HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Deddy Sumadi
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 41 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Wilayah Penelitian Kecamatan Gandus terletak di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Kecamatan Gandus merupakan salah satu kawasan agropolitan di mana bertumpu dengan komoditi pertanian seperti tanaman pangan, ikan dan ternak. Dilihat dari bentang alamnya secara makro Kecamatan Gandus terdiri dari 6 persen daratan dan 4 persen rawa pasang surut. Daerah Kecamatan Gandus sebagian terletak di pinggir sungai musi yang terdidri dari 5 (lima) Kelurahan dengan luas wilayah , Ha. Secara geografis sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ilir Barat I dan Kabupaten Banyuasin. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Ilir Barat II. Sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Musi di Kecamatan Seberang Ulu. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin. Secara administratif Kecamatan Gandus terdiri dari 5 kelurahan yaitu Kelurahan Gandus, Kelurahan Karang jaya, Kelurahan Karang Anyar, Kelurahan Pulokerto dan Kelurahan 36 Ilir. Kecamatan Gandus memiliki komposisi 164 RT dan 41 RW. Luas wilayah Kecamatan Gandus adalah Ha atau sebesar 68,78 Km 2. Jumlah penduduk di Kecamatan Gandus sebanyak jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak jiwa. Kepadatan penduduk di Kecamatan Gandus sebesar 99 jiwa/km 2, sedangkan kepadatan penduduk di Kecamatan gandus dalam satuan hektar adalah 9 jiwa/ha. Luas wilayah menurut kelurahan di Kecamatan Gandus dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Luas wilayah menurut kelurahan di Kecamatan Gandus. No Kelurahan Luas (Ha) Persentase (%) 1 Pulokerto 3.491, 5,76 2 Gandus 2.935, 42,67 3 Karang Jaya 187, 2,73 4 Karang Anyar 172, 2, Ilir 93, 1,35 Jumlah 6.878, 1, Sumber : Kecamatan Gandus dalam Angka, 21. Jumlah penduduk di Kecamatan Gandus per kelurahan yaitu untuk Kelurahan Gandus sebanyak jiwa dengan luas 29,35 Km 2 atau hektar. Kelurahan Karang Anyar jiwa dengan luas 1,72 Km 2 atau 172 hektar. Kelurahan 36 Ilir sebanyak jiwa dengan luas,93 Km 2 atau 93 hektar. Kelurahan Karang Jaya sebanyak jiwa dengan luas wililayah 1,87
2 42 km 2 atau 187 hektar. Kelurahan Pulo Kerto sebanyak jiwa dengan luas wilayah 34,91 Km 2 kelurahan dapat dilihat dari Tabel 3. No atau hektar. Jumlah penduduk dari masing-masing Tabel 3. Jumlah penduduk dan kepadatan penduduk Kecamatan Gandus tahun 21 Kelurahan Jumlah penduduk (Jiwa) Luas wilayah (KM 2 ) Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km 2 ) Skala Kecamatan Luas Wilayah (Ha) Kepadatan penduduk (Jiwa/Ha) Skala Kecamatan 1 Pulo Kerto , Gandus , Karang Jaya , Karang Anyar , Ilir , Jumlah , Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Palembang, 21 Jumlah kepadatan penduduk di Kecamatan Gandus per Kelurahan yaitu untuk Kelurahan Gandus sebesar 345 jiwa/km 2 atau sebesar 3 jiwa/ha. Kelurahan Karang Anyar sebesar jiwa/km 2 atau sebesar 78 jiwa/ha. Kelurahan 36 Ilir sebesar jiwa/km 2 atau sebesar 146 jiwa/ha. Kelurahan Karang Jaya sebesar 6.49 jiwa/km 2 atau sebesar 65 jiwa/ha. Kelurahan Pulokerto sebesar 379 jiwa/km 2 atau sebesar 4 jiwa/ha. Pembagian jumlah penduduk berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Jumlah penduduk berdasarkan usia di Kecamatan Gandus tahun 21 No Usia (tahun) Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%) , , , , , ,43 7 > ,7 Jumlah , Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Palembang, 21. Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa penduduk usia balita sebanyak jiwa dengan persentase 8,3 persen, penduduk usia anak-anak sebanyak jiwa dengan persentase 1,18 persen, penduduk usia produktif sebanyak jiwa dengan persentase 58,49 persen sedangkan penduduk usia non produktif sebanyak jiwa dengan persentase 13,5 persen. Mata pencaharian penduduk merupakan salah satu aspek kehidupan yang berkaitan dengan kemakmuran suatu daerah. Penduduk Kecamatan Gandus Kota Palembang memiliki mata pencaharian yang berbeda-beda, tetapi
3 43 sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh harian lepas dengan jumlah 7.66 jiwa dengan persentase 62,7 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Distribusi mata pencaharian penduduk di Kecamatan Gandus tahun 21 No Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) Persentase (%) 1 Petani/Pekebun 967 7,97 2 Peternak 22,18 3 Buruh Harian Lepas ,7 4 Buruh Tani 639 5,26 5 Guru 274 2,25 6 Pedagang 533 4,4 7 Wiraswasta ,24 Jumlah , Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Palembang, 21. Tingkat pendidikan Sekolah Dasar atau sederajat paling tinggi dengan jumlah orang dengan persentase 26,72 persen sedangkan tingkat pendidikan Strata II paling sedikit dengan jumlah 15 orang dengan persentase,2 persen. Distribusi tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Gandus Kota Palembang dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Distribusi tingkat pendidikan di Kecamatan Gandus tahun 21 No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%) 1 Tidak/Belum Sekolah ,16 2 Tidak Tamat SD ,41 3 Tamat SD/Sederajat ,72 4 SLTP/Sederajat ,4 5 SLTA/Sederajat ,13 6 Diploma I/II 295,47 7 Diploma III 854 1,36 8 Strata I ,6 9 Strata II 161,27 1 Strata III 15,2 Jumlah , Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Palembang, 21. Faktor Internal Petani Petani dalam penelitian ini adalah petani padi di Kecamatan Gandus yang tersebar di lima kelurahan yaitu Kelurahan Gandus, Kelurahan Karang anyar, Kelurahan 36 Ilir, Kelurahan Karang jaya, dan Kelurahan Pulo Kerto. Faktor internal petani yang diteliti meliputi usia, pendidikan, pengalaman, luas lahan, dan status kepemilikan lahan.
4 44 Tabel 7. Karakteristik petani menurut kategori dan persentase No Karakteristik Petani Kategori 1 Usia (tahun) 2 Pendidikan 3 Pengalaman 4 Luas Lahan 5 Kepemilikan Lahan Sumber : Data primer hasil penelitian < 5 tahun 5 tahun Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD < 25 tahun 25 tahun < 1,5 Ha 1,5 Ha Milik Sewa Jumlah (orang) Persentase (%) 43 56, , , ,95 6 8, 46 6, , , , , ,11 Usia Usia petani dikategorikan berdasarkan di bawah rataan dan di atas rataan. Sebagian besar usia petani berusia di bawah 5 tahun sebesar 56,58 persen dengan jumlah 43 orang petani. Petani dengan usia di atas 5 tahun sebanyak 33 orang sebesar 43,42 persen. Petani yang berusia lebih tua memiliki tingkat pengalaman lebih tinggi dibandingkan petani yang berusia lebih muda. Pendidikan Pendidikan petani rata-rata adalah dengan pendidikan tidak tamat sekolah dasar. Pendidikan tertinggi petani adalah sekolah dasar yang mencapai 8, persen dengan jumlah petani 6 orang. Petani dengan tingkat pendidikan tidak tamat sekolah dasar mencapai 78,95 persen dengan jumlah petani 6 orang. Petani yang tidak sekolah mencapai 13,15 persen dengan jumlah petani 1 orang. Meskipun pendidikan petani rendah tetapi pada umumnya petani dapat membaca dan menulis hal ini dikarenakan mereka terbiasa dalam kondisi yang mengharuskan mereka membaca dan menulis, misalnya pada kelompok organisasi majlis taqlim, masyarakat di Kecamatan Gandus yang tidak tamat SD belajar membaca dalam kegiatan pengajian. Pada acara pemilihan ketua RT masyarakat di Kecamatan Gandus yang sebagian besar petani di haruskan menulis nama calon yang dipilih pada kertas kemudian dimasukkan kedalam kotak pemilihan. Dalam hal ini meskipun petani dengan tingkat pendidikan rendah tetapi bisa menulis dan membaca. Kebiasan-kebiasaan yang tidak formal
5 45 inilah yang membuat petani yang tidak tamat Sekolah Dasar bisa membaca dan menulis. Pengalaman Pengalaman petani dikategorikan berdasarkan di bawah rataan dan di atas rataan. Pengalaman paling rendah adalah 3 tahun dan paling lama adalah 4 tahun, dengan skor rataan pengalaman 25 tahun. Petani yang memiliki pengalaman kurang dari 25 tahun sebanyak 46 petani dengan persentase 6,52 persen. Petani yang memiliki pengalaman lebih besar sama dengan 25 tahun sebanyak 3 petani dengan persentase 39,48 persen. Petani dengan pengalaman yang lebih tinggi memiliki pengetahuan tentang budidaya padi dari pengalamannya berusahatani padi dan dari orang tua terdahulu. Luas Lahan Luas lahan yang dimiliki petani dikategorikan berdasarkan di bawah dan di atas rataan. Luas lahan yang paling besar digarap petani seluas 2 hektar sedangkan luas lahan yang terkecil digarap petani seluas,5 hektar. Skor rataan yang didapat adalah 1,5 hektar. Petani dengan luas lahan kurang dari 1,5 hektar sebanyak 39 orang dengan jumlah persentase sebesar 51,32 persen. Petani yang memiliki luas lahan lebih besar sama dengan 1,5 hektar sebanyak 37 orang dengan jumlah persentase sebesar 48,68 persen. Kepemilikan Lahan Kepemilikan lahan petani dikategorikan milik dan sewa. Pada umumnya status kepemilikan lahan dalah milik sendiri dan sisanya dengan status sewa. Kepemilikan lahan petani paling banyak dengan status milik yaitu sebanyak 63 petani dengan persentase 82,89 persen, sedangkan kepemilikan lahan dengan status sewa sebanyak 13 petani dengan jumlah persentase 17,11 persen. KETERDEDAHAN Keterdedahan merupakan interaksi petani terhadap media komunikasi yaitu melihat, mendengarkan, membaca atau mengalami sedikitnya sejumlah perhatian minimal pada pesan media. Keterdedahan petani terhadap media yaitu televisi, leaflet, dan surat kabar serta media interpersonal yaitu penyuluh pertanian. Keterdedahan meliputi frekuensi dan intensitas menonton TV, membaca koran, membaca leaflet dan bertemunya dengan penyuluh pertanian lapangan. Keterdedahan terhadap media komunikasi terdiri dari banyaknya
6 46 jumlah kali per bulan dalam setiap petani menggunakan media komunikasi atau frekuensi petani bertemu dengan penyuluh pertanian. Intensitas yaitu lamanya menggunakan media komunikasi dalam hitungan menit per satu kali penggunaan media komunikasi atau lamanya waktu yang digunakan petani setiap bertemu dengan penyuluh. Frekuensi tersebut adalah banyaknya menonton tayangan televisi, membaca koran, membaca leaflet dan bertemu dengan penyuluhan dalam satu bulan. Intensitas adalah lamanya menonton tayangan televisi, membaca koran, membaca leaflet dalam satu kali penggunaan serta lamanya waktu yang digunakan setiap bertemu penyuluhan dalam satu kali pertemuan. Informasi pertanian yang disiarkan televisi yaitu stasiun TVRI Sumsel setiap hari selasa selama 3 menit. Media koran atau surat kabar yang dibaca petani adalah koran pertanian Sinar Tani yang terbit satu minggu sekali dan secara rutin diberikan petugas penyuluh pertanian kepada petani di Kecamatan Gandus. Leaflet yang dibaca petani adalah leaflet yang dirancang khusus oleh Dinas Pertanian untuk media belajar dalam peningkatan Ketahanan Pangan. Leaflet tersebut adalah leaflet mengenai perbanyakan padi dan metode SRI (System Rice Intensification) yang keduanya menginformasikan tentang teknik budidaya tanaman padi. Kegiatan pertemuan penyuluh pertanian lapangan dengan petani di Kecamatan Gandus dilakukan satu bulan sekali pada malam hari, dan satu kali per minggu setiap hari rabu petugas penyuluh datang ke rumah ketua kelompok tani untuk berdiskusi. Frekuensi Petani Menggunakan Media Komunikasi per Bulan Frekuensi menonton TV, membaca koran, membaca leaflet, dan bertemu dengan penyuluh pertanian lapangan adalah frekuensi petani menonton, membaca, dan bertemu dengan penyuluh pertanian lapangan yang digunakan atau dilakukan petani kali per bulan dikategorikan tidak pernah, kurang dari 4 kali dalam satu bulan, dan 4 kali dalam satu bulan. Data hasil penelitian keterdedahan petani terhadap media komunikasi dengan kategori banyaknya menonton televisi, membaca koran dan leaflet, serta banyaknya petani bertemu dengan penyuluh pertanian lapangan dan keikut sertaan petani dalam kegiatan penyuluhan atau pertemuan dengan penyuluh petanian untuk mendapatkan informasi tentang budidaya padi dapat dilihat pada Tabel 8.
