BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
|
|
|
- Yuliani Vera Muljana
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ASEAN Economic Community (AEC) merupakan sebuah komunitas dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tegabung dalam ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. AEC mengintegrasikan ekonomi ASEAN dengan cara membentuk sistem perdagangan bebas (free trade). Hal ini menciptakan peluang dan tantangan baru bagi sektor agrikultur Indonesia. Sebab, ada potensi masuknya korporasi-korporasi asing dengan modal yang lebih besar yang akan menciptakan dominasi di negara sendiri. Peluang kehadiran AEC bagi Indonesia untuk sektor agrikultur adalah peningkatan ekspor seperti, kelapa sawit, produk hasil hutan, karet, biji kakao, kopi, serta peluang untuk menarik investor asing. Sedangkan, tantangan kehadiran AEC 2015 bagi Indonesia tidak hanya bersifat internal di dalam negeri, tetapi juga dengan negara sesama ASEAN, dan negara lain diluar ASEAN seperti China dan India. Tantangan utama AEC adalah daya saing bangsa, yaitunya sumber daya manusia, kualitas produk dalam negeri (Kementrian Perdagangan Republik Indonesia, 2015). Indonesia adalah negara yang memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar, serta beriklim tropis. Sudah seharusnya Indonesia menjadi negara yang maju khususnya dalam bidang pertanian. Namun, kondisi pertanian Indonesia pada saat ini sangat terpuruk, dimana fenomena yang terjadi saat ini Indonesia menjadi negara pengimpor buah-buahan, ternak dan bahan pangan utama seperti beras, jagung, kedelai dan gula. Sungguh fenomena ini merupakan kondisi yang sangat ironis mengingat pada era tahun 1980-an Indonesia menjadi negara pengekspor utama beras di wilayah Asia. Badan Pusat Statistik (BPS) menyajikan data yang menunjukkan angka pertumbuhan pertanian Indonesia pada kuartal pertama tahun 2016 hanya 1,85%. Angka pertumbuhan ini mengalami penurunan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun 2015 yaitu mencapai 4,03%. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi pemerintah, masyarakat, dan perusahaan agrikultur sendiri, karena sektor
2 agrikultur merupakan salah satu tulang punggung dalam pembangunan perekonomian nasional. Ketersediaan informasi menjadi bagian yang sangat penting dalam pengambilan keputusan. Setiap keputusan diambil dari berbagai pertimbangan yang diperoleh dari informasi tersebut. Adapun kualitas dalam pengambilan keputusan dipengaruhi oleh kualitas pengungkapan yang disampaikan perusahaan melalui laporan tahunan (annual report) agar informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami dan tidak menimbulkan salah interpretasi, maka penyajian laporan keuangan harus disertai dengan pengungkapan. Laporan keuangan perusahaan akan memberikan informasi kepada pemakai laporan keuangan baik terhadap pihak internal (seperti pemilik perusahaan, direktur, manager keuangan, manager pemasaran, dan pihak internal lainnya) maupun pihak eksternal perusahaan (seperti investor, kreditor, pemerintah, badan pengawas pasar modal, ekonom, praktisi, dan analisis). Catatan atas laporan keuangan merupakan media untuk pengungkapan yang di haruskan dalam standar akuntansi karena, pada kondisi ketidakpastian pasar, nilai informasi yang relevan dan realiable tercermin di dalamnya. Salah satu unsur dari laporan keuangan adalah aset. Paton (1962) mendefinisikan aset sebagai kekayaan baik dalam bentuk fisik maupun bentuk lainnya yang memiliki nilai bagi suatu entitas bisnis. Financial Accounting Standard Board (1984) mendefinisikan aset sebagai manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa mendatang yang diperoleh atau dikendalikan oleh suatu entitas tertentu sebagai akibat dari transaksi atau peristiwa masa lalu. Perusahaan sektor agrikultur menurut standar meliputi peternakan, kehutanan, tanaman khusus, kebun buah-buahan, perkebunan, pertanian, dan perikanan. Perusahaan sektor agrikultur ini memiliki keunikan aset yang disebut dengan aset biologis. Aktivitas agrikultur (agricultural activity) adalah manajemen transformasi biologis dan panen aset biologis oleh entitas untuk dijual atau untuk dikonversi menjadi produk agrikultur atau menjadi aset biologis tambahan (PSAK 69). Aset biologis (biological asset) menurut IAS 41 adalah biological asset is a living animal or plant (aset hewan atau tanaman hidup). Jadi, dapat dikatakan bahwa aset biologis adalah aset berupa makhluk hidup yang mengalami proses
