PELATIHAN AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN (BRIDGE DESIGN ENGINEER)
|
|
|
- Sudirman Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BDE 07 = LAPORAN PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi Kode : INA Judul : Membuat Laporan Perencanaan Teknis Jembatan PELATIHAN AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN (BRIDGE DESIGN ENGINEER) 2007 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI
2 Pelatihan Bridge Desain Engineer KATA PENGANTAR Pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Jasa Konstruksi bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sesuai bidang kerjanya, agar mereka mampu berkompetisi dalam memperebutkan pasar kerja. Berbagai upaya dapat ditempuh, baik melalui pendidikan formal, pelatihan secara berjenjang sampai pada tingkat pemagangan di lokasi proyek atau kombinasi antara pelatihan dan pemagangan, sehingga tenaga kerja mampu mewujudkan standar kinerja yang dipersyaratkan di tempat kerja. Untuk meningkatkan kompetensi tersebut, Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi yang merupakan salah satu institusi pemerintah yang ditugasi untuk melakukan pembinaan kompetensi, secara bertahap menyusun standar-standar kompetensi kerja yang diperlukan oleh masyarakat jasa konstruksi. Kegiatan penyediaan kompetensi kerja tersebut dimulai dengan analisa kompetensi dalam rangka menyusun suatu standar kompetensi kerja yang dapat digunakan untuk mengukur kompetensi tenaga kerja di bidang Jasa Konstruksi yang bertugas sesuai jabatan kerjanya sebagaimana dituntut dalam Undang-Undang No. 18 tahun 1999, tentang Jasa Konstruksi dan peraturan pelaksanaannya. Sebagai alat untuk mengukur kompetensi tersebut, disusun dan dibakukan dalam bentuk SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) yang unit-unit kompetensinya dikembangkan berdasarkan pola RMCS (Regional Model Competency Standard). Dari standar kompetensi tersebut, pengembangan dilanjutkan dengan menyusun Standar Latih Kompetensi, Materi Uji Kompetensi, serta Materi Pelatihan yang berbasis kompetensi. Modul / Materi Pelatihan BDE 07 /, merepresentasikan unit kompetensi: Membuat dengan elemen-elemen kompetensi terdiri dari : 1. Membuat laporan penggunaan data teknis. 2. Membuat laporan nota perencanaan 3. Menyiapkan gambar rencana 4. Menyusun spesifikasi sesuai gambar rencana dan berdasarkan standar spesifikasi yang berlaku i
3 Pelatihan Bridge Desain Engineer Uraian penjelasan bab per bab dan pencakupan materi latih ini merupakan representasi dari elemen-elemen kompetensi tersebut, sedangkan setiap elemen kompetensi dianalisis kriteria unjuk kerjanya sehingga materi latih ini secara keseluruhan merupakan penjelasan dan penjabaran dari setiap kriteria unjuk kerja untuk menjawab tuntutan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dipersyaratkan pada indikator-indikator kinerja/ keberhasilan yang diinginkan dari setiap KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dari masing-masing elemen kompetensinya. Modul ini merupakan salah satu sarana dasar yang digunakan dalam pelatihan sebagai upaya meningkatkan kompetensi seorang pemangku jabatan kerja seperti tersebut diatas, sehingga masih diperlukan materi-materi lainnya untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan setiap jabatan kerja. Di sisi lain, modul ini sudah barang tentu masih terdapat kekurangan dan keterbatasan, sehingga diperlukan adanya perbaikan disana-sini dan kepada semua pihak kiranya kami mohon sumbangan saran demi penyempurnaan kedepan. Jakarta, Oktober 2007 KEPALA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI Ir. DJOKO SUBARKAH, Dipl.HE NIP. : ii
4 PRAKATA Modul ini berisi uraian tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang Ahli Perencanaan Teknis Jembatan (Bridge Design Engineer) dalam penyiapan laporan perencanaan teknis jembatan. Ada 4 hal yang dicakup dalam modul ini yaitu laporan penggunaan data teknis, laporan nota perencanaan, penyiapan gambar rencana dan penyiapan spesifikasi. Data teknis mencakup data lalu lintas, data hidrologi, karakteristik sungai dan perlintasan lainnya, data topografi, data geologi teknik dan penyelidikan tanah dan kondisi lingkungan sekitar, diperlukan sebagai masukan untuk penyiapan perencanaan teknis jembatan. Nota perencanaan mencakup laporan perhitungan perencanaan bangunan atas, bangunan bawah dan pondasi jembatan, diperlukan jika di kemudian hari Pemilik Proyek mencari data-data teknis perencanaan jembatan untuk suatu keperluan. Sedangkan penyiapan gambar rencana dan spesifikasi merupakan bagian dari produk perencanaan teknis, jadi merupakan keharusan untuk disiapkan. Kami menyadari bahwa modul ini masih jauh dari sempurna baik ditinjau dari segi materi, sistematika penulisan maupun tata bahasanya. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para peserta dan pembaca semua, dalam rangka penyempurnaan modul ini. Demikian modul ini dipersiapkan untuk membekali seorang AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN (Bridge Design Engineer) dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang berkaitan dengan perencanaan teknis jembatan; mudah-mudahan modul ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya. Jakarta, Oktober 2007 Penyusun iii
5 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i PRAKATA... iii DAFTAR ISI... iv SPESIFIKASI PELATIHAN... vii A. Tujuan Pelatihan... vii B. Tujuan Pembelajaran... vii PANDUAN PEMBELAJARAN... viii A. Kualifikasi Pengajar/Instruktur... viii B. Penjelasan Singkat Modul... viii C. Proses Pembelajaran... ix BAB 1 PENDAHULUAN UMUM RINGKASAN MODUL BATASAN / RENTANG VARIABEL Batasan/Rentang Variabel Unit Kompetensi Batasan Rentang variabel Pelaksanaan Pelatihan PANDUAN PENILAIAN Acuan Penilaian Kualifikasi Penilai Penilaian Mandiri SUMBER DAYA PEMBELAJARAN BAB 2 LAPORAN PENGGUNAAN DATA PENDUKUNG PERENCANAAN TEKNIS Umum Laporan Penggunaan Data Lalu Lintas Laporan Penggunaan Data Hidrologi, Karakteristik Sungai dan Perlintasan Lainnya Laporan Penggunaan Data Topografi Laporan Penggunaan Data Kondisi Lingkungan Sekitar Laporan Penggunaan Data Geologi Teknik dan Penyelidikan Tanah 2-5 iv
6 RANGKUMAN LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI BAB 3 LAPORAN NOTA PERENCANAAN Umum Nota Perencanaan Bangunan Atas Jembatan Laporan penetapan lebar lantai kendaraan, jumlah jalur 3-1 dan lajur lalu lintas, dan kelas jembatan Laporan pemilihan tipe dan jenis bangunan atas 3-2 jembatan, expansion joint dan perletakan jembatan Laporan perencanaan bangunan atas jembatan mengacu pada standar perencanaan Nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan Laporan penetapan tipe dan jenis bangunan bawah 3-4 jembatan Laporan perencanaan abutment jembatan Laporan perencanaan pilar jembatan Laporan analisis data geologi teknik dan penyelidikan 3-6 tanah Laporan pemilihan jenis pondasi jembatan Laporan perencanaan pondasi jembatan sesuai dengan jenis yang dipilih Nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan Laporan perencanaan oprit (jalan pendekat) jembatan Laporan perencanaan bangunan pelengkap jembatan Laporan perencanaan bangunan pengaman jembatan RANGKUMAN LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI BAB 4 PENYIAPAN GAMBAR RENCANA Umum Pembuatan dan Pengawasan Penyiapan Gambar Rencana Jembatan Pengertian Umum Fungsi Gambar Jenis gambar..4-3 v
7 4.2.4 Penyajian Gambar Pengawasan Terhadap Pembuatan Gambar Rencana Verifikasi Gambar Rencana Pendokumentasian Gambar Rencana RANGKUMAN LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI BAB 5 PENYIAPAN SPESIFIKASI Umum Penyiapan Spesifikasi Umum Pengertian Spesifikasi Jenis-jenis Spesifikasi Penggunaan Spesifikasi Penggunaan Spesifikasi Teknis Struktur Spesifikasi Penyiapan Spesifikasi Khusus Penyiapan Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan 5-10 RANGKUMAN LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI LAMPIRAN : KUNCI JAWABAN PENILAIAN MANDIRI DAFTAR PUSTAKA vi
8 SPESIFIKASI PELATIHAN A. Tujuan Pelatihan Tujuan Umum Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan peserta diharapkan mampu : Melaksanakan pekerjaan perencanaan teknis jembatan berdasarkan standar perencanaan jembatan jalan raya yang berlaku. Tujuan Khusus Pelatihan Setelah selesai mengikuti pelatihan peserta mampu : 1. Menerapkan ketentuan Undang-Undang Jasa Konstruksi (UUJK). 2. Melakukan koordinasi untuk pengumpulan dan penggunaan data teknis. 3. Merencanakan dan menerapkan standar-standar perencanaan teknis bangunan atas jembatan. 4. Merencanakan bangunan bawah jembatan. 5. Merencanakan pondasi jembatan. 6. Merencanakan oprit (jalan pendekat), bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. 7. Membuat laporan perencanaan teknis jembatan. B. Tujuan Pembelajaran dan Kriteria Penilaian Seri / Judul Modul : BDE 07 /, merepresentasikan unit kompetensi: Membuat Laporan Perencanaan Teknis Jembatan. Tujuan Pembelajaran Setelah modul ini dibahas diharapkan peserta mampu membuat laporan perencanaan teknis jembatan. Kriteria Penilaian 1. Kemampuan dalam membuat laporan penggunaan data teknis. 2. Kemampuan dalam membuat laporan nota perencanaan. 3. Kemampuan dalam menyiapkan gambar rencana. 4. Kemampuan dalam menyusun spesifikasi sesuai gambar rencana dan berdasarkan standar spesifikasi yang berlaku. vi
9 PANDUAN PEMBELAJARAN A. Kualifikasi Pengajar / Instruktur Instruktur harus mampu mengajar, dibuktikan dengan sertifikat TOT (Training of Trainer) atau sejenisnya. Menguasai substansi teknis yang diajarkan secara mendalam. Konsisten mengacu SKKNI dan SLK Pembelajaran modul-modulnya disertai dengan inovasi dan improvisasi yang relevan dengan metodologi yang tepat. B. Penjelasan Singkat Modul Modul-modul yang dibahas di dalam program pelatihan ini terdiri dari: No. Kode Judul Modul 1. BDE 01 UUJK, Sistem Manajemen K3 dan Sistem Manajemen Lingkungan 2. BDE 02 Koordinasi Pengumpulan dan Penggunaan Data Teknis 3. BDE 03 Perencanaan Bangunan Atas Jembatan 4. BDE 04 Perencanaan Bangunan Bawah Jembatan 5. BDE 05 Perencanaan Pondasi Jembatan 6. BDE 06 Perencanaan Oprit (Jalan Pendekat), Bangunan Pelengkap dan Pengamat Jembatan 7. BDE 07 Sedangkan modul yang akan diuraikan adalah: Seri / Judul : BDE 06 / Deksripsi Modul : merupakan salah satu modul yang direncanakan untuk membekali Ahli Perencanaan Teknis Jembatan (Bridge Design Engineer) dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja dalam membuat laporan perencanaan teknis jembatan mencakup laporan penggunaan data teknis, laporan nota perencanaan, penyiapan gambar rencana, dan penyiapan spesifikasi. viii
10 C. Proses Pembelajaran Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung 1. Ceramah Pembukaan : Menjelaskan Tujuan Pembelajaran. Merangsang motivasi peserta dengan pertanyaan atau pengalaman melakukan koordinasi pengumpulan dan penggunaan data teknis. Waktu : 5 menit. 2. Penjelasan Bab 1 : Pendahuluan. Modul ini merepresentasikan unit kompetensi. Umum Ringkasan Modul Koordinasi Batasan/Rentang Variabel Panduan Penilaian Panduan Pembelajaran Waktu : 20 menit. 3. Penjelasan Bab 2 : Laporan penggunaan data pendukung perencanaan Umum Laporan penggunaan data lalu lintas Laporan penggunaan data hidrologi, karekteristik sungai dan perlintasan lainnya Laporan penggunaan data topografi Laporan penggunaan data kondisi lingkungan sekitar Laporan penggunaan data geologi teknik dan penyelidikan tanah Waktu : 60 menit. Mengikuti penjelasan Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas. OHT 1 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif. Mencatat hal-hal penting. OHT 2 Mengajukan pertanyaan bila perlu. Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif. Mencatat hal-hal penting. Mengajukan pertanyaan bila perlu. OHT 3 ix
11 4. Penjelasan Bab 3 : Laporan Nota Perencanaan Umum Nota perencanaan bangunan atas jembatan Nota Perencanaan bangunan bawah dan pondasi jembatan Nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan Waktu : 70 menit. 5. Penjelasan Bab 4 : Penyiapan gambar rencana Umum Pembuatan dan pengawasan penyiapan gambar rencana jembatan Verifikasi gambar rencana. Pendokumentasian gambar rencana Waktu : 45 menit. 6. Penyiapan Spesifikasi Umum Penyiapan spesifikasi umum. Penyiapan spesifikasi khusus Penyiapan daftar kuantitas dan harga satuan. Waktu : 60 menit. 7. Rangkuman dan Penutup. Rangkuman Tanya jawab. Penutup. Waktu : 10 menit. Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif. Mencatat hal-hal penting. Mengajukan pertanyaan bila perlu. Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif. Mencatat hal-hal penting. Mengajukan pertanyaan bila perlu. Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif. Mencatat hal-hal penting. Mengajukan pertanyaan bila perlu. Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif. Mencatat hal-hal penting. Mengajukan pertanyaan bila perlu. OHT 4 OHT 5 OHT 8 OHT 8 x
12 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Umum Modul BDE-07 : merepresentasikan salah satu unit kompetensi dari program pelatihan Ahli Perencanaan Teknis Jembatan (Bridge Design Engineer). Sebagai salah satu unsur, maka pembahasannya selalu memperhatikan unsurunsur lainnya, sehingga terjamin keterpaduan dan saling mengisi tetapi tidak terjadi tumpang tindih (overlaping) terhadap unit-unit kompetensi lainnya yang direpresentasikan sebagai modul-modul yang relevan. Adapun unit kompetensi untuk mendukung kinerja efektif yang diperlukan dalam Perencanaan Teknis Jembatan adalah : No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi I. Kompetensi Umum 1. INA Menerapkan ketentuan Undang-undang Jasa Konstruksi (UUJK). II. Kompetensi Inti 1. INA Melakukan koordinasi untuk pengumpulan dan penggunaan data teknis. 2. INA Merencanakan bangunan atas jembatan dan/atau menerapkan standar-standar perencanaan teknis jembatan. 3. INA Merencanakan bangunan bawah jembatan. 4. INA Merencanakan pondasi jembatan. 5. INA Merencanakan oprit (jalan pendekat), bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. 6. INA Membuat laporan perencanaan teknis jembatan. III. Kompetensi Pilihan - 1-1
13 1.2. Ringkasan Modul Ringkasan modul ini disusun konsisten dengan tuntutan atau isi unit kompetensi, ada judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi dan KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dengan uraian sebagai berikut : a. Adapun unit kompetensi yang akan disusun modulnya: KODE UNIT : INA JUDUL UNIT : Membuat. DESKRIPSI UNIT : Unit kompetensi ini mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku yang diperlukan untuk membuat laporan perencanaan teknis jembatan. Direpresentasikan dalam modul seri/judul: BDE-07 Laporan Perencanaan Teknis Jembatan. b. Elemen Kompetensi dan KUK (Kriteria Unjuk Kerja) terdiri dari: 1. Membuat laporan penggunaan data teknis, direpresentasikan sebagai bab modul berjudul : Bab 2 Laporan Penggunaan Data Pendukung Perencanaan Teknis. Uraian detailnya mengacu KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dapat menjadi sub bab yang terdiri dari: 1.1 Laporan penggunaan data lalu lintas dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan. 1.2 Laporan penggunaan data hidrologi dan karakteristik sungai dan perlintasan dengan prasarana transportasi lainnya dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan. 1.3 Laporan penggunaan data topografi dan kondisi lingkungan sekitar dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan. 1.4 Laporan penggunaan data geologi teknik dan penyelidikan tanah dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan. 2. Membuat laporan nota perencanaan, direpresentasikan sebagai bab modul berjudul : Bab 3 Laporan Nota Perencanaan. 1-2