7 47 Tabel 8. Frekuensi petani terhadap media komunikasi berdasarkan kategori dan persentase No Frekuensi Kategori (Kali) Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Banyaknya Menonton TV Tidak pernah 7 9,21 < 4 kali 69 9,78 4 kali, 2 Banyaknya Membaca Koran Tidak Pernah 7 92,1 < 4 kali 6 7,9 4 kali, 3 Banyaknya Membaca Leaflet Tidak Pernah 15 21,6 < 4 kali 61 78,94 4 kali, 4 Banyaknya petani bertemu Tidak pernah 6 7,9 dengab penyuluh < 4 kali 7 92,1 4 kali, Petani umumnya menonton TV kurang dari 4 kali dalam satu bulan menonton tayangan televisi tentang pertanian. Sebanyak 69 orang dengan persentase 9,78 persen menonton tayangan televisi kurang dari 4 kali per bulan dengan kategori sedang. Petani yang tidak pernah menonton televisi tentang informasi pertanian sebanyak 7 orang dalam satu bulan dengan kategori rendah. Petani tidak menonton televisi dikarenakan media televisi yang tersedia di rumah lebih sering digunakan oleh anak-anak untuk menonton acara lain. Petani yang tidak pernah membaca koran dalam kurun waktu satu bulan sebanyak 7 petani dengan jumlah persentase 92,1 persen. Petani yang membaca koran kurang dari 4 kali per bulan sebanyak 6 orang dengan jumlah persentase 7,9 persen. Petani yang tidak membaca koran dikarenakan tidak adanya waktu untuk membaca koran, karena ketersedian koran hanya terdapat di tempat ketua kelompok tani sehingga petani yang termasuk anggota kelompok tani tidak ada ketertarikan untuk mendatangi kediaman ketua kelompok hanya untuk membaca koran. Informasi yang didapatkan petani melalui penyuluh dirasakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan informasi mengenai budidaya padi. Petani yang membaca leaflet kurang dari 4 kali per bulan sebanyak 61 orang dengan jumlah persentase 78,94 persen. Petani yang tidak pernah membaca leaflet sebanyak 15 orang dengan jumlah persentase 21,6 persen. Petani tidak membaca leaflet dikarenakan petani tidak bisa membaca karena tidak sekolah sehingga tidak ada ketertarikan untuk membaca leaflet, kemudian saat pembagian leaflet pada pertemuan rutin antar kelompok tani yang juga dihadiri oleh penyuluh, petani lebih tertarik untuk menanyakan materi leaflet kepada teman sejawat.
8 48 Petani yang mengikuti kegiatan penyuluhan untuk secara langsung mendapatkan informasi dari petugas penyuluh pertanian sebanyak 7 orang dengan kategori sedang yaitu kurang dari 4 kali per bulan dengan jumlah persentase 92,1 persen. Petani yang tidak pernah mengikuti kegitan penyuluhan sebanyak 6 orang dengan persentase 7,9 persen dengan kategori rendah. Petani yang tidak pernah mengikuti kegiatan penyuluhan dikarenakan waktu pertemuan yang diselenggarakan untuk kegiatan penyuluhan bersamaan dengan kegiatan lain seperti kegiatan keluarga dan ada beberapa petani yang lupa jika ada pertemuan yang diadakan satu bulan satu kali. Petani dengan tingkat frekuensi rendah yaitu petani yang bertemu dengan penyuluh tetapi tidak membahas masalah teknik budidaya padi. Intensitas Terhadap Media Komunikasi Intensitas petani terhadap media komunikasi meliputi lamanya menggunakan media komunikasi atau lamanya waktu yang digunakan pada saat bertemu dengan penyuluh untuk mendapatkan informasi dihitung dalam menit per satu kali penggunaan media komunikasi atau pertemuan. Petani yang menonton televisi kurang dari 3 menit sebanyak 69 orang dengan persentase 9,78 persen. Petani yang tidak pernah menggunakan media televisi sebanyak 7 orang dengan jumlah persentase 9,2 persen. Petani yang menonton informasi pertanian di televisi kurang dari 3 menit dikarenakan ketidaktertarikan petani terhadap informasi yang disiarkan melalui televisi. Hal ini dikarenakan acara pertanian di televisi jarang memberikan informasi baru mengenai teknik budidaya padi dan informasi tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan petani dalam budidaya padi. Petani yang membaca koran kurang dari 1 menit sebanyak 6 orang petani dengan jumlah persentase 9,2 persen, sedangkan petani yang tidak pernah membaca koran sebanyak 7 petani dengan jumlah persentase 92,11 persen. Petani yang membaca leaflet kurang dari 1 menit sebanyak 61 orang dengan jumlah persentase 78,95 persen, sedangkan petani yang tidak pernah membaca leaflet sebanyak 15 petani dengan jumlah persentase 21,5 persen. Pada umumnya petani membaca leaflet kurang dari 1 menit dikarenakan tulisan yang terdapat dalam leaflet terlalu padat sehingga mengurangi ketertarikan petani untuk membaca leaflet, sehingga petani hanya membaca informasi yang dibutuhkan.
9 49 Kegiatan penyuluhan pertanian yang diadakan di lokasi penelitian diikuti oleh 7 petani dengan variasi lamanya waktu kurang dari 12 menit dan lebih dari sama dengan 12 menit. Petani yang bertemu penyuluh pertanian lapangan kurang dari 12 menit sebanyak 12 orang dengan jumlah persentase 15,79 persen, sedangkan petani yang bertemu penyuluh pertanian lapangan lebih dari sama dengan 12 menit sebanyak 58 orang dengan jumlah persentase 78,95 persen. Petani yang tidak pernah bertemu penyuluh pertanian lapangan sebanyak 6 orang dengan 7,89 persen. Petani tidak pernah bertemu dengan penyuluh dikarenakan petani tersebut tidak tergabung dalam kelompok tani dan lokasi rumah mereka jauh dari lokasi kegiatan penyuluhan. Lamanya menonton TV, membaca koran, membaca leaflet, dan mengikuti kegiatan penyuyluhan dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 9. Intensitas terhadap media komunikasi yang digunakan petani berdasarkan kategori dan persentase no Intensitas Kategori Jumlah Persentase (menit) (orang) (%) 1 Lamanya Menonton TV tidak pernah 7 9,2 < 3 menit 69 9,78 3 menit, 2 Lamanaya Membaca Koran Tidak pernah 7 92,11 < 1 menit 6 7,89 1 menit, 3 Lamanya membaca Leaflet tidak pernah 15 21,5 < 1 menit 61 78,95 1 menit, 4 Lamanya mengikuti penyuluhan tidak pernah < 12 menit 12 menit 6 7, , ,32 Penilaian Petani Terhadap Media Komunikasi Materi Pesan Media Televisi Kejelasan materi yang Disampaikan Melalui Televisi Materi yang disampaikan oleh media televisi dinilai cukup jelas oleh petani. Hal ini berarti bahwa informasi tentang teknik budidaya padi yang disiarkan di televisi dinilai jelas oleh petani. Kejelasan materi yang disampaikan televisi menurut petani lebih mudah dimengerti karena petani hanya cukup dengan melihat dan mendengarkan. Uraian penilaian kejelasan materi
10 5 berdasarkan persentase dari jumlah petani yang menilai informasi tentang budidaya padi dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kejelasan materi yang disampaikan media televisi berdasarkan kategori dan persentase No Materi Kategori Jumlah orang Persentase (%) 1 Pembibitan Tinggi 38 5, 29 38, ,84 2 Pengolahan Tanah Tinggi 39 51, , ,79 3 Pemupukan Tinggi 46 6, , ,5 4 Pengendalian Hama dan Tinggi 6 78,95 Penyakit 16, 17,11 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 6 78,95 6 7, ,16 6 Panen Tinggi 58 76,32 16, 23,68 Sebagian besar informasi tentang kejelasan materi pembibitan yang ditayangkan oleh televisi memiliki kategori tinggi yaitu dengan jumlah persentase 5, persen, berarti sebanyak 38 orang petani menilai bahwa materi tentang pembibitan yang ditayangkan televisi adalah jelas. Kategori sedang yang berarti kurang jelasnya materi yang disampaikan oleh televisi mendapatkan persentase 38,16 persen dengan jumlah 29 petani. Kategori rendah yang berarti bahwa petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang pembibitan memiliki persentase 11,84 persen dengan jumlah 9 petani. Kejelasan materi pengolahan tanah yang disampaikan televisi yang dinilai jelas oleh petani atau dengan kategori tinggi memiliki persentase 51,32 persen dengan jumlah 39 petani. Kejelasan materi dengan kategori sedang atau materi tentang pengolahan tanah yang dinilai kurang jelas oleh petani memiliki persentase 32,89 persen dengan jumlah 25 petani. Kejelasan materi dengan kategori rendah atau petani tidak menonton informasi pengolahan tanah di televisi memiliki persentase 15,79 dengan jumlah 12 petani. Kejelasan materi pemupukan dengan kategori tinggi atau dinilai jelas oleh petani memiliki persentase 6,52 persen dengan jumlah 46 petani. Materi
11 51 pemupukan dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang jelas dengan persentase 18,43 persen dengan jumlah petani 14 orang. Materi pemupukan dengan kategori rendah yaitu petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang pemupukan meimiliki persentase 21,5 persen dengan jumlah 16 petani. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori tinggi atau petani menilai bahwa materi yang disampaikan tersebut jelas memiliki persentase 78,95 dengan jumlah 6 petani. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori sedang atau petani menilai materi tersebut dengan indikator kurang jelas memiliki persentase 3,94 persen dengan jumlah 3 orang petani. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori rendah atau petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang materi pengendalian hama dan penyakit dengan persentase 17,11 persen dengan 13 orang petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori tinggi yang berarti bahwa petani menilai materi tersebut jelas memiliki persentase 78,95 persen dengan jumlah 6 petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori sedang yang berarti bahwa petani menilai bahwa materi tersebut kurang jelas memiliki persentase 7,89 dengan jumlah 6 petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategor rendah yang berarti bahwa petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang materi pengairan atau irigasi memiliki persentase 13,16 persen dengan jumlah 1 petani. Materi pemanenan dengan kategori tinggi yang berarti bahwa petani menilai metri tersebut jelas memiliki persentase 76,31 persen dengan jumlah 58 petani. Materi pemanenan dengan kategori rendah yang berarti bahwa petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang materi tersebut memiliki persentase 23,68 persen dengan jumlah 18 petani. Skor Penilaian Kejelasan Materi di Televisi Oleh Petani Penilaian terhadap media televisi dalam penyampaian informasi meliputi komponen isi pesan dan kesesuaian isi pesan dengan kebutuhan petani. Skor penilaian petani terhadap materi pesan tentang budidaya padi yang ditonton secara keseluruhan adalah 2,49 dengan kategori tinggi. Ini berarti bahwa materi yang disampaikan oleh televisi dinilai jelas oleh petani. Uraian tiap materi yang disampaikan dilihat pada Tabel 11.
12 52 Tabel 11. Kejelasan materi yang disampaikan melalui televisi berdasarkan skor rata-rata dan kriteria No Materi Skor ratarata Kriteria 1 Pembibitan 2,38 Tinggi 2 Pengolahan Tanah 2,35 Tinggi 3 Pemupukan 2,39 Tinggi 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 2,61 Tinggi 5 Pengairan/ irigasi 2,65 Tinggi 6 Panen 2,57 Tinggi Jumlah Total rataan skor 2,49 Tinggi Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Materi tentang pembibitan yang dinilai petani memiliki skor rata-rata 2,38 dengan kategori tinggi. Informasi mengenai pengolahan tanah memiliki skor ratarata 2,35 dengan kategori tinggi. Informasi pemupukan memiliki skor rata-rata 2,39 dengan kategori tinggi. Informasi mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman padi memiliki skor rata-rata 2,61 dengan kategori tinggi. Informasi pengairan atau irigasi memiliki skor rata-rata 2,65 dengan kategori tinggi serta informasi mengenai pemanenan tanaman padi memiliki skor ratarata 2,57 dengan kategori tinggi. Kesesuaian Materi Pesan dengan Kebutuhan Petani Pada Media Televisi Kesesuaian materi pesan dengan kebutuhan petani yaitu informasi yang disampaikan oleh media-media komunikasi seperti TV, Koran, Leaflet, dan Penyuluh Pertanian Lapangan kepada petani padi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan petani di lapangan. Kesesuaian materi yang disampaikan oleh media televisi dengan kebutuhan petani dinilai kurang sesuai oleh petani. Hal ini dikarenakan kondisi lahan sawah petani yang digenangi air selain itu juga petani masik kekurangan modal untuk mengikuti anjuran atau pesan yang disampaikan media khususnya media televisi. Uraian kesesuaian dengan kebutuhan petani di lapangan berdasarkan persentase dari jumlah petani yang menilai tentang kesesuaian informasi budidaya padi dengan kebutuhan petani di lapangan dapat dilihat pada Tabel 12.
13 53 Tabel 12. Kesesuaian materi yang disampaikan televisi dengan kebutuhan berdasarkan kategori dan persentase No Materi Kategori Jumlah orang Persentase 1 Pembibitan Tinggi 19 25, 48 63, ,85 2 Pengolahan Tanah Tinggi 8 1, , ,78 3 Pemupukan Tinggi 1 13, , ,6 4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tinggi 13 17,1 5 65, ,1 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 6 7,9 6 78, ,16 6 Panen Tinggi 57 76,32 18, 23,68 Sebagian besar informasi tentang kesesuaian materi pembibitan yang ditayangkan oleh televisi dengan kebutuhan petani memiliki kategori kategori sedang yang berarti materi yang disampaikan oleh televisi kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan mendapatkan persentase 63,15 persen dengan jumlah 48 petani. Kategori tinggi yaitu materi tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan petani di lapangan dengan jumlah persentase 25, persen. Berarti sebanyak 19 orang petani menilai bahwa materi tentang pembibitan yang ditayangkan televisi sesuai dengan kebutuhan petani.. Kategori rendah yang berarti bahwa petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang pembibitan memiliki persentase 11,85 persen dengan jumlah 9 petani. Materi pengolahan tanah yang disampaikan televisi yang dinilai sesuai dengan kebutuhan petani dengan kategori tinggi memiliki persentase 1,52 persen dengan jumlah 8 petani. Kesesuaian materi dengan kategori sedang atau materi tentang pengolahan tanah yang dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan oleh petani memiliki persentase 73,58 persen dengan jumlah 56 petani. Kesesuaian materi dengan kategori rendah petani tidak menonton
14 54 informasi pengolahan tanah di televisi memiliki persentase 15,78 persen dengan jumlah 12 petani. Kesesuaian materi pemupukan dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 13,16 persen dengan jumlah 1 petani. Materi pemupukan dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 65,78 persen dengan jumlah petani 5 orang. Materi pemupukan dengan kategori rendah yaitu petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang pemupukan meimiliki persentase 21,6 persen dengan jumlah 16 petani. Kesesuaian materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori tinggi atau petani menilai bahwa materi yang disampaikan tersebut sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 17,1 dengan jumlah 13 petani. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori sedang atau petani menilai materi tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 65,8 persen dengan jumlah 5 orang petani. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori rendah atau petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang materi pengendalian hama dan penyakit dengan persentase 17,1 persen dengan 13 orang petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori tinggi yang berarti bahwa petani menilai materi tersebut sesuai dengan kebutuhan petani memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah 6 petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori sedang yang berarti bahwa petani menilai bahwa materi tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 78,94 persen dengan jumlah 6 petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategor rendah yang berarti bahwa petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang materi pengairan atau irigasi memiliki persentase 13,16 persen dengan jumlah 1 petani. Materi panen dengan kategori tinggi yang berarti bahwa petani menilai materi tersebut sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 76,32 persen dengan jumlah 58 petani. Materi pemupukan dengan kategori rendah yang berarti bahwa petani tidak menonton acara televisi yang memberikan informasi tentang materi pengairan atau irigasi memiliki persentase 23,68 persen dengan jumlah 18 petani.
15 55 Skor Kesesuaian Materi yang Disampaikan Televisi dengan Kebutuhan Petani Kesesuaian materi yang disampaikan media televisi dirasakan petani kurang sesuai dengan kebutuhan petani. Hal ini disebabkan karena keadaan wilayah yang berbeda. Di lokasi penelitian lahan sawah pada umumnya digenangi air yang membuat petani tidak bisa melakukan pengolahan tanah seperti menggaru seperti informasi yang disampaikan televisi tentang pengolahan tanah untuk lahan sawah sebelum ditanami padi, sedangkan untuk menggunakan traktor petani kekurangan modal karena harus mengeluarkan biaya untuk menyewa hand tracktor. Uraian keseuaian materi dengan kebutuhan petani dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13. Kesesuaian materi dengan kebutuhan petani yang disampaikan televisi berdasarkan skor rata-rata dan kriteria No Kesesuaian Materi Skor rata-rata Kriteria 1 Pembibitan 2,13 2 Pengolahan Tanah 1,94 3 Pemupukan 1,92 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 2, 5 Pengairan/ irigasi 1,95 6 Panen 2,57 Tinggi Jumlah Total rataan skor 2,8 Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Kesesuaian materi pesan yang disampaikan media televisi dengan kebutuhan petani mendapat keseluruhan skor rata-rata sebesar 2,8 dengan kriteria sedang. Materi pembibitan memiliki skor rata-rata 2,13 dengan kriteria sedang, hal ini dimaksudkan bahwa materi pembibitan yang disiarkan oleh media televisi kurang sesuai untuk kebutuhan petani di lokasi penelitian. Informasi mengenai pembibitan yang dirasa kurang sesuai oleh petani adalah pembibitan padi yang menggunakan wadah sebelum ditanam di lahan sawah dan merendam benih padi dengan air garam. Hal ini tidak sesuai dikarenakan kurangnya modal tambahan untuk petani membeli wadah dan garam. Informasi tentang pengolahan tanah memiliki skor 1,94 dengan kriteria sedang. Petani menilai materi tentang pengolahan tanah kurang sesuai untuk tempat mereka bertani karena pada umumnya sawah digenangi air sehingga petani tidak bisa menerapkan pesan yang disampaikan media televisi. Materi pemupukan memiliki skor 1,92 dengan kriteria sedang. Petani menilai pemupukan kurang sesuai untuk keadaan mereka yang kekurangan modal untuk menggunakan pupuk organik. Pengendalian hama dan penyakit
16 56 memiliki skor rata-rata 2, dengan kriteria sedang. Rata-rata Petani menilai materi pengendalian hama dan penyakit kurang sesuai dengan kebutuhan petani. Informasi pengairan atau irigasi memiliki skor rata-rata sebesar 1,95 dengan kriteria sedang, hal ini dikarenakan lahan sawah di lokasi penelitian tergenang air sehingga petani tidak bisa melakukan kegiatan irigasi dan menilai informasi tentang pengairan atau irigasi kurang sesuai dengan kebutuhan mereka. Informasi mengenai panen memiliki skor rata-rata 2,57 dengan kriteria tinggi, hal ini menunjukkan bahwa materi tentang panen sesuai dengan kebutuhan petani di lokasi penelitian. Materi Pesan Media Koran Kejelasan Materi yang Disampaikan Media Koran Penilaian materi pesan pada media koran oleh petani adalah penilaian kejelasan informasi yang disampaikan koran kepada petani. Kategori tinggi adalah materi pesan yang dinilai jelas oleh petani, kategori sedang adalah materi pesan yang dinilai kurang jelas oleh petani, sedangkan kategori rendah adalah materi pesan yang dinilai tidak jelas oleh petani atau petani tidak membaca koran mengenai budidaya padi. Petani padi di Kecamatan Gandus sebagian besar tidak membaca koran pertanian yang memberikan informasi tentang padi. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah yaitu pendidikan paling tinggi petani adalah Tamat SD. Seperti yang di jelaskan oleh Rakhmat (25) diduga orang yang berpendidikan rendah jarang membaca surat kabar, tetapi sering menonton televisi. Sebagian besar informasi tentang kejelasan materi pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit. Pengairan atau irigasi, serta panen yang diberikan oleh koran memiliki kategori rendah yaitu dengan jumlah persentase 92,1 persen. Berarti bahwa sebanyak 7 orang petani tidak membaca informasi yang disampaikan koran tentang pembibitan. Kategori sedang yang berarti kurang jelasnya materi yang disampaikan oleh koran tidak dinilai oleh petani. Kategori tinggi yang berarti bahwa materi tentang teknik budidaya padi tersebut dinilai jelas memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah 6 petani. Uraian penilaian kejelasan materi berdasarkan persentase dari jumlah petani yang menilai informasi tentang budidaya padi dapat dilihat pada Tabel 14.
17 57 Tabel 14. Kejelasan Materi yang disampaikan melalui koran berdasarkan kategori dan persentase No Materi Kategori Jumlah orang Persentase 1 Pembibitan Tinggi 6 7,9 7, 92,1 2 Pengolahan Tanah Tinggi 6 7,9 7, 92,1 3 Pemupukan Tinggi 6 7,9 7, 92,1 4 Pengendalian Hama dan Tinggi 6 7,9 Penyakit 7, 92,1 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 6 7,9 7, 92,1 6 Panen Tinggi 6 7,9 n 7, 92,1 Skor Kejelasan Materi Pada Media Koran Informasi mengenai teknik budidaya tanaman padi melalui media koran kurang dimanfaatkan oleh petani di Kecamatan Gandus Kota Palembang. Koran yang masuk di Kecamatan Gandus Kota Palembang adalah koran Sinar Tani. Koran ini masuk melalui perantara penyuluh pertanian lapangan yang bertugas di Kecamatan Gandus atau dengan kata lain setiap kegiatan penyuluhan petugas lapangan membawa koran sinar tani untuk dibaca oleh petani di Kecamatan Gandus Kota Palembang. Sekitar 7,8 persen atau sebanyak 6 petani yang memanfaatkan koran untuk mencari informasi, tetapi keenam petani ini adalah ketua kelompok tani di wilayah Kecamatan Gandus, hal ini dikarenakan setiap ada pertemuan penyuluhan dilaksanakan di kediaman ketua kelompok tani sehingga media komunikasi termasuk koran dipegang oleh ketua kelompok tani. Uraian skor rata-rata dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Kejelasan materi koran berdasarkan skor rata-rata dan kriteria No Materi Skor rata-rata Kriteria 1 Pembibitan 1,15 2 Pengolahan Tanah 1,14 3 Pemupukan 1,14 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 1,14 5 Pengairan/ irigasi 1,15 6 Panen 1,15 Jumlah Total rataan skor 1,5 Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3,
18 58 Materi pesan mengenai budidaya padi yang meliputi pembibitan, pengolahan tanah,pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan atau irigasi, serta panen pada umumnya mendapatkan skor sebesar 1,5 dengan kriteria rendah. Hal ini menunjukkan bahwa petani pada umumnya tidak membaca koran yang disediakan penyuluh. Selain itu, petani yang juga kesulitan memahami isi pesan yang disampaikan karena bahasa yang digunakan sulit dimengerti oleh petani yang rata-rata berpendidikan tidak tamat sekolah dasar. Informasi tentang pembibitan mendapatkan skor rata-rata sebesar 1,15 dengan kategori rendah. Informasi tentang pengolahan tanah, pemupukan, serta informasi tentang hama dan penyakit tanaman mendapatkan skor rata-rata 1,14 dengan kriteria rendah. Informasi tentang pengairan atau irigasi mendapatkan skor rata-rata sebesar 1,15 dengan kriteria rendan, dan informasi tentang pemanenan mendapatkan skor rata-rata sebesar 1,15 dengan kriteria rendah. Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Petani Kesesuaian materi yang diberikan koran menurut petani yang membaca yaitu sebanyak 6 orang dinilai cukup sesuai. Keenam petani tersebut adalah ketua kelompok tani, mereka membaca koran karena biasanya jika penyuluh pertanian lapangan datang memberikan koran pertanian untuk disimpan dan dibaca. Tetapi kondisi di lapangan yang membaca koran adalah ketua kelompok tani kemudian pengetahuan dari koran tersebut di sebarkan kepada anggotanya pada saat pertemuan ataupun berkumpul dengan memberitahukan secara lisan bukan memberikan koran tersebut untuk dibaca. Sebagian besar informasi tentang kesesuaian materi pembibitan yang disampaikan oleh koran dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki kategori rendah yang berarti bahwa materi tentang pembibitan dinilai tidak sesuai, tetapi pada kasus ini kesesuaian materi dengan kabutuhan petani di lapangan dikarenakan petani tidak membaca koran yang memberikan informasi tentang teknik budidaya padi memiliki persentase 92,1 persen dengan jumlah 7 petani. Materi pembibitan dengan kategori sedang atau materi yang disampaikan oleh koran kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan tidak dinilai oleh petani. Kategori tinggi yaitu materi tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan petani di lapangan dengan jumlah persentase 7,9 persen. Berarti bahwa sebanyak 6 orang petani menilai bahwa materi tentang pembibitan yang disampaikan koran sesuai dengan kebutuhan petani. Uraian kesesuaian materi
19 59 yang disampaikan koran dengan kebutuhan petani di lapangan dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16. Kesesuaian materi dengan kebutuhan yang disampaikan melalui koran berdasarkan kategori dan persentase No Materi Kategori Jumlah Persentase orang (%) 1 Pembibitan Tinggi 6 7,9 7, 92,1 2 Pengolahan Tanah Tinggi 3 3,95 3 3, ,1 3 Pemupukan Tinggi 4 5,26 2 2, ,1 4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tinggi 4 5,26 2 2, ,1 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 2 2,64 4 5, ,1 6 Panen Tinggi 6 7,9 7, 92,1 Materi tentang pengolahan tanah dinilai sesuai dengan kebutuhan petani adalah 3,95 persen, yaitu sebanyak 3 orang petani menilai materi tersebut sesuai dengan kebutuhan petani. Materi pengolahan tanah yang dinilai kurang sesuai adalah sebesar 3,95 dengan jumlah 3 orang petani. Hal ini dikarenakan kondisi lahan sawah mereka digenangi air sehingga tidak dapat menerapkan informasi yang diberikan. Kesesuaian materi pemupukan dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 5,26 persen dengan jumlah 4 petani. Materi pemupukan dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 2,64 persen dengan jumlah petani 2 orang. Petani menilai kurang sesuai dikarenakan anjuran pemupukan yang harus dilakukan satu minggu sekali tidak bisa diterapkan karena kurangnya modal untuk membeli pupuk dengan jumlah yang banyak, sehingga mereka hanya mampu menggunakan pupuk satu kali per satu kali musim tanam. Kesesuaian materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 5,26 persen dengan jumlah 4 petani. Materi pengendalian hama dan
20 6 penyakit dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 2,64 persen dengan jumlah petani 2 orang. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori rendah yaitu petani menilai materi yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan atau petani tidak membaca koran yang memberikan informasi tentang pengendalian hama dan penyakit memiliki persentase 92,1 persen dengan jumlah 7 petani. Kesesuaian materi pengairan atau irigasi dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 2,64 persen dengan jumlah petani 2 orang. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 5,26 persen dengan jumlah 4 petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori rendah yaitu petani menilai materi yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan atau petani tidak membaca koran yang memberikan informasi tentang pengairan atau irigasi memiliki persentase 92,1 persen dengan jumlah 7 petani. Materi panen dengan kategori tinggi yang berarti bahwa petani menilai materi tersebut sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah 6 petani. Materi panen dengan kategori sedang yaitu materi tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan tidak dinilai oleh petani. Materi pemupukan dengan kategori rendah yang berarti bahwa petani menilai materi tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan atau tidak menonton acara koran yang memberikan informasi tentang materi pengairan atau irigasi memiliki persentase 92,1 persen dengan jumlah 7 petani. Skor Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Petani Kesesuaian materi yang disampaikan media koran dengan kebutuhan petani di Kecamatan Gandus mendapatkan skor rata-rata sebesar 1,13 dengan kriteria rendah. Hal ini menunjukkan bahwa petani tidak memanfaatkan koran sebagai media penyampaian pesan, sehingga kategori materi yang disampaikan koran rendah. Uraian skor rata-rata kesesuai materi dengan kebutuhan petani pada media koran dapat dilihat pada Tabel 17.
