BABf PENDAHULUAN Latar Belakang
|
|
|
- Yandi Sumadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BABf PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tidur merupakan fungsi fisiologis yang menarik, karena kebanyakan orang menghabiskan sepertiga dari waktu hidupnya untuk tidur. Namun demikian ditulis bahwa Rata-rata orang membutuhkan tidur 8 jam sehari, tapi pada orang-orang tertentu bisa kurang dari itu. Kebutuhan untuk tidur semakin berkurang sesuai dengan bertambahnya usia. (Beny, 2002 Penelitian oleh ahli-ahli faal di Amerika menunjukkan bahwa pada bayi waktu yang dibutuhkan untuk tidur kira-kira 16 jam. Lamanya tidur antara umur antara 1 sampai 7 tahun berkurang secara bertahap menjadi 14 sampai 10 jam per hari. Orang dewasa pertengahan membutuhkan 7 sampai 9 jam per hari sedangkan pada orang tua hanya membutuhkan waktu 5 sampai 6 jam per hari (Houssay, 1955). Bayi yang baru lahir separuh waktu tidumya merupakan tidur rapid eye movement (REM). Anak kucing, anak anjing, anak tikus dan hamster yang baru lahir hanya mempunyai tidur REM atau fase REM sangat singkat Penelitian pada bayi yang tidur kurang dari 16 jam menunjukkan tidak terdapat gangguan pada perkembangan intelektual. (Beny, 2002) Dengan berkembangnya jaman dan semakin banyaknya masalah, gangguan tidur (insomnia) sering dijumpai. Insomnia merupakan gangguan tidur atau kesulitan untuk tidur, termasuk lamanya tidur maupun kelelapan tidur. Gangguan ini sangat lazim dialami manusia. Sekitar 20% manusia dewasa sehat mengalami insomnia pada saatsaat tertentu. Penderita insomnia umumnya merasa menderita sehingga mereka menjadi tidak sabar, frustasi, dan keyakinan yang rendah untuk dapat tidur saat mengantuk. Untuk mengobati kesulitan tidur digunakan obat golongan hipnotik sedatif Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat (SSP) yang
2 relatif tidak seleklif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat (kecuali Benzodiazepin) yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma, dan mati, bergantung pada dosis (William, Theodore,Todd, 1997). Banyaknya efek samping yang ditimbulkan o1eh obat-obat kimia dan juga harga yang relatifmahal maka akhir-akhir ini banyak digunakan pengobatan altematif untuk mengobati kesulitan tidur antara lain madu, seledri, pisang, biji teratai, pala. Biji seledri mengandung phthalide, terpenoid dan senyawa kumarin (Brunetton, 1999) Indentifikasi Masalah Apakah biji seledri (Apium graveo/ens Linn.) berkhasiat sebagai hipnotik Maksud dan Tujuan Maksud : meneliti biji seledri (Apium graveo/ens Linn.) Tujuan : membuktikan bahwa biji seledri berkhasiat sebagai hipnotik Kegunaan Penelitian Kegunaan Akademis Penelitian ini dapat berguna dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang meluaskan Cakrawala farmakologi tentang tumbuhan obat, khususnya seledri (Apium graveo/ens Linn.) yang bekerja sebagai hipnotik.
