Pengelolaan Usaha Papalele

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pengelolaan Usaha Papalele"

Transkripsi

1 Bab Tujuh Pengelolaan Usaha Papalele Pengantar Pada bab ini akan dijelaskan proses usaha papalele dan pengelolaannya serta upaya yang dilakukan untuk membentuk dan membangun jejaring. Diawali dengan proses yang terkait dengan aktivitas papalele. Penjelasan di sini lebih dikaitkan dengan jejaring dengan sesama papalele dan dengan pedagang sebagai mitra usaha. Jejaring yang dibangun merupakan salah satu strategi usaha yang telah terbina sejak lama. Kekuatan saling percaya (trust) dalam kemasan janji merupakan pokok kelanggengan usaha. Pada umumnya usaha ini tidak membutuhkan curahan modal yang besar. Bagi para informan, modal uang sebesar Rp s.d Rp misalnya sudah dianggap cukup untuk berjualan. Modal kecil seperti itu, akan mendapatkan keuntungan yang sedikit, tetapi berkelanjutan. Pada sisi lain, 183

2 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon mereka juga pantang menyerah dan tetap bertahan. Sementara, peralatan jualan dan kelengkapannya hanya mengandalkan peralatan atiting sejenis bakul dan alat-alat dapur bekas pakai. Bagi mereka peralatan jualan itu sudah cukup untuk menampung dan menyimpan buah-buahan yang akan dijual, baik secara menetap atau pun berkeliling menjajakan jualan. Memang terkadang uang awal modal usaha selalu menjadi alasan klasik bagi setiap orang atau kelompok orang saat akan mengawali menjalankan satu kegiatan usaha. Tanpa kecukupan modal yang besar dan kuat usaha seakan tidak mampu dijalankan. Karena itu sering kecenderungan orang awam berusaha harus dimulai dengan modal besar yang cukup tersedia meskipun kemungkinan bertahan lama agak sulit. Papalele tumbuh, bertahan dan berkelanjutan hanya dengan modal sangat kecil, tetapi dilandasi dengan semangat, tekad, komitmen dan solidaritas antar mereka. Keterbatasan modal bagi mereka bukan alasan, dan untuk tetap bertahan dengan merawat kelanggengan usaha dengan pedagang lain. Hubungan keduanya dibentuk oleh aturan-aturan tertentu yang disepakati. Selain menjalin hubungan dengan pedagang lain (non papalele), kebersamaan dan tenggang rasa antar papalele selalu dikedepankan dalam berjualan. Tindakan ini merupakan salah satu cara agar konflik tidak terjadi antar mereka. Keunikan para informan antar mereka saat papalele, terbentuk dalam tiga hal, saat akan memulai berjualan. Tahap pertama, ketika buah yang akan dijual harus dicari ke pasar secara bersama. Kedua, saling memperhatikan satu dengan yang lain seandainya pilihan membeli buah kemungkinan sama, maka salah satu dari mereka akan mencari buah yang berbeda. Ketiga, setelah buah yang dicari selesai dan hendak dijual, harga jual ditentukan secara bersamasama agar tidak ada di antara mereka yang menjual lebih murah 184

3 Pengelolaan Usaha Papalele atau sebaliknya. Ketiga ciri keunikan tersebut merupakan bentuk tindakan yang mengutamakan kebersamaan dan adanya rasa keadilan di antara mereka. Hal lain yang diperhitungkan para papalele untuk menjaga keberlanjutan usaha tetap berjalan adalah dengan membina hubungan harmonis dengan pihak lain: pemilik toko/swalayan dan lembaga keuangan non bank. Jalinan dengan pemilik toko/swalayan menjadi perhatian mereka karena lokasi berjualan berada tepat di depan toko/swalayan. Pelataran tempat berjualan merupakan lokasi strategis yang dipertahankan. Jika hubungan baik tidak terjalin, bukan tidak mungkin mereka akan tersingkir dari lokasi itu. Demikian halnya dengan lembaga keuangan (koperasi), pinjaman kembali tepat waktu dan kewajiban dipenuhi, memungkinkan pinjaman berikut berlangsung. Kepercayaan antar mereka menumbuhkan semangat untuk menjaga keberlangsungan usaha masing-masing pihak. Proses Menjalankan Usaha Modal Awal Berusaha Rata-rata para informan menggunakan hasil tabungan sendiri sebagai modal awal memulai berjualan. Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan dan dijadikan modal usaha, karena untuk papalele tidak membutuhkan modal yang besar. Dengan uang Rp sudah cukup untuk memulai papalele. Hal ini dapat dimengerti karena pada umumnya informan memiliki latar belakang keuangan yang terbatas dan pas-pasan, sehingga modal seadanya sudah bisa dipakai untuk membeli bahan yang hendak dijual. Sebut saja mama Tine, salah satu informan yang menuturkan bahwa: 185

4 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon ya bali, paling sadiki tu saratus lima pulu, la banya tu dua-dua ratus...jang talalu banya bali iko uang saja. (buah yang dibeli, uang yang diperlukan paling sedikit Rp dan paling banyak Rp , jangan terlalu banyak membeli, disesuaikan dengan uang yang dimiliki). Untuk menanggulangi kekurangan modal, terkadang tanggung-renteng mengumpulkan uang bersama sang anak untuk membeli buah. Keterbatasan modal bukan halangan untuk tidak papalele, dan saat modal terbatas, mengumpulkan uang dengan sang anak menjadi alternatif. Kondisi ini terjadi di saat buah di pasaran mengalami kelangkaan dan harga jual di tingkat pedagang mengalami kenaikan. mo kalo dua-dua ratus bali, barang mo mangga mahal nih, skarang maeng deng satu kilo 15 ribu, satu kilo salak, mana mangga lai, satu karton sa bisa ampa-ampa ratus ribu.. skarang ini 1...jadi katong bali iko uang saja... bale jual nanti kalo abis nanti bale lai (kalau harga dua ratusan ribu tetap dibeli, karena buah mangga; harga bisa mencapai Rp per kilo, sama juga dengan buah salak. Apalagi sekarang buah mangga dibeli bisa mencapai harga sampai empat ratus ribu rupiah. Karena itu kami membeli disesuaikan dengan jumlah uang yang dimiliki, kalau terjual habis dapat dibeli lagi). Setelah berjualan, keuntungan yang diperoleh dari hasil penjualan dibagi merata dengan sang anak. Mahalnya harga buah di pasaran mengakibatkan mereka harus menggabungkan modal agar dapat membeli buah untuk dijual. Selama menjual 1 Wawancara 13 November

5 Pengelolaan Usaha Papalele mama Tine baronda ke berbagai lokasi, dan anaknya hanya tandeng di terminal angkutan kota dan pasar. Bagi mereka jika buah mangga dalam satu karton yang dibeli dari pedagang pengecer terjual habis, hari itu adalah satu keberuntungan, tetapi sebaliknya jika tidak terjual, maka sisanya akan dijual hari berikutnya. Keuntungan kemudian akan dibagi secara merata dengan anaknya. mo untung to barang 200 ribu dar satu karton mangga tuh, lalu beta deng eda itu bage saorang saratus-saratus, snang suda voor blanja (satu karton buah mangga mendapat keuntungan dua ratus ribu, maka dibagi berdua dengan anaknya: Eda. Keuntungan seperti itu sudah menyenangkan karena bisa dipakai untuk membeli lagi). Harga beli buah-buahan di pasaran tidak selamanya stabil, harga akan meningkat saat musim buah belum berlangsung dan pasokan buah dari daerah lain terbatas. Sehingga untuk tetap bertahan papalele, tindakan antisipasi terhadap keterbatasan modal harus dilakukan. Antisipasi dapat dilakukan dengan cara tanggung-renteng, atau dengan cara membeli sesuai jumlah uang yang dimiliki. Membeli dan berjualan lagi dapat dilakukan manakala jualan sebelumnya terjual habis. Sulit untuk menentukan secara rutin besar modal setiap hari selama berjualan. Modal secara harian memang tidak dapat ditentukan secara pasti mengingat kemampuan para informan pada umumnya disesuaikan dengan jumlah modal setiap harinya. Bagi mereka jika tersedia Rp atau Rp sudah terasa cukup untuk diputar lagi. Kemampuan membeli sangat disesuaikan dengan jumlah uang yang mereka miliki. Kondisi ini terjadi pada semua papalele termasuk juga mama Tine yang 187

6 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon selalu menegaskan hal sama bahwa: jadi katong bali iko uang saja...bale jual nanti kalo abis nanti bale bali lai (kami hanya bisa membeli disesuaikan dengan jumlah uang yang ada, kalau terjual habis nanti beli lagi). Pengakuan ini sesungguhnya mengindikasikan bahwa uang yang tersedia untuk berusaha, adalah bentuk kemampuan dia. Berbeda dengan informan mama Tine saat kesulitan modal, maka bersama sang anak bisa menggabungkan modal untuk membeli buah. Sementara Tanta Mike harus berupaya sendiri agar modal tetap tersedia jika sewaktu-waktu kesulitan modal. Untuk mengantisipasi kekuarangan modal, sedapat mungkin setiap hari tanta Mike harus memisahkan Rp sebagai tabungan modal hari berikutnya. Mengingat setiap hari tidak kurang ia memerlukan modal sampai dengan Rp untuk membeli aneka buah yang akan dijual. Dengan modal uang sebesar itu keuntungan minimal setiap hari kurang lebih Rp Bagi dia, uang tabungan yang disisihkan, tidak digunakan, kecuali dalam kondisi yang mendesak. Untuk konsumsi keluarga biasanya dialokasikan sebanyak Rp , dan untuk keperluan sekolah anak sehari-hari, terutama transport Rp Peralatan Jualan Peralatan untuk menampung jualan merupakan alat pendukung yang sangat diperlukan untuk aktivitas berjualan. Umumnya peralatan yang digunakan sangat sederhana yang terbuat dari bahan lokal pelepah bambu yang mudah diperoleh di sekitar desa atau peralatan dapur yang tidak layak pakai seperti nyiru dan waskom. Peralatan ini dipakai untuk menampung buah-buahan saat mereka berjualan tandeng dan baronda. Khusus peralatan jualan dari bahan lokal dibuat oleh pengrajin 188

7 Pengelolaan Usaha Papalele setempat yang dianyam dari bambu kemudian dinamakan atiting 2, demikian juga yang disebut dulang 3 terbuat dari kayu pohon duren. Kedua peralatan merupakan ciri khas pada masa lalu yang senantiasa digunakan oleh para papalele saat berjualan. Bahkan hingga kini ada di antara para papalele yang masih menggunakan peralatan tersebut. Gambar 6. Bentuk peralatan jualan: Dulang dan Atiting yang masih bertahan (Piso.doc.2008) Dalam perkembangannya dulang mulai tidak digunakan lagi. Sementara atiting hingga kini masih bertahan digunakan oleh beberapa orang papalele. Dulang dan atiting sebagai peralatan jualan telah menjadi ciri khas papalele terutama yang 2 Atiting adalah bakul/keranjang yang terbuat dari pelepah bambu yang telah diasapi hingga berwarna coklat kehitam-hitaman. Atiting memang adalah peralatan utama khas para papalele di Maluku. Alat ini mampu menampung beban antara sepuluh hingga dua belas kilogram dan atau lebih. Lihat juga Mailoa, (2006:6) Kamus Bahasa Harian Dialek Orang Ambon. Atiting adalah bakul atau keranjang yang dibuat dari irisan kulit bambu atau kulit pelepah daun enau dengan tujuan untuk menampung hasil kebun. 3 Dulang terbuat dari kayu pohon duren dan bentuknya bundar berdiameter sekitar 30cm dengan ketebalan sekitar 2cm. 189

8 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon berasal dari daerah pegunungan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat pada umumnya papalele di pegunungan lebih berorientasi untuk menjual buah-buahan. Dengan dukungan tipologi wilayah pegunungan sebagai satu daerah yang banyak menghasilkan buah-buahan, maka fungsinya sebagai wadah penampung buah-buahan di dalamnya sangat membantu. Tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali kedua peralatan ini mulai dibuat, dipakai dan dikenal secara luas. Seiring dengan perkembangan produksi peralatan rumah tangga sejenis dan fungsi yang sama saat ini, maka berangsur-angsur peralatan ini mulai tidak digunakan dan diganti dengan peralatan dapur seperti nyiru dan keranjang yang berbahan bambu atau plastik serta waskom. Berkurangnya bahan baku lokal untuk membuat peralatan jualan, mengakibatkan pengalihan peralatan lokal ke peralatan modern. Para informan mulai mengalihkan fungsi penggunaan peralatan jualan disebabkan oleh bahan dasar pembuat dulang dan atiting tidak lagi tersedia dan sulit untuk ditemukan. Pada sisi lain pengrajin yang bisa membuat kedua peralatan ini di Hatalai sebagian besar telah meninggal dunia, dan hanya tersisa satu orang pengrajin yang masih hidup tetapi sudah lanjut usia dan tidak bisa berproduksi 4. Yang paling menyedihkan adalah keterampilan yang dimiliki pengrajin sebelumnya tidak sempat pengetahuannya dialihkan kepada generasi mereka, sehingga praktis peralatan ini mulai punah. Kondisi di atas mengakibatkan para papalele harus mencari peralatan pengganti. Barang yang diganti paling tidak memiliki fungsi yang sama untuk menampung barang jualan. Hal ini dimungkinkan karena saat ini sudah banyak peralatan 4 Wawancara tanggal 16 November 2008 Sekretaris Desa Hans. D. Alfons. 190

9 Pengelolaan Usaha Papalele rumah tangga berukuran besar yang telah beredar luas sehingga bisa menampung buah-buahan yang jauh lebih banyak dari dulang dan atiting. Biasanya untuk mengganti dulang dipakai nyiru yang terbuat dari bahan anyaman bambu atau plastik dengan pilihan aneka warna. Nyiru yang dipakai berukuran garis tengah antara 30 sampai 60 sentimeter. Sementara untuk mengganti atiting dipakai baskom atau keranjang plastik dengan ukuran tengah kurang lebih 60 sentimeter. Volume dan daya tampung kedua peralatan ini disesuaikan dengan banyak-nya buah yang dibeli untuk dijual. Karena peralatan tersebut sangat praktis penggunaannya sehingga kemampuan dan daya tampung bisa mencapai sepuluh kilogram atau lebih. Mekanisme Baronda dan Tandeng Masyarakat Ambon terbiasa mengenal pola papalele dalam menjual buah-buahan dan atau bahan kebutuhan dapur dan sayuran. Para papalele biasanya akan menjumpai pembeli dan pelanggannya dari rumah ke rumah. Bagi warga yang tidak sempat ke pasar akan menunggu papalele yang lewat di setiap rumah. Cara baronda atau berkeliling ini masih tetap bertahan, walapun banyak di antara papalele lebih memilih tidak lagi baronda. Mereka yang tetap eksis dengan baronda lebih pada pertimbangan antara lain: relasi dengan pembeli telah terjalin sudah sejak lama, menjaga agar hubungan itu tetap terpelihara, tidak ingin kehilangan relasi pelanggan, dan berkeliling memiliki peluang yang besar untuk jualan cepat terjual. Saat baronda biasanya di atas kepala dijunjung bakul atau keranjang yang dialasi kain melingkar. Menjunjung barang di kepala lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah keku 5. 5 Keku adalah istilah lokal yang artinya kurang lebih menjunjung di atas kepala (Mailoa Jan Piet, 2006:54). 191

10 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Baronda Dari delapan belas informan, ada empat orang yang tetap bertahan dengan cara baronda. Baronda dan tandeng sebetulnya adalah pilihan atas cara berjualan para papalele. Karena pilihan itulah ada empat belas informan lain yang memilih tandeng. Pada umumnya alasan mereka untuk tandeng lebih pada pertimbangan lebih mudah dan tidak memerlukan tenaga yang banyak untuk mengelilingi kota. Meskipun pada awalnya mereka juga baronda, namun seiring dengan perkembangan pasar yang semakin baik mereka kini terpusat pada satu lokasi dengan ketersediaan fasilitas perdagangan pasar telah disediakan dan dibenahi oleh pemerintah kota, sehingga cara tandeng yang dipilih. Sejak usia muda (22) baronda menjadi pilihan yang dijalani papalele. Mama Tine adalah salah satu informan yang telah berusia 68 tahun 6. Usia yang mungkin sudah tidak lagi produktif, tetapi nyatanya ia masih produktif berjualan. Secara rutin setiap hari ia berjualan dengan cara baronda. Sejak pertama kali memulai usaha papalele, cara baronda telah menjadi pilihannya. Pagi itu mama Tine terlihat segar, persiapan untuk berangkat memulai papalele. Dengan kebaya rapi bercorak kotak warna putih bergaris merah di bagian atas, dan bagian bawah kain sarung warna merah kotak serta di kepalanya ada atiting yang masih kosong. Seperti biasanya sejak pagi ia sudah harus tiba di pasar tempat anaknya yang juga papalele (tandeng). Saya pun menyapa sambil menghampirinya. Hari itu, saya bersama beliau bertemu di terminal desa sekitar pukul pagi. Tidak seperti biasanya ia keluar rumah dua atau tiga 6 Wawancara 13 November

