I.PENDAHULUAN II. SEJARAH AKUAKULTUR
|
|
|
- Surya Kurniawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 I.PENDAHULUAN Dasar-dasar akuakultur merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari prinsipprinsip dasar pelaksanaan akuakultur atau budidaya perairan. Akuakultur terdiri dari semua organisme ( nabati/hewani) air yang memiliki nilai ekonomis penting untuk dipelihara dan dibudidayakan, terdiri dari : a. Komoditas vertebrata (hewan air bertulang belakang) seperti ikan. b. Komoditas avertebrata (hewan air tidak bertulang belakang) seperti udang, kepiting, teripang, dan kerang-kerangan termasuk jenis zooplankton sebagai pakan alami sepeerti artemia, rotifer, dll. c. Komoditas tumbuhan atau tanaman air seperti rumput laut serta jenis-jenis pakan alami (phytoplankton) seperi chlorella sp, dll. Beberapa aspek penting yang harus difahami dalam dasar-dasar akuakultur antara lain pengetahuan tentang : - System akuakultur - Air - Tanah - Iklim/cuaca - Ekosistem dan ekologi lingkungan dalam kolam atau tambak, dll. II. SEJARAH AKUAKULTUR Akuakultur memiliki sejarah yang cukup panjang, di Asia akuakultur sudah dilaksanakan lebih dari 4000 tahun lalu. Pada pertengahan tahun 1980-an, produksi akuakultur memberikan kontribusi hanya 14 % dari produksi perikanan dunia. Pada saat itu, produksi perikanan lebih banyak disuplai dari hasil tangkapan di laut (perikanan tangkap). Baru sekitar tahun 1990-an, kontribusi akuakultur meningkat menjadi 27,6 %, di Asia akuakultur sudah memperlihatkan kekuatannya dengan mensuplai 91 % dari total produksi akuakultur dunia (Anonymous,2000). Akuakultur memegang peranan penting dalam penyediaan konsumsi (makanan/ikan) bagi penduduk dunia serta penghasil devisa seiring menurunnya hasil tangkapan di laut akibat over eksploitasi dan over fishing. Akuakultur di Indonesia, dimulai sejak 6 abad yang lalu. Pada tahu tahun 2003, kebutuhan ikan untuk konsumsi dalam negeri dan eksport akan mencapai sekitar 10 juta ton/tahun. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, maka semakin meningkat pula kebutuhan akan ikan dunia. Salah satu implementasi dan alternative pendekatan dalam kegiatan tersebut adalah melalui pengembangan usaha budidaya. Usaha budidaya ini diharapkan dapat memenuhi permintaan akan komoditas perikanan serta penyediaan stock produksi ikan dan atau udang, baik ukuran benih, konsumsi maupun stock induk yang sudah mulai berkurang.
2 Produksi budidaya dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan kecenderungan kenaikan yang mencolok bila dibandingkan dengan produksi perikanan tangkap. Selama lima tahun ( ) telah terjadi kenaikan produksi budidaya sebesar 33,7 % atau 6,7 % per tahun, sedangkan pada kurun waktu yang sama kenaikan produksi perikanan tangkap hanya mencapai 7,8 % atau 1,6 % per tahun (FAO, 2000). Data di atas menunjukkan bahwa sebenarnya budidaya merupakan peluang dan potensi yang cukup besar bagi peningkatan produktifitas perikanan yang nantinya mungkin dapat mengimbangi dan memenuhi kebutuhan komoditas perikanan tangkap, dll. III. DEFINISI AKUAKULTUR Akuakultur adalah budidaya organisme air di dalam kondisi yang terkontrol atau semi terkontrol. Akuakultur adalah kegiatan untuk memproduksi biota(organism) akuatik di lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan(profit). Organism yang dimaksud antara lain : kerang-kerangan(mollusca), udang (crustaceae), ikan(pisces), atau rumput laut(algae). Akuakultur merupakan serangkaian proses kegiatan panjang dan berkesinambungan yang meliputi : a. Pengadaan atau penyediaan benih (breeding) b. Penebaran benih (stoking) c. Meningkatkan produksi pakan alami (manuring fertilization) d. Pemberian makanan tambahan atau buatan (artificial feedind) e. Control, pencegahan, pemberantasan hama, parasit/penyakit (preventive and curative of fish diseases) f. Pasca panen (harvesting) g. Pemasaran (marketing) h. Monitoring dan evaluasi (monitoring and evaluation) i. Analisa usaha (effort analysis) Akuakultur terbagi menjadi tiga bagian, yaitu akuakultur air tawar (freshwater aquaculture), air payau (brackishwater aquaculture), dan air laut (mariculture). Lingkungan perairan dapat dibagi menjadi : - Air tawar dengan salinitas di bawah 0,5 ppt, - Oligohaline dengan salinitas 0,5 3,0 ppt - Mesohaline dengan salinitas 3,0 16,5 ppt - Polyhaline dengan salinitas 16,5 30,0 ppt - Marine dengan salinitas 30,0 40,0 ppt - Hyperhaline dengan salinitas diatas 40,0 ppt.