14 Uraian detailnya mengacu KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dapat menjadi sub bab yang terdiri dari: 2.1 Laporan nota perencanaan bangunan atas dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan. 2.2 Laporan nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan. 2.3 Laporan nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan. 3. Menyiapkan gambar rencana, direpresentasikan sebagai bab modul berjudul: Bab 4 Penyiapan Gambar Rencana. Uraian detailnya mengacu KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dapat menjadi sub bab yang terdiri dari: 3.1 Pembuatan gambar rencana jembatan diawasi untuk mendapatkan gambar rencana sesuai dengan nota perencanaan. 3.2 Verifikasi gambar rencana dilakukan untuk mendapat kepastian pemenuhannya terhadap persyaratan teknis. 3.3 Gambar rencana didokumentasikan sesuai dengan sistem file yang digunakan. 4. Menyusun spesifikasi sesuai gambar rencana berdasarkan standar spesifikasi yang berlaku, direpresentasikan sebagai bab modul berjudul: Bab 4 Penyusunan Spesifikasi. Uraian detailnya mengacu KUK (Kriteria Unjuk Kerja) dapat menjadi sub bab yang terdiri dari: 4.1 Spesifikasi umum disusun sesuai dengan standar yang berlaku 4.2 Spesifikasi khusus disiapkan sesuai dengan persyaratan teknis yang diperlukan. 4.3 Daftar kuantitas dan harga satuan pekerjaan disiapkan sesuai dengan format yang telah ditentukan. Penulisan dan uraian isi modul secara detail betul-betul konsisten mengacu tuntutan elemen kompetensi dan masing-masing KUK (Kriteria Unjuk Kerja) yang sudah dianalisis indikator kinerja/keberhasilannya (IUK). 1-3
15 Berdasarkan IUK (Indikator Unjuk Kerja/Keberhasilan) sebagai dasar alat penilaian, diharapkan uraian detail setiap modul pelatihan berbasis kompetensi betul-betul mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang mendukung terwujudnya IUK, sehingga dapat dipergunakan untuk melatih tenaga kerja yang hasilnya jelas, lugas dan terukur Batasan/Rentang Variabel Batasan/rentang variabel adalah ruang lingkup, situasi dimana unjuk kerja diterapkan. Mendefinisikan situasi dari unit kompetensi dan memberikan informasi lebih jauh tentang tingkat otonomi perlengkapan dan materi yang mungkin digunakan dan mengacu pada syarat-syarat yang ditetapkan termasuk peraturan dan produk jasa yang dihasilkan Batasan/Rentang Variabel Unit Kompetensi Adapun batasan / rentang variabel untuk unit kompetensi ini adalah : 1. Kompetensi ini diterapkan dalam satuan kerja berkelompok; 2. Tersedia tenaga ahli dan tenaga terampil yang dapat menyusun laporan penggunaan data teknis, menyusun laporan nota perencanaan, menyiapkan gambar rencana, dan menyusun spesifikasi sesuai gambar rencana berdasarkan standar spesifikasi yang berlaku; 3. Tersedia peralatan dan alat tulis kantor yang diperlukan untuk penyiapan laporan Batasan/Rentang Variabel Pelaksanaan Pelatihan Adapun batasan / rentang variabel untuk pelaksanaan pelatihan adalah: 1. Seleksi calon peserta dievaluasi dengan kompetensi prasyarat yang tertuang dalam SLK (Standar Latih Kompetensi) dan apabila terjadi kondisi peserta kurang memenuhi syarat, maka proses dan waktu pelaksanaan pelatihan disesuaikan dengan kondisi peserta, namun tetap mengacu tercapainya tujuan pelatihan dan tujuan pembelajaran. 2. Persiapan pelaksanaan pelatihan termasuk prasarana dan sarana sudah mantap. 3. Proses pembelajaran teori dan praktek dilaksanakan sampai tercapainya kompetensi minimal yang dipersyaratkan. 1-4
16 4. Penilaian dan evaluasi hasil pembelajaran didukung juga dengan batasan/rentang variable yang dipersyaratkan dalam unit kompetensi Panduan Penilaian Untuk membantu menginterpretasikan dan menilai unit kompetensi dengan mengkhususkan petunjuk nyata yang perlu dikumpulkan untuk memperagakan kompetensi sesuai tingkat kecakapan yang digambarkan dalam setiap kriteria unjuk kerja yang meliputi : Pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan untuk seseorang dinyatakan kompeten pada tingkatan tertentu. Ruang lingkup pengujian menyatakan dimana, bagaimana dan dengan metode apa pengujian seharusnya dilakukan. Aspek penting dari pengujian menjelaskan hal-hal pokok dari pengujian dan kunci pokok yang perlu dilihat pada waktu pengujian Acuan Penilaian Adapun acuan untuk melakukan penilaian yang tertuang dalam SKKNI adalah sebagai berikut: a. Pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku untuk mendemonstrasikan kompetensi ini, terdiri dari: 1. Pemahaman terhadap: proses penyusunan laporan penggunaan data teknis, penyusunan laporan nota perencanaan, penyiapan gambar rencana, dan penyusunan spesifikasi sesuai gambar rencana berdasarkan standar spesifikasi yang berlaku; 2. Penerapan penggunaan data untuk penyiapan perencanaan teknis bangunan atas, bangunan bawah dan pondasi jembatan, serta oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan teknis yang berlaku. 3. Cermat, teliti, tekun, obyektif, dan berfikir komprehensif dalam menerima data lapangan sebelum digunakan untuk melakukan perencanaan teknis jembatan b. Konteks Penilaian 1. Unit ini dapat dinilai di dalam maupun di luar tempat kerja yang menyangkut pengetahuan teori. 1-5
17 2. Penilaian harus mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja/ perilaku. 3. Unit ini harus didukung oleh serangkaian metode untuk menilai pengetahuan dan keterampilan yang ditetapkan dalam Materi Uji Kompetensi (MUK). c. Aspek Penting Penilaian 1. Ketelitian dan kecermatan dalam memahami dan menggunakan datadata utama yang diperlukan untuk penyiapan perencanaan teknis jembatan; 2. Kemampuan melakukan validasi terhadap data-data yang telah dikumpulkan oleh para petugas lapangan untuk digunakan dalam perencanaan teknis jembatan; Kualifikasi Penilai a. Penilai harus kompeten paling tidak tentang unit-unit kompetensi sebagai assesor (penilai) antara lain: mrencanakan penilaian, meaksanakan penilaian dan mreview penilaian yang dibuktikan dengan sertifikat assesor. b. Penilai juga harus kompeten tentang teknis substansi dari unit-unit yang akan didemonstrasikan dan bila ada syarat-syarat industri perusahaan lainnya muncul, penilai bisa disyaratkan untuk : 1. Mengetahui praktek-praktek / kebiasaan industri /perusahaan yang ada sekarang dalam pekerjaan atau peranan yang kinerjanya sedang dinilai. 2. Mempraktekkan kecakapan inter-personal seperlunya yang diperlukan dalam proses penilaian. c. Apabila terjadi kondisi Penilai (assesor) kurang menguasai teknis substansi, dapat mengambil langkah menggunakan penilai yang memenuhi syarat dalam berbagai konteks tempat kerja dan lembaga, industri/perusahaan. Opsi-opsi tersebut termasuk : 1. Penilai di tempat kerja yang kompeten, teknis substansial yang relevan dan dituntut memiliki pengetahuan tentang praktek-praktek/ kebiasaan industri/ perusahaan yang ada sekarang. 1-6
18 2. Suatu panel penilai yang didalamnya termasuk paling sedikit satu orang yang kompeten dalam kompetensi subtansial yang relevan. 3. Pengawas tempat kerja dengan kompetensi dan pengalaman subtansial yang relevan yang disarankan oleh penilai eksternal yang kompeten menurut standar penilai. 4. Opsi-opsi ini memang memerlukan sumber daya, khususnya penyediaan dana lebih besar (mahal). Ikhtisar (gambaran umum) tentang proses untuk mengembangkan sumber daya penilaian berdasar pada Standar Kompetensi Kerja (SKK) perlu dipertimbangkan untuk memasukan sebuah flowchart pada proses tersebut. Sumber daya penilaian harus divalidasi untuk menjamin bahwa penilai dapat mengumpulkan informasi yang cukup, valid dan terpercaya untuk membuat keputusan penilaian yang betul-betul handal berdasar standar kompetensi. Kompeten? KOMPETENSI ASESOR Memiliki Kompetensi Assessment Memiliki Kompetensi bidang Substansi Penilaian Mandiri Penilaian mandiri merupakan suatu upaya untuk mengukur kapasitas kemampuan peserta pelatihan terhadap pengasaan substansi materi pelatihan yang sudah dibahas dalam proses pembelajaran teori maupun praktek. Penguasaan substansi materi diukur dengan IUK (Indikator Unjuk Kerja/ Indikator Kinerja/Keberhasilan) dari masing-masing KUK (Kriteri Unjuk Kerja), dimana IUK merupakan hasil analisis setiap KUK yang dipergunakan untuk mendesain/menyusun kurikulum silabus pelatihan. 1-7
19 Bentuk pelatihan mandiri antara lain: a. Pertanyaan dan Kunci Jawaban, yaitu: Menanyakan kemampuan apa saja yang telah dikuasai untuk mewujudkan KUK (Kriteria Unjuk Kerja), kemudian dilengkapi dengan Kunci Jawaban dimana kunci jawaban dimaksud adalah IUK (Indikator Unjuk Kerja/ Indikator Kinerja/Keberhasilan) dari masing-masing KUK (Kriteria Unjuk Kerja) b. Tingkat Keberhasilan Pelatihan Dari penilaian mandiri akan terungkap tingkat keberhasilan peserta pelatihan dalam mengikuti proses pembelajaran. Apabila tingkat keberhasilan rendah, perlu evaluasi terhadap: 1. Peserta pelatihan terutama tentang pemenuhan kompetensi prasyarat dan ketekunan serta kemampuan mengikuti proses pembelajaran. 2. Materi/modul pelatihannya apakah sudah mengikuti dan konsisten mengacu tuntutan unit kompetensi, elemen kompetensi, KUK (Kriteria Unjuk Kerja), maupun IUK IUK (Indikator Unjuk Kerja/ Indikator Kinerja/Keberhasilan). 3. Instruktur/fasilitatornya, apakah konsisten dengan materi/modul yang sudah valid mengacu tuntutan unit kompetensi beserta unsurnya yang diwajibkan untuk dibahas dengan metodologi yang tepat. 4. Mungkin juga karena penyelenggaraan pelatihannya atau sebab lain Sumber Daya Pembelajaran Sumber daya pembelajaran dikelompokan menjadi 2 (dua) yaitu : a. Sumber daya pembelajaran teori : - OHT dan OHP (Over Head Projector) atau LCD dan Laptop. - Ruang kelas lengkap dengan fasilitasnya. - Materi pembelajaran. b. Sumber daya pembelajaran praktek : - PC, lap top bagi yang familiar dengan komputer atau kalkulator bagi yang tidak familiar dengan komputer. - Alat tulis, kertas dan lain-lain yang diperlukan untuk membantu peserta pelatihan dalam menghitung dan merencanakan bangunan atas jembatan. 1-8
20 c. Tenaga kepelatihan, instruktur/assesor dan tenaga pendukung penyelenggaraan betul-betul kompeten. 1-9
21 BAB 2 LAPORAN PENGGUNAAN DATA PENDUKUNG PERENCANAAN TEKNIS 2.1. Umum Bab ini menjelaskan substansi laporan penggunaan data pendukung perencanaan teknis yang disiapkan oleh tim terkait untuk keperluan perencanaan teknis jembatan. Jenis data pendukung yang dicakup dalam laporan ini adalah data lalu lintas, data hidrologi, karakteristik sungai dan perlintasan lainnya, data topografi, data geologi teknik dan penyelidikan tanah dan kondisi lingkungan sekitar. Laporan ini mengetengahkan penggunaan data-data pendukung tersebut sebagai bahan masukan untuk penhyiapan perencanaan teknis jembatan Laporan Penggunaan Data Lalu Lintas Laporan penggunaan data lalu lintas didasarkan atas hasil analisis data lalu lintas hasil survai, prediksi lalu lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) dan koordinasi pencacahan jumlah kendaraan berat. Analisis data lalu lintas hasil survai menguraikan pengertian tentang survai lalu lintas rutin secara manual dan merupakan pengembangan terhadap sistem yang telah ada; pemilihan lokasi survai berdasarkan Pos-pos Perhitungan Lalu Lintas yang lazim digunakan (Pos Kelas A, Pos Kelas B, Pos Kelas C), periode perhitungan survai (40 jam selama 2 hari untuk Pos Kelas A atau B, 16 jam untuk Pos Kelas C), pengelompokan jenis kendaraan, pelaksanaan survai versi IIRMS, dan evaluasi hasil survai lalu lintas. Prediksi lalu lintas harian rata-rata tahunan (LHRT) menguraikan bagaimana menganalisis hasil survai lalu lintas menjadi LHRT untuk keperluan bahan masukan bagi perencanaan teknis sebuah jembatan yang terletak pada suatu ruas jalan. Koordinasi pencacahan kendaraan berat dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang jumlah ekivalen sumbu terberat dari masing-masing jenis kendaraan berat yang melewati suatu jembatan, dimaksudkan ujntuk mengetahui apakah kendaraan berat yang akan melewati jembatan dimaksud selama umur 2-1
22 pelayanan mempunyai beban roda ganda (dual wheel load) yang masih dapat dicakup dalam MST 10 ton. Laporan disusun dengan maksud memastikan bahwa pengumpulan data lalu lintas, setelah dievaluasi, hasilnya digunakan untuk penetapan kebutuhan lebar jembatan (lebar lantai kendaraan dan trotoir kiri-kanan), termasuk di dalamnya menetapkan kelas jembatan, apakah jembatan kelas A, jembatan kelas B, ataukah jembatan kelas C Laporan Penggunaan Data Hidrologi, Karakteristik Sungai dan Perlintasan Lainnya Laporan penggunaan data hidrologi dan karakteristik sungai dan perlintasan lainnya menguraikan penggunaan hasil analisis karakteristik sungai, prediksi debit banjir sungai, penetapan panjang dan tinggi clearance (ruang bebas) jembatan yang melintasi sungai serta penetapan panjang dan tinggi clearance (ruang bebas) jembatan yang melintasi prasarana transportasi lainnya. Analisis karakteristik sungai menguraikan tipe sungai di daerah aliran (river basin), sungai aluvial dan non aluvial, dan gerusan sungai. Prediksi debit banjir sungai menguraikan perhitungan debit banjir rencana berdasarkan data yang tersedia, dilakukan dengan menggunakan prosedur perhitungan hidrologi. Tergantung pada ketersediaan data, perhitungan debit banjir rencana dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan cara-cara statistik, atau secara tidak langsung dengan cara Rational, cara Melchior, cara Weduwen, cara Haspers, atau diprediksi dengan cara perhitungan regional analyses. Penetapan panjang dan tinggi clearance (ruang bebas) jembatan yang melintasi sungai menguraikan cara menghitung penampang basah sungai berdasarkan periode ulang tertentu misalnya 50 tahun dan kegunaannya untuk menetapkan tinggi muka air banjir serta penetapan ruang bebas jembatan sesuai ketentuan. Dengan diketahuinya posisi tinggi muka air banjir dan clearance, maka tepi bawah bangunan atas jembatan dapat ditentukan, selanjutnya panjang jembatan dapat dihitung dengan diketahuinya titik-titik potong antara garis tepi bawah bangunan atas jembatan dengan profil sungai. Penetapan panjang dan tinggi clearance (ruang bebas) jembatan yang melintasi sungai menguraikan cara menghitung penampang basah sungai berdasarkan 2-2
23 periode ulang tertentu misalnya 50 tahun dan kegunaannya untuk menetapkan tinggi muka air banjir serta penetapan ruang bebas jembatan sesuai ketentuan. Dengan diketahuinya posisi tinggi muka air banjir dan clearance, maka tepi bawah bangunan atas jembatan dapat ditentukan, selanjutnya panjang jembatan dapat dihitung dengan diketahuinya titik-titik potong antara garis tepi bawah bangunan atas jembatan dengan profil sungai. Penetapan panjang dan tinggi clearance (ruang bebas) jembatan yang melintasi prasarana transportasi lainnya menguraikan bagaimana menetapkan panjang jembatan berdasarkan profil ruang bebas jembatan yang melintasi jalan raya atau melintasi jalan kereta api. Laporan disusun dengan maksud memastikan bahwa untuk menetapkan elevasi tepi bawah jembatan sudah mempertimbangkan panjang dan tinggi ruang bebas jembatan yang melintasi sungai, jalan raya lainnya ataupun jalan kereta api, sehingga keberadaan jembatan tidak terganggu oleh fasilitas transportasi lainnya Laporan Penggunaan Data Topografi Laporan penggunaan data topografi menguraikan penggunaan hasil survai pendahuluan, survai pengukuran topografi jembatan, pemetaan kondisi eksisting dan penetapan lokasi dan geometrik jembatan. Survai pendahuluan menguraikan penetapan alternatif-alternatif pemilihan lokasi jembatan dengan urutan kegiatan pra Survai dan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Survai Pendahuluan. Cakupan kegiatan pra Survai adalah mempelajari gambar proyek, penyiapan peta-peta topografi, geologi dan foto udara (kalau ada), persiapan kriteria desain, dan persiapan fungsi jembatan. Sedangkan cakupan Survai Pendahuluan adalah pengumpulan data primer dan data sekunder jembatan. Survai pengukuran topografi jembatan menguraikan pemasangan patok BM (Bench Mark) / CP (Control Point) dan patok kayu yang dipasang disekitar rencana jembatan, pengukuran kerangka kontrol vertikal, pengukuran kerangka kontrol horizontal, pengukuran penampang memanjang jalan, pengukuran penampang memanjang jalan di kiri kanan jembatan, pengukuran penampang melintang sungai, dan pengukuran situasi. 2-3