11 Pengelolaan Usaha Papalele jam sebelumnya. Keterlambatan ini karena beberapa tugas rumahan menumpuk yang harus diselesaikan, akunya. Walapun demikian, keterlambatan pergi papalele tidak berpengaruh terutama untuk mendapatkan buah yang hendak dijual, karena sang anak telah mendahului berangkat sejak subuh pagi. Kami berangkat menggunakan mobil angkutan umum jurusan Hatalai-Kota. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, kami tiba di pasar Mardika Ambon langsung menuju tempat sang anak yang telah menunggu. Hari itu, buah yang telah dibeli antara lain, buah mangga harum manis, salak dan buah langsat. Dari tiga jenis itu, buah mangga harum manis yang dibeli sebanyak satu peti (diperkirakan satu peti berisi kurang lebih 200 buah mangga). Satu peti seharga Rp Harga ini jauh lebih murah dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya, akunya. Lebih lanjut dikatakan bahwa ia membeli dalam jumlah itu, dengan tujuan akan dijual untuk beberapa hari ke depan. Jika lebih cepat terjual habis, akan lebih baik, harapnya. Satu per satu mangga dimasukkan ke dalam atiting. Daya tampung atiting bisa mencapai lima puluh buah setara enam belas kilogram. Satu kilogram antara dua sampai tiga buah mangga. Jumlah itu tergolong sangat berat dan harus keku baronda. 193

12 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Gambar 7. Informan baronda dengan Atiting di atas kepala (Piso.doc.2008) Setelah buah mangga selesai dimasukkan ke atiting, kami siap baronda. Sementara buah salak dan langsat tidak disertakan. Kedua buah tersebut dijual sang anak. Untuk melihat lamanya waktu perjalanan, saya memperhatikan jarum jam, tepat pukul kami mulai melakukan perjalanan. Sambil berjalan satu per satu toko, rumah makan, rumah penduduk disinggahi untuk menawarkan buah. Bahkan sempat pula dalam perjalanan, ada beberapa orang buruh bangunan yang sementara bekerja, berteriak memanggil untuk melihat buah yang dijualnya. Mungkin karena berkeinginan untuk makan buah mangga, satu di antara mereka kemudian membeli tiga buah mangga dengan harga Rp Selama perjalanan setiap tempat yang disinggahi, ia harus menurunkan atiting dari kepalanya. Jika atiting diturunkan terjadi transaksi, sangat menyenangkan baginya. Tetapi jika tidak terjadi pembelian, baginya hal biasa. 194

13 Pengelolaan Usaha Papalele Berhenti, turun-naikkan barang, tawar-menawar dengan calon pembeli menjadi hal rutin. Kondisi itu terus berlangsung dan berulang sepanjang perjalanan tiada hentinya. Kadangkadang ada beberapa toko atau rumah penduduk yang sengaja tidak dihampiri. Saya sempat bertanya mengapa toko atau rumah tersebut tidak disinggahi?. Menurut mama Tine, toko atau rumah yang dilewatinya tidak mengkonsumsi buah mangga, mereka lebih menyukai buah yang lain seperti duren, manggis, pisang atau yang lain. Jawaban ini setidaknya menunjukkan bahwa Mama Tine sudah mengetahui dan mengidentifikasi selera setiap pembeli pada buah yang akan mereka konsumsi. Baginya, setiap hari jalur jalan selalu berganti dan disesuaikan dengan buah yang di keku. Rupanya buah turut menentukan arah dan jalur jalan yang akan dilalui, sebagaimana penyesuaiannya dengan selera pembeli. Pukul 12.15, setelah mama Tine keluar dari salah satu rumah, terlihat isi atiting telah terjual habis. Berarti lebih kurang empat jam menempuh perjalanan barulah buah yang dijajakan habis terjual. Setelah semua buah di atiting terjual tidak berarti ia langsung pulang ke rumah tetapi sebaliknya Ia kembali ke tempat semula untuk mengambil buah untuk melanjutkan perjalanan lagi dengan menyusuri jalur jalan yang berbeda. Ketika akan baronda lagi, dia sempat menanyakan kepada saya pa masi mau iko bajalang deng beta ka seng? (apakah bapa masih ingin melanjutkan perjalanan dengan saya?). Pertanyaan ini mungkin saja karena saya dianggap tidak lagi sanggup melanjutkan perjalanan baronda. Terhadap pertanyaannya, saya pun tetap menyanggupinya, sambil menawarkan waktu istirahat makan siang. Beliau tidak keberatan, tetapi menurutnya makan siang baru dapat dilakukan setelah pukul

14 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Sekitar tiga puluh menit kami beristirahat di salah satu rumah makan berukuran kecil untuk makan siang. Rumah makan ini sepertinya merupakan tempat yang biasanya ia mampir untuk beristirahat, karena saya sengaja mengikuti apa pun yang dilakukannya. Hidangan makan siang yang kami pesan cukup sederhana, masing-masing terdiri dari sepiring nasi dengan lauk-pauk ikan dan sayur gado-gado, dilengkapi dengan minuman teh manis dan sedikit es. Sambil menunggu pesanan makanan, saya menyempatkan diri untuk bertanya kepadanya tentang daya tahan fisiknya selama kami baronda di tengah panas terik matahari. Mama Tine dengan gaya yang khas suka tersenyum ia menjawab pertanyaan saya: ao mi beta su biasa te, akang seng biking beta lala lai (saya sudah terbiasa, papalele seperti ini tidak lagi membuat saya kelelahan). Selang beberapa menit kemudian pelayan menyajikan pesanan makanan kami, dan dengan doa masing-masing kami pun menikmati makanan itu hingga selesai. Setelah selesai makan, saya bergegas ke kasir, dengan maksud mendahuluinya untuk membayar. Tindakan yang saya lakukan itu, ditanggapainya dengan senyum, sambil berkata pa dangke banya lai su traktir katong (bapa terima kasih banyak sudah membayar). Tepat pukul kami kembali melanjutkan baronda. Hari semakin siang, teriknya matahari diperkirakan mencapai 32 derajat celcius. kami tetap berjalan seperti dilakukan sebelumnya. Jalan yang akan kami lalui disampaikan kepada saya, dan rupanya jalur jalan ini akan kami lalui hingga tiba lagi di pasar. Cepat atau lambat tiba di pasar sangat tergantung dari buah yang masih berada di atiting. Sepanjang buah masih ada ia akan menawarkan ke berbagai tempat yang dilalui. Jarak jalur jalan kedua ini menyusuri jalan utama pusat pertokoan dan sering pula melewati gang perumahan penduduk. Waktu 196

15 Pengelolaan Usaha Papalele tempuh pada jalur perjalanan ini mungkin mencapai tiga sampai empat jam atau diperkirakan kurang lebih tiga kilometer. Mengingat setiap kali harus mampir di rumah atau toko menawarkan jualan sehingga membutuhkan waktu kurang lebih tiga hingga lima menit. Jika terjadi transaksi waktu yang diperlukan bisa lebih banyak. Masuk-keluar toko, warung makan, rumah penduduk, dan atau menawarkan buah kepada orang yang ditemui selama berjalan terus berlangsung dan berulang. Ada orang yang membeli, tetapi ada juga yang hanya sekedar melihat dan menanyakan buah yang dijual atau bertanya harga buah. Jika ada keinginan calon pembeli untuk membeli maka tawaran harga dari mereka variatif. Bahkan ada calon pembeli yang menawar hingga di bawah harga pokok. Namun, sebagai penjual mama Tine tetap tenang menanggapi dan merespons setiap sapaan itu. Sampai akhirnya barang yang dijual dalam atiting tersisa tiga buah. Bersamaan dengan itu, saya memperhatikan jarum jam yang telah menunjukkan pukul Akhirnya kami balik lagi ke tempat tandeng sang anak. Ketika tiba, mama Tine dan anaknya saling bercerita tentang hasil yang diperoleh. Bahkan Ia sempat mengemukakan bahwa hari ini buah yang dijual laris manis, tidak seperti hari sebelumnya. Buah mangga yang dibawa baronda hari itu terjual sebanyak 80 buah. Dengan harga jual Rp per buah diperoleh hasil Rp Pada rute perjalanan pertama, buah mangga yang dibawa sebanyak 50 buah dan rute kedua sebanyak 40 buah. Hasil penjualan yang diperoleh dibagi berdua dengan sang anak Rp Modal Rp disisihkan untuk penggunaan hari lain. Sementara buah yang tersisa di karton dititipkan di salah satu toko relasi mereka. Sisa buah mangga tersebut akan dijual hari berikutnya. 197

16 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Tandeng Selain baronda, ada juga cara tandeng atau menetap pada satu lokasi tertentu. Bagi mereka tandeng adalah posisi dalam menempati satu tempat pada satu lokasi tertentu jauh lebih mudah dibandingkan dengan baronda. Lokasi tandeng tergantung tingkat keramaian dan kemungkinan banyak pembeli seperti di depan toko swalayan, emperan terminal angkutan, halaman pelabuhan motor laut atau di pasar di depan pertokoan. Bagi papalele yang tandeng biasanya untuk mendapatkan tempat tidak juga memerlukan ijin resmi pihak tertentu layaknya sebuah warung, kios atau toko. Dengan seijin dan kesediaan pemilik warung atau toko yang terdapat lahan agak luas di depannya, tandeng sudah bisa dilakukan sepanjang tidak mengganggu arus hilir mudik pembeli pada warung atau toko yang bersangkutan. Salah satu informan Mama Le, adalah informan yang saya dampingi selama seharian tandeng. Sebelum kami berjualan tandeng saya sempat bertemu di rumahnya. Rumah yang beliau tempati bersama suami dan ketiga anaknya sangat sederhana. Sebetulnya keluarga ini memiliki empat anak, tetapi salah satu anak meninggal dunia pada tahun Rumah sederhana itu dengan ukuran kurang lebih 5x7 M 2. Terlihat atap rumah sedang direnovasi (diperbaiki) digantikan dengan zink. Sementara dinding rumah juga dalam proses diperbaiki dengan meng-gunakan batu-bata (sejenis kon-blok) tetapi belum selesai dilapisi semen (plester). Lantai pun masih terlihat gumpalan tanah di sana-sini yang belum ditutupi dengan keramik atau mungkin juga hanya dengan semen. Setiap malam, kesibukan terus dilakukan menjelang jualan keesokan harinya. Mama Le menuturkan bahwa setiap malam ia sudah menanak nasi, menyajikan sampai membersih- 198

17 Pengelolaan Usaha Papalele kan kembali semua peralatan masak dan makan. Sebelum berangkat pagi subuh, pembagian tugas dilakukan kepada suami dan anak-anaknya. Anak-anak diingatkan untuk memanasi makanan, membersihkan peralatan makan dan mencuci jika ada pakaian yang harus dicuci. Setelah menikmati makan malam dan membagi tugas antar anggota keluarga, sebelum istirahat peralatan pendukung seperti keranjang plastik, nyiru plastik sudah harus disiapkan lagi. Sebelum saya meninggalkan rumahnya, kami telah sepakat untuk keesokan harinya berjualan tandeng bersama. Pagi subuh adalah waktu tetap untuk melakukan perjalanan bersama papalele. Ketika paginya saya dikejutkan dengan bunyi alarm yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tepat pukul pagi, saya terbangun dan mempersiapkan diri. Bersama dengan Renny 7 ; kami mempersiapkan peralatan dan perlengkapan pendukung penelitian untuk kegiatan sepanjang hari itu. Tepat pukul pagi, kami menuju terminal negeri untuk berjumpa dengan mama Le. Ketika tiba di terminal, ternyata beliau lebih awal sudah berdiri di situ. Kami pun bertegur sapa, sambil juga menyapa beberapa papalele lain, pegawai bahkan ada juga beberapa anak-anak yang akan berangkat sekolah lebih awal ke kota pagi itu. Kami kemudian menunggu keberangkatan mobil angkutan umum jalur Hatalai-kota. Mobil yang setiap hari ditumpangi jenis mini bus, merek Mitsubishi berbahan bakar solar dan berwarna oranye (orange). Kebetulan memang, mobil sudah terparkir sebelumnya karena sang sopir menetap di negeri ini. Pukul pagi, mobil membawa semua penumpang menuju terminal Mardika di pusat kota. Perjalanan dengan mobil kami tempuh kurang lebih dua puluh lima menit. 7 Renny adalah seorang pemuda desa Hatalai yang menjadi pendamping peneliti. 199

18 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Berkeliling mencari buah untuk dijual. Pukul pagi kami tiba di terminal pusat kota. Setibanya, kami berkeliling mencari bahan yang akan dijual. Pada hari itu, memang buahbuahan yang akan dijual agak sulit ditemui. Menurutnya, pedagang pemasok telah memberitahukan sebelumnya tentang kapal yang akan memasok buah-buah dari Makassar dan Surabaya belum tiba di pelabuhan Ambon. Informasi itu cukup baginya untuk mencari buah seadanya. Beruntung ia telah memiliki langganan tetap yang sudah mempersiapkan beberapa buah baginya. Bersamaan dengan itu, kebetulan persediaan modal cukup sehingga mama Le bisa membeli secara tunai. Buah yang dibeli mangga 4 kg seharga Rp , jeruk 4 kg Rp , dan pisang 4 sisir Rp Pagi itu hanya ada tiga jenis buah yang berhasil dibeli. Satu jenis lainnya yang rutin dijual adalah telur ayam negeri lalu dibeli sebanyak 30 butir seharga Rp Total modal hari itu dikeluarkan sebesar Rp Tidak selamanya pembayaran dengan cara tunai, pembayaran pun dapat dilakukan pada sore harinya sesuai kesepakatan bersama. Kebiasaan antara papalele dan pedagang dalam transaksi adalah bayar tunai. Jika papalele terbatas untuk modal dan atau tidak tersedia, pedagang akan memberikan kesempatan untuk mengambil dulu, dan sore hari dibayar. Bahkan kadangkadang bisa terjadi dibayar selama dua atau tiga hari lebih setelah semua barang terjual. Untuk hal yang terakhir ini jika papalele mengambil buah dalam jumlah yang besar seperti satu atau dua karton buah tertentu. Cara ini telah dilakukan sejak lama oleh mama Le bersama teman-temannya dengan para pedagang langganan. Saling percaya di antara mereka sudah terbangun lama, dan belum pernah ada yang lalai (ingkar) terhadap kesepakatan ini. 200

19 Pengelolaan Usaha Papalele Kurang lebih satu jam waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan semua jenis yang akan dijual. Setelah semua terkumpul, kemudian bahan-bahan tersebut dibawa menuju tempat tandeng. Lokasi tandeng berada di depan salah satu swalayan di kota Ambon yang jaraknya kurang lebih empat ratus meter dari pasar. Kami pun menuju ke lokasi dimaksud. Waktu masih pagi swalayan tersebut belum dibuka. Biasanya swalayan baru dibuka sekitar pukul Sambil menunggu swalayan dibuka Ia manfaatkan waktu untuk mengatur tempat dan menata buah yang akan dijual. Caranya, buah-buah dibuat per kelompok, sesuai dengan jenis. Satu kelompok mangga berjumlah dua buah dengan harga Rp Satu kelompok buah lainnya yakni salak yang berjumlah lima buah dengan harga Rp Satu kelompok ini disebut sa tampa. Semuanya diletakkan di atas satu nyiru plastik. Begitu pun dengan kedua teman yang lain. Mereka membagi dua lokasi tandeng, mama Le mengambil posisi pada bagian kiri depan swalayan, sementara kedua teman berada pada bagian kanan. Tempat ini memang telah diijinkan oleh pemilik swalayan kepada mereka, sejak terjadi kerusuhan di Kota Ambon Mereka menawarkan buah yang dijual kepada orangorang yang lalu-lalang masuk dan keluar swalayan. Terdengar suara tawaran dari mama Le dan teman-temannya ibu, beli mangga, atau sesekali terdengar pak beli pisang ka?. Tawaran mengajak untuk membeli sering diucapkan dan terus berulang. Ada yang datang hanya sekedar bertanya harga, atau saling tawar-menawar, tetapi ada pula yang langsung membeli. Beberapa di antaranya terlihat membeli sa tampa mangga, dan juga pisang. 201

