BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
|
|
|
- Suryadi Sumadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring digulirkannya sistem perbankan syariah pada pertengahan tahun 1990-an di Indonesia, beberapa Lembaga Keuangan Syariah (LKS) tumbuh dan berkembang pesat di Indonesia. Lembaga Keuangan Syariah mempunyai kedudukan yang sangat penting sebagai lembaga ekonomi berbasis syariah di tengah proses pembangunan nasional. Berdirinya Lembaga Keuangan Syariah (LKS) merupakan implementasi dari pemahaman umat Islam terhadap prinsipprinsip muamalat dalam hukum ekonomi Islam, selanjutnya direpresentasikan dalam bentuk pranata ekonomi Islam (Suhendi dkk, 2004). Karimudin selaku Asisten Deputi Pengembangan dan Pengendalian Simpan Pinjam, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengungkapkan, Dari sekian banyak lembaga keuangan syariah, Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) merupakan lembaga ekonomi Islam yang dibangun berbasis keumatan, yaitu dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat. Berdasarkan data jumlah BMT yaitu 3307 pada tahun 2010, dimana hampir separuh dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM) nasional adalah BMT (Kabar Bisnis, 2010). Menurut Suhendi dkk (2004), kehadiran BMT di Indonesia, selain ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di bidang ekonomi, juga memiliki misi penting bagi pemberdayaan usaha kecil dan menengah di wilayah kerjanya. Hal ini didasarkan pada visi BMT bahwa pembangunan ekonomi hendaknya dibangun dari bawah melalui kemitraan usaha. Eksistensi lembaga keuangan syariah seperti BMT, jelas memiliki arti penting bagi pembangunan ekonomi berwawasan syariah. Hal ini didasarkan kepada alasan berikut: pertama, secara filosofis, BMT merupakan lembaga keuangan yang secara teoritis dan praktis mengacu kepada prinsip-prinsip ekonomi syariah dengan tetap berpedoman kepada al-quran dan sunnah. Kedua, secara institusional, BMT merupakan lembaga keuangan yang mampu memberikan solusi bagi pemberdayaan usaha kecil dan menengah serta menjadi 1
2 2 inti kekuatan ekonomi yang berbasis kerakyatan dan sekaligus menjadi penyangga utama sistem perekonomian yang berbasis nasional. Ketiga, sarana yuridis, kedudukan BMT memiliki landasan hukum yang cukup kuat, yang mengacu kepada UU no.7/1997 tentang perbankan ( Kini UU no.10/1998 ), dimana BMT dapat menyelenggarakan usaha pelayanan dan jasa keuangan dalam skala kecil dan menengah. Pada era globalisasi di Indonesia, persaingan bisnis menyebabkan tingginya kompetisi pada sektor perusahaan jasa seperti Baitul Mal Wa Tamwil (BMT). Persaingan antar BMT yang semakin ketat untuk menarik minat para konsumen atau mempertahankan nasabah dalam roda bisnis perekonomian merupakan salah satu cara dalam mempertahankan eksitensinya. Setiap perusahaan jasa khususnya BMT, selalu berusaha untuk mencapai target dengan cara menarik nasabah sebanyak-banyaknya untuk menabung maupun pemberian pembiayaan (kredit) di BMT tersebut. Pada pemberian pembiayaan (kredit), terdapat masalah seperti adanya Non Performing Financing (pembiayaan bermasalah/ kredit macet). Dalam hal ini banyak faktor yang menyebabkan pemberian pembiayaan tersebut. Pemberian pembiayaan berdasarkan prinsip syariah menurut UU no pasal 8 dilakukan berdasarkan analisis dengan menetapkan prinsip kehati-hatian, agar nasabah debitur mampu melunasi hutangnya atau mengembalikan pembiayaan sesuai dengan perjanjian sehingga resiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasanya dapat dihindari. Menurut Fahmi dan Lavianti dalam (Samti, 2011), pembiayaan yang diberikan kepada para nasabah tidak akan lepas dari resiko terjadinya pembiayaan bermasalah yang akhirnya dapat mempengaruhi kinerja bank syariah ataupun lembaga keuangan syariah lainnya tersebut. Resiko pembiayaan merupakan risiko yang disebabkan oleh counterparty (penjamin atas utang dan kewajiban) nasabah dalam memenuhi kewajiban. Secara umum dalam pemberian pembiayaan kepada nasabah, pihak BMT perlu memperhatikan prinsip-prinsip penilaian dalam pemberian pembiayaan diantaranya karakter (caracter), kemampuan (capacity), modal (capital), agunan (collateral), prospek usaha (condition of economic). Dalam (Kunto dan Hasana, 2006), dikemukakan bahwa untuk meminimalkan
