UNTUK MAHASISWA FAKULTAS HUKUM
|
|
|
- Surya Budiono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 OLEH : RENDY IVANIAR BUKU SAKU UNTUK MAHASISWA FAKULTAS HUKUM Pengantar ilmu hukum & PENGANTAR HUKUM INDONESIA Edisi Pertama PENERBIT SUN ACTION GRUP
2 PRAKATA Di era sekarang ini dirasakan sangat banyak sekali beredar bukubuku tentang Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Indonesia yang menjadi Mata Kuliah wajib untuk Fakultas Hukum. Tetapi karena begitu banyak buku yang beredar dan tidak sedikit dari buku-buku itu yang satu sama lain memilki pendapat yang berbeda-beda sehinga membuat banyak mahasiswa bingung. Oleh karena itulah diperlukan sebuah buku yang simple tetapi mengena dalam segala aspek. Maksud buku saku ini adalah memberikan sebuah rangkuman yang lengkap dari materi-materi yang ada dalam Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Indonesia sehingga nantinya mahasiswa lebih mudah dalam mempelajarinya. Tetapi diharapkan mahasiswa tidak terpaku hanya dengan mempelajari buku ini tetapi juga mempelajari buku yang lain karena buku ini hanya menerangkan pokok-pokok bahasan yang ada. Perlu disadari bahwa belajar hukum dengan hanya menghafal materi atau pasal-pasal saja tidaklah cukup, karena Ilmu Hukum bersifat sistematis dan saling keterikatan satu sama lain. Penulis menyadari bahwa buku ini memiliki banyak kekurangan sehingga penting artinya bagi penulis untuk menerima kritik dan saran. Malang, 11 Februari 2010 Penulis
3 DAFTAR SINGKATAN AB ADR BN BW HAM ICCPR KRIS KUHP KUHAP KUHPer KUHD LN PP UDHR UUDar W.v.K Y.I : Algemene Bipalingen van Wetgeving : Alternative Dispute Resolution : Berita Negara : Burgerlijk Wetboek : Hak Asasi Manusia : International Covenant on Civil and Political Rights : Konstitusi Republik Indonesia Serikat : Kitab Undang-undang Hukum Pidana : KItab Undang-undang Hukum Acara Pidana : Kitab Undang-undang Hukum Perdata : Kitan Undang-undang Hukum Dagang : Lembaran Negara : Peraturan Pemerintah : Universal Declaration of Humans Right : Undang-undang Darurat : Wetboek van Koophandel : Yurisprudensi Indonesia
4 DAFTAR ISI Halaman PRAKATA.. ii DAFTAR SINGKATAN. iii DAFTAR ISI.... iv BAGIAN I PENGANTAR ILMU HUKUM BAB I DEFINISI ILMU HUKUM BAB II A. Ilmu Hukum HUBUNGAN MANUSIA, MASYARAKAT DAN HUKUM A. Manusia sebagai mahluk social B. Masyarakat C. Hukum sebagai alat ketertiban BAB III NORMA NORMA A. Sifat-sifat Norma B. Macam Norma BAB IV TUJUAN, FUNGSI DAN ASAS-ASAS HUKUM A. Tujuan Hukum B. Fungsi Hukum C. Asas-asas Hukum BAB V
5 HUKUM, HAK DAN KEWAJIBAN A. Hak dan Kewajiban B. Subyek Hukum dan Kecakapan Bertindak BAB VI SISTEM DAN KLASIFIKASI HUKUM A. Pengertian Sistem Hukum B. Pembagian Sistem Hukum C. Macam Sistem Hukum Dunia D. Klasifikasi Hukum BAB VII HUKUM DAN SUMBER-SUMBERNYA A. Sumber Hukum Materil B. Sumber Hukum Formil BAB VIII PENEMUAN-PENEMUAN HUKUM A. Pengertian B. Contruksi Hukum C. Interpretasi Hukum
6 BAB I DEFINISI ILMU HUKUM A. ILMU HUKUM Hukum dapat dikatakan sebagai ilmu jika kita berdasarkan pendapat dari Archie J. Bahm dalam bukunya What is Science?. Beliau berkata bahwa ilmu sedikitnya melibatkan 6 (enam) komponen pokok, yaitu (1) Masalah (2) Sikap (3) Metode (4) Aktivitas (5) Kesimpulan (6) Efek. Oleh karena itu tidak ragu jika hukum masuk dalam suatu ilmu yaitu keilmuan hukum. Selain itu ilmu hukum dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan karena memiliki objek, tersusun secara sistematis, bermetode dan bersifat universal. Jika hukum termasuk suatu ilmu lalu apakah yang dimaksud dengan hukum itu sendiri. Dalam setiap benak seseorang yang awam tentang hukum selalu terlintas suatu pertanyaan tentang apa sebenarnya pengertian dari hukum itu sendiri. Pengertian dari hukum dapat kita simpulkan dengan sendiri maupun dapat kita lihat dari definisi-definisi tentang hukum dari para sarjana. Tetapi menurut Prof. Van Apeldoorn, definisi hukum sangat sulit dibuat karena pengertian hukum tidak mungkin untuk mengadakannya yang begitu sesuai dengan kenyataannya. Dari tahun ketahun masih banyak para sarjana hukum yang mencari tentang Hukum karena ketidakpuasan mereka tentang pengertian hukum seperti sekarang ini, seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant Noch suchen die Juriten eine Definition zu ihrem Begriff von Rech (Masih juga para sarjana hukum mencari-cari suatu definisi tentang hukum). Definisi para sarjana tentang hukum hampir selalu berlainan walaupun ada beberapa yang sama. Seperti definisi-definisi dari :
7 1. Van Vollenhoven : Recht is een verschijnsel in rusteloze wisselwerking van stuw en tegenstuw 2. Prof. Mr. E.M. Mayers : Hukum ialah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan, ditujukan kepada tingkahlaku manusia dalam masyarakat, dan yang menjadi pedoman bagi penguasa negara dalam melakukan tugasnya. 3. Immanuael Kant : Hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini kehendak bebas dari orang yang satu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak bebas dari orang yang lain, menuruti peraturan hukum tentang kemerdekaan. 4. E. Utrecht Hukum itu adalah himpunan peraturan-peraturan (perintahperintah dan larangan-larangan) yng mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu. 5. S. M. Amin, S.H. Hukum adalah kumpulan-kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi itu disebut hukum dan tujuan hukum adalah mengadakan ketertiban dalam pergaulan manusia, sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara. Dari beberapa definisi, Drs.C.S.T Kansil merumuskan unsurunsur dari hukum, yaitu : 1. Peraturan tingkah laku manusia dalam masyarakat. 2. Peraturan yang diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib 3. Peraturan itu bersifat memaksa. 4. Sanksi terhadap pelanggaran peraturan itu adalah tegas. Ilmu hukum mempunyai beberapa sifat, yaitu hukum sebagai ilmu yang interdisipliner dan ilmu hukum bersifat universal.
8 Maksud dari ilmu hukum sebagai ilmu interdisipliner adalah Ilmu yang dalam penerapannya memerlukan ilmu lain untuk membantunya. Bahkan ilmu hukum bisa dikatakan sebagai ilmu yang tidak lepas dan saling berkaitan dengan disiplin ilmu yang lain. Contohnya seperti dalam sosiologi hukum maupun Hukum politik dan lainnya. Ilmu hukum bersifat universal yang artinya ilmu hukum tidak hanya berlaku disatu tempat saja tetapi dapat berlaku disemua tempat. Sehingga dapat dikatakan tidak terikat oleh ruang, dan ilmu hukum tidak dibatasi oleh waktu sehingga dapat berlaku disepanjang zaman.
9 BAB II HUBUNGAN MANUSIA, MASYARAKAT DAN HUKUM A. MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL Didalam bukunya mengenal hukum, Prof. Dr. Sudikno SH mengatakan setiap manusiamempunyai suatu kepentingan dan kepentingan tersebut harus dipenuhi. Tetapi tidak mungkin dalam memenuhi kepentingannya tersebut setiap manusia memenuhi dengan kemampuannya sendiri, setiap manusia membutuhkan manusia yang lain untuk memenuhi kepentingannya tersebut. Untuk itu Aristoteles seorang ahli berfikir Yunani mengatakan dalam ajarannya, bahwa manusia itu adalah Zoon Politicon, artinya pada dasarnya manusia itu selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan manusia yang lainnya. Dalam pengajarannya Prof. Masruchin Rubai, SH menjelaskan tentang manusia secara terperinci tentang kekurangan dan kelebihannya, seperti skema berikut : LAHIRIAH MEMBUTUHKAN ORANG LAIN MANUSIA KEKURANGAN BATINIAH LAHIRIAH TIDAK MEMBUTUHKAN ORANG LAIN MEMBUTUHKAN ORANG LAIN TIDAK MEMBUTUHKAN ORANG LAIN KELEBIHAN BATINIAH
10 Keterangan skema : Didalam hidupnya manusia sebagai individu mempunyai suatu kekurangan dan kelebihan, baik secara lahiriah maupun batiniah. Didalam kekurangan lahiriahnya manusia dalam memenuhi kekurangannya tersebut ada yang membutuhkan orang lain maupun ada yang dapat dipenuhinya sendiri. Sebagai contoh kekurangan manusia secara lahiriah yang membutuhkan orang lain untuk memenuhinya adalah kebutuhankebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan papan. Kebutuhan pokok yang dapat dikatakan sangat penting ini mau atau tidak harus dipenuhi oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya. Manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan pokok itu sendirian, pasti memerlukan bantuan orang lain. Tetapi ada kebutuhan manusia secara lahiriah yang dapat dipenuhi dengan tidak menggunakan bantuan atau kerjasama dari orang lain yaitu kebutuhan oksigen dan sinar matahari. Walaupun ini juga sangat penting tetapi manusia untuk mendapatkannya tidak perlu bekerjasama seperti memenuhi kekurangan sandang, pangan dan papan. Manusia selain mempunyai kekurangan secara lahiriah, ternyata juga mempunyai kekurangan secara batiniah yang harus dipenuhi, yaitu rasa cinta dan kasih sayang. Manusia dalam menyalurkan perasaannya inilah yang disebut kekurangan batiniah. Manusia selalu membutuhkan manusia yang lainnya untuk bercurhat (curahan hati) dan membutuhkan orang lainnya untuk menyayanginya. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa secra langsung maupun tidak, kita menyadari manusia itu tidak akan dapat hidup sendiri karena manusia mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi dengan cara bekerjasama dengan manusia yang lain sehingga manusia selalu hidup bersama dan membentuk suatu masyarakat.
