Analisis Performa Routing SPIN (Sensor Protocol for Information Via Negotiation) pada Wireless Sensor Network
|
|
|
- Ida Hermawan
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: X Vol. 2, No. 9, September 2018, hlm Analisis Performa Routing SPIN (Sensor Protocol for Information Via Negotiation) pada Wireless Sensor Network Salsabila 1, Rakhmadhany Primananda 2, Edita Rosana Widasari 3 Program Studi Teknik Informatika, 1 [email protected], 2 [email protected], 3 [email protected] Abstrak Wireless Sensor Network adalah suatu jaringan yang terdiri dari beberapa node yang memiliki sifat dinamis. Teknologi ini dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada pada routing. Contohnya adalah routing SPIN. Pada penelitian ini penulis mencoba menganalisis routing SPIN-BC dan SPIN-RL, yang mana routing SPIN-BC dan SPIN-RL dapat menanggulangi antrian lalu lintas pada pengiriman data dan dapat berkomunikasi lebih dari satu node (broadcast). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa routing SPIN-BC dan SPIN-RL. Untuk mengetahui performa dari kedua routing dilakukan pengujian dengan beberapa parameter. Parameter tersebut adalah rata-rata Latency, Number data pakets forwarded, Tx Power, Number Tx Frames dan Memori Node. Pada pengujian yang telah dilakukan routing SPIN-BC dan SPIN-RL dengan node sebanyak 4,8,12,16, dan 20 memiliki nilai rata-rata latency ms, sedangkan pada routing SPIN-RL nilai rata-rata nya ms. Pada pengujian NB Packet Data Forward pada routing SPIN-BC rata-rata yang didapat ms dan SPIN- RL rata-ratanya ms. Untuk nilai rata-rata yang diperoleh TX Power pada pengujian routing SPIN-BC dan SPIN-RL adalah 0,63292 mw. Selanjutnya hasil rata-rata yang diperoleh dari parameter Nb Tx Frame pada routing SPIN-BC adalah 1,7 ms dan pada SPIN-RL rata-ratanya 7,9 ms. Kemudian pengujian dari memori node pada SPIN-BC 7,56 MB sedangkan SPIN-RL 34,454 MB. Berdasarkan dari hasil rata-rata diatas dapat disimpulkan bahwa SPIN-RL memiliki performa yang lebih baik di bandingkan dengan SPIN-BC, karena SPIN-RL dapat menanggulangi kesalahan transmisi perintah yang disebabkan oleh data loss. Kata kunci: Routing, wireless sensor network, SPIN-BC, SPIN-RL. Abstract Wireless Sensor Network is a network consisting of several nodes that have dynamic properties. This technology can be used to solve existing problems on routing. An example is SPIN routing. In this research the writer tries to analyze SPIN-BC and SPIN-RL routing, which SPIN-BC and SPIN-RL routing can overcome traffic queue on data delivery and can communicate more than one node (broadcast). The research aimed at determining the performance of SPIN-BC and SPIN-RL. routing anymore and the performance of both routing that were done by testing with some parameters. These parameters were Average Latency, Number Data Packets Forwarded, Tx Power, Number Tx.Frames and Memory Node. In the test that had been done by SPIN-BC and SPIN-RL routing with nodes of 4,8,12,16, and 20 had latency mean value of ms, while the SPIN-RL routing had an average value of ms. The average test of NB Packet Data Forward on SPIN-BC routing was obtained averaged of ms and SPIN-RL was obtained average of ms. The average value that was obtained by TX Power on SPIN-BC and SPIN-RL routing testing was mw. Furthermore, the average result that was obtained from Nb Tx Frame parameter on SPIN-BC routing was 1.7 ms, while SPIN-RL was obtained average of 7.9 ms. Then the test of the average result from the memory node was on SPIN-BC 7,56 MB, and SPIN-RL 34,454 MB. Based on the average results above, it can be concluded that SPIN-RL had better performance compared with SPIN-BC, because SPIN-RL can cope with command transmission error that was caused by data loss. Keywords: Routing, wireless sensor network, SPIN-BC, SPIN-RL Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya 3345
2 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer PENDAHULUAN Teknologi di dunia sudah semakin berkembang dengan pesat. Salah satu teknologi yang akhir-akhir ini banyak digunakan adalah Wireless Sensor Network. Wireless Sensor Network merupakan suatu jaringan yang terdiri dari beberapa node yang bersifat dinamis. Teknologi tersebut dapat diaplikasikan dimanapun tanpa menggunakan jaringan infrastruktur yang telah ada. Kemudian dapat langsung melakukan komunikasi antara node satu dengan node yang lain karena node juga berfungsi sebagai router. Wireless Sensor Network dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada pada berbagai routing. Contohnya adalah routing SPIN yang memiliki masalah Blindly Forward dan Data Unccessible. Blindly forward merupakan suatu masalah yang terjadi ketika jaringan memiliki data baru yang hendak dikirim, sehingga harus mengulangi proses ADV, REQ, serta pengiriman data yang diulang sampai paket mencapai tujuan. Kemudian untuk Data Unccessible terjadi jika node sensor mengumpulkan data baru yang perlu diteruskan, maka akan langsung membroadcast pesan ADV ke node tetangganya. Untuk mengatasi hal tersebut maka akan dilakukan modifikasi pada routing SPIN dengan menambahkan VC table. Hasil simulasi menunjukan bahwa modifikasi routing SPIN memiliki perbaikan dari segi packet loss sebesar 10,39 % dari sebelumnya dikarenakan adanya perbaikan di sisi penentuan next hop-nya (Ratna Mayasari et al. 2013). Pada penelitian sebelumnya yang berjudul Performance Analysis of SPIN and LEACH Routing Protocol in WSN yang mana pada penelitian ini melakukan analisis performa dengan menggunakan routing SPIN dan LEACH pada Wireless Sensor Network. Dalam pengimplementasiannya menggunakan dua simulator jaringan nirkabel versi 2.34 untuk pengujiannya(gettu Sonia Juneja,2012). Hasil yang didapat adalah pada algoritma LEACH membutuhkan energi yang lebih banyak dibandingkan dengan algoritma SPIN. Dengan demikian penulis mencoba menganalisis lebih luas lagi dari beberapa macam routing protocol yang berupa SPIN-BC dan SPIN-RL. Untuk lebih mengetahui performa kinerja routing berdasarkan tingkat Latency,Number data pakets forwarded, TxPower, NumberTx.Frames dan Memori Node. Selanjutnya untuk mengetahui routing SPIN mana yang baik dalam mengirim data pada jaringan Wireless Sensor Network (WSN) yang diimplementasikan pada OMNET ++. Beberapa kelebihan pada routing SPIN-BC dan SPIN-RL yaitu routing SPIN-BC dan SPIN- RL menerima keuntungan dari kemampuan saluran penyiaran dan mengharuskan node yang telah menerima perintah ADV untuk tidak segera merespon dengan perintah REQ. Sebaliknya, node akan menunggu dalam waktu tertentu, selama kemampuan saluran penyiaran memonitor saluran komunikasi. Yang bertujuan untuk menanggulangi penumpukan data. Selanjutnya pada SPIN-BC dan SPIN-RL dapat mengirim data ke node yang lebih dari satu secara bersamaan (Sohraby et al.2007). 2. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menjelaskan tentang langkah-langkah yang dilakukan dalam perancangan, dan pengujian dari simulasi yang akan dijalankan dan dianalisa.. T Mulai Identifikasi masalah Studi literatur Analisis kebutuhan Perancangan Implementasi pengujian Y Analisis hasil pengujian Penarikan kesimpulan Selesai Gambar 1. Diagram Alir Metodologi 3. PERANCANGAN Perancangan sistem didasarkan pada perencanaan area simulasi, jumlah node sensor, dan sistem komunikasi antar node dengan sink. Area simulasi ditetapkan sebagai luasan yang didefinisikan sebagai sumbu x dan sumbu y. Jumlah node yang telah ditentukan kemudian
3 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 3347 diletakkan atau di posisikan dengan aturan yang telah ditentukan, dimana dalam perancanaan ini sensor diposisikan dengan aturan statik. Keseluruhan perencanaan parameter-parameter simulasi ini diinisialisasikan pada program yang dibuat. Adapun keseluruhan cara kerja dari simulasi ini ditampilkan dengan flowchart pada Gambar 2: START Tentukan Jumlah Node Tentukan Routing SPIN-BC atau SPIN-RL Gambar 3. Template Network Omnet++ Konfigurasi Node Wireless T Simulasi (nama file) Y Setelah melakukan pembuatan file.ned tersebut kemudian dilakukan konfigurasi dengan code sebagai berikut: Buat node sink dan tentukan posisinya Ambil data (trace file) Buat link antar node dengan sinknya Buat grafik END Gambar 2. Flowchart perancangan sistem SPIN-BC dan SPIN-RL 3.1 Implementasi Routing Routing SPIN-BC Pada topologi SPIN-BC dibawah ini peneliti menggunakan simulator OMNet++, dan perlu dibuat dahulu template network yang akan digunakan. Template network dibuat pada file dengan ekstensi (.ned), pada simulasi ini dibuat pada WSNRouting.ned. berikut adalah template yang digunakan. Gambar 3 merupakan gambar dari file WSNRouting.ned yang telah dibuat. Gambar yang bertuliskan node[numhosts] apd agambar 3 merupakan gambar dari perumpamaan node. Sedangkan gambar yang bertuliskan connection Manager dan world pada gambar 3 adalah bagian dari simulasi jaringan. Gambar 4. Konfigurasi Template Pada Gambar 4 merupakan Template network WSN Routing menggunakan konfigurasi yang digunakan juga pada BaseNetwork. Lalu ada parameter numhosts yang digunakan untuk mengatur jumlah host yang ada di dalam network. Berikut adalah code yang digunakan untuk membuat topologi beserta simulasi SPIN pada omnetpp.ini.
4 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 3348 Gambar 8. Konfigurasi Node sebanyak 4 Gambar 5. Konfigurasi General Pada Gambar 5 ditunjukkan bahwa template network yang digunakan adalah WSN Routing yang sudah dibuat pada file WSNRouting.ned. Selain itu durasi simulasi maksimal diatur selama 1 menit. Gambar 6. Konfigurasi Ukuran Area Pada Gambar 6 ditunjukkan Ukuran area dari WSN diatur dengan ukuran panjang 1000 meter dan lebar 1000 meter. Lalu jumlah node ditentukan 4,8,12,16,dan Skenario Topologi Sebanyak 4 Node Gambar 7 merupakan implementasi topologi setelah dijalankan. Pada Gambar 7 mencoba node dari yang paling sedikit, yaitu node yang berjumlah 4. Gambar 7. Topologi Sebanyak 4 Node Pada Gambar 8 merupakan konfigurasi Node sebanyak 4. Jenis topologi bersifat statis dan tidak berpindah lokasi. Tiap node ditempatkan dengan koordinat x dan y yang ditunjukkan pada code diatas, koordinat z yang tidak digunakan diset bernilai 0 pada semua node. Power yang digunakan node untuk mengirim data dibatasi pada range 5.5 sampai 1 mw. Untuk penjelasan konfigurasi tiap node sebagai berikut: 1. **.mobilitytype = StationaryMobility tipe yang digunakan stationary 2. **.node[*].mobility.initialz=0m koordinat Z tidak digunakan diset bernilai 0 3. **.node[0].mobility.initialx=200m node 0 pada koordinat X diset bernilai 200m 4. **.node[0].mobility.initialy=50m node 0 pada koordinat Y diset bernilai 50m 5. **.node[1].mobility.initialx=50m node 1 pada koordinat X diset bernilai 50m 6. **.node[1].mobility.initialy=200m node 1 pada koordinat Y diset bernilai 200m 7. **.node[2].mobility.initialx=150m node 2 pada koordinat X diset bernilai 150m 8. **.node[2].mobility.initialy=350m node 2 pada koordinat Y diset bernilai 350m 9. **.node[3].mobility.initialx=250m node 3 pada koordinat X diset bernilai 250m 10. **.node[3].mobility.initialy=250m node 3 pada koordinat Y diset bernilai 250m 11. **.node[*].nic.mac.txpower=${txpower= 5.5,1}mW, node pengiriman data dibatasi range 5.5 sampai 1mW Konfigurasi SPIN-BC Berikut ini merupakan konfigurasi dari routing SPIN-BC..
