JASSI_anakku Volume 18 Nomor 2, Desember 2017
|
|
|
- Hadian Kartawijaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Kesiapan Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar Dalam Melayani Anak Berkebutuhan Khusus Dedy Kurniadi dan Sunaryo Departemen Pendidikan Khusus, Fakultas Ilmu Pendidikan, Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kesiapan mahasiswa calon guru SD di salah satu universitas di Indonesia dalam melayani anak berkebutuhan khusus (ABK). Sampel dalam penelitian ini mahasiswa calon guru SD tingkat empat pada jurusan PGSD. Data kesiapan mahasiswa calon guru dalam melayani anak berkebutuhan khusus diperoleh melalui tes pemahaman konsep dasar pendidikan anak berkebutuhan khusus dan tes pemahaman cara-cara melayani anak berkebutuhan khusus. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan statistic sederhana yaitu kuartil. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa mahasiswa calon guru SD belum memiliki kesiapan dalam melayani anak berkebutuhan khusus baik dilihat dari pemahaman konsep dasar anak berkebutuhan khusus maupun pemahaman cara-cara melayani anak berkebutuhan khusus. Kata kunci: Kesiapan, Anak Berkebutuhan Khusus. Pendahuluan Guru-guru Sekolah Dasar harus memiliki kesiapan dalam hal pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar untuk membantu belajar Anak Berkebutuhan Khusus. Hal ini dikarenakan berkembangnya konsep tentang pendidikan inklusi (inclusion) yang artinya tidak ada pemisahan tempat belajar antara anak normal dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Bahkan seiring dengan maraknya isue tentang hak Asasi manusia (HAM). Berkembangnya konsep pendidikan terpadu maupun inklusi, diperkirakan akan menjadi trend pendidikan luar biasa dimasa depan, karena beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep tersebut memiliki berbagai keunggulan, terutama ditinjau dari keluaran aspek akademik, pribadi, dan social Schwartz (1984) menegaskan bahwa kebijakan mainstreaming di beberapa negara bagian Amerika Serikat telah menuntut kemampuan atau kompentensi guru yang lebih untuk memahami kondisi Anak Berkebutuhan Khusus sesuai dengan jenis keluarbiasaannya. Salah satu tuntutan bagi para mahasiswa calon guru SD ialah penerapan prinsip-prinsip psikologisedukatif dalam proses belajar mengajar dalam bentuk proses pembelajaran siswa dengan berbagai keragamannya, dan penyesuaian diri dengan berbagai suasana, termasuk dengan kehadiran Anak Berkebutuhan Khusus dalam kelas tersebut. Struktur program S1 PGSD dapat dipilah menjadi tiga keiompok mata kuliah, yaitu program pendidikan umum, program pendidikan dasar profesional, dan program pendidikan bidang studi. Permasalahan yang muncul di lapangan ialah apakah ketiga program tersebut dapat membekalkan kesiapan calon guru SD dalam melayani siswa luar biasa? Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesiapan calon guru SD dalam melayani siswa luar biasa, kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan yang ditinjau dari pemahamannya tentang konsep dasar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus dan 22
2 pemahamannya tentang cara-cara melayani Anak Berkebutuhan Khusus Melalui penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan terhadap pengembangan program pendidikan guru SD sehingga lulusannya dapat membantu terlaksananya program pendidikan inklusi di lapangan. Hakekat pembelajaran terhadap Anak Berkebutuhan Khusus adalah layanan pembelajaran yang sengaja diberikan dengan mempertimbangkan segi-segi keluarbiasaan anak, terutama terhadap keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki serta kebutuhan-kebutuhan khusus pada individu tersebut sebagai dampak dari keluarbiasaannya. Pembelajaran terhadap Anak Berkebutuhan Khusus tidak dibatasi oleh tempat atau setting, tetapi dirnanapun ada anak luar biasa disitu pula layanan pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus harus dilakukan. Dengan kata lain pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus tidak hanya ada di SLB-SLB, tetapi juga di sekolah-sekolah umum, selama di sekolah umum tersebut terdapat siswa yang luar biasa/ siswa yang Berkebutuhan Khusus,. Dalam memilih, memutuskan, merancang, dan melaksanakan program pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus, yang perlu diperhatikan oleh guru adalah bahwa akibat keluarbiasaannya anak mengalami hambatan dalam mengembangkan potensinva secara optimal. Untuk itu diperlukan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Sampai saat ini menurut Taylor (Musjafak Assjari, 1996) salah satu bentuk program pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah yang dianggap paling tepat adalah melalui Individualized Education Program (IEP) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi program pembelajaran yang diindividualisasikan atau Program Pengajaran Individu (PPI). Dalam merumuskan program tersebut hendaknya tidak terlepas dari kurikulum yang sudah ditentukan, tetapi menyesuaikan dengan keluarbiasaan atau keunikan masing-masing Anak Berkebutuhan Khusus. Dengan kata lain PPI merupakan