BAB 4 HASIL PENELITIAN PENDAHULUAN
|
|
|
- Budi Dharmawijaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 4 HASIL PENELITIAN PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai hasil penelitian pendahuluan dimulai dari pengenalan profil perusahaan secara singkat, proses produksi serta pemilihan mesin yang akan diteliti Profil Perusahaan PT. Rama Gombong Sejahtera adalah perusahaan keluarga yang berdiri sejak tahun 1980-an dan bergerak di industri manufaktur. Pabrik 1 berada di Jl. Yos Sudarso No.481 RT 06/RW V Kelurahan Wonokriyo, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen dan Pabrik 2 di Jl. Yos Sudarso Barat, Kelurahan Selokerto, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen yang dapat dilihat pada gambar 4.1. Produk yang dihasilkan adalah produk kami adalah bare core board, veneer, finger joint board, laminated board, 3 layer board terbuat dari kayu falcata albasia. Falcata Albasia adalah kayu ringan yang sangat cocok untuk tujuan apapun. Karena mudah untuk dimodifikasi dan dibentuk. Perusahaan ini mulai mengekspor kayulapis sejak tahun 1990-an pangsa pasar Jepang (dulu), Malaysia, Timur Tengah, dan Tiongkok. Gambar 4.1 Peta PT. Rama Gombong Sejahtera 4.2. Proses Produksi Produk kayulapis yang dihasilkan oleh PT. Rama Gombong Sejahtera melewati serangkaian proses yang berbeda-beda. Secara umum ada 2 proses utama dalam 16
2 pembuatan kayulapis yaitu bare core dan block board dapat dilihat pada Gambar 4.2 mengenai proses produksi di PT Rama Gombong Sejahtera. Bahan Baku Bare Core Soft Core Block Board Warehouse Produk Siap Jual Gambar 4.2 Proses Produksi PT. Rama Gombong Sejahtera a. Bahan Baku Bahan baku yang digunakan adalah kayu falcata albasia. Kayu ini dipilih karena keunggulannya yaitu sifatnya yang ringan sehingga sangat cocok dimodifikasi dan dibentuk. Proses kerja bahan baku dapat dilihat pada bagan aliran proses Gambar 4.3. Bahan Baku Datang Grade Warehouse Oven Warehouse Gambar 4.3 Aliran Proses Bahan Baku i. Bahan Baku Datang Proses ini diawali mendatangkan bahan baku kayu falcata albasia dari supplier. Bahan baku tersebut sudah dalam bentuk balok-balok sesuai ukuran yang telah dipesan yaitu panjang 100cm, 130cm, lebar 80cm, 100cm, 120cm, 140cm, 160cm, dan tebal 50cm, 55cm, 60cm. ii. Grade Proses grade adalah proses penentuan nilai atau kriteria. Dalam proses ini kayu falcata albasia yang telah datang di pilih dan ditentukan menurut 17
3 spesifikasi yang telah ditentukan oleh perusahaan. Ada 3 kriteria grade yang digunakan oleh PT. Rama Gombong Sejahtera. Grade tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1. Tabel 4.1 Ilustrasi Kriteria Grade Balok Jenis Grade Ilustrasi Gambar Balok Keterangan A Pelos 1cm Pelos/Cacat 1cm di satu sisi B Pelos 1cm Pelos 1cm Pelos 2cm Pelos/Cacat 1cm di dua sisi, atau 2cm di satu sisi C Pelos 1cm Pelos 3cm Pelos 4cm Pelos 2cm Pelos 2cm Pelos/Cacat 2cm di dua sisi, 1cm di sisi yang satu dan 3cm di sisi lainnya, atau 4cm di satu sisi Selanjutnya balok yang sudah di tentukan menurut kriteria tersebut diberi tanda/peneresan untuk membedakan setiap grade. Pemberian tanda/peneresan tersebut dibedakan menurut ketebalan balok yang dapat dilihat pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 Pemberian Tanda berdasarkan Jenis Grade dan Ketebalan Balok Jenis Grade A B C Ketebalan Balok (cm) Warna hijau dua Warna hijau satu Warna hijau di sisi di pinggir sisi di pinggir tengah Warna Kuning dua Warna Kuning satu Warna Kuning di sisi di pinggir sisi di pinggir tengah Warna Merah dua Warna Merah satu Warna Merah di sisi di pinggir sisi di pinggir tengah iii. iv. Warehouse Setelah balok melewati proses grade, balok ditumpuk sesuai jenis grade kemudian dibawa ke warehouse menggunakan forklift untuk disimpan sambil menunggu giliran selanjutnya yaitu untuk proses oven. Oven Proses oven adalah proses untuk mengeluarkan air yang terdapat pada balokbalok kayu. Proses oven ini bertujuan untuk mengeringkan kayu, menambah kekuatan kayu, membuat kayu menjadi lebih ringan, mencegah terjadinya penjamuran, bubuk kayu, dan memudahkan proses pengerjaan selanjutnya. PT. Rama Gombong Sejahtera menyediakan tempat untuk proses oven 18
4 sebanyak 22 buah gudang. Batas pengisian tumpukan balok di gudang oven yaitu bagian atas sesuai posisi subcealing, batas kanan dan kiri 20cm dari tembok, batas belakang 20cm dari pengaman finning. Proses oven ini dilakukan selama 8 hari berturut-turut. Proses oven ini menggunakan panas dari uap air untuk mengeringkan balok kayu. yang digunakan dalam proses pengeringan kayu yaitu mesin boiler. Air dimasukan kedalam tanki pemanas dan tungku, kemudian air dipanaskan menggunaan bahan sisa produksi. Proses pemanasan air tersebut menghasilkan uap air dan panas, dan selanjutnya akan dialirkan menuju gudang oven. Suhu dan tekanan yang dibutuhkan untuk melakukan proses pembakaran yaitu mengikuti skala yang ada di mesin boiler yaitu 4-5 bar. Perawatan mesin boiler dilakukan setiap 2 minggu durasi waktu 8 jam. v. Warehouse Setelah balok melewati proses oven, tumpukan balok yang telah kering dibawa ke warehouse menggunakan forklift untuk disimpan sambil menunggu giliran selanjutnya yaitu untuk proses produksi. b. Bare Core Proses bare core adalah proses pembentukan inti produk kayulapis, yaitu balokbalok yang telah sesuai ukuran yang telah ditentukan disusun sehingga menjadi papan kemudian diberi lem. Proses kerja Bare Core dapat dilihat pada bagan aliran proses Gambar 4.4. Jumping Saw & Shapper Double Planer Gangrib Grade Conveyor Press Packaging Dempul Manual Press Pengeleman Radial Saw Gambar 4.4 Aliran Proses Bare Core i. Jumping Saw & Shapper jumping saw digunakan untuk memotong balok kayu yang telah melalui proses oven. Balok panjang 130cm menjadi 3 bagian. Sedangkan mesin shapper digunakan untuk membuat gerigi di setiap ujung potongan balok/core. Ilustrasi bentuk shapper dapat dilihat pada Gambar 4.5. Core dan shapper yang telah selesai kemudian dibawa menggunakan conveyor untuk proses selanjutnya. 19
5 Gambar 4.5 Shapper ii. Double Planer Proses ini menggunakan mesin double planer untuk penyerutan core. Proses ini untuk penyamarataan ukuran core agar mudah dibentuk. Didalam proses double planer juga ada proses quality control, core yang terlepas akan diulang kembali. iii. Gangrib Proses ini menggunakan mesin gangrib untuk membelah core menjadi beberapa core ukuran yang lebih kecil. Ukuran core bervariasi tebal 13.0cm -13.4cm dan lebar dapat diturunkan untuk menyesuaikan ukuran core jumping saw dan shapper dimulai dari 54.7cm, 52.3cm, 50.5cm, 48.3cm, 46.5cm, 43.3cm, 37.3cm, 32.5cm, 28.4cm. Output dari proses gangrib adalah pelos (bentuk fillet/round pada bagian sudut core), kulitan, potongan kayu, dan core bagus. Untuk output pelos akan diolah kembali di mesin double planer limbah, sedangkan kulitan dan potongan kayu akan dijadikan bahan baku pembakaran mesin boiler. iv. Grade Proses grade adalah proses penentuan nilai atau kriteria. Dalam proses ini core yang telah melalui proses gangrib akan ditentukan kriterianya. Core yang bagus akan ke proses selanjutnya, sedangkan core yang jelek tetapi masih bisa diproses ulang, akan kembali ke proses gangrib untuk dilakukan pengecilan ukuran core. Core yang jelek dan tidak bisa dikecikan ukurannya, akan menjadi limbah pembakaran mesin boiler. v. Conveyor Press Proses ini menggunakan mesin conveyor press adalah proses pembentukan bare core. Core tersebut disusun di dalam conveyor press menyerupai papan. Bagian tengah diisi core, sedangkan di pinggiran diisi shapper untuk memperkuat bare core, kemudian bare core di press agar core menyatu. Ilustrasi bentuk bare core dapat dilihat pada Gambar