5 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 3349 Gambar 10. Konfigurasi SPIN-RL Gambar 9. Konfigurasi SPIN-BC Pada Gambar 9 konfigurasi simulasi menggunakan SPIN-BC, maka config yang dijalankan adalah config SPIN-BC. Dalam config ini networktype diatur menjadi Flood. Berikut adalah penjelasan beberapa parameter penting yang digunakan. 1. **.node[*].networktype = "Flood" Tipe Jaringan protokol SPIN-BC yang digunakan yaitu Flood 2. **.node[*].netwl.headerlength = 24 bit panjang header network adalah 24 bit 3. **.node[0].appl.nbpackets = 10 Node yang menjadi sender data adalah node [10] 4. **.node[*].appl.nbpackets = 0 Node paket number [0] 5. **.node[*].appl.destaddr = -1 Node yang dituju adalah node [-1] 6. **.node[*].appl.broadcastpackets= true 7. **.node[*].appl.traffictype= "periodic" Data yang dikirimkan bertipe periodik 8. **.node[*].appl.trafficparam = 30 s Waktu yang dibutuhkan dalam pengiriman 1 paket membutuhkan 30 s 9. **.node[*].appl.initializationtime = 10 s Data akan dikirimkan secara periodik setiap detik oleh sender. 10. **.node[*].appl.headerlength = 50 byte panjang header aplikasi adalah 50 byte Routing SPIN-RL Routing SPIN-RL adalah mekanisme broadcast data dari satu set sensor menuju ke semua node. Routing SPIN-RL memperluas kemampuan dari SPIN-BC untuk menambahkan kehandalan dan menanggulangi kesalahan transmisi perintah yang disebabkan oleh data lossy. Pada Gambar 10 konfigurasi simulasi menggunakan SPIN-RL, maka config yang dijalankan adalah config SPIN-RL. Dalam config ini networktype diatur menjadi AdaptiveprobabilisticBroadcast. Berikut adalah penjelasan beberapa parameter penting yang digunakan. 1. **.node[*].networktype ="AdaptiveprobabilisticBroadcast" Tipe Jaringan protokol SPIN-RL yang digunakan yaitu AdaptiveprobabilisticBroadcast 2. **.node[*].netwl.headerlength = 24 bit panjang header network adalah 24 bit 3. **.node[0].appl.nbpackets = 10 Node yang menjadi sender data adalah node [10] 4. **.node[*].appl.nbpackets = 10 Node paket number [10] 5. **.node[*].appl.destaddr = 0, 6. **.node[*].broadcasetpackets =true 7. **.node[*].appl.traffictype="periodic Data yang dikirimkan bertipe periodik 8. **.node[*].appl.trafficparam = 30s Waktu yang dibutuhkan dalam pengiriman 1 paket membutuhkan 30 s 9. **.node[*].appl.initializationtime = 30 s Data akan dikirimkan secara periodik setiap detik oleh sender. 10. **.node[*].appl.headerlength = 50 byte panjang header aplikasi adalah 50 byte. 4. PENGUJIAN DAN ANALISIS 4.1 Pengujian Terhadap Parameter Latency Pada pengujian parameter Latency dengan banyaknya node sebanyak 4,8,12,16 dan 20 maka didapatkan hasil sebagai berikut:
6 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 3350 berikut: Gambar 11. Grafik Hasil Latency Berdasarkan hasil pengujian, Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata Latency pengujian protokol routing SPIN-BC dengan waktu 30 s adalah sebagai berikut node sebanyak 4 bernilai 0,00928, node sebanyak 8 bernilai 0,01347, node sebanyak 12 bernilai 0,01545, node sebanyak 16 bernilai 0,03851, dan node sebanyak 20 bernilai 0, Sedangkan protokol routing SPIN-RL dengan waktu yang sama memiliki hasil sebagai berikut node sebanyak 4 bernilai 0,89704, node sebanyak 8 bernilai 0,6835, node sebanyak 12 bernilai 0,70965, node sebanyak 16 bernilai 0,9619, dan node sebanyak 20 bernilai 0, Dari hasil grafik 5.1 dapat dianalisis bahwa protokol routing SPIN-BC dan routing SPIN-RL memiliki perbedaan dalam parameter Latency di pengiriman paket data. Protokol routing SPIN- RL memiliki hasil node dari 4,8,12,16, dan 20 yang cukup terlihat dengan rata-rata Sedangkan Protocol routing SPIN BC juga memiliki perbedaan namun dengan loncatan angka yang tidak begitu jauh dengan rata-rata 0, Pada hal ini paket yang dikirimkan akan diterima oleh semua node lain dalam jarak tertentu dari node pengirim. Protokol SPIN menerima keuntungan dari kemampuan saluran penyiaran dan mengharuskan node yang telah menerima perintah ADV untuk tidak segera merespon dengan perintah REQ. Sebaliknya, node akan menunggu dalam waktu tertentu, selama kemampuan saluran penyiaran memonitor saluran komunikasi. Jika perintah nodehears REQ dikeluarkan oleh node lain yang tertarik untuk menerima data, permintaan tersebut akan ditolak secara otomatis, sehingga menghilangkan permintaan yang sama. Ketika hal ini terjadi maka waktu pengiriman data setiap node akan berbeda. 4.2 Pengujian Terhadap Parameter NB Packet Data Forward Pada pengujian parameter NB Packet Data Forward dengan banyaknya node sebanyak 4,8,12,16 dan 20 maka didapatkan hasil sebagai Gambar 12. Grafik Hasil NB Packet Data Forward Berdasarkan pengujian Rata-rata NB Packet Data Forward yang digunakan untuk meneruskan jumlah paket data yang di teruskan oleh pesan REQ pada routing SPIN-BC dan SPIN-RL. Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata NB Packet Data Forward pada pengujian protokol routing SPIN-BC dengan waktu 30 s dengan node sebanyak 4 bernilai 0,75, node sebanyak 8 bernilai 1,75, node sebanyak 12 bernilai 1,75, node sebanyak 16 bernilai 1,875, dan node sebanyak 20 bernilai 1,9. Sedangkan protokol routing SPIN-RL dengan waktu 30 s dengan node sebanyak 4 bernilai 3,75, node sebanyak 8 bernilai 7, node sebanyak 12 bernilai 9,58333, node sebanyak 16 bernilai 8,8125, dan node sebanyak 20 bernilai 10,3. Dari hasil grafik 5.2 dapat dianalisis bahwa protokol routing SPIN-BC dan routing SPIN-RL dapat diketahui hasil rata-rata NB Packet Data Forward semakin naik jika jumlah node semakin banyak dengan rata-rata routing SPIN-BC dan rata-rata routing SPIN-RL 7, Protokol SPIN menggunakan 3 tipe jenis perintah. Perintah jenis pertama adalah ADV, yang biasanya digunakan untuk mengiklankan data baru antara node-node. Sebuah node jaringan yang memiliki data yang bisa dibagikan dengan node yang ada di sebuah jaringan dapat mengiklankan datanya sendiri dengan terlebih dahulu mengirimkan perintah ADV yang berisi metada yang menguraikan data-data tersebut. Jenis perintah kedua adalah REQ, yang biasanya digunakan untuk meminta data menarik yang telah diiklankan. Setelah menerima perintah ADV yang mengandung metadata, sebuah node jaringan biasanya tertarik untuk menerima data spesifik yang dikirimkan perintah REQ node iklan metadata, yang kemudian akan mengirimkan data yang diminta. Pada routing SPIN tidak semua node mau menerima perinntah data REQ dikarenakan tidak semua node mau menerima printah ADV. Ketikah hal tersebut terjadi maka setiap node akan menghasilkan data yang berbeda.
7 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Pengujian Terhadap Parameter TX Power Pada pengujian parameter TX Power dengan banyaknya node sebanyak 4,8,12,16 dan 20 maka didapatkan hasil sebagai berikut: Gambar 14. Grafik Hasil Nb Tx Frame Gambar 13. Grafik Hasil TX Power Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata TX Power pada pengujian protokol routing SPIN-BC dengan waktu 30 s dengan node sebanyak 4 bernilai 1.375, node sebanyak 8 bernilai , node sebanyak 12 bernilai , node sebanyak 16 bernilai , dan node sebanyak 20 bernilai 0.3. Sedangkan protokol routing SPIN-RL dengan waktu 30 s dengan node sebanyak 4 bernilai 1.375, node sebanyak 8 bernilai , node sebanyak 12 bernilai , node sebanyak 16 bernilai , dan node sebanyak 20 bernilai 0.3. Dari hasil grafik 5.3 dapat dianalisis bahwa protokol routing SPIN-BC dan routing SPIN-RL dapat diketahui rata-rata TX Power semakin menurun jika jumlah node semakin banyak dengan ratarata Dan yang digunakan dalam negosiasi SPIN disebut meta-data. Dari hasil tersebut, ia membuktikan bahwa negosiasi metadata membuat node SPIN mengirimkan bahkan satu paket data berlebihan dalam sebuah jaringan. Hasilnya energi yang digunakan oleh node secara drastis menurun. Ini karena node terhubung dengan node jalur terpendek dan setelah itu link gradien menggunakan banyak energi atau mentransmisikan dan menerima paket. Dengan demikian, mereka menghasilkan overhead dan mengurangi waktu hidup node dalam jaringan. Ketika ini terjadi maka hasil setiap node akan berubah. 4.4 Pengujian Terhadap Parameter Nb TxFrame Pada pengujian parameter Nb Tx Frame dengan banyaknya node sebanyak 4,8,12,16 dan 20 maka didapatkan hasil sebagai berikut: Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata protokol routing SPIN-BC dengan waktu 30 s dengan node sebanyak 4 bernilai 0,75, node sebanyak 8 bernilai 1,75, node sebanyak 12 bernilai 1,75, node sebanyak 16 bernilai 1,875, dan node sebanyak 20 bernilai 1,9. Sedangkan protokol routing SPIN-RL dengan waktu 30 s dengan node sebanyak 4 bernilai 3,75, node sebanyak 8 bernilai 7, node sebanyak 12 bernilai 9,58333, node sebanyak 16 bernilai 8,8125, dan node sebanyak 20 bernilai 10,3. Dari hasil grafik 5.2 dapat dianalisis bahwa protokol routing SPIN-BC dan routing SPIN-RL dapat diketahui bahwa rata-rata Nb Tx Frame, jika jumlah node semakin bertambah maka hasil jumlah node semakin meningkat dengan ratarata routing SPIN-BC dan rata-rata routing SPIN-RL7, Node SPIN mengirimkan bahkan satu paket data berlebihan dalam sebuah jaringan. Ini karena node yang terhubung dengan node jalur terpendek dan setelah itu link gradien menggunakan banyak energi atau mentransmisikan dan menerima paket Dengan demikian, mereka menghasilkan overhead dan mengurangi waktu hidup node dalam jaringan. Ketika ini terjadi link untuk setiap node akan berubah. 4.5 Pengujian Terhadap Parameter Memori Node Pada pengujian parameter Memori Node dengan banyaknya node sebanyak 4,8,12,16 dan 20 maka didapatkan hasil sebagai berikut: Gambar 15. Grafik Hasil Memori Node Pada grafik tersebut dapat diketahui bahwa
8 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 3352 rata-rata protokol routing SPIN-BC dengan waktu 30 s pada node sebanyak 4 bernilai 2, node sebanyak 8 bernilai 7.87, node sebanyak 12 bernilai 8.42, node sebanyak 16 bernilai 8.81, dan node sebanyak 20 bernilai Sedangkan pada protokol routing SPIN-RL dengan waktu 30 s diketahui rata-rata pada node sebanyak 4 bernilai 7.25, node sebanyak 8 bernilai 25.25, node sebanyak 12 bernilai 38.66, node sebanyak 16 bernilai 39.56, dan node sebanyak 20 bernilai Dari hasil grafik 5.5 dapat dianalisis bahwa protokol routing SPIN-BC dan routing SPIN-RL dapat diketahui bahwa rata-rata Memori Node akan semakin membutuhkan memory yang lebih banyak dengan jumlah node semakin banyak dengan rata-rata routing SPIN- BC 7,56 dan rata-rata routing SPIN-RL KESIMPULAN 1. Algoritma routing SPIN-BC dan SPIN-RL dapat diimplementasikan pada Wireless SensorNetwork menggunakan network simulator (OMNET++). Dengan menentukan area simulasi yang akan digunakan pada simulator. Setelah area simulasi telah ditentukan, node-node yang akan digunakan disiapkan dan ditentukan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Jika sudah dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah konfigurasi pada node yang digunakan dalam simulasi. Ketika konfigurasi yang dilakukan berhasil, maka node sink dibuat dan memposisikan node sink beserta node yang lain sesuai dengan aturan. Kemudian tambahkan link pada node yang ada dengan sinknya. Jika semua sudah selesai, tentukan routing yang digunakan pada simulasinya. Pada percobaan ini, dipilih routing SPIN-BC dan SPIN-RL. Selanjutnya simulasi dapat dilakukan. Jika simulasi tidak berhasil, maka simulasi harus dimulai dari penentuan jumlah node kembali. Jika simulasi berhasil, dapat dilakukan pengambilan data sesuai dengan parameter yang dibutuhkan. Dari pengambilan data tersebut dapat ditarik kesimpulan menggunakan grafik. 2. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan routing 2.a Pengujian hasil rata-rata latency ms, SPIN-BC menggunakan node sebanyak 4,8,12,16, dan 20 sedangkan pada routing SPIN-RL menggunkan node sebanyak 4,8,12,16 dan 20 memiliki nilai rata-rata ms. 2.b Pengujian hasil rata-rata NB Packet Data Forward yang digunakan untuk meneruskan jumlah paket data yang di teruskan oleh pesan REQ pada routing SPIN-BC rata-rata yang didapat ms dan SPIN-RL rata-rata yang didapat ms. 2.c Pengujian hasil rata-rata yang diperoleh TX Power pada pengujian protocol routing SPIN-BC dan SPIN-RL adalah 0,63292 mw. 2.d Pengujian hasil rata-rata dari parameter Nb Tx Frame pengiriman paket data routing SPIN-BC adalah 1,7 ms sedangkan SPIN-RL rata-rata yang diperoleh 7,9 ms dari sourcenode menuju paket yang diterima oleh sinknode. 2.e Pengujian hasil rata-rata dari memori node yang digunakan saat node mengirim paket data pada SPIN-BC 7,56 MB sedangkan SPIN-RL 34,454 MB. Berdasarkan dari hasil rata-rata diatas dapat disimpulkan bahwa SPIN-RL memiliki performa yang lebih baik di bandingkan dengan SPIN-BC, karena SPIN-RL dapat menanggulangi kesalahan transmisi perintah yang disebabkan oleh data loss. DAFTAR PUSTAKA A. Varga & R. Hornig An overview of omnet++ simulator, March 03-07, France. Ahmad Ramadhan Pengertian network latency. [Online] Available at : [Diakses 20 juni 2017] Alexander., & Sekercioglu, Y. Ahmed. Performance of Telecommunication Networks Experiment V: Introduction to Modeling Wireless Networks and Their Network Layer Protokols. Department of Electrical & Computer Systems Engineering, Monash University. Alexandru, & Valentin Performance Evaluation of routing algorithms used in largescale WSN: A Step Towards A Smart
9 Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer 3353 City, Stefan cel Mare, University of Suceava. G. Simon,et al Sensor network-based countersniper system. In Proc. 2nd ACM International Conference on Embedded Networked Sensor Systems (SenSys04), 2 J. Kulik, et al Negotiation-Based Protocols for Disseminating Information in Wireless Sensor Networks, Vol. 8, 2002, pp M. Thangaraj et al A study of energy model in wsn routing using omnet++, International Journal of Application or Innovation in Engineering & Management (IJAIEM), vol. 3, no. 6.