3 3 resiko kredit dapat dilakukan dengan cara memperhatikan faktor ketidaklayakan debitur melalui status demografi nasabahnya berdasarkan status kredit, sehingga diperlukan segmentasi pasar hubungan faktor-faktor tersebut. Segmentasi pasar adalah kunci utama untuk mencapai berdasarkan strategi pemasaran yang ideal. Ada beberapa riset tentang segmentasi pasar antara lain: Penelitian Arifudin (2003) melakukan pengelompokan nasabah dengan analisis cluster di Perusahaan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Rayon Utama Gondomanan Jogjakarta, analisis CHAID (Kunto dan Hasana, 2006) untuk menentukan segmentasi nasabah di Koperasi Syari ah Al-Hidayah berdasarkan status kreditnya, analisis Fuzzy C-Means (Megawati dkk, 2013) untuk mengelompokan konsumen pusat perbelanjaan Rita Pasaraya Cilacap. Dari beberapa metode segmentasi nasabah yang ada, penulis tertarik menggunakan metode Fuzzy CHAID (Chi-Squared Automatic Interaction Detection). Metode ini dapat menangani masalah klasifikasi yang mengandung unsur ketidakpastian dalam data, terkait dengan pemikiran dan persepsi manusia. Algoritma induksi fuzzy ke CHAID digunakan untuk melunakkan (soften) batasan keputusan yang tajam (sharp) pada algoritma pohon keputusan tradisonal khususnya CHAID (Bandar dkk, 2002). Metode Fuzzy CHAID merupakan kombinasi dari metode Fuzzy dan CHAID. Dimana, analisis CHAID merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan variabel dependen berdasarkan variabel independen melalui diagram pohon keputusan yang berisi informasi tentang derajat hubungan variabel-variabelnya dan karakteristik segmen (Gallagher, 2000). Sedangkan metode Fuzzy dilakukan untuk mengkategorikan variabel independen berdasarkan tingkatannya. Alasan penggunaan metode Fuzzy, karena dalam kehidupan nyata suatu nilai sering berupa himpunan tidak tegas (fuzzy) yang dapat digolongkan ke dalam nilai baik, cukup, dan kurang agar lebih mudah dibaca dan dipahami (Novak dkk, 2005). Metode ini diharapkan dapat menemukan aturan klasifikasi yang dapat digunakan untuk memprediksi potensi seorang nasabah baru dengan pinjaman berstatus macet.
4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi segmen nasabah potensial dengan harapan resiko kredit macet dapat diminimumkan berdasarkan aturan klasifikasi yang sesuai dengan pemikiran dan persepsi manusia Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang karakteristik kelompok-kelompok nasabah BMT El Bummi 372 Patuk Gunung Kidul, sehingga pihak BMT dapat mengambil suatu kebijakan tertentu yang dapat diterapkan guna mempertahankan eksistensi BMT di dunia bisnis syariah serta kebijakan yang tepat dalam melakukan strategi pemasaran ke depan Tinjauan Pustaka Dalam penelitian ini diperlukan beberapa buku dan jurnal sebagai bahan referensi. Untuk mempelajari tentang BMT digunakan buku karangan Suhendi dkk (2004) sebagai referensi utama, selanjutnya Kabar Bisnis (2010), dan Samti (2011) sebagai referensi pendukungnya. Untuk mempelajari klasifikasi merujuk dari PBworks (2007), dan Permana (2011). Untuk mempelajari tentang probabilitas dan distribusi statistik, analisis CHAID, analisis chi-square, ukuran asosiasi, koreksi Bonferroni, serta tingkat akurasi metode CHAID penulis menggunakan buku Bain dan Engelhardt (1992), Subanar (2013), Haryatmi (1986), Tschuprow (1939), dan beberapa jurnal antara lain: Sharp dkk (2002), Ramdhany (2006), Kass (1980), Du Toit dkk (1986), Gallagher (2000), dan Lehman dan Eherler (2001). Sedangkan untuk mempelajari tentang teori fuzzy, fungsi keanggotaan, operator-operator dasar Zadeh, serta metode Mamdani penulis merujuk buku Kusumadewi (2002), Kusumadewi dan Purnomo (2004), Kusumadewi dkk (2006), Setiadji (2009), Robandi (2006), Naba (2009), Susilo (2006), Smithson dan Verkuilen (2006), serta tulisan Wangready (2011).