21 61 Tabel 17. Kesesuaian materi dengan kebutuhan petani yang disampaikan melalui koran berdasarkan skor rata-rata dan kriteria No Materi Skor ratarata Kriteria 1 Pembibitan 1,15 2 Pengolahan Tanah 1,12 3 Pemupukan 1,12 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 1,13 5 Pengairan/ irigasi 1,12 6 Panen 1,14 Jumlah Total rataan skor 1,13 Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Informasi tentang pembibitan mendapatkan skor rata-rata 1,15 dengan kriteria rendah. Informasi pengolahan tanah mendapatkan skor rata-rata 1,12 dengan katagori rendah. Informasi tentang pemupukan memiliki skor rata-rata 1,12 dengan kategori rendah. Informasi tentang pengendalian hama dan penyakit memiliki skor rata-rata 1,13 dengan kategori rendah. Informasi tentang pengairan atau irigasi memiliki skor rata-rata 1,12 dengan kategori rendah. Informasi tentang panen memiliki skor rata-rata 1,14 dengan kategori rendah. Materi Pesan pada Media Leaflet Kejelasan Materi pada Leaflet Persentase kejelasan materi yang disampaikan media leaflet yaitu banyaknya petani memilih jelas, kurang jelas atau tidak jelas terhadap materi yang disampaikan media leaflet terkait dengan informasi mengenai budidaya padi berdasarkan persen. Sebagian besar informasi yang disampaikan melalui leaflet mengenai pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan/irigasi, serta panen memiliki kategori tinggi sebesar 8,27 persen dengan jumlah 61 petani. Kategori sedang yang berarti kurang jelasnya materi yang disampaikan oleh leaflet tidak dinilai oleh petani. Kategori rendah yaitu sebesar persentase 19,73 persen. Berarti bahwa sebanyak 15 orang petani tidak membaca informasi yang disampaikan melalui leaflet mengenai tanaman padi. Uraian presentase kejelasan materi tersebut dapat dilihat pada Tabel 18.
22 62 Tabel 18. Kejelasan materi yang disampaikan melalui leaflet berdasarkan materi dan persentase No Materi Kategori Jumlah orang Persentase 1 Pembibitan Tinggi 61 8,27 15, 19,73 2 Pengolahan Tanah Tinggi 61 8,27 15, 19,73 3 Pemupukan Tinggi 61 8,27 15, 19,73 4 Pengendalian Hama dan Tinggi 61 8,27 Penyakit 15, 19,73 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 61 8,27 15, 19,73 6 Panen Tinggi 61 8,27 15, 19,73 Skor Kejelasan Materi Pada Leaflet Materi yang disampaikan melalui media leaflet adalah pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pengairan atau irigasi, serta panen. Skor rata-rata keseluruhan materi yang disampaikan leaflet memiliki skor 2,6 dengan kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan melalui leaflet dapat dimengerti oleh sebagian besar. Uraian skor rata-rata materi yang disampaikan dapat dilihat pada tabel 19. Tabel 19. Kejelasan materi yang disampaikan melalui leaflet berdasarkan skor rata-rata dan kriteria No Materi Skor ratarata Kriteria 1 Pembibitan 2,6 Tinggi 2 Pengolahan Tanah 2,6 Tinggi 3 Pemupukan 2,6 Tinggi 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 2,6 Tinggi 5 Pengairan/ irigasi 2,6 Tinggi 6 Panen 2,6 Tinggi Jumlah Total rataan skor 2,6 Tinggi Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Materi tentang pembibitan yang disampaikan melalui leaflet memiliki skor rata-rata 2,6 dengan kriteria tinggi. Hal ini berarti bahwa materi tentang pembibitan dinilai jelas oleh petani. Pengolahan tanah memiliki skor 2,6 dengan
23 63 kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pengolahan tanah dinilai jelas oleh petani. Pemupukan memiliki skor 2,6 dengan kriteria tinggi. Hali ini berarti bahwa materi pemupukan dinilai jelas oleh petani. Pengendalian hama dan penyakit memiliki skor 2,6 dengan kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang hama dan penyakit tumbuhan dinilai jelas oleh petani. Pengairan dan irigasi memiliki skor 2,6 dengan kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pengairan atau irigasi dinilai jelas oleh petani. Panen memiliki skor 2,6 dengan kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pemanenan dinilai jelas oleh petani. Kesesuaian Materi Dengan Kebutuhan Petani Kesesuaian materi pesan yang diberikan media leaflet dengan kebutuhan petani di lapangan untuk materi tertentu cukup sesuai dengan kategori tinggi. Pada sebagian besar informasi tentang kesesuaian materi pembibitan yang disampaikan oleh leaflet dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki kategori tinggi yaitu materi tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan petani di lapangan dengan jumlah persentase 8,27 persen. Berarti bahwa sebanyak 61 orang petani menilai bahwa materi tentang pembibitan yang disampaikan leaflet sesuai dengan kebutuhan petani. Materi pembibitan dengan kategori sedang atau materi yang disampaikan oleh leaflet kurang sesuai tidak dinilai oleh petani. Kategori rendah yang berarti petani tidak membaca leaflet yang memberikan informasi tentang pembibitan memiliki persentase 19,73 persen dengan jumlah 15 petani. Materi pengolahan tanah yang disampaikan leaflet yang dinilai sesuai dengan kebutuhan petani atau dengan kategori tinggi memiliki persentase 19,73 persen dengan jumlah 15 petani. Kesesuaian materi dengan kategori sedang atau materi tentang pengolahan tanah yang dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan oleh petani memiliki persentase 6,54 persen dengan jumlah 46 petani. Kesesuaian materi dengan kategori rendah atau petani membaca informasi pengolahan tanah di leaflet memiliki persentase 19,73 persen dengan jumlah 15 petani. Kesesuaian materi pemupukan dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 71,6 persen dengan jumlah 54 petani. Materi pemupukan dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 9,21 persen dengan jumlah petani 7 orang. Materi pemupukan dengan kategori rendah yaitu petani tidak membaca leaflet yang
24 64 memberikan informasi tentang pemupukan memiliki persentase 19,73 persen dengan jumlah 15 petani. Uraian persentase kesesuaian materi yang disampaikan leaflet dengan kebutuhan petani di lapangan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kesesuaian materi dengan kebutuhan petani yang disampaikan melalui leaflet berdasarkan kategori dan persentase No Materi Kategori Jumlah orang Persentase(%) 1 Pembibitan Tinggi 61 8,27 15, 19,73 2 Pengolahan Tanah Tinggi 15 19, , ,73 3 Pemupukan Tinggi 54 71,6 7 9, ,73 4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tinggi 18 23, , ,73 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 18 23, , ,73 6 Panen Tinggi 61 8,27 15, 19,73 Kesesuaian materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 23,69 persen dengan jumlah 18 petani. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 56,58 persen dengan jumlah petani 43 orang. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori rendah yaitu petani tidak membaca leaflet yang memberikan informasi tentang pengendalian hama dan penyakit memiliki persentase 19,73 persen dengan jumlah 15 petani. Kesesuaian materi pengairan atau irigasi dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 23,69 persen dengan jumlah petani 18 orang. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 56,58 persen dengan jumlah 43 petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori rendah yaitu
25 65 petani tidak membaca leaflet yang memberikan informasi tentang pengairan atau irigasi memiliki persentase 19,73 persen dengan jumlah 15 petani. Materi panen dengan kategori tinggi yang berarti bahwa petani menilai materi tersebut sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 8,27 persen dengan jumlah 61 petani. Materi panen dengan kategori sedang yaitu petani menilai bahwa materi tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan tidak dinilai oleh petani. Petani yang tidak membaca leaflet dengan kategori rendah memiliki persentase 19,73 persen dengan jumlah 15 petani. Skor Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Petani pada Media Leaflet Kesesuaian materi pesan dengan kebutuhan petani mendapatkan skor rata-rata 2,29 dengan kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa materi pada leaflet kurang sesuai dengan kebutuhan petani. Hal ini dikarenakan keadaan lahan sawah mereka tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan materi yang terdapat pada leaflet. Uraian masing-masing skor dapat dilihat pada Tabel 21. Tabel 21. Kesesuaian Materi dengan kebutuhan petani yang disampaikan melalui laeflet berdasarkan skor rata-rata dan kriteria No Materi Skor rata-rata Kriteria 1 Pembibitan 2,59 Tinggi 2 Pengolahan Tanah 2, 3 Pemupukan 2,51 Tinggi 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 2,4 5 Pengairan/ irigasi 2,4 6 Panen 2,56 Tinggi Jumlah Total rataan skor 2,29 Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Pembibitan memiliki skor 2,59 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pembibitan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Pengolahan tanah memiliki skor 2, dengan kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pengolahan tanah kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan, ini dikarenakan lahan sawah kebanyakan petani contoh tergenang air sehingga mereka tidak mengikuti petunjuk yang diberikan media leaflet untuk menggaru sawah atau membajak sawahnya. Pemupukan memiliki skor 2,51 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tantang pemupukan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Pengendalian hama dan penyakit memiliki skor 2,4 dengan kategori sedang.hal ini
26 66 menunjukkan bahwa materi tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman kurang sesuai dengan kebutuhan petani. Pengairan dan irigasi memiliki skor 2,4 dengan kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa materi pengairan atau irigasi kurang sesuai dengan kebutuhan petani. Panen memiliki skor 2,56 dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa materi pemanenan sesuai dengan kebutuhan petani. Materi Pesan pada Media Penyuluh Kejelasan Materi Pesan pada Media Penyuluh pertanian Lapangan Penyuluh pertanian lapangan sebagai media komunikasi interpersonal tidak dapat dipungkiri sebagai media yang secara langsung mendapatkan respon dari petani. Sebagai media komunikasi dua arah penyuluh tentu lebih dibutuhkan sebagai informasi bahkan sebagai sumber untuk menyelesaikan masalah di lapangan. Sama halnya dengan kondisi di Kecamatan Gandus, penyuluh pertanian lapangan sangat berperan dalam usahatani tanaman padi. Uraian persentase kejelasan materi pesan pada media penyuluh pertanian lapangan dapat dilihat pada Tabel 22. Tabel 22. Kejelasan materi yang disampaikan PPL berdasarkan kategori dan persentase No Materi Kategori Jumlah orang Persentase 1 Pembibitan Tinggi 7 92,1 6, 7,9 2 Pengolahan Tanah Tinggi 7 92,1 6 7,9 3 Pemupukan Tinggi 7 92,1 6, 7,9 4 Pengendalian Hama dan Tinggi 7 92,1 Penyakit 6, 7,9 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 7 92,1 6 7,9 6 Panen Tinggi 7 92,1 6, 7,9 Pada umumnya petani menilai informasi yang diberikan penyuluh pertanian lapangan disampaikan dengan jelas. Sebesar 92,1 persen atau sebanyak 7 petani menilai materi yang disampaikan penyuluh pertanian
27 67 lapangan sudah jelas. Hal ini dikarenakan penyuluh dapat menyampaiakan informasi dengan bahsa yang dipahami oleh petani setempat atau dengan menggunakan bahasa daerah Palembang. Petani yang menilai kejelasan materi yang disampaikan penyuluh pertanian lapangan dengan kategori rendah adalah petani yang tidak pernah ikut dalam kegiatan penyuluhan dan secara langsung bertemu dengan penyuluh dikarenakan lokasi kediaman petani lebih jauh. Skor Kejelasan Materi Pesan pada Media Penyuluh pertanian Lapangan Materi yang disampaikan dalam pertemuan penyuluhan meliputi teknik budidaya padi yang juga disampaikan oleh media leaflet. Teknik budidaya padi tersebut adalah pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan atau irigasi serta panen. Materi pesan yang disampaikan oleh penyuluh pertanian lapangan memiliki skor rata-rata 2,83 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi yang disampaikan oleh penyuluh pertanian lapangan dapat dimengerti oleh petani padi di Kecamatan Gandus Kota Palembang. Uraian masing-masing skor dari materi teknik budidaya tanaman padi yang disampaikan oleh penyuluh pertanian lapangan di Kecamatan Gandus Kota Palembang dapat dilihat pada Tabel 23. Tabel 23. Kejelasan materi yang disampaikan PPL berdasrakan skor dan kriteria No Materi Skor rata-rata Kriteria 1 Pembibitan 2,84 Tinggi 2 Pengolahan Tanah 2,82 Tinggi 3 Pemupukan 2,82 Tinggi 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 2,81 Tinggi 5 Pengairan/ irigasi 2,84 Tinggi 6 Panen 2,84 Tinggi Jumlah Total rataan skor 2,83 Tinggi Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Pembibitan memiliki skor 2,84 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pembibitan dinilai jelas oleh petani. Pengolahan tanah memiliki skor 2,82 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pengolahan tanah dinilai jelas oleh petani. Pemupukan memiliki skor 2,82 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pemupukan dapat dimengerti oleh petani. Pengendalian hama dan penyakit memiliki skor 2,81 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang pengendalian hama dan penyakit tanaman dinilai jelas oleh petani. Pengairan atau irigasi memiliki skor 2,84 dengan kategori tinggi. Hal ini