Analisis Perbandingan Performa Routing Flooding dan Convergecast Pada Wireless Sensor Network
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 1, No. 3, Maret 2017, hlm. 166-173 http://j-ptiik.ub.ac.id Analisis Perbandingan Performa Routing Flooding dan Convergecast
Perancangan dan Analisis Redistribution Routing Protocol OSPF dan EIGRP
Jurnal ELKOMIKA Teknik Elektro Itenas No.2 Vol. 2 Institut Teknologi Nasional Bandung Juli - Desember 2014 Perancangan dan Analisis Redistribution Routing Protocol OSPF dan EIGRP DWI ARYANTA, BAYU AGUNG
Studi Kinerja Multipath AODV dengan Menggunakan Network simulator 2 (NS-2)
A652 Studi Kinerja Multipath AODV dengan Menggunakan Network simulator 2 (NS-2) Bima Bahteradi Putra dan Radityo Anggoro Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, Institut Teknologi Sepuluh
ANALISIS MODIFIKASI ALGORITMA SPIN DENGAN PENAMBAHAN VC TABLE DI TinyOS
ANALISIS MODIFIKASI ALGORITMA SPIN DENGAN PENAMBAHAN VC TABLE DI TinyOS Ratna Mayasari 1, Rendy Munadi 2, Sony Sumaryo 3 1,2,3 Fakultas Elektro dan Komunikasi, Institut Teknologi Telkom 1 [email protected],
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi khususnya pada teknologi jaringan saat ini sangatlah pesat terutama dari sisi jangkauan, kemudahan akses dan penggunaaannya. Penggunaan jaringan
ANALISIS KINERJA PROTOKOL REAKTIF PADA JARINGAN MANET DALAM SIMULASI JARINGAN MENGGUNAKAN NETWORK SIMULATOR DAN TRACEGRAPH
ANALISIS KINERJA PROTOKOL REAKTIF PADA JARINGAN MANET DALAM SIMULASI JARINGAN MENGGUNAKAN NETWORK SIMULATOR DAN TRACEGRAPH Bayu Nugroho, Noor Akhmad Setiawan, dan Silmi Fauziati Jurusan Teknik Elektro
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, orang-orang ingin berkomunikasi data/informasi satu sama lain dimana saja dan kapan saja. Tentu saja hal ini tidak dapat dipenuhi oleh teknologi jaringan
ANALISIS PERBANDINGAN QoS VoIP PADA PROTOKOL IPv4 DAN IPv6 ( STUDI KASUS : LABORATORIUM KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG )
ANALISIS PERBANDINGAN QoS VoIP PADA PROTOKOL IPv4 DAN IPv6 ( STUDI KASUS : LABORATORIUM KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG ) Ferry Wahyu S Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1.1. Latar Belakang Wireless sensor network (WSN) memiliki peranan yang amat penting dalam berbagai bidang kehidupan.wsn merupakan infrastruktur suatu jaringan yang terdiri dari sekumpulan node sensor
ABSTRAK. Kata kunci: DSR, Manet, OLSR, OPNET, Routing. v Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK MANET (Mobile Ad Hoc Network) merupakan jaringan nirkabel yang terdiri dari beberapa mobile node yang saling menghubungkan antar mobile node. Jaringan MANET merupakan jaringan yang bergerak atau
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi nirkabel terus berkembang lebih maju, dan peluang penggunaanya semakin menyebar secara luas. Dengan mudahnya kita bisa menemukan tempat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pergeseran perkembangan teknologi dimulai dari teknologi bersifat tetap dan sekarang mulai bergeser menuju teknologi bersifat mobile. Untuk teknologi mobile tidak terlepas
ANALISA KINERJA AD-HOC ON DEMAND DISTANCE VECTOR (AODV) PADA KOMUNIKASI VMES
ANALISA KINERJA AD-HOC ON DEMAND DISTANCE VECTOR (AODV) PADA KOMUNIKASI VMES Kamal Syarif 2208100642 Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Achmad Affandi, DEA Ir. Djoko Suprajitno R, MT Jurusan Teknik Elektro Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. aplikasi-aplikasi jaringan memerlukan sejumlah node-node sensor terutama untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jaringan sensor nirkabel (JSN) sangat penting sejak kebanyakan aplikasi-aplikasi jaringan memerlukan sejumlah node-node sensor terutama untuk area yang tidak
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN ANALISIS SIMULASI. Pada saat menjalankan simulasi ini ada beberapa parameter yang ada dalam
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN ANALISIS SIMULASI 4.1 Implementasi Simulasi Pada saat menjalankan simulasi ini ada beberapa parameter yang ada dalam program yang harus diperhatikan, antara lain : 1. sizemobile
BAB 3 ANALISIS. Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi sistem pelacakan (tracking) dengan
BAB 3 ANALISIS 3.1 Pendahuluan Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi sistem pelacakan (tracking) dengan menggunakan teknologi Mobile Ad Hoc Network. Simulasi akan dilakukan berdasarkan beberapa skenario
Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor
Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor M. Mufid Mas Udi 2205100010 Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS, Keputih-Sukolilo, Surabaya-60111
Protokol Routing Power Efficient Gathering in Sensor Information Systems pada Wireless Sensor Network
Kevin Anggana, Veronica Windha Mahyastuty, Protokol Routing Power Efficient 51 Protokol Routing Power Efficient Gathering in Sensor Information Systems pada Wireless Sensor Network Kevin Anggana 1, Veronica
Simulasi dan Pengkajian Performa Vehicular Ad Hoc Network
Simulasi dan Pengkajian Performa Vehicular Ad Hoc Network Aletheia Anggelia Tonoro 1, Hartanto Kusuma Wardana 2, Saptadi Nugroho 3 Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer
BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI
BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI 3.1 Analisis Sistem Analisis adalah penguraian dari suatu pembahasan, dalam hal ini pembahasan mengenai analisis perbandingan teknik antrian data First
ANALISIS KINERJA POLA-POLA TRAFIK PADA BEBERAPA PROTOKOL ROUTING DALAM JARINGAN MANET
ANALISIS KINERJA POLA-POLA TRAFIK PADA BEBERAPA PROTOKOL ROUTING DALAM JARINGAN MANET Didik Imawan Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Januari 29
Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor
Metode Penyimpanan Data Secara Kolaboratif Dalam Jaringan Sensor Oleh : M. Mufid Mas Udi 2205100010 Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Wirawan,DEA 196311901989031011 Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya 2010 Latar
Analisis Kinerja EIGRP dan OSPF pada Topologi Ring dan Mesh
Jurnal ELKOMIKA Teknik Elektro Itenas No.1 Vol. 2 Institut Teknologi Nasional Bandung Januari - Juni 2014 Analisis Kinerja EIGRP dan OSPF pada Topologi Ring dan Mesh DWI ARYANTA, ARSYAD RAMADHAN DARLIS,
ANALISIS PERFORMANSI TFMCC PADA JARINGAN BROADBAND WIRELINE
ANALISIS PERFORMANSI TFMCC PADA JARINGAN BROADBAND WIRELINE Aditya Pratomo Sarwoko / 0622008 surel: [email protected] Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Kristen Maranatha
Implementasi Wireless Sensor Network Dengan Menggunakan Protokol OLSR pada Arduino Pro Mini dan NRF24L01