24 Pemetaan kondisi eksisting menguraikan penggambaran peta situasi, pemilihan skala peta, ploting grid dan koordinat poligon, ploting data situasi, penggambaran garis kontour dan penggambaran arah utara peta dan legenda. Penetapan lokasi dan geometrik jembatan menguraikan batasan-batasan aspek geometrik yang harus dijadikan pertimbangan dalam perencanaan jembatan baik ditinjau dari segi alinyemen horizontal maupun alinyemen vertikal agar trase jembatan dapat menjamin keamanan dan kenyaman bagi pengemudi. Laporan disusun dengan maksud memastikan bahwa untuk menetapkan as jembatan harus digunakan hasil pengukuran topografi yang didasarkan atas tata cara pengukuran yang berlaku untuk pengukuran situasi, pengukuran potongan memanjang dan pengukuran potongan melintang dalam rangka perencanaan jembatan. Jika trase dan as jembatan telah ditentukan, hasil pengukuran topografi juga digunakan untuk menyiapkan perencanaan geometrik di sekitar jembatan, dimulai dari titik awal oprit sampai titik akhir oprit jembatan Laporan Penggunaan Data Kondisi Lingkungan Sekitar Laporan penggunaan data kondisi lingkungan sekitar menguraikan rencana pemantauan kondisi lingkungan sekitar, pengaruh kondisi lingkungan sekitar terhadap jembatan yang akan dibangun dan koreksi terhadap pemilihan rencana lokasi jembatan jika dianggap perlu. Rencana pemantauan kondisi lingkungan sekitar menjelaskan tata cara teknologi yang dapat dipergunakan untuk melakukan pemantauan lingkungan, pendekatan ekonomi yang dapat dipakai untuk pengelolaan lingkungan dan pendekatan kelembagaan yang dipakai dalam pemantauan lingkungan. Pengaruh kondisi lingkungan sekitar terhadap jembatan yang akan dibangun menjelaskan kemungkinan-kemungkinan rusaknya jembatan yang dibangun jika ternyata jembatan dibuat melintasi sungai yang di wilayah hulunya sudah rusak karena penggundulan hutan. Dalam hal ini perlu dibuat bangunan pengaman untuk mencegah runtuhnya pilar-pilar atau abutment jembatan karena dihantam oleh loglog kayu yang hanyut mengikuti aliran air sungai. Koreksi terhadap pemilihan rencana lokasi jembatan menjelaskan dalam kondisi apa kita dapat mempertahankan rencana lokasi jembatan dan dalam kondisi apa kita harus merelokasi jembatan. 2-4
25 Laporan disusun dengan maksud memastikan bahwa pengaruh lingkungan sekitar sudah diperhitungkan dalam perencanaan jembatan. Pengaruh lingkungan sekitar dapat mengakibatkan jembatan perlu direlokasi atau tetap pada lokasi semula Laporan Penggunaan Data Geologi Teknik dan Penyelidikan Tanah Laporan penggunaan data geologi teknik dan data penyelidikan tanah menguraikan penggunaan hasil pemetaan permukaan detail, penentuan lokasi dan jumlah titik explorasi, survai sumber material (quarry), koordinasi pelaksanaan penyelidikan tanah dan pengambilan contoh tanah untuk pengujian laboratorium. Pemetaan permukaan detail menjelaskan pengertian tentang batuan, klasifikasi batuan dasar dan pemetaan geologi Penentuan lokasi dan jumlah titik explorasi menjelaskan dasar-dasar penentuan titik explorasi yang mencakup survai pendahuluan, jenis peralatan dan perlengkapan penyelidikan lapangan, titik ikat pengukuran, pengumpulan data dan informasi tentang bangunan utilitas yang ada di bawah tanah di sekitar lokasi rencana jembatan, penyelidikan geofisika, penyiapan laporan survai pendahuluan dan penentuan rencana letak titik sondir dan titik bor. Survai sumber material (quarry) menjelaskan kegiatan untuk memberikan informasi tentang lokasi sumber material yang ada disekitar lokasi rencana pembangunan jembatan, menyangkut jenis, komposisi, kondisi beserta perkiraan jumlah dan lainlainnya, yang dapat digunakan sebagai bahan konstruksi yang proporsional untuk pekerjaan struktur dan oprit jembatan dan akan dibuat petanya untuk dimasukkan ke dalam gambar rencana. Koordinasi pelaksanaan penyelidikan tanah menjelaskan kepastian tentang ketepatan lokasi titik-titik explorasi yang akan diambil data tanahnya, peralatan yang digunakan maupun pengujian laboratorium yang akan dilakukan terhadap sampling tanah yang diambil dari lapangan. Pengambilan contoh tanah untuk pengujian laboratorium menjelaskan bahwa dalam penyelidikan geoteknik untuk perencanaan jembatan diperlukan contoh-contoh tanah/batuan guna identifikasi, klasifikasi, pemeriksaan lapangan atau laboratorium. Contoh-contoh yang diambil harus benar-benar mewakili lapisan tanah/batuan yang dijumpai, karena contoh yang tidak mewakili dapat menghasilkan kesimpulankesimpulan yang salah. 2-5
26 Laporan disusun dengan maksud memastikan bahwa dari data geologi teknik dan hasil penyelidikan tanah dapat ditentukan apakah lokasi jembatan yang akan direncanakan terletak pada daerah stabil atau tidak. Jika sudah dapat dipastikan bahwa jembatan yang direncanakan lokasinya berada di daerah yang stabil, maka pada tahap penyelidikan tanah dapat ditentukan letak dan jumlah titik sondir dan titik bor. 2-6
27 RANGKUMAN a. Laporan ini mengetengahkan penggunaan data lalu lintas, data hidrologi, karakteristik sungai dan perlintasan lainnya, data topografi, data geologi teknik dan penyelidikan tanah dan data kondisi lingkungan sekitar untuk keperluan perencanaan teknis jembatan. b. Pengumpulan data lalu lintas, setelah dievaluasi, hasilnya digunakan untuk menetapkan kebutuhan lebar jembatan (lebar lantai kendaraan dan trotoir kiri-kanan), termasuk di dalamnya penetapan kelas jembatan, apakah jembatan kelas A, jembatan kelas B, ataukah jembatan kelas C. c. Penggunaan data hidrologi dan karakteristik sungai dan perlintasan lainnya dalam perencanaan teknis jembatan adalah untuk penetapan elevasi tepi bawah jembatan, setelah mempertimbangkan panjang dan tinggi ruang bebas jembatan yang melintasi sungai, jalan raya lainnya ataupun jalan kereta api, sehingga keberadaan jembatan aman tidak terganggu oleh transportasi lainnya. d. Penggunaan hasil pengukuran topografi adalah untuk menetapkan as jembatan, pembuatan peta situasi, penmbuatan potongan memanjang dan potongan melintang dalam rangka perencanaan jembatan. Jika trase dan as jembatan telah ditentukan, hasil pengukuran topografi juga digunakan untuk menyiapkan perencanaan geometrik di sekitar jembatan, dimulai dari titik awal oprit sampai titik akhir oprit jembatan. e. Penggunaan data geologi teknik dan hasil penyelidikan tanah adalah untuk memastikan apakah lokasi jembatan yang akan direncanakan terletak pada daerah stabil atau tidak. Jika sudah dapat dipastikan bahwa jembatan yang direncanakan lokasinya berada di daerah yang stabil, maka pada tahap penyelidikan tanah dapat ditentukan letak dan jumlah titik sondir dan titik bor. f. Penggunaan data pengaruh lingkungan sekitar rencana lokasi penempatan jembatan adalah untuk memastikan apakah jembatan perlu direlokasi atau tetap pada lokasi semula. Seluruh proses desain baru dilakukan secara rinci apabila lokasi penempatan jembatan sudah ditentukan secara pasti. 2-7
28 LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI Latihan atau penilaian mandiri menjadi sangat penting untuk mengukur diri atas tercapainya tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh para pengajar/ instruktur, maka pertanyaan dibawah perlu dijawab secara cermat, tepat dan terukur. Kode/ Judul Unit Kompetensi : INA : Membuat laporan perencanaan teknis jembatan Soal : No. Elemen Kompetensi / KUK (Kriteria Unjuk Kerja) 1. Membuat laporan penggunaan data teknis Pertanyaan Ya Tdk Jawaban: Apabila Ya sebutkan butirbutir kemampuan anda 1.1. Laporan penggunaan data lalu lintas dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan 1.1. Apakah anda mampu membuat laporan penggunaan data lalu lintas? a.... b.... c.... dst Laporan penggunaan data hidrologi dan karakteristik sungai dan perlintasan dengan prasarana transportasi lainnya dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan 1.2. Apakah anda mampu membuat laporan penggunaan data hidrologi dan karakteristik sungai dan perlintasan dengan prasarana transportasi lainnya? a.... b.... c.... dst Laporan penggunaan data topografi dan kondisi lingkungan sekitar dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan 1.3. Apakah anda mampu membuat laporan penggunaan data topografi dan kondisi lingkungan untuk keperluan perencanaan teknis jembatan a.... b.... c.... dst Laporan penggunaan data geologi teknik dan penyelidikan tanah dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan 1.4. Apakah anda mampu membuat laporan penggunaan data geologi teknik dan penyelidikan tanah dalam rangka penyiapan rencana teknis jembatan? a.... b.... c.... dst. 2-8
29 2-9
30 BAB 3 LAPORAN NOTA PERENCANAAN 3.1. Umum Bab ini menjelaskan substansi laporan nota perencanaan, mencakup nota perencanaan bangunan atas jembatan, nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan, nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. Nota perencanan bangunan atas jembatan berisi laporan penetapan lebar lantai kendaraan, jumlah jalur dan lajur lalu lintas, dan kelas jembatan, laporan pemilihan tipe dan jenis bangunan atas jembatan, expansion joint dan perletakan jembatan, dan laporan perencanaan bangunan atas jembatan mengacu pada standar perencanaan. Nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan berisi laporan penetapan tipe dan jenis bangunan bawah jembatan, laporan perencanaan abutment jembatan, laporan perencanaan pilar jembatan, laporan analisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah, laporan pemilihan jenis pondasi jembatan dan laporan perencanaan pondasi jembatan sesuai dengan jenis yang dipilih. Nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan berisi laporan perencanaan oprit (jalan pendekat) jembatan, laporan perencanaan bangunan npelengkap jembatan dan laporan perencanaan bangunan pengaman jembatan Nota perencanaan bangunan atas jembatan Laporan penetapan lebar lantai kendaraan, jumlah jalur dan lajur lalu lintas, dan kelas jembatan Laporan mencakup: A. Besaran-besaran yang menyangkut lebar lantai kendaraan, jumlah jalur dan lajur lalu lintas dan kelas jembatan yang harus ditentukan terlebih dahulu sebelum perencanaan jembatan dibuat, agar perencanaan jembatan tersebut dapat memenuhi persyaratan kapasitas maupun kemampuannya di dalam memikul beban hidup dan beban mati. 3-1
31 B. Penetapan lebar lantai kendaraan pada jembatan dengan mengikuti lebar perkerasan jalan, namun lebar trotoir jembatan tidak harus selalu sama dengan lebar bahu jalan. Berdasarkan standar yang berlaku di Indonesia, lebar trotoir jembatan ditentukan mengikuti Kelas Jembatan, untuk jembatan Kelas A lebar trotoir diambil = 1.00 m, untuk jembatan Kelas B lebar trotoir = 0.50 m, dan untuk jembatan Kelas C lebar trotoir = 0.50 m. C. Penetapan jumlah jalur lalu lintas (yaitu jumlah arah lalu lintas) dan lajur lalu lintas (yaitu bagian dari lantai kendaran yang digunakan oleh suatu rangkaian kendaraan) sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku. Penetapan lajur lalu lintas, dimaksudkan untuk menentukan beban hidup D dalam perhitungan perencanaan. Lajur lalu lintas mempunyai lebar minimum 2.75 meter dan lebar maksimum 3.75 meter. Lebar lajur minimum ini harus digunakan untuk menentukan beban D per jalur. D. Penetapan Kelas Jembatan dalam perencanaan jembatan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1. Kelas A digunakan untuk jembatan yang terletak pada jalan Nasional atau jalan Propinsi, 2. Kelas B digunakan untuk jembatan yang terletak pada jalan Kabupaten, sedangkan. 3. Kelas C digunakan untuk jembatan yang terletak pada ruas jalan kabupaten atau pada ruas jalan yang lebih rendah dari pada jalan Kabupaten Laporan pemilihan tipe dan jenis bangunan atas jembatan, expansion joint dan perletakan jembatan Laporan mencakup: A. Pemilihan tipe dan jenis jembatan dengan bentang-bentang 5 30 m dari jenis beton bertulang dengan tipe bervariasi mulai dari tipe pelat, pelat berongga, kanal pracetak, gelagar T atau gelagar box, tergantung dari panjang bentang yang akan digunakan. B. Pemilihan tipe dan jenis jembatan dengan bentang m dari jenis beton prategang dengan tipe bervariasi mulai dari gelagar I dengan lantai komposit, gelagar I pra peregangan dengan lantai komposit, gelagar T pasca peregangan, gelagar box pasca para peregangan dengan lantai 3-2
32 komposit, atau gelagar box monolitik dalam bentang sederhana, tergantung dari panjang bentang yang akan digunakan C. Pemilihan tipe dan jenis jembatan-jembatan bentang panjang 35 s/d 100 m, dapat digunakan jembatan rangka baja, dalam modul ini perencanaan jembatan rangka baja tidak dibahas karena berada di luar cakupan ahli muda perencana jembatan. D. Penentuan jumlah dan panjang bentang jembatan apabila jembatan dibuat melintasi sungai, melintasi jalan raya atau melintasi jalan kereta api. E. Pemilihan tipe dan jenis expansion joint dan perletakan jembatan dalam rangka melengkapi elemen-elemen perencanaan bangunan atas jembatan Laporan perencanaan bangunan atas jembatan mengacu pada standar perencanaan. Laporan mencakup: A. Penjelasan tentang standar perencanaan yang berlaku untuk membuat perencanaan teknis bangunan atas, konsep dasar perencanaan bangunan atas dengan konstruksi beton bertulang, konsep dasar perencanaan bangunan atas dengan konstruksi beton prategang dan prinsip-prinsip perencanaan bangunan atas jembatan dengan konstruksi tipe gelagar komposit. B. Metode perencanaan bangunan atas jembatan dengan konstruksi beton bertulang, dengan penjelasan tentang prinsip-prinsip dasar perhitungan bangunan atas jembatan dengan konstruksi beton bertulang sesuai dengan kriteria perencanaan yang berlaku dan memperkenalkan standar yang telah tersedia versi 2003 dan versi sebelumnya. C. Metode perencanaan bangunan atas jembatan dengan konstruksi beton prategang, dengan penjelasan tentang konsep dasar perhitungan bangunan atas jembatan dengan konstruksi beton prategang, mengetengahkan tegangan yang bekerja pada penampang akibat beban luar, profil kabel pada balok prategang dan analisis balok prategang. D. Metode perencanaan bangunan atas jembatan dengan konstruksi tipe gelagar komposit, dengan penjelasan tentang kriteria perencanaan dan 3-3
33 persyaratan teknis material dalam perencanaan konstruksi tipe gelagar komposit Nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan Laporan penetapan tipe dan jenis bangunan bawah jembatan Laporan mencakup: A. Penjelasan tentang jenis-jenis beban dan gaya yang bekerja pada abutment maupun pilar jembatan dengan mengambil acuan dari Pedoman Perencanaan Pembebanan Jalan Raya - SKBI maupun BMS7-C2-Bridge Design Code Prinsip-prinsip dasar dari dari kedua pedoman/tatacara diuraikan dalam garis untuk memberikan gambaran apabila perencana akan menggunakannya. B. Pemilihan tipe dan jenis abutment jembatan, dan penjelasan tentang apa yang menjadi dasar dalam memilih tipe-tipe abutment jembatan, apa hubungan antara tipe dengan tinggi abutment, apa keuntungan memilih pile cap dibanding tipe yang lainnya. C. Pemilihan tipe dan jenis pilar jembatan, dan penjelasan tentang apa yang menjadi dasar dalam memilih tipe-tipe pilar jembatan, apa hubungan antara tipe dengan tinggi pilar, apa bedanya tipe pilar di sungai dengan tipe pilar yang dibangun di darat. Kemudian juga diberikan contoh bagaimana air banjir dapat menggerus dasar pilar, yang jika dibiarkan akan mengancam stabilitas pilar Laporan perencanaan abutment jembatan Laporan mencakup: A. Kriteria perencanaan abutment jembatan yang menjelaskan bahwa penentuan kriteria perencanaan untuk abutment pada dasarnya tergantung pada tipe dan jenis abutment yang dipilih. Modul ini membatasi diri pada abutment yang dibuat dari beton bertulang, sehingga seluruh aspek perencanaan didasarkan atas perilaku beton bertulang. Untuk abutment jembatan, disarankan menggunakan beton K- 350, perencana harus mempelajari Spesifikasi terlebih dahulu untuk mengetahui persyaratan-persyaratan bahan penyusun beton K-350 yaitu semen, air, agregat dan mungkin juga bahan tambah. Selain itu 3-4