20 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Gambar 8. Dua informan (posisi tandeng bagian kiri dan kanan) depan Swalan Citra Ambon (Piso.doc.2008) Kira-kira pukul siang kami beristirahat sejenak di salah satu rumah makan. Rumah makan tempat kami beristirahat hanya bersebelahan dengan swalayan tempat ia tandeng. Tempat ini sudah sering bagi mereka yang tandeng di situ untuk makan siang. Makanan yang kami pesan hanya nasi, ikan dan sayur dilengkapi dengan minuman air putih. Bentuk pesanan makanan ini tergolong sederhana, karena masih ada beberapa menu lain seperti ayam goreng, daging rendang, daging panggang dan kuah sup. Makanan yang kami pesan disesuaikan dengan kebiasaan makanan yang pada hari lainnya dimakan beliau. Saat kami istirahat makan, teman-temannya bertugas 202

21 Pengelolaan Usaha Papalele menunggu dan mengawasi jualan mama Le, pun sebaliknya. Saling bergantian mengawasi jualan bukan hanya untuk istirahat makan, tetapi juga jika salah satu di antara mereka sakit atau ada keperluan mendesak. Cara ini sudah sejak lama dilakukan dan mereka saling bergantian. Setelah berjualan, baru kemudian hasilnya akan diserahkan ketika sudah kembali ke rumah. Hari itu matahari cukup terik sehingga mereka harus berlindung dan berteduh dengan payung yang dipasang di depan jualan. Mereka berjualan hingga sore hari sekitar pukul Karena cara tandeng yang dipakai, maka terlihat mama Le dan juga teman-temannya duduk terus-menerus di tempat jualan masing-masing. Sesekali mereka berdiri untuk melepaskan kelelahan setelah duduk, atau sesekali berputar, maju di depan jualan. Saya yang mendampingi sejak pagi turut merasakan hal serupa, sama seperti mereka, sambil tetap memperhatikan perilaku mereka selama berjualan. Setelah berjualan mereka membereskan dan membersihkan tempat berjualan. Peralatan jualan seperti meja kecil, waskom atau nyiru mulai dirapikan. Buah-buah yang tidak terjual dimasukkan kembali ke dalam keranjang. Tidak lupa mama Le mengambil sapu untuk membersihkan sampah yang berada di sekeliling tempat mereka berjualan. Cara ini adalah bentuk tanggung jawab mereka kepada sang pemilik swalayan, sehingga kebersihan tetap terjaga dan mereka tetap bisa menempati lokasi jualan. Sementara peralatan yang telah dibereskan, tidak dibawa pulang, tetapi dititipkan di bagian belakang swalayan itu. Sebelum pulang, hasil berjualan dihitung dan modal awal dipisahkan. Mama Le terlihat antusias menghitung hasil penjualan yang diperoleh hari itu. Seharian ia bisa mendapat hasil 203

22 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Rp , kemudian modal awal Rp dipisahkan dan keuntungan bersih diperolehnya sekitar Rp Keuntungan ini kemudian dibagi lagi untuk membeli kebutuhan sehari-hari antara lain beras satu kilogram, masing-masing dua potong sabun mandi, sabun cuci, dua kilogram gula, dan ikan secukupnya. Guna keperluan sekolah anak-anak rata-rata ia keluarkan Rp sehari dan jika ada kelebihan ia manfaatkan untuk ditabung. Tandeng dan Baronda Melakukan Tandeng dan Baronda secara bersama untuk menghindari kerugian. Kisah mama Tine dan mama Le secara tegas memilih cara barond atau tandeng. Kedua cara tersebut dalam persepsi mereka masing-masing sangat menguntungkan. Berbeda dengan persepsi tanta Evi satu dari delapan belas papalele yang justru menggunakan baronda dan tandeng secara bersamaan. Menurut tanta Evi setelah tandeng, buah tersisa akan dibawa baronda dijual kepada pelanggannya. Bahkan kadang-kadang, walaupun kemungkinan buah yang dijual bisa habis terjual, ia akan menyisihkan beberapa buah untuk pelanggannya. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara hubungan dengan pelanggan, sebagaimana kisahnya yang saya ikuti seharian. Sambil mengamati, saya mendampingi salah satu informan tanta Evi seharian berjualan. Cara ini agak unik sehingga untuk mengetahui lebih dalam, saya harus terlibat dan ikut berjualan bersamanya. Sebelumnya saya telah mendapat persetujuan ketika saya berkunjung ke rumahnya. Tepat pada hari yang disepakati, kami pun menuju terminal Hatalai. Rupanya sudah seperti biasanya, sejak pukul subuh sudah terlihat beberapa papalale lainnya bergegas hendak ke kota. Namun, 204

23 Pengelolaan Usaha Papalele pada hari itu kami ternyata terlambat tiba di terminal negeri, hanya selang beberapa menit. Tanta Evie telah mendahului keberangkatan dengan trip mobil pertama menuju kota. Informasi ini disampaikan oleh salah satu papalele lain, yang kebetulan kami tanyakan. Tidak ada pilihan lain untuk secepat mungkin mengikutinya sambil menunggu trip mobil berikutnya. Pagi subuh di Hatalai memang kendaraan angkutan sangat terbatas. Termasuk kendaraan ojek yang biasanya juga sering dipakai sebagai angkutan saat mobil angkutan tidak ada. Angkutan umum di Hatalai semakin ramai setelah pukul pagi, saat pegawai negeri, karyawan swasta dan anak-anak akan berangkat kerja dan sekolah di kota. Terlambat bertemu di terminal dengan tanta Evi, sehingga harus mengejarnya ke pasar. Keterlambatan ini karena kami keliru waktu yang disepakati. Walaupun tidak bertemu di terminal angkutan, kami harus tetap mencarinya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami mendapat giliran mobil trip kedua menuju kota. Sambil mobil berjalan saya menggunakan kesempatan bertanya jalur perjalanan tanta Evie kepada beberapa rekannya. Hal ini agar setibanya di kota, kami tidak salah arah mencari dan kehilangan jejaknya. Beberapa di antara papalele menjelaskan posisi dan lokasi tanta Evi setiap pagi saat mencari buah-buah yang akan dibeli. Rupanya mereka setiap pagi pasti bertemu di lokasi yang dijelaskan. Penjelasan ini membantu mempermudah kami mencarinya. Dugaan saya ada benarnya karena informasi dari beberapa rekannya yang membenarkan bahwa mereka seringkali bertemu dengan pedagang pemasok yang sama. Umumnya pedagang pemasok langganan mereka, berasal dari suku Buton dan Makassar beragama Islam. Tempat berjualan para pedagang menjadi titik perjumpaan antar 205

24 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon mereka untuk saling berkomunikasi dan membeli buah-buah yang hendak dijual. Bagi para papalele tiba secepatnya di pasar harus lebih pagi agar mudah mendapat buah yang akan dibeli. Mobil yang kami tumpangi akhirnya tiba di terminal kota. Kami bergegas mencari tanta Evie sebagaimana petunjuk yang diberikan sebelumnya. Kurang lebih lima belas menit mencari, akhirnya kami bertemu. Tanpa merasa ragu, ia mengatakan bahwa ketika tiba tadi di terminal Hatalai ia tidak melihat kami sehingga langsung pergi dengan mobil trip pertama. Baginya lebih cepat tiba di pasar, akan memudahkan untuk mendapatkan bahanbahan yang akan dijual, karena jika terlambat tiba, buah yang dicari sudah tidak lagi ditemukan. Kami sangat menghargainya. Pagi itu kami melihat tanta Evie telah mengumpulkan beberapa bahan yang akan dijual: buah mangga, salak, pisang dan telur ayam negeri. Menurutnya buah kenari yang masih harus dicari dan kami bersama mencari. Sambil berjalan, dalam benak saya terbayang buah kenari yang masih utuh. Ternyata ketika kenari diperoleh, hanya isi buah kenari yang telah dilepas-pisahkan dari kulitnya yang keras oleh sang pedagang penjual. Hari itu semua buah yang terkumpul dibeli secara tunai karena beliau memiliki modal yang cukup. Buah yang dibeli masing-masing 20 buah mangga golek, 30 buah salak, 700 biji kenari, dua tandan pisang satu tandan terdiri dari kurang lebih empat sampai lima sisir, dan 120 butir telur ayam negeri. Jumlah bahan sebanyak itu dibeli dengan modal Rp Setelah semua bahan yang akan dijual terkumpul, ia segera menuju ke tempat berjualan dengan menggunakan becak. Becak digunakan untuk mengangkut bahan jualan karena jarak dari pasar ke tempat berjualan kurang lebih satu kilometer. 206

25 Pengelolaan Usaha Papalele Biaya sebesar Rp5.000 dikeluarkan untuk membayar ongkos becak. Ternyata lokasi yang setiap hari ditempati adalah di depan halaman Planet 2000, salah satu supermarket di jalan utama pusat kota. Sepanjang lokasi jalan ini berderet berbagai kantor bank pemerintah dan bank swasta nasional, restoran, pertokoan dan sekolah. Bagi masyarakat jalan utama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas yang ramai. Gambar 9. Informan saat tandeng depan Supermarket (Piso.doc.2008) Membersihkan lokasi berjualan di depan Supermarket Planet 2000 dan mengatur serta menata buah yang akan dijual. Setibanya di depan Supermarket, tanta Evie harus menunggu karena Supermarket belum dibuka. Pukul pagi, barulah terlihat salah satu karyawan keluar membuka pintu seraya mengajak dia menempati tempatnya. Tanpa menunggu ia segera membawa masuk barangnya. Kemudian tempat jualan diatur dan ditata dalam beberapa tumpukan buah. Kenari dikelompokkan dengan jumlah antara 15 sampai 20 biji per tumpukan. 207

26 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Telur dimasukan per kantong plastik putih sebanyak 10 butir. Mangga diletakkan per dua buah dan ada yang hanya satu buah, demikian halnya pisang diletakkan per satu sisir. Setelah semua siap, ia duduk di belakang jualannya. Mengajak dan menawarkan buah kepada setiap orang yang masuk keluar supermarket. Selama saya mendampingi beliau sesekali ia berkata ibu beli mangga? atau; bapa beli mangga?. Ucapan itu berulang hampir setiap ada pengunjung yang lewat. Ajakan membeli kadang tidak sia-sia, karena ada yang membeli. Beberapa pembeli di antaranya membeli kenari, pisang dan juga mangga. Tawaran kepada pembeli sama seperti perilaku informan sebelumnya. Akrab membina relasi dengan karyawan toko adalah bentuk kompensasi menempati tempat tersebut. Menjelang waktu istirahat makan siang, saya sempat bertanya kepada tanta Evi kalau waktunya istirahat makan siapa yang akan mengawasi jualan? Mengingat tidak ada papalele lain di situ. Menurutnya, istirahat makan siang hampir jarang dilakukan, karena sebelum berjualan, makanan disiapkan dari rumah berupa satu atau dua potong kue dan sebotol air. Jika harus mencari makan, ia akan meminta satu karyawan untuk mengawasi dan jika dimungkinkan mereka akan menjual. Bentuk perhatian ini telah terbangun di antara mereka sejak ia menempati lokasi itu. Mendapatkan tempat tandeng karena kepedulian sang pemilik toko. Kira-kira pukul satu siang kami beristirahat untuk makan siang bersama. Di sela-sela istirahat makan, ia bercerita bahwa sebelum tandeng, ia selalu baronda. Suatu saat beberapa bulan setelah kerusuhan di Kota Ambon 1999, ketika sementara baronda ia melintas di depan supermarket dan sempat berteduh karena hari itu matahari terlalu terik. 208

27 Pengelolaan Usaha Papalele Kebetulan saja bersamaan dengan itu sang pemilik super-market keluar lalu menemuinya dan meminta agar ia menempati pojok kosong di depan Supermarket. Lebih lanjut dituturkan bahwa, mungkin saja pemilik supermarket merasa iba melihat ia berjualan berkeliling di tengah panas. Tawaran sang pemilik Supermarket tidak ditolak sehingga tempat itu akhirnya ditempati hingga kini. Setelah selesai istirahat kami kembali berjualan. Berkeliling untuk menjual buah yang belum habis terjual saat tandeng. Setelah kurang lebih dua jam tandeng tepat pukul 15.00, kami mulai baronda. Sebelum berjualan mangga, salak dan telur yang tersisa dimasukkan ke dalam keranjang plasik. Pisang diletakkan di nyiru plastik bagian atas dari keranjang. Tanta Evie pun pamit dari sang pemilik supermarket, lalu saya mulai mengikuti dari belakang. Sepanjang kami jalan, ada enam toko dan dua rumah makan yang disinggahi untuk menawarkan buah. Kalau saat ia memasuki salah satu toko atau rumah, dan agak lama keluar berarti terjadi transaksi dan sebaliknya. Perjalanan terus dilakukan, masuk dan keluar toko, rumah penduduk, lorong dan gang pun dilalui. Sambil berjalan ia sempat mengatakan kepada saya bahwa jalur jalan yang dilalui ia lakukan secara rutin setiap hari. Menurutnya, pelanggan harus tetap dikunjungi, karena mereka akan bertanya jika tidak dikunjungi agar komunikasi tidak terputus. Menjelang kembali ke terminal dan pulang ke rumah, ia sempat menggunakan waktu beberapa menit istirahat untuk menghitung keuntungan dari hasil berjualan. Setelah beberapa waktu baronda akhirnya kami menuju kembali ke terminal dan pasar. Baronda ternyata membutuhkan waktu kurang lebih dua setengah jam perjalanan hingga tiba di terminal dan pasar. Sempat kami beristirahat sejenak di salah satu sudut jalan di 209

28 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon bawah pohon mangga. Istirahat itu digunakan untuk menghitung keuntungan yang diperoleh. Kebetulan memang, semua yang dijual hari itu habis terjual. Seluruh hasil penjualan hari itu diperoleh Rp Modal awal Rp dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian dia menghitung pengeluaran antara lain, biaya transport Hatalai-Kota pergi pulang Rp.7.600, biaya becak Rp.5.000, dan retribusi Rp Total Pengeluaran Rp. Rp Keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp Hasil itu kemudian dibagi menjadi dua bagian dengan alokasi Rp ditabung sebagai modal, sisanya digunakan membeli bahan kebutuhan dapur. Jika masih ada sisa lebih, maka digunakan lagi untuk membeli keperluan lain sewaktu di rumah. Anak-anak yang bersekolah rata-rata ia siapkan Rp per hari. Mengacu pada diskripsi pengelolaan usaha papalele, terlihat pola pemanfaatan modal, dan keuntungan yang diperoleh. Tabel berikut menyajikan sepintas gambaran sederhana perhitungan penjualan. Tabel 2. Perhitungan rata-rata modal dan keuntungan informan per hari (dalam rupiah) Informan Modal Penerimaan Keuntungan Le Tine Mike Evi Sumber: data primer (diolah)

29 Pengelolaan Usaha Papalele Menghindari Pinjaman Mengindari pinjaman uang dari pihak lain untuk usaha. Bagian sebelumnya telah dijelaskan kondisi keuangan papalele yang terbatas terutama untuk modal usaha. Dengan modal usaha yang terbatas, dapat dipahami jika mereka menolak tawaran pihak lain yang datang menawarkan pinjaman atau kredit sejumlah uang tertentu. Tanta Mike misalnya, kredit dari berbagai pihak selalu ditolak karena beban pembayaran kembali dirasakan cukup memberatkan walaupun cicilan pembayaran dilakukan setiap hari dan jumlah pengembaliannya tidak terlalu besar. Pada sisi yang lain, ia tidak ingin dibebani dengan tagihan setiap hari yang bukan tidak mungkin tidak bisa dibayar. Bahkan menurutnya kedatangan penagih setiap hari, akan sangat mengganggu aktivitasnya. Dengan modal seadanya akan jauh terasa lebih bebas dibandingkan resiko pinjaman. Kalaupun harus meminjam untuk usaha, maka keluarga terdekat yang dihubungi untuk maksud tersebut. Hal yang hampir serupa juga dilakukan mama Yoke, salah satu informan. Banyak pihak yang selalu menawarkan pinjaman kredit, tetapi selalu ditolak dengan alasan kemampuan pengembalian takut tidak dapat dipenuhi. Jangankan menerima tawaran pinjaman kredit, tawaran dari pedagang yang sudah dikenal juga ditolak. Penolakan yang dia lakukan terhadap pedagang kenalannya disampaikan sebagai berikut: parna, dong bilang ibu ambil dolo nanti baru bayar. Beta seng parna mau bagitu, beta paleng taku, beta pikir di beta pung kantong jang sampe seng cukup untuk bayar, jadi macam buah salak bagitu beta bali seadanya sesuai deng beta pung dalam kantong ada brapa seng brani ale, taku jang sampe beta jual akang la seng bale modal, la beta musti bayar deng apa. Mo ada yang kadang-kadang katong rugi, modal jua tar bale. Kalo 211