3 3 t.4.2. Kegunaan Praktis Biji seledri (Apium graveolens Linn.) diduga memiliki kandungan zat hipnotik sedatif dengan demikian seledri dapat digunakan untuk para penderita insomnia, sebagai pengobatan altematif untuk mengobati kesulitan tidur, sehingga penderita tidak perlu menggunakan obat-obat golongan hipnotik sedatif yang mempunyai efek samping seperti habituasi dengan toleransi (adiksi) Kerangka Pemikiran Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar yang mana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensoris atau rangsang lainnya. Tidur merupakan aktivitas otak yang dikontrol oleh rangsang dari hypothalamus, bagian dienchepalon dan formatio retikularis (Guyton & Hall, 1997). Teori tidur ada 2 macam, yaitu teori pasif dan teori penghambatan aktif Teori yang terbaru adalah bahwa tidur disebabkan oleh proses penghambatan aktif Beberapa pusat yang terletak di bawah ketinggian midpontil pada batang otak, diperlukan untuk menyebabkan tidur dengan cara menghambat bagian-bagian otak lainnya (Guyton & Hall, 1997). Formatio retikularis merupakan pusat kewaspadaan. Secara fisiologis dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu pusat inhibisi dan pusat eksitasi. Bila pusat inhibisi dirangsang atau pusat eksitasi dihambat maka seseorang akan tertidur (Guyton & Hall, 1997). Biji seledri mengandung minyak esensial yang termasuk didalamnya sebagian besar hidrokarbon (limonene, selinene,p-cymene, f3-pinene), dihidrocarvone, a- terpineol, dan pthalides (Brunetton, 1999). Minyak esensial, perfume dan senyawa phytoncid, hinokitiol, pinene, eugenol, citronellol, citronellal mempotensiasi respon GABAnergik pada konsentrasi rendah, hal ini dikarenakan zat-zat tersebut terikat pada sisi potensiasi GABA-A reseptor dan meningkatkan afinitas GABA-A pada
4 4 reseptornya, menyebabkan saluran klorida terbuka, klorida masuk sel menyebabkan hiperpolarisasi (Aoshima, 1997). Hal ini menyebabkan terangsangnya formatio retikularis pusat inhibisi, dan hantaran pada formatio retikularis menurun, menyebabkan impuls ke kortek motoris menurun, kesadaran menurun (Houssay, 1955). Hipnotik sedatif mempotensiasi neurotransmitter GABAnergik pada semua tingkat neuroaksis, yang mencakup medulla spinalis, batang otak, hipothalamus, hipokampus, substansia nigra, korteks serebri, juga meningkatkan efisiensi inhibisi sinaptik GABAnergik yang menyebabkan penurunan kecepatan pencetusan neuron dalam banyak regio otak, namun tidak tampak menggantikan GABA (Trevor, 1995) Premis-premis 1. Tidur merupakan aktivitas otak yang dikontrol oleh rangsang dari hypothalamus, bagian diencephalon dan formatio retikularis (Guyton and Hall, 1997). 2. Teori tidur berdasarkan mekanisme penghambatan aktif yaitu beberapa pusat yang terletak dibawah ketinggian midpontil pada batang otak, diperlukan untuk menyebabkan tidur dengan menghambat bagian-bagian otak lainnya (Guyton and Hall, 1997). 3. Hipnotik sedatif mempotensiasi neurotransmitter GABAnergik pada semua tingkat neuroaksis yang mencakup medulla spinalis, batang otak, hipotalamus, hipokampus, substansia nigra, korteks serebri, juga meningkatkan efisiensi inhibisi sinaptik GABAnergik yang menyebabkan penurunan kecepatan pencetusan neuron dalam banyak regio otak, namun tidak tampak menggantikan GABA (Trevor, 1995). 4. Biji seledri mengandung minyak esensial yang termasuk didalamnya sebagian besar hidrokarbon (limonene, selinene,p-cymene, j3-pinene), dihidrocarvone, u- terpineol, dan pthalides (Brunetton, 1999).
5 5 5. Minyak esensial, perfume dan senyawa phytoncid, hinokitiol, pinene, eugenol, citronellol, citronellal mempotensiasi respon GABAnergik pada konsentrasi rendah, hal ini dikarenakan zat-zat tersebut terikat pada sisi potensiasi GABA- A reseptor dan meningkatkan afinitas GABA-A pada reseptornya (Aoshima, 1999). Hipotesis: Biji seledri (Apium graveolens mencit jantan galur DDY. Linn.) mempunym efek hipnotik pada 1.7. Metode Penelitian penelitian ini bersifat prospektif eksperimental sungguhan memakai rancangan percobaan acak lengkap (RAL) dan bersifat komparatif dengan hewan coba mencit jantan dewasa Data yang diukur adalah waktu induksi dan lamanya tidur dalam menit Analisis data memakai statistik ANA VA satu arah 1.8. Lokasi dan Waktu Penelitian Percobaan dilakukan di : - Laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha Waktu penelitian: - Juni sid Desember 2003