34 persyaratan baja yang akan digunakan untuk penulangan beton juga harus dicermati oleh perencana. B. Penerapan ketentuan pembebanan, yang menjelaskan ada 2 pilihan yang dapat digunakan untuk menghitung perencanaan abutment, yaitu Pedoman Pembebanan Jalan Raya SKBI UDC : atau BMS7-C2-Bridge Design Code Modul ini mengetengahkan penggunaan BMS7-C2-Bridge Design Code 1992 untuk perencanaan abutment. C. Perhitungan dan perencanaan dimensi abutment jembatan, yang memberikan contoh perhitungan abutment jembatan dengan menguraikan beban/gaya-gaya dari bangunan atas, beban-beban bangunan bawah, summary: beban-beban yang bekerja pada abutment dan gaya/momen yang bekerja didasar footing ditinjau pada kondisi normal maupun kondisi gempa Laporan perencanaan pilar jembatan Laporan mencakup: A. Kriteria perencanaan pilar jembatan, yang menjelaskan bahwa penentuan kriteria perencanaan untuk pilar pada dasarnya tergantung pada tipe dan jenis pilar yang dipilih. Modul ini membatasi diri pada pilar yang dibuat dari beton bertulang, sehingga seluruh aspek perencanaan didasarkan atas perilaku beton bertulang. Untuk pilar jembatan, disarankan menggunakan beton K-350, perencana harus mempelajari Spesifikasi terlebih dahulu untuk mengetahui persyaratan-persyaratan bahan penyusun beton K-350 yaitu semen, air, agregat dan mungkin juga bahan tambah. Selain itu persyaratan baja yang akan digunakan untuk penulangan beton juga harus dicermati oleh perencana. B. Penerapan ketentuan pembebanan, yang menjelaskan ada 2 pilihan yang dapat digunakan untuk menghitung perencanaan pilar, yaitu Pedoman Pembebanan Jalan Raya SKBI UDC : atau BMS7-C2-Bridge Design Code Modul ini mengetengahkan penggunaan BMS7-C2-Bridge Design Code 1992 untuk perencanaan pilar. C. Perhitungan beban-beban yang bekerja pada pilar jembatan, yang memberikan contoh perhitungan pilar jembatan dengan menguraikan 3-5
35 perhitungan beban mati yang berasal dari girder dan beban mati tambahan lainnya, perhitungan beban hidup UDL, perhitungan beban hidup KEL, reaksi perletakan, gaya rem, gaya gesek perletakan, gaya gempa, gaya seret aliran air, gaya-gaya pada pier head dan lain-lain sampai kombinasi pembebanan Laporan analisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah Laporan mencakup: A. Analisis kestabilan tanah di lokasi rencana pembuatan jembatan, dimaksudkan untuk melakukan pengecekan apakah penempatan trase jembatan, abutment dan pilar jembatan akan berada di atas tanah dasar yang stabil ditinjau dari aspek geologi teknik sebelum diputuskan bahwa lokasi jembatan sudah tepat. Aspek geologi teknik dipelajari dari hasil laporan pemetaan geologi teknik yang dibuat oleh ahli geologi teknik. Laporan geologi teknik ini menguraikan: 1. Kondisi geologi regional dan geologi lokal dari daerah pemetaan; 2. Kondisi geologi teknik dari daerah pemetaan yang meliputi sifat fisik tanah atau batuan setempat dan masalah yang mungkin timbul sehubungan pekerjaan teknik sipil di daerah tersebut; 3. Penampang geologi teknik pada rencana bangunan; 4. Saran teknis berupa penanganan dan penanggulangan masalah yang timbul oleh sebab kondisi geologi teknik. B. Analisis daya dukung tanah di bawah rencana pembuatan abutment dan pilar menguraikan garis besar teori mekanika tanah yang pada umumnya digunakan untuk membuat analisis daya dukung tanah. Ada 2 metode yang diketengahkan dalam uraian dimaksud yaitu kapasitas dukung tanah menurut Terzaghi yang pada umumnya digunakan untuk pondasi dangkal dan kapasitas dukung tanah menurut Meyerhof yang pada umumnya digunakan untuk pondasi dangkal maupun pondasi dalam. C. Analisis penurunan pondasi menjelaskan bahwa penurunan pondasi mencakup 2 jenis penurunan yaitu penurunan segera (immediate settlement) dan penurunan konsolidasi (consolidation settlement): 1. Immediate settlement yaitu penurunan yang terjadi pada saat beban kerja mulai bekerja, dalam rentang waktu kurang lebih 7 hari. 3-6
36 Analisis immediate settlement digunakan untuk tanah berbutir halus termasuk silts dan clays dengan derajat kejenuhan (perbandingan antara isi air pori dengan isi pori) 90% dan tanah berbutir kasar dengan koefisien permeabilitas yang tinggi (> 10-3 m/sec). 2. Consolidation settlement, yaitu penurunan yang terjadi dengan berjalannya waktu, bisa dalam kurun waktu bulanan maupun tahunan. Sebagai gambaran umum, consolidation settlement pada kebanyakan proyek terjadi dalam kurun waktu 3 10 tahun. Analisis consolidation settlement digunakan untuk tanah berbutir halus baik yang dalam kondisi jenuh (saturated) maupun yang hampir jenuh Laporan pemilihan jenis pondasi jembatan Laporan mencakup: A. Penentuan kedalaman tanah keras dimaksudkan untuk memilih jenis pondasi jembatan, apakah harus membuat pondasi dangkal atau pondasi dalam. Untuk dapat mengetahui kedalaman tanah keras, diperlukan data sondir dan data bor di lokasi rencana penempatan abutment dan pilar jembatan. Di lokasi abutment, disarankan untuk diambil 2 titik sondir dan 1 titik bor, sedangkan di lokasi pilar di sungai diambil 4 titik sondir dan 1 titik bor. Dari data sondir, indikasi tanah keras dapat dilihat pada data tekanan konus yang menunjukkan angka 150 kg/cm2. B. Penggunaan data daya dukung tanah dan geologi teknik, menjelaskan bagaimana menggunakan data sondir (tekanan konus dan jumlah hambatan pelekat) dan data bor (pengujian laboratorium dari data lapangan) untuk memperhitungkan daya dukung tanah pondasi. Untuk perhitungan daya dukung tanah pada pondasi dangkal, pada umumnya digunakan persamaan-persamaan Terzaghi (catatan: dapat juga menggunakan persamaan Meyerhof yang dapat digunakan untuk perhitungan daya dukung pondasi dangkal maupun pondasi dalam). Untuk memberikan gambaran perbandingan yang lebih konkrit, daya dukung tanah untuk pondasi langsung (kedalaman 4.00 m) minimal sekitar 200 kpa, untuk pondasi sumuran (kedalaman < 8.00 m) minimal sekitar 1000 kpa, sedangkan untuk pondasi tiang pancang daya dukung tanah pada point bearing piles = 150 kg/cm2 = kpa = 15 Mpa. Penggunaan data konus yang diperoleh dari data sondir biasanya 3-7
37 dikoreksi dengan faktor keamanan = 3, sedangkan data jumlah hambatan pelekat dikoreksi dengan faktor keamanan = 5. C. Penetapan jenis pondasi jembatan, yang menjelaskan batasan-batasan yang berkaitan dengan pertimbangan, bagaimana kita sampai pada keputusan memilih pondasi langsung, pondasi sumuran, pondasi tiang pancang beton bertulang pracetak / tiang pancang beton prategang pracetak, pondasi tiang pancang baja struktur / tiang pancang pipa baja, atau pondasi tiang bor beton. Pemilihan jenis pondasi berkaitan dengan bahan yang digunakan, oleh karena itu persyaratan tentang bahan untuk pondasi harus terlebih dahulu dipahami oleh perencana sebelum membuat perencanaan teknis Laporan perencanaan pondasi jembatan sesuai dengan jenis yang dipilih Laporan mencakup: A. Penerapan kriteria desain pondasi jembatan, yang menguraikan kriteria desain pondasi sumuran, kriteria desain pondasi tiang pancang beton bertulang pracetak / tiang pancang beton prategang pracetak, kriteria desain pondasi tiang pancang baja struktur / tiang pancang pipa baja, dan kriteria desain pondasi tiang bor beton. B. Penerapan ketentuan pembebanan jembatan, ada 2 pilihan yang dapat digunakan untuk menghitung perencanaan pondasi jembatan, yaitu Pedoman Pembebanan Jalan Raya SKBI UDC : atau BMS7-C2-Bridge Design Code Perencanaan pondasi jembatan merupakan proses lanjut perencanaan teknis jembatan setelah perencanaan bangunan atas dan bangunan bawah diselesaikan. Oleh karena itu ketentuan pembebanan jembatan yang digunakan dalam perencanaan pondasi jembatan harus mengikuti ketentuan pembebanan jembatan yang telah digunakan dalam proses-proses sebelumnya yaitu proses perencanaan bangunan atas dan proses perencanaan bangunan bawah. Selanjutnya gaya-gaya horizontal, gaya vertikal dan momen lentur yang diperoleh dari perhitungan beban-beban kerja pada jembatan, digunakan untuk perhitungan pondasi jembatan. C. Perhitungan pondasi jembatan, dengan memberikan contoh perhitungan pondasi tiang pancang kelompok dan pondasi sumuran. Untuk pondasi 3-8
38 tiang pancang, diberikan contoh perhitungan tiang pancang kelompok dengan material tiang pancang beton prategang pracetak, sedangkan untuk pondasi sumuran diberikan contoh pondasi sumuran di bawah pile cap, diletakkan di atas tanah dengan daya dukung ijin 1000 kn/m 2 pada kedalaman 8 m dari permukaan tanah asli Nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan Laporan perencanaan oprit (jalan pendekat) jembatan Laporan mencakup: A. Perencanaan geometri oprit jembatan, yang memberikan uraian tentang penetapan alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal oprit jembatan. Dalam hal alinyemen horizontal jembatan, ada 3 kemungkinan yang dapat terjadi yaitu kemungkinan pertama oprit sepenuhnya berada pada alinyemen lurus, kemungkinan kedua oprit berada pada alinyemen tikungan gabungan searah, dan kemungkinan ketiga oprit berada pada alinyemen tikungan gabungan balik. Kemungkinan kedua dan ketiga mempersyaratkan bahwa harus ada segmen alinyemen horizontal yang sama sekali lurus dengan panjang 20 meter agar tikungan gabungan searah atau tikungan gabungan balik memenuhi persyaratan geometri. Persyaratan ini dijadikan pertimbangan untuk titik awal dan tik akhir alinyemen oprit baik pada sisi sebelah kiri maupun sisi sebelah kanan dari oprit jembatan. B. Perencanaan timbunan oprit, yang memberikan uraian tentang fungsi tanah dasar dalam memikul timbunan di atasnya, bagaimana memilih material timbunan yang memenuhi persyaratan teknis, jenis-jenis longsoran yang mungkin terjadi pada timbunan oprit, dan prinsip-prinsip perhitungan penurunan oprit jembatan. C. Perencanaan perkerasan untuk oprit jembatan, yang memberikan gambaran parameter-parameter untuk menyiapkan perhitungan perkerasan lentur ataupun perkerasan kaku tergantung kebijakan teknis yang ditetapkan oleh pemilik pekerjaan. D. Perencanaan dinding penahan tanah pada oprit jembatan, yang memberikan uraian tentang prinsip-prinsip perencanaan dinding penahan 3-9
39 tanah, pemilihan tipe dinding penahan tanah dikaitkan dengan tinggi dinding penahan, dan kemantapan dinding penahan tanah dikaitkan dengan beban-beban yang bekerja Laporan perencanaan bangunan pelengkap jembatan Laporan mencakup: A. Perencanaan sandaran bagunan atas jembatan, yang memberikan gambaran tentang persyaratan bahan sandaran, ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyediaan sandaran, serta rencana pengendalian mutu agar sandaran terpasang memenuhi fungsinya secara optimal. B. Perencanaan guard rail pada oprit jembatan, yang memberikan gambaran tentang persyaratan bahan guard rail, ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyediaan guard rail, serta rencana pengendalian mutu agar guard rail terpasang memenuhi fungsinya secara optimal. C. Perencanaan parapet, yang memberikan gambaran tentang persyaratan bahan parapet, ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyediaan parapet, serta rencana pengendalian mutu agar parapet terpasang memenuhi fungsinya secara optimal. D. Perencanaan pipa cucuran drainase lantai jembatan, yang memberikan gambaran tentang persyaratan bahan pipa cucuran drainase lantai jembatan, ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penyediaan pipa cucuran, serta rencana pengendalian mutu agar pipa cucuran terpasang memenuhi fungsinya secara optimal Laporan perencanaan bangunan pengaman jembatan Laporan mencakup: A. Perencanaan pengamanan pilar untuk suatu jembatan yang melintasi sungai yang juga berfungsi melayani lalu lintas kapal, dimaksudkan untuk menghindari tumbukan kapal langsung ke pilar jembatan yang dapat membahayakan jembatan (bisa menyebabkan keruntuhan pilar). Oleh karena itu perlu dibuat fender yang mempunyai fungsi meredam energi 3-10
40 tumbukan kapal sekaligus melindungi pilar jembatan dari kemungkinan tumbukan langsung oleh kapal yang melintasi sungai. B. Perencanaan pengamanan abutment dengan memasang bronjong pada tebing sungai di sekitar abutment, yang diperlukan apabila ternyata terjadi erosi pada tebing sungai tersebut. Memilih bronjong untuk mengatasi erosi tebing sungai dimaksud sebenarnya hanya salah satu alternatif saja dari beberapa alternatif lain yang dapat diambil. Namun yang penting adalah jangan dibiarkan abutment jembatan terancam runtuh karena erosi tebing sungai di sekitar abutment jembatan. C. Perencanaan rambu pengaman jembatan yang diperlukan terutama untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan lalu lintas di sekitar jembatan. Rambu lalu lintas pada umumnya dilengkapi dengan marka jalan, untuk memberikan arahan bagi pengguna jalan agar dapat menggunakan lajur lalu lintas dengan sebaik-baiknya. 3-11
41 RANGKUMAN a. Laporan nota perencanaan mencakup 3 kelompok substansi yaitu pertama nota perencanaan bangunan atas jembatan, kedua nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan, dan ketiga nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. b. Substansi yang dicakup dalam nota perencanan bangunan atas jembatan adalah: penetapan lebar lantai kendaraan, jumlah jalur dan lajur lalu lintas, dan kelas jembatan, pemilihan tipe dan jenis bangunan atas jembatan, expansion joint dan perletakan jembatan, dan perencanaan bangunan atas jembatan mengacu pada standar perencanaan. c. Substansi yang dicakup dalam nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan adalah: penetapan tipe dan jenis bangunan bawah jembatan, perencanaan abutment jembatan, perencanaan pilar jembatan, analisis data geologi teknik dan penyelidikan tanah, pemilihan jenis pondasi jembatan dan perencanaan pondasi jembatan sesuai dengan jenis yang dipilih. d. Substansi yang dicakup dalam nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan adalah: perencanaan oprit (jalan pendekat) jembatan, perencanaan bangunan npelengkap jembatan dan perencanaan bangunan pengaman jembatan. 3-12
42 LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI Latihan atau penilaian mandiri menjadi sangat penting untuk mengukur diri atas tercapainya tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh para pengajar/ instruktur, maka pertanyaan dibawah perlu dijawab secara cermat, tepat dan terukur. Kode/ Judul Unit Kompetensi : INA : Membuat laporan perencanaan teknis jembatan Soal : No. Elemen Kompetensi / KUK (Kriteria Unjuk Kerja) Pertanyaan Ya Tdk Jawaban: Apabila Ya sebutkan butirbutir kemampuan anda 1. Membuat laporan penggunaan data teknis Sudah dibuat soalnya di Bab 2 2. Membuat laporan nota perencanaan 2.1. Laporan nota perencanaan bangunan atas dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan 2.1. Apakah anda mampu membuat laporan nota perencanaan bangunan atas jembatan? a.... b.... c.... dst Laporan nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan 2.2. Apakah anda mampu membuat laporan nota perencanan bangunan bawah dan pondasi jembatan? a.... b.... c.... dst Laporan nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan dibuat sesuai dengan format laporan yang digunakan 2.3. Apakah anda mampu membuat laporan nota perencanaan oprit, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan? a.... b.... c.... dst. 3-13