6 Core Core Core Shapper Gambar 4.6 Bare Core vi. Radial Saw Proses ini menggunakan mesin radial saw adalah proses pemotongan bare core sesuai ukuran yang telah ditentukan yaitu 250cm mesin radial saw. Ilustrasi pemotongan bare core mesin radial saw dapat dilihat pada Gambar 4.7. Potong Core Core Core Potong Core Core Core Shapper Shapper Gambar 4.7 Pemotongan Bare Core Radial Saw vii. Pengeleman Bare core yang telah kemudian dibawa ke meja untuk proses pengeleman. Pengeleman diperlukan untuk memperkuat bare core sehingga tidak mudah retak. Pengeleman dilakukan secara manual dan hanya satu sisi saja yang di beri lem yaitu dibagian atas bare core. viii. Manual Press Setelah proses pengeleman selesai, bare core dibawa ke mesin manual press kemudian setting sesuai gambar 4.8. ini dapat menampung 18 tumpuk untuk satu kali prosesnya dan lebar maksimal bare core yang diperbolehkan yaitu 125.5cm-126cm. Cara kerja mesin ini yaitu memberikan tekanan dari atas-samping-atas-samping. Pada saat bare core di press harus dilapisi pvc agar tidak lengket. Shapper Core Core Shapper Gambar 4.8 Setting Bare Core setelah Pengeleman ix. Dempul Core yang telah di press selanjutnya di pilih berdasarkan jenis grade nya, kriteria yang digunakan yaitu banyaknya celah/rongga yang ada di bare core. 21
7 Core yang banyak terdapat celah/rongga biasanya berasal dari core limbah double planer. Bare core yang memiliki celah/rongga akan di dempul untuk menutup celah/rongga yang ada. Bahan dempul terdiri dari kalsium, kawul/serbuk kayu, UL, lem putih kemudian di mixer. x. Packaging Bare core yang telah didempul kemudian dikemas plastik. Selanjutnya bare core dibawa ke warehouse menggunakan forklift. c. Soft Core/Veneer. Proses soft core/veneer adalah proses pembentukan lapisan kayu tipis. Proses kerja soft core/ veneer dapat dilihat pada bagan aliran proses Gambar 4.9. Bahan Baku Datang Warehouse Round Up Repair Spindles Hot Press Cliper Gambar 4.9 Aliran Proses Soft Core i. Bahan Baku Bahan baku yang digunakan adalah kayu falcata albasia dalam bentuk gelondongan/log diameter 14cm-33cm panjang mencapai 1.3 atau 2.6 meter. ii. Round Up Proses round up adalah proses pengulitan log mesin round up untuk menghilangkan benjolan/mata kayu ranting. round up yang digunakan PT. Rama Gombong Sejahtera ada dua jenis yaitu mesin round up manual dan mesin round up otomasi. ini dapat digunakan untuk kayu berdiameter 7cm-56cm. iii. Spindles Proses spindles adalah proses pembentukan soft core atau veneer cara mengupas log menjadi lembaran tipis menggunakan mesin spindles. Tebal soft core yang dihasilkan mesin spindles yaitu 2.1cm kemudian soft core digulung kembali seperti log. iv. Clipper Proses clipper adalah proses pemotongan soft core yang masih terdapat lubang akibat mata kayu/benjolan. Ada dua jenis mesin clipper yaitu poly piece core dan one piece core. Poly piece core digunakan untuk memotong lebih dari 22
8 satu lubang, sedangkan one piece core digunakan untuk memotong satu lubang. Ilustrasi bentuk poly piece core dan one piece core dapat dilihat pada Gambar 4.10 dan Gambar Gambar 4.10 Poly Piece Core Gambar 4.11 One Piece Core Soft core tersebut panjang 250cm, kemudian digulung seperti log. Sisa potongan tersebut menjadi limbah dan akan digunakan sebagai bahan bakar mesin boiler. v. Hot Press Proses hot press adalah proses pemberian tekanan menggunakan mesin hidraulik bersamaan proses pemanasan menggunakan uap air. Setiap soft core akan dimasukan kedalam mesin hot press susunan 1 rongga diisi satu soft core. Suhu yang digunakan untuk proses ini yaitu sebesar 130⁰C selama 7 menit, dan 135⁰C untuk 5 menit. vi. Repair Proses repair adalah proses untuk memperi soft core hasil hot press yang retak, kulitan maupun berlubang. Peran dilakukan di meja repair cara membuang bagian yang berlubang kemudian menambalnya sisa soft core kemudian diberi plester/solasi. Ilustrasi repair dapat dilihat pada gambar Lubang Retak Kulitan Gambar 4.12 Soft Core yang di Repair vii. Warehouse Soft core yang telah selesai di repair kemudian di setting atau ditumpuk sesuai pola yang telah ditentukan dan selanjutnya akan dibawa dan disimpan di warehouse menggunakan forklift. 23
9 d. Block Board Proses block board adalah proses penggabungan bare core soft core/veneer. Ada 2 jenis block board yang dihasilkan PT. Rama Gombong Sejahtera yaitu block boad 3 ply dan block board 5 ply. Proses kerja block board dapat dilihat pada bagan aliran proses Gambar Pengeleman Cold Press Repair Hot Press Setting Sanding Kalibrasi Dempul Pengeleman Cold Press Repair Hot Press Packaging Sanding Kikukawa Dempul Sizer = Block Board 3 Ply = Block Board 5 Ply Gambar 4.13 Aliran Proses Block Board i. Pengeleman Proses Pengeleman dilakukan cara mengelem bagian atas dan bawah bare board mesin glue spreader kemudian dilapisi soft core dibagian atas dan bawahnya. Lem yang digunakan dibuat komposisi UL: 100kg, Tepung Industri: 20kg, H2/Hardener: 0.25kg, Air: 7liter. Lem tersebut dapat digunakakan untuk 116 lembar 3 ply kemudian dicampur menggunakan mesin mixer. Ilustrasi block board 3 ply dapat dilihat pada Gambar Soft Core Bare Core Soft Core Gambar 4.14 Block Board 3 Ply 24
10 ii. Cold Press Proses ini menggunakan mesin cold press untuk memberikan tekanan block board agar lem menyatu. Ada 4 mesin yang digunakan PT. Rama Gombong Sejahtera. Untuk block board 3 ply dibutuhkan waktu 40 menit. iii. Repair Pada tahap ini block board yang telah melalui proses cold press dirapihkan pada setiap sisi nya. Ilustrasi repair dapat dilihat pada Gambar Soft Core Bare Core Soft Core Gambar 4.15 Ilustrasi Repair Block Board 3 Ply iv. Hot Press Proses ini menggunakan mesin hot press untuk memberikan tekanan dan panas dari uap air ke block board agar lem kering dan menyatu. Dalam satu mesin dapat diisi 14 plat/tumpukan. Untuk block board 3 ply dibutuhkan waktu 4 meniit, sedangkan untuk block board 5 ply dibutuhkan waktu 2 menit. v. Dempul Block board 3 ply yang telah di hot press akan dilihat permukaannya, jika terdapat celah/rongga akan di dempul untuk menutup celah/rongga yang ada. Bahan dempul terdiri dari kalsium, kawul/serbuk kayu, UL, lem putih kemudian di mixer. vi. Sanding Kalibrasi Proses ini menggunakan mesin sending kalibrasi untuk meratakan kedua sisi block board. Perataan ini dilakukan untuk membuat block board lebih rapi dan halus di kedua sisinya. vii. Setting Proses setting adalah proses penumpukan block board sesuai pola yang telah ditentukan. Pola penumpukan yang digunakan yaitu pola zig-zag memberi jarak pada tumpukan selanjutnya, hal ini akan memudahkan operator ketika mengambil block board. viii. Pengeleman Proses Pengeleman dilakukan cara mengelem bagian atas dan bawah block board 3 ply mesin glue spreader kemudian dilapisi face 25