5 5 Penilaian talenta umumnya dalam bentuk bahasa (linguistic term) dan merupakan data dalam bentuk himpunan tidak tegas (fuzzy). Pada penelitian yang dilakukan oleh Jantan, dkk (2010), terlihat tingkat bakat seseorang dinyatakan dalam bentuk himpunan tegas atau nyata (crisp) seperti talenta dengan kriteria personal 1 mempunyai range angka yaitu personal 1<= 22.6 dan personal 1 >22.6 untuk mendapatkan kesimpulan. Sedangkan (Novak dkk, 2005) mengatakan bahwa dalam kenyataannya nilai talenta dapat berupa himpunan tidak tegas (fuzzy) yang dapat digolongkan ke dalam nilai baik, cukup, dan kurang agar lebih mudah dibaca dan dipahami. Menurut Bagozzi dalam (Kunto dan Hasana, 2006), CHAID digunakan untuk membentuk segmentasi yang membagi sebuah sampel menjadi dua atau lebih kelompok yang berbeda berdasarkan sebuah kriteria tertentu. Hal ini kemudian diteruskan dengan membagi kelompok-kelompok tersebut menjadi kelompok yang lebih kecil berdasarkan variabel-variabel independen yang lain. Prosesnya berlanjut sampai tidak ditemukan lagi variabel-variabel independen yang signifikan secara statistik berdarkan uji chi-square. Riset tentang segmentasi pasar antara lain: Penelitian Arifudin (2003) melakukan pengelompokan nasabah dengan analisis cluster di Perusahaan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Rayon Utama Gondomanan Jogjakarta, analisis Fuzzy C-Means (Megawati dkk, 2013) untuk mengelompokan konsumen pusat perbelanjaan Rita Pasaraya Cilacap. Untuk mempelajari segmentasi pasar penulis merujuk buku Kotler (1998), dan Assauri (2002) Metode Fuzzy CHAID (Chi-Squared Automatic Interaction Detection) dapat menangani masalah klasifikasi yang mengandung unsur ketidakpastian dalam data, terkait dengan pemikiran dan persepsi manusia. Algoritma induksi fuzzy ke CHAID digunakan untuk melunakkan (soften) batasan keputusan yang tajam (sharp) pada algoritma pohon keputusan tradisonal khususnya CHAID (Bandar dkk, 2002).
6 Metodologi Penelitian Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah bimbingan dan diskusi dengan dosen pembimbing, studi literatur, dan pengolahan data. Sumber literatur diperoleh dari buku, artikel, dan jurnal yang terkait dengan tema penelitian. Analisis mengenai Fuzzy, dan CHAID. Untuk melakukan segmentasi nasabah yang potensial dengan cara mengimplementasikannya dalam klasifikasi pohon Fuzzy CHAID. Sistem tersebut memiliki empat buah komponen utama yaitu : i. Variabel dataset nasabah BMT El Bummi 372 (input) ii. Proses signifikansi variabel dengan uji Tschuprow s T untuk pembentukan segmen nasabah iii. Proses pembuatan diagram pohon CHAID dengan aturan Top-down stopping rule iv. Konversi ke linguistic term (preprocessing) dan proses fuzzifikasi Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data Pengguna Pembiayaan BMT El Bummi 372 Patuk, Gunung Kidul tahun Data yang diambil hanyalah data nasabah yang melakukan peminjaman selama tahun Data tersebut kemudian dipergunakan sebagai variabel dalam melakukan analisis Fuzzy CHAID. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen dan independen sebagai berikut (Kunto dan Hasana, 2006) : a) Variabel Dependen Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengguna pembiayaan BMT yang dibedakan menjadi dua kategori, yaitu: 1. Nasabah dengan pinjaman yang berstatus macet (M) 2. Nasabah dengan pinjaman yang berstatus tidak macet (TM) b) Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini diambil dari variabel demografis data pengguna pembiayaan BMT. Variabel tersebut terdiri dari lima komponen demografis, yaitu:
7 7 1. Usia Usia nasabah dibedakan sebagai berikut: - Usia Remaja ( 23 tahun) Usia remaja merupakan usia transisi yang pada umumnya sangat mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. - Usia tahun Usia ini merupakan usia kedewasaan nasabah serta biasanya usia di mana nasabah mulai merintis karir dalam kehidupannya. - Usia tahun Usia yang merupakan usia peningkatan karir dan kematangan dalam bersikap. - Usia tahun Usia di mana pada masa ini biasanya menjadi masa-masa kejayaan bagi nasabah dan masa di mana kemapanan diraih. - Usia Lanjut ( 51 tahun) Usia di mana nasabah mulai menikmati hari tuanya. 2. Pendidikan terakhir Nasabah dapat dikelompokkan menurut tingkat pendidikan yang telah dicapai. Dalam hal ini tingkat pendidikan nasabah akan dibagi menjadi: - SD - SMP/sederajat - SMU/sederajat - Diploma/S1/Profesi - S2/S3 3. Penghasilan rata-rata keluarga Penghasilan rata-rata keluarga nasabah per bulan BMT ini dibagi menjadi: - Rp ,00 - Rp ,00 Rp ,00 - Rp ,00 Rp ,00
8 8 - Rp ,00 4. Ukuran keluarga Ukuran keluarga adalah jumlah orang atau individu dalam satu rumah tempat nasabah tinggal. Variabel ini dibedakan atas: - 1 orang - 2 orang - 3 orang - 4 orang - 5 orang atau lebih Alur kerja segmentasi nasabah dengan metode Fuzzy CHAID digambarkan pada Gambar 1.1.