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dari proses belajar, mengingat dan mengenal sesuatu. Semua proses tersebut akan berjalan dengan baik apabila melibatkan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas pergerakan yang normal sangat diperlukan dalam menunjang kegiatan sehari-hari. Pergerakan yang dilakukan, baik secara volunter maupun involunter dipengaruhi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tidur merupakan kebutuhan manusia yang esensial, karena tidur dapat mengendalikan irama kehidupan manusia sehari-hari. Proses tidur mengikuti irama sirkadian atau biologic
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan era modern seperti sekarang ini adalah gaya kehidupan yang sibuk dan membutuhkan konsentrasi tinggi. Pekerjaan manusia sebagian besar diharapkan dapat dikerjakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Rasa nyeri, paralisis atau kerusakan jaringan dan kehilangan kontrol motorik dapat menyebabkan gangguan pergerakan, sedangkan aktivitas pergerakan yang normal sangat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia memiliki berbagai macam kemampuan yang diperoleh dari proses belajar, termasuk fungsi kognitif. Kognitif menyangkut proses berpikir di otak, dengan menggunakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teh (Camellia sinensis L.) merupakan salah satu minuman paling populer di dunia yang posisinya berada pada urutan kedua setelah air putih. Teh juga merupakan minuman
PENGARUH SIRUP BUAH PALA (Myristica fragrans Houtt) TERHADAP KETELITIAN, KEWASPADAAN DAN FUNGSI KOGNITIF
PENGARUH SIRUP BUAH PALA (Myristica fragrans Houtt) TERHADAP KETELITIAN, KEWASPADAAN DAN FUNGSI KOGNITIF Sugiarto Puradisastra, Sylvia Soeng, Ellya Theresia Tjondro, Bimo Ario Prahasto FAKULTAS KEDOKTERAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas sehari-hari seorang individu sangat dipengaruhi oleh apa yang dirasakannya. Perasaan segar akan meningkatkan kualitas aktivitas, sedangkan rasa kantuk akan
Pengaruh Buah Pala (Myristicae fructus) terhadap Waktu Reaksi Sederhana (WRS) 1
ARTIKEL PENELITIAN Pengaruh Buah Pala (Myristicae fructus) terhadap Waktu Reaksi Sederhana (WRS) 1 Pinandojo Djojosoewarno 1, Rosnaeni 2, Kumalasari 1Bagian Faal, 2 Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran,
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waktu Reaksi Sederhana (WRS) dapat diasosiasikan dengan kewaspadaan (Ganong, 2008). Waktu reaksi adalah waktu di antara pemberian rangsang (stimulus) terhadap reseptor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kafein dalam coklat di dapat dari biji cacao yang hanya tumbuh di daerah tropis, sedangkan kafein dalam kopi didapatkan dari biji coffe Arabica dan coffe Robusta. Kafein
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan untuk menjaga proses homeostasis tubuh, baik fisiologis maupun psikologis. Kebutuhan fisiologis
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kognitif merupakan kemampuan internal seseorang untuk berpikir, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan (Gagne, 2004). Fungsi kognitif adalah kemampuan berpikir,
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kewaspadaan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bekerja, belajar, berkendara, maupun aktivitas lainnya. Ketelitian juga dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waktu reaksi adalah waktu yang diperlukan seseorang untuk menjawab sesuatu rangsangan secara sadar dan terkendali, dihitung mulai saat rangsangan diberikan sampai dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ada (kurangnya aktivitas fisik), merupakan faktor resiko independen. menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. LANDASAN TEORI 1. Aktivitas Fisik a. Definisi Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik
ABSTRAK. EFEK HIPNOTIK BlJl PALA (Myristicafragrans HouU.) TERHADAP MENCIT JANTAN GALUR DDY
ABSTRAK EFEK HIPNOTIK BlJl PALA (Myristicafragrans HouU.) TERHADAP MENCIT JANTAN GALUR DDY Suderawati,2003, Pembimbing I : Sugiarto Puradisastra,dr. Pembimbing II : Freddy Soebiantoro, dr. Latar Belakang:
Fisiologi Tidur. Beny Atmadja W. Bag;lSMF. Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Unpad/RS. Hasan Sadikin Bandung
Fisiologi Tidur Beny Atmadja W. Bag;lSMF. Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Unpad/RS. Hasan Sadikin Bandung Pendahuluan Kebanyakan orang menghabiskan sepertiga dari waktu hidupnya untuk tidur. Tapi mengapa?