30 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon yang tar laku lai, la beso baru katong jual lai to. Resiko katong punya te, katong tanggung sandiri, mo barang tiap hari tu tar sama 8 (pernah pedagang katakan ibu silahkan mengambil buah dulu, bayarnya kemudian. Saya tidak akan melakukan itu, saya sangat takut, saya juga berpikir jangan sampai uang yang ada di saku saya tidak mencukupi untuk membayarnya nanti. Karena itu seperti buah salak saya membeli seadanya sesuai dengan uang yang saya miliki. Saya tidak berani berhutang, takut jangan-jangan saat menjual uang modal tidak kembali, akhirnya membayar tidak dapat dipenuhi. Buah yang kita beli dan tidak terjual, masih bisa dijual lagi keesokan harinya. Resiko harus kita tanggung karena setiap hari hasilnya pun tidak sama). Keterbatasan modal dan keterbatasan jumlah bahan yang dijual merupakan ciri usaha yang tidak berani mengambil resiko usaha. Berbagai tawaran perkuatan modal usaha sering tidak direspon oleh pelaku usaha seperti ini. Menghindari resiko (avoiding risk) pinjaman merupakan kesadaran akan keterbatasan kemampuan yang dimiliki. Mekanisme Mengelola Usaha Pengetahuan yang cukup terbatas, kalau tidak ingin dikatakan rendah, tidak menjadi penghalang dalam usaha. Pengetahuan dari pendidikan formal sering dijadikan ukuran untuk memahami seseorang saat berusaha. Karena masyarakat umum selalu beranggapan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin baik kegiatan usaha yang dibuat, dan sebaliknya. Tetapi hal ini tidak berlaku pada para papalele, 8 Wawancara tanggal 21 April

31 Pengelolaan Usaha Papalele dengan ketiadaan pengetahuan yang memadai ternyata mereka mampu mengelola dan meng-identifikasi usaha. Kemampuan ini ditandai dengan mekanisme papalele yang sangat sederhana. Ciri kesederhanaan itu diawali dengan mencari dan membeli buah yang akan dijual, melakukan tawar menawar, kemudian menentukan harga jual hingga membangun relasi dengan pedagang. Produk yang Diperdagangkan Para papalele tidak selalu mengandalkan buah hasil kebun, tetapi juga membeli dari pedagang untuk dijual. Bagian sebelumnya telah menegaskan tentang pengalaman pertama seorang memulai papalele. Buah hasil kebun atau dusun merupakan produk unggulan yang dijual, kemudian dari hasil menjual mereka mendapatkan keuntungan yang dijadikan sebagai modal untuk diputar hari berikutnya. Walaupun keuntungan tidak terlalu besar tetapi sudah cukup untuk membeli buah yang lain. Tujuannya jelas melanjutkan dan mempertahankan usaha untuk mendapatkan penghasilan. Buah hasil kebun bukan satu-satunya andalan untuk dijual sebagai penghasilan. Walaupun para papalele selalu sangat mengharapkan buah dari kebun atau dusun sendiri yang dipanen pada waktunya atau membeli dari tetangga. Hasil kebun itulah yang dijual ke pasar, namun mereka sering berhadapan dengan musim yang telah berubah. Ada buah seperti rambutan, pepaya dan salak dalam setahun bisa dua kali panen, tetapi buah seperti manggis, duren, kecapi hanya panen sekali setahun. Ketidak-stabilan hasil panen membuat mereka tidak hanya bergantung dan mengharapkan hasil kebun, tetapi harus membeli buah dari pedagang untuk dijual. 213

32 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Saat musim panen tiba, papalele sangat diuntungkan terutama bagi mereka yang kebunnya banyak menghasilkan buah karena tidak perlu lagi mencari buah ke pasar. Demikian pun bagi mereka yang kebun dan dusun tidak menghasilkan dapat membeli dari tetangga terdekat. Seperti mama Le dan tanta Evi tidak perlu direpotkan dengan mencari buah ke pasar Ambon, mereka bisa dengan mudah membeli dari tetangga sekitar rumah atau tetangga se-desa. Bahkan ada perilaku khusus pada hari yang sama jika buah hasil kebun telah laris terjual, mereka berupaya membeli buah lagi untuk selanjutnya dijual. Bagi mama Le dan tanta Evi memanfaatkan waktu adalah peluang yang semakin besar untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Membeli dari pedagang pemasok di pasar Ambon. Umar (67), Adam (42) dan Thalib (44) adalah pedagang buah di pasar Ambon yang telah menjadi langganan para papalele. Buah yang dijual papalele setiap hari, secara rutin berasal dari pedagang tersebut. Umar adalah pedagang yang berasal dari suku Bugis- Makassar, Adam adalah pedagang yang berasal dari desa Geser pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah, sementara Thalib adalah pedagang yang berasal dari desa Kabau Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah. Hubungan dagang antar mereka lebih bersifat transaksi beli jual dengan sistem pembayaran tunai atau pembayaran dilakukan setelah buah terjual. Bagi mereka cara ini sudah terbangun dan terpelihara sejak lama jauh sebelum kerusuhan di Kota Ambon, sehingga keterikatan antar mereka bahkan terus bertahan hingga kini. Terpeliharanya hubungan mereka karena tidak ada yang lalai terhadap kewajiban. 214

33 Pengelolaan Usaha Papalele Strategi Bersama dalam Berusaha Papalele yang berkelompok saat berjualan selalu mengutamakan dan mengedepankan tenggang rasa. Tiga dari delapan belas informan penelitian ini merupakan satu kelompok saat berjualan. Mama Le, tanta Mike dan tanta Emy merupakan kelompok papalele yang dianggap paling lama bertahan. Kebetulan saja, kelompok mereka berada pada satu lokasi berjualan yang sama. Keakraban mereka tidak hanya pada lokasi berjualan tetapi juga soliditasnya terbangun di lingkungan tempat tinggal karena bertetangga. Akrabnya mereka dalam berjualan membuat ketiganya tidak ego dalam bersaing terutama saat mencari buah bersama dan menentukan harga jual. Saling berkomunikasi di saat akan membeli buah hingga menentukan harga jual dilakukan demi menjaga keseimbangan rasa di antara mereka. Demikian pula taktik yang digunakan untuk menentukan jumlah dan jenis buah, sering secara bersama. Tanta Mike di satu pagi sudah seperti biasanya bergegas mencari buah. Hari itu dia berkeinginan membeli buah nangka matang, karena buah tersebut tersedia sangat banyak di pedagang. Mungkin saja karena di bulan November-Desember buah nangka lagi musim panen. Saat nangka dibeli tidak dalam bentuk satu buah nangka utuh tetapi dibeli dalam hitungan bijinya. Rupanya pedagang juga merasa rugi kalau menjual satu buah dalam keadaan utuh, sehingga dijual dengan hitungan per biji nangka. Tanta Mike hari itu membeli per 100 otak 9 dengan harga Rp pada saat biji nangka akan dibeli memang pedagang telah melepaskan biji dari buahnya sehingga mereka tidak direpotkan lagi untuk me-misahkannya. 9 Papalele biasanya menyebut setiap pembelian biji nangka dengan sebutan otak. 215

34 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Gambar 10. Informan saat mencari buah bersama (Piso.doc.2008) Biji buah nangka dimasukkan dalam plastik ukuran setengah kilogram. Tanta Mike telah menyiapkan plastik ukuran 1,5-1 kg sebelumnya, untuk memasukkan setiap biji nangka. Setiap plastik ukuran setengah kilo diisi enam sampai tujuh otak dengan harga jual Rp per plastik. Sementara biji (otak) buah nangka yang berukuran besar dimasukkan lima otak dalam plastik ukuran 1 kg, dengan harga jual Rp atau Rp per plastik. Cara yang dilakukan tanta Mike ini di lokasi tandeng kelompok mereka. Dia melakukannya setelah bertanya kepada tanta Emy teman sekelompoknya yang hari itu secara bersamaan menjual biji nangka matang. Sebagaimana disampaikannya: kalo beta su sampe tante emi pung nangka beta tanya se isi dalam plastik berapa otak? mo kalo tante emi bilang 5 lalu beta 5 lai, kalo emi pung 6 berarti beta pung 6 lai, mo sama sa deng harga to, supaya laeng jang beda dar 216

35 Pengelolaan Usaha Papalele laeng bagitu, nanti rasa seng enak bagitu, mo kan samua sama-sama dudu tandeng te 10 (kalau saya tiba di lokasi dan tante Emy juga menjual nangka, saya bertanya kamu isi berapa otak per plastik?. Seandainya tante Emi katakan lima per plastik, saya ikut lima, kalau enam per plastik saya pun demikian termasuk harga jualnya. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak saling berbeda, kalau berbeda bisa saja terjadi perasaan yang tidak menyenangkan antar kita, mengingat kita sama-sama tandeng). Menghindari Konflik melalui Variasi Produk Menjaga hubungan baik dan menghindari terjadinya konflik dalam kelompok. Pertentangan dan konflik bisa saja terjadi antar papalele mengingat usaha yang ditekuni tidak terlepas dari rasa persaingan. Konflik bisa saja terjadi karena jumlah pembeli yang tidak seimbang atau karena buah yang dijual kadang-kadang sejenis. Untuk menghindari terjadi hal seperti itu maka variasi terhadap buah yang dijual sedapat mungkin diupayakan. Konflik biasanya dapat terjadi dalam kelompok papalele, termasuk kelompoknya tanta Mike. Agar tidak terjadi konflik, masing-masing telah memahami cara untuk menghindarinya. Hal tersebut dikemukakan tanta Mike sebagai berikut: kalo beta su sampe di pasar la baku dapa trus beta lia, oh io dong ada punya mangga gole, ada punya mangga harum manis, ada punya lemong manis, beta harus usaha cari deng ambel yang lebih bagus atau ambel yang antua pung seng ada bagitu, kalo seng bisa jadi tar enak lai (kalau saya tiba di pasar dan bertemu, kemudian saya memperhatikan buah yang mereka beli, oh ya, ada buah 10 Wawancara tanggal 07 November

36 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon mangga golek, ada buah mangga harum manis atau ada jeruk manis, saya harus mencari dan mengambil buah yang lebih baik atau mengambil buah yang mereka tidak punya. Kalau tidak melakukan hal itu bisa saja terjadi perasaan tidak enak di antara kita). Menjual yang berbeda jauh lebih baik untuk tetap menjaga keharmonisan kelompok. Tanta Mike memiliki cara tersendiri untuk tetap menjaga agar keharmonisan kelompok tetap berjalan baik. Dia berupaya menjual barang yang tidak dimiliki teman sekelompok. Menurut tanta Mike menjual buah mangga dan buah jeruk hanya dilakukan kalau buah yang lain tidak ada di pasaran, tetapi yang paling utama dan selalu dijual adalah telur ayam kampung. Telur yang dijual ada dua jenis yang pasokannya berasal dari Surabaya dan telur ayam kampung dari orang di desa pegunungan. Telur dari Surabaya dibeli dengan harga Rp per butir dan dijual Rp per butir sementara telur ayam kampung dari pegunungan dibeli dengan harga Rp dan dijual Rp per butir. Mengantisipasi Kerugian Kerugian bisa terjadi disebabkan karena tidak habis terjual atau uang modal tidak kembali. Secara umum papalele memiliki taktik khusus mengantisipasi kerugian yang bakal terjadi setiap hari. Taktik untuk menghindari hal tersebut tergolong sederhana. Tanta Evi dan tanta Mike akan mewakili pengalaman papalele lain ketika melakukan taktik antisipasi menghadapi kemungkinan tidak laku, yang bakal terjadi setiap hari. Bali ukur merupakan salah satu cara memenuhi permintaan pembeli. Tanta Evie mempunyai cara tersendiri untuk memuaskan pembeli manakala di saat tertentu ketika pembeli membutuhkan buah tertentu, dia sudah menyiapkannya. Hal 218

37 Pengelolaan Usaha Papalele ini dilakukan karena pengalamannya yang terus mengamati perilaku pembeli di saat akan membeli buah selalu tidak menentu. Pembeli tidak selalu menginginkan buah yang sama sehingga menjaga agar kebutuhan mereka tetap terpenuhi, tanta Evie 11 mengantisipasinya. Menurutnya: bali ukur tu to contoh, Mangga gole beta bali barang 30 jua, nanti mangga laeng barang 30 lai, nanti mangga laeng barang 20 lai, bagitu-bagitu toh pa toh. Lalu ada laeng-laeng lai mangkali ada dapa kanari kah, talor barang 100 lai kah, ukur itu tuh su tahu pasti abis eee. Barang kalo bali mangga gole, dong tanya tante seng ada mangga harum manis seng ada mangga manalagi, barupa-rupa macam pa biar situ sadiki.. sini sadiki..supaya orang datang bali orang mau samua ada. La kalo dong bali ambel situ, sini su ta tutup tu. ( Bali ukur itu contohnya membeli 30 buah mangga golek, 30 atau 20 buah mangga yang jenis lain, lalu yang lain juga harus dibeli seperti kenari dan 100 butir telur. Dengan mengukur pembelian seperti itu sudah diprediksi harus habis terjual. Jika hanya membeli satu jenis buah mangga, pembeli akan bertanya jenis buah mangga yang lain. Pembeli ini selalu tidak menetap pada satu jenis buah yang akan dibeli. Saat mereka bertanya, buah yang diminta saya sudah siapkan, walaupun sedikit. Jika mereka membeli buah yang satu, keuntungannya bisa menutupi buah yang lain). Hal yang tidak berbeda pun dilakukan tanta Mike untuk mengantisipasi kerugian setiap hari. Bagi tanta Mike semua bahan yang dibeli sudah diperhitungkan secara matang dengan target harus sedapat mungkin semua terjual habis. Dia selalu membeli lebih dari tiga jenis bahan bahkan bisa mencapai lima jenis. Kondisi ini dilakukan agak berbeda dengan tanta Evie 11 Wawancara tanggal 8 November

38 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon karena pembeli berkeinginan pada buah yang berbeda. Tanta Mike sering berhadapan dengan pembeli atau langganannya yang sering meminta untuk berhutang terlebih dahulu. Kadangkadang si pelanggan mengatakan bahwa ia ingin buah mangga atau nangka tetapi uang telah habis untuk berbelanja. Untuk menjaga relasi tetap berjalan baik, tanta Mike tidak segan untuk memberi buah yang diinginkan. Pembayaran baru akan dilakukan setelah hari atau bulan berikutnya atau di saat pelanggannya bisa membayar. Pada saat pelanggan telah berhutang pada satu jenis buah tertentu, maka harga jual pada buah yang lain bisa menutupi kekurangan buah yang dihutang. Selain memberi hutang pada pelanggan, harga jual diturunkan sebelum pulang ke rumah. Mengantisipasi kerugian tidak hanya dilakukan dengan cara yang telah disebutkan tadi. Tanta Mike juga melakukan cara yang umumnya terjadi pada pasar tradisional umumnya; obral. Bagi tanta Mike, cara obral atau menurunkan harga jual kerap dilakukannya. Biasanya ia lakukan di saat waktu akan pulang ke rumah semakin mendekat dan bahan yang dijual masih belum terjual. Jika hal ini terjadi biasanya tiga jam sebelum pulang ke rumah tanta Mike menjual dengan harga murah dengan harapan buahnya cepat laris. Buah untuk bahan rujak yang dijual Rp per plastik, akan diobral antara Rp sampai Rp per plastik. Mengingat modal beli Rp per plastik. Menurutnya, obral tergolong efektif manakala waktu akan pulang semakin dekat. Walaupun keuntungan kecil dan hanya berkisar antara Rp1.000 sampai Rp per plastik. Baginya uang modal hari berikutnya dan sedikit uang untuk kebutuhan keluarga telah tersedia. 220

39 Pengelolaan Usaha Papalele Jejaring Papalele mungkin tidak akan bisa bertahan jika tidak memiliki jejaring dan relasi dengan pihak lain. Jejaring dan relasi yang dibangun papalele tidak hanya sebatas dengan sesama papalele tetapi juga dengan pedagang dan lembaga pemberi pinjaman sebagai mitra usaha. Jejaring mereka tergolong awet karena adanya rasa saling percaya satu terhadap yang lain. Kewajiban masing-masing pihak dipenuhi tanpa tekanan dan berlangsung karena kesadaran bahwa hubungan ekonomis sangat diperlukan. Pada bagian sebelumnya, tanta Mike dan tanta Joke mewawakili papalele tidak memanfaatkan pinjaman dana pihak ke-tiga. Alasanya tidak ingin bergantung pada pihak lain, sembari menjadi beban tanggungan bagi usaha mereka. Namun demi-kian, tidak berarti bahwa papalele tidak memanfaatkan pinjaman dana. Tiga informan masing-masing mama Cum, mama Habsah dan tanta Evi yang merupakan kelompok papalele yang justru memanfaatkan dana sebagai bentuk membangun jejaring. Memanfaatkan Pinjaman Pihak Lain Pada bab sebelumnya, sempat diuraikan tentang papalele yang menghindari resiko (avoiding risk) pinjaman uang. Pembahasan tersebut sebagaimana telah diuraikan merupakan proses usaha yang mandiri tanpa tergantung dari pihak lain terutama pembentukan modal usaha. Sementara pada bagian ini, sesungguhnya akan dijelaskan tentang jejaring yang dibangun papalele dengan memanfaatkan pinjaman pihak lain, khususnya dengan lembaga keuangan non bank. 221

40 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Papalele adalah satu kelompok usaha yang lemah terhadap dukungan keuangan. Harus diakui bahwa usaha papalele yang dilakukan para informan memiliki kelemahan dari segi keuangan. Dukungan dana hanya bersifat pribadi dan topangan keluarga terdekat. Mereka juga tidak memiliki akses terhadap sumber pendanaan yang memadai. Namun demikian, ada papalele yang membangun jejaring dengan lembaga simpanpinjam sebagai sumber pemberi dana. Mama Cum, mama Habsah dan tanta Evi, mereka adalah tiga orang dari delapan belas informan yang berani memasuki ruang ini dengan menerima tawaran pinjaman kredit bagi usaha yang sementara ditekuni. Walaupun usaha papalele yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk mengembangkannya menjadi lebih besar. Pinjaman dana dari pihak ketiga hanya diprioritaskan untuk menjaga agar papalele tetap berlangsung. Merantau dari desa ke kota adalah pilihan untuk tetap menghidupi keluarga. Salah satu informan yang memutuskan merantau ke kota bersama keluarga adalah mama Kalasum. Keseharian biasa disapa mama Cum dari nama lengkap Kalasum Marasabessy (55). Ia adalah seorang janda beranak tiga yang berasal dari Desa Kailolo, Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Suaminya bermarga Selang yang berasal dari Desa Ihaluhu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Namun kehidupannya tidak lagi didampingi sang suami karena sudah sejak lama mereka ditinggalkan bahkan sejak anak-anaknya belum bersekolah. Sebagai orang tua tunggal (single parent) ia berusaha menghidupi anak-anaknya dengan berjualan menjadi papalele. Mengingat saat itu salah satu anaknya masih di kelas satu SD Al-Hilal, Desa Batu Merah. Karena modal usaha terbatas, menjadi alasan untuk berani menerima dan mengambil pinjaman kredit secara harian. Sejak 222

41 Pengelolaan Usaha Papalele hijrah ke Ambon mama Cum bersama anak-anaknya berpindah dari satu tempat kost ke tempat kost lainnya di Desa Batu Merah, mengingat mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap. Dengan semangat untuk menafkahi anak-anak ia memutuskan menjadi papalele menjual aneka kebutuhan sayur mayur, bumbu dapur dan ikan laut mentah. Karena keinginan yang kuat dan tidak memiliki cukup uang memulai usaha, ia memberanikan diri meminjam uang di Koperasi Batu Merah. Pengalaman pertama peminjaman dimulai dengan pinjaman sebesar Rp dengan pengembalian Rp per hari selama satu bulan 12. Sesuai kesepakatan dengan kreditur, dia selalu menepati perjanjian hingga seluruh pinjamannya terbayar. Mengatur perputaran uang usaha dan membiayai kebutuhan keluarga. Pinjaman dari Koperasi dijadikan sebagai modal untuk membeli berbagai bahan keperluan yang akan dijual. Bahan yang secara rutin dibeli untuk dijual seperti sayur mayur jenis kangkung, daun singkong atau bayam hijau per tiga ikat. Untuk mendapat keuntungan dari setiap jenis sayur itu, setiap ikatnya dipecah dua, sehingga mendapatkan 12 ikat yang dijual dengan harga Rp Ada juga bumbu-bumbu dapur seperti jahe, daun sereh, lengkuas, kunir, cabe dan beberapa jenis yang lain. Setiap bumbu tersebut diperlakukan sama dengan sayuran yang dipecah dalam beberapa ikatan. Sementara ikan laut mentah yang dijual seperti ikan puri atau ikan tuna dan ikan kembung. Dengan membagi setiap jualan seperti itu, keuntungan yang diperoleh Rp sampai Rp per hari. 12 Wawacara dengan Kalasum Marasabessy (55) tangga 2 Mei

42 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Tetap bertahan usaha dengan keuntungan secukupnya. Mama Cum mengakui bahwa keuntungan yang diperoleh setiap hari sangat terbatas karena keuntungan itu harus diatur untuk pengembalian pinjaman dan kebutuhan makan minum keluarga dan biaya sekolah anak-anak. Dalam situasi seperti itu, ia tetap harus bisa bertahan walaupun kadang-kadang pikiran kalut menerpanya, seperti yang diungkapkannya:...utang seng bisa tunda, biar ada tidor lai dong kas bangong, sampe beta pusing. La tar biking bagitu se mau makang apa beso, inga poro for makang, jadi tar bajual mo biking apa, jadi stiap hari musi pi barang abis jua tempo jam-jam 11 kalo seng 12 (kredit tidak bisa ditunda, harus bayar walaupun saya lagi istirahat tidur mereka bangunkan untuk menagih, hingga saya terbeban. Tetapi kalau tidak melakukannya, kita mau makan besok bagaimana, harus tetap ingat makan untuk perut. Sehingga setiap hari harus tetap berjualan, mengingat berjualan hanya sampai pukul atau pukul siang). Situasi yang sama juga dialami mama Habsah (57) ketika pertama kali berjualan. Modal awal untuk memulai usaha berjualan juga dari pinjaman Koperasi Simpan Pinjam sebesar Rp Bahan yang dijual tidak berbeda dengan mama Cum yang terdiri dari sayur mayur, bumbu-bumbuan dapur dan ikan laut mentah. Jualan dijajakan berkeliling kota dari jam pagi hingga siang hari sekitar pukul Sebelum berkeliling menjual, setiap hari antara jam subuh atau jam subuh, ia harus tinggalkan rumah mencari bahan yang hendak dijual Wawacara dengan Habsah Tuanaya (57 tahun) tanggal 28 Arpil

43 Pengelolaan Usaha Papalele Pengalihan cara baronda ke tandeng dilakukan karena kondisi fisik yang tidak lagi memungkinkan. Seiring dengan kondisi fisiknya yang mulai memasuki masa tua, mama Habsah tidak lagi berjualan baronda, akunya. Ia kini hanya tandeng di pasar Mardika Ambon dan menempati salah satu los pasar yang dikhususkan untuk berjualan sayur mayur dan bahan kebutuhan dapur lainnya. Ikan laut yang pada masa sebelumnya ini ia jual, kini ditinggalkan mengingat los yang ditempati tidak diperuntukkan bagi barang jualan seperti itu. Memanfaatkan pinjaman koperasi pada saat kondisi modal sudah berkurang. Tanta Rina mungkin sedikit berbeda dengan mama Cum dan mama Habsah tentang alasan peminjaman. Seperti disebutkan keduanya saat menggunakan pinjaman Koperasi karena ketiadaan modal usaha. Sebaliknya bagi tanta Rina pinjaman yang diperoleh dan akan dipergunakan jika mulai dirasakan bahwa modal berjualan mulai berkurang dan menipis. katong bajual kalo katong rasa katong modal tipis, katong ada bawa simpan pinjam di koperasi, koperasi di Latuhalat, akang pung nama koperasi apa tu lai. Katong biasa pinjam di situ, dapa 1 juta bayar 1 hari 40 ribu la tiap hari dong datang tagi, jadi dong bunga 200 te 14 (kami berjualan kalau merasa modal berkurang atau mulai menipis, kami bisa pinjam di Koperasi Simpan Pinjam desa Latuhalat. Kami biasa meminjam di situ, mendapat Rp , pengembalian Rp per hari. Setiap hari orang koperasi datang menagih dan mereka mendapat keuntungan Rp ). 14 Wawacara dengan Ibu Rina Muskitta (48 tahun) tanggal 19 April

44 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Hak telah dipenuhi sehingga memenuhi kesepakatan pengembalian pinjaman pada pihak kreditur adalah kewajiban. Tanggung jawab tanta Rina adalah memenuhi kewajiban pengembalian secara cicilan kepada Koperasi Simpan Pinjam. Baginya kewajiban harus dipenuhi agar memudahkan ia mendapat pinjaman kembali, jika sewaktu-waktu membutuhkan uang. Menurutnya setiap hari pihak penagih akan menemuinya di pasar atau jika tidak bertemu di pasar, mereka akan kembali keesokan harinya. Tagihan cicilan pembayaran berlaku setiap hari. Jika tidak tertagih hari itu, keesokan harinya cicilan dibayarkan bersama tagihan pada hari sebelumnya. Biasanya jatuh tempo tiga bulan sejak hari peminjaman. Dengan demikian bagi tanta Rina masih ada kelonggaran waktu dan tidak menjadi beban dengan cara demikian. Bahkan kadangkadang sebelum masa pembayaran cicilan selesai, tawaran pinjaman berikut telah diterima lagi. Dengan demikian bagi tanta Rina kewajiban pembayaran cicilan kepada pihak Koperasi sangat penting untuk menjaga kepercayaan pada masa mendatang. Membangun Relasi Usaha Hubungan baik yang terbangun antara papalele dengan pedagang bersifat saling menguntungkan. Antara papalele dan pedagang selalu berusaha agar relasi keduanya tetap terpelihara dan terjaga. Keduanya menyadari bahwa tanpa saling peduli akan memberikan manfaat tidak hanya ekonomis tapi juga relasi sosial. Sehari sebelumnya telah membuat pesanan dalam bentuk perjanjian untuk pengambilan buah yang akan dijual. Bagi papalele, membuat janji dan saling mengingatkan dengan pedagang langganan adalah bentuk kerjasama dan antisipasi 226

45 Pengelolaan Usaha Papalele berkurangnya buah yang hendak dijual. Tanta Mike tidak ingin kehilangan peluang mendapatkan buah pesanan untuk berjualan setiap hari. Mengingat begitu banyak papalele dan pedagang lain yang membutuhkan buah yang sama untuk dijual. nanti kalo katong pulang sore, katong su pi janji skali...ingatang beso angka lemong 5 kilo kah, 10 kilo kah, la dong pilih skali yang bagus-bagus, supaya kalo beso pagi beta sampe jang orang laeng ambel akang jadi setiap sore katong pulang, katong langsung kasitu kastau dolo. 15 (Pada saat sore hari waktu hendak pulang ke rumah, kami pergi memesan dan buat perjanjian, bahwa besok pisahkan buah jeruk 5 kg atau 10 kg. kemudian mereka (pedagang) sudah memilih yang bentuk dan kualitas yang baik. Sehingga di besok pagi saat saya tiba sudah tersedia. Jangan sampai ada orang lain mengambilnya. Karena itu setiap sore hari kami harus ke tempat pedagang memberitahukan mereka). Memberitahu ke pedagang tidak hanya saat akan berjualan tetapi juga jika tidak berjualan. Tanta Mike dan juga papalele yang lain, tidak hanya memberitahukan pedagang untuk buah yang dipesan, tetapi juga saat dia berhalangan dan tidak berjualan. Selain janjian pesanan, kewajiban membayar tidak boleh diabaikan. Pesanan dan saling mengingatkan telah menjadi ikatan antara papalele dan pedagang. Mereka sudah saling memahami satu dengan yang lain terhadap ikatan yang disepakati termasuk cara pembayaran. Bagi tanta Mike, pagi mengambil pesanan sore hari harus membayar. Tetapi kadang juga 15 Wawancara dengan Mike Loppies (50 thn) tanggal 7 November

46 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon sore hari terlambat untuk membayar, keesokan pagi baru dibayar sambil mengatakan sejujurnya keterlambatan itu. Konsekuensi lalai terhadap pembayaran tidak akan dilayani. Ikatan rasa saling percaya antara papalele dan pedagang tidak boleh saling mengingkari. Jika ada yang mengingkari akan berdampak bagi berjualan hari berikutnya. Menurut tanta Mike, pedagang langganan mereka sangat percaya papalele Hatalai mengingat mereka tergolong banyak dan telah menjadi pelanggan tetap. Dengan demikian kalau di antara papalele Hatalai ada yang mengingkari kesepakatan, pedagang akan mencari hingga ketemu, dan bagi mereka tidak diberikan kesempatan untuk bekerja sama di waktu mendatang. Untuk tetap menjaga hubungan baik yang telah terbina, tanta Mike berusaha agar kewajiban pembayaran tidak melebihi dua hari. Menitipkan Jualan Taktik membuat jualan cepat laris terjual dengan saling silang menjual. Mama Ata setiap hari berdampingan papalele dengan Mama Le pada lokasi yang sama. Lokasi tersebut juga bersebelahan dengan tanta Mike dan tanta Emy yang menempati depan bagian kiri swalayan Citra di Ambon. Mama Ata berasal dari desa Kilang tetangga Hatalai. Hubungan papalele antara mama Ata dan mama Le sangat akrab dan tidak terbatas hanya pada tempat yang ditempati. Selama berjualan kadangkadang mereka saling memperhatikan dan peduli terhadap setiap buah yang dijual. Jika salah satu dari keduanya masih memiliki buah yang belum terjual, maka mereka akan saling membantu agar sedapat mungkin buah yang dijual tidak tersisa. Suatu saat, tanpa terduga mama Le menjual buah salak sama seperti mama Ata. Karena keduanya menjual buah yang sama maka taktik untuk membuat salak cepat laris dengan saling 228

47 Pengelolaan Usaha Papalele silang. Seperti pengalaman yang diceritakan 16 bahwa saat pembeli hendak membeli buah salak lima tampa, maka mama Le berinisiatif menjual satu sampai tiga tampa dan sisanya ia menyisipkan salak dari mama Ata. Pola ini dilakukan terus menerus bahkan buah yang berbeda pun sama perlakuannya. Kepedulian yang sama juga dilakukan saat salah satu dari keduanya harus pulang lebih awal ke rumah karena keperluan yang mendesak. Mama Le dan mama Ata sering berkomunikasi saat berjualan untuk mengatur waktu saat salah satu dari keduanya harus pulang lebih awal. Rupanya mama Ata juga menempati salah satu lokasi di pasar. Lokasi berjualan di pasar bagi mama Ata dipakai sejak pagi hingga siang dan kemudian sisa waktu akan berdampingan dengan mama Le, sebagaimana yang disampaikan mama Le: katong dua baku bage, jadi kalo mama ata misalnya jam satu atau dua disini setengah ampa lai beta su pulang jualan sisa nanti antua jual, la nanti beso beta turun baru antua kasi akang pung uang. Jadi katong dua baku bantu deng laeng mangarti laeng, biar antua bajual di lao bawah di antua pung tampa lai tapi nanti siang antua nai ka sini karena antua su tau ibadah hari Rabu, deng Jumat, nanti dia bagitu lai kalo ada parlu. (kami berdua selalu berbagi waktu, kalau mama Ata jam satu atau jam dua datang ke sini, jam setengah empat saya sudah harus pulang, jualan yang tersisa nanti dia yang menjual. Uangnya baru akan diberikan keesokan harinya saat saya datang. Kami berdua saling membantu dan saling memahami satu dengan yang lain. Walaupun dia juga berjualan di pasar tapi siangnya tetap akan datang ke sini. Apalagi dia sudah mengetahui waktu ibadah saya hari Rabu dan Jumat. Demikian sebaliknya jika dia ada keperluan mendesak) 16 Wawancara dengan Elisabeth Alfons (Le) tanggal 8 November

48 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Saling membantu berjualan dan mengerti waktu berhalangan telah menjadi ikatan antar kedua papalele. Kepedulian mama Ata terhadap mama Le dan sebaliknya tetap berlangsung. Apalagi mama Le selain menjadi papalele ada tugas yang harus dilakukan pula sebagai Majelis Jemaat di Hatalai. Sehingga hari Rabu dan Jumat 17 tetap akan dimanfaatkan untuk mengikuti ibadah. Barang jualan yang tidak habis terjual dititipkan kepada pedagang atau kepada pemilik toko. Mama Le, Mama Ata, tanta Mike, tanta Emy, tanta Evi, dan mama Anto adalah sebagian dari para papalele yang membina hubungan baik dengan pedagang lain dan pemilik toko/swalayan di tempat berjualan. Hubungan baik yang terjalin antar mereka tidak mengganggu usaha masing-masing karena adanya rasa saling menghargai antar mereka. Saling mendukung dan peduli nampaknya menjadi kekuatan bersama selama berjualan. Mama Anto misalnya, setiap hari ia tandeng di depan salah satu rumah makan di terminal angkutan antar kota. Terminal itu merupakan pusat angkutan umum dari kota Ambon tujuan dermaga penyeberangan Ferry yang menghubungkan desa Liang Kecamatan Leihitu Pulau Ambon dengan Kecamatan Kairatu di Pulau Seram. Wajar saja kalau tempat ini banyak sekali orang dari pulau Seram Kabupaten Seram Bagian Barat pergi-pulang melalui terminal tersebut. Banyaknya penumpang membuat mama Anto menggunakan kesempatan menjual buah sebanyak 17 Gereja Protestan Maluku (GPM) di Ambon memiliki aturan hari beribadah setiap minggu secara rutin bagi anggota Jemaatnya. Bagi mereka yang telah menjadi Majelis Jemaat setempat wajib untuk terlibat dalam setiap peribadahan. Pengaturan waktu ibadah itu antara lain; hari Selasa Ibadah untuk Kelompok Laki-Laki (PELPRI), hari Rabu ibadah untuk kelompok perempuan (PELWATA), hari Kamis ibadah untuk kelompok Angkatan Muda GPM (AM-GPM), hari Jumat Ibadah untuk keluarga/rumah Tangga yang terbagi pada unit-unit pelayanan (UNIT). 230

49 Pengelolaan Usaha Papalele mungkin, sehingga kadang-kadang buah tidak terjual habis. Jika demikian yang terjadi ia kemudian menitipkan dagangannya ke pemilik rumah makan. Bagi mama Anto, penitipan itu tidak menjadi halangan dan beban pihak pemilik rumah makan, sesuai penuturannya: katong tandeng di situ dong bae, ada orang buton yang bajual deng beta lai tu dong bae sa, mo kalo dong buka rumah makan, beta jalan, dong lia beta jualan, nanti dong bilang brapa laku, dong kasi uang, dong bantu, dong bae. Kalo seng abis taruh di rumah makan, mo kalo tar taru dong jaga bilang sudah mama taru sini jua tar apa-apa, la beta taru te la jam 7 baru nae. Jadi yang beta bilang tadi tu tinggal dari katong saja, bagaimana katong pung cara bawa diri terhadap dong, dong terhadap katong. 18 (kami berjualan tepat di depan warung makan dan mereka sangat baik terhadap kami. Saya dengan satu pedagang yang berasal dari Buton berjualan bersebelahan. Mereka pun sering menjual buah-buah yang saya jual saat saya harus pergi sebentar. Sekembalinya mereka memberitahukan jumlah yang terjual dan uangnya. Jika ada jualan yang tersisa saya titipkan di warung makan, sering saya tidak mau menitip, tetapi mereka selalu berkata; mama simpan saja di sini tidak menjadi masalah, akhirnya saya selalu menitipkan. Dengan begitu saya biasanya baru akan pulang sekitar pukul 7 malam. Jadi menurut saya, semua situasi itu sangat bergantung pada sikap dan perilaku setiap hari antara kita dengan mereka). 18 Wawancara tanggal 18 April

50 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon Alokasi Pendapatan untuk Biaya Pendidikan Anak-Anak Para informan, sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya, mencurahkan tenaga secara penuh melalui papalele untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Kemampuan mereka untuk mencari tambahan penghasilan keluarga, dialokasikan untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan biaya pendidikan anak-anak. Tabel di bawah dapat menerangkan perhitungan pendapatan yang dialokasikan untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan keperluan biaya sekolah anak-anak. Perhitungan ini berdasarkan pada pola pengeluaran dari empat informan. Prakiraan rata-rata biaya yang dikeluarkan selama setahun, dengan berpatokan pada pendapatan tertentu per hari. Tabel 3. Prakiraan rata-rata penerimaan dan pengeluaran informan per tahun (dalam rupiah) Informan Penerimaan Jenis pengeluaran Konsumsi Pendidikan Retribusi Transport Total (%) Le (40%) Tine (60,4%) Mike (77,63%) Evi (80,91%) (46%) (30%) (13,63%) (12,9%) Sumber: data primer (diolah) (2,7%) (2%) (1,81%) (1,29%) (10,1%) (7,6%) (6,9%) (4,9%) 100% 100% 100% 100% Tabel 3 menggambarkan tentang pendapatan tertentu rata-rata dalam setahun yang dialokasikan untuk berbagai pengeluaran. Pengeluaran konsumsi yang tersaji merupakan akumulasi dari konsumsi makanan dan non makanan. Penge- 232

51 Pengelolaan Usaha Papalele luaran konsumsi rata-rata rumah tangga berkisar antara 40% sampai dengan 80%. Sebagai kebutuhan dasar, pengeluaran konsumsi rumah tangga masih menjadi yang utama dan memiliki jumlah yang signifikan. Data tersebut juga menyajikan bahwa mama Le dan mama Tine memiliki pengeluaran tertinggi pada biaya pendidikan anak-anak sebesar 30% sampai dengan 46%. Besarnya pengeluaran tersebut terkait dengan jenjang pendidikan anak-anak mereka yang sementara berada di perguruan tinggi. Sementara tanta Mike dan tanta Evi terlihat berbeda dengan kedua informan sebelumnya. Pengeluaran untuk biaya pendidikan tergolong rendah, mengingat, baik tanta Mike maupun tanta Evi, anak-anaknya masih dijenjang pendidikan menengah. Sehingga biaya yang dialokasikan tidak sebesar mama Le dan mama Tine. Sangat mungkin bagi tanta Mike maupun tanta Evi biaya untuk pendidikan anak-anak akan semakin bertambah, seiring dengan beralihnya pendidikan anak-anak dari jenjang menengah ke pergurun tinggi. Kesimpulan Persaingan pada setiap usaha tidak bisa dihindari. Persaingan merupakan tindakan yang wajar dalam suatu kegiatan usaha. Namun bagi papalele, persaingan usaha justru dihindari dan sebaliknya mengutamakan kolaborasi dengan dasar kesadaran bersama dan tenggang rasa untuk berusaha. Untuk memulai berjualan setiap hari mereka akan selalu bersama mencari bahan untuk dijual dan bahkan menentukan harga jual. Cara ini dilakukan hanya dengan alasan sederhana dan rasional, menghindari konflik antar sesama rekan. Ciri dan pola usaha papalele sangat tradisional, dan tetap bertahan dalam suasana saat ini (modern). Ciri tradisional 233

52 Papalele: Potret Aktivitas Komunitas Pedagang Kecil di Ambon nampaknya tetap masih kuat dipertahankan sehingga usaha tidak dikembangkan. Mekanisme usaha tetap dipertahankan. Ketika usaha dijalankan modal yang dialokasikan sangat terbatas, yaitu dari hasil tabungan sendiri. Tidak ada keinginan untuk mengakses pinjaman modal dari pihak lain bahkan cenderung menghindar dari tawaran pinjaman hanya karena alasan beban dan menghindari resiko (avoiding risk). Bagi papalele, dengan penghasilan seadanya (kecil), tetapi berkelanjutan. Sementara peralatan yang dipakai untuk berjualan merupakan peninggalan orang tua atau peralatan bekas dapur yang masih layak pakai. Selain itu, ciri tradisional yang menonjol dan masih bertahan adalah baronda (berkeliling) atau tandeng (menetap) yang masih menggunakan dan mengedepankan tawar menawar dengan pembeli. Tidak mengherankan bila usaha yang dilakukan para informan sebagai papalele tidak mengalami pergeseran yang berarti untuk mengembangkan usaha sengaja tidak dikembangkan. Kecenderungan usaha yang mereka lakukan lebih terfokus untuk bertahan seadanya tanpa ingin mengembangkan usaha yang dilakukan. Yang terpenting bagi mereka adalah sedapat mungkin setiap hari harus selalu ada penghasilan untuk keluarga dan sedikit untuk disisipkan sebagai modal usaha hari berikutnya. Kepercayaan (trust) dan jejaring (network) sebagai modal sosial (social capital) cukup mendomonasi aktivitas papalele. Saling percaya melalui janji merupakan kewajiban dan ikatan relasi berkelanjutan. Nilai ini merupakan modal sosial yang terbentuk tidak hanya di kalangan papalele tetapi juga dengan pedagang. Tanpa disadari papalele memiliki kemampuan membangun relasi dan jejaring antar mereka dan dengan pihak yang lain. Jejaring dibangun dengan pemilik lahan tempat usaha dan 234

53 Pengelolaan Usaha Papalele pedagang sekitarnya merupakan satu jalinan kerja yang sesungguhnya merupakan cara yang harus dilakukan untuk tetap bisa bertahan (survive) terhadap keberlanjutan usaha. Demikian pula dengan pihak Koperasi untuk mendapatkan suntikan modal usaha, ikatan jejaring ini dipertahankan dan diawetkan melalui pemenuhan kewajiban pembayaran yang sedapat mungkin tidak terabaikan. Mereka sadar seandainya ingkar terhadap kewajiban maka kepercayaan akan sirna dan sulit lagi untuk akses. 235

54

Bab 5. Jual Beli. Peta Konsep. Kata Kunci. Jual Beli Penjual Pembeli. Jual Beli. Pasar. Meliputi. Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah

Bab 5. Jual Beli. Peta Konsep. Kata Kunci. Jual Beli Penjual Pembeli. Jual Beli. Pasar. Meliputi. Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah Bab 5 Jual Beli Peta Konsep Jual Beli Membahas tentang Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah Memahami Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Sekolah Meliputi Meliputi Toko Pasar Warung Supermarket

Lebih terperinci

Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai bisnis nasi kuning.

Namun, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai bisnis nasi kuning. Nasi Kuning, Menu Sarapan Jadi Peluang Bisnis Rumahan Menjalankan bisnis dari rumah? Kenapa tidak. Sekarang ini hanya dengan mengandalkan peluang bisnis dari lingkungan sekitar tempat tinggal saja, kita

Lebih terperinci

LAMPIRAN. berdasarkan 5 dimensi Orientasi Kewirausahaan Lumpkin & Dess (1996). Inovasi

LAMPIRAN. berdasarkan 5 dimensi Orientasi Kewirausahaan Lumpkin & Dess (1996). Inovasi LAMPIRAN yang diajukan untuk Bapak Agus selaku pengusaha generasi kedua Soto Ayam Dargo Pak Tanto sesuai dengan indikator pada definisi operasional berdasarkan 5 dimensi Orientasi Kewirausahaan Lumpkin

Lebih terperinci

Awal Mula Menjadi Papalele

Awal Mula Menjadi Papalele Bab Enam Awal Mula Menjadi Papalele Pengantar Bab ini menggambarkan proses seorang papalele saat pertama kali memutuskan memulai dan menjalankan usaha. Saat pertama kali seseorang mulai menjalakan kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara

BAB I PENDAHULUAN. daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan merupakan salah satu daerah pesisir pantai yang ada di Medan. Sebagaimana daerah yang secara geografis berada di pesisir

Lebih terperinci

BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR

BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR 6.1 Karakteristik Pedagang Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Martabak merupakan salah satu jenis makanan yang

Lebih terperinci

Baru dapat 1,5 kilogram kotor, kata Tarsin dalam bahasa Jawa, akhir Maret lalu.

Baru dapat 1,5 kilogram kotor, kata Tarsin dalam bahasa Jawa, akhir Maret lalu. Tarsin (70) kelelahan. Matanya menatap lesu. Memegang ember berisi lhem, atau sisa tetes getah karet alam, ia duduk di bawah pohon karet di area perkebunan PT Perkebunan Nusantara XIX di Sedandang, Pageruyung,

Lebih terperinci

pengukuran waktu panjang dan berat

pengukuran waktu panjang dan berat bab 2 pengukuran waktu panjang dan berat tema 5 kejadian sehari-hari rajin belajar tujuan pembelajaran pembelajaran ini bertujuan agar kamu mampu: menggunakan alat ukur waktu dengan satuan jam menggunakan

Lebih terperinci

Operasi Hitung Perkalian dan Pembagian

Operasi Hitung Perkalian dan Pembagian BAB 3 Operasi Hitung Perkalian dan Pembagian Tujuan Pembelajaran Siswa diharapkan dapat: melakukan perkalian dan pembagian sampai 100. mengubah bentuk perkalian menjadi bentuk pembagian atau sebaliknya.

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Gambaran Objek Penelitian

PEMBAHASAN. Gambaran Objek Penelitian PEMBAHASAN Pada bab ini akan disajikan gambaran umum objek penelitian, analisis, serta bahasan analisis dari hasil penelitian yang telah dilakukan penulis. Untuk penelitian ini, informan kuncinya adalah

Lebih terperinci

BAB III PRAKTEK JUAL BELI PIRING BONUS DI TOKO NURUL ILMU MAUMERE NUSA TENGGARA TIMUR. A. Gambaran tentang Toko Nurul Ilmu Maumere Nusa Tenggara Timur

BAB III PRAKTEK JUAL BELI PIRING BONUS DI TOKO NURUL ILMU MAUMERE NUSA TENGGARA TIMUR. A. Gambaran tentang Toko Nurul Ilmu Maumere Nusa Tenggara Timur BAB III PRAKTEK JUAL BELI PIRING BONUS DI TOKO NURUL ILMU MAUMERE NUSA TENGGARA TIMUR A. Gambaran tentang Toko Nurul Ilmu Maumere Nusa Tenggara Timur 1. Sejarah berdiri Toko Nurul Ilmu Maumere Nusa Tenggara

Lebih terperinci

Di Unduh dari : Bukupaket.com

Di Unduh dari : Bukupaket.com bab 5 kejujuran gambar 5.1 tesa sedang berkumpul dengan teman temannya lihatlah gambar di atas tesa sedang berkumpul dengan teman temannya tentu kalian juga sering melakukannya setiap hari kita bergaul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persaingan bisnis ritel dewasa ini semakin meningkat. Peningkatan persaingan bisnis ritel dipicu oleh semakin menjamurnya bisnis ritel modern yang sekarang banyak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dapat menciptakan peluang usaha yang besar. Soto Pak Sipit mulai ramai pengunjung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dapat menciptakan peluang usaha yang besar. Soto Pak Sipit mulai ramai pengunjung. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Usaha Soto Pak Sipit pertama kali didirikan tahun 2001 oleh Pak Sipit sendiri. Tempat usahanya terletak di jalan Kartini Raya. Hingga saat ini usahanya masih

Lebih terperinci

PELUANG USAHA WARUNG MAKAN PRASMANAN

PELUANG USAHA WARUNG MAKAN PRASMANAN PELUANG USAHA WARUNG MAKAN PRASMANAN Nama NIM Kelas Yusuf Akhsan Hidayat 11.11.5284 11 S1TI 10 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011/2012 ABSTRAK Isi dalam karya ilmiah yang saya susun ini adalah tentang usaha

Lebih terperinci

Kunjungan Ke Batam. Tentang Batam Batam dihubungkan dengan pulau-pulau Repang dan Galang, luas

Kunjungan Ke Batam. Tentang Batam Batam dihubungkan dengan pulau-pulau Repang dan Galang, luas Kunjungan Ke Batam Tentang Batam Batam dihubungkan dengan pulau-pulau Repang dan Galang, luas tanahnya 415 kilometer persegi dan sekarang penduduk di sana kira-kira sejuta orang. Orang-orang di sana memakai

Lebih terperinci

BAB VI ANALISIS USAHA AYAM RAS PEDAGING DI PASAR BARU BOGOR

BAB VI ANALISIS USAHA AYAM RAS PEDAGING DI PASAR BARU BOGOR BAB VI ANALISIS USAHA AYAM RAS PEDAGING DI PASAR BARU BOGOR 6.1 Gambaran Lokasi Usaha Pedagang Ayam Ras Pedaging Pedagang di Pasar Baru Bogor terdiri dari pedagang tetap dan pedagang baru yang pindah dari

Lebih terperinci

USAHA RUMAH MAKAN. bisnis rumah makan, Sebelum anda menginvestasikan. waktu anda untuk belajar tentang

USAHA RUMAH MAKAN. bisnis rumah makan, Sebelum anda menginvestasikan. waktu anda untuk belajar tentang Tugas lingkungan bisnis Nama : Vicky Niyanda Libriyanto NIM : 10.12.4419 Kelas : S1-SI-2A USAHA RUMAH MAKAN Rumah makan dapat diartikan sebagai suatu tempat yang menyediakan atau menjual makanan untuk

Lebih terperinci

LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA. Bird In Hands ( cross check dengan istri dan pegawai ) Nama saya Eddi Leksono.

LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA. Bird In Hands ( cross check dengan istri dan pegawai ) Nama saya Eddi Leksono. LAMPIRAN PEDOMAN WAWANCARA Bird In Hands ( cross check dengan istri dan pegawai ) 1. Siapa nama bapak? Nama saya Eddi Leksono. 2. Sudah berapa lama bapak membuka usaha ini? Kurang lebih sudah 12 tahun

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA INFORMAN KUNCI (PEMILIK USAHA) 1. Lingkungan Internal Aspek Keuangan 1. Berapakah modal awal yang dimiliki untuk menjalankan usaha swalayan ini? 2. Apakah Bapak pernah

Lebih terperinci

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN Daerah pemukiman perkotaan yang dikategorikan kumuh di Indonesia terus meningkat dengan pesat setiap tahunnya. Jumlah daerah kumuh ini bertambah dengan kecepatan sekitar

Lebih terperinci

- Validitas Konstruksi LAMPIRAN 1

- Validitas Konstruksi LAMPIRAN 1 - Validitas Konstruksi LAMPIRAN 1 Lampiran L1-1 Validitas Konstruksi Lampiran L1-2 Validitas Konstruksi Lampiran L1-3 Validitas Konstruksi - Kuesioner Pendahuluan LAMPIRAN 2 - Data Mentah Kuesioner Pendahuluan

Lebih terperinci

BAB V PERAN USAHA KAYU RAKYAT DALAM STRATEGI NAFKAH RUMAH TANGGA PETANI

BAB V PERAN USAHA KAYU RAKYAT DALAM STRATEGI NAFKAH RUMAH TANGGA PETANI BAB V PERAN USAHA KAYU RAKYAT DALAM STRATEGI NAFKAH RUMAH TANGGA PETANI 5.1 Strategi Nafkah Petani Petani di Desa Curug melakukan pilihan terhadap strategi nafkah yang berbeda-beda untuk menghidupi keluarganya.

Lebih terperinci

BAB IV KOMUNITAS DIBO-DIBO: Menelusuri Aktivitas Sosio-Ekonomi

BAB IV KOMUNITAS DIBO-DIBO: Menelusuri Aktivitas Sosio-Ekonomi BAB IV KOMUNITAS DIBO-DIBO: Menelusuri Aktivitas Sosio-Ekonomi Pengantar Ada satu kesepakatan bersama masyarakat suku di jazirah Halmahera bahwa Dibo-dibo mengacu pada sekumpulan orang yang berprofesi

Lebih terperinci

BAB I GAMBARAN UMUM KELUARGA DAMPINGAN

BAB I GAMBARAN UMUM KELUARGA DAMPINGAN BAB I GAMBARAN UMUM KELUARGA DAMPINGAN 1.1.Profil Keluarga dampingan Keluarga dampingan merupakan salah satu program yang diusung oleh KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat)

Lebih terperinci

JENIS- JENIS PEKERJAAN

JENIS- JENIS PEKERJAAN JENIS- JENIS PEKERJAAN Apakah yang dimaksud pekerjaan? Jenis pekerjaan apa saja yang ada di sekitar tempat tinggalmu? Pekerjaan apa yang menghasilkan barang dan jasa? Bagaimana cara melakukan pekerjaan?

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli barang

BAB I PENDAHULUAN. Pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli barang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli barang atau jasa yang ditawarkan untuk dijual, dan terjadinya perpindahan kepemilikan (Tjiptono,

Lebih terperinci

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN

5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN 56 5 KETERLIBATAN TENGKULAK DALAM PENYEDIAAN MODAL NELAYAN 5.1 Bentuk Keterlibatan Tengkulak Bentuk-bentuk keterlibatan tengkulak merupakan cara atau metode yang dilakukan oleh tengkulak untuk melibatkan

Lebih terperinci

Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah

Kegiatan Jual Beli di Lingkungan Rumah Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia dituntut untuk bekerja. Mencari penghasilan merupakan salah satu tujuan orang tua kita bekerja. Manusia akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah. Dengan. bermakna (Sugiyono, 2010). Penelitian kualitatif akan berfokus

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah. Dengan. bermakna (Sugiyono, 2010). Penelitian kualitatif akan berfokus BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Tipe Penelitian Jenis peneltian yang digunakan peneliti adalah penelitian kualitatif. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek

Lebih terperinci

BAB V DINAMIKA PROSES AKSI. A. Menumbuhkan Kreativitas dalam Pengelolaan Sampah menjadi

BAB V DINAMIKA PROSES AKSI. A. Menumbuhkan Kreativitas dalam Pengelolaan Sampah menjadi BAB V DINAMIKA PROSES AKSI A. Menumbuhkan Kreativitas dalam Pengelolaan Sampah menjadi Kompos Dalam proses aksi yang akan pendamping lakukan bersama masyarakat. Pendamping berkonsultasi terlebih dahulu

Lebih terperinci

Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/ :46:33

Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/ :46:33 Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/2014 14:46:33 Malam itu, Ayah Gilang sangat repot. Ia baru menerima banyak kiriman barang untuk warungnya. Ada berkotak-kotak minuman dalam botol, sabun, kopi, susu cokelat,

Lebih terperinci

BAB V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN BAB V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Restoran Restoran Ikan Bakar dalam Bambu Karimata terletak di Depan Pintu Tol Sentul Selatan 2 Grand Sentul City, baru didirikan pada tahun 2009

Lebih terperinci

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU BAB IV PENGAMATAN PERILAKU 3.1 Studi Banding Pola Perilaku Pengguna Ruang Publik Berupa Ruang Terbuka Pengamatan terhadap pola perilaku di ruang publik berupa ruang terbuka yang dianggap berhasil dan mewakili

Lebih terperinci

EMPATI. written by Yudhi at

EMPATI. written by Yudhi at EMPATI written by Yudhi at 2008-12-11 Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak

Lebih terperinci

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL USAHA ROTI GORENG BIDANG KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL USAHA ROTI GORENG BIDANG KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PROPOSAL USAHA ROTI GORENG BIDANG KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEWIRAUSAHAAN Diusulkan Oleh: Nama Mahasiswa (Ketua) (NIM) Nama Mahasiswa (Wakil Ketua) (NIM) Nama

Lebih terperinci

SOAL PSIKOTEST KEMAMPUAN TEKNIKAL

SOAL PSIKOTEST KEMAMPUAN TEKNIKAL SOAL PSIKOTEST KEMAMPUAN TEKNIKAL Pilihlah satu jawaban yang paling tepat berdasarkan beberapa informasi yang diberikan. Kemudian, pilihlah opsion a, b, c, atau d sebagai pilihan jawaban anda. Kerjakan

Lebih terperinci

Matahari dan Kehidupan Kita

Matahari dan Kehidupan Kita Bab 5 Matahari dan Kehidupan Kita Tema Peristiwa dan Kesehatan Pernahkah kalian berjalan di siang hari yang terik? Misalnya, saat sepulang sekolah. Apa yang kalian rasakan? Kalian tentu merasa kepanasan.

Lebih terperinci

V. PASAR TRADISIONAL KOTA BOGOR

V. PASAR TRADISIONAL KOTA BOGOR V. PASAR TRADISIONAL KOTA BOGOR 5.1. Kebijakan Pengelolaan Pasar Tradisional Kota Bogor Terdapat tujuh buah pasar tradisional yang dibangun oleh Pemerintah Kota Bogor untuk menunjang perekomomian dan memenuhi

Lebih terperinci

LIBURAN BIMO DI YOGYAKARTA

LIBURAN BIMO DI YOGYAKARTA PERANCANGAN NASKAH FILM KARTUN LIBURAN BIMO DI YOGYAKARTA Disusun oleh: NAMA : SETYO BUDI SANTOSO NIM : 09.12.3701 JURUSAN SISTEM INFORMASI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

Lebih terperinci

Menjadi Manajer Keuangan Keluarga

Menjadi Manajer Keuangan Keluarga Ringkasan: Wanita biasa menjadi manajer keuangan dalam keluarga. Suami menyerahkan seluruh gajinya pada kita, dan kitalah yang jungkir balik mengurusnya. Sebagai manajer yang baik, kita harus tahu berapa

Lebih terperinci

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Responden Usaha Pengolahan Ikan Asin

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Responden Usaha Pengolahan Ikan Asin V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Usaha Pengolahan Ikan Asin Karakteristik responden usaha pengolahan ikan asin memberikan gambaran mengenai responden atau pemilih usaha ikan

Lebih terperinci

PAGI itu Tahir dengan terburu-buru menuju

PAGI itu Tahir dengan terburu-buru menuju 1 PAGI itu Tahir dengan terburu-buru menuju halaman rumahnya dan sibuk untuk mengendarai sepeda bututnya itu. Gawat aku telat lagi, itu yang ada di dalam pikirannya. Dia tergesa-gesa hingga hampir menabrak

Lebih terperinci

Bab 1. Awal Perjuangan

Bab 1. Awal Perjuangan Bab 1 Awal Perjuangan Ivan adalah nama dari seorang anak yang memiliki cita-cita sekolah karena keterbatasan biaya Ivan harus membantu kedua orang tuanya ayah yang bekerja sebagai pemulung sampah dan ibu

Lebih terperinci

V. PROFIL INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU. pemilik usaha industri tahu yang ada di Desa Karanganyar Kecamatan Weru

V. PROFIL INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU. pemilik usaha industri tahu yang ada di Desa Karanganyar Kecamatan Weru V. PROFIL INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU A. Identitas Pengrajin Identitas pengrajin merupakan gambaran umum tentang keadaan dan latar belakang pengrajin yang berkaitan dan berpengaruh terhadap kegiatan dalam

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI ADAT SAMBATAN BAHAN BANGUNAN DI DESA KEPUDIBENER KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN

BAB III DESKRIPSI ADAT SAMBATAN BAHAN BANGUNAN DI DESA KEPUDIBENER KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN BAB III DESKRIPSI ADAT SAMBATAN BAHAN BANGUNAN DI DESA KEPUDIBENER KECAMATAN TURI KABUPATEN LAMONGAN A. Deskripsi Umum tentang Desa Kepudibener 1. Letak Geografis Desa Kepudibener merupakan satu desa yang

Lebih terperinci

BAB VI KELEMBAGAAN USAHA KAYU RAKYAT

BAB VI KELEMBAGAAN USAHA KAYU RAKYAT BAB VI KELEMBAGAAN USAHA KAYU RAKYAT 6.1 Kelembagaan Pengurusan Hutan Rakyat Usaha kayu rakyat tidak menjadi mata pencaharian utama karena berbagai alasan antara lain usia panen yang lama, tidak dapat

Lebih terperinci

BAB I. Persiapan Matang untuk Desain yang Spektakuler

BAB I. Persiapan Matang untuk Desain yang Spektakuler BAB I Persiapan Matang untuk Desain yang Spektakuler Kampung Hamdan merupakan salah satu daerah di Kota Medan yang termasuk sebagai daerah kumuh. Hal ini dilihat dari ketidak beraturannya permukiman warga

Lebih terperinci

BAB VII KETERKAITAN ANTARA SEKTOR PERTANIAN DAN LUAR PERTANIAN DI PULAU PRAMUKA

BAB VII KETERKAITAN ANTARA SEKTOR PERTANIAN DAN LUAR PERTANIAN DI PULAU PRAMUKA 105 BAB VII KETERKAITAN ANTARA SEKTOR PERTANIAN DAN LUAR PERTANIAN DI PULAU PRAMUKA 7.1 Supply Bahan Baku Pangan Usaha Pariwisata di Pulau Pramuka Munculnya usaha yang diakibatkan oleh adanya kegiatan

Lebih terperinci

Oleh: Elfrida Situmorang

Oleh: Elfrida Situmorang 23 Oleh: Elfrida Situmorang ELSPPAT memulai pendampingan kelompok perempuan pedesaan dengan pendekatan mikro kredit untuk pengembangan usaha keluarga. Upaya ini dimulai sejak tahun 1999 dari dua kelompok

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TENTANG PASAR MODERN

BAB II TINJAUAN TENTANG PASAR MODERN BAB II TINJAUAN TENTANG PASAR MODERN 2.1 Pengertian Umum Tentang Pasar 1 Pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Keadaan Umum Wilayah Kota Bogor Kota Bogor terletak diantara 16 48 BT dan 6 26 LS serta mempunyai ketinggian minimal rata-rata 19 meter, maksimal 35 meter dengan

Lebih terperinci

Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Tiga Angka

Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Tiga Angka Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Tiga Angka Sebelum mempelajari materi tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan tiga angka, mari kita mempelajari nilai tempat bilangan tiga angka terlebih dahulu.

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN KAWASAN Tinjauan Kawasan Kebon Kacang Raya dan Kebon Kacang 30 3.1 Gambaran Kawasan Proyek Nama : Kawasan Kebon Kacang dan sekitarnya. Lokasi : Jl. Kebon Kacang Raya dan Jl.Kebon Kacang

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN VI. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Sejarah dan Perkembangan Restoran Karimata Restoran Karimata didirikan pada tanggal 22 Desember 2008 oleh Bapak Agung Eko Widodo di wilayah Sentul Selatan. Restoran

Lebih terperinci

Arif Rahman

Arif Rahman INT. DESA SANGIA - PAGI HARI Dengan penuh makna hidup, setiap pagi dan bangun lebih cepat. Mereka harus mempersiapkan diri untuk ke sawah demi tetap merawat tanaman mereka agar selalu sehat. Di saat yang

Lebih terperinci

Memelihara kebersihan lingkungan merupakan salah satu contoh aturan yang ada di masyarakat.

Memelihara kebersihan lingkungan merupakan salah satu contoh aturan yang ada di masyarakat. Memelihara kebersihan lingkungan merupakan salah satu contoh aturan yang ada di masyarakat. Bagaimana jika kelasmu kotor? Sampah berserakan di manamana? Tentu kalian tidak senang! Dalam menerima pelajaran

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN KOMUNITAS

EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN KOMUNITAS 53 EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN KOMUNITAS Pada hakekatnya tujuan pembangunan adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat baik perorangan, keluarga, kelompok maupun masyarakat dalam

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identitas Petani Pemasaran melinjo di Desa Kepek Kecamatan Saptosari menerapkan sistem kiloan yaitu melinjo dibeli oleh pedagang dari petani dengan satuan rupiah per kilogram.

Lebih terperinci

ANALISIS KEPUASAN DAN LOYALITAS KONSUMEN

ANALISIS KEPUASAN DAN LOYALITAS KONSUMEN VII ANALISIS KEPUASAN DAN LOYALITAS KONSUMEN 7.1 Indeks Kepuasan Konsumen Analisis kepuasan konsumen sangat penting untuk dilakukan, karena hasil dari perhitungan mengenai kepuasan konsumen dapat berguna

Lebih terperinci

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Gambar simulasi rancangan 5.30 : Area makan lantai satu bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.6.3 Jalur Pedestrian Jalur

Lebih terperinci

BAB III UPAH SISTEM TANDON DI TOKO RANDU SURABAYA

BAB III UPAH SISTEM TANDON DI TOKO RANDU SURABAYA BAB III UPAH SISTEM TANDON DI TOKO RANDU SURABAYA A. Profil Toko RANDU Surabaya Di Kecamatan Kenjeran terdapat sebuah toko yang bernama toko randu. Sebenarnya toko tersebut tidak mempunyai nama toko, akan

Lebih terperinci

VI SALURAN DAN FUNGSI TATANIAGA

VI SALURAN DAN FUNGSI TATANIAGA VI SALURAN DAN FUNGSI TATANIAGA 6.1. Lembaga Tataniaga Nenas yang berasal dari Desa Paya Besar dipasarkan ke pasar lokal (Kota Palembang) dan ke pasar luar kota (Pasar Induk Kramat Jati). Tataniaga nenas

Lebih terperinci

Pekerjaan. Bab 4. Peta Konsep. Kata Kunci. Jenis pekerjaan Barang Jasa Semangat kerja. Pekerjaan yang Menghasilkan Barang. Pekerjaan.

Pekerjaan. Bab 4. Peta Konsep. Kata Kunci. Jenis pekerjaan Barang Jasa Semangat kerja. Pekerjaan yang Menghasilkan Barang. Pekerjaan. Bab 4 Pekerjaan Peta Konsep Pekerjaan Pekerjaan yang Menghasilkan Barang Jenis-Jenis Pekerjaan Mencakup tentang Mencakup tentang Pekerjaan yang Menghasilkan Jasa Semangat Kerja Terdiri atas Alasan Orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan Perdagangan Nomor 23/MPP/KEP/1/1998 tentang Lembaga-lembaga

BAB I PENDAHULUAN. dan Perdagangan Nomor 23/MPP/KEP/1/1998 tentang Lembaga-lembaga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan masyarakat dalam sebuah pemukiman tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan akan berbagai fasilitas pendukung yang dibutuhkan warga setempat. Fasilitas umum yang

Lebih terperinci

Hidup ini singkat bagiku! Kebahagian saat ini hanyalah sementara, tak mudah bagiku untuk menjalani hidup normal layaknya sebagai manusia biasa.

Hidup ini singkat bagiku! Kebahagian saat ini hanyalah sementara, tak mudah bagiku untuk menjalani hidup normal layaknya sebagai manusia biasa. Hidup ini singkat bagiku! Kebahagian saat ini hanyalah sementara, tak mudah bagiku untuk menjalani hidup normal layaknya sebagai manusia biasa. Jadi aku hidup tidak normal? Ya itu menurutku! Kehidupan

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM WILAYAH. ke selatan dengan batas paling utara adalah Gunung Merapi.

KEADAAN UMUM WILAYAH. ke selatan dengan batas paling utara adalah Gunung Merapi. IV. KEADAAN UMUM WILAYAH Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, secara makro Kabupaten Sleman terdiri dari daerah dataran rendah yang subur pada bagian selatan,

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR LINGKUNGAN BISNIS

TUGAS AKHIR LINGKUNGAN BISNIS TUGAS AKHIR LINGKUNGAN BISNIS Bisnis Makanan Tradisional Semakin Diburu Pasar Zakki Mubaraq 10.11.3992 SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2010/2011 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA ABSTRAK Seiring dengan perkembangan

Lebih terperinci

bab 2 satuan pengukuran waktu tema makanan dan kesehatan

bab 2 satuan pengukuran waktu tema makanan dan kesehatan bab tema makanan dan kesehatan satuan pengukuran waktu setiap pagi bayu selalu sarapan pagi ini ia menikmati sarapan dengan lahap ia makan nasi sayur dan lauk tidak lupa ia minum segelas susu jam menunjukkan

Lebih terperinci

Keberanian. Dekat tempat peristirahatan Belanda pada zaman penjajahan, dimulailah perjuangan nya.

Keberanian. Dekat tempat peristirahatan Belanda pada zaman penjajahan, dimulailah perjuangan nya. Keberanian Pagi itu di pedesan Kaliurang udara tampak sejuk dan embun pagi mulai pupus. Pada hari pahlawan 10 November tahun dimana kita mengingat perjuangan para pahlawan Indonesia. Ibu Malino sedang

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Tiga Bawang merupakan sebuah industri kecil menengah yang bergerak dibidang pembuatan keripik dengan bahan baku ubi kayu. UD. Tiga Bawang adalah

Lebih terperinci

TRANSKIP WAWANCARA. : AVI (Nama tidak dipublikasikan) Kode Wawancara : WA/2/26-Maret/2016 Hari/Tgl : Sabtu, 26 Maret 2016 Lokasi Wawancara : Rumah

TRANSKIP WAWANCARA. : AVI (Nama tidak dipublikasikan) Kode Wawancara : WA/2/26-Maret/2016 Hari/Tgl : Sabtu, 26 Maret 2016 Lokasi Wawancara : Rumah TRANSKIP WAWANCARA Nama Informan : AVI (Nama tidak dipublikasikan) Kode Wawancara : WA/2/26-Maret/2016 Hari/Tgl : Sabtu, 26 Maret 2016 Lokasi Wawancara : Rumah Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 43 tahun

Lebih terperinci

BAB III PRAKTIK JUAL BELI TELUR PUYUH DI DESA GEDANGAN SIDAYU GRESIK. A. Gambaran Singkat Desa Gedangan Sidayu Gresik

BAB III PRAKTIK JUAL BELI TELUR PUYUH DI DESA GEDANGAN SIDAYU GRESIK. A. Gambaran Singkat Desa Gedangan Sidayu Gresik BAB III PRAKTIK JUAL BELI TELUR PUYUH DI DESA GEDANGAN SIDAYU GRESIK A. Gambaran Singkat Desa Gedangan Sidayu Gresik 1. Sejarah desa Gedangan Dahulu kala, ada seorang putri yang sangat cantik, namanya

Lebih terperinci

BAB IV. Hasil dan Pembahasan

BAB IV. Hasil dan Pembahasan BAB IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Gambaran Umum Usaha Usaha Soto Selan ini awalnya didirikan oleh Ibu Kiem Roam pada tahun 1955. Pada tahun 1955 warung Soto Selan ini berada di sebuah tempat sederhana yang

Lebih terperinci

BISNIS WARUNG KOPI STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nur cholis / S1TI2M

BISNIS WARUNG KOPI STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nur cholis / S1TI2M BISNIS WARUNG KOPI Oleh : Nur cholis 10.11.4545 / S1TI2M STMIK AMIKOM YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepuasan seseorang tergantung pada mutu minuman dan pelayanan pada konsumen sebagai

Lebih terperinci

RANGKUMAN MATERI. Aritmatika Sosial

RANGKUMAN MATERI. Aritmatika Sosial RANGKUMAN MATERI Aritmatika Sosial HARGA PEMBELIAN adalah harga barang dari pabrik, grosir, atau tempat lainnya. Misalnya : Harga Beli Buku Tulis : Rp. 5.000, Harga Beli Pensil : Rp. 2.000. HARGA PENJUALAN

Lebih terperinci

Chapter 1 A Pieces Love And Red Maroon Betta Fish

Chapter 1 A Pieces Love And Red Maroon Betta Fish Chapter 1 A Pieces Love And Red Maroon Betta Fish Ikan cupang yang dalam bahasa latinnya Betta Sp. memang memiliki sifat yang aneh, ikan yang sering di jual di pasar hewan, yang selalu di kemas dalam plastik

Lebih terperinci

Seeds of Change BANK SAMPAH CERITA UNIK DARI RIMBA RAYA

Seeds of Change BANK SAMPAH CERITA UNIK DARI RIMBA RAYA Seeds of Change Newsletter 3rd Quarter 2015 BANK SAMPAH CERITA UNIK DARI RIMBA RAYA Di satu tempat penyortiran sampah di desa Telaga Pulang di tepi sungai Seruyan, sebuah kendaraan pengangkut beroda tiga

Lebih terperinci

TINGKAT PEMAHAMAN SISWA TENTANG MAKANAN LAUK PAUK DAN SAYUR TRADISIONAL DI SMA NEGERI 11 YOGYAKARTA

TINGKAT PEMAHAMAN SISWA TENTANG MAKANAN LAUK PAUK DAN SAYUR TRADISIONAL DI SMA NEGERI 11 YOGYAKARTA KATA PENGANTAR Siswa yang terhormat, Pada kesempatan ini perkenankanlah saya meminta bantuan anda untuk mengisi angket yang telah kami berikan, angket ini berisi tentang TINGKAT PEMAHAMAN SISWA TENTANG

Lebih terperinci

PENYELESAIAN SOAL UASBN MATEMATIKA SD/MI TAHUN PELAJARAN 2009/2010 KODE P1 UTAMA. Jawaban: = = 68.

PENYELESAIAN SOAL UASBN MATEMATIKA SD/MI TAHUN PELAJARAN 2009/2010 KODE P1 UTAMA. Jawaban: = = 68. PENYELESAIAN SOAL UASBN MATEMATIKA SD/MI TAHUN PELAJARAN 009/010 KODE P1 UTAMA 1. Hasil 39.788 + 56.895 7.798 adalah A. 68.875 B. 68.885 C. 68.975 D. 69.885 39.788 + 56.895 7.798 = 96.683 7.798 = 68.885

Lebih terperinci

3. Sekitar pukul 18.00, kakak korban meminta Isak untuk tidak tidur di rumahnya karena takut akan didatangi lagi oleh Anggota Yalet.

3. Sekitar pukul 18.00, kakak korban meminta Isak untuk tidak tidur di rumahnya karena takut akan didatangi lagi oleh Anggota Yalet. LAMPIRAN a. Pra Pristiwa 1. Bahwa berdasarkan penuturan adik korban, korban memiliki hubungan pertemanan bersama salah satu pelaku, Abiatar. Mereka seringkali minum sagero 1 bersama. Abiatar kerap meminta

Lebih terperinci

BAB VII SETIAP MASALAH ADA JALAN KELUAR

BAB VII SETIAP MASALAH ADA JALAN KELUAR BAB VII SETIAP MASALAH ADA JALAN KELUAR 7.1 Pendahuluan Sebuah organisasi di dalam prosesnya berkembang pasti mengalami pasang surut yang mungkin dapat menghambat kinerja organisasi tersebut. Kendala-kendala

Lebih terperinci

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang...

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang... SODIS BOTOL AJAIB Seru sekali lomba lari itu! Mereka berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. 4 5 Pada suatu pagi di hari Minggu, Ani dan Ayah berjalan-jalan. Sesampai di dekat lapangan,

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 FORMULIR FOOD RECALL 24 JAM

LAMPIRAN 1 FORMULIR FOOD RECALL 24 JAM LAMPIRAN 1 FORMULIR FOOD RECALL 24 JAM No. Responden : Nama : Umur : Jenis Kelamin : Tinggi Badan : Berat Badan : Waktu makan Pagi Nama makanan Hari ke : Bahan Zat Gizi Jenis Banyaknya Energi Protein URT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan jangka pendek setiap usaha bisnis adalah umtuk memperoleh

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan jangka pendek setiap usaha bisnis adalah umtuk memperoleh BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Masalah Tujuan jangka pendek setiap usaha bisnis adalah umtuk memperoleh laba. Perusahaan akan terus melakukan kegiatan bisnisnya jika ada laba atau setidaknya pendapatan

Lebih terperinci

Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA ANALISIS STRATEGI BISNIS KELUARGA PADA KEDAI KOPI MASSA KOK TONG DI PEMATANGSIANTAR DALAM MENINGKATKAN LOYALITAS

Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA ANALISIS STRATEGI BISNIS KELUARGA PADA KEDAI KOPI MASSA KOK TONG DI PEMATANGSIANTAR DALAM MENINGKATKAN LOYALITAS Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA ANALISIS STRATEGI BISNIS KELUARGA PADA KEDAI KOPI MASSA KOK TONG DI PEMATANGSIANTAR DALAM MENINGKATKAN LOYALITAS PELANGGAN 1. Daftar pertanyaan untuk informan kunci (pemilik)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman yang semakin meningkat membuat kebutuhan dan. keinginan manusia terhadap makanan semakin bervariasi.

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman yang semakin meningkat membuat kebutuhan dan. keinginan manusia terhadap makanan semakin bervariasi. I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perkembangan zaman yang semakin meningkat membuat kebutuhan dan keinginan manusia terhadap makanan semakin bervariasi. Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pada saat ini banyak orang yang ingin membuat acara atau kegiatan secara simpel dan efisien. Contohnya dalam hal penyiapan makanan dan hidangan. Biasanya mereka lebih

Lebih terperinci

Download from

Download from Kebohongan Media Media tidak mengetahui apa yang mereka katakan, mungkin anda pernah mendengar bahwa untuk melangsingkan badan anda harus melakukan hal hal berikut ini: 1. Membeli alat-alat olahraga 2.

Lebih terperinci

BISNIS RUMAH MAKAN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Muhamad Amirudin Fauzi / S1TI2M

BISNIS RUMAH MAKAN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Muhamad Amirudin Fauzi / S1TI2M BISNIS RUMAH MAKAN Oleh : Muhamad Amirudin Fauzi 10.11.4479 / S1TI2M STMIK AMIKOM YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemenuhan kebutuhan dan keinginan serta nilai kualitas jasa sangat ditentukan

Lebih terperinci

BAB 6 PENUTUP 6-1. Universitas Kristen Maranatha. Tabel 6.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen. Sumber : Pengolahan Data, 2009

BAB 6 PENUTUP 6-1. Universitas Kristen Maranatha. Tabel 6.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen. Sumber : Pengolahan Data, 2009 BAB 6 PENUTUP 6.1 Kesimpulan Dari hasil pengolahan data dan analisis yang dilakukan didapatkan kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis. Kesimpulan yang didapat adalah: Faktor-faktor

Lebih terperinci

dengan penuh hormat. rumah. mata.

dengan penuh hormat. rumah. mata. Kegiatan Norma-norma di Masyarakat Perhatikan cerita berikut baik-baik. Alin dan Keluarganya Alin sekarang duduk di kelas III. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya. Keluarga Alin hidup dengan disiplin.

Lebih terperinci

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

VI HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Saluran dan Lembaga Tataniaga Dalam menjalankan kegiatan tataniaga, diperlukannya saluran tataniaga yang saling tergantung dimana terdiri dari sub-sub sistem atau fungsi-fungsi

Lebih terperinci

BAB III PRAKTIK KHIYA>R PADA JUAL BELI KAIN GELONDONGAN DI PERTOKOAN JALAN KAPASAN SURABAYA. A. Gambaran Umum Pertokoan Jalan Kapasan Surabaya

BAB III PRAKTIK KHIYA>R PADA JUAL BELI KAIN GELONDONGAN DI PERTOKOAN JALAN KAPASAN SURABAYA. A. Gambaran Umum Pertokoan Jalan Kapasan Surabaya BAB III PRAKTIK KHIYA>R PADA JUAL BELI KAIN GELONDONGAN DI PERTOKOAN JALAN KAPASAN SURABAYA A. Gambaran Umum Pertokoan Jalan Kapasan Surabaya 1. Sejarah Singkat Bedirinya Pertokoan Kain Gelondongan di

Lebih terperinci

Ucok: Si Penjala Ikan

Ucok: Si Penjala Ikan Judul naskah: Ucok: Si Penjala Ikan Kelompok naskah: Fiksi Menunjang mata pelajaran: Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan kelas: III Margono, M.Pd. Sayembara Penulisan Naskah Bacaan SD Kelas Rendah

Lebih terperinci

Menggunakan Pengukuran Waktu, Sudut, Jarak, dan Kecepatan dalam Pemecahan Masalah

Menggunakan Pengukuran Waktu, Sudut, Jarak, dan Kecepatan dalam Pemecahan Masalah Bab Menggunakan Pengukuran Waktu, Sudut, Jarak, dan Kecepatan dalam Pemecahan Masalah Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini, diharapkan siswa dapat: 1. menuliskan tanda waktu dengan notasi 1

Lebih terperinci

Strategi Mensiasati HUTANG

Strategi Mensiasati HUTANG Strategi Mensiasati HUTANG Nah, jika anda seorang pengusaha atau masih awal dalam membuka usaha, tentunya anda pernah atau bahkan terlibat masalah hutang. Apakah dipergunakan untuk menambah modal usaha,

Lebih terperinci