11 B. MASYARAKAT Sekarang yang perlu ditanyakan apa sebenarya pengertian dari masyarakat tersebut. Apakah masyarakat hanya sebuah perkumpulan sederhana saja, ataukah ada hal lain yang lebih besar dalam pembentukan dan manfaatnya. Masyarakat bukanlah suatu perkumpulan biasa, tetapi masyarakat adalah kelompok individu yang terbentuk tidak secara kebetulan dan berdiri secara permanen dan ada arti didalamnya. Berbeda dengan kerumunan, kerumunan adalah sekelompok masyarakat yang terbentuk secara kebetulan atau isidental saja. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita namakan masyarakat adalah pasar. Pasar terbentuk tidak secara kebetulan tetapi direncanakan dan pasar hidup secara permanen, yang artinya menetap. Tetapi dikarenakan kepentingan dan kebutuhan manusia yang satu dengan yang lain kadangkala berbeda sehingga tidak sedikit yang menimbulkan Conflik of Interest didalamnya. Conflik of Interest adalah suatu konflik yan g terjadi dimasyarakat karena kepentingan setiap individu yang berbedabeda. C. HUKUM SEBAGAI ALAT KETERTIBAN Sudah kita bahas bahwa didalam suatu masyarakat sering terjadi Conflik of Interest. Oleh karena itu didalam masyarakat diperlukan sesuatu yang dapat mengatur kepentingan antar individu sehingga tidak terjadi konflik dengan kepentingan individu yang lain, yang kita sebut sesuatu tersebut dengan Hukum. Hukum berada dimasyarakat karena masyarakat memerlukan suatu peraturan yang dapat mengatur tata tertib kehidupan dalam masyarakat. Bahkan sering kita dengar istilah ubi societas ibi ius yang menunjukan bahwa jika terdapat masyarakat maka disitu pasti terdapat hukum untuk mengatur kehidupan dan hubungan diantara mereka.
12 Hukum ada untuk menserasikan kepentingan-kepentingan individu dalam masyarakat. Baik yang positif maupun yang negatif, yang positif misalnya kerjasama dan perjanjian, sedangkan yang negatif berupa sengketa dan pertentangan.
13 BAB III NORMA-NORMA A. SIFAT-SIFAT NORMA Dalam bukunya Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia Drs. CST. Kansil mengatakan dalam kehidupan manusia dan pergaulan dimasyarakat diliputi oleh norma-norma, yaitu peraturan hidup yang mempengaruhi tingkahlaku manusia didalam masyarakat. Dengan adanya norma-norma tersebut bertujuan untuk melindungi kepentingan manusia yang terdapat dimasyarakat. Selain itu dirasakan pula olehnya adanya penghargaan dan perlindungan terhadap dirinya dan kepentingan kepentingannya. Didalam pengajarannya Prof. Masruchin Rubai, SH membedakan sifat-sifat norma menjadi 3 (tiga), yaitu : PERINTAH (IMPERATIF) NORMA MUBAH LARANGAN (IMPERATIF) ANJURAN (FAKULTATIF) HINDARAN (FAKULTATIF) Keterangan Grafik :
14 Norma menurut sifatnya dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu berupa perintah, anjuran-hindaran, dan larangan. Dan didalam setiap sifat itu terdapat sifat mengikatnya. Imperatif adalah kaidah hukum yang bersifat mengikat/ memaksa dan harus ditaati dengan sanksi yang tegas. Sedangkan fakultatif adalah kaidah hukum yang bersifat tidak mengikat. Norma yang bersifat perintah adalah norma yang mengatur masyarakat dengan jelmaan sebagai perintah yang wajib dilaksanakan. Contohnya : 1. Diperintahkan untuk mencatat setiap perkawinan yang dilakukan. 2. Perintah untuk datang sebagai saksi dipengadilan. Yang kedua adalah mubah atau boleh, yaitu sebuah norma yang didalamnya mengandung anjuran dan hindaran. Anjuran adalah berupa perintah dalam hal kebaikan yang tidak mengikat. Sedangkan hindaran adalah suatu perintah yang tidak mengikat untuk menghindari perbuatan yang tercela. Contohnya : 1. Wanita dianjurkan tidak keluar larut malam. 2. Menghindari berkendara saat mengantuk. Yang ketiga adalah Larangan yang bersifat Imperatif, yaitu sebuah norma yang berisi tentang larangan yang mengikat untuk melakuakn perbuatan tercela. Contohnya : 1. Dilarang mengambil barang milik orang lain. 2. Dilarang mengawini saudara kandung.
15 B. MACAM NORMA Sudah kita bahas pada Bab sebelumnya bahwa norma dibuat untuk melindungi kepentingan manusia didalam masyarakat. Semula beberapa norma tersebut tidak dibedakan, baru setelah melaluui proses yang lama menusia membedakan norma-norma tersebut. Manurut Prof. DR. Sudikno Mertokusumo, SH norma dibedakan menjadi 4 (empat) yaitu : 1. Norma Kepercayaan 2. Norma Kesusilaan 3. Norma Sopan Santun 4. Norma Hukum Diantara keempatnya dapat dibedakan menurut tujuan, isi, asal-usul, sanksi dan daya kerja, seperti yang terlihat ditabel sebagai berikut : Norma kepercayaan Norma Kesusilaan Norma Sopan-Santun Norma Hukum Tujuan Menjadikan dirinya lebih sempurna/ menjadi insan kamil Ketertiban masyarakat, jangan sampai ada korban Isi Ditujukan pada sikap batin Ditujukan pada sikap lahir Asal-Usul Dari Tuhan Diri Sendiri Kekuasaan luar yang memaksa Sanksi Dari Tuhan Dari diri sendiri Dari masyarakt secara tidak resmi Dari masyarakat secara resmi Daya Kerja Membebani kewajiban Membebani kewajiban Membebani kewajiban Membebani kewajiban dan memberi hak
16 Keterangan Tabel : Norma Kepercayaan Norma kepercayaan ditujukan kepad kehidupan manusia beriman. Norma ini ditujukan terhadap kewajiban manusia terhadap Tuhan dan kepada dirinya sendiri. Sehingga Tuhanlah yang membuat snksi-sanksi terhadap pelanggaran-pelanggarannya. Norma kepercayaan ini bertujuan untuk penyempurnaan manusia atau menjadi insan kamil. Norma Kesusilaan Norma kesusilaan berhubungan dengan manusia sebagai individu karena menyangkut kehidupan pribadi manusia. Sebagai pendukungnya adalah nurani individu itu sendiri dan bukan manusia sebagai mahluk sosial. Norma kesusilaan ditujukan kepda manusia agar terbentuknya kebaikan akhlak pribadi guna penyempurnaan manusia. Asal atau sumber norma kesusilaan adalah dari manusia sendiri dan ditujukan kepada sikap batin manusia. Batinnya sendirilah yang mengancam perbuatan yang melanggar norma kesusilaan dengan sanksi. Tidak ada kekuasaan diluar dirinya yang memaksa. Norma Sopan Santun Norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan, kepatutan dan kepantasan yang berlaku didalam masyarakat. Norma sopan santun bertujuan untuk menciptakan perdamaian dan ketertiban. Norma ini lebih mementingkan sikap lahir atau formil saja, contohnya pergaulan, pakaian, bahasa dll. Sopan santun tidak memandang manusia sebagai individu tetapi memandang sebagai makhluk sosial. Selalu membebani manusia dengan kewajiban saja dan kekuasaan masyarakat secara tidak resmilah yang mengancam dengan sanksi bi ada pelanggar berupa teguran, cemoohan, celaan, pengucilan dll. Yang
17 memaksakan kepada kita adalah kekuasaan dari luar diri kita bukan dari diri kita sendiri walaupun sedikit ada nurani kita yang bekerja. Sopan santun disuatu daerah tidak mesti sama dengan daerah lainnya, berbeda lapisan masyarakat berbeda pula sopan santunnya. Norma Hukum Sebagai perlindungan kepentingan manusia diperlukanlah sebuah norma lagi yang benar-benar dapat melindunginya, yaitu norma hukum. Ketiga norma sebelumnya seperti kepercayaan, kesusilaan dan sopan santun dirasakan belum cukup memuaskan, sebab : a. Masih banyak kepentingan-kepentingan manusia lainnya yang memerlukan perlindungan, tetapi belum dapat perlindungan dari norma lainnya. b. Kepentingan masyarakat yang telah mendapat perlindungan dari ketiga norma yang lain belum cukup melindungi, karena dalam hal sanksi dirasakan belum begitu memuaskan. Untuk itulah diciptakan suatu norma yang dapat menutup permasalahan-permasalahan itu yaitu norma Hukum. Norma hukum ditujukan kepada pelakunya yang konkrit. Norma hukum bertujuan untuk mejaga ketertiban masyarakat dan jangan sampai jatuh korban kejahatan atau agar tidak terjadi kejahatan. Norma hukum bersasal dari luar diri manusia yang ditujukan kepada siakp lahiriah manusia. Masyarakat secara resmi diberi kekuasaan untuk memberi sanksi atau menjatuhkan hukuman. Dalam hal ini pengadilanlah sebagai lemaga yang mewakili masyarakat dalam menjatuhkan hukuman.