9 9 Mulai Pengumpulan data pembiayaan nasabah Menentukan variabel dependen dan independen Penentuan variabel independen yang signifikan terhadap variabel dependen dengan uji Tschuprow s T Penentuan penggabungan kategori-kategori variabel independen Uji Bonferroni Variabel independen sisa Ya Tidak Penentuan peringkat signifikansi variabel independen terhadap variabel dependen Tidak Semua sub kelompok signifikan Ya Pembentukan aturan fuzzy dan penentuan fungsi keanggotaan Penerapan FIS (fuzzy inference system) dengan metode Mamdani untuk output fuzzy set Output Mamdani berupa status kredit nasabah Selesai Gambar 1.1. Metodologi Penelitian
10 Sistematika Penulisan Tesis ini terdiri atas 5 (lima) bab. Pertama adalah BAB I PENDAHULUAN yang memuat latar belakang, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Kedua yaitu BAB II LANDASAN TEORI yang berisi teori dasar yang dipakai dalam pembahasan segmentasi nasabah dengan pendekatan Fuzzy CHAID. Ketiga adalah BAB III PEMBAHASAN yang berisi penjelasan mengenai analisis segmentasi nasabah dengan pendekatan Fuzzy CHAID. Keempat adalah BAB IV STUDI KASUS yang berisi contoh penerapan perhitungan Fuzzy CHAID di BMT Patuk El Bummi 372 Gunung Kidul Yogyakarta. Terakhir adalah BAB V PENUTUP yang meliputi kesimpulan dan saran yang memuat rangkuman hasil penelitian dan saran bagi penelitian selanjutnya.
ABSTRAK ABSTRACT. sektor perusahaan jasa seperti Baitul Mal Wa Tamwil (BMT). Persaingan antar. Pendahuluan Globalisasi di Indonesia,
METODE IMPROVED CHAID (CHI-SQUARED AUTOMATIC INTERACTION DETECTION) PADA ANALISIS KREDIT MACET BMT (BAITUL MAL WA TAMWIL) Muhammad Muhajir Program Studi Statistika FMIPA Universitas Islam Indonesia Jalan
SEGMENTASI PASAR MENGGUNAKAN METODE CHI-SQUARED AUTOMATIC INTERACTION DETECTION (CHAID) (Studi Kasus di PD. BPR-BKK Purwokerto Utara)
SEGMENTASI PASAR MENGGUNAKAN METODE CHI-SQUARED AUTOMATIC INTERACTION DETECTION (CHAID) (Studi Kasus di PD. BPR-BKK Purwokerto Utara) SKRIPSI Oleh : Nu man Ardhi Nugraha J2E 004 238 PROGRAM STUDI STATISTIKA
BAB I PENDAHULUAN. fatwa MUI yang mengharamkan bunga bank. 1. nilai-nilai syariah berusaha menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga keuangan syariah di Indonesia telah berkembang dengan pesat. Seperti yang telah diketahui bukan hanya lembaga perbankan syariah saja, bahkan lembaga keuangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Chi-square Automatic Interaction Detection (CHAID) adalah merupakan suatu kasus khusus dari algoritma pendeteksian interaksi otomatis yang biasa disebut
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Klasifikasi Klasifikasi merupakan proses untuk menemukan model atau fungsi yang menjelaskan atau membedakan konsep atau kelas data, dengan tujuan untuk
BAB III METODE CHI-SQUARED AUTOMATIC INTERACTION DETECTION
BAB III METODE CHI-SQUARED AUTOMATIC INTERACTION DETECTION 3.1 Analisis CHAID Metode CHAID pertama kali diperkenalkan G. V. Kass 1980, metode CHAID merupakan teknik yang lebih awal dikenal sebagai Automatic
BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya lembaga keuangan syariah termasuk Koperasi Syariah,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lahirnya lembaga keuangan syariah termasuk Koperasi Syariah, sesungguhnya dilatarbelakangi oleh pelarangan riba (bunga) secara tegas dalam Al-Qur an. 1 Islam mengangap
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Menurut Undang-Undang No.25 Tahun 1992 koperasi Indonesia adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Koperasi merupakan salah satu badan usaha yang sudah lama dikenal di Indonesia. Menurut Undang-Undang No.25 Tahun 1992 koperasi Indonesia adalah badan usaha yang beranggotakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam mencapai tujuan pembangunan ekonomi diperlukan peran serta lembaga keuangan untuk membiayai pembangunan tersebut. Lembaga keuangan memegang peranan penting dalam
BAB I PENDAHULUAN. Laju perkembangan ekonomi syari ah di Indonesia dari hari ke hari mengalami