wahana bagi guru untuk mengadaptasi kurikulum umum kepada anak secara individual. Dalam merancang PPI ini menurut Kitano dan Kirby (Mulyono Abdurrahman, 1995 : 85) hendaknya memuat lima persyaratan yaitu : 1) Taraf kemampuan anak saat ini, (2) tujuan umum (goal) yang akan dicapai dalam satu tahun dan penjabarannya ke dalam tujuan-tujuan khusus (instruksional obyektif), (3) pelayanan khusus yang teredia bagi anak yang dan perluasannya untuk mengikuti program reguler, (4) proyeksi tentang kapan dimulainya kegiatan dan waktu yang akan dipergunakan untuk memberikan pelayanan, dan (5) prosedur evaluasi dan kriteria keberhasilan atau kegagalan program Sunardi (1996) menyatakan bahwa program pembelajaran induvidual mencakup enam komponen, yaitu (1) diskripsi tingkat kemampuan anak, (2) tujuan jangka panjang, (3) tujuan jangka pendek, (4) jenis layanan khusus yang diberikan, (5) pengaturan pemberian layanan, dan (6) waktu pelaksanaan dan kriteria evaluasi. Anak Berkebutuhan Khusus ke sekolah umum berimplikasikan pada lahirnya sejumlah tuntutan untuk melakukan berbagai modifikasi proses belajar mengajar meliputi pembelajaran secara individual, kerja sama antar berbagai tenaga profesi (khususnya dengan guru Pendidikan Khusus di sekolah biasa), perubahan kondisi fisik sekolah, penyediaan media pembelajaran khusus, sistem evaluasi, serta penyiapan sikap, pengetahuan, dan keterampilan guru dan penyiapan pada Anak Berkebutuhan Khusus maupun murid-murid lain di kelasnya. Kondisi ini mungkin masih asing bagi sebagian besar guru biasa, karena pada umumnya pembelajaran yang berlangsung sampai saat ini masih berorientasi pada guru, belum pada murid. Reynolds dan Birch (Sunardi, 1996) menyatakan bahwa ada tujuh prinsip yang mendukung profil pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah biasa, yaitu : Pengaturan lingkungan fisik sekolah Integrasi Sosial Anak Berkebutuhan Khusus 23
3 Pengelolaan Kelas Mengoptimalkan Pemanfaatan Waktu Akademik Memilih Materi Pembelajaran Mengadakan Pemantauan, Umpan Batik, Dorongan, Pengulangan Memanfaatkan Hasil Diagnosa Dalam Pembelajaran Menurut Sopan dan Shevin (Sunardi, 1996) terdapat lima profil pembelajaran di sekolah inklusi, yaitu : Menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang hangat, menerima keanekaragaman, dan menghargai perbedaan Penerapan kurikulum yang multilevel dan multimodalitas Menyiapkan dan mendorong guru untuk mengajar secara interaktif Penyediakan dorongan bagi guru dan kelasnya secara terus menerus dan penghapusan hambatan yang berkaitan dengan isolasi profesi Pelibatan orang tua secara bermakna dalam proses perencanaan Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah biasa melalui inklusi telah menarik perhatian banyak pihak dan telah banyak ditempatkan sebagai alternatif terbaik, disebabkan penerapan konsep ini memiliki berbagai keunggulan, terutama ditinjau dari keluaran konsep ini memiliki berbagai keunggulan, terutama ditinjau dari keluaran aspek akademik, pribadi, dan sosial pada Anak Berkebutuhan Khusus. Bahkan kekhawatiran akan dampak negatif terhadap pencapaian prestasi akademik pada anak normal juga tidak terbukti. Bahkan Staub dan Peck (Sunardi, 1996) telah berhasil mengidentifikasi kelebihan program inklusi, yaitu : (1) berkurangnya rasa takut akan perbedaan individual dan semakin besarnya rasa percaya diri pada Anak Berkebutuhan Khusus, (2) anak yang normal semakin toleran terhadap orang lain dan semakin merasa positif tentang dirinya, (3) meningkatkan status dan konsep diri pada anak normal (4) meningkatnya komitmen anak normal pada moral dan prinsip-prinsip etika, dan (5) semakin terbiasanya persahabatan yang erat dan penuh pengertian. Setiap Anak Berkebutuhan Khusus disamping memiliki kebutuhan yang sama dengan anak-anak normal, juga memiliki kebutuhan khusus. Karena itu Anak Berkebutuhan Khusus memerlukan pengertian, sama dengan anak normal yang lainnya. Disamping mereka membutuhkan kasih sayang, rasa aman, harga diri, rasa diakui sebagai anggota kelompok, serta rasa bebas, mereka juga memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu sesuai dengan keluarbiasaannya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dapat diantisipasi oleh para guru di Sekolah Dasar, sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Schwartz (1984) menegaskan bahwa kebijakan mainstreaming di beberapa negara bagian Amirika Serikat telah menuntut kemampuan atau kompentensi guru yang lebih untuk memahami kondisi Anak Berkebutuhan Khusus sesuai dengan jenis keluarbiasaannya. Masalahnya guruguru sekolah biasa tidak memiliki kesiapan cukup untuk mengajar berbagai jenis Anak Berkebutuhan Khusus secara efektif Mereka tidak disiapkan, sehingga membutuhkan informasi dan dorongan dari administrator atau kolega mereka agar mampu mereduksi kecemasan mereka dalam menghadapi situasi barn tersebut dan mampu bersikap positif terhadap kehadiran Anak Berkebutuhan Khusus di kelasnya. Meisels (Apter, 1982) telah membuat daftar sikap dan keterampilan yang harus dimiliki oieh guru yang memiliki siswa luar biasa di sekolah umum, yaitu : Mengetahui bagaimana berbicara pada anak tentang keluarbiasaannya Mengajar secara aktif pengendalian diri anak Belajar bagaimana mendorong orang tua dalam memenuhi kebutuhan khusus anak 24
