Deteksi Resistensi Mycobacterium kusta Secara Molekuler
|
|
|
- Hadian Halim
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 36 Deteksi Resistensi Mycobacterium kusta Secara Molekuler Mudatsir Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Abstrak Penyakit kusta atau Morbus Hansen adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Basil ini pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut dan saluran nafas atas, dan organ-organ lainnya. Sampai saat ini penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan terutama di negaranegara berkembang termasuk Indonesia.Sejak dimulainya pengobatan Multydrug Therapy (MDT) pada tahun 1980 banyak penderita kusta dapat disembuhkan dan dengan sendirinya jumlah penderita kusta terdaftar juga berkurang. Namun, munculnya laporan resistensi terhadap satu atau lebih antibiotik yang digunakan merupakan ancaman serius terhadap program pengendalian penyakit kusta karena MDT yang digunakan selama ini sangat efektif dalam pengobatan penyakit kusta. Uji resistensi Mycobacterium leprae secara konvensional sampai sekarang masih menjadi kendala karena bakteri tersebut belum berhasil dibiakkan dalam media buatan. Namum pada era biologi molekuler seperti sekarang ini kendala ini mulai dapat diatasi. Uji resistensi secara molekuler yang sering dilakukan untuk mendeteksi gen rpob, folp1 dan gyra yang merupakan gen-gen yang berperan dalam resistensi M.leprae terhadap rifampisin, dapson dan golongan kuinolon Kata Kunci: Multydrug Therapy (MDT), Resisten, Kusta, gen rpob, folp1 dan gyra Pendahuluan 439
2 Penyakit kusta merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di beberapa Negara didunia, termasuk Indonesia. Penyakit kusta banyak menimbulkan masalah bukan hanya dalam segi medis saja tetapi juga dari segi mental, sosial, ekonomi dan budaya penderita. Kusta termasuk salah satu dari 10 penyakit tropis yang terabaikan (neglected tropical diseases) (1). Penderita kusta tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak seperti keluarga, tenaga kesehatan dan masyarakat sekitar dalam menghadapi dalam kehidupan sehari-hari yang penuh tekanan. World Health Organization (WHO) telah mencanangkan program eliminasi kusta di seluruh dunia tahun 1990, dimana setiap negara harus menurunkan prevalensi kusta di bawah 1/ penduduk pada tahun Dari semua kasus di dunia 82% terdapat di 5 negara, yaitu Brazil, India, Indonesia, Congo dan Bangladesh (2). Di Indonesia sendiri masih terdapat sejumlah kantong-kantong kusta dengan angka prevalensi secara nasional 0,86/ penduduk (3). Pengendalian kusta menunjukkan hasil yang cukup signifikan dengan dilaksanakannya Multidrug Therapy (MDT).Program Pengobatan MDT yang telah dimulai sejak tahun 1980 menunjukkan hasil yang luar biasa dengan menurunnya jumlah penderita kusta secara dramatik dari 5,4 juta orang yang terdaftar (dari estimasi total juta) ditahun 1985, menjadi tinggal orang (dari estimasi total 1,6 juta) di tahun Menurut WHO jumlah penderita kusta baru sampai akhir tahun 2013 di seluruh dunia berjumlah orang (4). Menurunnya penderita kusta baru menunjukkan keberhasilan dalam pengobatan penyakit kusta, namun beberapa tahun belakangan ini mulai dilaporkan 440