3 biologis mulai dari bertumbuh, berproduksi, berkembangbiak, hingga tidak bisa berproduksi lagi dan mati. Karena mengalami proses biologis, perusahaan harus membuat suatu pengukuran untuk mengukur nilai dari aset tersebut secara wajar sesuai dengan pengaruhnya untuk menghasilkan keuntungan pada perusahaan. Berikut adalah karakteristik aset biologis menurut PSAK 69 yang di sesuaikan dengan IAS 41 : Tabel 1. Karakteristik aset biologis hingga menjadi produk Aset Biologis Produk Agrikultur Produk yang merupakan hasil pemrosesan setelah dipanen Domba Wol Benang, karpet Pohon dalam hutan Pohon Tebangan Kayu gelondongan, potongan kayu Sapi perah Susu Keju Babi Daging potong Sosis, ham (daging asap) Tanaman kapas Kapas panen Benang, pakaian Tebu Tebu panen Gula Tanaman tembakau Daun tembakau Tembakau Tanaman the Daun the The Tanaman anggur Buah anggur Minuman anggur (wine) Tanaman buahbuahan Buah petikan Buah olahan Pohon kelapa sawit Tandan buah segar Minyak kelapa sawit Pohon karet Getah karet Produk olahan karet Sumber : PSAK 69 Dari Tabel di atas terlihat bahwa aset biologis mengalami transformasi biologis. Transformasi biologis (biological transformation) terdiri dari proses pertumbuhan, degenerasi, produksi, dan prokreasi yang mengakibatkan perubahan kualitatif atau kuantitatif aset biologis. Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah. Degenerasi artinya aset biologis dapat berkurang secara kuantitas maupun menurun kualitasnya. Selanjutnya, produksi yang merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan aset biologis tersebut, dan transformasi prokreasi yaitu menghasilkan aset biologis baru berupa tanaman ataupun ternak baru. Kriteria aktivitas agrikultur menurut IAS 41. Pertama, tanaman atau hewan (aset biologis) yang merupakan objek aktivitas agrikultur dalam tranformasi. Kedua, perubahan harus diatur termasuk jarak antara aktivitas agrikultur yang
4 digambarkan dalam beberapa periode, atau kerugian yang dilaporkan sebagai beban produksi, dan juga penggunaan biaya perolehan harus berdasarkan transaksi yang lengkap. Setiap tahapan pertumbuhan, degenerasi, produksi, dan prokreasi memiliki kontribusi terhadap keuntungan atau kerugian perusahaan. Pengakuan keuntungan atau kerugian ini juga menegaskan kebutuhan untuk menggunakan konsep pengukuran yang sama untuk setiap tahapan dalam siklus hidup aset biologis, contohnya perubahan berat bulu domba, pemeraman, kematian, kelahiran domba, pengguntingan bulu. IAS 41 menilai jenis pengukuran termasuk current cost dan nilai yang dapat direalisasi sebagai harga pasar. IASC dalam membuat standar dipengaruhi keadaan pasar dimana sistem agrikultur tersebut berkembang, karakteristik transformasi dari aset biologis, dan memutuskan bahwa nilai wajar menawarkan keseimbangan terbaik dari kerelevanan, reliability, compareability, dan kemudahan untuk dipahami. IASC setuju bahwa harus ada pengecualian untuk beberapa keadaan yaitu ketika nilai wajar tidak dapat diestimasi. Dasar penentuan nilai wajar adalah nilai pasar jika elemen keuangan memiliki pasar aktif, nilai pasar akan berkurang oleh biaya transaksi, termasuk biaya transpor. Ketiga, harus ada dasar pengukuran saat terjadi perubahan, seperti berat hewan, kematangan sayuran, dan lingkar pohon. Dari hal ini terlihat bahwa aset biologis yang dikelola oleh perusahaan akan mengalami proses transformasi biologis dengan aktivitas agrikultur yang sangat kompleks, sehingga perusahaan perlu menggunakan standar pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan yang tepat. Aturan IFRS menjelaskan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan harus diungkapan dalam laporan keuangan. Hal ini lah yang menjadi perhatian para regulator, investor, manajemen perusahaan, dan para praktisi terkait pengungkapan aset biologis yang dikelola perusahaan agrikultur (IAS 41). Pengungkapan laporan keuangan dalam arti luas berarti penyampaian (release) informasi. Meurut Owusu-Ansah (1998) pengungkapan adalah komunikasi informasi ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan baik itu informasi keuangan maupun non keuangan, informasi kuantitatif maupun informasi lain yang mencerminkan posisi dan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, badan regulasi memaksa perusahaan untuk menyampaikan informasi sesuai aktivitas