11 back yang dibeli dari supplier. Face back yaitu berbentuk lembaran, sejenis soft core/veneer tetapi lebih tipis dan ringan. Face back tersebut akan melapisi bagian atas dan bawah block board 3 ply. Lem yang digunakan dibuat komposisi UL: 100kg, Tepung Industri: 20kg, H2/Hardener: 0.25kg, Air: 7liter. Lem tersebut dapat digunakakan 124 lembar 5 ply kemudian dicampur menggunakan mesin mixer. Ilustrasi block board 5 ply dapat dilihat pada Gambar Face Back Soft Core Bare Core ix. Cold Press Gambar 4.16 Block Board 5 Ply Proses ini menggunakan mesin cold press untuk memberikan tekanan block board agar lem menyatu. Ada 4 mesin yang digunakan PT. Rama Gombong Sejahtera. Untuk block board 5 ply dibutuhkan waktu 20 menit. x. Repair Soft Core Face Back Pada tahap ini block board yang telah melalui proses cold press dirapihkan pada setiap sisi nya. Ilustrasi repair dapat dilihat pada Gambar Face Back Soft Core Bare Core Soft Core Face Back Gambar 4.17 Ilustrasi Repair Block Board 5 Ply xi. Hot Press Proses ini menggunaan mesin hot press untuk memberikan tekanan dan panas dari uap air ke block board agar lem kering dan menyatu. Dalam satu mesin dapat diisi 14 plat/tumpukan. Untuk block board 5 ply dibutuhkan waktu 2 menit. xii. Sizer Proses ini menggunakan mesin sizer untuk merapikan cara membelah dan memotong block board 5 ply. Proses ini dilakukan jika panjang atau lebar dari block board 5 ply melebihi ukuran yang telah ditentukan. Ilustrasi proses 26
12 belah potong menggunakan mesin sizer dapat dilihat pada gambar 4.18 dan gambar Gambar 4.18 Ilustrasi Belah Block Board 5 Ply Gambar 4.19 Ilustrasi Potong Block Board 5 Ply xiii. Dempul Block board 5 ply yang telah di hot press akan dilihat permukaannya, jika terdapat celah/rongga akan di dempul untuk menutup celah/rongga yang ada. Bahan dempul terdiri dari water base wana kuning dan merah. xiv. Sanding Kikukawa Proses ini menggunakan mesin sanding kikukawa untuk meratakan permukaan kedua sisi block board 5 ply. Perataan ini dilakukan untuk membuat block board lebih rapi dan halus di kedua sisinya. xv. Packaging Block board 3 ply dan 5 ply yang telah selesai akan dikemas plastik. Selanjutnya block board tersebut dibawa ke warehouse menggunakan forklift. e. Warehouse Block board 5 ply yang telah selesai di setting akan dibawa dan disimpan di warehouse menggunakan forklift. f. Produk siap Jual Block board yang telah selesai akan dikirim sesuai permintaan. 27
13 4.3. Pemilihan yang Diteliti Berdasarkan rumusan masalah diketahui bahwa efektivitas penggunaan mesin jumping saw masih rendah dikarenakan tidak adanya preventive maintenance. Pada tabel 4.3 akan ditampilkan mengenai jumlah dan kondisi mesin yang ada di PT. Rama Gombong Sejahtera. No. Tabel 4.3 Jumlah dan Kondisi di PT. Rama Gombong Sejahtera Nama Jumlah 1 Boiler 2 2 Jumping Saw 4 3 Shapper 2 4 Double Planer 2 5 Gangrib Conveyor Press Radial Saw 2 2 Kondisi Berfungsi 2 mesin (hasil rombakan), 2 mesin rusak (mati) (hasil rombakan) Frekuensi Penggunaan Freku ensi Kerus akaan 24 jam/hari - 7,5 jam/shift 7,5 jam/shift 7,5 jam/shift 7,5 jam/shift 1-3 kali/ha ri 0-1 kali/mi nggu 0-1 kali/bul an 0-1 kali/bul an Keterangan Pembakaran kayu pada mesin boiler dilakukan terus menerus, dan akan berhenti pada saat dilakukan pembersihan/pe rawatan setiap 2 minggu sekali Core yang dihasilkan +/ buah/mesin shapper yang dihasilkan +/- 300 buah/mesin Penggantian amplas dilakukan ketika amplas telah aus Penggantian blade dilakukan ketika blade rusak atau telah aus 7,5 jam/shift - - 7,5 jam/shift 0-1 kali/bul an Penggantian circular saw/blade dilakukan ketika blade rusak atau telah aus 28
14 No. 8 Nama Manual Press Jumlah 2 9 Round Up 2 10 Spindless Hot Press (Tahap Soft Core/Ven eer) Glue Spreader Cold Press Hot Press (Tahap Block Board) Sanding Kalibrasi Tabel 4.3 (Lanjutan) Kondisi (1 mesin otomasi, 1 mesin manual) Frekuensi Penggunaan Freku ensi Kerus akaan Keterangan 7,5 jam/shift - - Tergantung ketersediaan bahan baku gelondongan kayu/log Tergantung ketersediaan bahan baku gelondongan kayu/log Tergantung ketersediaan bahan baku gelondongan kayu/log Tergantung permintaan customer dan warehouse Tergantung permintaan customer dan warehouse Tergantung permintaan customer dan warehouse Tergantung permintaan customer dan warehouse 0-1 kali/bul an 0-1 kali/bul an Penggantian circular saw/blade dilakukan ketika blade rusak atau telah aus Penggantian blade dilakukan ketika blade rusak atau telah aus berukuran besar jarang terjadi kerusakan Pengeleman dilakukan tergantung permintaan customer dan warehouse dan akan berhenti pada saat dilakukan pembersihan/pe rawatan setiap 2 minggu sekali berukuran besar jarang terjadi kerusakan berukuran besar jarang terjadi kerusakan Penggantian amplas dilakukan ketika amplas telah aus 29
15 Tabel 4.3 Lanjutan No. Nama Jumlah 16 Sizer 2 17 Sanding Kikukawa 2 Kondisi Frekuensi Penggunaan Tergantung permintaan customer dan warehouse Tergantung permintaan customer dan warehouse Freku ensi Kerus akaan - - Keterangan Penggantian blade dilakukan ketika blade rusak atau telah aus Penggantian amplas dilakukan ketika amplas telah aus di PT. Rama Gombong Sejahtera dapat dibagi menjadi 4 bagian sesuai proses produksinya yaitu tahap bahan baku, tahap barecore tahap softcore, dan tahap blockboard. Tahap bahan baku terdiri dari mesin boiler yang beroperasi selama 24 jam, dan dilakukan perawatan mesin termasuk pembersihan kerak pada mesin boiler setiap dua minggu sekali. Kondisi dari mesin boiler di PT. Rama Gombong Sejahtera saat ini masih sehingga mesin boiler tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Tahap selanjutnya adalah tahap barecore, tahap ini terdiri dari beberapa proses pengerjaan menggunakan berbagai macam mesin. tersebut antara lain mesin jumping saw, mesin shapper, mesin double planer, mesin gangrib, mesin conveyor press, mesin radial saw, mesin manual press. Ada 4 mesin jumping saw yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 2 dalam kondisi yang cukup, dan 2 lainnya dalam kondisi mati. jumping saw yang masih banyak sekali mengalami perombakan, terutama untuk pergantian komponen mesin. Frekuensi penggunaan mesin jumping saw sekitar 7,5 jam per shift nya dan ratarata kerusakan pada mesin jumping saw sekitar 1-3 kali dalam sehari sehingga mesin jumping saw termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Selanjutnya ada 2 mesin shapper yang kondisi mesinnya masih walaupun mesin sudah dalam bentuk rombakan. Frekuensi penggunaan mesin shapper sekitar 7,5 jam per shift nya dan rata-rata kerusakan mesin shapper sekitar 0-1 kali dalam seminggu sehingga mesin shapper tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Selanjutnya ada 2 mesin double planer yang kondisinya masih dan kokoh. Frekuensi penggunaan mesin double planer sekitar 7,5 jam per 30
