BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Hadian Kusnadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Batu kandung kemih merupakan manifestasi paling sering dari batu saluran kemih bagian bawah. Data terakhir menunjukkan prevalensinya mencapai 5% dari semua kasus batu saluran kemih. Batu kandung kemih di daerah non endemik biasanya dijumpai pada orang dewasa dan biasanya berkaitan dengan proses penyakit yang menyebabkan stasis urin atau adanya benda asing. (Schwartz and Stoller, 2000). Di daerah endemik batu kandung kemih sering muncul pada anak-anak yang memiliki kelainan anatomik mayor, pada daerah ini faktor diet dan sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap pembentukan batu kandung kemih. (Benway and Bhayani, 2016). 2.1.Batu Kandung Kemih Primer Di Eropa dan Amerika Serikat, batu kandung kemih primer pada anak secara praktis sulit ditemukan seiring dengan perkembangan industrialisasi dan modernisasi diet sejak tahun 1900-an. (Schwartz and Stoller, 2000). Namun, batu kandung kemih pada anak-anak masih sangat umum dijumpai di daerah endemik seperti Afrika Utara, Asia Tengah, Balkans, India, Jepang, Thailand, dan Indonesia. Hal penting yang perlu ditekankan dari istilah primer dalam konteks batu kandung kemih adalah batu berkembang tanpa diikuti adanya faktor fungsional anatomi atau infeksi. Batu kandung kemih primer paling sering ditemukan pada anak-anak usia kurang dari 10 tahun dengan puncak insiden pada usia 2-4 tahun. (Ali and Rifat, 2005) Laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan perempuan dengan rasio 9:1. Batu biasanya soliter dan setelah dibuang jarang muncul kembali. Amonium urat, kalsium oksalat, asam urat, dan kalsium fosfat merupakan komponen tersering pada batu kandung kemih. Predisposisi pembentukan batu kandung kemih
2 berkaitan dengan faktor nutrisi dan sosial ekonomi. Anak-anak di daerah endemis cenderung mengkonsumsi makanan sereal yang kurang mengandung protein hewani dan kadar fosfat yang rendah. Defisiensi vitamin A juga dapat menyebabkan degenerasi dari sel-sel urotelial yang dapat merangsang timbulnya batu. Pasien dengan sosial konomi rendah dan sanitasi yang buruk sering terjadi diare yang dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi dan supersaturasi urin sehingga terbentuk batu di kandung kemih. (Benway and Bhayani, 2016) 2.2. Batu Kandung Kemih Sekunder Batu kandung kemih sekunder umumnya ditemukan pada laki-laki dewasa dengan usia lebih dari 60 tahun dan biasanya berkaitan dengan obstruksi dari saluran kemih bagian bawah (Yasui et al, 2008). Batu kandung kemih dapat berkembang secara de novo di kandung kemih atau maturasi dari nidus yang bermigrasi dari saluran kemih bagian atas yang gagal dikeluarkan secara spontan. Batu kandung kemih sekunder berkaitan dengan beberapa jenis kondisi sebagai berikut : (Benway and Bhayani, 2016) a. Bladder Outlet Obstruction Bladder Outlet Obstruction (BOO) mengakibatkan tidak sempurnanya proses pengeluaran urin dan menyebabkan retensi fragmen batu yang merupakan faktor predisposisi paling sering pada pembentukan batu kandung kemih, pada kasus non-neurogenic bladder dengan insiden 45% sampai 79% dari semua pasien yang didiagnosis dengan batu kandung kemih (Benway and Bhayani, 2016) Pada pria, obstruksi umumnya terjadi akibat pembesaran prostat jinak, sedangkan pada wanita sering terjadi akibat adanya sistokel atau prolaps organ pelvik. (Papatsoris et al, 2006). Striktur uretra, bladder neck contracture, dan divertikel kandung kemih merupakan penyebab lain yang dapat mengganggu pola miksi normal (Benway and Bhayani, 2016) Komposisi batu yang menyebabkan obstruksi bervariasi sesuai dengan letak geografis dan etnis. Di Eropa, didominasi oleh jenis batu struvit, kalsium fosfat, dan asam urat, sedangkan di Jepang jenis batu asam urat jarang terjadi,
3 tetapi jenis batu kalsium angka kejadiannya tinggi, mencapai 72% dari semua jenis batu yang ditemukan. Kalsium oksalat umumnya ditemukan di Amerika Serikat. (Yasui et al, 2008). Batu biasanya soliter, dengan kejadian mencapai 25% sampai 30% pasien (Benway and Bhayani, 2016) b. Neurogenic Bladder Neurogenic bladder pada pasien cedera tulang belakang atau myelomeningocele dapat meningkatkan risiko pembentukan batu kandung kemih. Pada dewasa dengan cedera tulang belakang, risiko untuk batu kandung kemih dapat terjadi 3 bulan setelah cedera awal hingga rentan waktu 10 tahun dengan angka kejadian 15-30% pasien akan terbentuk satu batu di kandung kemih (Chen et al, 2001). Setelah terbentuk satu batu, risiko pembentukan batu selanjutnya menjadi empat kali lipat (Ord et al, 2003). Tingkat dan keparahan dari cedera tulang belakang sangat berhubungan erat dengan risiko pembentukan batu kandung kemih, terutama pada tahun pertama (Sugimura et al, 2008). Pada penelitian sebelumnya dengan sampel 450 pasien menyebutkan bahwa penggunaan kateterisasi intermiten dapat menurunkan secara signifikan pembentukan batu kandung kemih, dengan risiko 0,2% lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang menggunakan kateter terus-menerus dengan risiko sebesar 4% (Ord et al, 2003, Mitsui et al, 2000). Selain itu, penggunaan kateterisasi intermiten steril dikaitkan dengan penurunan 40 kali lipat risiko rawat inap akibat batu kandung kemih (Ord et al, 2003). Hingga saat ini kateterisasi intermiten dianjurkan sebagai manajemen kandung kemih pada pasien-pasien Neurogenic Bladder. (Feifer and Corcos, 2008). c. Infeksi Saluran Kemih Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah episode bakteriuria signifikan (yaitu infeksi dengan jumlah koloni > mikroorganisme tunggal per ml) yang mengenai saluran kemih bagian atas, bagian bawah atau keduanya.( Pierce AG et al. 2006) Diagnosis infeksi saluran kemih biasanya ditegakkan berdasarkan urinalisa dan dikonfirmasi dengan kultur urin. Infeksi saluran kemih dapat terkait dengan
4 terjadinya batu kandung kemih pada % kasus. Proteus sp. adalah mikroorganisme yang paling sering dijumpai dari kultur urin. Proteus, dan sebagian strain Pseudomonas dan E. Coli menghasilkan urease yang menghidrolisis urea dan menghasilkan ammonia dan karbondioksida, meningkatkan ph dan supersaturasi urin sehingga terjadi pengendapan kristalkristal magnesium ammonium fosfat. (Torricelli et al, 2012) 2.3. Patogenesis Pembentukan Batu Saluran Kemih Pembentukan batu merupakan rangkaian kejadian yang komplek, melibatkan beberapa fase yang meliputi keadaan saturasi kristal, nukleasi, pertumbuhan dan agregasi kristal, inhibitor dan promotor Kristal (Basavaraj et al, 2007). Berikut ini di uraikan pembentukan batu berdasarkan fisikokimia yaitu: Keadaan Saturasi Supersaturasi adalah keadaan dimana larutan mengandung lebih banyak material sehingga tidak dapat larut yang seharusnya pada keadaan normal dapat larut. Kadar supersaturasi garam dinyatakan dalam rasio antara produk aktivitas ion dan produk yang terlarut. Titik dimana saturasi larutan tercapai dan mulai terjadi kristalisasi disebut sebagai produk termodinamik. Urin mengandung inhibitor kristalisasi dan dapat menahan konsentrasi kristal di atas keadaan termodinamik, keadaan ini disebut keadaan metastable. Jika konsentrasi kristal terus bertambah sampai keadaan terlarut tidak dapat dipertahankan, hal ini akan memicu terbentuknya produk dalam urin. (Basavaraj et al, 2007). Pada urin yang normal biasanya supersaturasi terjadi yang menyebabkan terbentuknya kristal kalsium oksalat, tetapi perubahan dari kristaluria menjadi batu biasanya dapat dihindari dengan adanya mekanisme kontrol biologik (Qiu et al, 2003) Nukleasi, Pertumbuhan Kristal dan Agregasi Nukleasi adalah fase pembentukan kristal solid dalam suatu larutan. Fase ini penting dalam tahap pembentukan batu. Urin bukanlah larutan murni dan nukleasi dalam urin sering terjadi pada permukaan kristal yang sudah terjadi sebelumnya.
5 Proses ini disebut nukleasi heterogen. Tempat terjadinya nukleasi heterogen di dalam urin bisa berupa sel epitel, sel darah merah, debris, kristal urin dan bakteri urin (Pearle et al, 2012). Proses nukleasi dalam larutan murni disebut juga nukleasi homogen. Pada nukleasi sekunder, deposit kristal baru terjadi pada permukaan kristal jenis yang sama yang sebelumnya telah terbentuk. Kristalisasi merupakan fase awal pembentukan batu saluran kemih. Batu terjadi akibat perubahan fase, dimana garam yang tidak larut berkumpul menjadi satu dan transformasi ini dipengaruhi oleh keadaan supersaturasi. Agregasi kristal dan penempelan kristal atau agregat ke nidus seperti sel epitel ginjal merupakan proses penting dalam pembentukan batu. Setelah proses nukleasi, pertumbuhan kristal adalah proses berikutnya yang penting dalam terjadinya batu saluran kemih. Agregasi kristal besar yang tertahan di duktus pengumpul dan protusi keluar menuju permukaan papilari juga memiliki peran dalam pembentukan batu (Baumann et al, 2011). Energi penggerak terjadinya kristalisasi adalah reduksi energi potensial atom atau molekul ketika terjadinya ikatan satu sama lain. Beberapa atom atau molekul pada larutan supersaturasi mulai membentuk kumpulan. Pertumbuhan kristal dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk molekul, level supersaturasi, ph, dan defek pada struktur kristal (Pearle et al, 2012). ph urine pada umumnya mendekati normal tetapi dapat bervariasi diantara 4.4 dan 8 dalam rentang waktu 24 jam. Batu asam urat dan sistin terbentuk pada suasana urine yang asam, tetapi batu kalsium oksalat dapat terbentuk pada suasana yang asam, netral, maupun basa. Sedangkan batu kalsium fosfat dan magnesium ammonium fosfat terbentuk pada suasana urine yang basa (Shaafie et al, 2012). Pada proses ini kristal dalam larutan berkumpul dan membentuk partikel yang lebih besar. Hal ini dipengaruhi oleh keseimbangan energi. Jarak antar partikel yang dekat memiliki gaya tarik yang besar. Sebagai tambahan, glikoprotein Tamm-Horsfall dan molekul lain dapat menjadi perekat antar molekul (Pearle et al, 2012). Batu saluran kemih memerlukan pembentukan kristal diikuti dengan retensi dan akumulasi kristal tersebut di ginjal. Retensi atau stasis urin sebagai
6 penyebab terbentuknya batu pada saluran kemih (Childs et al, 2013). Retensi kristal dapat terjadi akibat asosiasi kristal dengan sel epitel yang melapisi tubulus ginjal. Pembentukan kristal bergantung pada komposisi cairan tubulus. Retensi kristal tergantung pada komposisi permukaan sel epitel tubulus ginjal (Pearle et al, 2012) Inhibitor dan Promotor Pembentukan Kristal Sitrat berperan sebagai inhibitor pembentukan batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat dengan berbagai mekanisme. Pertama, sitrat membentuk kompleks dengan kalsium, menurunkan ketersediaan kalsium ionik untuk berinteraksi dengan oksalat atau fosfat. Kedua, sitrat langsung menghambat presipitasi spontan kalsium oksalat dan mencegah agglomerasi kristal kalsium oksalat. Terakhir, sitrat mencegah nukleasi heterogen pada kalsium oksalat oleh urat mononatrium. Aktivitas inhibitorik magnesium terjadi dengan cara membentuk kompleks dengan oksalat, dimana menurunkan konsentrasi oksalat ionik dan supersaturasi kalsium oksalat (Pearle et al, 2012). Polianion, termasuk glikoaminoglikan, asam mukopolisakarida, dan RNA terbukti menghambat nukleasi kristal dan pertumbuhannya. Diantara glikosaminoglikan, heparin sulfat berinteraksi paling kuat dengan kristal kalsium oksalat monohidrat. Dua glikoprotein urin, nefrokalsin dan glikoprotein Tamm- Horsfall, adalah inhibitor agregasi kristal monohidrat kalsium oksalat yang poten. Nefrokalsin adalah glikoprotein asam yang mengandung secara predominan asam amino yang disintesa dalam tubulus ginjal proksimal dan duktus asendens. Dalam larutan, nefrokalsin secara kuat menghambat pertumbuhan kristal monohidrat kalsium oksalat (Pearle et al, 2012). Protein Tamm-Horsfall diekspresikan oleh sel epitel ginjal pada duktus asendens dan tubulus konvolusi distal sebagai protein yang menempel di membran, yang dilepaskan ke dalam urin setelah pemotongan daerah penempelan tadi dengan fosfolipase atau protease. Tamm-Horsfall adalah protein yang berlimpah yang ditemukan dalam urin dan merupakan inhibitor agregasi kristal
7 monohidrat kalsium oksalat potensial, tetapi tidak untuk pertumbuhan (Pearle et al, 2012). Osteopontin, atau uropontin, adalah glikoprotein fosforilasi asam yang diekspresikan dalam matriks tulang dan sel epitel ginjal pada daerah duktus asendens, loop of henle dan tubulus distal. Osteopontin telah menunjukan menghambat nukleasi, pertumbuhan dan agregasi kristal kalsium oksalat menurunkan ikatan kristal ke sel epitel ginjal in vitro. Bikunin adalah inhibitor kuat kristalisasi kalsium oksalat, agregasi dan pertumbuhan in vitro, dan ekspresinya telah ditunjukan meningkat pada model tikus ketika terpapar oksalat (Pearle et al, 2012). Formasi dari batu tersusun dari beberapa jenis seperti kalsium oksalat dan kalsium fosfat merupakan proses kompleks yang membutuhkan beberapa faktor seperti supersaturasi yang tinggi, ph urin yang mempengaruhi kristalisasi, dan meningkatkan kristal yang memicu batu, pertumbuhan kristal, agregasi kristal, dan retensi kristal. Telah dinyatakan bahwa peningkatan agregasi kalsium oksalat merupakan satu dari faktor yang penting dan menunjukkan bahwa batu kalsium oksalat mengeksresi kristal besar dan agregasi kristal daripada orang normal (Pearle et al, 2012) Jenis-jenis Batu Saluran Kemih Kristal yang terdapat didalam urine sangat bervariasi, konsentrasi dari kristalkristal tersebut memicu terbentuknya batu saluran kemih. Batu tersebut dapat murni berasal dari kalsium oksalat, kalsium fosfat, ataupun campuran (Marickar et al, 2009). 75 % batu mengandung kalsium oksalat, 50% disertai kalsium hidroxil fosfat (brushite atau kalsium hidroxiapatit), 10% terdiri dari magnesium ammonium fosfat (struvit atau tripel fosfat), 5% terbentuk dari urat dan 1-2% terbentuk dari sistin (Aggarwal et al., 2013, Alaya et al., 2010).
8 2.5. Gejala Klinis Batu Kandung kemih Gejala klinis yang paling umum dari batu kandung kemih adalah hematuria makroskopik. Dapat disertai gejala lain berupa keluhan miksi terputus-putus, frekuensi, urgensi, disuria, pancaran urin lemah, inkontinensia, dan nyeri perut bagian bawah. Batu yang lebih besar cenderung menyebabkan lebih sedikit gejala, hal ini karena gerakan batu minimal di dalam kandung kemih. Batu kandung kemih jarang bersifat asimtomatik. (Benway and Bhayani, 2016) 2.6. Penanganan Batu Kandung Kemih Vesikolitotomi Vesikolitotomi adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengeluarkan batu dari kandung kemih dengan membuka kandung kemih arterior. Vesikolitotomi sebelumnya dianggap sebagai gold standard untuk pengobatan batu kandung kemih, tekhnik ini akhirnya mulai ditinggalkan dengan adanya teknik terbaru yang non invasif. Vesikolitotomi, selain menyebabkan stres karena penggunaaan kateter dalam jangka panjang, juga meningkatkan lama perawatan di rumah sakit, serta adanya bekas insisi yang menganggu kosmetik. Akan tetapi, telah dilaporkan tentang keberhasilan penanganan dengan vesikolitotomi suprapubis tanpa irigasi dan tanpa kateter pada anak-anak setelah penutupan dua-lapis dengan sistostomi. Sebagian besar pasien dapat rawat jalan dan tidak mengalami kesulitan buang air kecil. Akan tetapi terdapat 7% pasien akhirnya membutuhkan pemasangan kateter, termasuk satu pasien mengalami kebocoran dan infeksi luka operasi. (Rattan et al, 2006) Litotripsi Pendekatan transuretral untuk pengobatan batu kandung kemih akhir-akhir ini banyak digunakan karena pendekatan ini melalui saluran yang normal. Litotriptor mekanik bisa digunakan tetapi kurang diminati karena tingginya kejadian cedera
9 mukosa dan perforasi kandung kemih. Selain itu ketidakmampuan mengeluarkan batu ukuran besar dengan angka kekambuhan batu yang tinggi. Penelitian terbaru dilaporkan penggunaan laser holmium, litotriptor elektrohidrolik, dan teknologi litoklas, berhasil diterapkan pada orang dewasa maupun anak-anak. Akan tetapi, selain membutuhkan probe ganda, energi elektrohidrolik terkait dengan kejadian komplikasi juga lebih tinggi termasuk cedera mukosa dan hematuria. Sebuah Penelitian sebelumnya melaporkan 1,6% kejadian perforasi kandung kemih dengan litotripsi elektrohidrolik, namun belum ada laporan penelitian yang terbaru. (Lipke et al, 2004; Singh and Kaur, 2011). Litotripsi menggunakan laser holmium sudah menjadi modalitas yang banyak digunakan karena kemampuannya menghancurkan batu berukuran besar dengan kerusakan kolateral yang minimal. Sebagian besar pasien yang menjalani litotripsi dengan laser dapat bebas batu dengan satu kali prosedur tanpa menyebabkan komplikasi besar. Sebagian lebih menyukai penggunaan laser sidefiring. karena lebih stabil dan mudah dalam melakukan maneuver sehingga waktu operasi lebih singkat. (Lipke et al, 2004; Singh and Kaur, 2011). Algoritma Penanganan Batu Kandung Kemih : (Torricelli et al, 2012)
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Batu saluran kemih adalah dijumpainya batu di saluran kemih. Batu ini terbentuk dari kristal-kristal yang terpisah dari urin. Komposisi ini terjadi ketika konsentrasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit batu saluran kemih merupakan penyakit yang banyak di derita oleh masyarakat, dan menempati urutan ketiga dari penyakit di bidang urologi disamping infeksi
BAB I PENDAHULUAN. zat atau substasi normal di urin menjadi sangat tinggi konsentrasinya. 1 Penyakit
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nefrolitiasis adalah sebuah material solid yang terbentuk di ginjal ketika zat atau substasi normal di urin menjadi sangat tinggi konsentrasinya. 1 Penyakit ini bagian
BATU SALURAN KEMIH. Dr. Maimun Syukri, Sp.PD
BATU SALURAN KEMIH Dr. Maimun Syukri, Sp.PD PENDAHULUAN BSK Masalah masa kini dan mendatang Batu kandung kemih Batu ginjal PATOGENESIS BSK Faktor Genetik Kurangnya faktor protektif Faktor biologis Perubahan
BAB 1 PENDAHULUAN. kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data. epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa pernah mengalami
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan kondisi klinis yang kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa
BAB I PENDAHULUAN. pembentukan batu ini disebut urolitiasis, dan dapat terbentuk pada ginjal. dan uretra (urethrolithiasis) (Basuki, 2009).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Batu saluran kemih (BSK) merupakan penyakit yang sering di Indonesia. BSK adalah terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat dalam
Complication of Foley Catheter Is Infection the Greatest Risk. Oleh : dr. M. Gunthar A. Rangkuti
Complication of Foley Catheter Is Infection the Greatest Risk Oleh : dr. M. Gunthar A. Rangkuti Pendahuluan Pemakaian kateter urin yang lama telah menjadi bagian integral dari perawatan medis sejak penemuan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau yang dikenal pembesaran prostat jinak sering ditemukan pada pria dengan usia lanjut. BPH adalah kondisi dimana terjadinya ketidakseimbangan
BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium yang melapisi saluran kemih karena adanya invasi bakteri dan ditandai dengan bakteriuria dan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Infeksi saluran kemih adalah keadaan adanya infeksi (ada pertumbuhan dan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Defenisi dan prevalensi infeksi saluran kemih Infeksi saluran kemih adalah keadaan adanya infeksi (ada pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri) dalam saluran kemih mulai dari
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Epidemiologi ISK pada anak bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, dan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Epidemiologi Infeksi Saluran Kemih Epidemiologi ISK pada anak bervariasi tergantung usia, jenis kelamin, dan faktor-faktor lainnya. Insidens ISK tertinggi terjadi pada tahun
BAB I PENDAHULUAN. dan akhirnya bibit penyakit. Apabila ketiga faktor tersebut terjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu faktor terpenting dalam kehidupan. Hal tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu kerentanan fisik individu sendiri, keadaan lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sistem perkemihan merupakan salah satu system yang tidak kalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem perkemihan merupakan salah satu system yang tidak kalah pentingnya dalam tubuh manusia. Sistem perkemihan terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria, dan uretra
Batu Saluran Kemih. Harnavi Harun
3 Batu Saluran Kemih Harnavi Harun Epidemiologi Dunia : 1 12% USA : 250.000-750.000 penduduk/tahun Indonesia : Hardjoeno dkk, Makassar (1977 1979) : 297 Rahardjo dkk (1979 1980) : 245 Puji Rahardjo RSCM
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urine, dan juga untuk melihat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Urinalisa Urinalisa adalah suatu metoda analisa untuk mendapatkan bahan-bahan atau zat-zat yang dimungkinkan terkandung di dalam urine, dan juga untuk melihat adanya kelainan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Batu Saluran Kemih Batu saluran kemih atau BSK adalah terbentuknya batu di saluran kemih yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat dalam air kemih yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dalam saluran kemih, meliputi infeksi diparenkim
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ruang rawat intensif atau Intensive Care Unit (ICU) adalah unit perawatan di rumah sakit yang dilengkapi peralatan khusus dan perawat yang terampil merawat pasien sakit
SATUAN ACARA PENYULUHAN DI BANGSAL CEMPAKA RSUD WATES INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)
SATUAN ACARA PENYULUHAN DI BANGSAL CEMPAKA RSUD WATES INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) Disusun untuk memenuhi tugas kelompok Keperawatan Anak II Disusun oleh : Maizan Rahmatina Putri Pamungkasari Vinda Astri
BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan suatu keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang akan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Benign Prostate Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak merupakan suatu keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang akan menyebabkan pembesaran dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Feminine hygiene merupakan cara menjaga dan merawat kebersihan organ kewanitaan bagian luar. Salah satu cara membersihkannya adalah dengan membilas secara benar. Penggunaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Benigna Prostate Hiperplasi (BPH) merupakan kondisi patologis yang paling umum terjadi pada pria lansia dan penyebab kedua untuk intervensi medis pada pria diatas usia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari keberadaan mikroorganisme. Lingkungan di mana manusia hidup terdiri dari banyak jenis dan spesies mikroorganisme. Mikroorganisme
yang dihasilkan oleh pankreas dan berperan penting dalam proses penyimpanan Gangguan metabolisme tersebut disebabkan karena kurang produksi hormon
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu kelainan metabolitik yang disebabkan oleh defisiensi insulin yang dapat bersifat relatif absolut. Insulin adalah hormon yang dihasilkan
BAB I PENDAHULUAN. bermain toddler (1-2,5 tahun), pra-sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan
Struktur Ginjal: nefron. kapsul cortex. medula. arteri renalis vena renalis pelvis renalis. ureter
Ginjal adalah organ pengeluaran (ekskresi) utama pada manusia yang berfungsi untik mengekskresikan urine. Ginjal berbentuk seperti kacang merah, terletak di daerah pinggang, di sebelah kiri dan kanan tulang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ginjal Ginjal merupakan organ ekskresi utama pada manusia. Ginjal mempunyai peran penting dalam mempertahankan kestabilan tubuh. Ginjal memiliki fungsi yaitu mempertahankan keseimbangan
EFEK DIURETIK DAN DAYA LARUT BATU GINJAL DARI EKSTRAK TALI PUTRI (Cassytha filiformis L.)
EFEK DIURETIK DAN DAYA LARUT BATU GINJAL DARI EKSTRAK TALI PUTRI (Cassytha filiformis L.) Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menempuh ujian Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Bakteriuria adalah ditemukannya bakteri dalam urin yang berasal dari ISK atau
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Infeksi saluran kemih paska kateterisasi urin pada anak Bakteriuria adalah ditemukannya bakteri dalam urin yang berasal dari ISK atau kontaminasi dari uretra, vagina ataupun
Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved
Kanker Prostat Kanker prostat merupakan tumor ganas yang paling umum ditemukan pada populasi pria di Amerika Serikat, dan juga merupakan kanker pembunuh ke-5 populasi pria di Hong Kong. Jumlah pasien telah
BAB 1 PENDAHULUAN. tujuan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, mempertahankan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem perkemihan merupakan salah satu sistem yang tidak kalah pentingnya dalam tubuh manusia. Sistem perkemihan terdiri dari ginjal, ureter, vesica urinaria
TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ginjal Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga retroperitonium. Secara anatomi ginjal terletak dibelakang abdomen atas dan di kedua sisi kolumna
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit asam urat atau biasa dikenal sebagai gout arthritis merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit asam urat atau biasa dikenal sebagai gout arthritis merupakan suatu penyakit yang diakibatkan karena penimbunan kristal monosodium urat di dalam tubuh. Asam
disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,
Fungsi normal kandung kemih adalah mengisi dan mengeluarkan urin secara terkoordinasi dan terkontrol. Aktifitas koordinasi ini diatur oleh sistem saraf pusat dan perifer. Neurogenic bladdre adalah keadaan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Disfungsi dasar panggul merupakan salah satu penyebab morbiditas yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Disfungsi dasar panggul merupakan salah satu penyebab morbiditas yang dapat menurunkan kualitas hidup wanita. Disfungsi dasar panggul memiliki prevalensi
BAB 1 PENDAHULUAN. Hati adalah organ tubuh yang paling besar dan paling kompleks. Hati yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hati adalah organ tubuh yang paling besar dan paling kompleks. Hati yang terletak di persimpangan antara saluran cerna dan bagian tubuh lainnya, mengemban tugas yang
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 11. SISTEM EKSKRESI MANUSIALatihan Soal 11.1
. Perhatikan gambar nefron di bawah ini! SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB. SISTEM EKSKRESI MANUSIALatihan Soal. Urin sesungguhnya dihasilkan di bagian nomor... Berdasarkan pada gambar di atas yang dimaksud dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan kiri tulang belakang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari kiri karena
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Perkemihan 1. Ginjal Ginjal manusia terletak pada dinding posterior abdomen, di sebelah kanan dan kiri tulang belakang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari kiri karena
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit batu saluran kemih (BSK) merupakan penyakit umum yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit batu saluran kemih (BSK) merupakan penyakit umum yang masih menimbulkan beban kesehatan yang signifikan pada populasi usia kerja,dan merupakan tiga penyakit
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia laki-laki yang terletak mengelilingi vesica urinaria dan uretra proksimalis. Kelenjar prostat dapat mengalami pembesaran
BAB I PENDAHULUAN. Kelainan kelenjar prostat dikenal dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelainan kelenjar prostat dikenal dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) yaitu berupa pembesaran prostat atau hiperplasia prostat. Kelainan kelenjar prostat dapat
BAB I KONSEP DASAR TEORI
BAB I KONSEP DASAR TEORI A. Pengertian Batu ginjal adalah istilah umum batu ginjal disembarang tempat. Batu ini terdiri atas garam kalsium, asam urat, oksalat, sistin, xantin, dan struvit (Tambayong, 2000
BAB 1 PENDAHULUAN. sampai bulan sesudah diagnosis (Kurnianda, 2009). kasus baru LMA di seluruh dunia (SEER, 2012).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Leukemia Mieloid Akut (LMA) adalah salah satu kanker darah yang ditandai dengan transformasi ganas dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari seri mieloid. Bila
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah salah satu penyakit infeksi dengan angka
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah salah satu penyakit infeksi dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Johansen (2006) menyebutkan di Eropa angka kejadian ISK di rumah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Batu Saluran Kemih 2.1.1 Definisi Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih
BAB I PENDAHULUAN. kelenjar/jaringan fibromuskular yang menyebabkan penyumbatan uretra pars
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Benigna prostatic hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, yang disebabkan hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar/jaringan
BAB I PENDAHULUAN. di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah masa keras seperti batu yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Batu ginjal adalah suatu keadaan terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvis atau calyces ginjal atau di saluran kemih (Pratomo, 2007). Batu ginjal di dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ISK merupakan keadaan tumbuh dan berkembang biaknya kuman dalam saluran kemih meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung kemih dengan jumlah bakteriuria
BAB I PENDAHULUAN. penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif)
Sistem Eksresi> Kelas XI IPA 3 SMA Santa Maria Pekanbaru
Sistem Eksresi> Kelas XI IPA 3 SMA Santa Maria Pekanbaru O R G A N P E N Y U S U N S I S T E M E K S K R E S I K U L I T G I N J A L H A T I P A R U - P A R U kulit K ULIT K U L I T A D A L A H O R G A
Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat pemasangan kateter (+) Riwayat penyakit kencing manis (-) Riwayat operasi (-)
BAB I STATUS PENDERITA 1.1 IDENTIFITAS Nama : Tn. S Umur : 79 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Status : Menikah Agama : Islam Bangsa : Indonesia Alamat : Lawang Agung Pekerjaan : Petani MRS : 14 September
BAB I PENDAHULUAN. (Morgan, 2003). Bakteriuria asimtomatik di definisikan sebagai kultur
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi saluran kemih (ISK) adalah salah satu penyakit infeksi dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Johansen (2006) menyebutkan di Eropa angka kejadian ISK dirumah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii RIWAYAT HIDUP... iv ABSTRAK... v UCAPAN TERIMA KASIH... vii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR LAMPIRAN... xiii BAB I
a. Cedera akibat terbakar dan benturan b. Reaksi transfusi yang parah c. Agen nefrotoksik d. Antibiotik aminoglikosida
A. Pengertian Gagal Ginjal Akut (GGA) adalah penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Akibat penurunan fungsi ginjal terjadi peningkatan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Saluran Kemih Traktus urinarius terdiri dari ginjal (Ren), ureter, bulu (vesika urinaria), uretra, dengan kelenjar prostat yang mengelilingi uretra proksimal dan penis pada
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
35 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Barakati Kecamatan Batudaa Kabupaten Gorontalo. Desa Barakati terletak disebelah barat
BAB 1 PENDAHULUAN. Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kornea merupakan lapisan depan bola mata, transparan, merupakan jaringan yang tidak memiliki pembuluh darah (avaskular). Kornea berfungsi sebagai membran pelindung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologis, dan radiologis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Air Bersih Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasnya, air bersih adalah air
kematian sebesar atau 2,99% dari total kematian di Rumah Sakit (Departemen Kesehatan RI, 2008). Data prevalensi di atas menunjukkan bahwa PGK
BAB 1 PENDAHULUAN Gagal ginjal kronik merupakan salah satu penyakit yang berpotensi fatal dan dapat menyebabkan pasien mengalami penurunan kualitas hidup baik kecacatan maupun kematian. Pada penyakit ginjal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. besar infeksi saluran kemih yang terkait kateter berasal dari flora normal pasien sendiri dan
18 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pendahuluan Dari hasil studi didapatkan bahwa saluran kemih merupakan sumber yang paling umum dari infeksi nosokomial, terutama saat katerisasi kandung kemih. Hampir sebagian
BAB I PENDAHULUAN. berkembang biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih, walaupun
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang disebabkan oleh berkembang biaknya mikroorganisme di dalam saluran kemih, walaupun terdiri dari berbagai cairan, garam
SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 1
1. Perhatikan gambar nefron di bawah ini! SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 1 Urin sesungguhnya dihasilkan di bagian nomor... A. B. C. D. 1 2 3 4 E. Kunci Jawaban : D
BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu dianggap berasal dari endoderm. Pertumbuhan dan. perkembangan normal bergantung kepada rangsang endokrin dan
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah tanggung jawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan swasta. Apapun yang dilakukan pemerintah tanpa kesadaran individu dan masyarakat
Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.
Author : Liza Novita, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.tk GLOMERULONEFRITIS AKUT DEFINISI Glomerulonefritis Akut (Glomerulonefritis
BAB 1 PENDAHULUAN. 2006). Kateterisasi urin ini dilakukan dengan cara memasukkan selang plastik
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kateterisasi urin merupakan salah satu tindakan memasukkan selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urin (Brockop, 2006). Kateterisasi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sistem pencernaan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Pada proses pencernaan, makanan yang dimakan oleh manusia dicerna sampai dapat diabsorpsi
BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Selain virus sebagai penyebabnya,
BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya semakin meningkat, diperkirakan sekitar 5% atau kira-kira 5 juta pria di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit tersering kedua di Indonesia setelah infeksi saluran kemih 1. Penduduk Indonesia yang berusia tua jumlahnya semakin
BAB 1 PENDAHULUAN. empedu atau di dalam duktus koledokus, atau pada kedua-duanya (Wibowo et al.,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kolelitiasis adalah keadaan dimana terdapatnya batu di dalam kandung empedu atau di dalam duktus koledokus, atau pada kedua-duanya (Wibowo et al., 2002). Kolelitiasis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Di Negara Indonesia, hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. Ginjal memiliki peranan yang sangat vital sebagai organ tubuh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal memiliki peranan yang sangat vital sebagai organ tubuh manusia terutama dalam sistem urinaria. Pada manusia, ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stroke adalah salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah serius di dunia kesehatan. Stroke merupakan penyakit pembunuh nomor dua di dunia,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi Nosokomial 1. Pengertian Infeksi nosokomial atau hospital acquired infection adalah infeksi yang didapat klien ketika klien tersebut masuk rumah sakit atau pernah dirawat
2 Penyakit asam urat diperkirakan terjadi pada 840 orang dari setiap orang. Prevalensi penyakit asam urat di Indonesia terjadi pada usia di ba
1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan gaya hidup masyarakat menjadi pola hidup tidak sehat telah mendorong terjadinya berbagai penyakit yang mempengaruhi metabolisme tubuh. Penyakit akibat
BAB I PENDAHULUAN. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu jenis infeksi yang paling sering
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu jenis infeksi yang paling sering ditemukan dalam praktek klinik (Hvidberg et al., 2000). Infeksi saluran kemih (ISK)
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gastritis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan peradangan pada lapisan lambung. Berbeda dengan dispepsia,yang bukan merupakan suatu diagnosis melainkan suatu
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Nefrolitiasis 2.1.1 Definisi Nefrolitiasis atau batu ginjal adalah sebuah material solid yang terbentuk di ginjal ketika zat atau substasi normal di urin
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
28 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Karakteristik Subyek Penelitian ini dilakukan di RS PKU Muhammadiyah Bantul Yogyakarta pada bulan Februari tahun 2016. Subyek penelitian ini adalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih (vesika urinaria) dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Saluran Kemih Sistem saluran kemih adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal mempunyai peran yang sangat penting dalam mengaja kesehatan tubuh secara menyeluruh karena ginjal adalah salah satu organ vital dalam tubuh. Ginjal berfungsi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini digunakan sampel 52 orang yang terbagi menjadi 2
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pada penelitian ini digunakan sampel 52 orang yang terbagi menjadi 2 kelompok. Pada kelompok pertama adalah kelompok pasien yang melakukan Hemodialisa 2 kali/minggu,
BAB 1 PENDAHULUAN. bermakna (Lutter, 2005). Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan istilah umum untuk berbagai keadaan tumbuh dan berkembangnya bakteri dalam saluran kemih dengan jumlah yang bermakna (Lutter,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Batu Saluran Kemih 2.1.1 Proses Pembentukan Batu Saluran Kemih Batu saluran kemih merupakan agregat dari polycrystalline yang terbentuk dari berbagai jenis kristaloid dan matriks
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Batu ginjal didalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah masa keras
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Batu ginjal 1. Pengertian Batu ginjal adalah suatu keadaan terdapat satu atau lebih batu di dalam pelvis atau calyces ginjal atau di saluran kemih (Pratomo, 2007). Batu ginjal
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. bahan baku utamanya yaitu susu. Kandungan nutrisi yang tinggi pada keju
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keju merupakan makanan yang banyak dikonsumsi dan ditambahkan dalam berbagai makanan untuk membantu meningkatkan nilai gizi maupun citarasa. Makanan tersebut mudah diperoleh
BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.
BAB 4 HASIL Dalam penelitian ini digunakan 782 kasus yang diperiksa secara histopatologi dan didiagnosis sebagai apendisitis, baik akut, akut perforasi, dan kronis pada Departemen Patologi Anatomi FKUI
BAB I PENDAHULUAN. darah yang melalui ginjal, reabsorpsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal merupakan organ vital yang berperan sangat penting dalam mempertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbangan cairan tubuh, elektrolit,
BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan tindakan pembedahan. Keterlambatan dalam penanganan kasus apendisitis akut sering menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi saluran kemih (ISK) adalah suatu invasi mikroorganisme pada ginjal, ureter, kandung kemih, atau uretra. ISK dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, atau mikroorganisme
BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan adanya tinja yang keras sehingga buang air besar menjadi jarang, sulit dan nyeri. Hal ini disebabkan
SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA
A. GINJAL SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA Sebagian besar produk sisa metabolisme sel berasal dari perombakan protein, misalnya amonia dan urea. Kedua senyawa tersebut beracun bagi tubuh dan harus dikeluarkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Intensive Care Unit (ICU). Tingginya biaya perawatan,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk asalnya atau dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi. Ekskresi di sini merupakan hasil
BAB I PENDAHULUAN. global.tuberkulosis sebagai peringkat kedua yang menyebabkan kematian dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama global.tuberkulosis sebagai peringkat kedua yang menyebabkan kematian dari penyakit menular di seluruh dunia
BAB I PENDAHULUAN. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut adalah 23,5%. Menurut hasil RISKESDAS tahun 2013, terjadi peningkatan
BAB 1 PENDAHULUAN (Sari, 2007). Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara termasuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Parasetamol (asetaminofen) merupakan salah satu obat analgesik dan antipiretik yang banyak digunakan di dunia sebagai obat lini pertama sejak tahun 1950 (Sari, 2007).
I. PENDAHULUAN. (Nurdiana dkk., 2008). Luka bakar merupakan cedera yang mengakibatkan
I. PENDAHULUAN A.Latar Belakang Luka bakar merupakan salah satu insiden yang sering terjadi di masyarakat khususnya rumah tangga dan ditemukan terbayak adalah luka bakar derajat II (Nurdiana dkk., 2008).