3 adanya resistensi agen penyebab kusta yaitu Mycobacterium leprae resisten terhadap MDT tersebut. Sejumlah kasus kusta yang diobati dengan MDT mulai menunjukkan tidak adanya respon terhadap MDT. Adanya kasus resistensi MDT tersebut bila tidak didteksi akan menjadi masalah baru dalam pengendalian penyakit kusta. Pemeriksaan resistensi terhadap M. kusta tidak dapat dilakukan dengan metode mikrobiologi konvensional karena bakteri ini tidak bisa dibiakkan pada medium artifisial. Metode konvensional untuk mendeteksi resistensi menggunakan hewan coba seperti tikus untuk uji resistensi terhadap obat tidak efektif. Kekeurangan dari metode tersebut adalah sangat rumit, memakan waktu dan hanya bisa dilakukan pada laboratorium tertentu serta tidak praktis (5). Artikel ini akan membahas tentang cara mendeteksi kasus resistensi terhadap MDT secara molekuler. Analisis resistensi molekuler ini yang akan dibahas mencakup epidemiolgi kusta, regimen pengobatan MDT pada penderita kusta. Analisis mendalam juga akan dilakukan dengan metode deteksi resistensi MDT secara molekuler pada M. leprae khususnya pada gen gen rpob, folp1 dan gyra yang merupakan gen-gen yang berperan dalam penentuan resistensi terhadap rifampisin, dapson dan golongan kuinolon. Epidemiologi Penyakit Kusta Penderita kusta di seluruh dunia menurun drastis karena tahun 1993 WHO mencanangkan program Elimination of Leprosy by the year 2000, dimana seluruh negara di dunia harus menurunkan prevalensi kusta di bawah 1 per penduduk agar kusta tidak lagi menjadi masalah kesehatan (6). Dengan Program Pengobatan Multi Drug Therapy (MDT) yang telah dimulai sejak tahun 1980, jumlah keseluruhan 441
4 penderita kusta di seluruh dunia telah berkurang secara dramatik dari 5,4 juta orang yang terdaftar (dari estimasi total juta) ditahun 1985, menjadi tinggal orang (dari estimasi total 1,6 juta) di tahun Pada akhir tahun 2014 jumlah penderita kusta di seluruh dunia berjumlah (7) Program eliminasi kusta tahun 2000 tersebut memang bisa dicapai oleh beberapa negara, namun Indonesia tidak bisa mencapai pada tahun tersebut karena beberapa kendala. Meskipun angka prevalensi kusta pada tahun 2000 telah turun sampai 1,09/ penduduk, tercatat masih ada kabupaten dan propinsi di Indonesia yang angka prevalensinya di atas target Penyebaran penyakit ini di Indonesia tidak merata, sebagian besar kasus ditemukan di Indonesia Bagian Timur disertai adanya kantong-kantong endemik dengan prevalensi cukup tinggi (8). Regimen Pengobatan Multidrug Therapy pada Penderita Kusta Pada era sebelum tahun 1940 untuk mengobati penderita kusta menggunakan suntikan minyak chaulmogra, namun cara ini menimbulkan banyak efek samping dan perlu waktu sangat lama (8,9). Sejak ditemukannya DDS (Diamino-DiphenylSulphone) tahun 1942 dimulailah era kemoterapi antikusta yang menunjukkan hasil yang nyata secara klinik dan bakteriologik. Pengobatan penderita bertujuan membunuh kuman kusta, dengan demikian pongobatan akan: 1) memutuskan mata rantai penularan, 2) menyembuhkan penyakit pendrita dan, 3) mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan. (8) Penggunaan Multidrug Therapy (MDT) dilakukan dengan mengkombinasi dua atau lebih obat anti kusta, yang salah satunya harus 442
5 terdiri atas rifampisin sebagai anti kusta yang sifatnya bakterisid kuat dengan anti kusta lain yang bersifat bakteriostatik. Rifampisin diberikan hanya sebulan sekali. (9,10). Beberapa laporan tidak menunjukkan ada efek toksik telah dilaporkan dalam kasus dari pemberian rifampisin ini. Biasanya penderita urin akan berwarna kemerahan sedikit selama beberapa jam setelah pemberian. Hal ini harus dijelaskan kepada pasien saat mulai MDT. Klofazimin paling aktif bila diberikan setiap hari. Obat ini ditoleransi dengan baik dan hampir tidak beracun dalam dosis yang digunakan untuk MDT. Obat ini menyebabkan perubahan warna hitam kecoklatan dan kekeringan kulit. (8,10) Namun, ini menghilang dalam waktu beberapa bulan setelah menghentikan pengobatan. Ini harus dijelaskan kepada pasien yang mulai MDT rejimen untuk kusta MB. Obat ini sangat aman dalam dosis yang digunakan dalam MDT dan efek samping yang jarang terjadi. Efek samping utama adalah reaksi alergi, menyebabkan ruam kulit gatal dan dermatitis eksfoliatif. Pasien yang diketahui alergi terhadap salah