16 shift nya dan rata-rata kerusakan mesin double planer sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung dari keausan amplas sehingga mesin double planer tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Selanjutnya ada 2 mesin gangrib yang kondisinya masih dan kokoh. Frekuensi penggunaan mesin gangrib sekitar 7,5 jam per shift nya dan rata-rata kerusakan mesin gangrib sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung dari kondisi blade sehingga mesin gangrib tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Selanjutnya ada 2 mesin conveyor press dimana kondisi mesin tersebut masih dan jarang mengalami kerusakan. Selanjutnya ada 2 mesin radial saw yang kondisinya masih dan kokoh. Frekuensi penggunaan mesin radial saw sekitar 7,5 jam per shift nya dan rata-rata kerusakan mesin radial saw sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung dari kondisi circular saw/blade sehingga mesin radial saw tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Selanjutnya ada 2 mesin manual press dimana kondisi mesin tersebut masih dan jarang mengalami kerusakan. Tahap selanjutnya adalah tahap softcore/veneer tahap ini terdiri dari beberapa proses pengerjaan menggunakan berbagai macam mesin. tersebut antara lain mesin round up, mesin spindles, mesin hot press. Ada 2 mesin round up yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 2 dalam kondisi yang cukup 1 mesin sudah terotomasi, dan 1 mesin manual. Frekuensi penggunaan mesin round up tergantung dari ketersediaan bahan baku gelondongan kayu/log sehingga mesin hanya akan beroperasi jika bahan baku awal yaitu kayu gelondongan/log tersedia. Rata-rata kerusakan pada mesin round up sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung dari kondisi circular saw/blade sehingga mesin round up tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Ada 2 mesin spindles yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 2 dalam kondisi yang cukup. Frekuensi penggunaan mesin spindles tergantung dari ketersediaan bahan baku gelondongan kayu/log sehingga mesin hanya akan beroperasi jika bahan baku awal yaitu kayu gelondongan/log tersedia. Rata-rata kerusakan pada mesin spindles sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung dari kondisi circular saw/blade sehingga mesin spindles tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Selanjutnya ada 3 mesin hot press dimana kondisi mesin tersebut masih dan jarang mengalami kerusakan. Tahap selanjutnya adalah tahap barecore tahap ini terdiri dari beberapa proses pengerjaan menggunakan berbagai macam mesin. tersebut antara lain glue 31
17 spreader, cold press, hot press, sanding kalibrasi, sizer, sanding kikukawa. Ada 2 mesin glue spreader yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, kedua mesin tersebut dalam kondisi yang akan tetapi frekuensi penggunaan mesin glue spreader tergantung dari Tergantung permintaan customer dan warehouse sehingga mesin hanya akan beroperasi jika ada permintaan dari customer dan permintaan dari warehouse. Rata-rata kerusakan pada mesin glue spreader sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung dari frekuensi penggunaan mesin glue spreader dan proses pembersihan/perawatan kerak lem setiap 2 minggu sekali sehingga mesin glue spreader tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Ada 4 mesin cold press yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 4 dalam kondisi yang. Frekuensi penggunaan mesin cold press tergantung dari permintaan customer dan warehouse. Rata-rata kerusakan pada mesin cold press sekitar 0-1 kali dalam sebulan sehingga mesin cold press tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Ada 4 mesin hot press yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 4 dalam kondisi yang Frekuensi penggunaan mesin hot press tergantung dari permintaan customer dan warehouse. Rata-rata kerusakan pada mesin hot press sekitar 0-1 kali dalam sebulan sehingga mesin hot press tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Ada 2 mesin sanding kalibrasi yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 2 dalam kondisi yang. Frekuensi penggunaan mesin sanding kalibrasi tergantung dari permintaan customer dan warehouse. Rata-rata kerusakan pada mesin sanding kalibrasi sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung penggantian ketika amplas telah aus sehingga mesin sanding kalibrasi tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Ada 2 mesin sizer yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 2 dalam kondisi yang. Frekuensi penggunaan mesin sizer tergantung dari permintaan customer dan warehouse. Rata-rata kerusakan pada mesin sizer sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung penggantian ketika blade telah aus sehingga mesin sizer tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. Ada 2 mesin sanding kikukawa yang terdapat di PT. Rama Gombong Sejahtera, 2 dalam kondisi yang. Frekuensi penggunaan mesin sanding kikukawa tergantung dari permintaan customer dan warehouse. Rata-rata kerusakan pada mesin sanding kikukawa sekitar 0-1 kali dalam sebulan tergantung penggantian ketika amplas telah aus sehingga mesin sanding kikukawa tidak termasuk kedalam objek yang akan diteliti penulis. 32
18 Dari berbagai macam mesin yang ada di PT. Rama Gombong Sejahtera dipilihlah mesin jumping saw sebagai objek penelitian. Pemilihan ini didapat dari hasil wawancara, kondisi mesin, frekuensi penggunaan serta frekuensi kerusakan mesin. Pertimbangan yang perlu diperhatikan ketika memilih mesin jumping saw ditampilkan pada Gambar 4.20 Lingungan sudah tua Motor Terbakar Listrik PLN Mati Service ringan Rusak Service mesin Komponen aus Breakdown Sistem Perawatan Berdasarkan Pengalaman Belum ada SOP Berdasarkan Pelatihan diawal kerja SOP kerja Metode Kelalaian Operator Operator kelelahan Manusia Gambar 4.20 Diagram Fishbone Jumping Saw Berdasarkan diagram fishbone diatas breakdown pada mesin jumping saw dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor manusia, mesin, dan metode yang akan dijelaskan sebagai berikut: a. Manusia Faktor manusia yang paling sering dialami operator jumping saw adalah faktor kelalaian yang disebaban operator lupa melakukan pengecekan terhadap mesin sebelum memulai bekerja. b. Faktor mesin yang menyebabkan terjadinya breakdown ada dua yaitu perawatan mesin tidak pernah dilakukan secara menyeluruh, hanya dilakukan ketika mesin sudah mengalami breakdown dan yang kedua yaitu ada komponen yang rusak. Kerusakan komponen disebabkan oleh umur mesin jumping saw yang sudah berumur sehingga motor menjadi panas, selain itu juga ada beberapa komponen yang mengalami keausan. c. Metode Faktor mesin yang menyebabkan terjadinya breakdown yaitu belum adanya SOP pengoperasian mesin dan SOP perawatan mesin. Pengoperasian mesin selama ini hanya dilakukan berdasarkan pengalaman diawal kerja, sedangkan 33
