TEKNIKA VOL.3 NO.1 APRIL_
|
|
|
- Johan Pranoto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 ANALISI DAN PERHITUNGAN BIAYA OPERASIONAL KAPAL TERHADAP TARIF ANGKUTAN KAPAL CEPAT STUDI KASUS : KM. EXPRES BAHARI LINTAS PALEMBANG-MUNTOK. Ramadhani *, Achmad Machdor Alfarizi ** *Dosen Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas IBA. Palembang *Alumni Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas IBA. Palembang : [email protected] ABSTRAK Transportasi merupakan sesuatu yang penting dan stategis dalam memperlancar roda pembangunan, sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang berpotensi namun belum berkembang dalam upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan serta hasil-hasilnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung biaya operasional kapal cepat KM. Expres Bahari yang beroperasi pada lintasan Palembang-Muntok dan menghitung tarif yang sesuai dengan faktor muat rata-rata lalu lintas dan yang sesuai dengan Load Faktor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei langsung kelokasi penelitian, dan pengumpulan data dilakukan dengan menganalisa biaya operasional kapal, menghitung biaya operasional kapal, dan fakor muat (Load Factor). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa Biaya langsung sangat dipengaruhi oleh biaya tidak tetap sebesar 98% dan biaya tetap hanya 2% sedangkan biaya tidak langsung hanya 37% untuk biaya tetap dan 63% untuk biaya tidak tetap sedangkan faktor load faktor 70% yaitu sebesar Rp Kata Kunci : Tinjauan, Tarif, Angkutan. 1. PENDAHULUAN Transportasi berperan sebagai penunjang, pendorong dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang berpotensi namun belum berkembang dalam upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan serta hasil-hasilnya. Pada perkembanganya transportasi meningkat sesuai dengan tuntutan zaman seiring dengan tingkat pertumbuhan penduduk dan taraf kehidupan. Kapal cepat Express Bahari merupakan salah satu angkutan penumpang yang beroperasi di Pelabuhan Boom Baru Palembang dan merupakan salah satu moda transportasi yang dapat mengantarkan penumpang menuju pulau Bangka dengan lintasan Palembang-Muntok yang umumnya pengguna jasa menggunakan angkutan ini untuk menuju daerah tersebut. Pada awalnya kapal cepat KM. Express Bahari yang beroperasi menuju pulau Bangka dengan trayek Palembang-Muntok terdapat 8 unit kapal, namun semenjak beroperasinya moda Pesawat Udara pada tahun 2006 yang berpusat di Bandara SMB II Palembang maka terjadilah persaingan antar moda dan seiring waktu mulai mengalami penurunan jumlah penumpang (Load Faktor). Sebelum tahun 2007 ada 6 buah kapal cepat yang beroperasi di Pelabuhan Boom Baru, namun karena adanya penurunan penumpang tiap tahunnya yang disebabkan oleh banyaknya penumpang yang beralih menggunakan pesawat udara yang tarifnya tidak jauh beda dengan tarif pada kapal cepat maka pihak operator mulai mengurangi jumlah kapal yang beroperasi di pelabuhan Boom Baru Palembang, semua ini dilakukan pihak operator untuk mengurangi kerugian atau biaya operasional yang lebih tinggi. Dampak dari kejadian tersebut menyebabkan banyaknya jumlah armada dibandingkan jumlah penumpang yang ada sehingga pada saat ini jumlah kapal cepat KM. Express Bahari yang ada, sehingga pada saat ini jumlah kapal cepat KM. Express Bahari yang tersedia di pelabuhan Boom Baru ada 2 unit kapal yang masih beroperasi sampai saat ini, dan dari tahun ke tahun tarif yang dikeluarkan oleh pihak operator belum ada perubahan yang signifikan dari tahun ke tahun. 74
2 2. METO DO LO GI 2.1. Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan pada Bulan April 2012, bertempat di kapal KM. Expres Bahari Lintas Palembang-Muntok di Pelabuhan Boom Baru Palembang Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer (survey produktivitas penumpang kapal cepat Ekpres Bahari) dan data sekunder (data lapangan) Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dengan melakukan survey primer dengan melakukan tanya jawab kepada petugas kantor pengelolaan data dan survey sekunder dengan melakukan survey produktivitas penumpang kapal cepat Express Bahari untuk menghitung Load Faktor penumpang Analisa biaya Operasional Kapal Dari data yang telah didapat kemudian dilakukan analisa biaya operasional meliputi : data kapal, data pegawai, data BBM, Oli, Gemuk dan Air Tawar, dan lain-lain. A. Perhitungan Biaya O perasional Kapal 1. Total Biaya Langsung a. Biaya Tetap Biaya penyusutan kapal + Biaya asuransi kapal + Biaya ABK b. Biaya Tidak Tetap Biaya BBM + Biaya Pelumas + Biaya Gemuk + Biaya Repairs, Maintenance dan Docking + Biaya Cek KARCIS/tahun + Biaya air tawar Total Biaya Langsung Total Biaya Tetap + Total Biaya Tidak Tetap 2. Total biaya tidak langsung a. Biaya Tetap Gajih + Tunjangan + Pakaian dinas + Jamsostek b. Biaya Tidak Tetap Biaya sewa kantor cabang + alat tulis kantor dan cetakan + biaya telepon, listrik dan pos. Total biaya tidak langsung Total Biaya Tetap + Total Biaya Tidak Tetap Total Biaya Operasional Kapak (BO K) Per Tahun Total biaya langsung + Total biaya tidak langsung B. Analisa Faktor Muat (Load Factor) berdasarkan data sekunder (data tahunan) Jumlah mua tan yang diangkut oleh kapal LF x 100% Kapasitas angkut kapal C. Faktor Muat (Load Factor) berdasarkan data sekunder (hasil Survei) Jumlah mua tan yang diangkut oleh kapal LF x 100% Kapasitas angkut kapal 75
3 D. Load Faktor rata-rata penumpang kapal cepat express bahari berdasaran hasil survey untuk per hari dan per bulan selama satu tahun. E. LF 1. LF hari LF 2. LF bulan 3. Faktor Muat Penumpang Tarif 3. Hasil dan Pembahasan 3.1. Analisa Biaya Operasional Kapal. Kapal cepat di pelabuhan Boom Baru Palembang yang melayani lintas Palembang dalam satu hari. Berikut Muntok terdiri dari dua kapal cepat yang kapasitasnya terdiri dari 332 orang penumpang dan 2 trip dalam satu hari. Berikut ini merupakan perhitungan biaya operasional kapal cepat Express Bahari dengan kapasitas 332 orang. Dalam perhitungan biaya operasional kapal cepat Express Bahari digunakan gabungan data sekunder dan data primer yaitu sebagai berikut : 1. Biaya langsung Total biaya tetap + Total biaya tidak tetap Rp Rp Rp / tahun 2. Biaya Tidang Langsung Total biaya tetap + Total biaya tidak tetap Rp Rp Rp Total Biaya Operasional Kapak () Per Tahun Total biaya langsung + Total biaya tidak langsung Rp Rp Rp Setelah didapatkan biaya operasional kapal cepat selama satu tahun maka dapat ditentukan besarnya biaya operasional kapal per trip ditambah keuntungan operator kapal 10% sebagai berikut : Jumlah Trip per Tahun Jumlah Trip per Tahun x 11 bulan 56 trip x 11 buah 616 trip/tahun per tahun per trip Jumlah trip per tahun Rp /trip 76
4 Dari hasil perhitungan diatas dapat diketahui biaya operasional kapal () yang harus dikeluarkan selama satu tahun beroperasi. Diketahui bahwa biaya-biaya yang sangat dominan atau mempengaruhi dalam perhitungan biaya operasional kapal (). Di dalam perhitungan diketahui bahwa faktor yang sangat dominan berada di biaya langsung pada biaya tidak tetap yaitu bahan bakar minyak (BBM) sebesar 98% Sedangkan untuk biaya tidak langsung biaya yang sangat dominan terdapat pada biaya tidak tetap yaitu sewa kantor sebesar 63%. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1 (a). Persentase biaya langsung & ( b). Biaya Tidak Langsung 3.2. Analisa Faktor Muat (Load Factor). Faktor muat adalah jumlah produksi angkutan yang dapat diangkut oleh kapal dibandingkan dengan kapasitas yang disediakan. Faktor muat merupakan petunjuk hubungan antara permintaan dan penawaran angkutan pada suatu lintasan. Untuk mengetahui besar faktor muat penumpang pada kapal cepat. Dilakukan evaluasi terhadap produktivitas penumpang yang diperoleh berdasarkan survei langsung di lapangan (data primer) dan data sekunder produktivitas penumpang tahunan (data 3 tahun terakhir) sebagai perbandingan. Tabel 1 Load Factor (Faktor Muat) Tahun 2009 Bulan Penumpang naik Kap. Angkut Load Faktor Januari % Februari % Maret % April % Mei % Juni % Juli % Agustus % September % Oktober % Nopember % Desember % Jumlah % 77