3 Secara spesifik tujuan akuakultur untuk : 1. Produksi makanan 2. Perbaikan stok alam 3. Produksi ikan untuk rekreasi 4. Produksi ikan umpan 5. Produksi ikan hias 6. Daur ulang bahan organic 7. Produksi bahan industry IV. KOMODITAS AKUAKULTUR Komoditas adalah barang atau produk yang bisa diperdagangkan, jadi komoditas akuakultur adalah species atau jenis ikan(dalam arti luas) yang diproduksi dalam kegiatan akuakultur dan menjadi barang/produk yang bisa diperdagangkan. Contoh komoditas akuakultur dari golongan ikan adalah : - Ikan mas (Cyprinus carpio) - Ikan nila (Oreochromis niliticus) - Ikan lele (Clarias sp) - Ikan gurami (Osphronemus guramy) - Ikan patin (Pangasius sp) - Ikan kerapu macan (Epinephelus fusguttatus) - Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) - Ikan kakap putih (Lates calcarifer) - Ikan bandeng (Chanos chanos) Golongan udang adalah species akuakultur yang memiliki karapas yaitu kulit yang mengandung kitin sehingga bisa mengeras. Contoh komoditas akuakultur dari golongan udang adalah : - Udang windu (Penaeus monodon) - Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) - Udang biru (Penaeus stylostris) - Udang putih (Penaeus merquensis) - Udang lobster (Homarus sp) - Kepiting bakau (Scylla serrata) Golongan moluska adalah species akuakultur yang memiliki cangkang yang keras. Contoh komoditas akuakultur dari golongan moluska adalah : - Kerang mutiara (Pinctada maxima)
4 - Abalone (Heliotis sp) - Kerang hijau (Mytilus sp) - Kerang darah (Anadara sp) Ekinodermata adalah species akuakultur yang memiliki kulit berduri yang berfungsi sebagai alat gerak. Contoh komoditas akuakultur dari golongan echinodermata adalah : - Teripang (Holothuria sp) Golongan alga adalah species akuakultur yang bersel tunggal, terdiri dari microalga dan macroalga. Contoh microalga/fitoplankton : Chlorella sp Contoh macroalga adalah rumput laut : Euchema cottoni, Glacilaria sp. Berdasarkan jenis pakannya, komoditas akuakultur secara alamiah dikelompokkan menjadi tiga golongan : 1. Herbivora Golongan herbivore adalah spesies akuakultur dengan makanan utamanya berupa tanaman(nabati) contoh : - Ikan gurami (Osfronemus guramie) sebagai pemakan daun (makrofita) - Ikan tawes (Puntius javanicus) sebagai pemakan rumput/daun - Ikan tambakan sebagai pemakan plankton - Ikan bandenga (Chanos chanos), sebagai pemakan klekap (koloni makanan alami yang terdiri dari lumut, perifiton, dan bentos yang tumbuh di dasar tambak) - Ikan sepat (Trichogaster sp) sebagai pemakan phytoplankton Spesies herbivore pemakan phytoplankton disebut pula sebagai herbivore microfiltering (fitofagus) 2. Karnivora Golongan karnivora adalah spesies akuakultur pemakan daging (hewani) sehingga hewan ini disebut dengan ikan predator. Contoh : - Ikan kerapu - Ikan kakap putih - Ikan belut - Udang dan lobster Biasanya ikan-ikan predator sulit untuk menerima makanan buatan, namun melalui serangkaian pembelajaran makanan/adaptasi (weaning) beberapa ikan predator sudah bisa menerima makanan buatan.
5 3. Omnivore Golongan omnivorra adalah spesies akuakultur yang bisa makan segala jenis makanan. Makanan yang dikonsumsi spesies ini bisa sebagian besar dari kelompok nabati sehingga disebut ikan omnivore. Contoh : - Ikan mas - Ikan nila - Ikan mujaer (mengarah ke herbivore) - Ikan lele - Ikan patin - Udang (mengarah ke karnivora) Pemilihan spesies untuk akuakultur didasarkan kepada pertimbangan karakteristik biologi, pasar dan social ekonomi. 1. Pertimbangan biologi Meliputi reproduksi, fisiologi, tingkah laku, morfologi, ekologi, dan distribusi biota yang akan dikembangkan sebagai komoditas akuakultur. Beberapa pertimbangan biologi tersebut adalah : - Kemampuan memijah dalam lingkungan budidaya dan memijah secara buatan - Ukuran dan umur pertama kali matang gonad - Fekunditas - Laju pertumbuhan dan produksi - Tingkat trofik - Toleransi terhadap kualitas air dan daya adaptasi - Ketahanan terhadap stress dan penyakit - Kemampuan mengonsumsi pakan buatan - Konversi pakan - Toleransi terhadap penanganan - Dampak terhadap lingkungan 2. Pertimbangan ekonomi dan pasar Pertimbangan ekonomi dan pasar lebih penting daripada pertimbangan biologi dalam memilih spesies untuk dikulturkan. Pertimbangan ekonomi dan pasar dalam memilih spesies mencakup beberapa hal, antara lain : - Permintaan pasar - Harga dan keuntungan - System pemasaran (marketing) - Ketersediaan sarana dan prasarana produksi