18 BAB IV TUJUAN, FUNGSI DAN ASAS-ASAS HUKUM A. TUJUAN HUKUM Hukum mempunyai suatu tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Adapun tujuan pokok hukum adalah menciptakan tatanan ketertiban. Dalam beberapa literatur tujuan hukum dapat dibedakan menjadi 4 (empat), yaitu : Teori Etis Tujuan Hukum Teori Utilistis Teori Positif Teori Campuran Teori Etis : Menurut teori etis hukum semata-mata bertujuan untuk keadilan. Isi hukum ditentukan oleh keyakinan kita yang etis tentang yang adil dan tidak. Teori Utilistis : Menurut teori ini hukum ingin menjamin kebahagiaan. Tujuan hukum adalah kemanfaatan dalam menghasilan kesenangan atau kebahagiaan.
19 Teori Positif : Manurut teori positif ini, tujuan hukum adalah untuk mewujudkan kepastian. Kepastian hukum tempat kita bersandar. Sehingga setiap perbuatan kita mendapatkan kepastian hukum bahwa yang kita lakukan benar atau salah. Teori Campuran : Dalam teori campuran ini tujuan hukum adalah untuk keadilan dan kemanfaatan. Jadi selain untuk menegakan keadilan dalam kehidupan masyarakat, hukum juga bertujuan untuk kemanfaatan meraih kesenangan atau kebahagiaan. B. FUNGSI HUKUM Menurut Prof. Masruchin Rubai, SH dalam pengajarannya mengatakan fungsi hukum ada 4 (empat) : Law As a Tool of Social Control Sebagai alat pengatur masyarakat Fungsi Hukum Law As a Tool of Social Enginering Law As a Mekanisme Integrating Law As a Powering Menjadikan masyarakat lebih baik dan beradab Berfungsi menggabungkan kepentingan masyarakat Berfungsi sebagai pemberdayaan masyarakat
20 C. ASAS HUKUM Menurut Sucipto Raharjo asas hukum merupakan jantungnya peraturan hukum, karena asas hukum adalah landasan dan dasar dikeluarkannya suatu peraturan hukum. Beberapa dari ahli hukum mengeluarkan definisi tentang asas hukum, diantaranya : a. Karl Larenz Ukuran-ukuran hukumiah yang memberikan arah pada pembentukan hukum. b. Bellefroid Asas hukum umum adalah norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif dan yang oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum. c. P. Scholten Asas hukum adalah kecenderungan-kecenderungan yang disyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hukum, merupakan sifat-sifat umum dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaannya yang umum itu. Dari beberapa definisi itu dapat ditarik kesimpulan, yakni : a. Asas hukum merupakan landasan pembentukan hukum positif. b. Didalam asas hukum terkandung cita-cita atau keinginan manusia yang hendak diraihnya. c. Asas hukum merupakan segala persoalan tentang hukum didalam masyarakat. Ini merupaan sumber materiil yang diperlukan.
21 BAB V HUKUM, HAK DAN KEWAJIBAN A. HAK DAN KEWAJIBAN Dalam bukunya Drs. CST Kansil, SH mengatakan di suatu hukum seseorang yang mempunyai hak milik atas sesuatu benda kepadanyaa, diizinkan untuk menikmati hasil dari benda miliknya. Dalam prakteknya hak ada beberapa macam dan berbeda-beda itu oleh Prof. Masruchin Rubai dibedakan menjadi 4 (empat), yaitu : 1. Hak Dalam Arti Sempit Hak itu adalah pasangan dari kewajiban saja. Contoh : Seorang penjual mempunyai kewajiban menyerahkan barang kepada konsumen setelah menerima hak dari konsumen berupa pembayaran. 2. Hak Dalam Pengertian Kemerdekaan Dasarnya setiap orang punya kemerdekaan, bebas menggunakan haknya/ melakukan perbuatan selama tidak melanggar/ melampaui batas hak orang lain. Contoh : Mendengarkan musik selama tidak terlalu keras. 3. Hak Kekuasaan Setiap individu mempunyai kekuasaan untuk mewujudkan kehendaknya atas hak yang dimiliki. Contoh : Seseorang mempunyai hak untuk melepaskan haknya maupun memindahkan haknya pada orang lain.
22 4. Hak Imunitet Yaitu hak dalam menggunakannya seseorang kebal dari campur tangan orang lainnya. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa hak adalah kepentingan individu atau golongan yang dilindungi oleh hukum. Sedangkan kewajiban dapat kita artikan ialah suatu beban yang bersifat kontraktual. Hak dan kewajiban itu timbul apabila terjadi hubungan hukum antara dua pihak atau lebih. B. SUBYEK HUKUM DAN KECAKAPAN BERTINDAK Hukum itu mengatur hubungan antara subyek hukum adapun subyek hukum itu menurut Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, SH adalah segala sesuatu yang dapat memperoleh hak dan kewajiban dari hukum. Manusia sejak lahir hingga meninggal dunia dipandang sebagai subyek hukum. Manusia bukanlah satu-satunya yang menjadi subyek hukum. Dalam praktek hukum diperlukan sesuatu yang lain yang bukan manusia yang menjadi subyek hukum yaitu suatu badan hukum. Badan hukum adalah organisasi atau kelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu yang dapat menyandang hak dan kewajiban seperti subyek hukum manusia, hanya terdapat beberapa hak saja yang tidak didapatkan oleh badan hukum (rechtperson), seperti hak perkawinan yang hanya dapat dilakukan subyek hukum manusia. Yang termasuk sebagai badan hukum adalah Perseroan terbatas, koperasi, yayasan dll.
23 BAB VI SISTEM DAN KLASIFIKASI HUKUM A. PENGERTIAN SISTEM HUKUM Hukum bukanlah sekedar kumpulan atau penjumlahan peraturan-peraturan yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Melainkan hukum tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur yang sistematis dan saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dari kalimat tersebut kita bisa mengambil beberapa kata kunci yaitu : (1) Satu Kesatuan (2) Terdiri dari unsur-unsur (3) Mempunyai interaksi (4) Sistematis (5) Mencapai tujuan Kasatuan yang dimaksud adalah kesatuan yang diterapkan terhadap kompleks unsur-unsur yuridis seperti peraturan hukum, asas hukum dan pengertian hukum. Menurut Prof Sudikno, Masing masing bagian harus dilihat dalam kaitannya dengan bagian-bagian lain dan dengan keseluruhannya seperti halnya gambar mozaik (Sudikno.2005). Didalam kesatuan tersebut tidak dikehendaki adanya konflik, pertentangan, atau kontradiksi antara bagian-bagian.jikalau
24 sampai terjadi konflik maka akan segera diselesaikan oleh dan didalam sistem itu sendiri dan tidak dibiarkan berlarut-larut. B. SIFAT SISTEM HUKUM Suatu sistem hukum menghendaki adanya keteraturan, konsisten, ajeg, kontinuitas, lengkap, dan tidak mengenal konflik. Menurut pendapat Lawrence H. Friedman yang menyebutkan bahwa suatu sistem hukum dapat dibagi kedalam tiga bagian atau Sifat Sistem Hukum Komponen Struktural Komponen Substansi Komponen Budaya Hukum komponen yaitu : Keterangan Komponen Struktural Adalah bagian dari sistem hukum yang bergerak didalam suatu mekanisme. Contoh : Pembuat UU, Pengadilan dan lembaga lain yang diberi wewenang untuk menerapkan dan menegakkan hukum. Komponen Substansi
25 Adalah suatu hasil nyata yang diterbitkan oleh sistem hukum. Hasil nyata ini dapat berbentuk hukum in concreto atau kaidah hukum individual, maupun hukum in abstracto atau kaidah hukum umum. Komponen Budaya Adalah setiap tindak warga masyarakat beserta nilai-nilai yang dianutnya berkaitan dengan hukum. Dari situ kita bisa mendapatkan bahwa sifat sistem hukum ada 3 yaitu : 1. Teratur/ Konsisten 2. Lengkap 3. Tidak kenal konflik Keajegan/ konsisten sebuah sistem dinyatakan dengan adanya kesinambungan antara bagian-bagian dan dalam sistem tidak dikehendaki adanya konflik. C. PEMBAGIAN SISTEM HUKUM Sistem Hukum 1 2 Konkrit Abstrak Sistem Terbuka Sistem Tertutup Keterangan Ada dua macam sistem hukum yaitu sistem konkrit dan sistem abstrak atau konseptual.