5 Tabel 2. Load Factor (Faktor Muat) Tahun 2010 Bulan Penumpang naik Kap. Angkut Load Faktor Januari % Februari % Maret % April % Mei % Juni % Juli % Agustus % September % Oktober % Nopember % Desember % Jumlah % Tabel 3. Load Faktor (Faktor Muat) Tahun 2011 Bulan Penumpang naik Kap. Angkut Load Faktor Januari % Februari % Maret % April % Mei % Juni % Juli % Agustus % September % Oktober % Nopember % Desember % Jumlah % Berdasarkan tabel di atas maka dpat dibuat grafik Load Factor (faktor muat) kapal cepat Ekpress Bahari tahun 2009 sebagai berikut: 78
6 Gambar 2. Load Factor (faktor muat) kapal cepat Ekpres Bahari Tahun Faktor Muat Berdasarkan Data Primer (Hasil Survei). Dari data hasil survei selama satu minggu pada kapal cepat Ekpress Bahari Lintas Palembang-Muntok, maka dapat diketahui faktor muat rata-rata kapal cepat Ekpress Bahari tahun 2009, 2010, 2011 seperti yang terlihat pada tabel 4. Tabel 4. Load Faktor Rata-Rata tahun Data LF hari/ bulan LF Rata-rata Hasil Survei (primer) 395% 7 hari 56% 2009 (sekunder) 685% 12 Bulan 57% % 12 Bulan 66% % 12 Bulan 57% Sumber : Hasil Perhitungan Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa antara data primer dan data sekunder Load Faktor rata-rata penumpang kapal cepat Ekpress Bahari tidak mengalami perbedaan yang terlampau besar. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut. Gambar 3. Load Faktor Tahun
7 Dari hasil perhitungan biaya operasional kapal dan perhitungan Load Faktor tersebut dapat diketahui tarif yang harus dibayar sesuai dengan faktor muat penumpang kapal cepat berikut : 1. Faktor muat penumpang 100% Tarif 332 orang Rp /orang 2. Faktor muat penumpang 90% Tarif 298orang Rp /orang 3. Faktor muat penumpang 80% Tarif 266orang Rp /orang 4. Faktor muat penumpang 70% Tarif 233orang Rp /orang 5. Faktor muat penumpang 60% Tarif 199 orang Rp /orang 80
8 6. Faktor muat penumpang 56% Tarif 186 orang Rp /orang 7. Faktor muat penumpang 50% Tarif 166 orang Rp /orang Dari hasil perhitungan diatas dapat diketahui tarif yang dibayar oleh satu orang penumpang, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 dijelaskan bahwa penambahan kapasitas angkut dilakukan dengan mempertimbangkan faktor muat rata-rata pada lintas penyebrangan tersebut sudah mencapai diatas 70% per tahun. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa pada Load Faktor tersebut yaitu Rp /penumpang naumun tarif yang harus dikeluarkan oleh penumpang sesuai dengan Load Faktor dilapangan dari hasil survey diketahui tarif yang dibayar oleh penumpang adalah sebesar Rp / orang namun tarif tersebut diatas belum ditambah dengan pas pelabuhan dan asuransi jiwa. Sedangkan tarif yang ada dilapangan saat ini sebesar Rp /penumpang. 4. KESIMPULAN Dari hasil pembahasan yang telah dikemukakan pada bagian-bagian sebelumnya, maka dapat diambil beberpa kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari hasil perhitungan berdasarkan data yang didapat diketahui bahwa faktor-faktor yang sangat mempengaruhi dalam perhitungan Biaya Operasional Kapal () adalah Biaya BBM pada Biaya Langsung dan Biaya Sewa Kantor Pada Biaya Tidak Langsung. 2. Dari hasil analisa diketahui juga bahwa Biaya Langsung sangat dipengaruhi oleh BiayaTidak Tetap sebesar 98% dan Biaya Tetap hanya 2%, sedangkan untuk Biaya Tidak Langsung hanya 37% untuk biaya tetap dan 63% untuk biaya tidak tetap. 3. Untuk tarif diketahui bahwa pada Load Factor 70% sesuai PP No.41 Tahun 1993 bahwa tarif yang dikeluarkan sebesar Rp ,- 4. Tarif yang dikeluarkan oleh satu orang penumpang dari hasil survey dan perhitungan bahwa tarif yang dikeluarkan sebesar Rp /orang dengan ditambah pada pelabuhan dan jasa raharja. 5. SARAN Untuk mengurangi hal-hal yang merugikan untuk para penumpang maupun operator kapal itu sendiri maka diharapkan bagi operator kapal agar meninjau ulang tarif yang telah ada dengan mempertimbangkan Load Factor yang ada dilapangan. 81
9 DAFTAR PUSTAKA Abbas Salim Manajemen Transportasi. PT. Raja Grafindo Persada. Badan Diklat Departemen Perhubungan, 2008, Manajemen Operasional ASDP. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, 2004, Keputusan Menteri Perhubungan No. 73 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan Danau. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Jakarta, 2003, Keputusan Menteri Perhubungan No. 58 Tentang Mekanisme Penerapa dan Formulasi Perhitungan Tarif Angkutan Penyeberangan. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Jakarta, 1992, Undang-Undang No. 21 Tentang Pelayaran. Peraturan Penerintah, 1993, No. 41 Tentang Angkutan. Asri Model Pentarifan Angkutan Penyeberangan Lintas Antar Provinsi. Prosiding Penelitian Teknologi Kelautan Makassar. Purba, R Analisis Biaya dan Manfaat. Rineke Putra. Jakarta. Nasution, H.M.N Manajemen Transportasi. Galhia Indonesia. Jakarta. Sitepu, Ganding Analisis Biaya Operasional Kapal Penyeberangan di Wilayah Pulau Tertinggal. Jurnal Penelitian Enjiniring. Makassar 82