28 68 menunjukkan bahwa materi tentang pengairan atau irigasi dinilai jelas oleh petani. Materi panen memiliki skor 2,84 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang panen dinilai jelas oleh petani. Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Petani pada PPL Kesesuaian materi tentang budidaya padi yang disampaikan PPL dinilai sesuai oleh petani. Hal ini dikarenakan penyuluh memberikan solusi untuk permasalahan di lapangan. Pertemuan dengan penyuluh ini rutin dilakukan setiap bulan sekali yaitu pada malam hari, untuk pertemuan siang hari biasanya penyuluh datang ke lokasi setiap hari rabu, tetapi tidak semua petani yang datang karena penyuluh biasanya datang ke rumah ketua kelompok tani. Uraian persentase kesesuaian materi yang disampaikan PPL dengan kebutuhan petani dapat dilihat pada Tabel 24. Tabel 24. Kesesuaian materi dengan kebutuhan yang disampaikan PPL berdasarkan kategori dan persentase No Materi Kategori Jumlah orang Persentase 1 Pembibitan Tinggi 67 88,15 3 3,94 6 7,9 2 Pengolahan Tanah Tinggi 61 8, ,84 6 7,9 3 Pemupukan Tinggi 62 81,57 8 1,53 6 7,9 4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tinggi 64 84,2 6 7,9 6 7,9 5 Pengairan/ irigasi Tinggi 62 81,57 8 1,53 6 7,9 6 Panen Tinggi 7 92,1 6, 7,9 Sebagian besar informasi tentang kesesuaian materi pembibitan yang disampaikan oleh PPL dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki kategori tinggi yaitu materi tersebut sesuai dengan yang dibutuhkan petani di lapangan dengan jumlah persentase 88,15 persen. Berarti bahwa sebanyak 67 orang petani menilai bahwa materi tentang pembibitan yang disampaikan PPL sesuai dengan kebutuhan petani. Materi pembibitan dengan kategori sedang atau materi yang disampaikan oleh PPL kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan
29 69 mendapatkan persentase 3,94 persen dengan jumlah 3 petani. Kategori rendah yang berarti bahwa petani tidak mengikuti kegiatan PPL atau tidak mendapatkan informasi dari PPL tentang pembibitan memiliki persentase 6 persen dengan jumlah 7,9 petani. Materi pengolahan tanah yang disampaikan PPL yang dinilai sesuai dengan kebutuhan petani atau dengan kategori tinggi memiliki persentase 8,26 persen dengan jumlah 61 petani. Kesesuaian materi dengan kategori sedang atau materi tentang pengolahan tanah yang dinilai kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan oleh petani memiliki persentase 11,84 persen dengan jumlah 9 petani. Kesesuaian materi dengan kategori rendah atau petani tidak mengikuti kegiatan PPL atau tidak mendapatkan informasi dari PPL tentang pembibitan memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah 6 petani. Kesesuaian materi pemupukan dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 81,57 persen dengan jumlah 62 petani. Materi pemupukan dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 1,53 persen dengan jumlah petani 8 orang. Materi pemupukan dengan kategori rendah yaitu petani tidak mengikuti kegiatan PPL atau tidak mendapatkan informasi dari PPL tentang pembibitan memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah 6 petani. Kesesuaian materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 84,2 persen dengan jumlah 64 petani. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah petani 6 orang. Materi pengendalian hama dan penyakit dengan kategori rendah yaitu petani tidak mengikuti kegiatan PPL atau tidak mendapatkan informasi dari PPL tentang pembibitan memiliki persentase 7,9 perse dengan jumlah 6 petani. Kesesuaian materi pengairan atau irigasi dengan kategori tinggi atau dinilai sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 81,57 persen dengan jumlah petani 62 orang. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori sedang atau petani menilai materi yang disampaikan kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 1,53 persen dengan jumlah 8 petani. Materi pengairan atau irigasi dengan kategori rendah yaitu
30 7 petani tidak mengikuti kegiatan PPL atau tidak mendapatkan informasi dari PPL tentang pembibitan memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah 6 petani. Materi panen dengan kategori tinggi yang berarti bahwa petani menilai materi tersebut sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan memiliki persentase 92,1 persen dengan jumlah 7 petani. Materi panen dengan kategori sedang yaitu petani menilai bahwa materi tersebut kurang sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan tidak dinilai oleh petani. Kategori rendah yaitu petani tidak mengikuti kegiatan PPL atau tidak mendapatkan informasi dari PPL tentang pembibitan memiliki persentase 7,9 persen dengan jumlah 6 petani. Skor Kesesuaian Materi dengan Kebutuhan Petani pada PPL Kesesuaian materi yang diberikan oleh penyuluh pertanian lapangan dengan kebutuhan petani di lapangan meliputi materi tentang pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan atau irigasi, serta panen. Uraian skor rata-rata keselurahan materi dapat dilihat pada Tabel 25. Tabel 25. Kesesuaian Materi dengan kebutuhan petani pada pesan yang disampaikan PPL berdsarkan kriteria No Materi Skor rata-rata Kriteria 1 Pembibitan 2,78 Tinggi 2 Pengolahan Tanah 2,72 Tinggi 3 Pemupukan 2,73 Tinggi 4 Pengendalian Hama dan Penyakit 2,76 Tinggi 5 Pengairan/ irigasi 2,73 Tinggi 6 Panen 2,84 Tinggi Jumlah Total rataan skor 2,76 Tinggi Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Jumlah total skor keseluruhan materi adalah 2,76dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa materi tentang teknik budidaya tanaman padi sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Pembibitan memiliki skor 2,78 dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa materi tentang pembibitan sesuai dengan kebutuhan petani. Pengolahan tanah memiliki skor 2,72 dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa materi tentang pengolahan tanah sesuai dengan kebutuhan petani. Pemupukan memiliki skor 2,73 dengan dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa materi tentang pemupukan sesuai dengan kebutuhan petani. Pengendalian hama dan penyakit memiliki skor 2,76 dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa materi tentang pengendalian hama dan penyakit sesuai dengan kebutuhan petani. Pengairan irigasi memiliki skor 2,73 dengan kategori tinggi.
31 71 Hal ini berarti bahwa materi tentang pengairan atau irigasi sesuai dengan kebutuhan petani. Panen memiliki skor 2,84 dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa materi tentang pemanenan sesuai dengan kebutuhan petani. EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI Efektivitas media komunikasi petani yang diukur adalah komponen pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam mebudidayakan tanaman padi di Kecamatan Gandus Kota Palembang. Pengukuran ketiga komponen efektivitas komunikasi didapat jumlah total skor sebesar 2,48 dengan kategori tinggi (Tabel 26). Tabel 26. Komponen efektivitas media komunikasi berdasarkan skor rata-rata dan kriteria No Komponen Skor Rata-rata Kriteria 1 Pengetahuan 2,74 Tinggi 2 Sikap 2,34 Tinggi 3 Tindakan 2,37 Tinggi Jumlah Total Skor 2,48 Tinggi Keterangan : : 1, 1,66. : 1,67-2,33. Tinggi : 2,34 3, Hasil pengukuran ketiga komponen efektivitas komunikasi petani (pengetahuan, sikap, dan tindakan) menunjukkan bahwa indikator perilaku petani dalam membudidayakan tanaman padi yang meliputi pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pengairan atau irigasi, serta panen tergolong baik sangat baik. Skor pengetahuan petani sebesar 2,74 dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa petani contoh mengetahui teknik budidaya tanaman padi. Skor sikap petani sebesar 2,34 dengan kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa petani setuju dengan informasi yang disampaikan oleh media komunikasi. Skor tindakan petani sebesar 2,37 dengan kategori tinggi. Hal ini berarti bahwa petani umumnya melakukan tindakan untuk usahatani padi sesuai dengan informasi dari media komunikasi. Pengetahuan Pengetahuan petani adalah wawasan petani dalam mengelola usahatani padi mulai dari pembibitan sampai panen. Dalam hal ini pengetahuan petani contoh sudah sangat baik. Hal ini berarti bahwa petani contoh mengetahui dengan baik tentang teknik budidaya padi yang meliputi pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan atau irigasi, serta panen. Sebagian besar petani contoh mengetahui teknik budidaya padi dari pengalaman mereka sendiri dan dari orang tua terdahulu, tetapi mereka
32 72 tetap meminta penyuluh pertanian lapangan sebagai media interpersonal untuk membantu memecahkan masalah mereka seperti misalnya keadaan lahan sawah mereka yang digenangi air apabila musim penghujan. Petani contoh juga memanfaatkan beragam media yang mereka terima pada saat kegiatan penyuluhan berlangsung seperti leaflet dan koran sinar tani. Selain itu, mereka memanfaatkan juga televisi untuk mendapatkan informasi dari acara kontak tani yang disiarkan oleh TVRI Sumsel setiap hari selasa dengan durasi 3 menit. Sikap Sikap petani adalah pernyataan petani terhadap informasi yang disampaikan media komunikasi (Televisi, Koran, Leaflet, dan PPL) dalam mengelola usahatani padi mulai dari pembibitan sampai panen. Pengukuran sikap petani contoh dalam membudidayakan tanaman padi meliputi pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan, pengairan atau irigasi serta panen. Pengukuran skor rata-rata sikap petani contoh menunjukkan kriteria tinggi. Hal ini berarti bahwa semua petani contoh setuju dengan informasi yang disampaikan oleh media komunikasi dalam melakukan usahatani tanaman padi. Sikap setuju petani contoh terhadap informasi tentang teknik budidaya padi sangat tinggi, karena petani contoh berfikir bahwa informasi yang disampaikan oleh media komunikasi sudah pasti benar. Tetapi, petani contoh mengungkapkan bahwa kadang kala pesan yang disampaikan media tidak dapat dilaksanakan karena keadaan lahan dan keuangan petani contoh yang tidak memungkinkan. Sikap petani dipengaruhi oleh usia dan pengalaman mereka. Petani yang berusia lebih tua memiliki sikap yang cenderung kurang setuju dengan informasi-informasi baru yang disampaikan oleh media komunikasi. Hal ini dikarenakan petani yang usianya lebih tua memiliki pengalaman yang lebih lama dalam berusahatani padi, sehingga mereka lebih percaya dengan pengalaman mereka dalam usahatani padi. Karena pada dasarnya yang dibutuhkan petani adalah bantuan modal bukan hanya informasi baru mengenai tanaman padi yang tidak bisa mereka terapkan karena kurangnya modal. Tindakan Tindakan adalah semua kegiatan petani terkait informasi yang disampaikan oleh media komunikasi yang meliputi melakukan kegiatan, kurang melakukan kegiatan, dan tidak melakukan kegiatan sesuai dengan informasi
33 73 yang diterima. Pengukuran komponen tindakan petani contoh dalam menerapkan budidaya tanaman padi meliputi pembibitan, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, pengairan atau irigasi, serta panen. Tabel 18 menunjukkan tindakan petani contoh di Kecamatan Gandus Kota Palembang berada pada kriteria tinggi, meskipun ada beberapa komponen seperti pembibitan menunjukkan skor rata-rata pada kriteria sedang. Hal ini menunjukkan bahwa petani contoh kurang melakukan tindakan sesuai yang disampaikan media komunikasi. Rata-rata petani tidak melakukan kegiatan pengolahan tanah yaitu dengan menggaru atau membajak sawah. Hal ini dikarenakan lahan sawah tergenang air dan petani contoh harus mengeluarkan uang tambahan untuk menyewa handtraktor. ANALISIS HUBUGAN Hubungan Faktor Internal Petani, Keterdedahan Media Komunikasi, dan Penilaian Media Komunikasi dengan Efektivitas Komunikasi. Indikator faktor internal petani (X) yang diteliti adalah usia (X1), pendidikan (X2), pengalaman (X3), luas lahan (X4), dan kepemilikan lahan (X5). Indikator Keterdedahan terhadap media komunikasi (X6) yaitu frekuensi menonton TV (X6.1), frekuensi membaca koran (X6.2), frekuensi membaca leaflet (X6.3), frekuensi pertemuan penyuluh pertanian lapangan (X6.4). Indikator penilaian petani terhadap media televisi (X7) adalah materi yang ditonton (X7.1) dan kesesuaian materi terhadap kebutuhan petani (X7.2). Penilaian petani terhadap media koran (X8) adalah materi yang dibaca (X8.1) dan kesesuaian materi terhadap kebutuhan petani (X8.2). Penilaian petani terhadap media leaflet (X9) adalah materi yang dibaca (X9.1) dan kesesuaian materi terhadap kebutuhan petani (X9.2). Penilaian petani terhadap media interpersonal PPL (X1) adalah materi yang diberikan (X1.1) dan kesesuaian materi terhadap kebutuhan petani (X1.2). Hubungan Faktor Internal Petani dengan Efektivitas Media Komunikasi Untuk mengetahui pengaruh faktor internal petani (X) dengan efektivitas komunikasi (Y) dilakukan pengujian masing-masing peubah menggunakan rumus Khi-kuadrat program SPSS 17. for windows. Uraian hubungan faktor internal petani dengan efektivitas media komunikasi dapat dilihat pada Tabel 27.