4 Belajar bagaimana berbicara pada orang tua tentang keluarbiasaan anak pada umumnya (siswa normal ) Belajar bagaimana untuk bekerja dengan orang tua yang menolak kehadiran Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah umum Belajar bagaimana membantu orang tua dan anak melalui layanan lain di luar sekolah Memperhalus keterampilan dalam pengajaran individual Mengembangkan kemampuan untuk menggunakan teknik pengajaran yang lebih preskriptif Belajar untuk- bekerja sama dengan tenaga ahli di kelas Mengembangkan teknik modifikasi tingkah lake Memperoleh kesadaran tentang teknik-teknik dan tujuan terapi fisik Familier dengan istilah-istilah medis dan diagnostik Menyadari pengaruh dari pengobatan Memahami teknik identifikasi formal/informal serta prosedur diagnostik Familier dengan aturan-attgan hokum yang berkaitan dengan keluarbiasaan. Schwartz (1984) menegaskan bahwa kunci sukses dalam mainstreaming adalah sikap penerimaan guru tehadap Anak Berkebutuhan Khusus dan tanggung jawabnya untuk membentuk sikap teman sebaya di kelasnya sehingga Anak Berkebutuhan Khusus dapat belajar secara nyaman bersama-sama anak normal lainnya. Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif karena dimaksudkan untuk memaparkan suatu fenomena yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya untuk memberikan masukan praktis dalam penentuan kebijakan, yaitu dalam merumuskan kurikulum baik kurikulum Pendidikan Khusus maupun kurikulum S1 PGSD. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa program S1 PGSD Kampus Bumi Siliwangi yang saat ini telah memasuki tahun terakhir (tahun 4) dengan pertimbangan bahwa mereka sudah dianggap memiliki bekal yang cukup dan sesaat lagi sudah lulus dan siap untuk diterjunkan ke lapangan sebagai guru. Dengan demikian sampel dilakukan dengan teknik purposiv sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda tentang pemahaman konsep-konsep dasar ABK sebanyak 30 soal dan tes pilihan ganda tentang pemahaman pelayanan terhadap ABK sebanyak 20. Instrumen digunakan dalam penelitian ini yaitu tes kemampuan dalam bidang pengetahuan. Teknik pengolahan dan analisis data yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah melalui pendekatan statistik sederhana persentase. Mula-mula dihitung jumlah responden pada item yang dipersoalkan kemudian dihitung responden yang menjawab dengan benar. Adapun langkah kedua menggunakan teknik analisis dengan rumus kuartil (Ki). 鯨 飸 Ҋ ᠘ Keterangan: b = batas bawah kelas Ki, ialah kelas interval dimana ki akan terletak p = panjang kelas Ki F = jumlah frekuensi dengan tanda lebih kecil dari tanda Ki f = frekuensi kelas Ki i = 1,2,3 Ѐ (1) 25
5 Hasil Penelitian Untuk kepentingan pengolahan dan analisis data, maka dibuat asumsi-asumsi terlebih dahulu yang akan digunakan sebagai kriteria penetapan dalam pengambilan keputusan sesuai masalah yang diajukan. Sejalan dengan permasalahan penelitian, asumsi yang diajukan mengacu pada prinsip teori belajar tuntas (mastery learning). Menurut teori ini, siswa dianggap berhasil dalam belajarnya apabila mampu menguasai minimal 75% materi yang diajarkan. Dengan memperhatikan proporsi populasi, selanjutnya dalam penelitian ini secara umum diasumsikan bahwa mahasiswa dianggap sudah memiliki kesiapan apabila minimal 75% dari mahasiswa mampu menguasai minimal 75% materi yang diteskan. Berdasarkan asumsi di atas dan sejalan dengan rumusan masalah penelitian yang diajukan, maka diasumsikan bahwa: Ditinjau dari pemahamann tentang konsep dasar Pendidikan Khusus, mahasiswa PGSD dianggap memiliki kesiapan, apabila minimal 75% dari jumlah mahasiswa mampu menguasai minimal 75% dari seluruh materi tes tentang konsep dasar Pendidikan Khusus. Ditinjau dari cara-cara menghadapi ABK, Mahasiswa PGSD dianggap memiliki kesiapan, apabila minimal 75% dari jumlah mahasiswa mampu menguasai minimal 75 dari seluruh materi tes tentang cara-cara menghadapi ABK di sekolah umum. Mahasiswa PGSD dapat dianggap sudah memiliki kesiapan dalam menghadapi siswa luar biasa, apabila minimal 75% dari jumlah mahasiswa mampu menguasai minimal 75% dari keseluruhan materi yang diteskan. Berdasarkan rumus kuartil (Ki) yang digunakan untuk mengolah data hasil tes mahasiswa PGSD tentang pemahaman konsep dasar ABK dan pemahaman pelayanan ABK diperoleh data seperti pada Tabel 1 tentang Kesiapan mahasiswa PGSD dalam melayani ABK. Tabel 1. Kesiapan mahasiswa PGSD dalam melayani ABK. Aspek Pemahaman konsep dasar Pendidikan ABK Jumlah Mahasiswa 76 orang 76 orang 75% Jumlah Mahasiswa 57 orang 57 orang Jumlah Soal 30 butir 19 butir 75% Jumlah soal 23 butir 14 butir Ki minimal > = 23 > = 14 Ki hitung 18,94 10,204 Kesimpulan K1 hitung < K1 Belum memiliki kesiapan Pemahaman pelayanan ABK K1 hitung < K1 Belum memiliki kesiapan Berdasarkan Tabel 1, jika ditinjau dari pemahaman tentang konsep dasar Pendidikan Khusus, tentang cara-cara melayani Anak Berkebutuhan Khusus, dan