BAB III METODE PENELITIAN
|
|
|
- Veronika Dewi Pranata
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Desain penelitian yang digunakan bersifat analitik yang bertujuan untuk melihat hubungan antara dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. Dengan menggunakan desain studi cross-sectional yaitu mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan variabel dependen (Stress Kerja) dalam waktu yang bersamaan. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di GRHA Trac Medan. Waktu penelitian dilaksanakan pada Januari 2017 sampai April Populasi dan Sampel Populasi Populasi yang diambil dari penelitian ini adalah seluruh pengemudi mobil GRHA Trac Medan yang bekerja sebagai Sopir di Bank Permata Medan yang berjumlah 33 orang Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Total Populasi, yaitu seluruh populasi yang berjumlah 33 orang. 3.4 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data menggunakan sumber data primer dan data sekunder, yaitu: 31
2 Data Primer Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara langsung dari pengemudi GRHA Trac yang bekerja di Bank Permata Medan dengan menggunakan alat ukur berupa kuesioner yang disebarkan dan diisi oleh para pekerja Data Sekunder Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari literatur ilmiah dan penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan stress kerja dan dokumendokumen yang diperlukan yang diperoleh dari GRHA Trac Medan. 3.5 Variabel dan Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Variabel independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor risiko stress yaitu umur pengemudi, masa kerja, lama kerja, dan hubungan interpersonal. 2. Variabel dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Stress Kerja Definisi Operasional Definisi operasional dalam penelitian ini adalah: 1. Stress kerja adalah Kondisi yang dipersepsikan oleh Pengemudi dimana faktor-faktor dalam pekerjaan berinteraksi dengan pengemudi, menimbulkan tekanan pada pengemudi, sehingga dapat mengganggu keseimbangan emosi, fisiologis, perilaku kognitif, yang ditandai dengan 3 indikator; perilaku, emosi dan fisik.
3 33 2. Umur adalah lamanya pengemudi hidup yang dihitung dalam tahun sejak lahir sampai penelitian ini berlangsung. 3. Masa kerja adalah lamanya pengemudi bekerja terhitung sejak awal bekerja sebagai pengemudi mobil di GRHA Trac sampai penelitian ini dilaksanakan. 4. Lama kerja adalah Jumlah jam kerja pengemudi dalam satu hari. 5. Hubungan Interpesonal adalah persepsi pengemudi mengenai hubungannya dengan pengemudi mobil GRHA Trac lainnya. 3.6 Metode Pengukuran Pengukuran Variabel Dependen (Tingkat Stress Kerja) Variabel dependen (stres kerja) diukur dengan indikator yang telah ditetapkan sesuai dengan metode self report measure yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat stres. Metode self report measure menggunakan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan adanya perubahan fisiologis, psikologi, dan perilaku. Salah satunya adalah dengan menggunakan kuesioner dari HSE (2003), dapat dilakukan dengan penilaian stres secara subjektf melalui pengisisan kuesioner dengan 5 skala likert dari 35 pertanyaan, dimana terdapat 23 pertanyaan bersifat positif yang terdapat pada nomor; 1, 2, 4, 7, 8, 10, 11, 13, 15, 17, 19, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 35 dan 12 pertanyaan bersifat negatif yang terdapat pada nomor; 3, 5, 6, 9, 12, 14, 16, 18, 20, 21, 22, 34. Penempatan skor tergantung dari setiap pertanyaan yang diajukan. Dimana jawaban skoring dimulai dari tidak pernah, jarang, agak sering, sering, dan selalu. Untuk pertanyaan yang bersifat positif dengan kategori tidak pernah diberi skor 1,
4 34 jarang diberi skor 2, agak sering diberi skor 3, sering diberi skor 4, dan selalu diberi skor 5. Pertanyaan yang bersifat negatif dengan kategori tidak pernah diberi skor 5, jarang diberi skor 4, agak sering diberi skor 3, sering diberi skor 2, dan selalu diberi skor 1. Selanjutnya stelah selesai melakukan pengisian kuesioner, maka langkah berikutnya adalah menghitung jumlah skor pada masing-masing kolom dari 35 pertanyaan yang diajukan dan menjumlahkannya menjadi total skor individu. Berdasarkan desain penelitian stres dengan menggunakan 5 skala likert ini, akan diperoleh skor individu terendah adalah sebesar 35 (tingkat risiko stres sangat tinggi) dan skor individu tertinggi adalah 175 (tingkat stres rendah atau tidak ada indikasi stres). Skor kuesioner mulai dari Tidak Pernah, Jarang, Agak Sering, Sering, dan Selalu dijelaskan menggunakan nominal atau menunjukkan frekuensi per minggu mulai dari 0 (nol) sampai dengan 7 untuk menjelaskan tingkat perbedaan dari skor tersebut. Tidak pernah (0), Jarang (1 2 kali dalam seminggu), Agak Sering (3 4 kali dalam seminggu), Sering (5 6 kali dalam seminggu), dan Selalu (7 kali dalam seminggu). Tabel 3.1 Klasifikasi Tingkat Risiko Stres Akibat Kerja Berdasarkan Total Skor Individu Total Skor stres Tingkat risiko stres Kategori Stres individu rendah sedang tinggi Sangat tinggi Tarwaka, Pengukuran Variabel Independen.
5 35 NO Variabel Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala 1 Umur wawancara Kuesioner 0 38 tahun Ordinal 1 < 38 tahun (Nilai Median) 2 Masa kerja wawancara Kuesioner 0 5 tahun Ordinal 1 < 5 tahun (Nilai Median) 3 Lama kerja wawancara Kuesioner 0 8 jam Ordinal 1 < 8 jam 4 Hubungan interpersonal wawancara Kuesioner 1 Akrab 2 Biasa Ordinal 3.7 Metode Analisa data Pengolahan data Data yang diperoleh kemudian dikumpulkan, diolah sesuai dengan tujuan dan kerangka konsep penelitian. Setelah data terkumpul, kemudian dilakukan tahap-tahap sebagai berikut (Soekidjo Notoatmodjo, 2010) : 1. Editing, kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut. Apakah lengkap, apakah jawaban jelas, relevan dan konsisten dengan pertanyaan. Apabila ada jawaban-jawaban yang belum lengkap, jika memungkinkan perlu dilakukan pengambilan data ulang untuk melengkapi jawaban-jawaban tersebut. Tetapi apabila tidak memungkinkan, maka pertanyaan yang jawabannya tidak lengkap tersebut tidak diolah atau dimasukkan dalam pengolahan data missing. 2. Coding, mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Koding atau pemberian kode sangat berguna dalam memasukkan data (data entry).
6 36 3. Entry Data, Data yaitu jawaban-jawaban dari masing-massing responden yang dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukkan kedalam program atau software komputer untuk dianalisis. 4. Cleaning (Pembersihan data), merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat meng-entry data ke komputer Analisa Data 1. Analisis Univariat, bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Presentase ini disajikan dalam bentuk tabel untuk menggambarkan tiap masing-masing variabel. Variabelnya adalah umur, masa kerja, lama kerja, dan hubungan interpersonal. 2. Analisis Bivariat, dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Analisis ini untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen dengan independen secara satu persatu dengan menggunakan uji statistik Chi-Square. Derajat kepecayaan yang digunakan adalah 95% (α=0,05). Jika ρ-value lebih kecil dari α (ρ<0,05), artinya terdapat hubungan yang bermakna (signifikan) dari kedua variabel yang diteliti. Bila ρ value lebih besar dari α (ρ>0,05), artinya tidak terdapat hubungan bermakna antara kedua variabel yang diteliti.
7 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan yang bekerja sebagai driver di Bank Permata Medan dengan jumlah responden sebanyak 33 pengemudi. GRHA Trac Medan berkantor di Jl. Gatot Subroto, Sei Sikambing B, Medan Sunggal, Kota Medan. Sedangkan alamat Bank permata adalah Jl.Kh. Zainul Arifin, Madras Hulu, Medan. 4.2 Gambaran Umum GRHA Trac Medan GRHA TRAC-Astra Rent a Car adalah anak perusahaan dari PT Serasi Autoraya dan bagian dari PT Astra Internasional Tbk yang menyediakan layanan solusi transportasi di Indonesia selama lebih dari 28 tahun pengalaman. GRHA TRAC sudah memiliki lebih dari Unit dengan berbagai jenis kendaraan yang telah beroperasi di lebih dari perusahaan pelanggan dan didukung oleh lebih dari driver profesional. GRHA TRAC melayani berbagai industri baik di daerah perkotaan sampai ke daerah terpencil, melalui 34 kantor cabang, 35 service point, 69 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia dan salah satunya ada di Kota Medan Visi dan Misi GRHA Trac Medan Visi: Untuk menjadi perusahaan yang sangat inovatif dan terkemuka melalui pertumbuhan berkelanjutan, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan produk, etika dan budaya keselamatan. 37
8 38 Misi: Untuk Mencapai tingkat superior kepuasaan pelanggan dengan membeikan solusi terbaik dalam transportasi. 4.3 Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap setiap variabel penelitian. Analisis univariat dalam penelitian ini meliputi distribusi dan persentase dari setiap variabel data yang berhubungan dengan kejadian stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan tahun Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Karakteristik responden bila dilihat dari umur dalam peneltian ini di sajikan pada tabel berikut: Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur. No Umur f % Tahun 14 42,4 2. < 38 Tahun 19 57,6 Jumlah Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 33 responden yang di ambil, terdapat responden yang berada pada umur dibawah 38 tahun memiliki jumlah yang paling banyak yaitu 57,6% Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Dari data penelitian diperoleh informasi mengenai masa kerja responden seperti disajikan pada tabel berikut:
9 39 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Masa Kerja No Masa Kerja f % 1. 5 Tahun 20 60,6 2. < 5 Tahun 13 39,4 Jumlah Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari 33 responden, pengemudi dengan masa kerja 5 tahun memiliki jumlah yang paling besar, yaitu sebesar 60,6% Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja Dari data penelitian diperoleh informasi mengenai lama kerja responden seperti disajikan pada tabel berikut. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Kerja. No Lama Kerja f % 1. 8 jam 18 54,5 2. < 8 jam 15 45,5 Jumlah Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari 33 responden, pengemudi dengan lama kerja 8 jam memiliki jumlah yang paling besar, yaitu sebesar 54,5% Karakteristik Responden Berdasarkan Hubungan Interpersonal Responden Dari data penelitian diperoleh informasi mengenai hubungan interpersonal responden seperti disajikan pada tabel berikut.
10 40 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hubungan Interpersonal No Hubungan Kerja f % 1. Akrab 19 57,6 2 Biasa 14 42,4 Jumlah Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari 33 responden, pengemudi yang menjalin hubungan kerja akrab memiliki jumlah kerja yang paling besar, yaitu sebesar 57,6% Karakteristik Responden berdasarkan Tingkat Stres Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Stres Kerja No Tingkat Stres f % 1. Rendah 14 42,4 2. Sedang 8 24,2 3 Tinggi 11 33,3 Jumlah Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa dari 33 responden, pengemudi dengan tingkat stres kerja rendah memiliki jumlah yang paling besar, yaitu sebesar 42,4%. 4.4 Analisis Bivariat Analisis bivariat ini digunakan untuk menguji adakah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Dalam penelitian ini variabael bebas terdiri dari: Umur, masa kerja, lama kerja, dan hubungan interpersonal. Variabel terikatnya adalah stres kerja. Analisis bivariat ini menggunakan uji chi square.
11 Hubungan antara Umur dengan Stres Kerja Tabel 4.6 Hubungan antara umur dengan stres kerja. Umur Stres Kerja P Total Rendah Sedang Tinggi f % f % f % f % ,3 4 12,1 1 3, ,4 tahun < ,2 4 12, , , tahun Jumlah 14 42,4 8 24, , Berdasarkan tabel 4.6 hasil analisis statistik uji Chi-square diperoleh nilai p value 0,023 (p value < 0,05) maka H 0 ditolak H a diterima, yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara umur dengan stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan. Pengemudi mobil yang berumur kurang dari 38 tahun memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami stres bila dibandingkan dengan pengemudi mobil yang berumur 38 tahun atau lebih. Sebanyak 30,3% pengemudi mobil yang berumur di bawah 38 tahun mengalami stres tinggi. Sebanyak 3,0% pengemudi mobil yang berumur 38 tahun atau lebih mengalami stres tinggi Hubungan antara Masa kerja dengan Stres Kerja Tabel 4.7 Hubungan Antara Masa Kerja Dengan Stres Kerja Masa Stres Kerja P Total kerja Rendah Sedang Tinggi f % f % f % f % ,2 5 15, , ,6 tahun < ,3 3 9,1 1 3, , tahun Jumlah 14 42,4 8 24, , Berdasarkan tabel 4.7 hasil analisis statistik uji Chi-square diperoleh nilai p value 0,018 (p value < 0,05) maka H 0 ditolak H a diterima, yang menyatakan ada
12 42 hubungan yang bermakna antara masa kerja dengan stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan. Pengemudi mobil dengan masa kerja 5 tahun atau lebih memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami stres bila dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki masa kerja kurang dari 5 tahun. Sebanyak 30,3% pengemudi mobil dengan masa kerja 5 tahun atau lebih mengalami stres kerja tinggi. Sebanyak 3,0% pengemudi mobil dengan masa kerja kurang dari 5 tahun mengalami stres kerja tinggi Hubungan antara Lama Kerja dengan Stres Kerja Tabel 4.8 Hubungan Antara Lama Kerja Dengan Stres Kerja Lama Stres Kerja P Total kerja Rendah Sedang Tinggi f % f % f % f % 8jam 4 12,1 5 15,2 9 27, ,5 < 8jam 10 30,3 3 9,1 2 6, , Jumlah 14 42,4 8 24, , Berdasarkan tabel 4.8 hasil analisis statistik uji Chi-square diperoleh nilai p value 0,027 (p value < 0,05) maka H 0 ditolak H a diterima, yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara lama kerja dengan stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan. Pengemudi dengan jam kerja 8 jam atau lebih memiliki peluang lebih tinggi mengalami stres kerja bila dibandingkan dengan pengemudi yang memiliki jam kerja kurang dari 8 jam. Sebanyak 27,3% pengemudi mobil dengan jam kerja 8 jam atau lebih mengalami stres kerja tinggi. Sebanyak 6,1% pengemudi mobil dengan jam kerja kurang dari 8 jam mengalami stres tinggi.
13 Hubungan antara Hubungan Interpersonal dengan Stres Kerja Tabel 4.9 Hubungan Antara Hubungan Interpersonal Dengan Stres Kerja Hub. Stres Kerja P Total interpersonal Rendah Sedang Tinggi f % f % f % f % akrab 6 18,2 6 18,2 7 21, ,6 biasa 8 24,2 2 6,1 4 12, ,4 0,366 Jumlah 14 42,4 8 24, , Berdasarkan tabel 4.9 hasil analisis statistik uji Chi-square diperoleh nilai p value 0,366 (p value > 0,05) maka H 0 diterima H a ditolak, yang menyatakan tidak ada hubungan antara hubungan interpersonal dengan stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan. Stres tinggi lebih banyak terjadi pada pengemudi mobil yang memiliki hubungan akrab (21,2%) daripada yang hanya memiliki hubungan biasa saja (12,1%).
14 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Hubungan antara Karakteristik Individu dan Stres Kerja Hubungan Antara Umur dengan Stres Kerja. Uji statistik yang dilakukan antara umur dan stres kerja menggunakan uji Chi square menunjukkan p-value yang diperoleh sebesar 0,023 (<0,05) yang berarti ada hubungan bermakna antara umur dengan stres kerja. Pengemudi mobil yang memiliki umur lebih muda lebih rentan untuk mengalami stres kerja. Penelitian mengenai hubungan umur dengan stres kerja membuktikan bahwa semakin tua umur pekerja maka akan semakin rendah kemungkinan menderita stres kerja. Pekerja dengan umur yang lebih tua cenderung mempunyai kondisi kesehatan mental yang lebih baik dibanding pekerja dengan usia yang lebih muda. Umur berhubungan dengan maturitas atau tingkat kedewasaan, secara teknis maupun psikologis semakin bertambahnya umur seseorang maka akan meningkat kedewasaan, kematangan jiwa, dan kemampuaannya dalam menjalankan tugasnya (Siagian, 2001). Bertambahnya umur maka akan meningkat pula kemampuan membuat keputusan, berpikir rasional, semakin bijaksana, maupun mengendalikan emosi, lebih toleran dan terbuka dengan pandangan atau pendapat orang lain. Hal tersebut akan terlihat saat individu sedang dalam tekanan atau ketika beban kerja meningkat, yang bisa memicu terjadinya stres kerja. Pekerja yang lebih tua dan yang lebih berpengalaman memiliki tingkat stres kerja 44
15 45 yang rendah dibandingkan dengan pekerja yang lebih muda (Erns, Franco, Gonzales, 2004). Dalam penelitian ini, umur dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu usia 38 tahun, dan < 38 tahun. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa kategori usia < 38 tahun memiliki persentase terbesar untuk terkena stres tingkat tinggi. Sedangkan untuk kategori umur yang memiliki persentase terbesar yang mengalami stres tingkat rendah adalah usia 38 tahun. Hal ini disebabkan pada pekerja dengan usia yang lebih muda perkembangan emosi seseorang masih labil bila dibandingkan dengan usia lanjut. Sedangkan pada usia lanjut biasanya daya tahan tubuh seseorang mulai berkurang sehingga sangat berpotensi mengalami stres. Umur merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya stres kerja. Pekerja dengan umur yang lebih tua akan mempunyai pengalaman yang tidak dimiliki oleh pekerja dengan umur yang relatif lebih muda. Pengalaman ini sangat berguna terutama dalam menangani stressor yang terjadi di lingkungan kerja. Sebagian besar penelitian mengenai hubungan umur dengan stres kerja membuktikan bahwa semakin tua umur seorang pekerja maka akan semakin rendah kemungkinan mengalami stres kerja. Pekerja dengan umur yang lebih tua cenderung mempunyai kondisi kesehatan mental yang lebih baik dibanding pekerja dengan usia yang lebih muda Hubungan antara Masa Kerja dengan Stres Kerja Hubungan antara masa kerja dengan stres kerja diuji menggunakan uji Chi square dan diperoleh p-value sebesar 0,018 (<0,05) yang berarti H 0 ditolak dan H a di terima, sehingga dapat disimpulkam ada hubungan yang bermakna antara masa
16 46 kerja dengan dengan stres kerja. Masa kerja memiliki pengaruh penting dalam memicu munculnya stres kerja. Hasil penelitian menyatakan bahwa masa kerja mempunyai hubungan dengan stres kerja, hal ini dikarenakan rutinitas yang sama setiap harinya dapat memicu kejenuhan. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Cooper yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah masa kerja. Masa kerja yang lama akan mmberikan pengalaman kerja yang luas pada pekerja dan apabila pengalaman tersebut berupa hal yang negatif maka dapat mempengaruhi munculnya stres kerja individu. Pada individu dengan masa kerja yang terlalu lama, juga dapat mengalami ketegangan yang lebih disebabkan oleh kebosanan (kejenuhan) dan beban kerja yang berat baik fisik maupun mental. Dalam penelitian ini dapat diketahui pekerja yang telah bekerja 5 tahun atau lebih paling banyak mengalami stres kerja tingkat tinggi. Pekerja yang telah bekerja di atas 5 tahun biasanya memiliki tingkat kejenuhan yang lebih tinggi daripada pekerja yang baru bekerja, sehingga dengan adanya tingkat kejenuhan tersebut dapat menyebabkan stres dalam bekerja (Munandar, 2008). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa semakin lama masa kerja seseorang semakin besar peluang orang tersebut untuk mengalami stres. Hal ini sesuai dengan analisis penelitian Dara (2015) yang menyatakan bahwa semakin lama masa kerja seseorang maka semakin stres didalam pekerjaannya. Hal ini dapat terjadi karena pekerja yang sudah mempunyai masa kerja yang lama dapat menimbulkan kebosanan dalam bekerja atau merasakan kerja yang monoton dalam waktu yang lama.
17 Hubungan antara Lama Kerja dengan Stres Kerja Berdasarkan hasil uji hubungan antara lama kerja dengan stres kerja menggunakan uji Chi Square diperoleh p-value sebesar 0,027 (<0,05) yang berarti ada hubungan yang bermakna antara lama kerja dengan stres kerja. Semakin lama waktu kerja seseorang maka akan meningkatkan kemungkinan untuk mengalami stres kerja. Jam kerja merupakan bagian dari empat faktor organisasi yang merupakan sumber potensial dari stres para karyawan di tempat kerja (Robbins, 2006). Harrington (2001) juga menyatakan bahwa lamanya jam kerja berlebih dapat meningkatkan human error atau kesalahan kerja karena kelelahan yang meningkat dan jam tidur yang berkurang. Hal ini dapat menjadi pemicu timbulnya stres kerja pada pekerja yang bekerja lebih dari sama dengan 8 jam dalam satu hari kerja. Menurut Sumakmur (2009), memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan lama kerja (8jam perhari) tersebut biasanya tidak disertai dengan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja yang optimal, bahkan biasanya terlihat penurunan kualitas dan hasil kerja serta bekerja dengan waktu yang berkepanjangan timbul kecenderungan terjadinya kelelahan, gangguan kesehatan, penyakit dan kecelakaan serta ketidakpuasan. Penambahan jam kerja diluar standar (8jam perhari) yang melebihi batas kemampuannya dapat meningkatkan risiko pengemudi mengalami kelelahan yang dapat menimbulkan stres kerja. Menurut beberapa penelitian, jam kerja yang berlebihan ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas hasil kerja,
18 48 juga seringkali meningkatkan kuantitas absen dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja (Harrianto, 2005). Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada pengemudi mobil di GRHA Trac Medan, jam kerja yang melebihi dari 8 jam sering membuat mereka merasa kelelahan dalam menjalankan pekerjaannya. Mereka juga sering mengeluh mengenai kualitas istirahat yang kurang dan absen karena sakit. Selain itu stres dalam hal ini dapat berdampak positif (eustres), karena para pekerja jadi memiliki kemampuan adaptasi terhadap jam kerjanya mengenai stres yang dialaminya, namun juga mengalami disstres dengan adanya absenteisme dan sakit karena kelelahan Hubungan antara Hubungan interpersonal dengan stres kerja Berdasarkan hasil uji hubungan antara hubungan interpersonal dengan stres kerja menggunakan uji Chi square, diperoleh p-value sebesar 0,366 (>0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara hubungan interpersonal dengan stres kerja. Hubungan yang baik antar anggota dari satu kelompok kerja dianggap sebagai faktor utama dalam kesehatan individu dan organisasi. Dalam penelitian ini hubungan interpersonal yang dimaksud adalah hubungan pengemudi dengan teman kerja (pengemudi lain). Tidak adanya hubungan yang bermakna antara hubungan interpersonal dengan stres kerja atau hubungan interpersonal bukanlah termasuk faktor yang mempengaruhi stres kerja, hal ini disebabkan karena berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa sebagai pengemudi mobil dalam kesehariannya mereka bekerja secara individual dimana mereka tidak membutuhkan kerja sama tim dalam bekerja, hal inilah yang
19 49 menyebabkan antar pengemudi jarang berinteraksi saat bekerja sehingga hubungan interpersonal tidak mempengaruhi terjadinya stres kerja pada pengemudi. Hal ini juga dipengaruhi oleh target yang berbeda dalam bekerja karena masing-masing pengemudi memiliki jarak tempuh yang tidak sama ketika mengemudikan mobil, dan waktu selesainya bekerja yang tidak sama membuat kesempatan untuk bersosialisasi berkurang. Namun dalam hal bekerja, pengemudi mobil tetap membutuhkan social support atau bantuan dan dukungan dari teman kerja dan pihak manajemen untuk mengurangi dampak negatif yang merugikan dari stres kerja (Tulus Winarsunu, 2008). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak adanya hubungan yang bermakna antara hubungan interpersonal dengan stres kerja pada pengemudi mobil disebabkan karena pengemudi bekerja secara individual yang tidak membutuhkan kerja sama tim dalam bekerja sehingga tidak ada persaingan yang tidak sehat maupun konflik yang terjadi saat bekerja.
20 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan tahun 2017 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari 33 responden sebanyak 11 orang (33,3%) mengalami stres kerja tingkat tinggi, 14 orang (42,4%) berumur 38 tahun, 20 orang (60,6%) mempunyai masa kerja 5 tahun, 18 orang (54,5%) mempunyai lama kerja 8 jam dalam satu hari, dan 19 orang (57,6% )memiliki hubungan interpersonal yang akrab. 2. Ada hubungan yang bermakna antara umur (p value=0,023), masa kerja (p value=0,018), dan lama kerja (p value=0,027) dengan stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan. 3. Tidak ada hubungan yang signifikan antara hubungan interpersonal (p value=0,0366) dengan stres kerja pada pengemudi mobil GRHA Trac Medan. 6.2 SARAN Disarankan setiap pengemudi mempunyai kemauan secara pribadi dalam menghindari faktor-faktor yang dapat menyebabkan stres kerja misalnya; 1. Pengemudi sebaiknya tidak memaksakan diri untuk bekerja terlalu lama, hal ini juga perlu disesuaikan dengan umur pengemudi karena 50
21 51 kemampuan akan menurun sejalan dengan pertambahan umur dan masa kerja. 2. Pengemudi disarankan dapat membagi jadwal istirahat dengan jadwal kerja agar tidak terjadi kelelahan yang dapat memicu timbulnya stres kerja (jumlah jam kerja untuk mengemudi dalam sehari tidak lebih dari 8 jam). 3. Kepada perusahaan disarankan untuk melakukan identifikasi bahaya stres kerja pada pengemudi mobil dan mempertimbangkan bahayabahaya diluar pekerjaan yang dapat berkontribusi terhadap timbulnya stres kerja pada pengemudi..
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. (variabel dependen) dilakukan pada saat yang sama yaitu tiap subyek hanya
116 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional dimana pengukuran faktor-faktor yang menimbulkan perilaku
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian kuantitatif
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian kuantitatif observasional untuk mengetahui tingkat kelelahan (fatigue) kerja akibat kegiatan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif yaitu penelitian untuk menelaah hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok objek.
BAB III METODE PENELITIAN
55 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian yang digunakan adalah survey analitik, yang mana akan diteliti hubungan variabel
BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis atau Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis atau Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Berdasarkan hipotesis yang telah diterapkan, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi karena menjelaskan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode rancangan cross sectional (studi potong lintang). Penelitian ini bertujuan untuk
BAB III METODE PENELITIAN. Kemudian melakukan analisis komparasi (comparative study) dengan cara
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah survei analitik, yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian
BAB III METODE PENELITIAN. antar variabel dimana dalam hal ini variabel penelitian adalah shift kerja dan
37 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional design yang bertujuan untuk menganalisis adanya hubungan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang mengarahkan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan tentang suatu
BAB III METODE PENELITIAN. mengungkapkan hubungan antar variabel yaitu pemberian MP ASI dengan
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan studi analitik yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan antar variabel yaitu pemberian MP ASI dengan frekuensi
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode analitik deskriptif dengan pendekatan
III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode analitik deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. B. Tempat dan Waktu Penelitian Waktu penelitian akan dilaksanakan pada
BAB III METODE PENELITIAN. antar variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan pendekatan cross
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan dan Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian penjelasan yaitu menjelaskan hubungan antar variabel bebas dan variabel terikat dengan menggunakan pendekatan
BAB III METODE PENELITIAN. sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo, 2010). Desain penelitian ini digunakan
29 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan pendekatan crosssectional, yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamik korelasi antara
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian korelasi dimana akan menggali persepsi mengenai hemodialisis dengan tingkat kecemasan. Pendekatan yang digunakan adalah
III. METODE PENELITIAN. penelitian yang telah ditentukan (Anwar dan Prihartono, 2003). Desain
35 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian terpilih untuk dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan penelitian yang telah ditentukan (Anwar dan Prihartono, 2003). Desain penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
51 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain penelitian 1. Rancangan Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey analitik, yang mana diteliti hubungan variabel dengan variabel
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 27 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik yang bertujuan untuk mencari hubungan antar variabel.
BAB III METODE PENELITIAN. penelitian diskriptif korelatif karena menjelaskan hubungan antara dua
47 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Rancangan Penelitian Berdasarkan tujuan yang telah diterapkan, penelitian ini merupakan penelitian diskriptif korelatif karena menjelaskan hubungan antara dua variabel
BAB 6 HASIL PENELITIAN
BAB 6 HASIL PENELITIAN 6.1 Analisis Univariat 6.1.1 Tingkat Pendidikan Berdasarkan pengolahan data, maka distribusi responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut; No
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain studi cross sectional. Alasan penggunaan desain studi cross sectional karena pada desain studi ini seluruh
BAB III METODE PENELITIAN
47 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian 1. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Analitik dengan desain penelitian cross sectional dimana variabel independen (umur,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah explanatory research yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan 2 variabel
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelational untuk
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan metode Pendekatan Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelational untuk menganalisis hubungan antara variabel bebas yaitu peran pengawas minum
BAB 4 METODE PENELITIAN
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Dalam penelitian mengenai perilaku pacaran pada remaja di SMA PATRIOT Bekasi, penulis menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan Cross Sectional,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu suatu penelitian yang mempelajari hubungan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Jenis atau Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis atau Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Rancangan penelitian ini adalah discriptive correlation yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 6 Gorontalo mulai 5 Mei sampai dengan 5 juni
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 6 Gorontalo mulai 5 Mei sampai dengan 5 juni 2013. 3.2 Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan
BAB 5 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 5 METODOLOGI PENELITIAN 5.1. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian menggunakan analisis kuantitatif yaitu data hasil pengukuran yang merupakan data kualitatif yang diangkakan atau skoring. Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
27 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik yang bertujuan untuk mencari hubungan antar variabel. Rancangan penelitian ini
BAB III METODE PENELITIAN
29 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain penelitian 1. Rancangan Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey analitik, yang mana akan diteliti hubungan variabel dengan
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik cross sectional. Yaitu dengan menggunakan metode kuantitatif dan dengan pendekatan cross sectional, dimana
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah bersifat analitik yaitu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kenyataan atau data objektif.
BAB III METODE PENELITIAN. Saryono, 2010, p.84) dengan menggunakan rancangan cross sectional atau
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang dipakai adalah analitik observasional (Setiawan dan Saryono, 2010, p.84) dengan menggunakan rancangan cross sectional atau
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi yaitu penelitian yang
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi yaitu penelitian yang bertujuan mengungkapkan hubungan korelatif antar variabel. Pada rancangan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan rancangan penelitian Penelitian ini menggunakan metode survei analitik yaitu suatu penelitian yang mencoba mengetahui mengapa masalah kesehatan bisa terjadi, kemudian
METODE PENELITIAN. cross sectional. Pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian noneksperimental
33 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian noneksperimental
BAB III METODA PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat
BAB III METODA PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional dan dengan pendekatan cross sectional
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. metode Survey Analitik, dengan pendekatan Cross Sectional. yaitu survey atau
34 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian dengan metode Survey Analitik, dengan pendekatan Cross Sectional. yaitu survey atau penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep VARIABEL BEBAS Konsumsi Minuman Beralkohol Frekuensi konsumsi minuman beralkohol Banyaknya konsumsi minuman beralkohol VARIABEL TERIKAT Kejadian Obesitas Abdominal
BAB III METODE PENELITIAN
35 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain dalam penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi, karena menjelaskan hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas (pengetahuan,
BAB III METODE PENELITIAN. Desain penelitian adalah metode observasional analitik dengan pendekatan
34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Desain penelitian adalah metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu jenis penelitian yang pengukuran variabel-variabelnya
HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN JUMLAH PERAWAT DI PUSKESMAS WAEPANA KECAMATAN SOA KABUPATEN NGADA PROPINSI NTT TAHUN 2013
HUBUNGAN BEBAN KERJA DENGAN JUMLAH PERAWAT DI PUSKESMAS WAEPANA KECAMATAN SOA KABUPATEN NGADA PROPINSI NTT TAHUN 203 Paulinus Masa Sato, Adriani Kadir 3 STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2 STIKES Nani Hasanuddin
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. bersifat survey analitik, dengan menggunakan desain penelitian cross sectional,
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian yang dilaksanakan bersifat survey analitik, dengan menggunakan desain penelitian cross sectional,
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi
BAB III METODA PENELITIAN. A. Jenis/ Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan. wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan cross sectional.
BAB III METODA PENELITIAN A. Jenis/ Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian eksplanatory research dengan metode observasi dan wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan cross
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Pendekatan cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
32 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional untuk mengetahui hubungan antara variabel independen jenis kelamin, sikap terhadap
BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan adalah Cross Sectional yaitu metode
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan rancangan penelitian Jenis penelitian ini adalah analitik korelasional yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan diantara variabel-variabel yang diteliti.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan rancangan penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik. Penelitian analitik adalah survey atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa
BAB III METODE PENELITIAN. waktu penelitian di laksanakan selama 1 bulan dari tanggal 10 Mei sampai
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Lokasi penelitian di Puskesmas Bonepantai Kabupaten Bone Bolango dan waktu penelitian di laksanakan selama 1 bulan dari tanggal 10 Mei sampai tanggal
BAB III METODE PENELITIAN
8 BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah survey analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional yaitu suatu penelitian yang mencoba mengetahui mengapa
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah correlation study yaitu penelitian yang
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah correlation study yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelasi antara variabel independen dan variabel
BAB III METODE PENELITIAN
35 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian 1. Rancangan Penelitian Desain penelitian ini adalah deskriptif analityc dengan rancangan cross sectional study, yaitu setiap variabel diobservasi hanya
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah survei analitik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan
BAB III METODE PENELITIAN. survei dengan menggunakan alat bantu kuesioner dan menggunakan metode
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan cara survei dengan menggunakan alat bantu kuesioner dan menggunakan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mopuya, Kecamatan Bulawa, Kabupaten Bone Bolango. Waktu penelitian ini dilaksanakan selama 1 minggu pada bulan mei dari
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di SMP Negeri 1 Bulawa yang terletak di desa Mopuya, Kecamatan Bulawa, Kabupaten Bone Bolango. 3.1.2
BAB III METODE PENELITIAN
25 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional atau penelitian hubungan antara dua variabel pada suatu situasi
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan case-control. Studi kasus kontrol adalah rancangan epidemiologi yang mempelajari
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 2003). Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara variabel (Alimul,
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis atau Rancangan dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antara variabel
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan 15 Maret-28 Mei tahun akan dikumpulkan dalam waktu bersamaan (Notoatmodjo, 2010).
33 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1 Lokasi Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Gorontalo, Kota Gorontalo. 3.1.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di seluruh Puskesmas Kota Salatiga.
35 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat Peneitian Penelitian dilakukan di seluruh Puskesmas Kota Salatiga. B. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai bulan November 2015 dan selesai pada bulan Desember
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional
33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yaitu jenis penelitian yang
BAB III METODE PENELITIAN
37 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah korelasi, karena bertujuan untuk mencari hubungan antara
Bab III METODE PENELITIAN. pada satu waktu tertentu (Sastroasmoro, 2002).
Bab III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional yaitu pengambilan atau pengukuran data
BAB III METODE PENELITIAN. perbandingan (comparative study) dengan jenis penelitian cross sectional.
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi perbandingan (comparative study) dengan jenis penelitian cross sectional. Cross sectional
BAB III METODE PENELITIAN
36 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian 1. Rancangan Penelitian Desain penelitian ini adalah deskriptif analityc dengan rancangan cross sectional study, yaitu setiap variabel diobservasi hanya
BAB. 4 METODOLOGI PENELITIAN. dependen diambil secara bersamaan ketika penelitian dilaksanakan.
BAB. 4 METODOLOGI PENELITIAN 4. 1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survey dengan rancangan cross sectional (potong lintang) dimana variabel independen dan
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan pendekatan
III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional (Notoatmodjo, 2010). Pengambilan data primer dari semua pemulung di
BAB III METODA PENELITIAN
BAB III METODA PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasi yaitu penelitian yang dilakukan untuk menganalisis ada tidaknya hubungan antara
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Disiplin ilmu yang terkait dengan penelitian ini adalah ilmu psikiatri.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Ruang Lingkup Penelitian Disiplin ilmu yang terkait dengan penelitian ini adalah ilmu psikiatri. 1.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah Fakultas Kedokteran
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Kerangka konsep merupakan abstraksi dari suatu agar bisa dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang dapat menjelaskan keterkaitan antar variabel (baik variabel
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini mencakup ilmu kedokteran jiwa. Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup ilmu kedokteran jiwa. 3.2 Tempat dan waktu penelitian 3.2.1 Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Kampus
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan metode
3 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif analitik yang bertujuan menerangkan masalah penelitian yang terjadi pada anak
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian komparasi untuk mencari perbandingan dua sampel atau dua uji coba pada obyek penelitian. Penelitian ini
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 4 METODOLOGI ENELITIAN 4.1 Desain enelitian enelitian ini menggunakan jenis rancangan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang digunakan untuk mengetahui gambaran konsumsi
BAB I PENDAHULUAN. didalamnya terdiri dari berbagai macam individu yang berasal dari berbagai status yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karyawan dan perusahaan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Karyawan memegang peranan utama dalam menjalankan roda kehidupan perusahaan dan pelaku
BAB III METODE PENELITIAN. melakukan intervensi terhadap subjek penelitian (Notoatmodjo, 2010). Pada
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian observasional adalah penelitian yang dilakukan tanpa melakukan
BAB III METODE PENELITIAN. analitik dengan pendekatan Cross sectional, yaitu penelitian untuk
64 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan rancangan penelitian Jenis penelitian yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan Cross sectional, yaitu penelitian untuk mempelajari
BAB 4 METODE PENELITIAN
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Metode penelitian ini bersifat kuantitatif yang menggunakan desain penelitian cross sectional dimana semua variabel yang ditetapkan diteliti pada waktu yang
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Lokasi Penelitian 1. Gambaran Umum Sinar Mas Seluller adalah badan usaha atau bisnis yang bergerak dibidang jasa penjualan gadget terutama Handphone dan kebutuhan akan
BAB 4 METODE PENELITIAN
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini mengenai gambaran tingkat kepatuhan membaca label informasi zat gizi, komposisi dan kedaluwarsa, serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variabel Bebas Umur Jenis Kelamin Variabel Terikat Masa Kerja Carpal Tunnel Syndrome Lama Kerja Sikap Kerja Gambar 3.1 Kerangka Konsep 31 32 B. Hipotesis 1.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode deskriptif analitik, dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan sesaat, data yang
BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Badan Lingkungan Hidup Kota
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1. Lokasi Penelitian Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di Badan Lingkungan Hidup Kota Gorontalo. 3.1.2. Waktu Penelitian Waktu penelitian
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observatif dengan menggunakan
III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik observatif dengan menggunakan desain potong lintang (Cross sectional) yang dilakukan secara satu waktu atau mengumpulkan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik yaitu untuk mencari hubungan antara variabel bebas dan terikat yang dilakukan dengan pendekatan
METODE PENELITIAN. Bentuk penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian deskriptif
22 III. METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Bentuk penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu penelitian yang dilakukan dengan
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah dengan menggunakan
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan digunakan adalah dengan menggunakan metode deskriptif studi korelasi (Correlation Study) dengan pendekatan belah lintang (Cross
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan tujuan untuk mengamati hubungan antara pemilihan tenaga persalinan dengan faktor yang mempengaruhi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif komparatif. Penelitian komparatif untuk mencari perbandingan antara dua sampel atau dua uji