26 Sistem yang konkrit adalah sistem yang dapat dilihat dan diraba yang terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil. Sistem yang abstrak atau konseptual terdiri dari unsur-unsur yang tidak konkrit yang tidak menunjukan kesatuan yang dapat dilihat. Selanjutnya dikenal juga sistem hukum terbuka dan sistem hukum tertutup. Sistem terbuka mempunyai hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Unsur-unsur yang tidak merupakan bagian sistem mempunyai pengaruh terhadap nsur-unsur didalam sistem. Sistem tertutup mempunyai makna bahwa pembentuk UU tidak memberi kebebasan dalam pembentukan hukum. Misal hukum benda dan hukum keluarga. D. KLASIFIKASI HUKUM Kalsifikasi Hukum dapat didasarkan pada 5 pembeda yaitu : Berdasar Kriteria Fungsi Hukum Berdasar kriteria fungsi hukum, hukum dibagi menjadi 2 yaitu hukum materiil dan hukum formil. Hukum materiil yaitu hukum yang memuat peraturanperaturan yang mengatur kepentingan dan hubungan-hubungan yang berwujud perintah dan larangan. Contoh hukum materil adalah hukum pidana, hukum perdata, hukum dagang dll. Hukum formil adalah hukum yang memuat peaturanperaturan yang mengatur bagaimana cara melaksanakan dan mempertahankan hukum materiil atau peraturan yang mengatur bagaimana cara mengajukan suatu perkara ke muka pengadilan.
27 Contoh hukum formil adalah hukum acara pidana, hukum acara perdata. Berdasar Daya Kerja Berdasarkan daya Kerja, hukum dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Imperatif dan Fakultatif. Imperatif artinya adalah hukum yang memaksa yang dalam keadaan bagaimanapun juga harus dan mempunyai paksaan mutlak. Fakultatif artinya hukum pelengkap dan tidak bersifat memaksa. Hukum ini dapat dikesampingkan dan hanya sebagai anjuran atau hindaran. Berdasar Sudut Wujud Berdasarkan sudut wujudnya, hukum dapat dibedakan menjadi 2, yaitu hukum yang tertulis dan hukum yang tidak tertulis. Hukum yang tertulis adalah hukum yang sudah ada bentuknya dalam keadaan tertulis, seperti UU, Traktak dll. Hukum yang tidak tertulis adalah hukum yang tidak ada bentuk ertlisnya tetapi hidup didalam masyarakat. Seperti hukum kebiasaan dan sebagian hukum adat. Berdasar Wilayah Berlakunya Berdasar Wilayah Berlaknya hukum dapat digolongkan menjadi 2, yaitu nasional dan internasional. Hukum Nasional adalah hukum yang berlaku hanya pada suatu negara tersebut saja.
28 Hukum Internasional adalah hukum yang berlaku dilingkup internasional yang mengatur hubungan hukum dalam dunia Internasional. Dari Segi Isi Dari segi isi hukum dapat dibedakan menjadi 2, yaitu generalis dan spesialis. Lex Generalis (Hukum Umum) yang berlaku umum dan merupakan dasar. Contohnya KUHP, KUHPerd. Lex Spesialis (Hukum Khusus) adalah huum yang mengatur secara khusus suatu permasalahan. Contohnya UU Korupsi, UU Perkawinan. Berdasar Kepentingan Mengatur Berdasar kepentingan mengaturnya hukum dapat dibedakan menjadi 2, yaitu hukum publik dan hukum privat. Hukum Publik (Hukum Negara) adalah hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan alat-alat perlengkapan atau hubungan negara dengan perseorangan. Hukum Privat (Hukum Sipil) adalah hukum yang mengatur hubungan-hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain, yang dititikberatkan pada kepentingan perseorangan. Berdasar Sumber Berdasarkan sumbernya, hukum dapat dibedakan menjadi 4, yaitu UU, Kebiasaan, Adat, Traktat dan Yurisprudensi. Mengenai sumber hukum akan dijelaskan lebih rinci pada bab VII.
29 Berdasar Sistem di Dunia Berdasarkan sistem yang berkembang di Dunia dapat dibedakan menjadi 4, yaitu Civil Law, Common Law, Social Law dan Islamic Law (Abdul. 2005). Secara harfiah civil law system diterjemahkan menjadi sistem hukum sipil yang sering juga disebut sistem hukum Eropa Benua atau sering disebut juga sistem hukum Romawi-Jerman. Sistem hukum civil law mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu : 1. Adanya pengkodifikasian hukum. 2. Ditemukan lewat proses berpikir dan perenungan. 3. Keputusan pengadilan bukan sumber utama. Common Law juga disebut Anglo American Law Syetem dan juga disebut systim hukum angli saxon. Common Law memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Menganut preseden 2. Tidak ada pengkodifikasian hukum 3. Tidak ada pembedaan tegas antara hukum publik dan hukum perdata. Islamic Law adalah hukum yang lahir dari Al Quran dan Al Hadits. Didalam kepustakaan kedua sumber hukum islam yaitu Al Quran dan Al Hadits bersifat statis dan dipakai sepanjang zaman. Itulah bedanya sistem hukum islam dengan sistem hukum yang lain. Karena Al Quran tidak dibuat oleh manusia tetapi oleh Allah SWT.
30 BAB VII HUKUM DAN SUMBER-SUMBERNYA A. SUMBER HUKUM MATERIIL Sumber Hukum adalah tempat dimana hukum itu berasal dan digali. Kata sumberhukum sering digunakan dalam dalam beberapa arti, yaitu : a. Sebagai asas hukum b. Menunjukan hukum terdahulu c. Sebagai sumber berlakunya d. Sebagai sumber darimana kita mengenak hukum e. Sebagai sumber terjadinya hukum Sumber hukum dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu sumber hukum formil dan sumber hukum materiil. Sumber Hukum Materiil Sumber hukum materiil adalah tempat dimana materi hukum itu diambil. Sumber hukum materiil ini merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum, misalnya dari sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat dan sebagainya. Contoh : Seorang ahli ekonomi mengatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan ekonomi dalam masyarakat itulah yang menyebabkan timbulnya hukum. Sumber Hukum Formil Sumber hukum formil mempunyai pengertian sebagai tempat dimana hukum mendapatkan kekuatan hukumnya (Sudikno. 2005). Ini berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum itu formil berlaku.
31 Sumber-sumber hukum formil antara lain ialah : A. Undang Undang Undang-undang ialah suatu peraturan negara yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dadakan dan dipelihara oleh penguasa negara. B. Kebiasaan (Custom) Kebiasaan ialah perbuatan manusia yang tetap dilakukan berulang-ulang dalam hal yang sama. Sesuatu hal dapat menjadi kebiasaan ada beberapa faktor (Fitzgerald. 1966), yaitu : 1. Syarat kelayakan atau masuk akal atau kepantasan. 2. Pengakuan akan kebenaran 3. Mempunyai latarbelakang sejarah yang tidak dapat dikenali lagi mulainya. C. Keputusan Hakim (Jurisprudensi) Keputusan hakim yang berisikan suatu peraturan sendiri berdasarkan wewenang yang diberikan oleh pasal 22 AB menjadilah dasar keputusan hakim lainnyn/ kemudian untuk mengadili perkara yang serupa. Dari putusan hakim yang demikian tersebut disebut Jurisprudensi. D. Traktat Traktat adalah perjanjian yang dilakukan oleh dua negara atau lebih. Jika traktat diadakan hanya oleh dua negara maka traktat itu adalah traktat bilateral, namun jika dilakukan oleh lebih dari dua negara, maka traktat tersebut disebut traktat multilateral. Apabila ada traktat multilateral memberikan kesempatan kepada negara-negara yang pada permulaan tidak turut mengadakannya, tetapi dikemudian turut bergabung, maka traktat tersebut disebut traktat kolektif atau traktat terbuka, misalnya PBB.
32 E. Pendapat Para Sarjana (Doktrin) Pendapat para sarjana hukum yang ternama juga mempunyai kekuasaan dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh hakim. Dalam penetapan apa yang menjadi dasar keputusannya, hakim sering menyebut (mengutip) pendapat para sarjana hukum mengenai soal yang harus diselesaikan.
33 BAB VIII PENEMUAN-PENEMUAN HUKUM A. PENGERTIAN Dalam pelajaran tentang sumber hukum telah dijelaskan bahwa berdasarkan pasal 21 AB, keputusan hakim juga diakuai sebagai hukum formal. Dengan demikian oleh perundangundangan telah diakui bahwa salah stu pekerjaan hakim merupakan faktor pembentukan hukum. Akan tetapi walaupun hakim menemukan hukum, namun kedudukan hakim bukanlah sebagai pemegang kekuasaan legislatif., oleh karena keputusan hakim tidak mempunyai kekuatan hukum yang berlaku seperti peraturan umum. Keputusan hakim hanya berlaku kepada pihak-pihak yang bersangkutan (Kansil.1986). Hakim dapat melakukan penemuan hukum apabila tidak ada undang-undang yang mengatur kasus tersebut (kekosongan hukum) yang dinamakan contruksi atau argumentasi. Selain itu hakim dapat melakukan penafsiran hukum atau interpretasi hukum apabila suatu undang-undang isinya tidak jelas, sehingga dapat diberikan keputusan yang sungguh-sungguh adil dan sesuai dengan maksud hukum. B. CONTRUKSI/ ARGUMENTASI Contruksi hukum dilakukan oleh hakim apabila ada kekosongan hukum didalam undang-undang maupun sumber hukum yang lain. Contruksi hukum sendiri ada 3 jenis, yaitu :
34 Argumentum per Analogian Menurut Sudikno kadang-kadang peraturan perundangundangan terlalu sempit ruang lingkupnya. Dalam hal ini untuk dapat menerapkan undang-undang pada peristiwanya hakim akan memperluasnya dengan metode analogi ini. Dengan analogi maka peristiwa yang serupa, sejenis atau mirip dengan yang diatur dalam undang-udang diberlakukan sama. Dapat disimpulkan bahwa pada metode ini hakim berfikir dari yang khusus ke umum. Jadi suatu peraturan perundang-undangan diterapkan terhadap suatu peristiwa tertentu yang tidak diatur dalam undang-undang, tetapi peristiwa itu mirip atau serupa dengan peristiwa yang diatur oleh undang-undang. Contoh: Peraturan Khusus Pasal 1576 BW ANALOGI Peraturan Umum Jual-beli tidak memutuskan sewamenyewa Yang khusus dijadukan umum Penjualan meliputi setiap peralihan Diterapkan terhadap peristiwa khusus : jual-beli Diterapkan terhadap setiap peralihan : hibah, warisan dll
35 Rechvervining (Penyempitan Hukum) Menurut Sudikno kadangkala peraturan perundangundangan itu ruang lingkupnya terlalu umum atau luas, maka diperlukan suatu upaya penyempitan untuk dapat diterapkan terhadap suatu peristiwa tertentu. Dapat disimpulkan bahwa pada metode rechvervining seorang hakim berfikir dari umum kekhusus. Argumentum a Contrario Adakalanya suatu peristiwa tidak secara khusus diatur ole undang-undang, tetapi kebalikan dari peristiwa tersebut diar oleh undang-undang. Ini merupakan cara menjelaskan undangundang yang didasarkan pada perlawanan pengertian antara peristiwa konkrit yang dihadapi dan peristiwa yang diatur dalam undang-undang. Contoh : Pasal 3 PP (peristiwa khusus) CONTRARIO Kebalikan (peristiwa khusus) Isteri yang cerai boleh kawin lagi setelah masa idah Diterapkan secara kebalikannya Kebalikannya Isteri yang cerai hendak kawin lagi Suami yang cerai hendak kawin lagi C. INTERPRETASI HUKUM
36 Interpretasi atau penafsiran adalah salah satu metode penemuan hukum dengan memberikan penjelasan yang baik dari undang-undang agar ruang lingkup dapat diterapkan pada suatu masalah tertentu. Interpretasi hukum dilakukan karena terdapat suatu undangundang yang kurang dapat dimengerti dan tidak jelas, sehingga hakim harus dapat menjelaskan maksud dari undang-undang tersebut. Interpretasi hukum ada 6 (enam) macam, yaitu : Metode Gramatikal Metode interpretasi gramatikal ini merupakan cara menafsirkan atau penjelaskan yang paling sederhana untuk mengetahui makna ketentuan undang-undang dengan menguraikannya menurut bahasa, susunan kata atau bunyinya. Contoh : Pada pasal 351 KUHP tentng penganiayaan tidak dijelaskan secara detaik tentang yang dimaksud dengan penganiayaan. Sehingga lahirlah yurisprudensi yang menjelaskan tentang arti penganiayaan, yaitu perbuatan yang menimbulkan rasa sakit. Metode Teleologis/ Sosiologis Yaitu penafsiran hukum yang berorientasi pada pemahaman tujuan dari undang-undang yang digunakan. Disini peraturan perundang-undangan disesuaikan dengan hubungan dan situasi sosial yang baru. Contoh : Dalam kasus pencurian (mengambil sesuatu barang), benda yang menjadi objek pencurian adalah benda yang berwujud, tetapi ada kasus pencurian listrik, sehingga hakim menafsirkan bahwa tujuan dari pencurian tersebut adalah mengambil barang/
37 sesuatu yang mempunyai nilai ekonomis. Jadi tidak hanya barang yang berwujud saja, tetapi seluruh barang yang mempunyai nilai ekonomis. Metode Sistematis Yaitu menafsirkan undang-undang sebagai bagian dari keseluruhan sistem perundang-undangan dengan jalan menghubungkannya dengan undang-undang yang lain. Contoh : Dalam KUHP keterangan tentang anak dibawah umur dan umur belum waktu kawin (pasal 288) tidak dijelaskan dalam KUHP, sehingga hakim harus melihat dalam KUHPerdata karena KUHPerdata yang mengatur umur dewasa seseorang. Itulah yang disebut dengan menafsirkan undang-undang dengan melihat undang-undang yang lain. Metode Historis Makna undang-undang dapat dicari dengan jalan meneliti sejarahnya. Jadi metode historis merupakan penjelasa menurut terjadinya undang-undang. Ada dua macam metode historis, yaitu : a. Menurut Sejarah Undang-undang Maksudnya adalah mencari ketentuan undang-undang seperti yang dilihat oleh pembentuk undang-undang pada waktu pembentukannya. Disini kehendak pembentuk undang-undang yang menentukannya. Interpretasi menurut sejarah undangundang ini dapat diamil dari DPR. b. Menurut Sejarah Hukum
38 Yaitu hendak memahami undang-undang dalam konteks seluruh sejarah hukum. Misalnya dalam menjelaskan tentang pengertian yang ada dalam BW, kita harus mundur kebelakang dibuatnya hukum tersebut mulai dari Belanda, mundur ke Prancis hingga ke Romawi. Menurut Sudikno (2005:174) dengan makin tua umur undang-undang, maka penjelasan historisnya makin lama makin kurang kegunaannya. Selain itu metode ini memungkinkan untuk tidak dipakai lagi.
HUKUM PERBANKAN INDONESIA
HUKUM PERBANKAN INDONESIA Oleh: Irdanuraprida Idris HUKUM Dalam Pandangan Masyarakat Ketika seseorang berhadapan dengan Hukum pada saat kondisi sedang normal, orang cenderung berpandangan bahwa Hukum adalah
II. Istilah Hukum Perdata
I. Pembidangan Hukum Privat Hukum Hukum Publik II. Istilah Hukum Perdata = Hukum Sipil >< Militer (Hukum Privat Materil) Lazim dipergunakan istilah Hukum Perdata Prof.Soebekti pokok-pokok Hukum Perdata
C. HUKUM MENURUT TEMPAT BERLAKUNYA
Penggolongan Hukum Menurut Drs. C.S.T. Kansil, S.H hukum digolongkan menurut sumber, bentuk, tempat berlakunya, waktu berlakunya, cara mempertahankan, sifatnya, wujudnya, dan isinya. Pembagian hukum dalam
HUKUM DAN SISTEM HUKUM DI INDONESIA
HUKUM DAN SISTEM HUKUM DI INDONESIA PENGERTIAN HUKUM E. UTRECHT : Hukum adalah himpunan petunjuk-petunjuk hidup yang berisi perintahperintah dan larangan-larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu
Daftar Pustaka. Glosarium
Glosarium Daftar Pustaka Glosarium Deklarasi pembela HAM. Pernyataan Majlis Umum PBB yang menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak secara sen-diri sendiri maupun bersama sama untuk ikut serta dalam
Prof. Dr. R.M. Sudikno Mertokusumo, S.H.
Prof. Dr. R.M. Sudikno Mertokusumo, S.H. Lahir di Surabaya, 7 Desember 1924 Wafat di Yogyakarta, 1 Desember 2011 Guru besar FH UGM Yogyakarta, Hakim di pengadilan negeri di Yogyakarta dan Bandung. Karya-
Sistem Hukum. Nur Rois, S.H.,M.H.
Sistem Hukum Nur Rois, S.H.,M.H. Prof. Subekti sistem hukum adalah susunan atau tatanan yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang teratur,terkait, tersusun dalam suatu pola,
SEB E U B A U H H MAT A A T KULIAH
SEBUAH MATA KULIAH PENGANTAR PENGANTAR HUKUM INDONESIA Pengantar Hukum Indonesia HUKUM SEBAGAI PRANATA SOSIAL sistem norma yang bertujuan untuk mengatur tindakan maupun kegiatan masyarakat untuk memenuhi
mens wordt eerst mens door samenleving met anderen yang artinya manusia itu baru
BAHAN KULIAH SISTEM HUKUM INDONESIA Match Day 3 MASYARAKAT DAN HUKUM A. Manusia dan Masyarakat Sudah menjadi kodrat bagi setiap manusia untuk hidup sebagai makhluk sosial, hidup di antara manusia lain
Pengantar Ilmu Hukum Materi Sumber Hukum. Disampaikan oleh : Fully Handayani Ridwan
Pengantar Ilmu Hukum Materi Sumber Hukum Disampaikan oleh : Fully Handayani Ridwan Sebelum membahas Sumber-sumber hukum, ada baiknya perlu memahami bahwa ada tiga dasar kekuatan berlakunya hukum (peraturan
PENGERTIAN HUKUM DAN HUKUM EKONOMI ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI, ANISAH SE.,MM.
PENGERTIAN HUKUM DAN HUKUM EKONOMI ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI, ANISAH SE.,MM. 1 PENGERTIAN HUKUM Menurut Prof. Mr. Dr L.J Van Apeldoorn Tidak mungkin memberikan definisi tentang apa yang dimaksud dengan
BAB I. PENDAHULUAN. Advendi Simangunsong, Elsi Kartika Sari, Hukum Dalam Ekonomi, Jakarta, PT Gramedia Widiasrana Indonesia. halaman 2.
BAB I. PENDAHULUAN Sebelum kita mempelajari mengenai Hukum, ada baiknya kalau kita melihat terlebih dahulu aturan atau norma-norma yang ada disekitar kita/masyarakat. Sebagai subyek hukum dimasyarakat
POKOK-POKOK HUKUM PERDATA
POKOK-POKOK HUKUM PERDATA 1 m.k. hukum perdata 2 m.k. hukum perdata 3 m.k. hukum perdata 4 m.k. hukum perdata 5 PERBEDAAN COMMON LAW/ANGLO SAXON CIVIL LAW/EROPA KONT SISTEM PERATURAN 1. Didominasi oleh
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-1 Hakikat Perlindungan dan Penegakkan Hukum
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN Oleh DANIEL ARNOP HUTAPEA, S.Pd Materi Ke-1 Hakikat Perlindungan dan Penegakkan Hukum MAKNA KATA HUKUM Asal-usul hukum, kata hukum berasal dari bahasan Arab hukmun
PENGANTAR ILMU HUKUM. Henry Anggoro Djohan
PENGANTAR ILMU HUKUM Henry Anggoro Djohan Mengatur hubungan antara manusia secara perorangan dengan suatu masyarakat sebagai kelompok manusia. Beberapa definisi hukum dari sarjana hukum 1. E. Utrech memberikan
HUKUM PERDATA ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI, ANISAH SE.,MM.
HUKUM PERDATA ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI, ANISAH SE.,MM. 1 HUKUM PERDATA Hukum Perdata adalah ketentuan yang mengatur hak-hak dan kepentingan antara individu-individu dalam masyarakat. Dalam tradisi hukum
Sistem Hukum dan Peradilan Nasional
Sistem Hukum dan Peradilan Nasional 1. Pengertian Sistem Hukum Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem adalah perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas.
BAB III SUMBER HUKUM
BAB III SUMBER HUKUM A. Pengertian Sumber Hukum Adapun yang dimaksud dengan sumber hukum ialah segala apa saja yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yakni aturan-aturan
RANCANGAN ACARA PERKULIAHAN
UNIVERSITAS PANCASILA FAKULTAS HUKUM RANCANGAN ACARA PERKULIAHAN Mata Kuliah : 1. Pengantar Ilmu Hukum (HID 10103) 2. Pengantar Hukum Indonesia (HID 10104) Jumlah Semester : Masing-masing 4 SKS : Gasal
PENDAHULUAN HUKUM & KODE ETIK KOMUNIKASI
Materi Kedua PENDAHULUAN HUKUM & KODE ETIK KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS BUDI LUHUR JAKARTA - 2011 1 Hukum Komunikasi Sistem Hukum Indonesia Sistem Komunikasi Indonesia 2 Sistem Hukum
PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM INDONESIA. Abstrak
 PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM INDONESIA Abstrak Hukum Harus dilaksanakan dan ditegakkan, karena hukum berfungsi sebagai pelindung kepentingan manusia. Penegakan hukum harus memperhatikan unsur kepastian
PENGGOLONGAN HUKUM. Nama anggota : Mega Aditya Lavinda (19) Megantoro Prasetyo W (20) Mitsaqan Ghalizha (21) Ahmad hafiyyan (03)
PENGGOLONGAN HUKUM Nama anggota : Mega Aditya Lavinda (19) Megantoro Prasetyo W (20) Mitsaqan Ghalizha (21) Ahmad hafiyyan (03) Penggolongan Hukum Hukum menurut bentuknya. Hukum menurut tempat berlakunya.
TINJAUAN HUKUM PIDANA MENGENAI TINDAK PIDANA PENIPUAN
TINJAUAN HUKUM PIDANA MENGENAI TINDAK PIDANA PENIPUAN (Studi Tentang Perbuatan Laki-laki Menghamili Perempuan Di Luar Nikah) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Syarat Guna Mencapai
PERBANDINGAN HUKUM PERDATA 4 SISTEM HUKUM DI DUNIA. Oleh : Diah Pawestri Maharani, SH MH
PERBANDINGAN HUKUM PERDATA 4 SISTEM HUKUM DI DUNIA Oleh : Diah Pawestri Maharani, SH MH SISTEM HUKUM ANGLO SAXON/COMMON LAW Common Law atauanglo Saxon (Anglo Amerika) Sistem hukum Anglo Saxon, Anglo Amerika,
Hukum Perdata, Hukum Pidana Dan Hukum Administrasi Negara
Hukum Perdata, Hukum Pidana Dan Hukum Administrasi Negara HUKUM PERDATA 1. Sejarah Hukum perdata (burgerlijkrecht) bersumber pokok burgerlijk wet boek (KHUS) atau kitab undang-undang hukum sipil yang berlaku
HUKUM PERDATA H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI.
HUKUM PERDATA H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI. A. PENDAHULUAN I. Pembidangan Hukum Privat Hukum Hukum Publik II. Istilah Hukum Perdata = Hukum Sipil >< Militer (Hukum Privat Materil) Lazim dipergunakan istilah
ASPEK HUKUM DALAM BISNIS
1 ASPEK HUKUM DALAM BISNIS PENGAJAR : SONNY TAUFAN, MH. JURUSAN MANAJEMEN BISNIS INDUSTRI POLITEKNIK STMI JAKARTA MINGGU Ke 2 2 Aristoteles (384-322 SM), manusia adalah ZOON POLITICON, Manusia sebagai
Terciptanya keadilan. Terciptanya tata tertib. Memberikan suasana aman, damai, dan sejahtera
DEFINISI, TUJUAN, DAN ASPEK LAIN DARI HUKUM EKONOMI Definisi Hukum Hukum secara umum dapat diartikan sebagai keseluruhan norma yang oleh penguasa negara atau penguasa masyarakat yang berwenang menetapkan
SUMBER HUKUM. A. Sumber Hukum Materiil menurut Prof. Mr. Dr. L.J. Apeldoorn B. Sumber Hukum Materiil menurut E. UTRECHT
SUMBER HUKUM A. Sumber Hukum Materiil menurut Prof. Mr. Dr. L.J. Apeldoorn B. Sumber Hukum Materiil menurut E. UTRECHT Pengertian Tentang Sumber Hukum dan jenisnya Sumber Hukum ialah segala sesuatu yang
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA. Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA A. Pengertian Perkawinan Perkawinan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 1 Tahun 1974. Pengertian perkawinan menurut Pasal
1. Perbedaan PIH dan PHI 2. Hukum dalam masyarakat 3. Pengetian dasar sistem hukum 4. Sumber Hukum 5. Klasifikasi/Pembedaan Hukum 6.