6 - Pendapatan masyarakat. Domestika dan introduksi spesies baru A. Domestika spesies adalah menjadikan spesies liar (wild species) menjadi spesies akuakultur. Ada tiga tahapan domestikasi spesies liar, yaitu: 1. Mempertahankan agar bisa tetap hidup (survive) dalam lingkungan akuakultur (wadah terbatas, lingkungan artificial dan terkontrol) 2. Menjaga agar tetap bisa tumbuh 3. Mengupayakan agar bisa berkembang biak dalam lingkungan akuakultur. B. Introduksi spesies adalah mendatangkan spesies akuakultur dari kawasan lain untuk meningkatkan jumlah jenis komoditas dan perbaikan genetis. Tujuan introduksi spesies baru adalah untuk meningkatkan produksi akuakultur, mendatangkan biota ikan hias dan biota sebagai filter biologis. Beberapa pertimbangan untuk mengintroduksi spesies baru adalah : - Spesies yang diintroduksi hendaknya sesuai dengan kebutuhan, tujuan introduksi juga harus jelas - Tidak menyaingi spesies native yang bernilai sehingga menyebabkan menurunnya bahkan punahnya populasi spesies native tersebut - Tidak terjadi kawin silang dengan spesies native sehingga menghasilkan hybrid yang tidak dikehendaki - Spesies yang diintroduksi tidak ditunggangi oleh hama, parasit, atau penyakit yang mungkin bisa menyerang spesies native - Spesies yang diintroduksi dapat hidup dan berkembang biak dalam keseimbangan dengan lingkungan barunya. V. SUMBER DAYA AIR Berdasarkan kadar garamnya (salinitas) perairan di permukaan bumi dibagi menjadi tiga golongan yaitu : 1. Perairan air tawar Perairan air tawar terdapat di daratan mulai dari pegunungan, perbukitan, hingga dataran rendah dekat pantai, berupa : - Danau - Situ - Waduk - Sungai - Saluran irigasi - Mata air - Sumur
7 - Air hujan. 2. Perairan payau Perairan payau berlokasi di muara sungai dan pantai tempat terjadinya transisi dari kondisi air tawar ke kondisi air asin (laut), antara lain : - Perairan payau di muara sungai dan pantai - Perairan payau di rawa - Perairan payau di paluh 3. Perairan laut Perairan laut adalah perairan yang berada di laut dan memiliki kadar garam berkisar antara ppt. berupa : - Perairan laut yang menjorok masuk ke dalam daratan - Perairan laut diantara dua atau beberapa pulau - Perairan laut dangkal (berlokasi di dekat pantai). VI. SISTEM DAN JENIS AKUAKULTUR Pada dasarnya system budidaya perairan (akuakultur) khususnya untuk ikan ada dua system, yaitu : 1. Sistem air tenang, Sistem air tenang diantaranya seperti akuakultur di waduk, rawa, empang, danau, dll. Zonneveld et al. (1991) menyatakan, dari segi biologis sistem air tenang dapat dikatakan sebagai suatu ekosistem alam, karena kolam air tenang memungkinkan terjadinya semua proses produksi, konsumsi dan dekomposisi pada semua tingkat trofik (trophic level) 2. Sistem air mengalir, Sistem ini lebih bersifat bersifat industrial daripada bersifat ekologis. Di dalam sistem ini, kecepatan aliran air sangat menentukan jumlah makanan yang diubah menjadi daging ikan. Pada sistem ini air berfungsi sebagai factor fisiologis untuk membawa oksigen terlarut ke dalam tubuh ikan. Sistem air mengalir terdiri dari dua macam, yaitu : a. Sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi merupakan sistem air mengalir dengan air masuk dan air keluar mengalir secara bersamaan dan terus menerus, seperti akuakultur di sungai dalam bentuk karamba maupun kolam/tambak dengan sistem sirkulasi. b. Sistem resirkulasi, Sistem resirkulasi merupakan sistem air mengalir secara terus menerus tanpa ada pergantian air baru dan pembuangan air. Akuakultur sistem ini memperlihatkan beberapa perbaikan, karena sistem ini memungkinkan terjadinya dua proses ekologi yaitu konsumsi dan dekomposisi. Proses dekomposisi melibatkan proses bioteknologi seperti sedimentasi, filtrasi,
8 biodegradasi, aerasi, dan bisa pula sterilisasi air. Tambak yang ada sekarang dengan kondisi pencemaran perairan (lingkungan) yang sangat tinggi, mungkin lebih cocok apabila menggunakan sistem budidaya air mengalir secara resirkulasi tanpa ada masukan air baru, tetapi memanfaatkan air buangan dengan menggunakan filter. Akuakultur (budidaya) dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu : 1. Sistem monokultur, Sistem monokultur adalah memlihara (stocking) hanya satu spesies (ikan/udang) di dalam suatu kolam atau tambak. Sistem ini memiliki sifat-sifat padat penebaran (stocking density) sangat tinggi, sangat tergantung pada makanan buatan (artificial feeding), perlu aerasi tambahan (kincir), dan pergantian serta sirkulasi air secara teratur dan terkontrol. Sistem monokultur terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan penebaran (stocking), antara lain : a. Mono-size stocking, yaitu menebar ikan dengan ukuran yang sama, pada kolam yang sama dan semua di panen pada ukuran konsumsi. b. Multi-size stocking, yaitu menebar ikan dengan ukuran berbeda pada kolam yang sama. c. Multi-stage stocking, yaitu menebar ikan dengan ukuran berbeda pada kolam yang berbeda. d. Monosex stocking, yaitu menebar ikan dengan jenis kelamin (sex) yang sama e. Double cropping, yaitu menebar dua jenis ikan yang berbeda dalam satu kolam pada waktu yang berlainan. 2. Sistem polikultur, Polikultur merupakan sistem budidaya (akuakultur) dengan pemanfaatan lahan budidya secara efisien dan maksimal untuk mendapatkan hasil yang optimal attau maksimal. Polikultur adalah budidaya lebih dari satu spesies organism air pada kolam yang sama. Konsep dasar budidaya sistem polikultur adalah menebar beberapa spesies organism air (ikan/udang) yang mempunyai kebiasaan makan yang berbeda atau mencari makan di daerah atau zona yang berbeda serta menempati ruang hidup yang berbeda. Jenis-jenis akuakultur (budidaya) antara lain : - Tambak/kolam air tenang - Tambak/kolam air deras - Karamba (cage) - Jarring apung (japung).
9 Berdasarkan kegiatan pengelolaannya, akuakultur dapat dibedakan menjadi tiga sistem, yaitu : 1. Akuakultur sistem ekstensif 2. Akuakultur sistem semi intensif 3. Akuakultur sistem intensif. Akuakultur sistem ekstensif sangat tergantung pada kondisi lingkungan alamiah dan produktivitas alamiahnya. Sebaliknya, akuakultur sistem intensif dikondisiskan dengan pola padat penebaran sangat tinggi, tergantung pada pakan buatan secara dominan dan control kualitas lingkungan hidup (air) yang sangat ketat. Jenis-jenis akuakultur antara lain, kolam atau tambak air tenang, karamba (cage) apung atau tancap dan kolam air deras. Kolam air tenang adalah wadah pemeliharaan ikan yang di dalamnya terdapat air bersifat mengenang (stagnant). Kolam air tenang menggunakan perairan tawar sebagai sumber airnya, yaitu sungai, saluran irigasi, mata air, air hujan, sumur, waduk, danau, dan situ. Di dalam kolam air tenang terjaddi proses ekologi sebagai proses produksi biomassa nabati melalui aktifitas fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air (makrofit), proses konsomsi oleh organism hewani (ikan), dan proses dekomposisi bahan organic di dasar kolam menjadi hara oleh bakteri pengurai. Kolam air deras (raceway) adalah kolam yang didesain untuk memungkinkan terjadinya aliran air (flowthrough) dalam pemeliharaan ikan dengan padat penebaran yang tinggi. Debit air di kolam air deras dapat ditentukan dengan patokan setiap 10 menit seluruh air kolam sudah berganti semua. VII. EKOSISTEM KOLAM IKAN Ekosistem adalah sistem yang berlangsung dalam ekologi. Eksistem kolam merupakan suatu unit dasar yang terdiri darisubstansi abiotik (benda-benda mati) dan substansi biotic ( organism hidup). Kedua substansi tersebut saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Substansi abiotik terdiri dari senyawa organic dan anorganik, sedankan substansi biotic terbagi atas produsen (produser), konsumen (consumer) dan pengurai atau decomposer (saprothrops). Ada beberapa fungsi yang bekerja dalam suatu ekosistem, antara lain : - Aliran energy (energy circuits) - Rantai makanan (food chains) - Corak keragaman dalam ruang dan waktu (diversity patterns in time and space) - Daur nutrient (nutrient biogeochemical systems)
10 - Perkembangan dan evolusi (development and evolution) - Control (cybernetics). TANAMAN/TUMBUHAN 1. Fitoplankton Fitoplankton dapat dikatakan sebagai pembuka kehidupan di bumi ini. Fitoplankton merupakan tumbuhan bersel tunggal yang memiliki ukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan daun tumbuhan tingkat tinggi. Ia mampu menyerap energy sinar matahari lebih besar untuk proses fotosintesa. Selain itu daur hidupnya pendek dan mampu berkembangbiak dalam waktu yang singkat. Fitoplankton ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan, terutama bagi organisme perairan dan lingkungan perairan tersebut (kualitas air). Species fitoplankton yang terdapat dalam kolam ikan termasuk kelompok : - Chlorophyta (green algae) - Cyanophyta (blue-green algae) - Chrysophyta (diatoms dan golden brown algae) - Euglenophyta - Pyrrhophyta 2. Tanaman air (aquatic macrophyte) Tanaman air dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan cirri-ciri dan sifat yang dimilikinya. a. Emergent Jenis tanaman ini memiliki kadar selulosa yang tinggi dan hidup pada perairan yang dangkal. Tanaman ini mendapatkan nutrient dari sedimen, tetapi oksigen dan karbondioksida berasal dari udara. Fungsinya adalah sebagai nutrient pump. b. Berakar di tanah dengan daun terapung Tanaman ini memiliki cirri yang sama dengan emergent, tetapi tumbuh di perairan yang lebih dalam. c. Submersed Tanaman ini berakar di tanah, tetapi tumbuhnya di dalam air. Mempunyai struktur batang yang lunak sehingga disukai oleh ikan herbivore, contoh : hidrilla sp. d. Floating e. Creeping Tanaman ini bersifat menjalar atau merambat.
PERIKANAN BUDIDAYA (AKUAKULTUR) Riza Rahman Hakim, S.Pi
PERIKANAN BUDIDAYA (AKUAKULTUR) Riza Rahman Hakim, S.Pi Definisi Akuakultur Berasal dari bahasa Inggris: aquaculture Aqua: perairan, culture: budidaya Akuakultur : kegiatan untuk memproduksi biota (organisme)
Budidaya Perikanan. Modul 1 PENDAHULUAN
B PENDAHULUAN Modul 1 Budidaya Perikanan Irzal Effendi Mulyadi udidaya perikanan atau perikanan budidaya adalah kegiatan memproduksi biota (organisme) akuatik (air) untuk men-dapatkan keuntungan. Selain
I. PENDAHULUAN. perikanan. Usaha di bidang pertanian Indonesia bervariasi dalam corak dan. serta ada yang berskala kecil(said dan lutan, 2001).