19 perawatan mesin dilakukan hanya berdasarkan pengalaman. Tidak adanya SOP ditambah tidak adanya pencatatan menyebabkan breakdown pada mesin tidak bisa dianalisis maupun dibuat langkah preventive-nya. d. Lingkungan Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya breakdown pada mesin jumping saw adalah pemadaman listrik oleh PLN Spesifikasi Jumping Saw Pada Tabel 4.4 akan ditampilkan mengenai perbandingan spesifikasi dari mesin jumping saw yang ada di PT. Rama Gombong Sejahtera mesin whirlwind cut off saw model. a. Spesifikasi Jumping Saw i. Merk : - (Rombakan) ii. Model : - (Rombakan) iii. Umur : tahun b. Spesifikasi Whirlwind Cut off Saw Model Spesifikasi mesin dapat dilihat pada lampiran manual book mesin Whirlwind Cut off Saw Model Tabel 4.4 Perbandingan Spesifikasi dari Jumping Saw Whirlwind Cut off Saw Model 34
20 Tabel 4.4 Lanjutan Whirlwind Cut off Saw Model 1000-S Kondisi mesin jumping saw 1 ( sudah tidak beroperasi) Kondisi mesin jumping saw 2 ( masih beroperasi) Kondisi mesin jumping saw 3 ( masih beroperasi) 35
21 Tabel 4.4 Lanjutan Kondisi mesin jumping saw 4 di dalam lingkaran ( sudah tidak beroperasi) Guard Foot Valve Blades Motor & Vee Belts Spindle Pivot Valve 36
22 Tabel 4.4 Lanjutan Whirlwind Models Sedangkan pada Tabel 4.5 akan ditampilan panduan pengoperasian jumping saw (Operating manual jumping saw). Tabel 4.5 Panduan Pengoperasian Jumping Saw (Operating Manual Jumping Saw) No Deskripsi Gambar 1 Hidupkan mesin jumping saw menekan panel warna hijau (Panel mesin jumping saw memiliki dua tombol, tombol berwarna hijau digunakan untuk menghidupan mesin, sedangkan tombol berwarna merah digunakan untuk mematikan mesin) 37
23 Tabel 4.5 Lanjutan 2 Letakan balok kayu ke meja potong mesin jumping saw. Letakan balok kayu sesuai ukuran yang diinginkan 3 Tekan foot valve/pedal kaki untuk memotong balok kayu (Foot Valve/pedal kaki digunakan untuk mendorong udara pada komponen pneumatic sehingga mata pisau/blade bergerak dan memotong balok kayu) Permasalahan breakdown yang terjadi pada mesin jumping saw sehingga proses produksi tidak memenuhi target dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Mata pisau tumpul Mata pisau tumpul terjadi karena umur pakai mata pisau sudah habis. Pemakaian mata pisau tumpul secara terus menerus dapat menyebabkan kualitas kayu yang menjadi rusak. Selain itu getaran yang ditimbulkan oleh motor terlalu besar sehingga pada saat pemotongan kayu, mata pisau menjadi lebih cepat tumpul. Mata pisau yang tumpul dapat dilihat pada Gambar
24 Gambar 4.21 Blade/mata pisau/circular saw yang tumpul b. Kabel tidak rapi Posisi kabel yang tidak rapi dapat menyebabkan kabel putus. Posisi kabel juga tidak tertutup sehingga resiko terputusnya kabel menjadi besar. Pengaturan kabel yang tidak rapi dapat dilihat pada Gambar 4.22 Gambar 4.22 Pengaturan Kabel yang Tidak Rapi c. Motor dan rotary belt tidak tertutup Tidak adanya penutup pada motor dan rotary belt dapat menyebabkan motor menjadi panas dan terbakar dikarenakan serbuk kayu hasil pemotongan menempel. Tidak tertutupnya motor dan rotary belts dapat menyebabkan bahaya bagi operator ketika ada potongan kayu jatuh kedalam motor dan rotary belts. Kondisi motor dan rotary belt yang tidak tertutup dapat dilihat pada Gambar 4.23 Gambar 4.23 Motor dan Rotary Belts Tidak Tertutup 39
25 d. Human Error Hal ini terjadi dikarenakan operator lalai/tidak menerapkan prinsip 5S dan SOP yang telah diberlakukan oleh perusahaan. Kelalaian tersebut antara lain tidak memiliki inisiatif untuk membuat kondisi lingkup kerja menjadi nyaman dan aman, seperti membiarkan posisi kabel tidak rapi, membiarkan bagian motor dan rotary belt tidak tertutup. Begitu juga SOP pemotongan kayu, pemotongan terus dilakukan mesipun mata pisau sudah hampir tumpul. Salah satu kelalaian dapat dilihat pada Gambar 4.24 yaitu operator lalai menerapkan prinsip 5S dan SOP yang telah diberlakukan. Gambar 4.24 Human Error yang terjadi 4.5. Keterkaitan Hasil Pendahuluan Metode yang Digunakan Berdasarkan hasil pendahuluan yang telah dilakukan diketahui bahwa mesin jumping saw memiliki frekuensi kerusakan yang tinggi. Kerusakan ini terjadi disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor manusia seperti lupa mengecek kondisi mesin sebelum memulai pekerjaan dapat menyebabkan terjadinya breakdown pada mesin jumping saw, terlebih jika melihat kondisi mesin jumping saw saat ini yang telah mengalami perombakan komponen. Faktor mesin yaitu pemeriksaan secara menyeluruh tidak pernah dilakukan sehingga banyak komponen yang seharusnya telah diganti akan tetapi tidak terjadi pergantian. Faktor metode yaitu preventive maintenance yang ada di PT. Rama Gombong Sejahtera juga belum terbentuk, sehingga jika terjadi kerusakan pada mesin maka proses produksi berhenti dan akan berjalan kembali ketika mesin telah selesai diperi. Sistem corrective maintenance yang ada di PT. Rama Gombong Sejahtera tidak mampu memprediksi kerusakan mesin sehingga waktu yang digunakan untuk melakukan peran tidak dapat ditetapkan. Dari permasalahan tersebut, maka dilakukan perancangan TPM untuk memberikan usulan terhadap prosedur perawatan mesin sehingga PT. Rama Gombong Sejahtera dapat mengetahui kapan dan bagaimana melakukan perawatan mesin yang tepat 40
PERANCANGAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE MESIN JUMPING SAW DI PT. RAMA GOMBONG SEJAHTERA
PERANCANGAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE MESIN JUMPING SAW DI PT. RAMA GOMBONG SEJAHTERA TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Industri GABRIEL GALANG
PENINGKATAN RENDEMEN BARECORE DI PT ANUGERAH TRISTAR INTERNASIONAL
PENINGKATAN RENDEMEN BARECORE DI PT ANUGERAH TRISTAR INTERNASIONAL Michael Raymond 1, Felecia 2 Abstract: PT Anugerah Tristar Internasional is a woodworking company which produces barecore. Barecore is
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. proses pertumbuhannya yaitu berkisar antara ºc dan baik di tanam pada
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Singkong Singkong merupakan tumbuhan umbi-umbian yang dapat tumbuh di daerah tropis dengan iklim panas dan lembab. Daerah beriklim tropis dibutuhkan singkong untuk
ANALISA JENIS LIMBAH KAYU PADA INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI KALIMANTAN SELATAN
ANALISA JENIS LIMBAH KAYU PADA INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI KALIMANTAN SELATAN THE ANALYSIS OF VARIETY OF WOOD WASTE MATERIAL FROM WOOD INDUSTRY IN SOUTH BORNEO Djoko Purwanto *) *) Peneliti Baristand Industri
BAB I PENDAHULUAN. FREKUENSI KERUSAKAN PER BULAN (Times)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perkembangan industri sekarang ini, banyak perusahaan yang mencari alternatif untuk meningkatkan usaha perbaikan untuk menunjang produktivitas dalam produksinya.
