PENGARUH PERAJANGAN BUNGA KENANGA
|
|
|
- Bambang Hartono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENGARUH PERAJANGAN BUNGA KENANGA (Canangium odorotum Baill), KEPADATAN DAN METODE PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KENANGA YANG DIHASILKAN Oleh DIAR YUNIARTI F FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2 Diar Yuniarti. F Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan. Di bawah bimbingan S.Ketaren dan Ma mun RINGKASAN Indonesia merupakan salah satu dari negara produsen minyak kenanga dengan jumlah ekspor sekitar 50 ton minyak kenanga dari Indonesia setiap tahun, yang diekspor ke Eropa dan Amerika. Bilangan ester menjadi syarat utama dalam perdagangan minyak kenanga. Harga minyak kenanga di pasaran saat ini Rp ,00. Lebih kecil jika dibandingkan dengan minyak ylang-ylang yang memiliki bilangan ester lebih tinggi dan harga di pasaran Rp ,00. Sehingga perlu adanya perbaikan mutu minyak kenanga melalui proses penyulingan minyak kenanga tersebut. Daerah penghasil minyak kenanga di Indonesia antara lain kabupaten Boyolali, Cirebon, Banten dan Blitar. Saat ini metode penyulingan yang biasa dilakukan pada beberapa penyulingan yang terdapat di Indonesia umumnya dengan menggunakan metode rebus dan sebelumnya dilakukan perajangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perajangan bunga, kepadatan bahan dan metode penyulingan yang dalam rangka mendapatkan rendemen dan mutu minyak kenanga yang optimal dan baik. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial 3x2x2 dengan dua kali ulangan. Faktor yang digunakan adalah kepadatan bunga kenanga dalam ketel (0.075 kg/l, kg/l dan 0.1 kg/l), metode penyulingan bunga kenanga (kukus dan rebus) dan perajangan bunga sebelum penyulingan (bunga dengan perajangan dan tidak dirajang). Hasil penelitian pendahuluan diperoleh kadar air(82%), kadar protein 17,30 % dan kadar minyak(1,6%) serta kondisi optimum lama penyulingan 10 jam. Semakin meningkatnya kepadatan akan cenderung menurunkan nilai rendemen, bobot jenis, indeks bias, putaran optik, dan bilangan ester, namun cenderung menaikkan nilai bilangan asam dan sisa penguapan. Semua minyak kenanga yang dihasilkan dapat larut dengan baik dalam etanol 95% dengan perbandingan 1 : 1. Metode kukus dibandingkan metode rebus menghasilkan minyak kenanga dengan nilai lebih tinggi dalam hal rendemen, bobot jenis, indeks bias, putaran optis, dan bilangan asam, sedangkan metode rebus menghasilkan nilai lebih tinggi dalam hal sisa penguapan dan bilangan ester. Bunga dirajang menghasilkan minyak kenanga dengan nilai lebih tinggi dalam hal bobot jenis, indeks bias, putaran optis, sisa penguapan dan bilangan ester, sedangkan bunga yang tidak dirajang menghasilkan nilai lebih tinggi dalam hal rendemen dan bilangan asam. Berdasarkan analisis komponen dengan metode GCMS diketahui bahwa perkiraan komponen utama yang terkandung dalam minyak kenanga terdiri dari Linalool, Geranyl acetate, beta.-caryophyllene, alpha.- Caryophyllene, Germacrene-D, alpha.-bergamotene, delta.-cadinene, Benzyl benzoate dan Cis-
3 Farnesol dengan jumlah total %, sedangkan komponen minor berjumlah % terdiri dari golongan monoterpen dan benzena serta sebagian Monoterpen O, seskuiterpen, benzene O dan seskuiterpeno. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perlakuan yang terbaik adalah penyulingan dengan metode kukus, bunga tanpa dirajang dengan kepadatan 75 gram/l dan menghasilkan minyak dengan rendemen 1.5 %, indeks bias , bobot jenis 0.913, kelarutan dalam etanol 2 :1, sisa penguapan %, putaran optik -22,1, bilangan asam 2.26, dan bilangan ester serta memiliki 43 komponen penyusun.
4 Diar Yuniarti. F The Influence of Slicing of the Cananga Flower (Canangium odorotum Baill), Bulk Density and Distillation Method on Yield and Quality of The Cananga Oil. Supervised by S.Ketaren dan Ma mun SUMMARY Indonesia is one of the developing countries which have the potency to export cananga oil. About 50 tons cananga oil from Indonesia every year exported to Europe and American. Cananga oil Producer area in Indonesia for example regency Boyolali, Cirebon, Banten And Blitar. In this time in Indonesia the ordinary distillation method done some distillation generally by using water distillation and is previously done by slice. This research aim are to studying influence slice of the sliced cananga flower, distillation method and substance density. Others, to produce optimal yield and quality of cananga oil. The Experimental design were subjected to an analysis of variance for a completely random design 3x2x2 with duplo procedure. The treatment are the bulk density of cananga flower in the vessel (0.075 kg/l, kg/l dan 0.1 kg/l), the distillation method of cananga flower (water distillation, water and steam distillation), and sliced flower before distillation and without slice. This research done in 2 step, the first preliminary research consist of analysis water content (82%), cananga oil content (1.6 %) and look for the optimum condition from distillation of cananga oil. The second step is the main research were done distillation according to treatment which have been specified. Interaction of distillation method and slicing of cananga flower has influence in evaporation residu number and acid number. Interaction of distillation method, slice of cananga flower, and bulk density of flower has influenced to acid number. Factor of distillation didn t influence to specific gravity and index of refraction. Factor of slicing of cananga flower didn t influence to specific gravity, index of refraction, optical rotation, ester number and acid number. Factor of bulk density of flower didn t influence to specific gravity, index of refraction and optical rotation. Interaction of distillation method and slicing of cananga flower didn t influence to yield, specific gravity, index of refraction, optical rotation, and ester number. Interaction of distillation method and bulk density of flower and interaction of bulk density of flower and slicing of cananga didn t influence to quality of the cananga oil. Interaction from three factor didn t influence to specific gravity, index of refraction, optical rotation, ester number, evaporation residu number, and yield of cananga oil. Progressively the increasing of bulk density will tend to decrease yield, specific grafity, index refraction, optical rotation, and the ester number, but tend to increase value of evaporation residu and acid number. All cananga oil are yielded soluble in etanol 95% with ratio 1:1 to 1:10. Water and steam distillation yielded cananga oil with value more height than water distillation in yield, specific grafity, index refraction, optical rotation,
5 and acid number. Flower with slicing yielded cananga oil with value more height than flower without slicing in specific grafity, index refraction, optical rotation, ester number and evaporation residu number. Based on the GCMS analysis showed that the component which implied in cananga oil consist of Linalool, Geranyl acetate, beta.-caryophyllene, alpha.- Caryophyllene, Germacrene-D, alpha.-bergamotene, delta.-cadinene, Benzyl benzoate dan Cis-Farnesol amounted to %, as for minor component amounted to 19.18% consist of monoterpen and benzena and part of Monoterpen O, seskuiterpen, benzene O dan seskuiterpeno. The best treatment is cananga oil with distillation of the sliced cananga flower (bulk density kg/l) by using water and steam distillation method. This treatment has produced cananga oil 1.5%, index of refraction , specific gravity 0.913, soluble in ethanol 95% with ratio 1:1 to 1:10, optical rotation -22.1, acid number , ester number , and consist of 43 component.
6 SURAT PERNYATAAN Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa Skripsi dengan judul: Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan Adalah karya asli saya sendiri, dengan arahan dosen pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya. Bogor, 11 Januari 2010 Yang Membuat Pernyataan, Diar Yuniarti NRP.F
7 PENGARUH PERAJANGAN BUNGA KENANGA (Canangium odorotum Baill), KEPADATAN DAN METODE PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KENANGA YANG DIHASILKAN Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor Oleh : DIAR YUNIARTI F FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
8 Judul Skripsi Nama NIM : PENGARUH PERAJANGAN BUNGA KENANGA (Canangium odorotum baill), KEPADATAN DAN METODE PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KENANGA YANG DIHASILKAN. : Diar Yuniarti : F Pembimbing I, Menyetujui, Pembimbing II, ( Ir. S. Ketaren, MS.) ( Drs. Ma mun, Bsc. ) NIP NIP : Mengetahui : Ketua Departemen, ( Prof.Dr.Ir.Nastiti Siswi Indrasti) NIP : Tanggal Lulus :
9 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Diar Yuniarti dilahirkan pada tanggal 22 Juni 1987 di Sukabumi dan merupakan putri pertama dari pasangan Bapak Paidi dan Ibu Rita Aryani. Penulis menempuh pendidikan dasar di SDN Tunggorono II Purworejo (1993), pendidikan menengah pertama di SLTPN 3 Purworejo ( ), dan pendidikan menengah atas di SMUN 2 Purworejo ( ). Penulis melanjutkan pendidikannya di Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Insititut Pertanian Bogor pada tahun 2005 melalui jalur USMI. Selama menempuh pendidikan di IPB, penulis aktif sebagai pengurus Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama sebagai anggota divisi sosial dan kesejahteraan mahasiswa ( ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian ( ). Selain itu, penulis juga menjadi Asisten Praktikum Teknologi Minyak atsiri, Rempah dan Kosmetika (2009) dan Asisten Praktikum Pati, Gula dan Sukrokimia (2009). Penulis melaksanakan kegiatan praktek lapang pada tahun 2008 di perusahaan Sido Mulyo dengan judul Mempelajari Aspek Pasca Panen dan Proses Penyulingan Minyak Kenanga (Sido Mulyo) dan Ylang-ylang di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Penulis telah menyelesaikan skripsi dengan judul Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan.
10 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahim, Penulis mengucapkan puji syukur dan terima kasih kepada Allah SWT atas rahmat, karunia, serta berkah-nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Pengaruh Perajangan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill), Kepadatan dan Metode Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Kenanga yang Dihasilkan. Shalawat dan Salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, mendukung, serta membimbing penulis baik secara langsung maupun tidak langsung hingga skripsi ini selesai ditulis, terutama kepada : 1. Keluarga tercinta, Bapak, Ibu dan Adik-adikku Ardi dan Dini atas doa, kasih sayang, nasihat, pengarahan, dorongan dan motivasi yang diberikan selama ini. 2. Bapak Ir.Semangat Ketaren,MS selaku dosen pembimbing I yang selalu sabar dan bijaksana serta kasih sayangnya dalam membimbing dan mendukung penulis. 3. Bapak Drs. Ma mun, Bsc selaku pembimbing II yang selalu membimbing dan memberikan masukan-masukan yang berguna hingga terselesaikannya skripsi ini dan manajer teknik di Balai Penelitian Tanaman dan Aromatik yang telah mengijinkan penulis melakukan penelitian. 4. Bapak Drs. Purwoko, Msi selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukannya kepada penulis. 5. Bapak Dedi sebagai staff departemen teknik Penelitian Tanaman dan Aromatik. 6. Staf laboran departemen TIN yang telah membantu pada saat penelitian. 7. Anto Purwanto yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada penulis.
11 8. Hilda E.Putri teman satu bimbingan yang selalu saling mendukung. 9. My best friends Binda, Ika, Dhina, Epul, Agung, Zulfa, Nutri, Choir, Teni, Asih, Jihan, Mbok Te, Deden, Pute, Ambar, Roisah dan seluruh rekan TIN 42 atas dukungan, doa dan kebersamaan yang indah. 10. Terakhir kepada semuanya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak mendukung penulis selama ini. Terima kasih banyak. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam tulisan ini, oleh sebab itu masukan dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Bogor, Januari 2010 Penulis
12 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR LAMPIRAN... vii I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan... 2 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman dan Bunga Kenanga Tanaman Kenanga Pemanenan Bunga Kenanga Bunga Kenanga... 5 B. Penyulingan Minyak Kenanga Perajangan Metode Penyulingan ) Penyulingan cara rebus.. 8 2) Penyulingan cara kukus. 8 3) Penyulingan dengan uap 8 4) Penyulingan Minyak Kenanga di Boyolali 9 3. Kepadatan Bahan C. Minyak Kenanga Komposisi Kimia Sifat Fisiko Kimia Kegunaan Minyak Kenanga III. METODOLOGI A. Bahan Bahan Baku Bahan Kimia B. Alat Penyulingan C. Peralatan Analisis
13 D. Metode Penelitian Prosedur Penelitian.. 24 a. Penelitian Pendahuluan b. Penelitian Utama. 24 1) Perlakuan Pendahuluan. 24 2) Perlakuan dalam Penelitian ) Operasi Penyulingan. 25 c. Penyulingan sistem uap Analisis untuk Minyak E. Rancangan Percobaan 27 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan 29 B. Penelitian Utama. 29 a. Rendemen Minyak Kenanga.. 29 b. Karakteristik minyak kenanga Warna Minyak Bau minyak Bobot Jenis Indeks Bias Kelarutan dalam Etanol 95% Sisa Penguapan Putaran Optik Bilangan Asam Bilangan Ester C. Penelitian Uap.. 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
14 DAFTAR TABEL Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6. Tabel 7. Tabel 8. Komponen minyak kenanga. Sifat Fisiko kimia minyak kenanga di Cirebon. Hasil uji minyak kenanga Perusahaan Sido Mulyo di Boyolali.. Standar pengujian mutu minyak kenanga yang berlaku di Indonesia.. Warna minyak kenanga dengan berbagai faktor.. Bau minyak kenanga yang dihasilkan.. Kelarutan minyak kenanga dalam etanol 95%... Hidrokarbon dalam minyak kenanga Tabel 9. Mutu minyak kenanga yang disuling dengan metode penyulingan uap. 49
15 Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9. Gambar 10. Gambar 11. Gambar 12. Gambar 13. Gambar 14. Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17. Gambar 18. Gambar 19. Gambar 20. Gambar 21. Gambar 22. Gambar 23. DAFTAR GAMBAR Tanaman kenanga di Boyolali.. Kadinene... Benzil asetat.. Benzil benzoate. Geraniol Linalool. Nerol. Metil salisilat p-kresil metil eter Eugenol. Iso eugenol Farnesol Safrole.,. Kariofilen.. Bunga Kenanga dari muda sampai matang.. Perangkat Penyulingan Kukus dan Rebus Skala Laboratorium... Diagram Alir Penelitian Histogram Pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap rendemen minyak kenanga yang dihasilkan.. Penampilan warna minyak kenanga secara visual Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bobot jenis minyak kenanga yang dihasilkan.. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap indeks bias minyak kenanga yang dihasilkan.. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap sisa penguapan minyak kenanga yang dihasilkan. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap putaran optik minyak kenanga yang dihasilkan
16 Gambar 24. Gambar 25. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bilangan asam minyak kenanga yang dihasilkan. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bilangan ester minyak kenanga yang dihasilkan
17 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Lampiran 8. Lampiran 9. Lampiran 10. Lampiran 11. Lampiran 12. Lampiran 13. Lampiran 14. Lampiran 15. Lampiran 16. Lampiran 17. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai rendemen minyak kenanga. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap rendemen.. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bobot jenis minyak kenanga. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai indeks bias minyak kenanga. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai sisa penguapan minyak kenanga... Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai sisa penguapan... Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai putaran optik minyak kenanga Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bilangan asam minyak kenanga.. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai bilangan asam Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bilangan ester minyak kenanga.. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai bilangan ester. Data Hasil Analisis Sifat Fisiko Kimia Minyak Kenanga.. Prosedur Analisis Karakterisasi Minyak Kenanga. Skema Alat Penyulingan Kukus dan Rebus... Kurva hasil Uji GCMS Komponen Minyak Kenanga Perkiraan Analisis Jenis Komponen Penyusun Minyak Kenanga dengan Metode GCMS... Struktur Kimia Komponen Minyak Kenanga
18 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara penghasil minyak atsiri terbesar di dunia. Indonesia menghasilkan 40 jenis dari 70 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan di pasar dunia. Dari jumlah tersebut, 11 jenis telah memasuki pasar atsiri dunia, yaitu nilam, serai wangi, cengkeh, jahe, pala, lada, cendana, melati, akar wangi, kenanga, dan kayu putih (Warta Penelitian dan Pengembangan Penelitian, 2006). Indonesia merupakan salah satu negara berkembang potensial mengekspor minyak kenanga. Sekitar 50 ton minyak kenanga dari Indonesia setiap tahun diekspor ke Eropa dan Amerika. Daerah penghasil minyak kenanga di Indonesia antara lain kabupaten Boyolali, Cirebon, Banten dan Blitar. Luas lahan tanaman kenanga di Boyolali 468 hektar dengan produksi 113,63 ton per tahun. Minyak kenanga dari Boyolali menyuplai kebutuhan bahan baku minyak wangi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta. Bilangan ester sangat menentukan harga minyak kenanga di pasaran. Semakin meningkatnya bilangan ester akan meningkatkan harga jual dari minyak kenanga. Harga jual minyak kenanga saat ini Rp ,00 lebih rendah jika dibandingkan dengan harga minyak ylang-ylang yaitu Rp ,00 yang memiliki bilangan ester lebih tinggi. Sehingga perlu adanya perbaikan mutu minyak kenanga yang dihasilkan. Selain itu, waktu penyulingan yang cukup lama yaitu 72 jam perlu dikurangi untuk menghindari hidrolisis karena semakin lamanya waktu penyulingan akan menurunkan nilai bilangan ester. Kenanga merupakan salah satu nama bunga yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli di Indonesia dan Filipina, dan lazim ditanam di Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia. Bunga kenanga biasanya diperjualbelikan dalam jumlah kecil untuk bunga tabur dan diperjualbelikan dalam jumlah besar untuk penyulingan minyak kenanga. Minyak kenanga ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena merupakan salah satu komoditi ekspor dengan nama Java Cananga
19 Oil. Minyak kenanga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam pewangi produk misalnya bahan baku parfum, kosmetika, sabun dan produk-produk rumah tangga lain misalnya untuk pewangi pembersih lantai. Selain dimanfaatkan bunganya untuk penyulingan minyak atsiri bagian lain dari tanaman kenanga ini juga dapat dimanfaatkan untuk sumber obat, sumber kayu, dan sebagai tanaman hias. Metode penyulingan yang biasa dilakukan pada beberapa penyulingan yang terdapat di Indonesia umumnya dengan menggunakan metode rebus dan sebelumnya dilakukan perajangan. Menurut Ketaren (1985), bahan berupa bunga (mawar, kenanga, melati) dapat disuling langsung tanpa dirajang terlebih dahulu. Perajangan juga akan menurunkan mutu minyak. Jadi sebaiknya bahan tidak perlu dirajang terlebih dahulu apalagi kalau tidak segera disuling. Hal ini akan menyebabkan minyak menguap lebih banyak. Penyulingan dengan metode rebus akan mengakibatkan proses hidrolisis ester terutama pada bunga kenanga yang mengandung ester sebagai komponen utama minyak kenanga yang dihasilkan. B. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perajangan bunga, kepadatan bahan dan metode penyulingan yang tepat dalam rangka mendapatkan rendemen minyak kenanga optimal dan mutu minyak yang baik.
20 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman dan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill) 1. Tanaman Kenanga Gambar 1. Tanaman Kenanga di Boyolali Tanaman kenanga termasuk dalam familia Annonacea dan tanaman ini sudah dibudidayakan. Kenanga termasuk dalam genus Canangium dan memiliki nama spesies Canangium odorotum Baill ( Steenis, 1992). Tanaman kenanga ini berbentuk pohon atau perdu dan dibudidayakan untuk diambil bunganya. Bunganya hijau kekuningan (ada juga yang semu dadu, tetapi jarang), menggelung seperti bentuk bintang laut, dan mengandung minyak kenanga berbau wangi. Umumnya bunga kenanga ini digunakan dalam upacara-upacara khusus misalnya untuk bunga tabur dalam pemakaman dan upacara perkawinan karena baunya yang wangi. Pohon kenanga ini tumbuh dengan cepat hingga lebih dari 5 meter per tahun dan mencapai tinggi rata-rata 12 meter (Sunanto, 1993). Dalam perdagangan dikenal dua jenis tanaman kenanga yaitu tanaman kenanga (Canangium odoratum baill forma Macropylla), dan tanaman ylang-ylang (Canangium odoratum baill forma Genuina). Jenis pertama dianggap sebagai tanaman asli Indonesia, termasuk tanaman tahunan dengan tinggi bisa mencapai 30 meter. Tanaman ylang-ylang juga termasuk tanaman tahunan dengan tinggi setengah tinggi pohon kenanga.