34 74 Tabel 27. Hubungan Karakteristik petani dengan pengetahuan, sikap dan tindakan No Karakteristik Pengetahuan Sikap Tindakan 1 Usia -.29 * -,11 -,191 * 2 Pendidikan,48,13,22 3 Pengalaman,16 -,122 -,251 * 4 Luas lahan,48,112,5 5 Kepemilikan Lahan,12,52,93 Keterangan : *Korelasi pada taraf nyata α =,5 Pada Tabel 27 faktor internal usia berhubungan negatif dengan pengetahuan. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi (tua) usia semakin rendah pengetahuan petani dalam budidaya padi. Faktor usia petani juga berpengaruh negatif terhadap tindakan yang berarti bahwa semakin tinggi (tua) usia petani maka semakin rendah tindakan petani. Berdasarkan data di lapangan petani berusia tua kurang mengetahui dan kurang melakukan tindakan sesuai informasiinformasi baru tentang budidaya padi yang disampaikan oleh media-media komunikasi dibandingkan petani yang lebih muda. Informasi baru tersebut yaitu seperti benih padi sebelum ditanam direndam air garam. Hal ini dimungkinkan karena petani yang usianya lebih tua memiliki persepsi bahwa pengalaman mereka tentang budidaya padi sudah mereka dapatkan dari orang tua mereka terdahulu, sehingga mereka berpersepsi bahwa cara mereka dalam berusahatani padi sudah bisa diterapkan di lapangan. Faktor usia petani tidak berhubungan dengan sikap. Pengalaman berhubungan negatif dengan tindakan, ini berarti semakin tinggi (lama) pengalaman petani semakin rendah tindakan yang dilakukan petani terkait tentang budidaya padi yang disampaikan melalui media. Hal ini terjadi karena petani yang pengalamannya lebih tinggi dari petani lain merasakan bahwa informasi itu perlu dipikirkan dahulu besarnya untung yang mereka dapatkan jika melakukan tindakan sesuai dengan anjuran dimedia atau jika mereka tidak melakukannya. Petani dengan pengalaman yang lebih lama tidak terpengaruh oleh informasi media untuk melakukan tindakan, hal ini dikarenakan adanya kebiasaan-kebiasaan petani dalam melakukan budidaya padi secara turun menurun dan hasilnya dirasakan tidak berbeda dengan informasi baru yang disampaikan oleh media. Mereka berpikir bahwa jika melakukan tindakan sesuai informasi yang dianjurkan akan menambah biaya produksi.
35 75 Hubungan Keterdedahan dengan Efektivitas Komunikasi Untuk mengukur hubungan keterdedahan (X6) dengan efektivitas komunikasi (Y) digunakan analisis rank Spearman program SPSS 17. for windows. Keterdedahan media komunikasi diukur dengan indikator frekuensi yaitu banyaknya petani menggunakan media komunikasi per bulan dan intensitas petani yaitu lamanya waktu per menit yang digunakan petani dalam satu kali penggunaan media komunikas per bulan. Hasil uji rank Spearman (rs) tersebut selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 28. Tabel 28. Hubungan frekuensi penggunaan media dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan No Frekuensi Pengetahuan Sikap Tindakan 1 Frekuensi menonton,257 *,37,199 * 2 Frekuensi membaca Koran,18,34,144 3 Frekuensi membaca Leaflet,154,6,97 4 Frekuensi Pertemuan Penyuluhan Pertanian,296 **,34,253 * Keterangan : *Korelasi pada taraf nyata α =,5 **Korelasi pada taraf sangat nyata α =,1 Berdasarkan Tabel 28 dapat dijelaskan bahwa, frekuensi menonton berhubungan nyata dengan efektivitas komunikasi atau memiliki korelasi yang nyata pada taraf α =,5. Frekuensi menonton televisi juga berhubungan nyata dengan tindakan. Ini berarti bahwa semakin tinggi frekuensi menonton petani semakin tinggi tingkat pengetahuan dan tindakan petani dalam usahatani padi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak petani menonton televisi yang menyiarkan tentang informasi pertanian akan meningkatkan tindakan petani mengenai usahatani padi. Frekuensi membaca koran tidak berhubungan nyata dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan. Hal ini dikarenakan sebagian besar petani tidak membaca koran sebagai sumber informasi untuk tanaman padi. Ini dikarenakan pendidikan sebagian besar petani rendah yaitu tidak tamat SD sehingga minat baca sangat kurang. Petani lebih sering menonton televisi dibandingkan membaca koran. Frekuensi membaca leaflet tidak berhubungan nyata dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan petani. Hal ini dikarenakan petani sebagian besar membaca leaflet hanya satu kali satu bulan dengan waktu kurang dari 1 menit sehingga leaflet tidak mempengaruhi pengetahuan petani mengenai
36 76 usahatani padi. Petani juga kesulitan membaca informasi dari leaflet karena pesan yang disampaikan melalui leaflet terlalu padat, ditunjang pendidikan petani yang rendah membuat petani sulit untuk membaca atau kurangnya keinginan untuk membaca leaflet secara keseluruhan. Frekuensi pertemuan dengan penyuluhan pertanian berhubungan sangat nyata pada taraf α,1 dengan pengetahuan petani. Hal ini berarti semakin tinggi tingakat pertemuan petani dengan penyuluh semakin tinggi pengetahuan petani mengenai usahatani padi. Frekuensi pertemuan dengan penyuluh pertanian berhubungan nyata dengan tindakan petani dalam usahatani padi. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat pertemuan petani dengan penyuluh pertanian semakin tinggi tindakan petani melakukan kegiatan tentang budidaya padi yang disampaikan penyuluh pertanian. Hal ini dikarenakan petani lebih mempercayai penyuluh sebagai sumber informasi dan media interpersonal yang dapat menyelesaikan masalah petani di lapangan dikarenakan PPL melihat langsung kondisi lahan sawah petani padi. Frekuensi pertemuan dengan penyuluh tidak berhubungan nyata dengan sikap petani. Hal ini menunjukkan informasi yang disampaikan penyuluh tidak mempengaruhi sikap petani terhadap pesan yang disampaikan. Hal ini dikarenakan sikap petani didasari oleh pengalaman yang sudah lama mengenai usahatani padi, meskipun petani mengetahui informasi baru yang disampaikan media komunikasi petani lebih mempercayai pengalamannya sendiri. Tabel 29. Hubungan intensitas penggunaan media dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan No Intensitas Pengetahuan Sikap Tindakan 1 Lama menonton,192 *,31,175 2 Lama membaca Koran,2 -,34,142 3 lama membaca Leaflet,125 -,66,9 4 Lama Pertemuan Penyuluhan Pertanian,293 **,45,231 * Keterangan : *Korelasi pada taraf nyata α =,5 **Korelasi pada taraf nyata α =,1 Intensitas petani menonton televisi berhubungan nyata dengan pengetahuan petani terhadap usahatani padi. Hal ini berarti semakin lama petani menonton televisi mengenai budidaya padi, maka pengetahuan petani semakin tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa lamanya waktu yang digunakan petani untuk menonton televisi dapat meningkatkan pengetahuan petani. Intensitas petani
37 77 bertemu dengan penyuluh pertanian lapangan berhubungan sangat nyata dengan pengetahuan dan tindakan petani. Hal ini berarti semakin lama waktu yang digunakan petani untuk berdiskusi dengan penyuluh pertanian lapangan maka semakin tinggi pengetahuan dan tindakan petani terhadap usahatani padi. Hubungan Penilaian TV dengan Efektivitas Komunikasi Untuk mengukur hubungan penilaian TV (X7) dengan efektivitas komunikasi (Y) digunakan analisis rank Spearman program SPSS 17. for windows. Penilaian televisi diukur dengan indikator kejelasan materi dan keseuaian materi yang disampaikan dengan kebutuhan petani di lapangan. Analisis penilaian TV terhadap efektivitas komunikasi dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3. Hubunga Penilaian media TV oleh petani dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan No Penilaian Pengetahuan Sikap Tindakan 1 Materi pesan yang ditonton,121,31,35 2 Kesesuaian materi dengan,31,6,175 kebutuhan petani Pada taraf α,5 materi pesan yang ditonton tidak berhubungan nyata dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan. Kesesuaian materi dengan kebutuhan petani tidak berhubungan dengan pengetahuan sikap dan tindakan. Hal ini menunjukkan, meskipun petani lebih banyak menonton televisi dibandingkan membaca koran dan leaflet, Hal ini dimaksudkan bahwa tidak semua materi yang disiarkan oleh televisi dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan petani. Materi yang disampaikan televisi juga sudah diketahui petani sebelumnya dari orang tua terdahulu. Hubungan Penilaian Koran dengan Efektivitas Komunikasi Untuk mengukur hubungan penilaian koran (X8) dengan efektivitas komunikasi (Y) digunakan analisis rank Spearman program SPSS 17. for windows. Hasil uji rank Spearman (rs) tersebut selengkapnya dapat dilihat pada hasil olahan data dan Tabel 31. Tabel 31. Hubungan penilaian media koran dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan No Penilaian Pengetahuan Sikap Tindakan 1 Materi pesan yang dibaca,112,34,166 2 Kesesuaian materi dengan,118,5,144 kebutuhan petani
38 78 Berdasarkan Tabel 31 penilaian materi pesan yang dibaca dalam koran tidak berhubungan nyata dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan. Kesesuaian materi pesan dengan kebutuhan petani juga tidak berhubungan nyata dengan pengetahuan, sikap dan tindakan petani. Hal ini dikarenakan bahwa sebagian besar petani tidak membaca koran sebagai sumber informasi dalam usahatani padi sehingga kedua indikator tersebut tidak berhubungan nyata dengan efektivitas komunikasi. Hubungan Penilaian leaflet dengan Efektivitas Komunikasi Untuk mengukur hubungan penilaian Leaflet (X9) dengan efektivitas komunikasi (Y) digunakan analisis rank Spearman program SPSS 17. for windows. Analisis penilaian leaflet dengan efektivitas komunikasi dapat dilihat pada hasil olahan data dan Tabel 32. Tabel 32. Hubungan penilaian leaflet oleh petani dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan No Penilaian pengetahuan Sikap Tindakan 1 Materi pesan yang dibaca,172 -,57,127 2 Kesesuaian materi dengan,125 -,34,192 kebutuhan petani Pada taraf α,5 materi pesan yang dibaca tidak berhubungan nyata dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan petani. Kesesuaian materi leaflet dengan kebutuhan petani juga tidak berhubungan nyata dengan efektivitas komunikasi. Hal ini dimungkinkan bahwa petani yang membaca leaflet secara jelas atau pun kurang jelas tidak secara langsung sadar atau percaya untuk mengetahui, memberikan sikap dan tindakannya karena data di lapangan menunjukkan petani lebih mendengarkan atau mempercayai penyuluh pertanian lapangan sebagai sumber informasi untuk usahatani padi. Informasi pada leaflet akan disampaikan kembali oleh penyuluh secara lisan dan dengan bahasa yang lebih demengerti oleh petani. Dengan kata lain informasi yang terdapat pada leaflet yang dibaca lebih diketahui petani setelah penyuluh memberikan informasi yang sama kepada petani. Media leaflet dalam menyampaikan informasi tidak dapat berdiri sendiri dengan kata lain harus ada media interpersonal atau PPL sebagai pihak kedua yang dapat menjelaskan secara rinci maksud dan tujuan dari informasi yang diberikan melalui leaflet.