satu obat sulfa tidak boleh diberikan dapson. (1,8,11) Metode Deteksi Resistensi Multidrug Therapy Secara Molekuler Terapi MDT diperkenalkan untuk pengendalian kusta dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya resistensi obat pada Mycobacterium leprae. Penggunaan MDT dalam pengendalian kusta secara nyata menurun prevalensi kusta secara global selama dua dekade terakhir. Namun, sekarang mulai dilaporkan adanya resistensi terhadap MDT ini diberbagai negara di dunia. Informasi adanya resistensi ini sangat penting untuk mengevaluasi kemanjuran MDT dan untuk menjaga efektivitas arus strategi pengendalian kusta. Oleh karena itu diperlukan 443
6 teknik secara molekuler untuk mendeteksi resistensi M. leprae terhadap antibiotik MDT tersebut. Deteksi resistensi secara konvensional dengan metode difusi atau dilusi tidak dapat dilakukan pada M.lepraea karena bakteri ini tidak dapat dibiakkan pada media artifisial (media buatan). Sebelum berkembangnya terknik biologi molekuler untuk memeriksa adanya kekebalan atau resistensi terhadap obat kusta, hanya bisa lewat inokulasi M.kusta pada telapak kaki tikus. Tikus yang telah terinfeksi tersebut diberi obat anti kusta untuk melihat apakah jumlah kuman berkurang atau tidak. Prosedur ini memerlukan waktu minimal 6 bulan sebelum diketahui apakah ada resistensi atau tidak (12). Metode pemeriksaan secara konvensional untuk mendeteksi resistensi menggunakan hewan coba ini untuk uji resistensi terhadap obat tidak efektif. Kekeurangan dari metode tersebut adalah sangat rumit, memakan waktu dan hanya bisa dilakukan pada laboratorium tertentu serta tidak praktis. Kini dengan tehnik biomolekuler, dalam waktu 3 hari sudah bisa diketahui adanya resistensi lewat analisis adanya mutasi pada DNA dari M.leprae (13,14). Dari beberapa laporan hasil penelitian menunjukkan frekuensi mutasi M. leprae dalam resistensi obat menentukan wilayah gen yang berpengaruh pada resistensi MDR adalah gen folp1, rpob, dan gen gyra. Ketiga gen tersebut sekarang digunakan untuk mendeteksi resistensi resisten terhadap dapson, rifampisin, dan ofloxacin. Untuk mengetahui resisistensi terhadap gen tersebut dilakukan sekuensing DNA terhadap M.leprae (15). Resistensi terhadap regimen MDT seperti dapson, rifampisin dan ofloxacin, berlangsung pada asam amino substitusi yang mengikat obat tersebut. Cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui mekanisme 444
7 resistensi dapat dilakukan dengan menggunakan metode uji berbasis DNA sekuensing dan deteksi DNA dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) secara langsung. Untuk mengetahui resisistensi terhadap gen tersebut dilakukan sekuensing DNA terhadap M. kusta.lokus yang mengalami mutasi terhadap MDR dapat dilihat pada gambar berikut. Daerah gen yang digunakan untuk mendeteksi MDR secara molekuler adalah adalah gen folp1, rpob, dan gen gyra. (15,16,17) Langkah pertama dalam deteksi resistensi adalah ekstraksi DNA sampel, kemudian diikuti oleh amplifikasi oleh Polymerase Chain Reaction (PCR) daerah menentukan resisten yaitu di gen rpob, folp dan gen gyra. Amplifikasi daerah target akan dikonfirmasi oleh agarosa elektroforesis. Produk PCR kemudian dimurnikan dan dilanjtkan dengan sekuensing fragmen pendek. Daerah mutasi yang diamati setelah sekuensing digunakan untuk mengetahui daerah mutasi terhadap gen folp1, rpob, dan gen gyra (15). Daerah mutasi tersebut dapat dilihat pada gambar 1 berikut. Gambar 1. Mutasi dan resistensi terhadap MDT (15) Prinsip deteksi secara biologi molekuler adalah melihat urutan nukleotida pada gen yang menyandi enzim dimana obat anti kusta 445