2006/2007 1. Perbedaan PIH dan PHI 2. Hukum dalam masyarakat 3. Pengetian dasar sistem hukum 4. Sumber Hukum 5. Klasifikasi/Pembedaan Hukum 6. Asas Konkordansi 7. Pluralisme di Indonesia 8. Pembidangan
BAB II PERKAWINAN DAN PUTUSNYA PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN
BAB II PERKAWINAN DAN PUTUSNYA PERKAWINAN MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN 2.1 Pengertian Perkawinan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata)
BAB I PENDAHULUAN. dalam masyarakat itu sendiri, untuk mengatasi permasalahan tersebut dalam hal ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan zaman. Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari interaksi antar
HUKUM AGRARIA NASIONAL
HUKUM AGRARIA NASIONAL Oleh : Hj. Yeyet Solihat, SH. MKn. Abstrak Hukum adat dijadikan dasar karena merupakan hukum yang asli yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Hukum adat ini masih harus
BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan menurut Pendapat Umum, yang dimaksud dengan Hukum adalah:
BAB I PENDAHULUAN A. HUKUM PERDATA 1. Pengertian Hukum Perdata Para ahli banyak memberikan pengertian-pengertian maupun penggunaan istilah Hukum Perdata. Adapun pengertian-pengertian tersebut tergantung
LATIHAN SOAL TATA NEGARA ( waktu : 30 menit)
Langkah untuk mendapatkan kunci jawaban dan pembahasan download di Ferry Andriyanto, S. Pd. 1. Untuk membiayai kebutuhan pemerintah local tanpa campurtangan pusat, pemerintah kolonial membentuk a. Algemeene
AZAS HUKUM. LIZA ERWINA, SH.M.HUM Fakultas Hukum Jurusan Hukum Pidana Universitas Sumatera Utara
AZAS HUKUM LIZA ERWINA, SH.M.HUM Fakultas Hukum Jurusan Hukum Pidana Universitas Sumatera Utara I. Pendahuluan : Pengertian azas dalam kamus Bahasa Indonesia adalah : a. Dasar, alas, pedoman misalnya batu
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ( K3 ) DAN HUKUM KETENAGAKERJAAN
MATA KULIAH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ( K3 ) DAN HUKUM KETENAGAKERJAAN DOSEN : HASTORO WIDJAJANTO, SH. MH. SKS : 2 ( DUA ) TUJUAN : - MENGETAHUI HUBUNGAN ANTARA PEKERJA/BURUH DAN PEMILIK PERUSAHAAN
TINJAUAN MENGENAI ASPEK HUKUM PEMBAGIAN HARTA WARISAN MENURUT KUHPERDATA (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Jepara)
0 TINJAUAN MENGENAI ASPEK HUKUM PEMBAGIAN HARTA WARISAN MENURUT KUHPERDATA (Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Jepara) Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Syarat-Syarat Guna Memperoleh
BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PELAYARAN DI INDONESIA. A. Pengaturan Tindak Pidana Pelayaran Di Dalam KUHP
29 BAB II PENGATURAN HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PELAYARAN DI INDONESIA A. Pengaturan Tindak Pidana Pelayaran Di Dalam KUHP Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia, yang mana hal tersebut
HUKUM & MASYARAKAT Sebuah Pengantar
HUKUM & MASYARAKAT Sebuah Pengantar Dengan sadar atau tidak, manusia dipengaruhi oleh peraturanperaturan hidup bersama yang mengekang kehendak dan mengatur perhubungan antar manusia. Peraturan-peraturan
PERADILAN: PROSES PEMBERIAN KEADILAN DI SUATU LEMBAGA YANG DISEBUT PENGADILAN:
HUKUM YANG DICIPTAKAN MELALUI PUTUSAN PENGADILAN PERADILAN dan PENGADILAN PERADILAN: PROSES PEMBERIAN KEADILAN DI SUATU LEMBAGA YANG DISEBUT PENGADILAN PENGADILAN: LEMBAGA ATAU BADAN YANG BERTUGAS MENERIMA,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia perlu melaksanakan pembangunan di segala bidang
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERBUATAN HUKUM
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERBUATAN HUKUM A. Pengertian Dan Tujuan Hukum A.1. Pengertian Hukum Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum Eropa, Hukum Agama dan Hukum Adat. Sebagian besar
I. PENDAHULUAN. dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan, berkembang, dan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa, yang harus dijaga untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh dan, berkembang, dan berpartisipasi
KUMPULAN SOAL-SOAL UTS HUKUM ADAT
KUMPULAN SOAL-SOAL UTS HUKUM ADAT 1. Menurut pendapat anda, apa yang dimaksud dengan : a. Adat : aturan, norma dan hukum, kebiasaan yang lazim dalam kehidupan suatu masyarakat. Adat ini dijadikan acuan
BAB I PENDAHULUAN. merupakan Negara yang berlandaskan atas dasar hukum ( Recht Staat ), maka
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam penjelasan UUD 1945 dijelaskan bahwa Negara Indonesia merupakan Negara yang berlandaskan atas dasar hukum ( Recht Staat ), maka Negara Indonesia sebagai
TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Penegakan Hukum dan Penegakan Hukum pidana. Penegakan hukum adalah proses di lakukannya upaya untuk tegaknya atau
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Penegakan Hukum dan Penegakan Hukum pidana 1. Penegakan hukum Penegakan hukum adalah proses di lakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara
Pengantar Ilmu Hukum. Disampaikan oleh : Fully Handayani R, SH,M.Kn
Pengantar Ilmu Hukum Pengertian Pokok dalam Sistem Hukum Disampaikan oleh : Fully Handayani R, SH,M.Kn Subjek Hukum Adalah segala sesuatu yang menurut hukum dapat menjadi pendukung (dapat memiliki) hak
I. PENDAHULUAN. dan undang-undang yang berlaku. Meskipun menganut sistem hukum positif,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang berdasarkan pada hukum positif, artinya hukumhukum yang berlaku di Indonesia didasarkan pada aturan pancasila, konstitusi, dan undang-undang
2002), hlm Ibid. hlm Komariah, Hukum Perdata (Malang; UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang,
Pendahuluan Perkawinan merupakan institusi yang sangat penting dalam masyarakat. Di dalam agama islam sendiri perkawinan merupakan sunnah Nabi Muhammad Saw, dimana bagi setiap umatnya dituntut untuk mengikutinya.
2. Macam-Macam Norma. a. Norma Kesusilaan
Sumber: ibnulkhattab.blogspot.com Gambar 4.3 Masyarakat yang sedang Melakukan Kegiatan Musyawarah untuk Menentukan Suatu Peraturan. 2. Macam-Macam Norma a. Norma Kesusilaan Ketika seseorang akan berbohong,
Hukum Perdata. Rahmad Hendra
Hukum Perdata Rahmad Hendra Hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum misalnya politik dan pemilu (hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi
DALAM PRESPEKTIF HUKUM ACARA PERDATA INDONESIA. Efa Laela Fakhriah. Hukum sebagai sarana pembaruan masyarakat sebagaimana dikemukakan oleh
ACTIO POPULARIS (CITIZEN LAWSUIT ) DALAM PRESPEKTIF HUKUM ACARA PERDATA INDONESIA Efa Laela Fakhriah I. Pendahuluan Hukum sebagai sarana pembaruan masyarakat sebagaimana dikemukakan oleh Mochtar Kusumaatmadja
BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana ungkapan ubi societas ibi ius atau dimana ada. liar, siapa yang kuat dialah yang menang. Tujuan hukum adalah untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana ungkapan ubi societas ibi ius atau dimana ada masyarakat maka disitu ada hukum, maka eksistensi hukum sangat diperlukan dalam mengatur kehidupan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. peraturan perundangan undangan yang berlaku dan pelakunya dapat dikenai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana Tindak pidana merupakan suatu perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundangan undangan yang berlaku dan pelakunya dapat dikenai dengan hukuman pidana.
Asas asas perjanjian
Hukum Perikatan RH Asas asas perjanjian Asas hukum menurut sudikno mertokusumo Pikiran dasar yang melatar belakangi pembentukan hukum positif. Asas hukum tersebut pada umumnya tertuang di dalam peraturan
SUMBER HUKUM ADMINISTRASI NEGARA MAKALAH
SUMBER HUKUM ADMINISTRASI NEGARA MAKALAH Dibuat untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Hukum Administrasi Negara Dibawah bimbingan dosen Bpk. EKO WAHYUDI, SH., MH. Oleh : KELOMPOK 3 KELAS C PROGRAM STUDI ILMU
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH
LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR : 8TAHUN 2010 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2010 TENTANG : TATA CARA PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH SISTEMATIKA TEKNIK PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DAN KERANGKA
II. TINJAUAN PUSTAKA. nampaklah bahwa pembuktian itu hanyalah diperlukan dalam berperkara dimuka
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Pembuktian Pengertian dari membuktikan ialah meyakinkan Hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan. Dengan demikian
NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Universitas Indo Global Mandiri Palembang
NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA Universitas Indo Global Mandiri Palembang NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA Pengertian Hukum yaitu : Seperangkat asas dan akidah yang mengatur kehidupan manusia dalam
BAB II PRAPERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA. A. Sejarah Praperadilan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia
BAB II PRAPERADILAN DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA A. Sejarah Praperadilan dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang terdapat dalam Pasal 1 ayat (3) merumuskan bahwa, Negara Indonesia adalah negara hukum. Negara
Pengantar Ilmu Hukum
Pengantar Ilmu Hukum Klasifikasi/Pembidangan Sistem Hukum Penegakan Hukum Penemuan/pembentukan Hukum Hukum merupakan sistem berarti bahwa hukum itu merupakan tatanan, merupakan kesatuan yang utuh yang
yang tersendiri yang terpisah dari Peradilan umum. 1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-undang Dasar 1945 Pasal 25A Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas
BAB I PENDAHULUAN. faktor sumber daya manusia yang berpotensi dan sebagai generasi penerus citacita
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap anak adalah bagian dari penerus generasi muda yang merupakan faktor sumber daya manusia yang berpotensi dan sebagai generasi penerus citacita perjuangan bangsa
BAB I PENDAHULUAN. Dalam fase kehidupan manusia terdapat tiga peristiwa penting yaitu, kelahiran,
BAB I PENDAHULUAN Dalam fase kehidupan manusia terdapat tiga peristiwa penting yaitu, kelahiran, perkawinan, dan kematian. Dengan adanya kelahiran maka berakibat pada timbulnya hak dan kewajban baik dari
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Tugas dan Wewenang Hakim dalam Proses Peradilan Pidana. Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tugas dan Wewenang Hakim dalam Proses Peradilan Pidana 1. Kekuasaan Kehakiman Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan
BAB I PENDAHULUAN. mampu memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa dalam. dan tantangan dalam masyarakat dan kadang-kadang dijumpai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah bagian dari generasi muda merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Dalam rangka mewujudkan sumber
SISTEM HUKUM MAKALAH
SISTEM HUKUM MAKALAH Dibuat untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Pengantar Hukum Indonesia di Bawah Bimbingan Dosen Bpk. FAUZUL ALIWARMAN, SHI., M.Hum. Ibu MAS ANIENDA TF, SH., MH. Oleh : KELOMPOK 3 KELAS
PERTEMUAN KE 7 POKOK BAHASAN
PERTEMUAN KE 7 POKOK BAHASAN A. TUJUAN PEMBELAJARAN Adapun tujuan pembelajaran yang akan dicapai sebagai berikut: 1. Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian norma sosial, terbentuknya norma sosial, ciri-ciri
BAB I PENDAHULUAN. seimbang. Dengan di undangakannya Undang-Undang No. 3 tahun Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan bagian dari generasi muda yang memiliki peran strategis dan mempunyai ciri-ciri dan sifat khusus. Oleh karena itu anak memerlukan perlindungan
BAB I PENDAHULUAN. khususnya Pasal 378, orang awam menyamaratakan Penipuan atau lebih. (Pasal 372 KUHPidana) hanya ada perbedaan yang sangat tipis.
BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul Banyak orang, terutama orang awam tidak paham apa arti Penipuan yang sesungguhnya, yang diatur oleh Kitab Undang-undang Hukum Pidana, khususnya Pasal 378, orang
I. PENDAHULUAN. karna hukum sudah ada dalam urusan manusia sebelum lahir dan masih ada
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hukum tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat sebagai kumpulan manusia, karna hukum sudah ada dalam urusan manusia sebelum lahir dan masih ada sesudah meninggal.
BAB III. Hukum positif atau bisa dikenal dengan istilah Ius Constitutum, yaitu
BAB III PRAKTEK OPERASI HYMEN DITINJAU DARI HUKUM POSITIF A. Pengertian Hukum Positif Hukum positif atau bisa dikenal dengan istilah Ius Constitutum, yaitu hukum yang berlaku sekarang bagi suatu masyarakat
Warganegara dan Negara
Warganegara dan Negara 5 Tujuan Instruksional Umum : Mahasiswa dapat mengetahui dan menghargai kedudukan dan peranan setip warganegara dalam negara hukum indonesia Tujuan Instruksional Khusus 1. Mahasiswa
HERU SASONGKO, S.FARM.,APT.
HERU SASONGKO, S.FARM.,APT. PROFESI FARMASI DI MASYARAKAT 4/1/2013 2 SWOT ANALYSIS KEKUATAN : KECENDERUNGAN MAYORITAS WANITA BASIC KNOWLEDGE YANG DAPAT DIANDALKAN REGULASI YANG MENYANGKUT PROFESI FARMASI
Hukum Administrasi Negara
Hukum Administrasi Negara Pertemuan XI & XII Malahayati, S.H., LL.M. (c) 2014 Malahayati 1 Topik Istilah dan Pengertian Hubungan HAN dengan HTN Sumber HAN Ruang Lingkup HAN Asas Pemerintahan Yang Baik
MATERI KULIAH PENGANTAR ILMU HUKUM MATCH DAY 21 PENEMUAN HUKUM (BAGIAN 3)
MATERI KULIAH PENGANTAR ILMU HUKUM MATCH DAY 21 PENEMUAN HUKUM (BAGIAN 3) B. Metode Argumentasi/Metode Konstruksi Hukum Interpretasi adalah metode penemuan hukum dalam hal peraturannya ada tetapi tidak
I.PENDAHULUAN. Pembaharuan dan pembangunan sistem hukum nasional, termasuk dibidang hukum pidana,
I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembaharuan dan pembangunan sistem hukum nasional, termasuk dibidang hukum pidana, merupakan salah satu masalah besar dalam agenda kebijakan /politik hukum Indonesia.Khususnya
TINJAUAN YURIDIS PEMBUKTIAN TURUT SERTA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Kasus Putusan No. 51/Pid.B/2009 /PN.PL) MOH. HARYONO / D
TINJAUAN YURIDIS PEMBUKTIAN TURUT SERTA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Kasus Putusan No. 51/Pid.B/2009 /PN.PL) MOH. HARYONO / D 101 08 100 ABSTRAK Tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa
c. Menyatakan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27
RINGKASAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 006/PUU- IV/2006 TENTANG UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI KEBENARAN DAN REKONSILIASI TANGGAL 7 DESEMBER 2006 1. Materi muatan ayat, Pasal dan/atau
BAB I PENDAHULUAN. (hidup berkelompok) yang biasa kita kenal dengan istilah zoon politicon. 1
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seperti yang kita ketahui, manusia merupakan mahluk sosial. Hal ini memiliki arti bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya, tentu akan membutuhkan bantuan dari manusia
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN JALAN BINTARO UTAMA SEKTOR V, BINTARO JAYA - TANGERANG SELATAN 15222 TELEPON (021) 7361654-58
dikualifikasikan sebagai tindak pidana formil.
12 A. Latar Belakang Masalah Tindak pidana adalah suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang 1. Hukum pidana sebagai peraturan-peraturan yang bersifat abstrak merupakan
SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL
SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL A. Sistem Hukum Nasional 1. Definisi Hukum Hukum adalah kumpulan peraturan (perintah dan larangan ) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan harus ditaati masyarakat.
II. TINJAUAN PUSTAKA. Perbuatan menurut Simons, adalah berbuat (handelen) yang mempunyai sifat gerak aktif, tiap
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Perbuatan dan Sifat melawan Hukum I. Pengertian perbuatan Perbuatan menurut Simons, adalah berbuat (handelen) yang mempunyai sifat gerak aktif, tiap gerak otot yang dikehendaki,
BAB IV WASIAT KEPADA NON MUSLIM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF. dan ditegakkan oleh atau melalui pemerintah atau pengadilan dalam negara
BAB IV WASIAT KEPADA NON MUSLIM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF Hukum positif adalah "kumpulan asas dan kaidah hukum tertulis dan tidak tertulis yang pada saat ini sedang berlaku dan mengikat secara umum atau
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN DAN PENGATURAN MENURUT KUH PERDATA. A. Pengertian Perjanjian dan Asas Asas dalam Perjanjian
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN DAN PENGATURAN MENURUT KUH PERDATA A. Pengertian Perjanjian dan Asas Asas dalam Perjanjian 1. Pengertian Perjanjian Pasal 1313 KUH Perdata menyatakan Suatu perjanjian
BAB I PENDAHULUAN. Perkawinan usia muda merupakan perkawinan yang terjadi oleh pihak-pihak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Di dalam Negara Republik Indonesia, yang susunan kehidupan rakyatnya,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam Negara Republik Indonesia, yang susunan kehidupan rakyatnya, termasuk perekonomiannya, terutama masih bercorak agraria, bumi, air dan ruang angkasa, sebagai
I. PENDAHULUAN. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin besar pengaruhnya
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin besar pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini. Kemajuan tersebut antara lain dalam
BAB I PENDAHULUAN. (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia menerima hukum sebagai
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara hukum menganut sistem hukum Civil Law
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia sebagai negara hukum menganut sistem hukum Civil Law (Eropa Continental) yang diwarisi selama ratusan tahun akibat penjajahan Belanda. Salah satu karakteristik
Mengenal Hukum Bisnis
Modul 1 Mengenal Hukum Bisnis Prof. Dr. Nindyo Pramono, S.H., M.S. S PENDAHULUAN ebelum membahas lebih lanjut apa saja aspek-aspek hukum dalam kegiatan bisnis, ada baiknya kita mengetahui lebih dahulu
BAB II PENGERTIAN PERJANJIAN PADA UMUMNYA. Manusia dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan atau
BAB II PENGERTIAN PERJANJIAN PADA UMUMNYA Manusia dalam hidupnya selalu mempunyai kebutuhan-kebutuhan atau kepentingan-kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Manusia di dalam memenuhi
Hukum Administrasi Negara
Hukum Administrasi Negara ASAS-ASAS HUKUM ADMINISTRASI NEGARA SUMBER-SUMBER HUKUM ADMINISTRASI NEGARA KEDUDUKAN HAN DALAM ILMU HUKUM Charlyna S. Purba, S.H.,M.H Email: [email protected] Website:
TUJUAN HUKUM. Oleh : Muhammad Anas
TUJUAN HUKUM Oleh : Muhammad Anas 1503101010202 Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh 2015 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ii ABSTRAK... iii BAB I PENDAHULUAN 1 BAB II PEMBAHASAN. 2 BAB III