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Proses belajar memerlukan proses memori (daya ingat), yang terdiri dari tiga tahap ; yaitu mendapatkan informasi (learning), menyimpannya (retention), dan mengingat
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rempah di dunia. Salah
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rempah di dunia. Salah satu komoditas rempah penting yang dihasilkan di Indonesia yaitu lada hitam. Lada hitam dikenal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius. World Health Organization (WHO) tahun 2001 menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memori disimpan di otak dengan mengubah sensitivitas dasar transmisi hipnotis antar neuron sebagai akibat dari aktivitas neuron sebelumnya. Jaras terbaru atau yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Media Sosial a. Pengertian Media Sosial Media sosial adalah sebuah sarana yang dibuat untuk memudahkan interaksi sosial dan komunikasi dua arah. Dengan semua
ABSTRAK. EFEK HIPNOTIK EKSTRAK ETANOL KANGKUNG (Ipomoea aquatica FORSK.) PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN YANG DIINDUKSI FENOBARBITAL
ABSTRAK EFEK HIPNOTIK EKSTRAK ETANOL KANGKUNG (Ipomoea aquatica FORSK.) PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN YANG DIINDUKSI FENOBARBITAL Isept Setiawan, 2011, Pembimbing I : Dra. Endang Evacuasiany, MS., AFK.,
BAB I PENDAHULUAN. Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar atau pasif yang ditandai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar atau pasif yang ditandai dengan berkurangnya responsivitas terhadap rangsang eksternal. Secara fisiologis tidur dibagi menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Keadaan demam sejak zaman Hippocrates sudah diketahui sebagai penanda penyakit (Nelwan, 2006). Demam mengacu pada peningkatan suhu tubuh yang berhubungan langsung dengan
ABSTRAK. EFEKTIVIT AS INFUSA BUAH KA YU ULES (Helicteres isora L) SEBAGAI OBA T HIPNOTIK SEDA TIF
ABSTRAK EFEKTIVIT AS INFUSA BUAH KA YU ULES (Helicteres isora L) SEBAGAI OBA T HIPNOTIK SEDA TIF Loka Purnomo, 2004, Pembimbing I : Lusiana Darsono,dr.M.Kes Pembimbing II : Siamet Santosa, dr.m.kes Kehidupan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus ( DM ) merupakan gangguan kesehatan yang ditandai oleh keadaan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin ( Powers, 2005 ). DM merupakan salah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu ciri dari makluk hidup adalah dapat berkembang biak untuk menghasilkan keturunan. Proses berkembang biak ini terjadi baik pada tumbuhan, hewan maupun manusia.
VARIASI DOSIS HIPNOTIK TERHADAP PENURUNAN AKTIVITAS LOKOMOTOR MENCIT BETINA GALUR
ABSTRAK PENGARUH EKSTRAK ETANOL BIJI PALA (Myristicae semen) PADA VARIASI DOSIS HIPNOTIK TERHADAP PENURUNAN AKTIVITAS LOKOMOTOR MENCIT BETINA GALUR Swiss Webster Stefanie, 2007. Pembimbing utama : Sugiarto
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam menghadapi setiap aspek kehidupan sehari-hari, manusia tidak terlepas dari proses stimulus dan respon. Setiap gerakan yang disadari selalu berkaitan dengan stimulus
ABSTRAK EFEK ANALGESIK EKSTRAK ETANOL KUNYIT
ABSTRAK EFEK ANALGESIK EKSTRAK ETANOL KUNYIT (Curcuma domestica Val.) DAN EKSTAK ETANOL KENCUR (Kaempferia galanga Linn.) PADA MENCIT SWISS WEBSTER JANTAN DENGAN METODE HOT PLATE Thomas Utomo, 1210023,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas motorik atau pergerakan yang normal sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari (Miller, 2011). Gerak adalah suatu proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Musik merupakan salah satu hal yang tidak dapat lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Musik dan pengobatan mempunyai hubungan yang erat sejak dahulu kala, ini dapat
Anesty Claresta
Anesty Claresta 102011223 Skenario Seorang perempuan berusia 55 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan berdebar sejak seminggu yang lalu. Keluhan berdebar ini terjadi ketika ia mengingat suaminya yang
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA AMAMI IDENTIFIKASI DIAZEPAM METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA AMAMI IDENTIFIKASI DIAZEPAM METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS 1. WAKTU DAN TEMPAT Praktikum dilakukan pada hari selasa, 15 November 2016 pada pukul 18:00-21:00 WIB, bertempat di Laboratorium
ABSTRAK. Vivi Lingga, 2007 Pembimbing Utama : Sugiarto Puradisastra, dr.m.kes Pembimbing kedua : Pinandojo Djojosoewarno, dr., Drs., AIF.
ABSTRAK PENGARUH EKSTRAK ETANOL HERBA PEGAGAN (Centella asiatica (L). Urban) PADA DOSIS HIPNOTIK TERHADAP AKTIVITAS LOKOMOTOR MENCIT BETINA GALUR Swiss Webster Vivi Lingga, 2007 Pembimbing Utama : Sugiarto
BAB II PENJALARAN IMPULS SARAF. Ganglia basalis merupakan bagian dari otak yang memiliki peranan penting antara lain
BAB II PENJALARAN IMPULS SARAF 2.1 Ganglia basalis dan subthalamik nukleus Ganglia basalis merupakan bagian dari otak yang memiliki peranan penting antara lain dalam menghasilkan gerakan motorik terutama
BAD I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAD I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meningkatnya prevalensi diabetes melitus di negara-negara berkembang akibat peningkatan kemakmuran, akhir-akhir ini banyak disoroti. Peningkatan pendapatan perkapita
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai usaha telah dilakukan oleh para peneliti anti fertilitas untuk menemukan obat yang tepat dalam mengatasi masalah Keluarga Berencana. Bagi pemerintah Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Tekanan darah merupakan faktor yang sangat penting pada sistem sirkulasi, perubahan tekanan darah akan mempengaruhi homeostasis di dalam tubuh. Tekanan darah diperlukan
PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH (PIPER BETTLE LINN.) TERHADAP EFEK SEDASI MENCIT (MUS MUSCULUS L.) DAN SUMBANGANNYA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA
PENGARUH EKSTRAK DAUN SIRIH (PIPER BETTLE LINN.) TERHADAP EFEK SEDASI MENCIT (MUS MUSCULUS L.) DAN SUMBANGANNYA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA Siti Rakhmi Afriani, Riyanto, Kodri Madang Universitas Sriwijaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan perkembangan teknologi sangat mempengaruhi gaya hidup masyarakat, salah satu dampak negatifnya ialah munculnya berbagai penyakit degeneratif seperti Diabetes
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis manusia untuk mendapatkan keturunan. Seseorang memilih suatu gaya hidup umumnya dengan harapan ingin meningkatkan aktivitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika adalah suatu peradangan pada kulit yang didasari oleh reaksi alergi/reaksi hipersensitivitas tipe I. Penyakit yang berkaitan dengan reaksi hipersensitivitas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian dan pengembangan tumbuhan obat saat ini berkembang pesat. Oleh karena bahannya yang mudah diperoleh dan diolah sehingga obat tradisional lebih banyak digunakan.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah kumpulan gejala penyakit degeneratif kronis yang disebabkan karena kelainan metabolisme karbohidrat akibat kekurangan hormon Insulin baik
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memori jangka pendek adalah memori yang bertahan selama beberapa detik hingga menit, tanpa disadari memori tersebut sering diaplikasikan dalam aktivitas sehari-hari
I. PENDAHULUAN. maupun pelarut dan reagensia (Syabatini, 2008). Dalam dunia kesehatan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alkohol merupakan senyawa yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum dapat digunakan sebagai zat pembunuh kuman, bahan bakar maupun pelarut dan reagensia (Syabatini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan hidup individu semakin meningkat bersamaan dengan meningkatnya frekuensi kegiatan sehari-hari. Tidak jarang menghadapi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis adalah suatu penyakit kulit (ekzema) yang menimbulkan peradangan. Dermatitis alergika yang sering dijumpai dalam kehidupan seharihari adalah dermatitis atopik.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Identifikasi Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Musik merupakan kebutuhan manusia secara universal yang tidak pernah berdiri sendiri lepas dari masyarakat (Boedhisantoso, 1982). Konfusius mengatakan, Jika musik terdengar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya.diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini, masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar telah memasuki arus modernisasi. Hal ini menyebabkan pergeseran ataupun perubahan, terutama dalam gaya
BAB I TINJAUAN PUSTAKA
BAB I TINJAUAN PUSTAKA 1.1. Tinjauan Botani Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman lenglengan. Lenglengan dapat tumbuh baik di daerah beriklim tropis dan subtropis. Bagian tanaman yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik kronis yang umumnya diderita seumur hidup (PERKENI, 2006). Di Amerika Serikat, kurang lebih 15 juta orang menderita