8 bekerja. Sebagai contoh, DDS bekerja menghambat enzim dehydropteroat dimana enzim tersebut disandi oleh gen folp. Urutan nukleotida normal dari gen folp ini telah diketahui dari bank data. Dengan membandingkan urutan nukleotida hasil sekuensing isolat M.leprae yang dicurigai dengan urutan nukleotida yang normal, dapat dilihat terjadinya mutasi. Perubahan nukleotida ini menyebabkan perubahan asam amino yang selanjutnya merubah enzim yang dibentuknya. Akibatnya DDS tidak bisa lagi bekerja pada enzim dihydropteroate synthase yang telah berubah sifat ini (18). Begitu pula mutasi pada gen rpob akan menyebabkan terjadinya resistensi terhadap rifampisin karena enzim dimana obat tersebut bekerja telah berubah. (19) Dari beberapa laporan hasil penelitian secara molekuler menunjukkan frekuensi mutasi M. leprae dalam resistensi MDT berkisar 2% sampai 5% (20,21) Kesimpulan Resistensi terhadap regimen MDT seperti dapson, rifampisin dan ofloxacin terjadi pada asam amino substitusi yang mengikat obat tersebut. Untuk mendeteksi resistensi resistensi tersebut dapat dilakukan dengan teknik biologi molekuler terhadap gen rpob, folp1 dan gyra yang merupakan gen-gen yang berperan dalam resistensi M. leprae terhadap rifampisin, dapson dan golongan kuinolon. Daftar Pustaka 1. World Health Organization. WHO recommended MDT regimens Diakses tanggal 12 Oktober World Health Organization. Global Leprosy Situation Weekly Epidemiological Record : Lystiawan Y. Menuju Indonesia Bebas Kusta. Bulletin Perdoski :
9 4. World Health Organization. Global Leprosy Situation Weekly Epidemiological Record : Ebenezer, G. J., G. Norman, G. A. Joseph, S. Daniel, and C. K. Job. Drug resistant Mycobacterium leprae results of mouse footpad studies from a laboratory in south India. Indian Journal Leprosy : Britton, WJ. And Lockwood, DNJ. Leprosy. The Lancet : World Health Organization. Leprosy Today Diakses tanggal 12 Oktober Departemen Kesehatan RI. Buku Pedoman Nasional Pengendalian Penyakit Kusta Direktorat Jenderal Pengendaliam Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 9. Truman, R. Distinguishing Genotypic Variations of Mycobacterium leprae National Hansen s Disease Program BPHC/HRSA, Baton Rauge, USA. 10. William DL and Gillis TP. Drug-resistant leprosy: Monitoring and current Status. Leprosy Review : World Health Organization. Guide to Eliminate Leprosy as a Public Health Problem WHO. Geneva. 12. Ebenezer, G. J., G. Norman, G. A. Joseph, S. Daniel, and C. K. Job. Drug resistant Mycobacterium leprae results of mouse footpad studies from a laboratory in south India. Indian Journal of Leprosy : Musser, J. M. Antimicrobial agent resistance in mycobacteria: molecular genetic insights. Clinical Microbiology Review : Indropo I, Penyakit Kusta Penyakit Tua dengan Segudang Misteri. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, 19 April World Health Organization. Guidelines for Global Surveillance of Drug Resistance in Leprosy WHO, Regional Office for South-East Asia, Indraprastha Estate, Mahatma Gandhi Marg, New Delhi, India. 16. Cambau E, Chauffour-Nevejans AI, Tejmar-Kolar L, Matsuoka M and Jarlier V. Detection of Antibiotic Resistance in Leprosy UsingGenoType LepraeDR, a Novel Ready-To-Use Molecular Test.. PLoS. Neglected Tropical Diseases :
10 17. Kai M. Nhu HN, Hoang AN, Hoang BD, Khanh HN, Miyamoto N, Maeda Y, Fukutomi Y, Nakata N,i Matsuoka M Makino M and Nguyen HT. Analysis of Drug-Resistant Strains of Mycobacterium leprae in an Endemic Area of Vietnam. Clinical Infection Diseases : Williams, D. L., L. Spring, E. Harris, P. Roche, and T. P. Gillis. Dihydropteroate synthase of Mycobacterium leprae and dapsone resistance. Antimicrobial. Agents Chemotherapy : Honore, N., E. Perrani, A. Telenti, J. Grosset, and S. T. Col. A simple and rapid technique for the detection of rifampin resistance in M.leprae International Journal Leprosy and Other Mycobacterium. Diiseases. 61: Weil L., Matsuoka M., Kai M.,Thapa P., Khadge S., Hagge DA., Brennan PJ and Vissa V. Real-Time PCR and High-Resolution Melt Analysis for RapidDetection of Mycobacterium leprae Drug Resistance Mutations and Strain Types. Journal of Clinical Microbiology : Kai M., Nakata N., Matsuoka M. Sekizuka T., Kuroda M and Makino M Characteristic mutations found in the ML0411 gene of Mycobacterium leprae isolated in Northeast Asian countries Infection, Genetics and Evolution 19:
BAB I PENDAHULUAN. kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler. mengenai organ lain kecuali susunan saraf pusat.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta atau morbus Hansen merupakan infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Kusta dapat
BAB I PENDAHULUAN. Multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB) merupakan salah satu fenomena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB) merupakan salah satu fenomena resistensi tuberkulosis ( TB). MDR-TB didefinisikan sebagai keadaan resistensi terhadap setidaknya
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN KECACATAN PENDERITA KUSTA DI KABUPATEN NGAWI Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memproleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) terutama menyerang kulit dan saraf tepi. Penularan dapat terjadi dengan cara kontak
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering mengenai organ paru-paru. Tuberkulosis paru merupakan
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru tetapi juga dapat mengenai
ABSTRAK. Deteksi Mutasi pada Quinolone Resistant Determining Regions (QRDRs ) gen gyra pada Salmonella typhi Isolat Klinik dan Galur Khas Indonesia
ABSTRAK Deteksi Mutasi pada Quinolone Resistant Determining Regions (QRDRs ) gen gyra pada Salmonella typhi Isolat Klinik dan Galur Khas Indonesia Kirby Saputra, 2008 Pembimbing I : Ernawati Arifin Giri
Penyakit Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit. infeksi yang memberikan dampak morbiditas dan mortalitas
1 BAB I. PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penyakit Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang memberikan dampak morbiditas dan mortalitas yang tinggi di seluruh dunia. Berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan global. yang utama. Penyakit infeksi ini menyerang jutaan manusia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan global yang utama. Penyakit infeksi ini menyerang jutaan manusia tiap tahun dan menduduki peringkat nomor dua penyebab
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae, ditemukan pertama kali oleh sarjana dari Norwegia GH
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai ke masalah sosial, ekonomi, budaya,
Tingginya prevalensi kusta di Kabupaten Blora juga didukung oleh angka penemuan kasus baru yang cenderung meningkat dari tahun 2007 sampai dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang awalnya menyerang saraf tepi, dan selanjutnya menyerang kulit,
BAB 1 PENDAHULUAN. pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kusta atau disebut juga Morbus Hansen (MH) merupakan infeksi kronik pada kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Predileksi awal penyakit ini adalah saraf
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit kronik yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae (M.leprae) yang pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang
ABSTRACT. Keywords : Mycobacterium tuberculosis, Resistance, Isoniazid, Rifampin, Streptomycin, Ethambutol. xviii
ABSTRACT Background : Tuberculosis is a leading cause disease of death in infectious diseases. Until now there are many cases of M. tuberculosis resistance to primary choice anti tuberculosis drugs (ATD).