5 yang dilakukan dengan tujuan untuk memperkecil kesenjangan informasi antara manajemen dan investor (Healy dan Palepu, 2001). Pengungkapan memungkinkan laporan keuangan memiliki kualitas tinggi yang akan mempermudah investor, dan para pemakai laporan keuangan untuk memahami dan membandingkan informasi yang ada di dalamnya (Choi, 2005). Biological asset intensity (intensitas aset biologis) menggambarkan seberapa besar proporsi investasi perusahaan terhadap aset biologis yang dimiliki. Intensitas aset biologis juga dapat menggambarkan ekpektasi kas yang diterima jika aset tersebut dijual. Jika perusahaan memiliki nilai aset biologis yang tinggi maka perusahaan tersebut cenderung untuk ingin mengungkapkannya dalam catatan atas laporan keuangan perusahaan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Rute dan Patricia, 2014) memperoleh hasil bahwa intensitas aset biologis berpengaruh terhadap pengungkapan aset biologis. Ukuran perusahaan menunjukkan, semakin besar perusahaan maka semakin tinggi pula tuntutan terhadap keterbukaan informasi dibanding perusahaan yang lebih kecil. Dengan mengungkapkan informasi yang lebih banyak, perusahaan mencoba mengisyaratkan bahwa perusahaan telah menerapkan prinsip-prinsip manajemen perusahan yang baik (good corporate governance). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Rute dan Patricia, 2014) memperoleh hasil bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan aset biologis. Hasil penelitian (Nuryaman, 2009) juga menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan. Namun, berbeda dengan hasil penelitian (Ahmad, 2012) yang menjelaskan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan. Freedman dan Jaggi (2005), menemukan bahwa semakin besar perusahaan akan semakin banyak aktivitas perusahaannya. Insentif pelaporan perusahaan dipengaruhi oleh struktur kepemilikan. Darmawati (2006) menyatakan semakin terkonsentrasinya kepemilikan perusahaan, maka pemegang saham mayoritas akan semakin menguasai perusahaan dan semakin berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Standar dibuat untuk memastikan agar informasi yang di sampaikan kepada pemegang saham dapat mengurangi asimetri informasi antara manajer dan pengguna eksternal, dan untuk meningkatkan transparansi
6 pengungkapan (Ding, dkk, 2007). Perusahaan yang dikendalikan oleh beberapa investor, memiliki permintaan yang lebih tinggi untuk pengungkapan publik (Daske, dkk, 2008). Hasil penelitian (Nuryaman, 2009) menemukan bahwa konsentrasi kepemilikan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Rute dan Patricia, 2014) yang menjelaskan bahwa konsentrasi kepemilikan perusahaan berpengaruh terhadap pengungkapan aset biologis. Namun, berbeda dengan hasil penelitian (Ahmad, 2012) dimana konsentrasi kepemilikan tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan. Selanjutnya, penelitian (Jenny, 2012) juga memperoleh hasil dimana konsentrasi kepemilikan tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan. Perusahaanperusahaan dengan auditor dari KAP Big Four mengungkapkan lebih banyak informasi dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan auditor KAP non- Big Four. Beberapa penelitian mengungkapkan adanya hubungan antara kepatuhan pengungkapan dengan perusahaan yang di audit oleh KAP Big Four (Hodgdon, dkk, 2009; Nuryaman, 2009). Penelitian Rute dan Patricia (2014) menemukan hasil bahwa perusahaan yang di audit oleh KAP big four tidak berpengaruh terhadap pengungkapan aset biologis. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti terkait apa saja pengungkapan aset biologis yang harus diungkapkan perusahaan dengan item pengungkapan berdasarkan IAS 41 pada perusahaan agrikultur, dan variabel yang mempengaruhi perusahaan melakukan pengungkapan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian replikatif dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rute dan Patricia (2014). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu, pertama penelitian ini dilakukan pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sedangkan penelitian sebelumnya dilakukan pada 181 perusahaan terdaftar pada negara yang telah mengadopsi IFRS. Kedua, periode pengamatan penelitian ini dimulai dari , sedangkan penelitian sebelumnya dilakukan pada periode Ketiga, perbedaan pengukuran variabel yang digunakan. Alasan peneliti menggunakan item pengungkapan aset biologis berdasarkan IAS 41, karena terkait dengan disahkannya PSAK 69 agrikultur yang mengadopsi IAS 41 pada Desember 2015, dan peneliti ingin melihat apakah perusahaan agrikultur yang ada di Indonesia sudah mengungkapkan seluruh aset
7 biologis yang dikelola perusahaannya, dimana dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Adita dan Kiswara, 2012; Debby, 2014) menemukan bahwa tidak banyak terdapat perbedaan antara pengungkapan yang telah dilakukan perusahaan agrikultur di Indonesia dengan standar IAS 41. Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh Biological Asset Intensity, Ukuran Perusahaan, Konsentrasi Kepemilikan, Dan Jenis KAP Terhadap Pengungkapan Aset Biologis (Pada Perusahaan Agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode ). B. Rumusan Masalah 1) Apakah biological asset intensity berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode ? 2) Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode ? 3) Apakah konsentrasi kepemilikan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode ? 4) Apakah jenis KAP berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode ? C. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh biological asset intensity terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode ) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh ukuran perusahaan terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode
8 3) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh konsentrasi kepemilikan terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode ) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh jenis KAP terhadap tingkat pengungkapan aset biologis pada perusahaan agrikultur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Bagi Perusahaan a. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi pertimbangan bagi manajemen untuk lebih memperhatikan pengungkapan aset biologis perusahaan. b. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perusahaan untuk melihat feedback dari pengungkapan aset biologis yang dilakukan perusahaan terhadap keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan, ataupun terhadap perubahan harga saham. 2. Manfaat Teoritis a. Penelitian ini diharapkan dapat menyajikan bukti untuk mengetahui terkait apa saja pengungkapan aset biologis yang harus ada pada perusahaan dengan aturan IAS 41 b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya terkait pengungkapan aset biologis
BAB I PENDAHULUAN. informasi yang dapat diperoleh serta seberapa relevan dan andal informasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini, informasi menjadi bagian penting untuk seluruh segi kehidupan (Ridwan, 2011). Ketersediaan informasi menjadi bagian yang sangat penting dalam pengambilan
BAB I PENDAHULUAN. yang banyak dimanfaatkan untuk usaha. Indonesia menghasilkan berbagai macam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, Indonesia adalah negara yang mempunyai sumber daya alam yang banyak dimanfaatkan untuk usaha. Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan, antara lain
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aset 2.1.1 Definisi Aset Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku di Indonesia disebutkan bahwa: Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi yang sangat penting bagi perusahaan komersial. Dalam kerangka
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Laporan keuangan merupakan salah satu bentuk informasi dalam bidang ekonomi yang sangat penting bagi perusahaan komersial. Dalam kerangka konseptual Standar
BAB I PENDAHULUAN. penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas. Laporan keuangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan kerangka acuan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas. Laporan keuangan entitas harus disusun berdasarkan
AGRIKULTUR PSAK. Juli ED PSAK 69 (07 Sept 2015).indd 1 07/09/ :02:45
ED PSAK AGRIKULTUR Diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia Grha Akuntan, Jalan Sindanglaya No. Menteng, Jakarta 0 Telp: (0) 0 Fax: (0) 000 Email: [email protected],
AKUNTANSI AGRIKULTUR PSAK 69 DAN PSAK 68 BY: ERSA TRI WAHYUNI
1 AKUNTANSI AGRIKULTUR PSAK 69 DAN PSAK 68 BY: ERSA TRI WAHYUNI All material presented is the opinion of the author and not a formal position of the Indonesian Institute of Accountants PSAK yang terkait
BAB I PENDAHULUAN. sawit, kopi, kakao, karet, nilam, lada, dan juga kelapa. Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia dikenal sebagai negara dengan hasil perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, karet, nilam, lada, dan juga kelapa. Undang-Undang Nomor 39 Tahun
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN A. Aset A.1 Definisi Aset merupakan semua kekayaan yang dimiliki oleh seseorang atau perusahaan baik berwujud maupun tak berwujud yang berharga atau bernilai
Sulistyorini Rafika Putri Universitas Negeri Surabaya Abstract
1 ANALISIS PERBANDINGAN PELAPORAN DAN PENGUNGKAPAN ASET BIOLOGIS SEBELUM DAN SETELAH PENERAPAN IAS (INTERNATIONAL ACCOUNTING STANDARD) 41 PADA PT. ASTRA AGRO LESTARI, Tbk Sulistyorini Rafika Putri Universitas
BAB I PENDAHULUAN. berbagai macam tumbuhan komoditi ekspor, antara lain padi, jagung, kedelai,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Data statistik tahun 2001 menunjukkan bahwa sebanyak 45% penduduk di Indonesia bekerja di bidang agrikultur. Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai
BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan suatu buku
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan suatu buku petunjuk dari prosedur akuntansi yang berisi peraturan tentang perlakuan,
ANALISIS PENGAKUAN, PENGUKURAN, PENGUNGKAPAN, DAN PENYAJIAN ASET BIOLOGIS BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN
ANALISIS PENGAKUAN, PENGUKURAN, PENGUNGKAPAN, DAN PENYAJIAN ASET BIOLOGIS BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO) NASKAH PUBLIKASI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Kepada: PROGRAM FAKULTAS
ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI ASET A BIOLOGIS (Studi Kasus di PT Perkebunan Nusantara VII) I) NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S2 S Program Magister Akuntansi
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumber daya alam, terutama dari sektor pertanian. Sektor pertanian ini mempunyai peran yang
BAB 1 PENDAHULUAN. keuangan dalam usaha mengharmonisasikan standar-standar akuntansi dan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pengaruh globalisasi saat ini telah menghilangkan batasan-batasan geografis dalam kegiatan perekonomian dan menuntut adanya suatu sistem akuntansi dalam
BAB I PENDAHULUAN. Singapura pada tahun Konsekuensi atas kesepakatan MEA tersebut berupa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang telah dilakukan secara bertahap mulai KTT ASEAN di Singapura pada tahun 1992.
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Bab ini akan menguraikan tentang pengakuan, pengukuran dan penyajian
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Pendekatan Pembahasan Bab ini akan menguraikan tentang pengakuan, pengukuran dan penyajian yang dilaporkan oleh salah satu perusahaan perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Laporan keuangan berisikan catatan informasi perusahaan yang berupa data keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu. Laporan keuangan ini juga merupakan
BAB I PENDAHULUAN. Beberapa tahun terakhir ini, isu globalisasi telah menjadi sebuah fenomena
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Beberapa tahun terakhir ini, isu globalisasi telah menjadi sebuah fenomena yang tidak dapat dihindarkan dalam dunia bisnis. Sebagai respon atas meningkatnya
CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG
CUPLIKAN LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011, TANGGAL 20 MEI 2011 TENTANG MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA 2011-2025 A. Latar Belakang Sepanjang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Laporan keuangan merupakan sasaran utama bagi seorang auditor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan keuangan merupakan sasaran utama bagi seorang auditor eksternal yang berprofesi sebagai akuntan publik. Terkait dengan itu, bahwa laporan keuangan sudah menjadi
PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS (TANAMAN KOPI) PADA PT. WAHANA GRAHA MAKMUR - SURABAYA
Hal 85-95 PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS (TANAMAN KOPI) PADA PT. WAHANA GRAHA MAKMUR - SURABAYA Riyanto Utomo, Nur Laila Khumaidah ABSTRAK Aset biologis merupakan tanaman dan hewan yang mengalami transformasi
BAB I PENDAHULUAN. menuju International Financial Reporting Standards (IFRS) telah menjadi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tahapan konvergensi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) menuju International Financial Reporting Standards (IFRS) telah menjadi pusat perhatian para
1 Universitas Bhayangkara Jaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan yang cepat dalam pasar modal global memberi arti bahwa dimensi internasional dari akuntansi menjadi semakin penting dari masa sebelumnya bagi kalangan
BAB I PENDAHULUAN. Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance, GCG) telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance, GCG) telah menjadi isu hangat yang semakin berkembang di Indonesia. Konsep ini menjadi sering dibicarakan
Pengungkapan dalam Laporan Keuangan
Pengungkapan dalam Laporan Keuangan Tugas Mata Kuliah Seminar Akuntansi Oleh : 1. AJI WIJIASIH (NPM. 4311500114) 2. APIK SETIA D (NPM.4311500115) 3. FEBI RACHMADI (NPM.4311500117) 4. HAFIZ AMARULLOH (NPM.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sosialisasi dan pengembangan era good corporate governance di Indonesia dewasa ini lebih ditujukkan kepada perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) khususnya
ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB 1 PENDAHULUAN. dipatuhi. Setiap negara memiliki standar akuntansi yang berbeda-beda dalam
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di dalam menyusun laporan keuangan dikenal adanya standar yang harus dipatuhi. Setiap negara memiliki standar akuntansi yang berbeda-beda dalam perlakuan, metode,
BAB I PENDAHULUAN. Para pelaku pasar modal memerlukan informasi untuk membuat keputusan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Para pelaku pasar modal memerlukan informasi untuk membuat keputusan investasi. Informasi yang diperlukan tersebut diantaranya disajikan dalam laporan keuangan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
11 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengungkapan dan penyajian informasi merupakan suatu upaya fundamental untuk menyediakan informasi mengenai laporan keuangan bagi pengguna laporan keuangan. Dalam
Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi. Perekonomian Indonesia
Peranan Pertanian di Dalam Pembangunan Ekonomi Perekonomian Indonesia Peran Pertanian pada pembangunan: Kontribusi Sektor Pertanian: Sektor Pertanian dalam Pembangunan Ekonomi Pemasok bahan pangan Fungsi
BAB I PENDAHULUAN. return atas investasinya dengan benar. Corporate governance dapat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konsep corporate governance diajukan demi tercapainya pengelolaan perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan. Bila konsep ini diterapkan
BAB I PENDAHULUAN. internasional yang dapat distandardisasi secara internasional di setiap negara.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi saat ini menuntut adanya suatu sistem akuntansi internasional yang dapat distandardisasi secara internasional di setiap negara. Harmonisasi terhadap
BAB I PENDAHULUAN. manajemen dan menjamin akuntanbilitas manajemen terhadap stakeholder
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Corporate governance merupakan konsep yang diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervisi atau monitoring kinerja manajemen dan menjamin akuntanbilitas
BAB I PENDAHULUAN. Deforestasi atau penebangan hutan secara liar di Indonesia telah menimbulkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Deforestasi atau penebangan hutan secara liar di Indonesia telah menimbulkan dampak ekologi yang sangat besar bagi Indonesia dan dunia. Indonesia memiliki 10% hutan
BAB II LANDASAN TEORI. International Accounting Standards (IAS) / International Financial
BAB II LANDASAN TEORI II.1. International Accounting Standards (IAS) / International Financial Reporting Standards (IFRS) International Accounting Standards adalah standar akuntansi yang dapat diaplikasikan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pasar modal sebagai lembaga investasi yang mempunyai fungsi ekonomi dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal sebagai lembaga investasi yang mempunyai fungsi ekonomi dan keuangan semakin diperlukan masyarakat sebagai media alternatif investasi dan penghimpunan
PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Globalisasi ekonomi telah menambahkan banyak tantangan baru bagi agribisnis di seluruh dunia. Agribisnis tidak hanya bersaing di pasar domestik, tetapi juga untuk bersaing
BAB I PENDAHULUAN. ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 telah berlangsung. AFTA merupakan kerja
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 telah berlangsung. AFTA merupakan kerja sama antara negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan daya
BAB I PENDAHULUAN. Untuk melihat kinerja suatu perusahaan, para stakeholder akan menjadikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dengan perkembangan zaman yang kaya akan teknologi informasi memacu perusahaan-perusahaan untuk dapat menyajikan informasi secara lebih baik lagi. Untuk
BAB I PENDAHULUAN. mengenai kemampuan atau kinerja perusahaan dalam menghasilkan return di. strategi bisnis agar terhindar dari kebangkrutan.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada umumnya tujuan para investor menginvestasikan modalnya adalah untuk memperoleh return atas modal yang mereka investasikan. Oleh karena itu, para investor
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN DAN SARAN PENELITIAN. penelitian. Bagian ini diakhiri dengan menyajikan keterbatasan penelitian dan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN DAN SARAN PENELITIAN Bagian terakhir penelitian ini menyajikan simpulan penelitian, implikasi penelitian yang meliputi implikasi teoritis dan implikasi praktik dari
BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan publik atau perusahaan terbuka adalah perusahaan yang sebagian atau
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perusahaan publik atau perusahaan terbuka adalah perusahaan yang sebagian atau seluruh sahamnya dimiliki oleh masyarakat. Proses penjualan saham ke masyarakat dilakukan
BAB 1 PENDAHULUAN. X.K.6 lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-431/BL/2012
16 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bapepam dan LK telah menerbitkan satu peraturan yaitu Peraturan Nomor X.K.6 lampiran Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor: Kep-431/BL/2012 tentang Penyampaian
BAB I PENDAHULUAN. sebagai suatu instrumen hutang yang ditawarkan penerbit (issuer) atau yang
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Investasi digolongkan menjadi dua jenis yaitu investasi kepemilikan (saham) dan surat hutang (obligasi). Investor dalam membuat keputusan investasi membutuhkan
BAB I PENDAHULUAN. informasi yang digunakan oleh beberapa pihak untuk mengambil keputusan,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan yang go public mempunyai kewajiban untuk melaporkan laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan salah satu alat tanggung jawab dari aktivitas
BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas beberapa alasan yang menjadi latar belakang
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas beberapa alasan yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian. Selain itu, bab ini juga menguraikan tentang rumusan masalah yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh dari komponen corporate
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh dari komponen corporate governance terhadap manajemen laba di industri perbankan Indonesia. Konsep good corporate
BAB I PENDAHULUAN. (principal) dan manajemen (agent). Kondisi ini menimbulkan potensi terjadinya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Teori keagenan yang dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (1976) mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan kepentingan antara pemilik perusahaan (principal)
ARTIKEL PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XII KEBUN BANTARAN BLITAR
ARTIKEL PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XII KEBUN BANTARAN BLITAR Oleh: DODIK SETIYAWAN 13.1.02.01.0063 Dibimbing oleh : 1. Drs. Ec. Sugeng, Ak., M.M., M.Ak., CA., ACPA. 2. Amin
BAB I PENDAHULUAN. dari pihak ekstern dan pihak intern. Pihak ekstern terdiri dari masyarakat, UKDW
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penggunaan informasi keuangan dapat dilakukan melalui laporan keuangan yang sangat bermanfaat bagi pemangku kepentingan yang terdiri dari pihak ekstern dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori. Penelitian ini dilandasi oleh teori-teori yang berkaitan dengan pengungkapan sukarela, teori tersebut meliputi: teori keagenan (agency theory), teori sinyal
BAB 1 PENDAHULUAN. berkepentingan (Margaretta dan Soeprianto 2012). Keberhasilan. tingkat kepercayaan investor dalam berinvestasi.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Laporan keuangan merupakan sebuah media yang dijadikan sebagai alat untuk berkomunikasi antara pihak manajemen dengan para pihak berkepentingan (Margaretta
Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Kementerian Perindustrian 2015
Industrialisasi Sektor Agro dan Peran Koperasi dalam Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Kementerian Perindustrian 2015 I. LATAR BELAKANG 2 INDUSTRI AGRO Industri Agro dikelompokkan dalam 4 kelompok, yaitu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Laporan tahunan mengkomunikasikan informasi keuangan dan informasi lainnya kepada pemegang saham, kreditor dan stakeholders. Laporan tersebut juga merupakan
BAB II LANDASAN TEORI DAN PENURUNAN HIPOTESIS
14 BAB II LANDASAN TEORI DAN PENURUNAN HIPOTESIS A. Landasan Teori 1. Relevansi Nilai Setiap perusahaan sudah pasti memiliki laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut sebagai tanggung jawab dan keterbukaan
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN DAN SARAN. Hasil penelitian ini memberikan simpulan sebagai berikut:
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, KETERBATASAN DAN SARAN Bab ini menjelaskan tentang simpulan hasil penelitian ini yang telah dilakukan, implikasi penelitian dan keterbatasan penelitian. Saran untuk penelitian
BAB I PENDAHULUAN. Adanya krisis keuangan di Indonesia pada akhir tahun 2008 salah satunya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Adanya krisis keuangan di Indonesia pada akhir tahun 2008 salah satunya ditandai dengan meningkatnya inflasi, dimana terjadi kenaikan harga barang dan jasa secara terus
BAB I PENDAHULUAN. mungkin dapat tertutupi hanya dengan mengandalkan sumber daya internal. Salah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era gobalisasi ini, keadaan perekonomian di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Hal ini mendorong perekonomian nasional dan internasional semakin