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 2, No. 11, November 2018, hlm. 4750-4759 http://j-ptiik.ub.ac.id Implementasi Wireless Sensor Network Dengan Menggunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan suatu cara berpikir yang dimulai dari menentukan suatu permasalahan, pengumpulan data baik dari buku-buku panduan maupun studi lapangan, melakukan
BAB IV HASIL DAN ANALISIS SIMULASI
BAB IV HASIL DAN ANALISIS SIMULASI 4.1 Skenario Simulasi Skenario simulasi yang digunakan untuk menganalisa kinerja dari protokol routing AODV, AODV+ dan AODV-UU pada sebuah jaringan ad hoc. Pada bagian
Analisis Kinerja Protokol Routing OSPF dan EIGRP Untuk Aplikasi VoIP Pada Topologi Jaringan Mesh
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 1, No. 9, Juni 2017, hlm. 960-970 http://j-ptiik.ub.ac.id Analisis Kinerja Protokol Routing OSPF dan EIGRP Untuk Aplikasi
BAB 4 PEMBAHASAN. penelitian sebelumnya, hasil tersebut kemudian dianalisis, dimana hasil dari analisis
BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Pendahuluan Pada bab ini ditampilkan hasil dari simulasi yang telah dilakukan pada tahap penelitian sebelumnya, hasil tersebut kemudian dianalisis, dimana hasil dari analisis tersebut
PENGARUH DENSITAS WIRELESS MOBILE NODE DAN JUMLAH WIRELESS MOBILE NODE SUMBER TERHADAP PATH DISCOVERY TIME PADA PROTOKOL ROUTING AODV
PENGARUH DENSITAS WIRELESS MOBILE NODE DAN JUMLAH WIRELESS MOBILE NODE SUMBER TERHADAP PATH DISCOVERY TIME PADA PROTOKOL ROUTING AODV Sunario Megawan STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA ROUTING ENHANCED INTERIOR GATEWAY PROTOCOL DENGAN ROUTING INFORMATION PROTOCOL KOMPETENSI JARINGAN KOMPUTER SKRIPSI
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA ROUTING ENHANCED INTERIOR GATEWAY PROTOCOL DENGAN ROUTING INFORMATION PROTOCOL KOMPETENSI JARINGAN KOMPUTER SKRIPSI MADE ARI SUCAHYANA NIM. 0908605036 PROGRAM STUDI TEKNIK
Implementasi Routing Protocol DSR pada Skenario Mobility Random Waypoint dengan menggunakan Propagasi Nakagami
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 6, No. 2, (217) ISSN: 2337-3539 (231-9271 Print) A-49 Implementasi Routing Protocol DSR pada Skenario Mobility Random Waypoint dengan menggunakan Propagasi Nakagami Hasbi As Shiddi
ANALISIS PROTOCOL LOW ENERGY ADAPTIVE CLUSTERING HIERARCHY PADA WIRELESS SENSOR NETWORK
ANALISIS PROTOCOL LOW ENERGY ADAPTIVE CLUSTERING HIERARCHY PADA WIRELESS SENSOR NETWORK Afif Dosen Jurusan Teknik Informatika AMIK RESKY Email : [email protected] ABSTRAK Wireless sensor network
BAB I PENDAHULUAN. nirkabel dan merupakan turunan dari MANET (Mobile Ad hoc Network). Tujuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vehicular Ad hoc Network (VANET) termasuk dalam jaringan komunikasi nirkabel dan merupakan turunan dari MANET (Mobile Ad hoc Network). Tujuan dasar VANET adalah untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini komunikasi menggunakan perangkat cerdas seperti smartphone, tablet, dan laptop telah menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi semua orang. Kemajuan teknologi
Implementasi Routing Protocol DSR pada Skenario Mobility Random Waypoint dengan menggunakan Propagasi Nakagami
A396 Implementasi Routing Protocol DSR pada Skenario Mobility Random Waypoint dengan menggunakan Propagasi Nakagami Hasbi As Shiddi Qi, Radityo Anggoro, Muchammad Husni Departemen Teknik Informatika, Fakultas
ANALISIS KINERJA PROTOKOL ROUTING AODV DAN OLSR PADA JARINGAN MOBILE AD-HOC
ANALISIS KINERJA PROTOKOL ROUTING AODV DAN OLSR PADA JARINGAN MOBILE AD-HOC SONY CANDRA D. NRP 5104 100 008 Dosen Pembimbing Ir. Muchammad Husni, M.Kom. JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA Fakultas Teknologi Informasi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem komunikasi memiliki dampak yang besar terhadap efisiensi dan kemudahan pengguna pada sistem transportasi, diantaranya memeberikan informasi seperti kondisi cuaca,
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi komputer membantu semua aspek kehidupan manusia. Contoh nyata dari kemajuan teknologi komputer adalah perkembangan teknologi nirkabel (wireless)
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. topologi yang akan dibuat berdasarkan skematik gambar 3.1 berikut:
BAB 3 PERANCANGAN SISTEM 3.1. TOPOLOGI SISTEM JARINGAN Dalam penelitian ini dilakukan pengembangan dan implementasi teknologi MIPv4 dengan diperhatikannya faktor kualitas layanan dan kehandalan. Adapun
BAB I PENDAHULUAN. yang dikerahkan di daerah pemantauan dengan jumlah besar node sensor mikro.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jaringan sensor nirkabel (JSN) adalah sebuah teknologi interdisipliner yang dikerahkan di daerah pemantauan dengan jumlah besar node sensor mikro. Secara umum
1 BAB I PENDAHULUAN ULUAN
ULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan manusia untuk melakukan komunikasi semakin besar dari waktu ke waktu. Saat ini, komunikasi bergerak menjadi kebutuhan komunikasi yang sudah tidak
BAB III METODOLOGI. beragam menyebabkan network administrator perlu melakukan perancangan. suatu jaringan dapat membantu meningkatkan hal tersebut.
BAB III METODOLOGI 3.1 Introduksi Kondisi jaringan yang semakin kompleks dan penggunaan aplikasi yang beragam menyebabkan network administrator perlu melakukan perancangan jaringan dengan performa yang
Perancangan dan Analisis Perbandingan Implementasi OSPF pada Jaringan IPv4 dan IPv6
Jurnal ELKOMIKA Teknik Elektro Itenas No.1 Vol. 2 Institut Teknologi Nasional Bandung Januari - Juni 2014 Perancangan dan Analisis Perbandingan Implementasi OSPF pada Jaringan IPv4 dan IPv6 PAULINE RAHMIATI,
A. TUJUAN PEMBELAJARAN
A. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Siswa memahami konsep gateway 2. Siswa memahami skema routing 3. Siswa memahami cara kerja router 4. Siswa mampu melakukan konfigurasi static routing B. DASAR TEORI 1. Routing
AS IR O R U O TI U N TI G P AD
Tesis OPTIMASI ROUTING PADA JARING DATA MULTI JALUR MENGGUNAKAN METODE ANT COLONY OPTIMIZATION (ACO) Nama : Agus Kurniwanto NIM : 2209206803 PROGRAM STUDI MAGISTER BIDANG KEAHLIAN TELEMATIKA JURUSAN TEKNIK
IMPLEMENTASI KOLABORASI NODE PADA SISTEM KOMUNIKASI AD HOC MULTIHOP BERBASIS JARINGAN SENSOR NIRKABEL
IMPLEMENTASI KOLABORASI NODE PADA SISTEM KOMUNIKASI AD HOC MULTIHOP BERBASIS JARINGAN SENSOR NIRKABEL Oleh : Angga Galuh Pradana 2204 100 005 Pembimbing : Dr. Ir. Wirawan, DEA NIP : 1963 1109 1989 0310
BAB I PENDAHULUAN. jaringan Local Area Network (LAN). LAN telah menjadi suatu teknologi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu jaringan telekomunikasi yang sedang berkembang adalah jaringan Local Area Network (LAN). LAN telah menjadi suatu teknologi yang sangat banyak digunakan baik
Pembandingan Kinerja Antara Protokol Dynamic Source Routing Dan Zone Routing Pada Jaringan Ad-Hoc Wireless Bluetooth
Pembandingan Kinerja Antara Protokol Dynamic Source Routing Dan Zone Routing Pada Jaringan Ad-Hoc Wireless Bluetooth Oleh : DICKY RACHMAD PAMBUDI Dosen Pembimbing : Dr.Ir. Achmad Affandi, DEA LATAR BELAKANG
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Deskripsi Umum Sistem Pada penelitian ini, akan dilakukan pengembangan algoritma routing Spray and Wait pada Delay-Tolerant Network (DTN) dengan menambahkan
ANALISA ALGORITMA LEACH (Low-Energy Adaptive Clustering Hierarchy) PADA JARINGAN SENSOR NIRKABEL
ANALISA ALGORITMA LEACH (Low-Energy Adaptive Clustering Hierarchy) PADA JARINGAN SENSOR NIRKABEL Oleh : Muhammad Adi Permana 2206 100 652 Pembimbing : Dr. Ir. Wirawan, DEA NIP : 1963 1109 1989 0310 11
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang VANET (Vehicular Ad Hoc Network) adalah bagian dari MANET (Mobile Ad Hoc Network) dimana setiap node yang berada pada cakupan suatu jaringan bisa bergerak dengan bebas
Analisis Kinerja Protokol Ad Hoc On-Demand Distance Vector (AODV) dan Fisheye State Routing (FSR) pada Mobile Ad Hoc Network
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 2, No. 7, Juli 2018, hlm. 2626-2636 http://j-ptiik.ub.ac.id Analisis Kinerja Protokol Ad Hoc On-Demand Distance Vector ()
Analisa Kinerja Routing Protokol pada Jaringan Sensor Nirkabel dengan Metode Gradient Based Approach
Analisa Kinerja Routing Protokol pada Jaringan Sensor Nirkabel dengan Metode Gradient Based Approach Kunpraga Maulana Arrossy, Tri Budi Santoso, Prima Kristalina Jurusan Telekomunikasi Politeknik Elektronika
ROUTING. Pengiriman Langsung & Tidak Langsung
Modul 07 ROUTING Dalam suatu sistem packet switching, routing mengacu pada proses pemilihan jalur untuk pengiriman paket, dan router adalah perangkat yang melakukan tugas tersebut. Perutean dalam IP melibatkan
ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMANSI PROTOKOL ROUTING AODV DAN DSDV PADA WIRELESS SENSOR NETWORK
ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMANSI PROTOKOL ROUTING DAN PADA WIRELESS SENSOR NETWORK COMPARATIVE ANALYSIS OF AND ROUTING PROTOCOLS PERFORMANCE ON WIRELESS SENSOR NETWORK Justisia Satiti 1, Indrarini Dyah
Studi Perbandingan antara Dynamic Routing dan Greedy Routing Pada Pengiriman Data Jaringan Sensor Nirkabel
Studi Perbandingan antara Dynamic Routing dan Greedy Routing Pada Pengiriman Data Jaringan Sensor Nirkabel Dani Priambodo 2207 100 538 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi
Bab 3 Parameter Simulasi
Bab 3 Parameter Simulasi 3.1 Parameter Simulasi Simulasi yang dilakukan pada penelitian ini memakai varian jaringan wireless mesh yaitu client mesh. Dalam hal ini akan digunakan client mesh dengan jumlah
ANALISA PERFORMANSI DYNAMIC SOURCE ROUTING (DSR) PADA WIRELESS AD HOC NETWORK
ANALISA PERFORMANSI DYNAMIC SOURCE ROUTING (DSR) PADA WIRELESS AD HOC NETWORK Didik Purwanto 1, Dr.Rendy Munadi, Ir, MT. 2, Yudha Purwanto,S.T. 3 1,2,3 Jurusan Teknik Elektro Sekolah Tinggi Teknologi Telkom
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring perkembangan internet, muncul tuntutan dari para pengguna jasa telekomunikasi agar mereka dapat memperoleh akses data dengan cepat dimana pun mereka berada.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III MEODE PENELIIAN Metode penelitian yang digunakan dalam pengerjaan tugas akhir ini adalah studi kepustakaan, percobaan dan analisis. Dengan ini penulis berusaha untuk mengumpulkan data dan informasi-informasi,
KINERJA LEACH PROTOCOL PADA WSN YANG BEKERJA DI LINGKUNGAN DENGAN TEMPERATUR YANG TINGGI
KINERJA LEACH PROTOCOL PADA WSN YANG BEKERJA DI LINGKUNGAN DENGAN TEMPERATUR YANG TINGGI Abdi Wahab 1, Mudrik Alaydrus 2 Program Studi Magister Teknik Elektro, Fakultas Pascasarjana, Universitas Mercu
METODE PENELITIAN. Studi Pustaka. Proses Simulasi. Analisis Hasil. Gambar 11 Metode penelitian.
unicast, multicast, atau anycast yang oleh sumber diberi label sebagai traffic flow (RFC-3697 2004). Hop Count: banyaknya node yang harus dilewati oleh suatu paket dari node asal ke node tujuan (Altman
Analisa Simulasi Routing Protokol pada WSN dengan Metode Geographic Based Approach
Analisa Simulasi Routing Protokol pada WSN dengan Metode Geographic Based Approach Galih Ridha Achmadi, Tri Budi Santoso, Prima Kristalina Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institute Teknologi Sepuluh
Perbandingan Performansi Protokol Routing Epidemic dan Maxprop Berdasarkan Mobilitas Node pada Delay Tolerant Network
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 2, No. 8, Agustus 2018, hlm. 2682-2691 http://j-ptiik.ub.ac.id Perbandingan Performansi Protokol Routing Epidemic dan Maxprop
ABSTRAK. Kata Kunci : GRE, HTTP, IMS, IPsec, L2TP, OPNET Modeler 14.5, Video Call, VoIP, VPN.
ABSTRAK VPN merupakan sebuah teknologi yang hadir sebagai solusi dari tuntutuan user yang menginginkan proses pengiriman data yang lebih aman dan sudah banyak dipakai oleh Service Provider pada jaringan
ANALISIS KUALITAS VIDEO CONFERENCE PADA MOBILE AD-HOC NETWORK (MANET) MENGGUNAKAN PROTOKOL MAODV LEMBAR JUDUL SKRIPSI
ANALISIS KUALITAS VIDEO CONFERENCE PADA MOBILE AD-HOC NETWORK (MANET) MENGGUNAKAN PROTOKOL MAODV LEMBAR JUDUL SKRIPSI A.A. MADE AGUNG ISTRI ISWARI NIM. 1108605047 PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA JURUSAN
BAB III METODE PENELITIAN. studi kepustakaan, percobaan dan analisis. Dengan ini penulis berusaha untuk
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam pengerjaan tugas akhir ini adalah studi kepustakaan, percobaan dan analisis. Dengan ini penulis berusaha untuk mengumpulkan
Widianto Wahyu Perdana¹, Rendy Munadi ², Yudha Purwanto³. ¹Teknik Telekomunikasi, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Telkom
Tugas Akhir - 2011 ANALISIS PERBANDINGAN IMPLEMENTASI PROTOKOL ROUTING ENHANCED INTERIOR GATEWAY ROUTING PROTOCOL (EIGRP) DAN OPEN SHORTEST PATH FIRST (OSPF) UNTUK LAYANAN VIDEO STREAMING Widianto Wahyu
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vehicular Ad-hoc Network (VANET) merupakan perkembangan dari Mobile Adhoc Network (MANET). Perbedaan utama antara kedua sistem tersebut dimana VANET adalah jaringan
IMPLEMENTASI STATIC NAT TERHADAP JARINGAN VLAN MENGGUNAKAN IP DYNAMIC HOST CONFIGURATION PROTOCOL (DHCP)
Jurnal Ilmiah Informatika Volume 1 No. 1 / Desember 26 IMPLEMENTASI STATIC NAT TERHADAP JARINGAN VLAN MENGGUNAKAN IP DYNAMIC HOST CONFIGURATION PROTOCOL (DHCP) Juwanda Natali 1), Fajrillah 2), T.M.Diansyah
Perancangan dan Simulasi Routing Static Berbasis IPV4 Menggunakan Router Cisco
ISSN: 2088-4591 Vol. 5 No. 2 Edisi Nopember 2015 Perancangan dan Simulasi Routing Static Berbasis IPV4 Menggunakan Router Cisco Imam Marzuki Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Panca
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 1 DAN PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini membahas tentang analisis dan perancangan sistem. Pembahasan yang dianalisis terbagi menjadi 2 yaitu analisis masalah dan analisis
DESAIN TOPOLOGI KOMUNIKASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) PADA APLIKASI SISTEM STRUCTURAL HEALTH MONITORING (SHM) JEMBATAN ABSTRAK
DESAIN TOPOLOGI KOMUNIKASI WIRELESS SENSOR NETWORK (WSN) PADA APLIKASI SISTEM STRUCTURAL HEALTH MONITORING (SHM) JEMBATAN Evy Nur Amalina 1, Eko Setijadi 2, Suwadi 3 1 Program Teknik Informatika, Universitas
BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI
BAB V IMPLEMENTASI DAN HASIL SIMULASI 5.1 Implementasi Simulasi Kinerja jaringan Adhoc sebagian besar dipengaruhi oleh letak geografis wilayah, banyaknya faktor yang mempengaruhi membuat pengiriman data
BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI SOFTSWITCH. suatu pemodelan softswitch ini dilakukan agar mampu memenuhi kebutuhan
BAB III PERANCANGAN DAN SIMULASI SOFTSWITCH Berdasarkan pada penjelasan dari bab sebelumnya, maka dibuatlah suatu perancangan pemodelan softswitch sebelum simulasi dilakukan. Perancangan suatu pemodelan
Analisis Pengiriman Data Di Daerah Terpencil Menggunakan Dua Node Bergerak Berbasis Delay Tolerant Network (DTN) Dengan Algoritme Flooding
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 2, No. 9, September 2018, hlm. 2882-2891 http://j-ptiik.ub.ac.id Analisis Pengiriman Data Di Daerah Terpencil Menggunakan
Studi Perbandingan Kinerja Model Transmisi TwoRayGround dan Nakagami pada OLSR di Lingkungan MANET Menggunakan NS-2
A566 Studi Perbandingan Kinerja Model Transmisi TwoRayGround dan Nakagami pada OLSR di Lingkungan MANET Menggunakan NS-2 Dhiya an Sabila Ramadhani, Radityo Anggoro Jurusan Teknik Informatika, Fakultas
Evaluasi Pervormance Dari AODV Routing Protokol Pada Jaringan Ad Hoc Dengan Testbed
Evaluasi Pervormance Dari AODV Routing Protokol Pada Jaringan Ad Hoc Dengan Testbed Eri Sugiantoro Laboratory for Telecommunication Networks Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya 60111 Tel
Large Scale Networks: Switching & Forwarding (Week 5)
Large Scale Networks: Switching & Forwarding (Week 5) Jaringan Komputer Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Semester 003/004 Versi: 1.01 Overview Komponen jaringan: hosts & links Jaringan pada
ANALISIS KINERJA JARINGAN RSVP MENGGUNAKAN SIMULATOR OPNET
ANALISIS KINERJA JARINGAN RSVP MENGGUNAKAN SIMULATOR OPNET Panji Firmansyah, Naemah Mubarakah Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Jl. Almamater, Kampus USU Medan 20155
1 BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1-1. Hybrid Ad Hoc Wireless Topology
1.1 Latar belakang masalah 1 BAB I PENDAHULUAN Jaringan hybrid wireless ad hoc adalah gabungan antara jaringan infrastruktur dengan MANET yang memungkinkan adanya node yang bergerak bebas/mobile yang dapat
BAB 4. Setelah melakukan perancangan topologi untuk merancang sistem simulasi pada
BAB 4 PENGUJIAN SISTEM DAN HASIL PENGUJIAN 4.1 Skenario Pengujian Setelah melakukan perancangan topologi untuk merancang sistem simulasi pada layanan VoIP, maka langkah selanjutnya adalah penulis mensimulasikan
Implementasi Kolaborasi Node Pada Sistem Komunikasi Ad Hoc Multihop Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel
Implementasi Kolaborasi Node Pada Sistem Komunikasi Ad Hoc Multihop Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel Angga Galuh Pradana 2204100005 Jurusan Teknik Elektro-FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus
Journal of Control and Network Systems
JCONES Vol. 4, No. 1 (215) 1-15 Journal of Control and Network Systems SitusJurnal : http://jurnal.stikom.edu/index.php/jcone ANALISIS PERBANDINGAN PROTOCOL ROUTING AD HOC UNTUK JARINGAN BERSKALA BESAR
Network Layer JARINGAN KOMPUTER. Ramadhan Rakhmat Sani, M.Kom
Network Layer JARINGAN KOMPUTER Ramadhan Rakhmat Sani, M.Kom Objectives Fungsi Network Layer Protokol Komunikasi Data Konsep Pengalamatan Logis (IP) Konsep Pemanfaatan IP Konsep routing Algoritma routing
BAB II TEORI DASAR. Resource Reservation Protocol (RSVP) merupakan protokol pada layer
BAB II TEORI DASAR 2.1 Pendahuluan Resource Reservation Protocol (RSVP) merupakan protokol pada layer transport yang digunakan untuk meminta kualitas layanan QoS tinggi transportasi data, untuk sebuah
Analisis Kinerja Protokol Routing Ad Hoc On-Demand Multipath Distance Vector (AOMDV) Pada Mobile Ad Hoc Network. Tugas Akhir
Analisis Kinerja Protokol Routing Ad Hoc On-Demand Multipath Distance Vector (AOMDV) Pada Mobile Ad Hoc Network Tugas Akhir Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Meraih Gelar Sarjana Strata 1 Teknik
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi berkembang dengan pesatnya, kebutuhan masyarakat akan komunikasi dan mengakses informasi pun semakin mudah. Perangkat mobile
STUDY ANALISIS QOS PADA JARINGAN MULTIMEDIA MPLS
SNTIKI III 211 ISSN : 285-992 1 STUDY ANALISIS QOS PADA JARINGAN MULTIMEDIA M. Yanuar Hariyawan 1, M.Susantok 2, Rini Tampubolon 3 1,2,3 Program Studi Teknik Elektronika Telekomunikasi, Politeknik Caltex
Analisis Perbandingan Performa Protokol Routing OSPF, IGRP dan EIGRP pada Topologi Mesh dan Tree
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 2, No. 7, Juli 218, hlm. 2825-2833 http://j-ptiik.ub.ac.id Analisis Perbandingan Performa Protokol Routing OSPF, IGRP dan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah congestion sering ditemukan dalam proses jalur data pada internet, yang pada umumnya diartikan sebagai proses terjadinya perlambatan atau kemacetan. Perlambatan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. mendapat perbandingan unjuk kerja protokol TCP Vegas dan UDP dengan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan yang dilakukan merupakan hasil dari percobaan terhadap parameter-parameter yang telah ditentukan. Setelah itu dilakukan analisis untuk mendapat perbandingan unjuk
Medi Taruk
Simulasi Routing Protocol OSPF Dan EIGRP Medi Taruk [email protected] http://meditaruk.web.ugm.ac.id http://meditaruk.blogspot.com Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan,
Routing adalah proses dimana suatu router mem-forward paket ke jaringan yang dituju. Suatu router membuat keputusan berdasarkan IP address yang
RIJAL FADILAH S.Si Routing adalah proses dimana suatu router mem-forward paket ke jaringan yang dituju. Suatu router membuat keputusan berdasarkan IP address yang dituju oleh paket. Semua router menggunakan