BAB I PENDAHULUAN. Multi-Drug Resistance Mycobacterium tuberculosis (MDR-TB) adalah jenis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Multi-Drug Resistance Mycobacterium tuberculosis (MDR-TB) adalah jenis Tuberkulosis (TB) yang resisten terhadap dua atau lebih Obat Anti Tuberkulosis (OAT) lini pertama,
BAB 1 PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu melalui inhalasi
BAB 1 PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. World Health Organization (WHO) pada berbagai negara terjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae) yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit,
PENGADAAN OBAT KUSTA
PENGADAAN OBAT KUSTA Dr. Donna Partogi, SpKK NIP. 132 308 883 DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FK.USU/RSUP H.ADAM MALIK/RS.Dr.PIRNGADI MEDAN 2008 PENGADAAN OBAT KUSTA PENDAHULUAN Penyakit kusta
Klasifikasi penyakit kusta
Penyakit kusta merupakan masalah dunia, terutama bagi Negara-negara berkembang. Di Indonesia pada tahun 1997 tercatat 33.739 orang, yang merupakan negara ketiga terbanyak penderitanya setelah India dan
BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi
-Faktor penyebab penyakit kusta. -Tanda dan gejala penyakit kusta. -Cara penularan penyakit kusta. -Cara mengobati penyakit kusta
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PENYAKIT KUSTA Judul Pokok Bahasan : Penyakit Kusta : Tanda dan Gejala Penyakit Kusta Sub Pokok Bahasan : -Pengertian penyakit kusta - Penyebab penyakit kusta -Faktor penyebab
BAB I PENDAHULUAN. Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) merupakan tuberkulosis yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) merupakan tuberkulosis yang disebabkan oleh resistensi Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) terhadap minimal dua jenis
BAB I PENDAHULUAN. yang dapat menimbulkan komplikasi kesakitan (morbiditas) dan kematian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit tuberkulosis paru masih merupakan masalah utama kesehatan yang dapat menimbulkan komplikasi kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) (FK-UI, 2002).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar tuberkulosis menyerang organ paru-paru, namun bisa juga
BAB I PENDAHULUAN. mencanangkan TB sebagai kegawatan dunia (Global Emergency), terutama
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa situasi Tuberkulosis (TB) dunia semakin memburuk, dimana jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan.
BAB I PENDAHULUAN. kusta (Mycobacterium leprae) yang awalnya menyerang saraf tepi, dan selanjutnya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kusta adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang awalnya menyerang saraf tepi, dan selanjutnya menyerang kulit,
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri patogen penyebab tuberkulosis.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri patogen penyebab tuberkulosis. Secara umum penyebaran bakteri ini melalui inhalasi, yaitu udara yang tercemar oleh penderita
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional
BAB 1 PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh bakteri TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi dapat
BAB I PENDAHULUAN. sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Gejala utama adalah batuk selama 2 minggu atau lebih, batuk disertai
BAB I PENDAHULUAN. dengan gejala saraf yang progresif dan hampir selalu berakhir dengan kematian. Korban
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rabies merupakan penyakit hewan menular yang bersifat zoonosis. Kasus rabies sangat ditakuti dikalangan masyarakat, karena mengakibatkan penderitaan yang berat dengan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laporan Tuberkulosis (TB) dunia oleh World Health Organization (WHO) yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pasien TB terbesar
BAB 1 PENDAHULUAN. karena penularannya mudah dan cepat, juga membutuhkan waktu yang lama
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit ini umumnya menyerang pada paru, tetapi juga dapat menyerang bagian
ABSTRAK. OPTIMASI AMPLIFIKASI BAGIAN GEN parc DENGAN METODE PCR PADA ISOLAT Salmonella typhi DARI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 2006
ABSTRAK OPTIMASI AMPLIFIKASI BAGIAN GEN parc DENGAN METODE PCR PADA ISOLAT Salmonella typhi DARI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 2006 Hadi Sumitro Jioe, 2008. Pembimbing I : Ernawati Arifin Giri Rachman,
BAB 1 PENDAHULUAN. TB Paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang TB Paru merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan di dunia hingga saat ini, tidak hanya di negara berkembang tetapi juga di negara maju.
BAB I PENDAHULUAN. dari golongan penyakit infeksi. Pemutusan rantai penularan dilakukan. masa pengobatan dalam rangka mengurangi bahkan kalau dapat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penyakit tuberkulosis (TB Paru) sampai saat ini masih masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, dimana hasil Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukan
BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari
I. PENDAHULUAN. Penyakit kusta (morbus Hansen) merupakan penyakit infeksi kronis menahun
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta (morbus Hansen) merupakan penyakit infeksi kronis menahun yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae ( M.leprae ) yang menyerang hampir semua organ tubuh
PROFIL PENDERITA MORBUS HANSEN (MH) DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2012
PROFIL PENDERITA MORBUS HANSEN (MH) DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI DESEMBER 2012 1 Patricia I. Tiwow 2 Renate T. Kandou 2 Herry E. J. Pandaleke 1
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru.