Tinjauan Terhadap Tarif Angkutan Kapal Cepat KM. Expres Bahari Lintas Palembang-Muntok di Pelabuhan Boom Baru Palembang
Tinjauan Terhadap Tarif Angkutan Kapal Cepat KM. Expres Bahari Lintas Palembang-Muntok di Pelabuhan Boom Baru Palembang Ramadhani 1 dan Achmad Machdor Alfarizi 2 Jurusan Teknik Sipil Universitas IBA Palembang
STUDI PENENTUAN TARIF PENUMPANG ANGKUTAN BUS KECIL. ( Studi Kasus Trayek Medan-Tarutung ) TUGAS AKHIR. Diajukan Untuk Memenuhi Syarat
STUDI PENENTUAN TARIF PENUMPANG ANGKUTAN BUS KECIL ( Studi Kasus Trayek Medan-Tarutung ) TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Sidang Sarjana Teknik Sipil Disusun Oleh : IMMANUEL A. SIRINGORINGO NPM
ANALISIS BIAYA OPERASIONAL KAPAL PADA BERBAGAI LOAD FAKTOR ANGKUTAN PERINTIS
ANALISIS BIAYA OPERASIONAL KAPAL PADA BERBAGAI LOAD FAKTOR ANGKUTAN PERINTIS Muslihati ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui biaya operasional kapal pada berbagai load faktor. Penelitian ini bersifat
KAJIAN TARIF ANGKUTAN UMUM TRAYEK PAAL DUA POLITEKNIK DI KOTA MANADO
KAJIAN TARIF ANGKUTAN UMUM TRAYEK PAAL DUA POLITEKNIK DI KOTA MANADO Moses Ricco Tombokan Theo K. Sendow, Mecky R. E. Manoppo, Longdong Jefferson Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sam
ANALISA KELAYAKAN TARIF KAPAL FERRY RO-RO KMP AWUAWU LINTASAN BARRU-BATULICIN
PROSIDING 2011 HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK ANALISA KELAYAKAN TARIF KAPAL FERRY RO-RO KMP AWUAWU LINTASAN BARRU-BATULICIN Abdul Haris Djlante (1) Farianto (1) Hendra Wijaya (1) Dosen tetap Jurusan
Keseimbangan antara Pendapatan dan Biaya Operasional Kapal Penyeberangan Lintas Jangkar-Kalianget
ISSN 2355-4721 Keseimbangan antara Pendapatan dan Biaya Operasional Kapal Penyeberangan Lintas Jangkar-Kalianget Keseimbangan antara Pendapatan dan Biaya Operasional Kapal Penyeberangan Lintas Jangkar-Kalianget
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Penelitian Tahapan tahapan yang akan dilakukan dalam menentukan tarif pada bus Mayasari Bakti patas 98A Trayek Pulogadung Kampung Rambutan dapat dilihat pada
Pelayanan dan Tarif Speedboat Nusa Sebayang - Ruslan Effendie
Pelayanan dan Tarif Speedboat Nusa Sebayang - Ruslan Effendie STUDI EVALUASI KINERJA PELAYANAN DAN TARIF MODA ANGKUTAN SUNGAI SPEEDBOAT Studi Kasus: Jalur Angkutan Sungai Kecamatan Kurun ke Kota Palangkaraya,
Rp ,- (Edisi Indonesia) / Rp ,- (Edisi Inggris) US$ 750 Harga Luar Negeri
Hubungi Kami (021) 3193 0108 (021) 3193 0109 (021) 3193 0070 (021) 3193 0102 [email protected] www.cdmione.com A ngkutan barang memegang peranan penting dalam menunjang keberhasilan pembangunan suatu
BAB I PENDAHULUAN. Transportasi adalah suatu jaringan yang secara fisik menghubungkan suatu
BAB I PENDAHULUAN I.1 Umum Transportasi adalah suatu jaringan yang secara fisik menghubungkan suatu ruang dengan ruang kegiatan lainnya, sebagai suatu kegiatan memindahkan atau mengangkut barang atau penumpang
STUDI TINGKAT OKUPANSI KERETA API ARGO GEDE
STUDI TINGKAT OKUPANSI KERETA API ARGO GEDE Sianty Agustine NRP : 9921032 Pembimbing : Budi Hartanto S, Ir., M. Sc UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL BANDUNG ABSTRAK Kereta
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Secara spesifik, tahapan-tahapan langkah yang diambil dalam menentukan tarif
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Langkah kerja penelitian Secara spesifik, tahapan-tahapan langkah yang diambil dalam menentukan tarif pada angkutan Bus DAMRI Trayek Blok M Bandara Soekarno-Hatta dapat
PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN MARET 2016
PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No. 24/05/16/Th.XVIII, 02 Mei PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN MARET Jumlah
PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SULAWESI BARAT
BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 73/12/76/Th. X, 1 Desember PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SULAWESI BARAT, PENERBANGAN MELALUI BANDARA TAMPA PADANG DAN SUMARORONG MENURUN 3,54 PERSEN Jumlah pesawat yang berangkat
BPS PROVINSI LAMPUNG PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SEPTEMBER 2015 PROVINSI LAMPUNG. No. 12/11/18/Th. III, 2 NOPEMBER 2015
BPS PROVINSI LAMPUNG No. 12/11/18/Th. III, 2 NOPEMBER PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SEPTEMBER PROVINSI LAMPUNG Jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang Lampung pada
TINJAUAN PENETAPAN TARIF TAKSI DI KOTA PADANG
TINJAUAN PENETAPAN TARIF TAKSI DI KOTA PADANG Titi Kurniati Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Andalas ABSTRAK Salah satu pilihan angkutan umum yang tersedia di kota Padang adalah taksi, yang
Angkutan Jalan a) Jaringan Pelayanan Angkutan Jalan
1 LAMPIRAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR : 40 Tahun 2013 TANGGAL : 4 Nopember 2013 I. Target Standar Minimal Bidang Perhubungan Daerah Banyuwangi Standar Minimal Batas NO. Jenis Dasar Waktu Keterangan
FORMULASI TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN PERINTIS
FORMULASI TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN PERINTIS Ganding Sitepu 1, A. Haris Muhammad 1, dan Muslihati 2 1 Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin 2 Mahasiswa Teknik Perkapalan,
2017, No Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5070) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nom
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.306, 2017 KEMENHUB. Penyelenggaraan Angkutan Laut Perintis. Komponen Penghasilan. Biaya diperhitungkan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 15
BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan akan transportasi bermula dari suatu penyebaran kegiatan sosial dan kegiatan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Umum Kebutuhan akan transportasi bermula dari suatu penyebaran kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi di suatu wilayah.transportasi merupakan suatu sarana yang berkorelasi positif terhadap
2017, No diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepela
No.140, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMHUB. Angkutan Barang di Laut. Komponen Penghasilan. Biaya Yang Diperhitungkan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 3 TAHUN 2017 TENTANG
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Angkutan Umum Angkutan pada dasarnya adalah sarana untuk memindahkan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lain. Tujuannya membantu orang atau kelompok orang menjangkau
Headway (menit) Kapasitas penumpang (orang) Jumlah Penumpang (orang) Roda dua. Load Factor. tiba. Tabel A1 DATA HEADWAY dan LOAD FACTOR
Tabel A DATA HEADWAY dan LOAD FACTOR : Senin : 7 juni : 07.00 09.00 wib Tj. Sarang Elang Labuhan Bilik Armada Waktu 7.03 6-20 30.00 2 7.2 9 8-20 40.00 3 7.2 9 2 20 55.00 4 7.3 9 8 20 40.00 5 7.38 8 9-20
BAB I PENDAHULUAN. sistem transportasi seimbang dan terpadu, oleh karena itu sistem perhubungan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perhubungan nasional pada hakekatnya adalah pencerminan dari sistem transportasi seimbang dan terpadu, oleh karena itu sistem perhubungan sebagai penunjang utama
UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS KELUAR DAERAH DAN DALAM DAERAH
LAMPIRAN III TENTANG PERUBAHAN ATAS NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERJALANAN DINAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA NO. TUJUAN UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS
EVALUASI KINERJA BUS EKONOMI ANGKUTAN KOTA DALAM PROVINSI (AKDP) TRAYEK PADANG BUKITTINGGI
EVALUASI KINERJA BUS EKONOMI ANGKUTAN KOTA DALAM PROVINSI (AKDP) TRAYEK PADANG BUKITTINGGI Helga Yermadona Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat ABSTRAK Penelitian mengenai evaluasi
ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA PENGANGKUTAN PETI KEMAS JAKARTA SURABAYA ANTARA JALUR DARAT DAN JALUR LAUT DENGAN KAPAL RO-RO. Eko Dafiyani.
ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA PENGANGKUTAN PETI KEMAS JAKARTA SURABAYA ANTARA JALUR DARAT DAN JALUR LAUT DENGAN KAPAL RO-RO Eko Dafiyani Sunaryo Program Studi Teknik Perkapalan, Departemen Teknik Mesin,
PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SULAWESI BARAT
BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 04/01/76/Th. XI, 3 Januari 2017 PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SULAWESI BARAT, PENERBANGAN MELALUI BANDARA TAMPA PADANG DAN SUMARORONG MENURUN SAMPAI 6,42 PERSEN Jumlah pesawat
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Umum Kebijakan penetuan tarif angkutan penumpang umum harus dipertimbangkan sesuai dengan harga fluktuasi bahan bakar minyak yang setiap tahun berubah.
STUDI KINERJA DAN TARIF MODA ANGKUTAN PENYEBERANGAN SUNGAI (Studi kasus Tanjung Sarang Elang Labuhan Bilik) Tugas akhir
STUDI KINERJA DAN TARIF MODA ANGKUTAN PENYEBERANGAN SUNGAI (Studi kasus Tanjung Sarang Elang Labuhan Bilik) Tugas akhir Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi Syarat untuk menempuh seminar
PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN AGUSTUS 2015
PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No. 56/10/16/Th.XVIII, 01 Oktober PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN
BAB I PENDAHULUAN. aktivitas tersebut memerlukan berbagai sarana transportasi. Pelayanan transportasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus melaksanakan berbagai aktivitas yang tidak selalu berada pada satu tempat. Untuk melakukan aktivitas tersebut memerlukan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. DAMRI rute bandara Soekarno Hatta _ Bogor, dibuat bagan alir sebagai berikut :
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Langkah Kerja Untuk mengevaluasi tingkat pelayanan terhadap kepuasaan pelanggan bus DAMRI rute bandara Soekarno Hatta _ Bogor, dibuat bagan alir sebagai berikut : Mulai
BAB III LANDASAN TEORI. SK.687/AJ.206/DRJD/2002 tentang tentang pedoman teknis penyelenggaraan
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Kapasitas Kendaraan Menurut Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor SK.687/AJ.206/DRJD/2002 tentang tentang pedoman teknis penyelenggaraan angkutan penumpang umum
PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN OKTOBER 2016
PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No.69/12/16/Th.XVIII, 01 Desember PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN
BPS PROVINSI LAMPUNG PERKEMBANGAN TRANSPORTASI OKTOBER 2016 PROVINSI LAMPUNG. No. 12/12/18/Th. IV, 1 Desember 2016
BPS PROVINSI LAMPUNG PERKEMBANGAN TRANSPORTASI OKTOBER PROVINSI LAMPUNG No. 12/12/18/Th. IV, 1 Desember Jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang Lampung pada sebanyak
2016, No Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.497, 2016 KEMHUB. Angkutan Penyebrangan. Tarif. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 37 TAHUN 2016 TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN
PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006
PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006 PENGENALAN DASAR-DASAR ANALISIS OPERASI TRANSPORTASI Penentuan Rute Sistem Pelayanan
2017, No Republik Indonesia Nomor 5070) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peratur
No.101, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMHUB. Angkutan Laut Perintis. Komponen Penghasilan. Biaya Yang Diperhitungkan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 2 TAHUN 2017 TENTANG
EVALUASI TARIF KERETA API KOMUTER LAWANG-MALANG-KEPANJEN
EVALUASI TARIF KERETA API KOMUTER LAWANG-MALANG-KEPANJEN Yonky Prasetyo, Eko Priyo Jatmiko, Ir. Achmad Wicaksono, M.Eng, Ph.D, Ir. Gagoek Soenar Prawito Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN SEPTEMBER 2016
PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No.61/11/16/Th.XVIII, 01 November PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN
ANALISIS PENENTUAN TARIF STANDAR ANGUTAN KOTA DI KABUPATEN BANYUWANGI. Rahayuningsih ABSTRAK
ANALISIS PENENTUAN TARIF STANDAR ANGUTAN KOTA DI KABUPATEN BANYUWANGI Rahayuningsih ABSTRAK Tarif adalah biaya yang dibayarkan oleh pengguna jasa angkutan persatuan berat atau penumpan per kilometer, penetapan
PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 04 TAHUN 2005
PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 04 TAHUN 2005 TENTANG PENERBITAN SURAT-SURAT KAPAL, SURAT KETERANGAN KECAKAPAN, DISPENSASI PENUMPANG DAN SURAT IZIN BERLAYAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
BPS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
