BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Yanti Sudjarwadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Jeruk Purut (Citrus hystrix DC) a. Deskripsi dan Klasifikasi Jeruk Purut (Sarwono, 2001) Kingdom Sub kingdom Super divisi Divisi Kelas Sub kelas Ordo Famili Genus Spesies Gambar 1. Jeruk purut (Gambar diambil dari desa Sokaraja trngah) : Plantae : Tracheobionta : Spermathophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Rosidae : Sapimdales : Rutaceae : Citus : Citrus hystrix DC Pohon jeruk purut berukuran rendah atau perdu namun di alam pohon jeruk purut bisa tumbuh sampai 12 meter. Batang yang tua berwatna hijau tua berbentuk bulat, polos atau berbintik. Tata letak tajuk tanaman tidak beraturan dan cabangnya rapat. Dahan dan rantingnya bersudut tajam, berwarna hijau tua, berbintik dan berduri diketiak daunnya. Duri-durinya pendek, kaku, hitam, ujungnya coklat 4
2 dan panjangnya 0,2 cm-1 cm. Letak daun jeruk purut berpencar atau tersebar dan bertangkai agak panjang serta bersayap panjang. Buah jeruk purut berbentuk bulat sampai bundar, ukurannya relatif kecil dibanding jeruk lainnya. Kulit jeruk purut tidak rata atau tidak halus, rasanya asam dan berbau sedap b. Kandungan Tanaman Minyak atsiri dari daun jeruk purut mengandung komponen kimia dengan l-sitronelal sebagai komponen utama (81,49%), sintronelol (8,22%), linalol (3,69%), geraniol (0,31%). Perbedaan komposisi mencolok inilah yang membedakan minyak kulit jeruk purut dengan minyak kulit jeruk lainnya. Senyawa Sitronelal merupakan senyawa aldehid yang memiliki potensi antibakteri kuat. Menurut (Salman et al, 2015) c. Minyak Atsiri Minyak atsiri termasuk produk metabolit sekunder yang mudah menguap dan terdapat dalam berbagai bagian tanaman seperti umbi, akar, batang, kulit, daun, bunga dan biji. Tanaman penghasil minyak atsiri diperkirakan di dunia berjumlah jenis. Sekitar 40 spesies ada di Indonesia dan 15 jenis diantaranya telah diekspor. Minyak atsiri dihasilkan dari tanaman dan mempunyai sifat mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar (Mangun, et al., 2012). Minyak atsiri umumnya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur karbon, hidrogen dan oksigen serta persenyawaan golongan hidrokarbon dan hidrikarbon teroksigenasi. Disamping itu minyak atsiri juga mengandung resin dan lilin dalam jumlah kecil merupakan komponen tidak dapat menguap. Industri memanfaatkan minyak atsiri sebagai campuran farfum. Peran 5
3 minyak atsiri dalam campuran bukan hanya memberi keharuman, tetapi juga sebagai pengikat bau. Minyak terbang itu juga mampu membawa nutrisi ke seluruh dinding sel. Bila hendak memanfaatkan minyak atsiri secara langsung pada kulit, campurkan dengan minyak pengencer seperti minyak almon atau virgin coconut oil (VCO). Minyak pengencer berfungsi mencegah iritasi, menahan penguapan dan meningkatkan kelembaban kulit Salah satu kandungan minyak atsiri daun jeruk purut yang paling dominan adalah Sitronelal. Minyak atsiri dari kulit jeruk purut mengandung komponen kimia dengan l-sitronelal sebagai komponen utama (81,49%), sintronelol (8,22%), linalol (3,69%), geraniol (0,31%). Perbedaan komposisi mencolok inilah yang membedakan minyak kulit jeruk purut dengan minyak kulit jeruk lainnya (Yuliani, 2011). Senyawa Sitronelal merupakan senyawa aldehid yang memiliki potensi anti bakteri kuatsetara dengam golongan femnol (Bassole et al., 2013) 2. Destilasi minyak atsiri (Nareswari, 2011) Pada industri minyak atsiri dikenal tiga macam metode destilasi yang umum di gunakan. Metode destilasi yang umumnya di pakai dalam industri minyak atsiri, yaitu : a. Destilasi dengan air Pada metode ini, bahan yang akan disuling atau didestilasi dengan tujuan mengambil minyak atsiri akan kontak langsung dengan air mendidih. Bahan yang didestilasi, akan mengapung diatas air atau terendam secara sempurna, tergantung dari bobot jenis dan jumlah bahan yang disuling. Air dipanaskan dengan metode pemanasan yang biasa dilakukan, yaitu dengan panas langsung, mantel uap, pipa uap melingkar tertutup atau dengan memakai pipa uap melingkar terbuka atau berlubang. Metode ini memiliki ciri khas yaitu adanya kontak langsung antara bahan dan air yang mendidih. Beberapa jenis bahan harus di suling dengan metode ini, terutama untuk bahan-bahan yang harus tercelup dan harus bergerak bebas dalam air mendidih. Jika disuling dengan metode uap langsung bahan ini akan merekat dan 6
4 membentuk gumpalan besar yang kompak, sehingga uap tidak dapat berpenetrasi kedalam bahan. b. Destilasi dengan air dan uap Pada metode penyulingan ini, bahan olahan diletakkan diatas rakrak atau saringan berlubang. Ketel suling diisi dengan air sampai permukaan air berada tidak jauh dari bawah saringan. Air dapat dipanaskan dengan cara, uap jenuh yang basah dan bertekanan rendah. Ciri khas metode ini adalah : 1) Uap selalu dalam keadaan basah, jenuh dan tidak terlalu panas. 2) Bahan yang disuling hanya berhubungan dengan uap dan tidak dengan air panas. c. Destilasi dengan uap Metode ketiga disebut penyulingan uap, atau penyulingan uap langsung, dan prinsipnya sama dengan yang telah dibahas diatas, bedanya pada metode ini air tidak diisikan dalam ketel. Uap yang digunakan adalah uap jenuh pada tekanan lebih dari 1 atmosfer. Uap dialirkan melalui pipa uap melingkar yang berpori yang terletak dibawah bahan, dan uap bergerak ke atas melalui bahan yang terletak dibawah bahan dan uap bergerak ke atas melalui bahan yang terletak diatas saringan. 3. Kulit Kulit merupakan organ tubuh yang terletak dibagian terluar dari tubuh manusia. Kulit sangat sensitif untuk menerima berbagai rangsangan dari luar tubuh dan kulit merupakan selimut yang menutupi permukaan tubuh yang memiliki fungsi utama sebagai pelindung tubuh dari berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsinya seperti pembentukan pada lapisan tanduk, pengaturan suhu tubuh, dan pembentukan pigmen untuk melindungi kulit dari bahaya sinar matahari, baik sinar UV-A dan UV-B. Kulit adalah organ terluas (1,5-1,75 m²) dan terberat (kira-kira 15% dari berat badan). 7
5 Rata-rata tebal kulit adalah 1-2 mm, dengan daerah tertebal adalah telapak tangan dan kaki yaitu kira-kira 6 mm dan yang paling tipis adalah alat vital pria yaitu 0,5 mm (Pitaloka, 2009). Gambar 2. stuktur kulit (Djuanda, 2011) Ada beberapa jenis-jenis kulit, (Wahyuningtyas et al., 2015) a. Kulit Normal Kulit normal adalah kulit yang secara umum dalam kondisi yang baik. Khususnya untuk wajah, kulit normal membutuhkan perawatan seperti pembersihan, dan penggunaan pelindung wajah secara rutin agar menjaga kesehatan dan kecantikan kulit wajah yang optimal dan terhindar dari kerusakan kulit. b. Kulit Kering Kulit kering adalah keadaan kulit yang mempunyai kelenjar sebasea yang kurang aktif dalam memproduksi minyak tubuh sehingga kehilangan kelembabannya dalam stratum korneum. Pada kondisi ini kulit membutuhkan pelembaban yang dapat meningkatkan minyak tubuh yang hilang dan merangsang kelenjar sebasea untuk menghasilkan minyak, sehingga keadaan kulit bisa menjadi normal. c. Kulit Berminyak Pada kondisi kulit berminyak kulit pada wajah mempunyai kelenjar sebasea yang begitu aktif dan memproduksi minyak tubuh yang berlebih sehingga meningkatkan kelembaban pada stratum korneum. Perawatan untuk kulit berminyak yang tepat adalah dengan menjaga pola hidup yang sehat dan seimbang, serta penggunaan kosmetik yang tidak mengandung lemak berlebih. 8
6 d. Kulit Kombinasi Dua jenis kulit pada satu wajah seperti pada daerah T, dahi, hidung dan dagu berminyak. Sedangkan bagian wajah lainnya normal atau bahkan cenderung kearah kering. Maka perawatan yang dilakukan adalah sesuai dengan keadaan kulit tiap bagian. e. Kulit Berjerawat Kondisi kulit yang mengandung P acnes. Proses terjadinya komedo atau P acnes adalah karena adanya aktivitas kelenjar minyak yang berlebihan dan akhirnya menggumpal pada kandung rambut (hair folicle), sehingga menyumbat pada lubang pori-pori. Pada proses pembentukan P acnes disebabkan oleh adanya komedo, dengan adanya komedo tersebut terjadi peradangan pada kulit karena adanya bakteri yang bisa dikenal dengan P. acnes. 4. Jerawat Acne vulgaris merupakan sebuah gangguan yang umum terjadi pada kulit wajah, pada umumnya hal ini diawali dengan terbentuknya mikro komedo, dan terjadi inflamasi kronis dari bagian polisebasea. Lokasi dari acne vulgaris umumnya berada pada daerah wajah terutama pada remaja yang berimbas signifikan pada usia remaja. Meskipun bersifat selflimiting, tetapi acne vulgaris dapat bertahan di kulit selama bertahun-tahun dan dapat mengakibatkan luka pada kulit dan pembentukan jaringan parut (Dipiro et al., 2008). Perkembangan acne vulgaris berkaitan dengan peningkatan produksi sebum, keratinasi yang abnormal dalam kanal polisebasea (hiperkornifikasi), kolonisasi bakterial dan inflamasi. Diet (kecuali individu tertentu) dan kurangnya kebersihan, serta keadaan premenstruasi, menjadi suatu penyebab yang paling mendasari memperparahnya acne vulgaris. Kosmetik dengan dasar minyak, minyak rambut dan pelembab juga bisa menjadi penyebab atau pemicu acne vulgaris. Selain itu kondisi panas dan lembab yang merangsang pengeluaran keringat juga dapat memperparah Acne vulgaris (Dipiro et al., 2008). 9
7 Ganbar 3. struktur kulit (Yahya, 2005) Ada beberapa jenis komedo, diantaranya adalah : a. Blackheads adalah bentuk komedo yang berupa tonjolan putih diatasnya ada titik hitam. Blackheads hanya berupa penimbunan lemak yang terokdasi dan tidak meradang atau infeksi. b. Whiteheads adalah bentuk komedo yang tertutup dimana tonjolan putih tidak terjadi oksidasi sehingga tidak terdapat titik hitam karena tidak teroksidasi. c. Millia atau millicum adalah karena adanya akumulasi minyak yang tersumbat dibawah kulit shingga kelaianan menyerupai whiteheads namun tertutup rapat dan keras dengan warna putih atau kuning. d. Acne juvenilis adalah bentuk acne yang tidak meninggalkan bekas pada kulit karena bentuknya kecil-kecil dan tidak terjadi penanahan. e. Acne vulgaris adalah bentuk kerawat besar dengan disertai pernanahan yang menimpa hingga lapisan dermis sehingga pada pasca kesembuhan akan meninggalkan bekas yang berupa jaringan parut (Anisah, 2015) 5. Propionbiacterium acnes Propionibacterium acnes merupakan bakteri flora normal yang berada di kulit terutama di wajah yang berperan pada patogenesis jerawat yang menjadi faktor terjadinya inflamasi. Bacteri ini berbentuk batang dan dapat hidup di udara serta menghasilkan spora. P. acnes termasuk bacteri gram positif anaerob. Bukti menunjukkan bahwa, dalam kondisi tertentu, P. acnes dapat bertindak sebagai oportunistik patogen. Keterlibatan P. acnes dipembentukan dan keparahan acne vulgaris diterima secara luas, meskipun data yang benar-benar valid yang tepat tetap langka. Selain itu, 10
8 P. acnes telah terdeteksi diberbagai infeksi oportunistik seperti endokarditis dan osteomyelitis dan infeksi pasca bedah parah (Brzuszkiewicz et al., 2011 ). Klasifikasi Propionibacterium acnes yaitu : Gambar 4. Kulit dengan P. Acnes (Yahya, 2005) Klasifikasi Propionibacterium acnes (Damayanti, 2014) Kerajaan : Bacteria Filum : Actinobacteria Kelas : Actinobacteridae Ordo : Actinomycetales Famili : Propionibactericeae Genus : Propionibacterium Spesies : Propionibacterium acnes Peradangan mungkin menjadi konsekuensi dari peningkatan produksi sebum, pengelupasan keratinosit, dan pertumbuhan bakteri P. acnes dapat memicu lesi peradangan jerawat dengan memproduksi mediator inflamasi biologis aktif sehingga memicu pelepasan sitokin proinflamasi (Dipiro et al, 2008). Acne vulgaris adalah penyakit yang terjadi pada unit polisebasea (yang mengandung folikel rambut dan kelenjar sebasea). Kelenjar sebasea, dominan pada wajah, dada, dan punggung atas. Kelenjar ini menyediakan sebum pada kanal folikel dan akhirnya ke permukaan kulit melalui pembukaan folikel (pori-pori). Isi kanal folikuler yaitu keratinosit, P. acnes dan asam lemak bebas. 11
9 Pada saat terjadi penyumbatan pada unit pilosebasea maka terjadilah komedo yang merupakan awal dari lesia acne. Warna coklat atau hitam bukan hasil akumulasi kotoran, tetapi melanin (pigmen). Acne terjadi ketika hormon androgen meningkat (terutama pada masa pubertas) yang menyebabkan peningkatan ukuran kelenjar sebaseus sehingga produksi menjadi tinggi. Kelebihan sebum menyebabkan folikel tersumbat yang akhirnya menjadi acne. Selain disebabkan karena meningkatnya produksi sebum, acne juga disebabkan karena hiperkreatinisasi dan inflamasi. Peradangan atau trauma folikel dapat menyebabkan inflamasi dan membentuk whitehead atau komedo tertutup. Jika dinding folikel pecah, isi folikel menuju ke dermis dan menimbulkan gangguan klinis seperti bintil, dan mungkin dapat menjadi lebih besar, lesi inflamasi sekunder untuk aktivitas lokal P. acnes (Dipiro et al., 2008). 6. Pengujian Aktivitas Antibakteri (Wahyuni, 2014) Pengujian terhadap aktivitas antimikroba dilakukan untuk mengetahui obat-obat atau zat aktif yang paling poten untuk kuman penyebab penyakit terutama penyakit kronis. Pengujian ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : a. Metode Difusi Cakram kertas saring, cawan yang berliang renik atau silinder tidak beralat, yang mengandung zat uji dalam jumlah tertentu ditempatkan dalam media yang telah ditanami mikroba uji. Setelah di inkubasi, hasil yang diperoleh adalah : 1) Radical zone, yaitu daerah di sekitar zat uji dimana sama sekali tidak diketemukan adanya pertumbuhan bakteri. 2) Irradical zone, yaitu suatu daerah di sekitar zat uji yang pertumbuhan bakteri dihambat oleh zat uji tersebut b. Dilusi Cair atau Dilusi Padat Metode ini menggunakan antimikroba dengan kadar yang menurun secara bertahap, baik dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri uji dan dieramkan. Tahap akhir dilarutkan antimikroba dengan kadar yang menghambat atau mematikan. Kerugian 12
10 metode ini yaitu uji kerentanan dilusi agar membutuhkan waktu yang lama, dan kegunannya terbatas pada suatu keadaan tertentu. Sedangkan keuntungan metode ini yaitu bahwa uji tersebut memungkinkan adanya hasil kuantitatif, dimana menunjukkan jumlah obat tertentu yang diperlukan untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme yang diuji Metode ini mengukur MIC atau KHM (Minimum Inhibitory Concentration atau Kadar Hambat Minimum) dan MBC atau KBM (Minimum Bactericidal Concentration atau Kadar Bunuh Minimum). 7. Konsentrasi Hambat Minimum (Nuraina, 2015) Aktifitas antibakteri ditentukan oleh spektrum kerja, cara kerja dan juga di tentukan oleh konsentrasi hambat minimum (KHM). KHM adalah konsentrasi minimum dari suatu zat yang memiliki efek daya hambat pertumbuhan mikroorganismeyang di tandai dengan tidak adanya keruhan pada media tumbuh bakterisetelah di inkubasi pada suhu 37 selama jam. Penetapan KHM dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: a. Cara cair Metode penentuan KHM dengan cara cair digunakan media cair yang telah di tambahkan zat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau jamur dengan pengenceran tertentu kemudian diinokulasikan biakan bakteri atau jamur dalam jumlah yang sama. Respon zat uji ini ditandai dengan kejernihan atau kekerugan pada tabung setelah diinkubasi. b. Cara padat Metode penentuan KHM dengan cara padat menggunakan media padat yang telah dicampur dengan larutan zat uji dengan berbagai konsentrasi. Dengan cara ini suatu cawan petri dapat digores lebih dari satu jenis mikroba untuk diperoleh nilai KHM. 8. Sabun Cair a. Definisi Sabun Cair Sabun merupakan produk campuran garam natrium dengan asam stearat, palmitat dan oleat yang berisi sedikit komponen asam miristat dan lauret (Tranggono, 2007). Jenis sabun wajah yang umum beredar di 13
11 masyarakat berwujud padat dan cair. Kebanyakan konsumen saat ini lebih tertarik pada sabun wajah berbentuk cair dibandingkan dengan wajah padat. Sabun cair wajah efektif untuk mengangkat kotoran yang menempel pada permukaan kulit baik yang larut air maupun larut lemak. Sabun cair merupakan sediaan pembersih kulit berbentuk cair yang terbuat dari bahan sabun dengan penambahan bahan-bahan yang diinginkan (SNI, 1996). b. Uraian Bahan 1) Minyak atsiri daun jeruk purut Minyak atsiri daun jeruk purut mengandung senyawa-senyawa seperti citronellal 86,31%; citronellol 6,37%; citronellyl acetate 3,46%; linalool 1,94%, sabiene bicyclo 1,16%; dan transcaryophyllene bicyclo 0,77%. Perbedaan komposisi mencolok inilah yang membedakan minyak kulit jeruk purut dengan minyak kulit jeruk lainnya (Anonimous, 2009). Senyawa Sitronelal merupakan senyawa aldehid yang memiliki potensi anti bakteri kuat persen minyak atsiri kulit jeruk purut. Kandungan minyak atsiri daun jeruk purut sebesar 2-2,5% (Salman et al., 2015) 2) Asam stearat Asam stearat berbentuk kasar, putih atau kuning pucat, agak mengkilat, kristal atau serbuk putih kekuningan. Kelarutan sangat mudah larut dalam benzen, karbon tetraklorida, kloroform, dan eter; mudah larut dalam etanol (95%), heksana, dan propilen glikol; praktis tidak larut dalam air. Pada formulasi sabun cair muka, asam stearat berfungsi untuk membentuk badan sabun pada proses pencampuran dengan minyak kelapa (Setyoningrum, 2010). Asam stearat berfungsi sebagai emulgator (Rowe, 2009). Gambar 5. Stuktur asam stearat (Rowe, 2009) 14
12 3) Minyak kelapa Minyak kelapa adalah minyak lemak yang diperoleh dengan pemerasan endosperm kering Cocos nucifera L. Minyak kelapa berwujud jernih, tidak berwarna atau kuning pucat, bau khas, dan tidak tengik. Kelarutan larut dalam 2 bagian etanol (96%) pada suhu 60 ºC, sangat mudah larut dalam kloroform dan dalam eter. Minyak kelapa memiliki suhu lebur antara 23º sampai 26 ºC (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979). Berfungsi sebagai basis sabun cair. Minyak kelapa mengandung ± 53% asam laurat yang akan tersaponifikasi dengan adanya penambahan basa seperti KOH dan NaOH (Setyoningrum, 2010). 4) Kalium hidroksida (KOH) Kalium hidroksida berwarna putih atau hampir putih, higroskopis berbentuk bulat kecil, serpihan atau memanjang. Kelarutan larut dalam 1 bagian air, 3 bagian etanol 96%, sangat mudah larut dalam etanol mutlak P mendidih. Berfungsi sebagai agen pembasa (Rowe, 2009) 5) Ethylenediaminetetraacetic Acid (EDTA) EDTA berwujud hablur padat, putih, dan berbau khas. Kelarutan praktis larut dalam air dan propilen glikol, mudah larut dalam etanol (95%), dalam kloroform dan dalam eter. EDTA berfungsi sebagai antioksidan, mengcegah bau tengik. 6) Gliserin Gambar 6. Struktur EDTA (Suyanta et al., 2005) Gliserin berwujud cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis, higroskopik. Kelarutan praktis tidak larut dalam benzen, kloroform, minyak lemak; sedikit larut dalam aseton; larut dalam 11 bagian etil asetat dan 500 bagian eter; mudah larut dalam etanol 15
13 (95%), metanol, air. Gliserin berfungsi sebagai kosolven, emolien, solven, humektan, agen antimikroba (Rowe, 2009). Gambar 7. Struktur gliserin (Rowe, 2009). c. Kontrol sifat fisik sabun cair 1) Organoleptik Uji organoleptis meliputi warna, bau, dan konsistensi dapat digunakan sebagai indikator kualitatif ketidakstabilan fisik sediaan yang berhubungan dengan kenyamanan sediaan oleh pengguna. 2) Bobot jenis Uji bobot jenis suatu sediaan merupakan perbandingan antara bobot zat dibanding dengan volume zat pada suhu tertentu (biasanya 25 o C). Menurut FI III bobot jenis adalah perbandingan bobot zat terhadap air dengan volume yang sama ditimbang di udara pada suhu yang sama (Anonim, 1979). Bobot jenis pada percobaan akan digunakan metode piknometer. Persyaratan untuk bobot jenis yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia yaitu minimal 1,01 1,10 g/cm 3 (Noor et al., 2009). 3) Viskositas Pengujian viskositas dan sifat alir dilakukan untuk mengetahui besarnya tahanan suatu cairan untuk mengalir. Semakin tinggi viskositas maka akan semakin besar tahanannya. Viskositas dipengaruhi oleh suhu, yang untuk cairan akan menurun bila suhu dinaikkan (Sinko, 2006). Kriteria viskositas yang baik yaitu cps (Noor et al.,2009). 4) Keasaman (ph) Uji ph digunakan untuk mengetahui ph sabun cair apakah sesuai dengan ph kulit yang akan mempengaruhi kenyamanan dan keamanan penggunannya. Selain itu ph dapat mempengaruhi difusi 16
14 obat dari sediaan (Astuti et al., 2012). Kriteria untuk ph kulit wajah yaitu 4,5-5,5 (Noor et al., 2009). 5) Tinggi dan kestabilan busa Uji tinggi dan kestabilan busa yaitu suatu kemampuan sediaan membentuk busa setelah pengocokan 1% larutan sabun cair wajah dalam air suling dan air sadah. Pengujian ini berpengaruh juga pada kelembaban kulit. B. Kerangka Konsep Prevalensi jerawat (acne vulgaris) terjadi sekitar 80% dari populasi antara usia tahun Meningkatnya jumlah daun jeruk purut Kandungan minyak atsiri daun jeruk purut berpotensi salah satunya sebagai antibakteri dalam mengobati penyakit jerawat Memformulasikan minyak atsiri daun jeruk purut menjadi produk sabun cair wajah anti jerawat Uji fisik sediaan sabun cair wajah Uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri P.acne Pemeriksaan organoleptis (bentuk, rasa warna), homogenitas, stabilitas, bobot jenis, viskositas, ph, tinggi dan kestabilan busa Zona hambat Analisis deskriptif secara statistik dengan metode ANOVA Gambar 8. Kerangka konsep penelitian 17
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kayu Manis Gambar 1. Kulit Batang Kayu Manis (Dwijayanti, 2011) 1. Sistematika Tumbuhan Sistematika tumbuhan kayu manis menurut Soepomo, 1994 adalah: Kingdom Divisi Kelas Ordo
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang sering ditemui di dalam masyarakat adalah acne vulgaris atau biasa disebut dengan jerawat. Jerawat adalah suatu proses peradangan kronik kelenjar-kelenjar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kulit yang sering terjadi dikalangan masyarakat adalah jerawat. Jerawat atau Acne vulgaris adalah suatu prosen peradangan kronik kelenjar polisebasea yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Hidayat et al., (2015), yaitu penelitian eksperimental tentang formulasi sediaan sabun cair wajah ekstrak
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Nilam Gambar 1. Daun Nilam (Irawan, 2010) Tanaman nilam (Pogostemon patchouli atau Pogostemon cablin Benth) merupakan tanaman perdu wangi berdaun halus dan berbatang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit infeksi merupakan salah satu permasalahan kesehatan di masyarakat yang tidak pernah dapat diatasi secara tuntas yang menjadi penyebab utama penyakit
