BAB II LANDASAN TEORI
|
|
|
- Siska Tan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengukuran Kinerja Secara umum istilah kinerja digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan induvidu maupun kelompok individu. Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Kinerja bisa diketahui hanya jika individu atau kelompok individu mempunyai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan ini berupa tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak dicapai. Tanpa ada tujuan atau target, kinerja seseorang atau organisasi tidak mungkin dapat diketahui karena tidak ada tolak ukurnya (Mahsun, 2006:25). 2.2 Sistem Pengukuran Kinerja Menurut Neely (1995), dalam Vanany (2009), mengatakan performance measurement system is defined as the set of metrics used to quantify the efficiency and effectiveness of an action. Sistem pengukuran kinerja adalah sekumpulan matiks yang berguna untuk menghitung efisiensi dan efektivitas dari sebuah aktivitas. Sistem pengukuran kinerja yang terintegrasi menggunakan keseimbangan antara indikatorindikator kinerja finansial dan non-finansial. Indikator finansial adalah indikator yang terpicu oleh indikator non finansial. Tanpa adanya kinerja non finansial yang baik akan sangat sukar kinerja finansial yang baik. Berdasarkan model-model pengukuran sistem pengukuran kinerja yang terintegrasi yang telah ada, maka Neely dan Kennerly (2000) telah berhasil menjabarkan beberapa karakteristik dari model pengukuran kinerja terintegrasi yang dapat membantu organisasi untuk mengetahui karakteristik dari sistem pengukuran 6
2 7 kinerja yang terintegrasi. Berikut beberapa karakteristik sistem pengukuran kinerja terintegrasi yang berhasil dibuat oleh Neely dan Kennerly (2000). 1. Mampu menyediakan gambaran yang seimbang dari organisasi. Gambaran tersebut sebaiknya merefleksikan kondisi finansial dan non-finansial, internal dan eksternal, serta efisiensi dan efektivitas organisasi atau perusahaan yang diukur. 2. Mampu menggambarkan kondisi kerja organisasi dengan ringkas. 3. Mampu menggambarkan kebutuhan organisasi secara multi dimensional. 4. Mampu mengukur kinerja organisasi secara luas (comprehensiveness), sehingga dapat diketahui hal-hal apa saja yang sebaiknya dihilangkan serta kebutuhan-kebutuhan apa saja yang perlu ditambahkan. 5. Mampu mengintegrasikan organisasi baik secara fungsi-fungsinya maupun hirarkinya Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Perancangan sistem pengukuran kinerja merupakan hasil dari suatu perancangan yang sistematik dan didasarkan pada kelompok indikator kinerja kinerja kegiatan yang berupa indikator-indikator masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak. Perancangan sistem pengukuran kinerja lingkungan digunakan sebagai dasar dalam untuk merancang keberhasilan dan kegagalan dalam melakukan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi tersebut IEPMS (Integrated Environmental Performance Measurement System) Kusumawardani (2008) menjelaskan bahwa IEPMS merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur kinerja lingkungan. Metode ini menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif dan kualitatif. Ukuran-ukuran
3 8 tersebut digunakan bersamaan untuk memberikan petunjuk dalam membuat sistem parameter pengukuran kinerja yang akan dirancang. Dalam IEPMS ada beberapa aspek yang termasuk kedalam ukuran kuantitatif, diantaranya: a) Penggunaan sumber daya b) Idikator-indikator resiko c) Jumlah dan komposisi limbah yang dihasilkan d) Biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan e) Penanganan limbah dan buangan Sedangkan yang termasuk aspek dalam ukuran yang bersifat kualitatif antara lain: a) Tujuan dan kebijakan lingkungan b) Program-program penelitian dan pengembangan c) Komitmen dan kesadaran karyawan d) Kecelakaan dan keselamatan kerja e) Program pelatihan lingkungan f) Penghargaan dan pengakuan publik Adapun yang harus diperhatikan dalam pemilihan ukuran lingkungan adalah sebagai berikut: 1. Menentukan fungsi dari ukuran-ukuran lingkungan yang signifikan terhadap tujuan atau visi misi perusahaan. 2. Menggunakan data yang mudah didapatkan dan dipahami berdasarkan kinerja aktual. 3. Apakah sebanding dengan keuntungan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan dalam usaha mendapatkan informasi lingkungan yang berkualitas tinggi. 4. Menggunakan informasi historis secara hati-hati karena kriteria kualitas data mungkin tidak mencukupi dan kurang memuaskan.
4 9 5. Ukuran lingkungan yang terpilih harus mencerminkan prioritas-prioritas stakeholder dalam mencapai tujuan organisasi. 6. Ukuran lingkungan yang terpilih harus dapat dikontrol dan mudah dipahami Sistem Manajemen Lingkungan (SML) Sunu (2001) menjelaskan bahwa sistem manajemen lingkungan merupakan suatu proses yang berjalan dan berinteraksi dimana struktur, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya untuk penerapan kebijakan sasaran dan targer lingkungan dapat dikoordinasikan dengan usaha-usaha yang sudah ada di bidang lainnya seperti operasional, kesehatan dan kesalamatan kerja. Sistem Manajemen Lingkungan (Perlindungan dan Pengolahan Lingkungan Hidup) menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengolahan Lingkungan Hidup Pasal 1 Ayat 2 adalah upaya Sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarika fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengedalian, pemeliharan pengawasan, dan penegak hukum. Sistem manajemen lingkungan menganut sistem PDCA (Plan-Do- Check-Act) atau sistem yang berkelanjutan Pengukuran Kinerja Lingkungan Purwanto (2006) menjelaskan bahwa pengukuran kinerja lingkungan merupakan bagian penting dari sistem manajemen lingkungan, juga merupakan ukuran hasil dan sumbangan yang dapat diberikan sistem manajemen lingkungan pada perusahaan secara riil dan kongkrit. Pengukuran kinerja lingkungan ditafsirkan bermacam cara. Antara lain yang semata kuantitatif, atau hasil proses, atau juga menyertakan kualitatif dan inprocess. Kinerja lingkungan pada dasarnya dapat dilihat dari dua cara, yaitu kinerja lingkungan kuantitatif dan kinerja kualitatif. Kinerja lingkungan kuantitatif merupakan hasil yang dapat diukur dari sistem manajemen lingkungan berdasarkan
5 10 data-data kualitatif yang didapatkan selama pengamatan, sedangkan aspek kualitatifnya berkaitan dengan prosedur, proses inovasi, motifasi, dan semangat kerja yang dialami manusia pelaku kegiatan dalam mewujudkan kebijakan lingkungan dalam organisasi. Menurut Gunther dan Sturm dalam Kusumawardani (2008) mendefinisikan pengukuran kinerja lingkungan sebagai suatu tindakan pengukuran yang dilakukan terhadap berbagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada perusahaan. Hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan, pengawasan dan perbaikanperbaikan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan performasi kinerjanya. Dengan pengukuran kinerja lingkungan yang terintergrasi, maka dapat memberikan manfaat bagi perusahaan untuk menerapkannya sebagai pendekatan yang terstruktur terhadap lingkungan, terfokus pada rencana strategis dan membantu proses evaluasi untuk meningkatkan performansi yang ada. Gunther dan sturm dalam Kusumawardani (2008) mengembangkan suatu model pengukuran kinerja lingkungan yang terdiri dari lima langkah, yaitu: 1. Identifikasi stakeholder yang relevan denagn perusahaan. Dimulai dengan memenuhi kepentingan stakeholder, menentukan tujuan yang ingin dicapai dengan menggunakan sistem pengukuran kinerja lingkungan. 2. Pengukuran dan dokumentasi faktor-faktor yang berpengaruhi lingkungan menggunakan prinsip ecological breakdown. 3. Evaluasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan dalam rangka pengambilan keputusan operasional mengenai kinerja lengkungan, hingga pengaruh perusahaan terhadap lingkungan dapat diketahui. 4. Penetuan kinerja lingkungan dalam membandingkan antara nilai aktual dengan target (tujuan manajemen kinerja lingkungan) dan menentukan tingakt atau level pencapaian lingkungan.