39 79 Hubungan Penilaian PPL dengan Efektivitas Komunikasi Untuk mengukur hubungan penilaian PPL (X1) dengan efektivitas komunikasi (Y) digunakan analisis rank Spearman program SPSS 17. for windows. Analisis penilaian PPL dengan efektivitas komunikasi dapat dilihat pada tebel 33. Tabel 33. Hubungan penilaian PPL oleh petani dengan pengetahuan, sikap, dan tindakan No Penilaian Pengetahuan Sikap Tindakan 1 Materi pesan yang,293 ** -,34,258 ** disampaikan 2 Kesesuaian materi dengan kebutuhan petani,391 ** -,45,215 * Keterangan : *Korelasi pada taraf nyata α =,5 **Korelasi pada taraf sangat nyata α =,1 Materi yang disampaikan penyuluh kepada petani berhubungan sangat nyata dengan pengetahuan dan tindakan petani. Kesesuaian materi dengan kebutuhan petani juga berhubungan sangat nyata dengan pengetahuan dan tindakan petani. Berarti semakin jelas materi yang disampaikan PPL dan semakin sesuai materi yang disampaikan PPL semakin tinggi tingkat pengetahuan dan tindakan petani dalam membudidayakan tanaman padi. Hal ini berarti petani lebih mempercayai PPL sebagai sumber informasi karena penyuluh pertanian lapangan dapat melihat langsung kondisi lahan sawah sehingga dapat memberikan solusi dan informasi sesuai dengan yang dibutuhkan petani. Penilaian kejelasan materi yang disampaikan PPL dan kesesuaian materi dengan kebutuhan petani di lapangan tidak berhubungan nyata dengan sikap petani. Hal ini disebabkan oleh sikap petani relatif sama terhadap media komunikasi yang mereka gunakan. Hal ini seperti diungkapkan petani bahwa sikap petani pasti baik (setuju) dengan informasi yang disiarkan karena bisa digunakan untuk usahatani padi, tetapi jika ada informasi baru tentang budidaya padi tetapi hasil yang didapat dirasa tidak terlalu besar perbedaannya dan akan menambah biaya produksi mereka maka sikap petani akan kurang setuju dengan informasi itu, karena petani memiliki kebiasaankebiasaan yang sudah turun menurun mengenai tanaman padi karena faktor lingkungan mereka yang berbeda dengan kondisi lahan sawah biasanya yaitu lahan sawah petani di Kecamatan Gandus pada umumnya di genangi air dengan ketinggian yang relatif banyak.
40 8 Tingkat Ketahanan Pangan Petani Padi di Kecamatan Gandus Kota Palembang dalam Kaitannya Dengan media Komunikasi Ketahanan pangan di Kecamatan Gandus Kota Palembang tergolong baik. Hal ini terlihat di mana petani memiliki cadangan padi sampai musim tanam berikutnya, bahkan petani dapat menjual cadangan padi tersebut kepada warga sekitar. Seperti yang diungkapkan Departemen Pertanian (21) bahwa ketahanan pangan merupakan kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan dalam jumlah yang cukup, mutu yang layak, aman dan juga halal. Dalam ruang lingkup kecil ketahanan pangan petani di Kecamatan Gandus Kota Palembang tergolong baik di mana semua petani dapat memenuhi kebutuhan makanan pokok (beras) dengan usahatani padi. Petani tidak perlu lagi membeli beras karena mereka memiliki cadangan hingga 2 karung dengan bobot satu karung 25 kilo gram sisa panen yang sudah dijual ke pabrik-pabrik beras. Ketahanan Pangan di Kecamatan Gandus cukup baik ternyata sematamata tidak dipengaruhi oleh media massa. Hal ini terlihat dari analisis terhadap peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan, di mana sikap petani cenderung negatif, meskipun media komunikasi (PPL dan televisi) berhubungan nyata dengan pengetahuan dan tindakan petani. Pengetahuan dan tindakan petani sebelumnya sudah tinggi karena didapat dari pengalaman petani dalam usahatani padi. Hal ini menunjukkan bahwa Ketahanan Pangan yang berada pada kategori cukup baik lebih dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang didapat secara turun menurun karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Petani padi di Kecamatan Gandus memiliki cara-cara budidaya sesuai pengalaman mereka dalam berusahatani padi yang dapat dijadikan pelajaran bagi penyuluh dalam usahatani padi sehingga informasi yang diberikan bukan hanya informasi baru yang dianjurkan untuk petani tetapi informasi yang dibutuhkan oleh petani terkait budidaya tanaman padi. Dalam hal kaitannya dengan media komunikasi ternyata informasi baru yang penyebarluasannya menggunakan media komunikasi tidak efektif untuk petani yang berusia lebih tua dan dengan pengalaman yang lebih lama. Hal ini dikarenakan petani dengan tingkat usia yang lebih tua dan pengalaman yang lebih lama memiliki sikap yang cenderung menolak terhadap informasi baru karena tidak sesuai dengan kepercayaan dan kebiasaan mereka dalam budidaya
41 81 tanaman padi. Kebutuhan akan media massa oleh petani yang berusia lebih tua dan pengalaman yang lebih lama akan semakin rendah dibandingkan dengan petani yang berusia lebih muda dengan pengalaman yang relatif masih baru. Petani yang lebih tua atau dengan usia tua kurang membutuhkan media komunikasi untuk mengakses informasi tentang teknik budidaya padi. Petani dengan usia tua memerlukan pendekatan media interpersonal PPL sebagai media untuk menyebarluaskan informasi-informasi baru kepada petani tersebut agar tujuan program dapat tercapai.
Kuesioner EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI BAGI PETANI PADI DI KECAMATAN GANDUS KOTA PALEMBANG (Kasus Program Ketahanan Pangan )
87 Kuesioner EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI BAGI PETANI PADI DI KECAMATAN GANDUS KOTA PALEMBANG (Kasus Program Ketahanan Pangan ) No:. Faktor Internal Petani Padi 1. Nama responden :.. 2. Kelompok Tani :..
METODE PENELITIAN. Desain Penelitian
31 METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini dirancang sebagai penelitian survai deskriptif dan korelasionel yang terkait dengan Program Ketahanan Pangan di Kecamatan Gandus. Menurut Singarimbun
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Kersana mempunyai 13
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Kondisi Umum Desa Kemukten 5.1.1 Letak Geografis Desa Kemukten secara administratif terletak di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Kecamatan Kersana
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Citapen Lokasi penelitian tepatnya berada di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi 4.1.1 Keadaan Geografis Desa Oluhuta Utara merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Luas
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Batas-batas
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman padi merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting dalam rangka ketahanan pangan penduduk Indonesia. Permintaan akan beras meningkat pesat seiring dengan
V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Desa Gunung Malang merupakan salah
BAB IV KONTEKS LOKASI PENELITIAN
27 BAB IV KONTEKS LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Kabupaten Kuningan 4.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kuningan terletak di ujung Timur Laut Provinsi Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Provinsi
BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Karakteristik Desa 5.1.1. Kondisi Geografis Secara administratif Desa Ringgit terletak di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Letak Desa
DESKRIPSI KARAKTERISTIK PETANI, KETERDEDAHAN TERHADAP MEDIA KOMUNIKASI DAN PERILAKU KOMUNIKASI PETANI
29 DESKRIPSI KARAKTERISTIK PETANI, KETERDEDAHAN TERHADAP MEDIA KOMUNIKASI DAN PERILAKU KOMUNIKASI PETANI Deskripsi Karakteristik Individu Petani Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat bahwa umur petani anggota
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.. Wilayah dan Topografi Secara geografis Kota Pagar Alam berada pada 4 0 Lintang Selatan (LS) dan 03.5 0 Bujur Timur (BT). Kota Pagar Alam terletak di Provinsi Sumatera
V. GAMBARAN UMUM. permukaan laut, dan batas-batas wilayah sebagai berikut : a) Batas Utara : Kabupaten Banyuasin
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Keadaan Umum Kota Palembang Kota Palembang merupakan ibukota dari Provinsi Sumatera Selatan. Secara geografis Kota Palembang terletak antara 2 52' - 3 5' Lintang Selatan dan 104 37'
BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Kabupaten Kampar 4.1.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kampar terletak antara 1º 02' Lintang Utara dan 0º 20' Lintang Selatan, 100º 23' - 101º40' Bujur Timur.
BAB III PETANI DAN HASIL PERTANIAN DESA BENDOHARJO. A. Monografi dan Demografi Desa Bendoharjo
BAB III PETANI DAN HASIL PERTANIAN DESA BENDOHARJO A. Monografi dan Demografi Desa Bendoharjo Di bawah ini penulis akan sampaikan gambaran umum tentang keadaan Desa Bendoharjo Kecamatan Gabus Kabupaten
I. PENDAHULUAN. lebih dari dua pertiga penduduk Propinsi Lampung diserap oleh sektor
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sektor andalan perekonomian di Propinsi Lampung adalah pertanian. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Lampung
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Pulorejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Batas-batas
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini
KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHA PERIKANAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI PADI SAWAH DI DESA KALIBENING KECAMATAN TUGUMULYO KABUPATEN MUSI RAWAS
Seminar Nasional BKS PTN Barat Bandar Lampung, 19-21 Agustus 2014 Mulyana & Hamzah: Kontribusi Pendapatan Usaha Perikanan 933 KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHA PERIKANAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor yang cukup penting keberadaannya di Indonesia. Sektor inilah yang mampu menyediakan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia, sehingga
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum dan Geografis Penelitian dilakukan di Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Desa Lebak Muncang ini memiliki potensi yang baik dalam
KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN. Berdasarkan data monografi Desa Sukorejo (2013) menunjukkan keadaan
IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Berdasarkan data monografi Desa Sukorejo (2013) menunjukkan keadaan alam, keadaan pendududuk, keadaan sarana perekonomia dan keadaaan pertanian di Desa Sukerojo adalah
V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI
V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 5.1.1. Kabupaten Banyuasin Kabupaten Banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung
VII ANALISIS PENDAPATAN
VII ANALISIS PENDAPATAN Analisis pendapatan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi penerimaan, biaya, dan pendapatan dari usahatani padi sawah pada decision making unit di Desa Kertawinangun pada musim
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Desa Purwasari terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Desa Purwasari terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Petir, sebelah Selatan berbatasan dengan
BAB V GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Wilayah
BAB V GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Wilayah Penelitian dilakukan di Kecamatan Panumbangan, Sindangkasih dan Cihaurbeuti. Tiga kecamatan ini berada di daerah Kabupaten Ciamis sebelah utara yang berbatasan
BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI
BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI Bab ini akan membahas Kelurahan Setiamanah secara umum sebagai wilayah studi. Kelurahan Setiamanah merupakan salah satu kelurahan dari enam kelurahan di Kecamatan Cimahi
BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten
BAB V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1 Letak Geografis Desa Banjar termasuk salah satu wilayah di Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng dengan jarak kurang lebih 18 km dari ibu kota Kabupaten Buleleng
BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. Gambaran Umum Desa Ciaruten Ilir Desa Ciaruten Ilir merupakan bagian wilayah Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Desa ini merupakan daerah
V. GAMBARAN UMUM WILAYAH
V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Karakteristik Wilayah Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari tiga puluh lima daerah otonom di Propinsi Jawa Tengah yang terletak di sepanjang pantai utara Pulau Jawa.