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian mencakup kegiatan usahatani perkebunan, perhutanan, peternakan, dan perikanan. Usaha di bidang pertanian Indonesia bervariasi dalam corak dan ragam. Dari sakala
Tinjauan Mata Kuliah. 1 Aquaculture Indonesia Weblog Unggulnya Akuakultur Indonesia (internet artickle, 31 May 2006).
ix Tinjauan Mata Kuliah I ndonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia setelah Brasilia. Di samping itu, Indonesia memiliki keanekaragaman sekitar 45% species ikan
I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki sumber daya hutan bakau yang membentang luas di
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia memiliki sumber daya hutan bakau yang membentang luas di seluruh kawasan Nusantara. Salah satu komoditas perikanan yang hidup di perairan pantai khususnya di
Manfaat dari penelitian ini adalah : silvofishery di Kecamatan Percut Sei Tuan yang terbaik sehingga dapat
Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Diperoleh model dalam pengelolaan lahan mangrove dengan tambak dalam silvofishery di Kecamatan Percut Sei Tuan yang terbaik sehingga dapat bermanfaat bagi pengguna
Teknik pembenihan ikan air laut Keberhasilan suatu pembenihan sangat ditentukan pada ketersedian induk yang cukup baik, jumlah, kualitas dan
Teknik pembenihan ikan air laut Keberhasilan suatu pembenihan sangat ditentukan pada ketersedian induk yang cukup baik, jumlah, kualitas dan keseragaman.induk yang baik untuk pemijahan memiliki umur untuk
EKOSISTEM LAUT DANGKAL EKOSISTEM LAUT DANGKAL
EKOSISTEM LAUT DANGKAL Oleh : Nurul Dhewani dan Suharsono Lokakarya Muatan Lokal, Seaworld, Jakarta, 30 Juni 2002 EKOSISTEM LAUT DANGKAL Hutan Bakau Padang Lamun Terumbu Karang 1 Hutan Mangrove/Bakau Kata
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Tawes 2.1.1 Taksonomi Tawes Menurut Kottelat (1993), klasifikasi ikan tawes adalah sebagai berikut: Phylum : Chordata Classis Ordo Familia Genus Species : Pisces : Ostariophysi
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kawasan pesisir yang cukup luas, dan sebagian besar kawasan tersebut ditumbuhi mangrove yang lebarnya dari beberapa
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kemampuan suatu perairan dalam menerima suatu beban bahan tertentu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Kemampuan suatu perairan dalam menerima suatu beban bahan tertentu dari luar sistem perairannya sehingga dapat dinetralkan atau distabilkan kembali dalam jangka waktu
kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing).
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi sumberdaya perikanan di Indonesia cukup besar, baik sumberdaya perikanan tangkap maupun budidaya. Sumberdaya perikanan tersebut merupakan salah satu aset nasional
BAB I PENDAHULUAN. tumbuhannya bertoleransi terhadap salinitas (Kusmana, 2003). Hutan mangrove
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai berlindung, laguna, dan muara sungai yang tergenang pada saat pasang
BAB 1 PENDAHULUAN. global saat ini. Sektor ini bahkan berpeluang mengurangi dampak krisis karena masih
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Usaha perikanan budidaya dinilai tetap prospektif di tengah krisis keuangan global saat ini. Sektor ini bahkan berpeluang mengurangi dampak krisis karena masih berpotensi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai merupakan suatu perairan yang airnya berasal dari air tanah dan air hujan, yang mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran tersebut dapat
BAB I PENDAHULUAN. upaya untuk meningkatkan produksi perikanan adalah melalui budidaya (Karya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan merupakan salah satu sumber makanan yang sangat digemari masyarakat karena mengandung protein yang cukup tinggi dan dibutuhkan oleh manusia untuk pertumbuhan.
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai potensi perikanan cukup besar. Hal ini ditunjukkan dengan kontribusi Jawa Barat pada tahun 2010 terhadap
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas keseluruhan sekitar ± 5,18 juta km 2, dari luasan tersebut dimana luas daratannya sekitar ± 1,9 juta
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan jumlah penduduk dan pesatnya pembangunan menyebabkan sumber air bersih berkurang, khususnya di daerah perkotaan. Saat ini air bersih menjadi barang yang
I. PENDAHULUAN. diakibatkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya adalah munculnya penyakit yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk negara produksi udang terbesar di dunia, namun produksi tambak udang di Indonesia sejak tahun 1992 mengalami penurunan. Peristiwa penurunan produksi
BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang ± 81.000 km dan luas sekitar 3,1 juta km 2.
AKUAKULTUR ENGGINEERING (REKAYASA AKUAKULTUR)
AKUAKULTUR ENGGINEERING (REKAYASA AKUAKULTUR) GANJAR ADHYWIRAWAN SUTARJO, S.Pi, M.P JURUSAN PERIKANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG Kontrak Kuliah Aquaculture Engineering Ganjar Adhywirawan Sutarjo,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Welly Yulianti, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki luas sekitar enam juta mil persegi, 2/3 diantaranya berupa laut, dan 1/3 wilayahnya berupa daratan. Negara
I. PENDAHULUAN. Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem air tawar merupakan ekosistem dengan habitatnya yang sering digenangi air tawar yang kaya akan mineral dengan ph sekitar 6. Kondisi permukaan air tidak selalu
BAB I PENDAHULUAN. pantai mencapai km dengan luas wilayah laut sebesar 7,7 juta km 2
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki panjang garis pantai mencapai 104.000 km dengan luas wilayah laut sebesar 7,7 juta km 2 (Pusat Data, Statistik dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh pada daerah yang berair payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove memiliki ekosistem khas karena
BAB I PENDAHULUAN. Dalam situasi pasca krisis ekonomi saat ini, sub sektor perikanan merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam situasi pasca krisis ekonomi saat ini, sub sektor perikanan merupakan tumpuan harapan yang diandalkan oleh pemerintah untuk ikut berperan dalam upaya pemulihan
TINJAUAN PUSTAKA. Mangrove merupakan salah satu ekosistem langka dan khas di dunia,
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Mangrove Mangrove merupakan salah satu ekosistem langka dan khas di dunia, karena luasnya hanya 2% permukaan bumi. Indonesia merupakan kawasan ekosistem mangrove terluas di dunia.