43 BAB 4 PENYIAPAN GAMBAR RENCANA 4.1. Umum Bab ini menjelaskan substansi penyiapan gambar rencana yang mencakup pembuatan dan pengawasan penyiapan gambar rencana, verifikasi gambar rencana dan pendokumentasian gambar rencana. Pembuatan dan pengawasan penyiapan gambar rencana menjelaskan pengertian umum, fungsi gambar, jenis gambar, penyajian gambar, dan pengawasan terhadap pembuatan gambar rencana. Penggambaran dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan meja gambar dan alat-alat gambar atau menggunakan software computer misalnya AutoCad. Namun yang penting Gambar Rencana harus mencerminkan hasil perhitungan perencanaan yang kemudian dituangkan ke dalam gambar. Verifikasi gambar rencana diperlukan untuk memastikan bahwa yang digambar adalah perintah hasil perhitungan perencanaan. Pendokumentasian gambar rencana merupakan bentuk filing system yang menjamin kemudahan mencari kembali produk-produk perencanaan teknis pada saat dibutuhkan oleh pemilik proyek Pembuatan dan Pengawasan Penyiapan Gambar Rencana Jembatan Gambar Rencana dibuat oleh juru gambar setelah perhitungan perencanaan bangunan atas, bangunan bawah dan pondasi jembatan diselesaikan oleh Ahli Perencanaan Teknis Jembatan. Memindahkan hasil perhitungan perencanaan ke dalam gambar rencana memerlukan keterampilan sendiri dan bukan menjadi tugas Ahli Perencanaan Teknis Jembatan, akan tetapi memang menjadi tugas juru gambar. Ada 2 pilihan yang dapat dilakukan oleh juru gambar, yaitu membuat Gambar Rencana dengan cara manual, dalam hal ini yang diperlukan adalah meja gambar dan alat-alat gambar atau dengan menggunakan software misalnya AutoCad, dalam hal ini yang diperlukan komputer dan printer atau plotter Pengertian Umum Dalam bidang pembangunan konstruksi diperlukan pengetahuan tentang gambar-gambar konstruksi. Juru gambar dianggap memahami gambar konstruksi atau gambar rencana jika: 4-1
44 Mengenal kodefikasi dan normalisasi gambar, misalnya: Gambar pasangan batu Gambar pekerjaan beton Garis-garis yang kelihatan Garis-garis yang tak kelihatan Dapat mengerti / membaca dan menerjemahkan gambar, misalnya gambar konstruksi, gambar detail dan sebagainya. Dapat mengenal pengetahuan konstruksi Fungsi Gambar Gambar secara garis besar mempunyai 2 fungsi, yaitu : Sebagai alat untuk menyampaikan informasi. Untuk menyimpan data atau sebagai arsip. A. Alat untuk menyampaikan informasi Sebagai contoh ada satu bundel gambar perencanaan jalan yang dibuat oleh seorang perencana. Dalam gambar tersebut seorang perencana menyampaikan ide pikirannya melalui gambar dan selanjutnya informasi tersebut diterima oleh orang lain misalnya kontraktor untuk dilaksanakan. Setelah proyek tersebut selesai dibangun katakan hasilnya sama seperti yang diinginkan oleh perencananya. Ini artinya melalui gambar tersebut terjadilah transformasi informasi secara tepat dan benar. B. Alat untuk menyimpan data Gambar merupakan data teknis yang paling ampuh untuk mengarsipkan data. Informasi tentang suatu proyek atau konstruksi yang telah dibuat beberapa tahun yang silam dapat dilihat kembali dan diperoleh keterangannya melalui sebuah gambar yang diarsipkan. Sebagai contoh suatu jembatan beton bertulang setelah jembatan tersebut jadi, tidak dapat diketahui berapa jumlah penulangan baja yang digunakan untuk memperkuat jembatan beton bertulang tersebut. Tetapi 50 tahun kemudian, dengan pengarsipan gambar yang baik maka penulangan jembatan tersebut masih dapat diketahui sehingga kekuatan jembatan 4-2
45 dapat dihitung ulang untuk menahan perkembangan beban kendaraan yang melewatinya. Sekarang gambar-gambar dapat disimpan dengan menggunakan micro-film, atau di dalam file komputer dimana penyimpanannya lebih menghemat tempat dan lebih tahan lama Jenis gambar Dalam pekerjaan konstruksi dikenal jenis-jenis gambar, yaitu : Gambar rencana Gambar kerja (shop drawing) Gambar hasil pelaksanaan (as-built drawing) Termasuk didalamnya terdapat gambar detail. Gambar detail yaitu suatu gambar dengan skala besar untuk menggambarkan lebih jelas tentang halhal yang perlu dijelaskan lebih rinci, biasanya dilengkapi dengan beberapa gambar potongan dan gambar tampak. Gambar desain (design drawing) adalah gambar yang dibuat untuk mempersiapkan suatu proyek sampai dengan tahap pelelangan. Gambar desain juga disebut gambar perencanaan. Adapula gambar desain yang disebut gambar prarencana. Gambar ini belum merupakan gambar lengkap karena hanya terdiri dari gambar yang pokok-pokok saja, misalnya gambar denah. Biasanya gambar prarencana diperlukan hanya untuk kebutuhan negosiasi atau konsultasi. Setelah rencana proyek tersebut disepakati / disetujui oleh Pengguna Jasa dan pihak-pihak yang terkait, maka dibuatlah gambar rencana yang dilengkapi dengan gambar konstruksi dan gambar pelengkap lainnya untuk keperluan tender atau pelelangan. Gambar kerja (shop drawing) adalah gambar rencana yang dilengkapi dengan gambar-gambar detail dan gambar tambahan agar pelaksanaan pembangunannya sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam dokumen tender. Gambar kerja harus mendapat persetujuan Pengawas / Direksi Pekerjaan terlebih dahulu tentang persyaratan yang harus dipenuhi sesuai spesifikasi. Gambar hasil pelaksanaan (as-built drawing) adalah perubahan gambar yang terjadi apabila terdapat perbedaan dalam pelaksanaan yang disebabkan oleh koreksi di lapangan dan telah mendapat persetujuan dari 4-3
46 Pengguna Jasa, dan merupakan gambar akhir yang harus diserahkan kepada Pemilik / Pengguna Jasa untuk kepentingan operasi dan perawatan dan dokumentasi proyek. As-built drawing kadang-kadang disebut juga record drawing Penyajian Gambar A. Ukuran kertas gambar Gambar disajikan dalam kertas dengan ukuran yang berbeda-beda. Ukuran kertas gambar mempunyai standard ukuran tertentu. Ukuran yang paling banyak digunakan adalah dengan menggunakan seri A yang diikuti huruf mulai dari 0 sampai 4. Ukuran standard yaitu A0 mempunyai luas 1 m 2, dengan perbandingan ukuran panjang kertas terhadap lebar kertas adalah 2 : 1. Ukuranukuran berikutnya diperoleh dengan membagi 2 ukuran yang mendahuluinya. Misalnya A1 mempunyai ukuran setengah A0, ukuran A2 mempunyai ukuran setengah A1, ukuran A3 mempunyai ukuran setengah A2, ukuran A4 mempunyai ukuran setengah A3. Ukuran kertas gambar dapat dilihat seperti pada Tabel 4.1. berikut. Tabel 4.1. : Ukuran kertas. Lambang Panjang (mm) Lebar (mm) A A A A A B. Garis batas atau garis tepi Kertas gambar harus diberi garis batas pada tepinya. Jarak garis batas / tepi pada kertas gambar sekurang-kurangnya mempunyai lebar 20 mm untuk kertas ukuran A0 dan A1. Sedangkan untuk ukuran kertas A2, A3 dan A4 biasanya diambil sekurang-kurangnya 10 mm. Untuk keperluan pengarsipan bagian tepi kertas sebelah kiri diberi lubang untuk menjepit 4-4
47 kertas-kertas gambar tersebut dalam suatu bundel arsip. Demikian juga bila sekelompok kertas gambar harus dijilid, maka bagian kiri kertas gambar perlu disiapkan tempat untuk menjilid bundel kertas gambar tersebut. Oleh karena itu pada bagian kiri kertas gambar biasanya jarak garis tepinya lebih lebar dari sisi yang lain, misalnya diambil 30 sampai 40 mm, seperti tampak pada gambar dibawah ini. Sedangkan garis tepi ini biasanya dipakai ketebalan garis minimum 0,5 mm. Garis tepi C. Kepala Gambar Kepala gambar harus dibubuhkan pada lembar kertas gambar. Pada ruang kepala gambar tercantum hal-hal penting antara lain sebagai berikut : Nomor gambar Judul gambar Nama perusahaan Tanda-tangan petugas yang bertanggung-jawab Keterangan gambar, seperti skala gambar Tempat untuk menulis catatan penting dan lain-lain. Letak kepala gambar yang baku adalah disebelah kanan bawah. Namun untuk kepentingan tertentu maka kepala gambar dapat diperpanjang kekiri atau keatas sehingga sering terjadi kepala gambar terletak pada sisi bawah gambar sepanjang ukuran kertas gambar atau pada sisi kanan kertas gambar selebar ukuran kertas gambar, ada pula pada sisi atas gambar sepanjang ukuran kertas gambar. Bentuk / format kepala gambar bisa berbeda, sesuai dengan yang ditentukan oleh Pengguna Jasa. 4-5
48 Contoh bentuk kepala gambar dan letaknya dapat dilihat seperti Gambar 4.2. PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN... CATATAN DENAH JEMBATAN No. 2/8 NAMA TANDA-TANGAN DIGAMBAR DIPERIKSA DISETUJUI Skala 1 : 100 Kepala gambar Gambar 4.1. : Contoh kepala gambar dan letaknya D. Skala Gambar Untuk ilmu bangunan, dapat digunakan gambar dengan skala : 1 : 5 1 : 10 1 : 20 1 : 50 1 :
49 1 : : : Untuk pembuatan peta, skala gambar yang digunakan adalah 1 : 500 dan seterusnya hingga 1 : Sedangkan penggunaan skala untuk masing-masing jenis dan fungsi gambar adalah : Gambar situasi menggunakan skala 1 : 500, 1 : Gambar konstruksi menggunakan skala 1 : 200, 1 : 100, 1 : 50 Gambar detail menggunakan skala 1 : 20, 1 : 10, 1 : 5 E. Kodefikasi dan simbol gambar Garis Dalam gambar dipergunakan bermacam jenis garis baik bentuknya maupun ukurannya. Karena gambar adalah alat untuk komunikasi maka penggunaan garis tersebut harus sesuai dengan maksud dan tujuannya. Jenis-jenis garis yang dipergunakan untuk gambar teknik sipil biasanya terdiri dari 3 jenis, yaitu : Garis nyata atau garis penuh Garis putus-putus Garis putus titik Jenis garis yang lain misalnya : Garis titik-titik Garis putus dengan dua titik Garis-garis tersebut diatas mempunyai ketebalan. Jenis garis menurut tebalnya, dibagi menjadi 3 macam, yaitu : 4-7
50 Garis tebal Garis sedang Garis tipis Perbandingan ketebalan garis tersebut diatas lebih kurang adalah 1 : 0,7 : 0,5. Perbandingan tersebut tidak terlalu mengikat karena ketebalan garis sebenarnya juga tergantung dari besarnya gambar. Penggunaan garis untuk gambar teknik sipil biasanya sebagai berikut : Garis tebal biasanya digunakan untuk garis tepi, garis kepala gambar. Selain itu garis tebal juga digunakan untuk membuat garis benda. Tetapi garis benda biasanya dibuat dengan ukuran sedang. Garis titpis dipakai untuk keperluan garis pembantu atau garis ukuran, garis penunjuk dan garis arsir. Garis putus-putus biasanya digunakan untuk membuat garis benda yang mana dari arah kita memandang garis tersebut sebenarnya tidak terlihat. Garis putus-titik biasanya digunakan untuk menggambar garis sumbu (garis simetri), garis potong bidang benda, garis pada benda yang berada dibelakang kita. Bisa saja garis putus maupun garis putus-titik dipakai untuk keperluan lain, tetapi harus diberi keterangan. Huruf dan angka Huruf biasanya digunakan untuk keperluan menulis keterangan, catatan, judul dan sebagainya. Sedangkan angka biasanya digunakan untuk penomoran, menulis ukuran, peng-kode-an dan lain-lain. Huruf maupun angka tidak boleh menimbulkan keragu-raguan bagi yang membaca. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan dalam membuat huruf maupun angka, ialah : Dapat terbaca dengan jelas Bentuknya seragam, konsisten Berikut diberikan contoh standard membuat huruf dan angka yang dipakai oleh ISO 3098/ dan JIS seperti pada Gambar 4-2. dan 4-3. Ukuran huruf secara umum dapat diambil perbandingan tinggi huruf terhadap lebarnya adalah 3 : 2 4-8
51 ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ abcdefghijklmnopqrstuvwxyz [(!?., -=+x %&)]Ø IVX Gambar 4-2 : Bentuk huruf sesuai standard ISO 10 mm mm ,3 mm A B C D E F G H I J 5 mm K L M N O P Q R S T 4 mm U V W X Y Z 3,2 mm a b c d e f g h i j 2,5 mm k l m n o p q r s t 2 mm u v w x y z Gambar 4-3 : Bentuk huruf sesuai standard JIS F. Gambar beton bertulang Ukuran ketebalan plat beton dengan simbol t = thickness = tebal. Contoh: t = 20 cm. Untuk balok, lebar disebut lebih dahulu dari pada tinggi, misalnya 25 x 60. Tinggi balok adalah jarak antara tepi bawah balok dan tepi atas lantai. Bila balok terletak diatas lantai, maka tingginya diukur dari tepi bawah balok sampai tepi atas balok. Ukuran tinggi dipakai simbol H atau h = high = tinggi. Contoh : h = 40 cm. Ukuran diameter = d atau D atau Ø. Contoh : d = 8 mm, D = 40 cm. 4-9
52 Ukuran diameter dan jumlah penulangan pada beton. Misalnya 4 Ø 20 artinya dipakai tulangan baja d = 20 mm jumlahnya 4 buah. Ukuran diameter dan jarak tulangan. Misalnya Ø 8 20 artinya pelat beton tersebut menggunakan tulangan baja dengan diameter 8 mm dipasang pada jarak 20 cm. Kemiringan digunakan simbol I yang artinya inclination. Contoh : I = 1 % = 1 : 100 Gambar beton biasanya dibuat dalam skala 1 : 20, kecuali bila perlu lebih jelas dipakai skala lebih besar. Penampang biasanya ditengah-tengah antara 2 tumpuan dan ditepi balok dekat tumpuan. Gambar-gambar tulangan dan jarak antara tulangan harus jelas. Jika letak batang tak jelas, maka tempatkanlah di tempat batang itu suatu segitiga, dengan puncaknya menunjuk ke sebelah dalam pelat, misalnya seperti tersebut di bawah: Tulangan bawah : Tulangan atas : Pengawasan Terhadap Pembuatan Gambar Rencana Dalam proses pembuatan gambar rencana, yang diperlukan adalah kepastian bahwa gambar rencana yang dibuat menggambarkan perencanaan konstruksi sesuai dengan yang dimaksudkan dalam hasil perhitungan perencanaan. Kepastian ini memerlukan pengawasan agar apa yang dituangkan dalam Gambar Rencana mencerminkan apa yang dikehendaki menurut hasil perhitungan perencanaan, serta mengikuti formatformat yang lazim digunakan dalam Gambar Rencana Verifikasi Gambar Rencana Verifikasi gambar rencana diperlukan untuk memastikan bahwa tidak terjadi kesalahan dalam menuangkan hasil perhitungan perencanaan teknis jembatan ke dalam gambar rencana. Verifikasi ini harus dilakukan oleh perencana sendiri yaitu Ahli Perencanaan Teknis Jembatan, karena seluruh produk gambar rencana, mulai dari denah, tampak depan, potongan melintang, dan gambar-gambar detail baik menyangkut bangunan atas, bangunan bawah maupun pondasi, seluruhnya didasarkan atas perhitungan 4-10
53 perencanaan yang dilakukan oleh Ahli Perencanaan Teknis Jembatan. Hal ini juga dimaksudkan untuk memposisikan perencana sebagai pemegang tanggung jawab teknis terhadap hasil pekerjaannya. Oleh karena itu, sebelum Gambar Rencana diketahui atau disetujui oleh Pemilik Proyek, maka orang pertama yang menandatangani Gambar Rencana adalah Ahli Perencanaan Teknis Jembatan. Pemilik Proyek atau yang mewakili bisa saja tidak menyetujui Gambar Rencana yang telah ditandatangani oleh Ahli Perencanaan Teknis Jembatan, namun perencana harus bisa menjelaskan dan meyakini bahwa Gambar Rencana yang telah ditandatanganinya tersebut sudah benar secara teknis dan telah mengikuti rujukan-rujukan berupa kriteria perencanaan dan ketentuan-ketentuan tentang pembebanan jembatan. Dengan demikian maksud dari verifikasi ini adalah memposisikan perencana ke dalam tanggung jawab profesi, Gambar Rencana ditandatangani jika ia berpendapat bahwa Gambar Rencana tersebut sudah benar dan dapat dipertanggungjawabkan ditinjau dari segi profesi. Ia boleh tidak menandatangani Gambar Rencana jika ternyata menurut pendapatnya saran dari Pemilik Proyek atau yang mewakilinya secara teknis menyimpang dari ketentuan-ketentuan teknis yang berlaku Pendokumentasian Gambar Rencana Pendokumentasian Gambar Rencana merupakan hal yang sangat penting agar di kemudian hari jika diperlukan untuk memeriksa kembali gambar rencana dimaksud dapat dilakukan dengan cepat. Jika pada suatu saat diperlukan perkuatan jembatan dimaksud, dengan mudah akan dapat dicari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perencanaan jembatan tersebut. Gambar Rencana dapat didokumentasikan ke dalam beberapa versi, dapat dalam bentuk gambar kalkir, gambar cetak dalam berbagai ukuran, dengan mikro film jika gambar aslinya dibuat secara manual, atau file di dalam komputer atau CD jika penggambarannya dilakukan dengan software seperti AutoCad. Pemilik Proyek dapat memilih pendokumentasian sesuai dengan kondisi setempat, namun sebenarnya yang harus dipertimbangkan adalah kemudahan dalam mencari kembali file yang diperlukan, dan diupayakan mengikuti perkembangan teknologi dalam proses penggambaran dan penyimpanan file. Yang tidak kalah penting adalah selain dokumentasi Gambara Rencana, juga dokumentasi Nota Perencanaan, karena seluruh proses penggambaran dimulai dari hasil-hasil perhitungan yang dituangkan di dalam Nota Perencanaan. 4-11
54 RANGKUMAN a. Peyiapan gambar rencana yang mencakup 3 hal yaitu: pembuatan dan pengawasan penyiapan gambar rencana, verifikasi gambar rencana dan pendokumentasian gambar rencana. b. Pembuatan dan pengawasan penyiapan gambar rencana menjelaskan pengertian umum, fungsi gambar, jenis gambar, penyajian gambar, dan pengawasan terhadap pembuatan gambar rencana. Penggambaran dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan meja gambar dan alat-alat gambar atau menggunakan software computer misalnya AutoCad. Namun yang penting Gambar Rencana harus mencerminkan hasil perhitungan perencanaan yang kemudian dituangkan ke dalam gambar. c. Verifikasi gambar rencana diperlukan untuk memastikan bahwa tidak terjadi kesalahan dalam menuangkan hasil perhitungan perencanaan teknis jembatan ke dalam gambar rencana. Verifikasi ini harus dilakukan oleh perencana sendiri yaitu Ahli Perencanaan Teknis Jembatan, karena seluruh produk gambar rencana, mulai dari denah, tampak depan, potongan melintang, dan gambar-gambar detail baik menyangkut bangunan atas, bangunan bawah maupun pondasi, seluruhnya didasarkan atas perhitungan perencanaan yang dilakukan oleh Ahli Perencanaan Teknis Jembatan d. Pendokumentasian gambar rencana merupakan bentuk filing system yang menjamin kemudahan mencari kembali produk-produk perencanaan teknis pada saat dibutuhkan oleh pemilik proyek. Gambar Rencana dapat didokumentasikan ke dalam beberapa versi, dapat dalam bentuk gambar kalkir, gambar cetak dalam berbagai ukuran, dengan mikro film jika gambar aslinya dibuat secara manual, atau file di dalam komputer atau CD jika penggambarannya dilakukan dengan software seperti AutoCad. 4-12
55 LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI Latihan atau penilaian mandiri menjadi sangat penting untuk mengukur diri atas tercapainya tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh para pengajar/ instruktur, maka pertanyaan dibawah perlu dijawab secara cermat, tepat dan terukur. Kode/ Judul Unit Kompetensi : INA : Membuat laporan perencanaan teknis jembatan Soal : No. Elemen Kompetensi / KUK (Kriteria Unjuk Kerja) Pertanyaan Ya Tdk Jawaban: Apabila Ya sebutkan butirbutir kemampuan anda 1. Membuat laporan penggunaan data teknis Sudah dibuat soalnya di Bab 2 2. Membuat laporan nota perencanaan Sudah dibuat soalnya di Bab 3 3. Menyiapkan gambar rencana 3.1. Pembuatan gambar rencana jembatan diawasi untuk mendapatkan gambar rencana sesuai dengan nota perencanaan Apakah anda mampu mengawasi pembuatan gambar rencana jembatan untuk mendapatkan gambar rencana sesuai dengan nota perencanaan? a.... b.... c.... dst Verifikasi gambar rencana dilakukan untuk mendapat kepastian pemenuhannya terhadap persyaratan teknis Apakah anda mampu melakukan verifikasi gambar rencana untuk mendapat kepastian pemenuhannya terhadap persyaratan teknis? a.... b.... c.... dst Gambar rencana didokumentasikan sesuai dengan sistem file yang berlaku Apakah anda mampu mendokumentasikan gambar rencana sesuai dengan sistem file yang berlaku? a.... b.... c.... dst. 4-13
56 4-14
57 BAB 5 PENYIAPAN SPESIFIKASI 5.1. Umum Bab ini menjelaskan penyiapan Spesifikasi Umum, penyiapan Spesifikasi Khusus dan penyiapan Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan. Di dalam Spesifikasi Umum dijelaskan dalam garis besar pengertian spesifikasi, jenis spesifikasi, penggunaan spesifikasi, penggunaan Spesifikasi Teknis, dan struktur spesifikasi. Dari uraian yang diketengahkan dalam Spesifikasi Umum dapat digarisbawahi bahwa jenis spesifikasi yang kita gunakan adalah Multi Step and Method Specification, yaitu spesifikasi yang mengatur ketentuan tentang semua langkah, material yang harus digunakan dan metode kerja, serta hasil kerja yang diharapkan. Agak berbeda dengan Spesifikasi yang digunakan sebelumnya, Spesifikasi yang disarankan untuk digunakan adalah Spesifikasi Bidang Jalan dan Jembatan versi Tahun Selain Spesifikasi Umum, tergantung dari desain jembatan yang dibuat, ada kemungkinan Ahli Perencana Teknis Jembatan perlu menyiapkan Spesifikasi Khusus karena tuntutan produk desain yang dibuat, misalnya karena persyaratan bahan yang diperlukan tidak dicakup di dalam Spesifikasi Umum. Penyiapan Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan merupakan salah satu tugas perencanaan teknis, hanya merupakan perkiraan dan digunakan sebagai dasar perhitungan penawaran. Kuantiítas yang pasti dari setiap item pekerjaan ditentukan dari hasil pengukuran volume hasil pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor yang disetujui pengguna jasa Penyiapan Spesifikasi Umum Pengertian Spesifikasi Spesifikasi adalah suatu uraian atau ketentuan-ketentuan yang disusun secara lengkap dan jelas mengenai suatu barang, metode atau hasil akhir pekerjaan yang dapat dibeli, dibangun atau dikembangkan oleh pihak lain sedemikian sehingga dapat memenuhi keinginan semua pihak yang terkait. 5-1
58 Spesifikasi adalah suatu tatanan teknik yang dapat membantu semua pihak yang terkait dengan proyek untuk sependapat dalam pemahaman sesuatu hal teknis tertentu yang terjadi dalam suatu pekerjaan. Dengan demikian Spesifikasi diharapkan dapat : Mengurangi beda pendapat atau pertentangan yang tidak perlu; Mendorong efisiensi penyelenggaraan proyek, tertib proyek dan kerjasama dalam penyelenggaraan proyek; Mengurangi kerancuan teknis pelaksanaan pekerjaan; Spesifikasi, yang semula merupakan bagian dari Dokumen Proyek, setelah kontrak ditandatangani oleh penyedia jasa dan pengguna jasa, menjadi bagian dari Dokumen Kontrak. Sebagai bagian dari Dokumen Kontrak, untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman tentang lembar-lembar spesifikasi yang telah menjadi acuan untuk pelaksanaan di lapangan, baik penyedia jasa (kontraktor) maupun pengguna jasa (pemilik proyek) perlu memberikan paraf pada setiap halaman spesifikasi. Spesifikasi adalah salah satu elemen dari Dokumen Proyek yang menguraikan secara rinci ketentuan-ketentuan teknis dari Proyek dimaksud Jenis-jenis spesifikasi A. Spesifikasi Hasil Akhir (End Result Specification) Merupakan jenis spesifikasi yang mensyaratkan pencapaian dimensi dan kualitas akhir suatu pekerjaan, tanpa mempersoalkan metode kerja yang digunakan untuk mencapai produk akhir tersebut. Proses Kerja, Metode Kerja tidak dipersoalkan Produk Akhir Dimensi dan kualitas, ini yang harus dicapai, tanpa melihat metode kerja Masih perlu penjabaran lebih lanjut, apa yang dimaksud dengan hasil akhir suatu pekerjaan, apakah hasil akhir dari suatu item pekerjaan ataukah hasil akhir dari suatu Seksi Pekerjaan, ataukah hasil akhir dari suatu Divisi Pekerjaan ataukah hasil akhir dari total proyek? 5-2
59 B. Spesifikasi Proses Kerja (Specification By Process) Merupakan spesifikasi dimana yang diatur adalah semua ketentuan yang harus dilaksananakan selama proses pelaksanaan pekerjaan, dengan harapan hasil kerja yang diperoleh sesuai dengan yang diinginkan. Mulai Masukan Proses Produk Akhir Stop Mengatur semua ketentuan yang harus dilaksanakan Harapan : Hasil kerja sesuai dengan yang diinginkan Yang dimaksud dengan proses adalah upaya mencapai produk akhir yang diatur sesuai dengan ketentuan yang ada pada setiap pay item. C. Multi Step And Method Specification Merupakan spesifikasi yang mengatur ketentuan tentang semua langkah, material yang harus digunakan dan metode kerja, serta hasil kerja yang diharapkan. Produk Mulai Masukan Proses Akhir Stop Material, ada ketentuan yang harus dipenuhi Spesifikasi untuk prasarana jalan / jembatan lebih condong kepada jenis Multi Step and Method Specification, karena jenis spesifikasi ini memberikan bimbingan cara pelaksanaan langkah demi langkah agar diperoleh hasil pekerjaan yang sesuai dengan yang dipersyaratkan. Spesifikasi yang dipilih atau digunakan adalah jenis Multi Step and Method Specification. Metode kerja, harus mendapatkan persetujuan Direksi Sesuai dng persyaratan yang ditetapkan oleh pemilik proyek Pemilihan jenis Spesifikasi ini juga memberi kemudahan bagi kontraktor yang baru pertama kali menangani pekerjaan jalan dan jembatan Penggunaan Spesifikasi Spesifikasi digunakan dalam 2 tahap yaitu tahap pra kontrak dan tahap pelaksanaan kontrak. Baik pada tahap pra kontrak maupun tahap 5-3
60 pelaksanaan kontrak, ada 3 unsur yang berkepentingan terhadap spesifikasi yaitu pemilik proyek (pengguna jasa), kontraktor (penyedia jasa) maupun konsultan (penyedia jasa). Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang apa kepentingan masing-masing unsur tersebut dalam tiap-tiap tahapan kontrak : A. Tahap Pra Kontrak 1. Pemimpin Proyek a). Diwakili oleh Pinpro/Pinbagpro dan Panitia Pengadaan b). Pinpro/Pinbagpro membentuk Panitia Pengadaan yang ditugasi untuk menyelenggarakan proses pengadaan dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, menyangkut pada 2 aspek yaitu aspek administratif dan aspek teknis. c). Aspek teknis yang harus dipedomani oleh Panitia Pengadaan di dalam menyelenggarakan proses pengadaan adalah Spesifikasi yang telah ditentukan oleh Pemilik Proyek, jadi Panitia Pengadaan tidak perlu membuat ketentuan-ketentuan teknik lagi. 2. Kontraktor a). Kontraktor perlu mempelajari secara cermat isi Spesifikasi sebagai bahan pertimbangan dalam menyiapkan penawaran dalam keikutsertaannya dalam proses pengadaan. b). Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya persepsi yang salah terhadap isi Spesifikasi, kontraktor perlu memanfaatkan tahap aanwijzing dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan Spesifikasi, agar didalam menyiapkan penawaran dapat diperoleh besarnya penawaran yang realistis, masih memberikan harapan keuntungan yang wajar apabila proyek dilaksanakan dengan prinsip tepat mutu, tepat waktu dan tepat biaya. 3. Konsultan a). Spesifikasi standar yang telah ada biasanya disebut Spesifikasi Umum. Pada tahap pra kontrak konsultan perlu melakukan review terhadap Spesifikasi Umum disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, berkaitan dengan aspek penyempurnaan perencanaan teknis yang berakibat terhadap kemungkinan penambahan atau pengurangan item pekerjaan. 5-4
61 b). Review tersebut di atas bisa berakibat perlu adanya tambahan item pekerjaan maupun pengurangan item pekerjaan. c). Jika di dalam Spesifikasi Umum belum terdapat item pekerjaan sebagaimana dihasilkan oleh review dimaksud, maka konsultan tidak perlu mengubah Spesifikasi Umum yang ada akan tetapi harus menyiapkan Spesifikasi Khusus sebagai tambahan terhadap Spesifikasi Umum. d). Spesifikasi Umum dan Spesifiksi Khusus tersebut kemudian disebut sebagai Spesifikasi. e). Membantu Panitia Pengadaan dalam menjelaskan isi Spesifikasi selama proses aanwijzing. B. Tahap Pelaksanaan Kontrak 1. Pemilik Proyek a). Tanggung jawab teknis penyelenggaraan proyek agar sesuai dengan Spesifikasi ada pada Pinpro/Pinbagpro yang diperankan sebagai Wakil Pemilik Proyek. b). Spesifikasi (Multi Step and Method Specification) dijadikan acuan oleh Wakil Pemilik Proyek untuk mengendalikan pelaksanaan proyek agar sesuai dengan Spesifikasi yang mengatur ketentuan tentang semua langkah, material yang harus digunakan dan metode kerja, serta hasil kerja yang diharapkan. 2. Kontraktor a). Spesifikasi (Multi Step and Method Specification) harus dijadikan acuan oleh kontraktor dalam melaksanakan proyek, agar di dalam melaksanakan seluruh pay item pekerjaan kontraktor dapat mengikuti ketentuan tentang semua langkah, material yang harus digunakan dan metode kerja, serta hasil kerja yang diharapkan. b). Jika kontraktor melaksanakan item pekerjaan yang menyimpang dari ketentuan yang telah diatur di dalam spesifikasi, maka kontraktor harus siap menerima kemungkinan hasil pekerjaannya ditolak oleh PemilikProyek. 3. Konsultan 5-5
62 a). Spesifikasi (Multi Step and Method Specification) harus dijadikan acuan oleh konsultan untuk melakukan pengawasan teknis terhadap pelaksanaan seluruh item pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor, mencakup : Pengawasan mutu hasil pekerjaan. Pengendalian kuantitas pekerjaan Pengawaan metode pelaksanaan konstruksi. b). Pengawasan dengan berbekal Spesifikasi tersebut dilakukan oleh konsultan di dalam menjalankan fungsinya sebagai Engineer's Representative Penggunaan Spesifikasi Teknis Spesifikasi teknis ini digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan pekerjaan: A. Pemeliharaan Jalan dan Jembatan 1. Pemeliharaan Rutin Jalan / Jembatan. 2. Pemeliharaan Berkala Jalan. B. Proyek Pembangunan Jalan dan Jembatan 1. Pembangunan Jalan / Jembatan 2. Peningkatan Jalan 3. Penggantian Jembatan C. Perencanaan dan Pengawasan Jalan dan Jembatan Ketiga kegiatan tersebut di atas menggunakan Spesifikasi untuk kepentingan yang berbeda, meskipun masing-masing menggunakannya dalam posisi mewakili Pemilik. Pada proyek-proyek fisik, telah dijelaskan penggunaan Spesifikasi baik pada tahap pra kontrak maupun tahap pelaksanaan kontrak. Sedangkan pada proyek-proyek perencanaan, Spesifikasi (Spesifikasi Umum dan Spesifikasi Khusus) merupakan salah satu jenis dokumen dari dokumen proyek yang merupakan produk perencanaan. Kemudian pada proyekproyek pengawasan, Spesifikasi (Spesifikasi Umum dan Spesifikasi Khusus) merupakan dokumen untuk pengendalian proyek mencakup pengawasan teknis dan tindak turun tangan terhadap hasil kerja kontraktor. 5-6
63 Struktur Spesifikasi Mengacu pada Spesifikasi Umum Bidang Jalan Dan Jembatan versi tahun 2007, struktur spesifikasi umum bidang jalan dan jembatan terdiri atas 11 Divisi dan 63 Seksi sebagai berikut : A. DIVISI 1 UMUM Seksi 1.1 Seksi 1.2 Seksi 1.3 Seksi 1.4 Ketentuan Umum Persiapan Pengaturan Lalu Lintas Relokasi Utilitas dan Pembersihan B. DIVISI 2 DRAINASE Seksi 2.1 Seksi 2.2 Seksi 2.3 Seksi 2.4 Selokan dan Saluran Air Pasangan Batu dengan Mortar untuk Selokan dan Saluran Air Gorong-gorong Drainase Porous C. DIVISI 3 PEKERJAAN TANAH Seksi 3.1 Seksi 3.2 Seksi 3.3 Seksi 3.4 Galian Timbunan Penyiapan Tanah Dasar Pengupasan dan Pencampuran Kembali Lapis Perkerasan D. DIVISI 4 PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN Seksi 4.1 Seksi 4.2 Pelebaran Perkerasan Bahu Jalan E. DIVISI 5 PERKERASAN BERBUTIR DAN BETON SEMEN Seksi 5.1 Seksi 5.2 Lapis Pondasi Agregat Lapis Pondasi Tanpa Penutup Aspal 5-7
64 Seksi 5.3 Seksi 5.4 Seksi 5.5 Seksi 5.6 Lapis Pondasi Tanah semen Lapis Pondasi Agregat Semen Perkerasan Beton Wet Lean Concrete F. DIVISI 6 PERKERASAN ASPAL Seksi 6.1 Seksi 6.2 Seksi 6.3 Seksi 6.4 Seksi 6.5 Seksi 6.6 Seksi 6.7 Lapis Resap Ikat dan Lapis Perekat Laburan Aspal Satu Lapis (Burtu) dan Laburan Aspal Dua Lapis (Burda) Campuran Beraspal Panas Lasbutag Campuran Beraspal Dingin Lapis Penetrasi Macadam Laburan Aspal (Buras) G. DIVISI 7 STRUKTUR Seksi 7.1 Seksi 7.2 Seksi 7.3 Seksi 7.4 Seksi 7.5 Seksi 7.6 Seksi 7.7 Seksi 7.8 Seksi 7.9 Beton Beton Prategang Baja Tulangan Baja struktur Kayu Pondasi Tiang Pondasi Sumuran Adukan Semen Pasangan batu Seksi 7.10 Pasangan Batu Kosong dan Bronjong Seksi 7.11 Sambungan Siar Muai Seksi 7.12 Landasan Jembatan Seksi 7.13 Sandaran 5-8
65 Seksi 7.14 Papan Nama Jembatan Seksi 7.15 Pembongkaran struktur Seksi 7.16 Turap Seksi 7.17 Pipa Cucuran Seksi 7.18 Parapet H. DIVISI 8 PENGEMBALIAN KONDISI Seksi 8.1 Seksi 8.2 Pengembalian Kondisi Perkerasan Lama Pengembalian Kondisi Bahu Jalan Pada Perkerasan Berpenutup Aspal Seksi 8.3 Seksi 8.4 Pengembalian Kondisi Selokan, Saluran Air dan Lereng Pengembalian Kondisi Jembatan I. DIVISI 9 PEKERJAAN HARIAN Seksi 9.1 Penanggulangan Keadaan Darurat J. DIVISI 10 PEKERJAAN HARIAN Seksi 10.1 Seksi 10.2 Pemeliharaan Rutin Perkerasan, Bahu Jalan, Drainase, Perlengkapan Jalan dan Jembatan Pemeliharaan Rutin Jalan Samping dan Jembatan Sementara K. DIVISI 11 PERLENGKAPAN JALAN Seksi 11.1 Seksi 11.2 Seksi 11.3 Seksi 11.4 Seksi 11.5 Seksi 11.6 Seksi 11.7 Rambu-rambu Lalu Lintas Marka Jalan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas Trotoar, Median, Separator dan Pulau Jalan Pagar Pemisah Pedestrian Jembatan Penyeberangan Pejalan Kaki Deliniator, Paku Jalan dan Mata Kucing 5-9
66 Seksi 11.8 Seksi Pita Pengaduh Kerb Pracetak Pemisah Jalan (Concrete Barrier) Seksi Penataan Tanaman Jalan Seksi Penerangan Jalan dan Pekerjaan Elektrikal Dari 11 Divisi tersebut di atas, Divisi 7 Struktur sepenuhnya digunakan untuk keperluan pekerjaan jembatan. Akan tetapi perlu digarisbawahi bahwa pekerjaan jembatan tidak hanya menggunakan Divisi 7 Struktur saja karena pekerjaan jembatan juga memerlukan Divisi-divisi lainnya. Hal ini merupakan konsekwensi dari memasukkan pekerjaan oprit jembatan menjadi bagian dari pekerjaan jembatan. Untuk menangani oprit jembatan diperlukan pekerjaan tanah dan pekerjaan perkerasan, artinya paling tidak Divisi 3, Divisi 5 dan Divisi 6 diperlukan untuk pekerjaan oprit jembatan. Dengan demikian pengertian Penyiapan Spesifikasi yang merupakan bagian dari Perencanaan Teknis Jembatan adalah Penyiapan Spesifikasi Umum (11 Divisi) dan Spesifikasi Khusus, tidak hanya terbatas pada penyiapan Divisi 7 Struktur yang merupakan substansi utama terkait dengan pekerjaan jembatan Penyiapan Spesifikasi Khusus Spesifikasi Khusus harus disiapkan jika di dalam Gambar Rencana terdapat struktur pekerjaan yang persyaratan bahan, toleransi dimensi, dan acuan yang digunakan tidak terdapat dalam Spesifikasi Umum. Struktur pekerjaan tersebut harus diuraikan ke dalam sejumlah item pekerjaan, sehingga cara pengukuran volume dan cara pembayarannya dapat dirinci di dalam Spesifikasi Khusus Penyiapan Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan Daftar kuantiítas dan harga berisi Mukadimah, Rekapitulasi Daftar Kuantiítas dan Harga serta Daftar Kuantitas dan Harga. Kuantitas yang tercantum dalam Daftar Kuantiítas dan Harga yang diisi oleh pengguna jasa merupakan perkiraan dan hanya digunakan sebagai dasar perhitungan penawaran. Kuantiítas yang pasti dari setiap item pekerjaan ditentukan 5-10
67 dari hasil pengukuran volume hasil pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor yang disetujui pengguna jasa. Harga Satuan yang dibuat oleh penawar lelang harus mencakup semua kewajiban kontraktor berdasarkan Kontrak serta segala hal yang diperlukan untuk pelaksanaan, penyelesaian, dan perbaikan pekerjaan. Dalam sistem kontrak harga satuan, maka harga satuan yang tercantum dalam Daftar Kuantitas dan Harga adalah yang mengikat dalam kontrak dan digunakan sebagai dasar pembayaran atas hasil pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor. Harga satuan tersebut tidak boleh diubah kecuali untuk perubahan volume pekerjaan melebihi jumlah tertentu sesuia ketentuan kontrak, termasuk apabila terdapat perbedaan dengan harga yang tercantum dalam Analisa Harga Satuan. Dalam harga satuan tersebut telah termasuk biaya umum dan keuntungan perusahaan. Kecuali apabila dirinci lain dalam Daftar Kuantiítas dan Harga atau ditetapkan lain dalam Kontrak, maka tenaga verja termasuk pengawasannya, vanbahan, peraltan kontraktor, pekerjaan sementara, transportasi ke dan dari lapangan, dan di dalam dan di sekitar pekerjaan, segala sesuatu yang lain yang diperlukan untuk pelaksanaan, penyelesaian, dan perbaikan pekerjaan tidak akan diukur dan biayanya harus dianggap sudah termasuk dalam harga-harga dalam Daftar Kuantitas dan Harga. Penomoran mata pembayaran dalam Daftar Kuantitas dan Harga sama dengan penomoran yang ada dalam spesifikasi teknis sesuai dengan jenis pekerjaan yang terkait. Daftar Kuantiítas dan Harga memuat: Mata Pembayaran, Uraian, Satuan, Perkiraan Kuantiítas, Harga Satuan, dan Jumlah Harga. Semua jumlah harga untuk masing-masing Divisi dijumlahkan dalam lembar Rekapitulasi dan sekaligus ditambahkan Pajak Pertambahan NIlai (PPN). Dalam sistem kontrak harga satuan maka Total Harga Penawaran yang ada dalam Rekapitulasi dapat diubah sesuai perubahan yang ada dalam perhitungan perkalian dan pertambahan masing-masing mata pembayaran akibat dilakukannya koreksi aritmatik. 5-11
68 RANGKUMAN a. Penyiapan Spesifikasi mencakup Spesifikasi Umum, Spesifikasi Khusus dan Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan. b. Spesifikasi diharapkan dapat : Mengurangi beda pendapat atau pertentangan yang tidak perlu; Mendorong efisiensi penyelenggaraan proyek, tertib proyek dan kerjasama dalam penyelenggaraan proyek; Mengurangi kerancuan teknis pelaksanaan pekerjaan. c. Ada 3 jenis Spesifikasi yang dikenal, yaitu : End Result Specification / Performance Specification (Spesifikasi Produk Akhir), yaitu jenis Spesifikasi dimana yang dipersyaratkan adalah dimensi dan kualitas produk akhir yang harus dicapai, tanpa mempersoalkan metode kerja untuk mencapai hasil akhir tsb. Process Specification (Spesifikasi Proses Kerja), yaitu jenis Spesifikasi dimana yang diatur adalah semua ketentuan yang harus dilaksanakan selama proses pelaksanaan pekerjaan. Dengan mengatur semua proses pelaksanaan pekerjaan, diharapkan hasil kerja yang akan diperoleh akan sesuai dengan yang diinginkan. Multi Step and Method Specification, yaitu jenis Spesifikasi yang mengatur semua langkah, material, metode kerja dan hasil kerja yang diharapkan. Spesifikasi Umum yang kita gunakan untuk bidang jalan dan jembatan termasuk jenis Multi Step and Method Specification. d. Spesifikasi Khusus harus disiapkan jika di dalam Gambar Rencana terdapat struktur pekerjaan yang persyaratan bahan, toleransi dimensi, dan acuan yang digunakan tidak terdapat dalam Spesifikasi Umum. e. Daftar Kuantitas dan Harga Satuan Pekerjaan merupakan salah satu tugas perencanaan teknis, merupakan perkiraan dan hanya digunakan sebagai dasar perhitungan penawaran. Kuantiítas yang pasti dari setiap item pekerjaan ditentukan dari hasil pengukuran volume hasil pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor yang disetujui pengguna jasa. 5-12
69 LATIHAN / PENILAIAN MANDIRI Latihan atau penilaian mandiri menjadi sangat penting untuk mengukur diri atas tercapainya tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh para pengajar/ instruktur, maka pertanyaan dibawah perlu dijawab secara cermat, tepat dan terukur. Kode/ Judul Unit Kompetensi : INA : Membuat laporan perencanaan teknis jembatan Soal : No. Elemen Kompetensi / KUK (Kriteria Unjuk Kerja) Pertanyaan Ya Tdk Jawaban: Apabila Ya sebutkan butirbutir kemampuan anda 1. Membuat laporan penggunaan data teknis Sudah dibuat soalnya di Bab 2 2. Membuat laporan nota perencanaan Sudah dibuat soalnya di Bab 3 3. Menyiapkan gambar rencana Sudah dibuat soalnya di Bab 4 4. Menyusun spesifikasi sesuai gambar rencana berdasarkan standar spesifikasi yang berlaku 4.1. Spesifikasi Umum disusun mengikuti standar yang berlaku 4.1. Apakah anda mampu menyusun Spesifikasi Umum mengikuti standar yang berlaku? a.... b.... c.... dst Spesifikasi Khusus disiapkan sesuai dengan persyaratan teknis yang diperlukan 4.2. Apakah anda mampu menyiapkan Spesifikasi Khusus sesuai dengan persyaratan teknis yang diperlukan? a.... b.... c.... dst Daftar kuantitas dan harga satuan pekerjaan disiapkan sesuai dengan format yang telah ditentukan 4.3. Apakah anda mampu menyiapkan daftar kuantitas dan harga satuan pekerjaan? a.... b.... c.... dst. 5-13
PELATIHAN AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN (BRIDGE DESIGN ENGINEER)
BDE 2 = KOORDINASI PENGUMPULAN DAN PENGGUNAAN DATA TEKNIS Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi Kode : INA.5212.113.1.2.7 Judul : Melakukan Koordinasi Untuk Pengumpulan Dan Penggunaan Data Teknis
PELATIHAN AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN (BRIDGE DESIGN ENGINEER)
BDE 06 = PERENCANAAN OPRIT (JALAN PENDEKAT), BANGUNAN PELENGKAP DAN PENGAMAN JEMBATAN Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi Kode : INA.5212.113.01.06.07 Judul : Merencanakan Oprit (Jalan Pendekat),
Bahu Jalan Berdasarkan MKJI KATA PENGANTAR
Dan Bahu Jalan Berdasarkan MKJI KATA PENGANTAR Pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Jasa Konstruksi bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sesuai bidang kerjanya, agar mereka mampu berkompetisi
Sebidang Atau Tidak Sebidang KATA PENGANTAR
Penerapan Prinsip Dasar Persimpangan KATA PENGANTAR Pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Jasa Konstruksi bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sesuai bidang kerjanya, agar mereka mampu berkompetisi
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI)
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI) Judul Pelatihan : AHLI TEKNIK LALU LINTAS (TRAFFIC ENGINEER ) Kode Jabatan Kerja : INA.5211.113.07 Kode Pelatihan : DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN
BAB III METODOLOGI. 3.2 TAHAPAN PENULISAN TUGAS AKHIR Bagan Alir Penulisan Tugas Akhir START. Persiapan
METODOLOGI III - 1 BAB III METODOLOGI 3.1 TAHAP PERSIAPAN Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Pada tahap ini disusun hal-hal penting yang harus
BAB III METODOLOGI. Bab III Metodologi 3.1. PERSIAPAN
BAB III METODOLOGI 3.1. PERSIAPAN Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Dalam tahap awal ini disusun hal-hal penting yang harus segera dilakukan
PELATIHAN AHLI TEKNIK LALU LINTAS (TRAFFIC ENGINEER)
DRAFT TRE 01 = PENERAPAN KETENTUAN UNDANG-UNDANG JASA KONSTRUKSI DAN UNDANG-UNDANG TERKAIT Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi Kode : INA.5211.113.07.01.07 Judul : Menerapkan Ketentuan Undang-
KATA PENGANTAR merepresentasikan unit kompetensi
KATA PENGANTAR Pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Jasa Konstruksi bertujuan untuk meningkatkan kompetensi sesuai bidang kerjanya, agar mereka mampu berkompetisi dalam memperebutkan pasar kerja.
STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN
STANDAR JEMBATAN DAN SNI DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN 1 BAB I JEMBATAN PERKEMBANGAN JEMBATAN Pada saat ini jumlah jembatan yang telah terbangun di Indonesia
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI)
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan : Teknisi Geoteknik Klasifikasi : Bagian Sub Bidang Sumber Daya Air Kualifikasi : Sertifikat III (tiga) / Teknisi Senior Kode Jabatan Kerja
PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR
( 8 ) PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN Januari 2009 D E P A R T E M E N P E K E R J A A N U M U M D I R E K T O R A T J E N D E R A L B I N A M A R G A D I R E K T O R A T B I N
BAB III METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM
III - 1 BAB III 3.1 TINJAUAN UMUM Di dalam suatu pekerjaan konstruksi diperlukan suatu rancangan yang dimaksudkan untuk menentukan fungsi struktur secara tepat dan bentuk yang sesuai serta mempunyai fungsi
STANDAR LATIHAN KERJA
STANDAR LATIHAN (S L K) Bidang Ketrampilan Nama Jabatan : Pengawasan Jembatan : Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridges) Kode SKKNI : INA.5212. 322.04 DEPARTEMEN PEAN UMUM BADAN
BAB I PENDAHULUAN Tinjauan Umum
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Jembatan sebagai sarana transportasi mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelancaran pergerakan lalu lintas. Dimana fungsi jembatan adalah menghubungkan rute/lintasan
LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JALAN LAYANG SUMPIUH - BANYUMAS
III - 1 BAB III METODOLOGI 3.1. PENDAHULUAN Proses perencanaan yang terstruktur dan sisitematis diperlukan untuk menghasilkan suatu karya yang efektif dan efisien. Pada jembatan biasanya dirancang menurut
PELATIHAN SOIL MECHANICS OF ROAD CONSTRUCTION ENGINEER
SMR 01 = UUJK, SMK3 DAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN KERJA Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi Kode : INA.5211.113.05.01.07 Judul : Menerapkan UUJK, K3 dan Pengendalian Lingkungan PELATIHAN SOIL
BAB III METODOLOGI 3.1. PERSIAPAN
BAB III METODOLOGI III - 1 BAB III METODOLOGI 3.1. PERSIAPAN Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Dalam tahap awal ini disusun hal-hal penting yang
BAB 3 LANDASAN TEORI. perencanaan underpass yang dikerjakan dalam tugas akhir ini. Perencanaan
BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Geometrik Lalu Lintas Perencanan geometrik lalu lintas merupakan salah satu hal penting dalam perencanaan underpass yang dikerjakan dalam tugas akhir ini. Perencanaan geometrik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti dibawah ini. Gambar 2.1. Komponen Jembatan 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang memindahkan
PELATIHAN AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN (BRIDGE DESIGN ENGINEER)
BDE 05 = PERENCANAAN PONDASI JEMBATAN Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi Kode : INA.5212.113.01.05.07 Judul : Merencanakan Pondasi Jembatan PELATIHAN AHLI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN (BRIDGE
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN LAYANG PERLINTASAN KERETA API KALIGAWE DENGAN U GIRDER
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN LAYANG PERLINTASAN KERETA API KALIGAWE DENGAN U GIRDER Disusun oleh : Andy Muril Arubilla L2A 306 004 Novi Krisniawati L2A 306 023 Disetujui,
3.2. PENGUMPULAN DATA
62 BAB III METODOLOGI 3.1. PERSIAPAN Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Dalam tahap awal ini disusun hal-hal penting yang harus segera dilakukan
PELATIHAN MANDOR PERKERASAN ASPAL (FOREMAN OF ASPHALT PAVEMENT)
FAP 05 = PEMERIKSAAN, EVALUASI DAN PELAPORAN Merepresentasikan Kode / Judul Unit Kompetensi Kode : INA.5211.222.04.01.07 Judul : Melaporkan Hasil Pelaksanaan Pekerjaan Perkerasan Aspal PELATIHAN MANDOR
PERANCANGAN JEMBATAN KATUNGAU KALIMANTAN BARAT
PERANCANGAN JEMBATAN KATUNGAU KALIMANTAN BARAT TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU Oleh : RONA CIPTA No. Mahasiswa : 11570 / TS NPM : 03 02 11570 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ATMA
MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya jumlah pemakai jalan yang akan menggunakan sarana tersebut.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Pembangunan sarana transportasi mempunyai peranan penting dalam perkembangan sumber daya manusia saat ini sebab disadari makin meningkatnya jumlah pemakai
BAB I STANDAR KOMPETENSI
BAB I STANDAR KOMPETENSI 1.1 Judul Unit Kompetensi Menyediakan Data Untuk Pembuatan Gambar Kerja. 1.2 Kode Unit. 1.3 Deskripsi Unit Unit kompetensi ini mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku
Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir
Tugas Akhir PERENCANAAN JEMBATAN BRANTAS KEDIRI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM BUSUR BAJA Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : 3109100096 Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dewasa ini perkembangan pengetahuan tentang perencanaan suatu bangunan berkembang semakin luas, termasuk salah satunya pada perencanaan pembangunan sebuah jembatan
OLEH : ANDREANUS DEVA C.B DOSEN PEMBIMBING : DJOKO UNTUNG, Ir, Dr DJOKO IRAWAN, Ir, MS
SEMINAR TUGAS AKHIR OLEH : ANDREANUS DEVA C.B 3110 105 030 DOSEN PEMBIMBING : DJOKO UNTUNG, Ir, Dr DJOKO IRAWAN, Ir, MS JURUSAN TEKNIK SIPIL LINTAS JALUR FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT
Kode Unit Kompetensi : SPL.KS Pelatihan Berbasis Kompetensi Pelaksana Lapangan Perkerasan Jalan Beton
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI Kode Unit Kompetensi : SPL.KS21.222.00 Pelatihan Berbasis Kompetensi Pelaksana Lapangan Perkerasan
BAB V ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF JEMBATAN
BAB V ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF JEMBATAN Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan untuk membangun berbagai jenis konstruksi jembatan, yang pelaksanaannya menyesuaikan dengan kebutuhan kondisi setempat.