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyamuk merupakan vektor penyakit filariasis, demam berdarah dengue, malaria, chikungunya, dan encephalitis. Penyakit-penyakit tersebut dibawa oleh nyamuk melalui cucukan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lebih dari satu miliar orang di dunia menderita disabilitas. Disabilitas atau kecacatan dapat terjadi akibat kondisi kesehatan, kondisi lingkungan, dan faktor lain
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit diare sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Angka kejadian diare pada anak di dunia mencapai 1 miliar kasus
BAB I PENDAHULUAN UKDW. Kegunaan dan manfaat yang dihasilkan tanaman obat beraneka macam. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Saat ini semakin banyak obat herbal yang beredar di dunia, khususnya Indonesia. Bahan baku utama dari obat herbal itu sendiri adalah tanaman obat. Tanaman
ABSTRAK. EFEK ANALGESIK EKSTRAK ETANOL BUNGA CENGKEH (Caryophylli flos) PADA MENCIT BETINA GALUR Swiss-Webster
ABSTRAK EFEK ANALGESIK EKSTRAK ETANOL BUNGA CENGKEH (Caryophylli flos) PADA MENCIT BETINA GALUR Swiss-Webster Fanny Rusaydimanto, 2006, Pembimbing I : Sugiarto Puradisastra, dr., M.Kes. Pembimbing II :
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, selain menimbulkan penderitaan, nyeri sebenarnya merupakan respon pertahanan. Menurut International
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi menurut kriteria JNC VII (The Seventh Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and treatment of High Blood Pressure), 2003, didefinisikan
Fakultas Kedokteran U K M Bandung
PERBANDINGAN PENGARUH MINUM SEDUHAN TEH HITAM (BLACK TEA) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA (WRS) PADA PRIA DAN PEREMPUAN DEWASA Oleh : Rosnaeni Djusena Agnes Agustin Henry Nio Nathan Rahel Margareth Febriana
NEUROTRANSMITTER. Kurnia Eka Wijayanti
NEUROTRANSMITTER Kurnia Eka Wijayanti Neurotransmitter Merupakan senyawa pengantar impuls dari sebuah saraf ke target organ Dilepaskan dari ujung axon dan masuk ke celah sinaps Jenis neurotransmitter Klas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM), merupakan penyakit yang dikenal di masyarakat awam dengan sebutan kencing manis. Sebutan tersebut bermula dari penderita DM yang kadar glukosa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alergi merupakan suatu keadaan hipersensitivitas terhadap kontak atau pajanan zat asing (alergen) tertentu dengan akibat timbulnya gejala-gejala klinis, yang mana
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat melakukan presentasi, berpidato, berkampanye, atau kegiatan lain yang berhubungan dengan berbicara di depan khalayak ramai, pembicara dituntut untuk rileks dan
Efektivitas Infusa Kayu Ules ( Helicteres isora L ) Sebagai Obat Hipnotik Sedatif
Loka Purnomo*, Lusiana Darsono**, Slamet Santosa*** * Mahasiswa Fakultas Kedokteran UK Maranatha Semester VIII ** Dosen Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UK Maranatha *** Dosen Bagian Biokimia Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keluhan sukar tidur (insomnia) sering diutarakan berupa penyakit sulit
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluhan sukar tidur (insomnia) sering diutarakan berupa penyakit sulit tertidur, sering terbangun hanya mampu tidur sebentar atau tidak nyenyak. Penyebabnya
BAB I PENDAHULUAN 1. I. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1. I. LATAR BELAKANG Febris dapat tejadi sebagai respon tubuh terhadap infeksi, endotoksin, reaksi imun serta neoplasma (Guyton, 1994). Penyebab febris di atas akan merangsang polimorfonuklear
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki musim penghujan, ancaman penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes sp yaitu demam berdarah kembali menjadi pokok perhatian kita. Penyakit demam berdarah
ANSIOLITIK/SEDATIVE - HIPNOTIKA
ANSIOLITIK/SEDATIVE - HIPNOTIKA Disusun Oleh : Nama Mahasiswa : Linus Seta Adi Nugraha Nomor Mahasiswa : 09.0064 Tgl. Praktikum : 9 Mei 2011 Hari Praktikum : Senin Dosen Pembimbing : Margareta Retno Priamsari,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh (R. Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 2004). Luka sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari dan dapat terjadi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Merokok merupakan sebuah kebiasaan yang telah membudaya bagi masyarakat di sekitar kita. Di berbagai wilayah perkotaan sampai pedesaan, dari anak anak sampai orang