CQWWka BPS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH No. 15/06/62/Th.X, 1 Juni PERKEMBANGAN JASA TRANSPORTASI Selama April, Jumlah Penumpang Angkutan Laut dan Udara Masing-Masing 14.053 Orang dan 117.098 Orang. Jumlah
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN KEWAJIBAN PELAYANAN PUBLIK UNTUK ANGKUTAN BARANG DARI DAN KE DAERAH TERTINGGAL, TERPENCIL, TERLUAR, DAN PERBATASAN DENGAN
2017, No c. bahwa untuk mempercepat penyelenggaraan kewajiban pelayanan publik untuk angkutan barang di laut, darat, dan udara diperlukan progr
No.165, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PELAYANAN PUBLIK. Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar, Perbatasan. Angkutan Barang. Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN JUNI 2015
PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., 2007 No. 42/08/16/Th.XVIII, 01 Agustus PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN
BAB I PENDAHULUAN. Transportasi merupakan salah satu aspek penunjang kemajuan bangsa terutama
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan transportasi pada saat ini sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh kemajuan teknologi dan taraf hidup masyarakat yang semakin meningkat. Transportasi merupakan
BPS PROVINSI LAMPUNG PERKEMBANGAN TRANSPORTASI APRIL 2017 PROVINSI LAMPUNG. No. 12/06/18/Th. VI, 2 Juni 2017
BPS PROVINSI LAMPUNG PERKEMBANGAN TRANSPORTASI APRIL PROVINSI LAMPUNG No. 12/06/18/Th. VI, 2 Juni Jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang Lampung pada sebanyak
MODEL PERMINTAAN JASA ANGKUTAN PENYEBERANGAN BAJOE-KOLAKA
PROS ID I NG 2 0 1 1 HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK MODEL PERMINTAAN JASA ANGKUTAN PENYEBERANGAN BAJOE-KOLAKA Jurusan Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10
BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk. Perkembangan transportasi pada saat ini sangat pesat. Hal ini
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Transportasi merupakan salah satu aspek penunjang kemajuan bangsa terutama dalam kegiatan perekonomian negara yang tidak lepas dari pengaruh pertambahan jumlah penduduk.
PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN JULI 2015
PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No. 52/09/16/Th.XVIII, 01 September PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA
PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SULAWESI BARAT
BPS PROVINSI SULAWESI BARAT No. 09/02/76/Th. XI, 01 Februari 2017 PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SULAWESI BARAT, PENERBANGAN MELALUI BANDARA TAMPA PADANG DAN SUMARORONG MENURUN SAMPAI 5,88 PERSEN Jumlah pesawat
ANALISIS KINERJA PELAYANAN DAN TANGGAPAN PENUMPANG TERHADAP PELAYANAN PELABUHAN PENYEBERANGAN JANGKAR DI KABUPATEN SITUBONDO
ANALISIS KINERJA PELAYANAN DAN TANGGAPAN PENUMPANG TERHADAP PELAYANAN PELABUHAN PENYEBERANGAN JANGKAR DI KABUPATEN SITUBONDO Alfian Zaki Ghufroni Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pengantar Dalam rangka penyusunan laporan Studi Kajian Jalur Angkutan Penyangga Kawasan Malioboro berbasis studi kelayakan/penelitian, perlu dilakukan tinjauan terhadap berbagai
BPS PROVINSI LAMPUNG PERKEMBANGAN TRANSPORTASI MARET 2016 PROVINSI LAMPUNG. No. 12/05/18/Th. IV, 2 MEI 2016
BPS PROVINSI LAMPUNG PERKEMBANGAN TRANSPORTASI MARET PROVINSI LAMPUNG No. 12/05/18/Th. IV, 2 MEI Jumlah penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang Lampung pada Maret sebanyak
2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Pemerintah Nomor
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 431, 2016 KEMENHUB. Penumpang. Angkutan Penyeberangan. Kewajiban. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 28 TAHUN 2016 TENTANG KEWAJIBAN PENUMPANG
PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN MARET 2017
PERDAGANGAN LUAR NEGERI EKSPOR - IMPOR SUMATERA SELATAN MEI 2006 BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN No. / /Th., Mei 2007 No. 23/05/16/Th.XIX, 02 Mei PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI SUMATERA SELATAN
STUDI EFEKTIFITAS PELAYANAN ANGKUTAN KOTA JURUSAN ABDUL MUIS DAGO
STUDI EFEKTIFITAS PELAYANAN ANGKUTAN KOTA JURUSAN ABDUL MUIS DAGO Astrid Fermilasari NRP : 0021060 Pembimbing : Ir. Silvia Sukirman FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL. BAB IX SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (Lanjutan)
Kuliah ke 13 PERENCANAAN TRANSPORT TPL 307-3 SKS DR. Ir. Ken Martina K, MT. BAB IX SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (Lanjutan) Jaringan Transportasi dalam Tatranas terdiri dari : 1. Transportasi antar moda
2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Pemerintah Nomor
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.430,2016 KEMENHUB. Jasa. Angkutan Penyeberangan. Pengaturan dan Pengendalian. Kendaraan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 27 TAHUN 2016 TENTANG
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 89 TAHUN 2002 TENTANG
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM. 89 TAHUN 2002 TENTANG MEKANISME PENETAPAN TARIF DAN FORMULA PERHITUNGAN BIAYA POKOK ANGKUTAN PENUMPANG DENGAN MOBIL BUS UMUM ANTAR KOTA KELAS EKONOMI MENTERI PERHUBUNGAN,
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii
KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia-nya Buku Informasi Transportasi Kementerian Perhubungan 2012 ini dapat tersusun sesuai rencana. Buku Informasi Transportasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebutuhan untuk sarana transportasi umum dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dalam hal ini, transportasi memegang peranan penting dalam memberikan jasa layanan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Langkah Kerja Untuk melakukan evaluasi kinerja dan tarif bus DAMRI trayek Bandara Soekarno Hatta Kampung Rambutan dan Bandara Soekarno Hatta Gambir dibuat langkah kerja
BAB I PENDAHULUAN. digunakan manusia dalam membantu kegiatannya sehari-hari.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat dilepaskan dengan arus lalu lintas transportasi. Semua kebutuhan dan kegiatan yang dilakukan dalam pekerjaan sehari-hari
BAB I PENDAHULUAN. konsekuensi logis yaitu timbulnya lalu lintas pergerakan antar pulau untuk
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membawa konsekuensi logis yaitu timbulnya lalu lintas pergerakan antar pulau untuk pemenuhan kebutuhan barang dan
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 59 TAHUN 2015 TENTANG RINCIAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR
2016, No Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 43, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5208); 3. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 20
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.33, 2016 KEMENHUB. Tarif. Angkutan Penyeberangan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 5 TAHUN 2016 TENTANG TARIF ANGKUTAN PENYEBERANGAN
BPS PROVINSI SULAWESI BARAT
BPS PROVINSI SULAWESI BARAT PERKEMBANGAN TRANSPORTASI SULAWESI BARAT No. 26/05/76/Th.X, 2 Mei Jumlah pesawat yang berangkat dan datang melalui Bandara Tampa Padang Mamuju dan Sumarorong Mamasa Sulawesi
STATISTIK PERHUBUNGAN KABUPATEN MAMUJU 2014
s. bp uk ab. am uj m :// ht tp id go. STATISTIK PERHUBUNGAN KABUPATEN MAMUJU 2014 ISSN : - No. Publikasi : 76044.1502 Katalog BPS : 830.1002.7604 Ukuran Buku : 18 cm x 24 cm Jumlah Halaman : v + 26 Halaman
2017, No Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2720); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Lemb
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.603, 2017 KEMENHUB. Angkutan Penyeberangan Lintas Antarprovinsi. Tarif. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 30 TAHUN 2017 TENTANG TARIF
P. BIDANG PERHUBUNGAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN
P. BIDANG PERHUBUNGAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN 1 2 3 1. Perhubungan Darat 1. Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) 1. Penyusunan dan penetapan rencana umum jaringan transportasi jalan daerah. 2.
TINJAUAN PUSTAKA Transportasi. Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut,
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Transportasi Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat lain, dimana di tempat ini objek tersebut
BAB I PENDAHULUAN. pemerintah, yang dapat digunakan oleh siapa saja dengan cara membayar atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angkutan umum adalah kendaraan umum untuk mengangkut barang atau orang dari satu tempat ke tempat lain, yang disediakan oleh pribadi, swasta, atau pemerintah, yang
ANALISIS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DARI PENGOPERASIAN KAPAL 5000 GT DI PERAIRAN GRESIK-BAWEAN
ANALISIS KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DARI PENGOPERASIAN KAPAL 5000 GT DI PERAIRAN GRESIK-BAWEAN Yudi Hermawan N.R.P. 4106 100 062 Jurusan Teknik Perkapalan Bidang Studi Transportasi Laut Institut Teknologi
P. BIDANG PERHUBUNGAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN
P. BIDANG PERHUBUNGAN SUB BIDANG SUB SUB BIDANG URAIAN 1 2 3 1. Perhubungan Darat 1. Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) 1. Penyusunan dan penetapan rencana umum jaringan transportasi jalan 2. Pemberian