2016 GAMBARAN MOTIVASI KLIEN TB PARU DALAM MINUM OBAT ANTI TUBERCULOSIS DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT DUSTIRA KOTA CIMAHI
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut Depertemen Kesehatan RI (2008) Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Sampai saat
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Selain menimbulkan masalah kesehatan penyakit kusta juga
BAB I PENDAHULUAN. kusta maupun cacat yang ditimbulkannya. kusta disebabkan oleh Mycobacterium
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan beberapa negara di dunia. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti oleh masyarakat,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diare,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Diare, infeksi saluran nafas, malaria, tuberkulosis masih menjadi penyebab utama kematian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PENYAKIT KUSTA 1. Pengertian Umum. Epidemiologi kusta adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat kejadian, penyebaran dan faktor yang mempengaruhi sekelompok manusia. Timbulnya
I. PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Penularan langsung terjadi melalui aerosol yang mengandung
BAB I PENDAHULUAN. I.1.Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama. kesehatan global. TB menyebabkan kesakitan pada jutaan
BAB I PENDAHULUAN I.1.Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama kesehatan global. TB menyebabkan kesakitan pada jutaan manusia tiap tahunnya dan menjadi penyebab kematian kedua dari
BAB I PENDAHULUAN. kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Masa tunas dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kusta merupakan penyakit infeksi kronik yang penyebabnya ialah Mycobacterium leprae dan bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta adalah penyakit infeksi kronis menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang utamanya menyerang saraf tepi, dan kulit,
FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT GANDA (TB ROG)
FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT GANDA (TB ROG) Aan Sri Andriyanti 1 Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan Epidemiologi Komunitas, Fakultas Kedokteran UNPAD.
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang dapat berakibat fatal bagi penderitanya, yaitu bisa menyebabkan kematian. Penyakit yang disebabkan
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan. oleh mikroorganisme patogen.menurut WHO tahun 2012,
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen.menurut WHO tahun 2012, penyakit infeksi membunuh 3,5 juta orang tiap tahunnya. Penyakit
BAB 1 : PENDAHULUAN. fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan,
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit berbasis lingkungan merupakan penyakit yang proses kejadiannya atau fenomena penyakit yang terjadi pada sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan, berakar
Identifikasi Faktor Resiko 1
IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO TERJADINYA TB MDR PADA PENDERITA TB PARU DI WILAYAH KERJA KOTA MADIUN Lilla Maria.,S.Kep. Ners, M.Kep (Prodi Keperawatan) Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun ABSTRAK Multi Drug
BAB I PENDAHULUAN. tersebut terdapat di negara-negara berkembang dan 75% penderita TB Paru adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit tuberkulosis paru selanjutnya disebut TB paru merupakan penyakit menular yang mempunyai angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Menurut World Health Organization
BAB I PENDAHULUAN. merupakan bentuk yang paling banyak dan paling penting (Widoyono, 2011).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit tubercolusis atau yang sering disebut TB merupakan penyakit infeksi yang dapat menyerang berbagai organ atau jaringan tubuh.tuberkulosis paru merupakan bentuk
ABSTRAK PREVALENSI GEN OXA-24 PADA BAKTERI ACINETOBACTER BAUMANII RESISTEN ANTIBIOTIK GOLONGAN CARBAPENEM DI RSUP SANGLAH DENPASAR
ABSTRAK PREVALENSI GEN OXA-24 PADA BAKTERI ACINETOBACTER BAUMANII RESISTEN ANTIBIOTIK GOLONGAN CARBAPENEM DI RSUP SANGLAH DENPASAR Sulitnya penanggulangan infeksi pneumonia nosokomial oleh Acinetobacter
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Indonesia serta negara-negara Asia lainnya berasal dari tumbuh-tumbuhan
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kebutuhan protein yang tinggi masyarakat Indonesia yang tidak disertai oleh kemampuan untuk pemenuhannya menjadi masalah bagi bangsa Indonesia. Harper dkk.