EKOLOGI TANAMAN. Pokok Bahasan II KONSEP EKOLOGI (1) Lanjutan...
EKOLOGI TANAMAN Pokok Bahasan II KONSEP EKOLOGI (1) Lanjutan... Ekosistem Perairan / Akuatik Ekosistem air tawar Ekosistem air tawar dibedakan mjd 2, yi : 1. Ekosistem air tenang (lentik), misalnya: danau,
I PENDAHULUAN Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya alam pesisir merupakan suatu himpunan integral dari komponen hayati (biotik) dan komponen nir-hayati (abiotik) yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan
TINJAUAN PUSTAKA. perdagangan internasional dikenal sebagai Mud Crab dan bahasa latinnya Scylla
7 TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Kepiting Bakau (Scylla serrata) Di Indonesia dikenal ada 2 macam kepiting sebagai komoditi perikanan yang diperdagangkan/komersial ialah kepiting bakau atau kepiting lumpur,
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Lele Masamo (Clarias gariepinus) Subclass: Telostei. Ordo : Ostariophysi
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Lele Masamo (Clarias gariepinus) Klasifikasi lele masamo SNI (2000), adalah : Kingdom : Animalia Phylum: Chordata Subphylum: Vertebrata Class : Pisces
I. PENDAHULUAN. Kepiting bakau (Scylla serrata) dapat dijumpai hampir di seluruh perairan pantai. Kepiting
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepiting bakau (Scylla serrata) dapat dijumpai hampir di seluruh perairan pantai. Kepiting hidup di daerah muara sungai dan rawa pasang surut yang banyak ditumbuhi vegetasi
Modul 1 : Ruang Lingkup dan Perkembangan Ekologi Laut Modul 2 : Lautan sebagai Habitat Organisme Laut Modul 3 : Faktor Fisika dan Kimia Lautan
ix M Tinjauan Mata Kuliah ata kuliah ini merupakan cabang dari ekologi dan Anda telah mempelajarinya. Pengetahuan Anda yang mendalam tentang ekologi sangat membantu karena ekologi laut adalah perluasan
BUDIDAYA IKAN NILA MUHAMMAD ARIEF
BUDIDAYA IKAN NILA MUHAMMAD ARIEF BUDIDAYA IKAN NILA POTENSI : - daya adaptasi tinggi (tawar-payau-laut) - tahan terhadap perubahan lingkungan - bersifat omnivora - mampu mencerna pakan secara efisien
Pengaruh Pemberian Pakan Tambahan Terhadap Tingkat Pertumbuhan Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos) Pada Saat Pendederan
Pengaruh Pemberian Pakan Tambahan Terhadap Tingkat Pertumbuhan Maya Ekaningtyas dan Ardiansyah Abstrak: Ikan bandeng (Chanos chanos) adalah salah satu jenis ikan yang banyak di konsumsi oleh masyarakat
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Kadar Oksigen Terlarut Hasil pengukuran konsentrasi oksigen terlarut pada kolam pemeliharaan ikan nila Oreochromis sp dapat dilihat pada Gambar 2. Dari gambar
BAB I PENDAHULUAN. lingkungan yang disebut sumberdaya pesisir. Salah satu sumberdaya pesisir
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir dan laut di Indonesia memegang peranan penting, karena kawasan ini memiliki nilai strategis berupa potensi sumberdaya alam dan jasajasa lingkungan yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air
EKOLOGI (EKOSISTEM) SMA REGINA PACIS JAKARTA
1 EKOLOGI (EKOSISTEM) SMA REGINA PACIS JAKARTA Ms. Evy Anggraeny Istilah dalam Ekologi 2 1. Habitat 2. Niche/nisia/relung ekologi a. Produsen b. Konsumen c. Dekomposer d. Detritivor Tingkat Organisasi
Geografi LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN I. K e l a s. Kurikulum 2006/2013. A. Pengertian Lingkungan Hidup
Kurikulum 2006/2013 Geografi K e l a s XI LINGKUNGAN HIDUP DAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN I Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami pengertian
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM Nomor 16/PRT/M/2011 Tentang PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI TAMBAK
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM Nomor 16/PRT/M/2011 Tentang PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI TAMBAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang Mengingat : bahwa
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21/PRT/M/2015 TENTANG
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21/PRT/M/2015 TENTANG EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI TAMBAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN
TINJAUAN PUSTAKA. lahan budidaya sehingga dapat meningkatkan jumlah lapangan kerja untuk
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Budidaya Tambak Kegiatan budidaya tambak merupakan pemanfaatan wilayah pesisir sebagai lahan budidaya sehingga dapat meningkatkan jumlah lapangan kerja untuk masyarakat
ANCAMAN & KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM BIDANG PERIKANAN BUDIDAYA
ANCAMAN & KERENTANAN PERUBAHAN IKLIM BIDANG PERIKANAN BUDIDAYA ANDI KURNIAWAN Pusat Studi Pesisir & Kelautan Universitas Brawijaya Workshop II - Kajian Kerentanan dan Risiko Iklim untuk Kota/Kabupaten
PENDAHULUAN. Budidaya perikanan merupakan satu diantara beberapa kegiatan yang. daerah termasuk Sumatera Utara. Sehingga dengan peningkatan kegiatan
PENDAHULUAN Latar Belakang Budidaya perikanan merupakan satu diantara beberapa kegiatan yang diharapkan mampu menunjang keberlangsungan hidup masyarakat. Saat ini, kegiatan budidaya perikanan di Indonesia
II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan nila menurut Trewavas (1982), dalam Dirjen Perikanan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ikan Nila 2.1.1 Klasifikasi Ikan Nila Klasifikasi ikan nila menurut Trewavas (1982), dalam Dirjen Perikanan (1991) adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia Sub Kingdom : Metazoa
1.2.1 Bagaimanakah kehidupan ekosistem terumbu karang pantai Apakah yang menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang?
2 kerusakan ekosistem terumbu karang pantai Pangandaran terhadap stabilitas lingkungan. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimanakah kehidupan ekosistem terumbu karang pantai Pangandaran? 1.2.2 Apakah yang menyebabkan
PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia
PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia dan hidup serta tumbuh berkembang
KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) SAGO
KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) SAGO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka Udang adalah komoditas unggulan perikanan budidaya yang berprospek cerah. Udang termasuk komoditas
I. PENDAHULUAN. perikanan. Bagi biota air, air berfungsi sebagai media baik internal maupun
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok dalam pengembangan industri budidaya perikanan. Bagi biota air, air berfungsi sebagai media baik internal maupun eksternal. Sebagai media
TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem Mangrove. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Mangrove Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung
POKOK BAHASAN I RUANG LINGKUP BUDIDAYA PERAIRAN LAUT
POKOK BAHASAN I RUANG LINGKUP BUDIDAYA PERAIRAN LAUT A. Pendahuluan Wilayah negara Republik Indonesia terdiri dari sekitar 62% lautan dan 38% daratan dan memiliki lebih dari 17.000 Iebih pulau. Dari luas
Aliran energi dalam ekosistem
Aliran energi dalam ekosistem Aliran energi dalam ekosistem Produser mendapatkan energi dari cahaya matahari untuk menyusun zat organik melalui fotosintesis. Jadi, matahari merupakan sumber energi bagi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Tjardhana dan Purwanto,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makanan Alami Ikan Makanan merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang dalam perkembangbiakan ikan baik ikan air tawar, ikan air payau maupun ikan air laut. Fungsi utama
ORDO DECAPODA. Kelompok Macrura : Bangsa udang & lobster (lanjutan)
ORDO DECAPODA Kelompok Macrura : Bangsa udang & lobster (lanjutan) Lobster Air Tawar (LAT) Crayfish/ crawfish atau yang dikenal sebagai lobster air tawar merupakan salah satu jenis Crustacea yang memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Waduk Mulur Sukoharjo merupakan objek wisata alam yang terletak di provinsi Jawa Tengah.Tepatnya berada di daerah Kabupaten Sukoharjo, Kecamatan Bendosari, Kelurahan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu dari negara yang menjadi produsen utama akuakultur dunia. Sampai tahun 2009, Indonesia menempati urutan keempat terbesar sebagai produsen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan lele (Clarias gariepinus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia karena permintaannya terus meningkat setiap
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Gusrina BUDI DAYA A IKAN JILID 1 SMK TUT WURI HANDAYANI Direktorat
AGROBISNIS BUDI DAYA PERIKANAN KABUPATEN CILACAP
AGROBISNIS BUDI DAYA PERIKANAN KABUPATEN CILACAP Cilacap merupakan salah satu wilayah yang berpotensi maju dalam bidang pengolahan budi daya perairan. Memelihara dan menangkap hewan atau tumbuhan perairan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan lele Clarias mossambius yang
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) Lele dumbo merupakan ikan hasil perkawinan silang antara induk betina lele Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan
Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22
Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan
VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA
73 VIII PENGELOLAAN EKOSISTEM LAMUN PULAU WAIDOBA Pengelolaan ekosistem wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kecamatan Kayoa saat ini baru merupakan isu-isu pengelolaan oleh pemerintah daerah, baik
BAB I PENDAHULUAN. memiliki prospek cerah untuk dikembangkan, karena ikan lele merupakan. air tawar yang sangat digemari oleh masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan lele (Clarias sp) adalah salah satu satu komoditas perikanan yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan, karena ikan lele merupakan komoditas unggulan. Dikatakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mikroorganisme banyak ditemukan di lingkungan perairan, di antaranya di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mikroorganisme banyak ditemukan di lingkungan perairan, di antaranya di ekosistem perairan rawa. Perairan rawa merupakan perairan tawar yang menggenang (lentik)
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Semak Daun merupakan salah satu pulau yang berada di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau ini memiliki daratan seluas 0,5 ha yang dikelilingi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Perairan adalah suatu kumpulan massa air pada suatu wilayah tertentu, baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis
BAB I PENDAHULUAN. lain: waduk, danau, kolam, telaga, rawa, belik, dan lain lain (Wibowo, 2008).
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perairan merupakan ekosistem yang memiliki peran sangat penting bagi kehidupan. Perairan memiliki fungsi baik secara ekologis, ekonomis, estetika, politis, dan sosial
bio.unsoed.ac.id di alternatif usaha budidaya ikan air tawar. Pemeliharaan ikan di sungai memiliki BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA DI PERAIRAN MENGALIR
BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA DI PERAIRAN MENGALIR Oleh: Dr. Endang Widyastuti, M.S. Fakultas Biologi Unsoed PENDAHULUAN Ikan merupakan salah satu sumberdaya hayati yang dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kaya akan sumberdaya alam yang dapat di gali untuk kesejahteraan umat manusia. Salah satu sumberdaya alam yang berpotensi yaitu sektor perikanan.
I. PENDAHULUAN. Usaha pengembangan budidaya perairan tidak dapat lepas dari pembenihan jenisjenis
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Budidaya memegang peranan penting untuk lestarinya sumber daya ikan. Usaha pengembangan budidaya perairan tidak dapat lepas dari pembenihan jenisjenis unggulan. Pembenihan
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Mangrove
4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Mangrove Mangrove atau biasa disebut mangal atau bakau merupakan vegetasi khas daerah tropis, tanamannya mampu beradaptasi dengan air yang bersalinitas cukup tinggi, menurut Nybakken
Individu Populasi Komunitas Ekosistem Biosfer
Ekosistem adalah kesatuan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem juga dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik yang komplek antara organisme dengan lingkungannya. Ilmu yang
BAB I PENDAHULUAN UMUM
1 BAB I PENDAHULUAN UMUM A. Latar Belakang Mollusca sebagai salah satu hasil perairan Indonesia sampai saat ini belum mendapatkan perhatian yang layak. Pemanfaatan Pelecypoda masih terbatas yaitu di daerah-daerah
TINJAUAN PUSTAKA. Air permukaan yang ada seperti sungai dan situ banyak dimanfaatkan
TINJAUAN PUSTAKA Sungai Air permukaan yang ada seperti sungai dan situ banyak dimanfaatkan untuk keperluan manusia seperti tempat penampungan air, alat transportasi, mengairi sawah dan keperluan peternakan,
BAB I PENDAHULUAN. Karena berada di dekat pantai, mangrove sering juga disebut hutan pantai, hutan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan. Karena berada di dekat pantai, mangrove sering juga disebut hutan pantai, hutan pasang surut,
Praktikum Ekologi Perairan
Praktikum Ekologi Perairan EKOSISTEM PERAIRAN Dapat dibedakan menjadi tiga tipe 1. Ekosistem laut dengan salinitas berkisar 17 35 o / oo 2. Ekosistem payau dengan salinitas berkisar 0,5 17 3. Ekosistem
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sekitar pulau
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki sekitar 17.504 pulau dengan 13.466 pulau bernama, dari total pulau bernama, 1.667 pulau diantaranya berpenduduk dan
PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH
PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH Hidup ikan Dipengaruhi lingkungan suhu, salinitas, oksigen terlarut, klorofil, zat hara (nutrien)
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbesar di dunia,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbesar di dunia, dengan sekitar 18. 110 buah pulau, yang terbentang sepanjang 5.210 Km dari Timur ke Barat sepanjang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan lele dumbo ( Clarias gariepenus ) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang berasal dari Afrika dan pertama kali diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1986.
Tingkat Kelangsungan Hidup
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme
II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Lele Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Filum: Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies :
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Danau Toba adalah sebuah danau vulkanik dengan ukuran luas 100 km x 30 km di Sumatera Utara, Indonesia. Di tengah danau ini terdapat sebuah pulau vulkanik bernama
I. PENDAHULUAN * 2009 ** Kenaikan ratarata(%)
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara bahari dan kepulauan yang dikelilingi oleh perairan laut dan perairan tawar yang sangat luas, yaitu 5,8 juta km 2 atau meliputi sekitar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai dingin dan
PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR. Oleh: M.Husni Amarullah. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR Oleh: M.Husni Amarullah Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Wikipedia: free encyclopedia (2012) Launching Program Kuliah Umum Ma had Aliy - Ponpes Madinatunnajah, Tangerang
I. PENDAHULUAN. ekonomis penting yang terdapat di perairan Indonesia. Ikan kerapu bernilai gizi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikan kerapu (Groupers) merupakan salah satu jenis ikan laut bernilai ekonomis penting yang terdapat di perairan Indonesia. Ikan kerapu bernilai gizi tinggi dan telah dapat
I. PENDAHULUAN. (Bahari Indonesia: Udang [29 maret 2011Potensi]
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perikanan merupakan sektor agribisnis yang hingga saat ini masih memberikan kontribusi yang cukup besar pada perekonomian Indonesia. Dari keseluruhan total ekspor produk
TINJAUAN PUSTAKA. Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh
TINJAUAN PUSTAKA Hutan Mangrove Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh disepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memilkiki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Kelangsungan hidup dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk mengetahui toleransi dan kemampuan ikan untuk hidup dan dinyatakan sebagai perbandingan
KONDISI PERIKANAN DI KECAMATAN KUALA KAMPAR
Ba b 4 KONDISI PERIKANAN DI KECAMATAN KUALA KAMPAR 4.1. Potensi Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Kecamatan Kuala Kampar memiliki potensi perikanan tangkap dengan komoditas ikan biang, ikan lomek dan udang
PENDEDERAN IKAN BERONANG (Siganus guttatus) DENGAN UKURAN TUBUH BENIH YANG BERBEDA
419 Pendederan ikan beronang dengan ukuran tubuh benih... (Samuel Lante) ABSTRAK PENDEDERAN IKAN BERONANG (Siganus guttatus) DENGAN UKURAN TUBUH BENIH YANG BERBEDA Samuel Lante, Noor Bimo Adhiyudanto,
PERKEMBANGAN KEGIATAN PERIKANAN IKAN BANDENG PADA KERAMBA JARING TANCAP DI PANDEGLANG PROVINSI BANTEN
PERKEMBANGAN KEGIATAN PERIKANAN IKAN BANDENG PADA KERAMBA JARING TANCAP DI PANDEGLANG PROVINSI BANTEN Ofri Johan, Achmad Sudradjat, dan Wartono Hadie Pusat Riset Perikanan Budidaya Jl. Ragunan 20, Pasar