21 Tanaman kenanga bisa mencapai tinggi 38 m, daunnya berbentuk agak bulat dan ujungnya meruncing, bertulang menyirip, bersisi merata. Bunga berbentuk bintang, berwarna hijau pada waktu masih muda dan berwarna kuning setelah masak (tua). Bunga berbau wangi, berada tunggal atau berkelompok pada tangkai bunga dengan jumlah 3-4 kuntum, bagian kelopak bunga berjumlah 3 berbentuk lidah yang bertaut pada dasarnya, setelah tua mahkota umumnya berjumlah 6 kadang 8-9 berbentuk pita, berdaging, terlepas satu sama lain dan tersusun dalam 2 lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah 3. Benang sari berjumlah banyak bertangkai pendek dan tersusun dalam gulungan spiral, kotak sari berbentuk tiang terdiri 2 sel, bersifat menempel dan membelah memanjang. Bakal buah bersifat sinkarpus. Bakal biji berjumlah banyak dan menyebar pada sisi-sisinya. Putik pendek, berkepala bundar dan berlendir. Buah berbentuk oval, berdaging tebal, berwarna hijau ketika masih muda dan menjadi hitam ketika sudah tua pada umumnya mengelompok 6-10 buah pada 1 tangkai utama, tiap buah mempunyai 8-12 biji, berbentuk pipih, berkulit keras, berwarna coklat (Sunanto, 1993). Tanaman kenanga tumbuh dengan baik di seluruh nusantara dengan ketinggian daerah di bawah 1200 m (dpl). Tanaman ini semula hanya tumbuh di hutan-hutan tapi kini sudah banyak dibudidayakan. Tentu saja tanaman ini dapat tumbuh lebih baik jika kondisi tanahnya subur terutama tanah jenis alluvial, dan dapat berbunga lebat jika ketinggian antara meter (dpl) yang beriklim panas dan lembab (Sunanto, 1993) dan tumbuh dengan baik pada ketinggian 200 meter (dpl) (Steenis, 1992). 2. Pemanenan Bunga Kenanga Waktu pemanenan berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, yang tergantung keadaan iklim di daerah tempat tumbuh tanaman. Perbedaan waktu panen mempengaruhi jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Umumnya panen pada musim kering akan menghasilkan minyak dengan mutu yang lebih tinggi. Selain itu, harus diperhatikan pula bahwa pemanenan sebaiknya jangan dilakukan pada siang hari, karena
22 kadar minyak dalam bunga lebih kecil daripada malam hari. Akan tetapi, karena panen pada malam hari tidak mungkin dilakukan, maka waktu panen paling baik adalah sebelum jam pagi. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan galah atau dengan cara memetik langsung atau dipanjat (Ketaren, 1985). Pada umur 4-5 tahun tanaman kenanga jenis pohon berbunga, sedangkan jenis kenanga perdu pada umur kurang dari 4 tahun sudah mulai berbunga. Musim berbunga tanaman kenanga berbeda-beda tergantung pada daerah tempat tumbuhnya. Produksi bunga kenanga tergantung pada umur tanaman. Pada umur 4 sampai 8 tahun setiap pohon kenanga dapat menghasilkan bunga segar sebanyak 5-15 kg setiap musim, sedangkan menjelang umur 25 tahun, dapat menghasilkan kg bunga segar setiap musim, kemudian setelah berumur lebih dari 50 tahun tanaman sudah mulai tidak produktif (produksi bunganya semakin menurun) sehingga sudah waktunya untuk melakukan peremajaan (Sunanto, 1993). 3. Bunga Kenanga Bunga kenanga berbentuk bintang, berwarna hijau pada waktu masih muda dan berwarna kuning setelah masak (tua). Bunga berbau harum, berada tunggal atau berkelompok pada tangkai bunga dengan jumlah 3-4 kuntum, bagian kelopak bunga berjumlah 3 berbentuk lidah yang bertaut pada dasarnya, setelah tua mahkota umumnya berjumlah 6 kadang 8-9 berbentuk pita, berdaging, terlepas satu sama lain dan tersusun dalam 2 lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah 3 (Sunanto, 1993). Ylang-ylang (Cananga odorata forma genuina, Hook Fil. Et Thompson) termasuk famili anonaceae dan berkeluarga dekat dengan tanaman kenanga (Cananga odorata forma macrophylla, Hook Fil. Et Thompson) (Mauludi et al.1990). Tanaman Cananga odorata asli dari asia tenggara dan menyebar secara alamiah ke seluruh Asia Tenggara, Australia dan beberapa pulau di lautan pasifik. Penanaman secara komersial untuk menghasilkan tanaman ylang-ylang pertama kali
23 dilakukan di Filipina. Saat ini daerah pengekspor utama minyak ylangylang adalah pulau Nossi-Be Madagaskar, Pulau Comoro, Pulau Reunion, Filipina dan Indonesia (Yusuf dan Sinohin, 1999). Bunga ylang-ylang berbentuk bintang, berwarna hijau pada waktu masih muda dan berwarna kuning setelah tua. Komposisi bunga mengelompok pada tangkai bunga yang terdiri dari 2-20 dan terkadang lebih (Guenther, 1952). Kelopak bunga berjumlah 3, berbentuk lidah yang bertaut pada dasarnya, berbulu, berwarna hijau ketika masih muda dan berwarna kuning setelah tua. Mahkota bunga pada umumnya berjumlah 6, namun kadang-kadang berjumlah 8-9, berbentuk pita berdaging terlepas satu sama lainnya dan tersusun dalam 2 lingkaran yang masing-masing biasanya berjumlah 3. Dasar bunganya berbentuk bundar pipih dan menggembung (Sunanto,1993). Morfologi tanaman ylang-ylang memiliki habitus lebih ramping dan batangnya relatif kecil, cabang-cabang agak jarang, sehingga daunnya kurang rimbun. Bentuk daun berbeda pada perbandingan panjang dan lebar daun, sehingga daun kenanga lebih besar dari daun ylang-ylang. Urat daun ylang-ylang lebih besar sehingga nampak lebih kaku, permukaan keriput warnanya hijau tua (Hobir et al 1990). B. Penyulingan Minyak Kenanga 1. Perajangan Menurut Ketaren (1985), bahan berupa bunga (mawar, kenanga, melati) dan daun (nilam, kayu putih) tidak berserat, dapat disuling langsung tanpa dirajang terlebih dahulu. Perajangan juga akan menurunkan mutu minyak. Jadi sebaiknya bahan tidak perlu dirajang terlebih dahulu apalagi kalau tidak segera disuling. Sebelum bunga disuling, terlebih dahulu dirajang, jika tidak dirajang penyulingan bunga tersebut tidak menghasilkan minyak karena menggunakan alat yang kuno dengan proses pendinginan yang tidak sempurna. Proses perajangan tersebut akan menurunkan rendemen dan mutu minyak, sehingga hal ini merupakan salah satu sebab, bunga yang
24 diolah tanpa dirajang menghasilkan mutu minyak yang lebih baik (Ketaren, 1985). Menurut Guenther (1949), penyusutan minyak yang disebabkan karena proses penguapan dan oksidasi sebelum penyulingan terutama terjadi pada bahan yang sedang dirajang, terlebih lagi apabila perajangan dilakukan dengan penghancuran dan penggilingan dengan alat yang berputar cepat. Besarnya kehilangan minyak tergantung dari besarnya kecepatan sirkulasi udara dalam sistem, kemudian suhu akibat adanya gesekan alat giling dan daya tahan minyak atsiri tersebut terhadap proses oksidasi. Selama perajangan, akan terjadi penguapan komponen minyak bertitik didih rendah, yang apabila dibiarkan maka akan terjadi penyusutan bahan sekitar 0,5 % akibat penguapan minyak. Oleh sebab itu, apabila diinginkan rendemen dan mutu minyak yang baik, maka hasil rajangan harus segera dimasukkan ke dalam ketel suling. Kelemahan bahan yang dirajang adalah karena jumlah total minyak dalam bahan yang berkurang akibat adanya penguapan selama perajangan serta adanya perubahan komposisi kimia dan akan mempengaruhi bau minyak atsiri yang dihasilkan setelah proses ekstraksi. Kedua hal ini terutama terjadi pada minyak yang mengandung komponen mudah menguap dalam jumlah yang cukup besar (Ketaren, 1985). Menurut Ketaren (1985), proses perajangan bertujuan untuk memudahkan penguapan minyak atsiri dari bahan, dan untuk mengurangi sifat kamba bahan olah. Kelemahan bahan yang dirajang adalah karena : Jumlah total minyak berkurang, akibat penguapan selama perajangan Komposisi minyak akan berubah, dan akan mempengaruhi baunya. 2. Metode Penyulingan Metode penyulingan yang umumnya digunakan pada penyulingan minyak kenanga di Indonesia adalah metode penyulingan rebus. Alat penyulingan yang digunakan antara lain ketel suling, kondensor dan receiver (separator).
25 Menurut Guenther (1947), pada awal penyulingan komponen yang lebih mudah menguap mempunyai konsentrasi yang lebih tinggi dalam uap, sedangkan komponen yang lebih sulit menguap terdapat pada konsentrasi yang lebih tinggi pada cairan. Uap yang dihasilkan dikondensasikan kembali untuk mendapatkan komponen yang lebih mudah menguap. Proses penyulingan memanfaatkan perbedaan titik didih masing-masing komponen. 5) Penyulingan cara rebus (water distillation) Cara penyulingan seperti ini disebut dengan direct distillation karena penguapan air dan minyak atsiri berlangsung bersamaan. Bahan baku yang digunakan biasanya dari bunga atau daun yang mudah bergerak dalam air dan tidak mudah rusak oleh panas uap air. Prinsip kerja penyulingan dengan air adalah sebagai berikut: Ketel penyulingan diisi air sampai volumenya hampir separuh, lalu dipanaskan. Sebelum air mendidih, bahan baku dimasukkan kedalam ketel penyulingan. Dengan demikian penguapan air dan minyak atsiri berlangsung bersamaan. 6) Penyulingan cara kukus (water and steam distillation) Cara penyulingan seperti ini paling banyak digunakan oleh para petani atsiri di Indonesia. Cara penyulingan seperti ini disebut dengan indirect distillation karena bahan baku diletakan diatas saringan sehingga tidak berhubungan langsung dengan air yang mendidih, tetapi akan berhubungan dengan uap air. Prinsip kerja penyulingan dengan air dan uap adalah sebagai berikut: Ketel penyulingan diisi air sampai pada batas saringan. Bahan baku diletakkan di atas saringan, sehingga tidak berhubungan langsung dengan air yang mendidih, tetapi akan berhubungan dengan uap air. 7) Penyulingan dengan uap (steam distillation) Cara penyulingan ini hampir sama dengan cara indirect distillation, namun antara ketel uap dan ketel penyulingan terpisah. Ketel uap yang berisi air dipanaskan kemudian uapnya akan mengalir ke dalam ketel
26 yang berisi bahan baku. Partikel-partikel minyak pada bahan baku terbawa bersama uap dan dialirkan ke alat pendingin. Di dalam alat pendingin itulah terjadi pengembunan sehingga uap air yang bercampur minyak akan mengembun dan mencair kembali. Selanjutnya, dialirkan ke alat pemisah yang akan memisahkan minyak atsiri dari air. Menurut Ketaren (1985), sistem penyulingan uap baik digunakan untuk mengekstraksi minyak dari biji-bijian, akar dan kayu-kayuan yang umumnya mengandung komponen minyak yang bertitik didih tinggi, misalnya minyak cengkeh, kayu manis, akar wangi, ketumbar, sereh, minyak boise de dose, sassafras, cumin, cedar wood, kamfer, kayu putih, pimento, eucalyptus dan jenis minyak lainnya yang bertitik didih tinggi. Kelemahan dari penyulingan ini adalah karena tidak baik dilakukan terhadap bahan yang mengandung minyak atsiri yang mudah rusak oleh pemanasan dan air. 8) Penyulingan Minyak Kenanga di Boyolali Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan (Yuniarti, 2008) kapasitas bahan yang disuling tergantung dari ketel suling yang digunakan. Penyulingan minyak kenanga di Boyolali kapasitas ketel suling yang digunakan ada 1 ton, 4 kwintal dan 0,5 ton. Kepadatan bahan yang digunakan umumnya 1 kg bahan/liter air, sedangkan laju destilat yang keluar adalah 520 cc/menit/ton. Bunga dengan lama penyulingan sekitar 72 jam. Bahan baku yang digunakan adalah bunga kenanga yang masih muda maupun tua, yang sudah mekar ataupun masih kuncup atau bisa dikatakan bahwa bunga kenanga yang akan digunakan untuk penyulingan tanpa melalui proses penyortiran bunga terlebih dahulu. Pemanenan bunga kenanga dilakukan setelah tanaman kenanga sudah berusia sekitar 3 tahun, dan dipanen pada pagi hari sekitar pukul Rendemen minyak kenanga yang dihasilkan ± 1,5 %. Penentuan mutu minyak kenanga di lapangan umumnya masih dilakukan secara organoleptik dengan menilai bau. Jika minyak memiliki aroma gosong
27 dan warna kuning kecoklatan maka harganyapun akan turun karena mutunya dianggap rendah. Kelemahan penyulingan cara rebus adalah ekstraksi minyak atsiri tidak dapat berlangsung secara sempurna, walaupun bahan dirajang. Selain itu beberapa jenis ester, misalnya linalil asetat akan terhidrolisa sebagian. Persenyawaan yang peka seperti aldehid, akan mengalami polimerisasi karena pengaruh air mendidih. Penyulingan air memerlukan ketel suling yang lebih besar, ruangan yang lebih luas dan jumlah bahan bakar yang lebih banyak. Kelemahan lainnya adalah akibat komponen minyak yang bertitik didih tinggi dan bersifat larut dalam air tidak dapat menguap secara sempurna, sehingga komponen minyak yang dihasilkan tidak lengkap. Menurut Ketaren (1985), dibandingkan dengan penyulingan rebus, maka sistem penyulingan kukus lebih unggul karena proses dekomposisi minyak lebih kecil (hidrolisa ester). Sistem penyulingan kukus lebih efisien daripada metode penyulingan rebus, karena jumlah bahan bakar yang dibutuhkan lebih kecil, penyulingan lebih singkat, dan rendemen minyak yang dihasilkan lebih besar. Kelemahan dari metode penyulingan kukus adalah karena jumlah uap yang dibutuhkan cukup besar dan waktu penyulingan lebih lama. Dalam proses ini sejumlah besar uap akan mengembun dalam jaringan tanaman, sehingga bahan bertambah basah dan mengalami aglutinasi. 3. Kepadatan Bahan Kepadatan bahan berhubungan dengan pengaturan pengisian bahan dalam ketel suling. Menurut Guenther (1972), tingkat kepadatan bahan berhubungan erat dengan besar ruangan antar bahan. Kepadatan bahan yang terlalu tinggi dan tidak merata menyebabkan terjadinya jalur uap yang dapat menurunkan rendemen dan mutu minyak. Semakin tinggi bahan dalam ketel, akan makin rendah rendemen, karena makin tinggi bahan dalam ketel, akan semakin besar jarak yang ditempuh dan halangan yang dialami uap air. Pertambahan jarak dan benturan yang dialami uap air akan mengakibatkan semakin rendahnya
28 kecepatan penyulingan dan dengan sendirinya makin kecil rendemen yang diperoleh (Rusli dan Hasanah, 1977). C. Minyak Kenanga Tumbuhan kenanga merupakan tumbuhan asli di Indonesia dan Filipina, dan lazim ditanam di Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia. Di Indonesia minyak kenanga umumnya berasal dari pulau Jawa antara lain berasal dari daerah Cirebon, Blitar, Banten dan Boyolali. 1. Komposisi Kimia Menurut Ketaren (1985), minyak kenanga diperoleh dari hasil penyulingan bunga tanaman kenanga. Minyak tersebut mengandung ester, benzyl alcohol, benzyl asetat, benzyl format, benzyl benzoate, metil salisilat, geraniol, geraniol asetat, linalool, eugenol, iso-eugenol, metil eugenol dan metil iso-eugenol. Tabel 1. Komponen minyak kenanga menurut Bucellato (1999) Nama komponen komposisi β-kariofilen 37% Farnesene 12,2 % α-kariofilen 10,5% gama cadinene 7,6 % teta cadinene 5,4 % benzil benzoat 2,9 % geranil asetat 1,8 % Linalool 1,7 % p-cresil methyl ehter 1,1 % (Z,E) farnesol 1,1 % Nerolidol 1 % Geraniol 0,6 % benzil salysilat 0,1 % Komponen utama yang terdapat pada minyak kenanga adalah β Kariofilen, α Terpineol, Borneol, Benzil asetat dan Benzil alkohol. Dari hasil analisis kromatografi gas menurut Masada (1947), diketahui bahwa di dalam minyak kenanga terdapat juga komponen-komponen lain seperti α Pinen, Kampene, β Pinen, Mirsen, Limonen, Benzaldehid, Linalool, Metil salisilat, Geranil asetat, Safrol, Eugenol, Timol, Karvakrol, dan isoeugenol.
29 Semua komponen kimia yang terdapat dalam minyak ylang-ylang, juga terdapat dalam minyak kenanga, hanya berbeda jumlahnya. Minyak kenanga terutama banyak mengandung seskuiterpen dan seskuiterpen alkohol, tetapi lebih sedikit mengandung ester jika dibandingkan dengan minyak ylang-ylang. Minyak kenanga banyak mengandung seskuiterpen terutama kadinene. Ester yang terdapat dalam minyak merupakan ester dari asam format, asetat, volerat, asam dengan C 5, C 6, C 8, C 10, dan asam benzoat. Jenis ester yang terpenting adalah benzil asetat dan benzil benzoat (Ketaren, 1985). Menurut Poucher (1974), komponen penyusun minyak kenanga adalah linalool, geraniol, paracreasol metil ether, cadinene, safrole, nerol, farnesol, eugenol, iso-eugenol, metil-eugenol, benzil asetat dan benzil benzoat, metil salisilat, dan antranilat. Beberapa senyawa penyusun minyak kenanga, antara lain : a. Kadinene Kadinene termasuk dalam golongan seskuiterpen, dan banyak ditemukan di dalam beberapa jenis minyak atsiri, diantaranya savin, kamfer. Karakteristik kadinene meliputi bobot jenis pada 15,5 ºC yaitu 0,922, indeks bias pada 20 ºC adalah 1,5070, putaran optik dari (-105 º) (- 111 º ), dan nilai titik uap adalah 271 ºC ºC. Kadinene bersifat sangat stabil, dan bila dipanaskan dibawah tekanan pada suhu 330 ºC tidak akan berubah (Parry and Guenther, 1972). Kadinene, hexahydro-4-iso-profil-1, 6- dimetil naptalena (C 15 H 24 ) jarang digunakan dalam ramuan parfum (Poucher, 1974). Gambar 2. Kadinene
30 b. Benzil Alkohol Benzil alkohol adalah komponen dasar dari pembentuk aroma dalam berbagai minyak atsiri. Benzil alkohol banyak ditemukan terikat dalam bentuk benzil asetat, benzil benzoat dan benzil cinamat, dalam berbagai minyak dari bunga-bungaan, seperti melati dan ylang-ylang. Komponen ini banyak digunakan pada berbagai industri pembuatan parfum. Baunya tidak terlalu kuat, tetapi sangat wangi (Parry and Guenther, 1972). c. Benzil Asetat Karakteristik dari benzil asetat, CH 3 COOCH 2 C 6 H 5, adalah berupa cairan tidak berwarna dan memiliki aroma bunga-bungaan. Indeks bias pada 20 ºC adalah 1,5015-1,5035. Bobot jenis pada 20 ºC adalah 1,052-1,056. Bilangan asam maksimal 1,0. Bilangan ester minimum 98 persen, dan kandungan klorin negatif (Bedoukian, 1967). Gambar 3. Benzil asetat d. Benzil Benzoat Benzil benzoat, COOCH 2 (C 6 H 5 ) 2, dalam keadaan murni berupa padatan, tapi untuk tujuan komersial biasanya berupa cairan. Cairan ini bersifat sangat kental dan memiliki aroma samar, serta banyak digunakan di bidang obat-obatan. Dalam pembuatan parfum digunakan secara luas sebagai pelarut dan juga sebagai pengikat berbagai komponen parfum. Ester ini mempunyai bobot molekul besar (Poucher, 1974). Karakteristik benzil benzoat meliputi titik penguapan (B.p) yaitu 323 ºC -324 ºC, bobot jenis pada 18 ºC adalah 1,114, indeks bias pada 21 ºC adalah 1,5681, dan titik nyala 147 ºC (Bedoukian, 1967).
31 Gambar 4. Benzil benzoat e. Antranilat Antranilat (O-Aminobenzoic Acid), NH 2 C 6 H 4 COOCH 3, memiliki karakteristik berupa kristal berwarna kuning pucat. Antranilat sedikit larut dalam air dingin, serta mudah larut dalam air panas dan alkohol (Poucher, 1974). f. Geraniol Geraniol (trans-3, 7-dimetil okta-2, 6-dien-1, ol), ((CH 3 ) 2 C=CHCH 2 CH 2 CCCH 3 )=CHCH 2 OH, merupakan cairan tidak berwarna dengan aroma wangi yang menyenangkan seperti mawar. Berada di alam secara luas, kadang-kadang dalam bentuk geraniol bebas atau dalam bentuk ester. Di dalam minyak atsiri yang mengandung alkohol ini, geraniol akan berisomerisasi dengan linalool (Poucher, 1974). Geraniol adalah terpen alkohol primer tidak jenuh yang terdiri dari dua rantai etilen. Isomer dari linalool C 10 H 18 O, geraniol berbeda dari linalool pada titik didih yang lebih tinggi dan bobot jenis yang lebih tinggi (Guenther, 1952). Gambar 5. Geraniol
32 g. Linalool Linalool 3,7 dimetol okta-1,6-dien-3-ol), (CH 3 ) 2 C=CHCH 2 CH 2 C(CH 3 )(OH)CH=CH 2, merupakan isomer dari geraniol dan nerol. Karakteristik dari linalool meliputi titik penguapan (B.p.) 83/10 ; 116/50 dan bobot jenis pada 15 ºC 0,8700 (Poucher, 1974). Linalool dan esternya merupakan sumber wangi-wangian yang tidak dapat diberikan oleh komponen lain. Linalool dengan kualitas baik memiliki bau harum yang lembut dan berbeda dari isomerny yaitu geraniol dan citronellol. Lagipula mempunyai titik penguapan yang lebih rendah daripada bentuk alkoholnya. Linalool banyak digunakan sebagai top note dalam parfum. Esternya, terutama asetat merupakan komponen utama dalam minyak atsiri seperti bergamot, lavender, dan petitgrain. Linalool berupa larutan yang stabil dan tidak berwarna (Bedoukian, 1967). Gambar 6. Linalool h. Nerol Nerol, C 10 H 17 OH 3, (cis-3, 7-dimetilokta-2, 6-dien-1-ol), ditemukan dalam bentuk neral bebas atau sebagai ester pada beberapa minyak atsiri. Nerol dapat ditemukan sebagai komponen dari ylang-ylang. Nerol merupakan cairan tidak berwarna dengan aroma harum bunga mawar(poucher, 1974).
33 Gambar 7. Nerol i. Metil salisilat Metil salisilat, HOC 6 H 4 COOCH 3, (metil o-hidroksi benzoat), merupakan aroma penting dalam industri obat-obatan, khususnya untuk produk kesehatan gigi (Poucher, 1974). Gambar 8. Metil salisilat j. p-kresil metil eter p-kresil metil eter (metil p-tolyl eter), C 7 H 7 OCH 3 merupakan larutan tidak berwarna dengan suatu karakteristik wangi tertentu. Secara alami dapat ditemukan dalam minyak ylang-ylang. Komponen ini banyak digunakan untuk pembuatan parfum-parfum sintesis, seperti parfum jonquille (Poucher, 1974). Gambar 9. p-kresil metil eter
34 k. Eugenol Eugenol (4 alil 2 metoksi phenol), C 10 H 12 O, merupakan cairan kental berwarna kuning, dan berasal dari pemisahan alkali. Eugenol digunakan dalam pembuatan parfum sabun, tapi memiliki kecenderungan untuk berubah menjadi gelap, sehingga biasanya digunakan dalam jenis sabun berwarna coklat kekuningan. Karakteristik dari eugenol meliputi titik didih (B.p.) yaitu 255 ºC, titik cair (m.p.) adalah -92 ºC, dan bobot jenis pada 20 ºC 1,066 (Poucher, 1974). Gambar 10. Eugenol l. Iso-eugenol Iso-eugenol (4 propenil-2-metoksi penol), CH 3 CHCHC 6 H 3 (OCH 3 )OH, secara komersial digunakan dalam bentuk cairan kental berwarna kuning terang, mempunyai bau menyerupai clove pink, dan sebagai bahan baku pembuatan produksi vanili. Iso-eugenol sebagian besar digunakan sebagai dasar parfum carnation. Karakteristik isoeugenol meliputi titik didih 267,5 ºC, titik cair (m.p.) adalah -10 ºC, dan bobot jenis adalah 1,0839 (Poucher, 1974). Gambar 11. Iso eugenol m. Eugenil metil ester Eugenil metil ester (4-alil-1, 2-metoksi benzen), CH 2 =CHCH 2 C 6 H 3 (OCH 3 ) 2, merupakan larutan kental berwarna kuning dengan aroma menyerupai eugenol tapi kurang menyengat. Senyawa ini terdapat dalam beberapa minyak atsiri, komponen ini memiliki titik
35 didih (B.p.) yaitu 248 ºC, serta bobot jenis pada 15 ºC adalah 1,005 (Poucher, 1974). n. Farnesol Farnesol (trans:trans-3,7,11-tri metidodeca-2,6,10,trien-1-ol), C 15 H 26 O, tidak dipergunakan secara luas dalam pembuatan parfum (Poucher, 1974). o. Safrole Gambar 12. Farnesol Safrole (3,4-metil dioksialil benzen), CH 2 O 2 C 6 H 3 CH 2 CH=CH 2, dalam kadar tinggi terdapat dalam minyak sassafras, ylang-ylang dan lainnya. Pada temperatur normal, safrole berupa cairan tidak berwarna dengan aroma menyenangkan, sedang pada suhu rendah berupa padatan kristal putih. Karakteristik safrole meliputi titik didih 233 ºC, titik cair 11,2 ºC, dan bobot jenis 1,1004 (Poucher, 1974). p. Kariofilen Gambar 13. Safrole Kariofilen merupakan seskuiterpen yang terdapat dalam banyak minyak atsiri. β-kariofilen memiliki bobot molekul dan bobot jenis Rumus molekul β-kariofilen adalah C 15 H 24 (Guenther, 1949).
36 Gambar 14. Kariofilen 2. Sifat Fisiko-Kimia Komponen kimia minyak kenanga dari suatu daerah dengan daerah lain sangat bervariasi, sehingga menyebabkan perbedaan sifat fisiko-kimia minyak yang dihasilkan. Sifat fisiko-kimia minyak kimia yang dihasilkan di daerah Cirebon, Boyolali, dan standar yang berlaku di Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2. Sifat Fisiko kimia minyak kenanga di Cirebon Karakteristik I II Bobot jenis (15 ºC) Putaran optik -29º58-26º55 Indeks bias (20 ºC) Kelarutan dalam alkohol 95 persen (20 ºC) - 1:0.5 Larut, seterusnya keruh Sumber : Guenther, 1952 Tabel 3. Hasil uji minyak kenanga Perusahaan Sido Mulyo di Boyolali Jenis uji Hasil uji Warna Kuning muda Bobot jenis 20ºC / 20 ºC 0, Indeks bias n D 1,498 Putaran optik -26 Sisa penyulingan uap % (v/v) 4 Bilangan ester 18 Kelarutan dalam etanol 95% 1:0,5 jernih seterusnya jernih Sumber : Pengujian Laboratorium Mutu Barang Semarang
37 Tabel 4. Standar pengujian mutu minyak kenanga yang berlaku di Indonesia adalah SNI : Jenis uji Hasil uji Warna Kuning muda-tua Bobot jenis 20ºC / 20 ºC 0,906-0, Indeks bias n D 1,495-1,504 Putaran optic (-15)-(-30) Sisa penyulingan uap % (v/v) Maksimal 5 Bilangan ester Kelarutan dalam etanol 95% 1:0,5 jernih seterusnya jernih Zat asing : Lemak Negatif Alkohol tambahan Negatif Minyak pelikan Negatif Minyak kruing Negatif Sumber : SNI Kegunaan Minyak Kenanga Minyak kenanga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam pembuatan produk misalnya bahan baku ramuan parfum, kosmetika, sabun dan produk-produk rumah tangga lain misalnya sebagai pewangi pembersih lantai. Selain bunganya sebagai sumber minyak kenanga, bagian lain dari tanaman kenanga ini juga dapat dimanfaatkan untuk sumber obat, sumber kayu, dan sebagai tanaman hias (Sunanto, 1993). Tanaman kenanga memiliki berbagai macam kegunaan. Kegunaan tanaman kenanga dapat dilihat dari bunga, kayu dan kulit batang tanaman kenanga. Bunga kenanga memiliki nilai guna sebagai bahan campuran untuk pewangi tembakau. Ekstrak bunga kenanga berfungsi sebagai obat malaria. Bunga kenanga digunakan sebagai pewangi minyak klentik yang umumnya digunakan sebagai minyak rambut. Kayu kenanga kebanyakan digunakan untuk batang korek api, sebagai bahan perahu (sampan), pembuatan payung, tangkai sapu ijuk dan juga dapat digunakan untuk pembuatan drum kayu. Selain bunga dan kayu dari tanaman kenanga, kulit batang kenanga yang digulung dapat digunakan sebagai tempat menyimpan ikan oleh nelayan dan untuk membuat tali. Selain itu kulit batang kenanga dapat digunakan untuk membuat salep penyakit kudis, mengobati busung air, dan pembesaran limfa (Sunanto, 1993).
38 III. METODOLOGI A. Bahan 1. Bahan baku Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga kenanga (Cananga Odorata Baill) dari tanaman kenanga yang telah berumur kurang lebih 10 tahun. Bunga yang digunakan dalam keadaan 25-75% mekar (belum mekar sepenuhnya). Bunga diperoleh dari Desa Wirun kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Gambar 15. Bunga Kenanga dari muda sampai matang Bunga kenanga yang digunakan untuk penelitian dalam keadaan segar. Bunga yang sudah dipetik pada pagi hari langsung dimasukkan dalam box stereofoam untuk mempertahankan sifat hidup dari bunga. Es dimasukkan pada sela-sela bunga segar untuk menghindari terjadinya pelayuan bunga kenanga. Perjalanan dari asal bunga kenanga sampai tempat penelitian sekitar 12 jam. Sampai di tempat penelitian bunga kenanga langsung disuling. 2. Bahan Kimia Bahan kimia untuk analisis minyak kenanga hasil penyulingan adalah larutan etanol 95% (v/v) yang baru dinetralkan dengan larutan alkali, indikator fenolftalein, larutan kalium hidroksida 0,5 N dalam etanol, larutan standart volumetri asam klorida 0,5 N, larutan etanol 95%, dietil eter, alkohol dan larutan KOH alkohol 0,1 N.
39 B. Alat Penyulingan Peralatan penyulingan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peralatan penyulingan dengan sistem kohobasi yaitu air suling hasil penyulingan kukus dan rebus dimasukkan kembali ke dalam ketel suling untuk disuling. Pada sistem kohobasi air yang keluar bersama dengan minyak pada destilat setelah terpisah dari minyak, air dimasukkan lagi ke dalam ketel dan disuling kembali. Hal ini dilakukan untuk penghematan air yang digunakan selama penyulingan. Peralatan penyulingan dalam sistem kohobasi terdiri dari ketel suling, alat pendingin (kondensor), oil separator dan mecher burner. Ketel suling yang digunakan dalam penelitian memiliki tebal 1,5 mm, diameter dalam ketel 210 mm, tinggi ketel 410 mm dan dudukan ketel 150 mm. Ketel suling tersebut terbuat dari bahan stainless steel dengan menggunakan sambungan dari besi. Penutup ketel juga terbuat dari bahan stainless steel dengan pinggirannya terbuat dari besi. Selain itu pada tutup bagian dalam dilengkapi dengan karet yang berfungsi untuk menghindari terjadinya kebocoran saat penyulingan berlangsung. Selain karet, penutup ketel ini juga dilengkapi mur yang berjumlah 4 buah. Gambar 16. Perangkat Penyulingan Kukus dan Rebus Skala Laboratorium
40 Kondensor yang digunakan dalam penelitian ini adalah kondensor jenis penukar panas tubular condensor yang merupakan tipe badan satu lintasan dengan air sebagai media pendingin. Kondensor yang digunakan terdiri dari 2 tabung yang terbuat dari gelas kaca. Tinggi kondensor adalah 650 mm dilengkapi dengan selang dibagian atas untuk masuknya air pendingin dan selang dibagian bawah untuk keluarnya air setelah terjadinya proses kondensasi. Uap campuran minyak dan air hasil penyulingan akan masuk pada tabung bagian dalam kondensor sebelumnya melewati alat kohobasi. Pada tabung bagian dalam akan terjadi proses kondensasi dengan adanya aliran air yang mengalir di antara tabung dalam dan tabung luar sehingga terjadi perubahan fase uap menjadi fase cair. Oil separator pada alat penyulingan ini berhubungan dengan pipa untuk menampung air hasil pemisahan destilat dan menyalurkannya lagi ke dalam ketel untuk disuling kembali. Oil separator yang terhubung dengan pipa untuk mengalirkan air hasil penyulingan ini memiliki tinggi 572 m dan dilengkapi skala 0-15 cc. Selain itu pada oil separator ini dilengkapi kran untuk mengeluarkan hasil kondensat. Air dan minyak hasil kondensasi akan mengalir ke alat kohobasi dan tertampung di dalamnya dengan lapisan minyak berada di bagian atas dan air di bagian bawah, berdasarkan perbedaan berat jenisnya (BJ minyak < BJ air ). Mechel Burner berfungsi untuk menyediakan supply energi kalor untuk ketel suling selama proses penyulingan berlangsung. Energi yang digunakan berasal dari gas alam yang dialirka melalui pipa. Alat ini terbuat dari bahan besi dengan tinggi 115 mm. C. Peralatan Analisis Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan, alat penyulingan bunga kenanga. Peralatan untuk analisa minyak adalah neraca analitik, penangas air, piknometer berkapasitas 10 ml, termometer refraktometer, polarimeter, tabung polarimeter, labu penyabunan, pendingin balik, gelas ukur kapasitas 5 ml, buret standart kapasitas 5 ml, pipet standar kapasitas 25 ml, penangas air, tabung reaksi dan erlenmeyer 500 ml.
41 D. Metode Penelitian 1. Prosedur Penelitian a. Penelitian Pendahuluan Pada penelitian pendahuluan dilakukan penyulingan dengan cara rebus dan kukus serta analisis pendahuluan. Analisis yang dilakukan pada penelitian pendahuluan adalah penentuan kadar air, kadar protein dan penentuan kadar minyak. Setelah itu, dilakukan penyulingan pendahuluan untuk mengetahui lama waktu penyulingan yang optimum. Penyulingan pendahuluan yang dilakukan dengan perlakuan perajangan dan metode penyulingan (rebus dan kukus) dengan kepadatan kg/l. c. Penelitian Utama Pada penelitian utama dilakukan penyulingan bunga kenanga dengan dua faktor perlakuan utama yaitu perajangan dan metode penyulingan. Setelah itu dilakukan analisis hasil penyulingan. 1) Perlakuan Pendahuluan Bunga kenanga yang akan disuling diberi 2 perlakuan yaitu bunga kenanga yang dirajang dengan ukuran rajangan ±3 cm dan bunga kenanga tidak dirajang. 2) Perlakuan dalam Penelitian Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah : a. Metode penyulingan terhadap bunga kenanga (A) yang terdiri dari dua taraf, yaitu : A1(penyulingan cara kukus) dan A2 (penyulingan cara rebus). b. Perajangan bunga kenanga (B) yang terdiri dari dua taraf, yaitu : B1 (bunga yang dirajang) dan B2 (bunga tanpa perajangan). c. Kepadatan bahan (C) yang terdiri dari tiga taraf, yaitu : C1 (75gram/liter), C2 (87,5 gram/liter) dan C3 (100 gram/liter). Setiap kombinasi perlakuan dilakukan 2 kali ulangan, sehingga jumlah satuan perlakuan adalah :
42 2 (perajangan) x 2 (cara penyulingan) x 3 (kepadatan bahan) x 2 (ulangan) = 24 satuan perlakuan, sehingga jumlah bunga kenanga yang diperlukan sebanyak 58 kg. 3) Operasi Penyulingan Setelah bunga dirajang atau tanpa perajangan, proses selanjutnya adalah penyulingan bunga kenanga. Pada penyulingan bunga kenanga diberi 2 perlakuan yaitu metode penyulingan dengan rebus dan penyulingan kukus. Selain perlakuan pada perajangan dan metode penyulingan, perlakuan lain yang diberikan adalah kepadatan. Penyulingan yang dilakukan pada kepadatan 75; 87,5 dan 100 gram/liter. Jumlah bunga yang disuling untuk sekali penyulingan pada metode rebus dan kukus 1,5; 1,75 dan 2 kg untuk masing-masing kepadatan. Waktu penyulingan dihitung mulai dari kondensat pertama keluar sampai minyak tidak keluar lagi dari bahan. Lama penyulingan bunga kenanga selama 10 jam setelah dihitung waktu optimum pada penelitian pendahuluan. Api yang digunakan berasal dari mechel burner dengan ketinggian api ± 15 cm. Air pendingin yang masuk ke dalam kondensor bersuhu 23 ºC, sedangkan suhu air yang keluar 24 ºC. Suhu kondensat yang keluar adalah ºC. Laju destilat pada penelitian ini adalah 0.52 L/jam/kg. Laju destilat diukur berdasarkan jumlah destilat yang keluar dari kondensor dengan menggunakan gelas ukur 1 liter selama 1 menit. Selanjutnya dilakukan pemisahan antara air dan minyak dengan menggunakan oil separator dan air yang terdapat dalam minyak diikat dengan Na sulfat anhidrit. Na sulfat anhidrit akan mengendap di bagian bawah dengan mengikat air sehingga membentuk Na Sulfat hidrit. Kemudian minyak yang berada di bagian atas disaring dengan menggunakan kertas saring. Minyak dikemas dalam botol gelap dan siap untuk dianalisis. Tahapan penelitian yang dilakukan dijelaskan pada gambar 17 berikut.
43 c. Penyulingan sistem uap Gambar 17. Diagram Alir Penelitian
44 Pada penelitian ini juga dilakukan 1 kali penyulingan uap untuk membandingkan hasil yang diperoleh dengan metode penyulingan kukus dan rebus. 2. Analisis untuk Minyak Minyak yang dihasilkan dikarakterisasi dengan menganalisis sifat fisiko kimianya, yaitu: a. Rendemen (SNI ) b. Kelarutan dalam Etanol 95% (SNI ) c. Bilangan ester (SNI ) d. Bilangan asam (SNI ) e. Bobot jenis (SNI ) f. Indeks bias (SNI ) g. Putaran optik (SNI ) h. Sisa penguapan (SNI ) i. Analisis komponen dengan GCMS (ASTM D-4629) E. Rancangan Percobaan Rancangan Percobaan yang dipergunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan percobaan faktorial, terdiri dari tiga faktor dengan dua kali ulangan. Model matematis rancangan percobaan tersebut adalah : Yijkl = µ + Ai + Bj + Ck + ABij + BCik + ACjk + ABCijk + eijkl, Y ijk : nilai penagamatan untuk perlakuan perajangan dan metode penyulingan pada masing-masing taraf ke-i, ke- j dan ke- k serta ulangan ke-l.. µ : rataan A i : pengaruh faktor metode penyulingan pada taraf ke-i = 1,2 B j : pengaruh faktor perajangan pada taraf ke-j = 1,2 C k : pengaruh faktor kepadatan bahan pada taraf ke-k = 1,2,3 AB ij : pengaruh interaksi antara faktor metode penyulingan dengan perajangan pada taraf ke-i, dan ke-j, serta ulangan ke-l.
45 BC jk AC ik ABC ijk : pengaruh interaksi antara faktor perajangan dengan kepadatan bahan pada taraf ke-i, dan ke-j, serta ulangan ke-l. : pengaruh interaksi antara faktor metode penyulingan dengan kepadatan bahan pada taraf ke-i, dan ke-j, serta ulangan ke-l. : pengaruh interaksi antara faktor metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bahan pada taraf ke-i, ke-j dan ke-k, serta ulangan ke-l. ijk(l) : galat (kesalahan percobaan) Untuk membuktikan pengaruh dari berbagai macam perlakuan dilakukan uji sidik ragam. Jika P<0.05 atau F hitung > F tabel pada selang kepercayaan 95 %, berarti faktor tersebut berpengaruh terhadap rendemen dan sifat fisiko kimia yang dihasilkan. Jika faktor tersebut berpengaruh maka dilanjutkan dengan uji Duncan.
46 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENELITIAN PENDAHULUAN Dari hasil penelitian pendahuluan diperoleh bunga kenanga dengan kadar air 82 %, kadar protein 17,30% dan kadar minyak 1,6 %. Masing-masing penyulingan dilakukan pada kepadatan yang sama yaitu 75 gr/liter. Dari hasil penyulingan didapatkan hasil bahwa lama penyulingan bunga kenanga adalah 10 jam (lama waktu penyulingan ditentukan sampai minyak tidak menetes lagi). B. PENELITIAN UTAMA a. Rendemen Minyak Kenanga Rendemen minyak kenanga dinyatakan dalam perbandingan antara volume minyak yang dihasilkan dengan berat bunga kenanga yang disuling. Rendemen minyak kenanga yang dihasilkan dari 3 macam perlakuan yaitu metode penyulingan, perajangan dan kepadatan berkisar antara 1,13-1,50%. Rendemen tertinggi diperoleh pada perlakuan metode penyulingan kukus, tanpa perajangan dan kepadatan kg/l. Rendemen terendah diperoleh dari penyulingan dengan cara rebus, dengan perajangan dan kepadatan 0.1 kg/l. Histogram nilai rendemen yang dihasilkan dapat dilihat pada gambar 18. Gambar 18. Histogram Pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap rendemen minyak kenanga yang dihasilkan. Hasil sidik ragam (lampiran 1) menunjukkan bahwa faktor metode penyulingan, perajangan dan kepadatan berpengaruh nyata terhadap rendemen
47 yang dihasilkan (nilai P<0.05). Akan tetapi, interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak berpengaruh terhadap rendemen minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05). Uji lanjut Duncan pada (lampiran 2) menunjukkan bahwa kepadatan bahan berpengaruh nyata. Semakin bertambahnya kepadatan bahan maka nilai rendemen minyak yang dihasilkan akan semakin menurun. Kepadatan kg/l menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan kg/l dan kepadatan 0.1 kg/l. Hal ini sesuai dengan Rusli (1974), berdasarkan hasil penelitian dengan penyulingan uap dan air (kukus), semakin rendah kepadatan bahan dalam tangki penyuling akan menaikkan rendemen yang diperoleh. Selain itu sesuai dengan penelitian Rusli dan Hasanah (1977), dari penyulingan dengan tinggi bahan yang berbeda didapatkan bahwa semakin padat bahan dalam ketel maka rendemen semakin turun. Kepadatan bahan yang terlalu tinggi menyebabkan ruang antar bahan semakin berkurang sehingga penetrasi uap ke dalam bahan juga akan berkurang. Laju alir uap akan terhambat karena bahan yang terlalu padat. Hal ini mengakibatkan minyak yang terbawa keluar dari bahan oleh uap akan berkurang sehingga rendemen minyak yang dihasilkan juga akan berkurang. Menurut Sukirman dan Aiman (1979), kepadatan bahan dalam ketel suling berhubungan dengan penetrasi uap, kapasitas ketel dan efisiensi uap. Menurut Guenther (1972), penyulingan dengan kepadatan bahan terlalu tinggi mengakibatkan terganggunya aliran uap panas, karena dapat membentuk jalur uap ( rat holes ). Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa rendemen yang dihasilkan pada metode kukus lebih tinggi dibandingkan metode rebus. Hal ini disebabkan karena ketel suling yang digunakan pada penelitian belum memenuhi syarat penyulingan rebus yaitu diameter ketel harus lebih besar daripada tinggi ketel. Sehingga bunga yang disuling tidak dapat bergerak bebas dalam air akibatnya penetrasi uap ke dalam bunga akan terhambat. Hal ini akan menyebabkan rendemen minyak yang dihasilkan rendah. Menurut Ketaren (1985), ketel yang digunakan pada cara rebus, ukuran diameternya lebih besar dari ukuran tinggi sehingga partikel bahan bebas bergerak dalam air mendidih, sehingga proses penyulingan lebih singkat dan rendemen serta mutu minyak yang dihasilkan lebih baik.
48 Adanya protein dengan kadar 17,30% dalam bunga kenanga juga menyebabkan rendemen penyulingan dengan metode rebus akan lebih rendah daripada metode penyulingan kukus. Protein dalam air mendidih akan lebih mudah menggumpal sehingga bunga kenanga yang terkena panas akan juga menggumpal. Penggumpalan protein dalam bunga menyebabkan penetrasi air panas ke dalam jaringan bunga akan terganggu sehingga proses hidrodifusi minyak terhambat akibatnya rendemen minyak yang dihasilkan akan berkurang. Hal ini menyebabkan komponen seperti kadinene dan kariofilen yang merupakan komponen terbesar dalam minyak kenanga tidak tersuling sempurna sehingga akan menurunkan nilai rendemen yang dihasilkan. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa rendemen yang dihasilkan pada bunga yang dirajang lebih rendah daripada bunga tanpa perajangan. Hal ini disebabkan oleh, Perajangan bunga kenanga sebelum penyulingan menyebabkan rendemen minyak yang dihasilkan lebih rendah daripada rendemen minyak yang dihasilkan tanpa perajangan bunga terlebih dahulu. Hal ini disebabkan adanya waktu delay sekitar 30 menit pada saat perajangan sebelum dimasukkan ke dalam ketel, sehingga akan menguapkan sebagian minyak yang ada dalam bunga kenanga dibandingkan tanpa perajangan. Menurut Ketaren (1985), selama proses dan sesudah perajangan, akan terjadi penguapan komponen minyak yang bertitik didih rendah, dan jika dibiarkan beberapa menit akan terjadi penyusutan bahan sekitar 0,5 % akibat penguapan minyak. Dari nilai rendemen minyak yang dihasilkan dapat diketahui bahwa kombinasi terbaik yang menghasilkan rendemen minyak tertinggi adalah minyak kenanga yang disuling tanpa perajangan, kepadatan kg bunga/l menggunakan metode kukus. b. Karakteristik minyak kenanga Analisis sifat fisiko kimia dilakukan pada minyak kenanga yang dihasilkan. Pengujian dilakukan sesuai prosedur pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Parameter yang diukur adalah warna, bau, bobot jenis, indeks bias, putaran optis, sisa penguapan, kelarutan dalam etanol 95%, bilangan asam, bilangan ester dan analisis jenis komponen dengan metode GCMS.
49 1. Warna Minyak Warna merupakan salah satu parameter yang sangat penting dan salah satu pertimbangan konsumen dalam membeli minyak jika dilihat dari sifat fisik. Warna minyak kenanga menurut SNI adalah minyak kenanga dengan warna kuning muda sampai kuning tua. Parameter warna minyak kenanga ditentukan secara organoleptik. Warna minyak yang dihasilkan karena metode penyulingan (rebus atau kukus), perajangan (rajang atau tanpa perajangan) dan kepadatan umumnya hampir sama warnanya yaitu kuning muda. Penampilan minyak yang dihasilkan pada minyak kenanga dapat dilihat pada gambar 19. (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) ( (i) (j) (k) (l) Gambar 19. Penampilan warna minyak kenanga secara visual (a)kukus, rajang, kepadatan kg/l; (b) kukus, tidak rajang, kepadatan kg/l;(c )rebus, rajang, kepdatan kg/l; (d) rebus, tidak rajang, kepadatan kg/l;(e)kukus, rajang, kepadatan kg/l; (f)kukus, tidak rajang, kepadatan kg/l;(g )rebus, rajang, kepdatan kg/l; (h)rebus, tidak rajang, kepadatan kg/l;(i)kukus, rajang, kepadatan 0.01 kg/l; (j)kukus, tidak rajang, kepadatan 0.01 kg/l; (k )rebus, rajang, kepdatan 0.01 kg/l; (l) rebus, tidak rajang, kepadatan 0.01 kg/l.
50 Tabel 5. Warna minyak kenanga dengan berbagai faktor Metode dan Kukus rajang Kukus tidak Rebus rajang Rebus tidak perajangan kepadatan rajang rajang kg/l Kuning muda Kuning tua Kuning keputihan Kuning keputihan kg/l Kuning tua Kuning muda Kuning muda Kuning muda 0.1 kg/l Kuning keputihan Kuning keputihan Kuning muda Kuning keputihan Perlakuan metode penyulingan, perajangan dan kepadatan yang diberikan terhadap bunga kenanga yang menghasilkan minyak tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap warna minyak yang dihasilkan. Warna minyak pada umumnya adalah kuning muda dan sesuai dengan standar SNI yang diminta warna minyak berkisar kuning muda sampai kuning tua. 2. Bau minyak Sifat fisik minyak kenanga selain dilihat dari warna minyak juga dilihat dari bau minyak yang dihasilkan. Konsumen biasanya menilai sifat minyak dari kedua sifat fisik minyak yaitu warna dan bau minyak kenanga yang dihasilkan. Menurut Ketaren (1985), wangi khas dalam minyak kenanga disebabkan oleh persenyawaan oxygenated hydrocarbon yang mempunyai nilai kelarutan yang tinggi dalam alkohol, serta lebih tahan dan stabil terhadap proses oksidasi dan resinifikasi. Tabel 6. Tabel bau minyak kenanga yang dihasilkan Metode dan perajangan kepadatan Kukus rajang Kukus tidak rajang kg/l Bau segar kenanga Bau segar kenanga kg/l Bau segar kenanga Bau segar kenanga 0.1 kg/l Bau segar kenanga Bau segar kenanga Rebus rajang Rebus tidak rajang Agak gosong Agak gosong Agak gosong Agak gosong Agak gosong Agak gosong
51 Minyak kenanga yang dihasilkan pada perlakuan kepadatan dan perajangan tidak memberikan bau yang berbeda. Kesan bau minyak kenanga dengan metode penyulingan rebus memiliki kesan bau wangi kurang segar dan kurang wangi dibandingkan dengan minyak kenanga yang dihasilkan dengan metode penyulingan kukus. Hal ini disebabkan oleh, pada penyulingan rebus api yang digunakan langsung mengenai ketel dan bunga kenanga yang ada di dalamnya sehingga baunya kurang segar dan terkesan gosong. Menurut Ketaren (1985), air dipanaskan dengan uap yang dialirkan melalui pipa uap melingkar dan tidak boleh dipanasi langsung dengan api. Hal ini bertujuan untuk mencegah agar bahan dalam ketel tidak sampai gosong. Terjadinya kehangusan dapat juga dikurangi dengan menggunakan ketel penyuling yang dilengkapi dengan ketel uap (steam jacket). 3. Bobot Jenis Bobot jenis merupakan perbandingan antara berat minyak pada suhu yang ditentukan dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada suhu tersebut (SNI minyak kenanga, 1995). Bobot jenis merupakan salah satu parameter penting dalam penentuan sifat kimia suatu minyak. Bobot jenis yang tinggi menandakan tingginya kadar fraksi berat dalam minyak. Menurut Guenther (1947), parameter ini penting untuk mengetahui adanya zat asing dalam suatu cairan serta perubahan-perubahan lain yang mempengaruhi mutunya. Nilai bobot jenis dipengaruhi oleh komponen-komponen kimia yang terkandung di dalamnya. Kisaran nilai bobot jenis menurut SNI adalah 0,906-0,920. Minyak kenanga yang dihasilkan memiliki bobot jenis yang masuk ke dalam rentang SNI yaitu antara 0,907-0,915. Histogram nilai bobot jenis dapat dilihat pada gambar 20.
52 Gambar 20. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bobot jenis minyak kenanga yang dihasilkan. Hasil sidik ragam (lampiran 3) menunjukkan bahwa faktor metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot jenis minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05). Interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot jenis minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05). Nilai bobot jenis dari hasil uji sidik ragam tidak memberikan pengaruh yang nyata atau bisa dikatakan secara statistik memiliki nilai yang sama, hal ini disebabkan oleh fraksi berat yang keluar pada masing-masing kombinasi penyulingan hampir sama. Dari nilai bobot jenis minyak yang dihasilkan dapat diketahui bahwa kombinasi terbaik yang menghasilkan bobot jenis minyak tertinggi adalah minyak kenanga yang disuling tanpa perajangan dengan metode kukus dan memiliki kepadatan kg/l. 4. Indeks Bias Indeks bias merupakan pengukuran langsung sudut bias minyak yang dipertahankan pada kondisi suhu tetap (SNI minyak kenanga, 1995). Menurut Forma (1979), komponen-komponen kimia yang terdapat dalam minyak termasuk fraksi berat akan meningkatkan kerapatan minyak, sehingga sinar yang datang akan dibiaskan mendekati garis normal. Hal ini disebabkan karena fraksi berat minyak yang mengandung molekul-molekul bertitik didih tinggi.
53 Kisaran nilai indeks bias menurut SNI adalah 1,4963-1,4984. Minyak kenanga yang dihasilkan memiliki nilai indeks bias yang masuk ke dalam rentang SNI yaitu antara 1,495-1,504. Indeks bias dihitung pada suhu 20 ºC. Histogram nilai bobot jenis dapat dilihat pada gambar. Gambar 21. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap indeks bias minyak kenanga yang dihasilkan. Hasil sidik ragam (lampiran 4) menunjukkan bahwa faktor metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap indeks bias minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05). Interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai indeks bias minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05). Nilai indeks bias dari hasil uji sidik ragam tidak memberikan pengaruh yang nyata atau bisa dikatakan secara statistik memiliki nilai yang sama, hal ini disebabkan oleh fraksi berat yang keluar pada masing-masing kombinasi penyulingan hampir sama. Nilai indeks bias dan bobot jenis terdapat hubungan yang sebanding yaitu jika nilai bobot jenis tinggi maka nilai indeks bias juga tinggi. Hal ini diakibatkan oleh fraksi berat yang ada di dalam minyak kenanga akan mempengaruhi nilai dari bobot jenis dan indeks bias. Jika fraksi berat yang terkandung dalam minyak kenanga tinggi maka nilai bobot jenis dan indeks bias juga tinggi. Dari nilai indeks bias minyak yang dihasilkan dapat diketahui bahwa kombinasi terbaik yang menghasilkan indeks bias minyak tertinggi adalah minyak kenanga yang disuling tanpa perajangan dengan metode kukus dan memiliki kepadatan kg/l.
54 5. Kelarutan dalam Etanol 95% Pengujian kelarutan dalam etanol 95% bertujuan untuk mengetahui jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk melarutkan sejumlah minyak kenanga. Kelarutan minyak dalam alkohol dipengaruhi oleh komponen senyawa kimia dalam minyak kenanga. Semakin mudah minyak terlarut dalam alkohol menandakan bahwa pada minyak tersebut mengandung hidrokarbon beroksigen. Menurut Ketaren (1985), pada umumnya minyak yang mengandung hidrokarbon beroksigen (oxigenated hidrocarbon) lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Menurut SNI nilai kelarutan minyak kenanga dalam etanol 95% adalah 1 : 1 sampai 1 :10 jernih. 1 : 1 berarti untuk melarutkan 1 ml minyak kenanga dibutuhkan 1 ml etanol 95%. Dari hasil penelitian perlakuan metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak berpengaruh terhadap kelarutan minyak kenanga dalam etanol 95%. Hasil kelarutan minyak kenanga dalam etanol 95% adalah 1 : 1 dan sudah masuk dalam standart SNI. Hal ini menandakan bahwa minyak kenanga yang dihasilkan melalui berbagai penenlitian masih memiliki komponen hidrokarbon beroksigen yang bersifat polar dan larut dengan mudah dalam etanol 95%. Berikut ini adalah tabel data kelarutan minyak kenanga dalam etanol 95%. Tabel 7. Kelarutan minyak kenanga dalam etanol 95% Ulangan Kukus Rebus Kepadatan Rajang Tidak Rajang Rajang Tidak rajang I : 1 1 : 1 1 : 1 1 : : 1 1 : 1 1 : 1 1 : : 1 1 : 1 1 : 1 1 : 1 II : 1 1 : 1 1 : 1 1 : : 1 1 : 1 1 : 1 1 : : 1 1 : 1 1 : 1 1 : 1 6. Sisa Penguapan Sisa penguapan diukur bertujuan untuk mengetahui persentase minyak yang masih tersisa setelah diuapkan pada suhu 105 ºC. Nilai sisa penguapan yang besar menandakan bahwa komponen bertitik didih tinggi banyak terdapat dalam
55 minyak tersebut. Komponen bertitik didih tinggi dalam minyak kenanga adalah benzil benzoat yaitu memiliki titik didih sebesar 323,5 ºC. Menurut Guenther (1947), nilai sisa penguapan yang rendah dari minyak hasil pressing, disebabkan karena adanya terpen atau komponen menguap lainnya, nilai sisa penguapan yang tinggi disebabkan oleh benda-benda asing seperti rosin, fixed oil, atau seskuiterpen bertitik didih tinggi. Nilai standar mutu sisa penguapan adalah kurang dari 5 %. Dari hasil penelitian diketahui bahwa nilai sisa penguapan minyak kenanga yang dihasilkan dengan berbagai perlakuan masuk dalam standart yaitu 3,057 4,265. Histogram nilai sisa penguapan dapat dilihat pada gambar. Gambar 22. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap sisa penguapan minyak kenanga yang dihasilkan. Hasil sidik ragam (lampiran 5) menunjukkan bahwa faktor metode penyulingan dan kepadatan berpengaruh nyata terhadap nilai sisa penguapan yang dihasilkan (nilai P<0.05). Interaksi antara metode penyulingan dan perajangan memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai sisa penguapan minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P<0.05). Uji lanjut Duncan (lampiran 6) menunjukkan bahwa kepadatan bahan berpengaruh nyata. Semakin bertambahnya kepadatan bahan maka nilai sisa penguapan minyak yang dihasilkan akan semakin meningkat. Kepadatan 0,075 kg/l menghasilkan nilai sisa penguapan yang lebih rendah dibandingan dengan kepadatan kg/l dan kepadatan 0.1 kg/l. Hasil dari uji lanjut Duncan
56 menunjukkan bahwa kepadatan 0,075 kg/l berbeda nyata dengan nilai sisa penguapan pada kepadatan 0,1 kg/l. Sedangkan untuk nilai sisa penguapan pada kepadatan 0,0875 kg/l tidak berbeda nyata dengan nilai sisa penguapan pada kepadatan 0,075 kg/l maupun pada kepadatan 0,1 kg/l. Hal ini disebabkan oleh, pada kepadatan yang tinggi untuk mengeluarkan komponen fraksi berat memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan pada kepadatan lebih rendah. Pada kepadatan lebih tinggi waktu untuk menguapkan komponen-komponen yang ada di dalam bunga lebih lama karena laju alir uap terhambat disebabkan ruang kosong antar bahan semakin sedikit. Lamanya waktu akan meningkatkan suhu dalam ketel sehingga menyebabkan komponen yang berikatan rangkap terpolimerisasi karena adanya suhu tinggi. Hal tersebut akan mempengaruhi nilai sisa penguapan menjadi lebih besar. Menurut Guenther (1952), resin yang merupakan hasil polimerisasi terpen dengen ikatan rangkap menyebabkan sisa penguapan minyak lebih besar. Uji lanjut Duncan, pada interaksi antara metode penyulingan dan perajangan menunjukkan bahwa metode penyulingan kukus dengan perajangan dan tanpa perajangan berbeda nyata dengan metode penyulingan rebus dengan perajangan atau tanpa perajangan. Nilai sisa penguapan pada metode rebus lebih tinggi dibandingkan dengan metode penyulingan kukus. Pada metode penyulingan rebus nilai sisa penguapan lebih tinggi dibandingkan dengan metode penyulingan kukus. Hal ini disebabkan oleh pada metode rebus kadar komponen benzil benzoat bertitik didih tinggi lebih besar dibandingkan pada metode penyulingan kukus. Benzil benzoat merupakan aromatik ester bertitik didih tinggi. Laju penyulingan yang tinggi 0.52 L/jam/kg menyebabkan kontak antara air dan minyak cukup besar sehingga menghindari terjadinya hidrolisis pada ester. Proses hidrodifusi lebih mudah terjadi pada metode penyulingan rebus sehingga jumlah ester yang bertitik didih tinggi akan lebih mudah menguap. Menurut Guenther (1947), penyulingan rebus menciptakan kondisi yang lebih baik untuk proses osmosis minyak, karena suhu yang tinggi dan pergerakan air yang disebabkan oleh kenaikan suhu dalam ketel penyuling. Proses hidrodifusi yang lebih mudah terjadi pada penyulingan rebus akan menyebabkan komponen yang bertitik didih tinggi dan lebih larut dalam air
57 mudah menguap. Sehingga pada penyulingan rebus mengandung komponen benzil benzoat bertitik didih tinggi lebih besar. Hal ini menyebabkan nilai sisa penguapan lebih tinggi. Pada faktor perlakuan perajangan diketahui bahwa nilai sisa penguapan cenderung lebih tinggi pada bunga yang dirajang dibandingkan dengan bunga tanpa perajangan. Hal ini disebabkan oleh, pada bunga yang dirajang komponen bertitik didih lebih tinggi lebih mudah terhidrodifusi dibandingkan bunga yang tidak dirajang terlebih dahulu. Perajangan menyebabkan kantung minyak pecah sehingga memudahkan komponen yang terdapat di dalam bunga lebih mudah menguap pada saat penyulingan. Banyaknya komponen yang bertitik didih dalam minyak yang dirajang menyebabkan nilai sisa penguapan tinggi. Kombinasi terbaik yang dihasilkan dari analisis sisa penguapan adalah minyak kenanga yang disuling, tanpa perajangan, dan kepadatan 0,075 kg bunga/l. 7. Putaran Optik Pengukuran putaran optik didasarkan pada pengukuran sudut bidang dari sinar terpolarisasi yang diputar oleh lapisan minyak (SNI minyak kenanga, 1995). Menurut Guenther (1952), minyak memiliki kemampuan memutar bidang polarisasi karena komponen kimia di dalam minyak tersebut bersifat optik aktif. Arah pemutaran bidang polarisasi suatu minyak merupakan penggabungan dari arah pemutaran bidang polarisasi masing-masing komponen. Nilai standar mutu putaran optik minyak kenanga adalah (- 15) ( -30). Dari hasil penelitian diketahui bahwa nilai putaran optik minyak kenanga yang dihasilkan dengan berbagai perlakuan masuk dalam standart yaitu (-15,45) (-24,1). Menurut Histogram nilai putaran optik dapat dilihat pada gambar 23.
58 Gambar 23. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap putaran optik minyak kenanga yang dihasilkan. Semua nilai putaran optik memutar bidang polarisasi ke arah kiri. Komponen dalam minyak kenanga yang dapat memutar bidang polarisasi adalah kariofilen dan cadinene karena memiliki atom karbon asimetris atau atom C kiral. Semakin banyak kandungan atom karbon asimetris maka nilai putaran optik semakin tinggi. Menurut Guenther (1949), komponen murni cadinene memiliki nilai putaran optik aktif (-37º27 ), sedangkan α-kariofilen memiliki nilai putaran optik ±0 dan β-kariofilen memiliki nilai putaran optik (-5º48 ). Joeswadi (1980), menyatakan bahwa seskuiterpenol yang terdapat dalam minyak daun cengkeh dalam jumlah sangat sedikit merupakan senyawaan aktif optik dan turunan dari seskuiterpen. Senyawaan ini juga menyebabkan minyak daun cengkeh dapat memutar bidang polarisasi. Hasil sidik ragam (lampiran 7) menunjukkan bahwa faktor metode penyulingan dan perajangan berpengaruh nyata terhadap nilai putaran optik yang dihasilkan (nilai P<0.05). Akan tetapi, interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai putaran optik minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05). Uji lanjut Duncan (lampiran 7) menunjukkan bahwa metode penyulingan kukus dan rebus berbeda nyata terhadap nilai putaran optik, begitu juga pada faktor perajangan. Bahan yang dirajang cenderung menghasilkan nilai putaran optik memiliki kemampuan memutar ke kiri dibandingkan dengan nilai putaran
59 optik pada bahan yang tidak dirajang. Pada perajangan diketahui bahwa bunga kenanga yang dirajang cenderung memiliki kemampuan memutar ke kiri lebih besar dibandingkan dengan bunga kenanga yang tidak dirajang. Hal ini disebabkan oleh, pada perajangan komponen-komponen minyak kenanga akan lebih mudah menguap pada saat penyulingan termasuk kariofilen dan cadinene. Pada perajangan didapatkan komponen minyak yang lebih mudah menguap daripada pada bunga yang tidak dirajang. Hal ini akan mengakibatkan pada bunga yang dirajang memiliki kemampuan minyak untuk memutar bidang polarisasi ke arah kiri berkurang. Sedangkan pada metode penyulingan, metode kukus cenderung memiliki nilai putaran optik lebih memiliki kemampuan memutar ke kiri dibandingkan dengan nilai putaran optik pada metode rebus. Hal ini disebabkan oleh, pada metode penyulingan rebus terjadi penggumpalan pada bunga kenanga karena adanya air panas sehingga penetrasi uap terhambat. Kadinene dan kariofilen yang menentukan nilai putaran optik ke kiri akan lebih sulit terhidrodifusi sehingga kadarnya dalam minyak lebih rendah akibatnya nilai putaran optik pada penyulingan rebus akan cenderung memutar ke arah kanan. Dari nilai putaran optik yang dihasilkan dapat diketahui bahwa kombinasi terbaik yang menghasilkan nilai putaran optik yang memutar ke arah kiri adalah minyak kenanga dengan kepadatan kg bunga/l, tanpa perajangan dan menggunakan metode penyulingan kukus. 8. Bilangan Asam Pengukuran bilangan asam bertujuan untuk mengetahui jumlah asam bebas dalam minyak kenanga. Menurut Guenther (1952), bilangan asam yang terkandung dalam minyak kenanga adalah 0,5-2,0. Dari hasil penelitian diketahui bahwa nilai bilangan asam pada minyak kenanga yang dihasilkan dengan beberapa perlakuan adalah 2,2596-6,6325. Bilangan asam yang dihasilkan tidak masuk ke dalam rentang standar. Histogram yang menunjukkan nilai bilangan asam pada beberapa perlakuan dapat dilihat pada gambar 24.
60 Gambar 24. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bilangan asam minyak kenanga yang dihasilkan. Hasil sidik ragam (lampiran 8) menunjukkan bahwa faktor metode dan kepadatan berpengaruh nyata terhadap nilai bilangan asam yang dihasilkan (nilai P<0.05). Interaksi antara metode penyulingan dan perajangan memberikan pengaruh nyata terhadap nilai bilangan asam yang dihasilkan. Interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan juga memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai bilangan asam yang dihasilkan oleh minyak kenanga (nilai P<0.05). Uji lanjut Duncan (lampiran 9) menunjukkan bahwa nilai bilangan asam pada kepadatan kg/l cenderung memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan kepadatan yang lain karena pada kepadatan ini uap yang kontak dengan bahan paling banyak. Adanya kontak uap air dan bahan menyebabkan terjadinya proses hidrolisis yang akan menaikkan asam bebas dalam minyak sehingga nilai bilangan asam lebih tinggi. Pada kepadatan yang lebih rendah uap akan lebih mudah lolos tanpa kontak dengan bahan sedangkan pada kepadatan yang lebih tinggi kontak uap dan minyak terhambat. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa nilai bilangan asam pada metode penyulingan kukus cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan metode penyulingan rebus. Hal ini disebabkan oleh, adanya protein dalam bunga kenanga akan mengakibatkan terjadinya penggumpalan dalam bunga. Pada metode penyulingan rebus protein akan lebih cepat menggumpal karena kontak langsung
61 dengan air mendidih. Penggumpalan protein yang lebih cepat pada metode penyulingan rebus menyebabkan minyak terjerat dalam kantung minyak sehingga hidrodifusi sulit terjadi. Sulitnya proses hidrodifusi mengakibatkan kontak antara minyak dan air lebih sedikit dibandingkan cara penyulingan kukus. Pada penyulingan cara kukus banyaknya uap yang kontak dengan minyak mengakibatkan proses hidrolisis lebih mudah terjadi. Dari proses hidrolisis tersebut dihasilkan asam yang akan meningkatkan nilai bilangan asam. Selain itu peristiwa hidrolisis disebabkan oleh, laju penyulingan yang tergolong cepat yaitu 0.52 L/jam/Kg menyebabkan kontak uap cukup besar dengan bahan. Perbedaan yang terjadi antara metode penyulingan kukus dan rebus adalah pada metode penyulingan rebus proses hidrodifusi lebih cepat terjadi karena kelarutan ester misalnya benzil benzoat dalam air lebih tinggi sehingga lebih mudah tersuling. Hal ini mengakibatkan reaksi hidrolisis pada metode penyulingan kukus lebih mudah terjadi karena lebih lama tersuling sehingga bilangan asam akan lebih tinggi. Uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa nilai bilangan asam pada bunga yang dirajang cenderung lebih rendah dibandingkan pada bunga yang tidak dirajang. Hal ini disebabkan oleh, pada bunga yang dirajang kontak minyak dengan uap lebih singkat sehingga proses hidrolisis lebih kecil terjadi akibatnya nilai bilangan asamnya lebih rendah. Menurut Thorpe (1947), bilangan asam minyak atsiri relatif rendah karena kandungan asam-asam bebasnya rendah. Tingginya bilangan asam disebabkan karena terjadinya hidrolisa ester menjadi asam bebas dan alkohol atau terjadinya oksidasi pada komponen-komponen minyak yang mempunyai ikatan rangkap yang menghasilkan asam organik, aldehid dan keton yang berantai pendek. Dari nilai bilangan asam minyak diketahui bahwa kombinasi terbaik yang menghasilkan nilai bilangan asam terendah adalah minyak kenanga yang disuling tanpa perajangan dengan metode kukus dengan kepadatan bunga kg/l. 9. Bilangan Ester Pengukuran bilangan ester merupakan pengukuran sifat kimia yang penting pada minyak kenanga. Nilai bilangan ester yang tinggi mengacu pada mutu minyak yang baik. Menurut Guenther (1972), nilai bilangan ester yang
62 tinggi menunjukkan bahwa minyak tersebut tidak mudah teroksidasi, sehingga komposisi wangi menjadi lebih sempurna dan ketahanan bau yang lebih lama. Hal ini dikemukakan juga oleh Ketaren (1986), bilangan ester sangat penting dalam menentukan nilai minyak atsiri, sebab ester merupakan komponen yang berperan dalam membentuk aroma khas minyak atsiri. Semakin tinggi nilai bilangan ester minyak maka semakin baik mutu minyak tersebut. Kisaran nilai bilangan ester menurut SNI adalah Minyak kenanga yang dihasilkan memiliki nilai bilangan ester lebih tinggi dari rentang SNI yaitu berkisar 31, ,1949. Histogram nilai bobot jenis dapat dilihat pada gambar 25. Gambar 25. Histogram pengaruh metode penyulingan, perajangan dan kepadatan bunga terhadap bilangan ester minyak kenanga yang dihasilkan. Hasil sidik ragam (lampiran 10) menunjukkan bahwa faktor metode penyulingan dan kepadatan berpengaruh nyata terhadap bilangan ester yang dihasilkan (nilai P<0.05). Akan tetapi, interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bilangan ester minyak kenanga yang dihasilkan (nilai P>0.05). Uji lanjut Duncan (lampiran 11) menunjukkan bahwa kepadatan bahan memberikan pengaruh yang nyata. Kepadatan 0,075 kg/l menghasilkan nilai bilangan ester yang tidak berbeda nyata dengan kepadatan 0.1 kg/l. Akan tetapi, berbeda nyata dengan kepadatan kg/l. Nilai bilangan ester pada kepadatan
63 kg/l lebih tinggi dibandingkan pada kepadatan 0,075 kg/l dan kepadatan 0.1 kg/l. Hal ini disebabkan oleh, pada kepadatan yang lebih rendah ruang antar bahan masih banyak sehingga laju penetrasi uap akan berlangsung lebih cepat sehingga komponen-komponen ester tidak terhidrodifusi dengan sempurna. Penetrasi uap yang lebih cepat menyebabkan uap air yang melewati kelenjar minyak berkurang. Penetrasi uap yang berkurang dalam bahan mengakibatkan ester yang terdapat dalam bunga tidak tersuling dengan sempurna. Akibatnya nilai bilangan ester menjadi lebih rendah. Pada kepadatan lebih tinggi yaitu kepadatan 0.1 kg/l diketahui bahwa nilai bilangan ester juga lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh, penetrasi uap yang terhambat akibat semakin padatnya bahan yang akan mengakibatkan terbentuknya jalur uap sehingga hidrodifusi sempurna hanya terjadi pada jalur yang dilalui uap akibatnya akan menghasilkan nilai bilangan ester yang lebih rendah. Uji lanjut Duncan menyatakan bahwa pada metode penyulingan kukus memiliki nilai bilangan ester yang lebih rendah dibandingkan pada metode penyulingan rebus. Laju penyulingan yang cukup cepat yaitu 0,52 L/jam/kg menyebabkan kontak antara air dan komponen bahan seperti ester cukup cepat sehingga reaksi hidrolisis dapat dihindari. Hal ini terjadi pada kedua metode penyulingan. Perbedaannya adalah proses hidrodifusi lebih mudah terjadi pada metode penyulingan air. Hal ini disebabkan oleh, kelarutan ester seperti benzil benzoat dalam air lebih tinggi karena memiliki sifat yang sama-sama polar sehingga pada metode penyulingan rebus lebih mudah tersuling. Kemudahan proses penyulingan pada metode rebus akan menghindari reaksi hidrolisis sehingga nilai bilangan ester lebih tinggi. Benzil benzoat merupakan senyawa ester aromatik yang terdapat dalam minyak kenanga. Dibandingkan dengan senyawa lain yang terdapat dalam minyak kenanga, benzil benzoat (C 14 H 12 O) memiliki titik didih paling tinggi yaitu 323,5 ºC. Senyawa lain yang terdapat di dalam minyak kenanga adalah cadinene dan kariofilen (C 15 H 24 ) yang merupakan seskuiterpen. Menurut Guenther (1947), kecepatan penguapan minyak dalam proses hidrodestilasi bahan tidak dipengaruhi oleh sifat mudah menguapnya komponen-komponen minyak, melainkan lebih banyak oleh derajat kelarutannya dalam air. Komponen yang bertitik didih lebih
64 tinggi, tetapi lebih larut dalam air akan tersuling terlebih dahulu daripada komponen bertitik didih lebih rendah dan kurang larut dalam air. Benzil benzoat memiliki titik didih yang paling tinggi dibandingkan komponen lain yang terdapat dalam minyak kenanga. Selain itu, benzil benzoat yang merupakan golongan terpen O yang relatif lebih polar jika dibandingkan dengan golongan seskuiterpen sehingga kelarutan benzil benzoat dalam air lebih tinggi. Akibatnya benzil benzoat akan lebih mudah terhidrodifusi. Proses hidrodifusi yang lebih mudah terjadi pada cara rebus menyebabkan benzil benzoat yang terhidrodestilasi lebih tinggi sehingga nilai bilangan ester pada metode penyulingan rebus lebih tinggi dibandingkan kukus. Pada perajangan diketahui bahwa nilai bilangan ester pada bunga yang tidak dirajang lebih tinggi daripada yang dirajang. Menurut Guenther (1947), pada penyulingan biji caraway tidak dirajang, pertama kali akan tersuling adalah komponen bertitik didih lebih tinggi tetapi larut dalam air, sedangkan pada penyulingan biji caraway yang dirajang akan dihasilkan keadaan sebaliknya, yaitu komponen yang bertitik didih lebih rendah dan kurang larut dalam air akan menguap terlebih dahulu. Senyawa benzil benzoat yang terdapat dalam minyak kenanga merupakan komponen yang bertitik didih paling tinggi dan larut dalam air sehingga pada bunga yang tidak dirajang akan menguap terlebih dahulu. Hal ini akan meningkatkan nilai bilangan ester yang terdapat dalam minyak kenanga. Dari bilangan ester yang dihasilkan kombinasi terbaik adalah minyak kenanga dengan kepadatan kg bunga/l, tanpa perajangan dan menggunakan metode penyulingan kukus.
65 Pada penelitian ini juga dilakukan uji gcms untuk mengetahui beberapa komponen yang terkandung dalam minyak kenanga. Setelah dilakukan uji gcms dapat diketahui komponen yang terkandung dalam minyak kenanga antara lain Beta myrcene, p-cresol methyl ether, Linalool, p-allylanisole, nerol, Citral b, Geraniol, Neral, alpha.-cubebene, Eugenol, 3a,3b, 4,5,6,7-hexahydro-3,7 - dimethyl-4-(1-methylethyl), Geranyl acetate, Beta elemene, beta.-caryophyllene, beta cubebene, 1H-Cyclopenta 1,3]cyclopropa[1,2]benzene,alpha.- Caryophyllene, (+)-Epi-bicyclosesquiphellandrene, naphtalen, 6.alpha.-Cadina- 4,9-diene, Germacrene-D, beta.-cuvebene, Alpha germacrene, Bicyclogermacren, alpha muurolen, alpha.-bergamotene, E,E-.alpha farnesene, alpha.-amorphene, delta-cadinene, Cadiena-1,4-Diena, alpha.-cadinene, Caryophyllene oxida, 1-Naphthalenol, 1H-3a,7-Methanoazulene, tau.-muurolol, copaene, alpha.-cadinol, Cis-Farnesol, 2-Propenoic acid, 3-(4-methoxyphenyl)- ethyl ester, Benzyl benzoate, Farnesyl acetate, Benzyl salicylate dan Geranyl benzoate. Tabel 8. Hidrokarbon dalam minyak kenanga berdasarkan hasil uji GCMS Minyak kenanga Hidrokarbon (72.77 %) Hidrokarbon O (27.26 %) Terpen Monoterpen seskuiterpen 0.10 % % Inti benzene 0.25 % Rantai lurus 0 Terpen O Monoterpen alkohol 8.36 % O ester 0 Seskuiterpen alkohol 5.66 % O ester 3.22 % Inti benzene O % Rantai lurus O 0
66 C. PENYULINGAN SISTEM UAP Pada penelitian ini juga dilakukan 1 kali penyulingan uap dengan 2 kali ulangan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui mutu hasil penyulingan uap jika dibandingkan dengan metode rebus dan kukus. Selain itu untuk mengetahui apakah bunga kenanga dapat disuling dengan menggunakan metode penyulingan uap untuk menghasilkan minyak kenanga. Kondisi penyulingan pada penyulingan uap adalah laju alir penyulingan 0,39 L/jam/kg, tekanan ketel sebesar 1,5 atm dan tekanan boiler 2,5 atm. Lama penyulingan dengan metode penyulingan uap adalah selama 8 jam lebih cepat 2 jam dibandingkan dengan metode penyulingan kukus dan rebus. Tekanan boiler pada awal penyulingan adalah sebesar 1 atm dan meningkat secara bertahap sampai tekanan 2,5 atm. Rendemen minyak yang dihasilkan pada penyulingan uap adalah 1,6 %. Hasil yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan dengan penyulingan rebus maupun metode penyulingan kukus. Hal ini disebabkan oleh, banyaknya uap air yang dapat menembus bahan menyebabkan hidrodifusi lebih mudah terjadi dan minyak teruapkan lebih banyak sehingga rendemen yang diperoleh lebih tinggi. Semakin banyak panas yang diterima air maka proses difusi akan semakin tinggi, sehingga proses penguapan minyak atsiri dan air semakin dipercepat. Tabel 9. Mutu minyak kenanga yang disuling dengan metode penyulingan uap, kukus dan rebus No. Analisis Mutu Hasil penyulingan uap Hasil penyulingan kukus Hasil penyulingan rebus 1 Bobot jenis indeks bias sisa penguapan bilangan ester bilangan asam kelarutan dalam alkohol 95 % 1:1 1:1 1:1
67 Nilai indeks bias dan nilai bobot jenis yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan nilai indeks bias dan nilai bobot jenis yang dihasilkan pada metode penyulingan rebus maupun metode penyulingan kukus. Hal ini disebabkan oleh, pada metode penyulingan uap memiliki tekanan uap yang lebih tinggi dibandingkan metode penyulingan kukus yaitu lebih dari 1 atm. Tingginya tekanan uap pada metode penyulingan uap akan mengakibatkan fraksi berat yang terdapat di dalam minyak akan terdekomposisi menjadi fraksi yang lebih ringan sehingga akan menurunkan berat molekul minyak. Menurunnya berat molekul minyak mengakibatkan bobot jenis dan indeks bias minyak menurun sehingga lebih kecil dibandingkan pada minyak kenanga yang dihasilkan dengan metode penyulingan kukus dan rebus. Nilai sisa penguapan pada minyak kenanga yang diperoleh dengan metode penyulingan uap lebih tinggi dibandingkan minyak kenanga yang dihasilkan metode kukus dan rebus. Hal ini disebabkan oleh, pada metode penyulingan uap menghasilkan uap panas yang lebih besar dibandingkan pada metode kukus dan rebus sehingga sebagian komponen minyak terpolimerisasi karena adanya uap panas. Bilangan ester lebih rendah dan bilangan asam yang dihasilkan lebih tinggi daripada cara kukus dan rebus karena hidrolisis ester (benzyl benzoate) lebih banyak terjadi pada cara uap, akibat suhu penyulingan lebih tinggi. Kelarutan pada alkohol 95% pada minyak kenanga yang diperoleh dengan metode penyulingan uap memiliki kelarutan yang sama dengan minyak kenanga yang dihasilkan dengan cara kukus maupun rebus.
68 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Secara visual, warna minyak kenanga yang dihasilkan berwarna kuning muda sampai kuning tua. Bau minyak kenanga yang dihasilkan dengan cara rebus memiliki kesan wangi kurang segar dan kurang wangi dibandingkan dengan minyak kenanga yang dihasilkan dengan cara kukus. Faktor metode penyulingan berpengaruh nyata terhadap rendemen, sisa penguapan, putaran optik, bilangan asam dan bilangan ester. Faktor perajangan berpengaruh terhadap rendemen dan putaran optik. Faktor kepadatan berpengaruh terhadap rendemen, sisa penguapan, bilangan asam dan bilangan ester. Interaksi antara metode penyulingan dan perajangan berpengaruh terhadap nilai sisa penguapan dan bilangan asam. Interaksi antara metode penyulingan, perajangan dan kepadatan berpengaruh terhadap nilai bilangan asam yang dihasilkan. Faktor metode penyulingan tidak berpengaruh terhadap nilai bobot jenis dan indeks bias. Faktor perajangan tidak berpengaruh terhadap nilai bobot jenis, indeks bias, putaran optik, bilangan ester dan bilangan asam. Faktor kepadatan tidak berpengaruh terhadap nilai indeks bias, bobot jenis dan putaran optik. Interaksi metode penyulingan dan perajangan tidak berpengaruh terhadap nilai rendemen, bobot jenis, indeks bias, bilangan ester dan putaran optik. Interaksi antara metode penyulingan dan kepadatan maupun interaksi antara kepadatan dan perajangan tidak berpengaruh nyata terhadap mutu minyak kenanga yang dihasilkan. Interaksi ketiga perlakuan tidak berpengaruh terhadap rendemen, bobot jenis, indeks bias, bilangan ester, putaran optik dan sisa penguapan. Semakin meningkatnya kepadatan akan cenderung menurunkan nilai rendemen, bobot jenis, indeks bias, putaran optik, dan bilangan ester, namun cenderung menaikkan nilai bilangan asam dan sisa penguapan. Semua minyak kenanga yang dihasilkan dapat larut dengan baik dalam etanol 95% dengan kelarutan 1 : 1. Metode kukus dibandingkan metode rebus menghasilkan minyak kenanga dengan nilai lebih tinggi dalam hal rendemen, bobot jenis, indeks
69 bias, putaran optis, dan bilangan asam, sedangkan metode rebus menghasilkan nilai lebih tinggi dalam hal sisa penguapan dan bilangan ester. Bunga dirajang menghasilkan minyak kenanga dengan nilai lebih tinggi dalam hal bobot jenis, indeks bias, putaran optis, sisa penguapan dan bilangan ester, sedangkan bunga yang tidak dirajang menghasilkan nilai lebih tinggi dalam hal rendemen dan bilangan asam. Senyawa kimia yang terdapat dalam minyak kimia terdiri dari hidrokarbon (72.77 %) terutama kariofilen (38.45%) dan hidrokarbon O (27.26%) terutama ester berinti benzena (10.02%). Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perlakuan yang terbaik adalah minyak kenanga yang disuling tanpa perajangan, dengan kepadatan 0,075 kg bunga/l dan menggunakan metode penyulingan kukus. Kombinasi ini memiliki rendemen 1.5 %, indeks bias , bobot jenis 0.913, kelarutan dalam etanol 1 :1, sisa penguapan 3.057, putaran optik -22,1, bilangan asam , dan bilangan ester serta memiliki 43 komponen penyusun. B. SARAN 1. Perlu dilakukan penelitian minyak kenanga dengan kombinasi penyulingan kukus dan rebus yang bertujuan untuk meningkatkan rendemen dan bilangan ester minyak kenanga yang dihasilkan. 2. Perlu adanya kajian tentang studi kelayakan jika dilakukan penyulingan minyak kenanga dengan metode penyulingan kukus. 3. Perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh tingkat kematangan bunga kenanga terhadap rendemen dan mutu minyak kenanga yang dihasilkan.
70 DAFTAR PUSTAKA Anggraeni, Dian Kinerja Proses Penyulingan Minyak Nilam pada Tekanan Uap dan Kepadatan Bahan yang Berbeda. Skripsi Fateta.IPB, Bogor. Bedoukian, P.Z Perfumery and Flavoring Synthetics. Elsevier Publishing Co., New York. Buccellato Cananga odorata (lamk) Hook.f. & Thomson. Di dalam :L.P.A Oyen dan Nguyen Xuan Dung (ed) Essential-Oil Plants. Plant Resources of South-East Asia no.19. Bogor :PROSEA. Guenther, E Minyak Atsiri. UI press, Jakarta. Guenther, E The Essential Oil. Vol III. Robert E Krieger Publ Co Inc, Hutington, New York. Guenther,E The Essential Oil Vol II. Van Nostrand Reinhold Co., New York. Guenther,E Essential Oil. Volume IV. Van Nostrand Reinhold Co., New York. Hobir,Ellyda AW, Anggraeni, Makmun Kenanga dan Ylang-ylang. Di dalam : Perkembangan Penelitian Tanaman Penghasil Minyak Atsiri Ed sus. Littro VI (1): Joeswadi Perbaikan Mutu Minyak Daun Cengkeh. Balai Penelitian Kimia Bogor. Ketaren, S Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka, Jakarta. Masada, Y.1976.Analisys of Essential Oil by Cromatography and Mass Spectometry.John Willey and Sons Inc.,New York. Parry, J. dan E.Guenther Essential Oils. Vol IV. Van Nostrand Reinhold Company Inc., New York. Poucher, A Perfumes, Cosmestic, and Soaps. Vol.I. Chapman and Hull, London. Rusli, S Pengaruh Kepadatan dan Lama Penyulingan Terhadap Rendemen dan Mutu Minyak Nilam. Pemberitaan LPTI 17: Balai Besar Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Rusli, S. dan Hasanah, M Cara Penyulingan Daun Nilam Mempengaruhi Rendemen dan Mutu Minyaknya. Pemberitaan LPTI 24:1-7. Balai Besar Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Standar Nasional Indonesia (SNI) Minyak Kenanga (Cananga Oil). SNI Hal
71 Steenis, C, G, G, J, V Flora. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Sukirman, W dan S.Aiman Beberapa Kemungkinan Perbaikan Penyulingan Minyak Nilam. Makalah pada Pekan Diskusi Minyak Atsiri, Aceh. Sunanto, Hatta Budidaya Kenanga ( Usaha Produksi Minyak Atsiri Kenanga). Kanisius, Yogyakarta. Thorpe Thorpe s Dictionary of Applied Chemistry 4 th Edition. Longman. Warta Penelitian dan Pengembangan Penelitian Vol. 28, No.5, Balai Besar Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Yuniarti, Diar Mempelajari aspek pasca panen dan Proses penyulingan Minyak kenanga(sido mulyo) dan ylang-ylang Di kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Praktek Lapang FATETA. IPB. Bogor. Yusuf UK, Sinohin VO Cananga odorata (lamk) Hook.f. & Thomson. Di dalam :L.P.A Oyen dan Nguyen Xuan Dung (ed) Essential-Oil Plants. Plant Resources of South-East Asia no.19. Bogor :PROSEA.
72 Lampiran 1. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai rendemen minyak kenanga Hasil test terhadap pengaruh masing-masing faktor Variabel tetap: rendemen Source Model Type III Sum of Squares df 42,115 a 12 3,510 Mean Square F hitung P 985,14 0 0,000 F tabel metode 0, ,050 13,896 0,003 4,75 Fhitung >F tabel perajangan 0, ,032 8,853 0,012 4,75 Fhitung >F tabel kepadatan 0, ,061 17,014 0,000 3,89 Fhitung >F tabel metode * perajangan 0, ,000 0,057 0,815 4,75 Fhitung <F tabel metode * kepadatan 0, ,001 0,212 0,812 3,89 Fhitung <F tabel perajangan * kepadatan metode * perajangan * kepadatan Error 0, ,004 Total 42, a, R Squared =,999 (Adjusted R Squared =,998) 0, ,005 1,309 0,306 0, ,002 0,647 0,541 Ket, 3,89 Fhitung <F tabel 3,89 Fhitung <F tabel Nilai P < 0,05 serta untuk nilai F hitung > F tabel terdapat pada faktor metode penyulingan, kepadatan dan perajangan sehingga faktor-faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap rendemen minyak yang dihasilkan. Sedangkan interaksi antar faktor tidak memberikan pengaruh terhadap rendemen yang dihasilkan karena F hitung < F tabel dan P > 0,05.
73 Lampiran 2. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap rendemen Rendemen Duncan kepad atan N Subset 3 8 1, , ,4050 Sig, 1,000 1,000 1,000 Menunjukkan rata-rata kelompok Mean Square(Error) =,004 Keterangan : Kepadatan 1 = kepadatan 0,075 kg/l ; kepadatan 2 = kepadatan 0,0875 kg/l; kepadatan 3 = kepadatan 0,1 kg/l, Karena taraf yang terdapat pada metode penyulingan dan perajangan masing-masing 2 taraf maka untuk uji lanjut Duncan jelas berbeda nyata, Kepadatan 1 dengan kepadatan 2 dan 3 saling berbeda nyata, dengan nilai rendemen pada kepadatan 1 > rendemen pada kepadatan 2 > rendemen pada kepadatan 3. Rendemen yang dihasilkan dengan metode penyulingan kukus > rebus. Rendemen yang dihasilkan tanpa perajangan bunga > dengan perajangan bunga.
74 Lampiran 3. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bobot jenis minyak kenanga Hasil test terhadap pengaruh masing-masing faktor Variabel tetap : bobot jenis Source Type Sum Squares III of df Mean Square F hitung P Model 19,893 a 12 1,658 8,841E4 0,000 F tabel Ket, Metode 1,350E-5 1 1,350E-5 0,720 0,413 4,75 Fhitung <F tabel Perajangan 4,167E-6 1 4,167E-6 0,222 0,646 4,75 Fhitung <F tabel Kepadatan 9,058E-5 2 4,529E-5 2,416 0,131 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan 1,667E-7 1 1,667E-7 0,009 0,926 4,75 Fhitung <F tabel metode * kepadatan 7,500E-7 2 3,750E-7 0,020 0,980 3,89 Fhitung <F tabel perajangan * kepadatan metode * perajangan * kepadatan 3,89 Fhitung <F tabel 1,083E-6 2 5,417E-7 0,029 0,972 3,89 Fhitung <F tabel 2,583E-6 2 1,292E-6 0,069 0,934 Error 0, ,875E-5 Total 19, a, R Squared = 1,000 (Adjusted R Squared = 1,000) Faktor perlakuan serta interaksi masing-masing faktor tidak memberikan pengaruh yang nyata pada nilai bobot jenis karena P >0,05 dan F hitung < F tabel.
75 Lampiran 4. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai indeks bias minyak kenanga Hasil test terhadap pengaruh masing-masing faktor Variabel tetap :indeks bias Source Type III Sum of Squares df Mean Square F hitung P F tabel Ket, Model 53,805 a 12 4,484 4,778E6 0,000 Metode 3,527E-6 1 3,527E-6 3,758 0,076 4,75 Fhitung <F tabel Perajangan 1,402E-6 1 1,402E-6 1,494 0,245 4,75 Fhitung <F tabel Kepadatan 5,543E-6 2 2,772E-6 2,954 0,091 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan 3,750E-7 1 3,750E-7 0,400 0,539 4,75 Fhitung <F tabel metode * kepadatan 2,133E-7 2 1,067E-7 0,114 0,893 3,89 Fhitung <F tabel perajangan * kepadatan 4,233E-7 2 2,117E-7 0,226 0,801 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan * kepadatan Error 3,89 Fhitung <F tabel 3,900E-7 2 1,950E-7 0,208 0,815 1,126E ,383E-7 Total 53, a, R Squared = 1,000 (Adjusted R Squared = 1,000) Faktor perlakuan serta interaksi masing-masing faktor tidak memberikan pengaruh yang nyata pada nilai indeks bias karena P >0,05 dan F hitung < F tabel.
76 Lampiran 5. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai sisa penguapan minyak kenanga Hasil test terhadap pengaruh masing-masing faktor Variabel tetap:sisa penguapan Source Type III Sum of Squares df Mean Square F hitung P Model 327,223 a 12 27,269 1,357E3 0,000 F tabel Ket, Metode 1, ,541 76,671 0,000 4,75 Fhitung >F tabel Perajangan 0, ,006 0,289 0,601 4,75 Fhitung <F tabel Kepadatan 1, ,623 30,988 0,000 3,89 Fhitung >F tabel metode * perajangan 0, ,181 9,030 0,011 4,75 Fhitung >F tabel metode * kepadatan 0, ,014 0,686 0,522 3,89 Fhitung <F tabel perajangan * kepadatan 0, ,004 0,175 0,842 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan * kepadatan Error 0, ,020 Total 327, a, R Squared =,999 (Adjusted R Squared =,999) 3,89 Fhitung <F tabel 0, ,002 0,123 0,885 Nilai P < 0,05 serta untuk nilai F hitung > F tabel terdapat pada faktor metode penyulingan dan kepadatan serta interaksi antara metode penyulingan dan perajangan sehingga faktor-faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap rendemen minyak yang dihasilkan.
77 Lampiran 6. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai sisa penguapan Duncan kombinasi Sisa penguapan N Subset ,319500E ,524550E ,857417E ,000217E0 Sig, 0,213 0,381 Pengelompokan berdasarkan rata-rata Mean Square(Error) =,076 Keterangan : Metode 1 = kukus ; Metode 2 = Rebus Perajangan 1 = Rajang ; Perajangan 2 = tidak Rajang Nilai sisa penguapan pada metode penyulingan dan perajangan menunjukkan bahwa metode penyulingan kukus dengan perajangan dan tanpa perajangan berbeda nyata dan menghasilkan nilai yang lebih rendah jika dibandingkan dengan metode penyulingan rebus dengan perajangan atau tanpa perajangan. Sedangkan untuk metode penyulingan kukus tanpa perajangan tidak berbeda nyata dengan metode penyulingan kukus dengan perajangan. Begitu juga pada metode penyulingan rebus dengan atau tanpa perajangan menghasilkan nilai yang tidak berbeda nyata.
78 Lampiran 7. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai putaran optik minyak kenanga Hasil test terhadap pengaruh masing-masing faktor Variabel tetap:put optis Source Type III Sum of Squares df Mean Square F hitung Model 9071,950 a , ,040 0,000 P F tabel Ket, Metode 87, ,402 20,699 0,001 4,75 Fhitung >F tabel Perajangan 34, ,560 8,185 0,014 4,75 Fhitung >F tabel Kepadatan 32, ,327 3,867 0,051 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan 1, ,402 0,332 0,575 4,75 Fhitung <F tabel metode * kepadatan 20, ,302 2,440 0,129 3,89 Fhitung <F tabel perajangan * kepadatan 7, ,785 0,896 0,434 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan * kepadatan Error 50, ,223 Total 9122, a, R Squared =,994 (Adjusted R Squared =,989) 3,89 Fhitung <F tabel 9, ,827 1,143 0,351 Nilai P < 0,05 serta untuk nilai F hitung > F tabel terdapat pada faktor metode penyulingan dan perajangan sehingga faktor-faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap rendemen minyak yang dihasilkan, Karena taraf yang terdapat pada metode penyulingan dan perajangan masingmasing 2 taraf maka untuk uji lanjut Duncan jelas berbeda nyata. Pada metode perajangan bunga yang dirajang menghasilkan nilai putaran optik > bunga yang tidak dirajang, Nilai putaran optik pada metode penyulingan kukus > rebus.
79 Lampiran 8. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bilangan asam minyak kenanga Hasil test terhadap pengaruh masing-masing faktor Variabel tetap:bil.asam Source Type III Sum of Squares df Mean Square F hitung Model 497,299 a 12 41,442 46,975 0,000 P F tabel Ket, Metode 0, ,293 0,332 0,575 4,75 Fhitung <F tabel Perajangan 0, ,005 0,006 0,941 4,75 Fhitung <F tabel Kepadatan 24, ,200 13,829 0,001 3,89 Fhitung >F tabel metode * perajangan 4, ,281 4,853 0,048 4,75 Fhitung >F tabel metode * kepadatan 6, ,133 3,551 0,061 3,89 Fhitung <F tabel perajangan * kepadatan 4, ,474 2,805 0,100 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan * kepadatan Error 10, ,882 Total 507, a, R Squared =,979 (Adjusted R Squared =,958) 3,89 Fhitung >F tabel 7, ,578 4,055 0,045 Nilai P < 0,05 serta untuk nilai F hitung > F tabel terdapat pada faktor kepadatan, Interaksi metode*perajangan, dan Interaksi dari ketiga faktor sehingga faktor-faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap rendemen minyak yang dihasilkan.
80 Lampiran 9. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai bilangan asam Duncan kombi nasi N Bil.asam Subset ,259550E ,543000E ,060900E ,266850E ,345200E ,289350E0 4,289350E ,454000E0 4,454000E0 4,454000E ,517700E0 4,517700E0 4,517700E ,642550E0 5,642550E ,928250E0 5,928250E ,018800E0 6,018800E ,632550E0 Sig, 0,053 0,122 0,058 Pengelompokan berdasarkan rata-rata Mean Square(Error) =,882 Keterangan : Metode 1 = kukus ; Metode 2 = Rebus Perajangan 1 = Rajang ; Perajangan 2 = tidak Rajang Kepadatan 1 = kepadatan 0,075 kg/l ; kepadatan 2 = kepadatan 0,0875 kg/l; Kepadatan 3 = kepadatan 0,1 kg/l, Nilai bilangan asam pada metode penyulingan kukus, tanpa perajangan, kepadatan 0,075 kg/l, pada metode penyulingan kukus, tanpa perajangan, kepadatan 0,1 kg/l, pada metode penyulingan rebus, tanpa perajangan, kepadatan 0,1 kg/l, pada metode penyulingan rebus, dengan perajangan, kepadatan 0,075 kg/l, pada metode penyulingan kukus, dengan perajangan, kepadatan 0,1 kg/l lebih rendah dibandingkan pada metode penyulingan kukus, tanpa perajangan, kepadatan 0,0875 kg/l.
81 Lampiran 10. Hasil uji sidik ragam masing-masing faktor terhadap nilai bilangan ester minyak kenanga Hasil test terhadap pengaruh masing-masing faktor Variabel tetap:bil ester Source Model Type III Sum of Squares df Mean Square F hitung 36158,157 a , ,13 3 0,000 P F tabel Ket, Metode 162, ,063 6,192 0,029 4,75 Fhitung >F tabel Perajangan 62, ,302 2,381 0,149 4,75 Fhitung <F tabel Kepadatan 517, ,799 9,889 0,003 3,89 Fhitung >F tabel metode * perajangan 0, ,045 0,002 0,968 4,75 Fhitung <F tabel metode * kepadatan 26, ,462 0,514 0,610 3,89 Fhitung <F tabel perajangan * kepadatan 14, ,255 0,277 0,763 3,89 Fhitung <F tabel metode * perajangan * kepadatan Error 314, ,171 Total 36472, a, R Squared =,991 (Adjusted R Squared =,983) 3,89 Fhitung <F tabel 34, ,263 0,660 0,535 Nilai P < 0,05 serta untuk nilai F hitung > F tabel terdapat pada faktor metode penyulingan dan kepadatan sehingga faktor-faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap rendemen minyak yang dihasilkan.
82 Lampiran 11. Hasil test post hoc/ uji lanjut duncan terhadap nilai bilangan ester Duncan kepadatan N 3 8 3,385181E ,650881E1 Subset ,475919E1 Sig, 0,289 1,000 Pengelompokan berdasarkan rata-rata Mean Square(Error) = 23,635 Keterangan : Kepadatan 1 = kepadatan 0,075 kg/l ; kepadatan 2 = kepadatan 0,0875 kg/l; kepadatan 3 = kepadatan 0,1 kg/l, Karena taraf yang terdapat pada metode penyulingan dan perajangan masingmasing 2 taraf maka untuk uji lanjut Duncan jelas berbeda nyata. Nilai bilangan ester pada kepadatan 3 dan 1 berbeda nyata dengan kepadatan 2 Bilangan ester yang dihasilkan pada metode penyulingan rebus > kukus.
83 Lampiran 12. Data Hasil Analisis Sifat Fisiko Kimia Minyak Kenanga 1. DATA RENDEMEN BAHAN BOBOT AWAL VOLUME AKHIR RENDEMEN (%) RATA2 A1B1C1# ,5 1,37 A1B1C1# ,40 1,38 A1B2C1# ,5 1,50 A1B2C1# ,5 1,50 1,50 A2B1C1# ,27 A2B1C1# ,33 1,30 A2B2C1# ,47 A2B2C1# ,40 1,43 A1B1C2# ,31 A1B1C2# ,37 1,34 A1B2C2# ,43 A1B2C2# ,37 1,40 A2B1C2# ,37 A2B1C2# ,20 1,29 A2B2C2# ,31 A2B2C2# ,26 1,29 A1B1C3# ,30 A1B1C3# ,25 1,28 A1B2C3# ,25 A1B2C3# ,35 1,30 A2B1C3# ,15 A2B1C3# ,10 1,13 A2B2C3# ,30 A2B2C3# ,15 1,23
84 2. DATA INDEKS BIAS BAHAN indeks bias (26,2 ºC) indeks bias (20 ºC) rata2 A1B1C1# 1 1,4961 1,4986 A1B1C1# 2 1,4957 1,4982 1,4984 A1B2C1# 1 1,4962 1,4987 A1B2C1# 2 1,4952 1,4977 1,4982 A2B1C1# 1 1,4957 1,4982 A2B1C1# 2 1,4955 1,4980 1,4981 A2B2C1# 1 1,4927 1,4952 A2B2C1# 2 1,4957 1,4982 1,4967 A1B1C2# 1 1,4959 1,4984 A1B1C2# 2 1,495 1,4975 1,4979 A1B2C2# 1 1,4952 1,4977 A1B2C2# 2 1,495 1,4975 1,4976 A2B1C2# 1 1,494 1,4965 A2B1C2# 2 1,4954 1,4979 1,4972 A2B2C2# 1 1,4946 1,4971 A2B2C2# 2 1,4935 1,4960 1,4965 A1B1C3# 1 1,4946 1,4971 A1B1C3# 2 1,4944 1,4969 1,4970 A1B2C3# 1 1,4936 1,4961 A1B2C3# 2 1,4951 1,4976 1,4968 A2B1C3# 1 1,4928 1,4953 A2B1C3# 2 1,4952 1,4977 1,4965 A2B2C3# 1 1,4936 1,4961 A2B2C3# 2 1,4941 1,4966 1,4963 UAP#1 1,4935 1,4960 UAP#2 1,4940 1,4965 1,4962
85 3. DATA BOBOT JENIS BAHAN bobot minyak+pikno bobot pikno bobot air+pikno bobot jenis rata2 A1B1C1# 1 23, , ,357 0,915 A1B1C1# 2 23,047 13, ,9549 0,914 0,915 A1B2C1# 1 23,05 13, ,9549 0,914 A1B2C1# 2 23, , ,9549 0,911 0,913 A2B1C1# 1 23, , ,357 0,913 A2B1C1# 2 22, , ,6654 0,912 0,913 A2B2C1# 1 22, , ,6654 0,909 A2B2C1# 2 21, , ,4481 0,915 0,912 A1B1C2# 1 23, , ,9549 0,912 A1B1C2# 2 23,404 13, ,357 0,911 0,912 A1B2C2# 1 22, , ,9549 0,908 A1B2C2# 2 23, , ,9549 0,914 0,911 A2B1C2# 1 22, , ,6654 0,904 A2B1C2# 2 22, , ,6654 0,916 0,910 A2B2C2# 1 22, , ,67 0,913 A2B2C2# 2 22, , ,6654 0,904 0,908 A1B1C3# 1 23, , ,357 0,911 A1B1C3# 2 21, , ,4481 0,906 0,909 A1B2C3# 1 21, , ,4481 0,907 A1B2C3# 2 23,019 13, ,9549 0,911 0,909 A2B1C3# 1 23, , ,357 0,912 A2B1C3# 2 22, , ,6654 0,904 0,908 A2B2C3# 1 22,588 12, ,67 0,904 A2B2C3# 2 23, , ,357 0,910 0,907 UAP#1 23, , ,357 0,898 UAP#2 23, , ,9549 0,910 0,904
86 4. DATA SISA PENGUAPAN BAHAN BOBOT CAWAN BOBOT MINYAK BOBOT AKHIR SISA PENGUAPAN RATA2 A1B1C1# 1 20,8246 2, ,8953 3,3513 A1B1C1# 2 23,8325 2, ,9007 3,2058 3,279 A1B2C1# 1 23,5748 2, ,6355 2,9575 A1B2C1# 2 17,0525 2,164 17,1208 3,1562 3,057 A2B1C1# 1 20,9769 2, ,049 3,3733 A2B1C1# 2 21,8595 1, ,9111 3,7805 3,577 A2B2C1# 1 20,1887 2,167 20,2664 3,5856 A2B2C1# 2 17,557 2, ,6365 3,6937 3,640 A1B1C2# 1 20,1233 2, ,1994 3,5157 A1B1C2# 2 19,9114 2, ,9926 3,4878 3,502 A1B2C2# 1 16,0351 2, ,1025 3,1254 A1B2C2# 2 18,6172 1, ,6795 3,4435 3,284 A2B1C2# 1 26,3777 1, ,4572 3,9914 A2B1C2# 2 19,566 2,043 19,6434 3,7885 3,890 A2B2C2# 1 25,0129 1, ,0583 4,0445 A2B2C2# 2 20,1083 1,948 20,1891 4,1478 4,096 A1B1C3# 1 21, ,5859 3,7600 A1B1C3# 2 21,5836 2, ,6708 3,8267 3,793 A1B2C3# 1 20,3164 2, ,3888 3,4863 A1B2C3# 2 21,3364 2, ,4259 3,7481 3,617 A2B1C3# 1 24,7597 2, ,8501 4,1611 A2B1C3# 2 18,4777 2, ,5653 4,0497 4,105 A2B2C3# 1 20,7449 2, ,8512 4,3003 A2B2C3# 2 17,8821 1,395 17,9411 4,2294 4,265 UAP#1 20,9947 2, ,1179 5,2303 UAP#2 20,0024 1, ,0644 4,8298 5,030
87 5. DATA BILANGAN ASAM BAHAN N KOH MR KOH BOBOT CONTOH ML KOH BIL ASAM RATA2 A1B1C1# 1 0, ,1 4 2,1 3,8372 A1B1C1# 2 0, ,1 2,03 3,2 5,1982 4,5177 A1B2C1# 1 0, ,1 4 2,2 2,6381 A1B2C1# 2 0, ,1 2,04 0,8 1,8810 2,2596 A2B1C1# 1 0, ,1 4,01 3,3 3,9473 A2B1C1# 2 0, ,1 2,04 1,1 2,5864 3,2668 A2B2C1# 1 0, ,1 3,99 4,4 5,2894 A2B2C1# 2 0, ,1 2,08 2,6 5,9957 5,6426 A1B1C2# 1 0, ,1 4 3,9 4,6766 A1B1C2# 2 0, ,1 2,02 3,1 7,3610 6,0188 A1B2C2# 1 0, ,1 3,98 4,6 5,5438 A1B2C2# 2 0, ,1 2,05 3,3 7,7213 6,6325 A2B1C2# 1 0, ,1 4,02 3,5 4,1761 A2B1C2# 2 0, ,1 2,07 1,9 4,4026 4,2894 A2B2C2# 1 0, ,1 3,84 4,5 5,6210 A2B2C2# 2 0, ,1 2 2,6 6,2355 5,9282 A1B1C3# 1 0, ,1 4,02 2,7 3,2216 A1B1C3# 2 0, ,1 4,01 2,9 3,4688 3,3452 A1B2C3# 1 0, ,1 4,01 1,5 1,7942 A1B2C3# 2 0, ,1 4,08 2,8 3,2918 2,5430 A2B1C3# 1 0, ,1 3,98 4 4,8207 A2B1C3# 2 0, ,1 3,99 3,4 4,0873 4,4540 A2B2C3# 1 0, ,1 3,86 2,9 3,6036 A2B2C3# 2 0, ,1 4 2,1 2,5182 3,0609 UAP#1 0, ,1 1,5 2,11 6,7471 UAP#2 0, ,1 0,9 2,05 10,9255 8,8363
88 6. DATA BILANGAN ESTER BAHAN MR KOH ML HCl ML BLANKO N HCl BOBOT BIL PENYABUNAN BIL ASAM BIL ESTER RATA2 A1B1C1# 1 56,1 40,8 43,7 0,5 2,03 40,0714 3, ,2342 A1B1C1# 2 56,1 42,3 45 0,47 2,04 34,8975 5, , ,9667 A1B2C1# 1 56,1 40,6 43,7 0,5 2,04 42,6250 2, ,9869 A1B2C1# 2 56,1 42,6 45 0,47 2,02 31,3271 1, , ,7165 A2B1C1# 1 56,1 40,9 43,7 0,5 2 39,2700 3, ,3227 A2B1C1# 2 56,1 42,1 45 0,47 2,07 36,9393 2, , ,8378 A2B2C1# 1 56,1 40,2 43,7 0,5 2,06 47,6578 5, ,3683 A2B2C1# 2 56,1 41,1 45 0,47 2,03 50,6558 5, , ,5142 A1B1C2# 1 56,1 40,7 43,7 0,5 2,03 41,4532 4, ,7766 A1B1C2# 2 56,1 41,4 45 0, ,4606 7, , ,4381 A1B2C2# 1 56,1 40,6 43,7 0,5 2,03 42,8350 5, ,2912 A1B2C2# 2 56,1 40,6 45 0,47 2,03 57,1501 7, , ,3600 A2B1C2# 1 56, ,7 0,5 2,06 50,3811 4, ,2050 A2B1C2# 2 56,1 40,8 45 0,47 2,04 54,2850 4, , ,0437 A2B2C2# 1 56,1 39,8 43,7 0,5 2,01 54,4254 5, ,8044 A2B2C2# 2 56,1 39,7 43,7 0,5 2,01 55,8209 6, , ,1949 A1B1C3# 1 56,1 41,6 43,7 0,5 2,07 28,4565 3, ,2350 A1B1C3# 2 56,1 41,9 45 0,47 2,01 40,6655 3, , ,2158 A1B2C3# 1 56,1 40,9 43,7 0,5 2,02 38,8812 1, ,0870 A1B2C3# 2 56,1 39,8 45 0,47 4,02 34,1066 3, , ,9509 A2B1C3# 1 56,1 40,5 43,7 0,5 2,01 44,6567 4, ,8361 A2B1C3# 2 56,1 42,3 45 0,47 2,07 34,3917 4, , ,0703 A2B2C3# 1 56, ,7 0,5 2,08 36,4111 3, ,8074 A2B2C3# 2 56, ,47 3,95 40,0511 2, , ,1702 UAP#1 56,1 41,8 43,7 0,5 2,07 25,7464 6, ,9992 UAP#2 56,1 41,2 43,7 0,5 2,01 34, , , ,4809
89 7. DATA PUTARAN OPTIK BAHAN PUT OPTIS RATA2 A1B1C1# 1-23,6 A1B1C1# 2-24,6-24,1 A1B2C1# 1-22,6 A1B2C1# 2-21,6-22,1 A2B1C1# 1-22,1 A2B1C1# 2-19,6-20,85 A2B2C1# 1-15,1 A2B2C1# 2-15,6-15,35 A1B1C2# 1-22,6 A1B1C2# 2-23,6-23,1 A1B2C2# 1-21,6 A1B2C2# 2-20,1-20,85 A2B1C2# 1-15,6 A2B1C2# 2-17,6-16,6 A2B2C2# 1-17,1 A2B2C2# 2-16,6-16,85 A1B1C3# 1-15,6 A1B1C3# 2-22,6-19,1 A1B2C3# 1-14,6 A1B2C3# 2-20,6-17,6 A2B1C3# 1-19,1 A2B1C3# 2-18,6-18,85 A2B2C3# 1-15,6 A2B2C3# 2-15,3-15,45
90 Lampiran 13. Prosedur Analisis Karakterisasi Minyak Kenanga 1. Penentuan Bobot Jenis (SNI ) Prinsip : metode ini didasarkan pada perbandingan antara berat minyak pada suhu yang ditentukan dengan berat air pada volume air yang sama dengan volume minyak pada suhu tersebut. Peralatan : neraca analitik, penangas air yang dipertahankan pada suhu 20 ºC ± 0,2 ºC, piknometer berkapasitas 10 ml, dan termometer yang telah distandarkan. Prosedur/ pelaksanaan pengujian : Piknometer dicuci dan dibersihkan kemudian dibasuh berturut-turut dengan etanol dan dietil eter. Bagian dalam piknometer dikeringkan dengan arus udara kering dan sisipkan tutupnya. Piknometer dibiarkan di dalam lemari timbangan selama 30 menit dan timbang (m). Piknometer diisi dengan air suling yang telah dididihkan terlebih dahulu pada suhu 20 ºC, sambil menghindari adanya gelembung-gelembung udara. Piknometer dicelupkan ke dalam penangas air pada suhu 20 ºC ± 0,2 ºC selama 30 menit. Penutupnya disisipkan dan piknometernya dikeringkan. Piknometer dibiarkan di dalam lemari timbangan selama 30 menit, kemudian timbang dengan isinya (m1). Piknometer dikosongkan dan dicuci dengan etanol dan dietil eter, kemudian dikeringkan dengan arus udara kering. Piknometer diisi dengan contoh minyak dan hindari adanya gelembung-gelembung udara. Piknometer dicelupkan kembali ke dalam penangas air pada suhu 20 ºC ± 0,2 ºC selama 30 menit. Tutupnya disisipkan dan piknometer dikeringkan. Piknometer dibiarkan di dalam lemari timbangan selama 30 menit dan timbang (m2). Penyajian hasil uji : 20 Bobot jenis d 20 = m2 m m1 m dimana : m = massa dalam gram, piknometer kosong m1 = massa dalam gram, piknometer berisi air pada suhu 20 ºC m2= massa dalam gram, piknometer berisi contoh pada suhu 20ºC
91 2. Penentuan Indeks Bias(SNI ) Prinsip : metode ini didasarkan pada pengukuran langsung sudut bias minyak yang dipertahankan pada kondisi suhu yang tetap. Peralatan : refraktometer, water bath, cahaya natrium/lampu Prosedur/ pelaksanaan pengujian : Air dialirkan melalui refraktometer agar alat ini berada pada suhu di mana pembacaan akan dilakukan. Suhu tidak boleh berbeda lebih dari ± 2 ºC dari suhu referensi dan harus dipertahankan dengan toleransi ± 0,2 ºC. Sebelum minyak tersebut diletakkan di dalam alat, minyak harus berada pada suhu yang sama dengan suhu di mana pengukuran akan dilakukan. Pembacaan dilakukan bila suhu sudah stabil. Penyajian hasil uji : t indeks bias n d = n d + 0,0004 (t 4 t) dimana : t4 t4 n d : pembacaan yang dilakukan pada suhu pengerjaan t 4 0,0004 : faktor koreksi 3. Penentuan Putaran Optik(SNI ) Prinsip : metode ini didasarkan pda pengukuran sudut bidang dari sinar terpolarisasi yang diputar oleh lapisan minyak. Peralatan : polarimeter dan tabung polarimeter. Prosedur/pelaksanaan pengujian : Sumber cahaya dinyalakan dan ditunggu sampai diperoleh kilauan yang penuh. Tabung polarimeter diisi dengan contoh minyak dalam keadaan suhu yang telah ditentukan. Diusahakan agar gelembung-gelembung udara tidak terdapat di dalam tabung. Tabung diletakkan di dalam polarimeter, putaran optik dekstro ( + ) atau levo ( - ) dibaca dari minyak pada skala yang terdapat pada minyak. Dengan menggunakan termometer yang disisipkan pada lubang di tengah-tengah, suhu minyak dalam tabung diperiksa dan menunjukkan 20 ºC ± 1 ºC.
92 4. Penentuan Bilangan Ester dan Perhitungan Kandungan Ester(SNI ) Prinsip : hidrolisa ester-ester dengan larutan standar volumetri alkali dan menitrasi kelebihan alkali tersebut. Bahan kimia : larutan etanol 95% (v/v) yang baru dinetralkan dengan larutan alkali, dengan menggunakan larutan indikator fenolftalein, larutan kalium hidroksida 0,5 N dalam etanol, larutan standart volumetri asam klorida 0,5 N, larutan fenolftalein dalam alkohol yng dibuat dengan melarutkan 0,2 gram fenolftalein dalam etanol sampai 100 ml. Peralatan : labu penyabunan, gelas ukur kapasitas 5 ml, buret standart kapasitas 5 ml, pipet standart kapasitas 25 ml, penangas air. Prosedur/pelaksanaan pengujian : Pengujian blanko : Dalam labu penyabunan yang mengandung beberapa potong batu didih atau porselen ditambahkan 5 ml etanol dan 25 ml larutan kalium hidroksida 0,5 N dalam alkohol. Refluks di atas penangas air selama 1 jam, kemudian diamkan larutan menjadi dingin. Kondensor refluks dilepaskan, kemudian ditambahkan 5 tetes larutan fenolftalein dan netralkan dengan HCl 0,5 N. Pengujian contoh : Pada waktu yang sama dan dalam kondisi yang sama, contoh ditimbang sebanyak 4 g + 0,05 g dan dimasukkan ke dalam labu. Kemudian dididihkan dengan hati-hati, dan ditambahkan 25 ml larutan kalium hidroksida 0,5 N dalam alkohol dan beberapa potong batu didih atau porselen, kemudian dibiarkan larutan menjadi dingin. Kondensor refluks dilepaskan, kemudian ditambah 5 tetes larutan fenolftalein dan netralkn larutan dengan HCl 0,5 N seperti pada penentuan blanko. Penyajian hasil uji : Bilangan ester (E) dihitung dengan rumus 56,1 (V 0 -V 1 ) E = x N m
93 dimana : 56,1 = Bobot setara KOH V 1 = volume dalam mililiter asam khlorida yang digunakan dalam penentuan. V 0 = volume dalam mililiter asam khlorida yang digunakan dalam penentuan blanko. m = massa dalam gram dari contoh yang diuji. N = Normalitas HCl 5. Penentuan Kelarutan dalam Etanol(SNI ) Prinsip : metode ini didasarkan pada kelarutan minyak dalam etanol. Bahan : Etanol 95% Peralatan : tabung reaksi Prosedur/pelaksanaan pengujian : Sebanyak 1 ml minyak kenanga yang diukur dengan teliti dalam gelas ukur yang tertutup berukuran 10 ml ditambahkan etanol 95% setetes demi setetes. Pada setiap penambahan etanol dikocok dan diamati apakah minyak larut atau tidak. penambahan berlangsung hingga diperoleh suatu larutan yang jernih. 6. Bilangan asam(sni ) Prinsip : netralisasi asam-asam bebas dengan menggunakan larutan basa (alkali encer). Jumlah asam bebas ini dinyatakan sebagai bilangn asam. Prosedur : Minyak ditimbang sebanyak 4 ± 0,05 gram dalam erlenmeyer 500 ml dilarutkan dalam 5 ml etanol netral. Indikator PP ditambahkan sebanyak 5 tetes. Kemudian dititrasi dengan larutan KOH alkohol 0,1 N dalam etanol sampai terjadi perubahan warna menjdi merah muda. Perhitungan : Bilangan asam = ml KOH x N KOH x 56,1 Bobot contoh (gram) 7. Penetapan sisa penguapan (Ketaren,1985) Gelas pyrex yang telah dibersihkan ditimbang dengan tepat (dalam mg), lalu biarkan 30 menit. Timbang cawan yang telah ditambahkan minyak (dalam gram) dan panaskan pada penangas air selama beberapa waktu. Kemudian
94 pindahkan hasil sisa penguapan dan dinginkan sampai mencapai suhu kamar dalam desikator lalu ditimbang kembali. berat sisa penguapan (gram) Sisa penguapan = x 100% Berat bahan (gram)
95 Lampiran 14. Skema Alat Penyulingan Kukus dan Rebus Skala Laboratorium (kapasitas 2 kg bunga kenanga) Air masuk kondensor Air keluar Clavenger Letak minyak Letak air Tutup ketel Sarangan Ketel suling air Mecher burner keterangan : Kukus dengan sarangan Rebus tanpa sarangan
96 Lampiran 15. Kurva hasil Uji GC Komponen Minyak Kenanga dengan metode kukus kepadatan kg/l dan tanpa perajangan Abundance TIC: MINYAK KENANGA UL.D Time--> No Rate Time (menit) Area (%) Dugaan Komponen Beta myrcene p-cresol methyl ether Linalool p-allylanisole nerol Citral b Geraniol Neral alpha.-cubebene Eugenol a,3b, 4,5,6,7-hexahydro- 3,7-dimethyl-4-(1- methylethyl) Geranyl acetate Beta elemene beta.-caryophyllene beta cubebene H-Cyclopenta 1,3]cyclopropa[1,2]benzene alpha.- Caryophyllene (+)-Epibicyclosesquiphellandrene
97 naphtalen alpha.-Cadina-4,9-diene Germacrene-D beta.-Cuvebene Alpha germacrene Bicyclogermacren alpha muurolen alpha.-Bergamotene E,E-.alpha farnesene alpha.-amorphene delta.-cadinene, Cadiena-1,4-Diena alpha.-cadinene Caryophyllene oxide Naphthalenol H-3a,7-Methanoazulene tau.-muurolol copaene alpha.-cadinol Cis-Farnesol Propenoic acid, 3-(4- methoxyphenyl)-, ethyl ester Benzyl benzoate Farnesyl acetate Benzyl salicylate Geranyl benzoate
98 No Lampiran 16. Perkiraan Analisis Jenis Komponen Penyusun Minyak Kenanga dengan Metode GCMS Rate Time (menit) Area (%) Dugaan Komponen Rumus Molekul Berat Molekul Qual Hidrokarbon Beta myrcene C 10 H Monoterpene p-cresol methyl ether C 8 H 10 O Benzene o Linalool C 10 H 18 O Monoterpen o p-allylanisole C 10 H 20 O Benzene o nerol C 10 H 18 O Monoterpen o Citral b C 10 H 16 O idem Geraniol C 10 H 18 O idem Neral C 10 H 16 O idem alpha.-cubebene C 15 H Seskuiterpen Eugenol C 10 H 12 O benzene o a,3b, 4,5,6,7-hexahydro- C 15 H Seskuiterpen 3,7-dimethyl-4-(1- methylethyl) Geranyl acetate C 12 H 20 O seskuiterpen o Beta elemene C 15 H Seskuiterpen beta.-caryophyllene C 15 H idem beta cubebene C 15 H idem H-Cyclopenta C 15 H Inti benzena 1,3]cyclopropa[1,2]benzene alpha.- Caryophyllene C 15 H Seskuiterpen (+)-Epibicyclosesquiphellandrene C 15 H idem naphtalen C 15 H idem alpha.-Cadina-4,9-diene C 15 H idem Germacrene-D C 15 H idem beta.-Cuvebene C 15 H idem Alpha germacrene C 15 H idem Bicyclogermacren C 15 H idem alpha muurolen C 15 H idem alpha.-Bergamotene C 15 H idem E,E-.alpha farnesene C 15 H idem alpha.-amorphene C 15 H idem delta.-cadinene, C 15 H idem Cadiena-1,4-Diena C 15 H idem alpha.-cadinene C 15 H idem Caryophyllene oxide C 15 H 24 O Seskuiterpen o Naphthalenol C 15 H 26 O idem H-3a,7-Methanoazulene C 15 H Seskuiterpen tau.-muurolol C 15 H 26 O Seskuiterpen o copaene C 15 H Seskuiterpen alpha.-cadinol C 15 H 26 O Seskuiterpen o Cis-Farnesol C 15 H 26 O idem Propenoic acid, 3-(4- C 12 H 14 O benzene o
99 methoxyphenyl)-, ethyl ester Benzyl benzoate C 14 H 12 O idem Farnesyl acetate C 17 H 28 O seskuiterpen o Benzyl salicylate C 14 H 12 O Benzene o Geranyl benzoate C 17 H 22 O idem-
100 Lampiran 17. Struktur Kimia Komponen Minyak Kenanga Beta myrcene p-cresol methyl ether Linalool p-allylanisole cis-geraniol Neral alpha.-cubebene Eugenol Copaene Geranyl acetate beta elemene beta.-caryophyllene GERMACRENE-D (+)-Epibicyclosesquiphellandrene Delta cadinene E,E-.ALPHA.-FARNESENE delta cadinene alpha.-cadinene 1-Naphthalenol 1H-3a,7-Methanoazulene tau.-muurolol
101 alpha.-cadinol cis-farnesol ethyl ester Benzyl benzoate beta cubebene alpha muroolen
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Tanaman dan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill)
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman dan Bunga Kenanga (Canangium odorotum Baill) 1. Tanaman Kenanga Gambar 1. Tanaman Kenanga di Boyolali Tanaman kenanga termasuk dalam familia Annonacea dan tanaman ini sudah
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENELITIAN PENDAHULUAN Dari hasil penelitian pendahuluan diperoleh bunga kenanga dengan kadar air 82 %, kadar protein 17,30% dan kadar minyak 1,6 %. Masing-masing penyulingan
Moch. Aris Setyawan Mohammad Zakariyya Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Mahfud, DEA
Moch. Aris Setyawan 2309100013 Mohammad Zakariyya 2309100139 Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Mahfud, DEA PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Java Cananga Oil Ekspor 2 Kebutuhan terus meningkat Latar Belakang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Nilam Gambar 1. Daun Nilam (Irawan, 2010) Tanaman nilam (Pogostemon patchouli atau Pogostemon cablin Benth) merupakan tanaman perdu wangi berdaun halus dan berbatang
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Perlakuan Terhadap Sifat Fisik Buah Pala Di Indonesia buah pala pada umumnya diolah menjadi manisan dan minyak pala. Dalam perkembangannya, penanganan pascapanen diarahkan
PENDAHULUAN PENGOLAHAN NILAM 1
PENDAHULUAN Minyak nilam berasal dari tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu komoditi non migas yang belum dikenal secara meluas di Indonesia, tapi cukup popular di pasaran Internasional.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Minyak Atsiri Minyak atsiri atau yang dikenal sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang serta minyak aromatic adalah kelompok besar minyak
TINJAUAN PUSTAKA. pada masa yang akan datang akan mampu memberikan peran yang nyata dalam
TINJAUAN PUSTAKA Upaya pengembangan produksi minyak atsiri memang masih harus dipicu sebab komoditas ini memiliki peluang yang cukup potensial, tidak hanya di pasar luar negeri tetapi juga pasar dalam
BAB I PENDAHULUAN. diutamakan. Sedangkan hasil hutan non kayu secara umum kurang begitu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam hutan. Hasil hutan dapat berupa hasil hutan kayu dan hasil hutan non kayu. Hasil hutan kayu sudah
EKSTRAKSI MINYAK SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN FLAVOR PANGAN I N T I S A R I
EKSTRAKSI MINYAK SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN FLAVOR PANGAN I N T I S A R I Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu teknologi proses ekstraksi minyak sereh dapur yang berkualitas dan bernilai ekonomis
PROSES EKSTRAKSI MINYAK BUNGA MELATI (JASMINUM SAMBAC) DENGAN METODE ENFLEURASI. Elwina, Irwan, Ummi Habibah *) ABSTRAK
PROSES EKSTRAKSI MINYAK BUNGA MELATI (JASMINUM SAMBAC) DENGAN METODE ENFLEURASI Elwina, Irwan, Ummi Habibah *) ABSTRAK Minyak melati merupakan salah satu produk minyak atsiri yang paling mahal dan banyak
Prarancangan Pabrik Metil Salisilat dari Asam Salisilat dan Metanol dengan Kapasitas ton/tahun BAB I PENGANTAR. A.
A. Latar Belakang Prarancangan Pabrik Metil Salisilat dari Asam Salisilat dan BAB I PENGANTAR Dalam era globalisasi, penting bagi indonesia sebagai negara yang sedang berkembang untuk meningkatkan pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. non kayu diantaranya adalah daun, getah, biji, buah, madu, rempah-rempah, rotan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hasil hutan non kayu merupakan hasil hutan dimana produk yang diambil bukan kayu atau hasilnya bukan berasal dari penebangan pohon. Produk hasil hutan non kayu diantaranya
BAB I PENDAHULUAN. Nilam (Pogostemon cablin Benth) yang termasuk dalam keluarga Labiatea
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Nilam (Pogostemon cablin Benth) yang termasuk dalam keluarga Labiatea merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting bagi Indonesia, karena minyak
atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. Selain itu, semakin tinggi kadar patchouli alcohol maka semakin tinggi pula indeks bias yang dihasilkan.
1. Warna Sesuai dengan SNI 06-2385-2006, minyak atsiri berwarna kuning muda hingga coklat kemerahan, namun setelah dilakukan penyimpanan minyak berubah warna menjadi kuning tua hingga coklat muda. Guenther
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri minyak atsiri memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan di Indonesia, karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam penyediaan bahan bakunya.
I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH
Petunjuk Paktikum I. ISLASI EUGENL DARI BUNGA CENGKEH A. TUJUAN PERCBAAN Mengisolasi eugenol dari bunga cengkeh B. DASAR TERI Komponen utama minyak cengkeh adalah senyawa aromatik yang disebut eugenol.
I. PENDAHULUAN. Kebutuhan akan bahan bakar minyak disebabkan oleh terjadinya peningkatan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan bahan bakar minyak pada saat ini, sudah menjadi kebutuhan pokok oleh warga negara Indonesia untuk menjalankan kehidupan ekonomi. Kebutuhan akan bahan bakar minyak
Jurnal Bahan Alam Terbarukan
Jurnal Bahan Alam Terbarukan ISSN 2303-0623 PENGAMBILAN MINYAK ATSIRI BUNGA CENGKEH (Clove Oil) MENGGUNAKAN PELARUT n-heksana DAN BENZENA Saiful Hadi Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas
PENYULINGAN MINYAK ATSIRI SEREH DAPUR
PENYULINGAN MINYAK ATSIRI SEREH DAPUR (Cymbopogon citratus) DENGAN METODE PENYULINGAN AIR-UAP (The Destillation of Lemongrass Essential Oil by Using the Water-steam Method ) Zaituni 1, Rita Khathir 1,
FAKULTASTEKNOLOGIPERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI DAN TINGKA T KEMEKARAN TERHADAP MUTU MINYAK ATSIRI BUNGA SEDAP MALAM KULTIV AR TUNGGAL (Polianthes tuberos val'. Gracilis) Oleh RIZA NOP ALAS F 31.0726 1999 FAKULTASTEKNOLOGIPERTANIAN
PENGARUH LAMA PENGERINGAN BAHAN BAKU DAN METODE PENYULINGAN REBUS DAN UAP TERHADAP KUALITAS MINYAK SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L.
PENGARUH LAMA PENGERINGAN BAHAN BAKU DAN METODE PENYULINGAN REBUS DAN UAP TERHADAP KUALITAS MINYAK SEREH WANGI (Cymbopogon nardus L. Rendle) HASIL PENELITIAN Oleh: Tri Ayu Kurnia 081203051/ Teknologi Hasil
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN KUNYIT. Feri Manoi
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PENANGANAN PASCA PANEN KUNYIT Feri Manoi PENDAHULUAN Untuk memperoleh produk yang bermutu tinggi, maka disusun SPO penanganan pasca panen tanaman kunyit meliputi, waktu panen,
PENGARUH KEPADATAN AKAR PADA PENYULINGAN DENGAN KENAIKAN TEKANAN UAP BERTAHAP TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK AKAR WANGI YANG DIHASILKAN
PENGARUH KEPADATAN AKAR PADA PENYULINGAN DENGAN KENAIKAN TEKANAN UAP BERTAHAP TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK AKAR WANGI YANG DIHASILKAN Oleh Mad Adam Budiansah Fajar F34103071 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI
RENDEMEN DAN MUTU MINYAK YLANG-YLANG HASIL DARI PENYIMPANAN BUNGA RAEFA ARADITA PERMANA
RENDEMEN DAN MUTU MINYAK YLANG-YLANG HASIL DARI PENYIMPANAN BUNGA RAEFA ARADITA PERMANA DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 RENDEMEN DAN MUTU MINYAK YLANG-YLANG HASIL
PENGARUH TEMPAT TUMBUH DAN LAMA PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN MINYAK ATSIRI RAMBU ATAP
PENGARUH TEMPAT TUMBUH DAN LAMA PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN MINYAK ATSIRI RAMBU ATAP (Baeckea frustescens L) DENGAN PENYULINGAN METODE PEREBUSAN The Influence of Growing Site and duration distillation
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Nyamplung Nyamplung memiliki sebaran yang luas di dunia, dari Afrika, India, Asia Tenggara, Australia Utara, dan lain-lain. Karakteristik pohon nyamplung bertajuk rimbun-menghijau
Jurnal Teknotan Vol. 10 No. 2, November 2016 P - ISSN : ; E - ISSN :
PENGARUH RASIO BUNGA DENGAN PELARUT TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK MELATI (JASMINUM SAMBAC) MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI PELARUT MENGUAP (SOLVENT EXTRACTION) (The Effect of Flower-Solvent Ratio to The
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman aromatik merupakan komoditas ekspor nonmigas yang dibutuhkan di berbagai industri seperti dalam industri parfum, kosmetika,
Oleh/By : Zulnely, Umi Kulsum & Ahmad Junaedi ABSTRAK ABSTRACT
SIFAT FISIKO KIMIA MINYAK KILEMO (Litsea cubeba) ASAL KUNINGAN, JAWA BARAT (Physico-Chemical Properties of Essential Oil of Litsea cubeba (Kilemo) Originated from Kuningan, West Java) Oleh/By : Zulnely,
ABSTRAK. Kata kunci: enfleurasi, bunga kamboja cendana, jenis lemak, jenis minyak nabati, Plumeria alba.
Sasha Patrisia. 1311205043. 2017. Pengaruh Jenis Lemak dan Minyak Nabati pada Proses Ekstraksi Sistem Enfleurasi terhadap Karakteristik Minyak Atsiri Bunga Kamboja Cendana (Plumeria alba). Dibawah bimbingan
Jenis pengujian atau sifat-sifat yang diukur
AMANDEMEN LAMPIRAN SERTIFIKAT AKREDITASI LABORATORIUM NO. LP-256-IDN Nama Laboratorium Alamat Alamat Bidang Pengujian : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat : Jl. Tentara Pelajar No. 3, Bogor 16111
KAJIAN PROSES PENYULINGAN MINYAK AKAR WANGI DENGAN PENINGKATAN TEKANAN KETEL SECARA BERTAHAP. Oleh Ika Puspa Sari F
KAJIAN PROSES PENYULINGAN MINYAK AKAR WANGI DENGAN PENINGKATAN TEKANAN KETEL SECARA BERTAHAP Oleh Ika Puspa Sari F34103092 2008 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR KAJIAN PROSES
:!,1G():5kr'W:5. JURnAl EKOlOGI DAn SAlns ISSN : ISSN : VOLUME 01, No: 01. Agustus 2012
ISSN : 2337-5329 :!,1G():5kr'W:5 JURnAl EKOlOGI DAn SAlns PUSAT PENELITIAN LlNGKUNGAN HIDUP a SUMBERDAYA ALAM (PPLH SDA) UNIVERSITAS PATTIMURA VOLUME 01, No: 01. Agustus 2012 ISSN : 2337-5329 APLIKASI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dinamakan minyak nilam. Menurut Grieve (2002) Tanaman Nilam termasuk
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Nilam Nilam adalah suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam. Menurut Grieve (2002) Tanaman Nilam termasuk tanaman penghasil minyak atsiri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Minyak Goreng 1. Pengertian Minyak Goreng Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya
SKRIPSI. KAJIAN PENGARUH UMUR DAN BAGIAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin benth) YANG DISULING TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK NILAM YANG DIHASILKAN
SKRIPSI KAJIAN PENGARUH UMUR DAN BAGIAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin benth) YANG DISULING TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK NILAM YANG DIHASILKAN Oleh : LINDA PURWANINGRAT F34104081 2008 DEPARTEMEN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Biji Kemiri Sumber : Wikipedia, Kemiri (Aleurites moluccana) merupakan salah satu tanaman tahunan yang
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kemiri Gambar 1. Biji Kemiri Sumber : Wikipedia, 2016 Kemiri (Aleurites moluccana) merupakan salah satu tanaman tahunan yang termasuk dalam famili Euphorbiaceae (jarak-jarakan).
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Determinasi tanaman dilakukan di Herbarium Bandungense, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, menyatakan bahwa tanaman ini adalah Pogostemon
BAB I PENDAHULUAN. terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Minyak atsiri yang juga dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada
TUGAS AKHIR METODE DISTILASI VAKUM UNTUK PEMBUATAN MINYAK JERUK PURUT DENGAN MENGGUNAKAN AIR SEBAGAI PELARUT. Solvent)
TUGAS AKHIR METODE DISTILASI VAKUM UNTUK PEMBUATAN MINYAK JERUK PURUT DENGAN MENGGUNAKAN AIR SEBAGAI PELARUT (Vacuum Distillation Methode in Producing Lime Oil Using Water as the Solvent) Diajukan sebagai
PENGARUH VOLUME AIR DAN BERAT BAHAN PADA PENYULINGAN MINYAK ATSIRI
PENGARUH VOLUME AIR DAN BERAT BAHAN PADA PENYULINGAN MINYAK ATSIRI Sumarni, Nunung Bayu Aji, dan Solekan Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta
Nahar, Metode Pengolahan dan Peningkatan Mutu Minyak Nilam METODE PENGOLAHAN DAN PENINGKATAN MUTU MINYAK NILAM. Nahar* Abstrak
Nahar, Metode Pengolahan dan Peningkatan METODE PENGOLAHAN DAN PENINGKATAN MUTU MINYAK NILAM Nahar* Abstrak Tumbuhan nilam, Pogostemon cablin Benth, adalah salah satu jenis minyak atsiri terpenting bagi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Nabati Minyak nabati adalah sejenis minyak yang terbuat dari tumbuhan. Digunakan dalam makanan dan memasak. Beberapa jenis minyak nabati yang biasa digunakan ialah minyak
PEMURNIAN MINYAK NILAM DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI DISTILASI VAKUM GELOMBANG MIKRO UNTUK MENINGKATKAN KADAR PATCHOULI ALCOHOL
LAPORAN TUGAS AKHIR PEMURNIAN MINYAK NILAM DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI DISTILASI VAKUM GELOMBANG MIKRO UNTUK MENINGKATKAN KADAR PATCHOULI ALCOHOL (Purification Patchouli oil By Use Of Microwave Distillation
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bentonit diperoleh dari bentonit alam komersiil. Aktivasi bentonit kimia. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan merendam bentonit dengan menggunakan larutan HCl 0,5 M yang bertujuan
PENGARUH WAKTU UNTUK MENINGKATKAN KADAR PATCHOULI ALCOHOL DALAM PEMURNIAN MINYAK NILAM DENGAN MENGGUNAKAN DISTILASI VAKUM GELOMBANG MIKRO
LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU UNTUK MENINGKATKAN KADAR PATCHOULI ALCOHOL DALAM PEMURNIAN MINYAK NILAM DENGAN MENGGUNAKAN DISTILASI VAKUM GELOMBANG MIKRO (The Period s effect to increase Patchouli
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dan Ca-Bentonit. Na-bentonit memiliki kandungan Na +
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bentonit Bentonit merupakan salah satu jenis lempung yang mempunyai kandungan utama mineral smektit (montmorillonit) dengan kadar 85-95% bersifat plastis dan koloidal tinggi.
Efisiensi Pemurnian Minyak Nilam Menggunakan Distilasi Vacum Gelombang Mikro
LAPORAN TUGAS AKHIR Efisiensi Pemurnian Minyak Nilam Menggunakan Distilasi Vacum Gelombang Mikro (Efficiency Purification Patchouli Oil Using Microwave Vacum Distilation ) Diajukan sebagai salah satu syarat
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan dan Peralatan 3.1.1 Bahan yang digunakan Pada proses distilasi fraksionasi kali ini bahan utama yang digunakan adalah Minyak Nilam yang berasal dari hasil penyulingan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1.2 Rumus Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Negara kita termasuk negara penghasil minyak atsiri dan minyak ini juga merupakan komoditi yang menghasilkan devisa negara. Oleh karena itu pada tahun-tahun terakhir
TINJAUAN PUSTAKA Sistematika dan Morfologi Tanaman Nilam Syarat Tumbuh Nilam
4 TINJAUAN PUSTAKA Sistematika dan Morfologi Tanaman Nilam Tanaman nilam termasuk famili Labiatae (Santoso 1990). Ada tiga jenis tanaman nilam yaitu Pogostemon cablin Benth atau Nilam Aceh, Pogostemon
METODE EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI
MINYAK ATSIRI (2) TEKNOLOGI PROSESING 1 Oleh : Dr.Ir. Susinggih Wijana, MS. Jurusan Teknologi Industri Pertanian FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA METODE EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI A. Expression
OPTIMASI TEKANAN DAN RASIO REFLUKS PADA DISTILASI FRAKSINASI VAKUM TERHADAP MUTU EUGENOL DARI MINYAK DAUN CENGKEH (Eugenia caryophyllata)
Optimasi Tekanan dan pada Distilasi Fraksinasi Vakum terhadap Mutu Eugenol dari Minyak OPTIMASI TEKANAN DAN RASIO REFLUKS PADA DISTILASI FRAKSINASI VAKUM TERHADAP MUTU EUGENOL DARI MINYAK DAUN CENGKEH
BAB I PENDAHULUAN. dikembangkan sebagai usaha tanaman industri. Rimpangnya memiliki banyak
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Jahe (Zingiber officinale) merupakan salah satu rempah-rempah penting. Oleh karena itu, jahe menjadi komoditas yang mempunyai prospek untuk dikembangkan sebagai usaha
II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Bagian buah dan biji jarak pagar.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Spesifikasi Biji Jarak Pagar Tanaman jarak (Jatropha curcas L.) dikenal sebagai jarak pagar. Menurut Hambali et al. (2007), tanaman jarak pagar dapat hidup dan berkembang dari dataran
Kuantifikasi Penyulingan Minyak Nilam Industri Rakyat
Kuantifikasi Penyulingan Minyak Nilam Industri Rakyat Ellyta Sari Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta Padang Kampus III-UBH Jl. Gajah Mada Gunung Pangilun, Padang 2143
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian. Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Durian 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian Menurut Rahmat Rukmana ( 1996 ) klasifikasi tanaman durian adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi
TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Buah Naga Buah naga ( Dragon Fruit) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang baru dibudidayakan di Indonesia dengan warna buah merah yang menyala dan bersisik hijau
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) F-93
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-93 Pengambilan Minyak Atsiri dari Daun dan Batang Serai Wangi (Cymbopogon winterianus) Menggunakan Metode Distilasi Uap dan
DISTILLASI DAUN KAYU PUTIH DENGAN VARIASI TEKANAN OPERASI DAN KEKERINGAN BAHAN UNTUK MENGOPTIMALKAN KADAR SINEOL DALAM MINYAK KAYU PUTIH
Muyassaroh:Distillasi daun kayu putih dengan variasi tekanan operasi dan kekeringan bahan untuk mengoptimalkan kadar sineol dalam minyak kayu putih DISTILLASI DAUN KAYU PUTIH DENGAN VARIASI TEKANAN OPERASI
BAB III METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan
BAB III METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan Penyegar, Unit Pelayanan Terpadu Pengunjian dan Sertifikasi Mutu Barang (UPT. PSMB) Medan yang bertempat
BAB I PENDAHULUAN. gel pengharum ruangan tersebut menghambat pelepasan zat volatile, sehingga
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengharum ruangan merupakan suatu produk yang berisi zat wewangian yang digunakan untuk membuat harum suatu ruangan atau mengurangi bau tidak menyenangkan pada suatu
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab IV Hasil dan Pembahasan Kualitas minyak dapat diketahui dengan melakukan beberapa analisis kimia yang nantinya dibandingkan dengan standar mutu yang dikeluarkan dari Standar Nasional Indonesia (SNI).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Cengkeh dengan nama ilmiah Eugenia caryophyllata berasal dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daun Cengkeh Cengkeh dengan nama ilmiah Eugenia caryophyllata berasal dari kepulauan Maluku. Diselundupkan untuk dibudidayakan di Malagasi dan Tanzania oleh para pedagang Arab,
Kemiri berasal dari Maluku dan tersebar ke Polynesia, India, Filipina, Jawa, Australia dan kepulauan Pasifik, India Barat, Brazil dan Florida.
MAKALAH TEKNOLOGI MINYAK NABATI MINYAK KEMIRI Disusun Oleh: ANISYA DWI S. ( I1506009 ) FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009 MINYAK KEMIRI SEJARAH Kemiri berasal
2014 OPTIMASI KONDISI HIDROGENASI ETANOL-NATRIUM UNTUK MENINGKATKAN KADAR MENTOL PADA MINYAK PERMEN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal dengan kekayaan alamnya seperti rempah-rempah. Banyak rempah-rempah Indonesia yang telah diketahui khasiatnya, hal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Nabati Minyak nabati adalah senyawa minyak yang terbuat dari tumbuhan yang diperoleh melaui proses ekstraksi dan pengepressan mekanik. digunakan dalam makanan dan untuk
C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa
A. Pengertian Sabun Sabun adalah garam alkali dari asam-asam lemak telah dikenal secara umum oleh masyarakat karena merupakan keperluan penting di dalam rumah tangga sebagai alat pembersih dan pencuci.
BABI PENDAHULUAN 1-1. Bab I-Pendahuluan
Bab I-Pendahuluan 1-1 BABI PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jeruk adalah salah satu jenis buah yang mudah diperoleh dan disukai oleh masyarakat. Biasanya jeruk dikonsumsi sebagai buah segar atau dibuat
PENGARUH CAMPURAN LEMAK SAPI DAN MARGARIN SERTA JENIS PELARUT DALAM PROSES EKSTRAKSI MINYAK MELATI MENGGUNAKAN SISTEM ENFLEURASI
PKMP-2-11-1 PENGARUH CAMPURAN LEMAK SAPI DAN MARGARIN SERTA JENIS PELARUT DALAM PROSES EKSTRAKSI MINYAK MELATI MENGGUNAKAN SISTEM ENFLEURASI Kelik Kurniawan, Vita Nindya H., Erna Rahmawati, Iva Nur Rhomadia
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Tomat Tomat (Lycopersicum esculantum MILL.) berasal dari daerah tropis Meksiko hingga Peru. Semua varietas tomat di Eropa dan Asia pertama kali berasal dari Amerika Latin
II. METODOLOGI PENELITIAN
1 Perbandingan Antara Metode Hydro-Distillation dan Steam-Hydro Distillation dengan pemanfaatan Microwave Terhadap Jumlah Rendemenserta Mutu Minyak Daun Cengkeh Fatina Anesya Listyoarti, Lidya Linda Nilatari,
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) F-234
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-234 Perbandingan Metode Steam Distillation dan Steam-Hydro Distillation dengan Microwave Terhadap Jumlah Rendemen serta Mutu
Disusun oleh: Jamaludin Al Anshori, S.Si
Disusun oleh: Jamaludin Al Anshori, S.Si DAFTAR HALAMAN Manual Prosedur Pengukuran Berat Jenis... 1 Manual Prosedur Pengukuran Indeks Bias... 2 Manual Prosedur Pengukuran kelarutan dalam Etanol... 3 Manual
TUGAS AKHIR LAJU PRODUKSI DISTILASI MINYAK JAHE DARI AMPAS JAHE DENGAN PROSES DISTILASI KOHOBASI DAN DISTILASI UAP AIR PADA TEKANAN VAKUM
TUGAS AKHIR LAJU PRODUKSI DISTILASI MINYAK JAHE DARI AMPAS JAHE DENGAN PROSES DISTILASI KOHOBASI DAN DISTILASI UAP AIR PADA TEKANAN VAKUM (PRODUCTION RATE OF GINGGER OIL DISTILLATION FROM GINGGER WASTE
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Untuk menunjang pembangunan pertanian tidak terlepas dari kemampuan petani dalam menerapkan teknologi
BAB III PROSES PERPINDAHAN KALOR DESTILASI DAN ANALISA
BAB III PROSES PERPINDAHAN KALOR DESTILASI DAN ANALISA 3.1 Proses Perpindahan Kalor 3.1.1 Sumber Kalor Untuk melakukan perpindahan kalor dengan metode uap dan air diperlukan sumber destilasi untuk mendidihkan
PEMISAHAN EUGENOL DARI MINYAK CENGKEH DENGAN CARA DISTILASI FRAKSINASI. Separation of eugenol from clove oil with fractionation distillation
1 PEMISAHAN EUGENOL DARI MINYAK CENGKEH DENGAN CARA DISTILASI FRAKSINASI Separation of eugenol from clove oil with fractionation distillation Siti Nurhasanah, STP., M.Si 1, Efri Mardawati, STP., M.T 1
PEMODELAN SISTEM. Pendekatan Sistem. Analisis Sistem
76 PEMODELAN SISTEM Pendekatan Sistem Analisis Sistem Sistem Rantai Pasok Agroindustri Minyak Nilam secara garis besar terdiri dari 3 (tiga) level pelaku utama, yaitu: (1) usahatani nilam, (2) industri
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Atsiri Minyak atsiri awalnya dikenal sebagai minyak esensial. Minyak ini sudah lama dikenal sejak tahun 3.000 SM oleh penduduk Mesir kuno dan digunakan untuk tujuan
SKRIPSI. ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAUN KAYU PUTIH (Eucalyptus alba) DARI PULAU TIMOR
SKRIPSI ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAUN KAYU PUTIH (Eucalyptus alba) DARI PULAU TIMOR Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sains OLEH MAGDALENA
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) F-39
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-39 Perbandingan Antara Metode - dan Steam- dengan pemanfaatan Microwave terhadap Jumlah Rendemenserta Mutu Minyak Daun Cengkeh
Studi Input Energi pada Proses Penyulingan Minyak Atsiri Nilam dengan Sistem Boiler (Studi Kasus Unit Pengolahan minyak Nilam Kesamben-Blitar)
Studi Input Energi pada Proses Penyulingan Minyak Atsiri Nilam dengan Sistem Boiler (Studi Kasus Unit Pengolahan minyak Nilam Kesamben-Blitar) Rohmad Abdul Aziz Al Fathoni*, Bambang Susilo, Musthofa Lutfi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan kekayaan alamnya. Tanahnya yang subur dan iklimnya yang tropis memungkinkan berbagai jenis tumbuhan dapat dibudidayakan
PERBEDAAN KUALITAS MINYAK NILAM (Pogostemon cablin Benth.) BERDASARKAN BAGIAN PADA TANAMAN
PERBEDAAN KUALITAS MINYAK NILAM (Pogostemon cablin Benth.) BERDASARKAN BAGIAN PADA TANAMAN SKRIPSI Oleh : Ade Yulisa Lubis 121201001/Teknologi Hasil Hutan PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS
BAB I PENDAHULUAN. malam cukup tinggi yang disebabkan adanya variasi manfaat. Keharuman bunga
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sedap malam merupakan salah satu jenis bunga yang banyak dikembangkan oleh pengusaha bisnis bunga potong. Hal ini karena permintaan akan bunga sedap malam cukup tinggi
PENGUJIAN MUTU MINYAK ATSIRI. Disusun Oleh :
Laporan Praktikum Hari, Tanggal : Kamis, 22 Mei 2008 MK. Teknologi Minyak Atsiri, Asisten : 1. Linda Purwaningrat Fitofarmaka, dan Rempah-Rempah 2. Fina Uzwatania 3. Ira PENGUJIAN MUTU MINYAK ATSIRI Marlina
TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan sifat tumbuhnya, tanaman nilam adalah tanaman tahunan (parenial).
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Nilam Tanaman nilam merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia. Berdasarkan sifat tumbuhnya, tanaman nilam adalah tanaman tahunan (parenial). Tanaman ini merupakan
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT Bahan-bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji karet, dan bahan pembantu berupa metanol, HCl dan NaOH teknis. Selain bahan-bahan di atas,
BAB I PENDAHULUAN. sumber daya alam tersebut adalah tumbuh-tumbuhan. Berbagai macam tumbuhan tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan berbagai bahan alam, salah satu sumber daya alam tersebut adalah tumbuh-tumbuhan. Berbagai macam tumbuhan tersebut
Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.
Lemak dan minyak merupakan senyawa trigliserida atau trigliserol, dimana berarti lemak dan minyak merupakan triester dari gliserol. Dari pernyataan tersebut, jelas menunjukkan bahwa lemak dan minyak merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang potensial sebagai sumber bahan baku
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang potensial sebagai sumber bahan baku minyak atsiri. Indonesia menghasilkan 40 jenis dari 80 jenis minyak atsiri yang diperdagangkan
PENGARUH LAMA PENYULINGAN DAUN NILAM (Pogostemon cablin Benth.) TERHADAP RENDEMEN DAN BEBERAPA KARAKTERISTIK MUTU MINYAK NILAM YANG DIHASILKAN
PENGARUH LAMA PENYULINGAN DAUN NILAM (Pogostemon cablin Benth.) TERHADAP RENDEMEN DAN BEBERAPA KARAKTERISTIK MUTU MINYAK NILAM YANG DIHASILKAN SKRIPSI OLEH : A. A. MAS WILLYA SAHASRI NIM : 0111005050 JURUSAN
PEMURNIAN EUGENOL MINYAK DAUN CENGKEH DENGAN MENGGUNAKAN PROSES ADSORPSI HASIL PENELITIAN. Oleh: Ferdinand Mangundap
PEMURNIAN EUGENOL MINYAK DAUN CENGKEH DENGAN MENGGUNAKAN PROSES ADSORPSI HASIL PENELITIAN Oleh: Ferdinand Mangundap 0931010014 PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 2
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 2 DESTILASI UAP Jum at, 25 April 2014 Disusun Oleh: MA WAH SHOFWAH 1112016200040 KELOMPOK 1 Fahmi Herdiansyah Siti Ipah Masripah Yasa Esa Yasinta PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kulit batang, kayu, dan akar tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan tersebut dapat berupa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Atsiri Minyak atsiri merupakan cairan lembut, bersifat aromatik, dan mudah menguap pada suhu kamar. Minyak ini diperoleh dari ekstrak bunga, biji, daun, kulit batang,
ISOLASI RHODINOL DARI MINYAK SEREH WANGI DENGAN CARA DISTILASI FRAKSINASI VAKUM I N T I S A R I
ISOLASI RHODINOL DARI MINYAK SEREH WANGI DENGAN CARA DISTILASI FRAKSINASI VAKUM I N T I S A R I Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memisahkan komponen utama minyak sereh wangi yaitu rodinol (
PENGARUH UKURAN DAN SUSUNAN BAHAN BAKU SERTA LAMA PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KAYUMANIS SRILANGKA (Cinnamomun zeylanicum)
Buletin TRO Volume XIV No. 1, 2003 PENGARUH UKURAN DAN SUSUNAN BAHAN BAKU SERTA LAMA PENYULINGAN TERHADAP RENDEMEN DAN MUTU MINYAK KAYUMANIS SRILANGKA (Cinnamomun zeylanicum) Djajeng Sumangat dan Ma mun
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Kelapa sawit termasuk tanaman keras (tahunan) yang mulai menghasilkan pada umur 3 tahun dengan