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI)
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan : Juru Gambar Pekerjaan Jalan Dan Jembatan Kode Jabatan Kerja : INA. 521322109 / KON. ST. III Kode Pelatihan : DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI)
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan : Inspektur Bendungan Tipe Urukan Klasifikasi : Pengawasan Bagian Sub Bidang Pekerjaan Bendungan Kualifikasi : Sertifikat IV (Empat) / Ahli
BAB III METODE PELAKSANAAN
BAB III METODE PELAKSANAAN 3.1 Pekerjaan Persiapan dan pengumpulan Data 3.1.1 Pekerjaan Persiapan Pekerjaan yang harus dipersiapkan guna memperlancar jalannya pelaksanaan pekerjaan Perencanaan Teknis dan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jembatan merupakan prasarana umum yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Jembatan merupakan salah satu prasarana transportasi yang sangat penting
DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG
DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemerintah Kota Semarang dalam rangka meningkatkan aktivitas
BAB III METODOLOGI III.1 Persiapan III.2. Pengumpulan Data
BAB III METODOLOGI III.1 Persiapan Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Dalam tahap awal ini disusun hal-hal penting yang harus segera dilakukan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Definisi dan Klasifikasi jembatan serta standar struktur jembatan I.1.1 Definisi Jembatan : Jembatan adalah suatu struktur yang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Definisi dan Klasifikasi jembatan serta standar struktur jembatan I.1.1 Definisi Jembatan : Jembatan adalah suatu struktur yang memungkinkan route jalan melintasi halangan yang berupa
BAB I PE DAHULUA 1.1 Umum
BAB I PE DAHULUA 1.1 Umum Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya pengembangan suatu wilayah/daerah ialah Sistem Transportasi. Jalan raya dan jembatan merupakan bagian dari sistem transportasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. meskipun istilah aliran lebih tepat untuk menyatakan arus lalu lintas dan
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Arus Lalu lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk mendefenisikan arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama,
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI)
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI) Judul Pelatihan : FOREMAN OF ASPHALT PAVEMENT Kode Jabatan Kerja : INA.5211.222.04 Kode Pelatihan : DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Menurut Supriyadi (1997) jembatan adalah suatu bangunan yang memungkinkan suatu ajalan menyilang sungai/saluran air, lembah atau menyilang jalan lain yang tidak
DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG
DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG Antonius 1) dan Aref Widhianto 2) 1) Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung,
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI)
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI) Judul Pelatihan : COST ESTIMATOR OF BRIDGE Kode Jabatan Kerja : Kode Pelatihan : DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN
BAB 1 PENDAHULUAN Tahapan Perencanaan Teknik Jalan
BAB 1 PENDAHULUAN Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap jalan, dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada
Disusun Oleh: ADIB FAUZY L2A ERSY PERDHANA L2A Semarang, Nopember 2010 Disetujui :
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR EVALUASI DAN PERENCANAAN STRUKTUR JEMBATAN TEMPERAK I KM. SMG 157+530 REMBANG ( Evaluation and Design of The Temperak I Bridge KM. SMG 157+530 Rembang ) Diajukan untuk memenuhi
BAB III METODOLOGI 3.1. TINJAUAN UMUM
BAB III METODOLOGI 3.1. TINJAUAN UMUM Di dalam pembuatan suatu konstruksi bangunan diperlukan perencanaan yang dimaksudkan untuk menentukan fungsi struktur secara tepat, dan bentuk yang sesuai serta mempunyai
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN
DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN i ii iii iv vii xiii xiv xvii xviii BAB
BAB IV ANALISA DATA BAB IV ANALISA DAN PENGOLAHAN DATA IV - 1
BAB IV ANALISA DAN PENGOLAHAN DATA IV - 1 BAB IV ANALISA DATA Untuk memperoleh struktur jembatan yang efektif dan efisien maka diperlukan suatu perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan berbagai
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain (jalan air
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arus Lalu Lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk definisi arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama, meskipun
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjaun Umum Jembatan adalah suatu struktur yang melintasi suatu rintangan baik rintangan alam atau buatan manusia (sungai, jurang, persimpangan, teluk dan rintangan lain) dan
BAB III METODOLOGI 3. 1 TINJAUAN UMUM
BAB III METODOLOGI 3. 1 TINJAUAN UMUM Di dalam pembangunan suatu jalan diperlukan perencanaan yang dimaksudkan untuk merencanakan fungsi struktur secara tepat, dan bentuk bentuk yang sesuai serta mempunyai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jembatan Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Jembatan Pelengkung (arch bridges) Jembatan secara umum adalah suatu sarana penghubung yang digunakan untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah yang lainnya oleh karena
Perencanaan Geometrik & Perkerasan Jalan PENDAHULUAN
PENDAHULUAN Angkutan jalan merupakan salah satu jenis angkutan, sehingga jaringan jalan semestinya ditinjau sebagai bagian dari sistem angkutan/transportasi secara keseluruhan. Moda jalan merupakan jenis
MODUL SIB 04 : MEMBACA GAMBAR
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 04 : MEMBACA GAMBAR 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI)
SLK (STANDAR LATIH KOMPETENSI) Judul Pelatihan : AHLI DESAIN HIDRO MEKANIK (HYDRO MECHANICAL DESIGN ENGINEER) Kode Jabatan Kerja : INA. 5220.112.09 Kode Pelatihan :... DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Sub Sektor/ Bidang Pekerjaan : Sipil / Bangunan Gedung
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan : GEODETIC ENGINEER OF BUILDING Sub Sektor/ Bidang Pekerjaan : Sipil / Bangunan Gedung Klasifikasi Pekerjaan : Pelaksanaan, Semua Bagian Sub
ABSTRAK. Oleh : Wahyu Rifai Dosen Pembimbing : Sapto Budi Wasono, ST, MT
ABSTRAK PERENCANAAN ULANG JEMBATAN KALI MARMOYO STA 41 + 300 SAMPAI DENGAN STA 41 + 500 DENGAN METODE RANGKA BAJA DI KABUPATEN MOJOKERTO DAN PEHITUNGAN RAB Oleh : Wahyu Rifai Dosen Pembimbing : Sapto Budi
3.2 TAHAP PENYUSUNAN TUGAS AKHIR
BAB III METODOLOGI 3.1 TINJAUAN UMUM Untuk membantu dalam proses penyelesaian Tugas Akhir maka perlu dibuat suatu pedoman kerja yang matang, sehingga waktu untuk menyelesaikan laporan Tugas Akhir dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Jembatan adalah sebuah struktur konstruksi bangunan atau infrastruktur sebuah jalan yang difungsikan sebagai penghubung yang menghubungkan jalur lalu lintas pada
PEMBEBANAN JALAN RAYA
TKS 4022 Jembatan PEMBEBANAN JALAN RAYA Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University Peraturan Spesifikasi pembebanan yang membahas masalah beban dan aksi-aksi lainnya yang akan digunakan
KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA
KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S1 Teknik Sipil diajukan oleh : ARIF CANDRA SEPTIAWAN
PERENCANAAN UNDERPASS SIMPANG TUJUH JOGLO SURAKARTA
Lembar Pengesahan ii LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN UNDERPASS SIMPANG TUJUH JOGLO SURAKARTA ( DESIGN OF SIMPANG TUJUH JOGLO SURAKARTA UNDERPASS) Disusun Oleh : FARID WIBISONO L2A0 002 059 MOCH.
HALAMAN PENGESAHAN. Judul Tugas Akhir : EVALUASI DAN PERENCANAAN JEMBATAN KALI PELUS PURWOKERTO. Disusun oleh : Semarang, Agustus 2006
i HALAMAN PENGESAHAN Judul Tugas Akhir : EVALUASI DAN PERENCANAAN JEMBATAN KALI PELUS PURWOKERTO Disusun oleh : Muhamad Zaenuri L2A0 01 102 Noor Prihartanto L2A0 01 112 Semarang, Agustus 2006 Dosen Pembimbing
TKS 4022 Jembatan PEMBEBANAN. Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University
TKS 4022 Jembatan PEMBEBANAN Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University Peraturan Spesifikasi pembebanan yang membahas masalah beban dan aksi-aksi lainnya yang akan digunakan dalam perencanaan
MODUL RDE - 04: SURVEI PENENTUAN TRASE JALAN
PELATIHAN ROAD DESIGN ENGINEER (AHLI TEKNIK DESAIN JALAN) MODUL RDE - 04: SURVEI PENENTUAN TRASE JALAN 2005 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Tinjauan Umum
BAB I PENDAHULUAN I.1. Tinjauan Umum Peningkatan sarana transportasi sangat diperlukan sejalan dengan semakin pesatnya pertumbuhan sosial ekonomi pada hampir seluruh wilayah di Indonesia. Sehingga pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. Bab I - Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang. Pesatnya perkembangan dalam bidang ekonomi global menuntut adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan dalam bidang ekonomi global menuntut adanya pengembangan infrastruktur pendukungnya. Kegiatan yang serba cepat, serta masyarakat yang dituntut
disusun oleh : MOCHAMAD RIDWAN ( ) Dosen pembimbing : 1. Ir. IBNU PUDJI RAHARDJO,MS 2. Dr. RIDHO BAYUAJI,ST.MT
disusun oleh : MOCHAMAD RIDWAN (3111040607) Dosen pembimbing : 1. Ir. IBNU PUDJI RAHARDJO,MS 2. Dr. RIDHO BAYUAJI,ST.MT DIPLOMA 4 TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH
PEMILIHAN LOKASI JEMBATAN
PEMILIHAN LOKASI JEMBATAN 1. DIPILIH LINTASAN YANG SEMPIT DAN STABIL. ALIRAN AIR YANG LURUS 3. TEBING TEPIAN YANG CUKUP TINGGI DAN STABIL 4. KONDISI TANAH DASAR YANG BAIK 5. SUMBU SUNGAI DAN SUMBU JEMBATAN
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan Kerja : PELAKSANA PEMASANGAN PINTU AIR
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan Kerja : PELAKSANA PEMASANGAN PINTU AIR Klasifikasi : Pelaksanaan Sub Bidang Pekerjaan Sumber Daya Air Kualifikasi : Sertifikat III / Teknisi
PERANCANGAN JEMBATAN WOTGALEH BANTUL YOGYAKARTA. Laporan Tugas Akhir. Atma Jaya Yogyakarta. Oleh : HENDRIK TH N N F RODRIQUEZ NPM :
PERANCANGAN JEMBATAN WOTGALEH BANTUL YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : HENDRIK TH N N F RODRIQUEZ NPM
BAB I PENDAHULUAN Perkembangan Teknologi Jalan Raya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Perkembangan Teknologi Jalan Raya Sejarah perkembangan jalan dimulai dengan sejarah manusia itu sendiri yang selalu berhasrat untuk mencari kebutuhan hidup dan berkomunikasi dengan
I-1 BAB I PENDAHULUAN. I.1 Tinjauan Umum
I-1 I BAB I PENDAHULUAN I.1 Tinjauan Umum Jembatan sebagai sarana transportasi mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelancaran pergerakan lalu lintas. Dimana fungsi jembatan adalah menghubungkan
METODA KONSTRUKSI GELAGAR JEMBATAN BETON PRATEKAN PROYEK JALAN LAYANG CIMINDI BANDUNG
METODA KONSTRUKSI GELAGAR JEMBATAN BETON PRATEKAN PROYEK JALAN LAYANG CIMINDI BANDUNG Shita Andriyani NRP : 0321068 Pembimbing : Dr. Ir. Purnomo Soekirno JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
KERANGKA ACUAN KERJA KEGIATAN
KERANGKA ACUAN KERJA STUDI PENATAAN DAN PERENCANAAN DED KOMPONEN PSU KAWASAN KUMUH KEGIATAN PERENCANAAN DAN PENYIAPAN PRASARANA SARANA DAN UTILITAS KAWASAN KUMUH LOKASI : KABUPATEN BANGGAI LAUT TAHUN ANGGARAN
No. Klasifikasi Medan Jalan Raya Utama 1 Datar (D) 0 9,9 % 2 Perbukitan (B) 10 24,9 % 3 Pegunungan (G) >24,9 %
BAB IV ANALISA DATA Dalam proses perencanaan jembatan, setelah dilakukan pengumpulan data baik dari instansional maupun pustaka, dilanjutkan dengan evaluasi data / review study, berikutnya dilakukan analisis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Jembatan yang dibahas terletak di Desa Lebih Kecamatan Gianyar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jembatan yang dibahas terletak di Desa Lebih Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar Propinsi Bali, dan terletak kurang lebih 400 meter dari pantai lebih. Jembatan ini
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN KALI TEMPUR PADA RUAS JALAN TOL SEMARANG BAWEN
LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN KALI TEMPUR PADA RUAS JALAN TOL SEMARANG BAWEN (DESIGN OF KALI TEMPUR BRIDGE ON THE SEMARANG BAWEN TOLL WAY) Disusun oleh : DRYASMARA K NIM : L2A0 04
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 JENIS JEMBATAN Jembatan dapat didefinisikan sebagai suatu konstruksi atau struktur bangunan yang menghubungkan rute atau lintasan transportasi yang terpisah baik oleh sungai, rawa,
PERENCANAAN JEMBATAN MALANGSARI MENGGUNAKAN STRUKTUR JEMBATAN BUSUR RANGKA TIPE THROUGH - ARCH. : Faizal Oky Setyawan
MENGGUNAKAN STRUKTUR JEMBATAN BUSUR Oleh : Faizal Oky Setyawan 3105100135 PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA METODOLOGI HASIL PERENCANAAN Latar Belakang Dalam rangka pemenuhan dan penunjang kebutuhan transportasi
KERANGKA ACUAN KERJA DATABASE PERENCANAAN JALAN KECAMATAN SAMPANG KABUPATEN SAMPANG
KERANGKA ACUAN KERJA DATABASE PERENCANAAN JALAN KECAMATAN SAMPANG KABUPATEN SAMPANG I. LATAR BELAKANG Transportasi merupakan pendukung perekonomian suatu daerah. Tersedianya suatu jaringan dan sistem transportasi
MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN BANTAR III BANTUL-KULON PROGO (PROV. D. I. YOGYAKARTA) DENGAN BUSUR RANGKA BAJA MENGGUNAKAN BATANG TARIK
SEMINAR TUGAS AKHIR JULI 2011 MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN BANTAR III BANTUL-KULON PROGO (PROV. D. I. YOGYAKARTA) DENGAN BUSUR RANGKA BAJA MENGGUNAKAN BATANG TARIK Oleh : SETIYAWAN ADI NUGROHO 3108100520
3.2. TAHAP PERANCANGAN DESAIN
BAB III METODOLOGI 3.1. PERSIAPAN Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum pengumpulan dan pengolahan data, pada tahap ini disusun kegiatan yang harus dilakukan dengan tujuan untuk mengefektifkan
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41/PRT/M/2015
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41/PRT/M/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN KEAMANAN JEMBATAN DAN TEROWONGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data-data Umum Jembatan Beton Prategang-I Bentang 21,95 Meter Gambar 4.1 Spesifikasi jembatan beton prategang-i bentang 21,95 m a. Spesifikasi umum Tebal lantai jembatan
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI)
KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan : AHLI DETEKSI KEBOCORAN DAN COMMISSIONING JARINGAN PERPIPAAN SPAM Kode Jabatan Kerja :... Kode Pelatihan :... DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jembatan adalah infrastruktur yang menghubungkan suatu daerah yang terpisah karena adanya sungai, rawa, selat, jurang, dan rintangan lainnya. Adanya jembatan waktu tempuh
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan manusia adalah salah satunya dengan menyediakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu unsur yang sangat penting dan mendukung dalam usaha meningkatkan kesejahteraan manusia adalah salah satunya dengan menyediakan konstruksi jalan raya sebagai
PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN
TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN RANGKA BAJA SUNGAI AMPEL KABUPATEN PEKALONGAN Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Jalan adalah seluruh bagian Jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalulintas umum,yang berada pada permukaan tanah, diatas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Ruas jalan Cicendo memiliki lebar jalan 12 meter dan tanpa median, ditambah lagi jalan ini berstatus jalan arteri primer yang memiliki minimal kecepatan 60 km/jam yang
BAB III METODOLOGI III-1
III-1 BAB III METODOLOGI III.1 PENDAHULUAN Dalam proses perencanaan jalan perlu dilakukan analisa yang teliti, semakin rumit masalah yang dihadapi maka akan semakin kompleks pula analisa yang harus dilakukan.
III - 1 BAB III METODOLOGI
III - 1 BAB III METODOLOGI 3.1 PENDAHULUAN Dalam proses perencanaan jalan perlu dilakukan analisa yang teliti, semakin rumit masalah yang dihadapi maka akan semakin kompleks pula analisa yang harus dilakukan.