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bakteri Staphylococcus aureus merupakan penyebab terbesar penyakit kulit dengan manifestasi klinik berupa abses pada kulit, nanah dan bisul. Infeksi pada kulit
BAB 1 PENDAHULUAN. Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit. keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, kista, dan pustula.
C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa
A. Pengertian Sabun Sabun adalah garam alkali dari asam-asam lemak telah dikenal secara umum oleh masyarakat karena merupakan keperluan penting di dalam rumah tangga sebagai alat pembersih dan pencuci.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TUMBUHAN BERENUK 1. Klasifikasi tumbuhan berenuk: Kingdom : Plantae Subkingdom : Tracheobionta Super Divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Sub
BAB I PENDAHULUAN. folikel rambut dan pori-pori kulit sehingga terjadi peradangan pada kulit.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Jerawat merupakan kondisi abnormal kulit akibat gangguan berlebih produksi kelenjar minyak (sebaceous gland) yang menyebabkan penyumbatan folikel rambut dan
I. PENDAHULUAN. Bentuk jeruk purut bulat dengan tonjolan-tonjolan, permukaan kulitnya kasar
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jeruk purut (Citrus hystrix D. C.) merupakan tanaman buah yang banyak ditanam oleh masyarakat Indonesia di pekarangan atau di kebun. Bentuk jeruk purut bulat dengan tonjolan-tonjolan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Bawang Putih (Allium sativum L) Bawang putih (Allium sativum L) adalah tanaman yang berasal dari Asia Tengah, diantaranya Cina dan Jepang yang beriklim subtropik. Dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri yang banyak menyebabkan masalah pada kulit, terutama peradangan pada kulit (Daili et al., 2005). Kulit merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Minyak Atsiri Minyak atsiri atau yang dikenal sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang serta minyak aromatic adalah kelompok besar minyak
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri penyebab infeksi piogenik pada kulit. Infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus antara lain bisul, jerawat,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kelapa Kelapa termasuk jenis Palmae yang bersel satu (monokotil). Batang tanaman tumbuh lurus ke atas dan tidak bercabang. Adakalanya pohon kelapa dapat bercabang, namun hal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bunga Rosella 1. Klasifikasi Dalam sistematika tumbuhan, kelopak bunga rosella diklasifikasikan sebagai berikut : Gambar 1. Kelopak bunga rosella Kingdom : Plantae Divisio :
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Biji Kemiri Sumber : Wikipedia, Kemiri (Aleurites moluccana) merupakan salah satu tanaman tahunan yang
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Kemiri Gambar 1. Biji Kemiri Sumber : Wikipedia, 2016 Kemiri (Aleurites moluccana) merupakan salah satu tanaman tahunan yang termasuk dalam famili Euphorbiaceae (jarak-jarakan).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah pada kulit yang selalu mendapat perhatian bagi kalangan remaja dan dewasa muda yaitu jerawat. Jerawat hanya terjadi pada folikel pilobasea
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengumpulan Getah Jarak Pengumpulan getah jarak (Jatropha curcas) berada di Bandarjaya, Lampung Tengah yang berusia 6 tahun. Pohon jarak biasanya dapat disadap sesudah berumur
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jerawat, atau dalam bahasa medisnya disebut akne, merupakan salah satu penyakit kulit yang banyak dijumpai secara global pada remaja dan dewasa muda (Yuindartanto,
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kelapa (Cocos Nucifera Linn.) merupakan tanaman yang tumbuh di negara yang beriklim tropis. Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia. Menurut Kementerian
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sentrifugasi Campuran heterogen terdiri dari senyawa-senyawa dengan berat jenis berdekatan sulit dipisahkan. Membiarkan senyawa tersebut terendapkan karena adanya gravitasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian. Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi : Spermatophyta ( tumbuhan berbiji )
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Durian 1. Taksonomi Dan Morfologi Tanaman Durian Menurut Rahmat Rukmana ( 1996 ) klasifikasi tanaman durian adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae ( tumbuh tumbuhan ) Divisi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Jerawat Jerawat (acne) adalah penyakit peradangan kelenjar sebasea yang sering dijumpai dan berkaitan dengan folikel rambut (disebut unit polisebasea). Terdapat dua jenis acne
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Staphylococcus aureus merupakan salah satu mikroorganisme yang hidup di kulit (Jawetz et al., 1991). Kulit merupakan organ tubuh manusia yang sangat rentan terhadap
BAB I PENDAHULUAN. (Uta, 2003). Jerawat terjadi ketika pori-pori kulit dipenuhi oleh minyak, sel kulit
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Acne vulgaris (jerawat) merupakan suatu penyakit kulit yang paling umum terjadi pada remaja, dalam beberapa kasus jerawat dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang lengkuas (Alpinia galanga L.) memberikan hasil sebagai berikut : Tabel 2 :
Perawatan Kulit Wajah Manual Pada Kulit Berjerawat (Acne)
Modul Hybrid Learning PPG Tata Rias Dalam Jabatan Perawatan Kulit Wajah Manual Pada Kulit Berjerawat (Acne) DISUSUN OLEH : Nurul Hidayah, M.Pd 1 A. PENDAHULUAN Modul ini akan menjelaskan suatu pengetahuan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh kita yang melindungi bagian dalam tubuh dari gangguan fisik maupun mekanik, gangguan panas atau dingin, dan gangguan
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri minyak atsiri memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan di Indonesia, karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam penyediaan bahan bakunya.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia termasuk daerah beriklim tropis yang merupakan tempat endemik penyebaran nyamuk. Dari penelitiannya Islamiyah et al., (2013) mengatakan bahwa penyebaran nyamuk
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu Penelitian.
BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. punggung bagian atas. Jerawat terjadi karena pori-pori kulit. terbuka dan tersumbat dengan minyak, sel-sel kulit mati, infeksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jerawat (Akne Vulgaris) merupakan penyakit kulit peradangan kronik folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papul,
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu bagian tanaman pepaya yang dapat dimanfaatkan sebagai obat
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu bagian tanaman pepaya yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional adalah biji buah pepaya (Carica papaya L.). Secara tradisional biji pepaya dapat dimanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN. Minyak canola (Brasicca napus L.) adalahminyak yang berasal dari biji
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak canola (Brasicca napus L.) adalahminyak yang berasal dari biji tumbuhan canola, yaitu tumbuhan asli Kanada Barat dengan bunga berwarna kuning. Popularitas dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu jenis jeruk yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia) (Penicilla, 2011). Minyak atsiri dari buah jeruk nipis
BAB 1 : PENDAHULUAN. jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) memiliki aktivitas antibakteri dengan
BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jeruk nipis merupakan buah yang sudah dikenal oleh masyarakat untuk berbagai masakan ini memiliki aktivitas antibakteri, berdasarkan penelitian Lee et al (2014) dari
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Dilakukan identifikasi dan karakterisasi minyak kelapa murni menggunakan GC-MS oleh LIPI yang mengacu kepada syarat mutu minyak kelapa SNI 01-2902-1992. Tabel 4.1.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri patogen yang sering menyebabkan infeksi pada kulit (Jawetz et al., 2005). Bakteri dapat masuk ke dalam tubuh
I. ISOLASI EUGENOL DARI BUNGA CENGKEH
Petunjuk Paktikum I. ISLASI EUGENL DARI BUNGA CENGKEH A. TUJUAN PERCBAAN Mengisolasi eugenol dari bunga cengkeh B. DASAR TERI Komponen utama minyak cengkeh adalah senyawa aromatik yang disebut eugenol.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penggunaan kosmetika dekoratif digunakan sehari-hari untuk mempercantik diri. Salah satu contoh kosmetika dekoratif yang sering digunakan adalah lipstik. Lipstik merupakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak sereh merupakan salah satu komoditas minyak atsiri Indonesia dengan total luas lahan sebesar 3492 hektar dan volume ekspor mencapai 114 ton pada tahun 2004 (Direktorat
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Pada tahap awal formulasi, dilakukan orientasi untuk mendapatkan formula krim yang baik. Orientasi diawali dengan mencari emulgator yang sesuai untuk membentuk krim air
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu sumber tumbuhan obat adalah tumbuhan yang berasal dari hutan tropis. Sekitar 80% sumber tumbuhan obat ditemukan di hutan tropis Indonesia dan 25.000-30.000
14 Cara Menghilangkan Komedo Secara Alami dan Terbukti Ampuh
14 Cara Menghilangkan Komedo Secara Alami dan Terbukti Ampuh Written by Rosalia in Beauty Tips Sebelum membahas lebih lanjut mengenai berbagai cara menghilangkan komedo, terlebih dahulu kita harus tahu
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Tanaman ini termasuk jenis tumbuhan dari
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini digunakan bahan baku minyak atsiri daun sebagai bahan aktif gel antiseptik. Minyak atsiri daun ini berasal dari Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jerawat adalah penyakit kulit yang biasa terjadi pada usia remaja. Penyakit ini terbatas pada folikel pilosebase dibagian kepala atau badan bagian atas karena kelenjar
PAPER. EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DARI KULIT JERUK PURUT (Citrus hystrix D. C.) DI BALAI LATIHAN TRANSMIGRASI PEKANBARU SEBAGAI BAHAN AKTIF MINYAK GOSOK
1 PAPER EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DARI KULIT JERUK PURUT (Citrus hystrix D. C.) DI BALAI LATIHAN TRANSMIGRASI PEKANBARU SEBAGAI BAHAN AKTIF MINYAK GOSOK Oleh NAOMI SIMANIHURUK, S.T.P CALON PSM BALAI LATIHAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan A. PENENTUAN FORMULA LIPSTIK
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan membuat sediaan lipstik dengan perbandingan basis lemak cokelat dan minyak jarak yaitu 60:40 dan 70:30
FORMULASI SEDIAAN SABUN MANDI CAIR MINYAK ATSIRI JERUK PURUT (Citrus hystrix DC.) DENGAN KOKAMIDOPROPIL BETAIN SEBAGAI SURFAKTAN SKRIPSI
FORMULASI SEDIAAN SABUN MANDI CAIR MINYAK ATSIRI JERUK PURUT (Citrus hystrix DC.) DENGAN KOKAMIDOPROPIL BETAIN SEBAGAI SURFAKTAN SKRIPSI Oleh : DWI RIZKI FEBRIANTI K 100 090 127 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kosmetik merupakan sediaan yang digunakan di luar badan guna membersihkan, menambah daya tarik, dan memperbaiki bau badan tetapi tidak untuk mengobati penyakit (Tranggono