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK SEWA SAWAH DI DESA TAMANREJO KECAMATAN TUNJUNGAN KABUPATEN BLORA
BAB III PELAKSANAAN PRAKTEK SEWA SAWAH DI DESA TAMANREJO KECAMATAN TUNJUNGAN KABUPATEN BLORA A. Demografi dan Monografi Desa Tamanrejo Kecamatan Tunjungan Kabupaten Blora Penulis akan menyampaikan gambaran
VI KARAKTERISTIK PETANI RESPONDEN
VI KARAKTERISTIK PETANI RESPONDEN 6.3. Gambaran Umum Petani Responden Gambaran umum petani sampel diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan para petani yang menerapkan usahatani padi sehat dan usahatani
BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH
67 BAB 4 EVALUASI KEEFEKTIFAN PROGRAM DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH Bab ini akan membahas keefektifan Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan (Proksi Mantap) dalam mencapai sasaran-sasaran
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tanggamus terbentuk atas dasar Undang-undang Nomor 2 tertanggal 3
39 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Kabupaten Tanggamus Kabupaten Tanggamus terbentuk atas dasar Undang-undang Nomor 2 tertanggal 3 Januari 1997 dan pada tanggal 21 Maret 1997 resmi menjadi salah
VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT
VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT 7.1. Penerimaan Usahatani Padi Sehat Penerimaan usahatani padi sehat terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan diperhitungkan. Penerimaan tunai adalah penerimaan
BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan.
43 BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan. Kecamatan Sragi merupakan sebuah Kecamatan yang ada
HASIL DAN PEMBAHASAN. profil Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang tahun 2016.
26 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian Keadaan umum daerah penelitian meliputi, keadaan administratif daerah, tata guna lahan, dan mata pencaharian penduduk. Keadaan umum didapat
BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN
24 BAB IV GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Luas Wilayah Desa Parakan adalah desa yang terletak di kecamatan Ciomas, kabupaten Bogor, provinsi Provinsi Jawa Barat merupakan daerah padat penduduk
KUESIONER HUBUNGAN ORANGTUA, TELEVISI, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN
101 Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER HUBUNGAN ORANGTUA, TELEVISI, DAN TEMAN DENGAN SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN (Kasus Pemuda Di Desa Cipendawa dan Sukatani, Kecamatan
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
34 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Profil Desa Cibunian 4.1.1 Keadaan Alam dan Letak Geografis Desa Cibunian merupakan salah satu desa di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Kondisi Geografis Kecamatan Cigombong Kecamatan Cigombong adalah salah satu daerah di wilayah Kabupaten Bogor yang berjarak 30 km dari Ibu Kota Kabupaten, 120 km
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Wilayah dan Topografi Kabupaten Demak berada di bagian utara Propinsi Jawa Tengah yang terletak antara 6º43'26" - 7º09'43" LS dan 110º48'47" BT dan terletak sekitar
I PENDAHULUAN. pertanian yang dimaksud adalah pertanian rakyat, perkebunan, kehutanan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan.
I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan, dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya sebagian besar bergantung pada sektor pertanian. Sektor pertanian yang
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani Petani Padi Organik Mitra Usaha Tani Identitas petani merupakan suatu tanda pengenal yang dimiliki petani untuk dapat diketahui latar belakangnya. Identitas
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Desa Suka Jawa merupakan salah satu Desa di Kecamatan Bumiratu Nuban
55 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Desa Sukajawa Desa Suka Jawa merupakan salah satu Desa di Kecamatan Bumiratu Nuban yang mulai diresmikan pada tahun 1951. Pada awalnya merupakan bagian
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Wilayah Penelitian dilakukan di Kabupaten Jember, Propinsi Jawa Timur yaitu di Desa Pakusari Kecamatan Pakusari. Desa Pakusari memiliki lima Dusun yaitu Dusun
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
35 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Bab ini mendeskripsikan keadaan umum wilayah penelitian dan deskripsi dan analisis tayangan iklan layanan masyarakat. Dalam penelitian ini kondisi potensi sosial
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan. Desa Bumi Restu memiliki
65 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis dan Luas Wialayah Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan yang berlokasi pada dua Desa yaitu Desa Bumi Restu dan
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Desa Situ Udik Desa Situ Udik terletak dalam wilayah administratif Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Desa Situ Udik terletak
Batas-batas Desa Pasir Jambu adalah sebagai berikut:
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Biofisik 4.1.1 Letak dan Aksesibilitas Berdasarkan buku Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Purwakarta (21) Dinas Kehutanan Purwakarta merupakan
V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Secara geografis, wilayah Kabupaten Karawang terletak antara 107
PENDAHULUAN. Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Desa Tegal Arum Kecamatan Rimbo Bujang Kabupaten Tebo merupakan daerah yang terbentuk karena transmigrasi berasal dari Jawa pada tahun 1979. Desa Tegal Arum merupakan daerah
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. memiliki aksesibilitas yang baik sehingga mudah dijangkau dan terhubung dengan
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak Geografis Desa wukirsari merupakan salah satu Desa dari total 4 Desa yang berada di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Desa Wukirsari yang berada sekitar
V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN
V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi Gambaran umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi dalam penelitian ini dihat
V. GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI DAN RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Desa Purwasari Desa Purwasari merupakan salah satu Desa pengembangan ubi jalar di Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Usahatani ubi jalar menjadi
BAB V GAMBARAN UMUM RESPONDEN
BAB V GAMBARAN UMUM RESPONDEN 5.1. Usia Usia responden dikategorikan menjadi tiga kategori yang ditentukan berdasarkan teori perkembangan Hurlock (1980) yaitu dewasa awal (18-40), dewasa madya (41-60)
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN. Kelurahan Penjaringan terletak di Kecamatan Penjaringan, Kotamadya
V. GAMBARAN UMUM PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kelurahan Penjaringan terletak di Kecamatan Penjaringan, Kotamadya Jakarta Utara. Kelurahan Penjaringan memiliki lahan seluas 395.43 ha yang
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
25 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Kondisi Fisik Desa Desa Pusakajaya merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Pusakajaya, Kabupaten Subang, Propinsi Jawa Barat, dengan
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
26 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Keadaan Geografis Desa Karacak Desa Karacak merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa ini
PENDAHULUAN Latar Belakang
27 PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma baru pembangunan Indonesia lebih diorientasikan pada sektor pertanian sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kapasitas lokal. Salah satu fokus
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Wilayah Penelitian Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Boalemo, Di lihat dari letak geografisnya, Kecamatan Wonosari
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Bangun Rejo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis dan Luas Wilayah Kecamatan Bangun Rejo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Lampung Tengah. Kecamatan Bangun Rejo merupakan pemekaran
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Geografis Daerah Penelitian. Kecamatan Rumbai merupakan salah satu Kecamatan di ibukota
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Geografis Daerah Penelitian Kecamatan Rumbai merupakan salah satu Kecamatan di ibukota Pekanbaru yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah
I. PENDAHULUAN. BPS (2016) menyatakan bahwa, selama periode waktu tahun jumlah
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah populasi penduduk Indonesia terus meningkat dari tahun ketahun. BPS (2016) menyatakan bahwa, selama periode waktu tahun 2000-2010 jumlah penduduk Indonesia meningkat
I. PENDAHULUAN Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Padi merupakan pangan utama yang dikonsumsi oleh hampir setengah penduduk dunia. Kebutuhan pangan akan semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah penduduk, namun
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota
66 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Kota Bandarlampung 1. Letak Geografis Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung. Kota Bandarlampung memiliki luas wilayah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis Kecamatan Telaga merupakan salah satu dari 18 kecamatan yang ada di Kabupatan Gorontalo. Sesuai dengan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
27 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum 1. Letak Geografi Kabupaten Wonogiri adalah salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Jawa Tengah. Letak Kabupaten Wonogiri secara geografis antara 110.41
BAB IV GAMBARAN UMUM DESA TANJUNGSARI
BAB IV GAMBARAN UMUM DESA TANJUNGSARI 4.1 Profil Desa Tanjungsari 4.1.1 Letak Geografis Desa Tanjungsari Desa Tanjungsari merupakan salah satu dari delapan Desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Sukaresik,
V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi 5.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) Tani dan Status Penguasaan Lahan di Kelurahan Situmekar
V. GAMBARAN UMUM 5.1. Wilayah dan Topografi Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49 29 Lintang Selatan dan
V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa ini berbatasan dengan Desa Bantarjati
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskrifsi Umum Lokasi Penelitian Kecamatan Popayato Barat merupakan salah satu dari tiga belas Kecamatan yang ada di Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo. Kecamatan Popayato
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Negeri Sakti merupakan salah satu desa di Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten
45 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Desa Negeri Sakti Desa Negeri Sakti merupakan salah satu desa di Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran yang memiliki luas wilayah 400 Ha. Desa tersebut
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Deskripsi Faktor-Faktor Yang berhubungan dengan Partisipasi Petani dalam Kebijakan Optimalisasi dan Pemeliharaan JITUT 5.1.1 Umur (X 1 ) Berdasarkan hasil penelitian terhadap
Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)
Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU
ABSTRAK FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU Umi Pudji Astuti, Wahyu Wibawa dan Andi Ishak Balai Pengkajian Pertanian Bengkulu,
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Provinsi Jawa Timur. Batas-batas wilayah Desa Banjarsari adalah: : Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian Desa Banjarsari terletak di Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Batas-batas wilayah Desa Banjarsari adalah:
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. secara geografis terletak antara 101º20 6 BT dan 1º55 49 LU-2º1 34 LU, dengan
18 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Letak dan Keadaan Geografis Kelurahan Lubuk Gaung adalah salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Sungai Sembilan Kota Dumai Provinsi Riau. Kelurahan Lubuk
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Jogonayan merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Wilayah Desa Jogonayan 1. Kondisi Geografis dan Administrasi Jogonayan merupakan salah satu desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.
III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI
III. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI Sumber : Dinas CIPTARU Gambar 1. Peta Wilayah per Kecamatan A. Kondisi Geografis Kecamatan Jepara merupakan salah satu wilayah administratif yang ada di Kabupaten Jepara,
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN
96 IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum Dalam bab ini, akan dipaparkan secara umum tentang 14 kabupaten dan kota yang menjadi wilayah penelitian ini. Kabupaten dan kota tersebut adalah
IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Gambaran Umum Kabupaten Lampung Selatan
84 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Kabupaten Lampung Selatan 1. Letak Geografis Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105 o 14 sampai dengan 105 o 45 Bujur Timur dan 5
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Petani Responden 1. Umur, Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman berusahatani Berdasarkan dari penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil komposisi umur kepala keluarga
IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.
IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas
VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR
VIII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR 8.1 Penerimaan Usahatani Ubi Jalar Penerimaan usahatani ubi jalar terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan tidak tunai. Penerimaan tunai merupakan penerimaan
PEMBAHASAN. I. Keadaan Umum Wilayah Penelitian. Secara Geografis Kabupaten Soppeng terletak antara 4 o 06 o LS dan 4 o 32 o
PEMBAHASAN I. Keadaan Umum Wilayah Penelitian A. Kondisi Fisik Alami Secara Geografis Kabupaten Soppeng terletak antara 4 o 06 o LS dan 4 o 32 o LS serta 119 o 42 o 18 o BT 120 o 06 o 18 o BT yang terdiri
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU
189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN
IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG. memiliki luas lahan pertanian sebesar 3.958,10 hektar dan luas lahan non
IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG A. Letak Geografis Wilayah Kecamatan Srumbung terletak di di seputaran kaki gunung Merapi tepatnya di bagian timur wilayah Kabupaten Magelang. Kecamatan Srumbung memiliki
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah Kabupaten Banjarnegara termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah seluas 106.971,01 Ha dengan pusat pemerintahan Kab.
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. merupakan suatu desa yang harmonis dan termasuk desa yang lingkungannya masih
BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Geografis Wilayah Desa Bukit Ranah merupakan suatu desa yang berada di pinggiran dalam wilayah Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Desa Bukit Ranah
MUKHA<BARAH DI DESA TANJUNG KECAMATAN KEDAMEAN
50 BAB III PRAKTEK ZAKAT HASIL PERTANIAN DENGAN AKAD MUKHA
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber. penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara agraris dengan sektor pertanian sebagai sumber matapencaharian dari mayoritas penduduknya, sehingga sebagian besar penduduknya menggantungkan
BAB III DESKRIPSI PENGUPAHAN PENGGARAPAN SAWAH DI DESA SUMBERREJO KECAMATAN WOANOAYU KABUPATEN SIDOARJO. 1. Keadaan Geografis Desa Sumberrejo
BAB III DESKRIPSI PENGUPAHAN PENGGARAPAN SAWAH DI DESA SUMBERREJO KECAMATAN WOANOAYU KABUPATEN SIDOARJO A. Deskripsi Tentang Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian tersebut, meliputi beberapa bagian,
KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Belitung yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 sejak
IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Kabupaten Belitung Timur adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Bangka Belitung yang terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2003 sejak tanggal 25 Februari
BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
24 BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Desa Citapen 4.1.1 Kondisi Geografis dan Administratif Desa Citapen merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Ciawi.Secara geografis