Bab 1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberkulosis. Pada Tahun 1995, WHO (World Health Organisation) mencanangkan kedaruratan
BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan masih ada sekitar 99%. Metagenomik muncul sebagai metode baru
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mikroorganisme yang tidak dapat dikulturkan dengan teknik standar diperkirakan masih ada sekitar 99%. Metagenomik muncul sebagai metode baru yang dapat mempelajari
BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993 memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis masih
BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang Penyakit kusta disebut juga penyakit lepra atau Morbus Hansen merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. (1) Kusta adalah
Identifikasi Mutasi Gen rpob Pada Daerah Hulu RRDR Mycobacterium Tuberculosis Multidrug Resistent Isolat P10
Identifikasi Mutasi Gen rpob Pada Daerah Hulu RRDR Mycobacterium Tuberculosis Multidrug Resistent Isolat P10 Pratiwi, M. A. 1), Ratnayani, K. 2, 3), Yowani, S.C. 1) Jurusan Farmasi-Fakultas Matematika
UJI KEPEKAAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS TERHADAP OBAT ANTI TUBERKULOSIS
UJI KEPEKAAN MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS TERHADAP OBAT ANTI TUBERKULOSIS Ning Rintiswati Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM Abstract Tuberculosis (TB) still a serious problem globally. WHO
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta atau lepra (leprosy) atau disebut juga Morbus hansen merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit kusta
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan dunia. Pada tahun 2012 diperkirakan 8,6 juta orang terinfeksi TB dan 1,3 juta orang meninggal karena penyakit ini (termasuk
BAB 1 PENDAHULUAN. menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (World
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular bahkan bisa menyebabkan kematian, penyakit ini menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil tuberkulosis
BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World. Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Health
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan
BAB I PENDAHULUAN. sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia masih menghadapi beberapa penyakit menular baru sementara penyakit menular lain belum dapat dikendalikan. Salah satu penyakit menular yang belum sepenuhnya
BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain virus sebagai penyebabnya,
ARTIKEL PENELITIAN Akurasi Deteksi Mycobacterium tuberculosis
ARTIKEL PENELITIAN Akurasi Deteksi Mycobacterium tuberculosis dengan Teknik PCR menggunakan Primer X dibandingkan dengan Pemeriksaan Mikroskopik (BTA) dan Kultur Sputum Penderita dengan Gejala Tuberkulosis
I. PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO)
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkolosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Menurut World Health Organization (WHO) dalam satu tahun kuman M.
BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
PENGARUH KOINSIDENSI DIABETES MELITUS TERHADAP LAMA PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN
PENGARUH KOINSIDENSI DIABETES MELITUS TERHADAP LAMA PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA TAHUN 2008 2009 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru
BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar atau sekitar 80%, menyerang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang sebagian besar atau sekitar 80%, menyerang paru (DepKes RI, 2005).
BAB I PENDAHULUAN. sosial dan ekonomi (Depkes, 2007). Para penderita kusta akan cenderung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. TB sampai saat ini masih tetap menjadi masalah kesehatan dunia yang utama
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru merupakan satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis complex. Tuberkulosis di Indonesia merupakan masalah utama
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit ini merupakan
repository.unimus.ac.id
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Penyakit TBC merupakan penyakit menular
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi, yang juga dikenal sebagai communicable disease atau transmissible
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi, yang juga dikenal sebagai communicable disease atau transmissible disease adalah penyakit yang secara klinik terjadi akibat dari keberadaan dan pertumbuhan
BAB 1 PENDAHULUAN. berkontribusi terhadap terjadinya resistensi akibat pemakaian yang irasional
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Antibiotika merupakan obat yang penting digunakan dalam pengobatan infeksi akibat bakteri (NHS, 2012). Setelah digunakan pertama kali tahun 1940an, antibiotika membawa
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Indonesia saat ini berada pada ranking kelima negara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Penyakit ini disebabkan
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit menular sampai saat ini sangat ditakuti oleh semua orang baik itu dari masyarakat, keluarga, termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan oleh masih
MUTASI C825T GEN katg ISOLAT L5 MULTIDRUG RESISTANT Mycobacterium tuberculosis TESIS RINA BUDI SATIYARTI NIM: Program Studi Kimia
MUTASI C825T GEN katg ISOLAT L5 MULTIDRUG RESISTANT Mycobacterium tuberculosis TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh: RINA BUDI
BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Pada tahun
dan menjadi dasar demi terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upaya peningkatan kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan menjadi dasar demi terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani. Indonesia masih
I. PENDAHULUAN. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis masih
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis masih cukup
Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012
PERINGATAN HARI KUSTA SEDUNIA TAHUN 214 Tema : Galang kekuatan, hapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta 1. Penyakit kusta merupakan penyakit kronis disebabkan oleh Micobacterium