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manggis (Garcinia mangostana Linn) adalah pohon hijau di daerah tropis yang diyakini berasal dari Indonesia. Pohon manggis mampu tumbuh mencapai 7 hingga 25
FORMULASI SABUN CAIR MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus Hystrix) SEBAGAI ANTIJERAWAT terhadap Propionibacterium Acnes
FORMULASI SABUN CAIR MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus Hystrix) SEBAGAI ANTIJERAWAT terhadap Propionibacterium Acnes SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi
Pembuatan Basis Krim VCO (Virgin Coconut Oil) Menggunakan Microwave Oven
IOCD International Symposium and Seminar of Indonesian Medicinal Plants xxxi, Surabaya 9-11 April 2007 Pembuatan Basis Krim VCO (Virgin Coconut Oil) Menggunakan Microwave Oven Yudi Padmadisastra Amin Syaugi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Perlakuan Terhadap Sifat Fisik Buah Pala Di Indonesia buah pala pada umumnya diolah menjadi manisan dan minyak pala. Dalam perkembangannya, penanganan pascapanen diarahkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian, kesehatan, dan industri. Umumnya pengetahuan masyarakat
Proses Pembuatan Madu
MADU PBA_MNH Madu cairan alami, umumnya berasa manis, dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nektar); atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral nektar); atau ekskresi serangga cairan
MINYAK KELAPA DAN VCO. Putri Anjarsari, S.Si., M.Pd
MINYAK KELAPA DAN VCO Putri Anjarsari, S.Si., M.Pd [email protected] Kelapa Nama Binomial : Cocos nucifera Akar Batang Daun Tangkai anak daun Tandan bunga (mayang) Cairan tandan bunga Buah Sabut
HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air
Pemilihan Eluen Terbaik Pelat Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yang digunakan adalah pelat aluminium jenis silika gel G 60 F 4. Ekstrak pekat ditotolkan pada pelat KLT. Setelah kering, langsung dielusi dalam
BAB III METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan
BAB III METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan Penyegar, Unit Pelayanan Terpadu Pengunjian dan Sertifikasi Mutu Barang (UPT. PSMB) Medan yang bertempat
FORMULASI OBAT JERAWAT GEL MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix D.C) DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP Propionibacterium acne SECARA IN VITRO
FORMULASI OBAT JERAWAT GEL MINYAK ATSIRI DAUN JERUK PURUT (Citrus hystrix D.C) DAN UJI AKTIVITAS TERHADAP Propionibacterium acne SECARA IN VITRO SKRIPSI SARJANA FARMASI Oleh: HARY PURNOMO 07 931 028 FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN. Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari folikel
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, kista, dan pustula.(tahir, 2010). Penyakit
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Penelitian ini diawali dengan pemeriksaan bahan baku. Pemeriksaan bahan baku yang akan digunakan dalam formulasi mikroemulsi ini dimaksudkan untuk standardisasi agar diperoleh
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi merupakan masalah yang paling banyak dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Kasus infeksi disebabkan oleh bakteri atau mikroorganisme patogen yang masuk
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG [1] Tidak diperkenankan mengumumkan, memublikasikan, memperbanyak sebagian atau seluruh karya ini
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.1 Karakteristik Minyak Atsiri Wangi Hasil penelitian menunjukkan minyak sereh wangi yang didapat desa Ciptasari Pamulihan, Kabupaten Sumedang dengan pengujian meliputi bentuk,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membentuk konsistensi setengah padat dan nyaman digunakan saat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Evaluasi Krim Hasil evaluasi krim diperoleh sifat krim yang lembut, mudah menyebar, membentuk konsistensi setengah padat dan nyaman digunakan saat dioleskan pada
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA I
LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA I PEMBUATAN DAN CARA EVALUASI CREAM ZETACORT Disusun oleh : Nama : Linus Seta Adi Nugraha No. mahasiswa : 09.0064 Tgl. Praktikum : 30 April 2010 Hari : Jumat Dosen pengampu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asam Palmitat Asam palmitat adalah asam lemak jenuh rantai panjang yang terdapat dalam bentuk trigliserida pada minyak nabati maupun minyak hewani disamping juga asam lemak
Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015 ISSN
Prosiding Penelitian SPeSIA Unisba 2015 ISSN 2460-6472 Uji Aktivitas Antijerawat Tepung Biji Bunga Pukul Empat (Mirabilis Jalapa L.) terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes dan Formulasinya dalam Bentuk
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 11. SISTEM EKSKRESI MANUSIAlatihan soal 11.2
1. Berikut ini merupakan kandungan keringat, kecuali?? SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 11. SISTEM EKSKRESI MANUSIAlatihan soal 11.2 Air NaCl Urea Glukosa Kulit merupakan salah satu alat ekskresi. Kulit mengeluarkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi
32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Determinasi Tanaman Hasil identifikasi sampel yang dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi UGM didapat bahwa sampel yang digunakan adalah benar daun sirsak (Annona muricata
FORMULASI SEDIAAN SALEP MINYAK ATSIRI BUAH JERUK PURUT (Citrus hystrix DC.) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SECARA IN VITRO SKRIPSI
FORMULASI SEDIAAN SALEP MINYAK ATSIRI BUAH JERUK PURUT (Citrus hystrix DC.) DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SECARA IN VITRO SKRIPSI Oleh : DELTA FITRIANI K. 100 060 169 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Ekstrak Buah Tomat (Solanum lycopersicum L.) Ekstark buah tomat memiliki organoleptis dengan warna kuning kecoklatan, bau khas tomat, rasa manis agak asam, dan bentuk
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) dikenal masyarakat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi Linn.) dikenal masyarakat sebagai tanaman obat untuk mengobati berbagai macam penyakit salah satunya untuk mengobati
Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah
Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan
UJI EKSTRAK DAUN BELUNTAS
UJI EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L. Less) TERHADAP ZONA HAMBAT BAKTERI Escherichia coli patogen SECARA IN VITRO Oleh: Ilma Bayu Septiana 1), Euis Erlin 2), Taupik Sopyan 3) 1) Alumni Prodi.Pend.Biologi
I. PENDAHULUAN. penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging ayam merupakan salah satu bahan pangan yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi, karena memiliki protein yang berkualitas tinggi
Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri
Penggolongan minyak Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri Definisi Lemak adalah campuran trigliserida yang terdiri atas satu molekul gliserol yang berkaitan dengan tiga molekul asam lemak.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sabun Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, (C 17 H 35 COO Na+).Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan melalui kekuatan pengemulsian
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
25 BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Ekstraksi simplisia segar buah duku dilakukan dengan cara dingin yaitu maserasi karena belum ada data tentang kestabilan komponen ekstrak buah duku terhadap panas.
Kode Bahan Nama Bahan Kegunaan Per wadah Per bets
I. Formula Asli R/ Krim Kosmetik II. Rancangan Formula Nama Produk : Jumlah Produk : 2 @ 40 g Tanggal Pembuatan : 16 Januari 2013 No. Reg : No. Bets : Komposisi : Tiap 40 g mengandung VCO 15% TEA 2% Asam
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI EKTRAKSI Ekstraksi tanaman obat merupakan suatu proses pemisahan bahan obat dari campurannya dengan menggunakan pelarut. Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan
EKSTRAKSI MINYAK SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN FLAVOR PANGAN I N T I S A R I
EKSTRAKSI MINYAK SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN FLAVOR PANGAN I N T I S A R I Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu teknologi proses ekstraksi minyak sereh dapur yang berkualitas dan bernilai ekonomis
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lunak yang dapat larut dalam saluran cerna. Tergantung formulasinya kapsul terbagi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapsul Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut dalam saluran cerna. Tergantung formulasinya kapsul terbagi atas kapsul
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Hasil determinasi Citrus aurantifolia (Christm. & Panzer) swingle fructus menunjukan bahwa buah tersebut merupakan jeruk nipis bangsa Rutales, suku Rutaceae, marga Citrus,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sabun merupakan produk kimia yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pembuatan sabun telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Metode pembuatan sabun
BAB I PENDAHULUAN. xerosis yang akan menyebabkan berkurangnya elastisitas kulit sehingga lapisan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tumit pecah adalah suatu keadaan klinis yang di tandai dengan terdapatnya fisura pada tumit. Fisura yang terjadi pada tumit pecah akibat dari kulit kering atau xerosis
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK
REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK TUJUAN : Mempelajari proses saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium hidroksida dan natrium hidroksida Mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen A. Pre-lab
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Metode Baumann Metode Baumann adalah sebuah metode untuk menentukan tipe wajah berdasarkan kadar kandungan minyak pada wajah. Beberapa studi telah menunjukkan jika banyak pasien
BAB I PENDAHULUAN. terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Minyak atsiri yang juga dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah Allium shoenoprasum L. yang telah dinyatakan berdasarkan hasil determinasi di Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium.
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. B. Tempat Dan Waktu Penelitian ini di lakukan pada tanggal 20 Februari 2016 sampai 30 November
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi pada kulit (Jawetz et al., 2005). Infeksi Staphylococcus aureus akan menyebabkan
I PENDAHULUAN. Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat
I PENDAHULUAN Bab ini akan menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis
I. PENDAHULUAN. Indonesia. Tanaman sereh banyak dibudidayakan pada ketinggian dpl.
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sereh adalah tanaman rempah yang keberadaannya sangat melimpah di Indonesia. Tanaman sereh banyak dibudidayakan pada ketinggian 200 800 dpl. Sereh memiliki nama familiar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kasus infeksi biasanya disebabkan oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri,