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2009 MODEL PROYEKSI JANGKA PENDEK PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOMODITAS PERTANIAN UTAMA
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2009 MODEL PROYEKSI JANGKA PENDEK PERMINTAAN DAN PENAWARAN KOMODITAS PERTANIAN UTAMA Oleh : Reni Kustiari Pantjar Simatupang Dewa Ketut Sadra S. Wahida Adreng Purwoto Helena
BAB I PENDAHULUAN. global, dimana perkembangan pada sektor perekonomian telah membawa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Era globalisasi melahirkan fenomena baru dalam struktur perekonomian global, dimana perkembangan pada sektor perekonomian telah membawa perubahan yang cukup
BAB I PENDAHULUAN. (predictive value), (b) informasi mempunyai umpan balik (feedback value), dan (c)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Informasi akuntansi berguna apabila informasi tersebut relevan dan reliabel. Menurut SAK (Ikatan Akuntansi Indonesia, 2009), informasi yang relevan adalah informasi
BAB I PENDAHULUAN. Adopsi IFRS diberbagai negara memiliki beberapa manfaat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Adopsi IFRS diberbagai negara memiliki beberapa manfaat. Pertama, dapat menyajikan laporan keuangan dengan dasar yang sama sebagai pesaing asing dan membuat perbandingan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komoditas perkebunan terdiri dari tanaman tahunan atau tanaman keras (perennial crops) dan tanaman setahun/semusim (seasonal crops). Tanaman keras utama adalah kelapa
BAB I PENDAHULUAN. Banyak kekayaan Indonesia akan sumber daya alam yang dapat dijadikan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Banyak kekayaan Indonesia akan sumber daya alam yang dapat dijadikan usaha. Salah satunya pengembangan agribisnis kelapa sawit yang usahanya berkaitan dengan
BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi mendorong berkembangnya Negara-negara dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era globalisasi mendorong berkembangnya Negara-negara dalam melakukan persaingan internasional, terutama perusahaan-perusahaan yang melakukan transaksi bisnis
BAB I PENDAHULUAN. eksternal seperti : investor, kreditor, pelanggan, karyawan, dan. laporan keuangan merupakan catatan ringkas yang berisi informasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Setiap tahun perusahaan menerbitkan laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap pihakpihak eksternal seperti : investor,
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Dalam penelitian ini, manajemen laba diukur dengan pendekatan akrual dan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan Dalam penelitian ini, manajemen laba diukur dengan pendekatan akrual dan diproksikan dengan absolute discretionary accruals menggunakan Modified Jones Model.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masalah keuangan merupakan salah satu masalah yang sangat vital bagi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah keuangan merupakan salah satu masalah yang sangat vital bagi perusahaan dalam perkembangan bisnis disemua perusahaan. Salah satu tujuan utama didirikannya perusahaan
ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS BERDASARKAN INTERNATIONAL ACCOUNTING STANDARD 41 PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VII (PERSERO)
1 ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BIOLOGIS BERDASARKAN INTERNATIONAL ACCOUNTING STANDARD 41 PADA PT. PERKEBUNAN NUSANTARA VII (PERSERO) Ike Farida Universitas Negeri Surabaya Email: [email protected]
ANALISIS KONVERGENSI PSAK KE IFRS
ANALISIS KONVERGENSI PSAK KE IFRS KELOMPOK GOODWILL: Dwi Rahayu 090462201 098 Dedi Alhamdanis 100462201 362 Larasati Sunarto 100462201 107 FAKULTAS EKONOMI UMRAH 2012 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN. yang berkepentingan (Yendrawati dan Rokhman 2008, dalam Dewi, 2013). laporan dalam membuat keputusan-keputusan pertanggungjawaban
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan oleh pihak yang berkepentingan
BAB I PENDAHULUAN. mengenai pasar modal juga, investor dapat dengan mudah masuk ke lantai pasar. kegiatan perusahaan semakin lebih kompleks.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan industri serta arus globalisasi yang semakin pesat menuntut perusahaan untuk mampu bergerak sejalan dengan perkembangan tersebut. Selain itu dengan
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2009 PROSPEK KERJASAMA PERDAGANGAN PERTANIAN INDONESIA DENGAN AUSTRALIA DAN SELANDIA BARU
LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2009 PROSPEK KERJASAMA PERDAGANGAN PERTANIAN INDONESIA DENGAN AUSTRALIA DAN SELANDIA BARU Oleh : Budiman Hutabarat Delima Hasri Azahari Mohamad Husein Sawit Saktyanu Kristyantoadi
