JURNAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA
|
|
|
- Herman Tanudjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 JURNAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA VOLUME 04 No. 01 Maret 2015 Halaman Hanifah Rogayah, dkk.: Evaluasi Program Terpadu Pengendalian Malaria Artikel Penelitian EVALUASI PROGRAM TERPADU PENGENDALIAN MALARIA, PELAYANAN IBU HAMIL DAN IMUNISASI DI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN DAN KOTA BANJARBARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN EVALUATION OF INTEGRATED MALARIA CONTROL PROGRAM, MATERNAL HEALTH CARE AND ROUTINE IMMUNIZATION PROGRAMS IN HULU SUNGAI SELATAN AND BANJARBARU CITY, IN KALIMANTAN SELATAN PROVINCE Hanifah Rogayah 1, Yodi Mahendradhata 2, Retna Siwi Padmawati 2 1 Kementerian Kesehatan RI, Dirjen PP dan PL, Dit.PPBB. Sudit Pengendalian Malaria 2 Pusat Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan, Fakultas Kedokteran UGM ABSTRACT Background: To reduce child and maternal mortality, as well as mortality and morbidity of malaria, an integrated malaria control program along with antenatal care and immunization has been implemented through malaria screening and provision of LLIN to pregnant women and the provision of LLIN to children under five who received full immunization. Objective: The objective of this study is to evaluate integrated malaria control program in Hulu Sungai Selatan District and Banjarbaru City, South of Kalimantan Province by exploring input, process and output of the program. Method: The study uses evaluation formative approach using qualitative method with exploratory qualitative design. Data is collected through in-depth interviews, focus group discussion, checklist of observation and documents related to the integrated program. Data analysis was performed with the reduction and presentation of the data, visualization, conclusions, and verification that describe the input, process and output variabels relevant to integrated malaria control program. Result: The dominant challenges in the input are commodity, funds, as well as the organization of integrated programs. Implementation of the integrated program is not optimal in the form of policies, capacity building, QA, supervision, and recording and reporting. The integrated program did not achieve the intended output in terms of LLIN coverage for children under five as well as pregnant women ANC coverage (Trimester I and IV) Conclusion: The implementation of integrated malaria control program in general was relatively weak in terms of input, process and output. Adequate inputs and processes to strengthen the implementation of the integrated program are necessary, so it can be one of the exit strategies for malaria control in pregnant women and children under five. Keywords: Integrated program, malaria control, maternal health care, immunization routine ABSTRAK Latar Belakang: Dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak serta angka kesakitan dan kematian akibat malaria, telah dilaksanakan program terpadu pengendalian malaria, pelayanan ibu hamil dan imunisasi melalui skrining malaria dan pemberian kelambu berinsektisida pada ibu hamil serta pemberian kelambu pada balita yang mendapat imunisasi lengkap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program terpadu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan dengan mengeksplorasi input, proses dan output program. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi formatif, dengan metode kualitatif dan desain penelitian kualitatif eksploratif. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah serta observasi dan checklist dokumentasi. Hasil: Tantangan yang paling besar dan dominan pada input adalah komoditi, dana, serta organisasi program terpadu. Belum optimalnya pelaksanaan proses program terpadu berupa kebijakan, capacity building, QA, supervisi, serta pencatatan dan pelaporan. Tidak tercapainya output program terpadu yaitu cakupan kelambu pada balita dan cakupan kunjungan ANC ibu hamil (K1 atau K4). Kesimpulan: Program terpadu pengendalian malaria, pelayanan kesehatan ibu hamil dan imunisasi belum optimal pada komponen input, proses dan output. Adekuatnya input dan proses dapat memperkuat pelaksanaan program terpadu, sehingga dapat menjadi salah satu exit strategi pengendalian malaria pada ibu hamil dan balita. Kata Kunci: program terpadu, pengendalian malaria, kesehatan ibu dan imunisasi PENGANTAR Penyakit malaria merupakan salah satu penyakit menular yang berkontribusi dalam kematian bayi, balita dan ibu hamil, yakni malaria dalam kehamilan menyebabkan 5 12% dari total bayi berat lahir rendah dan berkontribusi hingga terhadap kematian bayi 1. Di daerah terpencil dimana fasilitas kesehatan sulit dijangkau, pada umumnya cakupan pelayanan pemeriksaan kehamilan dan imunisasi rutin sangat rendah serta angka kejadian penyakit malaria cukup tinggi 2. Kegiatan terpadu pengendalian malaria, pelayanan ibu hamil dan imunisasi melalui kegiatan skrining malaria ibu hamil 26 Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, Vol. 04, No. 1 Maret 2015
2 Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia dan pemberian kelambu berinsektisida melalui pemberian kelambu dan screening malaria pada ibu hamil dan balita dengan imunisasi lengkap dapat meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil, cakupan imunisasi dan penemuan kasus positif malaria serta memberikan pencegahan terhadap penularan penyakit malaria pada ibu hamil, bayi dan balita 2. Kegiatan terpadu pengendalian malaria dengan pelayanan ibu hamil dan imunisasi juga diimplementasikan di negara lain contohnya yaitu di Togo dan di District Mukono Uganda tahun Di Burkina Faso pada tahun 2007 dilakukan pendistribusian kelambu melalui pelayanan kesehatan ibu hamil 4. Pada tahun 2010 program ini mulai diimplementasikan secara bersama-sama di wilayah Kalimantan dan Sulawesi yaitu di wilayah dengan endemisitas malaria sedang (API sebesar 1-< 5 per penduduk). Pencapaian indikator program terpadu malaria, pelayanan ibu hamil dan imunisasi di wilayah Kalimantan dan Sulawesi masih di bawah target. Anggaran dana kegiatan program terpadu ini lebih besar bila dibandingkan dengan seluruh anggaran program pengendalian malaria secara nasional untuk seluruh Indonesia pada tahun 2012 bersumber dari APBN yaitu sekitar Rp. 21,9 milyar. Evaluasi pelayanan integrasi berfokus pada proses dan hasil serta penilaian menghitung konteks perkembangan pelayanan terintegrasi, dan berbagai perspektif dari pengguna jasa, penyedia jasa dan tingkat penyediaan pelayanan kesehatan yang terlibat 5. Kegiatan terpadu ini belum berjalan sebagaimana mestinya sehingga dilakukan evaluasi program terpadu malaria, kesehatan ibu hamil dan imunisasi dilakukan pada tahap input, proses pelaksanaan dan output di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan. BAHAN DAN CARA PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi program formatif dengan desain penelitian kualitatif eksploratif, mendeskripsikan evaluasi pelaksanaan program terpadu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kota Banjarbaru Provinsi Kalsel. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap pengelola progran terpadu di tingkat kabupaten/kota dan pengelola terpadu di tingkat puskesmas terpilih dengan total informan sebanyak 13 orang, selain itu juga telah dilakukan diskusi kelompok terarah sebanyak 6 kali yaitu kelompok pengelola malaria, KIA dan imunisasi di masingmasing kab/kota, dan untuk mengetahui jalannya program terpadu juga dilakukan observasi pada saat pelaksanaan serta didapatkan hasil ceklist dokumentasi terhadap data capaian output dan dokumen pendukung pelaksanaan program terpadu. Analisis data dilakukan dengan reduksi dan penyajian data serta penarikan kesimpulan dan verifikasi, sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang variabel yang paling relevan yaitu input (komoditi, dana dan struktur organisasi), proses (kebijakan dan supervisi) serta capaian indikator output program terpadu malaria, pelayanan ibu hamil dan imunisasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada tahun 2013 program terpadu dilaksanakan di 21 puskesmas Kabupaten HSS dan 4 puskesmas di Kota Banjarbaru. Capaian indikator output program terpadu di Kabupaten HSS terdapat 7 indikator yang telah berhasil mencapai target, namun masih terdapat 3 indikator yang belum mencapai target yaitu cakupan kelambu balita, cakupan kunjungan ANC K1 dan cakupan kunjungan ANC K4. Capaian indikator di Kota Banjarbaru, yaitu 9 dari 10 indikator sudah mencapai target, kecuali indikator cakupan kelambu pada balita. Komoditi Komoditi yang sangat menentukan dalam kelancaran pelaksanaan program terpadu ini adalah kelambu yang sering terlambat tiba di lapangan atau tidak sesuai jadwal, seperti yang diungkapkan oleh informan berikut: Tabel 1. Capaian Indikator Output Program Terpadu di Kabupaten HSS dan Kota Banjarbaru Tahun 2013 Indikator Output Target (%) Capaian (%) Kabupaten HSS Kota Banjarbaru Cakupan kelambu pada ibu hamil 80 94,31 94,83 Cakupan skrining ibu hamil ,74 81,28 Cakupan kelambu pada balita yang mendapat imunisasi lengkap 80 39,90 72,23 Cakupan Kunjungan ANC 1 (K1) 95 90,00 95,60 Cakupan Kunjungan ANC 4 (K4) 90 69,90 90,20 Cakupan imunisasi lengkap pada balita 80 87,80 93,60 Persentase Bidan yang dilatih malaria dalam kehamilan 80 80,23 (138 orang) 82,20 (97 orang) Pelaksanaan supervisi terpadu % 100% Kelengkapan laporan terpadu ,00 100,00 Ketepatan laporan terpadu 80 85, Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten HSS dan Kota Banjarbaru, 2014 Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, Vol. 04, No. 1 Maret
3 Hanifah Rogayah, dkk.: Evaluasi Program Terpadu Pengendalian Malaria...seperti pedoman yang saya baca, maksud dari program ini untuk meningkatkan cakupan tapi akhirnya jadi masalah karena kelambu tiba di akhir-akhir tahun sehingga tidak meningkatkan lagi cakupan program imunisasi, jadi eee...seolah - olah hal ini menambah kerjaan teman-teman, kalau seperti ini seolah - olah kita yang mencari -cari lagi balita yang telah diimunisasi lengkap itu... (pengelola imunisasi)....kegiatan integrasi KIA - malaria sudah berjalan dengan baik, bidan-bidan puskesmas sudah menjalankan RDT dan kelambu sesuai dengan yang diharapkan, asal tersedia kelambu dan RDT maka program berjalan... (Pengelola KIA) Tidak tersedianya kelambu menyebabkan perubahan pada mekanisme pemberian kelambu yang seharusnya diserahkan pada kunjungan pemeriksaan kehamilan trimester pertama (K1) menjadi disusulkan setelah kelambu tersedia. Begitu pula untuk pemberian kelambu pada balita yang imunisasinya sudah lengkap, harus dilakukan sweeping atau petugas mendatangi ke setiap rumah balita untuk membagikan kelambu kepada sasaran tersebut. Hal ini disamping menambah beban kerja dan dana, serta tujuan program terpadu untuk meningkatkan cakupan imunisasi lengkap tidak tercapai. Dana Anggaran biaya kegiatan program terpadu di tingkat kabupaten, puskesmas hingga desa meliputi komponen: biaya distribusi kelambu dari kabupaten/ kota ke puskesmas hingga distribusi ke sasaran, pelatihan dan sosialisasi, supervisi, insentif petugas di tingkat kabupaten/kota, dan sweeping. Jumlah dana distribusi kelambu menurut petugas kesehatan sangat kecil atau tidak sebanding dengan ongkos transport ke sasaran, seperti yang diungkapkan oleh informan berikut ini:...cuma istilahnya kan kalau dihitung dari segi jerih payah waktu dan tenaga yang dikeluarkan maka tidak sesuai... (pengelola imunisasi) Namun ada pula informan yang menyatakan bahwa dana tidak menjadi masalah walaupun kecil karena ada dukungan dana kegiatan ANC bersumber dari BOK yang bisa terintegrasi dengan kegiatan program terpadu, seperti yang diungkapkan oleh pengelola KIA (INF. 8) berikut ini :...itu untuk transportasi juga, yang Rp.1800 itu ya?, untuk bidannya nach itu untuk jasanya ada, jadi bisa membagikan kelambu,...juga tersedia dana sweeping ANC dari BOK... sehingga sekalian membagi kelambu dan kegiatan ANC juga...sekali kerja saja bisa mencapai dua kegiatan.. Sumber pendanaan program terpadu sebagian besar masih bergantung pada dana hibah luar negeri (Global Fund), walaupun sudah tersedia dukungan dana bersumber dari APBD dan BOK namun besarannya masih jauh lebih kecil. Masih ketergantungannya dana program terpadu ini pada bantuan luar negeri akan mempengaruhi terhadap kelangsungan terus menerus atau sustainability program terpadu ini selanjutnya. Ketergantungan dana terhadap donor tanpa dilakukan adanya exit strategy untuk sumber pembiayaan lain akan berdampak pada berhentinya kegiatan program terpadu di lapangan, misalnya ketika tidak tersedianya dana insentif untuk pengelola imunisasi dan KIA menimbulkan berkurangnya perhatian atau kerjasama dan peran pengelola program terkait (adanya anggapan bahwa program terpadu juga sudah berhenti). Hasil evaluasi input tentang dana program terpadu seperti pada tabel 2: Tabel 2. Hasil Evaluasi Dana Program Terpadu Menurut Pengelola Malaria, Pengelola Imunisasi dan Pengelola KIA Komponen Variabel Pengelola Malaria Pengelola Imunisasi Pengelola KIA Ketersediaan dan kecukupan dana. Dana tersedia, besarannya cukup untuk perkotaan namun sangat kecil untuk daerah sulit. Ada dana untuk bagi kelambu, walaupun kecil jumlahnya Ada dana untuk distribusi kelambu, tetapi dana untuk skrining tidak ada lagi. Jenis dana. Dulu tersedia dana untuk: pelatihan bidan, sosialisasi KIA dan imunisasi, insentif bidan imunisasi, sweeping, transport distribusi. Ada biaya angkut dari kab ke faskes, tapi untuk salary imunisasi dan KIA hanya sampai tahun Tersedia dana untuk bidan yang memberikan kelambu bayi dan balita, sosialisasi, sweeping kelambu, pertemuan evaluasi tiap tahu. Ada salary untuk Imunisasi tetapi hanya s/d tahun Ada dana tapi tidak sesuai dengan tenaga dan waktu. Ada dana distribusi kelambu cukup walau sedikit. Dana sweeping ANC bisa untuk sweeping kelambu (kelambu terlambat datang) Sumber dana. APBD Provinsi : untuk pemeriksaan Slide darah malaria (termasuk skrining). Dana distribusi kelambu dari GF, BOK (pelacakan kasus). APBD untuk kegiatan supervisi P2P, evaluasi GF untuk kelambu, RDT, Distribusi kelambu APBD untuk supervisi GF untuk distribusi kelambu. BOK untuk sweeping ANC 28 Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, Vol. 04, No. 1 Maret 2015
4 Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Struktur Organisasi Struktur program terpadu yang secara khusus pernah ada pada tahun yaitu berupa surat keputusan kepala dinas kesehatan kabupaten/kota tentang penetapan petugas pelaksana program intensifikasi pengendalian malaria pada komponen imunisasi, dan komponen kesehatan ibu. Pada tahun 2012 surat keputusan tersebut dianggap tidak berlaku lagi, seperti yang diungkapkan oleh pengelola program berikut:...sk khusus untuk pengelola terpadu dulu tahun 2010 ada, sekarang tidak ada, yang di SK kan dapat honor, dinas kesehatan tidak membuat antara malaria,kia dan imunisasi secara program... (pengelola malaria)....penunjukan tim integrasi malaria dengan KIA, pada tahun 2010 ada honornya tapi tidak dilanjutkan tapi memang kegiatannya kurang... tapi walaupun tidak ada dana tapi tidak dituntut untuk membuat SK... (pengelola KIA). Komitmen dan koordinasi antara ketiga program tersebut saat ini tetap berjalan walaupun tidak ada secara tertulis atau hanya secara lisan oleh pengelola malaria, terutama untuk pengelola program imunisasi dan KIA yang baru (terlibat program tidak sejak awal). Kebijakan Hasil evaluasi komponen proses tentang kebijakan program terpadu menurut pengelola malaria, imunisasi dan KIA dapat dilihat pada Tabel 4. Implementasi program pada tahun terdapat perubahan kebijakan yaitu pada tahun 2011 semua puskesmas di wilayah kabupaten/kota dengan endemis malaria sedang tetapi tahun yang melakukan kegiatan terpadu hanya di puskesmas yang mempunyai desa dengan endemis malaria sedang. Supervisi Supervisi program terpadu tidak dilakukan secara khusus, namun diintegrasikan dengan supervisi kegiatan lainnya. Pada awal program tersedia dana untuk supervisi khusus program terpadu namun saat ini tidak lagi tersedia dana tersebut. Supervisi dilaku- Tabel 3. Hasil Evaluasi Struktur Organisasi Program Terpadu Pengelola Malaria, Pengelola Imunisasi dan Pengelola KIA Komponen Variabel Pengelola Malaria Pengelola Imunisasi Pengelola KIA Struktur program terpadu Komitmen Dukungan terhadap program, Koordinasi antara program terkait Pernah ada SK khusus pengelola program terpadu yang dibuat tahun 2010, yang termasuk dalam Program terpadu Imunisasi dan KIA. Ada salary dari GF utk masing-masing program. Pengelola imunisasi karena masih satu bidang, sehingga program berjalan. Tidak ada komitmen resmi, dulu ada sekarang tidak ada komitmen tertulis. Ada sosialisasi dan pelatihan, sehingga diketahui oleh program terkait Pengelola imunisasi dan KIA membantu dalam pelaksanaan program terpadu Komitmen dulu awal program tahun 2010, apalagi ada salary untuk masing- masing program terlibat. Sekarang tidak ada, terakhir tahun Kegiatan tetap jalan di lapangan. Komitmen terpadu hanya lisan. Komitmen tertulis/ SK tidak ada. Pengelola imunisasi PKM diinformasikan saat sosialisasi/ buku pedoman. Program terpadu berjalan, ada kendala pengelola imunisasi dan bidan melakukan sweeping ke balita yang sudah lengkap imunisasinya. Dulu tahun 2010 ada SK integrasi KIA dengan malaria untuk kelambu ibu hamil dan skrining, tahun 2012 tidak ada lagi. Kegiatan tetap berlangsung. Ada komitmen tertulis tahun Sekarang tidak ada komitmen tertulis. Sudah masuk dalam program kelas ibu hamil. Komitmen diinformasikan secara lisan oleh pengelola malaria. Pengelola KIA ada pelatihan,dan sosialisasi pada seluruh bidan desa. Bidan desa mendukung program. Kegiatan terpadu ini menjadi bagian dalam setiap pelatihan kelas ibu hamil. Tabel 4. Hasil Evaluasi Kebijakan Program Terpadu Komponen Variabel Pengelola Malaria Pengelola Imunisasi Pengelola KIA Proses penyampaian kebijakan kepada pelaksana program Sosialisasi saat pertemuan evaluasi bulanan program malaria. Sosialisasi pada awal program terpadu tahun 2010 dan membaca pedoman Pelatihan bidan tingkat kab/kota, sosialisasi untuk bidan desa di puskesmas Proses implementasi Ada perubahan-perubahan kebijakan yaitu daerah endemisitas dari mapping kab/kota menjadi mapping desa Penentuan daerah sasaran program mengikuti malaria saja. Program terpadu sudah masuk ke dalam program kelas ibu hamil sehingga sudah jelas pelaksanaannya. Kelambu Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, Vol. 04, No. 1 Maret
5 Hanifah Rogayah, dkk.: Evaluasi Program Terpadu Pengendalian Malaria kan setiap 3 bulan sekali dimana setiap puskesmas minimal dilakukan supervisi 1 kali dalam setahun, atau bisa tidak terjadwal tergantung bila ada teradi permasalahan di lapangan. Antara program yang terlibat melakukan sendiri-sendiri supervisi, kecuali untuk program imunisasi dan malaria yang dalam satu seksi bisa dilakukan supervisi bersama-sama, seperti yang diungkapkan oleh pengelola malaria (INF.1) berikut :...supervisi terpadu malaria - imunisasi bisa terpadu, kalau KIA tidak bisa terpadu karena KIA juga ada kegiatan sendiri - sendiri... PEMBAHASAN Indikator cakupan kelambu pada balita yang mendapat imunisasi lengkap masih di bawah target. Hal ini bila dibandingkan dengan cakupan balita yang mendapat imunisasi lengkap maka sangat jauh berbeda. Hasil ini berbeda dengan di Malawi bahwa pemberian kelambu gratis pada anak yang telah melengkapi imunisasi dasar, meningkatkan cakupan imunisasinya meningkat > 25% di setiap distrik 6. Adanya perbedaan capaian indikator ANC tersebut yang lebih kecil bila dibandingan dengan capaian cakupan kelambu pada ibu hamil dan cakupan skrining ibu hamil yang lebih besar dan mencapai target. Integrasi bukan berarti menyembuhkan pelayanan yang tidak ada sumber daya yang adekuat. Integrasi dua program yang terpisah sebelumnya mungkin akan menghemat pemberi pelayanan, tetapi integrasi pada kegiatan yang baru ke dalam sistem kesehatan yang sudah ada tidak akan berjalan kontinu tanpa adanya sistem yang menyeluruh dengan sumber daya yang lebih baik 7. Keterlambatan distribusi kelambu dari pusat ke kabupaten/kota merupakan hambatan utama dalam penyediaan logistik program terpadu yang berdampak pada tidak tercapainya salah satu tujuan pendistribusian kelambu yaitu meningkatkan cakupan kunjungan ANC dan imunisasi lengkap pada balita. Karakteristik keberhasilan pelayanan terintegrasi adalah bagaimana link yang baik antara target intervensi dalam kelompok grup populasi dan sumber daya yang diperlukan (misalnya supply, perlengkapan, dan tersedianya tenaga kesehatan yang terlatih) 8. Kepemilikan kelambu akan meningkatkan cakupan imunsasi baik pada program kampanye integrasi maupun pelayanan rutin. Memastikan rantai logistik yang sufficient yakni memperhatikan komoditas dari kedua progran yang diintegrasikan misalnya imunisasi dan pelayanan malaria (kelambu), yang juga berkontribusi dalam keberhasilan pelayanan terintegrasi. Sumber pendanaan program terpadu sebagian besar masih bergantung pada dana hibah luar negeri (Global Fund), walaupun sudah tersedia dukungan dana bersumber dari APBD dan BOK namun besarannya masih jauh lebih kecil. Masih ketergantungannya dana program terpadu ini pada bantuan luar negeri akan mempengaruhi terhadap kelangsungan terus menerus atau sustainability program terpadu ini selanjutnya. Solusi mendapatkan sustainable dan inovasi pembiayaan adalah dengan melibatkan peran pemerintah dalam proses program. Provinsi dan kabupaten menyiapkan biaya untuk kegiatan di lapangan dan diperlukan persetujuan di tingkat nasional untuk target yang akan dicapai. Kontribusi dari masyarakat di daerah juga harus mulai dikejar untuk membiayai pelayanan terpadu di masyarakat 9. Organisasi program terpadu tidak tertuang secara tertulis berupa SK atau kesepakatan kerja antara ketiga program terkait, sehingga komitmen, dukungan dan tanggung jawab dari pengelola program terkait juga tidak mengikat. Pelayanan integrasi memerlukan perubahan struktur dan organisasi secara signifikan menjadi sistem pelayanan administrasi dan manajemen yang kadang lebih kompleks 10. Integrasi dengan tipe organisasi berupa adanya struktur koordinasi, sistem kekuasaan dan hubungan atar organisasi dengan mengembangkan perjanjian formal dan informal atau rencana kerjasama seperti penggabungan dana atau praktik dasar pengawasan atau mengembangkan payung struktur organisasi seperti federasi perawatan primer atau persekutuan lokal daerah (Shaw, 2011). Secara organisasi, integrasi dapat terjadi pada saat adanya penggabungan, perjanjian atau strategi perserikatan antara institusi yang berbeda, dan berdasarkan integrasi profesional terjadi apabila profesi kesehatan yang berbeda atau spesialistik bekerja bersama untuk ikut serta memberikan layanan bersama (joined-up service) 11. Tidak adanya update terhadap pedoman berakibat petugas pelaksana program terpadu yaitu bidan atau juru imunisasi yang langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat (ibu hamil dan balita) menjadi kebingungan dan tidak bisa memahami dan mengerti ketentuan pelaksanaan program, yang dapat menghambat kinerja program terpadu tersebut. Implementasi di Malawi kebijakan malaria dalam kehamilan meskipun panduan bisa ditemukan pada tingkat nasional namun mereka tidak menyebarkan informasi kebijakan tersebut secara efektif pada seluruh penyedia jasa pelayanan kesehatan juga tidak megenalkan panduan secara ekstensif. Hal tersebut menyebabkan penggunaan dan kepatuhan terhadap panduan tersebut bisa sangat lemah Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, Vol. 04, No. 1 Maret 2015
6 Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia Tidak adanya komitmen antar program yang terlibat menyebabkan terhambatnya koordinasi dan komunikasi pelaksanaan kegiatan, walaupun secara kuantitas program terpadu tetap berjalan di lapangan namun secara kualitas program terpadu belum tercapai. Integrasi seluruh sektor memerlukan keterlibatan dan komitmen di berbagai tingkat lembaga yang terlibat 13. Supervisi program terpadu tidak dilakukan secara khusus, namun diintegrasikan dengan supervisi kegiatan lainnya. Supervisi merupakan salah satu upaya untuk menjalin koordinasi antar program yang terlibat, ataupun koordinasi pada program yang sama namun pada tingkatan pelayanan yang berbeda. Supervisi adalah dasar untuk koordinasi dalam hirarki organisasi, yakni dilakukan pertukaran informasi diatara 2 orang atau seorang yang bertanggungjawab untuk suatu pekerjaan 14. Secara konteks pelaksanaan program terpadu pengendalian malaria, pelayanan kesehatan ibu hamil dan imunisasi di Kabupaten HSS dan Kota Banjarbaru telah berjalan dan diterima dengan baik oleh pengelola dan penyedia pelayanan, namun untuk keberhasilan jangka panjang dan sustanaibility program terpadu ini, masih terdapat beberapa tantangan dan tindak lanjut yang harus dilakukan pada setiap komponen. REFERENSI 1. WHO, Malaria in Pregnancy: Guideline for measuring key monitoring and evaluation indicators. World Health Organization; Kementerian Kesehatan RI: Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Terpadu Pengendalian Malaria, Pelayanan Ibu Hamil dan Imunisasi, Kemenkes RI, Ditjen PP dan PL. Jakarta, Mboye AK, Neema S, dan Magnussen P: Preventing malaria in pregnancy: a study of perceptions and policy implications in Mukono district, Uganda. Journal article 2005, Beiersmann Claudia, Manuela De Allegri, Justin Tiendrebéogo, Maurice Ye, Arbrech Jahn, Olaf Mueller: Different delivery mechanisms for insecticide-treated nets in rural Burkina Faso: a provider s perspective. no / ; Shaw S, Rosen R dan Rumbold B: What is integrated care, an overview of integrated care in NHS, research report. Nuffield Trust 2011, London W1G7LP. New Cavendish Street. 6. Mathanga DP, Luman ET, Campbell CH, Silwimba C, Malenga G: Integration of insectiside-treated net distribution into routine immunization service in Malawi: a pilot study. Tropical medicine and international helath 2009, vol 14 no.7 july 2009, Blackwell publish Ltd. 7. WHO, Integrated health services: what and why. H. l Brief No , WHO department of health policy, development and services. 8. Wallace A, TK Ryman dan V Dietz: Experiences integrating delivery of maternal and child health services with childhood immunization programs: systematic review update, Oxford University Press in association with the London of Hygiene and tropical medicine Partapuri Tasnim, R Steingless dan J Sequira: Integrated delivery of health services during outreach visit: A literature review of program experience through a routine immunization lens. The Journal of Infectious Disease, 2012;205:S Richardson Dominic dan Patana P: Integrating service delivery : Why, for who, and how?. Social Policy Divicion, Integrated service and housing consultation Lioyd dan Wait: Integrated care a guide for policymakers. Health the future Geronto Centrum. United Kingdom. 12. MCHIP, USAID, Maternal and child health integrated program: Capacity to address malaria in pregnancy and community case management. Final MCHIP Malaria Brief Jacqualine S: Integration of health services: Theory and practices. Harvard global health review Shortel and Arnorld DK: Essesntial of health care management, Delmar Publisher Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, Vol. 04, No. 1 Maret
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World Malaria Report Tahun 2012 menyebutkan
EVALUASI PROGRAM KESEHATAN IBU DI DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2014
1 EVALUASI PROGRAM KESEHATAN IBU DI DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2014 Lulyvia Qurnia Hafidzah *), Retno Astuti Setijaningsih, SS, MM **) *) Alumni Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro
ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2015 TESIS.
ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN IBU HAMIL DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2015 TESIS Oleh : GINA ALECIA NO BP : 1121219046 Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan di daerah dilakukan oleh Puskesmas sebagai pelaksana terdepan. Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung
109 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes
PENDAHULUAN EVALUASI PROGRAM AUDIT MATERNAL PERINATAL (AMP) DI KABUPATEN TEMANGGUNG JAWA TENGAH Mohamad Anis Fahmi (Fakultas Ilmu Kesehatan Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri) ABSTRAK Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan Sistem Kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan, ketanggapan, dan keadilan dalam pembiayaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan Sistem Kesehatan adalah meningkatkan derajat kesehatan, ketanggapan, dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (WHO, 2000). Komponen pengelolaan kesehatan
TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PEMANFAATAN BUKU KESEHATAN IBU DAN ANAK BERDASARKAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL
32 Media Ilmu Kesehatan Vol. 6, No. 1, April 2017 TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PEMANFAATAN BUKU KESEHATAN IBU DAN ANAK BERDASARKAN KARAKTERISTIK IBU HAMIL Tri Budi Rahayu 1 1 Stikes Guna Bangsa Yogyakarta,
BAB 1 PENDAHULUAN. Perbaikan kualitas manusia di suatu negara dijabarkan secara internasional
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbaikan kualitas manusia di suatu negara dijabarkan secara internasional dalam Millenium Development Goal s (MDG s). Salah satu tujuan MDG s adalah menurunkan 2/3
PESAN POKOK LAYANAN HIV & AIDS YANG KOMPREHENSIF DAN BERKESINAMBUNG- AN (LKB): PERAN PEMERINTAH DAERAH DAN MASYARAKAT SIPIL
POLICY BRIEF 03 PESAN POKOK LAYANAN HIV & AIDS YANG KOMPREHENSIF DAN BERKESINAMBUNG- AN (LKB): PERAN PEMERINTAH DAERAH DAN MASYARAKAT SIPIL Layanan HIV dan AIDS yang Komprehensif dan Berkesinambungan (LKB)
PERINGATAN HARI MALARIA SEDUNIA
PERINGATAN HARI MALARIA SEDUNIA TEMA : BEBAS MALARIA INVESTASI BANGSA SUKADANA, 25 APRIL 211 PROGRAM INTENSIFIKASI MALARIA DINAS KESEHATAN KABUPATEN KAYONG UTARA A. LATAR BELAKANG Malaria merupakan salah
BAB 1 PENDAHULUAN. menjamin bahwa proses alamiah dari kehamilan berjalan normal. Tujuan dari
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelayanan antenatal care merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan professional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Pengambilan keputusan dalam kesehatan masyarakat akan sangat tergantung dari ketersediaan data dan informasi. Sistem informasi yang baik, proses pengumpulan, analisis,
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara dari 189 negara yang menyepakati
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara dari 189 negara yang menyepakati Deklarasi Millenium di New York pada bulan September 2000. Deklarasi Millenium ini dikenal dengan
BAB I PENDAHULUAN. masih cukup tinggi dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kematian bayi (AKB) dan Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi dengan negara ASEAN lainnya. Menurut data Survei Demografi Kesehatan Indonesia
PESAN POKOK APAKAH PEMERINTAH INDONESIA MAMPU MENGAKSELERASI PEMBIAYAAN OBAT-OBATAN STRATEGIC USE OF ANTIRETROVIRAL (SUFA)?
POLICY BRIEF 02 PESAN POKOK APAKAH PEMERINTAH INDONESIA MAMPU MENGAKSELERASI PEMBIAYAAN OBAT-OBATAN STRATEGIC USE OF ANTIRETROVIRAL (SUFA)? Akselerasi Strategic Use of An retroviral (SUFA) selama ini telah
BAB I PENDAHULUAN. keadaan lingkungan tempat bidan bekerja (Soepardan & Hadi, 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pelayanan kebidanan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan. Selama ini, pelayanan kebidanan bergantung pada sikap sosial masyarakat dan keadaan lingkungan tempat bidan
BAB 1 PENDAHULUAN. penyebab kecelakaan atau incidental) (CIA, 2014). AKI (Angka Kematian Ibu)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kematian ibu adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau diperberat oleh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Periode penting dalam masa tumbuh kembang seorang anak adalah masa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Periode penting dalam masa tumbuh kembang seorang anak adalah masa balita, karena masa ini adalah merupakan pertumbuhan dasar yang mempengaruhi dan menentukan
ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM KESEHATAN IBU YANG DIDANAI BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN DI PUSKESMAS BANDARHARJO KOTA SEMARANG
ANALISIS EFEKTIVITAS PROGRAM KESEHATAN IBU YANG DIDANAI BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN DI PUSKESMAS BANDARHARJO KOTA SEMARANG Ananda Suryo Adi Prayogo, Antono Suryoputro, Ayun Sriatmi Bagian Administrasi
ABSTRAK. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Ibu Hamil Dalam Memeriksakan Kehamilan Di Puskesmas Sukawarna Periode Juli 2005
ABSTRAK Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Ibu Hamil Dalam Memeriksakan Kehamilan Di Puskesmas Sukawarna Periode Juli 2005 Yuni Setiawati, 2006. Pembimbing : drg. Donny P. SKM Derajat kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. Kinerja tenaga kesehatan yang baik akan berdampak pada kualitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kinerja tenaga kesehatan yang baik akan berdampak pada kualitas pelayanan pemeriksaan pada ibu hamil, termasuk kinerja bidan sebagai penyedia pelayanan kesehatan
PELAKSANAAN KEBIJAKAN BOK DI KAB. OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN. Asmaripa Ainy. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
FORUM NASIONAL II : Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia PELAKSANAAN KEBIJAKAN BOK DI KAB. OGAN ILIR, SUMATERA SELATAN Asmaripa Ainy Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya HOTEL HORISON
Arumsari, et al, Evaluasi Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P).
Evaluasi Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) pada Balita BGM Tahun 2013 (Studi Kasus di Desa Sukojember Wilayah Kerja Puskesmas Jelbuk Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember) [Evaluation of
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Deklarasi pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) yang merupakan hasil kesepakatan 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2000
ANALISIS PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) UNTUK PELAYANAN BAYI
ANALISIS PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) UNTUK PELAYANAN BAYI DI PUSKESMAS LOLAK KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Astrid K. Bangsawan*, Adisti A. Rumayar*, Ardiansa A. T. Tucunan* *Fakultas Kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. millenium (MDG s) nomor 5 yaitu mengenai kesehatan ibu. Adapun yang menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komitmen Indonesia untuk mencapai MDG s (Millennium Development Goals) mencerminkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan memberikan kontribusi
FAKTOR RISIKO DENGAN PERILAKU KEPATUHAN IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI
FAKTOR RISIKO DENGAN PERILAKU KEPATUHAN IBU DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI (Studi Observasional di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura Timur Kabupaten Banjar Tahun 2017) Elsa Mahdalena
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang World Malaria Report (2011) menyebutkan bahwa malaria terjadi di 106 negara bahkan 3,3 milyar penduduk dunia tinggal di daerah berisiko tertular malaria. Jumlah kasus
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Kematian ibu masih merupakan tantangan kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Jumlah
BAB I. PENDAHULUAN A.
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan disebutkan bahwa pengelolaan kesehatan diselenggarakan secara bersama dan berjenjang antara pemerintah pusat,
Surveilans Respons dalam Program KIA Penyusun: dr. Sitti Noor Zaenab, M.Kes
Surveilans Respons dalam Program KIA Penyusun: dr. Sitti Noor Zaenab, M.Kes Pengertian Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus
Kata kunci : Kebijakan Kesehatan, Jampersal, Angka Kematian Ibu (AKI)
kesehatan ibu dan anak, penyediaan SDM yang berkulitas dan penyediaan sarana dan prasarana dalam upaya percepatan penurunan AKI di Kabupaten Bangka Tengah. Kata kunci : Kebijakan Kesehatan, Jampersal,
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2012
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberhasilan pembangunan Indonesia sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk mendapatkan sumber daya tersebut, pembangunan kesehatan
MOTIVASI DAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL TRIMESTER III
MOTIVASI DAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL TRIMESTER III (Motivation and Obedience of Antenatal Care (ANC) Visit of 3rd Trimester Pregnant Mother) Ratna Sari Hardiani *, Agustin
IMLEMENTASI PELAYANAN KESEHATAN WAJIB DI PUSKESMAS RATAHAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Inka Ines Soputan*, Febi K. Kolibu*, Chreisye K.F.
IMLEMENTASI PELAYANAN KESEHATAN WAJIB DI PUSKESMAS RATAHAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Inka Ines Soputan*, Febi K. Kolibu*, Chreisye K.F.Mandagi* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu indikator penilaian status kesehatan masyarakat adalah dengan melihat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Kematian ibu telah lama menjadi
PEDOMAN WAWNCARA BAGAIMANA IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK) DI UPT PUSKESMAS HILIDUHO KABUPATEN NIAS TAHUN 2015
PEDOMAN WAWNCARA BAGAIMANA IMPLEMENTASI PROGRAM BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK) DI UPT PUSKESMAS HILIDUHO KABUPATEN NIAS TAHUN 2015 A. PERTANYAAN PUSKESMAS I. Identitas Puskesmas 1. Nama Puskesmas
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (Infeksius) dan dapat mengakibatkan kesakitan yang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (Infeksius) dan dapat mengakibatkan kesakitan yang serius, komplikasi jangka panjang bahkan kematian (WHO,
mikm-detail-tesis-perpustakaan-print-abstrak-372.html MIKM UNDIP
N I M : E4A009029 Nama Mahasiswa : Erni Dwi Widyana Universitas Diponegoro Program Pascasarjana Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Minat Manajemen
HUBUNGAN PERSEPSI KOMPENSASI TERHADAP KINERJA BIDAN DESA DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KELAS IBU HAMIL DI PUSKESMAS KABUPATEN PURBALINGGA
HUBUNGAN PERSEPSI KOMPENSASI TERHADAP KINERJA BIDAN DESA DALAM PELAKSANAAN PROGRAM KELAS IBU HAMIL DI PUSKESMAS KABUPATEN PURBALINGGA Ossie Happinasari 1), Sutopo Patria Jati 2), Apoina Kartini 2) Akademi
BAB VII PENUTUP. Kementrian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kota Pariaman Standar Pelayanan
BAB VII PENUTUP A. Kesimpulan 1. Input a. Standar Pelayanan Pelayanan antenatal dalam pencapaian cakupan K4 mengacu kepada renstra Kementrian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kota Pariaman Standar Pelayanan
HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMANFAATAN KELAS IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS HARAPAN RAYA PEKANBARU
Jurnal Kesmas Volume 1, No 1, Januari-Juni 2018 e-issn : 2599-3399 HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMANFAATAN KELAS IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS HARAPAN RAYA PEKANBARU Yusmaharani Program Studi
STRATEGI AKSELARASI PROPINSI SULBAR DALAM MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI
STRATEGI AKSELARASI PROPINSI SULBAR DALAM MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI Wiko Saputra Peneliti Kebijakan Publik Perkumpulan Prakarsa PENDAHULUAN 1. Peningkatan Angka Kematian Ibu (AKI) 359 per
DI PUSKESMAS SIAK HULU III KECAMATAN SIAK HULU KABUPATEN KAMPAR
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM (IN-DEPTH-INTERVIEW) ANALISIS MANAJEMEN PELAKSANAAN IMUNISASI OLEH PUSKESMAS KAITANNYA DENGAN PENCAPAIAN UNIVERSAL CHILD IMMUNIZATION DI PUSKESMAS SIAK HULU III KECAMATAN SIAK
JURNAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA EVALUASI PROGRAM SKRINING STATUS TETANUS TOXOID WANITA USIA SUBUR DI JEMBER TAHUN 2010
JURNAL KEBIJAKAN KESEHATAN INDONESIA VOLUME 01 No. 01 Maret 2012 Halaman 2-6 Abu Khoiri, dkk.: Evaluasi Program Skrining Status Tetanus Toxoid Artikel Penelitian EVALUASI PROGRAM SKRINING STATUS TETANUS
BAB 1 :PENDAHULUAN. masih merupakan masalah kesehatan utama yang banyak ditemukan di. hubungan status gizi dengan frekuensi ISPA (1).
BAB 1 :PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung hingga alveoli,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu dari 8 tujuan pembangunan millenium atau MDG s (Millenium Development Goals) yang terdapat pada tujuan ke 5 yaitu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28H dan Undang-Undang Nomor 23/1992 tentang Kesehatan, menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental setiap warga. Karena itu setiap
BAB I PENDAHULUAN. tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama dan berkesinambungan oleh para
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan ibu dan perinatal merupakan masalah nasional yang perlu dan mendapat prioritas utama karena sangat menentukan kualitas sumber daya manusia pada generasi
BAB I PENDAHULUAN.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan yang diberikan oleh bidan atau dokter kepada ibu selama masa kehamilan. Tujuanya untuk mengoptimalisasikan kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. dekade berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat cukup signifikan,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah program Indonesia sehat dengan sasaran pokok Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yaitu meningkatkan status kesehatan dan
mikm-detail-tesis-perpustakaan-print-abstrak-260.html MIKM UNDIP PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT KESEHATAN IBU DAN ANAK ABSTRAK
N I M : EA4006042 Nama Mahasiswa : Rita Kartika Sari PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT KESEHATAN IBU DAN ANAK 2008 ABSTRAK Rita Kartika Sari EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN BALAI KESEHATAN IBU DAN
PANDUAN WAWANCARA ANALISIS PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS (SIMPUS) DI PUSKESMAS SUKARAMAI KECAMATAN MEDAN AREA TAHUN 2017
PANDUAN WAWANCARA ANALISIS PELAKSANAAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS (SIMPUS) DI PUSKESMAS SUKARAMAI KECAMATAN MEDAN AREA TAHUN 2017 1. Kepala Puskesmas Data Responden Nama Umur Jenis Kelamin Jabatan
BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan seutuhnya untuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan seutuhnya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada semua kelompok umur. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2011),
BAB I PENDAHULUAN. (GSI), safe motherhood, program Jaminan Persalinan (Jampersal) hingga program
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) merupakan tolak ukur dalam menilai kesehatan suatu bangsa, oleh sebab itu pemerintah berupaya keras menurunkan
BAB I PENDAHULUAN. dihadapi ibu selama kehamilan, melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masih tinggi Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu selama kehamilan, melahirkan yang dipengaruhi oleh status gizi ibu, keadaan sosial ekonomi,
BAB 1 PENDAHULUAN. Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) yang terintegrasi dalam upaya peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
UNIVERSITAS UDAYANA ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS PADA PUSKESMAS DI KABUPATEN TABANAN TAHUN 2016 NI LUH INTEN LESTARI
UNIVERSITAS UDAYANA ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS PADA PUSKESMAS DI KABUPATEN TABANAN TAHUN 2016 NI LUH INTEN LESTARI PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kehamilan, persalinan, dan menyusukan anak merupakan proses alamiah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan, persalinan, dan menyusukan anak merupakan proses alamiah bagi kehidupan seorang ibu dalam usia produktif. Bila terjadi gangguan dalam proses ini, baik itu
EVALUASI PROSES PELAKSANAAAN KELAS IBU HAMIL DI KABUPATEN BANYUMAS
EVALUASI PROSES PELAKSANAAAN KELAS IBU HAMIL DI KABUPATEN BANYUMAS Septerina P.W., Puji Hastuti, Fitria Z. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Email: [email protected] ABSTRACT: THE IMPLEMENTATION PROCESS
BAB I PENDAHULUAN. pelayanan antenatal yang ditetapkan. Pelayanan antenatal care ini minimum
BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Pelayanan antenatal care adalah pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan kepada ibu selama masa kehamilannya sesuai standar pelayanan antenatal yang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk mencapai pertumbuhan
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, STATUS PENDIDIKAN, DAN STATUS PEKERJAAN IBU DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, STATUS PENDIDIKAN, DAN STATUS PEKERJAAN IBU DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS TELING ATAS KECAMATAN WANEA KOTA MANADO Gabriela A. Lumempouw*, Frans J.O Pelealu*,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tabel 1. Jumlah Kasus HIV/AIDS Di Indonesia Yang Dilaporkan Menurut Tahun Sampai Dengan Tahun 2015
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara global hingga pada pertengahan tahun 2015 terdapat 15,8 juta orang yang hidup dengan HIV dan 2,0 juta orang baru terinfeksi HIV, serta terdapat 1,2 juta
PERSEPSI STAKEHOLDERS
PERSEPSI STAKEHOLDERS TENTANG PELAKSANAAN KEMITRAAN PERTOLONGAN PERSALINAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA DATAR KECAMATAN HAMPARAN PERAK KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2010 S K R I P S I OLEH: ANNIE AGUSTINA
PERILAKU IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS BAHU KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO
PERILAKU IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS BAHU KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Erly Melisa Ompusunggu Iyone E.T. Siagian J. M. L. Umboh Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam
TUJUAN 4. Menurunkan Angka Kematian Anak
TUJUAN 4 Menurunkan Angka Kematian Anak 51 Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990 dan 2015. Indikator: Angka kematian balita.
ABSTRAK. Pengaruh Kompetensi Bidan di Desa dalam Manajemen Kasus Gizi Buruk Anak Balita terhadap Pemulihan Kasus di Kabupaten Pekalongan Tahun 2008
N I M : E4A007047 Nama Mahasiswa : Pujiati Setyaningsih Universitas Diponegoro Program Pascasarjana Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Minat Manajemen
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu tujuan dari Millennium Development Goals (MDGs) 2015 adalah perbaikan kesehatan ibu, namun sampai saat ini Angka Kematian maternal (AKI) di beberapa
BAB 7 : PENUTUP. pelaksanaan Program Keluarga Harapan Khususnya Bidang Kesehatan.
BAB 7 : PENUTUP 7.1 Kesimpulan 7.1.1 Komponen Input 1. Kebijakan berpedoman dari Kementerian Sosial RI, Kementerian Kesehatan RI dan Surat Keputusan Walikota Padang. Kebijakan ini belum maksimal disosialisasikan
Review. Bantuan Operasional Kesehatan
Review Bantuan Operasional Kesehatan Latar Belakang Keterbatasan biaya operasional untuk pelayanan kesehatan. Beberapa pemerintah daerah masihsangat terbatas dalam mencukupi kebutuhan biaya operasional
KEPATUHAN IBU TERHADAP KUNJUNGAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI PUSKESMAS PADANG BULAN
KEPATUHAN IBU TERHADAP KUNJUNGAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI DI PUSKESMAS PADANG BULAN HESTI DOMINGGO RITONGA 145102137 KARYA TULIS ILMIAH PROGRAM D-IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATRA
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. atau diobati dengan akses yang mudah dan intervensi yang terjangkau. Kasus utama
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada tahun 2011 sebanyak 6,9 juta anak meninggal dunia sebelum mencapai usia 5 tahun. Setengah dari kematian tersebut disebabkan oleh kondisi yang dapat dicegah atau
EVALUASI PELAKSANAAN PELAYANAN 10T PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS ALALAK SELATAN BANJARMASIN TAHUN Elvine Ivana Kabuhung 1, Slamet Pudji Basuki 2.
Evaluasi pelaksanaan pelayanan 10T pada ibu hamil 38 EVALUASI PELAKSANAAN PELAYANAN 10T PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS ALALAK SELATAN BANJARMASIN TAHUN 2012 Elvine Ivana Kabuhung 1, Slamet Pudji Basuki 2.
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) 1 LATAR BELAKANG Setiap tahun, lebih dari 10 juta anak di dunia meninggal sebelum Latar mencapai Belakang usia 5 tahun Lebih dari setengahnya akibat dari 5 Latar Belakang
Apa Kabar Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia?
Apa Kabar Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia? Di beberapa negara terutama negara berkembang, kesehatan ibu dan anak masih merupakan permasalahan besar. Hal ini terlihat dari masih tingginya angka kematian
TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN DESA DI KABUPATEN JEMBER TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL
TINGKAT PENGETAHUAN BIDAN DESA DI KABUPATEN JEMBER TERHADAP PROGRAM JAMPERSAL (Level of Village Midwife Knowledges at Jember District of JAMPERSAL/ Delivery Assurance) Eri Witcahyo 1 1 Bagian AKK FKM Universitas
BAB I PENDAHULUAN. Tersusunnya laporan penerapan dan pencapaian SPM Tahun 2015 Bidang Kesehatan Kabupaten Klungkung.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sesuai Pasal 13 dan 14 huruf j Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, dikatakan bahwa Kesehatan merupakan urusan wajib dan dalam penyelenggaraannya
mikm-detail-tesis-perpustakaan-print-abstrak-312.html MIKM UNDIP Universitas Diponegoro Program Pascasarjana
N I M : E4A007032 Nama Mahasiswa : Ita Rahmawati Universitas Diponegoro Program Pascasarjana Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Minat Manajemen
PENATALAKSANAAN KASUS-KASUS EMERGENSI KEBIDANAN YANG BERASAL DARI RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PRIMER DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAYAPURA TAHUN
ABSTRAK PENATALAKSANAAN KASUS-KASUS EMERGENSI KEBIDANAN YANG BERASAL DARI RUJUKAN PELAYANAN KESEHATAN PRIMER DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAYAPURA TAHUN 2011 Marsia Admya Jacob, 2011. Pembimbing I : Dr.
STANDAR PELAYANAN MINIMAL
MATERI INTI 2 POKOK BAHASAN 5: STANDAR PELAYANAN MINIMAL Prinsip standar pelayanan minimal (SPM) merupakan salah satu hal penting dalam alokasi anggaran. Selama tahun 2000-2007 belum berperan sama sekali
UNIVERSITAS AIRLANGGA DIREKTORAT PENDIDIKAN Tim Pengembangan Jurnal Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo Surabaya
page 1 / 5 EDITORIAL BOARD empty page 2 / 5 Table of Contents No Title Page 1 Komponen Surveilans Kusta di Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo sebagai Upaya Penanggulangan Kusta 2 Hubungan antara Obesitas
BAB 1 PENDAHULUAN. Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh timbulnya penyulit persalinan yang tidak dapat segera dirujuk
BAB I PENDAHULUAN. bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat, bangsa
BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Minahasa Selatan merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara dengan ibu Kota Amurang. Kabupaten Minahasa Selatan mempunyai topografi wilayah
PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 14 TAHUN 2013
PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 14 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGELOLAAN DANA JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT, JAMINAN PERSALINAN DAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH DI PELAYANAN KESEHATAN DASAR DENGAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi ( P4K ) Pada tahun 2007 Menteri Kesehatan RI mencanangkan P4K dengan stiker yang merupakan upaya terobosan dalam percepatan
KONSENTRASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KESEHATAN ABSTRAK SRI SUGIARSI. xv tabel + 37 gambar
N I M : E4A002042 Nama Mahasiswa : Sri Sugiarsi PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG KONSENTRASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KESEHATAN 2005 ABSTRAK SRI SUGIARSI PENGEMBANGAN
VII. PERUMUSAN STRATEGI DAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI DESA JEBED SELATAN
VII. PERUMUSAN STRATEGI DAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI DESA JEBED SELATAN Program Promosi Kesehatan adalah upaya meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM
Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM ANALISIS PROSES PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2014 Nama : Umur : Tahun Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. system kesehatan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu selama kehamilan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehamilan merupakan masa yang sangat sensitif dalam kehidupan wanita, yaitu rentan terhadap timbulnya gangguan secara fisik dan mental. Perawatan kesehatan ibu selama
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK)
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN (BOK) DI KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2011 RITA NURCAHYANI, SKM., MKM Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat LATAR BELAKANG Masalah pembiayaan