kesiapan dalam melayani siswa luar biasa di Sekolah Dasar, memberikan makna pada kita bahwa mahasiswa program S1 PGSD belum memiliki kesiapan dalam menghadapi anak-anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar. Hal ini dapat dimaklumi karena mahasiswa S1 PGSD tidak dipersiapkan untuk menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus dan di dalam kurikulum program S1 PGSD baru diberikan pengantar mengenai konsep dasar pendidikan Inklusi. Untuk itu dalam penelitian ini tidak dipermasalahkan tentang sejuhmana konsep dasar Pendidikan Khusus tersebut telah dikuasai, serta sejaumana kesiapan mereka dalam menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus yang bersekolah di SD, mengingat masalah tersebut tidak terkait langsung dengan kurikulum yang telah ditetapkan dalam pendidikan calon guru SD. 26
6 Suatu hal yang nampaknya perlu menjadi pemikiran lebih lanjut adalah bagaimana membekalkan pengetahuan tentang ABK bagi setiap calon guru SD. Hal tersebut diperlukan mengingat arah pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus dewasa ini dan pada masa mendatang adalah pendidikan terpadu atau inklusi, dimana anak ABK biasa belajar bersamasama dengan anak normal pada umumnya.. Karena itu guru SD suatu saat nanti mau tidak mau akan dihadapkan pada Anak Berkebutuhan Khusus di sekolahnya, sehingga tampaknya perlu diantisipasi secara dini tentang pembekalan ilmu Pendidikan Khusus tersebut dalam menyiapkan calon-calon guru SD yang profesional. Pembahasan Pembahasan ini berdasarkan berdasarkan analisis data yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Aspek yang dibahas berdasarkan rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Ditinjau dari pemahaman tentang konsep dasar Pendidikan Khusus, tentang cara-cara melayani Anak Berkebutuhan Khusus, dan kesiapan dalam melayani siswa luar biasa di Sekolah Dasar, memberikan makna pada kita bahwa mahasiswa program S1 PGSD belum memiliki kesiapan dalam menghadapi anak-anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar. Hal ini dapat dimaklumi karena mahasiswa S1 PGSD tidak dipersiapkan untuk menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus dan di dalam kurikulum program S1 PGSD baru diberikan pengantar mengenai konsep dasar pendidikan Inklusi. Untuk itu dalam penelitian ini tidak dipermasalahkan tentang sejuhmana konsep dasar Pendidikan Khusus tersebut telah dikuasai, serta sejaumana kesiapan mereka dalam menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus yang bersekolah di SD, mengingat masalah tersebut tidak terkait langsung dengan kurikulum yang telah ditetapkan dalam pendidikan calon guru SD. Suatu hal yang nampaknya perlu menjadi pemikiran lebih lanjut, bahwa mahasiswa pada umumnya menyatakan perlu masalah tentang Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus diberikan bagi setiap calon guru SD. Pendapat tersebut tentu ada benarnya, mengingat arah pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus dewasa ini dan pada masa mendatang adalah pendidikan terpadu atau inklusi, dimana anak Anak Berkebutuhan Khusus biasa belajar bersama-sama dengan anak normal pada umumnya.. Karena itu guru SD suatu saat nanti mau tidak mau akan dihadapkan pada Anak Berkebutuhan Khusus di sekolahnya, sehingga tampaknya perlu diantisipasi secara dini tentang pembekalan ilmu Pendidikan Khusus tersebut dalam menyiapkan calon-calon guru SD yang profesional. Pemahaman konsep dasar pendidikan luar biasa/pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus, maupun dalam kesiapan cara-cara menghadapi Anak Berkebutuhan Khusus yang bersekolah di Sekolah Dasar, mahasiswa program S1 PGSD UPI Bumi Siliwangi belum memiliki kesiapan dalam melayani anak luar biasa yang bersekolah di Sekolah Dasar. Mahasiswa program S1 PGSD UPI Bumi Siliwangi juga belum memiliki kesiapan dalam melayani Anak Berkebutuhan Khusus yang bersekolah di Sekolah Dasar dikarenakan belum dibekalinya mahasiswa program S1 PGSD sebagai calon guru Sekolah Dasar tentang layanan pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Disamping itu masih sedikitnya mateti perkuliahan yang ada kaitannya dengan anak yang membutuhkah layanan khusus. 27
7 Daftar Pustaka Cruickhank, W. & Jackson, G.0, (1980), Educating Exceptional Children and Youth, Englewood Cliffs, New Jersey, Prentice-Hall Mohammad A, (1993), Strategi Penelitian Pendidikan, Angkasa, Bandung Schwartz, Lita L. (1984), Exceptional Students in the iviainstrearning, Belmont-California, Wadsworth Inc Sunardi, (1996), Kecendrungan Dalam Pendidikan Luar Biasa, Depdikbud, Dirjen Dikti, PPTA, Jakarta 28
PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN KHUSUS/PLB KE PENDIDIKAN KEBUTUHAN DRS. ZULKIFLI SIDIQ M.PD NIP
PERUBAHAN PARADIGMA PENDIDIKAN KHUSUS/PLB KE PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS DRS. ZULKIFLI SIDIQ M.PD NIP. 131 755 068 PENDIDIKAN KHUSUS/PLB (SPECIAL EDUCATION) Konsep special education (PLB/Pendidikan Khusus):
SIKAP KEPALA SEKOLAH DAN GURU-GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) YANG BELAJAR DI SD INKLUSI PUTERAKO BANDUNG. Oleh: Dra.
SIKAP KEPALA SEKOLAH DAN GURU-GURU TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) YANG BELAJAR DI SD INKLUSI PUTERAKO BANDUNG Oleh: Dra. Astati ABSTRAK Pada umumnya sikap kepala sekolah dan guru-guru yang di
PENDIDIKAN INKLUSI *) Oleh. Edi Purwanta *) Pendekatan pendidikan luar biasa dari waktu ke waktu mengalami
1 PENDIDIKAN INKLUSI *) Oleh Edi Purwanta *) A. Pendahuluan Pendekatan pendidikan luar biasa dari waktu ke waktu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan pandangan terhadap anak luar biasa beserta
KOMPETENSI KONSELOR DALAM MENGHADAPI PENDIDIKAN INKLUSI
KOMPETENSI KONSELOR DALAM MENGHADAPI PENDIDIKAN INKLUSI Makalah disampaikan pada Konvensi Nasional XIV dan Kongres X Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia di Semarang Tanggal 13 16 April 2005 Oleh Edi
PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL. Oleh Drs. Musjafak Assjari, M.Pd
PROGRAM PEMBELAJARAN INDIVIDUAL Oleh Drs. Musjafak Assjari, M.Pd DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDRAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH LUAR BIASA TAHUN
BAB I PENDAHULUAN. warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak, tidak terkecuali anak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Telah ditegaskan dalam UU RI 1945 pasal 31 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak, tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus
Belajar dan Program Pembelajarannya
Telaah Masalah Membacapada Siswa Berkesulitan Sunardi, Assjari Masalah Membaca pada Siswa Berkesulitan Belajar dan Program Pembelajarannya Sunardi & M. Assjari Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK
2015 PENGEMBANGAN PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU D ALAM MENYUSUN PROGRAM PEMBELAJARAN IND IVIDUAL DI SLB AD ITYA GRAHITA KOTA BAND UNG
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap peserta didik yang mengikuti proses belajar dan proses pendidikan, memiliki keadaan yang beragam. Seperti yang terjadi pada peserta didik berkebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. diskriminatif, dan menjangkau semua warga negara tanpa kecuali. Dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan sesungguhnya bersifat terbuka, demokratis, tidak diskriminatif, dan menjangkau semua warga negara tanpa kecuali. Dalam konteks pendidikan untuk
INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR OLEH AGUNG HASTOMO
INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR OLEH AGUNG HASTOMO INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR Oleh AGUNG HASTOMO [email protected]
INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR Oleh AGUNG HASTOMO
INOVASI MODEL PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR Oleh AGUNG HASTOMO [email protected] Abstrak Artikel dengan judul Model penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di sekolah akan
BAB I PENDAHULUAN. menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat, oleh karena
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat, oleh karena itu negara memiliki kewajiban
Individualized Education Program (IEP) Least Restrictive Environment (LRE) Teaming and Collaboration among Professionals
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KHUSUS Individualized Education Program (IEP) Least Restrictive Environment (LRE) Teaming and Collaboration among Professionals Individualized Education Program (IEP) Dapat diberikan
JASSI_anakku Volume 17 Nomor 1, Juni 2016
Desain Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Kelas Inklusif Juang Sunanto dan Hidayat Departemen Pendidikan Khusus, Universitas Pendidikan Indonesia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menyusun desain
Kegiatan Belajar 2 : Pembelajaran Individual bagi ABK
Kegiatan Belajar 2 : Pembelajaran Individual bagi ABK Waktu : 3 jam Standar Kompetensi : Mempunnyai keterampilan untuk mengelola Pembelajaran Individual bagi ABK Kompetensi Dasar : 1. Menjelaskan hakikat
HUBUNGAN ANTARA KECENDERUNGAN EKSTROVERT DENGAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA FKIP PBSID UMS SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA KECENDERUNGAN EKSTROVERT DENGAN KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM PADA MAHASISWA FKIP PBSID UMS SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi
PENDIDIKAN INKLUSIF. Juang Sunanto Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia
PENDIDIKAN INKLUSIF Juang Sunanto Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Seperti sebuah lagu yang baru saja diluncurkan, pendidikan inklusif mendapat sambutan
PEMBELAJARAN DI KELAS INKLUSIF
PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DLINGO, 3 OKTOBER 2011 PEMBELAJARAN DI KELAS INKLUSIF Aini Mahabbati Jurusan PLB FIP UNY HP : 08174100926 EMAIL : [email protected] IMPLIKASI PENDIDIKAN INKLUSIF (Diadaptasi
2015 PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING PADA PELAKSANAAN PRAKTIK PENYULUHAN KELUARGA OLEH MAHASISWA PROGRAM STUDI PKK FPTK UPI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Mahasiswa sebagai insan akademis yang memiliki potensi, talenta dari berbagai macam bidang ilmu keahlian dan pengetahuan dalam kehidupan bermasyarakat berada
warga negara yang memiliki kekhususan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikannya. Salah satu usaha yang tepat dalam upaya pemenuhan kebutuhan khusus
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dengan adanya perkembangan di segala bidang, salah satu komponen kehidupan yang harus dipenuhi manusia adalah pendidikan. Pendidikan dalam hal ini adalah konsep
MENUJU SEKOLAH INKLUSI BERSAMA SI GURUKU SMART
MENUJU SEKOLAH INKLUSI BERSAMA SI GURUKU SMART GUNAWAN WIRATNO, S.Pd SLB N Taliwang Jl Banjar No 7 Taliwang Sumbawa Barat Email. [email protected] A. PENGANTAR Pemerataan kesempatan untuk memperoleh
BAB II KAJIAN PUSTAKA
1 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan di Sekolah Dasar Sebelum membahas pendidikan di sekolah dasar penulis akan memaparkan pengertian pendidikan terlebih dahulu, dalam dunia pendidikan sebagaimana dinyatakan
SUMIYATUN SDN Ketami 1 Kec. Pesantren Kota Kediri
PENINGKATAN HASIL BELAJAR PENGUKURAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) RINGAN MELALUI PEMBELAJARAAN KOOPERATIF SETTING INKLUSIF SUMIYATUN SDN Ketami 1 Kec. Pesantren Kota Kediri Abstrak: Salah satu masalah
PENDIDIKAN PENYANDANG CACAT DARI SUDUT PANDANG MODEL PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA. Oleh: Haryanto
PENDIDIKAN PENYANDANG CACAT DARI SUDUT PANDANG MODEL PENDIDIKAN INKLUSI DI INDONESIA Oleh: Haryanto REALITA PENCA DI LAPANGAN Belum ada data riil jumlah penca di Indonesia, Diperkirakan 10% dari populasi
BAB I PENDAHULUAN. dengan jalan merubah cara pandang dalam memahami dan menyadari. memperoleh perlakuan yang layak dalam kehidupan.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman membuat manusia menyesuaikan diri dengan jalan merubah cara pandang dalam memahami dan menyadari bahwa setiap individu memiliki hak untuk
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM SISTEM PERSEKOLAHAN NASIONAL Oleh: Ishartiwi
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM SISTEM PERSEKOLAHAN NASIONAL Oleh: Ishartiwi Abstrak Pendidikan inklusif memberikan layanan pendidikan berdasarkan variasi potensi peserta
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional
2013 GAMBARAN SIKAP MAHASISWA D-III KEPERAWATAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DALAM MENGIKUTI PROSES BELAJAR BAHASA JEPANG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Proses belajar merupakan proses dimana terjadinya perubahan perilaku pada seseorang dalam hal pengetahuan, sikap atau keterampilan, proses belajar tersebut
S I L A B I BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (KD 500)
S I L A B I BELAJAR DAN PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (KD 500) JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010 DESKRIPSI MATA KULIAH KD. 500 Belajar
AHMAD NAWAWI JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UPI BANDUNG 2010
AHMAD NAWAWI JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UPI BANDUNG 2010 SIAPAKAH? ANAK LUAR BIASA ANAK PENYANDANG CACAT ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PENDIDIKAN INKLUSIF Pendidikan inklusif
Oleh Drs. Yuyus Suherman,M.Si
IMPLEMENTASI MODEL PROFESIONALISASI TENAGA KEPENDIDIKAN LUAR BIASA MELALUI PENDEKATAN SANDWICH (HB DIKTI TH-2) Oleh Drs. Yuyus Suherman,M.Si UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA [email protected] LATAR BELAKANG
PARTISIPASI GURU BIDANG STUDY DALAM
ARTIKEL ILMIAH PARTISIPASI GURU BIDANG STUDY DALAM KEGIATAN PENDUKUNG BIMBINGAN KONSELING DI SMP NEGERI 4 KOTA JAMBI OLEH : ELA WULANDARI ERA1D010125 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN
BAB I PENDAHULUAN. orang termasuk anak berkebutuhan khusus, hal ini dapat pula diartikan sebagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang berusaha menjangkau semua orang termasuk anak berkebutuhan khusus, hal ini dapat pula diartikan sebagai upaya meningkatkan
SEKOLAH UNTUK ANAK AUTISTIK
SEKOLAH UNTUK ANAK AUTISTIK Oleh Augustina K. Priyanto, S.Psi. Konsultan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus dan Orang Tua Anak Autistik Berbagai pendapat berkembang mengenai ide sekolah reguler bagi anak
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain dan lingkungan sosial merupakan bagian yang memberikan pengaruh pada tugas perkembangannya
BAB I PENDAHULUAN. tidak terkecuali bagi anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus. Dalam
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi setiap manusia, tidak terkecuali bagi anak luar biasa atau anak berkebutuhan khusus. Dalam Undang-Undang
Jaringan Kerja untuk Inklusi. Didi Tarsidi Jurusan PLB, FIP, UPI, Bandung
Jaringan Kerja untuk Inklusi Didi Tarsidi Jurusan PLB, FIP, UPI, Bandung Disajikan pada Seminar Pendidikan Inklusif peringatan hari kelahiran Louis Braille Suku Dinas Pendidikan Luar Biasa, Bandung 28
BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN IMPLIKASI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Terdapat hubungan yang erat signifikan antara kinerja guru dengan
139 BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN IMPLIKASI 5.1 Kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Terdapat hubungan yang erat signifikan antara kinerja guru dengan kompetensi/hasil belajar. Hal ini memberikan
Pendidikan Inklusif. Latar Belakang, Sejarah, dan Konsep Pendidikan Inklusif dengan Fokus pada Sistem Pendidikan Indonesia
Pendidikan Inklusif Latar Belakang, Sejarah, dan Konsep Pendidikan Inklusif dengan Fokus pada Sistem Pendidikan Indonesia Perkembangan SLB di Dunia 1770: Charles-Michel de l Epee mendirikan SLB pertama
BAB V PENUTUP. semakin menjadi penting bagi agenda reformasi pendidikan setelah Education
110 BAB V PENUTUP A. Simpulan Pendidikan inklusif sebagai suatu kecenderungan baru dalam sistem pendidikan hadir sebagai konsekuensi logis dari adanya demokrasi pendidikan dan tegaknya hak asasi manusia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Devi Sari Peranginangin, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peserta didik yang menempuh pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia dipersiapkan sebagai manusia mandiri, produktif dan mampu bersaing di
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sugiyono (2008:119) mengemukakan bahwa metode komparatif atau ex post facto
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, karena dalam proses penelitiannya menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap
BAB I PENDAHULUAN. secara fisik maupun psikologis. Sementara anak cenderung di dominasi oleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan individu yang berbeda dengan orang dewasa, baik secara fisik maupun psikologis. Sementara anak cenderung di dominasi oleh pola pikir yang bersifat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Iding Tarsidi, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang mandiri... (UURI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
Assessment Kemampuan Merawat Diri
Assessment Kemampuan Merawat Diri Oleh: Musjafak Assjari (Dosen PLB FIP UPI) A. Pendahuluan Di beberapa negara termasuk Indonesia kini sedang giat dilaksanakan upaya memperbaiki pembelajaran murid di sekolah.
I. PENDAHULUAN. Dalam mencapai tujuan, setiap organisasi dipengaruhi oleh perilaku
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam mencapai tujuan, setiap organisasi dipengaruhi oleh perilaku organisasi yang merupakan pencerminan dari perilaku dan sikap orang-orang yang terdapat dalam organisasi
BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi diantara umat manusia itu sendiri (UNESCO. Guidelines for
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konflik yang terjadi pada peradaban umat manusia sebagian besar disebabkan oleh ketidakmampuan manusia untuk dapat menerima perbedaan yang terjadi diantara umat manusia
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
107 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data, temuan dan pembahasan penelitian maka dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut. 1. Terdapat hubungan yang signifikan
BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia diharapkan memiliki kemampuan untuk beradaptasi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia diharapkan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Begitu pula dengan mahasiswa yang baru menjalani proses pembelajaran
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan yang dikemukakan pada bab sebelum ini, selanjutnya penulis menyimpulkan hal-hal sebagai berikut.
A. Perspektif Historis
A. Perspektif Historis Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Indonesia dimulai ketika Belanda masuk ke Indonesia. Mereka memperkenalkan system persekolahan dengan orientasi Barat. Untuk pendidikan bagi anak-anak
BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di era globalisasi sekarang ini menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan di era globalisasi sekarang ini menyebabkan meningkat dan bervariasinya kebutuhan manusia. Hal tersebut mendorong tumbuhnya
REVITALISASI PROGRAM STUDI PLB DALAM MENGHADAPI PROGRAM INKLUSI *) Oleh Edi Purwanta **)
REVITALISASI PROGRAM STUDI PLB DALAM MENGHADAPI PROGRAM INKLUSI *) Pendahuluan Oleh Edi Purwanta **) Pendekatan pendidikan luar biasa dari waktu ke waktu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penelitian ini dilakukan untuk memformulasikan kompetensi GPK dalam
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Penelitian ini dilakukan untuk memformulasikan kompetensi GPK dalam seting sekolah dasar penyelenggara pendidikan inklusif yang disusun berdasarkan temuan
menyumbang calon tenaga kerja terdidik. Fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang banyak pengangguran yang berasal dari orang terdidik.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan dan perkembangan pembangunan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Suatu pendidikan yang berkualitas, nantinya akan menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Pasal 3 menyatakan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
MANAJEMEN PENDIDIKAN INKLUSIF
MANAJEMEN PENDIDIKAN INKLUSIF Juang Sunant,Ph.D. Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Pendidikan inklusif sebagai paradigma baru telah mendapat
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mencerdaskan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Sampel Penelitian Lokasi penelitian terletak di salah satu SMP Negeri di kota Bandung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII tahun ajaran
BAB I PENDAHULUAN. internasional. Dalam konteks praktis pendidikan terjadi pada lembaga-lembaga formal
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara tanpa kecuali. Pendidikan telah menjadi bagian kehidupan yang diamanatkan secara nasional maupun internasional. Dalam
BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang terletak di Jl. DR. Setiabudhi
1 Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.edu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan. Semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan, karena dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 yang sudah
BAB I PENDAHULUAN. untuk dapat saling mengisi dan saling membantu satu dengan yang lain.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia karena dibekali memiliki akal budi, kepribadian serta kecerdasan yang membedakannya dengan makhluk lainnya.
BAB I PENDAHULUAN. muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.I Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia hidup di zaman global yang menuntut perubahan sangat pesat, serta muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya. Di bidang
Implementasi Pendidikan Segregasi
Implementasi Pendidikan Segregasi Pelaksanaan layanan pendidikan segregasi atau sekolah luar biasa, pada dasarnya dikembangkan berlandaskan UUSPN no. 2/1989. Bentuk pelaksanaannya diatur melalui pasal-pasal
BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Sisdiknas Nomor : 20 Tahun 2003 Bab 1 pasal
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Menurut Undang-Undang Sisdiknas Nomor : 20 Tahun 2003 Bab 1 pasal (1) dinyatakan bahwa : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
2015 ANALISIS KEBUTUHAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU BAHASA DAERAH SUNDA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Guru terbaik adalah mereka yang mampu mewariskan pengetahuan, keahlian dan pengalaman, serta sikap budi pekerti yang baik kepada peserta didiknya. Berbekal warisan
PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU BAHASA ASING (Peran Guru dalam Pembelajaran)
PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU BAHASA ASING (Peran Guru dalam Pembelajaran) Oleh: Wawan Danasasmita Dosen Pendidikan Bahasa Jepang FPBS UPI Disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG)
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Penelitian tentang indeks inklusi ini berdasarkan pada kajian aspek
144 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian tentang indeks inklusi ini berdasarkan pada kajian aspek budaya, aspek kebijakan, dan aspek praktik yang digunakan sebagai tolak ukur keterlaksanannya
PENDIDIKAN INKLUSIF SUATU STRATEGI MENUJU PENDIDIKAN UNTUK SEMUA
PENDIDIKAN INKLUSIF SUATU STRATEGI MENUJU PENDIDIKAN UNTUK SEMUA Disusun oleh: Drs. R. Zulkifli Sidiq M.Pd NIP. 131 755 068 A. PENDAHULUAN Selama beberapa tahun kita telah mengamati bahwa anak-anak dan
Educational Psychology Journal
EPJ 1 (1) (2012) Educational Psychology Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/epj TINJAUAN PSIKOLOGIS KESIAPAN GURU DALAM MENANGANI PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA PROGRAM INKLUSI (STUDI
PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU BAHASA ASING (Peran Guru dalam Pembelajaran)
PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU BAHASA ASING (Peran Guru dalam Pembelajaran) 1. GURU A. TUGAS DAN KEWAJIBAN GURU Dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 bab XI pasal 39 tertuang bahwa pendidik merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Kemajuan Ekonomi mendorong munculnya pelaku bisnis baru sehingga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan Ekonomi mendorong munculnya pelaku bisnis baru sehingga menimbulkan persaingan bisnis yang cukup tajam. Semua usaha bisnis tersebut berusaha untuk
LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dan PENDIDIKAN INKLUSIF
LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dan PENDIDIKAN INKLUSIF Aini Mahabbati, S.Pd., M.A Jurusan PLB FIP UNY HP: 08174100926 Email: [email protected] Disampaikan dalam PPM Sosialisasi dan Identifikasi
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Globalisasi telah menimbulkan kaburnya batas-batas antarnegara, sehingga dunia menjadi terbuka dan transparan, yang oleh Kenichi Ohmae disebut sebagai The Borderless
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak pada umumnya adalah suatu anugerah Tuhan yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik agar mampu melewati setiap fase tumbuh kembang dalam kehidupannya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan penting dalam perkembangan anak karena, pendidikan merupakan salah satu wahana untuk membebaskan anak dari keterbelakangan, kebodohan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Program Studi S1 Pendidikan Geografi sebagai salah satu program studi di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta terus dituntut untuk selalu melakukan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (SUSENAS) Tahun 2004 adalah : Tunanetra jiwa, Tunadaksa
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak berkebutuhan khusus di Indonesia bila dilihat dari data statistik jumlah Penyandang Cacat sesuai hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2004 adalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia dan pendidikan tidak dapat dipisahkan, sebab pendidikan merupakan kunci dari masa depan manusia yang dibekali dengan akal dan pikiran. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Pendidikan merupakan faktor penting bagi kelangsungan kehidupan bangsa dan faktor pendukung yang memegang peranan penting di seluruh sektor kehidupan, sebab kualitas
BAB I PENDAHULUAN. manusia untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan padanya, karena
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan upaya yang dapat mengembangkan potensi manusia untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan padanya, karena hanya manusia yang dapat
BAB I PENDAHULUAN. ini, banyak usaha atau bahkan industri yang menolak para pelamar kerja karena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, salah satu masalah yang menarik untuk dikaji yaitu berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan adalah mengenai kesiapan kerja siswa. Saat ini, banyak
BAB I PENDAHULUAN. Majunya dunia pendidikan sebaiknya diikuti oleh kemampuan seseorang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Majunya dunia pendidikan sebaiknya diikuti oleh kemampuan seseorang yang meningkat pula, khususnya dalam penguasaan bahasa. Oleh karena itu, penguasaan kemampuan berbahasa
SEKOLAH IDEAL. Oleh: Damar Kristianto
1 SEKOLAH IDEAL Oleh: Damar Kristianto Berbicara mengenai Sekolah Ideal, dalam sharing ini saya ingin membicarakan mengenai pandangan saya seperti apa sekolah umum (inklusi) dalam menyelenggarakan pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Arus informasi mengalir cepat seolah tanpa hambatan, jarak dan ruang yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di belahan
BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator keberhasilan siswa dalam belajar adalah memperoleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu indikator keberhasilan siswa dalam belajar adalah memperoleh prestasi akademik sesuai dengan target yang telah ditentukan. Berdasarkan konsep pembelajaran
antara ketiganya. Untuk memahami apa persamaan, perbedaan, ataupun hubungan akan memilih yang panjang. Kita tidak akan memilih yang pendek, kecuali
A. Arti Penilaian Istilah pengukuran, penilaian, dan evaluasi, seringkali digunakan dalam dunia pendidikan. Ketiga kata tersebut memiliki persamaan, perbedaan, ataupun hubungan antara ketiganya. Untuk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah pendidikan yang menjadi perhatian saat ini adalah sebagian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah pendidikan yang menjadi perhatian saat ini adalah sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya