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laju perkembangan ekonomi syari ah di Indonesia dari hari ke hari mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dimulai dari sektor perbankan pada tahun 1991 dengan pendirian
BAB III LANDASAN TEORI
12 BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Klasifikasi Menurut PBworks (2007) klasifikasi adalah proses untuk menemukan model atau fungsi yang menjelaskan atau membedakan konsep atau kelas data, dengan tujuan untuk
BAB I PENDAHULUAN. Didalam perkembangan dunia yang sangat pesat ini mencakup didalamnya. keuangan dalam pembiayaan pembangunan sangat diperlukan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Didalam perkembangan dunia yang sangat pesat ini mencakup didalamnya pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi memerlukan peran suatu lembaga keuangan untuk pembiayaan
BAB V PEMBAHASAN. A. Pengaruh Character terhadap Tingkat Pengembalian Angsuran. Pembiayaan Murabahah pada BMT As-Salam Kras-Kediri Tahun 2015
BAB V PEMBAHASAN A. Pengaruh Character terhadap Tingkat Pengembalian Angsuran Pembiayaan Murabahah pada BMT As-Salam Kras-Kediri Tahun 2015 Hasil pengujian data di atas dapat diketahui tabel Coefficient
Manusia selalu dihadapkan pada masalah ekonomi seperti kesenjangan. ekonomi, kemiskinan, dan masalah-masalah lainnya. Namun banyak masyarakat
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia selalu dihadapkan pada masalah ekonomi seperti kesenjangan ekonomi, kemiskinan, dan masalah-masalah lainnya. Namun banyak masyarakat yang tidak mengerti apa sebenarnya
BAB I PENDAHULUAN. Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, UPP-AMP YKM, Yogyakarta, 2002, hlm.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan perekonomian suatu negara, ditandai dengan semakin meningkat pula permintaan atau kebutuhan pendanaan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. Namun,
BAB I PENDAHULUAN. nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Perbankan di Indonesia termasuk Hukum Perbankan Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perbankan yang berdasarkan Demokrasi Ekonomi dengan fungsi utamanya yaitu sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat, memiliki peranan yang strategis untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan di bidang ekonomi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pada pertengahan bulan Juli 1997 Indonesia mengalami
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia ditandai dengan perkembangan bank dan lembaga keuangan syariah. Dimana perkembangan lembaga kuangan syariah di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. 2001, hlm Muhammad Syafi i Antonio, Bank Syariah: dari Teori ke Praktik, Gema Insani, Jakarta,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan ekonomi dalam pembangunannya tidaklah terlepas dari peran serta sektor perbankan. Bank adalah badan usaha yang menjalankan kegiatan menghimpun dana
BAB I PENDAHULUAN. tahun 2010 berjumlah unit, dan pada tahun 2012 berjumlah saja, melainkan mencakup pula koperasi syariah 1.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan koperasi di Indonesia secara global telah mengalami sebuah peningkatan yang cukup menggembirakan. Hal ini dapat dibuktikan dengan data dari Kementerian
BAB I PENDAHULUAN. kebutuhannya seperti modal untuk membangun usaha, untuk. membesarkan usaha, untuk membangun rumah atau untuk mencukupi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Seiring berkembangnya perekonomian suatu negara, maka akan semakin banyak lembaga keuangan yang berdiri. Lembaga keuangan ini sangat berpengaruh besar terhadap
BAB I PENDAHULUAN. jasa perbankan atau keuangan. Dalam hal ini, perbankan merupakan inti dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi seperti sekarang ini, seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi dalam rangka pembangunan nasional, semakin banyak industri industri yang didirikan.
BAB I PENDAHULUAN. mempercepat kemajuan ekonomi masyarakat. yang diharamkan, proyek yang menimbulkan kemudharatan bagi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem keuangan syariah merupakan subsistem dari sistem ekonomi syariah. Ekonomi syariah merupakan bagian dari sistem ekonomi Islam secara keseluruhan. Dengan demikian,
BAB I PENDAHULUAN. pendapatan nasional, dan penyediaan lapangan kerja. Usaha mikro, kecil dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang besar ditunjukkan oleh jumlah unit usaha dan pengusaha, serta kontribusinya terhadap pendapatan nasional,
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kredit macet merupakan salah satu masalah yang sering dialami oleh perbankan hingga saat ini. Banyaknya calon debitur yang melakukan kredit membuat pihak bank harus
BAB I PENDAHULUAN. memberikan sinyal positif, termasuk Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) merupakan bagian dari sistem syariah yang menjalankan usaha tidak terlepas dari ajaran Islam. LKMS tidak mungkin mau
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dalam berbagai kegiatan, berbagai macam kebutuhan selalu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan ekonomi yang timbul pada saat ini menjadi kendala bagi masyarakat dalam berbagai kegiatan, berbagai macam kebutuhan selalu meningkat. Sementara kemampuan
BAB I PENDAHULUAN. orang dan ditemui disetiap kehidupan semua orang. Kredit terjadi karena adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kredit pada dasarnya merupakan hal klasik yang diperlukan oleh banyak orang dan ditemui disetiap kehidupan semua orang. Kredit terjadi karena adanya pihak yang
Implementasi Metode Chi-Squared Automatic Interaction Detection pada Klasifikasi Indeks Prestasi Kumulatif Mahasiswa FMIPA UNIROW
Implementasi Metode Chi-Squared Automatic Interaction Detection pada Klasifikasi Indeks Prestasi Kumulatif Mahasiswa FMIPA UNIROW Kresna Oktafianto Program Studi Matematika FMIPA Universitas Ronggolawe
BAB I PENDAHULUAN. 1 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syari ah, Depok : Rajagrafindo Persada, 2014, h. 24
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berkembangnya lembaga keuangan di Indonesia ditandai dengan munculnya Perbankan Syariah. Dengan disetujuinya UU No. 21 Tahun 2008 dalam undang-undang tersebut menjadi
PEMBENTUKAN POHON KLASIFIKASI DENGAN METODE CHAID
Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 02, No. 1 (2013), hal 45 50. PEMBENTUKAN POHON KLASIFIKASI DENGAN METODE CHAID Yustisia Wirania, Muhlasah Novitasari Mara, Dadan Kusnandar INTISARI
BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia tidak akan terlepas dari peranan Kebijakan Bank Indonesia. Bank Indonesia dapat melaksanakan pengendalian moneter berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN. perekonomiannya didukung oleh unit-unit usaha kecil. Kemampuan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang sebagian besar perekonomiannya didukung oleh unit-unit usaha kecil. Kemampuan masyarakat Indonesia yang terbatas dalam mendirikan
BAB I PENDAHULUAN. bagi perusahaan, baik yang baru berdiri maupun yang sudah
i BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya perekonomian dan dunia usaha, masyarakat semakin banyak yang ingin memulai usaha baik dalam bidang jasa maupun dagang. Semakin banyak
BAB I PENDAHULUAN. ada tiga, yaitu association rules, classification dan clustering.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Data mining adalah serangkaian proses untuk menggali nilai tambah berupa informasi yang selama ini tidak diketahui secara manual dari suatu basis data. Informasi yang
BAB I PENDAHULUAN. Pres, cet-ke 1, 2004, h Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Watamwil, Yogyakarta: UII
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga keuangan syariah adalah lembaga yang dalam aktifitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atau
BAB I PENDAHULUAN. atas asas kekeluargaan. (Sholahuddin dan Hakim, 2008: 179) dan simpanan sesuai pola bagi hasil (syariah).
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus
BAB I PENDAHULUAN. akan berkaitan dengan istri atau suami maupun anak-anak yang masih memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut biasanya berhubungan dengan takdir dan nasib manusia itu sendiri yang telah ditentukan oleh Tuhan.
2015 ANALISIS TINGKAT PENGEMBALIAN PEMBIAYAAN D ITINJAU D ARI ASPEK KARAKTER NASABAH (STUD I KASUS PAD A BAITUL MAAL TAMWIL D I KOTA BAND UNG)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagian besar masyarakat Indonesia yang dominan beragama Islam sering kali terjebak dilema dalam menentukan pilihan hidup mereka. Satu sisi mereka ingin bangkit
A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyaknya lembaga keuangan makro maupun mikro yang tersebar ke berbagai pelosok tanah air, rupanya belum mencapai kondisi yang ideal jika diamati secara teliti.
BAB I PENDAHULUAN. 2015, h Gita Danupranata, Buku Ajar Manajemen Perbankan Syariah, Jakarta: Salemba. Empat, 2013, h. 103.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Untuk menjalankan suatu kegiatan, kebutuhan akan dana bersifat mutlak. Tidak akan mungkin kegiatan tersebut akan berjalan lancar tanpa adanya dana. Apabila kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN. Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hampir semua sektor usaha sangat membutuhkan bank sebagai mitra dalam melakukan transaksi
BAB I PENDAHULUAN. lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dilihat dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang mempunyai peranan penting di dalam perekonomian suatu negara sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. kekurangan permodalan tidak mudah diperoleh. 1. Mudharabah BMT Bina Umat Sejahtera Semarang (Universitas Negeri Semarang, 2007)
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Perkembangan Perekonomian Indonesia yang kini semakin memprihatinkan dan tuntutan masyarakat terhadap perbaikan sistem ekonomi dirasakan perlu adanya sumber-sumber
ANALISIS CHAID SEBAGAI ALAT BANTU STATISTIKA UNTUK SEGMENTASI PASAR (Studi Kasus pada Koperasi Syari ah Al-Hidayah)
ANALISIS CHAID SEBAGAI ALAT BANTU STATISTIKA UNTUK SEGMENTASI PASAR (Studi Kasus pada Koperasi Syari ah Al-Hidayah) Yohanes Sondang Kunto Staf Pengajar Fakultas Ekonomi, Universitas Kristen Petra, Surabaya
BAB I PENDAHULUAN. dan diperhadapkan dengan sumber pendapatan yang tidak mencukupi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring berkembangnya zaman kebutuhan masyarakat terus meningkat dan diperhadapkan dengan sumber pendapatan yang tidak mencukupi sehingga kredit menjadi salah satu alternatif
BAB I PENDAHULUAN. dan aspek sumber daya manusia. Hal terpenting dari aspek-aspek tersebut dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi kondisi persaingan bisnis dalam keadaan yang tidak menentu ditambah dengan krisis perekonomian, membuat setiap perusahaan dituntut untuk mempersiapkan
BAB I PENDAHULUAN. dan perdagangan sehingga mengakibatkan beragamnya jenis perjanjian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era globalisasi telah banyak mempengaruhi perkembangan ekonomi dan perdagangan sehingga mengakibatkan beragamnya jenis perjanjian dalam masyarakat. Salah
BAB I PENDAHULUAN. aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. Seperti telah
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG MASALAH Bank merupakan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. Seperti telah ditegaskan dalam
BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang dengan cepat, sumber-sumber dana diperlukan untuk membiayai usaha tersebut. Salah
BAB I PENDAHULUAN. atau benda ke dalam golongan atau pola-pola tertentu berdasarkan kesamaan ciri.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Klasifikasi merupakan pengelompokan secara sistematis pada suatu objek atau benda ke dalam golongan atau pola-pola tertentu berdasarkan kesamaan ciri. Masalah klasifikasi
BAB I PENDAHULUAN. Ahmad Hasan Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil, Pustaka Setia Bandung, Bandung, 2013, hlm. 23
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) adalah balai usaha mandiri terpadu yang isinya berintikan bayt al-mal wa at-tamwil dengan kegiatan mengembangkan usaha usaha produktif dan
BABI PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap perusahaan dituntut untuk siap menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan perusahaan lain. Makin intensifnya persaingan yang dihadapi, telah menyebabkan
BAB I BAB V PENUTUP PENDAHULUAN. Bab ini merupakan bab penutup yang berisi. 1.1 Latar Belakang Penelitian
16 1 BAB I BAB V PENUTUP Bab ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran- saran dari hasil analisis data pada bab-bab sebelumnyayang dapat dijadikan masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini kebutuhan masyarakat akan kredit merupakan hal yang tidak asing. Menyadari bahwa kegiatan kredit pada masyarakat umum semakin meningkat, maka perlu
BAB I PENDAHULUAN. yang melekat pada konsep (build in concept) dengan berorientasi pada
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pesatnya perkembangan lembaga perbankan Islam karena Bank Islam memiliki keistimewaan-keistimewaan.salah satu keistimewaan yang utama adalah yang melekat pada konsep
BAB I PENDAHULUAN. nasabah merupakan kegiatan utama bagi perbankan selain usaha jasa-jasa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penghimpunan tabungan dari masyarakat dan pemberian kredit kepada nasabah merupakan kegiatan utama bagi perbankan selain usaha jasa-jasa bank lainnya untuk menunjang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam suatu lembaga keuangan pembiayaan memiliki pola pelayanan yang khas, seperti sasaran nasabah, tipe kredit, serta cara pengajuan, penyaluran, dan pengembalian kredit.
BAB I PENDAHULUAN. Usaha Menengah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. (KSP), UMKM mampu menyerap 99,9 persen tenaga kerja di Indonesia.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada awal bulan September 2015, pemerintah menerbitkan paket kebijakan ekonomi untuk mendorong perekonomian nasional. Kebijakan tersebut ditujukan kepada sektor
BAB I PENDAHULUAN. statistik menunjukan perputaran keuangan pada sektor perbankan 2011
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perbankan merupakan sarana yang strategis dalam rangka pembangunan ekonomi, peran yang strategis tersebut disebabkan oleh fungsi utama bank sebagai penghimpun
BAB I PENDAHULUAN Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Maal Wat Tamwil (BMT), Yogyakarta: UII. Press, 2005, h. 1.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebelum adanya lembaga simpan pinjam syariah, masyarakat kecil dan menengah dalam menambah modal usahanya dengan cara meminjam kepada rentenir atau lembaga simpan pinjam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perekonomian sekarang ini, dimana setiap perusahaan baik itu yang bergerak dibidang industri perdagangan maupun jasa dituntut tidak hanya bertahan tetapi juga
BAB I PENDAHULUAN. BMT-BMT di seluruh Indonesia. BMT-BMT ini ternyata memberikan manfaat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Koperasi Syariah mulai dibicarakan ketika banyak orang menyikapi pesatnya pertumbuhan Baitul Maal Wattamwil (BMT) Di Indonesia. BMT Bina Insan Kamil Jakarta
BAB I PENDAHULUAN. terkadang UMKM seolah tidak mendapat dukungan dan perhatian dari. selama memiliki izin usaha dan modal cukup.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pilar perekonomian suatu negara tidak lepas dari bagaimana Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjalankan perannya demi meningkatkan taraf hidup orang banyak.
BAB I PENDAHULUAN. bank sebagai tambahan dana untuk modal usaha dengan pinjaman dana tersebut, maka
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semakin berkembangnya perekonomian dari kegiatan suatu usaha maka diperlukan sumber sumber dana yang dapat mendukung suatu kegiatan usaha yang lebih besar salah
akan berpengaruh terhadap pertumbuhan bank tersebut, baik dilihat dari sudut pandang operasional bank dan dampak psikologis yang terjadi.
Perkembangan dunia usaha di Indonesia, tidak terlepas dari peranan pemerintah yang memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk dapat mengembangkan diri seluas-luasnya sejauh tidak menyimpang dari sasaran
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menegah (UMKM) di Indonesia mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Keberadaan UMKM di Indonesia pada tahun 2010 sangat besar jumlahnya
III. METODE PELAKSANAAN
III. METODE PELAKSANAAN A. Kerangka Pemikiran Konseptual Kepuasan konsumen ditentukan oleh dua sisi yaitu harapan yang dimiliki konsumen terhadap sebuah produk atau layanan dan kinerja produk atau layanan
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan era globalisasi, perusahaan-perusahaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan era globalisasi, perusahaan-perusahaan terlibat dalam persaingan yang ketat dalam memasarkan produk mereka. Salah satu strategi yang dapat
I. PENDAHULUAN. Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan awal langkah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki satu abad sejarah panjang dalam keuangan mikro, bila dihitung dari masa penjajahan Belanda. Pada masa tersebut, lembaga keuangan mikro (LKM)
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu Negara dengan jumlah penduduk muslim
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia, sehingga diperlukan adanya sebuah lembaga keuangan syariah. Sistem lembaga
BAB I PENDAHULUAN. Makhalul Ilmi, Teori dan Praktek Lembaga Mikro Keuangan Syariah, UII Press, Yogyakarta, 2002, hlm.91. 2
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dinamika perkembangan lembaga keuangan syariah bank atau non bank di Indonesia adalah satu sisi yang menarik untuk dikaji. Ada optimisme yang besar bagi pendiri
BAB I PENDAHULUAN. kelebihan yang dimiliki oleh wanita dapat diketahui potensial pasar yang cukup
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wanita adalah gender yang jarang terangkat keberadaannya, namun dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh wanita dapat diketahui potensial pasar yang cukup menjanjikan
BAB I PENDAHULUAN. yang hanya mengejar target pendapatan masing-masing, sehingga tujuan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyaknya lembaga keuangan makro maupun mikro yang tersebar ke berbagai pelosok tanah air, rupanya belum mencapai kondisi yang ideal jika diamati secara teliti.
BAB I PENDAHULUAN. yang berisi liberalisasi industri perbankan. Para ulama waktu itu telah berusaha untuk
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Upaya intensif pendirian bank syariah di Indonesia dapat ditelusuri jejaknya sejak tahun 1988 di saat pemerintah mengeluarkan paket kebijakan Oktober (Pakto) yang