6 11 5. Rekomendasi tindakan yang sesuai bagi perusahaan, dan pengambilan keputusan berdasarkan tujuan dari kinerja lingkungan ditetapkan Konsep Lingkungan dalam Rumah Sakit Konsep lingkungan di rumah sakit berdasarkan menkes (menteri kesehatan) akan menerapkan konsep lingkungan hijau (Green Hospital), konsep perpaduan antara unsur kesehatan dan lingkungan di sekitar rumah sakit. Konsep ini sebetulnya sudah ada di beberapa rumah sakit di Indonesia, namun penerapannya dilapangan tidak menyeluruh, kurang efektif karena beberapa keterbatasan. Konsep Green Hospital ini menyebabkan rumah sakit memiliki keunggulan dalam hal penanganan lingkungan. Untuk memenuhi konsep Green Hospital perlu adanya perencanaan dari awal, bagaimana konsep ini dijalankan, dan siapa yang akan bertannggung jawab karena penerapan konsep ini akan berpengaruh terhadap rumah sakit. Dengan meningkatnya pelayanan, kenyamanan, dan jaminan kesehatan lingkungan rumah sakit tentunya akan menambah daya saing bagi rumah sakit itu sendiri. Limbah rumah sakit jika tidak dikelola dengan baik dan benar tentu saja akan merusak lingkungan. Semua limbah yang berasal dari kegiatan rumah sakit diwajibkan untuk dikelola dengan baik dan benar. Semua diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 58 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair. Untuk melihat apakah pengelolaan limbah-limbah tersebut talah dikelola secara benar dapat dilihat pada laporan setiap bulan dengan pemeriksaan rutin parameter limbahnya. Selain limbah cair, limbah padat berupa sampah medis/non medis juga tidak boleh dibuang langsung. Dengan pengelolaan limbah yang baik dan benar, salah satu syarat untuk menuju rumah sakit berwawasan lingkungan. Jika kesehatan lingkungan rumah sakit terjaga tentu akan menjadi sesuatu yang membuat kepercayaan konsumen terhadap rumah sakit meningkat. Dalam kesehariannya limbah-limbah rumah sakit bersentuhan langsung dengan masyarakat disekitar
7 12 lingkungan rumah sakit, pengelolaan yang baik ini juga akan berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit terkait Sistem Manajemen Lingkungan Rumah Sakit Manajemen lingkungan rumah sakit merupakan bagian sistem manajemen terpadu yang meliputi pendekatan struktur organisasi, kegiatan perencanaan, pembagian tanggung jawab dan wewenang, praktik menurut standar operasional, prosedur khusus, proses berkelanjutan dan pengembangan sumber daya manusia untuk mengembangkan, menerapkan, mencapai, mengkaji, mengevaluasi dan mensinergikan kebijakan lingkungan dengan tujuan rumah sakit. Panduan sistem manajemen lingkungan rumah sakit sebagian besar mengikuti pedoman peraturan pemerintah dan ISO & Sistem manajemen lingkungan rumah sakit adalah sistem pengelolaan lingkungan yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan manajemen rumah sakit. Sistem manajemen lingkungan rumah sakit seperti halnya sistem manajemen lingkungan yang dilakukan pada sektor industri manufaktur. Pelaksanaan sistem manajemen lingkungan ini memerlukan evaluasi untuk mengetahui kesesuaian sistem manajemen tersebut dengan tujuan dari rumah sakit. Salah satu cara evaluasi yaitu melalui audit lingkungan menurut Wiku Adisasmito adalah suatu instrument untuk menguji terhadap penataan suatu perundang-undangan dan peraturan lingkungan, standard an baku mutu lingkungan. Audit lingkungan juga merupakan suatu instrument untuk mendapatkan informasi sejauh manan potensi permasalahan ketidaktaatan (non-comliance) yang ada pada rumah sakit. 2.3 Tahapan Pengukuran Kinerja Penentuan Tujuan Strategis Penentuan tujuan strategis sesuai dengan keinginan stakeholder, visi dan misi rumah sakit, yaitu menjabarkan keinginan maupun kebutuhan stakeholder juga
8 13 penjabaran visi dan misi rumah sakit yang telah melalui hasil verifikasi untuk selanjutnya dijadikan sebagai tujuan strategis. Tujuan strategis tersebut merepresentasikan keinginan stakeholder dan sekaligus patokan untuk pembentukan key environmental performance indicator atau KEPI Aspek dan Dampak Lingkungan Limbah pada produksi menunjukkan adanya inefisiensi dalam suatu proses produksi. Limbah produksi tersebut dapat terjadi pada tiap tahapan proses, oleh karena itu diperlukan suatu identifikasi atas limbah apa saja yang timbul dalam tiap tahapan tersebut. Limbah yang terjadi memiliki aspek lingkungan serta dampak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, sehingga diperlukan adanya pembobotan aspek, penilaian aspek dan dampak lingkungan yang dapat mengetahui seberapa besar dampak lingkungan yang ditimbulkan tiap tahapan proses produksi. Aspek adalah segala sesuatu yang dihasilkan dari suatu aktivitas selain produk utama dalam suatu proses produksi, sedangkan dampak merupakan akibat dari aspek yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Pembobotan dan penilaian aspek dan dampak lingkungan yang digunakan mengacu pada Sistem Manajemen Lingkungan!SO ( Bapedal) Key to Environmental Performance Indicator (KEPI) Key to Environmental Performance Indicator (KEPI) dapat diartikan sebagai suatu informasi kuantitatif dan kualitatif yang memberikan evaluasi dari sudut pandang lingkungan serta efektifitas dan efisiensi perusahaan dalam mengelola sumber daya. Dalam perusahaan, KEPI mempunyai tujuan untuk mengevaluasi pencapaian efektifitas dan efisiensi perusahaan dalam pencapaian tujuan-tujuan lingkungan dan meningkatkan performansi kinerjanya, serta memungkinkan perusahaan untuk melakukan tindakan berikut:
9 14 1. Penguasaan kebijakan lingkungan berdasarkan ketentuan dari pengawasan yang lebih baik terhadap tujuan-tujuan lingkungan. 2. Penggunaan tindakan perlindungan lingkungan yang paling tepat dalam hubungannya dalam menigkatkan performansi kinerja. 3. Memberikan ketentuan yang efektif mengenai tanggung jawab dan suatu bantuan untuk penerapan sistem manajemen lingkungan. 4. Perbaikan komunikasi internal dan eksternal pada pencapaian programprogram lingkungan. KEPI merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh perusahaan sebagai alat ukur. KEPI dapat matrix kuantitatif yang dapat mempresentasikan performansi dari suatu lingkungan perusahaan. KEPI dapat membantu suatu perusahaan untuk mengimplementasikan strategi-strategi dari perusahaan tersebut dengan mengintegrasikan berbagai tingkatan organisasi (dari departemen sampai individu) dengan target dan perbandingan yang jelas. Dampak dari segi lingkungan suatu perusahaan akan mempengaruhi peningkatan dari performansi perusahaan itu sendiri secara keseluruhan dan akan berlangsung secara kontinyu. Terdapat beberapa alasan tambahan yang membuat KEPI ini penting yaitu: KEPI berfokus pada pengukuran faktor yang merupakan key faktor. Adanya peraturan baru yang menyangkut tentang manajemen lingkungan yang mengharuskan perusahaan menjadi ramah lingkungan. Tidak ada dasar yang lengkap dalam pemilihan indikator-indikator kinerja lingkungan, jumlah indikator ataupun teknik pengukurnya (Kusumawardani, 2008). KEPI merefleksikan efisiensi lingkungan dari suatu proses produksi yang melibatkan jumlah dari input dan outputnya. KEPI mempunyai karakter-karakter sebagai berikut: 1. Relevan
10 15 Maksudnya adalah indikator-indikator kinerja lingkungan harus menyediakan informasi yang mempengaruhi secara signifikan terhadap perusahaan dan stakeholdernya. 2. Analisa yang kuat Maksudnya adalah indikator-indikator lingkungan seharusnya berdasarkan suatu teori secara scientific dan teknis. 3. Dapat diukur Pada karakter ini data merupakan dasar dalam penyusunan suatu indikator. 4. Dapat dibandingkan Karakter ini merupakan tujuan yang penting dalam penggunaan KEPI yaitu dapat dibandingakan Analytical Hierarchy Process (AHP) AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki, menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. Metode AHP ini membantu memcahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dan dengan menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaaan dan logika yang bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kita secara intuitif sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat secara umum.
11 Prosedur Dalam AHP Prosedur AHP dapat dikelompokkan ke dalam lima langkah, menurut Vanany (2009), yaitu: a. Pembentukan Hirarki Hirarki digunakan untuk memperlihatkan pengaruh dari tujuan tingkat tertinggi sampai ke tingkat yang paling rendah. Sebuah hirarki juga dapat digunakan untuk mendekomposisi suatu permasalahan yang kompleks sehingga masalah tersebut menjadi terstruktur dan sistematis. b. Perbandingan Berpasangan (Pair-wise Comparison) Perbandingan berpasangan ini digunakan untuk mempertimbangkan faktorfaktor keputusan atau tujuan dan alternatif-alternatif dengan memperhitungkan tujuan antara faktor/sub faktor yang lainnya ataupun kriteria/sub kriteria. c. Pengecekan konsistensi Langkah selanjutnya adalah meakukan pengecekan apakah perbandingan berpasangan yang dibuat oleh pembuat keputusan masih dalam batas kontrol penerimaan atau tidak. d. Evaluasi dari seluruh pembobotan Penilaian merupakan sintetis (penempatan bersama-sama) dari model dengan menggunakan pembobotan dan penambahan proses untuk mengetahui bobot seluruh alternatif. Bobot dinormalisasi pada setiap matriks perbandingan berpasangan. Alternatif terbaik adalah alternatif yang memiliki bobot tertinggi sebagai prioritas terbaik yang dipilih dalam pengambilan keputusan. e. Pengelompokkan keputusan dan penilaian Untuk mengetahui hasil dari penilaian secara berkelompok setiap anggota kelompok membuat seluruh penilaian model dan mengkombinasikan hasilnya.
12 Skala Penilaian Perbandingan Perbandingan berpasangan memiliki skala relatif yang dapat dilihat pada table 2.1. Pada table tersebut ditunjukkan beberapa skala tingkat kepentingan dengan memperhatikan kemampuan manusia dalam membedakan jumlah skala penilaian perbandingan. Semakin banyak skala penilaian perbandingan, maka akan semakin sukar pihak manajer menentukan pilihannya. Jumlah skala yang proporsional bagi para manajer / responden untuk membedakan antara kriteria yang ada. Adapun skala penilaian diantara skala yang ada ditunjukkan sebagai nilai genap dari kedua skala yang ada. Tabel 2.1 Skala penilaian perbandingan berpasangan Tingkat Definisi kepentingan 1 (sama) Kedua elemen sama penting 3 (lemah) Satu elemen sedikit lebih penting daripada elemen yang lain 5 (kuat) Satu elemen sesungguhnya lebih penting dari elemen yang lain 7 (sangat kuat) Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lain 9 (mutlak kuat) Satu elemen mutlak lebih penting daripada elemen Keterangan Kedua elemen menyumbang sama besar pada sifat tersebut Pengalaman menyatakan sedikit memihak pada satu elemen Pengalaman menunjukkan secara kuat memihak pada satu elemen Pengalaman menunjukkan secara kuat disukai & didominasi satu elemen sangat jelas lebih penting Pengalaman menunjukkan satu elemen sangat jelas lebih
13 18 yang lain 2,4,6,8 Nilai tengah diantara dua penilaian yang berdampingan Kebalikan dari angka tingkat kepentingan diatas penting Nilai ini diberikan jika diperlukan kompromi Bila elemen ke-ij pada factor mendapat nilai x maka elemen ke-ji pada factor ke-j mendapat nilai 1/x Perhitungan Bobot dan Konsistensi Elemen Pada dasarnya formulasi matematis pada model AHP dilakukan dengan menggunakan suatu matrik. Misalkan, dalam suatu sub sistem operasi terdapat n elemen operasi, yaitu elemen-elemen operasi A 1, A 2,,A n, maka hasil perbandingan secara berpasangan elemen-elemen operasi tersebut akan membentuk matrik perbandingan berpasangan (Vanany, 2009:173). Perbandingan berpasanagan dimulai dari tingkat hirarki paling tinggi, dimana suatu kriteria digunakan sebagai dasar pembuatan perbandingan. Selanjutnya perhatikan elemen yang akan dibandingkan. Tabel 2.2 Matrik perbandingan berpasangan A 1 A 2 A n A 1 A 11 A 12 A n1 A 2 A 21 A 22 A n A n A n1 A n2 A nn
14 19 Matriks A n x n matriks resprokal. Dan diasumsikan terdapat n elemen, yaitu W 1, W 2,,W n yang akan dinilai secara perbandingan. Nilai (judgement) perbandingan secara berpasangan antara (W 1, W 2 ) dapat dipresentasikan sebagai (1) Dalam hal ini matriks perbandingan adalah matriks A dengan unsur-unsurnya adalah aij dengan i,j = 1,2,,n. Melakukan perkalian antara bobot elemen dengan nilai awal matriks dan membagi jumlah perkalian bobot elemen dengan nilai awal matriks dengan bobot untuk mendapatkan nilai eigen. Tabel 2.3 Harga nilai Eigen Tujuan Sub-1 (1) Sub-2 (2) Sub-3 (3) Jumlah (4) = Bobot (w) (5) = (4)/(3) Nilai Eigen (6) = (5)/(4) (1)+(2)+(3) Sub-1 0,13 0,11 0,17 0,41 0,13 3,15 Sub-2 0,26 0,21 0,17 0,63 0,21 3,05 Sub-3 0,52 0,84 0,66 1,97 0,66 3,06 Untuk melakukan pengujian konsistensi matriks diperlukan bantuan tabel Random Index(RI) yang nilainya untuk setiap ordo matriks dapat dilihat pada tabel 2.3: Tabel 2.4 Harga Random Index N RI 0 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,51
15 20 Mencari nilai Consistency Index (CI) CI = ( (2) Dimana: CI = Indeks Konsistensi λmaks = Nilai eigen terbesar dari matrik berordo n. Nilai eigen terbesar didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan eigen vector. Batas ketidakkonsistenan diukur dengan menggunakan rasio konsistensi (CR), yakni perbandingan indeks konsistensi dengan nilai pembangkit random (RI). Nilai ini bergantung pada ordo matrik n. Mencari nilai Consistency Ratio (CR) CR = CI / RI (3) Bila nilai CR lebih kecil dari 10%, ketidakkonsistenan pendapat masih dapat diterima. Melakukan pengujian konsistensi hirarki, pengujian ini bertujuan untuk menguji konsistensi perbandingan antara seluruh hirarki. Total CI dari suatu hirarki diperoleh dengan melakukan pembobotan tiap CI dengan prioritas elemen yang berkaitan dengan faktor-faktro yang diperbandingkan, dan kemudian menjumlahkan seluruh hasilnya. Dasar dalam membagi konsistensi dari suatu level matriks hirarki adalah mengetahui konsistensi indeks (CI) dan vektor eigen dari suatu matriks perbandingan berpasangan pada tingkat hirarki tertentu Menyusun Hirarki Menurut Saaty (1970), manusia mempunyai kemampuan untuk mempersepsi benda dan gagasan, mengidentifikasikan, dan mengkomunikasikan apa yang mereka amati. Untuk mengetahui pengetahuan terperinci, pikiran kita menyusun realitas yang
16 21 kompleks ke dalam bagian yang menjadi elemen pokoknya, dan kemudian memasukkannnya ke dalam bagian-bagian, serta seterusnya secara hirarkis. Penyusunan hirarki dari masalah yang ada adalah langkah awal untuk mengidentifikasi permasalahan yang kompleks ke dalam subsistem, elemen, subelemen, dan seterusnya. Konsekuensi dari langkah ini adalah semakin banyak level yang digunakan akan semakin jelas dan detail masalah yang hendak dipecahkan. Hirarki keputusan disusun berdasarkan pandangan pihak-pihak yang memiliki keahlian dan pengetahuan dibidang yang bersangkutan. Keputusan yang diambil dijadikan sebagai tujuan yang dijabarkan menjadi elemen-elemen yang lebih rinci hingga mencapai suatu tahapan yang paling operasional atau terukur. Hirarki permasalahan yang terstruktur akan mempermudah pengambilan keputusan tentang permasalahan tersebut. Dalam melakukan penilaian terhadap elemen-elemen yang diperbandingkan terdapat tahapan-tahapan, yakni: a) Elemen mana yang lebih (penting/disukai/berpengaruh/lainnya) b) Berapa kali /sering (penting/disukai/berpengaruh/lainnya) Agar diperoleh skala yang memudahkan dalam melakukan perhitungan maka, dalam hal ini berpatokan pada skala perbandingan elemen, yaitu pada tabel Objective Matrix (OMAX) Vanany (2009) Menjelaskan bahwa pada mulanya metode OMAX ini digunakan untuk membantu perusahaan yang memiliki indikator kinerja yang bersifat kualitatif dan kuantitatif menjadi sebuah metrik tunggal. Aplikasi metode ini awalnya digunakan pada pengukuran produktivitas dengan ukuran indikator kinerja yang spesifik. Tetapi pada perkembangannya, kanrena dirasa sangat membantu upaya mengkonsolidasikan indikator kinerja yang ada, maka juga diaplikasikan pada sistem pengukuran kinerja.
17 22 Metode OMAX adalah suatu metode sistem skor yang memperhatikan metrikmetrik pengukuran dari KPI/KEPI yang ada dengan melakukan konsolidasi metrik tersebut menjadi ukuran tunggal yang sering disebut dengan current performance. Model ini berhasil ditemukan oleh James L. Riggs di Oregon State University Format dari Objective Matrix Metode OMAX menggabungkan kriteria-kriteria produktivitas ke dalam suatu bentuk yang terpadu dan berhubungan satu sama lain. Berikut adalah contoh tabel kerangka kerja pada metode OMAX. Tabel 2.5 Kerangka OMAX Performance Criteria K1 K2 K3 K4 K5 Score Performance Realistic Performance Objective Score Weight Value
18 23 Susunan model OMAX berupa matriks yang terdiri atas: 1) Kriteria Merupakan indikator kinerja kunci (dalam hal ini KEPI) yang akan diukur kinerjanya, dan dinyatakan dengan sesuai dengan metrik yang digunakannya. 2) Performance Merupakan tempat diletakkannya hasil dari perhitungan terhadap KPI/KEPI. Hasil yang diperoleh selanjutnya dicantumkan pada baris performance untuk indikator kunci yang diukur. 3) Butir-butir matriks Terdapat dalam badan matriks yang disusun oleh besaran-besaran pencapaian mulai dari tingkat 1 (hasil yang terjelek) sampai dengan tingkat 10 (hasil terbaik). Sedangkan pada tingkat 3 merupakan data pengukuran untuk data pada periode sebelumnya. 4) Score Hasil dari prngukuran dari data aktual yang dibandingkan dengan tingkat kinerja yang paling mendekati. Score menunjukkan kinerja KPI/KEPI yang diukur sesuai dengan metrik standar yang digunakan yaitu 1 sampai 10. 5) Weight Menyatakan bobot dari indikator-indikator kunci yang hendak diukur. Nilai bobot ini diperoleh dari hasil pengolahan AHP pada tahapan sebelumnya. 6) Value Menyatakan hasil perkalian dari skor kinerja untuk KPI/KEPI yang ada dengan bobot Indikator kuncinya. 7) Performance Indicator
19 24 Menyatakan jumlah value dari semua KPI/KEPI yang telah diukur. Pada bagian ini akan dilakukan perbandingan kinerja periode sebelumnya dengan periode pengukuran yang dinyatakan dengan indeks. Bila indeks menunjukkan nilai lebih besar dari 1 berarti kinerja periode pengukuran lebih baik kinerjanya dibanding dengan kinerja periode sebelumnya. Bila nilai indeks kurang dari 1, maka menunjukkan sebaliknya, yaitu kinerja awal lebih baik dari kinerja di periode pengukuran. Namun bila nilai indeks yang dihasilkan adalah1, maka ini menunjukkan bahwa kinerja periode pengukuran sama dengan kinerja periode sebelumnya. 8) Score Performance Dalam metode OMAX, perhitungan dilakukan dengan menggunakan score, score disini bernilai dari 0 sampai 10 dimana: Score 0 menyatakan kondisi terjelek yang terjadi Score 3 menyatakan hasil-hasil yang ingin dicapai dalam kondisi normal selama proses pengukuran berlangsung Score 10 menyatakan perkiraan realistis target yang mungkin akan tercapai oleh perusahaan dalam suatu kurun waktu tertentu Score 2 dilakukan interpolasi antara 0 dan 3 Score 4,5,6,7,8,9, sama seperti skor 2 hanya saja disini interpolasi dilakukan antara 3 sampai 10 Format OMAX juga terbagi atas tiga bagian pokok, yaitu: 1) Difining, yaitu mendefinisikan faktor-faktor yang menentukan kinerja dari suatu unit kerja didefinisikan sebagai indikator kinerja. Pencapaian sesungguhnya dari suatu unit kinerja selama periode tertentu dimasukkan dalam baris performance.
20 25 2) Quantifiying, yaitu mengkuantifikasi badan matrik yang terdiri dari level pencapaian berkisar dari 0 untuk performansi yang tidak memuaskan hingga 10 untuk pencapaian superior. 3) Monitoring indicator performance adalah jumlah dan nilai yang diperoleh dengan mengalikan setiap nilai indikator kunci dengan bobotnya. Indeks adalah perbedaan persentase antara indicator performance saat ini dengan periode sebelumnya. 2.4 Tahap Evaluasi Kinerja Traffic Light System Traffic Light System berhubungan erat dengan scoring system. Traffic Light system berfungsi sebagai tanda apakah score dari suatu KPI/KEPI memerlukan suatu perbaikan atau tidakan. Indikator dari Traffic Light System ini direpresentasikan dengan beberapa warna sebagai berikut: 1) Green / Hijau Achievement dari suatu KPI/KEPI sudah tercapai. Artinya, target yang ingin dicapai telah terpenuhi pada indikator ini dan perlu dipertahankan agar hasil ini tidak mengalami penurunan. 2) Yellow / Kuning Achievement dari suatu indikator kinerja belum tercapai, meskipun nilainya telah mendekati target, jadi pihak manajemen harus segera melakukan tindakan untuk meningkatkan performa dari indikator yang berwarna kuning. 3) Red / Merah Achievement dari suatu indikator kinerja benar-benar dibawah target yang telah ditetapkan dan memerlukan perbaikan dengan segera. Penentuan dari besarnya score achievement suatu indikator kinerja yang termasuk warna-warna dari Traffic Light System tergantung dari penilaian dan kemampuan sebuah perusahaan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1. Metode Penelitian Metodologi penelitian merupakan gambaran proses atau tahapan-tahapan penelitian yang harus ditetapkan terlebih dahulu sehingga menjadi suatu kerangka
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Industri dan Aspek Lingkungan Industrialisasi menjadi salah satu faktor tonggak keberhasilan ekonomi masyarakat modern di era globalisasi ini. Bahkan, karena posisinya yang cukup
BAB III METODOLOGI PENELITIAAN
35 BAB III METODOLOGI PENELITIAAN 3.1 Metodologi Penelitian Metodologi penelitian bertujuan untuk memberikan kerangka penelitian yang sistematis sehingga dapat memberikan kesesuaian antara tujuan penelitian
PENINGKATAN KINERJA PERUSAHAAN KEMASAN PLASTIK DENGAN PENDEKATAN METODE PERFORMANCE PRISM DAN OBJECTIVE MATRIX
PENINGKATAN KINERJA PERUSAHAAN KEMASAN PLASTIK DENGAN PENDEKATAN METODE PERFORMANCE PRISM DAN OBJECTIVE MATRIX Vita Rias Prastika 1*, Ahmad Mubin 2*, Shanty Kusuma Dewi 3 1,2,3 Jurusan Teknik Industri,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Vendor Dalam arti harfiahnya, vendor adalah penjual. Namun vendor memiliki artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam industri yang menghubungkan
Perancangan Integrated Environmental Performance Measurement System Di Rumah Sakit
https://doi.org/10.22219/jtiumm.vol18.no1.9-18 Perancangan Integrated Environmental Performance Measurement System Di Rumah Sakit Chandra Kurniawan *, Ahmad Mubin, Heri Mujayin Kholik Jurusan Teknik Industri,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metodologi penelitian bertujuan untuk memberikan kerangka penelitian yang sistematis sehingga dapat memberikan kesesuaian antara tujuan penelitian dengan
BAB 3 METODE PENELITIAN
56 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan dipaparkan mengenai perancangan penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penulisan ini. Penelitian ini memiliki 2 (dua) tujuan,
BAB 2 LANDASAN TEORI Analytial Hierarchy Process (AHP) Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP)
BAB 2 LANDASAN TEORI 2 1 Analytial Hierarchy Process (AHP) 2 1 1 Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP) Metode AHP merupakan salah satu metode pengambilan keputusan yang menggunakan faktor-faktor
PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI
PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI Dwi Nurul Izzhati Fakultas Teknik, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang 50131 E-mail : [email protected]
ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP
ANALISIS DATA Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan konsumen dan pakar serta tinjauan langsung ke lapangan, dianalisa menggunakan metode yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kepentingannya.
Pengertian Metode AHP
Pengertian Metode AHP Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan
BAB III METODOLOGI PENILITIAN
BAB III METODOLOGI PENILITIAN 3.1 Metode Penilitian Metodologi penelitian menguraikan seluruh kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung dari awal proses penelitian sampai akhir penelitian.
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menyajikan
BAB III METODE PENELITIAN
39 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Identifikasi Masalah Metodologi penelitian adalah salah satu cara dalam penelitian yang menjabarkan tentang seluruh isi penelitian dari teknik pengumpulan data sampai pada
MODEL RANCANGAN PENGUKURAN KINERJA DENGAN PENDEKATAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM
Teknika : Engineering and Sains Journal Volume 1, Nomor 1, Juni 2017, 33-40 ISSN 2579-5422 online ISSN 2580-4146 print MODEL RANCANGAN PENGUKURAN KINERJA DENGAN PENDEKATAN METODE INTEGRATED PERFORMANCE
MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)
Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor
BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian Objek penelitian ini adalah strategi pengadaan bahan baku agroindustri ubi jalar di PT Galih Estetika Indonesia Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT Multi-Attribute Decision Making (MADM) Permasalahan untuk pencarian terhadap solusi terbaik dari sejumlah alternatif dapat dilakukan dengan beberapa teknik,
BAB III METODE KAJIAN
47 BAB III METODE KAJIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Meningkatnya aktivitas perkotaan seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang kemudian diikuti dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk akan
BAB 2 LANDASAN TEORI
19 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analytic Hierarchy Process (AHP) Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dikembangkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun 70 an ketika di Warston school. Metode AHP merupakan salah
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Bab ini menjelaskan mengenai metode Analytic Hierarchy Process (AHP) sebagai metode yang digunakan untuk memilih obat terbaik dalam penelitian ini. Disini juga dijelaskan prosedur
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Tampilan Hasil Berikut ini dijelaskan tentang tampilan hasil dari sistem pendukung keputusan penentuan kenaikan kelas pada SMA Ar Rahman dengan sistem yang dibangun dapat
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analytic Hierarchy Process (AHP) Sumber kerumitan masalah keputusan bukan hanya dikarenakan faktor ketidakpasatian atau ketidaksempurnaan informasi saja. Namun masih terdapat penyebab
Kuliah 11. Metode Analytical Hierarchy Process. Dielaborasi dari materi kuliah Sofian Effendi. Sofian Effendi dan Marlan Hutahaean 30/05/2016
1 Kuliah 11 Metode Analytical Hierarchy Process Dielaborasi dari materi kuliah Sofian Effendi METODE AHP 2 Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan Analytical Network Process (ANP) dapat digunakan
BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di KUB Hurip Mandiri Kecamatan Cisolok,
98 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di KUB Hurip Mandiri Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan
ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)
ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS) M.Fajar Nurwildani Dosen Prodi Teknik Industri, Universitasa Pancasakti,
ABSTRAK. Kata kunci: pengukuran kinerja, stakeholder, kpi
ABSTRAK Perusahaan belum pernah menerapkan pengukuran kinerja terhadap pihakpihak yang berhubungan dengan perusahaan.. Melihat hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran kinerja.
MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)
Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor
METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM
METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM Oleh : Yuniva Eka Nugroho 4209106015 Jurusan Teknik Sistem Perkapalan
BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pemilihan Supplier Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan kegiatan strategis terutama apabila supplier tersebut memasok item yang kritis atau akan digunakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem Pendukung Keputusan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Pendukung Keputusan Sistem pendukung keputusan adalah sebuah sistem yang efektif dalam membantu mengambil suatu keputusan yang kompleks, sistem ini menggunakan aturan
BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)
BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK 3.1 Pengertian Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) pertama kali dikembangkan oleh Thomas Lorie Saaty dari Wharton
Pengukuran Kinerja Lingkungan Menggunakan Pendekatan Integrated Environment Performance Measurement System di RSUD Sekarwangi Cibadak, Sukabumi
Pengukuran Kinerja Lingkungan Menggunakan Pendekatan Integrated Environment Performance Measurement System di RSUD Sekarwangi Cibadak, Sukabumi Aftina Damasari Abdullah 1), Aviasti 2), Nur Rahman Assad
PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS
PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS Endang Widuri Asih 1 1) Jurusan Teknik Industri Institut Sains
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Tampilan Hasil Berikut ini dijelaskan tentang tampilan hasil dari sistem pendukung keputusan seleksi pemilihan agen terbaik dengan sistem yang dibangun dapat dilihat sebagai
BAB III METODE PENELITIAN
11 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) ini dilaksanakan di PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat pada
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Perkembangan teknologi yang begitu pesat, secara langsung mempengaruhi pola pikir masyarakat dan budaya hidup yang serba praktis dan modern.
Peningkatan Kinerja Toyota Auto2000 Banyuwangi dengan Penilaian Kinerja Menggunakan Metode Integrated Performance Measurement Systems (IPMS)
Petunjuk Sitasi: Suprihatin, E., & Amsori, M. A. (2017). Peningkatan Kinerja Toyota Auto2000 Banyuwangi dengan Penilaian Kinerja Menggunakan Metode Integrated Performance Measurement Systems (IPMS). Prosiding
BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN 4.1. Objek Pengambilan Keputusan Dalam bidang manajemen operasi, fleksibilitas manufaktur telah ditetapkan sebagai sebuah prioritas daya saing utama dalam sistem
Skripsi. Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang. Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Akademik. Dalam Menyelesaikan Program Sarjana Teknik
Perancangan Sistem dan Pengukuran Kinerja Lingkungan Pada Unit Pengolahan Limbah Rumah Sakit dengan Metode Integrated Environmental Performance Measurement System (IEPMS) dan Objective Matrix ( OMAX )
ANALISIS DAN USULAN SOLUSI SISTEM UNTUK MENDUKUNG KEPUTUSAN PENILAIAN KINERJA DOSEN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
ANALISIS DAN USULAN SOLUSI SISTEM UNTUK MENDUKUNG KEPUTUSAN PENILAIAN KINERJA DOSEN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Petrus Wolo 1, Ernawati 2, Paulus Mudjihartono 3 Program Studi
JAMHARI KASA TARUNA NRP DOSEN PEMBIMBING Prof. Dr.Ir. Udisubakti Ciptomulyono, M.Eng.SC
TESIS MM PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA DI DINAS PEKERJAAN UMUM DAERAH KOTA BLITAR DENGAN METODE BALANCED SCORECARD DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) JAMHARI KASA TARUNA NRP 9106 201 307 DOSEN
IV METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperkuat dan mendukung analisis penelitian adalah:
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Balai Pengembangan Teknologi (BPT) Mekanisasi Pertanian Jawa Barat yang terletak di Jalan Darmaga Timur Bojongpicung, Cihea,
Sesi XIII AHP (Analytical Hierarchy Process)
Mata Kuliah :: Riset Operasi Kode MK : TKS 4019 Pengampu : Achfas Zacoeb Sesi XIII AHP (Analytical Hierarchy Process) e-mail : [email protected] www.zacoeb.lecture.ub.ac.id Hp. 081233978339 Pendahuluan AHP
Produktivitas dipengaruhi oleh efisiensi, efektivitas dan kualitas. Bersama dengan inovasi dan kualitas kerja, produktivitas menentukan kinerja
Produktivitas dipengaruhi oleh efisiensi, efektivitas dan kualitas. Bersama dengan inovasi dan kualitas kerja, produktivitas menentukan kinerja organisasi total, yaitu kemampuan memperoleh keuntungan Tanpa
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Penelitian Terdahulu dan Penelitian Sekarang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1.Tinjauan Pustaka 2.1.1. Penelitian Terdahulu dan Penelitian Sekarang Penelitian mengenai evaluasi sistem penggjian dan pengupahan sudah banyak dilakukan salah
III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat
III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data-data yang digunakan untuk penelitian ini merupakan gabungan antara data primer dan data sekunder. Data primer mencakup hasil penggalian pendapat atau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori 2.1.1 Sistem Pendukung Keputusan Pada dasarnya sistem pendukung keputusan merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem informasi manajemen terkomputerisasi. Sistem
PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN INTEGRATED ENVIROMENTAL PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM AHP
PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN INTEGRATED ENVIROMENTAL PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM AHP Shanti Kirana Anggraeni, Sirajuddin, Prasetiyo Nugroho Jurusan Teknik Industri
BAB III METODE PENELITIAN. A. Lokasi Penelitian dan Fokus penelitian Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Timur tepatnya Kota
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian dan Fokus penelitian Penelitian ini dilakukan di Provinsi Jawa Timur tepatnya Kota Malang. Fokus penelitian ini meliputi Sub sektor apa saja yang dapat menjadi
BAB II KAJIAN LITERATUR
7 BAB II KAJIAN LITERATUR Dalam bab ini akan berisi kajian literatur yang nantinya akan digunakan dalam penelitian ini. Dengan tujuan untuk mengetahui apa saja dasar teori dan juga kajian kajian yang telah
REKAYASA SISTEM PENUNJANG MANAJEMEN PRODUKSI BERSIH AGROINDUSTRI KARET REMAH. Konfigurasi Model
97 REKAYASA SISTEM PENUNJANG MANAJEMEN PRODUKSI BERSIH AGROINDUSTRI KARET REMAH Konfigurasi Model Model untuk sistem penunjang manajemen produksi bersih agroindustri karet remah dirancang dalam satu paket
RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN
RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN Yosep Agus Pranoto Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor mulai Desember 2010 Maret 2011. 3.2 Bahan dan Alat Bahan dan alat yang digunakan
PENERAPAN AHP UNTUK SELEKSI MAHASISWA BERPRESTASI
bidang TEKNIK PENERAPAN AHP UNTUK SELEKSI MAHASISWA BERPRESTASI SRI NURHAYATI, SRI SUPATMI Program Studi Teknik Komputer Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia Tujuan dari Perguruan
Pertemuan 5. Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).
Pertemuan 5 Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pengembangan Pendekatan SPK (II) Pengembangan Pendekatan SPK (II) Pengembangan SPK membutuhkan pendekatan
Bab II Analytic Hierarchy Process
Bab II Analytic Hierarchy Process 2.1. Pengertian Analytic Hierarchy Process (AHP) Metode AHP merupakan salah satu metode pengambilan keputusan yang menggunakan faktor-faktor logika, intuisi, pengalaman,
P11 AHP. A. Sidiq P.
P11 AHP A. Sidiq P. http://sidiq.mercubuana-yogya.ac.id Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta Tujuan Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan
Seleksi Material Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process Dan Pugh Gabriel Sianturi
Seleksi Material Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process Dan Pugh Gabriel Sianturi Program Studi Teknik Industri Universitas Komputer Indonesia Jalan Dipatiukur 112-116 Bandung Email: [email protected]
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian Terkait Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dita Monita seorang mahasiswa program studi teknik informatika dari STMIK Budi Darma Medan
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS SEBAGAI PENDUKUNG KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT) PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN RUMAH KOS UNTUK KARYAWAN
Jurnal Informatika Mulawarman Vol. 7 No. 3 Edisi September 2012 75 ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS SEBAGAI PENDUKUNG KEPUTUSAN (DECISION SUPPORT) PEMILIHAN LOKASI PEMBANGUNAN RUMAH KOS UNTUK KARYAWAN Dyna
PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG)
PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG) Frans Ikorasaki 1 1,2 Sistem Informasi, Tehnik dan Ilmu Komputer, Universitas Potensi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pada bab ini akan diuraikan tahapan atau langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian secara sistematik, sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan penelitian. 3.1 Tempat
Penyebaran Kuisioner
Penentuan Sampel 1. Responden pada penelitian ini adalah stakeholders sebagai pembuat keputusan dalam penentuan prioritas penanganan drainase dan exspert dibidangnya. 2. Teknik sampling yang digunakan
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Bahan baku merupakan sumber daya utama dalam kegiatan produksi selain sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dan mesin sebagai sumber daya teknologi, dengan alasan diatas maka perlu dilakukan
Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).
Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pengembangan Pendekatan SPK Pengembangan SPK membutuhkan pendekatan yg unik. Pengembangan SPK Terdapat 3 (tiga) pendekatan
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Penyusunan Hirarki Dari identifikasi dan subatribut yang dominan, dapat disusun struktur hirarki sebagai berikut: Gambar 4.1 Struktur Hirarki Penerima Beasiswa
III. METODE PENELITIAN
17 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran PT NIC merupakan perusahaan yang memproduksi roti tawar spesial (RTS). Permintaan RTS menunjukkan bahwa dari tahun 2009 ke tahun 2010 meningkat sebanyak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian terkait metode Analitycal Hierarchy Process (AHP) pernah dilakukan oleh SMA N 7 Pontianak sebagai system pendukung keputusan untuk
METODE PENELITIAN. San Diego Hills. Visi dan Misi. Identifikasi gambaran umum perusahaan dan pasar sasaran
24 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran San Diego Hills Visi dan Misi Identifikasi gambaran umum perusahaan dan pasar sasaran Bauran Pemasaran Perusahaan: 1. Produk 2. Harga 3. Lokasi 4. Promosi
Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Sumber Daya Manusia dengan Pendekatan Human Resources Scorecard
Jurnal Teknik Industri, Vol.1, No.4, Desember 2013, pp.347-351 ISSN 2302-495X Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja Sumber Daya Manusia dengan Pendekatan Human Resources Scorecard Falah Queen 1, Hadi Setiawan
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PONDOK PESANTREN DI PURWOKERTO (STUDI KASUS : MAHASISWA STAIN PURWOKERTO)
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PONDOK PESANTREN DI PURWOKERTO (STUDI KASUS : MAHASISWA STAIN PURWOKERTO) Nur Atikah Fitriani 1, Imam Tahyudin 2 1 Teknik Informatika, STMIK AMIKOM Purwokerto, 2 Sistem
Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP
Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP A Yani Ranius Universitas Bina Darama, Jl. A. Yani No 12 Palembang, [email protected] ABSTRAK Sistem
PENDEKATAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN URUTAN PENGERJAAN PESANAN PELANGGAN (STUDI KASUS: PT TEMBAGA MULIA SEMANAN)
PEDEKT LITYCL HIERRCHY PROCESS (HP) DLM PEETU URUT PEGERJ PES PELGG (STUDI KSUS: PT TEMBG MULI SEM) urlailah Badariah, Iveline nne Marie, Linda Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas
PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERFORMANCE PRISM DAN OBJECTIVE MATRIX (OMAX) PADA PT. SINAR GALUH PRATAMA CHANDRA GUNAWAN D
PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERFORMANCE PRISM DAN OBJECTIVE MATRIX (OMAX) PADA PT. SINAR GALUH PRATAMA TUGAS SARJANA Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Memperoleh Gelar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto. Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas kata oikos dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas kata oikos dan nomos. Oikos berarti rumah tangga, nomos berarti aturan. Sehingga
III. METODOLOGI PENELITIAN
21 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian dimulai dengan memahami visi dan misi KPSBU Jabar. Pada tahap ini dilakukan wawancara langsung dengan pihak internal koperasi agar memudahkan
Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah
Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah 3.1. Flowchart Penelitian Agar penelitian ini berjalan dengan sistematis, maka sebelumnya peneliti membuat perencanaan tentang langkah-langkah pemecahan masalah yang akan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan 7
BAB 2 2.1. Tinjauan Pustaka TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Tinjauan pustaka yang dipakai dalam penelitian ini didapat dari penelitian yang di lakukan oleh Agus Settiyono (2016) dalam penelitiannya menggunakan
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN GURU YANG BERHAK MENERIMA SERTIFIKASI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN GURU YANG BERHAK MENERIMA SERTIFIKASI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana
ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX
ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX Daniar Dwi Pratiwi 1, Erwin Budi Setiawan 2, Fhira Nhita 3 1,2,3 Prodi Ilmu Komputasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Metode Analytical Hierarchy Process 2.2.1 Definisi Analytical Hierarchy Process (AHP) Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini adalah
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Kajian Kajian ini dilakukan di Kabupaten Bogor, dengan batasan waktu data dari tahun 2000 sampai dengan 2009. Pertimbangan pemilihan lokasi kajian antar
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Untuk memperkenalkan AHP, lihat contoh masalah keputusan berikut: Sebuah kawasan menghadapi kemungkinan urbanisasi yang mempengaruhi lingkungan. Tindakan apa yang harus dilakukan
Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Pada Perusahaan XYZ
Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Pada Perusahaan XYZ Mia Rusmiyanti Jurusan Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia Bandung
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN BONUS KARYAWAN MENGGUNAKAN METODE AHP SKRIPSI
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMBERIAN BONUS KARYAWAN MENGGUNAKAN METODE AHP SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S.Kom.) Pada Progam Studi Sistem Informasi
PENENTUAN FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN LALULINTAS DI WILAYAH BANDUNG METROPOLITAN AREA
Konferensi Nasional Teknik Sipil 11 Universitas Tarumanagara, 26-27 Oktober 2017 PENENTUAN FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN LALULINTAS DI WILAYAH BANDUNG METROPOLITAN AREA Dwi Prasetyanto 1, Indra Noer Hamdhan
Muhammad Rajab Fachrizal Program Studi Sistem Informasi Universitas Komputer Indonesia
PEMILIHAN CONTROL OBJECTIVES PADA DOMAIN DELIVER AND SUPPORTFRAMEWORK COBIT. MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) (STUDI KASUS :INSTANSI PEMERINTAH X) Muhammad Rajab Fachrizal Program
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Pendukung Keputusan Pada dasarnya Sistem Pendukung Keputusan ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem informasi manajemen terkomputerisasi yang dirancang sedemikian
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI KOMPUTER SWASTA
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI KOMPUTER SWASTA Yuli Astuti 1, M. Suyanto 2, Kusrini 3 Mahasiswa 1, Pembimbing 1 2, Pembimbing 2 3 Program Studi Magister Informatika STMIK AMIKOM
BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele.
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manusia dan Pengambilan Keputusan Setiap detik, setiap saat, manusia selalu dihadapkan dengan masalah pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele. Bagaimanapun
BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM
BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM III.1. Analisis Masalah Tujuan analisa sistem dalam pembangunan aplikasi sistem pendukung keputusan ini adalah untuk mendapatkan semua kebutuhan pengguna dan sistem, yaitu
BAB IV METODE PENELITIAN. keripik pisang Kondang Jaya binaan koperasi BMT Al-Ikhlaas. yang terletak di
135 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian merupakan studi kasus yang dilakukan pada suatu usaha kecil keripik pisang Kondang Jaya binaan koperasi BMT Al-Ikhlaas. yang terletak
3 METODOLOGI PENELITIAN
1) Miskin sekali: Apabila tingkat pendapatan per kapita per tahun lebih rendah 75% dari total pengeluaran 9 bahan pokok 2) Miskin: Apabila tingkat pendapatan per kapita per tahun berkisar antara 75-125%
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Dalam penelitian mengenai strategi bauran pemasaran pertama kali peneliti akan mempelajari mengenai visi misi dan tujuan perusahaan, dimana perusahaan yang
Sistem Pendukung Keputusan Penasehat Akademik (PA) untuk Mengurangi Angka Drop Out (DO) di STMIK Bina Sarana Global
Sistem Pendukung Keputusan Penasehat Akademik (PA) untuk Mengurangi Angka Drop Out (DO) di STMIK Bina Sarana Global Sri Subekti 1, Arni Retno Mariana 2, Andri Riswanda 3 1,2 Dosen STMIK Bina Sarana Global,
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Dasar Sistem Suatu sistem pada dasarnya adalah sekolompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.
EVALUASI KEANDALAN KESELAMATAN KEBAKARAN PADA GEDUNG FISIP II UNIVERSITAS BRAWIJAYA, MALANG.
EVALUASI KEANDALAN KESELAMATAN KEBAKARAN PADA GEDUNG FISIP II UNIVERSITAS BRAWIJAYA, MALANG. Dheva Vegar Anggara Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang. Jalan Mayjen Haryono
ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Vol. 10, No. 1, Juni 2011 ISSN 1412-6869 ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) Pendahuluan Ngatawi 1 dan Ira Setyaningsih 2 Abstrak:
