkan investasi atau dananya di bank.

BAB I PENDAHULUAN. Karena laba merupakan suatu hal yang akan menjamin dari kelangsungan perusahaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penelitian ini berjudul Pengaruh LDR, IPR, APB, NPL, IRR, BOPO,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. dalam kegiatan perekonomian. Peranan strategis disebabkan oleh fungsi utama

II. TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Peran Bank

Transkripsi:

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Teoritis 2.1.1. Pengertian Bank Menurut Undang-undang perbankan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998, yang dimaksud dengan bank adalah Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. G.M Verryn Stuart menyatakan bahwa Bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-alat pembayaran sendiri, dengan uang yang diperolehnya dari orang lain maupun dengan jalan mengedarkan alat-alat penukar uang berupa uang giral. Menurut Kasmir, SE.MM (2007) pengertian bank dapat dijelaskan secara lebih luas lagi bahwa bank merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dalam bidang keuangan. Sehingga berbicara mengenai bank tidak terlepas dari masalah keuangan. Dari pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa bank merupakan lembaga keuangan yang menghimpun dan menyalurkan dana kepada 11

12 masyarakat, menerima simpanan baik dalam bentuk giro, tabungan dan deposito serta sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang membutuhkannya. Bank menurut kepemilikannya dibagi menjadi : 1. Bank Milik Pemerintah Bank pemerintah adalah bank di mana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh keuntungan bank dimiliki oleh pemerintah pula. Contohnya Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri. Selain itu ada juga bank milik pemerintah daerah yang terdapat di daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing provinsi. Contohnya : Bank DKI, Bank Jateng, dan sebagainya. 2. Bank Milik Swasta Nasional Bank swasta nasional adalah bank yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh swasta nasional serta akta pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya juga dipertunjukkan untuk swasta pula. Contohnya : Bank Muamalat, Bank Danamon, Bank Central Asia, Bank Lippo, Bank Niaga, dan lain-lain. 3. Bank Milik Asing Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing atau pemerintah asing. Kepemilikannya dimiliki oleh pihak luar negeri. Contohnya : ABN AMRO bank, City Bank, dan lain-lain.

13 Secara umum, fungsi bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan atau sebagai financial intermediary. Secara lebih spesifik fungsi bank sebagai berikut : 1. Agent of Trust Kepercayaan merupakan suatu dasar utama kegiatan perbankan baik dalam hal penghimpunan dana maupun penyetor dana. Dalam hal ini masyarakat akan menitipkan dananya di bank apabila dilandasi unsur kepercayaan. Pihak bank juga akan menempatkan dan menyalurkan dananya kepada debitur atau masyarakat, jika dilandasi dengan unsur kepercayaan. 2. Agent of Development Tugas bank sebagai penghimpun dan penyalur dana sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan ekonomi di sektor riil, kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan investasi, distribusi, dan juga konsumsi barang dan jasa, mengingat semua kegiatan investasi, distribusi, dan konsumsi selalu berkaitan dengan penggunaan uang. Di mana kegiatan tersebut merupakan kegiatan pembangunan perekonomian masyarakat. 3. Agent of Service Di samping kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana bank juga memberikan penawaran-penawaran atas jasa-jasa perbankan yang lain pada

14 masyarakat. Jasa-jasa yang diberikan bank erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat secara umum. Jasa-jasa bank diantaranya adalah jasa pengiriman uang, jasa penitipan barang berharga, jasa pemberian jaminan bank, dan jasa penyelesaian penagihan Dalam UU Perbankan No.7 Tahun 1992, hanya ada dua jenis bank, yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank Umum adalah bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedangkan Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Adapun fungsi bank umum antara lain : 1. Mengumpulkan dana yang sementara menganggur untuk dipinjamkan pada pihak lain, atau membeli surat-surat berharga (financial investment). 2. Mempermudah lalu lintas pembayaran uang. 3. Menjamin keamanan uang masyarakat yang sementara belum digunakan, misalnya menghindari risiko hilang, kebakaran dan lain-lain. 4. Menciptakan kredit (created money deposit), yaitu dengan cara menciptakan demand deposit (deposito yang sewaktu-waktu dapat diuangkan) dari kelebihan cadangannya (excess reserves).

15 2.1.2. Analisis Laporan Keuangan Analisis laporan keuangan merupakan upaya untuk memaksimalkan informasi yang masih relatif sedikit menjadi informasi yang lebih luas dan akurat. Hasil analisis laporan keuangan akan dapat mengetahui inkonsistensi dari suatu laporan. Pada dasarnya laporan keuangan dapat menyembunyikan suatu informasi yang salah tetapi hasil analisis laporan keuangan tidak akan dapat menyembunyikan semua informasi yang salah. Analisis laporan keuangan pada dasarnya merupakan perhitungan rasio-rasio untuk menilai keadaan keuangan perusahaan di masa lalu, saat ini dan kemungkinannya di masa depan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan di dalam menganalisa keadaan keuangan perusahaan, analisa ini dengan menggunakan rasio. Analisa dengan menggunakan rasio merupakan hal yang sangat umum dilakukan di mana hasilnya akan memberikan pengukuran relatif dari operasi perusahaan. Data pokok sebagai input dalam analisis rasio adalah laporan laba rugi dan neraca perusahaan. 2.1.3. Rasio Keuangan Bank Menurut Munawir (2001) Rasio adalah menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan (mathematical relation) antara satu jumlah tertentu dengan jumlah yang lainnya, dan dengan menggunakan alat analisis bahwa rasio dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada

16 penganalisis tentang baik atau buruknya keadaan rasio dibandingkan dengan angka rasio perbandingan yang digunakan sebagai standar rasio keuangan. Rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen laporan keuangan yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu (Erich A Helfert, 2005). Pengertian rasio keuangan menurut Harahap (2006) adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Analisis rasio keuangan merupakan analisis dengan jalan membandingkan satu pos laporan keuangan lainnya baik secara individu maupun bersamasama guna mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca maupun laporan laba rugi ( Jumingan, 2006). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan merupakan suatu ukuran atau dasar yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dengan menganalisis laporan keuangan perusahaan tersebut. Adapun jenis-jenis rasio keuangan bank : 1. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan kewajiban bank). Suatu bank dikatakan liquid apabila bank bersangkutan dapat memenuhi kewajiban

17 utang-utangnya, dapat membayar kembali semua depositonya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Oleh karena itu, bank dapat dikatakan liquid apabila : Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang digunakan untuk memenuhi likuiditasnya Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari kebutuhan likuiditasnya, tetapi mempunyai aset atau aktiva lainnya (misal surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash asset baru melalui berbagai bentuk hutang. Rasio yang rendah menunjukkan resiko likuiditas yang tinggi, sedangkan rasio yang tinggi menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar, yang akan mempunyai pengaruh yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan. Dalam rasio likuiditas, rasio yang dapat diukur antara lain : Quick ratio, Banking ratio, dan Loans to assets ratio. a) Quick Ratio Rasio ini untuk mengetahui kemampuan dalam membiayai kembali kewajibannya kepada para nasabah yang menyimpan dananya dengan aktiva lancar yang lebih liquid yang dimilikinya.

18 b) Banking Ratio/Loan to Deposit Ratio (LDR) Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dana dengan kredit-kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya. Semakin tinggi rasionya semakin tinggi tingkat likuiditasnya. c) Loan to Assets Ratio Rasio ini untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi permintaan para debitur dengan aset bank yang tersedia. Semakin tinggi rasionya semakin rendah tingkat likuiditasnya. 2. Rasio Solvabilitas (Capital) Rasio permodalan sering disebut juga rasio-rasio solvabilitas atau capital adequacy ratio. Analisis solvabilitas digunakan untuk : 1) Ukuran kemampuan bank tersebut untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan 2) Sumber dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan usahanya sampai batas tertentu, karena sumber-sumber dana dapat juga berasal dari hutang penjualan aset yang tidak dipakai dan lain-lain 3) Alat pengukuran besar kecilnya kekayaan Bank tersebut yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya

19 4) Dengan modal yang mencukupi, memungkinkan manajemen bank yang bersangkutan untuk bekerja dengan efisiensi yang tinggi, seperti yang dikehendaki oleh para pemilik modal pada bank tersebut. 3. Rasio Rentabilitas/Profitabilitas Rasio rentabilitas selain bertujuan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaannya. Pada rasio rentabilitas (keuntungan), rasio yang dapat diukur antara lain: return on assets, biaya operasi/pendapatan operasi, gross profit margin, dan net profit margin. a) Return On Assets (ROA) Rasio ini mengukur kemampuan bank di dalam memperoleh laba dan efisiensi secara keseluruhan. b) Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) Rasio ini digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank. Semakin kecil angka rasio BOPO, maka semakin baik kondisi bank tersebut. Rasio ini digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank.

20 c) Gross Profit Margin Rasio ini untuk mangetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari operasi usahanya yang murni. Semakin tinggi rasionya, semakin baik hasilnya. d) Net Profit Margin Rasio ini untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba bersih sebelum pajak (net income) di tinjau dari sudut pendapatan operasinya. e) Rasio Resiko Usaha Bank Setiap jenis usaha selalu dihadapkan pada berbagai resiko, begitu pula di dalam bisnis perbankan, banyak pula resiko yang dihadapinya. Resiko-resiko ini dapat pula diukur secara kuantitatif antara lain dengan: Deposit risk ratio, dan Interest risk rate ratio. f) Rasio Efisiensi Usaha Untuk mengukur kinerja manajemen suatu bank apakah telah menggunakan semua faktor produksinya dengan tepat guna dan hasil guna, maka melalui rasio-rasio keuangan disini juga dapat diukur secara kuantitatif tingkat efisiensi yang telah dicapai oleh manajemen bank yang bersangkutan. Rasio-rasio yang digunakan antara lain: leverage multiplier ratio, Assets utilazation ratio, dan Operating ratio.

21 2.1.4. Rasio Profitabilitas (ROA) Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada di laporan keuangan, terutama laporan keuangan neraca dan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuannya adalah agar terlihat perkembangan perusahaan dalam rentang waktu tertentu, baik penurunan atau kenaikan, sekaligus mencari penyebab perubahan tersebut. Hasil pengukuran tersebut dapat dijadikan alat evaluasi kinerja manajemen selama ini, apakah mereka telah bekerja secara efektif atau tidak. Jika berhasil mencapai target yang telah ditentukan, mereka dikatakan telah berhasil mencapai target untuk periode atau beberapa periode. Namun, sebaliknya jika gagal atau tidak berhasil mencapai target yang telah ditentukan, ini akan menjadi pelajaran bagi manajemen untuk periode ke depan. (Kasmir, 2010). Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diukur dengan menggunakan ROA (Return On Asset). Rasio ini adalah rasio keuntungan bersih setelah

22 pajak terhadap jumlah asset secara keseluruhan. Rasio ini merupakan suatu ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian dari asset yang dimiliki. Apabila rasio ini tinggi berarti menunjukkan adanya efisiensi yang dilakukan oleh pihak manajemen. Return On Asset (ROA) merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar laba bersih yang dapat diperoleh dari seluruh aktiva yang dimiliki perusahaan. Lukman Dendawijaya (2009) menjelaskan bahwa, rasio ROA digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan, semakin besar ROA semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank dari segi penggunaan aset. Dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (2004), kriteria yang dikeluarkan Bank Indonesia untuk sebuah bank bisa menjadi bank jangkar (anchor bank) memiliki rasio Return On Asset (ROA) minimal 1,5%. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa, ROA merupakan salah satu cara perusahaan mengukur profitabilitasnya, semakin meningkat ROA maka perusahaan memiliki laba yang tinggi. Bank Indonesia menyatakan bahwa bank harus memiliki rasio ROA minimal 1,5% jika bank memiliki ROA dibawah 1,5 maka bank dalam bermasalah.

23 Ukuran yang sering digunakan untuk menghitung return on asset (ROA) adalah : ROA = Laba Sebelum Pajak Total Asset X 100% 2.1.5. Non Performing Loan (NPL) Non Performing Loan (NPL) adalah salah satu indikator untuk menilai kinerja fungsi bank, karena NPL yang tinggi adalah indikator gagalnya bank dalam mengelola bisnis antara lain timbul masalah likuiditas (ketidakmampuan membayar pihak ketiga), rentabilitas (utang tidak bisa ditagih), dan solvabilitas (modal berkurang). NPL adalah rasio kredit bermasalah dengan total kredit. NPL mencerminkan risiko kredit, semakin kecil NPL semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung bank. Bank dengan NPL yang tinggi akan memperbesar biaya baik pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank (Wisnu Mawardi, 2005). Bank Indonesia melalui peraturan bank Indonesia menetapkan bahwa rasio kredit bermasalah (NPL) adalah sebesar 5%. Rumus perhitungan NPL adalah : NPL = Kredit Bermasalah Total Kredit

24 2.1.6. Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Rasio ini sering disebut rasio efisiensi karena digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Biaya operasional merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan pada saat menjalankan kegiatan pokok seperti biaya bunga, biaya tenaga kerja, biaya pemasaran dan biaya lainnya. Pendapatan operasional adalah pendapatan utama yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan penempatan operasi lainnya. Sebagai rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya (Dendawijaya, 2009), maka apabila rasio ini semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam menekan biaya operasionalnya yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola usahanya. Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah dibawah 90%, karena jika rasio BOPO melebihi 90% hingga mendekati 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan operasinya. Perhitungan BOPO dapat dirumuskan : BOPO = Biaya Beban Operasional Pendapatan Operasional

25 2.1.7. Pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap Profitabilitas Bank (ROA) Non Performing Loan (NPL) merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank. Semakin kecil NPL maka semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung oleh pihak bank. Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajiban. Bank melakukan peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil risiko kredit (Ali, 2004). Dengan demikian apabila suatu bank mempunyai Non Performing Loan (NPL) yang tinggi, maka akan memperbesar biaya baik biaya pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya sehingga berpengaruh terhadap kinerja bank. Peneliti terdahulu yang dilakukan oleh Restiyana (2011) menunjukkan bahwa NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA perbankan. Semakin besar Non Performing Loan (NPL) akan mengakibatkan menurunnya Return On Asset (ROA), yang juga berarti kinerja keuangan bank menurun. Begitu pula sebaliknya, jika Non Performing Loan (NPL) turun, maka Return on asset (ROA) akan semakin meningkat sehingga kinerja keuangan bank dapat dikatakan semakin baik.

26 Berdasarkan analisis dan teori yang ada dan temuan penelitian terdahulu, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : H1 : Non Performing Loan (NPL) berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA). 2.1.8. Pengaruh Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Profitabilitas Bank (ROA) BOPO merupakan rasio biaya operasional yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya (Dendawijaya, 2009). Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah dibawah 90%, karena jika rasio BOPO melebihi 90% hingga mendekati 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Penelitian yang dilakukan oleh Mawardi (2005) menyimpulkan bahwa BOPO berpengaruh negatif terhadap kinerja bank yang diproksikan dengan ROA. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar perbandingan total biaya operasional dengan pendapatan operasional akan berakibat turunnya Return on asset (ROA).

27 Berdasarkan analisis dan teori yang ada dan temuan penelitian terdahulu, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : H2 : Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh terhadap Return On Asset (ROA). 2.2 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang dapat mendukung penelitian ini diantaranya adalah penelitian : Ahmad Buyung Nusantara (2009) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk menguji pengaruh variabel Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan BOPO terhadap Profitabilitas Bank (ROA) pada Bank go publik dan Bank non go publik periode tahun 2005-2007. Anggrainy Putri Ayuningrum (2011) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk menguji pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), BOPO, Net Interest Margin (NIM), Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank umum Go public yang listed di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2009. Restiyana (2011) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM terhadap ROA pada Bank Umum di Indonesia periode 2006-2010.

28 Tinjauan penelitian terdahulu tersebut dapat di lihat pada tabel 2.1 berikut : Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu Nama Peneliti (Tahun Penelitian) Ahmad Buyung Nusantara (2009) Anggrainy Putri Ayuningrum (2011) Restiyana (2011) Sumber : Penelitian Terdahulu Variabel Penelitian Variabel Independen : Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan BOPO. Variabel Dependen : Profitabilitas Bank (ROA) pada Bank Go Publik dan Bank Non Go Publik tahun 2005-2007. Variabel Independen : Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), BOPO, Net Interest Margin (NIM), Loan to Deposit Ratio (LDR). Variabel Dependen : Return On Asset (ROA) pada Bank Umum go publik yang listed di BEI tahun 2005-2009. Variabel Independen : CAR, NPL, BOPO, LDR dan NIM. Variabel Dependen : Profitabilitas Perbankan (ROA) pada bank umum di Indonesia periode 2006-2010. Hasil Penelitian Dari hasil analisis menunjukkan bahwa data NPL, CAR, LDR, dan BOPO secara parsial signifikan terhadap ROA Bank Go Publik. Sedangkan pada Bank non go publik, hanya LDR yang berpengaruh signifikan. Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), Non Performing Loan (NPL), BOPO berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CAR, LDR dan NIM berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA sedangkan NPL dan BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA perbankan.

29 1. Ahmad Buyung Nusantara (2009) Judul penelitiannya adalah Analisis pengaruh NPL, CAR, LDR, dan BOPO terhadap Profitabilitas Bank (Perbandingan Bank Umum Go Publik dan Bank Umum Non Go Publik di Indonesia periode tahun 2005-2007). Populasi yang digunakan yaitu seluruh perusahaan bank umum yang terdapat di Indonesia yaitu Bank persero, BUSND, BUSND Non Devisa BPD, Bank Campuran dan Bank Asing yang mengeluarkan laporan keuangan periode 2005-2007 yaitu sebanyak 130 bank, yang terdiri dari 36 Bank Devisa dan 94 Bank non devisa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa data NPL, CAR, LDR, dan BOPO secara parsial signifikan terhadap ROA bank go publik sedangkan pada bank non go publik hanya LDR yang berpengaruh signifikan. 2. Anggrainy Putri Ayuningrum (2011) Judul penelitiannya adalah Analisis pengaruh CAR, NPL, BOPO, NIM dan LDR terhadap ROA (Studi kasus pada bank umum go publik yang listed di BEI tahun 2005-2009). Populasi yang digunakan yaitu perusahaanperusahaan perbankan yang tercatat di BEI dalam kurun waktu tahun 2005-2009 sebanyak 28 perusahaan perbankan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), Non Performing Loan (NPL), dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA).

30 3. Restiyana (2011) Judul penelitiannya adalah Analisis pengaruh CAR, NPL, BOPO, LDR, dan NIM terhadap Profitabilitas perbankan (Studi pada bank umum di Indonesia periode 2006-2010). Populasi yang digunakan adalah bank umum yang ada di Indonesia yaitu sebanyak 96 bank umum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CAR, LDR dan NIM berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA pada perusahaan perbankan. Sedangkan NPL dan BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA perbankan. 2.3 Kerangka Pemikiran Industri perbankan merupakan sektor penting dalam pembangunan nasional yang berfungsi sebagai financial intermediary diantara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana. Menurut Undang-undang Perbankan RI No. 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998, yang dimaksud dengan bank adalah Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Sebagai salah satu jenis perusahaan jasa, pastinya bank juga memiliki laporan keuangan. Laporan keuangan ini berisi berbagai informasi mengenai keadaan perusahaan yang dibutuhkan oleh para penggunanya. Pada

31 dasarnya laporan keuangan ini terdiri angka-angka, yang tidak semua orang dapat mengartikannya. Oleh karena itu laporan keuangan perlu dianalisis yaitu dengan melakukan analisis laporan keuangan. Salah satu teknis dalam melakukan analisis laporan keuangan adalah dengan alat bantu rasio keuangan. Dengan adanya rasio keuangan diharapkan dapat membantu para pengguna laporan keuangan untuk mengetahui kinerja perbankan apakah baik atau tidak. Dalam penelitian ini Return on asset (ROA) dipilih sebagai variabel dependen karena ROA digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. ROA merupakan rasio antara laba sebelum pajak terhadap total asset. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kinerja bank diantaranya adalah NPL dan BOPO. Non Performing Loan (NPL) adalah rasio kredit bermasalah dengan total kredit. NPL mencerminkan risiko kredit, semakin kecil NPL semakin kecil pula risiko kredit yang ditanggung bank. Bank dengan NPL yang tinggi akan memperbesar biaya baik pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank (Wisnu Mawardi, 2005). Untuk mengukur tingkat efisiensi kinerja suatu bank, digunakan rasio BOPO. Rasio ini merupakan rasio efisiensi yang digunakan untuk mengukur

32 kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil dan profitabilitas meningkat (Dendawijaya, 2005). Dari uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa semakin tinggi NPL maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar. Sehingga jika semakin besar NPL maka akan mengakibatkan menurunnya ROA, yang juga berarti kinerja keuangan bank menurun. Begitupula sebaliknya jika NPL turun maka ROA akan meningkat dan kinerja keuangan bank dapat dikatakan baik. Dengan demikian NPL berpengaruh negatif terhadap Return on asset (ROA). Selain itu juga telah dijelaskan bahwa semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktivitas usahanya. Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah dibawah 90%. Karena jika rasio BOPO melebihi angka 90% hingga mendekati 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan operasinya. Semakin tinggi biaya pendapatan maka bank menjadi tidak efisien sehingga ROA semakin kecil. Dengan kata lain BOPO berhubungan negatif terhadap ROA.

33 Melihat fenomena ini dapat disimpulkan bahwa NPL dan BOPO merupakan faktor yang dapat memicu perubahan Return on asset (ROA) yang nantinya akan berdampak terhadap kinerja perbankan itu sendiri. Dengan begitu akan mempermudah kita untuk menilai kinerja keuangan suatu bank apakah kondisinya baik atau tidak, yang pada akhirnya akan berguna pada pengambilan keputusan oleh para investor dan pemakai laporan keuangan lainnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka variabel yang terkait dalam penelitian ini dapat dirumuskan melalui suatu kerangka pemikiran yang dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut ini : Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Pengaruh Non Performing Loan (NPL) dan Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO) Terhadap Profitabilitas Bank (ROA) Fenomena Non Performing Loan, Biaya Operasional/Pendapatan Operasional dan Profitabilitas Bank (ROA) di PT. Bank Negara Indonesia, Tbk. NPL BOPO ROA

34 2.4 Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. (Sugiyono, 2011). Berdasarkan kerangka pemikiran dan penelitian terdahulu, maka dapat dirumuskan hipotesis sementara yaitu : H 1 : Diduga Non Performing Loan (NPL) berpengaruh secara parsial terhadap Profitabilitas bank (ROA). H 2 : Diduga Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berpengaruh secara parsial terhadap Profitabilitas bank (ROA). H 3 : Diduga Non performing loan (NPL) dan Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berpengaruh secara simultan terhadap Profitabilitas bank (ROA).