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Umum Perusahaan CV. Makmur Palas merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pendaur ulangan sampah plastik menjadi kantong plastik. Perusahaan ini
BAB 2 BAMBU LAMINASI
BAB 2 BAMBU LAMINASI 2.1 Pengertian Bambu Laminasi Bambu Laminasi adalah balok/papan yang terdiri dari susunan bilah bambu yang melintang dengan diikat oleh perekat tertentu. Pada tahun 1942 bambu laminasi
BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih
BAB IV HASIL PEMBUATAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Visualisasi Proses Pembuatan Sebelum melakukan proses pembuatan rangka pada incinerator terlebih dahulu harus mengetahui masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja
BAB 5 SIMPULAN & SARAN
BAB 5 SIMPULAN & SARAN 5.1 Simpulan Dari penelitian, pengolahan data dan analisa yang sudah dilakukan oleh penulis, maka dapat disimpulan sebagai berikut : 1. Jenis kecacatan yang terdapat pada proses
BAB V ANALISA. 5.1 Analisa Tahapan Define
5.1 Analisa Tahapan Define BAB V ANALISA 5.1.1 Analisa Diagram SIPOC(Supplier Input Process Output Customer) Dari hasil penggambaran Diagram SIPOC, terlihat informasi elemenelemen yang terlibat langsung
Universitas Sumatera Utara
LAMPIRAN 1 Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Adapun uraian tugas dan tanggung jawab setiap bagian pada PT. Tjipta Rimba Djaja dapat dilihat sebagai berikut: 1. Direktur a. Memberikan garis besar kebijaksanaan
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
25 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 ALUR PROSES PRODUKSI Perawatan Berkala 40 Jam Pembersihan Conveyor Belt pengecekan ketajaman pisau. Mesin Tidak Rusak 8 Jam PengecekanTombo l-tombol Emergency Mesin
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4. 1 Sejarah Singkat Perusahaan PT. Samawood Utama Works Industries adalah perusahaan swasta nasional, yang bergerak di bidang industri perkayuan dan berbentuk Perseroan
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Profil Perusahaan PT. Panca Eka Bina Plywood Industry Berdasarkan dokumen yang diberikan diketahui PT. Panca Eka Bina Plywood Industry (PT.PEBPI) merupakan salah
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
26 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 MESIN SILENT CUTTER TYPE SCR-250S Mesin cutter ini menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama dan V-belt untuk mentransmisikan daya dari poros yang satu
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan Di negara Indonesia banyak berkembang usaha-usaha dalam industri mebel, dengan memanfaatkan bahan baku kayu hingga
PERBAIKAN TATA LETAK GUDANG KALENG DI SURABAYA
PERBAIKAN TATA LETAK GUDANG KALENG DI SURABAYA Indri Hapsari, Benny Lianto, Yenny Indah P. Teknik Industri, Universitas Surabaya Jl. Raya Kalirungkut, Surabaya Email : [email protected] PT. JAYA merupakan
JENIS PAPAN KAYU. Eko Sri Haryanto, M.Sn
JENIS PAPAN KAYU Eko Sri Haryanto, M.Sn 1. Solid ( kayu utuh ) Kayu utuh yang tidak dibentuk dari sambungan atau gabungan, kayu solid yang cukup populer di Indonesia al; kayu jati, sungkai, nyatoh, ramin,
LANDASAN TEORI DAN PROGRAM
PROJEK AKHIR ARSITEKTUR Periode LXV, Semester Genap, Tahun 2013/2014 LANDASAN TEORI DAN PROGRAM PABRIK PLYWOOD DI TEMANGGUNG Tema Desain Arsitektur Bioklimatik Fokus Kajian Penataan Alur Produksi Untuk
WORKING PLAN SIMPLE WALL SHELF S001
A DESKRIPSI PRODUK Simple Wall Shelf berukuran jadi 1.200 x 200 x 50 mm. Ukuran panjang dan lebar bisa ditambah/dikurangi sesuai dengan rencana penempatan anda. Varian ukuran panjang adalah 1.000 1.400mm,
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
digilib.uns.ac.id BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Skema Alur Kerja Pembuatan - Skema proses pembuatan alat pneumatik transfer station adalah alur kerja proses pembuatan alat pneumatik transfer station
BAB III BIAYA PRODUKSI USAHA DAGANG TIGA PUTRA MOJOKERTO UNTUK PENINGKATAN LABA USAHA. A. Deskripsi Umum Usaha Dagang Tiga Putra
BAB III BIAYA PRODUKSI USAHA DAGANG TIGA PUTRA MOJOKERTO UNTUK PENINGKATAN LABA USAHA A. Deskripsi Umum Usaha Dagang Tiga Putra 1. Sejarah Usaha Dagang Tiga Putra UD. Tiga Putra merupakan sebuah usaha
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7. Kesimpulan 7.. Waktu baku perusahaan. Waktu baku perusahaan yang merupakan waktu baku yang sudah dihitung dengan menambahkan faktor penyesuaian dan faktor kelonggaran di
BAB IV. KONSEP RANCANGAN
BAB IV. KONSEP RANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN / KOMUNITAS Dalam tataran lingkungan, produk rancangan yang dibuat dengan memanfaatkan limbah kayu palet secara maksimal. Palet kayu biasa digunakan sebagai
Diproduksi oleh: PT. Bangunperkasa Adhitamasentra Distributor: PT. Ciptapapan Dinamika SISTEM SAMBUNGAN FLUSH JOINT
Diproduksi oleh: PT. Bangunperkasa Adhitamasentra Distributor: PT. Ciptapapan Dinamika SISTEM SAMBUNGAN FLUSH JOINT Daftar Isi Pemasangan Rangka... 1 Pemasangan Papan GRC board... 4 Penyambungan GRC board
PENENTUAN JUMLAH MESIN DAN OPERATOR LINTASAN PRODUKSI UTAMA BERDASARKAN TARGET PRODUKSI BARU DI CV. SINAR ALBASIA UTAMA
PENENTUAN JUMLAH MESIN DAN OPERATOR LINTASAN PRODUKSI UTAMA BERDASARKAN TARGET PRODUKSI BARU DI CV. SINAR ALBASIA UTAMA Fran Setiawan 1), Yosef Daryanto 2) dan Yosephine Suharyanti 2) 1) Program Studi
BAB II PROSES BISNIS PERUSAHAAN
BAB II PROSES BISNIS PERUSAHAAN II.1 Proses Bisnis Keseluruhan Pelanggan membawa mobilnya dan menyampaikan keluhannya pada pihak bengkel. Pihak bengkel akan melakukan pemeriksaan dan dilakukan estimasi
USULAN PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS PADA PERLUASAN PABRIK CV SINAR ALBASIA UTAMA
USULAN PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS PADA PERLUASAN PABRIK CV SINAR ALBASIA UTAMA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Teknik Industri Oleh Fran Setiawan 08
BAB II METODE PERANCANGAN
BAB II METODE PERANCANGAN A. Keaslian (Orisinalitas) Sebuah produk tidaklah ada yang benar benar asli dari hasil pemikiran. Melainkan ada pengembangan atau inovasi inovasi baru dari produk yang sudah ada.
LAMPIRAN I DATA PENGAMATAN. 1. Data Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu
LAMPIRAN I ATA PENGAMATAN. ata Uji Kinerja Alat Penepung dengan Sampel Ubi Jalar Ungu Berikut merupakan tabel data hasil penepungan selama pengeringan jam, 4 jam, dan 6 jam. Tabel 8. ata hasil tepung selama
VI. RANCANGAN KERJA DAN TATA LETAK. A. Prinsip Rancangan dan Kerja Industri Penggergajian
VI. RANCANGAN KERJA DAN TATA LETAK A. Prinsip Rancangan dan Kerja Industri Penggergajian Agar suatu industri penggergajian yang didirikan dapat berjalan lancar, sesuai dengan rencana, selama jangka waktu
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Perusahaan CV. Topaz Profile and Frame didirikan pada bulan Agustus 2011, pendiri sekaligus pemilik pabrik ini adalah Ir. Tanib Sembiring Cjolia, M.Eng. Pabrik
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di laboratorium pengolahan limbah Fakultas Peternakan IPB untuk pembuatan alat dan pembuatan pelet pemurni. Contoh biogas yang digunakan dalam
BAB IV PROSES PEMBUATAN
BAB IV PROSES PEMBUATAN 4.1. Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pengayak pasir. Komponen-komponen yang akan dibuat adalah komponen yang tidak
Kesimpulan dan Saran BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Dengan penerapan total productive maintenance (TPM) menggunakan pengukuran efektivitas dengan melakukan pengukuran dengan cara overall equipment effectiveness
BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kegiatan perusahaan, kajian tentang produktivitas umumnya selalu dikaitkan hanya pada masalah teknologi produksi dan masalah ekonomi, padahal disamping hal tersebut
BAB IV PROSES PEMBUATAN DESIGNER TOYS KERAMIK. Proses produksi karya akhir memanfaatkan hasil studi terpilih, baik
BAB IV PROSES PEMBUATAN DESIGNER TOYS KERAMIK Proses produksi karya akhir memanfaatkan hasil studi terpilih, baik dari bentuk maupun material. Berikut ini adalah proses produksi designer toys keramik.
ABSTRAK. v Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Tahu Sumedang adalah salah satu makanan khas Kota Sumedang. Pabrik Tahu di Sumedang semakin berkembang karena potensi pasar yang tinggi. Salah satu pabrik tahu di Kota Sumedang yaitu pabrik tahu
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan CV. Topaz Profile and Frame didirikan pada bulan Agustus 2011, pendiri sekaligus pemilik pabrik ini adalah Bapak Tanib S. Cjolia. Pabrik ini didirikan
MESIN PENGGORENG VAKUM (VACUUM FRYER)
MESIN PENGGORENG VAKUM (VACUUM FRYER) Buku Petunjuk Perakitan Perawatan Pengoperasian Jl. Rajekwesi 11 Malang Jawa Timur Indonesia (0341)551634 Website: 1 a. CARA PERAKITAN Untuk dapat memperoleh kinerja
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kondisi Industri Kayu Lapis 4.1.1 Gambaran Umum Industri Kayu Lapis CV Mekar Abadi merupakan industri yang bergerak dibidang kayu olahan yang masih berupa produk setengah jadi.
Bab I Pendahuluan. Gambar I. 1 Desain Kantong Pasted. Sumber : Biro Pabrik Kantong PT. Semen Padang
Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang PT. Semen Padang merupakan pabrik semen tertua di Indonesia yang didirikan pada 18 Maret 1910 dengan nama NV. Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschaapi (NV
BAB VII LAMPIRAN. Perhitungan Neraca Massa pada Proses Pengolahan Sari Buah Jambu Biji Merah:
BAB VII LAMPIRAN Perhitungan Neraca Massa pada Proses Pengolahan Sari Buah Jambu Biji Merah: Ukuran buah jambu biji merah: - Diameter = + 10 cm - 1kg = 7-8 buah jambu biji merah (berdasarkan hasil pengukuran)
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN. Pada Bab ini, akan dibahas hasil kesimpulan dan saran dari peneilitian yang telah dilakukan.
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN Pada Bab ini, akan dibahas hasil kesimpulan dan saran dari peneilitian yang telah dilakukan. 6.1. Kesimpulan Rancangan program preventive maintenance dengan pendekatan Total
BAB III PERANCANGAN CONTAINER DAN CONVEYOR ROKOK
BAB III PERANCANGAN CONTAINER DAN CONVEYOR ROKOK Pada bab ini akan dijelaskan tentang pembuatan perancangan container dan conveyor rokok, yang merupakan bagian dari mesin vending rokok type conveyor-elevator.
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian PT. Buana Indah Kreasi adalah sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi kardus untuk kemasan (karton box) sebagai produk yang dijual. PT. Buana Indah
III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2012, dan Maret 2013 di
22 III. METODELOGI PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2012, dan 20 22 Maret 2013 di Laboratorium dan Perbengkelan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian,
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Tiga Bawang merupakan sebuah industri kecil menengah yang bergerak dibidang pembuatan keripik dengan bahan baku ubi kayu. UD. Tiga Bawang adalah
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
V-29 BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT. Sinar Utama Nusantara (PT. SUN) merupakan perusahaan yang berlokasi di jalan Batang kuis Km 3,8 Desa Telaga Sari, Tanjung Morawa yang didirikan
Studi Kelayakan Usulan Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas (Studi Kasus di Rafi Furniture)
Studi Kelayakan Usulan Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas (Studi Kasus di Rafi Furniture) Isana Arum Primsari Teknik Industri FTI Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Email: [email protected] ABSTRAK
BAB II METODE PERANCANGAN
BAB II METODE PERANCANGAN A. Orisinalitas Pada dasarnya mainan edukatif memiliki berbagai macam variasi bentuk maupun variasi dari cara bermainnya. Ada variasi mainan yang sudah memiliki bentuk dan ukuran
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka Conveyor merupakan suatu alat transportasi yang umumnya dipakai dalam proses industri. Conveyor dapat mengangkut bahan produksi setengah jadi maupun hasil produksi
ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL
ANALISA EKONOMIS PERBANDINGAN KAPAL KAYU SISTEM LAMINASI DENGAN SISTEM KONVENSIONAL Syahrizal & Johny Custer Teknik Perkapalan Politeknik Bengkalis Jl. Bathin Alam, Sei-Alam, Bengkalis-Riau [email protected]
BAB VI PERAWATAN DI INDUSTRI
BAB VI PERAWATAN DI INDUSTRI Tenaga kerja, material dan perawatan adalah bagian dari industri yang membutuhkan biaya cukup besar. Setiap mesin akan membutuhkan perawatan dan perbaikan meskipun telah dirancang
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
38 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Untuk mendukung perhitungan statistikal pengendalian proses maka diperlukan data. Data adalah informasi tentang sesuatu, baik yang bersifat kualitatif
BAB II METODE PERANCANGAN
BAB II METODE PERANCANGAN 1. Orisinalitas Perbedaan karya rancangan penulis dengan karya desainer lain berdasarkan riset yang penulis kumpulkan adalah desainer lain ada juga yang membuat rancangan meja
BAB V ANALISA. Value added time Leadtime. = 3,22jam. 30,97 jam x 100% = 10,4%
BAB V ANALISA 5.1 Analisa Current State Value Stream Mapping (CVSM) Value stream mapping merupakan sebuah tools untuk memetakan jalur produksi dari sebuah produk yang didalamnya termasuk material dan informasi
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dan bergerak di bidang jam tangan. Grootwatch memproduksi jam tangan yang
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Grootwatch merupakan salah satu industri kreatif yang sedang berkembang dan bergerak di bidang jam tangan. Grootwatch memproduksi jam tangan yang terbuat dari
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Kreasi Lutvi merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi makanan ringan keripik singkong. UD. Kreasi Lutvi berdiri pada tahun 1999. Sejarah
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT. Sari Tani Jaya Sumatera merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan ubi kayu untuk menghasilkan produk tepung tapioka yang
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Setelah melakukan pengumpulan data yang selanjutnya diolah dan dianalisis sehubungan dengan penelitian pada PT. Gistex Textile Division maka dapat diperoleh kesimpulan
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan 3 PT. Tjipta Rimba Djaja merupakan Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang bergerak di bidang industri kayu untuk mengolah kayu bulat
BAB IV PROSES PEMBUATAN MESIN
BAB IV PROSES PEMBUATAN MESIN 4.1 Proses Produksi Produksi adalah suatu proses memperbanyak jumlah produk melalui tahapantahapan dari bahan baku untuk diubah dengan cara diproses melalui prosedur kerja
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan 1. Rencana target produksi yang baru sebanyak 532 lembar per lintasan produksi utama membutuhkan tambahan 1 buah mesincross cut, 2 operator cross cut, 1 operator
III. METODE PENELITIAN. Desember 2011 di bengkel Mekanisasi Pertanian Jurusan Teknik Pertanian
III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2011 sampai dengan bulan Desember 2011 di bengkel Mekanisasi Pertanian Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang
BAB II METODE PERANCANGAN
BAB II METODE PERANCANGAN A. ORISINALITAS Produk permainan sekoci handcar anak ini termasuk permainan tradisional, yang awalnya terinspirasi dari sebuah kendaraan tradisonal Handcar. Digunakan sekitar
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan Proses pembuatan adalah tahap-tahap yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil. Dalam proses pembuatan ini dijelaskan bagaimana proses bahan-bahanyang
Uji Efektifitas Teknik Pengolahan Batang Kayu Sawit untuk Produksi Papan Panil Komposit
Uji Efektifitas Teknik Pengolahan Batang Kayu Sawit untuk Produksi Papan Panil Komposit Fakhri, Syafhiddin, Haji Gussyafri, Eko Riawan Laboratorium Kayu, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas
BAB III METOLOGI PENELITIAN
BAB III METOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Metode yang digunakan adalah untuk mendekatkan permasalahan yang diteliti sehingga menjelaskan dan membahas permasalahan secara tepat. Skripsi ini menggunakan
MC-CL481. Petunjuk Pengoperasian. Penghisap Debu
Petunjuk Pengoperasian No Model Penghisap Debu MC-CL48 Kami merekomendasikan agar anda mempelajari Petunjuk Pengoperasian ini secara cermat sebelum mencoba untuk mengoperasikan alat ini, serta memperhatikan
cm, 6 cm, 5 cm, 4 cm, 3 cm. lebar 8 cm, 7 cm, 6 cm, 5 cm, 4 cm, 3 cm. Mesin ini mengeluarkan hawa panas, digunakan untuk mengeringkan kayu yang
Lampiran 1 Foto & Fungsi Mesin 1. Mesin Saw Mill/gesek kayu log menjadi papan [gambar hal. 5]. Kegunaan : Membelah kayu log menjadi papan sesuai ukuran yang diinginkan. Contoh : tebal 7 cm, 6 cm, 5 cm,
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan PT. Suryamas Lestari Prima adalah perusahaan swasta yang bergerak dalam industri pembuatan daun pintu. PT. Suryamas Lestari Prima didirikan atas
Gambar 3.1. Plastik LDPE ukuran 5x5 cm
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.1.1 Waktu Penelitian Penelitian pirolisis dilakukan pada bulan Juli 2017. 3.1.2 Tempat Penelitian Pengujian pirolisis, viskositas, densitas,
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis yang dilakukan. Bisa disimpulkan sebenarnya prosedur kerja yang ada di PT Aswi Perkasa saat ini sudah
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. Tataran Lingkungan/Komunitas Dalam pemilihan material yang akan digunakan untuk membuat sebuah rak, perlu memperhatikan juga unsur kelestarian bagi lingkungan. Penggunaan kayu
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Energi Biomassa, Program Studi S-1 Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
V. POLA DAN TEHNIK PEMBELAHAN
V. POLA DAN TEHNIK PEMBELAHAN Sebelum diuraikan mengenai pola dan tehnik pembelahan kayu bulat, terlebih dahulu akan diuraikan mengenai urut-urutan proses menggergaji, dan kayu bulat sampai menjadi kayu
BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN
BAB IV PROSES PRODUKSI DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pembuatan Proses pengerjaan adalah tahapan-tahapan yang dilakukan untuk membuat komponen-komponen pada mesin pemotong umbi. Pengerjaan yang dominan dalam
Panduan penggunamu. NOKIA SU-27W
Anda dapat membaca rekomendasi di buku petunjuk, panduan teknis atau panduan instalasi untuk. Anda akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan Anda pada di manual user (informasi, spesifikasi, keselamatan
III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai Februari
28 III. METODELOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Desember 2009 sampai Februari 2010 yang bertempat di Laboratorium Rekayasa Bioproses dan Pasca
PEMBUATAN BALOK DAN PAPAN DARI LIMBAH INDUSTRI KAYU BOARD AND WOOD BLOCK MAKING FROM WASTE OF WOOD INDUSTRIES
Jurnal Riset Industri Vol. V, No. 1, 2011, Hal. 13-20 PEMBUATAN BALOK DAN PAPAN DARI LIMBAH INDUSTRI KAYU BOARD AND WOOD BLOCK MAKING FROM WASTE OF WOOD INDUSTRIES Djoko Purwanto Balai Riset dan Standardisasi
BAB XIII PEKERJAAN PLAFOND DAN DINDING PARTISI
BAB XIII PEKERJAAN PLAFOND DAN DINDING PARTISI Pasal 1 : Material Plafond 1. Material utama plafond adalah GYPSUM BOARD 9 MM DAN ACRILYC 5 MM dengan ukuran panel standard adalah 1220 mm x 2440 mm. 2. Material
S o l a r W a t e r H e a t e r. Bacalah buku panduan ini dengan seksama sebelum menggunakan / memakai produk Solar Water Heater.
BUKU PANDUAN SOLAR WATER HEATER Pemanas Air Dengan Tenaga Matahari S o l a r W a t e r H e a t e r Bacalah buku panduan ini dengan seksama sebelum menggunakan / memakai produk Solar Water Heater. Pengenalan
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1 Proses Pengerjaan Proses pengerjaan adalah suatu tahap untuk membuat komponen-komponen pada mesin pengayak pasir. Komponen komponen yang akan dibuat adalah komponen
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan Pabrik kayu PT. Putra Flora Rimba Tani merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam pengolahan kayu yang berlokasi di tanjung morawa. PT.
BAB I PENDAHULUAN. berusaha untuk memberikan kepuasan yang terbaik bagi para konsumennya, dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pada era globalisasi seperti sekarang, alat transportasi kendaraan bermotor semakin dibutuhkan baik untuk kendaraan operasional perusahaan maupun kendaraan pribadi.
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
32 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 1.1 PERAWATAN MESIN DOUBLE FACER 1.1.1 Tahapan-Tahapan Perawatan Pada perawatan mesin double facer kali ini hanya akan dijelaskan perawatan terhadap mesin double facer
BAB IV HASIL & PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Perancangan Komponen Utama & Komponen Pendukung Pada
BAB IV HASIL & PEMBAHASAN 4.1 Hasil Perancangan Komponen Utama & Komponen Pendukung Pada Rangka Gokart Kendaraan Gokart terdiri atas beberapa komponen pembentuk baik komponen utama maupun komponen tambahan.
b. Komponen D2 Berat komponen adalah 19,68 kg Gambar 65. Komponen D1 Gambar 66. Komponen D2
1. Varian I Varian I memiliki tiga buah komponen yaitu komponen D1 yang berfungsi sebagai dinding utama, komponen D2, komponen D3 dan komponen D4. Varian I dikembangkan dalam modul 70 x 60 cm. a. Komponen
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Semakin hari semakin pesatnya perkembangan industri manufaktur
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin hari semakin pesatnya perkembangan industri manufaktur sehingga membuat produsen harus pandai dalam menghadapi persaingan. Ketatnya persaingan di pasar nasional
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan pada penelitian ini berupa metode eksperimen. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh daun sukun dalam matrik polyethylene.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN B. Tahapan Proses Pembuatan Papan Serat 1. Pembuatan Matras a. Pemotongan serat Serat kenaf memiliki ukuran panjang rata-rata 40-60 cm (Gambar 18), untuk mempermudah proses pembuatan
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1 Beton Precast Beton precast adalah suatu produk beton yang dicor pada sebuah pabrik atau sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek bangunan
TLP 12 - Kebutuhan Mesin dan Peralatan
Jam Kerja 14 jam per hari (50.400 detik per hari) Efisiensi Sistem Produksi 87% Mesin Gergaji TLP 12 - Kebutuhan Mesin dan Peralatan Waktu Jumlah Input Efisiensi Sistem Total Waktu (detik) Material (unit)
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITAS Sepanjang Januari 2015, tercatat 32 kasus pohon tumbang dan 14 pohon sempal di wilayah Jakarta. Beberapa jenis pohon yang tumbang adalah angsana,
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Kemajuan perekonomian di Indonesia telah membuat perusahaan semakin bersaing. Oleh karena itu, perusahaan terus memperbaiki dan mempertahankan produk yang mereka hasilkan. Perusahaan terus memperbaiki
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Peningkatan Mutu Kayu untuk proses persiapan bahan baku, pembuatan panel, dan pengujian
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Review PT. Union Jaya Pratama PT Union Jaya Pratama merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pembuatan kasur busa. Hasil produksi dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan
